KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG AIR MINUM

PERENCANAAN PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM KECAMATAN DAWAN-BALI

PLANNING OF THE DEVELOPMENT WATER DISTRIBUTION SYSTEM AT DAWAN DISTRICT-BALI

Created by :
Wulansari, Dwi ( )

Subject: Distribusi air
Keyword: pengembangan
distribusi dan penambahan pipa

[ Description ]

Perencanaan pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan oleh PDAM Klungkung yang disebabkan oleh semakin meningkatnya permintaan akan air minum di Kecamatan Dawan., seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. PDAM Kabupaten Klungkung merupakan institusi yang bertanggung jawab dalam penyediaan air minum bagi penduduk di daerah pelayanan Kecamatan Dawan. Namun saat ini pelayanan PDAM masih 44,35% dari jumlah penduduk. Evaluasi sistem distribusi air minum serta perencanakan pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan ini dilakukan dengan menggunakan program Epanet versi 2.0 dan mengacu pada Millenium Development Goals (MDGs). Pengembangan sistem distribusi ini untuk jangka waktu 10 tahun. Dilakukan penambahan dan penggantian pipa distribusi. Pembuatan reservoar baru serta perluasan jaringan distribusi guna peningkatan pelayanan dari 4,35% pada tahun 2008 menjadi 87,75% pada tahun 2018. Penurunan tingkat kehilangan air menjadi 20%.. Biaya investasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan Rp 5.070.296.224.,-

Alt. Description

Planning of the development of water distribution system at dawan district by PDAM Klungkung caused demand of water is getting increased as the growth of total citizen. Municipal Waterworks of Klungkung County is the institution in charge in supplying Dawan district water. At this time, services given by Municipal Waterworks of Klungkung County only achieve 44,35% from total citize. Water distribution system evaluation and a development water distribution Dawan district, is done by using Epanet Program versi on 2.0 and based on MDGs. In the future (for next 10 years), development programs with main work items should be done are add and change some distribution pipes. Constructing new reservoir and expanding in distribution net is necessary in order to increase service level from 44,35% in 2008 to 87,75% in 2018. Decreasement of leakage until end of plan period is 20%. Pipe used is PVC pipe with diameter 75-250 mm. . Expense is needed for development is equal to Rp 5.070.296.224.,-.-

Contributor :

1. Ir. BOWO DJOKO MARSONO, M.Eng

***************************************************************************

PERENCANAAN PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM KECAMATAN DAWAN-BALI

PLANNING OF THE DEVELOPMENT WATER DISTRIBUTION SYSTEM AT DAWAN DISTRICT-BALI

Created by :
Wulansari, Dwi ( )

Subject: Distribusi air
Keyword: pengembangan
distribusi dan penambahan pipa

[ Description ]

Perencanaan pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan oleh PDAM Klungkung yang disebabkan oleh semakin meningkatnya permintaan akan air minum di Kecamatan Dawan., seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. PDAM Kabupaten Klungkung merupakan institusi yang bertanggung jawab dalam penyediaan air minum bagi penduduk di daerah pelayanan Kecamatan Dawan. Namun saat ini pelayanan PDAM masih 44,35% dari jumlah penduduk. Evaluasi sistem distribusi air minum serta perencanakan pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan ini dilakukan dengan menggunakan program Epanet versi 2.0 dan mengacu pada Millenium Development Goals (MDGs). Pengembangan sistem distribusi ini untuk jangka waktu 10 tahun. Dilakukan penambahan dan penggantian pipa distribusi. Pembuatan reservoar baru serta perluasan jaringan distribusi guna peningkatan pelayanan dari 4,35% pada tahun 2008 menjadi 87,75% pada tahun 2018. Penurunan tingkat kehilangan air menjadi 20%.. Biaya investasi yang diperlukan untuk pengembangan sistem distribusi air minum Kecamatan Dawan Rp 5.070.296.224.,-

Alt. Description

Planning of the development of water distribution system at dawan district by PDAM Klungkung caused demand of water is getting increased as the growth of total citizen. Municipal Waterworks of Klungkung County is the institution in charge in supplying Dawan district water. At this time, services given by Municipal Waterworks of Klungkung County only achieve 44,35% from total citize. Water distribution system evaluation and a development water distribution Dawan district, is done by using Epanet Program versi on 2.0 and based on MDGs. In the future (for next 10 years), development programs with main work items should be done are add and change some distribution pipes. Constructing new reservoir and expanding in distribution net is necessary in order to increase service level from 44,35% in 2008 to 87,75% in 2018. Decreasement of leakage until end of plan period is 20%. Pipe used is PVC pipe with diameter 75-250 mm. . Expense is needed for development is equal to Rp 5.070.296.224.,-.-

Contributor :

1. Ir. BOWO DJOKO MARSONO, M.Eng

****************************************************************************

ANALISIS MIKROBIOLOGI AIR MINUM DALAM KEMASAN PADA DISPENSER DI LINGKUNGAN KANTOR ITS – SURABAYA

BOTTLED WATER IN DISPENSER MICROBIOLOGY ANALYSIS AT ITS AREA – SURABAYA

Created by :
SETYOWATI, PALUPI ( )

Subject: Mikrobiologi
Alt. Subject : Microbiology
Keyword: Air minum dalam kemasan galon
Coliform
ALT
MPN

[ Description ]

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan. Air juga menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan; manusia selama hidupnya selalu memerlukan air, terutama untuk air minum. Di dalam air minum yang kurang higienis, terdapat kandungan bakteri coliform, yang mampu hidup di dalam saluran pencernaan manusia, sehingga diperlukan analisis mikrobiologi air minum dengan metode ALT (Angka Lempeng Total) dan MPN (Most Probable Number). Air minum yang ada di dalam dispenser juga kemungkinan terdapat cemaran bakteri coliform yang dimungkinkan akibat cara perawatan yang kurang sempurna dan akibat kontak kontaminasi dengan tangan manusia yang tercemar oleh bakteri coliform. Sampel data diambil dari jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Teknik Industri. Hasil penelitian menunjukkan angka ALT tertinggi ada pada jurusan Teknik Industri sebesar 60,3 cfu/ml dan terendah di jurusan Kimia sebesar 5,3 cfu/ml, namun semuanya memenuhi standar dari ketetapan Departemen Kesehatan Rebulik Indonesia Tahun 1991. Sedangkan MPN pada jurusan Teknik Industri sebesar 4/100ml tidak memenuhi standar Kualitas Air Minum Golongan A.

Alt. Description

Water is a very essentials material in this living. Water also as a basic needed for human being; who need them in their daily life including for drinking water. In the lack of hygienist in drinking water, it contains coliform bacteria which can be lived in human digest system; therefore needs to have drinking water microbiology analysis using TPC (Total Plate Count) method and MPN (Most Probable Number) method. The fatality of maintenance drinking water in dispenser can cause coliform bacteria stained. Data sampling taken in every major at FMIPA and in every major at FTI. The results shown that the higher TPC found in Industry Engineer; 60,3 cfu/ml and the lowest TPC found in Chemistry; 5,3 cfu/ml, both are still inquired the standard of Indonesia Health Department, 1991. And the results of MPN shown that in Industrial Engineer found as 4/100 ml and it does not inquired with the standard of Drinking Water Quality A Category.

Contributor :

1. ENDRY NUGROHO PRASETYO, SSi., MT.
NENGAH DWIANITA KUSWYTASARI, SSi., MSi.

***************************************************************************

PERENCANAAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM SIGA KOKER DI DESA LERABOLENG, KECAMATAN TITEHENA, KABUPATEN FLORES TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR

THE PLANNING OF SIGA KOKER DRINKING WATER SUPPLY SYTEM IN LERABOLENG VILLAGE, TITEHENA SUBDISTRICT. EAST FLORES REGENCY, EAST NUSA TENGGARA PROVINCE

Created by :
Kuman, Lodovikus Ledak ( )

Subject: Suplai air
Alt. Subject : Water-supply rural
Keyword: Air Siap Minum
Kekeruhan dan Warna
Alum/tawas
flok.

[ Description ]

Di daerah pegunungan dan pedesaan air minum dapat diperoleh dari sumber air atau air tanah yang dapat langsung digunakan sebagai air minum tanpa perlu pengolahan terlebih dahulu. Namun lain halnya yang terjadi pada mata air “Siga Koker“ yang terletak di gunung Leraboleng desa Leraboleng yang merupakan satu-satunya sumber air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat di (5) lima desa yaitu: Desa Leraboleng, Tuakepa, Dun Tana, Lewoingu, dan Tena Wahang Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur ini. Mata air Siga Koker dengan debit 2 l/dt yang terletak pada ketinggian ± 643 m dan berjarak ± 15 km dari pemukiman penduduk memiliki karakteristik seperti berwarna dan keruh. Salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan air minum yang berkualitas yang dititik beratkan pada mata air Siga Koker adalah dengan menggunakan tawas /alum yang bertujuan untuk mengurangi kandungan warna dan kekeruhan yang terdapat di dalam air minum tersebut. Penggunaan alum/tawas pada penelitian ini berfungsi untuk membentuk flok menjadi lebih berat/besar sehingga mudah untuk diendapkan. Hasil dari pengolahan air baku ini adalah air siap minum yang aman untuk dikonsumsi masyarakat.

Alt. Description

In mountain range and villages area, drinking water is taken from water resources on soil water. The water is usually directly used for daily consumtion without any purifiying process. This is not happened with Siga Koker water resource, the only water resource around Leraboleng mountain, in subdistrict Titehena, east Flores regency, which is consumed by people of 5 (five) villages nearby, they are Leraboleng, Tuakepa, Dun tana, Lewoingu, and Tenawahang. Siga koker water resource located at the altitude of ± 643 m and about ± 15 km away from people settlement has a debt of 2 l/s. The characteristic of the water is turbid and colored. In orde to get drinking water with good quality, alum is used. Its function is to reduce tubidity and color substance of the water. The use of alum in this research is for making the flock bigger so that it is easily settled at. The result of this purifying water procces is drinking water with good quality ready to be consumed by the people.

Contributor :

1. Ir. Agus Slamet M.Sc

***************************************************************************

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMINDAH AIR MINUM DALAM GALON KE DISPENSER DENGAN METODE ETNOGRAFI DAN QFD

DESIGN OF WATER TRAVELLER DEVICE USING ETNOGRAPHY METHOD AND QFD

Created by :
Dananjaya, Risan ( )

Subject: Engineering design
Ethnology
Quality Function deployment
Keyword: Air Minum Kemasan Galon
Etnografi
QFD

[ Description ]

Salah satu industri barang konsumsi yang mengalami perkembangan pesat adalah industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Salah satu bentuk kemasan air minum yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah air minum kemasan galon. Dalam mengkonsumsi air minum kemasan galon dibutuhkan sebuah dispenser untuk menempatkan galon. Pengumpulan data dilakukan dengan metode Etnografi. Dari pengumpulan data, diketahui permasalahan konsumen pada saat mengkonsumsi yaitu anggota keluarga kesulitan menuang air galon, kesulitan membuka tutup galon, galon jatuh dan bagian atas dispenser rusak. Sebelum membuat produk, perlu adanya pengumpulan data kriteria keinginan konsumen. Pengumpulan data kriteria keinginan konsumen dilakukan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD). Dari hasil pengembangan, didapatkan konsep A yang terpilih dan membutuhkan biaya pembuatan sebesar Rp. 277.500.

Alt. Description

The development of consumer goods industry is currently getting faster. One of those industry types is mineral gallon water industry. The type of mineral water which has the biggest number of consumer demand is mineral gallon water type. Dispenser is needed to place mineral gallon water, so it can be used properly. Data collecting is done by using ethnography method. Further step is doing data analysis and interpretation from the collecting data above then pre (earlier) conclusion can be summarized. This activity (lifting a gallon into dispenser) may cause injury in some part of human body. Both general descriptions are proved by calculating lifting limitation and complaining level which is felt by household member who regularly lift the gallon. For those reason, we need automated tool to help that activity. The designing process of water traveler is based on consumer criteria’s needs that has to be collected earlier using Quality Function Deployment (QFD) method. Based on development result, found that concept A is chosen for best and the amount of production cost is Rp. 277.500.

Contributor :

1. Dr. Ir. Sri Gunani Partiwi, MT
Aditya Sudiarno, ST, MT

****************************************************************************

ANALISA RISIKO KESEHATAN KUALITAS AIR MINUM PDAM KOTA SURABAYA

HEALTH RISK ANALYSIS OF PDAM KOTA SURABAYA DRINKING WATER QUALITY

Created by :
BRAMANTI, GEODITA WORO ( )

Subject: Manajemen risiko
Air minum–aspek kesehatan–Surabaya
Keyword: Analisa risiko Benchmarking
Fault tree analysis
Kualitas air minum PDAM

[ Description ]

Analisa risiko kesehatan pada sektor pengolahan air menjadi suatu hal yang sangat penting, mengingat air merupakan kebutuhan vital bagi kelangsungan hidup. Kebutuhan air minum bagi konsumen dipasok oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Dengan berjalannya waktu, peralatan di instalasi penjernihan air minum dan pipa air jaringan distribusi PDAM sudah banyak yang rusak karena dimakan usia, demikian juga air baku untuk air olahan PDAM semakin memburuk karena semakin banyaknya pencemar dari limbah industri yang dibuang ke tempat bahan baku air olahan, sehingga air produksi tidak memenuhi standar dimana hal ini akan menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada konsumen. Berkaitan dengan hal di atas dilakukan suatu pengamatan risiko yang terkait dengan manajemen kualitas air di PDAM. Pengamatan risiko ini dilakukan di Instalasi Penjernihan Air Minum Ngagel III dan jaringan distribusinya yaitu zone 2. dengan menggunakan metode benchmarking dan dianalisa menggunakan Fault Tree analysis. Dari proses identifikasi dan analisa risiko didapatkan 3 jenis risiko yaitu risiko penurunan kualitas air produksi yang masuk dalam kategori high risk, risiko terkontaminasi dengan partikelpartikel asing yang masuk kategori extreme risk serta risiko penurunan kualitas risiko diikuti terkontaminasi partikelpartikel asing dalam kategori high risk

Alt. Description

Health Risk Analysis in water treatment plant is important factor in water supplier system, because clean water is essential need for human being. In order to comply this demand, the customer in Surabaya municipality is supplied by Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).Due to of long usage of the installation and equipment, the distribution network is a lot of damage. In addition, caused to water resources intake to the system is polluted, the clean water produced is not appropriate that makes healthiness problem for the customer. Concerning to this problem, this research represents to risk analysis in order to improve the water quality management in PDAM. To do so, use carried out risk assessment in PDAM ngagel III and the distribution network of zone 2. The benchmarking and FTA method are proposed to utilize for the assessment. Based on the identification for risk analysis provides 3 types of risk that are (i) decreasing water production quality risk classified as high risk category,(ii)contamination with another particle risk classified as extreme risk and decreasing water production quality followed contamination with another particle classified as high risk

Contributor :

1. Dr.Ir. UDISUBAKTI C., M.Eng.Sc.

***************************************************************************

EVALUASI PEMANFAATAN AIR HUJAN UNTUK AIR MINUM PENDUDUK SECARA INDIVIDU DI KAWASAN TRANSMIGRASI DESA YAMMUA ARSO VI KABUPATEN JAYAPURA PROVINSI IRIAN JAYA

Created by :
SUBAGYO ( )

Keyword: Kebutuhan Air
Air Minum
Air Hujan

[ Description ]

Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan. Pemilihan air hujan sebagai suraber air minum merupakan alternatif terakhir apabila sumber air minum lainnya sulit didapatkannya. Mengupayakan sumber air minum dari air hujan yang mencukupi kebutuhan air minum secara individu sepanjang tahun dan menganalisa kualitas air hujan yang ditampung oleh warga masyarakat Desa Yammua Arso VI Kabupaten Jayapura Provinsi Irian Jaya, yang ditampung pada drum besi. Merencanakan unit penampungan air hujan secara sederhana yang optimum dan mengupayakan kualitas air minum yang berasal dari air hujan sesua dengan persyaratan peraturan kesehatan. Penelitian dilakukan di Desa Yammua Arso VI Kabupaten Jayapura Provins Man Jaya, air hujan yang diambil dari bak penampungan warga Desa Yammua Arso VI sebanyak tiga titik . Uji kualitas air hujan di Laboratorium PU Provinsi Irian Jaya dua titik, Laboratorium Teknik Lingkungan ITS Surabaya satu titik .Data curah hujan sepuluh tahun terakhir ( 1991-2000 ), menunjukkan bahwa tiap bulan terjadi hujan, curah hujan terkecil pada bulan Juni, kebutuhan air hujan keluarga 50 Liter/ hari, data ini perlu untuk merencanakan unit penampungan sederhana yang mencukupi kebutuhan air hujan untuk air minum keluarga sepanjang tahun. Curah hujan yang ada dapat mencukupi kebutuhan sumber air minum secara umum kualitas air hujan di Desa Yammua Arso VI Kabupaten Jayapura Provinsi Irian Jaya, layak untuk sumber air minum. Untuk mencukupi kebutuhan at minum, sebaiknya dipilih alternatif yang ke dua. Sebelum dikonsumsi perlu ditambahkan garam dapur 36,3 mg/L dan kapur sirih 25 mg/L, kemudian direbus sebelum dimanfaatkan. Untuk mengurangi kadar besi (Fe), drum dicat sebelun digunakan. Sebagai bak penampung air hujan sebaiknya digunakan drum plastik Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi warga masyarakat sebagai informasi cara memanfaatkan air hujan sebagai sumber air minum dan memberikan masukkan kepada Pemda Tingkat I Irian Jaya untuk pengembangan sarana penyediaan air minum bagi masyarakat yang menggunakan air hujan sebagai sumber air minum.

Alt. Description

Water is the most important/basic need for life. Choosing rainwater as a source of drinking water is the last alternative when other sources of drinking water are difficult to get. Trying to provide drinking water from rainwater that can meet the requirement of it individually all year round and analyze the quality of rainwater collected by the people of village Yammua Arso VI kept in iron-drums. To plan a simple unit of rainwater vessel optimally and to maintain the quality as required by health regulation. The study is done in village Yammua Arso VI, Jayapura regent, Irian Jaya Province, the rainwater taken from the vessel is as much as 3 dots. Two dots are tested in laboratory at PU Irian Jaya Province and one dot in ITS Lab of Environmental Technique to know the quality of the rainwater kept in the vessel by the village people of Yammua Argo VL The data of rainfall in the last decade (1991-2000) show that it rains every month and the least rainfall is in the month of June, the need of rainwater for a family is about 50L/day, this data is significant to plan a simple unit to fulfill the need of rainwater for drinking the whole year long. The present waterfall has already been sufficient for the need of drinking water supply. In general, the quality of the rainwater is eligible to drink. To fulfill the need of drinking water, it is better to choose the second alternative, that is by adding 36.3 mg of salt per liter and 25 mg of soft limestone per liter before the water is cooked or boiled. To reduce the rate/content of iron (Fe), the drum should be painted before use to avoid the danger of coli bacteria. The rainwater must be cooked before being consumed. This study hopefully is useful for the people as information how to make use of rainwater as a source of drinking water and give input to level I Regional Government of Irian Jaya in developing the facility of drinking water supply for the people who uses rainwater as a source of drinking water.

Contributor :

1. Ir. Hari Wiko I., M.Eng

***************************************************************************

PERENCANAAN PENGEMBANGAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM IBUKOTA KECAMATAN (IKK) PUPUAN

PLANNING OF THE DEVELOPMENT DRINKING WATER DISTRIBUTION SYSTEM IN CAPITAL DISTRICT OF PUPUAN

Created by :
Rahayu, Isti Puji ( )

Subject: Distribusi air
Keyword: Pengembangan
distribusi
tekanan
Epanet versi 2.0

[ Description ]

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk serta peningkatan kualitas hidup, maka kebutuhan air minum akan semakin meningkat pula. PDAM Kabupaten Tabanan merupakan satu-satunya perusahaan daerah yang bertanggungjawab dalam penyediaan dan pelayanan air minum penduduk di Ibukota Kecamatan Pupuan. Namun hingga saat ini pelayanan yang diberikan oleh PDAM masih rendah yaitu hanya mencapai 29,38%. Berdasarkan Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJM) disebutkan bahwa akses perpipaan secara nasional tahun 2009 adalah 40%, yang terdiri dari 66% perpipaan perkotaan dan 30% pedesaan. Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan sistem distribusi air minum. Untuk melakukan pengembangan diperlukan suatu evaluasi yang dapat memberikan penilaian terhadap beberapa aspek yang berhubungan dengan kondisi eksisting sistem distribusi air minum. Evaluasi dan pengembangan ini memberikan usulan alternatif penanganan serta merencanakan pengembangan sistem distribusi air minum Ibukota Kecamatan Pupuan dengan program Epanet versi 2.0. Pengembangan jaringan distribusi dalam 10 tahun mendatang dibagi dalam 2 tahap. Pengembangan yang dilakukan yaitu peningkatan persentase pelayanan di Desa Pupuan, Pajahan dan Bantiran. Tekanan yang terlalu tinggi dapat diatasi dengan menggunakan bak pelepas tekan. Pipa yang digunakan adalah PVC dengan diameter 100-200 mm. Biaya yang diperlukan untuk pengembangan sistem distribusi ini sebesar Rp 5.283.378.061

Alt. Description

Along with increase the residence population and the quality of life, hence the quality of drinking water required will progressively increase too. PDAM County of Tabanan County represents the single company of area which is responsible in supply and service of drinking water in District Capital of Pupuan. But until this time the service of PDAM is still low, that only reaches 29,38%. Governmental National Middle Plan(RPJM) mentioned that piping acces nationally in year 2009 is 40%, which consists of 66% urban pipe and 30% is rural. Therefore need to be conducted development of drinking water distribution system. For development, an evaluation is needed to give assessment for some aspects related to existing condition of drinking water distribution system. Evaluation and this development give handling alternative suggestion and also plan of the system development of drinking water distribution in District Capital of Pupuan with Epanet program version 2.0. Development of distribution network in 10 years ahead is divided into 2 phases. Conducted development that is make-up percentage of service in Countryside of Pupuan, Pajahan and Bantiran. Too high Pressure can be overcome by using basin of pressure release. Pipe the used is PVC with diameter 100-200 mm. Expense of needed to system development of this distribution equal to Rp 5.283.378.061 .

Contributor :

1. Ir. BOWO DJOKO MARSONO, M.Eng

****************************************************************************

DESAIN DAN IMPLEMENTASI APLIKASI OLAP UNTUK MANAJEMEN OPERASIONAL PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) KOTA SURABAYA

DESIGN AND IMPLEMTATION OLAP APPLICATION FOR OPERATIONAL MANAGEMENT PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) KOTA SURABAYA

Created by :
NURAINI, IRA ( )

Subject: Pengolahan data elektronis
Keyword: Informasi
ilmu
Komputer
Sistem penyimpanan dan temu kembali informasi
Pangkalan data
Manajemen informasi

[ Description ]

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surabaya merupakan salah satu perusahaan yang memiliki pertumbuhan data yang cukup besar. Dengan jumlah pelanggan dari PDAM Kota Surabaya yang saat ini hampir mencapai 400.000 pelanggan, maka bukanlah hal yang mudah untuk melakukan analisa multidimensi terhadap data-data yang ada. Untuk melakukan analisa, selama ini pihak manajemen harus sering mengadakan kajian terhadap data-data tersebut secara manual. Dalam tugas akhir ini dibuat sebuah aplikasi OLAP menggunakan Oracle dengan BI Beans untuk manajemen operasional Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surabaya. BI Beans menyediakan komponen aplikasi yang reusable yang dapat digunakan untuk pengembangan aplikasi business intelligence secara cepat. Untuk penyajian data dan analisa dalam bentuk aplikasi OLAP, digunakan komponen Java BI Beans. Aplikasi yang telah selesai dibangun nantinya akan diuji, apakah aplikasi telah sesuai dengan tujuan pada awal pembuatan. Dari hasil uji coba ini natinya akan dilakukan analisa apakah aplikasi telah mencapai hasil yang maksimal, jika masih ada kesalahan atau masalah nantinya akan dilakukan perbaikan kembali. Dengan aplikasi ini diharapkan pihak manajemen lebih mudah dalam melakukan analisa data, baik data pelanggan, pengaduan, pemakaian dan tagihan.

Alt. Description

PDAM is one of the company that has pretty big data growing. Perusahaan Air Minum (PDAM) Kota Surabaya has reached out 400000 customers, so it’s not an easy thing to analyze multidimensional data to existing data. The management often has to review data manually to do analysis. In this final project, application OLAP is made by using Oracle BI Beans for operational management of PDAM Kota Surabaya. BI Beans provides reusable application component that can be used for development of business intelligence application quickly. Java BI Beans component is used to make data report and analysis in form of OLAP application. The has-been-built application will be tested whether this application is applicable according to the beginning of process. From this testing result, we will analyze whether this application has reached maximal result. If there is still error or problem later, the repairmen will be done again. With this application we hope the management will be able to do analysis data easier for customer data, complaint, water using and bilingl.

Contributor :

1. Dr. Ir. JOKO LIANTO B, M Sc
DARLIS HERU MURTI, S. Kom

***************************************************************************

ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENYEDIAAN PRASARANA AIR MINUM DL KECAMATAN CIPONDOH KOTA TANGERANG

INVESTMENT FEASIBILITY ANALYSIS WATER SUPPLY INFRASTRUCTURE IN CIPONDOH, TANGERANG CITY

Created by :
Subantari,Riny ( )

Keyword: Need Analysis
Investment feasibility
Tangerang WATER SUPPLY

[ Description ]

Pelayanan air minum di Kota Tangerang saat ini dapat dikatakan masih sangat rendah yaitu sebesar 4,5%, sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan air minum bagi penduduk Kota Tangerang. Pembangunan sistem penyediaan air minum diharapkan dapat meningkatkan pelayanan bagi penduduk Kota Tangerang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut PDAM Kota Tangerang membangun Instalasi Pengolahan Air beserta jaringannya yang dilakukan setiap lima tahun, dimana pembiayaannya dilakukan melalui pinjaman. Analisis yang dilakukan adalah analisis investasi, sedangkan penilaian investasi diukur dengan Net Present Value, Internal Rate of Return dan Payback Period. Investasi yang dibutuhkan sebesar Rp. 67.981.209.552. untuk melayani 73.710 jiwa dari 193.351 jiwa penduduk Kecamatan Cipondoh pada tahun 2013 atau 38,12% dengan tarif rata-rata pada tahun 2003 sebesar Rp. 1.839 m/3 dan naik sebesar 30% setiap 3 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan suku bunga 12% diperoleh Net Present Value sebesar Rp. (27.847.162.301). Net Present Value bernilai positif apabila tarif dasar (2003) dinaikkan sebesar 37,70315%, adapun susunan tarifnya adalah sebagai berikut: Tahun 2003 tarifhya Rp.2.533/m3, Tahun 2010 tarifhya Rp. 4.280/m3, dan Tahun 2018 tarifhya menjadi Rp. 9.404/m3.

Alt. Description

Nowadays water supply service of Tangerang City could be still lower about 4,5% so not yet fulfill water supply needs population of Tangerang City. The system of water supply providing reconstruction hoped may improve a service for Tangerang citizen. To overcome these problems PDAM of Tangerang City builds Water Treatment Plant and also their network performed every five years, where it cost through loan. The analysis made is investment analysis, where as invest assessment measured with Net Present Value, Internal Rate of Return and Payback Period. Investment needs around Rp. 67.981.209.552,- to serve 73.710 from 193.350 population of Cipondoh in 2013 or 38,12% with average tariff in 2003 Rp. 1.839 m/3 and up 30% every three years. The result of this research indicates that interest 12% gained from Net Present Value about Rp. (27.847.162.301). Net Present Value positive if base tariff (2003) up 37,70315%, consists of : tariff 2003 Rp. 2.533/m3, and 2018 become Rp. 9.404/m3.

Contributor :

1. Ir. Rianto B. Adihardjo, M.Sc, Ph.D.

***************************************************************************

PENGOLAHAN AIR DENGAN MENGGUNAKAN GERABAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS AIR PDAM

WATER TREATMENT BY USING ‘GERABAH’ TO IMPROVE WATER QUALITY OF PDAM

Created by :
Burhanuddin ( )

Subject: Water–purification
Keyword: pH
E. Coli
Nitrat
sisa Klor
kekeruhan
DO
dan Gerabah.

[ Description ]

Air merupakan salah satu komponen kehidupan yang paling penting bagi manusia. Manusia menggunakan air untuk berbagai macam kegiatannya, antara lain untuk mencuci, memasak, mandi dan minum. Kebutuhan air untuk masyarakat kota Surabaya saat ini telah dipenuhi oleh Perusahaan Daerah Air Minum Surabaya (PDAM). Akan tetapi secara kualitas air yang sampai pada pelanggan (sambungan rumah) tersebut belum dapat memenuhi standar air minum yang telah ditetapkan dalam KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002. Untuk meningkatkan kualitas dari air PDAM tersebut maka diperlukan suatu bentuk pengolahan skala kecil yang nantinya tidak hanya dapat meningkatkan kualitas air PDAM untuk beberapa parameter saja. Melainkan dapat memenuhi semua parameter air minum yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini hanya mengambil 6 parameter untuk bahan penelitian, yaitu pH, E. Coli, Nitrat, sisa Klor, kekeruhan dan DO. Pada penelitian ini, pengolahan yang digunakan adalah filter single media, dengan gerabah sebagai media filtrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan dari media filter gerabah untuk memenuhi 6 parameter standar air minum yang telah diambil. Variasi yang diambil dalam penelitian ini adalah variasi ketebalan media dan perbandingan bahan pembuat gerabah. Dari data hasil filtrasi yang telah diperoleh dari semua jenis gerabah tersebut telah memenuhi semua parameter penelitian dan KEPMENKES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Jenis filter gerabah dengan campuran 0,5 dan ketebalan 2 cm lebih efektif. Hal ini dikarenakan kecepatan filtrasi dan hasil filtrasi yang dihasilkan lebih baik dibandingkan dengan jenis gerabah yang lain.

Alt. Description

Water is one of the most important parts of human’s life component. Human are using it in every activities, such as washing, cooking, showering and drinking. The needs of water are fulfilled by Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) of Surabaya. How ever the water quality for society is not suitable from the standard of KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 date 29th July 2002. Changing the manufacture in little scale will bring up the hope to improve the quality of the water it selves in several parameters. This research is using the sample of six parameter, such as pH, E. coli, Nitrate, break point chlorination, turbidity and Dissolved Oxygen Treatment of research that used in process is single media filtration with ‘gerabah’ as media filtration. Objective of this study are knowing the ability from ‘gerabah’ media filtration to fulfill six standard parameters. The variety objects of this research are media thickness and proportion ingredients from ‘gerabah’. The result of filtration analyze is every ‘gerabah’ are fulfilled every parameters and the standard of KEPMENKES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Although one sort of ‘gerabah’ filtration with 0.5 mixture and 2 cm thickness are more effective. It caused by rate and result of filtration are better than others variety of ‘gerabah’.

Contributor :

1. Dr. Ir. Nieke Karnaningroem, Dipl. SE. MSc.

****************************************************************************

ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KONDISI SANITASI, AIR BERSIH DAN PENDERITA DIARE DI JAWA TIMUR

CORRESPONDENCE ANALYSIS BETWEEN SANITATION CONDITION, CLEAN WATER, AND DIARRHEA PATIENTS IN EAST JAVA

Created by :
Purwaningsih, Hidayani ( )

Subject: Analisa Koresponden
Alt. Subject : Correspondence analysis
Keyword: Regresi Logistik Biner
Diare
Sanitasi
Air Bersih

[ Description ]

Rendahnya prioritas pembangunan sektor sanitasi, dari kebijakan dan peraturan hingga cakupan layanan fasilitas menjadi kendala utama bagi peningkatan akses sanitasi bagi masyarakat. Masih buruknya kondisi umum dari sistem air minum dan sanitasi di Indonesia berdampak pada masalah tingkat kesehatan masyarakat. Rendahnya kualitas sumber-sumber air minum dan sanitasi pada umumnya akan berakibat kepada munculnya penyakit seperti diare, muntaber, dan berbagai macam penyakit kulit lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sanitasi dan air bersih di wilayah Jawa Timur dan menganalisis pola hubungan antara penderita diare, kondisi sanitasi dan air bersih. Hasil deskriptif menunjukkan penderita diare di Jawa Timur hanya 4,72 persen. Sebagian besar wilayah Jawa Timur masyarakatnya menggunakan sumber air minum dari sumur terlindung, jarak mata air ke tempat penampungan tinja terdekat lebih besar dari 10 meter, menggunakan fasilitas air minum secara sendiri, cara memperolehnya tidak membeli, menggunakan jamban sendiri, jenis kloset yang digunakan adalah leher angsa dan tempat pembuangan akhir tinjanya adalah tangki. Analisis regresi logistik dikotomus untuk wilayah perkotaan memberikan hasil bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penderita diare adalah sumber air minum terlindung, penggunaan jamban sendiri, tempat pembuangan akhir tinja dengan tangki dan jumlah anggota rumah tangga. Sedangkan untuk wilayah perdesaan, faktor yang mempengaruhi seseorang menderita diare adalah sumber air minum terlindung, penggunaan jamban sendiri dan jumlah anggota rumah tangga.

Alt. Description

The low of sanitation sector development priority, from the policy, regulation, until facility service, become the main issue in public sanitation access improvement. Common condition badness of drinking water and sanitation systems in Indonesia influences public health level. The low of drinking water source and sanitation quality will affect to the disease appearance, such as diarrhea and many kinds of skin diseases. The aims of this research are to identify sanitation and clean water condition in East Java and to analyze the relation between diarrhea patients, sanitation and clean water condition. The descriptive shows that diarrhea patients in East Java are only 4.72%. Most people in East Java use drinking water from protected well, which the distance between the source and the septic tank is more than 10 m, use the drinking water facility individually without buying, use own closet which the type is swan-neck type, and the excrement disposal is septic tank. Binary logistic regression analysis for cities yields the contributing factors to diarrhea patients, i.e. protected drinking water, the usage of own closet, septic tank as the last excrement disposal, and the number of house members. While for villages, they are protected drinking water, the usage of own closet, and the number of house members.

Contributor :

1. Dr. Sutikno, S.Si., M.Si

***************************************************************************

AUDIT DAN KONSERVASI ENERGI DI IPAM NGAGEL 2 PDAM KOTA SURABAYA UNTUK MENEKAN BIAYA PRODUKSI

ENERGY CONSERVATION AND AUDIT AT IPAM NGAGEL 2 PDAM SURABAYA CITY TO REDUCE COST PRODUCTION

Created by :
Priyambodo, Adam ( )

Subject: Biaya produksi
Perhitungan
Keyword: listrik
Instalasi Pengolahan Air Minum
Audit dan Konservasi Energi

[ Description ]

Telah dilakukan Audit dan Konservasi Energi di PAM Ngagel 2 PDAM Kota Surabaya yang memproduksi air minum mengenai konsumsi dan aliran energinya. Audit diperoleh berdasarkan data historical maupun data operasi yang didapat dari wawancara pihak perusahaan. Terlihat bahwa dalam pemakaian energi masih cukup besar. Untuk memproduksi 1 m3 air pada tahun 2006 dibutuhkan energi listrik sebesar 0,28 kWh/m3 air sedangkan pada tahun 2007 dibutuhkan energi listrik sebesar 0,30 kWh/m3 air. Fluktuasi produksi yang cukup besar menyebabkan Instalasi Pengolahan Air Minum kurang efisien, rata-rata motor hanya beroperasi pada 67,86% dari beban nominalnya. Usaha-usaha konservasi dapat dilakukan dengan penjadwalan pencucian bak filter pada beban WBP sebesar 4.040,38 kWh dipindah ke beban LWBP dan memperbaiki pengoperasian motor-motor listriknya tanpa mempengaruhi kapasitas produksi

Alt. Description

Energy Audit and Conservation has been done at IPAM Ngagel 2 PDAM Surabaya City which produces drinking water concerning on consumption and its energy stream. Audit has been collected based on historical data and operation data got from interviewing the company. It has been proved that the use of energy is still higher. To produce 1 m3 irrigate in 2006 required electrics energy equal to 0,28 kWh/m3 irrigate while in the year 2007 required electrics energy equal to 0,30 kWh/m3 irrigate. The great production fluctuation affects the Installation of Processing of Drinking Water less efficient, motor mean only operates on 67,86% from its nominal burden. Conservation effort can be conducted with the scheduling of wash of basin filter at burden WBP equal to 4.040,38 kWh moved to burden LWBP and improve its electromotors operation without influencing capacities of production.

Contributor :

1. Ir. Syariffuddin Mahmudsyah, M.Eng
Ir. Soedibyo, MMT

***************************************************************************

PENERAPAN KONSEP GREEN AND LEAN PRODUCTIVITY DALAM UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS (STUDI KASUS : INSTALASI PENJERNIHAN AIR MINUM II NGAGEL PDAM SURABAYA)

THE IMPLEMENTATION OF GREEN AND LEAN PRODUCTIVITY IN EFFORT TO INCREASE PRODUCTIVITY (Case Study : Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) II PDAM Surabaya)

Created by :
Meinitha, Venny Aditya ( )

Subject: Kualitas
Pengawasan
Keyword: Green and lean productivity
waste
non value added activity

[ Description ]

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) adalah salah satu perusahaan daerah dengan kegiatan pokok melayani dan menyediakan air bersih kepada masyarakat melalui sistim perpipaan. PDAM Surabaya memiliki beberapa instalasi penernihan air minum salah satunya adalah Instalasi Penjernihan Air Minum (IPAM) II Ngagel Surabaya yang menjadi obyek penelitian. Agar masyarakat dapat menikmati air bersih yang terjamin kualitas dan mencukupi kuantitasnya serta mendukung pembangunan berkelanjutan maka PDAM harus meningkatkan produktivitasnya dengan melakukan efisiensi yaitu mengurangi aktivitas non value added yang merupakan pemborosan (waste) dan meningkatkan kinerja lingkungan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Green and Lean Productivity. Green Productivity dipopulerkan oleh Asian Productivity Organization (APO) yaitu melakukan penghematan dengan mencegah produk gagal sambil melestarikan lingkungan. Lean merupakan filosofi Toyota production untuk mengeliminir segala bentuk pemborosan yang terjadi dalam aliran nilai. Melalui penambahan mesin filter RO yang mampu meningkatkan kualitas dan jumlah tangkapan air baku maka diperoleh peningkatan produktivitas sebesar 32%. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Green and Lean Productivity merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas dan perlindungan terhadap lingkungan.

Alt. Description

Drinking Water District Company (PDAM) is one of district company with fundamental activity serve and provide clean water to society through pipe systems. PDAM Surabaya had some Depurating installation of drinking water,one of them is Drinking Water Depurating Installation ( PAM) II Ngagel Surabaya which becoming research object. In order to make society can enjoy well guaranted clean water of quality and answer the demand its amount and also support sustainability development hence PDAM have to improve its productivity by conducting efficiency that is lessen non value added activity representing extravagance (waste) and improve environmental performance. The Approach used at this research were Green and Lean Productivity. Green Productivity popularized by Asian Productivity Organization (APO) that is conduct thrift preventedly product fail at the same time preserve environment. Lean represent the philosophy of Toyota production to eliminate all the form of waste that happened in stream assess. Through machine filter RO addition capable to improve quality and sum up permanent water capture is hence obtained by a productivity improvement of equal to 32%. Pursuant to inferential the result that Green and Lean Productivity represent correct strategy to increase the productivity of organization and environment protection.

Contributor :

1. Dr. Ir. MOSES L. SINGGIH, MSc, M.Reg.Sc
Dyah Santhi Dewi, ST, M.Eng.Sc

****************************************************************************

PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI INSTALASI PENGOLAHAN AIR BABAT PDAM KABUPATEN LAMONGAN

Created by :
SANDY, ARIF PALUPI ( )

Subject: …
Alt. Subject : Water – Supply
Keyword: Air Bersih
Bangunan Pengolahan Air Minum
Peningkatan Kapasitas Produksi
Instalasi Babat

[ Description ]

Pentingya pemenuhan kebutuhan air bersih menjadikan agenda Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pelayanan dari separuh prosen penduduk yang belum terlayani akses air minum saat ini sebagai sasaran pada tahun 2015 (target MDG). Begitu juga Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) Babat yang memproduksi air bersih dari salah satu sumber air baku milik PDAM Kabupaten Lamongan, yaitu sungai Bengawan Solo. Dengan dua instalasi yang ada, IPA Babat telah melayani 13,78% penduduk wilayah pelayanannya. Sasaran akan tercapai dengan peningkatan prosen pelayanan hingga 56,89%. Peningkatan prosen pelayanan diupayakan dengan peningkatan kapasitas produksi sebesar 450 Lt/dt. Kapasitas produksi ditingkatkan dengan pengoperasian kedua instalasi yang ada pada kapasitas perencanaan sebesar 120 Lt/dt setiap instalasi danperencanaan bang unan pengolahan air minum untuk instalasi baru berkapasitas 210 Lt/dt. Instalasi baru direncanakan dalam 2 tahap yang membutuhkan 4 pra sedimentasi, 1 pengaduk cepat, 1 pengaduk lambat, 4 sedimentasi, 4 filter dan 1 reservoir untuk tiap tahap sebagai unit utama. Perencanaan instalasi baru juga dilengkapi intake, pembubuh bahan kimia dan sludge drying bed. Perencanaan instalasi baru membutuhkan biaya program sebesar Rp. 4.570.014.120,00 untuk setiap tahap.

Alt. Description

The importance of clean water requirements fullfillment make Indonesia Government agenda’s to increase services from a half of Indonesia society percentage that has not serviced clean water access as an objective in 2015 (MDG target). Even so Babat water treatment plant that produce clean water from one of PDAM Lamongan regency water source properties, that is Bengawan Solo river. With two existing installation, this water treatment have serviced 13,78% society on its service area. The objective will reach out with raising percentage of service until 56,89%. The increasing of services percentage effort with production capacities upgrading as big as 450 Lt/s. Production capacities upgrade with operating both existing installation on planning capacities at 120 Lt/s each installation and planning water treatment plant for new installation with 210 Lt/s capacities. New installation planned in two stages which need 4 Plain sedimentations, 1 flash mixing, 1 slow mixing, 4 sedimentations, 4 filters as main unit operation on each stages. New installation planning is completed too with intake facilities, dosing reagen and sludge drying bed. Cost predicted for New installation planning require 4.570.014.120,00 rupiahs programme budget on each stages.

Contributor :

1. Ir. HARI WIKO INDARYANTO, M.Eng

***************************************************************************

RERATING KAPASITAS PRODUKSI IPA BATU AMPAR PDAM BALIKPAPAN

RERATING PRODUCTION CAPACITY BATU AMPAR WATER TREATMENT PLANT (WTP) BALIKPAPAN

Created by :
DEVI, SINTHA ELFIRA ( )

Subject: Air minum–Balikpapan
Teknik penyediaan air
Keyword: Evaluasi IPA
Analisa hidrolika
Analisa jar test
Rerating
Tube settler

[ Description ]

Suatu sistem pengolahan air minum dapat dioptimalkan dengan mengembangkan setiap proses sehingga mendekati kinerja potensial kondisi eksistingnya. Ini bertolak pada kenyataan bahwa kemampuan olah setiap unit proses selalu berada pada suatu kisaran nilai bukan pada besaran harga yang pasti. Rerating suatu instalasi pengolahan air minum dilakukan baik dalam rangka penambahan kapasitas produksi ataupun untuk perbaikan kinerja suatu instalasi pengolahan air minum hingga kinerja proses desainnya tercapai. Tugas akhir ini merupakan evaluasi kondisi eksisting IPA Batu Ampar PDAM Kota Balikpapan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi. Saat ini kapasitas produksi IPA Batu Ampar sekitar 328 lt/det sedangkan kapasitas terpasang sebesar 500 lt/det. Tahap pertama yang dilakukan dalam tugas akhir ini adalah mengevaluasi kondisi eksisting instalasi. Dari evaluasi ini didapatkan data-data antara lain : kualitas air baku, kualitas efluen, kondisi hidrolis dan proses pada operasi eksisting, serta kriteria desain ataupun kapasitas unit eksisting. Dilakukan pula analisa jar test untuk menentukan dosis optimum. Kemudian dilakukan perhitungan untuk kapasitas 500 lt/det . Dari hasil evaluasi, rerating dapat dilaksanakan dengan mengganti tube settler pada clearator 3 dan 4 dengan tube settler yang 2 kali lebih panjang. Dan tidak diperlukan perencanaan bangunan baru.

Alt. Description

Water treatment system can work optimal by expanding every process up to its potential existing ability condition. This accuse by the fact that the ability of every process unit always compared with its range value, not in a fix range. Rerating WTP can be done in the framework of production capacity increment or to improve the water treatment unit s ability so that the design process performance accomplish. This final project forms an evaluation of the existing condition of WTP Batu Ampar Balikpapan to optimize production capacity. Right now, the production capacity of Batu Ampar WTP is around 328 L/s, with an installed capacity of 500 L/s. First stage is evaluating the existing condition of the installation. From the evaluation of standard water quality, effluent quality, hydraulic condition and process on existing operation, design criteria and the existing unit capacity can be summarized. Jar test analysis has also been done to find the optimum dose. After that, calculation for 500 L/s capacity was carried out. From the evaluation, rerating can be achieved by changing tube settler on clearator 3 and 4. For clearator 3 and 4, the tube settler is twice longer. And there is no need to build any new installation.

Contributor :

1. Prof. Ir. WAHYONO HADI, MSc., Ph.D.

***************************************************************************

ANALISIS STATISTIK TENTANG PENGENDALIAN KUALITAS AIR MINUM DI PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN MADIUN

Created by :
Maharani Dewi A. ( )

Subject: Quality Control
Alt. Subject : Quality Control
Keyword: Kualitas
Kemampuan proses
Air minum.

[ Description ]

Air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat baik di kota besar maupun di kota kecil. PDAM berfungsi sebagai perusahaan yang melayani masyarakat untuk mendapatkan air minum yang bersih dan sehat. Sumber air yang digunakan oleh PDAM Kabupaten Madiun berasal dari air sumur bawah tanah, sehingga tidak dilakukan proses pengolahan terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai air baku yang dikonsumsi masyarakat. Penelitian secara statistik belum pernah dilakukan oleh PDAM Kabupaten Madiun sebelumnya, sehingga pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang terbentuk dari parameter kualitas air minum, selain itu untuk mengetahui pengendalian kualitas air minum dan kemampuan proses kualitas air minum PDAM Kabupaten Madiun. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder pada tanggal 17 nopember 2005-15 februari 2006, dimana terdapat sepuluh variabel kualitas air minum yang diteliti antara lain Total padatan terlarut (TDS), kekeruhan, warna, fluorida, kesadahan, klorida, nitrat, pH, sulfat dan natrium. Metode analisis faktor digunakan untuk mereduksi kesepuluh variabel kualitas air minum menjadi sejumlah kecil faktor, sehingga terbentuk 3 faktor dari sepuluh variabel kualitas air minum. Faktor 1 terdiri dari Total padatan terlarut (TDS), kesadahan dan klorida, faktor 2 terdiri dari fluorida, nitrat (NO3), pH dan natrium sedangkan faktor 3 terdiri dari kekeruhan, warna dan sulfat. Analisis peta kendali digunakan untuk mengetahui apakah suatu proses tersebut terkendali atau tidak, terkendalinya suatu proses produksi tidak saja dilihat dari rataan variabel yang dihasilkan, yang biasa digambarkan dengan peta kendali mean tetapi juga dilihat dari variansinya. Proses pengendalian kualitas air minum PDAM Kabupaten Madiun untuk masing-masing faktor tidak terkendali secara statistik, karena masih terdapat beberapa titik pengamatan yang berada diluar batas kendali sehingga indeks kemampuan proses untuk masing-masing faktor tidak dapat ditentukan.

Contributor :

1. Dra. SRI MUMPUNI RETNANINGSIH, MT

****************************************************************************

ANALISA PENENTUAN TARIF AIR MINUM PDAM KOTA PALANGKA RAYA

ANALYSIS OF DETERMINING DRINKING WATER TARIFF AT PDAM PALANGKA RAYA CITY

Created by :
Juheri ( )

Subject: Air minum
Keyword: ATP-WTP
PDAM
Tarif
Palangka Raya

[ Description ]

Perolehan pendapatan PDAM Kota Palangka Raya, berasal dari penjualan air dan sangat tergantung dari tarif yang diberlakukan. PDAM tidak dapat menentukan tarif secara sepihak menurut biaya operasionalnya, melainkan harus memperhatikan kemampuan dan kemauan membayar dari konsumennya. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan berapa besarnya tarif PDAM dari sisi produsen dan mengetahui kemampuan dan kemauan dari konsumen rumah tangga serta menyusun saran kebijakan tarif berdasarkan kondisi produsen (PDAM) dan konsumen rumah tangga. Tarif air minum dari sisi produsen diperoleh berdasarkan seluruh biaya operasional dengan pedekatan pemulihan biaya operasional (Cost Recovery) PDAM, tidak termasuk investasi. Kemampuan membayar (Ability To Pay – ATP) diperoleh berdasarkan alokasi pendapatan konsumen rumah tangga untuk pem-bayaran air PDAM. Kemauan membayar (Willingnees To Pay – WTP) diperoleh dari tanggapan konsumen terhadap tarif air yang ditawarkan. Kebijakan tarif yang diusulkan disusun berdasarkan kondisi produsen (PDAM) dan kondisi ATP-WTP konsumen rumah tangga. Data sekunder diperoleh melalui survai instansional. Data primer diperoleh melalui survai ke konsumen dengan penyebaran koesioner kepada 100 responden pelanggan rumah tangga PDAM di Kota Palangka Raya. Besarnya tarif tahun 2008 dari sisi produsen untuk pelanggan rumah tangga A sebesar Rp. 4.570,-/m³ dan untuk pelanggan rumah tangga B sebesar Rp. 5.118,-/m³. Berdasarkan analisis kemampuan membayar (ATP), konsumen rumah tangga yang mampu membayar tarif air minum dari kategori Low Income sebesar Rp. 2.375,-/ m³ adalah 84,2 % dan Rp. 2.750,-/m³ adalah 10,5%; Medium Income untuk tarif sebesar Rp. 2.500,-/ m³ adalah 66,1 % dan Rp. 2.875,-/m³ adalah 10,2 %; High Income sebesar Rp. 2.625,-/m³ adalah 36,4 % dan Rp. 3.000,-/m³ adalah 22,7 %. Kemauan membayar (WTP) konsumen rumah tangga dari kategori Low Income sebesar Rp. 2.250,-/m³ adalah 89,5 % dan Rp. 2.625,-/m³ adalah 15,8 %; Medium Income untuk tarif sebesar Rp. 2.375,-/ m³ adalah 83,3 % dan Rp. 2.750,-/m³ adalah 13,6 %; High Income sebesar Rp. 2.500,-/m³ adalah 77,3 % dan Rp. 2.750,-/m³ adalah 18,2%. Kebijakan tarif air minum yang diusulkan adalah perlu menambah kategori tarif SR C (high income). Besaran tarif air minum tahun 2008 yang diusulkan untuk pelanggan rumah tangga adalah tarif berdasarkan kondisi ATP, dengan kenaikan rata-rata tarif sebesar 31,3 % dan rata-rata subsidi tarif sebesar 45,8 %.

Alt. Description

The income of PDAM in the city of Palangkaraya comes from the sale of water and largely depends on the currently applicable water rate. PDAM could not determine the rate merely on the operational cost basis, but it has also to consider its customers’ ability and willingness to pay. The aims of the search was to determine the rate should PDAM from the producer’s standpoint, and to know the ability and willingness to pay of the household consumers, as well as to arrangge suggestions on water rate policy based on the producer’s condition (PDAM) and the household consumers. The drinking-water rate from the producer’s standpoint is determined and based on the total operational cost under the PDAM Cost Recovery approach, not included investation. The ability to Pay (ATP) is based on the income allocation of the household consumers for the payment of the PDAM water. The Willingness to Pay (WTP) is obtained from the consumers’ response towards the water rate. The policy on the determination of the proposed water rate is made on the basis of the producer’s condition (PDAM) and the ATP-WTP condition of the household consumers. The secondary data got from instantional survey. The primary data got from consumers are given questionaires to 100 respondents PDAM household consumers in Palangka Raya city. The drinking-water rate in 2008 from the producer’s standpoint is Rp. 4,570.,/m3 for the A classified household consumers and is Rp. 5,118.-/m3 for the B classified household consumers. In terms of the ability to pay (ATP), the household consumers of the Low Income category who are able to pay the drinking-water rate of Rp. 2,375,-/m3 comprise 84.2% and of 2,750-/m3 comprise 10.5%. The Medium Income customers for the water rate of Rp. 2,500/m3 make up 66.1% and of Rp. 2,875.-/m3 comprise 10.2%. The High income customers for the water rate of 2,625.-/m3 comprise 36.4% and of Rp. 3,000.-/m3 make up 22.7%. The consumers’ Willingness to Pay (WTP) from the Low Income category of Rp. 2,250/m3 make up 89.5% and of Rp. 2,625/m3 comprise 15.8%. The Medium Income customers for the water rate of Rp. 2,375.-/m3 constitute 83.3% and of Rp. 2,750.-/m3 form 13.6%; The High Income customers of Rp. 2,500.-/m3 constitute 77,3% and of Rp. 2750.-/m3 comprise 18,2%. The proposed action within the policy on drinking-water rate is to add the category of SR C rate (high income). The drinking-water rate in 2008 proposed for household consumers are the ones based on the ATP condition,with the increasing water rate average 31.3% and subsidy rate everage 45.8 %.

Contributor :

1. Ir. Retno Indryani, MS

***************************************************************************

EVALUASI PENYEDIAAN AIR BERSIH PERDESAAN KECAMATAN BERMANI ULU RAYA KABUPATEN REJANG LEBONG PROPINSI BENGKULU

EVALUATION OF RURAL CLEAN WATER SUPPLY IN KECAMATAN BERMANI ULU RAYA KABUPATEN REJANG LEBONG PROPINSI BENGKULU

Created by :
ALJIHAT ( 3307202717 )

Subject: Penyediaan air
Alt. Subject : Water Supply
Keyword: air bersih
evaluasi
pengelolaan
perdesaan
perpipaan.

[ Description ]

Penyediaan air bersih perdesaan dengan sistem perpipaan di Kecamatan Bermani Ulu Raya oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Unit Kampung Melayu telah melayani 5,65 % penduduk kecamatan dan Program Penyediaan Sarana Air Bersih (PSAB) perpipaan telah melayani 25,85 % penduduk kecamatan. Target Millenium Development Goals (MDG) Nasional tahun 2015 air minum perpipaan mencapai 57,4 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi teknis sistem penyediaan air minum perdesaan dan merumuskan sistem pengelolaan agar PSAB perpipaan yang terbangun dapat berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey evaluasi formatif. Data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan dokumentasi. Data primer diperoleh melalui pengamatan, uji sampel air dan penyebaran kuesioner. Kuesioner disebarkan kepada 110 responden di 8 desa yang telah dilayani PDAM dan PSAB, dengan rincian 25 pelanggan PDAM, 40 pelanggan PSAB dan 45 non pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan air bersih perdesaan oleh pemerintah desa tidak efektif dan tidak berkelanjutan, sedangkan pengelolaan oleh Organisasi Masyarakat Setempat – Air Minum (OMS-AM) dapat menjaga keberlanjutan sistem penyediaan air minum (SPAM) perdesaan. Pemanfaatan produksi air pada tahun 2008 baru mencapai 35,99 %. Tekanan pada jaringan pipa distribusi PSAB Babakan Baru, PSAB Bangun Jaya dan PSAB Pal VII lebih kecil 10 m, sedangkan pada PSAB Air Bening, PSAB Sumberejo Transad, dan PDAM Unit Kampung Melayu lebih besar 10 m. Target MDG dapat dicapai jika dilakukan perbaikan sistem eksisting dan pembangunan PSAB untuk Desa Pal 100 dan Desa Bandung Marga. Peningkatan pelayanan PDAM dapat mencapai 16,73 %. Pengembangan tanggung jawab pelayanan PDAM untuk pemenuhan air minum Desa Tebat Tenong Luar dan Desa Pal VIII. Pengembangan pelayanan air minum perdesaan terbesar dilakukan melalui PSAB mencapai 58,74 %. Untuk mencapai hal tersebut perlu penguatan kapasitas kelembagaan pengelola PSAB di tingkat desa. Kapasitas jaringan PDAM dan PSAB masih dapat diandalkan hingga tahun 2020, upaya mempertahankan dan meningkatkan pelayanan SPAM perdesaan adalah optimalisasi kapasitas terpasang dan kapasitas produksi.

Alt. Description

Rural water supply piping system at Kecamatan Bermani Ulu Raya by The Water Supply Enterprise (PDAM) of Kampung Melayu has served 5,65 % of district resident and Clean Water Supply Infrastructure Program (Program Penyediaan Sarana Air Bersih; PSAB) has served 25,85 % of another district resident. The National Millenium Development Goals (MDG) target in 2015 is to reach 57,4 % coverage. The purpose of this research is to get a technical evaluation of rural clean water supply system and formulates the management system in order to make PSAB piping program can be increases and sustainable. The method applied in this research is formative evaluation survey method. Secondary data is collected through bibliography study and documentation. Primary data are obtained through observation, water sampling test and questionaire propagation. Questionaire was propagated to 110 responders in 8 villages served by PDAM and PSAB, with detail of : 25 PDAM customers, 40 PSAB customers and 45 is neither PDAM nor PSAB customers. Results of the research indicate that rural clean water management by rural government is not effective and not sustainable, while management by Local Community Organization for Clean Water (Organisasi Masyarakat Setempat–Air Minum; OMS-AM) can keep the sustainability of the system (Sistem Penyediaan Air Minum, SPAM). The use of water production in 2008 has just reached 35,99 %. Pressure in distribution network by PSAB Babakan Baru, PSAB Bangun Jaya and PSAB Pal VII is less than 10 m, while in PSAB Air Bening, PSAB Sumberejo Transad, and PDAM Kampung Melayu is more than 10 m. MDG target could be reached if the existing system could be improved and the development of PSAB for Desa Pal 100 and Desa Bandung Marga can be implemented. Improvement PDAM system may increase coverage to 16,73 %. Improvement of service of PDAM responsibility is in Desa Tebat Tenong Luar and Desa Pal VIII. Clean water supply coverage by PSAB even may increase up to 58,74 %. It needs institution capacities strengthening for PSAB management at rural level. Piped network capacity of PDAM and PSAB can still be used up to 2020. The efforts to maintain and improve rural SPAM service are by optimizing installed and production capacities.

Contributor :

1. Ir. Eddy Setiadi Soedjono, Dipl.SE., M.Sc., Ph.D.

***************************************************************************

PENENTUAN TARIF AIR MINUM PDAM KOTA KUALA KAPUAS KABUPATEN KAPUAS, KALIMANTAN TENGAH

DETERMINATION OF PDAM WATER RATES IN KUALA KAPUAS CITY

Created by :
IMANNUAH ( )

Keyword: Tarif air minum
ATP

[ Description ]

Perolehan pendapatan PDAM berasal dari hasil penjualan air dan sangat tergantung dari tarif air yang diberlakukan. PDAM tidak dapat menentukan tarif secara sepihak menurut biaya operasionalnya, melainkan harus memperhatikan kemampuan dan kemauan membayar dari konsumen. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan berapa besamya tarif PDAM dari sisi produsen dan melihat kemampuan dan kemauan membayar dari konsumen, serta menyusun saran kebijakan tarif berdasarkan kondisi PDAM dan konsumen. Tarif air minum dari sisi produsen dihitung berdasarkan seluruh biaya operasional PDAM. Kemampuan membayar (Ability To Pay – ATP) diperoleh berdasarkan tarif air minum per m3 yang dibayarkan ke PDAM. Kemauan membayar (Willingness To Pay – WTP) diperoleh berdasarkan persepsi konsumen terhadap tarif air. Kebijakan tarif yang diusulkan disusun berdasarkan kondisi PDAM, konsumen dan kebijakan Pemerintah Kota Kuala Kapuas. Besar tarif air minum PDAM Kuala Kapuas, berdasarkan biaya operasional PDAM, tahun 2006 sebesar Rp. 2.598,00/m3 untuk sambungan rumah tangga dan Rp. 1.928,00 /m3 untuk kran umum. Tarif tahun 2007 sebesar Rp. 4.428,00 /m3 untuk sambungan rumah tangga dan Rp. 3.109,00/m3 untuk kran umum. Tarif tahun 2008 sebesar Rp. 4.424,00 /m3 untuk sambungan rumah tangga dan Rp. 3.109,00 / m3 untuk kran umum. Kemampuan membayar (ATP) konsumen rumah tangga Kategori Low Income terhadap tarif sebesar Rp. 2.619,00/m3 adalah 60,42 % dan Rp.3.738,00/m3 adalah 22,92 %. Kategori Medium Income kemampuan konsumen terhadap tarif sebesar Rp.3.178,50/m3 adalah 46,25 % dan Rp.4.857,00 / m3 adalah 8,75 %. Kemauan membayar (WTP) konsumen rumah tangga, Kategori Low Income untuk membayar tarif sebesar Rp.2.619,00/ m3 adalah 20,80 %, Kategori Medium Income kemauan konsumen untuk membayar tarif sebesar Rp.2.619,00/m3 adalah 61,20 %. Berdasarkan kebijakan tarif pemerintah dan berdasarkan WTP konsumen terhadap kenaikan tarif 10%, maka usulan penetapan tarif untuk sambungan rumah tangga pada Kategori Low Income untuk 0 – 10 m adalah 2.619,00/m3, untuk 11 – 20 m3 adalah Rp. 3.178,50/m3, untuk diatas 20 m3 adalah 3.739,00/m3. Kategori Medium Income untuk 0 – 10 m3 adalah Rp. 3.178,50/m3, untuk 11 – 20 m3 adalah Rp. 3.739,00/m3, untuk diatas 20 m3 adalah Rp.4.857,00/m3 . Tarif tahun 2007 dan tahun 2008 diasumsikan terjadi kenaikan 10 %/tahun.

Alt. Description

PDAM’s revenues derived from the drinking water sale and this highly depended on the prevailing water rates. PDAM (Kuala Kapuas Municipal Waterworks) could not determine the rate unilaterally according to its operating costs. Rather, it should carefully consider the consumers’ ability to pay (ATP) and willingness to pay (WTP). The purpose of the recent research was to determine what the rate should PDAM charge from producer’s aspect and to know the consumers’ ATP and WTP, as well as to arrange recommendations regarding the water rates on the basis of PDAM and consumer’s conditions. The water rates from the producer’s aspect could be calculated by taking into consideration of all operating costs. The ability to pay (ATP) was measured in accordance with the water rates per m3 paid to the PDAM. Similarly, the willingness to pay (WTP) might be measured in associated with the consumers’ perception toward the water rates. The rate policy was proposed based on PDAM, consumers’ circumstances and policy of Kuala Kapuas local government. The water rates in of PDAM Kuala Kapuas with respect to the operating costs in 2006 was fixed at Rp. 2,598,00/m3 for household water connections and Rp. ,928.00/m3 for the public water taps. In 2007the rates accounted for Rp. 4,428.00/m3 for the household water connections and Rp. 3,109.00/ m3 for the public water taps, while in 2008 those figures will be at Rp. 4,424.00/m3 and Rp. 3,109.00/m3, respectively. The household consumers’ ATP in the low income bracket for paying Rp. 2,619.00/m3 was recorded at 60.42% and Rp. 3,738.00/m3 was recorded at 22.92%. Furthermore, the consumers’ ATP in the medium income bracket to pay Rp. 3,178.50/m3 represented 46.25% and Rp. 4,857.00/m3 accounted for 8.75%. In addition, the consumers’ WTP in the low income bracket for payment of Rp. 2,619.00/m3 indicated 20.80%, while the those in the medium income bracket for payment of Rp. 2,619.00/m were 61.20%. As for the government rate policy and consumers’ WTP in line with an increase in rate at 10%, then the proposed rates for the household consumers in the low income bracket for 0 – 10 m3 were Rp. ,619.00/ m3, for 11-20 m3 Rp. 3,178.50/m3 and for above 20 m3 Rp. 3,739.00/m3. Similarly, the proposed rates for the household consumers in the medium income bracket for 0 – 10 m3 were Rp. 3,178.50/m3, for 11 – 20 m3 Rp. 3,739.50/m3 and for above 20 m3 Rp. 4,857.00/m3. It is estimated that the water rates in 2007 and 2008 will experience an increase by 10% annually.

Contributor :

1. Ir. Retno Indryani, MT

****************************************************************************

PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM IKK MENDOYO, BALI

THE PLAN OF THE WATER DISTRIBUTION SYSTEM IN IKK MENDOYO, BALI

Created by :
Maulidia, Cut Ika ( )

Subject: Distribusi air
Keyword: Kebutuhan air
distribusi
pelayanan

[ Description ]

Ikk Mendoyo (Desa Yeh Embang Kauh) merupakan kawasan rencana pengembangan sistem distribusi PDAM Jembrana. Peningkatan jumlah penduduk di IKK Mendoyo mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan air bersih. Latar belakang perencanaan pengembangan ini adalah kurangnya tingkat pelayanan air bersih pada IKK Mendoyo yang baru mencapai 42,1% dari jumlah penduduk IKK tersebut. Hal ini disebabkan karena debit pada sumber yang kecil yaitu sebesar 3 liter/detik, sehingga perencanaan ini menggunakan sumber air baru yang berasal dari air permukaan, yaitu Sungai Yeh Embang. Perencanaan ini memberikan alternatif penanganan dalam merencanakan sistem distribusi air minum dengan program Epanet Versi 2.0.Perencanaan sistem distribusi air minum ini dilakukan untuk 10 tahun mendatang, dimana pada tahun 2018, target pelayanan kebutuhan air meningkat dari 42,1 % menjadi 90,35%. Hal ini telah mengacu pada konsep MDGs (Millennium Development Goals), di mana target pelayanan kebutuhan air hingga 10 tahun ke depan dapat mencapai 80%. Kebocoran hingga akhir perencanaan diharapkan hanya 20%. Pipa yang digunakan dalam perencanaan ini adalah pipa PVC dengan diameter antara 50 –150 mm. Biaya yang diperlukan adalah sebesar Rp.582.702.730.

Alt. Description

Mendoyo Subdistrict (Yeh Embang Kauh Village) is a region in the plan of the clean water distribution system of PDAM Jembrana. The increase of the population will cause the increase of water demand. The purpose of this plan is the lack of clean water in Mendoyo Subdistrict, which only reach 42,1% of the population. It caused by the water capacity, which is only 3 L/second, so that the new water resource is needed, from surface water, Yeh Embang River. This plan provides alternative suggestions in handling and planning the clean water distribution system using Epanet Version 2.0 programme. This clean water distribution system plan executed for the next 10 years, which the target of water demand increased from 42,1% became 90,35%. It is following the MDGs (Millennium Development Goals) concept, in which the target service of water demand for the next 10 years can reach the number of 80%. The leakage is expected only 20% until the end of this plan. The type of pipe for this clean water distribution system plan is PVC, using diameter between 50 –150 mm. The total cost for this clean water distribution system plan is 582.702.730 rupiah.

Contributor :

1. Ir. BOWO DJOKO MARSONO, M.Eng

***************************************************************************

UPAYA PEMANFAATAN AIR PAYAU UNTUK AIR MINUM SUATU STUDY KUALITAS AIR PADA PERUMAHAN OMA INDAH MENGANTI – GRESIK

EFFORT BRACKISH WATER EXPLOITING FOR THE DRINKING WATER A STUDY OF WATER QUALITY AT HOUSING OMA INDAH MENGANTI-GRESIK

Created by :
Valentinus Tan ( )

Subject: Air minum
Keyword: Membrane mineral

[ Description ]

Penggunaan snmber air tanah dangkal sering mengalami kendala karena air sumurnya terasa payau. Hal ini dialami oleh warga perumahan Oma indah Menganti -Gersik, walaupun lokasi perumahannya jauh dari garis pantai. Perumahan ini, terletak di desa Bringkang, kecamatan Menganti, kabupaten Gresik – Jatim. Letak desa ini, 13,5 km dari garis pantai selat Madura. Sumur yang ada diperumahan ini, berbeda-beda rasa asinnya sesuai letak sumur. Bagaimana memantaatan air payau dari sumur warga yang telah di bor/gali? Untuk mengatasi kebutuhan air yang meningkat dari tahun ke tahun diperlukan upaya pemanfaatan air payau untuk pemenuhan kebutuhan air minum. Salah satu usaha pemanfaatan air payau untuk air minum adalah pengolahan dengan metode membran mineral. Sebelum pengolahan dengan metode membran, dilakukan pengukuran di lapangan dan pengujian di laboratorium sampel air sumur. Dari data yang diperoleh sebelum pengolahan dapat dianalisa unsur yang terkandung dalam air sumur, hubungan antara jarak sumur ke sungai dengan tingkat keasinan air ( Cl dan DHL). Setelah pengolahan dengan beberapa modifikasi membran mineral dapat diketahui modifikasi membran mineral yang paling unggul dan maksimum kadar Cl air sumur, yang mampu diolah. Dari hasil analisa regresi SPSS, diketahui semakin dekat sungai, semakin payau airnya. Pengolahan dengan menggunakan modifikasi memhran mineral dengan reaksi kimia dapat menurunkan kadar garam (NaCl) sebesar 90 %. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa dalam pemanfaatan air payau untuk air minum, modifikasi membran dengan reaksi kimia yang paling unggul. Membran ini dapat mengolah air payau yang kandungan Cl nya maksimum 2299 mg/l Cl menjadi 240 mg/lCl.

Alt. Description

Usage of source of ground water, often experience of constraint because hs well water felt is brackish. This matter was experienced by citizen housing of Oma Endah Menganti – Gersik, although its housing location far fiom coasdine. This housing, located in Bringkang countryside, Menganti dlstrict Gresik sub-province – Jatim. This situation Countryside, 13,5 km from Madura strait coastline. Existing Well in this housing, different each other feel brinyly of according to situation of well. How effort use brackish water from citizen well which have drilling / dig ? To overcome amount of water required which mounting fiom year to year needed efifort brackish water exploiting for the accomplishment of amount of water required drink. One of effort brackish water explorting for the drinking water is by mineral membrane method Before processing with membrane method, done measurement in field and examination sample of well water in laboratory. From information before processing can be analysed element which implied in well water, relation among well distance to river with level saltiness of water ( Ci and DHL ). After processing with a few modify mineral membrane can know most pre-eminent modification of mineral membrane, and maximum Cl rate of well water, which can to be processed. From result of SPSS regresi analysis, known closer river, brackish progressively its water. Processing by using mineral membrane modification with reaction of chemistry can degrade salt rate ( Nacl) equal to 90 %. Therefore can be concluded that in brackish water exploiting for the drinking of water, membrane modification with reaction of chemistry is most pre-eminent This membrane can process Its maximum obstetrical brackish water 2299 mg/l Cl become 240 mg/1 C1.

Contributor :

1. Ir. Soetoyo, M.Sc.
Prof. Ir. Wahyono Hadi, M.Sc Phd

***************************************************************************

STUDI KUALITAS AIR PADA JARINGAN DISTRIBUSI KOTA JAYAPURA

Created by :
CONORAS, SIRAJUDIN ISMAIL ( )

Keyword: Kualitas Air
Siap Minum
Jarak
TDS

[ Description ]

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kondisi umum kualitas air pada penyediaan air bersih Kota Jayapura, menganaiisa korelasi jarak antara lokasi konsumen dan sumber air/ instalasi terhadap kualitas air yang diterima oleh konsumen/pelanggan, dalam upaya mengetahui apakah jaringan disbibusi sudah berfungsi sesuai fungsinya yaitu menyalurkan air tanpa merubah kualitas air. Wilayah Studi adalah Daerah Abepura, mengingat daerah Abepura mempunyai jaringan distribusi yang baik dengan ketersediaan data yang cukup lengkap dan hanya khusus daeran yang mendapat suplai air dari Reservoir Waena. Parameter Observasi untuk indikasi kualitas air yaitu : Total Zat PadatTerlarut (TDS), Kekeruhan , Sisa Klor dan Coliform. Hasil pengukuran dibandingkan dengan baku mutu air minum yang berlaku di Indonesia untuk mengevaluasi kondisi kualitas air. Metode Least Square digunakan untuk menganalisa hubungan atau korelasi antar variable dalam penelitian ini. Meskipun ditinjau dari parameter TDS dan Kekeruhan, air telah memenuhi persyaratan baku mutu air minum. Sedangkan ditinjau dari parameter coliform, air tidak memenuhi baku mutu air minum, Korelasi yang rendah untuk hubungan antara jarak dan TDS (r = 0.031), begitu juga untuk jarak dan kekerunan (r = -0.462), artinya selama air mengalir di jaringan distribusi tidak terjadi perubahan TDS dan kekeruhan. Korelasi tinggi antara jarak dan coliform (r = 0.713), begitu juga antara jarak dan Sisa Klor (r = -0.735), artinya selama air mengalir di jaringan distribusi terjadi perubahan coliform dan Sisa Klor. Korelasi tinggi antara coliform dan sisa klor (r = -0.752), artinya jumlah coliform tergantung konsentrasi sisa klor.

Alt. Description

The purpose of this research are evaluation of general condition of water quality at supplying clean water in Jayapura, evaluation correlation of distance between consumer and water/ installation sources to water quality that accepted with consumer/ customer, to know that did distribution network as some as the function that supplying water without change of water quality. Study area was in Abepura, remembered Abepura had good distribution network in complete data preparation and special district where get water supply from reservoir Waena. Parameter of observation to indicate water quality such as Total of Solid Dissolved (TDS), Turbidity, Chloric and Coliform ResL Measuring result was compared with drinking – water quality in Indonesia to evaluate condition of water quality Least Squares method was used to analyze the connection or correlation of variables in this research. Although observe from TDS parameters and Turbidity, the water had completed base condition of drinking water quality. While, observe from Coliform parameter, the connection between distance and TDS (r = 0,031), also between distance and Turbidity (r = -0,462), those mean as long as water flow in the distributjon network so nothing happen changes of TDS and turbidity. High correlation between distance and coliform (r = 0,713), also between distance and chloric rest (r = -0,735), those mean as long as water flow in distribution network changes of Coliform and chloric rest High correlation between coliform and chloric rest (r = -0,752). Mean amount of coliform depend on concentrations of chloric rest.

Contributor :

1. Prof. Ir. Wahyono Hadi, M.Sc., Ph.D

****************************************************************************

PENGARUH VARIASI MEDIA DAN TINGGI MEDIA PADA FILTER DUAL MEDIA UNTUK PENINGKATAN KUALITAS AIR KRAN

THE INFLUENCE OF HIGH AND TYPE OF MEDIA IN A FILTER DUAL MEDIA TO IMPROVE TAP WATER QUALITY

Created by :
Fairuza, Eka Zuhrotul ( )

Subject: Air
penyulingan
Keyword: Rapid sand filter
dual media
turbidity

[ Description ]

PDAM Surabaya merupakan instansi yang memproduksi air bersih untuk masyarakat. Air produksi PDAM Surabaya belum memenuhi standar baku mutu air minum. Menurut penelitian awal, air PDAM Surabaya masih mengandung kekeruhan dan coliform yang cukup tinggi, sehingga air PDAM Surabaya tidak layak untuk diminum. Oleh karena itu, sebagian masyarakat menggunakan air kemasan untuk minum. Seiring berkembangnya teknologi, masyarakat telah mengenal suatu alat filter yang mampu mengurangi tingkat kekeruhan dan coliform air PDAM Surabaya. Hal ini terbukti dengan banyaknya alat filter yang dijual dipasaran, tetapi alat tersebut mahal harganya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat suatu alat filter untuk menghasilkan air PDAM Surabaya yang langsung dapat diminum dengan menggunakan filter dual media. Filter yang dibuat adalah rapid sand filter aliran downflow, menggunakan dual media yaitu pasir kuarsa dan GAC (kayu jati dan tempurung kelapa) dengan tinggi 6 cm dan 12 cm, serta rate filtrasi 3 l/menit dan 5 l/menit. Berdasarkan hasil penelitian, filter yang terbaik adalah filter yang menggunakan media pasir kuarsa 6 cm dan GAC kayu jati 12 cm dengan rate filtrasi 5 l/menit. Kinerja yang dihasilkan alat tersebut memenuhi standar baku mutu air minum KEPMENKES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002. Akan tetapi alat filter ini baru bisa menurunkan kandungan coliform di air PDAM Surabaya sebesar 98,56%.

Alt. Description

PDAM Surabaya is an institution that produce clean water for public. The produced water of PDAM Surabaya is qualified for drinking water. Based on the initial research, the produced water of PDAM Surabaya is still containing high turbidity and coliform. Some people buy bottled water for drinking. In the market, there is some equipment that is used to purify tap water; however, the equipment is mostly expensive. Therefore, this research aims to make an equipment that can be used to purify tap water so that the water becoming potable water. The equipment is using the principle of rapid sand filter with down-flow stream that uses dual media; i.e. quartz sand and GAC (made from teak wood and coconut shell). The height of the media will be 6 cm and 12 cm, alternately. The rate of filtration will be 3 l/minute and 5 l/minute. From the results, it can be concluded that the best filter is the filter that using quartz sand media of 6 cm and teak-GAC of 12 cm height, with the rate of filtration of 5 l/minute. The resulting water is in the standard quality of drinking water of KEPMENKES RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002. However, this equipment can only reduce 98,56% of the coliform content in produced water of PDAM Surabaya. A further research is needed to make the equipment better.

Contributor :

1. Dr. Ir. Nieke Karnaningroem, MSc.

***************************************************************************

PENERAPAN ANALISIS MULTIVARIAT DALAM PENGENDALIAN KUALITAS AIR PRODUKSI DI PDAM SURABAYA

Created by :
DEVIANTI, VIVID ( )

Subject: analitis air
Keyword: Pengendalian Kualitas Statistik Multivariat
Analisa Faktor
Peta Kendali Multivariat Hotelling T2
Analisa Komponen Utama
Analisa Skor
Indeks Kemampuan Proses Multivariat
Multivariate Statistical Process Control
Factor Analysis
Multivariate Control

[ Description ]

Pertumbuhan penduduk dan perkembangan kantong-kantong industri dan usaha di Surabaya semakin memacu meningkatnya kebutuhan air bersih. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya bertanggung jawab dalam penanganan dan pengaturan serta peningkatan pelayanan umum pengadaan air bersih. Dalam memenuhi kebutuhan air minum masyarakat kota Surabaya dan sekitarnya, PDAM kota Surabaya melakukan pengolahan air baku dari beberapa sumber mata air di 6 (enam) agar memenuhi persyaratan air minum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 416/MENKES/PER/IX/1990. Untuk memantau kinerja dari proses pengolahan air dari waktu ke waktu dan untuk mendeteksi kejadian-kejadian penyebab proses tidak terkendali dilakukan Pengendalian Kualitas Statistik Multivariat {Multivariate Statistical Process Control). Dari 22 variabel karakteristik kualitas air produksi terkelompok menjadi 8 faktor yang dihasilkan dari Analisa Faktor (Factor Analysis). Skala prioritas analisa difokuskan pada Faktor 1 yang terdiri dari variabel TDS, Natrium, Khlorida, Suhu, DHL dan CO2 bebas. Selanjutnya dari Peta Kendali Multivariat Hotelling T2 (Multivariate Control Chart with Hotelling T2) didapatkan observasi yang diluar batas kendali yaitu observasi 62, 63, 64, 77, 83 dan 96. Berikutnya Analisa Skor (Score Analysis) dilakukan pada observasi diluar kendali tersebut dengan cara mencari nilai skor dengan Analisa Komponen Utama (Principle Component Analysis), membuat normalisasi skor, menghitung nilai kontribusi dan plot kontribusi total. Hasil investigasi menunjukkan variabel TDS memberikan kontribusi terbesar terhadap kondisi tidak terkendali. Hasil penghitungan Indeks Kemampuan Proses Multivariat (Cp) dengan menggunakan program Macro Minitab menghasilkan nilai sebesar 11,80064. Hal ini menunjukkan tingkat akurasi dan presisi proses pengolahan air minum yang cukup bagus dan secara keseluruhan proses dalam kondisi terkendali.

Alt. Description

The increasing number of population and the development of industrial era and business in Surabaya boost the need of clean water, especially drinking water. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya have the responsibility in handling, managing and improving public service for drinking water supply. PDAM Surabaya process water from many sources in 6 (six) drinking water processing installation, so that drinking water meet the specification required by Indonesian Government cq. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. 416/MENKES/PER/IX/1990. Multivariate Statistical Process Control (SPC) is developed to continuously control of the process and detect causes for uncontrollable condition. From 22 variables of quality characteristic of clean water is grouped to 8 factor generated from Factor Analysis. Analysis is prioritized to Factor 1, which variables are TDS, Natrium, Khlorida, Suhu, DHL and CO2 bebas. Multivariate Control Chart with Hotelling T3 generates off limit observations, which are observation number 62, 63, 64, 77, 83 and 96. Then Score Analysis focused on those off limit observations by finding score value with Principle Component Analysis, normalizing the score, counting contribution and plotting total contribution. Result of investigation shows that TDS variable give the biggest contribution for uncontrolled condition. Result of Index Capability Process Multivariate analysis using Macro Minitab shows Cp = 11,80064. This points that accuracy and precision of process is good and that process is in controlled condition.

Contributor :

1. Drs.Haryono, MSIE
Dr.Ir.I Nyoman Pudjawan,M.Eng

***************************************************************************

PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PERUSAHAAN AIR MINUM DENGAN MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (STUDI KASUS: PERUSANAAN DAERAH AIR MINUM DELTA TIRTA SIDOARJO)

INCREASE OF DRINK WATER COMPANY SERVICE BY USE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT METHOD

Created by :
TJAHJONO, AGOES BOEDl ( )

Subject: Pelayanan pelanggan
Keyword: Otonomi daerah
PDAM
pelayanan prima
Quality Function Deployment (QFD)

[ Description ]

Pembangunan industri, perdagangan dan perumahan di Kabupaten Sidoarjo memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kebutuhan air minum bagi masyarakat Namun kebutuhan air minum ini masih tercukupi sebesar ± 17,17% bagi jumlah penduduk Sidoarjo sebesar ± 1.548.472 jiwa pada tahun 2000, disamping itu sejalan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah di Sidoarjo, misi PDAM Delta Tirta Sidoarjo antara lain diarahkan dalam rangka memberikan pelayanan yang prima terhadap masyarakat Didasarkan pada hasil identifikasi tingkat kepuasan pelanggan yang diterima dan tingkat kepuasan yang diharapkan, masih diperoleh gap negatif pada beberapa atribut pelayanan. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untk mengatasi gap tersebut melalui metode Quality Function Deployment (QFD), metode ini pada prinsipnya bertujuan untuk memenuhi harapan-harapan pelanggan. Sedangkan atribut-atribut pelayanan yang diharapkan pelanggan PDAM Delta Tirta Sidoarjo, antara lain : kualitas air yang didistribusikan bersih dan baik, distribusi air ke pelanggan lancar, kecepatan dalam menangani kebocoran, kecepatan dalam merespon pengaduan pelanggan, kemudahan penyambungan pelanggan baru lama, dll. Dari atribut-atribut pelanggan tersebut diatas, maka respon teknis yang ditetapkan antara lain : mencuci pipa distribusi secara rutin, memelihara pompa distribusi secara rutin, mengadakan piket jaga bagian hubungan pelanggan, mengadakan piket jaga petugas teknik, menambah jumlah tenaga teknik, melatih petugas teknik, membentuk forum pelanggan, dll.

Alt. Description

The development of industries, trades and housing in Sidoarjo Regency give any effect that significant toward drink water necessity for the society. But the necessity of it only completed for 17,17% of Sidoarjo resident amount that is ± 1.548.472 in year 2000, beside that, along with the implementation of Region Autonomy in Sidoarjo, one of PDAM Delta Tirta Sidoarjo mission directed to give the best services for the society. Based on the identification result of consumer’s satisfaction level which accepted and satisfaction level purposed, still obtained negatif gap on some service attribute. Therefore it is needed some efforts to overcome this gap through Quality Function Deployment (QFD) method, this method basically purpose to meet the customers satisfaction. While the service attributes that expected by the customer of PDAM Delta Tirta Sidoarjo, such as : water quality that distributed are good and clean, the distribution to the customers is smooth, the quickness to handle any leaks, the quickness to respon any customer’s complain, the easiness to connect customer new/ old, etc. For the attributes above, so the technique response which determined are : washing distribution pipe routinely, maintain the distribution pipe routinely, held any posted guard for customer service, held any posted guard of the technicians, add the amount of the technicians, training for the technicians, formed the customers forum, etc.

Contributor :

1. Ir. HARISUPRIYANTO, MSIE

****************************************************************************

ANALISA KELAYAKAN INVESTASI PRASARANA PENYEDIAAN AIR MINUM DI PDAM KOTA PONTIANAK

ANALYSIS OF FEASIBILITY INVESTMENT FOR INFRASTRUCTURE WATER SUPPLY AT PDAM OF PONTIANAK

Created by :
WIDODO, IGNATIUS GUNAWAN ( )

Subject: Air minum
Keyword: Kebutuhan air (demand)y investasi prasarana
kelayakan
demand
investment
feasible

[ Description ]

Misi PDAM kota Pontianak mengandung arti bertolak belakang yaitu (1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat mencakup aspek sosial, kesehatan dan pelayanan umum melalui penyediaan air minum (2) memupuk pendapatan dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah(PAD). Dalam kenyataannya sebagai perusahaan daerah PDAM mengalami kerugian, sementara investasi yang ditanam sangat besar. Maka studi atau penelitian tentang analisa kelayakan investasi penyediaan air minum sangat penting untuk menentukan layak atau tidak layak. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini melalui tahapan-tahapan studi literatur, pengumpulan data, pengolahan data dan analisa serta kesimpulan dan saran. Kondisi eksisting PDAM kota Pontianak pada tahun 2002 telah dapat melayani 67% dari penduduk yang berjumlah 520.360 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 2,23 %. Pada tahun 2002 jumlah pelanggan 57.788 sambungan, dengan rata-rata pemakaian air sebesar 25,1 m3/bulan, kapasitas instalasi 910 liter/dtk dan kehilangan air 36,5%. Hasil penelitian menunjukan proyeksi jumlah penduduk tahun 2012 sebesar 635.482 jiwa, dengan pertumbuhan rata-rata 1,8%, kebutuhan air rata-rata(Qr) tahun 2012 sebesar 2.384.640 m3/bulan. Untuk dapat melayani penduduk sampai 80% (th.2012) diperlukan pengembangan dengan penambahan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (EPA) 400 liter/detik dan penambahan kapasitas air baku di Penepat sebesar 550 liter/detik, pengendaliaan kebocoran, peningkatan kapasitas distribusi dan jaringan. Total investasi pengembangan sebesar Rp. 174.197.210.000,-,dimana 70% investasi dari pinjaman dengan bunga pinjaman 11,75%, dengan tenggang waktu 5 tahun dan jangka waktu pengembalian 10 tahun. Hasil analisa kelayakan investasi diperoleh NPV positif sebesar Rp.7.156.758.800,-, BCR =1.06 lebih besar dari 1,1RR = 15,03% lebih besar dari suku bunga pinjaman 11,75%, ARR = 47,9%, pay back periode 9 tahun 5 bulan lebih pendek dari masa pengembalian 10 tahun., sehingga dapat disimpulkan bahwa investasi ini layak untuk dilaksanakan.

Alt. Description

The PDAM mission of Pontianak has contrast meanings, they are (I) increasing societies welfare including social aspect, healthy and servicing public for water supply (2) to improve benefit for the local government. In fact, PDAM as an industrial of local government has lost although was built with high investment. There-fore, the research about analysis of feasibility investment for infrastructure water supply is very important to know the feasibility and unfeasibility. The method of feasibility study consists of literature study, gathering the data, to make fun data, data analysis and conclusion. The condition of PDAM of Pontianak in 2002 was servicing 67% of 520.360 peoples, with average grown 2,23%. In 2002 (he customers were 57.788, with average consumption 23,1 m/month, installation capacity 910 l/s and losses 36,5%. The result of this research shows that the population in 2002 is 635.482 people, with average grown 1,8%, average consumption (Qr) in 2002 is 2.384.640 m /month. PDAM Pontianak have go to servicing 80% population, make necessary to increase the installation of water supply capacity 400 l/s and increase intake capacity at Penepat 500 Is, to manage increase, and increase the distribution capacity. The total investment is Rp. 174.197.210.000,- which is 70% loan terms of 11,75%, to amortize the loan fully over then 10 years and five years loan maturity (do date) necessitating a balloon payment at that time. The result of investment feasibility analysis is that NPV positive Rp.7.156.758.800,- BCR = 1,06 above 1 IRR = 15,03% above than the loan terms 11,75%, ARR = 47,9% and Payback Period 9 years and 5 months less then 10 years replay, and the feasibility is feasible to be implemented.

Contributor :

1. Ir. R1ANT0 B. AD1HARDJ0, MSc, PhD.

***************************************************************************

EVALUASI DAN RENCANA PENINGKATAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM DI KOTA MUARA TEWEH (STUDI KASUS: PDAM PUSAT MUARA TEWEH)

EVALUATION AND PLAN FOR IMPROVING OF THE DRINKING WATER DISTRIBUTION SYSTEM OF THE CITY OF MUARA TEWEH ( A Case Study on the Central PDAM in Muara Teweh )

Created by :
BAYHAQIE, AKHMAD ( )

Subject: Distribusi air
Keyword: IRR
NPV
real demand survey.

[ Description ]

Sarana air minum mempunyai peran sangat strategis untuk meningkatkan taraf hidup dan derajat kesehatan masyarakat, juga sebagai faktor pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Namun dalatn penyediaannya baik segi kualitas, kuantitas dan kontinuitas, belum berjalan berkesinambungan. Sisi lain, tuntutan kebutuhan air minum yang memenuhi standart kesehatan terus mengalami peningkatan tanpa diimbangi dengan perbaikan kualitas pelayanan. Demikian pula pemenuhan air minum yang dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) Pusat Muara Teweh di Kota Muara Teweh. Cakupan pelayanan 73,70 %, dengan 3.362 sambungan rumah, tetapi hanya mampu melayani penduduk ± 20.172 jiwa. Di beberapa tempat wilayah pelayanan, banyak yang mengalami kesulitan air dan tidak mendapatkan pengaliran air. Kapasitas terpasang atau desain adalah 60 lt/dt, tetapi dalam operasional unit instalasi pengolahan air minum (IPAM) hanya dapat difungsikan 45 lt/dt. Analisis didasarkan data primer dan sekunder PDAM Pusat Muara Teweh, dengan pendekatan studi kasus yang meliputi aspek teknis sistem transmisi dan distribusi, aspek keuangan menyangkut kondisi keuangan, aspek kelembagaan, serta data primer berupa hasil real demand survey terhadap pelanggan dan non pelanggan PDAM, dimana dengan menggunakan metode deskriptif dapat diketahui tingkat kepuasan, besar konsumsi air, kemampuan berlangganan masyarakat juga perkiraan rencana peningkatan 10 tahun kedepan. Berdasarkan hasil analisis, penyebab dari permasalahan adalah kurang optimalnya kapasitas pengambilan sumber air permukaan; kapasitas produksi; terbatasnya kapasitas reservoir distribusi yang mampu memenuhi kapasitas distribusi, juga saat perluasan jaringan tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas sistem secara terpadu. Mengantisipasi peningkatan permintaan air minum sekarang dan masa mendatang, perlu dilakukan peningkatan pelayanan. Guna pencapaian target pelayanan 83 % tahun 2014, prioritas sasaran adalah optimalisasi internal dan ekspansi jaringan, dengan rencana kegiatan : penggantian pipa transmisi dan distribusi; perluasan jaringan distribusi; penambahan kapasitas terpasang dan reservoir distribusi baru. Total biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 6.815.087.300,-dengan tambahan dana subsidi pemerintah daerah sebesar Rp. 3.066.789.285,-Hasil penilaian kelayakan investasi menunjukkan IRR= 16,31%(>15%), NPV=Rp.422.716.074,59(NPV+) dan PI=1,06(>1). Hasil investasi ini adalah layak dan menguntungkan PDAM maupun pemerintah daerah.

Alt. Description

The drinking water supply played a very strategic role in increasing the living standard and health levels of people. It also served as the motivating factor for the economic growth. However, the quantity, quality, and continuity of the drinking water supply have not prevailed in sustainable manner. In addition, the people demand for drinking water, which satisfied health standard, is increasing consistenly. On the other hand, the quality of the distribution service was stagnant. This condition happens in the Central PDAM (Regional Drinking Water Company) of the City of Muara Teweh. The service has covered 73.70 % of the population with 3,362 households’ water connections that served only about 20,172 people. Some places in the service area underwent problem in drinking water supply. Water could not flow to the houses in those areas. The design capacity of the water treatment plant (IP AM) had been 60 1/s; however, the productivity of the IP AM was only 45 1/s (75 %). The analysis was perfomed based on primary and secondary data obtained from the Central PDAM in the City of Muara Teweh. The secondary data obtained were transmission and distribution systems, financial, and institutional conditions of the company. The primary data were collected by using a real demand survey over customers and non-customers. Based on these data, by using descriptive statistical analysis, the satisfaction level, water consumption level, the capability of people to pay the connection fees, and the estimation of the capacity of the system in the next ten years are known. Overall results show that the causes of the above mentioned problems were (1) the capacity in taking water sources was unoptimal; (2) the production capacity was low, and (3) the capacity of the distribution reservoir was limited. Another problem was that the network extension was not proportionally accompanied by the system improvement in integrated way. For the future demand, the service should be increased accordingly. To achieve service target of 83 % of the population in 2014, the strategies are (1) optimizing the internal forces; (2) expanding the network with several planned activities such as replacing transmission and distribution pipes; (3) expanding distribution network; (4) increasing the capacity of the existing reservoirs; and (4) building new reservoirs. The total bugdet needed is Rp. 6,815,087,300.00 in which the subsidy from the local government is Rp. 3,066,789,285. Feasibility study of investment indicated that IRR=16.31% (> 15 %), NPV=Rp.422,716,074.59 (NPV +) and PI=1.06 (> 1), suggesting that the investment was feasible and profitable both for PDAM and local government.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir Wahyono Hadi, MSc.
Ir. Rachmat Boedisantoso, MT

***************************************************************************

PENERAPAN DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING UNTUK PERENCANAAN PENGIRIMAN AIR MINUM DALAM KEMASAN (STUDI KASUS PERUSAHAAN X)

APPLYING THE DISTRIBUTION REQUIREMENT PLANNING FOR PLANNING DELIVERY OF DRINKING WATER IN TIDINESS ( CASE STUDY X COMPANY )

Created by :
Anggraini, Dina Wahyu ( )

Subject: Manajemen Pemasaran
Alt. Subject : MARKETING–MANAGEMENT
Keyword: Distribution requirement planning
safety stock
order quantity
forecast demand

[ Description ]

Perusahaan X adalah perusahaan yang menghasilkan Air Minum Dalam Kemasan, dimana setiap hari selalu memproduksi dengan jumlah yang sangat banyak dengan jumlah permintaan yang tidak pasti. Permasalahan yang terjadi adalah menumpuknya produk yang belum didistribusikan, sehingga menyebabkan banyaknya biaya simpan yang harus dikeluarkan oleh pihak Perusahaan X. Selama ini Perusahaan X melakukan perencanaan distribusi dengan cara manual, dalam penelitian ini dilakukan perencanaan distribusi menggunakan Distribution Requirement Planning, dimana sebelum dilakukan pengolahan ada beberapa hal yang harus diketahui diantaranya yaitu safety stock, forecast demand, dan order quantity. Setelah itu diolah, lalu dilakukan perbandingan total biaya inventory yang dikeluarkan dan service levelnya antara hasil perencanaan yang menggunakan DRP dengan perencanaan manual yang dilakukan oleh Perusahaan X. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa DRP dengan menggunakan forecast yang telah dimodifikasi dan penentuan safety stock terlebih dahulu, dapat diterapkan di Perusahaan X, karena selain dapat mengurangi biaya inventori ternyata terdapat peningkatan service level.

Alt. Description

X Company is a manufacturer which always produces Drinking Water In Tidiness with many amount to fulfill the uncertainty demand. It cause the products which have not been distributed will heap, so that cause X company has to spent a lot of money for inventory cost. During the time X Company planning of distribution manually, but in this research will be applied the Distribution Requirement Planning method which needs the calculation of safety stock, forecast demand and order of quantity. And then DRP method will be compared to company method in the case of service level and total cost of inventory. The result shows that DRP method can be applied in X Company because it can increase service level and decrease total inventory costs of X Company.

Contributor :

1. Ir.I Nyoman Pujawan,M.Eng.Ph.D

****************************************************************************

STUDI LITERATUR SISTEM PENGENDALIAN KOROSI DENGAN PROTEKSI KATODIK PADA PIPA DALAM TANAH

LITERATURE STUDY OF CORROSION CONTROL SYSTEM WITH CATHODIC PROTECTION FOR UNDERGROUND PIPELINE

Created by :
Tri Mariyati Supiin ( )

Subject: Karat dan anti-karat
Keyword: Korosi
Proteksi Katodik
Anoda Korban
Arus Terpasang
Pipa dalam Tanah.

[ Description ]

Penggunaan logam pada pipa distribusi air minum yang berdiameter lebih dari 650 mm pada jaringan perpipaan dalam tanah, menimbulkan masalah baru terhadap pemakaian logam itu sendiri, yaitu masalah korosi. Metode utama untuk mengendalikan korosi pada pipa dalam tanah adalah dengan penggunaan lapis lindung dan sistem proteksi katodik, baik dengan sistem anoda korban maupun arus terpasang. Studi literatur dilakukan melalui eksplorasi berbagai literatur, seperti: buku teks, artikel, laporan, modul, internet, maupun jurnal penelitian. Studi kasus diambil dari kondisi riil penerapan sistem proteksi katodik yang ada di lapangan, dilakukan evaluasi dan analisa terhadap teknik pengendalian korosi yang ada, berdasarkan data penunjang yang didapat dan studi literatur yang telah dilakukan. Kasus yang diangkat adalah permasalahan penerapan desain proteksi yang kurang tepat pada Instalasi Penjernihan Air Minum Karang Pilang- Reservoir Pulat Gede dengan sistem anoda korban dan sistem arus terpasang pada pipa induk distribusi air bersih di Jalan Rajawali- Kapasan. Dari data dan hasil perhitungan, pada Instalasi Penjernihan Air Minum Karang Pilang-Reservoir Pulat Gede membutuhkan anoda Mg yang baru sebanyak 216 buah dengan biaya Rp. 262.066.350,00 dan pipa induk distribusi air bersih di Jalan Rajawali-Kapasan membutuhkan anoda besi silikon kromium sebayak 1 buah dengan biaya Rp. 17.949.750,00.

Alt. Description

Metal usage for water distribution pipe which has diameter more than 650 mm in the underground pipeline, gives new problem for the usage of metal itself, is corrosion problem. Primary method to control the corrosion for pipeline underground is using the coating and cathodic protection system, sacrificial anode as well as impressed current. Literature study has done by explorating many kind of literature, like text book, article, report, module, internet, and research journal. Case study is taken from the real condition of cathodic protection system application in the field, evaluation and analysis instead of corrosion control, based on support data and literature study. The case is about the problem of unappropriate protection design application in Karang Pilang Water Purity Installation-Reservoir Pulat Gede with using sacrificial anode and in main water distribution pipeline of Jalan Rajawali- Kapasan which using impressed current system. Based on the data and result calculation, the need of new Mg anode are about 216 pcs with amount about Rp. 262.066.350,00 in Karang Pilang Water Purity Installation- Reservoir Pulat Gede and one pc of high silicon cast iron with amount about Rp. 17.949.750,00 in main water distribution pipeline of Jalan Rajawali-Kapasan.

Contributor :

1. Ir. Hari Wiko Indaryanto, MEng.

***************************************************************************

PENGARUH DIMENSI ZONE SETTLING BAK PRASEDIMENTASI RECTANGULAR TERHADAP KINERJA BAK PRASEDIMENTASI

THE INFLUENCE OF THE DIMENSION OF ZONE SETTLING OF A RECTANGULAR PRE-SEDIMENTATION BASIN TO PERFORMANCE OF A PRE-SEDIMENTATION BASIN

Created by :
Iriantini, Lusiyah Dwi ( )

Subject: Sistem Pengolahan Air Minum
Alt. Subject : FLUID MECHANICS
Keyword: TSS
Dimensi Zona Settling
Kinerja Bak Prasedimentasi

[ Description ]

Air baku yang digunakan pada Sistem Pengolahan Air Minum, pada umumnya menggunakan air permukaan khususnya air sungai. Salah satu karakteristik air sungai ádalah kandungan TSS yang cukup tinggi. Oleh karena itu diperlukan bangunan prasedimentasi yang berfungsi untuk menurunkan kadar TSS. Dimensi bangunan prasedimentasi harus didesain sesuai dengan karakteristik air baku. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menentukan dimensi bangunan prasedimentasi yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal. Penelitian ini diawali dengan column settling test yang bertujuan untuk mencari volume reaktor yang akan digunakan pada percobaan kontinu, setelah diketahui volumenya kemudian di variasikan dimensi zona settling reaktor dengan variasi perbandingan panjang dan lebar. Variasi yang dipakai adalah perbandingan panjang dan lebar 1:2, 1:5 dan 1:8. Variasi TSS yang digunakan pada percobaan kontinu, yaitu 150 mg/L, 300 mg/L dan 500 mg/L. Sehingga akan didapatkan % removal pada masing-masing dimensi zona settling sesuai dengan variasi TSS yang diendapkan selama waktu detensi, yang didapat dari perhitungan pada column settling yaitu 36,26 menit. Hasil dari percobaan kontinu, didapatkan kinerja bak prasedimentasi yang ideal terjadi pada dimensi zona settling dengan adalah perbandingan panjang dan lebar 1:5.

Alt. Description

Raw water which is used in a water treatment system, generally taken from river water. One of characteristic river water is high contents of TSS (Total Suspended Solid). Therefore a pre-sedimentation need to be a designed appropriately by considering the character of the raw water. For this purpose a research is needed for determiningthe dimension of pre-sedimentation basin which can give its optimal performance. The research begins with a column settling test to find out the reactor volumeof zone settling to be used research for a continue flow system is the dimension of the zone settling is varied. The ratio width- length used are 1 : 2, 1 : 5, and 1 : 8. The TSS contents are 150 mg /L, 300 mg /L and 500 mg /L Detention time from a column settling test is 30,26 minute. The result of the research give an optimal ratio of the dimension of zone settling taken to be 1 : 5 (length : width).

Contributor :

1. Ir. ATIEK MOESRIATI, MKes

***************************************************************************

MODEL BI-CRITERIA UNTUK MENENTUKAN JUMLAH DAN LOKASI DEPO AIR MINUM DALAM KEMASAN DI KOTA SURABAYA (STUDI KASUS: PT. X)

A BI-CRITERIA MODEL TO DETERMINE NUMBER AND LOCATION OF WAREHOUSE OF PACKAGED DRINKING WATER IN SURABAYA (Case Study: PT. X)

Created by :
Sari, Mita Permana ( )

Subject: Produksi
pengawasan
bisnis logistik
Keyword: Risk pooling
Supply chain design
Inventory aggregation

[ Description ]

Menentukan level agregasi yang paling baik (jumlah gudang atau distribution centers optimal untuk memenuhi permintaan sesuai dengan service level yang diinginkan) didalam supply chain adalah salah satu masalah yang paling sulit dikarenakan adanya tujuan yang saling bertentangan dan ketidakpastian permintaan. Karena ini menyangkut tidak hanya praktek untuk meminimumkan ongkos total di dalam supply chain namun juga menjaga dan mempertahankan respons yang bagus kepada customer. PT. X adalah salah satu perusahaan air minum dalam kemasan yang mempunyai wilayah pemasaran yang tersebar diberbagai daerah ditanah air. Luasnya cakupan area yang harus dilayani dan ketidakpastian permintaan menyebabkan perusahaan harus memiliki pertimbangan yang cukup matang untuk memutuskan dimana seharusnya lokasi dari depo mereka dan berapa banyak depo yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pasar. Pada penelitian ini digunakan model bi-criteria untuk menentukan konfigurasi jaringan distribusi terbaik dalam memenuhi permintaan customer. Terdapat dua tahap dalam pengolahan data yang akan dilakukan. Tahap pertama untuk menentukan lokasi depo yang optimal dikota Surabaya dengan menggunakan model Gaur dan Ravindran. Dan tahap kedua untuk menentukan kebijakan inventory yaitu order quantity (Q) dan reorder point (R), kemudian dilakukan perhitungan total biaya dan juga respon ke customer. Dari hasil pengolahan, didapatkan 3 depo yang optimal dibuka untuk memenuhi kebutuhan air minum di Surabaya, yang menghasilkan penurunan total biaya perbulan sebesar 3% dari yang tadinya pada level Rp 179.180.036 turun hingga mencapai level Rp 174.341.917. Dan penurunan product miles sebesar 5% dari 570.610 menjad 544.818.

Alt. Description

Determining the best level of aggregation (optimal number of warehouses/distribution centers to satisfy demand given the service level criteria) in a centralized supply chain is one of the most difficult problems because of the conflicting objectives and demand uncertainty. It involves, not only the most common practice of minimizing total costs in the supply chain but also maintaining good respons times to customers. PT. X is one of the leading drinking water company with various range market in Indonesia. It’s width service area and demand uncertainty causes the company have a good decision to decide where the warehouse should be located and how much the optimal number of warehouse to satisfy the demand. This research uses bi-criteria model to determine the best distribution network to meet customer demands. There are two step in data processing that will be done. The first step is to decide the optimal location of warehouse in Surabaya using Gaur and Ravindran model. And the second step is to determine inventory policy : order quantity (Q) and reorder point (R), and then calculate the total annual cost and also responsiveness. After the solver output, there are 3 optimal warehouse to fulfill requirement drinking water in Surabaya, which is yield in decreasing total cost per month 3% from level Rp 179.180.036 to Rp 174.341.917. And also decreasing product miles 5% from 570.610 to 544.818.

Contributor :

1. Dr. Ir. I Nyoman Pujawan,M. Eng

****************************************************************************

ANALISIS KELAYAKAN USAHA AIR MINUM DALAM KEM ASAN MEL ALUI PROSES SEDIMENTASI MICROFILTERASI DENGAN TEKNOLOGI OZONISASI DAN ULTRAVIOLET DI PT. TLRTA GEMILANG MAGELANG

FEASIBILITY ANALYSIS OF PACKED-DRINKING WATER ENTERPRISE THROUGH MICROFILTERATION SEDIMENTATION PROCESS BY OZONISATION AND ULTRA VIOLET TECHNOLOGY IN PT. TIRTA GEMILANG MAGELANG

Created by :
Aman, Moehamad ( )

Subject: Analisis Data
Keyword: Ozonisasi
air minum

[ Description ]

Dalam pengembangan usahanya, PT. Kertas Blabak Magelang berniat memanfaatkan sumber daya yang ada dan cukup melimpah berupa sumber mata air yang memenuhi syarat air minum menjadi usaha Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dengan menunjuk PT. Tirta Gemilang Magelang sebagai salah satu anak perusahaan untuk mengelolanya. Hal ini disebabkan kebutuhan akan konsumsi air kemasan dari tahun ke tahun terus meningkat, yaitu dari 4,18 miliar liter pada tahun 1999 merambat terus hingga 5 miliar liter pada tahun 2000 untuk skala nasional, sedangkan jumlah produksi pada tahun 1999 hanya sebesar 4 miliar. Dari rencana pendirian usaha AMDK tersebut maka perlu dilakukan analisis kelayakan dari berbagai aspek. Untuk memecahkan permasalahan kelayakan usaha ini dilakukan kajian terhadap aspek pasar, aspek teknis, dan aspek lingkungan serta analisis sensitifitas kelayakan terhadap beberapa parameter ekonomi yang mungkin berubah. Berdasarkan hasil penelitian dari aspek pasar dinyatakan bahwa perkembangan jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial dan peluang pasar masih tersedia untuk skala nasional sebesar 20 %, sementara kapasitas produksi yang direncanakan hanya 3%. Dari aspek teknis dinyatakan bahwa lokasi pabrik sangat menguntungkan dari pertimbangan bahan baku, bahan pembantu, utilitas, tanaga kerja, dan transportasi serta kebutuhan mesin, peralatan dan bangunan dapat direalisasikan. Dari aspek ekonomis diperoleh Break-Event Point tercapai pada 27,27%, Pay Back Period selama 1,58 tahun atau 19 bulan, Internal Rate of Return sebesar 56,59%, dan Profitability Index sebesar 3. Kemudian untuk aspek lingkungan semua bentuk limbah dan cemaran, baik limbah padat, cair, gas, debu, dan kebisingan dikelola dan dipantau dengan UKL dan UPL untuk pelestarian lingkungan. Berdasarkan pertimbangan keempat aspek, maka pendirian usaha AMDK tersebut dapat memberikan kelayakan.

Alt. Description

In developing its enterprises, PT. Kertas Blabak Magelang intended to utilize its existing and abundant sources, i.e. Water Source that meets a drinking water condition, to be a Packed-Drinking Water enterprise. As the managing child-company has been pointed PT. Tirta Gemilang Magelang. This was caused by the needs of packed-drinking water consumption that goes on increase by years: from 4.18 billion liters in 1999 until 5 billion liters in 2000 for national scale, while it was only 4 billion in 1999 for the number of production. From such business plan, it should be carried out some feasibility analyses from many aspects. To solve this feasibility enterprise problem, the study of market, technical, and environment aspect as well as feasibility sensitivity analysis should be carried out with respect to economic parameters, which might be varied. According to the research result particularly from market aspect showed that a great population growing is a potential market and the opportunity of its market is still available for national scale, that is 20 %, whereas the production capacities planned is only 3 %. From technical aspect showed that the factory location is very beneficial mainly from raw material, auxiliary material, utility, work forces, and transportation consideration. Beside that the needs of machine, equipment, and building could be realized. From economical aspect obtained that Break Even Point achieve 27,27 %, Pay Back Period for 1,58 years or 19 months, Internal Rate of Return was 56,59 % and Profitability Index was 3. At last for environmental aspect showed that all kind of waste and soiled either solid, liquid, gas, ash, or noise were managed and monitored with UKL and UPL for environment conservation. Based on consideration of all four aspects, thus such packed-drinking water enterprise (AMDK) has given a proper enterprise.

Contributor :

1. Ir. I Nyoman Pujawan, M.Eng. PhD
Iwan Vanany, ST., MT.

***************************************************************************

STRATEGI PENGELOLAAN SUNGAI POCONG SESUAI FUNGSI DAN PERUNTUKANNYA SEBAGAI SUMBER PENYEDIAAN AIR MINUM MASYARAKAT BANGKALAN MELALUI PENDEKATAN KUALITAS EKOLOGINYA

Created by :
SUHARYANTO ( )

Keyword: Sungai Pocong
Kualitas Struktur
Kualitas Air

[ Description ]

Di dalam pengelolaan air minum tidak terlepas dari tiga aspek, yaitu : kualitas (memenuhi standar), kuantitas (mencukupi kebutuhan), dan kontinyuitas (tersedia setiap saat ). Hal ini sangat tergantung kepada kualitas, kuantitas dan kontinyuitas bahan bakunya, yaitu sungai Oleh karena itu kondisi kuailitas sungai harus diperhatikan agar fungsinya sebagai bahan baku air minum dapat dipertahankan. Dengan menggunakan empat lokasi titik pengamatan yang tertetak di lokasi penelitian, dikembangkan suatu metode penilaian kualitas ekologik sungai Dalam metode ini ditentukan kualitas struktur sungai dengan modifikasi metode Mitchel. Kualitas struktur sungai diukur dengan menentukan mutu dari 6 variabeL, yaitu : vegetasi, alur, bantaran, tebing, tanggul, dan sempadan, Masing-masing variabel diberi nilai kualitas dari 1 ( sangat buruk ) hingga 5 ( sangat baik ), dan nilai bobot yang berkisar dari 1 ( sangat tidak penting ) hingga 5 ( sangat penting ). Data kualitas air diperoleh dari Instansi DPU Pengairan Propinsi Jawa Timur April 2001 – Maret 2001 Penilaian kualitas air dilakukan melalui baku mutu golongan B, SK Gurbernur Jawa Tunur Nomor 4131987. Berdasarkan penilaian dari kualitas struktur Sungai Pocong terhadap 6 variabel memberikan hasil sebagai berikut: di bagian hulu di Desa Pocong ( titik 1 ) memiliki kondisi kualitas struktur baik sehingga perlu tindakan preservasi, titik 2 dan titik 3 yang melewati Desa Pocong dan Desa Pamorah memiki kondisi kualitas struktur baik sehingga perlu tindakan mitigasi, serta titik 4 ( sekkar Intake Tangkel PDAM Desa Burneh ) mempunyai kondisi kualitas strukturnya buruk sehingga perlu tindakan restorasi Sedangkan tindakan limitasi diperlukan untuk kualitas airnya.

Alt. Description

The drinking water management depend of three aspects, namely : quality, quantity, and continuity. It very depends of quality, quantity and continuity as raw water, river. So its function as the resources of drinking water can be defended By using four observation points which are located on research area, developed a method of river ecologic quality monitoring. The method determine quality of river structure to modify of Mitchell Method The quality of river structure is measured to determine quality of six variables, namely : vegetation, gulty, bank, flood plain, river border, and dike. The each of variables is given score of quality from one ( very bad} to five (very good) and weight value from one (not very important) to five (very important. The water quality Datas are colected from Buerau Of Public Works Of lrigation Of East Java province April 2001 – March 2002. The evaluation of water quality is carried out by quality standart of B clasification in East Java ( Decree of East Java Governor number 413/1987). The evaluation of Pocong River structure quatity give result as follows : on the upstream in Pocong Village (point 1) has good ecologic structure condition, it needs preservation action, point 2 and point 3 which are located in Pocong Village and Pamorah Village have good structure quality, they need mitigation action, and on point 4 ( PDAM Tangkel Intake in Burneh village ) has bad structure quality, it needs restoration action, the limitation action is needed us water.

Contributor :

1. Ir. Hari Wiko I., M.Eng
Ali Masduqi, ST, MT

***************************************************************************

PERENCANAAN INFRASTRUKTUR JARINGAN KOMUNIKASI DATA DAN SISTEM INFORMASI DI PDAM KOTA SURABAYA

THE PLANNING OF INFRASTUCTURE OF DATA COMMUNICATIONS NETWORK AND INFORMATION SYSTEMS AT PDAM SURABAYA

Created by :
Diana, Nivio Artha ( )

Subject: Data transmission systems
Keyword: wireless
LOS

[ Description ]

Kebutuhan akan jaringan komunikasi yang lebih modern dan dapat diterapkan pada jaringan eksisting yang telah ada sangat dibutuhkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kota Surabaya. Sedangkan teknologi wireless memiliki kelebihan dalam mobilitas dan ekonomis, karena teknologi ini hanya membutuhkan biaya yang relatif kecil dibandingkan dengan membangun suatu infrastruktur jaringan kabel. Maka penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan hasil perencanaan infrastuktur jaringan komunikasi data dan sistem informasi yang ideal di PDAM kota Surabaya Penelitian ini merencanakan desain link yang berbasis teknologi informasi dan menggunakan jaringan wireless. Metodologi yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan cara survey baik survey lokasi dan data pada masing-masing titik. Data yang sudah dikumpulkan diolah untuk mendapatkan ketinggian antena wireless yang diperlukan pada saat mendirikan Tower agar didapat kondisi LOS, untuk merencanakan link dan besarnya bandwith yang dibutuhkan. Untuk menentukan tinggi antena masing-masing titik, tergantung dari tinggi obstacle antara site 1 dan site 2. Agar didapat kondisi yang LOS dan bebas dari efek difraksi maka daerah first fresnel zone harus bebas dari obstacle. Kinerja yang optimal juga didukung oleh frekuensi dan peralatan yang digunakan.

Alt. Description

The requirement of Communications network which have a modern technology and can be applied at Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya. While wireless technology have a more advantages at a good mobility and more economics because this system only need a few expense more other technologies that have to build a infrastructure of cable network. This research to get result an ideal planning of infrastructure of data communications network and information system at PDAM Surabaya The Planning of this research is used to desain link being based on information technology and use network wireless. The methodologies are collecting data at location survey. This data is used to get height of antenna; the antenna must be LOS between the transmitter and receiver To determine high of antenna depended from obstacle between site 1 and site 2. To get a LOS condition and free from district effect so first fresnel zone must be free from obstacle. The Optimal works also be supported by frequency and use a good equipments.

Contributor :

1. Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA
Istas Pratomo, ST. MT

****************************************************************************

KAJIAN PUSTAKA PENERAPAN SISTEM ANALISIS BAHAYA DAN TITIK KENDALI KRITIS (HACCP) TERHADAP PENYEDIAAN AIR BERSIH STUDI KASUS IPAM NGAGEL III PDAM KOTA SURABAYA

LITERATURE STUDY of APPLICATION of HACCP (HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT) in WATER SUPPLY Case Study of Ngagel III Surabaya Water Treatment Plant

Created by :
Oktaviani, Nur ( )

Subject: air
persediaan
Keyword: “Sistem analisis hazard dan titik kendali kritis (HACCP)
Keamanan penyediaan air minum
dan Tujuh prinsip HACCP.”

[ Description ]

Sistem analisis hazard dan titik kendali kritis (HACCP) penyediaan air bersih merupakan suatu konsep dari Rencana- Rencana Keamanan Air (Water Safety Plans) yang merupakan perangkat/alat yang sangat kuat pada sistem penyediaan air minum dalam mengelola keamanan penyediaan air, mengidentifikasi bahaya dan titik kontrol kritis untuk semua tahap dan aktivitas yang terjadi mulai dari kualitas sumber air baku hingga menjadi produk yang siap dikonsumsi. Penerapan sistem HACCP terdiri dari tujuh prinsip antara lain identifikasi bahaya, menentukan titik pengawasan kritis, menetapkan batas kritis yang harus dicapai untuk setiap titik pengawasan, menetapkan prosedur untuk memonitor setiap titik pengawasan kritis, menetapkan tindakan korektif yang harus dilakukan apabila ditemui penyimpangan, menentukan catatan yang efektif, dan menetapkan prosedur untuk verifikasi bahwa sistem HACCP berjalan dengan benar. Studi literatur yang dilakukan maka didapat kesimpulan bahwa diperlukan adanya suatu konsep manajemen risiko terhadap penyediaan air bersih di Indonesia yang aman dari catchment hingga pelanggan, mengingat kualitas air baku yang semakin mengalami penurunan.

Alt. Description

HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) water supply is a concept from Water Safety Plans (WSPs)are a powerful tool for the drinking-water supplier to manage the supply safely, that identify hazard and critical control point for all steps and activity that could happen from source quality to consumer of drinking-water. The 7 HACCP principles are hazard analysis and control measures determination, determine Critical Control points (CCP), establish critical limits for each CCP, establish a monitoring system for each CCP, establish corrective actions, establish verification procedures, and establish documentation and record keeping. The conclusion from this literature study that in Indonesia needs a concept risk management in water supply from catchment to consumer, intended the quality source was getting decrease.

Contributor :

1. Ir.Eddy Setiadi S,Dipl. SE.,MSc., PhD

***************************************************************************

ANALISA KUALITAS PELAYANAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA BLITAR

Service Quality Analysis for Blitar’s Water Supply Enterprise

Created by :
HANDOJO, WAHJOE TRI ( )

Subject: Pelayanan pelanggan
Keyword: Customer
service quality
water supply

[ Description ]

Pelanggan bagi perusahaan dimanapun merupakan asset yang sangat berharga, karena pelanggan inilah yang menentukan perkembangan dari suatu perusahaan. Pelanggan merupakan sumber profit yang tidak habis dan menentukan kelangsungau bisnis yang dilakukan, untuk itu pelanggan harus mendapatkan perhatian dari pihak manajemen serta perlu dikelola secara profesional dengan cara memberikan kepuasan yang maksimal baik dari kualitas produk yang dihasilkan maupun kualitas jasa pelayanan yang diminta. Riset pasar merupakan strategi yang dilakukan oleh banyak perusahaan, demikian juga PDAM Kota Blitar dalam upayanya untuk meningkatkan kinerja pelayanan jasa air bersih/air minum kepada pelanggan. Penelitian kepuasai pelanggan adalah satu bagian metode riset pasar yang berguna untuk mengetahui kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, sekaligus sebagai masukkan untuk meramuskan kebijakan peningkatan kualitas pelayanan jasa air minum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pelayanan jasa air minum PDAM Kota Blitar dengan mengkaji dimensi-dimensi: tangible, Reliability, Responsiveness, Assurance dan Emphaty dengan menggunakan 29 variabel pelayanan sebagai alat ukurnya yang dari sisi pandang pelanggan mempunyai nilai penting sesuai dengan tingkat harapannya, selanjutnya dikaji dengan menggunakan sampel sebanyak 197 responden yang ditarik dari 3 wilayah pelayanan PDAM Kota Blitar yang memiliki 6251 unit pelanggan aktif sebagai populasi yang dikategorikan sebagai pelanggan aktif rumah tangga non niaga. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metoda uji Perbandingan berpasangan serta analisa kuadran (terutama kuadran IV) maka hasil akliir sebagai kesimpulan adalah nilai rata-rata harapan pelanggan lebih tinggi dari nilai rata-rata persepsi pelanggan disamping terdapat rata-rata nilai kesenjangan negatif untuk seluruh variabel pelayanan diatas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan air bersih PDAM kota Blitar belum dapat memberikan kepuasan bagi pelanggannya. Dari kajian ini diharapkan bagi pihak PDAM Kota Blitar agar melakukan perbaikan secara terus menerus dari seluruh variabel pelayanan, terutama dimensi assurance terkait dengan variabel tingkat kejemilian air, kadar bau dan rasa air yang disalurkan maupun pemenuhan kualitas standar kesehatan yang mempunyai nilai kesenjangan negatiflebih besar dibandingkan variabel pelayanan yang lain.

Alt. Description

Customers, for any company everywhere, are valuable assets since the customer satisfaction is determinant factor for the life of the company. Customers are the principal profit resources which determine the company future. Thus, management must have an extra awareness to customer. The customers needs have to be professionally managed by giving them maximal satisfaction whether from the product quantity or from service quality. Marketing research is a common strategy utilized by many company, as well as Blitar’s Water Suppiy Enterprise in order to develop their service performance to the customer. The research on customer satisfaction is one of the marketing research’s useful method to discover the customer’s needs, will, and expectations as well as an input to formuiate poiicy on improving the quality service of Blitar’s Water Supply Enterprise The research’s objective is to discover the quality of Blitar’s Water Supply Enterprise service by examining : tangihle, reliability, responsiveness, assuranee and empathy dimensions, twenty nine service variables were used as measurement. From population size of 6251 categorized as active customer household in 3 kecamatan, 197 respondents were picked as sampies. The research shows that, based on pair test method and quadrant analysis the average rate of customer expectation is higher than the average rate of customer perception Negative imbalance between expectation and perception value have been founded average rate for all servise variables. Therefore, it can concluded that the servise quality of Blitar’s Water Supply Enterprise are not yet satisfy the customers. Thus, Blitar’s Water Supply Enterprise have to improve its service quality especialiy on assurance dimension. water purety, scent level and the water taste, improving the health standard quality has to be put as the wear focus , since this has the biggest negative imbalance average rate comparing to other variable service.

Contributor :

1. Ir. Retno Indryani, MS
Suhartono, SSi., MSc

***************************************************************************

EVALUASI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM KOTA KANDANGAN KALIMANTAN SELATAN

EVALUATION OF WATER SUPPLY SYSTEM OF KANDANGAN CITY, EAST KALIMANTAN

Created by :
Wajidi, Farid ( )

Keyword: Jaringan Distribusi
Air Minum
PDAM Kandangan

[ Description ]

Permintaan air minum Kota Kandangan teais meningkat sebaliknya kualitas pelayanan PDAM semakin menurun. Aliran air kecil, sering mati, tidak merata dan kualitasnya menurun. Tingkat pelayanan pun masih rendah, 42% untuk Kota Kandangan dan 21,3% untuk kabupaten. PDAM sampai saat ini masih rugi dan SDM juga masih kurang baik dalam jumlah maupun kualitas. Evaluasi, yaitu membandingkan kondisi riil di lapangan dengan standar atau pembanding tertentu, perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab permasalahan dan cara mengatasinya. Selain aspek teknis, aspek keuangan dan kelembagaan juga dievaluasi. Produksi IPA Muara Banta saat ini sudah mencapai 90,88% dari kapasitas produksi 65 l/det. Untuk meningkatkan cakupan pelayanan sesuai MDG yaitu 72% di Kota Kandangan dan 40% di kecamatan pada tahun 2015, direncanakan penambahan kapasitas IPA sebesar 75 l/det sejalan dengan pembenahan dan dan perluasan jaringan distribusi. Dari RDS diketahui bahwa kondisi air PDAM belum memuaskan masyarakat baik dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas. Kualitas air terutama sisa chlor dan total coliform tidak memenuhi syarat. Pendosisan tawas dan kaporit yang tidak diukur berdasarkan percobaan laboratorium, masuknya zat pencemar ke dalam jaringan, dan penurunan kualitas air baku adalah kemungkinan penyebab rendahnya kualitas ini. Dari analisa epanet diketahui bahwa dalam jaringan terdapat tekanan negatif dan kontinuitas aliran tidak terjaga. Hal ini dapat diatasi dengan memperbesar diameter pipa, merubah sistem menjadi sistem loop dan mengoptimalkan penggunaan pompa. Pemberlakukan kenaikan tarif secara rutin dan penambahan jumlah pelanggan diharapkan dapat mengatasi permasalahan keuangan PDAM. Jumlah tenaga teknis perlu ditambah dengan mekanisme yang tepat. Tingkat keberhasilan PDAM yang dinilai menggunakan Kepmendagri No 47/ 1999 tergolong baik dengan nilai 63,66 namun masih bisa ditingkatkan.

Alt. Description

Drinking water demand of Kandangan city continue rising but PDAM service quality is decreasing. Water flows slowly, goes off constantly, doesn’t spread well and its quality goes decrease. Service coverage is still low, 42% for Kandangan city and 21,3% for regency. PDAM has financial loss till now and has lack of human resources both in quantity and quality. Evaluation wich is compare the real condition and standards and such criterias must be done to discover the cause of theseproblems and the way to fix them. Evaluation also will be rolled on financial and institutional aspect. Water production in IPA Muara has reached 90,88% of 65 l/sec total capacity. To increase service coverage according to MDG, 72% for Kandangan Ciity and 40 % for sub district in 2015, water processing unit capacity should be increased and water distribution network should be expanded. RDS shows that PDAM’s water for quantity, quality or continuity hasn’t satisfied community. Water quality especially on chlor consentration and total coliform is below standard. Allum and chlorine dossaging which doesn’t based on laboratory experiment, pollutant enterring to the water network and river water quality decreasing are probably the cause of PDAM’s water quality decreasing. Epanet shows that there’s some negatif pressure in the network and water flows unconstantly. Justifying water pipe diameter to the bigger ones, changing distribution system to the loop, and optimizing distribution pump operation can fix those problems. The prevailing of water fare increment and increasing of costumer number can solve PDAM’s financial problems. Number of technical employee must be increased with appropriate mechanism. Succes level of PDAM determined by Kepmendagri No. 47/1999 is good enough with score 63,66 but its still can be inproved.

Contributor :

1. Ir. Agus Slamet, MSc
Ir. Endah Angreni, MT

Source :
Theses Environmental Engineering RTL 628.1 Waj e, 2005

Coverage :
ITS Community

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG KARAGENAN DAN RUMPUT LAUT

STUDI KINETIKA PEMBENTUKAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEMA SPINOSUM

STUDY OF CARRAGEENAN FORMING KINETICS FROM EUCHEMA SPINOSUM SEAWEED

Created by :
Wuriningtyas, Sarita;Chandra, Kartika ( )

Subject: Chondrus crispus
Alt. Subject : Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: iota karaginan
kinetika reaksi
larutan alkali
spektrofotometri FTIR

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur tinggi. Karaginan terdapat dalam dinding sel rumput laut atau matriks intraselulernya dan karaginan merupakan bagian penyusun yang besar dari berat kering rumput laut dibandingkan dengan komponen yang lain. Kegunaan karaginan pada industri makanan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, aditif atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, susu, pudding, susu instan, makanan kaleng dan roti. Untuk industri selain makanan antara lain pada industri farmasi sebagai suspensi, emulsi, stabilizer. Di industri-industri lain misalnya pada industri keramik, cat dan lain-lain. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari hasil analisa identifikasi karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri FTIR menunjukkan tipe iota karaginan. Pengaruh suhu pada rate pembentukan karaginan adalah semakin tinggi suhu reaksi, semakin besar pula laju reaksi pembentukan karaginan. Untuk konsentrasi Ca(OH)2 4% harga k meningkat dari 107,3248 min-1 mol/L-1,3 hingga 123,6232 min-1 mol/L-1,3. Untuk konsentrasi Ca(OH)2 8% harga k meningkat dari 115,3188 min-1 mol/L-1,3 hingga 123,0269 min-1 mol/L-1,3. Sedangkan untuk Ca(OH)2 10% harga k meningkat dari 110,4587 min-1 mol/L-1,3 hingga 137,6575 min-1 mol/L-1,3. Sedangkan pengaruh konsentrasi pada rate pembentukan karaginan adalah semakin tinggi konsentrasi Ca(OH)2, semakin besar laju reaksi pembentukan karaginan untuk suhu 95°C yaitu dari 107,3248 min-1 mol/L-1,3 hingga 115,3188 min-1 mol/L-1,3.Sedangkan pada suhu 85 dan 90° C, laju reaksi meningkat untuk konsentrasi 4 dan 8%, sedangkan untuk konsentrasi lebih tinggi laju reaksi pembentukan karaginan menurun.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed gum obtained by hot water or alkali extraction process at high temperature of red seaweed. Carrageenan is the interstitial matrix between the cellulosic fibers of the plant tissue and a major component of dry seaweed weight. Carrageenan has been widely used in food as a stabilizer, thickener, gelling agent, additive and additional component in chocolate, milk, pudding, instant milk, canned food and bread making. For other industry such as pharmacy, carrageenan used as an emulsifier and stabilizer. And also been widely used in paint, ceramics industry, etc. Carrageenan is reacted with excess Ca(OH)2 solution to improved its gelling ability. Using spectrophotometry FTIR analysis method to identify iota carrageenan concentration formed from the reaction, the rate constant and reaction order are determined. Conducting reaction at higher temperature will increase reaction rate constant. For Ca(OH)2 4% concentration, the value of reaction rate constant rise from 107,3248 min-1 mol/L-1,3 to 123,6232 min- 1 mol/L-1,3. For Ca(OH)2 8% by weight the k value rise from 115,3188 min-1 mol/L-1,3 to 123,0269 min-1 mol/L-1,3. And for Ca(OH)2 10% by weight the k value rises from 110,4587 min-1 mol/L-1,3 to 137,6575 min-1 mol/L-1,3. The effect of Ca(OH)2 concentration is proportional to the reaction rate. In 95°C variable, reaction rate constant is proportional to the Ca(OH)2 concentration from 107,3248 min-1 mol/L-1,3 to 115,3188 min-1 mol/L-1,3. But in 85 and 90°C the reaction rate constant rise until 8%, and in 10% decrease gradually because extreme alkali concentration can lead to carrageenan depolymerization. The best operating condition due to the high conversion

Contributor :

1. Dr. Ir. Dra. Danawati HP, SE, MBA, MPd

****************************************************************

PEMBUATAN KARAGINAN DARI GANGGANG MERAH (RHODOPHYCEAE)

CARRAGEENAN FROM RED ALGAE (RHODOPHYCEAE)

Created by :
INDRANILA, AMY ; AGUSTINA, DIAN ( )

Subject: Ganggang merah
Alt. Subject : Red algae
Algae
Keyword: Karaginan
Ekstraksi rumput laut
Hidrocolloid

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang bersifat hidrocolloid, diperoleh melalui proses ekstraksi ganggang merah (rhodophyceae) jenis Eucheuma cottonii dengan larutan alkali panas. Karaginan diendapkan melalui metode KCl dan Metode Alkohol. Umumnya, karaginan digunakan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. Dalam penelitian ini dipilih metode pengendapan dengan alkohol. Adapun prosedur penelitiannya meliputi pencucian ganggang dengan air garam, lalu pengekstrakan ganggang dalam suasana basa menggunakann larutan alkali (NaOH) dalam konsentrasi NaOH dan waktu estraksi yang divariabelkan pada suhu konstan 90oC. Filtrat tersebut dicampur dengan isopropyl alcohol sebanyak 2 kali volume filtratdiaduk sampai semua karaginan terendapkan menjadi gumpalan serat, dikeringkan menjadi lembaran. Selanjutnya menganalisa hasil karaginan seperti berat, identifikasi, tipe karaginan, kadar air dan viskositas.. Dari penelitian diketahui bahwa jenisnya adalah Kappa Carrageenan yang meningkat secara eksponen seiring bertambahnya konsentrasi NaO. Namun, ada kondisi tertentu, hasil yang didapat menurun karena penambahan NaOH yang berlebih dan waktu ekstraksi yang terlalu lama. Kondisi terbaik padapenelitian ini adalah konsentrasi NaOH 8% selama 1,5 jam, menghasilkan Kappa karaginan sebesar 13,6248 gram.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed’s sap with hydrocolloid properties, obtained by seaweed extraction with hot alkaline solution of certain species from the class red algae (Rhodophyceae) that is Eucheuma cottonii. Carrageenan is precipitated by KCl and Alcohol Method. Commonly, Carrageenan has function as stabilizer, thickener, gelling agent and additive. Precipitation Carrageenan with Alcohol method has been selected. The procedures consist of washing algae with salt water, then extract it in base condition using vary concentration of alkaline solution and time extraction at constant temperature, 90oC. Filtrate is added by Isopropyl Alcohol with its volume twice more than filtrate’s volume, stirred until all the Carrageenan is precipitated as a fibrous coagulum then dry it into leaf shape. Next step is analyzing yield Carrageenan by weight, identification, type of Carrageenan, moisture content and its viscosity. From the experiment, the type is Kappa Carrageenan which is increases nearly exponentially with NaOH concentration. But, in certain time the yield is decrease because NaOH is exceed and very long term of extraction time. The best condition in this research are using concentration NaOH 8 % during 1,5 hour, yielding 13,6248 grams of Kappa Carrageenan.

Contributor :

1. Prof.Dr.Ir. H.M.Rachimoellah, Dipl.EST.

****************************************************************

STUDI KINETIKA PEMBENTUKAN KARAGINAN DARI EUCHEUMA COTTONII

STUDY OF CARRAGEENAN FORMING KINETICS FROM EUCHEMA cottonii

Created by :
Hariyani, Vidya Irma;Astelina, Sarah ( )

Subject: Condrus Crispus
Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: Karaginan
Ekstraksi Rumput Laut
Hidrokoloid

[ Description ]

Karaginan adalah senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa kopolimer. Karaginan juga merupakan getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah (Rhodophyceace) jenis Eucheuma cottonii dengan menggunakan air panas atau larutan alkali pada temperatur tinggi. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi dan makanan sebagai stabilizer, thickhener, gelling agent, additive, dan suspensi. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan preparasi dilanjutkan dengan proses ekstraksi. Kemudian melakukan analisa konsentrasi karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri. Variabel pada penelitian ini adalah temperatur, konsentrasi KOH sebagai reaktan, dan pengambilan sampel dari hasil ekstraksi tiap 10 menit selama 30 menit. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Analisa Identifikasi Karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri FTIR menunjukkan jenisnya adalah Kappa Karaginan, pengaruh suhu ekstraksi terhadap rate pembentukan karaginan adalah semakin besar suhu rate yang dihasilkan dari pembentukan karaginan semakin meningkat. Berdasarkan persamaan reaksi rate adalah rp = k’CAn diperoleh harga nrata – rata = 1, 0784 dan harga k untuk masing – masing pada saat konsentrasi KOH 6 %, yaitu : a. o C k85 = 0.382691 menit-1 b. o C k90 = 0.488482 menit-1 c. o C k95 = 3.333103 menit-1

Alt. Description

Carrageenan is a hydrocolloid compound consist of potassium, natrium, magnesium and potassium sulfat ester with 3,6 anhydrogalactose copolymer. Carrageenan is a seaweed gum obtained by Eucheuma cottonii seaweed extraction with hot water or alkali solution in high temperature. In trading industry, carrageenan give many benefit such as in pharmacy and food industry as a stabilizer, thickener, gelling agent, additive and suspension maker. This experiment begin with preparation procedures then followed by extraction procedures. And after that, analyzing reaction result sample weight with Thermo Spectronic. The variable are Reaction temperature, KOH concentration as Reactan. And sampling the reaction product every 10 minutes for 30 minutes. Carrageenan identification analysis using Spectrofotometry FTIR showed that the type of carrageenan produced from this experiment is Kappa Carrageenan. The effect of KOH concentration is proportional to the rate of Carrageenan forming. In addition, The Reaction Temperature effect to the rate of carrageenan forming is also proportional. Based on reaction equation : rp = k’ CA n obtained the average value of n = 1,0784 and the reaction rate constant for KOH concentration 6 % are as follow : a. k 85 o C = 0,382691 min -1 b. k 90 o C = 0,488482 min -1 c. k 95 o C = 3,333103 min -1

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Achmad Roesyadi, DEA

****************************************************************

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEUMA SPINOSUM HASIL BUDIDAYA DAERAH SUMENEP MADURA

Created by :
Sulistyaningsih, Ririn ( )

Subject: “Algae Choadrus Crispus”
Alt. Subject : “Algae Choadrus Crispus”
Keyword: rumput laut penghasil karaginan

[ Description ]

Eucheuma spinosum adalah suatu jenis rumput laut penghasil karaginan. Karaginan banyak digunakan sebagai stabilitator, emulsifier dalam bidang industri pangan, kosmetik dan obat-obatan. Kualitas karaginan sangat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Metode ekstraksi meliputi pH 8; 8,5; 9; 9,5; 10 dengan garam NaCl, KCl, dan CaCl2. Produk yang diperoleh dari ekstraksi rumput laut Eucheuma spinosum hasil budidaya daerah Sumenep berupa iota karaginan dengan parameter pengujian meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sulfat dan viskositas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa iota karaginan memiliki rendemen terendah 17,2564% dan tertinggi 45,4955%, kadar air terendah 5,4312% tertinggi 8,2213%, kadar abu terendah 21,4134% tertinggi 29,5705%, kadar abu tak larut asam terendah 0,3772% tertinggi 0,9170%, kadar sulfat terendah 16,3251% tertinggi 25,4210% dan viskositas terendah 4,1015 cps tertinggi 6,2854 cps. Sifat ini telah memenuhi standard mutu karaginan menurut FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemical Codex) dan EEC (European Economic Community). Diperoleh kesimpulan bahwa kenaikan pH dan jenis garam memberikan pengaruh pada kenaikan rendemen, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sulfat dan viskositas.

Alt. Description

Eucheuma spinosum is one species of seaweed which produces carrageenan. Carrageenan uses as stabilizer and emulsifier in food processing, cosmetic and drug industry. The quality of carrageenan depend on extraction methods. In extraction process used pH 8; 8,5; 9; 9,5; 10 with salt NaCl, KCl, and CaCl2. Iota-carrageenan is the product of extracted Eucheuma spinosum with conversion rate, water content, ash content, unsaturated acid ash content, sulphat content, and viscosity as a parameters. The lowest conversion rate was 17,2564% and the highest 45,4955%, the lowest water content 5,4312% and the highest 8,2213%, the lowest ash content 21,4134% and the highest 29,5705%, the lowest unsaturated acid ash content 0,3772% and the highest 0,9170%, The lowest sulphat content 16,3251% and the highest 25,4210%, the lowest viscosity 4,1015 cps and the highest 6,2854 cps. This characters as per FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemical Codex) and EEC (European Economic Community) carrageenan quality standard. The increase of pH and salt type influence the increament of conversion rate, water ash content, unsaturated acid ash content, sulphat content, and viscosity.

Contributor :

1. Dra. Sukesi, M.Si. Dra. Dian Saptarini, M.Sc.

****************************************************************

EKSTRAKSI KARAGINAN DARI GANGGANG MERAH (RHODOPHYCEAE) DENGAN PELARUT AIR DAN KALIUM KLORIDA (KCL)

THE EXTRACTION OF CARRAGEENAN FROM RED ALGAE (RHODOPHYCEAE) WITH WATER AND KALIUM CHLORIDE (KCl) AS SOLVENT

Created by :
Chayati, Nurul;Dian Purwitasari D ( )

Subject: Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: Karaginan
Ekstraksi rumput laut
hidrokoloid
KOH
KCl
Isopropyl Alkohol

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang bersifat hidrokoloid, diperoleh melalui hasil ekstraksi ganggang merah (Rhodophyceae) jenis Eucheuma cottonii dengan menggunakan air panas atau larutan alkali panas. Umumnya, karaginan digunakan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. Prosedur pengolahannya meliputi pencucian Eucheuma cottoni dengan air, lalu memberi perlakuan alkali dengan memanaskan Eucheuma cottoni ke dalam larutan KOH 6 % dengan volume yang divariabelkan pada suhu 80 – 85oC. Dalam penelitian ini dibandingkan antara 2 metode yaitu ekstraksi dengan pelarut KCl dan pelarut air. Untuk metode ekstraksi dengan pelarut KCl, Eucheuma cottoni yang sudah mendapat perlakuan alkali diekstraksi dengan KCl 0.1 % pada suhu 90-95 oC selama waktu yang divariabelkan dengan volume 50 kali volume rumput laut kering, menyaring hasil ekstraksi dengan kain kasa, mengeringkan filtrat dalam oven selama 24 jam dan menumbuknya hingga menjadi bubuk. Untuk metode ekstraksi dengan pelarut air, Eucheuma cottoni yang sudah mendapat perlakuan alkali diekstraksi dengan air pada suhu 90-100 oC selama waktu yang divariabelkan dengan perbandingan Eucheuma cottoni dan air 1: 15, menyaring hasil ekstraksi dengan kain kasa, menambahkan isopropil alkohol ke dalam filtrat dengan perbandingan filtrat dan isopropil alkohol 1: 2.5 dan terus mengaduknya hingga filtrat membentuk serat, mengeringkan serat dalam oven selama 24 jam dan menumbuknya hingga menjadi bubuk. Selanjutnya menganalisa karaginan seperti viskositas, identifikasi, jenis karaginan, berat, kadar air dan kadar abu.. Dari hasil analisal karaginan menunjukkan bahwa jenisnya adalah Kappa Karaginan dengan yield rata-rata 60,24 % . Volume KOH 4 kali menghasilkan yield yang lebih besar dibandingkan dengan volume KOH 3 kali. Ekstraksi dengan pelarut KCl menghasilkan yield yang lebih besar dibandingkan pelarut air. Sedangkan waktu optimum untuk mengekstrak karaginan dari Eucheuma cottonii adalah 4 jam dengan suhu 90 – 100 oC untuk pelarut air dan 90-95 oC untuk pelarut KCl.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed’s sap with hydrocolloid properties, obtained by seaweed extraction with hot water or hot alkaline of certain species from the class red algae (Rhodophyceae) that is Eucheuma cottonii. Commonly, carrageenan is used as stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. The procedures consist of washing Eucheuma cottonii with water, then heated with an alkaline solution in base condition using vary volume of KOH 6 % at temperature 80 – 85oC. In this experiment is used 2 method of extraction, extraction with KCl solvent and water solvent. In the KCl solvent, Eucheuma cottonii is extracted by KCl 0.1 % solution in base condition using vary time of extraction with volume of solvent 50 times more than dried seaweed’s volume at temperature 90 – 95oC, the seaweed that does not dissolve is removed by filtration, then the filtrate is dried in oven for 24 hours and milled to an powder. Whereas in the water solvent, Eucheuma cottonii is extracted by water with ratio of volume 1 : 15 in base condition using vary time of extraction at temperature 90 – 100oC, the seaweed that does not dissolve is removed by filtration, then Isopropyl Alcohol is added to the filtrate with ratio 1 : 2.5 and mix it until fibrous coaglum formed, dried it into oven for 24 hours and milled to an powder. Next step is analizing yield carrageenan by viscosity, identification, type of carrageenan, weight, moisture content and total ash. From the experiment, the type is Kappa Carrageenanan and the yielding of carrageenanon an average is 60.24 %. The alkali’s process using KOH 6% which volume is 4 times of dry Eucheuma cottoni, give better yielding than volume is 3 times. The extraction with KCl solvent give yielding better than the extraction with water. The best condition in this experiment is obtained by using extraction for 4 hours with water as a solvent at temperature 90 – 100oC and KCl as a solvent at temperature 90 – 95oC.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. H. M. Rachimoellah,Dipl.EST

****************************************************************

ETANOL DARI MOLASES OLEH ZYMOMONAS MOBILIS TERMUTASI YANG DIIMMOBILISASI PADA K-KARAGINAN PADA REAKTOR KONTINYU

ETHANOL FROM MOLASSES USING ZYMOMONAS MOBILIS MUTANT IMMOBILIZED in K-CARRAGEENAN on CONTINUOUS REACTOR

Created by :
Iksanti, Laili ( )

Subject: Alcohol
Alt. Subject : Alkohol
Keyword: Etanol
molases
konsentrasi K-karaginan
mixed flow reactor
Zymomonas mobilis A3
immobilisasi sel

[ Description ]

Pada proses produksi etanol ini menggunakan bahan baku molases dan mikroorganisme Zymomonas mobilis A3 yang termutasi oleh hydroxylamine, dengan proses fermentasi dalam mixed flow reactor. Percobaan dimulai dengan pretreatment molases, pengembangan kultur, pembuatan starter, serta pembuatan immobilisasi sel K-karaginan. Teknik immobilisasi merupakan teknik untuk menjebak sel supaya sel tetap berada dalam reaktor kontinyu sehingga mampu memproduksi etanol dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi glukosa dan kerapatan κ-Karaginan dalam immobilisasi sel terhadap kinerja produksi etanol pada Mixed Flow Reactor guna mendapatkan kadar dan produktivitas etanol yang maksimal. Immobilisasi sel K-karaginan berbentuk bead dengan ukuran diameter 2 mm, berat yang digunakan 270 g. Setelah sel immobilisasi tersedia maka dilakukan fermentasi dalam reaktor kontinyu, dengan mengalirkan molases menggunakan pompa peristaltik kondisi flow rate 180 mL/jam, dilution rate 0,18 jam-1. Pengambilan sampel dilakukan selama proses fermentasi pada interval waktu tertentu untuk menganalisa jumlah sel, kadar gula reduksi dan kadar etanol. Uji kadar gula reduksi dilakukan dengan metode DNS, kadar etanol dianalisa dengan metode GC dan analisa jumlah sel diuji dengan metode counting chamber. Dari hasil penelitian diperoleh kadar etanol dan produktivitas etanol tertinggi pada konsentrasi glukosa 149,35 g/L dan kerapatan κ-karaginan 2 % masing-masing sebesar 47,249 g/L, 8,505 g.l-1.jam-1. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsentrasi glukosa dan kerapatan κ-karaginan berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktivitas etanol.

Alt. Description

The production process of ethanol uses molasses as raw material and Z.mobilis mutanted by hydroxylamine as bacteria in mixed flow reactor. The experiment was started by molasses pretreatment, making of starter, culture growth, and making of immobilized cells using κ-carrageenan as a supporting matrices. Immobilization technique is a method to retain cell stay inside the reactor, to get clean effluent stream and to optimize ethanol production. The purpose of this experiment were to study of the influence of glucose concentration and κ-carrageenan density in ethanol production process using mixed flow reactor in order to reach an optimal concentration and ethanol productivity. Immobilized cells was formed 2 mm in diameter of sphere particles in each particle. After 270 grams of immobilized cells has been prepared, then performed continuous fermentation in mixed flow reactor, flowing molasses using peristaltic pump about 180 mL.h-1, dilution rate about 0.18 h-1. The sample was taken through the fermentation process for a current interval time to analyze cell account, total sugar reduction content and ethanol concentration. Determining total sugar reduction content using DNS method, analyzing bioethanol concentration using GC method and determining cell account using counting chamber methods. The result of study shows the ethanol concentration and productivity are optimal at glucose concentration 149,35 g/L and κ-carrageenan density 2% , i.e. 47,249 g/L, 8,505 g.l-1.jam-1respectively. Based on the result of study we can conclude that glucose concentration and κ-carrageenan density have an influence on concentration and ethanol productivity.

Contributor :

1. Dr.Ir.Tontowi Ismail, MS.

****************************************************************

PENGARUH KONSENTRASI KARAGINAN TERHADAP KUALITAS YOGHURT, SOYGHURT, DAN PEAGHURT DENGAN MENGGUNAKAN KULTUR BAKTERI LACTOBACILLUS BULGARICUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILLUS

Created by :
Yuanita, Dina ( )

Subject: Kultur Bakteri
Alt. Subject : YOGHURT
Keyword: kualitas
yoghurt
soyghurt
peaghurt
L. bulgaricus
S. thermophillus

[ Description ]

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karaginan dengan konsentrasi tertentu terhadap kualitas yoghurt, soyghurt dan peaghurt melalui analisa-analisa yaitu pH, kadar protein, kadar lemak, total asam serta uji organoleptik. Prosedur penelitian meliputi tahap pembuatan bahan baku, tahap pembuatan starter, tahap pembuatan produk dan analisa produk. Pada tahap pembuatan susu kedelai dan susu kacang tanah meliputi sortasi kedelai atau kacang tanah, penimbangan, perendaman dalam NaHCO3 0,5%, penirisan dan pencucian ulang, blanching pada 1000C selama 10 menit, penggilingan dengan blender sambil ditambahkan air panas kemudian disaring sehingga diperoleh susu kacang tanah atau kedelai, filtrat yang diperoleh ditambah Na2HPO4 sebanyak 1,2% kemudian dipasteurisasi. Tahap pembuatan starter meliputi inokulasi bakteri L. bulgaricus dan S. thermophillus dari MRS agar pada masing-masing media MRS broth steril dalam erlenmeyer, inkubasi pada suhu 370C, inokulasi masing-masing bakteri dengan perbandingan konsentrasi 1:1 pada media susu dalam erlenmeyer steril. Inkubasi media kultur pada suhu 430C pada shaker hingga kerapatan bakteri asam laktat mencapai 107/ml. Tahap pembuatan yoghurt meliputi penambahan susu skim 5%, gula pasir 5%, karaginan 0,4%; 0,5%; 0,6% pada susu, pemanasan selama 15 menit, pendinginan pada suhu 430C dan penambahan starter 5%. Inkubasi dilakukan pada suhu 430C selama 4 jam pada inkubator. Perlakuan yang menghasilkan produk terbaik adalah perlakuan pada soyghurt dengan karaginan 0,6%. Dengan karekteristik kadar protein sebesar 4,05 %, kadar lemak sebesar 0,8 %, total asam 1,8 % ,kadar abu 0,96 % dan lama kestabilan 32 hari.

Alt. Description

The aim of this research is to observe the effect of various carrageenan cocentration on quality of yoghurt, soyghurt and peaghurt. The research is conducted 4 steps, i’e: 1). Soy and peamilk production, 2). Starter production 3).yoghurt, soyghurt and peaghurt production, 4). Chemical ( protein, fat, ash, and total acid content), stability and organoleptic analysis. Data obtained are treated by analysis of variance and followed by Wilcoxon test (especially for organoleptic test). Making soymilk and peamilk are contain soaking in NaHCO3 0,5% for 8 hours, draining and rewashing, blanching at 100 C for 10 minutes, blending with adding hot water (1:6), filtration, adding Na2HPO4 1,2% to soy(pea)milk. Making starter are contain inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus to sterilized MRS-Broth, incubating in incubator shaker at 370C 125 rpm, inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus (1:1) in milk, , incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm until the amount of bacteria 107/ml. Making yoghurt are contain adding 5% skim milk powder, sugar cane, and 0,4; 0,5; 0,6% carrageenan. Then heating for 15 minutes, cooling at 430C, adding 5% starter, incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm for 4 hours. Finally, place in refrigerator at 50 Reseach result indicate treatment that producing the best product are treatment at soyghurt with 0,6% carrageenan. Characteristic product i.e : 0,405 protein content, 0,8 % fatty content, 1,8 % total acid, 0,96% ash content and stability 32 days.

Contributor :

1. Ir. NUNIEK HENDIANIE

source: digilib.its.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG SUSU

PERANCANGAN SISTEM PASTEURISASI SUSU MENGGUNAKAN HEAT PUMP

MILK PASTEURIZATION SYSTEM DESIGN USING HEAT PUMP

Created by :
NUGROHO, MOKO ( )

Subject: Perpindahan panas
Alt. Subject : Heat Exchangers
Keyword: Pasteurisasi
Refrigerasi
Heat Exchanger
Kondensor
Evaporator

[ Description ]

Sistem Pasteurisasi susu merupakan proses pemanasan susu hingga suhu 630C selama 30 menit atau 720C selama 15 detik dan pendinginan hingga suhu 40C. Pemanasan dalam rangka membunuh bakteri patogen dalam susu, kemudian langsung didinginkan agar bakteri tidak tumbuh kembali. Panas dan dingin dalam proses pasteurisai susu dapat dipenuhi dengan pemanfaatan sistem refrigerasi dan heat exchanger. Panas yang dihasilkan dalam kondensor untuk memanaskan susu dan dinginnya dipenuhi oleh evaporator. Heat exchanger digunakan sebagai pemanas awal dari susu yang bersuhu 70C sehingga kerja kompressor tidak terlalu tinggi untuk menaikkan suhu susu. Dengan spesifikasi heat exchanger, kondensor, evaporator, kompressor dan refrigeran yang telah dirancang, kalor yang diperlukan untuk mencapai suhu secara berturut-turut Evaporator, Kondensor, Heat exchanger1, Heat Exchanger 2, masing-masing sebesar 39994,92 J/s, 40927,22 J/s, 339645,1 J/s, 18294,76 J/s.

Alt. Description

Milk pasteurization system is a milk heating process at 630C for 30 minutes or at 720C for 15 seconds and cooling process to 40C. The heating process is used to vanish patogen bactery in milk, then the cooling process to prevent the regrowth of bactery. Heat and cold in pasteurization process are supplied by refrigeration and heat exchanger system. The result hot of condenser is applied for milk heating and the cold is obtained from evaporator. Heat exchanger is applied for milk preheater from initial temperature 70C to minimize the energy needed by compressor. The calor needed by spesification of Evaporator, Condenser, Heat exchanger 1, Heat Exchanger 2, 39994,92 J/s, 40927,22 J/s, 339645,1 J/s, 18294,76 J/s.

***********************************************************

PEMODELAN MATEMATIKA PADA PENGAWETAN SUSU SAPI CAIR MELALUI PEMANASAN MENGGUNAKAN PEMANAS MICROWAVE

MATHEMATICAL MODELING ON PRESERVATION OF COW’S LIQUID MILK THROUGH HEATING BY USING MICROWAVE

Created by :
FARHADI ( )

Subject: Model matematika
Alt. Subject : Mathematical models
Keyword: Microwave
Metode Volume Hingga
Diskritisasi QUICK

[ Description ]

Susu sapi cair merupakan salah satu sumber gizi keluarga. Oleh karena itu susu sapi cair banyak dikonsumsi oleh masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan gizi. Susu sapi cair juga mudah terkontaminasi oleh bakteri, bahkan sejak susu sapi cair tersebut diperah bakterinya sudah masuk di dalamnya. Hal ini yang mengakibatkan kerusakan pada susu sapi cair tersebut. Untuk itu bakteri tersebut perlu dikurangi atau dimusnahkan dalam rangka pengawetan susu sapi cair. Salah satu bentuk pengawetan susu cair adalah melalui pemenasan yang kontinu pada suhu tertentu. Untuk itu perlu kajian yang sesuai tentang masalah ini. Melalui penelitian ini akan dikaji/dianalisa tentang pemenasan susu sapi cair yang dipanaskan dengan menggunakan pemanas microwave. Kajian pemanasan ini diturunkan melalui model matematika yang dikembangkan dari persamaan perpindahan panas, kemudian penyelesaian model matematika tersebut dengan menggunakan Metode Volume Hingga dengan teknik diskritisasi Quadratic Upwind Interpolation Confektive Kinematics (QUICK), serta diselesaikan dengan program matlab 7. Hasil penelitian secara numerik menunjukkan bahawa, proses pemanasan tersebut sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran, besar sumber panas, panjang jarijari (volume), serta waktu. Penambahan kecepatan 0.000001m/det menyebabkan pertambahan panas sebesar 0.480K, penambahan besar sumber panas dari 1500 W menjadi 2000 W, mengakibatkan kenaikan suhu sebesar18.560K, penambahan panjang jari-jari dari 0.085 m menjadi 0.1 m mengakibatkan penurunan suhu sebesar 8.350K, sedangkan penambahan waktu pemanasan 2 menit mengakibatkan penambahan panas sebesar 6.80K.

Alt. Description

The cow’s liquid milk is one of family nutrient resources, so that much cow’s liquid milk is consumed by people in the need of nutrient. It is easily contaminated by bacteria, even since it has been squeezed, the bacteria has got in it. It causes the destruction of cow’s liquid milk. So, this bacteria needs to be decreased or annihilated for the preservation of cow’s liquid milk. One form of milks’ preservations is the continuous heat in the certain temperature. Therefore, it is considered that there must be a research to be conducted based on this problem. From the research, it will be analyzed the heat of cow’s liquid milk which is heated by using microwave. This analysis of heating is derived through the mathematical modeling which is developed from the Heat Transfer. This method using Finite Volume Method (FVM) and it is further solved numerically using the same method, i.e. Quadratic Upwind Interpolation Connective Kinematics (QUICK) Method and it is solved by Matlab 7 Program. The result of this research in numeric shows that, the warm-up process hardly influenced by stream speed, big source of temperature, tube radius length (volume). Addition of velocities of 0.000001m/det causes hot increase from 0.480K, big addition source of temperature out of 1500 W becomes 2000 W, results increase of temperature equal to 18.560K, addition of radius footage out of 0.085 m becomes 0.1 m to result degradation of temperature equal to 8.350K, while addition of heating time 2 minute results hot addition equal to 6.80K.

******************************************************

ANALISIS STATISTIK TENTANG TINGKAT KEEKONOMISAN DAN KADAR GIZI DARI BEBERAPA MEREK BUBUR SUSU INSTAN ( STUDI KASUS PERTAMBAHAN BERAT BADAN BAYI BERDASARKAN BUBUR SUSU INSTAN EKONOMIS )

STATISTICAL ANALYSIS ABOUT ECONOMIC LEVEL AND NUTRITION RATE FROM SOME BRAND OF MILK INSTANT MUSH (CASE STUDY INCREASING OF BABY BODY WEIGHT BASED ON ECONOMIC MILK INSTAN MUSH)

Created by :
Anggraeni, Any ( )

Subject: Principal Components Analysis
Alt. Subject : Statistik
Keyword: Gizi
AKG
Berat Badan
Ekonomis
MDS

[ Description ]

Masa pertumbuhan gizi bayi merupakan fase awal yang sangat menentukan, kelebihan ataupun kekurangan akan suatu unsur dalam pemberian makanan akan berakibat fatal di kemudian hari. Pada penelitian ini dilakukan pengelompokan merek bubur susu instan berdasarkan kandungan komposisi gizinya dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada kategori berat badan per umur. Selain itu dilakukan juga pengelompokan terhadap komposisi gizi tiap merek bubur susu instan dengan harga jual di pasaran. Metode pengelompokan yang digunakan adalah Multidimensional Scalling (MDS). Pada penelitian ini juga dilakukan percobaan memberikan treatment kepada 10 bayi selama 1 minggu, kemudian dilakukan pengukuran hasil pertambahan berat badan bayi. Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah didapatkan pengelompokkan bubur susu instan merek SUN8, Promina8, Nestle Sereal8 dengan AKG Obesitas, sehingga bubur merek tersebut memiliki kadar kandungan komposisi gizi yang tepat untuk dikonsumsi oleh bayi yang mengalami obesitas. Didapatkan 4 kelompok dari pengelompokan bubur susu instan berdasarkan kadar gizi dan keekonomisannya. Sedangkan untuk hasil percobaan dari lima merek bubur susu instan (SUN6, Nes6, Prom6, SGML6, SGMT8) didapatkan hasil yang signifikan sehingga pemberian bubur susu instan tersebut memberikan hasil pertambahan berat badan yang berbeda secara signifikan.

Alt. Description

A period of baby nutrition growth represent of the early phase very determining, excess or insuffiency element in food given will cause fatal effect on day. At this research conducted clustering of milk instant mush brand based on content of nutrition composition with the Recomended Dietary Allowances (RDA) at body weight category for each age. The others conducted clustering nutrition composition for every brand of milk instant mush at the selling price in market. Clustering method used is Multidimensional Scalling (MDS). At this research also conducted attempt give the treatment to 10 baby during 1 week, then conducted measurement result increase baby body weight. Result got at this research is clustering of milk instant mush brand SUN8, Promina8, Nestle sereal8 by Obesity AKG, so that brand mush own the obstetrical rate of correct nutrition composition to be consumed by obesity baby. Got 4 cluster from clustering of milk instant mush based on nutrition rate and the economic level. While the result of attempt from five milk instant mush brand (SUN6, Nes6, Prom6, SGML6, SGMT8) got a significant result so that give of milk instant mush is different by significant increasing baby body weight.

Contributor :

1. Dra. DESTRI SUSILANINGRUM,M.Si

****************************************************************

PENGARUH PENAMBAHAN SUMBER KARBON GLUKOSA, DEKSTROSA DAN AMILOSA TERHADAP KUALITAS SOYGURT

THE EFFECT OF GLUCOSE, DEXTROSE AND AMYLOSE CARBON SOURCES ON SOYGHURT QUALITY

Created by :
KRISTININGSIH, NOVITA ( )

Subject: Susu kedelai
Alt. Subject : Soymilk
Fermented soymilk
Keyword: soygurt
glukosa
dekstrosa
amilosa

[ Description ]

Soygurt dihasilkan dari hasil fermentasi susu kedelai dengan menggunakan Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus selama 20 jam. Pengaruh penambahan glukosa, dekstrosa dan amilosa terhadap kualitas soygurt telah diketahui. Penelitian ini dilakukan dalam 3 tahap yaitu: 1) Pembuatan susu kedelai, 2) Pembuatan soygurt, dan 3) Analisa kimia. Analisa yang dilakukan meliputi analisa protein dengan metode kjeldahl, analisa lemak dengan metode ekstraksi, kadar air dan total padatan dengan metode AOAC, asam laktat dengan metode titrasi asam – basa, dan pengukuran pH menggunakan pHmeter. Pada penelitian ini dilakukan penambahan variasi glukosa, dekstrosa dan amilosa sebesar 7% untuk pembuatan soygurt. Susu kedelai yang digunakan untuk pembuatan soygurt telah memenuhi syarat SNI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa soygurt yang paling baik adalah soygurt dengan penambahan glukosa, dimana mempunyai kadar protein sebesar 19,68%, kadar lemak sebesar 2,9%, kandungan asam laktat sebesar 0,7%, total padatan 16,18% dan pH 4,52. Soygurt dengan penambahan glukosa, dekstrosa dan glukosa+ dekstrosa telah memenuhi SNI sebagaimana produk yogurt sedangkan soygurt dengan penambahan amilosa, amilosa+glukosa, dan dekstrosa+amilosa tidak memenuhi SNI.

Alt. Description

Soyghurt is produced from soymilk fermented with Streptococcus thermophillus and Lactobacillus bulgaricus during 20 hours. The effect of glucose, dextrose and amylase addition to the quality of soyghurt has been known. This research has conducted in three phases, which are : 1) Soymilk production, 2) Soyghurt production, and 3) Chemical analysis. The analysis includes protein analysis with kjeldahl method, fat analysis with extraction method, rate of H2O and total solid with AOAC method, lactic acid with acid – base titration and pH measurement using pHmeter. In this research was done variation addition 7% of glucose, dextrose and amylose for soyghurt production. Soymilk that was used for soyghurt production has qualified the SNI. Research results has indicated that the best soyghurt is soyghurt with glucose addition, with 19,68% protein, 2,9% fat, 0,7% lactic acid, 16,18% total solid and pH 4,52. Soyghurt with the addition of glucose, dextrose and glucose plus dextrose have qualify SNI as well as yoghurt production while soyghurt with the addition of amylose, amylose plus glucose, and dextrose plus amylose have not qualify with SNI.

******************************************************

APLIKASI RADIASI GELOMBANG ULTRAVIOLET UNTUK PROSES DISINFEKSI TOTAL BAKTERI PADA SUSU SAPI SEGAR

THE APPLICATION OF ULTRAVIOLET WAVE FOR TOTAL BACTERY DISINFECTION PROCESS TO FRESH MILK

Created by :
PRATAMA, DETAK YAN ( )

Subject: Radiasi
Keyword: disinfeksi
radiasi

ultraviolet

[ Description ]

Proses disinfeksi bakteri pada susu sapi segar yang paling populer sampai saat ini adalah melalui metode pasteurisasi. Tetapi seiring perkembangan teknologi, maka alternatif cara yang dapat digunakan untuk proses disinfeksi juga semakin banyak. Pada tugas akhir ini, telah diteliti alternatif cara tersebut, yaitu dengan proses radiasi. Sumber gelombang yang digunakan adalah lampu ultraviolet tipe C model G15T8 merek Philips dengan daya 15 watt. Panjang gelombang yang dihasilkan adalah 100-280 nm. Radiasi dilakukan dengan variasi jarak dan waktu. Jarak radiasi sumber cahaya dengan dasar reaktor adalah 5 cm, 10 cm, dan 15 cm dengan variasi waktu 5, 10, 15, 20, 25, 30, dan 45 menit pada masing-masing jarak. Setelah dilakukan proses disinfeksi dapat diketahui bahwa semakin dekat jarak radiasi, maka semakin kecil pula waktu yang dibutuhkan. Waktu yang paling efektif adalah 10 menit dengan flux density 0.11663 Watt/cm2. Pada variasi ini telah dihasilkan jumlah bakteri yang telah memenuhi salah satu standar susu sapi segar dalam SNI 01-3141-1998 yang menyatakan bahwa jumlah total bakteri maksimum yang diperbolehkan pada susu sapi segar adalah 106 CFU/ml.

Alt. Description

The most popular method for bactery disinfection to fresh milk is pasteurisation. Since the technology is grow well, there are many new methode that can use to get the disinfection process. This task has been tried to make disinfection using wave radiation. The light source is philips ultraviolet lamp C G15T8 model 15 watt. The radiation is done on distance and time variation. The distance variation from light source to reactor are 5 cm, 10 cm, and 15 cm with time variation are 5, 10, 15, 20, 25, 30, and 45 minutes in each distance. After process, we can get the fact that if the distance is closer, so the time is needed. The effective time of disinfection is 10 minutes and flux density are 0.11663 watts/cm2. The total bactery that produce in this variation has fulfil the one of fresh milk standard in SNI 01-3141- 1998. According to this standard, the maximum total bactery that permits are 106 CFU/ml.

Contributor :

1. Ir. Heru Setijono, M.Sc
Ir. Suprianto, M.Sc

************************************************

ANALISIS REGRESI LOGISTIK TERHADAP FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LOYALITAS KONSUMEN PRODUK SUSU MILKU PT. SUSU SEHAT ALAMI JEMBER

LOGISTIC REGRESSION ANALYSIS OF CONSUMEN LOYALITY INFLUENCE FACTORS OF MILKU PRODUCTS PT. SUSU SEHAT ALAMI JEMBER

Created by :
ZUCHRUF MIFTA AZIIZ MUTTAQIN ( )

Subject: Analisis regresi
Alt. Subject : Regression planning
Keyword: Loyalitas
Regresi logistik

[ Description ]

Loyalitas merek adalah ukuran keterkaitan pelanggan terhadap suatu merek. Ukuran ini mampu memberikan gambaran tentang mungkin tidaknya seorang pelanggan beralih ke merek lain untuk produk yang sama, terutama jika pada merek tersebut didapati adanya perubahan, baik menyangkut harga maupun atribut lain. Loyalitas diukur melalui indikator customer value, switching barrier, customer characteristic, customer satisfaction dan yang terakhir competitive environment. Setiap dimensi diukur dengan beberapa atribut. Pengambilan sampel menggunakan Simple Random Sampling yang didasarkan dari konsumen yang telah mengkonsumsi segala macam bentuk dan macam produk MILKU sehingga didapatkan sebanyak 138 kuisioner. Berdasarkan analisis Regresi Logistik diketahui faktor yang memberi kontribusi terhadap loyalitas adalah variabel Customer Characteristics dengan Model Regresi Logistik

Alt. Description

Brand loyality is one of consumer’s relation measurement of branding. This measurement can draw from the consumer’s possibility return to other brand for the same products, most of all if there were brand changing about cost or other attributes. Loyality can be measure into customer value, swtching barrier, customer characteristics, customer satisfaction and competitive environment. All dimrnsions can be drawn by some attributes. This research use Simple Random Sampling technique based on consumers which consume all the variants of MILKU until collect 138 questionnaires. Based on Logistic regression factors which has contribution for loyality are Customer Characteristics variable. The regression logistic model

Contributor :

1. Ir. Mutiah Salamah, M.Kes

****************************************************************

PENGARUH KONSENTRASI KARAGINAN TERHADAP KUALITAS YOGHURT, SOYGHURT, DAN PEAGHURT DENGAN MENGGUNAKAN KULTUR BAKTERI LACTOBACILLUS BULGARICUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILLUS

Created by :
Yuanita, Dina ( )

Subject: Kultur Bakteri
Alt. Subject : YOGHURT
Keyword: kualitas
yoghurt
soyghurt
peaghurt
L. bulgaricus
S. thermophillus

[ Description ]

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karaginan dengan konsentrasi tertentu terhadap kualitas yoghurt, soyghurt dan peaghurt melalui analisa-analisa yaitu pH, kadar protein, kadar lemak, total asam serta uji organoleptik. Prosedur penelitian meliputi tahap pembuatan bahan baku, tahap pembuatan starter, tahap pembuatan produk dan analisa produk. Pada tahap pembuatan susu kedelai dan susu kacang tanah meliputi sortasi kedelai atau kacang tanah, penimbangan, perendaman dalam NaHCO3 0,5%, penirisan dan pencucian ulang, blanching pada 1000C selama 10 menit, penggilingan dengan blender sambil ditambahkan air panas kemudian disaring sehingga diperoleh susu kacang tanah atau kedelai, filtrat yang diperoleh ditambah Na2HPO4 sebanyak 1,2% kemudian dipasteurisasi. Tahap pembuatan starter meliputi inokulasi bakteri L. bulgaricus dan S. thermophillus dari MRS agar pada masing-masing media MRS broth steril dalam erlenmeyer, inkubasi pada suhu 370C, inokulasi masing-masing bakteri dengan perbandingan konsentrasi 1:1 pada media susu dalam erlenmeyer steril. Inkubasi media kultur pada suhu 430C pada shaker hingga kerapatan bakteri asam laktat mencapai 107/ml. Tahap pembuatan yoghurt meliputi penambahan susu skim 5%, gula pasir 5%, karaginan 0,4%; 0,5%; 0,6% pada susu, pemanasan selama 15 menit, pendinginan pada suhu 430C dan penambahan starter 5%. Inkubasi dilakukan pada suhu 430C selama 4 jam pada inkubator. Perlakuan yang menghasilkan produk terbaik adalah perlakuan pada soyghurt dengan karaginan 0,6%. Dengan karekteristik kadar protein sebesar 4,05 %, kadar lemak sebesar 0,8 %, total asam 1,8 % ,kadar abu 0,96 % dan lama kestabilan 32 hari.

Alt. Description

The aim of this research is to observe the effect of various carrageenan cocentration on quality of yoghurt, soyghurt and peaghurt. The research is conducted 4 steps, i’e: 1). Soy and peamilk production, 2). Starter production 3).yoghurt, soyghurt and peaghurt production, 4). Chemical ( protein, fat, ash, and total acid content), stability and organoleptic analysis. Data obtained are treated by analysis of variance and followed by Wilcoxon test (especially for organoleptic test). Making soymilk and peamilk are contain soaking in NaHCO3 0,5% for 8 hours, draining and rewashing, blanching at 100 C for 10 minutes, blending with adding hot water (1:6), filtration, adding Na2HPO4 1,2% to soy(pea)milk. Making starter are contain inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus to sterilized MRS-Broth, incubating in incubator shaker at 370C 125 rpm, inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus (1:1) in milk, , incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm until the amount of bacteria 107/ml. Making yoghurt are contain adding 5% skim milk powder, sugar cane, and 0,4; 0,5; 0,6% carrageenan. Then heating for 15 minutes, cooling at 430C, adding 5% starter, incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm for 4 hours. Finally, place in refrigerator at 50 Reseach result indicate treatment that producing the best product are treatment at soyghurt with 0,6% carrageenan. Characteristic product i.e : 0,405 protein content, 0,8 % fatty content, 1,8 % total acid, 0,96% ash content and stability 32 days.

Contributor :

1. Ir. NUNIEK HENDIANIE

****************************************************************

PERBANDINGAN MODEL REGRESI LINIER KLASIK DAN TOBIT BIVARIAT STUDI KASUS PADA PENGELUARAN RUMAH TANGGA UNTUK KONSUMSI DAGING DAN SUSU

THE COMPARISON BETWEEN BIVARIATE CLASSICAL LINEAR AND TOBIT REGRESSION ANALYSIS Case Study on Household Expenditure for Meat and Milk Consumption

Created by :
PURNOMO, TRI CAHYO ( )

Subject: Analisis regresi
Keyword: Censored data
Regresi Tobit Bivariat
Konsumsi Daging dan Susu

[ Description ]

Dalam penggunaan metode analisis regresi untuk penelitian bidang sosial dan ekonomi, banyak ditemui struktur data dimana variabel responnya mempunyai nilai nol untuk sebagian observasi, sedangkan untuk sebagian observasi lainnya mempunyai nilai tertentu yang bervariasi. Struktur data seperti ini dinamakan data tersensor (censored data). Pada penelitian ini dibahas tentang konsep model regresi yang menggunakan data tersensor yaitu regresi tobit bivariat serta perbandingan dengan regresi linier klasik bivariat diterapkan pada data riel. Penerapan dilakukan untuk melihat faktor-faktor dalam rumah tangga yang mempengaruhi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi daging dan susu dengan menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006 Propinsi Jambi. Pada penerapan dibandingkan hasil regresi linier klasik bivariat dengan hasil regresi tobit bivariat. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa regresi tobit bivariat lebih baik dari pada regresi linier klasik bivariat bila diterapkan pada data tersensor. Hal ini dapat dilihat dari nilai R2 regresi tobit bivariat yang lebih besar dari nilai R2 regresi linier klasik bivariat.

Alt. Description

In usage of regression analysis method on social-economics research, met by many data structure where the respons variable have zero value on some observations while some other observations have certain value. This kind of data structure named censored data. This research studied about concept of regression analysis method using censored data named bivariate tobit regression and also compare the result with bivariate linear classical regression applied on real data. The applying conducted to see the factors that influencing household expenditure for meat and milk consumption by using Statistics Indonesia s data result of 2006 National Socio-economic Survey (Susenas 2006) at Jambi Province. The result of bivariate linear classical regression compare with the result of bivariate tobit regression model. Using censored data, result of the comparison indicate that bivariate tobit regression is better than bivariate linear classical regression. This can be seen from R2 value of bivariate tobit regression that s higher than R2 of bivariate linear classical regression.

Contributor :

1. Dr. Dra. Ismaini Zain, M.Si.
Erni Tri Astuti, S.Si, M.Math.

****************************************************************

SIMULASI PERENCANAAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SENTRA USAHA PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT

Productivity Improvement Planning Simulation in Dairy Farm Business Central

Created by :
WEDOWATI, ENDANG RETNO ( )

Keyword: Sentra Produksi Susu
Produktivitas
Simulasi

[ Description ]

Peningkatan daya saing suatu perusahaan dapat dilakukan dengan meningkatkan tingkat produktivitasnya. Peningkatan produktivitas dilakukan melalui tahapan yang disebut dengan siklus produktivitas, yang meliputi 4 (empat) tahap yaitu : pengukuran produktivitas, evaluasi produktivitas, perencanaan produktivitas dan peningkatan produktivitas. Data dikumpulkan berdasarkan data historis pada 4 (empat) sentra usaha peternakan sapi perah rakyat, yaitu KUD Dau, KUD Karangploso, Koperasi “SAE” Pujon, dan KUD “Sumber Makmur” Ngantang. Periode data historis yang diambil selama 36 bulan, yaitu mulai bulan Januari 1999 sampai dengan bulan Desember 2001. Model pengukuran tingkat produktivitas dan evaluasi produktivitas yang dilakukan menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas sentra adalah kualitas susu dan tingkat produktivitas ternak. Alternatif program perencanaan peningkatan produktivitas dilakukan dengan mengembangkan suatu model yang akan mewakili sistem sentra usaha peternakan sapi perah rakyat. Alternatif perencanaan peningkatan produktivitas meliputi : Skenario I (peningkatan volume pakan), Skenario II (peningkatan populasi ternak), Skenario III (peningkatan standar harga jual susu), Skenario IV (peningkatan biaya keswan dan biaya penanganan susu), Skenario Gabungan, dan Skenario Batasan Subsidi. Penerapan skenario gabungan pada KUD Dau akan dapat meningkatkan produktivitas sentra sebesar 77.55% dari kondisi normal, yaitu dari tingkat produktivitas sebesar 0.98 menjadi 1.74. KUD Karangploso dapat meningkatkan produktivitas sentra sebesar 58.33% dari kondisi normal, yaitu dari tingkat produktivitas 1.68 menjadi 2.66. Koperasi “SAE” Pujon dapat meningkatkan produktivitas sentra sebesar 167.50% dari kondisi normal, yaitu dari 1.20 menjadi 3.21. Sedangkan KUD “Sumber Makmur” Ngantang dapat meningkatkan produktivitas sentra sebesar 56.05% dari kondisi normal, yaitu dari tingkat produktivitas 1.57 menjadi 2.45.

Alt. Description

The company can be survived in industry by improve productivity. To improve productivity in a true sense of the term, four formal phases must be recognized: productivity measurement, productivity evaluation, productivity planning and productivity improvement. These four phases form a continuous productivity process – the productivity cycle. The data that have collected are historical data in 4 (four) dairy farm bussiness central : KUD Dau, KUD Karangploso, Koperasi “SAE” Pujon and KUD “Sumber Makmur” Ngantang. The historical data period had taken for 36 months from January 1999 until December 2001. Productivity measurement model and productivity evaluation show that milk quality and cattle productivity influence the central productivity level. The alternative program for productivity improvement planning can be done by development a model that is representation the real system. The alternatives productivity improvement planning are Scenario I (feed volume increasing), Scenario II (cattle population increasing), Scenario III (milk selling price standard increasing), Scenario IV (cattle healthy cost and milk handling cost increasing), Combined Scenario, and Subsidy Limited Scenario. Implementation of combined scenario at KUD Dau can improve central productivity about 77.55 % from normal condition (from productivity level 0.98 become 1.74). KUD Karangploso can improve central productivity about 58.33% from normal condition (from productivity level 1.68 become 2.66). Koperasi “SAE” Pujon can improve central productivity about 167.50% from normal condition (from productivity level 1.20 become 3.21). And KUD “Sumber Makmur” Ngantang can improve central productivity about 56.05% from normal condition (from productivity level 1.57 become 2.45).

Contributor :

1. Dr. Ir. Moses L. Singgih, M.Sc., M.Reg.Sc.
Ir. Sri Gunani Partiwi, MT

****************************************************************

ANALISA KEGAGALAN PADA PROSES PRODUKSI SUSU CAIR INDOMILK (SCI) DENGAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) DAN GREY FMEA

FAILURE ANALYSIS IN PRODUCTION PROCESS OF SUSU CAIR INDOMILK (SCI) USING ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA) AND GREY FMEA

Created by :
Novina, Lani ( )

Subject: Produksi
Pengawasan
Keyword: FMEA
grey theory and RCA

[ Description ]

Kualitas produk yang bagus merupakan kunci sukses keberhasilan perusahaan untuk survive di bidangnya dan mendapatkan customer yang banyak. Customer akan loyal terhadap suatu produk jika produk tersebut memiliki kualitas yang bagus dan jauh dari cacat. Hal ini mendorong setiap perusahaan untuk bersaing dengan perusahaan lain sejenis karena terdapat banyak perusahaan sejenis yang bergerak di bidang yang sama. PT.INDOMILK adalah perusahaan yang bergerak dibidang industri pengolahan susu. Di industri ini terdapat banyak perusahaan yang bergerak di bidang yang sama sehingga PT.INDOMILK perlu untuk meningkatkan kualitas produk dengan mengurangi jumlah cacat selama proses produksi yang diamati dimana karenanya perusahaan mengalami kerugian sebesar empat ratus juta rupiah di tahun 2006. Oleh karena itu untuk mengurangi jumlah cacat tersebut maka perlu diketahui terlebih dahulu penyebab-penyebab cacat ini. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu Root Cause Analysis (RCA), Grey Theory dan Failure Modes and Effects analysis (FMEA). Dengan metode-metode ini dapat diketahui penyebab kegagalan dan prioritas perbaikan yang tidak bias dimana grey theory memampukan FMEA untuk menangkap informasi prioritas perbaikan yang lebih baik dan tidak bias dan dapat diambil tindakan untuk mengatasi cacat-cacat yang terjadi.

Alt. Description

The good product quality is a key success for companies to be survive in their fields and get a great number of customers. Customers will be loyal on a product if that product has a good quality and far away from defect. This thing will push every company to compete with others in the same field because there are many companies operating in the same field. PT.INDOMILK is a company operating in milk manufacture industry. In this industry there are many companies operating in the same field so that PT.INDOMILK needs to increase the product quality by decreasing the number of defect during the observed production process where because of it the company had suffered four hundred millions on 2006. Therefore, to decrease the number of these defect it needs to know first the causes of this defect. This research is performed by using Root Cause Analysis (RCA), Grey Theory and Failure Modes and Effects analysis (FMEA). Through these methods it can be identified the failure causes and unbiassed improvement priority where grey theory enables FMEA to catch a better and unbiased information of improvement priority so that the recommendation actions can be taken to overcome these defects.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Suparno, MSIE

****************************************************************

OPTIMASI PEMBUATAN KEJU COTTAGE TERHADAP SUHU FERMENTASI STARTER GABUNGAN LACTOBACILLUS BULGARICUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILLUS DAN ENZIM BROMELIN

THE OPTIMATION OF COTTAGE CHEESE PRODUCTION FOR FERMENTATION TEMPERATURE OF MIXING STARTER Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophillus AND FOR BROMELAIN ENZYME

Created by :
PURISMA, IRMA ( )

Subject: Fermentasi
Alt. Subject : Cheese
Keyword: enzim bromelin
suhu fermentasi
skim
keju cottage

[ Description ]

Keju cottage merupakan salah satu jenis keju yang diproses tanpa pematangan. Pada umumnya keju ini dibuat dari susu dengan menggunakan kultur bakteri asam laktat dan enzim rennet sebagai koagulannya. Pada penelitian ini, keju cottage dibuat dari susu skim dan kultur bakteri asam laktat yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophillus serta enzim bromelin yang digunakan sebagai koagulannya. Kondisi optimum pembuatan keju cottage ini diperoleh dengan melakukan berbagai variasi suhu fermentasi dan konsentrasi enzim bromelin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk pembuatan keju cottage adalah pada suhu fermentasi 40ºC dan penambahan konsentrasi enzim bromelin 700 ppm. Keju yang diperoleh telah memenuhi standar

Alt. Description

Cottage cheese is a kind of cheese that is processed without maturation. Generally, this cheese is made from milk using both of the culture of acid lactic bacteria and rennet enzyme for the coagulant. In this research, cottage cheese is made from both of skim milk and culture of acid lactic bacteria, such as, Lactobacillis bulgaricus and Sterptococcus thermophillus, and also bromelain enzyme that is used for the coagulant. The optimum condition of cottage cheese production by use to any variants of fermentation temperature and bromelain enzyme concentration. The resultof this research shows that the optimum condition of cottage cheese production is on 40ºC of fermentation temperature and 700 ppm of bromelain enzyme concentration. This cheese comply with standard of cottage cheese.

Contributor :

1. Drs. REFDINAL NAWFA, MSi

****************************************************************

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN GELATIN DAN LAMA PENYIMPANAN DALAM REFRIGERATOR TERHADAP KADAR PROTEIN DAN KADAR LEMAK PADA YOGURT SET

Created by :
Syaifudin, Ahmad ( )

Subject: Multivariate analysis
Alt. Subject : Multivariate analysis
Keyword: Yogurt
Rancangan Split Plot
susu fermentasi
Streptococcus thermophillus
Lactobacillus bulgaricus

[ Description ]

Yogurt adalah salah satu produk susu fermentasi dengan Streptococcus thermophillus dan Lactobacillus bulgaricus menghasilkan asam amino, asam formiat dan asam laktat. Yogurt set merupakan jenis yogurt dengan struktur seperti gel yang proses fermentasi dan pendinginan dilakukan dalam kemasan. Peningkatan mutu yogurt set terus dikembangkan untuk mendapatkan yogurt set yang bermutu baik dan disukai konsumen. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh tingkat penambahan gelatin dan lama penyimpanan terhadap mutu yogurt set ditinjau dari kadar protein dan kadar lemak, serta mengetahui kondisi optimum kadar protein dan kadar lemak. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Split Plot dengan pengulangan sebanyak 3. Sebagai plot induk adalah tingkat penambahan gelatin dengan empat level yaitu: 0%; 0,3%; 0,6% dan 0,9%. Sebagai split plot adalah lama penyimpanan dengan empat level yaitu: 0 hari, 7 hari, 14 hari dan 21 hari. Untuk mengetahui pengaruh faktor terhadap mutu yogurt set digunakan Manova, sedangkan untuk optimasi mutu yogurt set digunakan Metode Permukaan Respon dengan metode dual respon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan gelatin dan lama penyimpanan mempengaruhi mutu yogurt set. Tetapi interaksi antara penambahan gelatin dan lama penyimpanan tidak berpengaruh terhadap mutu yogurt set. Berdasarkan optimasi dengan metode permukaan respon diperoleh kodisi optimum kadar protein 5,1655% dan kadar lemak 3,3501%. kondisi optimum tersebut diperoleh pada penambahan gelatin 0,6% dan lama penyimpanan selama 17 hari.

Contributor :

1. Dr. PURHADI, M.Sc.

****************************************************************

PERENCANAAN PENINGKATAN KUALITAS SUSU PASTEURISASI BERDASARKAN HACCP DAN DEMING PRIZE (DI KUD DAU, MALANG)

Planning of Quality Pasteurization Milk Improvement Based on HACCP and Denting Prize (KUD Dau, Malang)

Created by :
BUDIATI, TITIK ( )

Subject: Pengawasan kualitas
Keyword: Milk
Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP)
Deming Prize
Zero One Integer Programming
SWOT analysis
Analytical Hierarchy Process method (AHP)

[ Description ]

Harga jual susu sapi yang rendah pada industi pengolahan susu merupakan indikasi lemahnya bargaining power peternak sebagai pemasok. Peristiwa ini terjadi karena adanya monopsoni di pasar. Untuk mengantisipasi hal tersebut dilakukan diversifikasi produk susu segar ke susu pasteurisasi. Penerapan sistem pengendalian kualitas, teknologi dan dana yang lemah menyebabkan susu pasteurisasi KUD Dau berkualitas rendah. Untuk meningkatkan kualitas maka diperlukan bantuan pemantauan menggunakan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Deming Prize. Selain itu juga harus memperhatikan suara konsumen yang sangat kritis dalam menyikapi kualitas produk yang diberikan kepada mereka. Sehingga jika hal ini tidak direspon dengan cepat oleh penyedia produk maka akibat fatal seperti berpindahnya konsumen ke pihak pesaing sangat mungkin terjadi. Dengan alasan-alasan inilah maka suatu sistem pengendalian kualitas produk merupakan salah satu fungsi manajemen yang sangat penting. Didalam penelitian ini perencanaan sistem pengendalian kualitas dilakukan melalui beberapa tahap yaitu dimulai dengan melakukan riset konsumen yang bertujuan untuk mengetahui dimensi kualitas produk yang dipentingkan oleh konsumen, pengamatan di titik kritis sesuai dengan aturan HACCP yang dikeluarkan FDA, pengamatan ketidaksesuaian dengan standar produk menurut FDA, pengisian kuesioner oleh pihak manajemen berdasarkan HACCP pilot audit dan Deming Prize. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya ketidaksesuaian proses dan produk dengan HACCP yang disebabkan oleh faktor penyebab manusia, mesin, metode, bahan baku, pengukuran dan lingkungan. Faktor ini menjadi acuan dalam Zero One Integer Programming untuk mengukur keterbatasan sumber daya bagi perbaikan dimensi kualitas yang bisa direkomendasikan untuk ditingkatkan yaitu keamanan produk, kebersihan atau kehigienisan produk, ketepatan masa simpan, penanganan keluhan konsumen, keawetan produk. Sedangkan hasil dari perhitungan kuesioner dilakukan penganalisaan gap untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mendasari perolehan nilai. Untuk menyeimbangkan antara internal dan eksternal dilakukan analisa SWOT yang menguraikan kekuatan dan kelemahan KUD Dau berdasarkan hasil analisa di titik kritis pada proses pengolahan susu menurut HACCP, analisa konsumen, analisa HACCP Audit Report dan analisa Deming Prize. Selain itu juga dilakukan pengamatan peluang dan ancaman dari luar. Kesemua analisa diatas kemudian dikembangkan menjadi kriteria-kriteria yang dicari prioritasnya karena keterbatasan sumber daya dan dana yang harus dikonsentrasikan untuk melaksanakan perencanaan tersebut. Karena sifatnya yang kualitatif dan banyak dipengaruhi oleh unsur subyektif, digunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dimana pihak manajemen KUD Dau memberikan tingkat preferensi antara satu kriteria dengan kriteria lainnya melalui perbandingan berpasangan. Hasil pembobotan dengan AHP ini menentukan kriteria mana yang harus diutamakan pelaksanaannya dalam perencanaan. Hasil pengukuran HACCP Pilot Audit didapatkan bahwa penerapan prinsip-prinsip HACCP masih sangat kurang (48%). Demikian juga hasil pengukuran yang didasarkan pada Deming Prize didapatkan bahwa penerapan Company Wide Quality Control masih kurang (52%). Sedangkan kedelapan kriteria dengan urutan prioritas mulai dari yang tertinggi, yaitu kriteria pembinaan peternak kemudian kriteria pembenahan Sumber Daya Manusia dengan sub kriteria pendidikan-pelatihan, pengembangan quality work life, pembenahan sistem penggajian. Prioritas ketiga adalah pembenahan sistem kualitas dengan sub kriteria peningkatan sistem jaminan kualitas, penerapan program sanitasi, penerapan Statistical Process Control (SPC), pembenahan SOP pendokumentasian. Prioritas keempat adalah perbaikan proses produksi melalui penggunaan teknologi. Prioritas kelima adalah peningkatan kualitas produk dengan sub kriteria peningkatan kualitas awal dan diversifikasi produk akibat reject. Prioritas keenam adalah bencmarking . Prioritas ketujuh adalah pembenahan sistem pemasaran yang berorientasi pada sistem jaminan kualitas kepada konsumen. Dilanjutkan dengan pembenahan SIM. Dengan adanya kedelapan altematif kriteria maka dapat dijadikan masukan dalam penyusunan perencanaan perbaikan kualitas susu pasteurisasi selanjutnya.

Alt. Description

Low cow’s milk sales price in milk processing industries is a indicate the decreasing of farmer’s bargaining power as suppliers. This event happen because there is a market monopsony . To anticipated it carry on diversification fresh milk products to be milk pasteurization. Quality system controlling applied, technology and low donation make quality milk pasteurization of KUD Dau low. In order to improving milk quality should use monitoring tool Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) and Deming Prize. Beside that, must pay attention to consumer’s critics complaint to make product quality given by them. So, if there is no responded quickly by products provider will be fatally like consumers shifting to competitors is possible. By these premises quality system controlling product is one of important management function. In this research, quality system controlling plan operated by several phases that are begun by consumers research to identifying product quality dimensional which is important for consumers, ultimate poin examination suitable with HACCP rules by FDA, inappropriate observation concern to product standart according to FDA, questionnaires fulfillment through management agency based on HACCP pilot audit and Deming Prize. From the research above found out inappropriate process and product with HACCP caused many factors such as human, machine, method, raw material, measurement and environment. This factors make reference in Zero One Integer Programming to measure limited resources to repairing quality dimension that recommended to increases product safety, clearness or hygienic product, expired date, consumer’s complaint management, product preservation. Whereas from calculation of questionnaire to form gap analyzing to distinguish what factors which based score value. To balancing between internal and external factors using SWOT analysis to expressing weak and strengthen of KUD Dau founded on analysis result in critical point for milk management process according to HACCP, consumers analysis, HACCP Audit Report analysis and Deming Prize analysis. After that, should opportunity observation and outdoor threat. All analyzes above be developed become criterion priority because limited resources and fund to be concentrated to accomplish this planning. Their qualitative nature and also influenced by subjective element, employed Analytical Hierarchy Process method (AHP) where is management of KUD Dau give preferences level between one criterion with other criterion through pair comparability. Result weight of AHP determined what criterion to be primarily performance in planning. Measurement result HACCP Pilot Audit obtained that HACCP principles applied still very lack (48%). Similarity with measurement result on Deming Prize reached that Company Wide Quality Control application remain lack (52%). Whereas eight criterions from highly priority, namely farmer empowerment criterion changed be Human Resource Reconstruction with sub criteria education-training, quality work life development, payroll system reconstruction. Third priority area quality system reconstruction with sub criterion guarantee quality system improvement, sanitation program application, Statistical Process Control application (SPC), documented SOP reconstruction. Fourth priority area production process maintenance though technology usage or product quality improvement with sub criterion elementary quality improvement and product diversification caused reject. Fifth priority are benchmarking. Sixth priority are marketing system based on quality assurance following with SIM reconstruction. Eighth alternatives criteria as contribution in setting up milk pasteurization quality treatment planning subsequent.

Contributor :

1. Dr. Ir. Moses L. Singgih, M. Sc. M.Reg. Sc.
Ir. Sri Gunani Partiwi, MT

Source :
Undergraduate Theses, Chemical Engineering,RSK 579.88 Wur s, 2008

Coverage :
ITS Community only

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TEKNIK PENULISAN SUMBER ACUAN, DAFTAR PUSTAKA, KUTIPAN, FOOTNOTES dan ENDNOTES : KARYA ILMIAH (SKRIPSI, LAPORAN AKHIR, MAKALAH, THESIS, DISERTASI)


Untuk menciptakan sebuah karya ilmiah yang baik, kita harus memahami teknik penyusunannya. di setiap universitas umumnya setiap mahasiswa dibekali kompetensi ini melalui mata kuliah “teknik penulisan karya ilmiah”, akan tetapi tidak menutup kemungkinan materi ini perlu diuraikan lagi secara lebih sederhana dan lengkap…untuk itu dalam kesempatan ini saya berniat mengurai ulang kembali teknik penulisan karya ilmiah tersebut.

- KUTIPAN

Kutipan harus sama dengan aslinya, baik mengenai susunan kata-kata, ejaan maupun tanda bacanya.
Kutipan yang panjangnya lima baris atau lebih, di ketik satu spasi dengan cara :


Baris pertama dimulai setelah tujuh ketukan dari margin kiri.
Barisan kedua seterusnya di mulai setelah empat ketukan dari margin kiri.
Contoh : Tentang manajemen kas Maurice D. Levi menyatakan :

The Objective of effective working-capital management in an international environment are both to allocate short term investments and cash balance holdings between currencies and countries to maximize overall corporate returns and to borrow in different money markets to achieve the minimum cost.(Levi, 1990, p.286)

Kutipan yang panjangnya kurang dari lima baris diketik seperti pada pengetikan teks biasa (dua spasi) akan tetapi diberi tanda kutip pada awal dan akhir kutipan.

Contoh : Menurut Bambang Riyanto “Pembelanjaan disatu pihak dapat sebagai masalah penarikan modal, dan dilain pihak dapat dipandang sebagai masalah penggunaan modal”.
Kalau kutipan itu perlu dihilangkan beberapa kata/bagian dari kalimat, maka pada awal kalimat itu diberi titik tiga buah.

Contoh :Teory Refleksivitas menurut 1 George Soros dalam The Alchemy Finance menyatakan bahwa:“… Functions need an independent variable in order to produce a determinate result, but in this case the independent variable of one function is the dependent variable of the other …” (Soros, 1994, p. 42).

Kalau di dalam kutipan yang panjangnya kurang dari lima baris terdapat tanda kutip (dua koma), maka harus diubah menjadi tanda kutip satu koma.

Contoh : “Reorganisasi yang disertai dengan penarikan modal baru biasanya diadakan pada waktu-waktu sesudah ‘revival’ dimana dirasakan kebutuhan adanya modal kerja yang relatif besar”. Kata “revival” ditulis ‘revival’

Tiap akhir kutipan ditulis diantara dua kurung nama pengarang, tahun terbitan dan halaman kutipan..

- FOOTNOTES dan ENDNOTES

Peneliti boleh menggunakan FOOTNOTES dan ENDNOTES ketika menulis kutipan.Cara penomeran FOOTNOTES adalah menulis nomor urut 1, 2, 3, dan seterusnya di akhir kutipan dan di belakang penulis kutipan dengan FONT SUPERCRIPT .

Contoh: 1Danila, Nevi, The Impact of Intervention On Inventory Control Mechanism, (Malang-Indonesia, Jurnal Akuntansi-Bisnis &Manajemen, 2001, p. 117 – 148)

Cara pengetikan endnotes

Dalam endnotes dicantumkan nama akhir pengarang, , tahun dan halaman. Contoh: “ The starting point in effective management is setting goals: objectives that a business hopes (and plans) to achieve.” (Griffin & Ebert, 1998, p. 111)
Sumber-sumber yang dikutip dapat berasal dari :
Buku;
Majalah/jurnal/CD ROM;
Surat kabar;
Ensiklopedi;
Web-site;

Sumber dari Buku

Satu Pengarang

Contoh : 1 Sjahrir, Analisis Bursa Efek, cetakan pertama, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995, halaman 157. (Sjahrir, 1995, hal.157)

2 Guritno Mangkoesoebroto, Kebijakan Ekonomi Publik Di Indonesia : Substansi dan Urgensi, cetakan pertama, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1994, halaman 38 (Guritno, 1994, hal. 38)Buku ini ada anak atau sub judul

Dua Pengarang

Contoh : 1 Husnan, Suad dan Pudjiastuti, Enny, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, edisi pertama, cetakan pertama, UPP-AMP YKPN, Yogyakarta, 1993, halaman 115 (Husnan & Pudjiastuti, 1993, hal. 115)
2………, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, edisi pertama, cetakan pertama, UPP-SMP YKPN, Yogyakarta, 1993, halaman 191 (Husnan & Pudjiastuti, 1993, hal. 191)

Tiga Pengarang

Contoh : 1Rugman, Alan M., Donald J. Lecraw, and Laurence D. Booth, International Business Firm and Environment, 2 and Printing, Mc Graw Hill Book Company, Singapore, 1987, page 323 (Rugman, Lecraw and Booth, 1987, p.323)
2Engel, James f., Roger D. Blackwell dan Paul W. Miniard, (1990), Perilaku Konsumen, Terjemahan : Budijanto, Jilid 1, cetakan Pertama, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995, halaman 127 (Engel, Blackwell and Miniard, 1995, hal. 127)
3 Eiteman, David K., Stonchill, Arthur I., Moffett, Michael H., Multinational Business Finance, ninth edition, Addison-Wesley Publishing Company, Inc, 2001, USA, p. 152 (Eiteman, Stonchill and Moffett, 2001, p. 152)

Pengarang lebih dari tiga

1Spriegel, M., et al, Statistics, Schaum Edition, Prentice Hall, New York, 1970, Page 90.
Artikel atau tulisan dalam buku kumpulan karangan
Untuk kutipan dari artikel atau tulisan yang dimuat dalam buku kumpulan artikel atau tulisan cara penulisannya sebagai berikut :

Contoh : 1Biagiono,Luis F., Joseph A. Lovely, “The Impact of Accounting on Managerial Performance “In Readings in Cost Accounting, Budgeting and Control, Ed, William E. Thomas, Jr, Fifth Edition, South-Western Publishing Co, Cincinnati,978, page 26-27.
2Ida Bagus Mantra dan Kasto, “Penentuan Sampel”, Dalam Metode Penelitian Survei Ed., Mari Singarimbun dan Sofyan Effendi, Edisi Revisi, LP3ES., Jakarta, 1989, halaman 155-171.

Tidak ada pengarang tertentu

Buku diterbitkan oleh sebuah nama Badan, Lembaga, Perkumpulan perusahaan dan sejenisnya, cara penulisan catatan kaki seperti dibawah ini. Contoh : 1Tim Koordinasi Pengembangan Akuntansi, Accountancy Development in Indonesia, Publication No. 9, Yogyakarta, 1992, halaman 305.

2Bank Indonesia, Laporan Mingguan (Weekly Report), No. 1855, 15 Desember 1994, BI Urusan Ekonomi dan Statistik, Jakarta, 1994 halaman 10.

Buku yang diterjemahkan

Dalam buku terjemahan yang dicantumkan tetap nama pengarang asli dan judul buku yang diterjemahkan, dibelakang judul buku ditulis nama penerjemahnya. Contoh : 1Kerlinger, Fred N., (1989), Asas-asas Penelitian Behavioral, Terjemahan : Landang M. Simatupang, edisi ketiga, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1990, halaman 101.

2Wee Chow Hou, Lee Khai Sheang, dan Bambang Walujo Hidayat, (1991), Sun Tzu perang dan Manajemen, Terjemahan : Soesanto Boedidharmo, cetakan Kedua, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 1992, halaman 256.

Sumber dari Majalah atau jurnal

Contoh :
1Gatot Widayanto, “Strategic Cost Management : Tehnik Manajemen Biaya Untuk Transformasi Visi Bisnis Anda”, Manajemen dan Usahawan Indonesia, No. 02 Th XXIV Februari 1995, halaman 10-15.

2Chekulaev, Elena., “The Stolen Life Of Okada Yoshiyo, The Untold Story of How a Courageous Japanese Actress Survived in Stalin’s Russia”, ASIAWEEK February 23, 1994, halaman 50-57.3 Kasali, Rhenald, “ Fenomena Pop Marketing Dalam Konteks Pemasaran di Indonesia, Manajemen Usahawan Indonesia, No. 09/TH. XXXII September 2003, halaman 3

Sumber dari surat kabar

Contoh : 1Harian Republika, Senin, 1 Maret 2004, halaman 6.2Bisnis Indonesia, Selasa, 2 Maret 2004, halaman 5.
Sumber dari Ensiklopedi

1) Nama Pengarang diketahui Contoh :

1Magdalena Lumbantoruan dan B. Suwartoyo, Ensiklopedi Ekonomi, Bisnis dan M
manajemen, jilid 1, cetakan pertama, PT. Cipta Adi Pustaka, Jakarta, 1992, halaman 317.

Sumber dari Web-site:
Kutipan yang diperoleh dari web-site cara penulisan sumber dapat ditulis sebagai berikut:

(a) Tingkat inflasi Indonesia tahun 2003
http://www.bi.gi.id/bank_indonesia2/moneter/inflasi/ diakses pada hari: Jum’at, 5 Maret 2004.
(b) Rating Indonesia dari Standard & Poorhttp://www.standardpoor.com/ratings diakses 8 Setember 2004
.(c) Doyne Farmer and Andrew W. LO. 1999, Fronters of Finance: Evolution and Efficient Markets, April 11, 1999 (online) diakses 30 Agustus 2004(http://www.e-m-h.org/FaLo99b.pdf )
(d) Ragnar Nurkse, “Memahami Kemiskinan” online (http://www.kimpraswil.go.id/publik/P2KP/Des/memahami99.html) diakses, 25 Agustus 2004
(e) The NAIRU: Non-accelerating Inflation Rate of Unemployment, Juli 19, 2002, Semi-Daily Journal , Brad Delong’s, diakses 7 Setember 2004(http://econ161.bekerley.edu/movable_type/archives/000382.html)

- DAFTAR PUSTAKA

Isi

Daftar pustaka berisi sumber-sumber yang dipergunakan untuk penulisan Skripsi .
Susunan Daftar pustaka di susun menurut abjad nama pengarang, yang dapat ditulis nama orang, lembaga, badan dan lainnya.

Bentuk Bentuk susunan dalam daftar pustaka dapat disusun seperti berikut : 1) Nama pengarang asing dimulai dengan nama akhirnya, sedang pengarang lokal ditulis tetap. 2) Nomor halaman tidak perlu dicantumkan. 3) Nama pengarang mulai diketik pada margin kiri, sedangkan baris kedua dan selanjutnya diketik empat ketukan dari margin kiri dengan jarak pengetikan satu spasi. Antara sumber yang satu dengan sumber berikutnya berjarak dua spasi. Contoh : Daftar Pustaka

Azumi, K and J. Hage, Organization Systems, A Text Reader Inc Sociology Of Organization, D. C. Heath dan Company, London, 1980.Burns, T dan Stalker, G. M., The Management Of Innovation, Tavistock, London, 1984.

Clothier, Peter J., (1991), Meraup Uang Dengan Multi-Level Marketing : Pedoman Praktis Menuju Network Selling Yang Sukses, Terjemahan : T. Hermaya, Cetakan Ketiga, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992.Etziomi, Amitai, (1991), Dimensi Moral Menuju Ilmu Ekonomi Baru, Terjemahan : Tjun Surjaman, Cetakan Pertama, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1992.

Farmer, J. Doyne and Lo, Andrew W. 1999, Frontiers of Finance: Evolution and Efficient Markets, online diakses 9 September 2004 (http://www.e-m-h.org/FaLo99b.pdf) Hadipranoto, Arsip, F., Kohesifitas Kelompok Sebagai Indikator Dasar Kekuatan Koperasi, Badan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1988.Kerlinger, Fred N, (1989), Asas-asas Penelitian Behavioral, Terjemahan : Landung M. Simatupang, edisi ketiga, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1990.

Littauer, Florence, (1994), Personality Plus, Terjemahan : Anton Adiwiyoto, Binarupa Aksara, Jakarta, 1995.

Maulana, A., Sistem Pengendalian Managemen, Cetakan Pertama, Bina Aksara, Jakarta, 1989.

Naisbitt, John, (1991), Global Paradox, Terjemahan : Budijanto, cetakan Pertama, Binarupa Aksara, Jakarta, 1994.Ohmae, Kenchi, (1991), Dunia Tanpa Batas, Terjemahan : FX. Budiyanto, cetakan pertama, Binarupa Aksara, Jakarta, 1991. Santoso ,Singgih; Tjiptono, Fandy (2002) Riset Pemasaran: Konsep dan Aplikasi dengan SPSS, cetakan kedua, PT Gramedia, Jakarta
Sugiyono (2003), Metode Penelitian Bisnis, cetakan kelima, CV Alfabeta, BandungWee Chow Hou, Lee Khai Sheang, Bambang Walujo Hidayat, (1991) Sun Tzu Perang dan Manajemen, Diterjemahkan : Soesanto Boedidharmo, cetakan Kedua, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 1992.

Daftar pustaka

Daftar pustaka hanya memuat pustaka yang benar-benar diacu dalam skripsi dan disusun sebagai berikut :

1. Ke bawah menurut abjad nama utama atau nama keluarga penulis pertama.

2. Ke kanan :
a. Buku : penulis, tahun. Judul buku, jilid, terbitan ke, halaman, nama penerbit dan kota.
b. Majalah : penulis, tahun, judul tulisan, nama majalah (dengan singkatan resminya), julid dan halaman.

DAFTAR PUSTAKA DAN DAFTAR ACUAN

Daftar acuan berisi informasi yang diacu dari sumber lain yang dimanfaatkan dalam penelitian, dan dikutip baik esensinya maupun statement lengkapnya dalam teks penulisan tesis/disertasi atau laporan penelitian. Penulis dari sumber informasi yang diacu ini harus tercatat dalam Daftar Acuan pada halaman terakhir dari penulisannya. Nah… daftar acuan ini hanya terdapat dalam laporan penelitian, skripsi, tesis maupun disertasi.

Sedangkan Daftar Pustaka adalah daftar bacaan yang disarankan untuk dibaca dan tidak diacu dalam tulisan, baik dalam tesis/disertasi/laporan, tetapi sekedar untuk memperluas wawasan bagi mereka yang ingin mengetahuinya lebih lanjut. Daftar Pustaka tidak disarankan dalam penulisan laporan penelitian, skripsi, tesis dan disertasi. Maksudnya tentu agar penelitian, skripsi, tesis dan disertasi memanfaatkan sumber informasi yang telah ada atau penelitian yang telah dilakukan orang lain untuk dikembangkan sebagai inspirasi penelitian baru atau membangun suatu informasi baru.

Nah, sekarang yang ingin saya soroti dalam tulisan ini adalah cara menulis daftar pustaka, dan saya harap tulisan ini dapat membantu pembaca (yah..semoga saja,soalnya blog saya blm terlalu terkenal).
Saya sering bingung jika menulis daftar pustaka yang sumbernya macem2. K’lo buku mendinglah. Tapi klo itu surat kabar, web, ato bahkan kaset rekaman…Gimana coba???

Tanggal 13 ato 14 yang lalu (klo ga salah), saya jalan2 ke perpus pusat ITB. Biasa, ngisi waktu luang daripada liburan maen game terus di rumah. Saya baca2 buku favorit:tentang sejarah2 gitu pokonya, terus lewat di depan rak bagian literatur,writing, dan sebagainya. Akhirnya terlihatlah buku “College Writing Skills with Readings“, 5th Ed.Karya John Langan (sampulnya kaya di atas). Dari penerbitnya, McGraw-Hill, udah keliatan k’lo bukunya pasti bagus. Dan emang bagus ternyata!(FYI: buku ini jumlahnya terbatas–ya iyalah–tapi baru semua, letaknya di perpus pusat ITB lt.4)

Di sana dijelasin banyak banget tentang aturan2 menulis, termasuk ini. Ok, langsung aja ya saya jelasin satu-satu:


1. Buku dengan satu pengarang:

Goodwin, Doris Kearns. No Ordinary Time. New York: Simon and Scuster, 1994.

ingat, nama akhir penulis ditulis duluan

2. Jika penulis tersebut mengarang buku lain

—.Wait Till Next Year. New York: Simon and Schuster, 1994.

nah, klo kaya gini kita ga usah nulis nama penulisnya lagi (Doris Kearns Goodwin itu) cukup kasih strip 3x

3. Jika penulis buku lebih dari satu orang

Simon, David, and Edward Burns. The Corner. New York: Broadway Books, 1997.

semua nama pengarang ditulis, tapi yang dibalik cuma nama pengarang pertama aja

4. Artikel majalah

Cowley, Geoffrey. “New Hope for Alzheimer’s.” Newsweek 31 Jan. 2000: 46-51.

angka-angka terakhir di paling belakang itu menunjukkan halaman si artikel berada pada majalah Newsweek

5. Artikel surat kabar

Farrel, Greg. “Online Time Soars at Office.” USA Today 18 Feb. 2000: A1-2.

A1-2 menandakan halaman 1 dan 2 dari bagian A di koran USA Today

6. Editorial

“Confronting an Unfair Census.” Editorial. New York Times 30 Nov. 1998: A24.

jangan lupa menambahkan tulisan “Editorial” setelah judul artikel, seperti di atas

7. Selection in an Edited Collection

McClane, Kenneth A. “A Death in the Family.” Bearing Witness. Ed. Henry Louise Gates, Jr. New York: Pantheon, 1991. 96-102.

oia, klo kita nulis daftar pustaka/ works cited yang cukup panjang seperti di atas, bisa dibuat dua baris tapi baris keduanya lebih menjorok ke dalam

8. Revisi atau edisi selanjutnya

Myers, David G. Social Psychology. 6th ed. New York: McGraw-Hill, 1999.

singkatan Rev.ed., 2nd ed., 3rd ed., dll. ditempatkan tepat di sebelah kanan judul

9. Chapter atau Section dalam sebuah buku oleh seorang pengarang

Schor, Juliet B. “The Visible Lifestyle: American Symbols of Status.” The Overspent American. New York: Basic Books, 1998. 43-64.

buat model2 kaya gini (yang artikelnya bagian dari buku/majalah/koran), yang diberi garis bawah adalah buku/majalah/korannya

10. Pamflet

1998 Heart and Stroke Facts. New York: American Heart Association, 1998.

Berani Mengenalkan Sunda Kita. Bandung: Lingkung Seni Sunda ITB, 2008.

11. Film

American History X. Dir. Tony Kaye. New Line Cinema, 1998.

12. Program televisi

“Smoke Screen.” 60 Minutes. Narr. Lesley Stahl. Prod. Rome Hartman. CBS. 11 Nov. 1998.

13. Sound recording

Diamond, Neil. “Yesterday’s Song.” In My Lifetime. Sony Music, 1996.

14. Videocassette

“Cedric’s Journey.” Nightline. Narr. Ted Koppel. ABC. WABC, New York. 24 June 1998. Videocassette. ABC/FDCH, 1998.

15. Wawancara perseorangan

McClintock, Ann. Personal interview. 20 July 1999.

Popong, Ceu. Wawancara pribadi. 2 April 2008.

16. Sumber online dengan referensi dari database tertentu

“Organ Transplants.” Britannica Online. Vers. 98.10.1. Nov. 1998. Encylopaedia Britannica. 1 Dec. 2003 .

tanggal pertama menunjukkan kapan artikel di publish/post/edit secara elektronik, sedangkan tanggal kedua menunjukkan kapan artikel tersebut di akses oleh kita

17. Artikel online

Woodward, Kenneth L. “Sex, Sin, and Salvation.” Newsweek Online 2 Nov. 1998. 6 Nov. 1998 .

biasanya klo saya ngambil artikel dari internet langsung di copas aja tuh www….bla..bla-nya, ga dikasih tambahan keterangan kaya di atas

Yup, kurang lebih itulah model2 yang bisa digunakan dalam menulis daftar pustaka. Lumayan kan buat bahan persiapan bikin TA, tugas besar, dan lain sebagainya.


Tapi masih ada nih yang mengganjel, klo di BI kan diajarin nulis dafpus itu:

Ghani, Hamid. 2008. Cara Bermain Bola. Bandung: Pelita Press.

nah, beda kan dari tata letak tahun dan style judul nya??Harus ditanyain ke yg lebih ahli nih…

SUMBER:
1. http://semangatyanghidup.blogspot.com/
2. http://blog.rosihanari.net/
3. http://mariaulfah15.multiply.com/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

CONTOH OUTLINE PENELITIAN : LAPORAN AKHIR / SKRIPSI / THESIS

OUTLINE : LAPORAN AKHIR / SKRIPSI / THESIS
Program: alih jenjang, diploma4, diploma3, S1

A HALAMAN JUDUL
B LEMBAR PENGESAHAN
C RINGKASAN
D BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Tujuan Penelitian
1.3. Perumusan Masalah / Hipotesis

E BAB II. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Waktu dan Tempat Penelitian
2.2. Bahan dan Peralatan
2.3. Metodologi penelitian
2.4. Prosedur kerja
2.5. Pengamatan
F LAMPIRAN

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENELITIAN/KAJIAN/SKRIPSI/ GIZI DAN ILMU PANGAN / TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN/ HASIL PERTANIAN/PENGAWASAN : PENGUJIAN PENGENDALIAN ANALISIS MUTU

PURIFIKASI DAN KARAKTERISTIK PROTEASE DARI PATOGEN Pseudomonas aeruginosa

[Purification and Charaterization of Protease from Pathogenic Bacteria Pseudomonas aeruginosa]

Ace Baekhari 1), Maggy T. Suhartono 2), Nurheni Sri Palupi 2) dan Tati Nurhayati 3)

1) Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya
2) Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor
3) Departemen Teknologi Hasil Perairan, Institut Pertanian Bogor

Diterima 28 Juli 2007 / Disetujui 30 Juni 2008

In the last decade, concern on protease as medical target for overcoming bacterial diseases and viral diseases has been rapidly increased because of the obvious involvement of this enzyme in the molecular of the diseases. The purpose of this research was to purify and characterize protease from pathogenic bacteria Pseudomonas aeruginosa. The bacteria were grown in media containing triptone 1%, NaCl 1% and Yeast extract 0.5%. protease of Pseudomonas aeruginosa was purified using column chromatography with Sephadex G-100 gel. There were three peaks of enzyme protein, which were detected on fractions 14,17 and 30. the optimum pH of the extracelluler protease from Pseudomonas aeruginosa was 8. The optimum temperature of Pseudomonas aeruginosa was 300C. Fe3+ (1dan 5 mM) was strong activator and Co 2+ was strong inhibitor. Study on the effect of metals ion and specific inhibitors indicated that protease from Pseudomonas aeruginosa was serin metaloprotease. The apparent moleculer weights, as determined by SDS-PAGE and zymogram technique, 36 kD and 42 kD.

Key word : Protease, characterization, purification, pathogenic bacteria P. aeruginosa

=====================================================================

PROSES RECOVERY BAHAN FLAVOR PADA LIMBAH CAIR PENGOLAHAN RANJUNGAN DENGAN TEKNOLOGI REVERSE OSMOSIS

[Recovery of Flavor Components from Blue Crab Processing Wastewater By Reverse Osmosis Technology]

Uju, B Ibrahim, W. Trilaksani, T. Nurhayati dan B. Riyanto

Departemen Teknologi Hasil Perairan FPIK-IPB

Diterima 26 Juli 2007 / Disetujui 30 Juni 2008

The waste water of blue crab pasteurization is potential to cause environmental pollution. It contained TSS 206.5 mg/L, BOD 7,092.6 mg/L and COD 51,000 mg/L. However the was the water also contains an interesting flavor compounds, which composed of 0.23% non protein nitrogen and 17 amino acids with the highest being glutamic acid. In this work, pre-filtration steps using filter of 0.3 µ size followed by reverse osmosis has been used to reduce these pollutions load and recover the flavor compound. During pre-filtration steps, TSS was reduced to 74.8% so the turbidity increased up to 31%. After reverse osmosis process, BOD, and COD were decreased more than 99%, and there was no amino acids detected in the permeate stream. Factors that affect performance of reverse osmosis were transmembrane pressure, temperature and pH. Higher transmembrane pressure, temperature and pH resulted in the higher permeate flux.

Key word : blue crab, flavor, reserve osmosis

=====================================================================

PROSES RECOVERY BAHAN FLAVOR PADA LIMBAH CAIR PENGOLAHAN RANJUNGAN DENGAN TEKNOLOGI REVERSE OSMOSIS

[Recovery of Flavor Components from Blue Crab Processing Wastewater By Reverse Osmosis Technology]

Uju, B Ibrahim, W. Trilaksani, T. Nurhayati dan B. Riyanto

Departemen Teknologi Hasil Perairan FPIK-IPB

Diterima 26 Juli 2007 / Disetujui 30 Juni 2008

The waste water of blue crab pasteurization is potential to cause environmental pollution. It contained TSS 206.5 mg/L, BOD 7,092.6 mg/L and COD 51,000 mg/L. However the was the water also contains an interesting flavor compounds, which composed of 0.23% non protein nitrogen and 17 amino acids with the highest being glutamic acid. In this work, pre-filtration steps using filter of 0.3 µ size followed by reverse osmosis has been used to reduce these pollutions load and recover the flavor compound. During pre-filtration steps, TSS was reduced to 74.8% so the turbidity increased up to 31%. After reverse osmosis process, BOD, and COD were decreased more than 99%, and there was no amino acids detected in the permeate stream. Factors that affect performance of reverse osmosis were transmembrane pressure, temperature and pH. Higher transmembrane pressure, temperature and pH resulted in the higher permeate flux.

Key word : blue crab, flavor, reserve osmosis

=====================================================================

PERUBAHAN KARAKTERISTIK SURIMI IKAN CUCUT DAN IKAN PARI AKIBAT PENGARUH PENGKOMPOSISIAN DAN PENYIMPANAN DINGIN DAGING LUMAT

[Charateristic Changes of Shark and Stingray Surimi as Affected By Compositioning and Chill Storage of the Mince Fish]

Joko Santoso 1), Ade Wiguna Nur Yasin 2, dan Santoso 3

1) Depertemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor
2) Divisi Aplikasi dan Pengembangan Pengolahan Pangan, PT. Central Pertiwi Bahari (CPB), Tulang Bawang Lampung
3) Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Muara Baru Ujung, Jakarta

Diterima 28 Juli 2007 / Disetujui 23 Juni 2008

This experiment was carried out to study the effects of leaching, compositioning, and chill storage of mince fish on the characteristic changes of surimi from shark and stingray as much as 88% and 100%, respectively; with the salt soluble protein contents were 13.52% and 13.24%, repectively. Mixture of mince shark and stingray in proportion of 25% : 75% (A1B A2) gave the highest value of gel strength being 209.29 g.cm in comparison with others composition. During chill storage , deterioration process still occurred as indicated by increasing value of acidity and content of base volatile compounds i.e. total volatile base nitrogen (TVBN) and tri-methyl amine (TMA); and also decreasing contents of urea and salt soluble protein. Deterioration process of mince fish also affected the physical characteristic of surimi i.e decreasing values of gel strength, water holding capacity (WHC), and colour (whiteness).

Key word : chill storage, compositioning, mince-fish, shark, stingray, surimi

=====================================================================

PERAN MISEL SURFAKTAN TERHADAP PARTISI ANTIOKSIDAN DAN STABILITAS OKSIDATIF EMULSI MINYAK DALAM AIR

[The Role of Surfactant Micelles on the Partitioning of Antioxidant and the Oxidative Stability of Oil-in-Water Emulsion]

Posman Sibuea1), Sri Raharjo2), Umar Santoso2), dan Zuheid Noor2)

1) Dosen di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika Santo Thomas Medan.
2) Dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian-UGM-Yogyakarta

Diterima 30 Januari 2008 / Disetujui 16 Juni 2008

Lipid oxidation system in which the fat is dispersed as emulsion droplets is still not well understood, although a large number of food exist partially or entirely in the form of emulsions. Therefore, this study was intended to examine how surfactant micelles influence the partitioning of antioxidant and hydroperoxides and how it alter the oxidative stability of oil-in-water emulsion. To determine the ability of surfactant micelles upon the partitioning of antioxidant in oil-in-water emulsion, this type of emulsion, containing quercetin at 0, 25, 50, 75 and 100 ppm, were prepared with polyoxyethylene 100 stearyl ether (Brij 700) or polyoxyethylene sorbitan monolaurate (Tween 20) with acetate or phosphate buffer (pH 3.0 or 7.0). Structurally Birj 700 has 5 times longer polyoxyethylene groups than Tween 20. After preparation of the emulsion, surfactant micelles (0-2%) were incorporated into the continuous phase to give a final lipid concentration of 5%. Lipid oxidation rates, as determined by the formation of lipid hydroperoxides, decreased with increasing quercetin concentrations. At pH 3, the peroxide value was higher than that at pH 7. Brij 70 decreased production of lipid hydroperoxides from palm oil-in-water-emulsions compared to the emulsions stabilized by Tween 20. the result showed that solubilization of quercetin into the aqueous into the aqueous phase by Brij or Tween micelles did not alter the oxidative stability of palm oil-in-water emulsion, suggesting that surfactant micelle influenced the oxidation rate by mechanism other than antioxidant solubilization.

Key word : Quercetin, surfactant micelles, and oxidative stability

=====================================================================

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN, KELEMBABAN RELATIF (RH) DAN SUHU TERHADAP KESTABILAN GARAM BERIODIUM

[Effects of Length of Storage, Relative Humidity (RH) and Temperature On the Stability of lodized Salt]

Wisnu Cahyadi

Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik, Universitas Pasundan Jl. Dr. Setiabudhi No. 193 Bandung 40153

Diterima 12 Desember 2007 / Disetujui 16 Juni 2008

Iodine deficiency disorders (IID) is still a major public health problem in several areas of the world. Especially in developing countries. The problem of iodine decrease or loss in iodized salt and food-stuff during processing is still the a controversial issue, among public, functionary, even the scientist. The stability of iodine is influenced by the food type, water content and cooking temperature. The objective of this research was to determine the effects of length of storage, relative humidity (RH) and temperature on the stability of iodized salt. Analysis of iodium was performed using Ion Pair High Perfomance Liquid Chromatography (HPCL). The rate of iodine decrease was influenced by salt origin, temperature, packaging material and RH during storage. The result of research showed that the percentage of iodate decrease in iodized salt packaged by high density polyethylene (HDPE) were 66.86% and 50.85% during storage for 14 days at temperature of 400C, RH 60% and 100%. Other result showed that the percentage of iodate decrease in iodized salt was 46.51% during storage for 28 days at temperature of 25.50C and RH 60-65%.

Key words : Iodine Deficiency Disorders, stability of iodized salt, ion pair-HPLC

=====================================================================

KAJIAN FORMULASI BUMBU INSTAN BINTHE BILUHUTA, KARAKTERISTIK HIDRATASI DAN PENDUGAAN UMUR SIMPANNYA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENDEKATAN KADAR AIR KRITIS

[Study of Biluhuta Seasoning Formulation, Hydratation of Characteristic and Prediction of the Shelf Life Using Moisture Critical Method]

Dorkas Sianipar1), Sugiono2), dan Rizal Syarief2)

1) Mahasiswa Program Studi Ilmu Pangan, FATETA-IPB Darmaga, PO Box 220 16002
2) Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, FATETA-IPB Darmaga, PO Box 220 16002

Diterima 9 Juli 2007 / Disetujui 22 Mei 2008

Binthe biluhuta is a native food of Gorontalo, made from mixture of corn, onion, leek, basil, desiccated coconut, chili and fish. The objective of this research was to find the best formulation for binthe biluhuta seasoning and prediction of it’s shelf life. Moisture sorption isotherm derived from the correlation of moisture content data indicated a typical sigmoidal curve implying 3 regions of water adsorption. The water sorption region accounted for three fraction of bound water analyzed using three different mathematical models. The first water fraction ranged 0-3. 148 (%db) and the third fraction ranged 13.438-52970 (%db). The binthe biluhuta seasoning packaged in alumina and stored at 80 and 90% RH, demonstrated the longest shelf life which were equal to 748 and 423 days, respectively.

Key word : Binthe biluhuta seasoning, water sorption isothermic, shelf life

=====================================================================

PENGARUH FRAKSI KARBOHIDRAT KACANG KOMAK (Lablab purpureus (L.) sweet) TERHADAP KOLESTEROL DAN MALONALDEHID SERUM TIKUS PERCOBAAN YANG DIBERI RANSUM TINGGI KOLESTEROL

The Effect of Carbohydrate Fractionof Hyacinth Bean (Lablab purpureus (L). sweet) on the Blood Serum Cholesterol and Malonaldehyde of Rats Fed with High Cholesterol Diet]

Arif Hartoyo1), Dahrulsyah1), Nurheni Sripalupi, dan Purwono Nugroho2)

1) Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB
2) Program Sarjana. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB

Diterima 12 Desember 2007 / Disetujui 10 Juni 2008

The objective of this study was to analyze the effect of carbohydrate fraction of hyacinth bean (Lablab purpureus (L.) sweet ) diet on lipid profile and peroxydation value of the blood serum and liver of rats. Fifteen male wistar strain rats were divided into three diet groups of live animals. The first group was positive control group with standard diet. The third group was given carbohydrate fraction of hyacinth bean and 1% pure cholesterol. The experiment was conducted for 75 days. The total cholesterol levels in positive, negative control, and that in the hyacinth treated group were 204.0, 74,8, and 99.8 mg/dl. The LDL levels in the control, negative control group, the hyacinth treated group were 153.0, 20.6 and 45.9 mg/dl. Triglyceride levels in the positive control, negative control, and the hyacinth treated group were 121.4, 137.7, and 114.8 mg/dl. The atherogenic index in the positive control, negative control, and the hyacinth treated group were 6.9, 1.9 and 2.5 point. The total cholesterol and LDL levels in positive control, negative control, and the hyacinth treated group underwent hypercholesterolemia effect. Malonaldehyde content of the blood serum in positive control, negative control, and the treated group were 0.54, 0.48, and 0.31 µmol/ml. Malonaldehyde content of liver organ in positive control group, negative control group, and the hyacinth treated group were 66.9, 36.4 and 73.4 nmol/g. Malonaldehyde content of blood serum in hyacinth treated group was significantly lower than that in the positive and negative control group. These result showed that the hyacinth group decreased free radical in the blood serum. On the other hand, the malonaldehyde content of the liver in all treatment showed no significant differences.

Keywords : Carbohydrate fraction, Hyacinth bean, Lipid profile, Peroxydation.

=====================================================================

DETEKSI MYCOBACTERIUM AVIUM SUBSPECIES PARATUBERCULOSIS PADA SUSU FORMULA LANJUTAN DI BOGOR

[Detection of Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis Formula Milk in Bogor]

Widagdo Sri Nugroho1,2) Minarwati Sudarwanto3), Denny Widaya Lukman3), dan Ewald Usleber4)

1) Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Indonesia
2) Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Indonesia
3) Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Indonesia
4) Professur fur Milchwissenschaften Institut fur Tierarzliches Nahrungsmittelkunde der Justus-Liebig Universitat, Giessen, Germany.

Diterima 2 Januari 2008 / Disetujui 21 Mei 2008

Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis (MAP) becomes a public health concern in developed countries which is usually associated to Crohn’s disease (CD) in human. The disease shows similarities in clinical signs and pathology characteristic with John’s disease (JD) in ruminants which is infected by MAP. Researchers in Europe, USA, and Australia detected MAP in their dairy products and showed the relationship among MAP, CD, and JD. Meanwhile Indonesia imported milk and milk products from those countries to cover the national demand. This situation keeps MAP as potential-problem in national dairy herd and human health in the future. The aim of this study was to detect MAP in the formula milk for toddler. Fifty samples from five established milk producers were taken on August 2006 at the supermarket in Bogor. Two separate diagnostic methods were used parallel in this study i.e polymerase chain reaction method (PCR) with insertion sequence F 57 as the primer and the Mycobacterial Growth Indicator Tube (MGIT). Neither MAP grew in MGIT after 20 weeks of incubation period but 5 samples were found positive by nested PCR. Although there was no evidence weather MAP grew from the samples, as well as in human to provide data on MAP in Indonesia.

Key words: Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis, growing up milk formula, PCR F57

=====================================================================

STUDI KEAMANAN DAN DAYA SIMPAN CABE MERAH GILING

[Study o Safety and Shelflife of Red Chili Paste]

Rosaria1) dan Winiati P. Rahayu2)

1) Alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta-IPB. Bogor 2) Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta-IPB. Bogor

Diterima 27 Juli 2007 / Disetujui 22 Mei 2008

Red chili is an important food ingredient which may not be always self, when obtained from the market. The aims of the study was to evaluate the safety and shelf life of red chili paste. Based on survey conducted with 20 vendors in Bogor, we found red chili paste in generally composed of red chili, water, and NaCl. About 75% of the vendors claimed that their red chili paste not sold in the first market day is stored in a plastic container at room temperature and resold for the next day. They claimed that their red chili paste can be stored for 2-8 days. The red chili paste showed moisture content of 71.6-86.8% (w/wb), pH 4.7-6.9% (w/w). About 33.3% of them positively contained excessive amount of sodium benzoate and 36% of them contained Rhodamin B which is prohibited as food coloring. From the microbiological side, the red chili paste contained 9.5 x 10 3 – 3.8 x 105cfu/g mould and yeast; 1.2 x 103 – 5.6 x 104 cfu/f spore forming bacteria; 5.2 x 102- 1.2 x 104 cfu/g S. aureus;

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK SIRIH HIJAU ( Piper betle L ) TERHADAP BAKTERI PATOGEN PANGAN

[Antibacterial Activity of Green Sirih (Piper betle L) Extract towards Food Pathogens]

Suliantri1), B. S.L. Jenie2), M.T. Suhartono2) dan A. Apryiantono2)

1) Mahasiswa Pasca Sarjana, IPB – Bogor 2) Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta – IPB. Bogor

Diterima 7 Februari 2007 / Disetujui 13 Juni 2008

Green sirih (Piper betle L) extract were prepared using water, athanol and ethyl acetate extractionof the dried material. The extracts were tested for their antibacterial activities against Escherichia coli, Salmonella Typhimurium, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus, Bacillius cereus and Listeria monocytogenes. At concentrations10-50% the extracts effectively inhibited the growth of all tested bacteria as shown by the clear zones which varied from 7 to 24 mm, while the minimum inhibitory concentration (MIC) varied from 0.1 to 1 %. E. coli, S. Typhimumirum and S. aureus were more resistance to the green sirih extracts than other tested bacteria. The result showed that in general, ethanol extraction produced the best extract with strong antibacterial activities against E. coli and S. aureus. Analysis of the extract components with GC-MS revealed that sirih extract contained phenol, chavicol, eugenol, caryophylene, cylene, chalarene and others.

Key words: Green Sirih (Piper betle L), bioactive compound, antibacterial.

=====================================================================

PELAPIS PANGAN ALAMI ASAL LAK : KONDISI SAAT INI DAN POTENSI PENGEMBANGAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Natural Food Coating from Lac : Present Conditions and Development Prospect in East Nusa Tenggara Province

Semuel Pakan

Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana, Kupang.
Jln. Adisucipto, Penfui – Kupang (85001)

Diterima 14 Juli 2007/ Disetujui 15 Februari 2008

Lac is secreted by Laccifer lacca kern that has been widely used as food coating materials. To get the best food coatings from lac, the sticklac which processed need to be converted to seedlac and further become shellac. It is one of the potential commodities in East Nusa Tenggara Timur Province. However, more work has to be done for improving its productivity as well as its quality.

Key words : lac, Laccifer lacca kern, food coating.

=====================================================================

FUCOXANTHIN SEBAGAI ANTIOBESITAS

Fuconxanthin as Antiobesity

Agustina D. R. Nurcahyanti dan Kris H. Timotius

Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711

Diterima 17 September 2007/ Disetujui 11 Februari 2008

Fucoxanthin is a member of pigment of xantophlly-carotenoid and a major pigment found in some brown algae. Studies about this pigment revealed the advantages of fucoxanthin as active biological component. One of them is a antiobesity activity. The mechanism of this activity was discribed as increasing UCP1 protein expression in white adipose tissue. increasing UCP1 protein expression associated with thermogenesis process which lead the releasing energy carries fatty acids to out of membrane and converted as converted as het. In addition, fucoxanthin can lead liver to produse DHA although the mechanism was not understood clearly. Antiobesity activity of fucoxanthin direct to create the new nTURl aupplement which low in side effects.

Key word : antiobesity, fucoxanthin, Uncoupling Protein (UCP)

=====================================================================

MEKANISME ANTIBAKTERI METABOLIT Lb. plantarum kik dan MONOASILGLISEROL MINYAK KELAPA TERHADAP BAKTERI PATOGAN PANGAN

Mechanism at Antibacterial Activity of Lb. plantarum kik Metabolites and Monoacylglycerol Coconut Oil upon Pathogenic Bacteria

Asriani1), Betty Sri Laksmi2), Sedernawati2), dan Idwan Sudirman3)

1) Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Kmpus Kaktus Tondo, Palu
2) Staf Pengajar Jurusan TPG, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor
3) Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor

Diterima 23 Juni2007/ Disetujui 18 November 2007

Antibacterial mechanism of mixture between metabolites Lb.plantarum klik and monoacylglycerol coconut oil was found through analysis of the MIC levels. The level of 1 and 2 MIC can increase the leakages of the gram positif bacterial sell (L.monocytogenes and B.cereus) and that of the gram negative bacteria (S.typhimurium). The leackages of cell was measured by spectrofotometer and represented increasing of the absorbance of the protein nucleic acid . The absorbance of metal ion was evaluated using a AASS (measured by Atomic Absorption Spectrophotometer) and it indicated that the absorbance increased of 40.2% and 22.1% for Ca 2+ and K+ respectively. Observation of cell damage on L. monoctogenes and S. tyhimurium using SEM (scanning Electron Microscopy) resulted in morphological damage on both MIC 1 and 2 in which MIC 2 was severly damage.

Key word : antibacterial mechanism, monoacylglycerol coconut oil, minimum inhibitory concentration

=====================================================================

ANTIOXIDANT ACTIVITY OF GINGER (Zingiber officinale) OLEORESIN ON THE PROFILE OF SUPEROXIDE DISMUTASE (SOD) IN THE KIDNEY OF RATS UNDER STRESS CONDITION

-

Tutik Wresdiyati1), Made Astawan2), Deddy Muchtadi2), and Yana Nurdiana2)

1) Department of Anatomy, and Pharmacology, Faculty of Vaterinary Medicine – IPB
1) Department of Food Science and Technology, Faculty of Agricultural Technology – IPB
Bogor Agricultural University, Jalan Agatis – IPB Darmaga Bogor 16680, INDONESIA.

Diterima 11 Juli 2007/ Disetujui 18 Februari 2008

Stress condition has beeb reported to decrease intracellular antioxidant-superoxide dismutase(SOD) in the liver and kidneyof rats. This study was conducted to evaluate the antioxidant activies of ginger oleoresin on the profile of superoxide dismutase(SOD) in the kidney of rats under stress condition. The stress condition was achieved by five days of fasting together with swimming for 5 min/day. Ginger oleoresin was orally administrated in a dose of 60 mg/KgBW/day for seven days. Drinking water was provided ad libitum to all groups. The treatment of ginger oleoresin significantly decreased malondialdehyde (MDA) levels and increased SOD activity, as well as immunohistochemicall, increased the content of copper, zinc-SOD (Cu, Zn-SOD) in the kidney tissues compared to that of untreated group. The antioxidant content in ginger oleoresin such as shogaol, zingeron, and gingerol, etc. were shownto have activities in the kidney tissues of rats under stress condition that is increasunf the profile of SOD. Ginger oleoresin treatment in combination both before and after stress gave the best result.

Key words : antioxidant, ginger oleoresin, kidney, stress, superoxide dismutase (SOD)

=====================================================================

PENGARUH UKURAN PARTIKEL, KADAR PADATAN, NaCl dan Na2CO3 TERHADAP SIFAT AMILOGRAFI TEPUNG DAN PATI JAGUNG

The Effect of Particle Size, Solid Content, NaCl and Na2CO3 on The Amilographic Characteristics of Corn Flour and Corn Starch

Tjahja Muhandri

Staf Pengajar FATETA-IPB Bogor

Diterima 23 Agustus 2007/ Disetujui 11 November 2007

The ojective of this research was to investigate the effect of corn flour particle sizes (60, 80 and 100 mesh), solid content (40, 45, 50 and 55 gr sample), NaCl (1, 2, 3, and 4% w/w) and Na2CO3 (0.1, 0.3, 0.6, 0.9 and 1.2%, w/w) on the amilography properties of the corn flour and corn starch revealed. Which were characterised by using Brabender Amilograph. The study that initial temperature of gelatization, maximum temperature of gelatinization and maximum viscosity increased with the increased of particle sizess. In most cases, each increment of 1 gram solid content could increase maximum viscosity about 57 BU and 49 BU for corn flour and corn starch, respectivevely . More over, addition of Na2CO3 and NaCl upon corn flour could increase the initial temperature of geletinization, maximum temperature of geletinization, maximum viscosity and cold viscosity. In the case of corn starch, addition of Na2CO3 had no significant effect on initial temperature of gelatinization. Whereas this treatment could decrease the maximum temperature of gelatinization and increase maximum viscosity at low concentrations ( 2CO3 at least 0.1% (w/w). Furthermore, the addition of NaCl had no significant effect on amylography properties of corn starch at the experimental a mount added.

Key word : Amylography properties, corn starch, corn flour

=====================================================================

PENGARUH PENUTUPAN DENGAN KAIN HITAM DAN KONSENTRASI ETANOL
TERHADAP KANDUNGAN KURKUMINOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK SIMPLISIA TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza)

The Effect of the Covering with Black Cloth and Ethanol Concentration on the Curcuminoid Contents
and Antioksidant Activity of Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) Chip Extracts

Sri Anggrahini 1), Raden Rara Safitriani 2) dan Umar Santosa 1)

1) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
1) Dinas Pertanian dan Kelautan, Kulonprogo, Yogyakarta

Diterima 24 Juli 2007/ Disetujui 29 Agustus 2007

The aim of this research was to find out the curcuminoid content and antioxidant activity of temulawak (Curcuma xanthorriza) chip extracts under specific treatment. This research was started with preparation of temulawak chips. Which were made from 2 treatment of sun drying, those which were convered with black cloth and those without cover. The quantity of three types of know curcuminoids of temulawak chips were analyzed by HPCL after axtraction with 0%, 5% and 95% etanol solvent. Antioxidant activities in the extracts were measured by ferri thiocyanate and thiobarbituric acid methods. The result indicated that drying with black cloth cover showed higher curcuminoid content and antioxidant activity compared with those without black cloth cover, but drying with black cloth cover had no effect on the type of curcuminoids. The antioxidant activity of temulawak chip was highest with the type of curcuminoids being bisdemetoxicurcumine, demetoxicurcumine and curcumine when the temulawak chips were extracted with 95% ethanol. While the type of curcuminoids were only demetoxicurcumine and curcumine, when temulawak chips were extracted with 0% and 50% ethanol.

Key words : Temulawak chips, curcuminoid, ethanol, antioxidant activity.

=====================================================================

LOGIKA FUZZY DAN JARINGAN SYARAT TIRUAN UNTUK
PENINGKATAN MUTU TEH HITAM

Fuzzy Logic an Artificial Neural Network for Quality Improvement of Black Tea

Rohmatulloh 1), dan Marimin2)

1)Jurusan Teknik Industri Politeknik Swadharma, Jakarta
2)Departemen Teknologi Industri Pertanian Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor
Email : emanasi@plasa.com, marimin@indo.net.id

Diterima 23 maret 2007/ Disetujui 17 Desember 2007

This paper discussed quality improvement of black tea using fuzzy approach on quality functions deployment and the development of backpropagation neural the software NWP II plus. The research was conducted at PTPN VIII tea industry, Goalpara plantation. Result of the study showed that, parameter first priority based on customer evaluation was tea flavour. The Important process parameter of black tea based on result of fuzzy relationship matrix was the withering process. Based on the test of “trial and error� of network training process, the best network architecture for withering process monitoring [3-15-1] was obtained, that is 3 neurons in input layer, 15 neurons in hidden layer and 1 neuron in output layer. Three inputs and output consist of time, flow, temperature and moisture content. The result sugges that development of backpropagation neural network can be used for process evaluation of withering processes.

Key words : black tea, fuzzy matrix, and backpropagation neural network.

=====================================================================

UJI SIFAT PROBIOTIK BAKTERI ASAM LAKTAT
SEBAGAI KANDIDAT BAHAN PANGAN FUNGSIONAL

Probiotic Characteristics of laactic acid Bacteria as Candidate for Functional Food

Ida Susanti, Retno W. Kusumaningtyas, dan Fatim Illaningtyas

Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri – BPPT
Jl. MH Thamrin 8 Jakarta 10340

Diterima 16 Juli 2007/ Disetujui 8 November 2007

Lactic acid bacteria have been reported to be useful as a healt adjunct and are commonly added to food as delivery mechanism. As a probiotic, lactic acid bacteria should have the ability to survive in the digestion process such as resistance towards acidic pH, varieties of bile salt concentrations and enteric pathogan. In this study, lactic acid bacteria were isolated from various sources. Twenty isolated of lactic acid bacteria selected for their resistancy toeards acidic pH (pH 2.5), 0.3% bile salt and their antagonistic activity against enteric pathogan (Esherichia coli, Staphylococcus aureus and Bacillus cereus). The result showed that most of all strauns had good resistance to acidic pH and there were no significant difference among theme (p>0.05). More over, all strains showed tolerance to 0,3% bile salt concentration (varietis among isolates were significant p>0.05). All strains showed inhibition activity against enteric pathogan bacteria, this was estimated from the size of the diameter of the inhibition zones. (The inhibition were significantly different among them (p>0,05)). The best five stains that fulfilled these properties L casei FNCC262, L. acidophilus FNCC116, KL-3 isolate, Da-1 isolate, and Db-2 isolate. These strains could be used as probiotics in further and applications.

Key words : acid-tolerant, bile tolerant, antagonistic activity, lactic acid bacteria

=====================================================================

KARAKTERISASI ENZIM B-GLUKOSIDASE VANILI

Characterization of B-glukosidase Enzyme from Vanilla Bean

Dwi setyaningsih 1), Maggy T. Soehartono 2), Anton Apriyantono 2), dan Ika Mariska3)

1)Departemen Teknologi Industri Pertanian, FATETA-IPB
2)Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan FATETA-IPB
3)Balai Penelitian Biologi dan Sumber Daya Genetika Tanaman, Cimanggu, Bogor

Diterima 2 Februari 2007/ Disetujui 13 Desember 2007

The Indonesian natural vanilla is know for having a unigue woody, smooky, and phenolic flavor. Development of the aroma and flavor vanilla was formed by the action of a hydrolytic enzyme B-glucosidase on glucovanillin. The objective of this research was to characterize vanilla B-glucosidase. The vanilla B-glucosidase activity was increased by detergent. The enzyme was found as heat labile. Scalding should be conducted at 400C for 2-3 minutes. The result from B-glucosidase activity in each part of vanilla and microscopic analisis of vanilla bean slice showed that the highest B-glucosidase activity and vanillin concentrations were found in the seed funicles and placental tissue the of vanilla bean. The activity of vanilla B-glucosidase was optimum at pH 6,0, and temperature of 400C, found as and activation energy was 5,78 kcal/mole. After 44 minutes incubation time at 400C. The activity was reduced down to 10%. The apparent of moleculer weight was 100-400 kDa according to gel setration (Sephacryl S-300) analysis.

Key words : Vanilla planifolia, B-glucosidase

=====================================================================

PENAMBAHAN KACANG-KACANGAN DALAM FORMULASI MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) BERBAHAN DASAR PATI AREN(Arenga Pinnata (Wurmb) Merr)

Addition of legumes in the Formulation of Supplementary Food Based on Palm Starch (Arenga Pinnata (Wurmb) Merr)

Aryani Kusumaningrum1) dan Winiarti P. Rahayu2)

1)Alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, FATETA-IPB 2)Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, FATETA-IPB

Diterima 14 Mei 2007/ Disetujui 27 November 2007

Food diversification is one of the governmental programs to reduce rice demand. Palm starch (Arenga Pinnata (Wurmb) Merr) has a good potency as carbohydrate source for supplementary food.
Supplementary food from palm starch enriched with 4 legumes (red bean, green bean, soy bean, and paenut)as sourch of protein were formulated. This weaning food was made by wet mixing all substances, then cooked at temperatur 750C for 10 minutes. The dough was then dried using drum dryer and milled. The flour was fortified by vitamin premix (vitamin A, vitamin D, and vitamin C), mineral premix (Na, Zn, Fe, Ca, and I) and vanilla flavor (0,05; 0,10; 0,15; 0,20; and 0,25%) to improve their nutritional and sensory qualities.
Result obtained from hedonic tes indicated that soy bean is the most suitable bean 0,05 percent of vanilla flavor gave the best formula. Supplementary food from sugar palm starch contained 170 kkal energy, 4 g protein, 33g carbohydrate and 3 g fat per serving (42 g). If the formula was consumed three times per day it will fulfill 60 percent of AKG (Angka Kecukupan Gizi(Nutritional Daily Requirement)) of the baby and child’s protein. The protein digest of such supplementary food from sugar palm starch was 86,29 percent of casein and comply this with SNI 01-7111.4 -2005 and codex (1976) standard.

Key words : Palm starch, legumes, weaning food

=====================================================================

SIFAT FISIKO-KIMIA BERAS DAN INDEKS GLIKEMIKNYA

[Physico-Chemical Properties Of Rice And Its Glycemic Index]

E.Y. Purwani 1), S. Yuliani1), S.D. Indrasari 2), S.Nugraha1) dan R. Thahir 1)

1) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan PascaPanen Pertanian Jl. Tentata Pelajar No. 12. Bogor 2)Balai Besar Penelitian Padi Jl. Raya IX Sukamandi, Subang

Diterima 20 Januari 2007 / Disetujui 31 Juli 2007

In the present study, several different rice were evaluated for their physicochemical properties and glycemic index. They were IR 36, Batang Piaman, Mekongga, X rice (unidentified varieties), Taj Mahal, parboiled rice of Batang Piaman and X rice. IR 36 Batang Piaman and x rice showed comparable milling quality. Parboiling process increased milling quality of rice. Batang Piaman and Taj Mahal were classified as high amylase, while Mekongga and X rice were classified as medium amylase. Parboiling process changed the pasting properties of rice from the initial type B (for IR 36 and Mekongga) and type C (for Batang Piaman, and X rice) to type D. IR 36 and Taj Mahal showed low and medium glycemic index (Gl), respectively. Varied responses were observed with glycemic index (Gl) of rice due to parboiling process. Parboiling decreased the Gl of Batang Piaman from 86 to 59. however, similar response was not observed on the other rice. The result, emphasized that it is possible to find out the naturally domestic rice with low Gl.

Key Words: rice, glycemic index, diabetes mellitus

=====================================================================

SIFAT FISIKO-KIMIA BERAS DAN INDEKS GLIKEMIKNYA

[Physico-Chemical Properties Of Rice And Its Glycemic Index]

E.Y. Purwani 1), S. Yuliani1), S.D. Indrasari 2), S.Nugraha1) dan R. Thahir 1)

1) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan PascaPanen Pertanian Jl. Tentata Pelajar No. 12. Bogor 2)Balai Besar Penelitian Padi Jl. Raya IX Sukamandi, Subang

Diterima 20 Januari 2007 / Disetujui 31 Juli 2007

In the present study, several different rice were evaluated for their physicochemical properties and glycemic index. They were IR 36, Batang Piaman, Mekongga, X rice (unidentified varieties), Taj Mahal, parboiled rice of Batang Piaman and X rice. IR 36 Batang Piaman and x rice showed comparable milling quality. Parboiling process increased milling quality of rice. Batang Piaman and Taj Mahal were classified as high amylase, while Mekongga and X rice were classified as medium amylase. Parboiling process changed the pasting properties of rice from the initial type B (for IR 36 and Mekongga) and type C (for Batang Piaman, and X rice) to type D. IR 36 and Taj Mahal showed low and medium glycemic index (Gl), respectively. Varied responses were observed with glycemic index (Gl) of rice due to parboiling process. Parboiling decreased the Gl of Batang Piaman from 86 to 59. however, similar response was not observed on the other rice. The result, emphasized that it is possible to find out the naturally domestic rice with low Gl.

Key Words: rice, glycemic index, diabetes mellitus

=====================================================================

STUDIES ON THE EFFECT OF DRYING MODES ON QUALITY OF DEHYDRATED CABBAGE

-

Sakhale, B.K. and Pawar, V.N.

University department of chemical technology, Dr. Babashep ambedkar marathwada University, Aurangabad – 431004 and marathwada agriculture University, parbhani maharashtra, India Email: bksakhale@gmail.com fax no. 0240-2400413

Accepted 24 juli 2006 / confirm to publish 29 agustus 2007

An investigation was carried out for justify the suitability of various dehydration techniques for desired quality of finished products. The cabbage (brassica oleracea L. Var. Capitata), one of the commonly consumed green leafy vegetables was assessed fot its commercial processing potential through dehydration technology. The fresh cabbage procured from commercial growing farms near aurangabad city were washed, chopped into strips of uniform size and subjected to hot water blanching containing 2.0 percent common salt. The pretreated cabbage were dehydrated under different during conditions i.e. sun, shade and tray drying to safe moisture level. The dried sample were evaluated for their dehydration process features, nutritional and sensorial characteristics. The data on the dehydration technology revealed that tray dried cabbage found comparatively more wholesome, palatable and reported maximum retention of nutrients like vitamin C (42.9%), calcium (87.2%), iron (83.3%) coupled with superior dehydration and rehydration ratios and processing characteristics. The tray dried cabbage method was found comparatively superior in retention of sensorial quality features (appearance, color and overall acceptability) over sun drying and at par with shade drying.

Key words: cabbage; dehydration ;pretreatment ;rehydration ;sensorial quality

=====================================================================

KAJIAN SIFAT AKUSTIK BUAH MANGGIS(Gracinia mangostana L) DENGAN MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK

[Acoustic Study Of Mangosteene (Gracinia mangostana L) By Using Ultrasonic Wave]

Jajang juansah 1), I wayan Budiastra2), dan suroso 3)

1)Departemen Fisika FMIPA IPB 2)Departemen Ilmu Keteknikan Pertanian FATETA IPB

Diterima 17 November 2006 / disetujui 27 Agustus 2007

The wave used to study the acoustic properties of mangosteen is ultrasonic wave. Ultrasonic wave with frequency of 50 KHz was used to determine acoustic properties of mangosteen. The main wave properties were the attenuation, impedance of acoustic and acoustic velocity at mangosteen. Others have been evaluated were the correlation of attenuation and acoustic velocity at parts of mangosteen with its intact mangosteen. The acoustic parameters were related to the physic-chemical parameters of the fruit (TDS and hardness). This relationship was used to study mangosteen properties and quality. Because of mangosteen structure and it’s pores (saw with low density), acoustic wave in manggosteen have low amplitude signal. It was saw with spectrum and FFT signal mangosteen and reference medium / air (1.4:2.3).
The fruit with increasing maturity mount (from color index 2 to 5) will experience hardness degradation, improvement of TDS, which are related to degradation of acoustic attenuation, improvement of acoustic speed and impedance. Multiple regression method was used to get empiric equation of wave in mixture of flesh-seed, husk and mangosteen (parts of mangosteen with its intact mangosteen). That saw in equation 1 and 2. the velocity and attenuation of ultrasonic wave in mixture of flesh – seed have higher effect equation on mangosteen than husk. It means that acoustic properties of mixture of flesh – seed has more contribution than husk.

Key word: attenuation, velocity, impedance, ultrasonic, mangosteen

=====================================================================

PRODUK EKSTRUSI BERBASIS TEPUNG UBI JALAR

[Extrusion product made from sweet potato]

Umar Santoso1), Triastati Murdaningsih2) dan Rob Mudjisihono3)

1)Pengajar Pada Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281 2)Alumnus Facultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281 3)Peneliti Senior(APU) Pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Yogyakrta 55010

Diterima 20 Januari 2007 / disetujui 31 Juli 2007-12-03

The objective of the research was to develop a method to prepare extruted product from sweet potato and rice flour with addition of karabenguk as the protein source. The ratio of sweet potato and rice flour were 90:10; 75:25; and 55:45, and the addition of korobenguk flour varied from 0.5;1.0to 1.5 % (on the mixture basis). The first step was to determine the optimum condition for extrusion process. The extruded product was evaluated for its chemical, physical, and sensory properties. The results showed that the extruded products can be produced from sweet potato and rice flour in all ratios experimented. The addition of korobenguk flour appeared to increase protein, fat, and ash contents but decrease the extension degree the extension degree, crispness, and water absorption index. Based on the sensory evaluation, the most preferred product was that prepared from 55% sweet potato flour, 45% rice flour, and addition of 0.5% korobenguk flour (on the basis of the dough) with moisture content of 15 %.

Key words: sweet potato, extrusion product, korobenguk

=====================================================================

KARAKTERISASI TEPUNG UBI JALAR (Ipomoea batata L.) VARIETAS SHIROYUTAKA SERTA KAJIAN POTENSI PENGGUNAANNYA SEBAGAI SUMBER PANGAN KARBOHIDRAT ALTERNATIF

[Characterization of Sweet Potato Flour (Ipomea batatas L.) var. Shiroyutaka and Assesment of the potential as Alternative Carbohydrate Source For Food Product]

Beni Hidayat 1), Adil Basuki Ahza 2) dan sugiyono3)

1) Staf Pengajar Program Studi Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Negeri Lampung 2) Staf Pengajar Departemen Ilmu Dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Diterima 26 April 2007 / disetujui 19 Juli 2007

This research was aimed to characterize sweet potato flour var. shiroyutaka and assessment of its potential as alternative carbohydrate source on food product. Characterization was conducted on flour processed from sweet potato var. shiroyutaka harvested at four months was characteristic, these included whiteness degree and water absorption of the flour, ratio of amylase-amylopectin, form and size of starch granule, and starch digestibility.
The research showed that whiteness degree and water absorption of the flour were 78,82% ( 0,52) and 1,25 g/g ( 0,12) respectively. The ratio of amylase-amylopectin, gelatinization temperature, maximum viscosity and invitro starch digest ability were 69.82%: 30.18%, 78-900C and 84,78% respectively. The granule of its starch was round form and with size 2-4 micron.
The main potential of the flour is related with its specific characteristics which were the amylose-amylopectin ratio, the starch amylograph profile, form and size of starch granule, and the starch digest ability. These parameters implied that, the flour should be utilized in the production specific food products.

Key words : sweet potato flour, amylose, gelatinization, digest ability, water absorption

=====================================================================

EKSTRAKSI PEWARNA ALAMI DARI BUAH ARBEN (Rubus idaeus Linn.)

[Extraction of Natural Colorant from Red Raspberry (rubus idaeus linn.) And its application in food sistem]

Tensiska, Een Sukarmina1)dan Dita Natalia2)

1) Staf Pengajar pada Jurusan Teknologi Industri Pangan, Fakultas Teknologi Industri Pertanian UNPAD 2)Alumni Program Studi Teknologi Pangan, Facultas Pertanian UNPAD

Diterima 12 Januari 2007 / Disetujui 19 Juli 2007

Red raspberry fruit has not been optimally utilized even though it contains anthocyanin pigment. The pigment can be used as a natural colorant which also function as antioxidant. The aim of this study was to determine the appropriate solvent for anthocyanin extraction from red raspberry fruit and its possibility for food colorant. The research was started with preliminary research to determine appropriate acidulants (citric, acetic and tartaric acid) with levels of 0,1 ;0,25;0,5 ;0,75 and 1 %. The main research was divided into three stages, which were: (1) to determine the appropriate solvent of extraction (aquadest, ethanol and etil acetate); (2) the best extract was determined its color stability in pH of 1,2,3,4,5,6,7,8,9 and (3) to examine the pigment solubility into some food system (aqua96%dest, 25% of acetic acid, 96% of ethanol and coconut oil). The best extract also was examined its solubility in carbonated drink (pH of 3.69), pasteurized milk (pH of 6.49) and yogurt (pH of 2.6). the results showed that the extraction using aquadest with 0.75% of tartaric acid resulted in the highest total anthocyanin and showed the best color intensity. This extract was stable at pH of 2-5 and its solubility was best in aquaeous system with low pHs, thus it can be applied for aqueous product with low pHs.

Key words : red raspberry fruit, anthocyanin, food colorant, aquadest, pHs

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SALAM (Syzgium Polyanta) DAN DAUN PANDAN (Pandanus Amaryllifolius)

[Antibacterial Activity Of (Syzygium Polyanta And Amaryllifolius) Leaf Extracts]

Murhadi, Suharyono AS, Dan Susilawati

Staf Pengajar Pada Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bandar Lampung

Diterima 15 Maret 2007 / Disetujui 19 Juli 2007

The objectives of this research were to study antibacterial activities of syzgium polyanta (“Salamâ€Â�) and Pandanus amaryllifolius (“Pandanâ€Â�) leaf extracts and the effect of wet heating (1000, up to 60 min) on their antibacterial activities against staphylococcus aureus, bacillus subtillis, pseudomonas aeruginosa and Escherichia coli. Salam and pandan leaves powder was extracted using hot water (700C, 2 h), ethanol, ethanol/ethylacetate (1:1, v/v), and ethlacetate bt soxhlet (3×8 h) separately. Each residue was further extracted using the same solvent by shaker (250 rpm, 24 h). finally filtrates were mixed and evaporated to produce the extract. Salam leaf ethanol extract (yield 11.50%) showed highest antibacterial activity especially towards P. aeruginosa (diameter of inhibitor 6.5 mm/mg) and B. subtilis (6.3 mm/mg). Pandan leaf erhanol/ethylacetate extract (yield 15.61 %) also showed antibacterial activity towards P. aeruginosa (4.25 mm/mg) and B. subtilis (3.2 mm/mg). In general, salam leaf extracts showed higher antibacterial activity than pandan leaf extracts. Pandan and salam leaf water extracts had no antibacterial activity. Escerichia coli was more resistant to the extracts compared Staphylococcus aureus, bacillus subtilis, and pseudomonas aeruginosa. Antibacterial activity of salam leaf ethylacetate extract decreased 6.55%, lower than that of pandan leaf ethylacetate extract (18.48%) after heating 1000C for 10up to 60 min.

Key words : salam, pandan, antibacterial activity.

=====================================================================

EVALUASI EFEK LAKSATIF DAN FERMENTABILITAS KOMPONEN PEMBENTUK GEL DAUN CINCAU HIJAU (Premna oblongifolia Merr.)

[Evaluation of Laxatife ffect and Fermentabilitiy of Gel Forming Component ofGreen cingcau Leaves(Premna oblongifolia Merr.)]

Samsu Udayana Nurdin

1)Departement of Agric. Product Tech., Lampung University Jln. Sumantri Brojonegoro, Bandar Lampung, Indonesia 62-35145, Phone 62-721-781823, Email: ironyana@yahoo.com.

Diterima 20 November 2006 / Disetujui 14 agustus 2007

The major effects of dietary fibre occur in the colon. Each type of dietary fibre interacts with the microflora, and the colonic mucosa and muscle to produce several possible effects. The action of an individual fibre source depends to a large extent on its fermentability. The least fermentable dietary fibres are in general having the greatest effects on stool output. Previous research showed that Gel Forming Component (GFC) of green cingcau leaves (Premna oblongifolia Merr.) had high fermentability in vitro. Therefore, in this research, we evaluated its effecton stool output and viable cells number of lactic acid bacteria in the diegesta of rats fed with diet containing GFC. Fifteen of 3 months-old Sparague-Dawle (c)and (3) Rats fed with diet containing iulin (l). The results showed that stool output of G was higher than l, but lower than C (6.30, 4.61, 7.21%, (respectively). feces consistency of G was softer than l, but harder than C. Number of viable cells of latic acid bacteria in the diegesta of G, I, and C were 12.85, 11.97 and 11.14 log of viable cells numbe/g digesta, respectively. These data suggest that GFC of green cingcau leaves had moderate laxative effect and fermentability.

Key words: cingcau, fermentability, laxative, dietary fibre.

=====================================================================

PURIFIKASI DAN KARAKTERISASI PARSIAL ENZIM PROTEASE DARI GETAH TANAMAN BIDURI (Calotropis gigantea)

[Purification and Partial Characterization of Protease from Biduri (Calotropis gigantea) Latex]

Yuli Witono1), Aulanni’am2, Achmad Subagio1), dan Simon Bambang Widjanarko3)

1) Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember 2) Staf Pengajar Fakultas MIPA Universitas Brawijaya Malang 3) Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang

Diterima 19 Oktober 2006/ Disetujui 11 Juni 2007

The main objectives of this research we to purify protease from biduri (Calotropis gigantean) latex and its partial characterization in relation with this application in the food processing. Protease was extracted from biduri latex by using ammonium sulphate 35-80%, dialyzed and then purified subsequently through sephadex G-25 gel and CM sephadex C-50 caution exchanger. Biduri protease has specific activity of 59 unit/g in casein substrate. Optimum pH was 7 and temperature 550C. Apparent Km was 21.63 g/ml and reaction maximum velocity (Vmax) being 18.9 mg/ml/min. SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate-Polyacrylamide Gel Electrophoresis) analysis showed the apparent molecular weight of the protease was 25.2 kD. Moreover, the protease can be inactivated at 900C for 10 min, or 600C for 30 min.

Key Word : biduri (Calotropis gigantea), protease, purification, characterization.

=====================================================================

PENGHAMBATAN OKSIDASI LDL DAN AKUMULASI KOLESTEROL PADA MAKROFAG OLEH EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb)

[The Inhibition of Low Density Lipoprotein Oxidation and Cholesterol Accumulation on the Macrophage by Temulawak Extract]

Aisyah Tri 1), Hidayah Dwiyanti1), Deddy Muchtadi2), dan Fransiska Zakaria2)

1)Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, UNSOED Purwokerto 2)Program Studi Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB Bogor

Diterima 15 Desember 2006 / Disetujui 10 Mei 2007

Coronary heart disease is caused among others by atherosclerosis, which is the result of oxidized low density lipoprotein (LDL) and cholesterol accumulation on the macrophage. This were reported to be inhibited by temulawak (Curcuma xanthorizza Roxb). The objective of this study was to find out the types and consentrations of temulawak extract which could inhibit LDL oxidation, and to find out the effect of temulawak extract on the accumulation of cholesterol on macrophage. Temulawak was extracted by water, ethanol, aceton and dichlorometane. Inhibition of LDL oxidation was analyzed by measuring the level of malonaldehyde content of the oxidized LDL-CuSO4 which were given water extract, ethanol extract, aceton extract and dichlorometane extract. of temulawak at concentrations of 43 ?g, 430 ?g, and 4300 ?g per ml of LDL. The percentage of malonaldehyde reduction due to addition of water, ethanol, acetone and dichloromethane extract were 44.27; 47.68; 51.83 and 61.2 respectively. The inhibition of LDL oxidation by temulawak extract depends on the concentrations. The percentage of malonaldehyde reduction due to addition of temulawak extract of 43 µg, 430 µg, and 4300 µg per ml of LDL were 43.63; 56.72; and 53.89 Concentrations of temulawak extract resulting in the highest inhibition of LDL oxidation was 430 µg/ml LDL. Temulawak extract tends to inhibit cholesterol accumulation on the macrophage. There is a correlation between the inhibition of cholesterol accumulation on the macrophage and the inhibition of LDL oxidation by temulawak extract.

Key words : Low density lipoprotein, macrophage, cholesterol, temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb)

=====================================================================

PENGARUH SODIUM CHLORIDE TERHADAP SIFAT TERMAL PROTEIN 30 kDa YANG DIISOLASI DARI BIJI MELINJO

[Effect of Sodium Chloride on Thermal Properties of 30 kDa Protein Isolated from Melinjo Seed]

Tri Agus SISWOYO

Pusat Penelitian Biologi Molekul dan Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Jember

Diterima 20 Oktober 2006 / Disetujui 25 Mei 2007

The thermal properties of melinjo (Gnetum gnemon) protein were studied using differential scanning calorimetry. The melinjo protein obtained from crude seed protein was isolated using isoelectric precipitation method. The molecular weight of the protein isolate about 30 kDa as estimated using SDS-polyacrylamide gel electrophoresis. The thermogram of MSPI showed a major endothermic peak at 84.10C and a minor transition at 109.50C with enthalpy value of 0.52 and 0.32 J/g, respectively. The progressive increasing in major endothermic peak with increase in NaCl concentrations, which suggested a more compact conformation of MSPI with higher thermal stability. Treatment by heating the sample at 800C for 5 min caused reduction of enthalpy value, indicated that MSPI denaturation occurred. In contrast, after MSPI combined with NaCl, the enthalpy value was increased, which showed that the of MSPI was more heat stable.

Key words: Melinjo, protein isolated, thermal, NaCl, enthalpy

=====================================================================

ISOLASI DAN KARAKTERISASI MELANOIDIN KECAP MANIS DAN PERANANNYA SEBAGAI ANTIOKSIDAN

[Isolation and Characterization of Soy Sauce Melanoidin and its Role as Antioxidant]

Dedin FR1), Dedi Fardiaz2), Anton Apriyantono2), Nuri Andarwulan1)

1)Mahasiswa program studi Ilmu Pangan PPs-IPB 2)Staf pengajar Fateta IPB

Diterima 10 November 2006 / Disetujui 23 Mei 2007

Controlling oxidation in natural and processed foods is a difficult aspect of food preservation, even in low-fat foods. Lipid oxidation not only produces undesirable characteristic such as odors and flavor, but also decreases the nutritional quality and safety of foods by formation of secondary reaction products during cooking and processing. Protection of foods against lipid oxidation usually involves exclusion of oxygen by packing in vacuum or inert gases and/or the addition of antioxidants.
The Maillard reaction is a complex reaction. A variety of by products, intermediates and brown pigmens (melanoidins) are produced, which may contribute to the flavor, antioxidative activity and color of food. The oxidative browning of soy sauce is considered to have a different mechanism from those of ascorbic acid, polyphenols and furfural, because the amount of these compounds in soy sauce is very small.
Maillard reaction products of soy sauce were fractionated into high and low molecular weight compounds by ultrafiltration. Oxidative stability was evaluated in refined soybean oil containing compounds in soy sauce and butylated hydroxytoluene (BHT). Oils were oxidized at 1100C and analyzed by the rancimat method and TBA determination. The high molecular compounds (MW ?100 kDa) of soy sauce was found to be more inhibitory on the oxidation of soybean oil with protective index being 2.43. Characteristic of the UV-Vis absorption was 360 – 406 nm and the IR spectra indicated the presence of –OH…O groups of ?-diketon or combinated C=====================================================================R=====================================================================R groups.

Key words : Antioxidative activity, fractionation, melanoidin, Maillard reactions

=====================================================================

PENGARUH pH, NaCl DAN PEMANASAN TERHADAP STABILITAS ANTIBAKTERI BUNGA KECOMBRANG DAN APLIKASINYA PADA DAGING SAPI GILING

[Effects of pH, Nacl and Teating on the Antibacterial Stability of Kecombrang

Rifda Naufalin1), Betty Sri Laksmi Jenie2), Feri Kusnandar3), Mirnawati Sudarwanto4), dan Herastuti Sri Rukmini5)

1)Staf Pengajar Fakultas Pertanian UNSOED, 2)Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB 3)Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian IPB, 4Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB 5)Guru Besar Fakultas Pertanian UNSOED

Diterima 10 Desember 2006 / Disetujui 14 Mei 2007

The effect of pH (4-9), NaCl concentration (1-5%), temperature and heating time (80, 100 and 1210C for 10, 20 and 30 minute) on the antibacterial effectivity of ethyl acetate and ethanol kecombrang extract were analysed. Both ethyl acetate and ethanol extracts showed antibacterial activity at pH 4-8, but its activity gradually decreased at higher pH. At pH 9, only ethanol extract still showed antibacterial activity. Addition of 1-4% NaCl on ethyl acetate and ethanol extract still showed antibacterial activity. Heating the extracts at 80-100 0C for 10-30 minutes and 1210C for 10 minutes did not haves significantly affect on the antibacterial activity of both ethyl acetate and ethanol extracts. Application of ethyl acetate extract at the concentration of 1 and 3 MIC on minced meat were still effective to reduce the viable bacteria until 7 days and 5 MIC was still effective until 9 days.

Key words : Kecombrang, pH, NaCl, temperature and heating time, antibacteria

=====================================================================

PENGARUH METODE PEMBEKUAN DAN PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK GRITS JAGUNG INSTAN

[Effects of Freezing and Drying Methods on the Characteristics of Instant Corn Grits]

Hernawaty Husain1), Tien R Muchtadi1), Sugiyono1), dan Bambang Haryanto2)

1)Program Studi Ilmu Pangan, Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor. 2)Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Agroindustri, BPPT, Jakarta

Diterima 13 November 2006 / Disetujui 7 Mei 2007

Bassang is a traditional food of Makassar mainly made of corn grits. The food takes about 23 hours of traditional preparation. This lengthy process leads to a need for a technological innovation for a quicker preparation. In this study corn kernels were ground into grits. The corn grits were then gelatinized, frozen and dried using cabinet, fluidized bed, oven, and vacuum dryers. Soaking of kernels in 1% sodium citric followed by slow freezing yielded better results compared to soaking in calcium chloride followed by steaming and quick freezing. Oven drying yielded better results compared to cabinet, vacuum and fluidized bed drying, in relation to the porous characteristics and rehidration time. Instant corn grits can be cooked for 7 minutes.

Key words : corn, bassang, drying, instant.

=====================================================================

MEKANISME DAN KINETIKA ANTIFOTOOKSIDASI BIKSIN PADA SISTEM METIL LINOLEAT

[Mechanism and Kinetic of Antiphotooxidation of Bixin in Metil Linoleat System]

Ardiyanto Pranata1), Umar Santoso2), Sri Raharjo2), dan Haryadi2)

1)Mahasiswa S3 Ilmu Pangan 2)Dosen Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Diterima September 2006/ Disetujui 25 Mei 2007

Bixin belongs to the carotenoid group, present in Bixa orellana tree. It has conjugated double bonds which plays a role as an antiphotooxidant. The objectives of this study were to analyze the quenching mechanisms and kinetics of bixin in photosensitized oxidation of methyl linoleate. The quenching mechanism and kinetic of bixin were studied by the steady-state kinetic method. Samples of 0, 0.25 x 10-5, 0.5 x 10-5, 0.75 x 10-5, 1.0 x 10-5, 2.0 x 10-5 and 3.0 x 10-5 M bixin were prepared in ethanol that also contained 0.03, 0.06, 0.09 and 0.12 M methyl linoleate and 11.36 x 10-6 M of erythrosine stored under fluorescent light (4000 lux) at room temperature for 2 hours. The extent of photosensitized oxidation of methyl linoleate was expressed as peroxide value. The steady-state kinetic study indicated that bixin quenched singlet oxygen and exhibited triplet sensitizer quenching mechanism (to minimize the erythrosine photosensitized oxidation of methyl linoleate). The total quenching rate constant of bixin was 7.7 x 109 M-1S-1.

Key words: bixin, quencher, erythrosine, singlet oxygen

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK POLIFENOL KASAR DARI KAKAO HASIL PENYANGRAIAN MENGGUNAKAN ENERJI GELOMBANG MIKRO

[Antioxidant Activity of Crude Polyphenol Extract from Microwave Roasted Cocoa Bean]

Supriyanto1), Haryadi2), Budi Rahardjo3), dan Djagal Wiseso Marseno4)

1),2),4)Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian FTP-UGM 3)Staf Pengajar Jurusan Teknik Pertanian FTP-UGM

Diterima 15 September 2006 / Disetujui 7 Mei 2007

Microwave heating is faster than the conventional way, therefore it is interesting to apply this technology for cocoa roasting. This research aimed to analyze the effect of microwave roasting of ground cocoa nib on the antioxidative properties of the crude polyphenol extract from the product.The results indicated that microwave roasting of ground cocoa nib for 5 min, adjusted at 20% of the full power (900W) gave no significant difference in the inhibition of linoleic acid oxidation and scavenging of DPPH radical activity of the crude polyphenol extract compared to that of the conventional roasting at 140 0C for 40 min. But the product showed higher reduction of ferric ion activity and lower chelating ferro ion activity. The crude polyphenol extract inhibited linoleic acid oxidation and scavenged DPPH free radical. The inhibition was lower than that of either BHT or a-tocoferol at concentrations lower than 400 ug/ml for linoleic acid oxidation and lower than 40 ug/ml for DPPH free radical scavenging. The crude polyphenol extract reduced ferric ion, though lower than BH.

T Key words : Cocoa bean, microwave, roasting, polyphenol, antioxidant activity.

=====================================================================

PERUBAHAN PROFIL LIPIDA, KOLESTEROL DIGESTA DAN ASAM PROPIONAT PADA TIKUS DENGAN DIET TEPUNG RUMPUT LAUT

[Change in the profiles lipid, digesta cholesterol and propionic acid of rats fed with of seaweed powder-based diets]

Herpandi1), Made Astawan2), Tutik Wresdiyati2), dan Nurheni Sri Palupi2)

1)Dosen PS Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Pertanian UNSRI 2)Dosen PS. Ilmu Pangan Sekolah Pascasarjana IPB

Diterima 20 Sepetermber 2006 / Disetujui 24 Mei 2007

Community’s consumption pattern with high fat-low fiber has caused the prevalence of degenerative disease, i.e.cardivascular disease. Coronary Heart Disease (CHD) is the first cause of death in Indonesia. Seaweed is a fiber rich food and has a hypocholesterolemic effect. Objectives of the research were to investigate the changes of lipid profiles, digesta cholesterol and propionic acid of rats fed with seaweed powder-based diet. Five groups of six male Sprague Dawley hypercolesterolemia rats were feed by 0% cholesterol and 0% seaweed powder (negative control); 1% cholesterol and 10% Eucheuma cottonii, 1% cholesterol and 10% Gelidium sp,1% cholesterol and 10% Sargassum sp, and 1% cholesterol and 0% seaweed powder (positive control) for 31 days. The experiment result showed that the seaweed powder did not have a significant effect (P>0,05) on the growth and feed consumption, and serum HDL (Hight Density Lipoprotein) but has a significant effect (P 0.05) on the texture and dissolution rate of effervescent tablet. Variations of formula did not significantly influence (?

=====================================================================

AKTIVITAS ANTI KANKER SENYAWA-SENYAWA KITOOLIGOMER

[Anti Cancer Activity of Chitooligomers]

Sri Wahyuni1), Fransisca Zakaria2), Arief B.Witarto3), Dahrul Syah2), dan Maggy.T Suhartono2)

1)Staf Pengajar MIPA, FKIP, UNHALU 2)Staf pengajar pada Departemen Ilmu dan Teknologi pangan IPB 3)Peneliti Senior pada Pusat Bioteknologi LIPI Cibinong Bogor

Diterima 5 Maret 2006/ Disetujui 2 Juni 2006

The chitin obtained from the crab industries can be used as a source for production of chitooligomers which has an important biological activity. The aims of this research was to evaluate anti cancer activity of the chitooligomers obtained from enzymatic hydrolysis using chitosanase from thermophilic bacterium Bacillus licheniformis MB2 isolated from Tompaso Manado. Media for producing the enzyme contained colloidal chitosan 1% and the enzyme was harvested after seven days of incubation at 550C. The heat stable protein enzyme was coagulated with 80% saturated ammonium sulphate and purificated using hydrophobic interaction chromatography with butyl sepharose gel. Enzyme of 0.005, 0.0085, 0.10 dan 0,17 IU/mg chitosan on soluble chitosan 1% substrate with 85% degree of deacylation were used to produce chitooligomers through incubation for one and three hours. The reaction products were analyzed (and fractionated) using HPLC. The effect of this samples on cancer cells was evaluated using K562 cells (chronic myelogenous leukemia) and investigated after being treated with MTT (3-[4,5-Dimethylthiazol-2-yl]-2,5-diphenyl tetrazolium bromide). In general, hydrolysates and fractionated chitooligomers showed better anti cancer activity than the 2- Bromo deoxy uridine used as positive control at similiar concentration (17 ?g/ml). Both of hydrolysates and fractionated chitooligomers (trimer to hexamer) inhibited proliferation of human K562 cancer cells line in vitro about 20.57% and 15.68% respectively.The apoptosis phenomena was found on K562 cells treated with chitooligomer hydrolysate which can be examined by Hoechts staining fluorescent method. Chitooligomers hydrolysate showed anti metastatic potential, the chitooligomers were found also as potent protease inhibitor.

Keywords : chitooligomers, chitosan, anticancer

=====================================================================

PENGOLAHAN BERAS WANGI BUATAN METODE DAN RETENSI SENYAWA AROMA

[Processing of Artificial Fragrant Rice The Method and Aroma Retention]

Filli Pratama

Dosen di Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Unsri Palembang

Diterima 10 Maret 2006 / Disetujui 5 November 2006

Processing of artificial fragrant rice in which one or more aroma compounds were introduced into raw milled rice were studied. The end product, which is potentially marketable, showed no visible difference in appearance from the untreated rice, and the cooked product showed perceivable aroma to the consumers. The aromatisation process used liquid carbon dioxide as a vehicle to deliver the aroma. Five aroma compounds of eugenol, iso-eugenol, methyl eugenol, cinnamyl alcohol, and cinnamaldehyde were used as model compounds. The results showed that liquid carbon dioxide at a pressure of 8 MPa and an equilibration time of 5 minutes were found to be the optimum conditions for imparting the aroma compounds into the rice. The retention of the model aroma compounds in rice were in the range of 33% to 50%. The aroma carrier was found to be able to carry the model compounds into the core of rice. This was significant, as it potentially provided a longer period for the aroma compounds to remain in the rice.

Key words: artificial fragrant rice, liquid carbon dioxide, aroma.

=====================================================================

SIFAT FISIK DAN KIMIA BUAH MANGGA (Mangifera indica L.) SELAMA PENYIMPANAN DENGAN BERBAGAI METODE PENGEMASAN

[Physical and Chemical Characteristics of Mangos (Mangifera indica L.) during Storage with Various Methods of Packaging

Merynda Indriyani Syafutri1), Filli Pratama1), dan Daniel Saputra1)

1)Staf Pengajar pada Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya Palembang

Diterima 5 Maret 2006 / Disetujui 20 Juni 2006

The research was aimed to determine the physical and chemical characteristics of mangos in various packing methods during storage. Factorial Completely Randomized Design with four treatments and three replications were used in this research. The treatments were individually and collectively packed mangos which were stored at 10 and 200C. The physical and chemical changes of mangos in the flexible packaging (individual and collective) were slower than mangos without packaging. Collectively packed mango stored was with the storage temperature of 100C was found to have longer shelf life than that of other treatments. On day 25, the collectively packed mango had weight loss of 1,464%, 0,316 Kgf hardness, 11,4% total sugars, 0,44% total acids, and 229,44 mg/100g vitamin C. Further duo-trio test indicated that panelists could detect the differences of the taste between packed and freshly harvested mangos. The hedonic test shows that most panelists preferred the taste of mangos that were collectively packed and stored at 100C (on day 10).

Key words: Mangos, method, packaging, storage

=====================================================================

SIFAT FISIKO-KIMIA TEPUNG SUWEG (AMORPHOPHALLUS CAMPANULATUS B1.) DAN INDEKS GLISEMIKNYA

[Properties Of Suweg (Amorphophallus Campanulatus B1) And Its Glicemic Index]

Didah Nur Faridah

Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, FATETA IPB PO BOX 220 Darmaga Bogor 16002

Diterima 20 Oktober 2005 / Disetujui 6 Februari 2006

Suweg (Amorphophallus campanulatus B1) is an indigenous tuber potentially used as an alternative food source. The objective of the study was to identify the functional properties, i.e. dietary fiber and Glicemic Index (IG) of Suweg by in vivo method using human. The experiment was conducted in three steps i.e suweg flour production, analysis of suweg flour functional properties, and determination of glycemic index (IG) using human. Suweg tuber had high content of dietary fiber (13,71%), and protein (7,20%) but had low fat content (0,28%). Suweg tuber had low IG (42) with low starch in vitro digestibility (61,75%), hence its was categorized as food product with low IG (

=====================================================================

MEMPELAJARI PROSES PENYULINGAN MINYAK NILAM MELALUI DELIGNIFIKASI DAUN

[Study on Distilation Process of Patchouli Oil Through Leaves Delignification]

Nasruddin1, Gatot Priyanto2, dan Basuni Hamzah2

1Staf Balai Industri, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Pascasarjana-UNSRI
2Staf Fakultas Pertanian dan Pascasarjana UNSRI

Diterima 20 Oktober 2005/ Disetujui 6 Februari 2006

Research was objected to determine the effect of patchouli leaves preparation on the distillation efficiency and quality of patchouli oil. The patchouli leaves (Pogostemon cablin Benth) were taken from Pandan Dulang Village, Muara Enim. It was separated from the stems and dried until maximum moisture content of 15%. Experiment was conducted in two replications base on these treatments, i.e delignification temperature (550C, 800C) and fermentation time (2, 4, 6, 8, days). NaOH solution (0,25%) was used for delignification. The distillation process was conducted at 100  20C and ambient pressure environment. Patchouli oil quality was expressed as several parameter such as ester numbers, acid numbers, and specific gravity.

The result showed that increasing of fermentation time is followed by decreasing of the patchouli oil quality. Delignification at 550C for 6 days was identified as the treatment produced the highest efficiency process which about 2,346% (w/w) of patchouli oil that could be extracted and showed specific gravity 0.959, acid number 0,761 and ester number 4,561. All patchouli oil produced using the treatment of fermentation time were in the range of physico-chemical quality standard of patchouli oil given by SNI no 06-2385-1991.

Keyword : patchouli leaves, preparation, delignification, fermentation, and distillation

=====================================================================

PENGEMBANGAN KONSEP SISTEM JAMINAN HALAL DI RUMAH POTONG AYAM (Studi kasus pada industri daging ayam)

[Concept Development Of Halal Assurance System In The Chicken Slaughter House (Case Study Of Chicken Meat Industry)]

Wiwit Estuti1, Rizal Syarief2, dan Joko Hermanianto2

1Staf Pengajar Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Padang
2Staf Pengajar Program Studi IImu Pangan Sekolah Pasca Sarjana IPB

Diterima 15 Juli 2005 / Disetujui 20 Desember 2006

The application of effective halal assurance system model was one of producer’s effort to supply halal food for Moslem consumers. The objective Of this research was to develop halal assurance system concept which is consist of halal manual. Halal Standard Operating Procedure, Guideline, and Work Instruction which should be applied at Chicken Slaughter House. flied research used descriptive method by distributing questionnaire, direct observation, on-site verification and halal assurance system assessment on two Chicken Slaughter House. The halal assurance system assessment was conducted based on ISO 9000, 2000 guideline of arrangement of HACCP system. The conclusion of this research was that this Halal Assurance System was suitable to be used as a standard for Chicken Slaughter House. The document change on both industry was that of applied halal assurance system. It was found that there were two kinds of haram Critical Control Point, which were two points at raw material and four point at chicken production process.

Keywords : concept, model, assurance, halal, slaughter house

=====================================================================

OPTIMASI PEMADATAN CEPAT PADA PENGAYAAN MINYAK IKAN HASIL SAMPING PENGALENGAN LEMURU DENGAN ASAM LEMAK -3 MENGGUNAKAN METODE PERMUKAAN RESPON

[Optimization of Rapid Solidification to Enrich Fish Oil from by-Product of Lemuru Canning Processing with w-3 batty Acids by Response Surface Method]

Teti Estiasih1, Fithri Choirun Nisa1, Kgs. Ahmadi2, dan Umiatun3

1Staf Pengajar Jurusan THP- FTP � Universitas Brawijaya – Malang
2Staf Pengajar Jurusan TIP-FP- Universitas Tribhuwana Tunggadewi- Malang
3Alumni Jurusan THP- FTP- Universitas Brarwijaya Malang

Diterirna 25 November 2005 / Disetujui 31 Januari 2006

Oil from by-product of lemuru canning processing was a source of w-3 fatty acid but its characteristics had out been known. The content of w-3 fatty acids of this oil had to be increased. Various methods are available to enhance w-3 fatty acids concentration Rapid solidification was one of limited methods to enrich fish oil by w-3 fatty acids containing triglycerides.
This research was conducted to optimize rapid solidification condition to enrich fish oil from by product of lemuru canning processing with w-3 fatty acids and characterize the enriched oil compared by International Association of Fish Meal and Oil Manufacturers standard. In optimization process, the content of EPA+OHA and yield .was maximized. A two-factors central composite design in Response Surface Method was used to study the effect of solvent-to-oil ratio (X1) and extraction time (X2). The response (Y) is the multiplication of EPA+DHA content by yield.
The results showed that under optimum conditions the maximum response were obtained at a solvent-to-oil ratio of 3,95:1(vw) and extraction time of 24,93 hours. The w-3 fatty acids enriched fish oil had EPA+DHA content of 33,33% and yield of 9.40% (w/w).
The produced w-3 fatty acids enriched fish oil had good quality based on food grade fish oil standard, unless Fe and Cu content. Chelation could reduce these oxidizing metals.

Key words : w-3 fatty acids, rapid solidification, response surface method, central composite design.

=====================================================================

PENGARUH SORPSI AIR DAN SUHU TRANSISI GELAS TERHADAP LAJU PENCOKALATAN NON-ENZIMATIS PADA PANGAN MODEL

[The Effect of Water Sorption and Glass Transition Temperature on Non-Enzymatic Browning Reaction of Food Models]

Dede R Adawiyab1, ST Soekarto1, P Hariyadi1, dan Suyitno2

1staf pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta, IPB
2Staf pengajar Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Fateta, UGM

Diterima 20 November 2005/ Disetujui 8 Februari 2006

This research was aimer/ to study the extend of non enzymatic browning reaction in food models containing the mixture of tapioca starch, casein, sucrose and oh at different moisture contents (2.55%, 5.26%, 7.54%, 15.20%. 15.93% and 23.99%) and storage temperatures (30, 55 and 700C). The non-enzymatic browning reaction was detected from brown color intensity measured by spechtrophotometer and colorimetric methods. The non-enzymatic browning reaction or food model follow pseudo-zero order reaction, suggesting that browning reaction occurred at moisture content above monolayer zone. T-Tg (T storage – Tg prediction) and reaction rate constant (k) plots showed that browning reaction occurred at temperature around glass transition and increased significantly at 150 above Tg of casein. Tapioca starch in the food model was under glassy condition. The mobility of substrate increased and diffused at amorphous matrix.

Keywords : glass transition, non-enzymatic browning, glassy, amorphous

=====================================================================

OPTIMASI PEMADATAN CEPAT PADA PENGAYAAN MINYAK IKAN HASIL SAMPING PENGALENGAN LEMURU DENGAN ASAM LEMAK -3 MENGGUNAKAN METODE PERMUKAAN RESPON

[Optimization of Rapid Solidification to Enrich Fish Oil from by-Product of Lemuru Canning Processing with w-3 batty Acids by Response Surface Method]

Teti Estiasih1, Fithri Choirun Nisa1, Kgs. Ahmadi2, dan Umiatun3

1Staf Pengajar Jurusan THP- FTP � Universitas Brawijaya – Malang
2Staf Pengajar Jurusan TIP-FP- Universitas Tribhuwana Tunggadewi- Malang
3Alumni Jurusan THP- FTP- Universitas Brarwijaya Malang

Diterirna 25 November 2005 / Disetujui 31 Januari 2006

Oil from by-product of lemuru canning processing was a source of w-3 fatty acid but its characteristics had out been known. The content of w-3 fatty acids of this oil had to be increased. Various methods are available to enhance w-3 fatty acids concentration Rapid solidification was one of limited methods to enrich fish oil by w-3 fatty acids containing triglycerides.
This research was conducted to optimize rapid solidification condition to enrich fish oil from by product of lemuru canning processing with w-3 fatty acids and characterize the enriched oil compared by International Association of Fish Meal and Oil Manufacturers standard. In optimization process, the content of EPA+OHA and yield .was maximized. A two-factors central composite design in Response Surface Method was used to study the effect of solvent-to-oil ratio (X1) and extraction time (X2). The response (Y) is the multiplication of EPA+DHA content by yield.
The results showed that under optimum conditions the maximum response were obtained at a solvent-to-oil ratio of 3,95:1(vw) and extraction time of 24,93 hours. The w-3 fatty acids enriched fish oil had EPA+DHA content of 33,33% and yield of 9.40% (w/w).
The produced w-3 fatty acids enriched fish oil had good quality based on food grade fish oil standard, unless Fe and Cu content. Chelation could reduce these oxidizing metals.

Key words : w-3 fatty acids, rapid solidification, response surface method, central composite design.

=====================================================================

KINETIKA FERMENTASI PADA PRODUKSI XILITOL DENGAN PENAMBAHAN ARABINOSA DAN GLUKOSA SEBAGAI KOSUBSTRAT OLEH Candida shehatae WAY 08

A Kinetic Study of Xylitol Production with Glucose and Arabinose as Cosubstrate by Candida shehatae WAY 08

Wisnu Adi Yulianto1, Kapti Rahayu Kuswanto2, Tranggono2, dan Retno Indrati2

1Faku/tas Teknologi Pertanian, Universitas Wangsa Mangga)a, Yogyakarla 55753. Fax 0274-798213
2Fakuhas Teknologi Pehanian, Universitas Gadjah Made, Yoqyakara) 53281., Fax 0274-549650

Diterima 30 November 2005 / Disetuiui 8 Januari 2008

Xylitol production by Candida shehatae WAY 08 was investigated under two sets of conditions (a) with addition of glucose or arabinose as cosubstrate, (b) ratio of xylose to cosubstrate at the range of 6:1� 6:3%. The fermentation was performed at 3000/n 500 ml Erlenmeyer flasks placed in a shaker incubator at 200 rpm for 72 h. Biornass concentration was calculated as dry mass. Xylose. cosubstrate. xylitol, ethanol, and acetic acid concentrator ware determined using API. C.

The result indicated that addition of arabinose as cosubstrate to xylose within the ratio range of 1:6�3:6% could increase xylitol production. The highest xylitol yield (0,84 gIg) and volumetric rate of xylitol production (0.66 g/Lh) were achieved at ratio of xylose to arabinose as high as 6:1%. However, addition of glucose as cosubstrate decreased xylitul production. A medium containing 6% glucose as a sole carbon source could achieve the hiqhest ethanol yield(0.32 g/g) and growth yièld (0,21/ gIg). wh;/e arabinose as a sole source was metabolized mainly for biomoss formation.

Key words xylose. cosubstrate. arabinose, glucose. xylitoi. Candida shehatae WAY 08.

=====================================================================

MODIFIKASI ASILASI DAN SUKSINILASI PATI TAPIOKA

[Modification of Acylation and Succinylation of Tapioca Starch]

Rini Hustiany1, Dedi Fardiaz2, Anton Apriyantono2), dan Nun 2

1Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Banjar baru
2Departemen IImu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Diterima 29 Agustus 2005 / Disetujui 20 Januari 2006

Modified starch is one of ingredients commonly used in food processing for coating and flavor encapsulation. This component can be made by modifying the structure of native starch either through chemical or enzymatic reaction. This research was aimed to chemically modify tapioca starch into a modified starch with improved coating characteristic. The tapioca starch was first hydrolyzed to a hydrolyzate with dextrose equivalent of 9.1, Both tapioca starch and hydrolyzate were further acylated with stearic acid and propiooic acid and succinylated with succinic acid. The concentrations of acids used for acylation and succinylation were 2,44. 4.76 and 9.09%. The modified starches were analyzed for their yield and moisture content, the degree of substitution, functional groups, crystalline structure polarization, gelatinization properties and viscosity. The moisture content of the modified starches was 1.52-3.32% and the yield was 87.45-95.43%. The hydroxyl group substitution into acyl and succinyl groups was low, i.e 0.03-0.04 and 0.05-0.08 respectively. The result show that methyl. methylene and CO carbonyl groups were formed in the modified starches. The crystalline structure of the modified starches was broken. This revealed that the peak 22.620 was widen and the doublet were disappearing on peak 16.850 and 17.990 Birefringence of the acylated and succinylated starch changed significantly and disappeared in the case of acylated and succinytatod hydrolizate. The initial and optimum gelatinization temperature of acylated and succinylated starch were 57.6-64.200 and 68.62-9i4’C respectively, and the maximum viscosity was 14-714 Brabender Unit. No initial and optimum geletanization temperature nor maximum viscosity was found in acylated and succinylated hydrolyzate. Based on our finding it is suggested that acylation (9,09%) and succinylatim (4.76%) of tapioca starch can be used to modify the starch into a product with better coating characteristic.
,br> Key words : tapioca starch, modified starch, hydrolyzed starch. acylation, succinylation

=====================================================================

MASA SIMPAN BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) PADA BERBAGAI TINGKAT KEMATANGAN, SUHU DAN JENIS KEMASAN

[Shelf life of Manggis Fruit (Garcinia mangostana L.) at Various Fruit Maturity Levels, Temperature, and Types of Packaging]

Hasbi1, Daniel Saputra1, dan Juniar2

1Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian. Fakultas Pertanian Unsri, Palembang
2Alumni Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Unsri, Palernbang

Diterima 20 September 2005 / Disetujui 16 Januari 2006

The objective of this research was to study the effect of manggis fruit maturity levels, temperature, and types of packaging on the shelf fife of manggis fruit (Garcinia mangostana L), The experimental design used was Factorial Completely Randomized Design with three factors consisting of manggis fruit maturity levels (tinged with purple and brown), packaging types (flexible and stretch film), and storage temperature (l50C and 250C) using two replication for each treatment. The result showed that maturity level had significant effect on weight toss, color but had no significant effect on hardness, total sugar and total acid of manggis fruit during storage. The suitable packaging type to maintain the quality of manggis fruit with maturity level of tinged purple was the flexible type, which result n a shelf life of 33 days. Packaging suitable for manggis fruit with maturity level of brown was the stretch type, which had the shelf life of 39 days. Storage temperature to maintain quality was l50C.

Keyword: shelf life. physical quality, chemical quality maturity level, packaging.

=====================================================================

SIKLODEKSTRIN GLIKOSIL TRANSFERASE DAN PEMANFAATANNYA DALAM INDUSTRI

[Cyclodextrin Glycosyl Transferase and its application in industries]

Budiasih Wahyuntari

Bidang Teknologi Biokatalis, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Gedung BPPT II/15, tel. 021-756-0536/316-9509, fax. 021-756-0536/316-9510, Jl. M. H Thamrin8, Jakarta 10340, e-mail budiasih@webmail,bppt.go.id; budiasih_solichin@yahoo.com

Diterima 10 Desember 2005 / Disetujui 6 Maret 2006

Cyclodextrin glycosyl transferase (CGT-ase) is mainly produced by Bacilli. Systematical name of the enzyme is E.C. 2.4.1.19 -1,4 glucan-4-glycosyl transferase. The enzyme catalyzes hydrolysis of starch intramolecular, and intermolecular transglycosylation of -1,4, glucan chains. Cyclodextrins are -1,4 linked cyclic oligosaccharides resulting from enzymatic degradation of starch by cyclodextrin glycosyl transferase through untramolecular transglycosylation. The major cyclodextrins are made up of 6, 7 and 8 glucopyranose units which are known as -, -, and -cyclodextrin. All CGT-ase catalyze three kinds of cyclodextrins, the proportion of the cyclodextrins depends on the enzyme source and reaction conditions. The intermolecular transglycosylation ability of the enzyme has been applied in transfering glycosyl residues into suitable acceptor. Transglycosylation by the enzymes have been tested to improve solubility of some flavonoids and to favor precipitation ci some glycosides.

Keywords : cyclodextrin, cyclodextrin glycosyltransferase

=====================================================================

ANALISIS KADAR AIR DAN AKTIFITAS AIR KRITIKAL PRODUK SATA DARI MALAYSIA DAN IMPLIKASINYA PADA SIFAT-SIFAT PRODUK DAN UMUR SIMPANNYA

[Analysis of Critical Moisture and Water Activity of Malaysian Sata and Its Implication to Product Characteristics and Shelf Life]

Rita Hayati1, Aminah Abdullah2, Mohd.Khan Ayob2, dan Soewarno T.Soekarto3

1Dosen Universitas Syiah Kuala, Darussalam Banda Aceh, peserta Program Doktor Falsafah di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia
2Dosen iurusan Kimia dan Teknologi Makanan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Malaysia
3Departemen llmu dan Teknologi Pangan, lnstitut Pertanian Bogor, Indonesia

Diterima 20 September 2005/ Disetujui 10 Desember 2005

Critical moisture and water activity of Sata. a Malaysian traditional food made of fish and young coconut meats, were analyzed for the first and second critical points of transition among the primary, secondary and tertiary bound water fractions in the Sata. It was found out that the first critical points of moisture content and water activity were M, of 5.09 % db (4.73 % wb) and ar of 0.44 respectively. The second critical points were water content M5 of 19.38 % db(15.2 % wb) and water activity as of 79 % respectively. The upper limit of he tertiary bound water (Mt) was 75.3 % db (43.0 % wb). Sate sample in the primary bound water fraction (represented by moisture content at 5.0 % rib / 4.73 % wb), was stable in color and appearance, but slightly rancid due to molecular mobility of the liquid oil content The sample in the secondary bound water fraction (represented by moisture content of 15.0% db / 13.0% wb), has a color change to darker brown: and in the tertiary bound water fraction (represented by moisture of 30.5 % db / 23.4 % wb), mold growth appeared on the 10th day storage. The characteristics of the Malaysian Sate indicated an intermediate moisture food (IMF) with water content of 37.5% wb, water activity of 0.9 and limited shelf tile to, few days at room temperature.

Key words : Malaysian sata critical aw. critical moisture, sorption isotherm, shelf life

=====================================================================

PERANAN PROGRAM STUDI TEKNIK PANGAN (FOO ENGINEERING) UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN INDUSTRI PANGAN DI INDONESIA

The Roles of Engineering fot the Development of Agro Industries in indonesia

Budi Rahardjo dan Suhargo

Laboratorium Teknik Pangan dan Proses Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

Diterima 20Mei 2005 / Disetujui 29 September 2005

At this time more than 60 % of Indonesian population still depend on the agricultural sector. Accordingly, in future agro and food industries are expected to be the main steppingstone for the economic development in Indonesia. In order to make the agricultural products competitive in the global market; it is necessary that the development of food or agro industries is supported by technology especially in the food product development and their processing. The food product development consist of food product design, process design, equipment and machinery design and packaging design. Consequently the food product development requires the knowledge of food science, and is necessary to be supported by the knowledge of engineering or know as food engineering. As a course, food engineering is already offered in the study program of food science and technology. However, food engineering is not developed yet as a study program as well as in the other countries, the study program in food engineering is necessarily different from the study program of food science and technology. Food engineering is scientific discipline to study and apply the engineering principles in food preservation, conservation, conversion and distribution. In several countries both study programs are paralely offered as two different study programs with deferent competence and knowledge. The competency of food engineering is mainly in the application of engineering knowledge for food design, design and construction of food process equipment, process design, process equipment operation and management. Accordingly, the content of the food engineering curriculum covers engineering and physics (50-60%), biology and food science (20-30%) and other supporting knowledge’s (statics, communication, etc, 10-20%). The graduates in food engineering will have opportunities working as engineers as well as designing, constructing and operating process equipment in food industries, as researchers and developers of food processes in research institution, as consultant for food industries, or as teaching staff in universities or higher educations. Therefore, study program in food engineering is important to be established. It will significantly support development appropriate technology for agro industries in Indonesia. This study program can be organized together as the study programs in food science and technology and agricultural engineering that already exist in several universities.

=====================================================================

PENGERING SUHU RENDAH UNTUK MENJAGA MUTU BAHAN PERTANIAN

Low Temperature Drying to Maintain the Quality of Agricultural Products

R. Sarwono

Pusat Penelitian Kimia (P2K)-LIPI Kopmlek Puspitek, Serpong-Tanggerang (15314)

Diterima 20Mei 2005 / Disetujui 29 Agustus 2005

Drying equipment is an important unit operation in industrial processes. Reducing moisture content in order to prolog the storage time is very commonly used. There are many agricultural product which are very heat sensitive. To maintain the essential ingredient in those product, drying process should be applied at low temperature drying process gave lower drying rate, is time consuming and in general costly. Increasing drying rate by reducing the absolute humidity is this recommended. There are many ways to dry the air, firstly moisture is condensed in evaporator and then dried air is heated in condenser. Is conducted if the drying system in connected with heat pump system. Secondly, moisture is absorbed by hygroscopic materials such as CaO. Water absorbed and reacted with CaO become Ca(OH)2 in exothermic reaction, and simultaneously dried air is heated.

=====================================================================

KARAKTERISTIK SERBUK LABU KUNING (Cucurbita moschata)

Characteristic of Pumpkin Powder (Cucurbita moschata)

Sri Usmiati 1, D. Setyaningsih 2,E.Y Purwani 1, S.Yuliani 1 dan Maria O.G 3

1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, 2Departemen Teknologi Industri Pertanian Fateta IPB, 3Mahasiswa Departemen TIN Fateta IPB

Diterima tanggal 2 Maret 2005 / Disetujui 17 Juli 2005

Instant powder of pumpkins was made by mollen dryer in order to extend the product shelf life The aim of the research was to determine the characteristics of the pumpkin powder. The research had been designed using completely randomized block factorial pattern, two levels of drying-up temperature and three levels of mollen dryer speed rotation on two blocks of pumpkin (I and II groups). The parameters measured were percentage of yield, water content, ash, solubility, and sugar, pH, bulk density (g/ml), beta-carotene (µg/g), colors, and hedonic test (scale 1 ===================================================================== not accepted through 5 ===================================================================== really accepted). The research result showed that the drying temperature affected solubility, and the speed rotation affected sugar content of pumpkin powder. The best pumpkin powder was produced by mollen dryer at 60ºC degree and 6 rpm speed rotation which was characterized by high yield and solubility, also produced best hedonic value on taste, color and performance as compared to the other treatment.

Key words : Pumpkin, drying-up temperature, speed rotation, mollen dryer

=====================================================================

PURIFIKASI DAN KATRAKTERISTIK ENZIM LIPOKSIGENASE KACANG TANAH

Purification and Characterization of Peanut Lipoxygenase Enzime

B.A.S. Santosa 1, A. Eliana 2 dan S. Widowati 1

1 Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian 2Alumnus Institut Pertanian Bogor

Diterima 20 Juni 2005 / Disetujui 10 Agustus 2005

Fat oxidation of peanut is a serious problem, because it could reduce of peanut quality and form a hydroperoxide compound. Hydroperoxide could be broken down into acid, ketone and low peptide, and resulted in volatile compounds with undersirable aroma. Extraction on enzyme was carried out by water, while purification and fractination were conducted using ammonium sulphate and chromatography. The objective of this research was to evaluate of the protein fraction, lipoxygenase properties, and enzyme activity during fractionation. The result showed that the highest fraction of protein was globulin, i.e 41-48% of total extracted protein, and the activity of lipoxygenase enzyme in the albumin fraction was 40-54% of the total activity. Purification of lipoxygenase enzyme was conducted by using ammonium sulphate (40-60% saturated) and this increased its specific activity up to 2.0-4.2 timer from the crude enzyme. Separation of lipoxygenase enzyme using sephadex G-150 revealed 3 (tree) peaks of activities, with specific activities 6.0-70.0 fold of the crude enzyme. Lipoxygenase enzyme of gajah variety denatured when heated at 700C during 30 minutes. The activition energy of lipoxygenase enzyme from Gajah variety (19.083 Cal/Mol) was relatively lower than 1509 and 1512 which were, 25.446 Cal/Mol and 24.780 Cal/Mol, respectively. The result showed that lipoxygenase enzyme from Gajah variety was relativeky more heat stable as compared to the 1509 and 1512 lines. Lower activation energy of lipoxygenase enzyme indicated that effect of temperature alteration toward ‘k’ value was smaller. Lipoxygenase enzyme was active at pH higher than 3.0 or lower than 10.0. the data indicated that ‘Km’ value of lipoxygenase enzyme from Gajah variety was higher than that of 1509 and 1512 lines. It means that lipoxygenase enzyme from 1509 and 1512 lines more reactive that gajah variety.

Key words : Lipoxygenase, peanut, purification

=====================================================================

EKSTRAKSI DAN STABILITAS ANTOSIANIN DARI KULIT BUAH DUWET (SYZYGIUM CUMINI)

Extraction and Stability of Anthocyanins From Jambolan (SYZYGIUM CUMINI) Skins

PuspitaSari 1), Fitria Agustina 2), Mukhamad Komar 2), Unus 1), Mukhamad Fauzi 1), dan Triana Lindriati 1)

1Staf Pangajar Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP-Universitas Jember 2Alumni Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP-Universitas Jember

Diterima 18 Januari 2005 / Disetujui 18 Juli 2005

Anthocyanins were extracted from jambolan skins using neutral solvents e.i water, ethanol, sopropanol, water ; ethanol (1:1), water : isopropanol (1:1), ethanol : isopropanol (1:1), and water, ethanol, isoppropanol (1:1:1) at 5 and 270>C. the stability of the anthocyanins was as effected by pH, heat, oxidator, and light was investigated. The extraction using combination of water and isopropanol at 270C showed the highest total yield, i.e 71.54% (db). Furthermore, the highest anthocyanin concentration and yield were obtained in the extracts using combination of water and ethanol at 270>C i.e. 10 007.03 mg/L (db) and 2.78% (db), respectively. At low pH, the pigment extracts sowed high stability; and gradually decreased and lost color when the pH was increased. The greatest color intensity (red) was obtained at pHs values less than 3.5. The anthocyanins were relatively stable during heating temperature of 40 and 600C in which more than 80% of pigment could be maintained for 4 hour of heating. Heating at high temperatures (80 and 1000C) decreased the color stability more than 80%. Presence of oxidator H2O2 reduced the stability up to 73.52%. The UV and flouresecent light exposure for 7 days also reduced the stability by 11.47% and 10.62%, respectively.

Key words: Anthocyanins, Jambolan skin, Extraction, pigment stability

=====================================================================

PENGARUH PENGERINGAN DENGAN FAR INFRARED DRYER, OVEN VAKUM DAN FREEZE DRYER TERHADAP WARNA, KADAR TOTAL KAROTEN, BETA KAROTEN, DAN VITAMIN C PADA DAUN BAYAM(Amaranthus tricolor L.)

Effect of Drying with Far Infrared Dryer, Oven Vacuum, and Freeze Dryer on the Color, Total Carotene, Beta-Carotene, and Vitamin C of Spinach Leaves (Amaranthus Tricolor L.)

Asep Sopian 1, Ridwan Thahir 2, dan Tien R. Muchtadi 3

1 Alumni Fakultas Teknologi Pertanian, IPB 2 Kepala Balai Besar Penelitian Pasca Panen Pertanian, Bogor 3 Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian, IPB

Diterima 5 Juni 2005 / Disetujui 28 Agustus 2005

Spinach is a well known vegetable as a source of nutrition especially for is carotene. Soinach leaves need to be dried for application in product development of food like biscuit, extruded products and analysis. One the drying method that became popular is drying using infrared wave. The aim of this research was to compare the effect of blanching and drying (far infrared dryer, oven vacuum, and freeze dryer) on the color, total carotene, beta-carotene, and vitamin C of spinach leaves. Blanching and drying of increased brightness, a value, and b value. The a value is shows spinach brightness in mix red-green color while b value shows mix blue-yellow. Total carotene of fresh spinach decreased by 10.47% after blanching. Drying with vacuum decreased the total carotene by 39.31% (with blanching) and 31.66 (with blanching). Drying with freeze dryer decreased the beta carotene by 4.99% (with blanching) and 18.60% (with blanching). Drying with FIR dryer decreased spinach total carotene by 34.90% (with blanching) and 24.86% (with blanching). The beta-carotene of fresh spinach with balancing treatment decreased of by 16.53%.drying oven vacuum decreased the beta carotene by 42.80% (wiyh blanching) and 18.91% (with blanching). Drying with freeze dyer decreased the beta carotene by 29.03% (with blanching) the beta carotene. The decreased of beta-carotene is bigger than total carotene. Vitamin C of fresh spinach decreased by 20.35% after blanching. Drying with oven vacuum decreased of 55.77% (without blanching) and 65.42% (with blanching) f the vitamin C. drying with freeze dryer decreased the vitamin C by 13.21% (without blanching) and 30.67% (with blanching). Meanwhile, the vitamin C of spinach after drying with FIR dyer decreased of 60.53% (without blanching) and 70.29% (with blanching).

Key words: Spinach, drying, blanching, far infra red dyer, oven vacuum, freeze dyer, total carotene, beta carotene, vit C.

=====================================================================

PENGARUH ASAM ASKORBAT TERHADAP PEMBENTUKAN GEL MOFIBRIL IKAN MATA BESAR (Selar crumenophthalnus)

effect of ascorbic acid on gel formation of myofibril from big eye scad fish (Selar crumenophthalnus)

Achmad Subagio, Wiwik siti Windrati, Mukhamad Fauzi dan Yuli Witono

Lab. Kimia Dan Biokimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Taknologi Pertanian Universias Jember Jl. Kalimantan I JEMBER 68121 e-mail; a_subagio@telkom.net

Diterima 15 maret 2005 / Disetujui 18 Agustus 2005

Effect of ascorbic acid on gel formation of myofibril from big eye scad fish (Selar crumenophthalnus)were studied for its development as food ingredient. Myofibril was galled by the addition of various concentrations of ascorbic acid (0, 0.1, 0.2, 0.3 and 0.4%) and the gels were then characterized for its cooking loss, of the gel, but at 0.4% the cooking loss of gel increased significantly. Accordingly, the WHC of the gel changed insignificantly with the ascorbic acid addition below 0.3%, and decrease sharply in the addition of 0.4%. Gel textures were affected by the addition of ascorbic acid at all levels, namely 29.9 ± 1.9, 31.0 ± 0.3, 35.4 ± 0.4, 46.7 ± 1.5, and 115.7 ± 3.2 g/7 mm for 0, 0.1, 0.2, 0.3 and 0.4%, respectively. Sodium dodecyl sulfate – polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) showed that addition of ascorbic acid drove formation odfdisulphide bond in the myosin heavy chain (MHC) and other myofirillar proteins, resulting in the development of a strong three dimensions structure I myofibril gel as shown by microscopic structure.

Key words : Ascorbic acid, Big eye Scad Fish (Selar crumenophthalnus), el formation myofibril

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK BUNGA KECOMBRANG TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN PERUSAK PANGAN

Antibacterial Activity of Kecombrang Flower Extract Toward Pathogenic and Food Spoilage Bacteria

Rifda Naufalin 1, Betty Sri Laksmi Jenie 2, Feri Kusnandar 2, Mirnawati Sudarwamto 3, dan Herastuti Rukmini 4

1 Mahasiswa Sekolah Pascasarjana, Program Studi Ilmu Pangan, IPB
2 Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian, IPB
3 Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan, IPB
4 Staf Pengajar Fakultas Pertanian, UNSOED

Diterima 20 April 2005 / Disetujui 4 Agustus 2005

In this study, kecombrang flowers was extracted with non polar (hexane), semipolar (ethil acetate) and polar (ethanol) solvent. The result revealed that ethil acetat and ethanol extracts inhibited 7 bacteria, i.e : spore forming bacteria (Bacillus cereus), Gram positive bacteria (Staphylococcus aureus) and (Listeria monocytogenes), Gram negative bacteria (Salmonella typhimurium, Aeromonas hydrophila and Escherichia coli), spoilage bacteria (Pseudomonas aeruginosa) but did not inhibit Lactobacillus plantarum. The hexane extract did not show antimicrobial activity. On well diffusion test, ethil acetate developed clear zones of 12.3 – 27.3 mm (diameters) and this was higher than ethanol extract 11.0-15.4 mm (diameters). The MIC (minimum inhibitory concentration) of ethil acetate and ethanol extract against the seven bacteria were 3-13 mg/ml.

Key words : Kecombrang (Nicolia speciosa), antibacteria, extract

=====================================================================

BAHAN PENYERAP KMnO4 DAN ASAM L-ASKORBAT DALAM PENGEMASAN AKTIF (ACTIVE PACKAGING) UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN DAN MEMPERTAHANKAN MUTU BUAH DUKU (Lansium domesticum Corr.)

Adsorbers for KMnO 4 and L-Ascorbic Acid in the Active Packaging to Prolong the Shelve-Life and Maintain the Quality of Lanzone (Lansium domesticum Corr.)Fruits

Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung

Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung Jalan Sumantri Brojonegoro No. 1, Bandar Lampung 35145 E-mail: sewidodo@yahoo.com

Diterima 26 Januari 2005 / Disetuui 28 Mei 2005

To develop an active packaging of lanzone (Lansium domisticum Corr.) Fruits, KmnO4 as an ethylene scavenger and L-ascorbic acid as an oxygent scavenger were inserted into packaging. As direct contact of KmnO4 with agricultural product was not recommended and due to the liquid characteristic of both scavenger was carried out. This research was aimed at finding out the best adsorbers for KmnO4, L-ascorbic acid, and their combination in an active packaging to prolog the shelve-life and to maintain the quality of lanzone fruits. The result showed that 1) among the four adsorbers tested, pumice could was the best alternative as a KmnO4 or L-ascorbic acid adsorbers, and 2)) spon and pumice were the best alternative adsorber for the combination of KmnO4 or L-ascorbic acid. Both adsorber were effective in prolonging the shelve-live (8-11 days longer than with out packaging and as good as using silica gel and vermiculite) and maintaining the quality of lanzone fruits.

Key word: lanzone, duku, active packaging, KmnO4, L-ascorbic acid.

=====================================================================

MEKNISME DAN KINETIKA KUENSING KUERSETIN TERHADAP EFEK FOTOSENSITISASI PEWARNA MAKANAN SINTETIK ERITROSIN DALAM OKSIDASI MINYAK SAWIT

Mechanism and Kinetics of Quenching of Quercetin on Photosensitizing Effect of Synthetic Food Colorant Erythosine in Palm Oil Oxidation

Posman sibuea1), Sri Raharjo 2), Umar Santoso 3)

1) Dosen di jurusan Teknologi Hasil Pertanian Unika St. Thomas Medan
2) Dosen Jurrusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas
3)Teknologi Pertanian Universitasn Gadjah Mada Yogyakarta.

Diterima 20 Mei 2005 / Disetujui 29 Agustus 2005

The effect 0, 200, 400, 600, 800 and 1000 ppm (wt/vol) quercetin on the singlet oxygen oxidation of palm oil in methylene chloride containing 100 ppm erythrosine, were studied during storage under 400 lux fluorecent light for 5 h by measuring peroxide value. Steady-state kinetic approximation was used to determine the quenching mechanism and quenching rate constant of quercetin in the erythrosine-sensitized photo oxidation of palm oil. Erythrosine greatly increased the As photo oxidation of palm oil, as was expected. Quercetin was extremely effective at minimizing erythrosine-sensitized photo oxidation of palm oil. As the concentration of quercetin increased from 0 to 200, 400, 600, 800 and 1000 ppm, the peroxide value of palm oils decreased significantly (p9 M-1 S-1.

Key words : quercetin, Erythrosine, photo sensitized oxidation, singlet oxygen, palm oils and quenching mechanism and kinetics.

=====================================================================

KOMPONEN ASAM ORGANIK TEMPOYAK

Organic acids component of Tempoyak

Neti Yuliana

Staf Pengajar pada Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Diterima 12 Desember 2004 /Disetujui 11 April 2005

This study was mainly conducted to identify the of organic acids component of tempoyak. Acidity and pH changes during fermentation process of fermented tempoyak were also evaluated. The results revealed that there were significant changes in pH ranging from 7 to 4 and acidity (6 mg/g- 38 mg/g) attributed to organic acids present in tempoyak. These organic acids were malic acid (145,9 mg/ml), followed by lactic acid (34,1 mg/ml), and small amount of acetic acid (14,2mg/ml).

Key words: Tempoyak; organic acids; pH and acidity

=====================================================================

PRODUKSI PULLULAN DARI SUBSTRAT PATI SAGU OLEH Pullularia pullulans

The Pullulan Production From Substrate of Sagoo Starch By Pullularia pullulans

Dosis Undjung

Staf Pengajar Program Studi Pengolahan Hasil Pertanian, FAPERTA-UNPAR, Jl. Yos Sudarso Kampus UNPAR Tunjung Nyaho, Palangka Raya

Diterima 18 Januari 2005 /Disetujui 9 Juni 2005

The aim of this research was to recognize the potency of pullulan by Pullularia pullulans from hydrolyzed Sagoo starch as opposed to sucrose. Another objective was to find out a better condition for agitation of pullulan production in a batch fermentation.
Sagoo can be found in Kuala Kapuas, Central Kalimantan. Initially sago was made into sago starch. The Sago starch was then hydrolyzed to be used as substrate for pullulan production. As a comparison, sucrose was also used. Pullulan production was carried out by pullaria pullulans, T37A or CBS CYPP using various agitation rate & incubation period. The research showed that increase in agitation resulted in increase in pullulan production. At 100 rpm, the yield was 1.299 g/l while at 150 rpm yield was 1.546 g/l. Strain CBSCYPP also produced more pullulan than T 374.

Key words : Pullulan production, Sagoo starch and Pullularia pullulans

=====================================================================

PENGERINGAN KEMOREAKSI KULTUR Saccharomyces cerevisiae DENGAN CaO SERTA PENGARUH SORPSI KADAR AIR TERHADAP STRES DAN KEMATIAN KULTUR KERING

Chemoreaction Drying of Saccharomyces cerevisiae Culture with CaO and the Influence of Moisture Sorption Upon Stress and Death of the Dried Culture

Novelina1, Soewarno T. Soekarto2, Betty Sri Laksmi Jenie2, Susono Saono3, dan Maggy T. Suhartono2

1Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian UNAND Padang 2Program Studi Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB-Bogor 3Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Cibinong

Diterima 28 Oktober 2004 / Disetujui 12 Juli 2005

The aim of the research was to study chemoreaction drying of Saccharomyces cerevisiae culture and to a analyze the influence of moisture sorption on pattern of viability, stress and mortality of the dried starter culture.
The cell culture of S. cerevisiae was produced in glucose media with aerobic process in a fermentor at 30C. The cell obtained was dried in a using chemoreaction process. Drying was conducted by coating with various thickness of coating and various ratio of CaO and calcium oxide ratio used in drying. Dry culture of S. cerevisiae and protective agent of CMC and jelly were added to the dry culture. The mixtrure then was stored at in decicators at R H 11 up to 97% until water equilibrium was achieved. Later the patterns of stress from each sample of dry culture at various conditions of moisture was analyzed.
The result of the research showed that the best drying method was using coat thickness of 1.3 mm and calcium oxide 10 times the weight of dried sample. The condition of dry culture at low minimal water from 5 % were mostly in dormant state, the highest viability was at the rate of moisture of 5 % – 8 %, but a lot portion of the cells were inactive, and at the moisture higher than 8%, dead cells were observed. Addition 2% jelly of 2% CMC did not protect cells from stress.

Key words: Saccharomyces cerevisiae, chemoreaction drying, moisture sorption, dry stresses

=====================================================================

STUDI PENGARUH PENGGUNAAN BIFIDOBAKTERIA TERHADAP FLAVOR YOGHURT

Study on the Effect of the Use of Bifidobacteria on Flavor of Yoghurt

Suryono1, Adi Sudono2, Mirnawati Sudarwanto3 , dan Anton Apriyantono4

1Staf Pengajar Fakultas Perternakan, Universitas Jambi 2Staf Pengajar Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor 3Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor 4Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian , Institut Pertanian Bogor

Diterima 4 November 2004 /Disetujui 19 Juli 2005

This experiment was carried out to study the effect of bifidobacteria on flavor of yoghurt. Parameters measured in the experiment were acidity, pH, viscosity, volatile composition, sensory acceptance and intensity of yoghurt sensory attributes.
Results of the experiment indicated that the use of bifidobacteria in mixture of yoghurt culture was able to increase the levels of acidity and viscosity of yoghurt. The highest acidity and viscosity was found in yoghurt prepared by Lactobacillus bulgaricus and bifidobacteria mixture, and also by Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophilus and bifidobacteria mixture cultures. The major classes of volatile component identified were acids, alcohols, ketones and aldehydes. The major component identified were octanoic acid, acetoin and octadecanal. It was found that there was no significant difference in sensory acceptance of the panelist for colour, aroma and taste of yoghurt prepared by the various combination of cultures. However, consistency of yoghurt prepared by S. thermophilus with or without addition of bifidobacteria, was less compared to that of others. Yoghurt prepared by single culture of S. thermophilus showed higher intensity of bitter and syneresis. The use of bifidobacteria in the cultures mixture decrease the intensity of bitter and syneresis of the yoghurt.

Keywords : Bifidobacteria, L. bulgaricus, S. thermophilus, flavor of yoghurt

=====================================================================

MEKANISME PRODUKSI MINYAK SEL TUNGGAL DENGAN SISTEM FERMENTASI PADAT PADA MEDIA ONGGOK-AMPAS TAHU DENGAN MENGGUNAKAN KAPANG ASPERGILLUS TERREUS

The Production Mechanism of Single Cell Oil from Aspergillus terreus in a Solid Fermentation System Using a Mixture of Tapioca and Tofu Waste Media

Debby M. Sumanti, Carmencita Tjahjadi, Marleen Herudiyanto dan Tati Sukarti

Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian UNPAD Bandung

Diterima 20 Januari 2005 /Disetujui 8 Juli 2005

Fat is an important nutrient for health. Considering the ever-increasing annual demand for cooking oil as a result of the rapid increase in population new sources of poly-unsaturated fats must be searched for.
One potential source is the Single Cell Oil (SCO); production of SCO does not require vast areas of land, production time is relatively short and is not affected by enviromental conditions. Moreover, product synthesis and production volume can be easily controlled; Moreover, the tri-acyl-glyceral produced contain essential fatty acids, i.e linoleic and linolenic acid.
The objectives of this research was to study the influence of two mold strains of A. terreus and the C/N ratio of the growth medium consisting of cassava atarch and tofu processing waste on SCO production.
This research consisted of two parts. The first part was a study on keeping methods of pure cultures of A. terreus, preparation of starter cultures, isolation of mold from the starter culture and preparation of fermentation media. The second part of the research was fermentation of A. terreus strain FNOC 6039 and FNOC 6040 on solid media made of tapioca and tofu waste having C/N ratios of 25/1, 30/1, 35/1, 40/1 and 45/1. Post-fermentation observations on the growth medium slabs consisted of moisture, starch, total sugars and protein content and SCO production.
Both strain of A. terreus and C/N ratio affected moisture, starch, total sugars and protein content of the growth media. The A. terreus FNOC 6040 strain growth on a medium with C/N ratio of 45/1 was the most potential oil producer, i.e. 14,63% crude SCO. The oil was brownish yellow in color and has a slightly fishy aroma.

Keywords : Single Cell Oil, Solid Fermentation, Casava starch and Tofu Processing Waste, Aspergillus terreus mold strain.

=====================================================================

PENGARUH KADAR MINYAK TERHADAP EFEKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM SISTEM EMULSI OIL-IN-WATER

The Effect of Oil Concentration on the Antioxidants Effectivity in Oil-In-Water Emulsion System

Feti Fatimah1 , Dedi Fardiaz2, Anton Apriyantono3, dan Nuri Andarwulan3

1Staf pengajar FIMIPA-UNSRAT, Manado 2Guru Besar FATETA-IPB, Bogor 3Staf Pengajar FATETA-IPB, Bogor

Diterima 22 Desember 2004 /Disetujui 11 April 2005

The oxidation of lipids in emulsified form is more complex than that in bulk lipids. In the emulsified form, there are more variables influencing lipid oxidation, including oil concentration, type and concentration of emulsifier, pH and buffer system. The aim of this research was to study the effect of corn oil concentration on antioxidant effectivity of Oil-In-Water emulsion system.
The effectiveness of antioxidants in the system were determined by Rancimat. Hydroperoxides content was also determined during five days of oxidation. The polarity of antioxidant was measured by determining the partition coefficient in octanol-water system (1:1). The partition coefficient of butylated hydroxy toluene (BHT) was 10.19 (90.0%), -tocopherol was 8.44 (89.4%), t-butylhydroquinone (TBHQ) was 3.98 (79.9%), hydroquinone was 1.60 (61.5%), Trollox was 0.47 (32.0%) and gallic acid was 0.04 (4.4%).
The increase of oil proportion from 10% to 50% in emulsion system improved the oxidative stability of emulsion. The lower antioxidant polarity could increase the effectiveness of antioxidant in emulsion system with 10% corn oil proportion. The effectiveness of antioxidant was not absolutely depended on the order of polar paradox. The effectiveness was more influenced by its hydrogen donating capability and physicochemical properties of the emulsion system.

Key words: Antioxidant, emulsion, corn oil, polarity, partition coefficient polar paradox

=====================================================================

PENENTUAN WAKTU KADALUWARSA DAN MODEL SORPSI ISOTERMIS BIJI DAN BUBUK LADA HITAM (Piper ningrum L.)

Shelf Life Prediction and Isotherm Sorption Model of Dried Grain and Powdered Black Pepper (Piper ningrum L.)

Winiati. P. Rahayu1, M. Arpah1 dan Erika Diah2

1Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fateta-IPB 2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

Diterima 1 Februari 2005 /Disetujui 8 Juli 2005

Black pepper is one of the most popular spice traded around the globe, either in dried grain form or in bulky powder. However, for retailing purpose both are usually packaged in plastic film. This research was conducted to predict the shelf life of packaged black pepper (both dried grain and powder) by applying isotherm sorption and Labuza models. Initial moisture content of dried grain was 12.17 % d.b and for the powder was 10.27 % d.b. The shelf life of black pepper calculated for the dried grain was longer than the powder. When stored at 90 % RH, the dried grain black pepper packaged in HDPE demonstrated the longest shelf life which was equal to 2187 days and for the powder equal to 2037 days. The volatile oil loss for dried grain black pepper after 30 days of preservation was 1.36 % and for the powder was 40.82 %.

Key words: Black pepper, shelf life, plastic film.

=====================================================================

PENGARUH EKSTRAK ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) TERHADAP PERMEABILITAS DAN HIDROFOBISITAS Bacillus cereus

Effect of Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) Extracts upon Permeability and Hidrophobicity of Bacillus cereus

Adolf JN. Parhusip1, Betty Sri Laksmi Jenie2, Winiati Pudji Rahayu2 , Sedarnawati Yasni2

1Staf Pengajar pada Jurusan THP, FAPERTA Unika St. Thomas Medan 20123 2Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 27 April 2005/ Disetujui 6 Juli 2005

Andaliman spice is usually added as one of main spices in cooked fish and meat. Andaliman seeds were extracted using maceration method with nonpolar, semipolar and polar solvents. The result showed that the three kinds of andaliman extract had antibacterial activity on Bacillus cereus, especially during exponential phase (8 hour incubation period). Ethyl-acetate extract of Andaliman showed the highest antibacterial activity toward B. cereus with MIC and MBC values being 0.2% and 0.8% respectively. The permeability of B. cereus was observed at the dose of 2.5 MIC and 60.30% hydrophobicity leakage was obtained at 6% andaliman extracted by ethyl-acetate.

Key words: Andaliman, extract, hydrophobicity, antibacterial, cell- leakage.

=====================================================================

PENGARUH KOMPOSISI LAPISAN PADA PERMUKAAN GLOBULA MINYAK EMULSI SEBELUM PENGERINGAN SEMPROT TERHADAP SIFAT-SIFAT MIKROKAPSUL TRIGLISERIDA KAYA ASAM LEMAK -3

The Effect of the Composition of Adsorbed Layer at Globule Interface of -3 Fatty Acids Enriched Triglyceride Prior to Spray Drying on its Microcapsule Properties

Teti Estiasih1, Moch. Adnan2, Tranggono2, dan Suparmo2

1Staf Pengajar Jurusan THP-FTP – Universitas Brawijaya 2Staf Pengajar Jurusan TPHP-FTP-UGM

Diterima 24 Desember 2004 /Disetujui 6 Juli 2005

Emulsification is the critical factor in microencapsulation by spray drying method. Sodium caseinate is a protein with good emulsifying properties. The properties could be improved by phospholipids addition in the emulsification. Phospholipids addition which stabilized oil globule might change the composition of adsorbed layer.
This research was conducted to analyze the changes in composition at oil globule interface by analyzing emulsion systems of triglyceride enriched by -3 fatty acids at 5% (w/v) stabilized by sodium caseinate (10% w/v) and addition of phospholipids at 0; 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; and 2,5% (w/v). The changes in composition of adsorbed layer could be determined from the changes in phospholipids and adsorbed protein concentrations at oil globule interface. Analyses were done to measure the possibility of casein-phospholipids complex, phospholipids and protein adsorption concentration at interface, and adsorbed protein.
The increase of phospholipids concentration in the emulsions stabilized by sodium caseinate changed the composition of adsorbed layer at interface. There was phospholipids increase and adsorbed protein decrease at oil globule interface. These changes were caused by casein-phospholipids complex which that decreased surface activity and displacement protein by phospholipids that was adsorbed at oil globule interface.
Changes of composition of casein-phospholipids at oil globule prior to microcapsulation process caused changes in the properties of microcapsule produced. The increasing phospholipids and decreasing casein concentrations at oil globule interface decreased the quality of the microcapsule, including decreasing in microencapsulation efficiency, in oxidative stability, and decreasing in EPA+DHA content.

Key words : Emulsification, microencapsulation, adsorbed layer, surface acitvity, displacement

=====================================================================

EKSTRAKSI DAN ANALISIS FITOSTEROL LEMBAGA GANDUM (Triticum sp.)

Extraction and analysis of Phytosterol from wheat germ (Triticum sp.)

Sri Anna Marliyati1, Hidayat Syarief1, Deddy Muchtadi2, Latifah K.Darusman3, dan Rimbawan1

1Staf Pengajar Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Faperta IPB 2Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta IPB 3Staf Pengajar Departemen Kimia, F-MIPA IPB

Diterima 27 April 2005 /Disetujui 20 Juni 2005

Phytosterol may reduce the absorption of cholesterol, and used for preventing atherosclerosis. It is limited in soybean, but potentially abundant in wheat germ. Research on the utilization of wheat germ sterol had not been reported so far. Many aspects of germ sterol extraction from wheat germ and its characteristics were still unknown. In this research, the best extraction method, kinds and content of phytosterol from wheat germ were investigated.
This research consisted of two steps: (1) extraction of phytosterol directly form whole germ and ground germ using hexane, and indirect extraction through germ oil using hexane and mixed solvent of hexane and ethanol, and direct extraction from ground germ using ethanol; (2) analysis of the type and content of phytosterol in the crude extract through the following steps: preparation of crude extract, fractionation, and analysis.
Results showed that indirect extraction through germ oil was considered as the best method which yielded 1.37% of phytosterol. The highest yield was obtained when extracted using a mixed solvent of hexane – ethanol 82:18. However, the odor of ethanol and hexane (gasoline like odor) was still detected. The solvent’s ratio of hexane to ethanol at 1:2 resulted better odor of the extract. Extraction of sterol using ethanol yielded 18.39% of sterol when the ratio of germ to ethanol at 1:10 (w/v) was applied.
Results of quantitative analysis on the main component of crude extract of wheat germ sterol showed that the total content of sterol extracted with mixed solvent was higher than those extracted with ethanol. The ratio of hexane to ethanol at 1:1 (v/v) gave higher content of total sterol, stigmasterol and campesterol, whereas higher content of -sitosterol was produced at the solvent’s ratio of hexane to ethanol at 1:2 (v/v).

Keywords: Wheat germ sterol, extraction, -sitosterol, stigmasterol, campesterol

=====================================================================

KAJIAN TEKNOLOGI EDIBLE COATING DARI PATI DAN APLIKASINYA UNTUK PENGEMAS PRIMER LEMPOK DURIAN

[Technological Assessment of Starch Edible Coating and Its Application on Primary Packaging of Durian Sweets]

Budi Santoso1, Daniel Saputra2, dan Rindit Pambayun2

1Alumni PS Agribisnis PPS UNSRI dan Dosen Jurusan Tekper UNSRI
2Dosen PS ABI PPS UNSRI dan Jurusan Tekper UNSRI

Diterima 9 November 2004 / Disetujui 23 Maret 2005

The study objective was to determine the shelf life of edible coating packaged of durian lempok. The experimental method used in this study was Factorial Randomized Block Design consisting of three factors. These factors were tapioca starch, stearate acid, and CMC. The edible coating solution was applied in to durian lempok by using dip method. The result showed that edible coating packaged of durian lempok could increase the durian lempok shelf life by 67 percent than durian lempok without edible coating. The edible coating was capable of decreasing the durian lempok weight loss by magnitude of 36.38% during storage, decreasing the peroxide number by magnitude of 33.33%, decreasing the water content by magnitude of 7.54%, and suppressing the microbial growth by the amount of 31.20%, respectively. Visual change of non-coating lempok had occurred on the day of 19th, which was indicated by greyish-white colour change due to certain type of mold on lempok surface, while the similar change happened at day of 31th (T2A3C3 treatment).

Key words : Tapioca, CMC, stearate acid, and edible coating.

=====================================================================

CHARACTERISTICS OF PHYTASES FROM SOYBEANS AND MICROORGANISMS INVOLVED IN THE TEMPE PRODUCTION

CHARACTERISTICS OF PHYTASES FROM SOYBEANS AND MICROORGANISMS INVOLVED IN THE TEMPE PRODUCTION

Sutardi1 and K.A. Buckle2

1Lecturer, Department of Food and Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Gadjah Mada University, Yogyakarta
2Professor Department of Food Science and Technology, The University of New South Wales, PO Box 1, Kensington, NSW 2052 Australia.

Diterima 4 Oktober 2004 / Disetujui 21 Maret 2005

Tempe was prepared from Forest variety of soybeans inoculated with pure culture of the mould Rhizopus oligosporus strain CT11K2. Partially purified phytases from soybeans, mould of the R. oligosporus strain CT11K2, yeasts (Endomycopsis burtonii, Candida diddensiae and Candida tropicalis) and bacteria (Streptococcus faecium and Streptococcus dysgalactiae) involved during tempe production were prepared according to procedure developed by Sutardi (1988). The crude phytases were characterized and phytic acid, inorganic and total phosphorous content of soybeans, intermediate products and tempe, were also determined.

Results show that phytases, produced by microorganisms involved in tempe production, and by endogenous soybean phytase, had significantly different characteristics especially on optimum pH, temperature and substrate, Km and Vmax values, inactivation and activation energy and also temperature coefficient. All phytases contribute to the reduction in phytic acid content; and mould phytase, especially the extra-cellular enzyme, and the endogenous soybean phytase, showed the dominant effect on phytic acid degradation compared with other microbial phytases and physical treatments such as soaking, boiling and steaming.
Phytic acid content of soybeans was reduced by more than 50% from about 10.4 to about 4.9 – 5.0 mg/g (DWB) in fresh tempe (after 40 h fermentation at 30oC).

Key words: Characteristics, pytase, soybeans, microorganisms, tempe.

=====================================================================

FORTIFIKASI IODIUM DALAM GULA KELAPA : PENGARUH SAAT FORTIFIKASI DAN SUMBER IODIUM

[Iodine Fortification on Brown Sugar : The Effect of Fortification Period and Source of Iodine]

Rifda Naufalin, Budi Sustriawan, dan Poppy Arsil

Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian UNSOED

Diterima 15 Agustus 2004 / Disetujui 3 Maret 2005

Gula kelapa is a traditional and potencial comodity in Banyumas. Fortification with iodium in gula kelapa should be criteria were iodium in product over than 30 ppm bk. Fortification process was need a long thermal process. Stability of iodium in gula kelapa has been studied. The experimental method used Randomized Block Design. The factors analyzed were three kinds of fortification (fresh nira, nira prosessed, nira cristalization) and four kinds of iodium (control, NaI, KI, and KIO3) with 3 replications, and total were 36 unit. The result of the research showed that fortification when nira after endpoint with kalium iodida is the best interaction, iodium content is 34,89 ppm db.

Key words : Brown sugar, fortification, iodine

=====================================================================

PENGARUH PEMBERIAN GULA MERAH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KADAR GIZI DAN RASA TELUR ITIK ASIN

[The Effect of Palm Sugar and Storage on Nutrient Content and Taste of Salted Duck’s Egg]

Yenni Yusriani

Staf Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NAD

Diterima 14 Juli 2004 / Disetujui 15 Maret 2005

This research used 150 duck eggs age one as subject day. There were two factors analyzed here. The first was the amount of palm sugar which consisted of 25 grams, 50 grams, and 75 grams. The second factor were the storage duration which consisted of 3, 4, and 5 weeks. The nutrient content parameters measured were rates protein, fat and ash content. Sensory quality parameters measured were color and taste. The analysis showed that in processing/making salted duck egg, palm sugar addition influenced protein content significantly (Fc ===================================================================== 7,0 > Ftab ===================================================================== 4,5) fat content ( Fc 67,3 > Ftab===================================================================== 8,7) and ash content (Fc ===================================================================== 64,6 > F tab ===================================================================== 8,7) very significantly. However, organoleptic test showed that palm sugar addition did not influenced color and taste of salted duck egg significantly. Storage duration influenced protein content significantly (Fc===================================================================== 6,9 F tab ===================================================================== 8,7) but did not significantly influenced ash content (Fc ===================================================================== 3,5 , dan Fanie Herdiani 2)

1)Staf Pengajar di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
2)Alumni Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 6 Januari 2004 / Disetujui 24 Mei 2004

Indonesia is known as a country rich in species of seaweed. The most important components of seaweed are iodine and dietary fiber. Eucheuma cottoni is one species of seaweed that can be used as a source of iodine and dietary fiber. Iodine deficiency can cause several diseases also known as IDD (Iodine Deficiency Disorder), while deficiency of dietary fiber can cause some degenerative diseases. This research is taken to develop the utilization of Eucheuma cottoni as an ingredient in the making of jam and “dodol” (Indonesian traditional snack food).
The best ratio of seaweed and sugar for jam production was 37:63, while the best ratio of seaweed and glutinous flour in making dodol was 5:2. The addition of seaweed on jam and dodol formula increased their iodine and dietary fiber contents. The iodine content of jam and dodol was 17.79 and 19.57 µg/g, respectively. The dietary fiber content of jam and dodol was 5.75 and 5.63%, respectively.

Key words : Disorder, dietary fiber, dodol, jam, seaweed

=====================================================================

PRODUKSI YOGHURT SHITAKE (YOSHITAKE) SEBAGAI PANGAN KESEHATAN BERBASIS SUSU

[Production of Yoghurt Shiitake (Yoshitake) as a Dairy-Based Nutraceutical Food]

Indratininingsih 1), Widodo 1), Siti Isrima Oktavia Salasia 2), dan Endang Wahyuni 1)

1)Jurusan Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan UGM, Jl. Agro Karangmalang-Yogyakarta 55281
2)Fakultas Kedokteran Hewan UGM-Yogyakarta 55281

Diterima 31 Desember 2003 / Disetujui 21 Mei 2004

The objective of this project was to produce shiitake-containing yoghurts as nutraceutical food. Preliminary analysis was conducted to measure nutrient contents of shiitake followed by evaluation of shiitake’s addition on the growth of yoghurt bacteria and probiotics. Yoghurt fermentation was conducted at 420C until pH reached 4.5. Culture starter used were Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus and Lactobacillus casei with proportion of 1:1:1. During fermentation, acidification rate, pH, titratable acidity, total of yoghurt bacteria, total of probiotics, and concentration of lentinan in the products were measured. The result showed that shiitake powder contains crude protein (22.35%), starch (16,66%), fat (11,56%), ash (7.73%), dry matter (87.57%), dietary fibre (33.35%) and unsoluble dietary fibre (5.45%).
The result also showed that supplementation of 4% shiitake powder support the growth of probiotics L. casei and resulting in growth optimum at 1.26 x 109 cells/ml and 2.86 x 109 cells/ml after incubation of 6 and 10 hours respectively. Time needed to reach pH 4.5 of yoghurt supplemented with 4% shiitake powder was achieved after 7 hours of incubation as compared to 8 hours for the unsupplemented one. Total number of probiotics after fermentation of yoghurt with 4% shiitake was higher (7.16 x 109 cells/ml) as compared to the control at 5.3 x 109 cells/ml. Lentinan analysis in yoghurt showed that supplementation 4% of shiitake powder resulted in the highest lentinan accumulation at 22.8% compared with 2.3% for control and 2.9% for 2% shiitake supplementation. It can be concluded that yoghurt shiitake could be applied as nutrient food due to its high nutritious and lentinan content in the product.

Key words : Yoghurt, shiitake, nutraceutical food

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIMIKROBA PADA SUSU KUDA SUMBAWA

[Antimicrobial Activity of the Sumbawa Mare Milk]

Hermawati 1), Sudarwanto, M 2), Soekarto, S.T. 3), Zakaria, F.R. 3), Sudardjat, S 4), dan Tjatur Rasa F.S. 5)

1)Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian
2)Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan-IPB, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor
3)Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan da Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
4)Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian
5)Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan

Diterima 10 Januari 2004 / Disetujui 28 April 2004

The research objectives where to verify the antimicrobial activity of mare milk from Sumbawa island and to further study the characteristics of the antimicrobial compound. The experiments were conducted involving 115 milk samples of Sumbawa mare and three different groups of control milk i.e. from 20 milk samples of working/ cart mares from Java, 2 samples of racing mares from Tangerang horse farm and 15 samples of dairy cows from Bogor.
The results concluded that all milk samples of Sumbawa mares contained strong antimicrobial activity as tested to 9 species of bacteria. All control samples did not show antimicrobial activity, except milk samples from racing mares which showed low antibacterial activity. The racing mares were then indentified as crossbred between male Thoroughbred and female Sumbawa horse. This finding supports and suggests that the native Sumbawa horses have genetic potential to the antimicrobial activity in their milk produced. Polarity tests using 5 organic solvents of different polarity indicated that the antimicrobial activity compound was very polar but had lower polarity than water. The bioactive coumpound did not dissolve in non polar hexane but strongly dissolved in the polar methanol solvent.

Key words : Mare milk, Sumbawa horses, antimicrobial activity, milk protein.

=====================================================================

IDENTIFIKASI CHARACTER IMPACT ODORANTS BUAH KAWISTA (Feronia Limonia)

[Identification of Character Impact Odorants of Wood Apple Fruit (Feronia Limonia)]

Anton Apriyantono 1), dan Bakti Kumara 2)

1)Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
2)Alumni Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 1 Januari 2004 / Disetujui 25 Maret 2004

The volatiles of the kawista fruit (wood apple) were analyzed by gas chromatography (GC) and a combined gas chromatography-mass spectrometer (GC-MS). Character impact odorants of the fruits were systematically characterized by aroma extract dilution analysis (AEDA) with GC-Olfactometry (GC-O). A total of 75 compounds were identified, including 28 esters, 11 alcohols, 10 aldehydes, 1 acetal, 10 ketones, 4 lactones, 1 heterocyclic, 4 aliphatic hydrocarbons, 1 furan and 5 acids. However, only 44 volatiles were detected by GC-O. Among these, compounds with the most impact were ethyl butyrate (fruity, sweet, banan-like)and methyl butyrate (fruit, sour) with a flavor dilution factor of 256 and 64, respectively. Based on AEDA results, butyric acid, 3-mathyl valeric acid, 1-octen-3-ol, pentyl isobutyrate, 2-ethyl hexanoic acid, ethyl octanoate, gamma-decalactone, 2,3-pentanedione, 3-octanone, 5-methyl-3-heptanone, 9-methyl-5-undecene and (E)-2-hexenyl butyrate seem to contribute to kawista fruit flavor. Key words : Character impact compounds, GC-MS, GC-Olfactometry, AEDA, Feronia limonia

=====================================================================

RESPONS HORMONAL-IMUNITAS WANITA PREMENOPAUSE YANG DIINTERVENSI MINUMAN FUNGSIONAL BERBASIS SUSU SKIM YANG DISUPLEMENTASI DENGAN 100 mg ISOFLAVON KEDELAI DAN 8 mg Zn-sulfat (SUSUMENO)

[Hormone-Immunity Response of Premenopausal Women Intervened with Skim Milk Based Functional Drink Supplemented with 100 mg Soy Isoflavone and 8 mg Zn-sulfate (Susumeno)]

H. Winarsi 1), D. Muchtadi 2), F.R. Zakaria 2), dan B. Purwantara 3)

1)Staf Pengajar Fak. Biologi UNSOED Purwokerto, Jl. DR. Soeparno Karangwangkal, Purwokerto 53123
2)Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
3)Staf Pengajar Departemen Reproduksi Fakultas Kedokteran Hewan-IPB, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor

Diterima 20 November 2003 / Disetujui 28 April 2004

The study was conducted to evaluate the effect of intervention of skim milk based functional drink supplemented with 100 mg of soy isoflavone and 8 mg of Zn-sulfate (susumeno) on serum estradiol and thymulin hormones levels of permenopausal women. After 2 month of intervention, the estradiol levels did not change, and the levels were in the range of 39,16 – 41,99 pg/ml. However the thymulin hormone levels increased significantly from 2,37 µg/ml to 3,31 µg/ml. Increase in thymulin levels shows that the disfuction of immune system of premenopausal could be improved by the functional drink. Key words : Estradiol, thymulin, soy isoflavone, Zn, premenopausal women.

=====================================================================

PENENTUAN KADAR IODIDA DAN IODAT DALAM GARAM BERIODIUM DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI PASANGAN ION

[Determination of Iodate and Iodide Content in Iodized Salt By Ion Pair High Performance Liquid Chromatography Method]

Wisnu Cahyadi 1), Kurnia Firman 2), Slamet Ibrahim 2), dan Embit Kartadarma 2)

1)Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung, Jl. Setiabudhi N. 193 Bandung 40153
2)Staf Pengajar Departemen Farmasi FMIPA Institut Teknologi Bandung

Diterima 9 Desember 2003 / Disetujui 21 April 2004

Two species of iodine, i.e. iodide and iodate in commercial iodized salt were determined using ion pair HPLC. From 15 samples analysed, the iodide and iodate content ranged from 24,05 ± 2,51 to 70,25 ± 3,78 ppm and from 31,43 ± 8,10 to 87,59 ± 0,44 ppm, respectively. The method used was found satisfactory in terms of precission, accuracy, sensitivity and selectivity, therefore the method seem acceptable for the determination of iodide and iodate content in iodized salt samples.

Key words : Iodine species, determination of iodine species content, and ion-pair HPLC

=====================================================================

PENENTUAN KADAR IODIDA DAN IODAT DALAM GARAM BERIODIUM DENGAN METODE KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI PASANGAN ION

[Determination of Iodate and Iodide Content in Iodized Salt By Ion Pair High Performance Liquid Chromatography Method]

Wisnu Cahyadi 1), Kurnia Firman 2), Slamet Ibrahim 2), dan Embit Kartadarma 2)

1)Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan Fakultas Teknik Universitas Pasundan Bandung, Jl. Setiabudhi N. 193 Bandung 40153
2)Staf Pengajar Departemen Farmasi FMIPA Institut Teknologi Bandung

Diterima 9 Desember 2003 / Disetujui 21 April 2004

Two species of iodine, i.e. iodide and iodate in commercial iodized salt were determined using ion pair HPLC. From 15 samples analysed, the iodide and iodate content ranged from 24,05 ± 2,51 to 70,25 ± 3,78 ppm and from 31,43 ± 8,10 to 87,59 ± 0,44 ppm, respectively. The method used was found satisfactory in terms of precission, accuracy, sensitivity and selectivity, therefore the method seem acceptable for the determination of iodide and iodate content in iodized salt samples.

Key words : Iodine species, determination of iodine species content, and ion-pair HPLC

=====================================================================

PRODUKSI PIGMEN ANGKAK OLEH MONASCUS

[Production of Angkak Pigments by (Monascus)

K.H. Timotius

Lab. Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian Universitas Kristen Satya Wacana , Jl. Dipenogoro No. 52-60, Salatiga 50711

Diterima 5 Maret 2004 / Disetujui 10 Mei 2004

Monascus is one of the important molds for producing food colorants. Monascus produces non polar, semi polar, as well as polar food colorants and brown, red or yellow poliketide pigments. The production is usually done under solid state system, but various submerged system have been develop. Immobilized system showed prospective results. The pigments production is influenced by the availability of carbon and nitrogen sources, humidity, temperature, pH, and aeration. Poliketide pigments are used as food colorant in animal products, beverages, yoghurt, nata de coco, and daily home cooking practices. The stability of the pigments is influenced by temperature (various heating treatments), pH (acidity), oxygen, water activity, and light. Beside pigments, Monascus also produces various non-pigment metabolites, such as citrinin (a nephrotoxic agent), lavostatin (a hypocholesteremic agent), a monascidin (an antibacterial agent).

Key word : Angkak, Monascus purpureus, natural pigment, polikatide pigment

=====================================================================

KARAKTERISTIK SPEKTROSKOPI ISOLAT KOMPONEN ANTIBAKTERI BIJI ATUNG (Parinarium glaberrimum Hassk)

[Spectroscopic Characteristics of Antibacterial Component of Atung (Parinarium glaberrimum Hassk) Seeds]

Murhadi 1), Soewarno T.S. 2), Betty S.L. Jennie 2), Anton Apriyantono 2), dan Sedarnawati Yasni 2)

1)Staf Pengajar Jurusan Teknologi Hasil Pertanian (THP), Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Unila)
2)Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Relative purity assay on antibacterial components (isolates) of “atung” seeds using HPLC system (linier gradient of water-methanol, detection on UV at 280/254 nm) showed that the isolate-9 had the highest purity (94%), followed by isolate-6 (69%), isolate-7 (66%), and isolate-12 (66%) respectively; while the other isolates only had 50% of purity. The UV-Visible spectrophotometer analysis on the isolate-9, showed that the λmax (in methanol) were at 213 and 269 nm. From IR spectrum of the isolate, no more information can be obtained except the presence of C-H stretching. Furthermore, the MS spectrum showed that the fragment ion series of 44 (100%), 57, 69, 83, 97, 115, maybe predicted as aliphatic amine compounds.
Key word : Relative purity, methanol, C-H Stretching, fragment ion series, aliphatic amine compounds.

=====================================================================

PENGGUNAAN GETAH PAPAYA DALAM SINTESIS ESTER XILITOL ASAM LEMAK (EXAL)

[The Use of Papaya Exudates for Fatty Acid Xilitol Synthesis]

Suhardi

Staf Pengajar FATETA-UGM, Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur Yogyakarta 55281

Diterima 23 September 2002 / Disetujui 10 November 2003

Fatty acid xylitol-ester (FAXILE) are xylitol esters of fatty acids with one to five DE (degree of esterification) value. FAXILE with DE value of 3 or higher can be used as low calorie fat replacer since they have low digestive property; while the xylitol ester with DE of less than 3 can be used as emulsifier. The FAXILE synthesis experiments were carried out by esterification of xylitol with palm oil¡¦s fatty acid (POFA) using papaya exudates as a lipase source. The objective of this experiment was to evaluate the potential of papaya exuadates for the synthesis of FAXILE. In this first experiment, test were carried out to determine hydrolytic activity of lipases obtained from different part of papaya plant. The test, were performed with the presence of CaO and under different pH value. The papaya exudates were used for FAXILE synthesis under an optimum condition obtained from the first experiment. Samples were drawn during incubation at 40„aC for 1,2,3, and 4 days and hydroxyl number was analyzed to confirm the ester formation. The results showed that the most active exudate was from papaya leaves, followed by exudates from fruit with hydrolytic activity of 653 and 296 ƒ�mol/g. minutes, respectively. The hydrolytic activity of the fruit exudate was optimum at pH 6.0, at 45-50„aC, with the addition of CaO 4% dry exudates. The FAXILE synthesis with acid of papaya exudates was optimum at pH 6.0, at 45„aC with molar ratio of xylitol: fatty acids was 1 to 6,3 days incubation. At this condition the conversion rate xylitol to FAXILE was 79%.

Key words : Papaya exudates, ester of xylitol-fatty acid, FAXILE, POFA (Fatty acid xylitol ester)

=====================================================================

KARAKTERISTIK FISIK, KOMPOSISI KIMIA DAN UJI ORGANOLEPTIK TELUR AYAM MERAWANG DENGAN PEMBERIAN PAKAN BERSUPLEMEN OMEGA-3

[Physical Characteristic, Chemical Composition and Organoleptic Test of Merawang Chicken Egg Fed with Omega-3 Supplementation Diet]

Iman Rahayu HS

Staf Pengajar Jurusan Ilmu Produksi Ternak, FAPET-IPB, Jl. Rasamala Kampus IPB Darmaga, Bogor

Diterima 20 Maret 2003 / Disetujui 15 Agustus 2003

Chicken egg is a good quality animal protein source. The quality of the egg can be improved with spesific feeding, such as omega-3 supplemented diet. Merawang chicken is one of local Indonesian chicken domesticated at Bangka Island, South Sumatera, and popular as a layer bird. The aim of this research was to study the effect of omega-3 supplementation on the physical characteristic, chemical composition and organoleptic test of Merawang chicken eggs. One hundred and thirty six eggs (73 eggs were control and 63 eggs was omega-3 suplemented) were collected from 64 Merawang chicken for eleven weeks. Feeding were arranged isonitrogenous (15.8%) and isocaloric (2650 kkal/kg), and fed ad libitum. Omega-3 feeding was produced from fermentation of soybean waste (ampas tahu) and mold (Rhizopus oligosporus), then mixed with sea fish oil waste (1:1, w/w). The result showed that no significant effect of the treatment on physical characteristic parameter. Omega-3 eggs significantly (PPS Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Bandar Lampung
Jln. Soekarno Hatta Rajabasa-Bandar Lampung, Telp. (0721) 703995 Fax (0721) 787309
2Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 23 September 2002/Disetujui 22 April 2003

This research was aimed at characterization of maltodextrin DP 3-9 (produced by enzymatic hydrolysis and membrane separation process) as compared to commercial maltodextrin and glucose and assessment of its potential application as carbohydrate source in sport drink. The research showed that application of maltodextrin DP 3-9 had some advantages as compared to glucose with regard to absorption rate that was 2 times longer (60 minutes instead of 30 minutes), osmolality degree that was 5,6 times lower (178 mOsmol/kg as compared to 1000 mOsmol/kg), and relative sweetness degree that was 10 – 11 times lower (6,15-7,20 as compared to 57,00-61,00). However, thie application of maltodekstrin DP 3-9 had limitation which was shown by its viscosity characteristic that was 5,70 — 6,20% higher (1,29 cSt and 1,37 cSt as compared to 1,22 cSt and 1,29 cSt). When compared to commercial maltodextrin, maltodextrin DP 3-9 is favorable as carbohydrate source in sport drink based on its absorption rate that was more than 2 times faster (60 minutes as compared to more than 120 minutes) and storage stability at refrigeration temperature (which was more than 8 weeks, with or without sterilization; with sterilization).

Key words : Maltodextrin DP 3-9, carbohydrate source and sport drink

=====================================================================

KINETIKA PERTUMBUHAN Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus sp. PADA MEDIA MRS CAIR

[Growth Kinetics of Lactobacillus plantarum and Lactobacillus sp. in MRS Medium]

Yoyok B. Pramono1 , Eni Harmayani2 , dan Tyas Utami2

1Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281. E-mail : yok_bp@hehe.com
2Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, FTP Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281.

Diterima 23 September 2002/Disetujui 17 April 2003

Lactobacillus plantarum FNCC 250 and Lactobacillus sp. FNCC 401 were isolated from traditional fermented food which had potential properties as probiotic agents and to reduce cholesterol. The aim of the research was to study the growth kinetics of Lactobacillus plantarum FNCC 250 and Lactobacillus sp. FNCC 401 at MRS medium, using glucose a substrate limiting factor. Cells were inoculated into MRS medium containing glucose concentration of 0.05 ; 0.1 ; 0.2 ; 0.3 ; 0.5 ; 1 ; 1.5 ; 2 ; and 3 % (w/v). Fermentation was carried out at 37oC, with initial pH 6.8 and was monitored for 24 hours. During the fermentation, dry cell weight, reducing sugar and pH were analysed. The results showed that Ks ( the substrate saturation constant) of Lactobacillus plantarum FNCC 250 was 0.04 (g.l-1) ; ì max (the maximum growth rate) was 0.17 (h-1) ; and Y (growth yield) was 0.24 ( g.g-1), meanwhile for Lactobacillus sp. FNCC 401 Ks was 0.06 (g.l-1), ì max was 0.26 (h -1) ; and Y (growth yield) was 0.24 ( g.g -1).

Key words : Fermentation, growth kinetics, Lactobacillus plantarum, and Lactobacillus sp.

=====================================================================

PENGEMBANGAN PRODUK AGROINDUSTRI JAMU DAN ANALISIS STRUKTUR KELEMBAGAANNYA

[Jamu Industry Products Development and Their Instutional Structure Analysis]

Kusnandar1 , dan Marimin2

1Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret , Jl. Ir. Sutami 36 A Solo 57126
2Jurusan Teknologi Industri Pertanian, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 10 Oktober 2002/Disetujui 26 Februari 2003

Indonesia is a rich country for many kinds of medicinal plants which become important raw material for jamu industry development. This paper discusses jamu industry products selection and institutional structure analysis for the jamu industry development. The result of products selection using “fuzzy non numeric decision making technique� shows that powder jamu is the best product to be developed and institutional structure analysis using “interpretative structural modelling technique� shows that municipal goverment is the institution which has strongest driver power for jamu industry development.

Key words : Interpretative structural modelling, jamu industry, and decision making

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH ANDALIMAN (Zanthoxylum acanthopodium DC) DALAM BEBERAPA SISTEM PANGAN DAN KESTABILAN AKTIVITASNYA TERHADAP KONDISI SUHU DAN pH

[Antioxidative Activity of Andaliman Fruit Extract (Z. acanthopodium DC.) on Several Food System and its Antioxidative Stability on Temperature and pH Influence]

Tensiska1 , C. Hanny Wijaya2 , dan Nuri Andarwulan2

1Jurusan Teknologi Pertanian, FAPERTA, Universitas Padjajaran, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung
2Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA , Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 10 September 2002/Disetujui 13 Maret 2003

The extraction of the andaliman fruit was conducted by using ethanol, and hexane. The hexane residue was reextracted by ethanol. The protection factor of the extracts is 3.823, 1.486, and 3.84 respectively. While the protection factor of BHT is 2.828. The research shows that andaliman fruit extract has the highest antioxidative activity on aqueous system. While in emulsion and oily system, andaliman extract still have a moderate activity. The antioxidative activity is relatively stabile during heating. Heating up to 175„aC in aqueous system for 2 hours is merely reduce the activity to 17%. The protection effect increase during the increasing of pH (examined at pH 3,4,5,6, and 7), except at pH 4.
Key words : Andaliman, antioxidative activity, heating, and pH.

=====================================================================

FENOMENA HISTERESIS ISOTERMI SORPSI AIR PADA GRANULA PATI AMILOSA GRANULA PATI AMILOPEKTIN, PROTEIN, DAN SELULOSA

[Hysteresis Phenomena of Moisture Sorption Isotherm in Amylose, Amylopectin, Protein, and Cellulose]

Nur Wulandari1, dan Soewarno T. Soekarto1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 25 September 2002/Disetujui 13 Maret 2003

Hysteresis phenomena of four basic food compounds (amylose, amylopectin, casein, and cellulose) were studied after 9 days equilibration in descicators at 28oC. Adsorption experiments started from 2% moisture content and desorption from wetted samples with excessive moisture. In starch and protein, the hysteresis occurred in the middle range of the sorption isotherm in the range of 10 – 90% RH and no hysteresis at the lowest and highest ranges of RH. While in cellulose hysteresis started at about 10% RH and was increasing to the saturated RH.
Analyses of stratified bound water using sorption isotherm data revealed that from the four samples, the desorption monolayer and secondary bound water fractions were higher than those of adsorption. However, the tertiary bound water fractions of desorption were lower than those of adsorption, except from the cellulose sample

. Key words : Hysteresis, isotherm, starch, protein, and cellulose

=====================================================================

INTERESTERIFIKASI ENZIMATIS PALM STEARIN DAN MINYAK IKAN LEMURU UNTUK MEMBUAT LEMAK MARGARIN

[Enzymatic Interesterification of Palm Stearin and Sardine oil to Produce Margarine-fat]

Pudji Hastuti1, dan Tyas Utami1

1Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta, Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur Yogyakarta 55281

Diterima 23 September 2002/Disetujui 21 April 2003

Enzymatic interesterification of Palm Stearin (PS) and Sardine Oil (SO) as source of Eicosa Pentaenoic Acid (EPA) and Docosa Hexaenoic Acid (DHA) have been of interest to modify the physical properties of the triglyceride. An attempt to enzymatic-restructure PS and SO to form Structured Lipid (SL) which is suitable for margarine was investigated using immobilized lipase from Rhizomucor miehei and that from Candida antartica.
The effect of reaction time course, ratio of PS/SO and ratio of enzyme/substrate were studied in the present study. At the end of interesterification, the enzyme was filtered from the reaction mixture through a filter paper. The Solid Fat Index (SFI) was determined by dillatometry. The Slip Melting Point (SMP) was determined by capillary tube method.
Both of interesterification catalyzed by immobilized sn 1,3 specific lipase from R.miehei,and non specific lipase from C.antartica were found to decrease the SFI value at 10; 21.1 and 33.30C. The SMP value was decrease from 58-500C to 37-390C. The change of these parameters were slightly faster in the reaction which catalyzed by lipase from R miehei than lipase from C.antartica . The more the utilization of the enzyme the faster the change were occurred, especially the increase of enzyme utilization from 2.5% to 5%, which decrease the SFI value at 33,30C. The decrease of the PS/SO ratio resulted in the decrease of SFI and SMP values. It was found that the most suitable SFI and SMP value for margarine fat is the SL formed by carrying out the enzymatic-interesterification of PS/SO with the ratio of 40/60 using enzyme 2.5% of the total fat, for 8 hours at 600C

. Key words : Palm stearin, sardine oil, enzymatic-interesterification, solid fat index and slip melting point

=====================================================================

PENGARUH JENIS LARUTAN PERENDAM SERTA METODE PENGERINGAN TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA, DAN FUNGSIONAL GELATIN DARI KULIT CUCUT

[The Influence of Solvent Variety and Drying Method on Physical, Chemical and Functional Characteristic of Shark Skin Gelatin]

Made Astawan1 , dan Tita Aviana2

1Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 23 September 2002/Disetujui 16 April 2003

Gelatin is a denaturation product of collagen and has been widely utilized for foods, photography uses, medical materials, and culture materials for microorganisms. Recently, gelatin’s uses has expanded to new applications such as health foods. Gelatin of land animal origin such as bovine and porcine has been mainly used. However, gelatin with new properties is desired to develop expanded applications. In this research gelatin was made from shark skin. The shark skin collagen was distended by acetic acid solution (acid process) and sodium hydroxide solution (alkali process), and gelatin was then extracted at 80oC of water. The extracted gelatin was dried by vacuum drying and freeze drying to obtain powder product. Shark gelatin produced by the combination of alkali and vacuum drying process (OVB gelatin) had better qualities on yield, water content, gel strength, melting point, and emulsion stability as compared to the others. Sensory evaluation indicated that shark gelatin had lower values in color, odor, and performance as compared to the commercial gelatin of fish, pig and bovine (SKW Biosystem). However, as compared to the commercial gelatins, OVB gelatin had a similar values on gel strength (202 bloom) and emulsion stability (100%), but higher values on viscosity (8 cP) and pH (9.3). Those values indicated that ray skin gelatin can be used to substitute the commercial gelatin in some food industries

Key words: Gelatin, shark, melting point, and emulsion stability

=====================================================================

SINTESIS XILITOL POLIESTER MENGGUNAKAN DESTILAT ASAM LEMAK MINYAK SAWIT

[Synthesis of Xylitol-Polyester from Palm Fatty Acid Distillate(PFAD)]

Suhardi1, Tranggono1, dan Amanda Hardiyani SN2

1Staf pengajar Fakultas Teknologi Pertanian , Universitas Gajah Mada ¡V Yogyakarta Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur Yogyakarta 55281
2Alumni Fakultas Teknologi Pertanian , Universitas Gajah Mada ¡V Yogyakarta Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur Yogyakarta 55281

Diterima 23 November 2001 /Disetujui 28 April 2003

This study of xylitol-polyester synthesis was carried out using palm fatty acid distillate as the a source fatty acids. The objective of this study was to obtain the optimum condition with regard to reaction kinetis during synthesis. In the experiment, temperatures were varied at 110, 120, 130, 140 and 150oC; while during reactions samples were drawn at 0, 3, 6, 9 and 12 hours for determination of hydroxil value. Results showed that the optimum condition for synthesis was found at 145„b2.5oC for 3.5„b0.5 hours. It was noted, that the reaction was reversible, first order with the activation energy 4475.57 cal/mol for synthesis and 4499.21 cal/mol for hydrolisis.

Key words : Xylitol-polyester, palm fatty acid distillate.

=====================================================================

PENGARUH DIET KACANG MERAH TERHADAP KADAR GULA DARAH TIKUS DIABETIK INDUKSI ALLOXAN

[Effect of Red Bean Diet on Blood Glucose Concentration of Alloxan-Induced Diabetic Rats]

Y. Marsono1, Zuheid Noor1, dan Fitri Rahmawati2

1Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian –UGM, Jl. Susio Yustisia, Bulaksumur Yogyakarta 55281
2Staf Pengajar P. S. Tata Boga Fakultas Teknik, Universitas Negeri – Yogyakarta

Diterima 23 September 2002/Disetujui 13 Maret 2003

Hypoglycemic response of red bean were evaluated in alloxan-induced diabetic rats. The objective of this research was to evaluate the effect of red bean (Vigna umbellata) diet compare with soy bean diet on blood glucose concentration in alloxan-induced diabetic rats.
Thirty male Sprague-Dawley (SD) rats (250-300 g) were diabetic induced by alloxan injection (80 mg/kg of body weight by intra muscular injection). They were divided into three groups of ten rats. They were fed (1) Standard diet (STD), (2) Red bean diet (KM), and (3) Soy bean diet (KD) for 28 days. Concentration of serum glucose were determined before injection (0 day),after injection (day 17th) and every sweek during diet intervention (day 24,31,38 and 45th)
It was found that alloxan injection increased serum glucose concentration of STD, KM, and KD rats. After 28 days intervention, red bean decreased the serum glucose concentration from 217, 87 mg/dL to 57,70 mg/dL (69 %) in KM groups and from 218,94 mg/dL to 76,82 mg/dL (65 %) in KD groups, but standard diet (STD) were decreased less than both of KM and KD diet.

Key words : Diabetic, alloxan-induced, hypoglicemic, red bean, and soy bean

=====================================================================

PENGARUH RASIO UBI KAYU DENGAN KELAPA PARUT DAN LAMA PENGUKUSAN TERHADAP KARAKTERISTIK JONGKONG UBI SELAMA PENYIMPANAN

Effects of the Ratio of Cassava and Grated Coconut and Steaming Time on Shelf-life Characterictics of Jongkong Ubi

Putu Yuni Puspitawati1, I Ketut Suter1, dan I. N. Kencana Putra1

1Bagian Teknologi Hasil Pertanian Program Studi Teknologi Pertanian Universitas Udayana

This experiment was conducted to evaluate the effect of cassava and grated coconut ratio and steaming time to thesome quality characteristic of jongkong ubi during storage, as well as,obtain the right ratio of the cassava and grated coconut and steaming time to produce jongkong ubi good shelflife properties.

This experiment used randomized block design with two factors and two replications. The first factor was weight ratio of the cassava and grated coconut which consist of three level that were 4:1, 6:1, 8:1, and the second factor was steaming time which consist of three level that were 60, 90 and 120 minutes.

The result of this experiment showed that cassava and grated coconut rasio of 6:1 and steaming time of 120 minutes produced the best jongkong ubi, but jongkong ubi which had the longest storage time was produced by cassava and grated coconut ratio 8:1 and steaming time 120 minutes.

=====================================================================

PENGUKURAN RENDEMEN TEBU MENGGUNAKAN GELOMBANG ULTRASONIK

The Measurement of Sucrose Content of Sugar Cane Using Ultrasonic Waves

Amoranto Trisnobudi1
Tjia Liong Hoei2
Enung Rosihan Nugraha3

1Dosen Jurusan Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung
2Dosen Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha
3Alumni Jurusan Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha

The measurement of sucrose content of sugar cane is usually carried out by using polarimeter and Brix Wager scale. These two apparatus are operated manually so that the accuracy of the measurement results is depended on the operator skill. To overcome this problem we have developed an alternative method that can measure the sucrose content more quickly and accurately than the conventional methods. This new method was carried out by using ultrasonic waves whose velocity depends on the sucrose content. Firstly, the electronic apparatus used was calibrated with 37 samples of sugar cane with various sucrose content from 4.46 % to 7.29 %. The result of this calibration was an empirical equation between the ultrasonic wave velocity V and the sucrose content R, i.e. R ===================================================================== 2.65 V2 – 11,95 V + 17,65 where R in % and V in km/s. Then this equation was stored as database in a computer program that will be used to calculate the sucrose content. Finally, this sucrose content measurement system was tested by using 30 samples of sugar cane. The maximum error of the measurement result was 6.4 %.

=====================================================================

PENGGUNAAN KOMBINASI ADSORBAN UNTUK MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN BUAH PISANG CAVENDISH

The Use Combined Adsorbant to Extend the Storing Period of Cavendish Banana

Suryatmi Retno Dumadi1

1Peneliti pada Direktorat Teknologi Agroindustri, BPPT , Gedung II Lt 17 Jl. M. H. Thamrin Jakarta

Post harvest damage of horticulture commodity in Indonesia has reached 30 to 40%. This research is aimed at extending the storing period of cavendish banana in order to extend the market range, while still enabling to maintain the quality of fresh preserved banana as required by consumers. One of the ways to do so is by using combines adsorbant as to control the air of the fruit surrounding.

The type of adsorbant used is as follows : 1,2 and 3% of KMn04 ; 0,5, 1 and 1,5% of iron powder, and 3% of active carbon. The experiment was conducted in completed randomized design, by 10 factors of combined and concentrate adsorbant, and by 6 factors of storing time. The parameters being analyzed includes texture intensity, starch rate, total acid rate, total glucose rate, water rate and reduced glucose rate.

The statistics test results of 10 treatments of combines adsorbant KMn04, iron powder, active carbon which were(1%, 0,5%, 3%), (1%, 1%, 3%), (1%, 1,5%,3%), (2%, 0,5%, 3%), (2%, 1%, 3%), (2%, 1.5%, 3%) (3%, 0,5%, 3%), (3%, 1%, 3%) ( 3%, 1,5%, 3%), suggested that the combined adsorbant (2%, 1,5%, 3%) at 15°C storing temperature is the best. This treatment is the best because it has the highest substances rate up to 72.36% db; relatively small texture change, total acid rate, total glucose rate, water rate and the lowest reduced glucose rate of 3.531% db which is more likely to extend the storing period of cavendish banana for approximately six weeks.

Key Words : horticulture, cavendish, adsorbant, texture, storing period.

=====================================================================

SAYURAN SEBAGAI SUMBER SERAT PANGAN UNTUK MENCEGAH TIMBULNYA PENYAKIT DEGENERATIF

Vegetables as a Source of Dietary Fiber to Prevent Degenerative Diseases

Deddy Muchtadi1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta- IPB

For long time vegetables were thought only as sources of several vitamins; however, it has been shown that vegetables contain other component, which is also important for maintaining body’s health, i.e., dietary fiber. Dietary fiber is a group of polysaccharides oan other polymers, which cannot be digested by upper gastro-intestinal system of human. Dietary fiber can be grouped as soluble and insoluble dietary fiber, showing in different physiological effect. Soluble dietary fiber (SDF) is effective in preventing cardiovascular disease, while insoluble dietary fiber (IDF) can prevent the development of colon cancer, diverticulosis as well as obesity.

Local vegetables found to contain high SDF (higher than 3,06% db) are: watercress, green bean, carrot, eggplant, lettuce, broccoli, spinach, string bean, and aubergine; while which contain high IDF (higher than 40,60% db) are: winged bean, watercress, chinese leaves, katuk leaves, lettuce, green bean, broccoli, carrot and spinach. Cooking (i.e. boiling, steaming and pan frying) decrease the IDF content of vegetables, while their SDF content is not affected by cooking treatments.

=====================================================================

RICE BRAN STABILIZATION AND g-ORYZANOL CONTENT OF TWO LOCAL PADDY VARIETIES IR 64 AND CISADANE MUNCUL

Evy Damayanthi1

1Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanian, IPB

An autoclaving procedure was developed to produce stable rice bran from two local paddy varieties IR 64 and Cisadane Muncul. The stable rice bran showed no significant increase in free fatty acid content for 144 hours at 37oC. In the optimum wet heating process, rice bran was heated at 121oC and held for 3 minutes before cooling for both varieties. Stable rice bran contained 3.8 % moisture and the content of total tocopherol was not much changed by heating process, i.e., 209.8 mg/100 g rice bran oil and 279.8 for control (without heating process) of IR 64 variety and 227.4 mg/100 g rice bran oil and 248.8 for control of Cisadane Muncul variety, respectively. The content of g-oryzanol varied and was depended on the degree of milling ranged from 39.1 to 147.7 mg/100 g rice bran oil for both of IR 64 and Cisadane Muncul rice varieties. The content of soluble dietary fiber varied and was depended on the degree of milling which ranged from 3.56 to 8.76 % for both of IR 64 and Cisadane Muncul rice varieties. The content of insoluble dietary fiber varied and was depended on the degree of milling which ranged from 15.00 to 25.38 % for both of IR 64 and Cisadane Muncul rice varieties.

Keywords : rice bran, autoclave, stabilization, g-oryzanol, total tocopherol, dietary fiber.

=====================================================================

PENINGKATAN KEAMANAN DAN MUTU SIMPAN PINDANG IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp) DENGAN APLIKASI KOMBINASI NATRIUM ASETAT, BAKTERI ASAM LAKTAT DAN PENGEMASAN VAKUM

Preservation of Steamed Fish (Rastrelliger Sp) With Combine Method Using Sodium Acetate, Lactic Acid Bacteria Culture and Vacuum Packaging

Betty Sri Laksmi Jenie1, Nuratifa2, dan Suliantari1

1Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta- IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta- IPB

This study was carried out to improve the safety and shelf life of cooked kembung fish (Rastrelliger sp), a traditional food called pindang fish. Fresh eviscerated fish was fisrt soaked in 2% NaCl solution for 15 minutes, drained, washed with tap water and drained again. Sodium chloride at 12% concentration (w/w) was distributed on the whole surface of the fish. Fish was then laid on a wooden basket inside a clay pot, steamed for 30 minutes, and then cooled. Combine method applied to the steamed fish (pindang) was soaking in a mixed culture of Lactobacillus plantarum kik and Lactococcus lactis subsp. cremoris in the ratio of 2 : 1 (v/v) containing 4% Na-acetate for 2 hrs and after draining, the product was vacuum packed. The result showed that the combine method using mixed culture of lactic acid bacteria containing 4% Na-acetate could reduce the growth of Staphylococcus aureus by 3-6 log units, decrease the TMA (Trimethylamine) content and maintain the organoleptic properties (texture, appearance and odor) of pindang fish during 6 days storage at room temperature. Control treatment without 4% Na-acetate could only keep the pindang fish for 4 days. Vacuum and nonvacuum packaging did not show any significant difference.

=====================================================================

PENENTUAN WAKTU PANEN DAN KONDISI FERMENTASI KOPI BERDASARKAN AKTIFITAS ENZIM PADA LENDIR BUAH KOPI (Coffee Sp)

Determination of Harvesting Time and Fermentation Conditions of Coffee (Coffee sp) Beans Based on the Fruit Pericarp Enzyme Activity)

Muhammad Said Didu1

1Peneliti Pada Direktorat Teknologi Agroindustri, BPPT, Gedung II Lt 17 Jl. M. H. Thamrin Jakarta

Pectinase enzyme of coffee pericarp, containing pectinesterase and polymetilesterase, is potential to determine harvesting time or to classify coffee beans. The activity of the enzyme on the green fruit is higher than on the yellow one. When the fruit become light red, the activity increaed for the second time and then decrease when the fruit is overripe (dark colored)

The optimum fermentation condition of the fruit is depending on the maturation degree. Study on the fermentation process at 25oC, suggest sorting of harvesting fruits in three groups. (1) fruits are harvested 9-24 days after the fruits reach its yellowish green color, Ao, (2) 25 – 32 days after Ao, and (3) 33 – 38 days after Ao.

Fermenting at 35o C grouping into four types of maturation degree. (1) 9 – 11 days after Ao, (2) 12 – 22 days after Ao, (3) 23 – 30 days after Ao, and (4) 24-36 days after Ao. The optimum harvesting time is when the beans reach light red until the color starts getting dark. The optimum activity of the enzyme pectinase is at 35oC.

=====================================================================

PEMBUATAN PROTEIN KOSENTRAT WHEAT POLLARD SEBAGAI PEMANFAATAN HASIL SAMPING PENGGILINGAN GANDUM

The Production of Wheat Pollard Protein Concentrate, a Wheat Milling Byproduct Utilization

Victoria Valentina Sugijanto1 dan Monang Manullang2

1Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

One of protein resources which is not used maximally in Indonesia is wheat pollard. Wheat pollard is a by-product from wheat millings that contains (protein) higher than wheat flour (17.68% compared to 12-13%). Protein concentrate was extracted by alkali and hydrolysed enzymatically.. Alkali method at pH 10 yielded protein value 62.75% and flour yield 17.17%. On the other hand enzymatic hydrolysis method at minute-75 yielded protein value 68.38% and flour yield 48.17%. Amino acid increased after it was made into protein concentrate, for example lysin at the beginning was 8.00 g/100 g sample become 13.00 g/100 g sample (by alkali method) and 19.11 g /100 g sample (by enzymatic hydrolysis method). The highest physicochemical properties derived from enzymatic hydrolysis method were solubility protein (NSI : 95.73%, PDI : 75.21%), water adsorption 57.79%, fat adsorption 80.67%, foam capacity 47.74%, foam stability 84.61%, emulsification capacity 73.59% and strong gelation at 10%. The total result show that enzymatic hydrolysis method is better than extracted alkali method in protein value, yield, amino acid value, and physicochemical properties.

=====================================================================

KAJIAN SIFAT SPESIFITAS BEBERAPA JENIS LIPASE TEHADAP ASAM LEMAK OMEGA-3

The specificity of Several Kinds Lipases on n-3 Polyunsaturated Fatty Acids

Jenny Elisabeth1
T. Yuliani2, P. M. Tambunan2, dan J. M. Purba2

1Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Jl. Brigjen. Katamso no. 151 – KP Baru, Medan 20158
2Jurusan THP-Fakultas Pertanian, Unika ST. Thomas SU

Several lipases from microbial and plant, i.e Rhizomucor miehei, Pseudomonas sp., Candida antartica, rice bran, and Carica papaya latex (CPL) were examined for synthesis of omega-3 (n-3) PUFA-rich glyceride by hydrolysis and acidolysis reaction. Tuna oil was used in hydrolysis reaction, whereas tuna and palm oils were used as source of triglyceride (TAG) molecules and n-3 PUFA concentrate from tuna oil as source of EPA and DHA in acidolysis reaction.

For hydrolysis reaction, the rice bran and CPL lipases showed the lowest hydrolytic activity of the tuna oil, whereas the R. miehei lipase showed the highest hydrolytic activity but was unable to hydrolyze EPA and DHA. On the contrary, the C. antartica and Pseudomonas sp. lipases acted stronger on hydrolysis of DHA ester bond than EPA.

For acidolysis reaction, all the lipases showed ability to incorporate n-3 PUFA into tuna and palm oils. C. antartica lipase had the maximum DHA incorporation into tuna and palm oils, rice bran lipase had relatively similar ability with R. miehei lipase, and the CPL lipase had the lowest ability. This study proved that rice bran and CPL lipases also had transesterification activity and showed the feasibility of the rice bran lipase to be a biocatalyst for n-3 PUFA-rich glyceride production. Increasing the substrate ratio, of n-3 PUFA concentrate and tuna or palm oil, could increase the EPA and DHA incorporation. The R. miehei, rice bran, and CPL lipases unabled to incorporate DHA into DHA-containing glyceride molecule, whereas C. antartica lipase had the capability in high ratio of n-3 PUFA concentrate to oil. Therefore, the lipases were easier to incorporate n-3 PUFA into palm oil than tuna oil, since the TAG molecules of palm oil was not as complex as tuna oil. It could be suggested that the lipases did not only have acyl chain and positional specificity, but also the whole glyceride structure specificity.

Keywords : acidolysis, lipase, n-3 PUFA, palm oil, specificity, tuna oil.

=====================================================================

AUDIT KINERJA EFISIENSI PRODUKSI AGROINDUSTRI MINUMAN TEH

Production Efficiency Audit on Tea Beverage Agroindustry

Hendra Adiyatna1 dan Marimin2

1Teknik Industri-STT Bina Tunggal (Mahasiswa S-3 PPS TIP-IPB)
2Teknologi Industri Pertanian, PPS-IPB

The objective of this work was to investigate and to apply economic efficiency performance measurement methods for tea beverage agroindustry. These measurements were based on twelve technique and economic efficiency criteria, which illustrate the condition of the processes. This illustration was able to explain the material and the energy utilization, variance of the processes and product, handling of the waste and acceptance in the market. The methodology was divided into three steps: (1) defining the technique and the economic criteria, appropriate to the circumstance of the processes, (2) state efficiency the level status, (3) evaluation and structure prioritizing of the processes improvement alternatives. The results of this work indicates that there are seven appropriate criteria. The status of the efficiency is in the medium level. The improvement priorities recommended include optimization of material and energy usage and minimization of breaktime of the critical processes.

=====================================================================

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK KEDAWUNG (Parkia roxburghii G. Don) TERHADAP BAKTERI PATOGEN

Antimicrobial Activity of Kedawung Extract (Parkia Roxburghii G. Don) on Food Borne Pathogens

Ervizal A. M. Zuhud1
Winiati Pudji Rahayu2 , C. Hanny Wijaya2
Pipi Puspita Sari3

1Staf Pengajar Jurusan KSH Fahutan-IPB
2Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
3Alumni Jurusan Teknologi Panngan dan Gizi, Fateta-IPB

Kedawung is a Leguminosae/Fabaceae which. It is commonly used as traditional medicine for infection and stomach disoders, caused by bacteria.

The aim of this study is to examine the potential antimicrobial activity of seed, bark, root and kedawung leaf. It is expected that the result will give information on characteristics and concentration of kedawung part which have the highest antimicrobial activity.

The result showed that the bark has the highest antimicrobial activity on Escherichia coli, Vibrio cholerae, Staphylococcus aureus and Bacillus cereus. Extract made from kedawung plant and water (ratio 1:2,b/v) was better than those made with ratios of 1 : 1 or 1 : 3 (b/v). Heat did not decrease its antimicrobial activity. Extract concentration of 10% (21.40 mg/ml) with contact time of 24 hour decreased bacterial growth but did not inactivate them.

=====================================================================

EKSTRAKSI DAN STABILITAS ZAT PEWARNA ALAM DARI KATUL BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa glutinosa)

EXTRACTION AND STABILITY OF NATURAL COLORANT FROM RED GLUTINOUS RICE BRAN (Oryza sativa glutinosa)

Tirza Hanum1

1Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Lampung Bandar Lampung

Three extraction methods were studied to isolate natural colorant from red glutinous rice bran. Stability of extracts in relation to processing conditions and in the model beverages was determined at room temperature. Identifications of anthocyanidins was performed using reversed phase HPLC. Extraction method using acidified methanol solvent showed the highest yield (260,24+28,64 mg/100g). HPLC patern indicated the presence of six major anthocyanidins, two of them were identified as apigenidin and apigenin. Stability of anthocyanin colorant was higher in a lower acid condition and was reduced to the lowest value of 49,4, 65,4, 40,8 and 36,6% by high temperature, UV light, sunlight, and the presence of oxidator agent. respectively. Retention of antocyanin in tanin and ascorbic acid added into the model beverages was lower than in protein containing beverage or control.

=====================================================================

ANALISIS SIFAT FISIOKIMIA PRODUK EKSTRUSI HASIL SAMPING PENGGILINGAN PADI (MENIR DAN BEKATUL)

PHYSICOCHEMICAL ANALYSIS ON EXTRUDATES MADE FROM BY-PRODUCTS OF RICE MILLING INDUSTRY (BROKEN RICE AND BRAN)

Joko Hermanianto1, Rizal Syarief1
Zakiah Wulandari2

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

Extrudates were produced by double screw extrusion cooking under four barrel temperatures (29- 33oC, 29-33oC, 34-39oC, and 121-142oC)., feeder speed of 16- 17 rpm speed of knife of 425-713 rpm and ten formulations of corn, broken rice and bran. The physichochemical characteristics of the products were examined. Ash content, protein content and lipid content increased by increasing the percentage of the bran in formulation. Degree of gelatinization (DG). Expansion of extrudates (EE), Stickiness, Water solubility and absorbition indexes (WSI and WAI), colour of extrudates product (L and b ) decreased with increase in bran concentration.

=====================================================================

KAJIAN PENGARUH PEMANASAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIMIKROBA BUMBU GULAI

THE EFFECT OF HEATING ON ANTIMICROBIAL ACTIVITY OF GULAI SEASONING

Winiati Pudji Rahayu1 dan Dyah Sista Raharjanti2

1Staf pengajar pada Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

The effect of heating on Gulai seasoning on its antimicrobial activity in food system, was evaluated against Staphylococcus aureus and Bacillus cereus. Food system used as growth medium was meat extract and coconut milk (1:1, v/v) and heat treatment applied to this study were stirfrying, boiling and sterilization. The analysis of antimicrobial activity using contact method showed that the inhibition of microbial growth was better in food system with seasoning than that without seasoning. Fresh Gulai seasoning was efective to inhibit total microbe and B. cereus for up to 6 and 24 hour, respectively. After stirfrying,Gulai seasoning inhibited total microbe and B. cereus 6 hours of incubation time. Increasing in time and temperature of heat treatment, resulted in the decrease of antimicrobial activity to total microbe and B. cereus . On the other hand, heat treatment of Gulai seasoning increased antimicrobial activity against S. aureus and the highest antimicrobial activity was reached by boiling Gulai stir-fried seasoning for 20 minutes.

=====================================================================

PENGARUH KONSUMSI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) TERHADAP KADAR MALONALDEHIDA DAN VITAMIN E PLASMA PADA MAHASISWA PESANTREN ULIL ALBAAB KEDUNG BADAK, BOGOR

THE EFFECT OF GINGER (Zingiber officinale Roscoe) CONSUMPTION ON PLASMA MALONALDEHYDE AND VITAMIN E CONCENTRATION OF STUDENTS FROM BOGOR

Fransiska R Zakaria1, Hari Susanto2, dan Arif Hartoyo1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

Extracts of ginger contain a great number of substances having antoxidant activity. This reaserch was conducted to study the effect of ginger on malonaldehyde (MDA) as indicator of free radical and vitamin E as one of the nutrient antioxidants. Healthy student subjects were divided into treated (n=====================================================================12) and control group (n=====================================================================12). Treated group was suplemented with ginger drink for 30 days.

At the beginning and the end of intervention, both treatment and control groups were subjected to physical health examination and their peripheral blood were with drawn for analysis of MDA (malonaldehyde) and vitamin E in plasma. Individual data from all groups revealed that treated group has significant decrease of MDA and increase of vitamin E (p<0,01) compare to the control group.The result of this researh revealed that ginger drink has a potent antioxidant activity to decrease MDA and increase vitamin E, level in the plasma.

=====================================================================

EVALUASI NILAI GIZI PRODUK EKSTRUSI DARI PRODUK SAMPING PENGGILINGAN PADI CAMPURAN MENIR DAN BEKATUL

NUTRITION EVALUATION OF EXTRUSION PRODUCTS MADE FROM RICE MILLING BYPRODUCTS (BROKEN RICE AND RICE BRAN)

Rizal Syarief1, Joko Hermanianto1
Erni Ernawati2

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

By products of of rice milling, especially broken rice and rice bran, are not commonly used as food product. The purpose of this research was to develop and analyzed the nutrition content of new extruded product made of mixed broken rice and rice bran. The hedonic values were analyzed to choose the best formulation. Nutrition component was analyzed by in vitro and in vivo method. Increasing the concentration of rice bran resulted in increase of the percentage of ash ( 1.29%-3.47%), fat (1.12%-3.11%), crude fiber (0.58%-2.09%), some of essential amino acid,FCE(17.18%-27.28%) and decrease of protein digesbility.

=====================================================================

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ATSIRI IKAN PATIN (Pangasius sutchi)

ISOLATION AND IDENTIFICATION OF VOLATILE COMPOUNDS IN FRESH WATER CATFISH (Pangasius sutchi)

Edison1

1Laboratorium Kimia Pangan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau
Kampus Bina Widya Km. 12.5 Pekanbaru

Volatile compounds of fresh water catfish (Pangasius sutchi) cultured in pond and cage were extracted by micro simultaneous distillation-solvent extraction (SDE), and analyzed by gas chromatography/mass spectrometry (GC/MS). A total of 28 volatile compounds of Pangastius sutchi were detected. Of these compounds, twelve were identified as aromatics, aldehyde and miscellaneous coumpounds. Catfish cultured in pond contained higher levels of the aromatic compunds as compared to thase raised in cage.

Keyword : Fresh water catfish : Pangasius sutchi; Volatile compounds.

=====================================================================

SINTESIS KOMPONEN BAWANG PUTIH VINIL-DITIIN DAN TURUNANNYA SERTA UJI AKTIVITAS ANTI KAPANGNYA DENGAN METODE BIOAUTOGRAFI

SYNTHESIS OF GARLIC COMPOUND VINYL-DITHIIN AND ITS DERIVATIVES, AND THEIR ANTI-FUNGAL DETERMINATION USING BIOAUTOGRAPHY METHODE

C. Hanny Wijaya1

1Staf Pengajar Jurusan TPG-Fateta, IPB

Improvement on stability, physical characteristics and physiological activities of vinyl-dithiin has been attempted through oxidation and methylation. A bioautography method with Cladosporium cucumerinum showed that the presence of sulphoxide compound increased the anti-fungal activity sharply. Best activity was obtained with the compounds with SSO functional group. Activity was slightly decreased by addition of methyl-group. Stereoisomer also influenced the activity of compound, although not to significantly. Isomer of 3,4-dihidro-3-isopropenil-5-metil-4H-1, 2-ditiin-1-oxide has interesting properties such as crystallized easily, posses weak odor and relatively strong in anti fungal activity. A Simple methallylsynthesis procedure for disufide has been developed using metallyl chloride as starting material.

=====================================================================

PRODUKSI L-LISIN OLEH GALUR MUTAN Corynebacterium glutamicum DENGAN MEMANFAATKAN MOLASE

L-LYSINE PRODUCTION BY MUTANT STRAINS OF Corynebacterium glutamicum USING MOLASSES

Budiatman Satiawihardja1
Erliza Noor1
Ahmad Haryo Oktamto1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
1Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta-IPB
1Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

The objective of this study was to obtain fermentation process for producing l-lysine using two mutans of Corynebacterium glutamicum. The process used a low cost natural raw material molasses as a carbon source which underwent a special treatment before its application for fermentation medium. Strain Corynebacterium glutamicum ATCC 21543 produced higher L-lysine as compared to Corynebacterium glutamicum ATCC 21513. ATCC strain 21543 produced using a 10.98 g/l L-lysine modified basal B medium containing molasses which was equivalent to 20 % of original molasses in terms of its sugar content.

=====================================================================

EVALUASI MODEL-MODEL PENDUGAAN UMUR SIMPAN PANGAN DARI DIFUSI HUKUM FICK UNIDIREKSIONAL

EVALUATION OF SHELF-LIFE EQUATION MODELS DERIVED FROM UNIDIRECTIONAL FICK’S LAW

M. Arpah1 dan Rizal Syarief1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

The aim of this research was to study the variation of shelf-life values, obtained in quantifying shelf-life of biscuits among models of accelerated storage studies (ASS) from unidirectional Fick’S law. Shelf-life of biscuits is defined as the length of time of a packaged biscuits can be stored before the onset quality change appears.

Four models: Heiss-Eichner (1971), Labuza (1983), Rudolph (1986) and Half Value Period or HVP model (Syarief, 1986) were evaluated. These models shared a common basic principle that they were all derived and developed from unidirectional Fick’s law. Therefore, each parameter of individual model can be compared to the athers. A semi empirical approach using reaction kinetics through Arrhenius plot was used as a real shelf-life values.

Quantification resulted in two categories of shelf-life values, First those which higher than expected value and second, were lower than expected.

Parameter evaluation of components of Heiss-Eichner and Labuza models clearly shown less in number than components of Rudolph and HVP models. This led to a conclusion that the more sophisticated models gave higher shelf-life values as compared to the Arhenius model.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK PENELITIAN BUDIDAYA PERTANIAN (SKRIPSI, THESIS, DISERTASI, MAKALAH, LAPORAN)

EFIKASI HERBISIDA TRIASULFURON, PARAQUAT, DAN KOMBINASINYA TERHADAP GULMA PAKIS DAN NONPAKIS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis [Muell.] Arg.)
MENGHASILKAN

Oleh

Enggar Pramudya1, Sugiatno2, dan Darmaisam Mawardi 2
ABSTRAK
Tanaman karet (Hevea brasiliensis [Muell.] Arg.) di Indonesia merupakan komoditas penting penghasil devisa utama dari subsektor perkebunan. Adanya gulma pada tanaman karet menyebabkan produktivitas tanaman turun. Apabila gulma pada tanaman karet tidak dikendalikan maka produksi karet di Indonesia akan turun.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh herbisida triasulfuron (Logran 75 WG), paraquat (Gramoxone 276 AS), dan kombinasinya dalam mengendalikan gulma pakis dan nonpakis pada tanaman karet menghasilkan; (2) mengetahui perubahan komposisi gulma pakis dan nonpakis akibat perlakuan herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya pada tanaman karet menghasilkan; dan (3) mengetahui fitotoksisitas herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya terhadap tanaman karet menghasilkan.

Penelitian dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Way Lima dan Laboratorium Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Mei sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun dengan rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 ulangan yaitu triasulfuron dosis 15; 30; dan 40 g/ha; kombinasi triasulfuron + paraquat dosis (4,875 + 414)g/ha; (9,75 + 414) g/ha; dan (14,625 + 414) g/ha; paraquat dosis 414; 828; dan 1242 g/ha; penyiangan mekanis; dan kontrol. Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Jika ragam antarperlakuan homogen, data dianalisis ragam. Perbedaan dua nilai tengah diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 2, 4, 8, dan 12 minggu setelah aplikasi (MSA) herbisida triasulfuron semua dosis tidak mampu mengendalikan gulma total, pakis, dan nonpakis. Perlakuan kombinasi herbisida triasulfuron + paraquat semua dosis bersifat antagonis, karena herbisida triasulfuron tidak menambah daya kendali herbisida paraquat. Semua perlakuan herbisida tidak menimbulkan keracunan pada tanaman karet menghasilkan.

PENGARUH DOSIS DAN CARA APLIKASI PUPUK KANDANG AYAM PADA PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)

Oleh

Rosidah1, Sugiatno2, dan Rusdi Evizal2

ABSTRAK

Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditas ekspor nonmigas yang menghasilkan devisa bagi negara. Sampai saat ini nilam dibudidayakan dan dikembangkan kurang optimal, sehingga produktivitasnya rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh dosis pupuk kandang ayam pada pertumbuhan tanaman nilam, (2) pengaruh cara aplikasi pupuk kandang ayam pada pertumbuhan tanaman nilam, dan (3) pengaruh interaksi taraf dosis pupuk kandang ayam dengan cara aplikasi pada petumbuhan tanaman nilam. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2005 sampai dengan Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) menggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah cara aplikasi pemupukan, yaitu dengan cara sebar melingkar dan benam. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang ayam yang terdiri dari 4 taraf dosis, yaitu 0 ton/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha. Data dianalisis dengan analisis ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang ayam meningkatkan terhadap pertumbuhan tanaman nilam yang ditunjukkan oleh peubah diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, bobot kering berangkasan, dan bobot segar tajuk. Cara aplikasi pupuk kandang ayam tidak meningkatkan pada pertumbuhan tanaman nilam, kecuali pada peubah pengamatan jumlah daun dan panjang akar. Pada cara aplikasi yang berbeda, dosis pupuk kandang ayam meningkatkan terhadap jumlah cabang dan jumlah daun tanaman nilam.

PENGARUH HERBISIDA TRIASULFURON, PARAQUAT, DAN KOMBINASINYA PADA GULMA PAKISAN DI KEBUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENGHASILKAN

Oleh
Indra Prabowo1, Sugiatno2, dan Darmaisam Mawardi2

ABSTRAK

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) menghasilkan memiliki tajuk daun yang cukup lebar sehingga tingkat penaungan dan kelembaban tanah cukup tinggi. Hal ini dapat memicu pertumbuhan gulma pakis di kebun kelapa sawit manghasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya pada gulma pakisan di kebun kelapa sawit menghasilkan; (2) dosis herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya yang efektif mengendalikan gulma pakisan di kebun kelapa sawit menghasilkan; (3) perubahan komunitas gulma; dan (4) fitotoksisitas herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya terhadap tanaman kelapa sawit menghasilkan.

Perlakuan disusun dengan rancangan kelompok teracak sempurna yaitu triasulfuron 15 g/ha; triasulfuron 30 g/ha; triasulfuron 45 g/ha; triasulfuron 4,875 g/ha + paraquat 414 g/ha; triasulfuron 9,750 g/ha + paraquat 414 g/ha; triasulfuron 14,625 g/ha + paraquat 414 g/ha; paraquat 414 g/ha; paraquat 828 g/ha; paraquat 1242 g/ha; penyiangan mekanis; dan kontrol/tanpa pengendalian gulma.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa triasulfuron mengendalikan gulma pakis pada 12 MSA sedangkan paraquat dan kombinasi triasulfuron + paraquat mampu mengendalikan pada 8 dan 12 MSA. Kombinasi triasulfuron 14,625 g/ha + paraquat 414 g/ha efektif untuk mengendalikan gulma pakis di kebun kelapa sawit menghasilkan. Triasulfuron menunjukkan perubahan vegetasi gulma pakis pada pengamatan 8 MSA, kombinasi triasulfuron dengan paraquat menunjukkan perubahan vegetasi gulma pakis pada 2, 4, dan 8 MSA, sedangkan paraquat menunjukkan perubahan vegetasi pada pengamatan 2 MSA. Perlakuan herbisida pada semua taraf dosis tidak menyebabkan terjadinya keracunan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan.

PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3) TERHADAP PERTUMBUHAN SPATIFILUM (Spathyphyllum walisii Schott)
PADA FASE VEGETATIF

Oleh

Azita Indriani1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK
Spatifilum merupakan salah satu tanaman hias daun dan bunga yang banyak digunakan sebagai tanaman hias dalam ruangan maupun sebagai elemen penghias taman sehingga penampilannya perlu ditingkatkan, khususnya pada pertumbuhan vegetatif. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum adalah pemberian KNO3.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kalium nitrat (KNO3­) terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum serta mengetahui konsentrasi yang memberikan pengaruh terbaik pada tanaman spatifilum.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah naungan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni sampai Oktober 2005. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan empat ulangan. Faktor perlakuan yang digunakan adalah lima taraf konsentrasi KNO3 yaitu: K0 (0 ppm), K1 (1500 ppm), K2 (3000 ppm), K3 (4500 ppm), K4 (6000 ppm). Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari dua sampel yang ditanam pada masing-masing pot. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Barllet dan kemenambahan data diuji dengan uji tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji polynomial orthogonal dan perbandingan orthogonal pada taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: pemberian kalium nitrat (KNO3) sebagai perangsang pertumbuhan dan perkembangan tidak berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang tangkai daun, jumlah anakan, tingkat kehijauan daun dan periode pembentukan daun, namun pada variabel panjang daun pemberian KNO3 dengan konsentrasi 6000 ppm menurunkan panjang daun. Diduga KNO3 pada konsentrasi tinggi menurunkan laju pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum karena NO3 berlebih.

PENGARUH NAUNGAN TERHADAP AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Oleh
Triana Anggraeni1, Muhammad Kamal2, dan Kukuh Setiawan2
ABSTRAK

Di Indonesia, kacang tanah merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam pola menu makanan penduduk. Perluasan areal panen merupakan faktor pemberi peluang terbesar dalam upaya peningkatan produksi. Penanaman kacang tanah sebagai tanaman sela di lahan perkebunan karet merupakan salah satu upaya dalam efisiensi pemanfaatan lahan antar baris tanaman keras yang cukup luas.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui akumulasi bahan kering beberapa varietas kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda; dan (2) mengetahui korelasi antara bahan kering dan komponen hasil beberapa varietas kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda. Dan hipotesis yang diajukan adalah (1) varietas Panther akan menunjukkan akumulasi bahan kering dan hasil yang lebih besar dibandingkan varietas lainnya; dan (2) terdapat korelasi positif antara akumulasi bahan kering dengan komponen hasil kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda.

Perlakuan disusun secara faktorial 2 x 5 dalam rancangan petak terbagi (RPT) pada rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga kali ulangan. Petak utama adalah perlakuan naungan dengan 2 taraf, yaitu dengan naungan 0% atau tanpa naungan (N0) dan naungan 50% (N1). Anak petak adalah 5 (lima) varietas kacang tanah, yaitu varietas Panther (V1), varietas Jerapah (V2), varietas Gajah (V3), varietas Sima (V4), dan varietas Mahesa (V5). Data diolah dengan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 1% dan 5%. Data dianalisis dengan menggunakan SAS (N.C. Release 6.12, USA).

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa (1) naungan paranet 50% secara nyata menurunkan akumulasi bahan kering tanaman kacang tanah. Akumulasi bahan kering tertinggi terjadi pada batang baik pada kondisi naungan 0% dan 50 %, yaitu masing-masing sebesar 64,6% dan 69,6% dari akumulasi bahan kering total;(2) pada kondisi naungan 0% dan 50% varietas Sima memiliki akumulasi bahan kering yang tertinggi dibandingkan dengan varietas lainnya, yaitu masing-masing sebesar 32,65% dan 28,43%; dan (3) pada kondisi naungan 0% peubah bobot berangkasan total berkorelasi positif dengan bobot kering ginofor (r = 0.89**), sementara itu pada kondisi naungan 50% peubah bobot berangkasan total berkorelasi positif dengan jumlah ginofor (r = 0,71**) dan jumlah biji (r = 0,71**).

PENGARUH PEMBERIAN BIOFOSFAT PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI (Oryza sativa L.) PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING (PMK)

Oleh

Nur Azizah Ritonga1, Maria V. Rini2, dan Lazimar Zein2

ABSTRAK

Salah satu strategi yang sesuai untuk meningkatkan ketersediaan P pada tanah bereaksi asam dengan fiksasi P tinggi seperti tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) adalah dengan pemberian pupuk hayati penyedia fosfat yang dikenal dengan biofosfat. Pupuk hayati biofosfat merupakan suatu inokulum mikroba yang berkemampuan meningkatkan kelarutan hara dalam tanah dan dikemas dalam suatu formula khusus.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemberian biofosfat pada pertumbuhan dan produksi empat varietas padi yang diuji; (2) menentukan dosis biofosfat yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi empat varietas padi yang diuji; (3) mengetahui pengaruhi varietas padi yang diuji pada pertumbuhan dan produksi; dan (4) mengetahui persitindakan antara pemberian biofosfat dan empat varietas padi yang diuji.

Dalam penelitian ini perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan faktorial (3×4) dengan 5 kali ulangan. Faktor pertama adalah dosis biofosfat: 0 g/l (A0), 10 g/l (A1), dan 20 g/l (A2). Faktor kedua adalah empat varietas padi: Ciherang (CH), Sintanur (SN), Cilosari (CS), dan IR64. Setiap satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna. Data yang diperoleh diolah dengan uji Bartlett untuk menguji keragaman antarperlakuan dan uji Tukey untuk melihat sifat kemenambahan data. Jika data terbukti homogen selanjutnya dianalisis ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji Beda Nyata Jujur pada taraf 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biofosfat dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil 4 varietas padi yang diuji. Dosis biofosfat 20 g/l menghasilkan pertumbuhan dan hasil empat varietas padi yang terbaik. Varietas Sintanur menghasilkan bobot kering berangkasan terbaik pada pemberian biofosfat dosis 10 g/l. Varietas Cilosari memberikan bobot kering berangkasan terbaik pada pemberian biofosfat dengan dosis 0 g/l dan 20 g/l.

PENGARUH PEMOTONGAN BUNGA JANTAN PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.) HIBRIDA VARIETAS PIONEER

Oleh

Apriawan Ibalti Yuhadi 1, Niar Nurmauli2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK

Rendahnya produksi jagung nasional antara lain disebabkan oleh belum meluasnya varietas unggul, rendahnya permodalan petani, pemakaian pupuk yang belum sesuai dosis anjuran dan alih fungsi lahan. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi peningkatan hasil panen jagung, salah satu memanipulasi lingkungan yaitu dengan pemotongan bunga jantan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan pemotongan bunga jantan terhadap pertumbuhan dan hasil jagung Varietas Pioneer 20 pada sistem perbandingan pemotongan bunga jantan. Dengan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan, perlakuan adalah tanpa pemotongan bunga jantan (E0), pemotongan bunga jantan 2:1 (E1) yaitu dua baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 3:1 (E2) yaitu tiga baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 4:1 (E3) yaitu empat baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 2:2 (E4) yaitu dua baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dua baris tidak; pemotongan bunga jantan 3:2 (E5) yaitu tiga baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan dua baris tidak; pemotongan bunga jantan 4:2 (E6) yaitu empat baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan dua baris tidak. Dengan demikian satuan percobaan berupa 21 kombinasi perlakua. Kehomogenan ragam antarperlakuan diuji Bartlett. Bila memenuhi asumsi kehomogenan, dan dianalisi ragam. Nilai tengah perlakuan yang berbeda nyata diuji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemotongan bunga jantan tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung varietas Pioneer 20.

PENGARUH TANAMAN INANG DAN MEDIA TANAM PADA PRODUKSI CENDAWAN MIKORIZA ABUSKULAR

Oleh

Vida Rosalinda1, Maria Viva Rini2, dan Sugianto2

ABSTRAK

Untuk memproduksi cendawan mikoriza arbuskular (CMA) diperlukan tanaman inang dan media tanam yang paling sesuai. Oleh karena itu, untuk menghasilkan inokulum yang banyak, beberapa Tanaman inang seperti jagung, sorgum, Centrosema pubescens (CP), dan Colopongium mucunoides (CM), perlu diujikan pada media zeolit P-1 dan P-3 agar ditemukan kombinasi yang paling sesuai untuk produksi inokulum cendawan mikoriza.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan tanaman inang yang paling sesuai untuk memproduksi CMA, dan (3) mengetahui apakah pengaruh Tanaman pada produksi CMA ditentukan oleh media yang digunakan. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Produksi Perkebunan Universitas Lampungsejak bulan Desember 2005 hingga April 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (4×2) daolam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah Tanaman inang (jagung, sorghum, CP, dan CM), factor kedua adalah media tanam (zeolit P-3 dan zeolit P-1). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Bila kedua uji tersebut tidak nyata, data diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahawa tanaman inang dari golongan Graminae (jagung dan sorghum) lebih sesuai untuk produksi CMA karena memiliki persen infeksi akar yang tinggi jumlah spora yang lebih banyak daripada Tanaman dari golongan Leguminosae (CP dan CM). Produksi CMA pada media tanaman zeolit P-3 dam media tanam zeolit P-1 tidak berbeda sehingga kedua media dapat digunakan untuk perbanaykan CMA. Pengaruh Tanaman inang pada produksi CMA tidak ditentukan oleh media yang digunakan karena setiap Tanaman inang memperlihatkan respons yang sama untuk kedua media Tanaman yang digunakan.

PERUBAHAN AKTIVITAS FOSFATASE ASAM DAN BEBERAPA
SIFAT TANAH PADA LAHAN YANG DIAPLIKASI HERBISIDA
AMETRIN, DIURON, DAN 2,4-D AMINA

Oleh

Dede Dwi Astuti1, Nanik Sriyani2, dan Abdul Kadir Salam2

ABSTRAK

Pemakaian herbisida dalam jangka waktu lama dapat mempengaruhi mikroorganisme tanah dan beberapa sifat tanah. Salah satu enzim yang berperan penting di dalam tanah adalah fosfatase asam. Aktivitas enzim ini dipengaruhi oleh kadar air, pH tanah, C-organik, N-total, nisbah C/N, dan kapasitas tukar kation, yang juga dapat berubah akibat aplikasi herbisida.

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mempelajari perubahan aktivitas fosfatase asam dan beberapa sifat tanah yang terjadi karena pengaruh herbisida ametrin, diuron, dan 2,4-D amina; dan (2) untuk mempelajari hubungan antara fosfatase asam di dalam tanah pada lahan yang diaplikasi herbisida dengan beberapa sifat tanah.
Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna terdiri dari 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis herbisida: ametrin; diuron; 2,4-D amina; dan kontrol. Pengambilan contoh tanah dilakukan 0 minggu setelah aplikasi (MSA), 1 MSA, 4 MSA, 8 MSA, 12 MSA, dan 16 MSA. Data diolah dengan sidik ragam dilanjutkan dengan pemisahan nilai tengah dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%. Selain itu dilakukan juga uji korelasi antara aktivitas fosfatase asam dengan beberapa sifat tanah.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas fosfatase asam mengalami peningkatan sampai minggu ke-4, kemudian menurun pada minggu ke-16 sampai pada tingkat yang sama dengan kontrol. Aktivitas fosfatase asam pada lahan yang diaplikasi ketiga herbisida berkorelasi dengan nisbah C/N. Untuk herbisida ametrin, aktivitas fosfatase asam juga berkorelasi dengan N-total dan C-organik, sedangkan untuk herbisida diuron dan 2,4-D amina juga berkorelasi dengan kapasitas tukar kation. Pada minggu ke-16, N-total dan kapasitas tukar kation meningkat untuk herbisida ametrin, untuk diuron hanya kapasitas tukar kation yang meningkat, sedangkan untuk 2,4-D amina hanya nisbah C/N yang mengalami peningkatan. Reaksi tanah (pH) pada lahan yang diaplikasi herbisida mengalami penurunan sampai minggu ke-16.

PENGARUH BOBOT DAN POSISI BENIH DALAM BUAH PADA PERTUMBUHAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI PEMBIBITAN

Oleh

Edo Ferdiansyah1­, Maria V. Rini2, dan Indarto2

ABSTRAK

Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman kakao adalah dengan menggunakan bibit yang baik, yaitu bibit yang pertumbuhannya sehat, tahan terhadap serangan hama penyakit, dan tahan terhadap kondisi lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bibit kakao menjadi bibit yang baik adalah benih yang digunakan sebagai bahan tanaman, yaitu posisi benih dalam buah serta bobot benihnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah benih yang berasal dari posisi yang berbeda dalam buah akan memberikan pertumbuhan bibit kakao yang berbeda; mengetahui apakah peningkatan bobot benih dapat meningkatkan pertumbuhan bibit; dan mengetahui apakah pengaruh posisi benih dalam buah kakao pada pertumbuhan bibit ditentukan oleh bobot benihnya.

Perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan faktorial (3×3) dengan 3 kali ulangan. Setiap satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna. Faktor pertama adalah posisi benih pada buah kakao yang terdiri dari pangkal buah (P1), tengah buah (P2), dan ujung buah (P3). Faktor kedua adalah bobot benih kakao yaitu 1,0—1,2 g (B1), 1,4—1,6 g (B2), 1,8—2,0 g (B3). Setiap unit percobaan diwakili oleh 5 tanaman. Data yang diperoleh diolah dengan uji Bartlett untuk keragaman antarperlakuan dan uji Tukey untuk kemenambahan data. Jika asumsi terpenuhi data selanjutnya dianalisis ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji Beda Nyata Jujur dengan peluang untuk melakukan kesalahan jenis pertama ditetapkan sebesar 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian pada Persemaian menunjukkan bahwa perlakuan posisi benih dalam buah tidak mempengaruhi penampilan kecambah. Pada Pembibitan dapat diketahui bahwa pengaruh posisi benih di dalam buah kakao pada pertumbuhan bibit ditentukan oleh bobot benihnya. Benih dengan bobot tinggi menghasilkan bobot kering berangkasan tertinggi untuk semua posisi benih, tetapi jika benih berbobot sedang, posisi tengah dan ujung lebih baik, dan untuk yang berbobot rendah, posisi tengah menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik.

PENGARUH DOSIS DAN FREKUENSI PEMBERIAN NPK TERHADAP
PERTUMBUHAN VEGETATIF AWAL TANAMAN JERUK
KEPROK SIEM ( Citrus reticulata var. microcarpa)

Oleh
Maryanto1, Widho Hanolo2, dan Rigayah2
ABSTRAK

Untuk menghasilkan buah jeruk dengan kualitas baik diperlukan tanaman jeruk yang memiliki pertumbuhan vegetatif awal yang baik. Pertumbuhan vegetatif awal pada tanaman merupakan fase penting yang mendukung pertumbuhan tanaman jeruk selanjutnya sampai fase produktif. Untuk menghasilkan tanaman jeruk dengan pertumbuhan vegetatif awal yang baik, perlu dilakukan pemupukan secara tepat, guna menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan dalam proses metabolisme tanaman jeruk. Tanaman jeruk membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup, khususnya unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang dapat dilakukan dengan pemberian pupuk majemuk NPK dengan dosis dan frekuensi pemberian yang tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh pemberian dosis NPK yang semakin meningkat terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk. (2) mengetahui pengaruh frekuensi pemberian NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk. (3) mengetahui pengaruh dosis NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk ada frekuensi pemberian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Way Dadi Sukarame Bandar Lampung pada awal bulan April sampai akhir bulan Juli 2004. Rancangan perlakuan faktorial (5×2) dan setiap perlakuan diterapkan dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama dosis NPK yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0 (DO), 10 (D1), 20 (D2), 30 (D3), dan 40 (D4) g/tanaman. Faktor kedua adalah frekuensi pemberian NPK yaitu satu kali pemberian pada saat tanam (F1) dan dua kali pemberian (F2) ½ dosis saat tanam dan ½ dosis satu bulan setelah pemberian pertama. Masing-masing kombinasi perlakuan di ulang 3 kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian NPK dengan dosis 20.63 g/tanaman mampu mempercepat waktu pemunculan tunas tanaman jeruk keprok siem. (2) pemberian NPK satu kali saat tanam (Fl) lebih meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan pemberian NPK dua kali (F2). (3) pengaruh dosis NPK tidak tergantung pada frekuensi pemberian NPK pada semua variabel pengamatan.

PENGARUH DOSIS KALIUM NITRAT (KNO3) PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN ANTHURIUM (Anthurium andreanum L. var. Mickey Mouse) POT

Oleh

Yunita Siwi Palupi1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK
Kehadiran bunga pot sebagai penghias ruangan ternyata telah merebak ke berbagai tempat, seperti di gedung-gedung bertingkat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, acara-acara seremonial hingga acara pelepasan suatu produk dari perusahaan tertentu. Salah satu untuk memperbaiki pertumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium dapat dilakukan dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh aplikasi KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium dan (2) Mengetahui dosis KNO3 yang tepat untuk menghasilkan petumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium yang terbaik.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah net Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2005. Perlakuan disusun dalam rancangan teracak sempurna (RTS), dengan faktor perlakuan adalah dosis kalium nitrat (KNO3) yang terdiri dari 5 taraf yaitu K0 (0 g/tanaman), K1 (0,1875 g/tanaman), K2 (0,375 g/tanaman), K3 (0,5625 g/tanaman), dan K4 (0,75 g/tanaman). Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap faktor perlakuan terdiri dari 2 pot. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett. Data dianalisis lebih lanjut dengan sidik ragam dan pemisahan nilai tengah Polinomial Ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian KNO3 dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada tinggi tanaman anthurium dan dosis KNO3 yang optimum untuk meningkatkan tinggi tanaman adalah sebesar 0,2946 g/tanaman (2) Pemberian KNO3 tidak dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada jumlah daun, lebar daun akhir, panjang daun akhir, jumlah anakan, dan tingkat kehijauan daun dan tidak dapat meningkatkan pertumbuhan generatif yang meliputi jumlah bunga, panjang tangkai bunga, lebar seludang bunga, panjang seludang bunga, panjang tongkol bunga, waktu muncul bunga, waktu mekar bunga, dan umur pembungaan.

PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3)
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN
Spathiphyllum wallisii Schott FASE GENERATIF

Oleh

Yuniati Handayani1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Tanaman hias indoor atau dalam ruang sangat banyak jenisnya. Salah satu tanaman indoor yang memiliki daun yang indah serta memiliki bunga yang cantik adalah tanaman spatifilum (Spathiphyllum wallisii Schott). Bunga spatifilum berwarna putih berbentuk seperti sendok dengan tangkai yang panjang. Daunnya memiliki tulang daun yang terlihat dengan jelas, menambah keindahan tanaman spatifilum. Walaupun tanaman ini dapat berbunga, tetapi tidak kontinyu dalam berbunga sehingga perlu dirangsang pembungaannya. Salah satu cara untuk merangsang pembungaannya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi KNO3 yang optimum dalam meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman spatifilum fase generatif. Hipotesis yang diajukan adalah pada kisaran konsentrasi KNO3 1000—4000 ppm akan menghasilkan respon tanaman spatifilum yang optimum dalam meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah net Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni 2005—Februari 2006. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) yang terdiri atas 5 taraf konsentrasi KNO3 yaitu 0 ppm, 1500 ppm, 3000 ppm, 4500 ppm, dan 6000 ppm. Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang 4 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari dua sampel pot. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji polynomial orthogonal dan perbandingan orthogonal pada taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 saat fase generatif pada tanaman spatifilum sampai dengan konsentrasi 6000 ppm tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman meliputi tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan jumlah daun, tetapi meningkatkan jumlah bunga, mempercepat waktu muncul bunga, memperlambat waktu mekar bunga, memperpanjang masa mekar bunga, panjang tangkai bunga dan panjang seludang bunga.

PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA DAN BENZILADENIN (BA)
PADA PERTUMBUHAN TUNAS MAWAR (Rosa hybrida tea)
VARIETAS BLUE MOON SECARA IN VITRO

Oleh
Sri Rahayu1, Tri Dewi Andalasari2, dan Setyo Dwi Utomo2
ABSTRAK
Mawar merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang populer karena nilai estetikanya yang tinggi. Saat ini permintaan pasar terhadap mawar sangat tinggi terutama sebagai mawar potong, akan tetapi ketersediaan bibit sangat terhambat. Pengadaan tanaman secara konvensional kurang efisien karena tingkat multiplikasi yang rendah. Selain itu serangan penyakit yang disebabkan oleh virus juga merupakan kendala. Untuk menghasilkan tanaman baru dalam produksi bunga potong, teknik okulasi merupakan cara yang paling umum, namun membutuhkan batang bawah yang tepat, keterbatasan sumber mata tunas dan bibit yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu terbatas jumlahnya.
Perbanyakan tunas mawar melalui teknik in vitro untuk penyediaan bibit secara cepat, seragam dan bebas penyakit akan sangat menunjang pengembangan tanaman tersebut.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan tunas mawar pada masing-masing konsentrasi Benziladenin (BA).

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan 10 ulangan yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor A (air kelapa) dan faktor B (Benziladenin). Faktor A terdiri dari dua taraf yaitu 0 ml/l (Ak00) dan 100 ml/l (AK100) sedangkan faktor B terdiri dari lima taraf yaitu 0; 0,5; 1; 1,5; dan 2 mg/l.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian air kelapa 100 ml/l dengan BA 2 mg/l (AK100BA2) merupakan media perlakuan terbaik dalam meningkatkan rata-rata jumlah tunas per eksplan sebesar 1,90 buah dan rata-rata tinggi tunas sebesar 1,51 cm; sedangkan pemberian konsentrasi air kelapa 100 ml/l dan BA 1,5 mg/l (AK100BA1,5) merupakan media perlakuan terbaik dalam meningkatkan jumlah helai daun per eksplan sebesar 11 helai.

PERENCANAAN TATA HIJAU KALIANDA TRADE CENTER
(PUSAT PERBELANJAAN DAN PASAR GROSIR)
KOTA KALIANDA KABUPATEN
LAMPUNG SELATAN

Oleh
Faisal1, Tri Dewi Andalasari2, dan Widho Hanolo2
ABSTRAK
Kota Kalianda merupakan ibukota Kabupaten Lampung Selatan Propinsi Lampung dan sebagai pintu gerbang masuk Pulau Sumatera sekaligus sebagai transito perekonomian. Salah satu usaha untuk menunjang perekonomian dan menambah Pendapatan Asli Daerah adalah pembangunan kawasan khusus perniagaan. Sebagai pusat perbelanjaan yang baru, Kalianda Trade Center (KTC) memerlukan penggarapan maksimal untuk mendukung aktifitas perekonomian dan memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Untuk mengoptimalkan fungsi lingkungan dalam area KTC, diperlukan suatu perencanaan lansekap melalui aspek tata hijau.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2005. Lokasi penelitian terletak di Kalianda Trade Center, Jalan Trans Sumatera Km. 58, Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda, Kota Kalianda. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan lansekap melalui aspek tata hijau dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan memberikan nilai estetika pada area KTC. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Gold (1980) yang terdiri dari tahap inventarisasi, analisis dan sintesis, konsep, dan desain.

Hasil perencanaan menunjukkan, tata hijau disesuaikan dengan fungsi dan pemanfaatan ruang yang ditetapkan melalui keterpaduan analisis potensi dan kendala terhadap aspek biofisik kawasan. Perencanaan tata hijau dibagi ke dalam beberapa zona, yaitu : zona pelayanan dan pemanfaatan umum, pintu masuk, dan jalur jalan.

Konsep dasar dari rencana tata hijau KTC adalah peningkatan kualitas lingkungan melalui penataan vegetasi dengan pola penanaman membentuk garis lengkung untuk menciptakan suatu kesan organik dan nuansa alami.

Perencanaan ruang disesuaikan dengan kondisi awal yang telah terbangun. Sarana utilitas direncanakan dalam keterpaduan fungsi dan selaras dengan karakteristik fisik tapak. Rencana jalur sirkulasi meliputi jalur lalu lintas, jalan layang bebas hambatan dan jembatan penyeberangan. Pemilihan jenis vegetasi pada rencana tata hijau berdasarkan fungsi, yang terdiri dari tata hijau yang berfungsi sebagai barriers polutan dan kebisingan, dan peneduh.

PENGARUH DOSIS DAN CARA APLIKASI PUPUK NITROGEN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Oleh
Nelly Andriani1, Sugiatno2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang penting peranannya sebagai sumber devisa negara dan pendapatan petani. Tanaman nilam merupakan tanaman yang rakus akan unsur hara, oleh karena itu perlunya dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk nitrogen.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara aplikasi pupuk N pada pertumbuhan tanaman nilam, pengaruh dosis pupuk N terhadap perumbuhan tanaman nilam, dan tanggapan pertumbuhan nilam pada setiap cara aplikasi dengan berbagai dosis pupuk N. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2005 sampai dengan Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) menggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah cara aplikasi pemupukan, yaitu dengan cara melingkar dan dibenam. Faktor kedua adalah dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari 4 taraf dosis, yaitu 0, 125, 250, 375 kg/ha. Data dianalisis dengan analisis ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Polinomial Ortogonal 5%.

Hasil penelitian menunjukkan cara aplikasi pupuk nitrogen tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman nilam, pemberian pupuk nitrogen berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman nilam, dan pada cara dibenam penambahan 100 kg dosis N akan menghasilkan diameter batang 0,1 cm, sedangkan pada cara aplikasi melingkar penambahan dosis pupuk N tidak berpengaruh pada diameter batang.

PENGARUH PEMBERIAN SILIKA PADA PERTUMBUHAN AWAL LIMA VARIETAS TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)

Oleh
Iman Wira Pratama1, Indarto2, dan Sarno2
ABSTRAK

Usaha perbaikan dan peningkatan produksi tebu lahan kering dapat dilakukan dengan perbaikan faktor budidaya melalui pemupukan yang tepat dan berimbang serta pemilihan varietas unggul yang tepat. Pemberian silika pada dosis yang optimal serta penggunaan varietas yang tepat diharapkan dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman tebu (Saccharum officinarum L.).
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan tanggapan pertumbuhan awal tanaman tebu yang diberi silika dan tanpa silika; (2) mengetahui varietas yang menghasilkan pertumbuhan awal yang terbaik; dan (3) mengetahui pertumbuhan awal lima varietas tanaman tebu yang terbaik yang diberi silika dan tanpa silika.

Penelitian dilaksanakan di lahan UPT Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai dari bulan Juli 2005 sampai dengan bulan Oktober 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) yang diterapkan dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu tanpa silika (S0), dan dengan silika 15 ton/ha (S1). Faktor kedua yaitu penggunaan bibit tanaman tebu yang terdiri dari lima varietas yaitu GM 23 (V1), GM 21 (V2), GM 25 (V3), PSGM 88 – 5052 (V4), PSGM 92 – 829 (V5). Pengelompokan berdasarkan keseragaman pertumbuhan bibit tebu. Data disidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Data dianalisis dengan menggunakan SAS (N.C. Release 6.12, USA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa silika mempengaruhi tinggi tanaman, tinggi batang, diameter batang, sudut daun, kehijauan daun, panjang akar, dan bobot kering berangkasan. Varietas PSGM 92 – 829 memberikan tanggapan terbaik terhadap pemberian silika pada diameter batang, sudut daun dan bobot kering berangkasan. Pemberian silika dan varietas tebu tidak berpengaruh terhadap jumlah anakan

EFEKTIVITAS KONSENTRASI KITOSAN DALAM TEKNOLOGI MODIFIED ATMOSPHERE PACKAGING UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN DAN MEMPERTAHANKAN MUTU BUAH DUKU (Lansium domesticum Corr.)

Oleh
Dendi Kurnia Abdullah1, Soesiladi Esti Widodo2, dan Kukuh Setiawan2

ABSTRAK
Untuk dapat memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku, Modified Atmosphere Packaging (MAP) merupakan teknologi pengemasan yang dapat dipakai. Dalam penerapannya teknologi pengemasan MAP dapat dikombinasikan dengan kitosan (chitosan) sebagai pelapis buah (fruit coating).

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan konsentrasi kitosan yang paling efektif dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku, (2) mengetahui efektivitas kitosan dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku pada kondisi tanpa kemasan (di atas piring styrofoam) dan di dalam kemasan kedap udara (chamber).

Penelitian ini menggunakan Rancangan Teracak Sempurna (RTS), dengan perlakuan yang disusun faktorial 6 x 2. Faktor pertama adalah kitosan dengan tiga konsentrasi (1, 1.5, dan 2%) dan tanpa kitosan (kontrol) yang terdiri dari tiga perlakuan (tanpa dicelup, dicelup asam asetat 0,5%, dan dicelup air). Faktor kedua adalah penyimpanan tanpa (piring styrofoam) dan dengan kemasan kedap udara (chamber dengan volume 2064,59 cm3). Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan dan setiap kemasan (piring styrofoam dan chamber) diisi 20 buah duku dengan ukuran dan kemasakan yang seragam.

Hasil penelitian menyatakan bahwa (1) di antara aplikasi kitosan dengan konsentrasi 0—2%, konsentrasi 1,5 dan 2% efektif untuk memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku cv. ‘Komering’ dan (2) aplikasi kitosan hingga konsentrasi 2% yang disimpan di dalam kemasan kedap udara (chamber) (C3D1) mampu memperpanjang masa simpan buah duku hingga 17 hari atau lebih lama 11,23 hari dibandingkan dengan semua kontrol (baik dengan kemasan maupun tanpa kemasan), namun memiliki mutu (kandungan asam L-askorbat dan tingkat kemanisan) buah duku yang tidak berbeda.

PENGARUH JENIS MEDIA DAN KONSENTRASI BENZILADENIN TERHADAP PERTUMBUHAN ANTHURIUM (Anthurium sp)
SECARA IN VITRO

Oleh

Serly P. Cahya1, Tri D. Andalasari2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Anthurium (Anthurium sp) merupakan famili Araceae yang banyak diminati oleh masyarakat sebagai bunga potong maupun bunga pot. Tanaman ini bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai variasi bunga yang menarik. Secara konvensional, anthurium diperbanyak melalui biji dan pemisahan anakan. Teknik secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan biji sedangkan jika menggunakan anakan tidak mempunyai ukuran yang seragam dan tidak dapat dihasilkan dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik perbanyakan alternatif pada anthurium secara cepat dan dalam jumlah yang besar yaitu dengan teknik kultur jaringan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan eksplan anthurium pada dua jenis komposisi media (MS dan Bayfolan) dan mengetahui konsentrasi BA yang dapat meningkatkan jumlah tunas pada kedua jenis media. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (2×3) dalam Rancangan Teracak Sempurna. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 10 ulangan. Satu ulangan ditanam sebanyak 2 eksplan. Data diuji dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan media MS menghasilkan respons pertumbuhan yang paling baik jika dibandingkan dengan media Bayfolan pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas, dan jumlah akar, (2) pada media MS, kenaikan konsentrasi BA dari 0,5 menjadi 1,5 mg/l yang mengandung 0,1 mg/l NAA dapat meningkatkan jumlah tunas tanaman Anthurium dengan nilai rata-rata 3,6 tunas serta terdapat interaksi (media dan BA) pada jumlah daun, jumlah tunas, dan panjang akar.

PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI TANAH PADA PENAMPILAN TANAMAN POT NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsonae Balf.)

Oleh

Yessy Dekasari

ABSTRAK

Tanaman nona makan sirih berpotensi untuk dijadikan tanaman hias pot dengan tinggi sesuai ukuran pot, rimbun, dan berbunga banyak. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membentuk tanaman nona makan sirih sebagai tanaman hias pot adalah menggunakan zat penghambat tumbuh tanaman yaitu paklobutrazol.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan penampilan tanaman nona makan sirih terbaik, (2) Mengetahui frekuensi pemberian paklobutrazol yang menghasilkan penampilan tanaman pot nona makan sirih terbaik, (3) Mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol terhadap penampilan tanaman pot nona makan sirih pada masing-masing frekuensi pemberian paklobutrazol.Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan April sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (5×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama; konsentrasi paklobutrazol (C), yaitu 0 ppm (C0), 50 ppm (C1), 100 ppm (C2), 150 ppm (C3), 200 ppm (C4), faktor kedua adalah frekuensi pemberian paklobutrazol (K), yaitu satu kali bersamaan dengan pemangkasan (K1) dan dua kali: pemberian paklobutrazol bersamaan dengan pemangkasan dan pemberian kedua dua minggu setelah pemberian pertama (K2).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan tanaman terbaik pada tanaman nona makan sirih dalam pot adalah konsentrasi 100 ppm, dengan criteria tanaman terlihat pendek, warna daun hijau dan banyak sehingga terlihat rimbun, jumlah cabang banyak, lebar tajuk sesuai ukuran pot (1-1,5 kali), serta memiliki bunga yang banyak, (2) frekuensi pemberian paklobutrazol dua kali lebih efektif dalam mempertahankan penampilan terutama dilihat dari jumlah daun yang lebih banyak dan waktu mekar bunga lebih cepat dibandingkan dengan frekuensi pemberian paklobutrazol satu kali, (3) pengaruh konsentrasi paklobutrazol pada variabel jumlah daun, absisi daun, panjang ruas, lebar tajuk, jumlah tunas produktif, jumlah floret per tangkai bunga, jumlah floret per tanaman, waktu muncul kuncup bunga, waktu mekar bunga, dan waktu rontok bunga tidak bergantung pada frekuensi pemberian paklobutrazol, kecuali pada variabel tinggi tanaman, waktu muncul tunas lateral, jumlah tunas lateral, tingkat kehijauan daun, dan jumlah tangkai bunga, (4) hasil penilaian terhadap penampilan tanaman dengan uji tingkat kesukaan menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol konsentrasi 100 ppm dengan frekuensi pemberian dua kali menghasilkan tanaman yang paling disukai oleh panelis

PENGARUH KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL PADA PENAMPILAN TANAMAN MAHKOTA DURI (Euphorbia milii varietas ‘Splendens’) DALAM POT

Oleh

Dini Oktarisa

ABSTRAK

Tanaman mahkota duri (Euphorbia milii varietas ‘Splendens’) yang dikenal dengan julukan Crown of Thorns termasuk jenis tanaman sukulen. Tanaman ini merupakan tanaman herba dengan pertumbuhan batang yang tinggi, daun yang kurang rimbun, bunga yang tidak seragam, serta didominasi oleh duri-duri tajam. Salah satu cara agar tanaman ini memiliki kriteria di atas yaitu dengan menggunakan zat penghambat tumbuh seperti paklobutrazol.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pakobutrazol yang menghasilkan tanaman Euphorbia milii yang pendek, rimbun, dan dengan bunga yang banyak.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca UPT kebun Universitas Lampung, mulai bulan April hingga Agustus 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Masing-masing perlakuan diulang empat (4) kali dan setiap ulangan terdiri dari 2 tanaman, sehingga total tanaman berjumlah 48 pot. Perlakuan yang diterapkan 6 konsentrasi paklobutrazol yang terdiri dari: 0 ppm (P0), 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), 150 ppm (P3), 200 ppm (P4), dan 250 ppm (P5).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol sampai konsentrasi 250 ppm dapat menekan tinggi tanaman dan jumlah tunas, mempercepat waktu muncul tunas, menekan panjang tunas, mempercepat waktu muncul kuncup bunga, dan meningkatkan jumlah bunga per tanaman. Penampilan tanaman yang terbaik menurut panelis yaitu tanaman mahkota duri yang diaplikasi paklobutrazol (0-50 ppm), namun tidak berbeda dengan konsentrasi 100 dan 150 ppm.

PENGARUH PERBEDAAN SUMBER BAHAN ORGANIK SEBAGAI MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN SIRIH MERAH(Piper crocatum Ruiz and Pav.) DALAM POT

Oleh

Meivita Sari Pitoy1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2

ABSTRAK

Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) merupakan tanaman hias yang memiliki warna daun yang menarik yaitu berwarna hijau, pink, dan perak pada permukaan atas daun serta warna merah keunguan pada permukaan bawah daun dan sekaligus berfungsi sebagai tanaman obat. Keunikan corak daun sangat menentukan harga jual sirih merah, oleh karena itu perlu dipertahankan salah satunya dengan cara mencari jenis bahan organik yang paling cocok untuk pertumbuhan sirih merah.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh jenis bahan organik sebagai media tanam pada pertumbuhan tanaman sirih merah, 2) mengetahui jenis bahan organik sebagai campuran media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Desember sampai April 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan perlakuan tunggal tidak terstruktur dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan pada setiap satuan percobaan adalah: serasah bambu (A1), pupuk kandang kambing (A2), serasah flamboyan (A3), arang sekam (A4), pupuk kandang ayam (A5), pupuk kandang sapi (A6) sehingga didapat 36 satuan percobaan. Satuan percobaan dikelompokkan berdasarkan jumlah buku tanaman dengan tiga pengelompokan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian campuran jenis bahan organik sebagai media tanam memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan sirih merah meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, dan panjang ruas pertama. Pemberian campuran serasah flamboyan sebagai media tanam memberikan hasil pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.

PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG DAN INOKULASI Rhizobium
PADA HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) (Effect of Chicken Manure and Rhizobium Inoculation on the Yield of Peanut [Arachis hypogaea L.])

By

Abizar1, Adimihardja2, dan Nurmiaty2

ABSTRACT

The information on the balance between growth and development at certain sites is important to achieve a maximum yield of peanut. The problem was approached by manipulating soil fertility by the means of chicken manure and Rhizobium inoculation on red-yellow podzolic soil placed in polybags. The variety of peanut was Kancil. A 6×2 factorial arrangement of treatments was used where the first factor was chicken manure dosages (0, 10, 20, 30, 40, and 50% w/w) and the 2nd factor was Rhizobium inoculant (0 and 10 V/v). Each treatment combination was replicated three times. The treatments was allocated to polybags in a completely randomized block design.

The responses were observed on plant vegetative growth, plant generative development, and Rhizobium nodule development. Bartlett’s and Tukey tests was used to verify the data assumption underlying the analysis of variance. Test for the difference of responses to Rhizobium was a nested planned F-test and test for the response to chicken manure was a planned-F test for trend analyses. The type one error probability for statistical analyses was 0,01 and 0,05.

The result of the experiment showed that while the chicken manure dosage was increasing, the plant vegetative growth was increasing too but the yield of each plant was increasing at low dosages until maximum dosages, the maximum yield was reached then decreased at high dosages; the Rhizobium inoculant was increasing the growth and yield of peanut; while the chicken manure dosages was increasing, nodulation was increasing at low dosages until optimum dosages after that decreased at maximum dosages; the peanut growth which was inoculated by Rhizobium was better and higher than without inoculated, the maximum yield at the plant which was inoculated was reached at chicken manure low dosages; the optimum dosages at the peanut without inoculated was 33% (0,95% N) with 7,1 gram/plant maximum yield and optimum dosages at peanut which was inoculated was 22% (0,51% N) with 8,3 gram/plant maximum yield

EVALUASI KARAKTER AGRONOMI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) FAMILI F5 KETURUNAN PERSILANGAN
KELINCI DAN FLORIGIANT

Oleh

Adhi Nurhartanto1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Pembentukan suatu varietas yang memiliki komposisi genetik yang unggul menjadi syarat mutlak bagi suatu budidaya tanaman. Perakitan suatu varietas unggul diperoleh dengan menggabungkan sifat-sifat yang diinginkan dari tetua terpilih. Persilangan telah dilakukan antara kacang tanah tipe Virginia dengan tipe Valencia. Tipe Virginia dicirikan oleh sebagian besar tumbuh menjalar, polong berbiji dua dan besar. Tipe Valencia diwakili oleh varietas Kelinci yang telah beradaptasi dengan iklim di Indonesia. Hasil yang diharapkan adalah varietas berdaya hasil tinggi yang memiliki sifat menjalar atau setengah menjalar. Keuntungan sifat menjalar adalah ginofor akan lebih dekat dengan permukaan tanah agar ginofor yang terbentuk akan lebih mudah masuk ke dalam tanah.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakter agronomi famili F5 kacang tanah keturunan persilangan Kelinci dengan Florigiant. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Terdapat sekurang-kurangnya satu famili yang memiliki daya hasil lebih tinggi dari varietas pembanding yang digunakan

Penelitian dilakukan di Kelurahan Gedong Meneng Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung. Bahan yang digunakan adalah lima famili generasi F5 persilangan Kelinci x Florigiant dan empat varietas unggul nasional yaitu Kelinci, Jerapah, Panther, dan Sima. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan dua ulangan.

Famili 21 lebih unggul daripada varietas unggul nasional sebagai pembanding berdasarkan peubah jumlah biji per polong dan lebar 10 polong. Famili 12 lebih baik daripada varietas unggul nasional yang dijadikan pembanding untuk peubah bobot 10 butir dan panjang 10 biji. Nilai ragam genetik yang tinggi pada peubah-peubah generatif menunjukkan seleksi masih dapat dilanjutkan pada generasi berikutnya. Peubah dengan nilai heritabilitas broad-sense tinggi mengindikasikan sifat tersebut memiliki potensi untuk diturunkan ke generasi selanjutnya.

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TUJUH GENOTIPE KEDELAI
(Glycine max [L.] Merr.) DI LAHAN KERING BANDAR LAMPUNG

Oleh

Akhmad Prayitno1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto R. Basoeki2

ABSTRAK

Permasalahan yang dihadapi dalam upaya perluasan areal pertanian, termasuk tanaman kedelai ke lahan-lahan kering di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi adalah tingkat kesuburan yang rendah dan tanah bereaksi asam. Upaya pemecahan masalah dapat ditempuh melalui penyediaan varietas tanaman yang adaptif/toleran pada kondisi lingkungan tersebut dan lebih efisien dalam penggunaan masukan. Varietas unggul diperoleh melalui pemuliaan tanaman yang dapat ditempuh dengan cara mengintroduksikan atau mendatangkan galur atau varietas dari luar negeri; mengadakan seleksi terhadap populasi yang telah ada seperti varietas daerah; dan mengadakan program pemuliaan tanaman dengan cara persilangan, mutasi atau teknik lainnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter agronomi tujuh genotipe kedelai di lahan kering. Hipotesis yang diajukan adalah GKUL-1 dan GKUL-2 mempunyai daya hasil yang lebih tinggi dibandingkan varietas Slamet, Burangrang, Tanggamus, Panderman, dan Wilis. Penerapan perlakuan pada satuan percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna. Percobaan terdiri dari tiga ulangan kecuali untuk peubah jumlah polong hampa, jumlah polong isi, dan bobot biji kering per petak menggunakan dua ulangan. Perlakuan adalah genotipe kedelai yaitu genotipe GKUL-1, GKUL-2, Panderman, Tanggamus, Slamet, Burangrang, dan Wilis. Data dianalisis dengan uji Bartlett untuk menguji homogenitas ragam antarperlakuan, uji Tukey untuk sifat kemenambahan pengaruh utama. Setelah asumsi terpenuhi dilakukan analisis ragam. Pemisahan nilai tengah perlakuan dilakukan dengan uji beda nyata jujur. Masing-masing pengujian dilakukan pada tingkat kesalahan α sebesar 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa GKUL-1 memiliki jumlah cabang, bobot kering brangkasan, dan jumlah polong total lebih tinggi daripada genotipe Slamet, Tanggamus, Wilis, Burangrang, dan Panderman. Demikian pula dengan genotipe GKUL-2 menunjukkan jumlah polong isi dan bobot biji per petak lebih tinggi daripada Tanggamus, Wilis, Burangrang, Slamet, dan Panderman dengan perbedaan berturut-turut sebesar 859 kg/ha, 867 kgha, 1.335 kg/ha, 1.722 kg/ha, 2.109 kg/ha.

Seleksi Fenotipik Berulang Sifat Ketahanan
Gugur Bunga Cabai Merah (Capsicum annuum L.)
dengan Faktor Seleksi Kalium

Oleh
Andi Wibowo1, Saiful Hikam2, dan Paul B. Timotiwu2
ABSTRAK
Salah satu kendala dalam pembudidayaan tanaman cabai merah adalah rendahnya produktifitas tanaman cabai merah, sebagai akibat tingkat keguguran bunga cabai merah yang dapat mencapai kisaran 70% dari potensi total pembungaan yang berkembang menjadi buah. Faktor yang mempengaruhi tingkat keguguran bunga pada tanaman cabai merah yaitu faktor fisiologis dan genetik. Usaha untuk mengurangi tingkat keguguran bunga adalah dengan pemupukan kalium, yang diharapkan dapat meningkatkan suplai fotosintat untuk proses pembentukan dan pengisian buah, dan perakitan varietas unggul melalui program pemuliaan tanaman dalam hal ini adalah seleksi fenotipik berulang.

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendapatkan galur cabai merah dengan tingkat keguguran bunga kurang dari 70%, (2) untuk mengetahui keragaman tingkat keguguran bunga antargalur cabai merah yang ditanam, (3) untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium pada tingkat keguguran bunga tanaman cabai merah.

Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan dosis kalium sebagai petak utama dan varietas sebagai anak petak. Analisis ragam dilanjutkan dengan analisis komponen ragam untuk menentukan ragam genetik (σ2g) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) berdasarkan teladan Hallauer dan Miranda (1986).

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat keguguran bunga dari varietas Tanjung 19,62%, varietas Blitar 20,06%, varietas Lembang 21,18%, dan varietas Brebes 19,68%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh varietas cabai merah yang ditanam memiliki tingkat keguguran bunga kurang dari 70% dan tidak terdapat keragaman tingkat keguguran bunga antarvarietas cabai merah yang ditanam. Respon tanaman cabai merah dalam hal tingkat keguguran bunga sebagai akibat pemberian pupuk kalium tidak menunjukkan keragaman antarvarietas. Nilai ragam genetik yang rendah ini menyebabkan kecilnya peluang untuk melakukan seleksi pada sifat yang dikehendaki yaitu tingkat keguguran bunga.

PENGARUH PEMBERIAN MIKORIZA PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Oleh

Andratisari1, Agus Karyanto.2, dan. Sunyoto2

ABSTRAK

Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang tanah, yaitu varietas Kancil dan Jerapah maka dilakukan inokulasi cendawan mikoriza arbuskular. Diharapkan kombinasi perlakuan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang tanah.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui dosis mikoriza terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang tanah, (2) mengetahui varietas yang tumbuh dan berproduksi paling baik, dan (3) mengetahui apakah tanggapan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang tanah ditentukan oleh dosis mikoriza yang digunakan. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, Laboratorium Produksi Perkebunan, dan Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung dari bulan Mei sampai Agustus 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) dalam rancangan teracak sempurna dengan lima ulangan ditambah dengan dua ulangan yang akan dipanen pada saat tanaman berumur 45 hari. Faktor pertama adalah varietas kacang tanah Kancil dan Jerapah, sedangkan faktor kedua adalah mikoriza dengan berbagai dosis, yaitu 0 g/polibag, 25 g/polibag (± 250 spora), 50 g/polibag (± 500 spora), dan 75 g/polibag (± 750 spora). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett. Bila uji Bartlett tidak nyata, data diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza 0 g/polibag, 25 g/polibag, 50 g/polibag, dan 75 g/polibag tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan produksi kacang tanah varietas Kancil dan Jerapah. Polong isi tertinggi diperoleh pada pemberian mikoriza dengan dosis 25 g/polibag pada varietas Kancil dan 50 g/polibag pada varietas Jerapah. Baik varietas Kancil maupun Jerapah menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang tidak berbeda.

KARAKTER AGRONOMI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) FAMILI F5 KETURUNAN PERSILANGAN KELINCI X F393-8

Oleh
Dedy Nandar Dwi Antoro­­­­­1, Setyo Dwi Utomo2, dan Maimun Barmawi2
ABSTRAK

Permintaan komoditas kacang tanah yang semakin meningkat tidak diiringi oleh peningkatan produksi. Penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi belum sepenuhnya diterapkan oleh produsen kacang tanah, karenanya perakitan varietas unggul berdaya hasil tinggi merupakan langkah strategis untuk memecahkan masalah produktifitas kacang tanah yang rendah.

Penelitian ini bertujuan membandingkan karakter agronomi famili F5 keturunan persilangan antara Kelinci dan F393-8 dengan 3 varietas unggul nasional, serta mengetahui nilai pendugaan ragam genetik dan heritabilitas sifat-sifatnya.

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Gedong Meneng dan Laboratorium Produksi Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung sejak bulan Februari hingga Mei tahun 2005. Perlakuan terdiri dari 12 genotipe yaitu 9 famili F5 keturunan persilangan antara F393-8 dan Kelinci dan varietas unggul nasional. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari tiga ulangan. Data diolah menggunakan analisis ragam yang dilanjutkan dengan perbandingan nilai tengah menggunakan uji BNJ a 0,05, ragam genetik, dan heritabilitas.

Hasil penelitian menunjukkan genotipe 7 dan Kelinci unggul terhadap genotipe lain untuk peubah panjang cabang utama, jumlah polong total, jumlah buku terluar, jarak buku subur terluar, besar polong, dan panjang polong. Nilai ragam genetik untuk semua peubah yang diamati nyata, sedangkan nilai heritabilitas sebagian besar peubah tinggi, kecuali pada peubah jumlah buku terluar dan jarak polong terluar dengan cabang utama yang tergolong sedang.

PENGARUH KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) PADA PERBANYAKAN TUNAS ANGGREK ATAU PROTOCORM-LIKE BODIES (PLBs) Phalaenopsis violaceae DARI EKSPLAN POTONGAN
BATANG DAN DAUN SECARA IN VITRO

Oleh

Devina Andiviaty1, Yusnita, dan Sri Ramadiana2

ABSTRAK

Phalaenopsis violaceae merupakan salah satu jenis anggrek spesies dari anggota Orchidaceae. Kelestarian jenis anggrek ini di alam terancam punah. Usaha untuk memperbanyak tanaman anggrek secara konvensional dengan biji membutuhkan waktu yang lama dan kemungkinan besar menghasilkan bibit yang tidak seragam dan berbeda dengan induknya. Teknik perbanyakan klonal in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin (BA) dari konsentrasi 5—15 mg/l dan konsentrasi BA yang terbaik pada multiplikasi tunas aksilar dari eksplan potongan batang dan pembentukan PLBs dari eksplan potongan daun Phalaenopsis violaceae.

Percobaan menggunakan rancangan teracak sempurna (RTS), untuk eksplan yang berasal dari potongan batang dengan lima ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari satu botol kultur masing-masing berisi satu eksplan. Untuk eksplan yang berasal dari potongan daun dengan 34—36 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari satu botol kultur masing-masing berisi satu eksplan. Perlakuan terdiri dari lima taraf konsentrasi BA yaitu 5; 7,5; 10; 12,5; dan 15 mg/l. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan dilakukan uji lanjut dengan uji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BA pada konsentrasi 5—15 mg/l menghasilkan multiplikasi tunas aksilar dari eksplan potongan batang dan dapat menginduksi PLBs dari eksplan potongan daun. Konsentrasi 5—15 mg/l BA pada multiplikasi tunas aksilar tidak berbeda satu sama lain saat eksplan berumur 5 bulan setelah tanam dari eksplan potongan batang Phalaenopsis violaceae yaitu sebanyak 2,7—4,3 tunas per eksplan. Konsentrasi 7,5 mg/l BA dapat menginduksi PLBs paling banyak dari eksplan potongan daun Phalaenopsis violaceae yaitu 29 buah PLBs per eksplan saat eksplan berumur 5 bulan setelah tanam.

PENGARUH BERBAGAI ALTERNATIF PEMUPUKAN PADA PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN PRODUKSI TIGA
VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) HIBRIDA

Oleh

Elsa Tresia 1, Kukuh Setiawan2, dan. Agus Karyanto2

ABSTRAK

Produksi jagung (Zea mays L.) di Indonesia terus meningkat, namun guna memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri Indonesia masih melakukan impor jagung. Melalui pertanian organik dan penggunaan benih jagung varietas hibrida akan diperoleh jagung yang memiliki pertumbuhan yang baik, produksi yang tinggi, dan dapat mempertahankan produktivitas lahan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) varietas hibrida yang memberikan pertumbuhan dan komponen produksi terbaik terhadap berbagai alternatif paket pemupukan; (2) paket pemupukan yang menghasilkan pertumbuhan dan komponen produksi terbaik pada tiga varietas jagung hibrida; dan (3) interaksi terbaik antara varietas dan paket pemupukan untuk pertumbuhan dan komponen produksi jagung hibrida.

Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 6) dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Faktor pertama varietas: C-7, P-12, dan Bisi-2; faktor kedua pemupukan, yaitu (1) tanpa pemupukan; (2) 300 kg urea/ha, 140 kg SP-36/ha, dan 100 kg KCl/ha; (3) 150 kg urea/ha, 70 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 1,5 ton/ha; (4) 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 3 ton/ha; (5) pupuk kandang sapi 4 ton/ha; dan (6) pupuk kandang sapi 5 ton/ha. Data dianalisis ragam menggunakan SAS release 6.12. Dilakukan uji Tukey untuk membuktikan kemenambahan model. Korelasi antarsifat diuji dengan uji korelasi sederhana Spearman. Pemisahan Nilai Tengah dilakukan dengan uji BNJ 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan varietas tidak berbeda nyata pada pertumbuhan dan komponen produksi terhadap berbagai alternatif paket pemupukan. Pupuk organik dapat menggantikan peran pupuk anorganik sebagai penyuplai hara bagi tanaman jagung. Interaksi antara varietas C-7 dan penggunaan pupuk anorganik 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 3 ton/ha, terbaik untuk pertumbuhan dan komponen produksi jagung hibrida.

TANGGAPAN PERTUMBUHAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP JENIS MEDIA DASAR DAN PENAMBAHAN
BENZYLADENIN SECARA IN VITRO

Oleh

Irna Nuryani1, Agus karyanto2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah salah satu dari sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri (essential oil) yang ada di Indonesia. Minyak tersebut biasanya digunakan sebagai bahan pengikat (fiksatif) dalam industri parfum dan kosmetika. Secara konvensional, tanaman nilam diperbanyak dengan setek batang. Cara ini relatif mudah, tetapi tergolong lambat. Salah satu alternatif perbanyakan nilam secara cepat dan dalam jumlah besar adalah dengan teknik kultur jaringan atau perbanyakan secara in vitro.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui tanggapan pertumbuhan eksplan nilam terhadap pemberian pupuk daun sebagai subtitusi unsur hara media dasar MS, dan (2) menentukan kombinasi perlakuan jenis media dasar dan konsentrasi BA yang dapat menghasilkan pertumbuhan eksplan nilam dengan kualitas baik.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (4×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (MS, Hyponex, Gandasil D, dan Bayfolan) dan faktor kedua adalah konsentrasi BA (0 mM dan 5 mM). Masing-masing kombinasi perlakuan memiliki 10 ulangan. Data dianalisis dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pupuk daun Hyponex memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan pupuk daun Gandasil D dan Bayfolan. Unsur hara makro dan mikro dalam pupuk daun Hyponex dapat menjadi pengganti unsur hara makro dan mikro media MS untuk pertumbuhan tanaman nilam, dan (2) media MS lebih baik daripada media pupuk daun Hyponex, Gandasil D, dan Bayfolan. Pemberian BA 5 mM pada media MS menghasilkan jumlah tunas terbaik dengan rata-rata 14,8 tunas pada bulan pertama, 13,7 tunas pada bulan kedua, dan 12,5 tunas pada bulan ketiga.

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogae [L.])
PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN
UBI KAYU (Manihot esculenta crantz)

Oleh

Maulana Yusuf

ABSTRAK

Budidaya ubi kayu untuk bahan baku industri tepung tapioka di Propinsi Lampung sebagian besar masih bersifat monokultur. Penanaman kacang tanah dengan ubi kayu dalam sistem tumpangsari diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi per satuan luas lahan. Kendala utama yang dihadapi adalah perbaikan di dalam sistem budidaya tumpangsari khususnya pengaturan jarak tanam guna memperoleh hasil produksi kacang tanah yang optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jarak tanam kacang tanah yang terbaik pada sistem tumpangsari dengan tanaman ubi kayu dan (2) Mengetahui pengaruh jarak tanam ubi kayu terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah dalam sistem tumpangsari dan (3) mengetahui korelasi antar variabel pertumbuhan dan hasil kacang tanah yang dibudidayakan pada sistem tumpangsari dengan ubi kayu.

Penelitian dilaksanakan di desa Bandar Agung, kecamatan Terusan Nunyai, kabupaten Lampung tengah bulan Februari sampai Mei 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 3) dengan Rancangan Petak Terbagi dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RPT-RKTS) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah jarak tanam ubi kayu yang terdiri dari 80 x 60 cm (U1), 80 x 80 cm (U2), dan 80 x 100 cm (U3). Anak petak adalah jarak tanam kacang tanah yang terdiri dari 20 x 20 cm (K1), 20 x 30 cm (K2), dan 20 x 40 cm (K3). Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf α 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam kacang tanah 20 x 40 cm merupakan jarak tanam terbaik pada sistem budidaya tumpangsari dengan ubi kayu. Jarak tanam ubi kayu yang ditanam dengan arah barisan Timur – Barat tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Jumlah cabang dan bobot kering brangkasan berkorelasi positif secara nyata dengan jumlah polong bernas, bobot kering polong, bobot 100 butir biji, dan hasil, tetapi berkorelasi negatif dengan jumlah polong hampa. Peubah tinggi tanaman berkorelasi positif dengan jumlah polong hampa, tetapi berkorelaasi negatif dengan jumlah polong bernas, bobot kering polong, dan hasil polong kering kacang tanah.

UJI KARAKTER AGRONOMI LIMA GENOTIPE KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.) UNTUK DISELEKSI
SEBAGAI TETUA

Oleh
Ruli Bahrul Ulum1, Ardian2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Tuntutan permintaan konsumen dan petani terhadap komoditas kacang panjang yang memiliki komponen hasil yang tinggi dan seragam pada karakter kualitatif dan kuantitatif mendorong pengusahaan perakitan benih kacang panjang hibrida.

Seleksi untuk mendapatkan tetua diperlukan dalam proses hibridisasi. Tetua harus memiliki sifat-sifat interes untuk direkombinasi ke dalam zuriat. Berlandaskan hipotesis, akan terdapat sekurang-kurangnya dua genotipe yang memiliki sifat interes terbanyak.

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kedaton, Bandar Lampung, sejak Juni hingga September 2006. Digunakan lima genotipe sebagai perlakuan, rancangan kelompok teracak lengkap sebagai rancangan perlakuan dengan lima ulangan dan dikelompokkan berdasarkan ulangan. Data dianalis ragam, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur 0,05, analisis kuantitatif genetika dengan perhitungan pendugaan ragam genetik dan heritabilitas broad-sense. Khusus untuk peubah tingkat kemanisan polong hanya digunakan analisis boxplot.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaan antargenotipe yang diuji pada peubah tingkat kehijauan daun, jumlah polong, jumlah cabang bunga, dan tingkat kehijauan polong. Peubah yang memiliki ragam genetik dan heritabilitas yang nyata adalah tingkat kehijauan daun; jumlah polong; jumlah cabang bunga; bobot polong per tanaman dan panjang polong; pangkal polong. Dua genotipe terbaik berdasarkan rekapitulasi kepemilikan sifat interes yang dapat bersifat genetik dan dapat diwariskan adalah Lurik dan Hitam.

UJI ADAPTASI BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench.) BERDASARKAN
PERTUMBUHAN DAN HASIL DI BANDAR LAMPUNG

Oleh
Setiawan1, Kukuh Setiawan2, dan Sunyoto2

ABSTRAK

Tanaman sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.) memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan tanaman serealia lainnya, yaitu tahan terhadap kekeringan dan kandungan protein sorgum yang tinggi. Selain itu, tanaman sorgum dapat menghasilkan anakan (ratoon) dan hasilnya dapat menyamai atau bahkan melebihi dari hasil tanaman induknya. Pemanfaatan tanaman sorgum selain digunakan untuk pangan dan pakan juga dapat digunakan sebagai bahan industri khususnya sebagai bahan industri bioetanol yaitu sebagai bahan bakar alternatif (bensin).

Penelitian ini bertujuan sebagai suatu evaluasi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa genotipe sorgum di daerah Bandar Lampung dan untuk menghitung korelasi antara pertumbuhan vegetatif dan generatif yang akan digunakan sebagai kriteria adaptasi.

Perlakuan disusun dalam rancangan kelompok teracak lengkap dengan tiga belas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah tiga belas genotipe sorgum yaitu genotipe B-100-2, B-90, B-76, B-100-1, Durra, B-75, B-83, B-29, B-69, UPCA-S1, Higari, Mandau, dan ZH-30. Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila F berbeda akan dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) genotipe B-90, B 100-1, B-75, B-29, B-69, UPCA S1, B-83, Mandau dan Higari merupakan genotipe-genotipe yang memberikan hasil yang rendah, sedangkan genotipe B 100-2, B-76, Durra, dan ZH-30 merupakan genotipe-genotipe sorgum yang memberikan hasil yang tinggi baik jumlah biji per malai maupun bobot biji yang tinggi; (2) bobot kering berangkasan berkorelasi positif dengan bobot kering biji per malai; dan (3) genotipe ZH-30 selain memberikan hasil yang tinggi, juga tahan terhadap kerebahan.

RAGAM KERAGAAN DUA POPULASI JAGUNG (Zea mays L.)

HARAPAN UNGGUL LA-4 DAN SEGREGAN LA-WHITE PADA DOSIS KCl PEMBEDA DI TULANG BAWANG

Oleh

Slamet Haryanto Dwi Antoro1, Saiful Hikam2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK
LA-White merupakan segregan, hasil self dari persilangan jagung putih lokal dengan kultivar unggul nasional Srikandi yang diharapkan rekombinasi alel dari kedua tetuanya akan mempunyai variasi genetik yang dapat dijadikan sebagai sifat interest untuk pemuliaan tanaman jagung dengan menjadikannya sebagai sumber tetua baru sedangkan LA-4 merupakan jagung harapan unggul yang belum disetifikasi untuk dilepas menjadi kultivar unggul baru.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui keragaan vegetatif dan generatif jagung harapan unggul LA-4 dan segregan LA-White; (2) menganalisis respon jagung harapan unggul LA-4 dan Segregan LA-White terhadap beberapa dosis pemupukan KCl pembeda; (3) menyusun deskripsi sementara untuk kultivar harapan unggul LA-4 dan segregan LA-White.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama terdiri atas dosis pupuk KCl: 0 kg/ha, 75 kg/ha, 150 kg/ha, dan 225 kg/ha. Anak petak terdiri atas kultivar jagung: LA-White, LA-4, Srikandi, dan Jaya-3. Data yang diperoleh dianalisis ragam kemudian diuji BNJ untuk mengetahui perbedaan nilai tengah perlakuan pada peluang <5%. Ragam genetik (σ2v) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) dihitung berdasarkan pemisahan komponen ragam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat vegetatif dan generatif keempat kultivar semuanya berbeda yaitu tinggi tanaman, posisi tongkol, jumlah daun, jumlah malai, waktu antesis, waktu reseptif, masak fisiologis, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol, jumlah tongkol panen, bobot biji per tongkol, bobot 100 butir, dan produksil pipilan per ha serta memiliki nilai ragam genetik (σ2v) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) yang nyata kecuali bobot 100 butir. Produksi pipilan per ha secara langsung berkorelasi positif nyata dengan waktu antesis, waktu reseptif, masak fisiologis, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol, dan bobot biji per tongkol yang semuanya mempunyai nilai korelasi (r), σ2v dan h2BS yang nyata sehingga berpeluang dipergunakan sebagai faktor seleksi langsung.

PENGGUNAAN FENOKSAPROP-P-ETIL SEBAGAI ZAT PEMACU KEMASAKAN TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI LAHAN KERING

Oleh
Sumaryana1, Dad R.J. Sembodo2, dan. Indarto2

ABSTRAK
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) dewasa dengan ketersediaan air yang tinggi akan terus melanjutkan fase vegetatifnya. Fase generatif akan terhambat dan umur tanaman dapat bertambah panjang. Dengan demikian kadar gula dalam batang tebu menurun. Zat Pemacu Kemasakan (ZPK) merupakan senyawa penghambat pertumbuhan. ZPK diharapkan mampu menghambat pertumbuhan vegetatif batang, mempercepat kemasakan, serta menseragamkan kemasakan. Fluazifop-P-butil dan fenoksaprop-P-etil merupakan senyawa kimia golongan ariloksifenoksipropionat yang digunakan sebagai ZPK. Fluazifop-P-butil dan fenoksaprop-P-etil berperan sebagai senyawa yang menghambat biosintesis lipid.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis efektif fenoksaprop-P-etil terhadap peningkatan kualitas nira dan bobot batang tanaman tebu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2005 di PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis Sumatera Selatan. Penelitian terdiri atas lima perlakuan yang disusun menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan pada masing-masing perlakuan. Data dianalisis ragam. Keragaman antarperlakuan diuji Bartlett dan kemenambahan model diuji Tukey. Pemisahan nilai tengah dilakukan berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenoksaprop-P-etil yang digunakan sebagai zat pemacu kemasakan mampu meningkatkan kualitas nira dan bobot batang tanaman tebu. Namun, fenoksaprop-P-etil 45 g/ha meningkatkan kualitas nira lebih tinggi yang ditunjukkan oleh nilai brix, pol, dan rendemen pada 3 MSA, serta harkat kemurnian pada 2 MSA dan lebih tinggi dari kontrol. Pada 3 MSA batang tebu masak sehingga pemanenan dapat dilakukan. Pemanenan yang terlalu cepat mengakibatkan kinerja zat pemacu kemasakan belum optimal; sedangkan pemanenan yang terlambat secara tidak langsung dapat menurunkan produksi gula.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) ATAU KINETIN PADA PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF
Sansevieria trifasciata Lorentii IN VITRO

Oleh

Triani Wahyuningsih1, Yusnita.2, dan Sri Ramadiana.2
ABSTRAK

Sansevieria trifasciata L. merupakan tanaman sukulen golongan Agavaceae yang akhir-akhir ini sangat populer. Permintaan dunia akan tanaman hias mencapai 5000 kontainer termasuk di dalamnya permintaan Sansevieria trifasciata L. Perbanyakan secara konvensional belum dapat memenuhi permintaan tersebut. Teknik in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin atau kinetin serta untuk mengetahui konsentrasi yang terbaik terhadap pembentukan tunas adventif pada eksplan potongan daun Sansevieria trifasciata L. Percobaan menggunakan Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan lima ulangan. Setiap perlakuan dalam masing-masing ulangan terdiri dari tiga botol kultur yang masing-masing berisi satu eksplan. Pengaruh berbagai konsentrasi benziladenin (BA) atau kinetin dipelajari secara terpisah, masing-masing terdiri dari lima taraf yaitu 0 mg/l; 0,5 mg/l; 1 mg/l; 2 mg/l; dan 5 mg/l. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan BA pada konsentrasi 1 mg/l yang mampu menginduksi tunas adventif sebanyak 3 tunas pereksplan saat kultur berumur 3 bulan setelah tanam (BST) dan 9 tunas pereksplan saat kultur berumur 4 bulan setelah tanam (BST). Pada perlakuan kinetin diperoleh konsentrasi terbaik pada 0,5 mg/l yang mampu menginduksi tunas adventif sebanyak 1 tunas pereksplan saat kultur berumur 3 BST dan 6 tunas pereksplan saat kultur berumur 4 BST. Untuk variabel panjang tunas adventif tidak dipengaruhi oleh keberadaan BA atau kinetin pada media kultur.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) PADA PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF DUA KULTIVAR
Sansevieria trifasciata SECARA IN VITRO

Oleh

Wiry Pungkastiyani1, Yusnita2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Di Indonesia, sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin (BA) dan mengetahui konsentrasi BA yang terbaik untuk menginduksi terbentuknya tunas adventif pada kedua kultivar tanaman Sansevieria serta menentukan kultivar yang memiliki daya regenerasi tunas lebih baik.

Percobaan dilaksanakan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan lima ulangan. Perlakuan disusun secara faktorial (6×2). Faktor pertama adalah BA dengan enam taraf konsentasi (0; 0,1; 0,25; 0,5; 1; dan 2 mg/l) dan faktor kedua adalah dua kultivar Sansevieria yaitu Sansevieria trifasciata cv. Lorentii dan Sansevieria trifasciata cv. Hahnii. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, apabila hasil uji homogen maka dilanjutkan dengan analisis ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa BA mampu menumbuhkan mata tunas dan tunas pada kultur jaringan tanaman Sansevieria yang berasal dari eksplan potongan daun. Hasil terbaik dalam pembentukan tunas adventif pada eksplan potongan daun kedua kultivar tercapai pada konsentrasi BA 2 mg/l, yang mampu menginduksi mata tunas dan tunas adventif terbanyak dengan rata-rata 10,6 mata tunas dan tunas per eksplan saat kultur berumur 14 minggu setelah tanam. Kedua kultivar Sansevieria yaitu kultivar Hahnii dan Lorentii menunjukkan adanya perbedaan daya regenerasi dalam pembentukan mata tunas dan tunas pada taraf konsentrasi BA yang sama. Kultivar Lorentii yang memiliki daya regenerasi yang lebih baik.

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS PUPUK KANDANG PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TIGA VARIETAS
CABAI (Capsicum annuum L.) HIBRIDA

Oleh

Winda Evanori1, M. Syamsoel Hadi2 , dan Tjipto R. Basoeki2

ABSTRAK

Cabai merupakan salah satu jenis sayuran penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada umumnya produktivitas tanaman cabai di Indonesia masih rendah, di antaranya karena faktor iklim, teknik bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan, serangan hama dan penyakit, dan masih sedikitnya varietas yang memiliki daya hasil yang tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemberian beberapa jenis pupuk kandang pada pertumbuhan dan produksi tanaman cabai hibrida; (2) varietas cabai yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang paling baik; dan (3) pengaruh pemberian pupuk kandang pada pertumbuhan dan produksi pada masing-masing varietas cabai hibrida.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:(1) pemberian pupuk kandang ayam dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang paling baik pada cabai hibrida dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing; (2) terdapat perbedaan respon pertumbuhan dan produksi antarvarietas cabai hibrida; dan (3) terdapat perbedaan respon pertumbuhan dan produksi terhadap pemberian jenis pupuk kandang pada masing-masing varietas yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan di Karang Anyar, Lampung Selatan dari Agustus 2004 sampai Januari 2005.Perlakuan disusun secara faktorial (4×3) dalam RKTS dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yaitu tanpa pupuk kandang, pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, dan pupuk kandang ayam. Faktor kedua adalah varietas cabai hibrida yaitu Lado, Taro, dan Rodeo. Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji BNJ. Semua pengujian dilakukan pada taraf nyata 5%.

Hasil Penelitian menunjukan:(1) pupuk kandang meningkatkan pertumbuhan namun tidak mempengaruhi produksi cabai. Pemberian pupuk kandang ayam lebih baik dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan kambing berdasarkan variabel tinggi, bobot kering akar, bobot kering batang, bobot kering daun, dan bobot kering daun/10 cm2; (2) varietas Lado dan Taro memberikan produksi lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Rodeo berdasarkan variabel jumlah buah dan bobot buah; dan (3) tanggapan pertumbuhan dan produksi cabai terhadap jenis pupuk kandang tidak bergantung pada varietas yang digunakan.
PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3) PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN SEDAP MALAM
(POLYANTHUS TUBEROSE L.)

Oleh

Sisi Bahana Putih1 Widho Hanolo2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Salah satu famili Amarylidaceae yang diusahakan sebagai bunga potong adalah sedap malam (Polyanthus tuberosa L.). Hampir semua lapisan masyarakat memanfaatkan keindahan dan keharuman bunga tersebut sepanjang malam. Bunga sedap malam tergolong bunga potong yang laku di pasaran setelah mawar. Permasalahan yang sering timbul pada pembudidayaan sedap malam adalah pembungaan dan kualitas bunga rendah. Salah satu cara untuk merangsang pembungaan dan meningkatkan kualitas bunganya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan sedap malam dan mengetahui konsentrasi KNO3 yang menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan sedap malam terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah pemberian KNO3 1,5 g/1 — 6 g/1 dapat meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanarnan sedap malam dan dapat menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan sedap malam. Bunga sedap malam memiliki kuntum/tangkai bunga banyak dengan susunan rapat, diameter kuntum lebar, aroma kuat mekar malai bunga lama, umur genjah (umum panen yang relatif pendek), dan produksi cukup tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Oktober 2005 hingga bulan Maret 2006. Perlakuan ini disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan empat kelompok. Faktor perlakuan adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dan lima taraf yaitu Ko (0g/1/kontrol), K1 (1 ,5g/1), K2 (3g/1), K3 (4,5g/1), K4 (6g/1). Setiap faktor perlakuan diulang sebanyak empat kali dan setiap perlakuan terdiri dan dua polibag dan analisis data menggunakan Standar Error of Mean (SE).
Pemberian kaliurn nitrat (KNO3) dengan konsentrasi 0—6 g/l belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman sedap malam pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan, diameter umbi, waktu muncul kuncup malai, jumlah malai per rumpun, panjang malai, diameter tangkai bunga, dan masa mekar bunga tetapi mampu mempercepat waktu pecah malai dan waktu mekar bunga. Pemberian KNO3 pada konsentrasi 1,5 g/l mampu mempercepat waktu pecah malai (7,25 hari) dan waktu mekar bunga (1,5 hari) sejak pecah malai.

TANGGAPAN KAILAN (Brassica oleracea var. Long Leaf) TERHADAP PENGGUNAAN

MULSA SEKAM PADI DAN PEMBERIAN KALIUM

Oleh

Dede Sopyandi

ABSTRAK

Kailan (Brassica oleracea var. Long Leaf) sebagai sayuran daun kaya akan sumber vitamin dan mineral bagi pemenuhan kebutuhan gizi manusia. Upaya peningkatan produksi tanaman kailan tak terlepas dari perbaikan faktor budidaya, salah satunya pemupukan dan penggunaan mulsa.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui respon tanaman kailan terhadap mulsa sekam padi untuk pertumbuhan dan hasil tanaman, (2) mengetahui dosis kalium yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kalian, (3) mengetahui interaksi dosis kalium dan pemberian mulsa sekam padi untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kalian.

Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Batu, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung, pada bulan Januari sampai Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) yang diterapkan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah mulsa yang terdiri dari M0 (tanpa mulsa sekam padi) dan M1 (dengan mulsa sekam padi). Faktor kedua adalah kalium terdiri dari 5 taraf dosis yaitu, K1 (150 kg KNO3/ha), K2 (175 kg KNO3/ha), K3 (200 kg KNO3/ha), K4 (225 kg KNO3/ha), dan K5 (250 kg KNO3/ha). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet, sedangkan aditivitas ragam diuji dengan uji Tukey. Uji lanjutan menggunakan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% atau 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemberian mulsa sekam padi menghasilkan peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kailan pada peubah tingkat kehijauan dan luas daun dibandingkan tanpa mulsa. (2) pemberian kalium hanya berpengaruh nyata terhadap luas daun tidak terhadap peubah lainnya. Pemberian kalium sampai dosis 250 kg KNO3/ha masih meningkatkan luas daun. (3) pemberian kalium bergantung pada penggunaan mulsa sekam padi hanya terhadap peubah luas daun, sedangkan terhadap peubah lain tidak.

PENGARUH KONSENTRASI ATONIK PADA PERTUMBUHAN
SETEK TANAMAN BUAH NAGA [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose]

Oleh

Dini Safitri1, Widho Hanolo2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Buah naga merupakan produk hortikultura yang akhir-akhir ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Dalam budidaya secara intensif dibutuhkan bibit tanaman buah naga yang berkualitas dalam jumlah banyak. Salah satu cara untuk mendapatkan bibit tanaman buah naga, adalah setek batang.

Untuk meningkatkan keberhasilan penyetekan dapat digunakan zat pengatur tumbuh, salah satunya Atonik. Atonik merupakan zat pengatur tumbuh yang mengandung bahan aktif senyawa fenol yang mampu meningkatkan aktivitas sintesis IAA pada tanaman. Penggunaan atonik pada perbanyakan tanaman buah naga diharapkan dapat mempercepat terbentuknya akar, dan memperbaiki sistem perakaran tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Atonik pada pertumbuhan setek tanaman buah naga [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose].

Perlakuan disusun secara tunggal dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Satuan percobaan dikelompokkan berdasarkan panjang setek. Perlakuan berdasarkan lima taraf konsentrasi Atonik, yaitu 0% (A0), 0.2% (A1), 0.4% (A2), 0.6% (A3), 0.8% (A4). Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Perbedaan nilai variabel antarperlakuan diketahui dengan melihat galat baku nilai tengah dari data tiap perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Atonik dengan konsentrasi 0—0.8% secara umum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan setek tanaman buah naga. Hal tersebut terlihat dari variabel persentase setek berakar, persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, dan bobot kering akar yang tidak nyata berpengaruh. Aplikasi Atonik nyata berpengaruh hanya pada waktu muncul tunas.

PENGARUH BEBERAPA MEDIA KOMPOT DAN JENIS PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT
ANGGREK Dendrobium antennatum DARI BOTOL

Oleh

Jamaludin1, Sri Ramadiana2, dan Yusnita2

ABSTRAK

Dendrobium antennatum merupakan anggrek spesies asli Indonesia. Bibit anggrek yang dihasilkan melalui kultur jaringan memerlukan proses adaptasi terhadap lingkungan eksternal yang disebut dengan aklimatisasi. Media tumbuh yang digunakan mempengaruhi keberhasilan dalam aklimatisasi. Pemupukan perlu dilakukan untuk memacu pertumbuhan awal tanaman yang diaklimatisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa media kompot dan jenis larutan pupuk serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum yang berasal dari botol. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai bulan April hingga Agustus 2006. Rancangan disusun dalam rancangan teracak sempurna dengan perlakuan disusun secara faktorial 4×3. Faktor pertama adalah beberapa media kompot yaitu cacahan pakis (A1), arang sekam (A2), serat sabut kelapa (A3), dan campuran antara cacahan pakis dengan arang sekam (A4). Faktor kedua adalah tiga jenis larutan pupuk yaitu Formulasi MS (B1), Hiponex merah (B2), dan GrowMore (B3). Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett. Bila kedua asumsi terpenuhi analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan BNT pada taraf 5 %.
Semua jenis media kompot yang dicobakan memberikan pengaruh yang sama baiknya untuk variabel persentase tanaman hidup (86,67 %—92,22 %), tinggi tanaman (10,35 cm—11,15 cm), jumlah daun (4,01—4,23), jumlah akar (15,83 cm—16,86 cm), jumlah tunas (0,68—0,91), dan rata-rata bobot basah tanaman (2,66 g—2,99 g). Pemberian tiga jenis larutan pupuk yaitu formulasi MS, Hiponex merah, dan GrowMore tidak memberikan pengaruh yang nyata untuk semua variabel terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum yang diaklimatisasi. Pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum pada masing-masing media tidak dipengaruhi oleh pupuk yang diberikan.

PENGARUH BEBERAPA KOMPOSISI LARUTAN PERENDAM TERHADAP VASE LIFE BUNGA POTONG ANGGREK
(Vanda teres) DALAM VAS

Oleh

Novaria1, Sri Ramadiana2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK

Anggrek Vanda merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bunga potong. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bunga potong anggrek dengan memperpanjang masa mekar bunga (vase life) bunga tersebut. Vase life dapat diperpanjang dengan menggunakan larutan perendam.

Percobaan dilakukan untuk mendapatkan komposisi larutan perendam dalam vas (holding) yang tepat untuk memperpanjang masa kesegaran bunga potong Anggrek (Vanda teres). Dalam penelitian ini digunakan lima komposisi larutan perendam yang terdiri dari kontrol (akuades); 3% Sukrosa; 3% Sukrosa + 150 ppm asam salisilat; 3%Sukrosa + 25 ppm AgNO3; 3%Sukrosa +
150 ppm asam salisilat + 25 ppm AgNO3.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa holding dengan menggunakan larutan 3% sukrosa + 25 ppm AgNO3 memberikan hasil terbaik, yaitu masa kesegaran bunga (vase life) bunga potong mencapai 16 hari (6 hari lebih lama dibandingkan kontrol) dengan persentase kesegaran mencapai 58,7%. Penggunaan larutan perendam sukrosa maupun campuran sukrosa dengan perak nitrat atau asam slisilat dapat memperpanjang masa kesegaran bunga rata-rata hingga 6 hari.

OPTIMASI ENAM JENIS MEDIA PADA PERTUMBUHAN TUNAS NENAS (Ananas comosus) SECARA IN VITRO

Oleh

Raudhah Mardhiyah1, Ardian2, Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Nenas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Untuk skala industri, perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik, yaitu media padat, media cair, atau modifikasi antara keduanya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan media terhadap pertumbuhan tunas nenas secara in vitro dan untuk mengetahui pengaruh media cair tanpa shaker terhadap pertumbuhan tunas nenas secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung sejak Juli 2006 sampai November 2006.

Penelitian dilakukan dengan rancangan perlakuan tunggal dalam rancangan kelompok teracak sempurna sebanyak enam perlakuan media, yaitu media cair tanpa shaker, cair dengan penambahan kertas tisu, padat dengan menggunakan agar-agar, media setengah padat menggunakan agar-agar, padat menggunakan agar gel, dan media dua lapis antara media padat agar-agar dan cair. Setiap perlakuan diterapkan dalam 5 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 botol tanaman. Perbedaan nilai variabel antarperlakuan diketahui dengan melihat nilai galat baku nilai tengah (standard error of the mean) dari data setiap perlakuan. Sebaran data setiap perlakuan diketahui dengan analisis boxplot.

Penggunaan enam media perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah dan tinggi tunas nenas, baik pada tahap inisiasi maupun pada tahap subkultur, namun tidak berpengaruh nyata pada tingkat kehijauan daun. Media cair tanpa shaker dengan volume setengah kali tinggi planlet dapat digunakan sebagai pengganti media padat karena mampu menghasilkan tunas terbanyak dengan daun tidak mengalami vitrifikasi. Secara praktis, penggunaan media cair tanpa shaker memiliki beberapa keunggulan, antara lain biaya yang dibutuhkan lebih sedikit, lebih mudah dilakukan, dan pengerjaannya lebih singkat dibandingkan dengan lima media lainnya.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN ROOTONE-F
PADA PERTUMBUHAN SETEK TANAMAN BUAH NAGA
DAGING PUTIH [Hylocereus undatus (Haw.)
Britton & Rose]

Oleh

Umi Chairiah1, Widho Hanolo2, M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK
Bibit buah naga [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose] sebagai komoditas baru diperlukan untuk meningkatkan usaha produksi buah naga di Indonesia. Tanaman buah naga pada umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan setek batang, cabang atau sulur. Umumnya akar yang terbentuk pada setek ini jumlahnya sedikit dan tidak terlalu panjang yang akan menyebabkan penyerapan air, unsur hara, dan volume yang kontak dengan akar lebih rendah dan rentan terhadap pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Untuk meningkatkan perkembangan perakaran dapat ditempuh dengan penggunaan bahan organik pada media tumbuh dan pemberian zat pengatur tumbuh.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan setek tanaman buah naga pada media tanam tanpa perlakuan bahan organik dan yang diberi perlakuan bahan organik, (2) perbedaan pertumbuhan setek tanaman buah naga tanpa perlakuan Rootone-F dan yang diberi perlakuan Rootone-F, dan (3) persitindakan antara media tanam dan Rootone-F pada pertumbuhan setek tanaman buah naga.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan April 2005 sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (5 x 2), dengan faktor pertama adalah media tanam, yaitu campuran tanah dan pasir (M0/kontrol), campuran tanah, pasir, dan kotoran ayam (M1), campuran tanah, pasir, dan kotoran sapi (M2), campuran tanah, pasir, dan kotoran cacing (M3), campuran tanah, pasir, dan kompos (M4). Faktor kedua adalah Rootone-F (R1) dan tanpa Rootone-F (R0). Perlakuan.

EVALUASI STATUS UNSUR HARA NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM DENGAN TEKNIK UJI CEPAT DAN KARAKTER MORFOFISIOLOGI TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)

Oleh

Umi Rohmawati1, Agus Karyanto2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu tanaman dari famili cucurbitaceae yang bernilai ekonomi tinggi. Produksi dan kualitas melon dapat ditingkatkan dengan menggunakan varietas unggul dan pemupukan yang tepat dan berimbang. Analisis jaringan tanaman dan analisis tanah merupakan alat untuk menentukan kebutuhan unsur hara yang tepat untuk tanaman. Analisis jaringan tanaman dengan teknik uji cepat bertujuan untuk mendeteksi defisiensi unsur hara pada saat tanaman sedang tumbuh dan untuk mengatasi hidden hunger dengan cepat

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi penggunaan teknik uji cepat analisis jaringan pada daun segar dan membandingkannya dengan teknik konvensional yang menggunakan daun melon (Cucumis melo L.) yang telah dikeringkan, (2) mengetahui karakter morfofisiologi tanaman melon (Cucumis melo L.) yang dipupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk urea, TSP, dan KCl, dan (3) mengetahui mutu buah melon (Cucumis melo L.) yang dipupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk urea, TSP, dan KCl.

Perlakuan disusun dalam Perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan tunggal terstruktur dengan rancangan percobaan teracak sempurna (RTS). Faktor yang digunakan adalah berbagai taraf dosis urea, TSP, dan KCl yaitu kontrol (P0), 11,5 g urea + 8 g TSP +6,5 g KCl (P1); 23 g urea + 16 g TSP +13 g KCl (P2); 34,5 g urea + 24 g TSP +19,5 g KCl (P3); 46 g urea + 32 g TSP +26 g KCl (P4). Setiap kombinasi perlakuaan terdiri dari 15 polybag. Data dianalisis secara statistika dengan menggunakan uji Fisher (uji F) pada taraf kepercayaan 95% yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada nilai kritis 5%. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan program SAS (SAS System for Windows V6.12.)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) teknik uji cepat analisis jaringan tanaman dengan menggunakan daun segar dapat dijadikan salah satu alternatif untuk pengujian status unsur hara fosfor dan kalium, tetapi tidak untuk pengujian status unsur hara nitrogen pada tanaman melon (Cucumis melo L.), (2) pemberian dosis pupuk urea, TSP, dan KCl meningkatkan diameter batang, tingkat kehijauan daun, kandungan nitrogen, bobot buah, volume buah, kandungan asam bebas, vitamin C, dan tingkat kemanisan buah, dan (3) perlakuan ½ x dosis anjuran (P1) menunjukkan hasil yang cenderung lebih baik pada bobot buah, diameter dan ketebalan buah, kandungan vit. C.

PENGARUH KONSENTRASI PELILINAN PADA PERUBAHAN SIFAT FISIK DAN KIMIA JERUK ’SIAM’
(Citrus reticulata Blanco cv. ‘SIAM’)SELAMA MASA PENYIMPANAN

Oleh

Upi Fitriyanti1, Soesiladi E. Widodo2, M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelilinan dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah jeruk ‘Siam’ serta mengetahui pola dehidrasi (kehilangan air) buah jeruk ‘Siam’ tanpa dan dengan pelilinan pada konsentrasi yang berbeda-beda. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Buah jeruk ‘Siam’ (Citrus reticulata Blanco cv. ‘Siam’) dipanen langsung dari kebun petani di Terbanggi Besar, Humas Jaya, Lampung Tengah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai September 2005. Perlakuan disusun dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan perlakuan konsentrasi pelilinan 0, 6, 12, dan 18% emulsi lilin. Perlakuan tanpa pelilinan (0%) terdiri dari 4 perlakuan: tanpa dicelup air, dicelup air, dan dicelup dengan campuran alkohol dan air (setara dengan emulsi lilin 16 dan 18%).

Percobaan pertama dilakukan untuk mengetahui perubahan sifat kimia dan fisik buah. Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan, dan masing-masing ulangan terdiri dari 6 buah jeruk ‘Siam’. Buah-buah tersebut terus diamati dan diekstraksi setiap 3 hari sekali selama 21 hari. Percobaan kedua dilakukan untuk mengamati pola dehidrasi (kehilangan air). Masing-masing perlakuan terdiri dari 10 buah dan berlaku sebagai ulangan. Pengamatan bobot buah dilakukan setiap hari selama 21 hari. Untuk percobaan pertama, data dianalisis dengan Anova dan dilanjutkan dengan BNT pada taraf nyata 5% menggunakan SAS (Sistem for Windows). Untuk percobaan kedua, data ditampilkan dengan grafik dan dilengkapi dengan persamaan (R2) tertinggi.

Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) Perlakuan pelilinan dengan konsentrasi yang berbeda pada buah jeruk ‘Siam’ tidak mampu memperpanjang masa simpan lebih dari 15 hari penyimpanan, yang ditunjukkan dengan semakin besarnya persentase penyusutan bobot buah dan pengisutan pada hari ke-15 penyimpanan, (2) Perlakuan pelilinan mampu mempertahankan mutu kimia buah jeruk ‘Siam’ yang ditunjukkan dengan tidak adanya pengaruh nyata terhadap kandungan padatan terlarut (ºBrix), asam bebas dan L-askorbat selama penyimpanan, (3) Dari pola penyusutan bobot (dehidrasi), buah jeruk ‘Siam’ yang tanpa perlakuan (kontrol) mengalami pola dehidrasi lebih tinggi dari pada buah yang diberi perlakuan pelilinan. Pada buah yang tanpa perlakuan peningkatan pola dehidrasi dimulai pada hari ke-13 penyimpanan. Sedangkan pada perlakuan pelilinan dimulai pada hari ke-15 penyimpanan.

PENGARUH KONSENTRASI KNO3 PADA KECEPATAN PEMBUNGAAN DAN KUALITAS BUNGA SEDAP
MALAM (Polyanthus tuberosa L.)

Oleh

Yuliana1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Tanaman hias bunga khususnya bunga potong dewasa ini cukup banyak diminati konsumen. Salah satu bunga potong yang banyak diminati adalah bunga sedap malam. Masalah yang sering dihadapi pada bunga sedap malam lokal sebagai bunga potong adalah panjang tangkai, rangkaian floret dan bunganya cepat rontok. Untuk meningkatkan kualitas ini salah satunya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi KNO3 dalam meningkatkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam serta mengetahui konsentrasi KNO3 yang tepat untuk menghasilkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam yang terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah pemberian KNO3 1,5 g/1—6 g/1 dapat meningkatkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Oktober 2005 sampai dengan bulan Maret 2006. Penelitian diterapkan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan empat kelompok. Faktor perlakuan adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf, yaitu Ko(0g/l), K1(1,5g/l), K2(3g/l), K3(4,5g/l), K4(6g/l). Setiap faktor perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap faktor perlakuan terdiri dari dua rumpun yang masing-masing ditanam dalam polybag. Data diuji dengan Standar Error of Means (SE).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kalium nitrat (KNO3) dengan konsentrasi 1,5 g/l dapat meningkatkan waktu pecah malai dan mampu mempercepat waktu mekar bunga, namun untuk meningkatkan kualitas bunga yaitu panjang tangkai bunga dan jarak antarfloret dibutuhkan konsentrasi KNO3 yang lebih tinggi 6 g/l.

ANALISIS AGRIBISNIS TANAMAN OBAT
PADA KEBUN TANAMAN OBAT KARYA TAMA
DI BANDAR JAYA LAMPUNG TENGAH

Oleh

Vina Septanti

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui sistem penyediaan bahan baku dan produksi tanaman obat yang sudah diolah, (2) mengetahui keuntungan usahatani pengolahan tanaman obat, dan (3) mengetahui kegiatan pemasaran dan strategi pemasaran tanaman obat.

Penelitian ini dilakukan pada Kebun Tanaman Obat Karya Tama di Bandar Jaya Kabupaten Lampung Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja karena Kebun Tanaman Obat Karya Tama merupakan satu-satunya tempat yang mengolahan tanaman obat berupa kapsul, simplesia dan bubuk seduh serta celup. Waktu pengumpulan data dilakukan pada Bulan Januari–Maret 2006.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bibit yang diusahakan oleh Kebun Tanaman Obat Karya Tama 40 persen dari budidaya sendiri dan 60 persen dari membeli pada petani bibit yang dibeli dari petani berasal dari Metro, Tanggamus, Gunung Lau, dan Ciwideu,(2) usahatani tanaman obat di Kebun Tanaman Obat Karya Tama dihitung dalam satu tahun menguntungkan bagi pengusaha dan layak diusahakan mengingat nisbah antara penerimaan dan biaya tunai (R/C) sebesar 1,60 dan nisbah antara penerimaan dan biaya total (R/C) sebesar 1,03. Pengolahan tanaman obat menjadi produk jenis simplesia, bubuk dan kapsul menguntungkan dengan R/C biaya tunai sebesar 3,25 dan untuk R/C biaya total sebesar 2,35, dan (3) kegiatan pemasaran yang dilakukan Kebun Tanaman Obat Karya Tama meliputi segmentasi pasar, anggaran biaya pemasaran, waktu pemasaran, sedangkan untuk strategi pemasaran Kebun Tanaman Obat Karya Tama menggunakan strategi bauran pemasaran, pada komponen produk belum maksimal karena tidak semua kemasan dilengkapi dengan merk. Untuk analisis marjin pemasaran diperoleh rasio profit pada masing-masing produk sebesar 44,18 untuk simplesia; 56,47 untuk bubuk, dan 5,09 untuk kapsul.

ANALISIS RAGAM GENETIK, HERITABILITAS BROAD-SENSE, DAN KORELASI ANTARSIFAT UNTUK PENETAPAN SELEKSI TIDAK LANGSUNG PADA LIMA LINI INBRED JAGUNG

Oleh
M. Ansori Arsyad1, Saiful Hikam2, dan Denny Sudrajat3.

ABSTRAK

Perakitan lini inbred merupakan dasar untuk menghasilkan benih hibrid maupun benih sintetik secara berkesinambungan. Lini inbred terbentuk bila populasi di self berulang kali, yaitu 6-9 kali. Populasi self akan menghasilkan keragaman genetik yang berbeda antarlini. Keragaman merupakan plasma nutfah yang dapat digunakan untuk seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk analisis antarinbred, analisis σ2g dan h2bs, dan analisis sifat tidak langsung yang dapat dipilih. Hipotesis yang diajukan adalah ada perbedaan antarinbred, terdapat σ2g dan h2bs yang besar, dan ada sifat tidak langsung yang berkorelasi dengan produksi.

Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Politeknik Negeri Lampung. Penelitian menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan empat ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan perbandingan nilai tengah menggunakan uji BNJ5%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan keragaan antarinbred dan keragaman sifat yang dapat diwariskan pada sifat-sifat tinggi tanaman, tinggi relatif tongkol, sudut daun, jumlah daun, jumlah daun di atas tongkol, jumlah malai, diameter tongkol, jumlah baris biji, LPB, dan bobot 100 biji. Inbred UL 3.01 merupakan inbred terbaik, yang diikuti berturut-turut oleh inbred UL 2.03, inbred UL 4.01, inbred UL 1.06, dan inbred UL 1.04. Seleksi tidak langsung tingkat pertama yang berpengaruh langsung terhadap produksi adalah jumlah baris biji dan bobot 100 biji. Tinggi tanaman dan sudut daun secara tidak langsung berpengaruh terhadap produksi melalui pengaruh terhadap bobot 100 biji.

EFIKASI HERBISIDA PARAKUAT PADA GULMA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Oleh
Niken Apriana1, Dad R.J. Sembodo2, dan Maria Viva Rini 2

ABSTRAK

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan yang berkembang cukup pesat dan penyumbang devisa negara yang cukup besar. Gulma merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan hasil tanaman kelapa sawit akibat adanya kompetisi dalam penyerapan hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) efikasi herbisida parakuat dalam mengendalikan gulma di kebun kelapa sawit; (2) perubahan komunitas gulma akibat herbisida parakuat pada kebun kelapa sawit; dan (3) peracunan herbisida parakuat terhadap tanaman kelapa sawit. Hipotesis yang diajukan yaitu (1) herbisida parakuat mampu mengendalikan gulma di kebun kelapa sawit; (2) terjadi perubahan komunitas gulma akibat perlakuan herbisida parakuat; dan (3) herbisida parakuat tidak meracuni tanaman kelapa sawit.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan empat ulangan dan diberikan 7 perlakuan yaitu parakuat 256 g/ha, parakuat 414 g/ha, parakuat 552 g/ha, parakuat 828 g/ha (dalam bentuk Sankuat 276 AS); parakuat pembanding 414 g/ha (dalam bentuk Gramoxone 276 AS); perlakuan penyiangan mekanis; dan kontrol. Data yang diperoleh dirata-ratakan dan diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, data dianalisis ragam dan diuji Tukey untuk menguji kemenambahan model. Bila uji F analisis ragam nyata, dilanjutkan dengan uji BNT 0,05 untuk pemisahan nilai tengah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida parakuat mampu mengendalikan gulma pada 1, 2, dan 4 MSA untuk tanaman umur 4 tahun dan 1, 2, 4, dan 8 MSA untuk tanaman umur 7 tahun. Pemberian herbisida parakuat mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi gulma yang ada pada areal kebun kelapa sawit. Perlakuan herbisida parakuat pada semua taraf dosis tidak menyebabkan terjadinya keracunan pada tanaman kelapa sawit.

EFIKASI HERBISIDA PARAKUAT UNTUK PERSIAPAN LAHAN BUDIDAYA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)
TANPA OLAH TANAH

Oleh

Hari Kurniawan1, Herry Susanto2, dan Nanik Sriyani2

ABSTRAK

Padi (Oryza sativa L.) merupakan bahan pangan utama penduduk Indonesia dan sebagian besar padi diproduksi di lahan sawah. Salah satu teknologi yang diterapkan pada budidaya padi sawah yaitu sistem tanpa olah tanah (TOT). Dalam sistem TOT, kehadiran gulma tidak dapat dielakkan. Persiapan lahan sebagai pengganti pengolahan tanah harus dilakukan dengan baik agar tanaman dapat tumbuh bagus dan berproduksi tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas parakuat terhadap pengendalian gulma awal persiapan lahan tanaman padi sawah TOT dan mengetahui pengaruh penggunaan herbisida parakuat sebagai pengganti olah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah TOT. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna yang diulang 3 kali terdiri dari 9 perlakuan yaitu TOT dengan parakuat 276, 414, 552, 828, dan 1104 g/ha (dalam bentuk Sankuat 276 SL); TOT dengan parakuat 414 g/ha (dalam bentuk Gramoxone 276 AS); Olah Tanah Sempurna (OTS); TOT dengan dibabat; dan kontrol. Data yang diperoleh diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, data dianalisis ragam dan diuji Tukey untuk membuktikan kemenambahan model, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.

Semua perlakuan herbisida parakuat mampu mengendalikan pertumbuhan gulma sebagai persiapan lahan tanaman padi sawah tanpa olah tanah sampai 3 minggu setelah tanam (MST) meskipun belum seefektif OTS dalam menekan bobot gulma total maupun mempertahankan pertumbuhan padi, semua perlakuan herbisida parakuat tidak berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman padi sawah TOT terutama pada pertumbuhan jumlah tanaman per rumpun dan tinggi tanaman padi hingga 8 MST; dan herbisida parakuat yang diaplikasikan 1 minggu sebelum tanam, secara visual tidak menyebabkan fitotoksisitas (keracunan) tanaman padi sawah.

EFIKASI HERBISIDA PARAQUAT TERHADAP GULMA
PADA LAHAN BUDIDAYA KOPI ROBUSTA
(Coffea canephora var. robusta)

Oleh

Irhamuddin, Dad R.J. Sembodo, dan Sugiatno

ABSTRAK

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan dari sektor pertanian. Salah satu penyebab produksitivitas kopi menurun adalah adanya persaingan tanaman dengan gulma.

Penelitian bertujuan untuk (1) menentukan dosis terbaik herbisida paraquat untuk mengendalikan gulma pada tanaman kopi; (2) mengetahui pengaruh herbisida paraquat terhadap perubahan komunitas gulma pada tanaman kopi; dan(3) mengetahui pengaruh herbisida paraquat terhadap tanaman kopi. Sedangkan hipotesis yang diajukan adalah (1) penggunaan dosis terbaik herbisida paraquat mampu mengendalikan gulma pada tanaman kopi; (2) terjadi perubahan komunitas gulma akibat perlakuan herbisida paraquat lahan tanaman kopi; (3) herbisida paraquat yang digunakan untuk mengendalikan gulma tidak meracuni tanaman kopi.

Penelitian dilaksanakan di lahan perkebunan kopi milik petani di desa Talang Bodong, Kec. Sumber Jaya, Lampung Barat, dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2006. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan yaitu: perlakuan herbisida paraquat dosis 276 g/ha, 414 g/ha, 552 g/ha, 828 g/ha, dan perlakuan herbisida paraquat pembanding dosis 414 g/ha, perlakuan mekanis serta kontrol.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) herbisida paraquat mampu mengendalikan pertumbuhan gulma di areal budidaya tanaman kopi pada 1, 2 dan 4 MSA; (2) gulma dominan pada tanaman kopi yang dapat di kendalikan oleh herbisida paraquat adalah gulma Borreria alata golongan berdaun lebar pada 1, 2 dan 4 MSA dengan dosis 828 g/ha, Synedrella nodiflora golongan berdaun lebar pada 1 dan 2 MSA dengan dosis 276 g/ha. Sedangkan gulma dominan yang tidak dapat di kendalikan adalah Elephantopus scaber golongan berdaun lebar; (3) herbisida paraquat menyebabkan perubahan komunitas gulma pada areal budidaya tanaman kopi, dan (4) herbisida paraquat pada dosis 276–828 g/ha tidak menyebabkan terjadinya keracunan (fitotoksisitas) pada tanaman kopi.

EVALUASI KARAKTER AGRONOMI DAN KETAHANAN TIGA FAMILI SILANG BALIK KEDELAI HASIL PERSILANGAN
WILIS DAN MLG2521 TERHADAP
COWPEA MILD MOTTLE VIRUS

Oleh

Neneng Septin Dwi Murwati1, Maimun Barmawi2, dan Hasriadi M. Akin 3

ABSTRAK

Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman sumber protein nabati yang penting mengingat kualitas asam aminonya yang tinggi, seimbang, dan lengkap. Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kedelai adalah adanya penyakit mosaik kedelai yang disebabkan oleh Cowpea Mild Mottle Virus. Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu alternatif pengendalian yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit. Untuk mendapatkan varietas unggul perlu dilakukan kegiatan seleksi. Hasil dari kegiatan seleksi tersebut diharapkan akan memperoleh varietas baru yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan besarnya ragam genotipe total dan nilai tengah karakter keparahan penyakit, vegetatif, dan generatif tiga famili silang balik kedelai hasil persilangan Wilis dan Mlg2521. Perlakuan disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga kelompok. Pengelompokan didasarkan pada hari pengamatan (hari kerja) yang diulang sebanyak tiga kali. Satuan percobaan yaitu tiga plot/petak tanam yang terdiri atas tiga famili tanaman kedelai yaitu BC1:2 1, BC1:2 3, dan BC1:2 4. Pengamatan dilakukan terhadap seluruh tanaman yang diuji.

Hasil penelitian famili BC1:2 1 memiliki nilai ragam genotipe paling sempit untuk peubah keparahan penyakit serta memiliki nilai tengah yang paling sempit untuk peubah jumlah polong hampa. Nomor-nomor tanaman harapan yang diunggulkan adalah 25, 27, 34, 35, 36, 40, 41, 43, 45, 55, 56, 60, 61, 64, 78, 81, 108, dan 130. Famili BC1:2 3 memiliki ragam genotipe paling luas untuk peubah tinggi tanaman, jumlah cabang, polong bernas, biji sehat, dan bobot 100 butir serta memiliki nilai tengah yang paling sempit untuk peubah keparahan penyakit dan jumlah biji sakit. Nomor-nomor tanaman harapan yang diunggulkan adalah 2, 5, 8, 10, dan 28.

EVALUASI STATUS UNSUR HARA N, P, DAN K DENGAN TEKNIK
UJI CEPAT DAN KARAKTER MORFOFISIOLOGI PADA
TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.)

Oleh
Ricky P. Armando1, Agus Karyanto2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Salah satu cara untuk mengetahui tinggi rendahnya produktivitas tanaman semasa di kebun adalah dengan mengambil contoh jaringan untuk dianalisis kandungan haranya. Status hara dalam tanaman dapat diketahui dengan menggunakan teknik uji cepat sebagai alternatif terhadap teknik konvensional.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah analisis jaringan daun dengan teknik uji cepat dapat dijadikan sebagai alternatif teknik konvensional yang menggunakan daun yang telah dikeringkan, (2) mengetahui pengaruh berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai, dan (3) mengetahui pengaruh berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl terhadap mutu hasil tanaman cabai.

Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Juni hingga November 2006. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan terstruktur regresi dalam rancangan percobaan teracak sempurna. Faktor yang digunakan adalah berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl (Tanpa pupuk; 3,4 g urea + 6,6 g ZA, 5 g TSP, dan 5 g KCl; 6,6 g urea + 13,4 g ZA, 10 g TSP, dan 10 g KCl; 10 g urea + 20 g ZA, 15 g TSP, dan 15 g KCl; 13,4 g urea + 26,6 g ZA, 20 g TSP, dan 20 g KCl), dengan jumlah ulangan 3 dan untuk setiap kombinasi perlakuan 15 polybag. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, analisis data dilakukan dengan menggunakan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur pada taraf 5%. Selain itu, dilakukan juga uji korelasi antara teknik uji cepat dengan teknik konvensional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik uji cepat analisis jaringan tanaman dapat dijadikan sebagai alternatif teknik konvensional yang menggunakan jaringan daun untuk pengujian nitrogen dan fosfor tetapi tidak untuk pengujian kalium pada tanaman cabai. Pemberian berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl pada perlakuan tanpa pupuk dan dosis rendah dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi cabai pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot buah total, dan bobot buah normal serta dapat meningkatkan mutu hasil yang lebih baik pada variabel ukuran buah dan jumlah buah normal.

KAJIAN UNSUR MIKROLIMAT, SERAPAN Ca, DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PADA KONDISI NAUNGAN BERBEDA

Oleh

Bese Uliantra1, M. Kamal2, dan M. Syamsoel Hadi3

ABSTRAK

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan bahan pangan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, karena kacang tanah dapat tumbuh baik di tanah air ini dan dapat dikonsumsi dalam berbagai macam bentuk penganan juga makanan tradisional. Defisit cahaya pada tanaman kacang tanah akan menyebabkan terganggunya proses metabolisme tanaman seperti serapan unsur hara kalsium.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi unsur mikroklimat di bawah naungan paranet 50 % dan tanpa naungan; (2) mengetahui kandungan kalsium (Ca) varietas kacang tanah pada kondisi naungan paranet 50 % dan tanpa naungan; (3) mengetahui korelasi antara pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kacang tanah dengan serapan Ca pada kondisi naungan paranet 50 % dan pada kondisi tanpa naungan.

Perlakuan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah naungan menggunakan paranet yang terdiri dari dua taraf (N0 = 0 % naungan dan N1 = 50 % naungan). Anak petak adalah varietas kacang tanah yang terdiri dari tiga varietas yaitu V1 = Sima, V2 = Jerapah, dan V3 = Gajah. Setiap satuan percobaan terdiri dari 5 polibag. Data diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, selanjutnya data dianalisis ragam. Bila F hitung berbeda nyata, dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji BNT 5 %. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program MS Excel.

Dari hasil penelitian didapat bahwa (1) pada naungan 0 %, suhu rata-rata harian relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu rata-rata pada kondisi naungan paranet 50 %. Intensitas cahaya matahari dan radiasi matahari relatif lebih tinggi pada kondisi naungan 0 % dibandingkan dengan kondisi naungan paranet 50 %; (2) pada kondisi naungan 0 %, tanaman kacang tanah menunjukkan serapan Ca yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman kacang tanah pada naungan paranet 50 %.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA)
PADA PERBANYAKAN TUNAS PISANG AMBON KUNING
(AAA) DAN TANDUK (AAB) SECARA IN VITRO

Oleh

Mochamad Ivan Alisan1, Yusnita2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Pisang (Musa paradisiaca Linn.) termasuk salah satu buah tropis yang mempunyai potensi besar untuk dikelola secara intensif. Pengembangan produksi pisang dalam skala yang lebih besar tidak mungkin dapat dilakukan tanpa diiringi penyediaan bibit dalam jumlah banyak. Penyediaan bibit yang semakin meningkat belum dapat terpenuhi karena petani masíh menggunakan perbanyakan secara konvensional. Teknik in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa konsentrasi benziladenin (BA) dan mendapatkan konsentrasi BA yang menghasilkan tunas terbanyak pada pisang Ambon Kuning dan Tanduk serta menentukan kultivar yang memiliki daya regenerasi tunas lebih tinggi.

Percobaan ini dilaksanakan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan 4 ulangan. Satu unit percobaan terdiri dari sedikitnya 1—3 botol kultur yang masing-masing berisi satu eksplan. Perlakuan disusun secara faktorial. Faktor pertama yaitu 0; 1; 2; dan 5 mg/l. Faktor kedua yaitu Ambon Kuning dan Tanduk. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji Bartlett dan aditivitas model diuji Tukey. Jika homogen maka data disidik ragam dan perbedaan nilai tengah antarperlakuan yang berbeda pada uji F diuji BNT 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BA efektif merangsang perbanyakan tunas pada kultur jaringan pisang dengan eksplan berupa mata tunas dari bonggol. Hasil terbaik dicapai pada konsentrasi 2 mg/l BA yang mampu menghasilkan 6,8 tunas per eksplan pada pisang Ambon Kuning dan 7,3 tunas per ekaplan pada pisang Tanduk. Pisang Ambon Kuning dan Tanduk menunjukkan perbedaan daya regenerasi dalam perbanyakan tunas pada taraf konsentrasi BA yang sama. Pisang Ambon Kuning memiliki daya regenerasi yang lebih tinggi dibandingkan pisang Tanduk.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI KINETIN ATAU PEPTON PADA PERKECAMBAHAN BIJI ANGGREK Dendrobium sp SECARA IN VITRO

Oleh

Rizka Dwi Hidayati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan, pertama untuk mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi kinetin pada perkecambahan biji anggrek Dendrobium lineale, kedua untuk mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi pepton pada perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid secara in vitro, dan untuk menetahui pertumbuhan dan perkembangan protocorm menggunakan media dasar ½ MS (Murashige dan Skoog, 1962). Media tersebut diperkaya dengan MS vitamin, 15% air kelapa, 3% sukrosa, dan sebagai pemadat digunakan 0.7% agar-agar. Pada studi pertama, media ½ MS ditambahkan dengan beberapa konsentrasi kinetin (0 mg/l; 0,5 g/l; 1 mg/l; 2 mg/l), sementara pada studi kedua ditambahkan dengan beberapa konsentrasi pepton (0 g/l; 0,5 g/l; 1 g/l; 2 g/l). Botol selai dengan kapasitas 250 ml digunakan sebagai boto kultur, setiap botol kultur diisi dengan 20 ml media. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Semua kultur diinkubasi pada suhu 27ºC, dengan pencahayaan yang terus menerus menggunakan lampu fluorescent, dengan intensitas cahaya sebesar ±1.000 lux.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 0,5—2 mg/l kinetin pada media ½ MS secara signifikan dapat meningkatkan perkecambahan dan pertumbuhan protocorm anggrek Dendrobium lineale. Pertumbuhan protocorm terbaik ditunjukkan oleh bobot 100 butir protocorm dan persentase protocorm dengan primordia daun pada media dengan penambahan 2 mg/l kinetin pada umur 9 minggu setelah tanam. Pada studi kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 0.5—2 g/l pepton pada media ½ MS juga meningkatkan perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid, yang ditunjukkan oleh meningkatnya bobot 100 butir protocorm dan persentase protocorm dengan primordia daun pada umur 8 minggu setelah tanam dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Walaupun demikian, meningkatnya konsentrasi pepton 0.5—2 g/l tidak diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan protocorm. Sehingga penambahan 0,5 g/l pepton pada media merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid secara in vitro.

PENGARUH BEBERAPA MACAM PUPUK DAUN
PADA PEMBUNGAAN TUJUH KULTIVAR
ANGGREK Dendrobium

Oleh

Nur Setiyani1, Sri Ramadiana2, dan Yusnita2

ABSTRAK

Anggrek Dendrobium merupakan salah satu tanaman anggrek yang paling banyak diminati masyarakat karena bentuk dan warna bunganya yang beraneka ragam yang memilki fungsi sebagai tanaman hias pot maupun bunga potong. Permintaan pasar semakin tinggi sehingga harus dibarengi dengan ketersediaannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembungaan Dendrobium adalah status nutrisi tanaman yang dapat diperbaiki melalui pemupukan.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh tiga macam pupuk daun pada pembungaan anggrek Dendrobium, (2) mengetahui kultivar Dendrobium tertentu yang paling responsif terhadap pemupukan, dan (3) mengetahui apakah terdapat interaksi antara tiga macam pupuk daun dan tujuh kultivar Dendrobium dalam menghasilkan pembungaan.

Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial dalam Rancangan Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama berupa tujuh kultivar Dendrobium (Dendrobium Copper King, Dendrobium Thong Chai, Dendrobium Fatahillah, Dendrobium Daler Gad Red, Dendrobium Novron White, Dendrobium Burana Emerald Fantasi, dan Dendrobium Blue Sapphire) dan faktor kedua berupa tiga jenis pupuk (Hyponex Biru, Biomega, dan Vitabloom Special) dengan dosis 2g/l.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Larutan pupuk Biomega memberikan respons persentase pembungaan yang tertinggi dengan rata-rata persentase pembungaan 83.33%. Pembungaan tanaman tidak dipengaruhi variabel tinggi tanaman, jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru. Kultivar Dendrobium Novron White dan Dendrobium Fatahillah paling responsif terhadap pemupukan pada variabel persentase pembungaan yang mencapai 83.33%–100%. Respons kedua kultivar ini tidak dipengaruhi oleh variabel jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru. Terdapat interaksi antara tiga jenis pupuk daun dan tujuh kultivar Dendrobium yang digunakan pada persentasi pembungaan, jumlah kuntum bunga, dan panjang tangkai bunga, tetapi tidak terdapat interaksi pada tinggi tanaman, jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru.

PENGARUH DOSIS PUPUK NPK DAN PENYEMPROTAN KNO3
PADA PERTUMBUHAN TANAMAN JERUK KEPROK SIAM
(Citrus reticulata) UMUR 2½ TAHUN

Oleh

Andreas O. Sipangkar 1, Widho Hanolo 2, dan Sugiatno 2

ABSTRAK

Pertumbuhan vegetatif tanaman jeruk keprok siam merupakan fase penting untuk meningkatkan produksi buah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertumbuhan cabang, batang, dan daun pada fase vegetatif tanaman mampu mendukung pertumbuhan tanaman pada fase generatifnya (produksi). Pemberian pupuk NPK melalui media tanam dan KNO3 melalui daun pada fase vegetatif merupakan salah satu usaha untuk mencukupi kebutuhan unsur hara tanaman jeruk keprok siam.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh: (1) dosis pupuk NPK yang menghasilkan pertumbuhan maksimum pada tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, (2) pemberian KNO3 melalui daun pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, dan (3) pemberian dosis pupuk NPK dan KNO3 pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung mulai bulan Juli 2006 sampai dengan Oktober 2006. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (5×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama dosis pupuk NPK (N), yaitu 0 g/tanaman (N0), 50 g/tanaman (N1), 100 g/tanaman (N2), 150 g/tanaman (N3), dan 200 g/tanaman (N4). Faktor kedua adalah penyemprotan KNO3 (K), yaitu tanpa disemprot (K0) dan dengan disemprot KNO3 4 g/l (K1). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett dan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Kemudian data diolah dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan polinomial ortogonal pada taraf nyata 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemberian pupuk NPK sampai dosis 200 g/tanaman masih meningkatkan jumlah tunas yang muncul dan dosis NPK 111,72 g/tanaman menghasilkan periode trubus tercepat yaitu selama 16,19 hari, (2) penyemprotan KNO3 tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, (3) pemberian pupuk NPK sampai dosis 200 g/tanaman dalam meningkatkan tinggi tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun tergantung pada pemberian KNO3.

PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK PADA PRODUKSI TIGA VARIETAS GLADIOL (Gladiolus hybridus L.)

Oleh

Yuli Astuti

ABSTRAK
Gladiol merupakan tanaman bunga potong yang sangat digemari masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi, namun produksi rata-rata di Lampung masih rendah. Pengadaan varietas-varietas yang berkualitas baik sesuai dengan permintaan konsumen merupakan yang diprioritaskan untuk pengembangannya. Dalam penelitian ini digunakan tiga varietas gladiol yaitu varietas Ungu, Kaifa, dan Clara. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman Gladiol adalah dengan pemberian bahan organik.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jenis varietas yang menghasilkan produksi gladiol yang baik (2) mengetahui jenis bahan organik yang menghasilkan produksi tanaman gladiol yang baik (3) mengetahui pengaruh jenis bahan organik pada masing-masing varietas terhadap produksi gladiol.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gunung Terang Kecamatan Tanjung Karang Barat Bandar Lampung, mulai bulan Februari sampai dengan Juli 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (3×4), dengan faktor pertama varietas gladiol, yaitu varietas Ungu (V1), varietas Kaifa (V2), dan varietas Clara (V3). Faktor kedua pupuk kandang, yaitu kotoran sapi (T1), kotoran kambing (T2), kotoran ayam (T3), dan kotoran itik (T4). Seluruh satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Setiap kombinasi perlakuan diulang 5 kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 3 subang gladiol. Petak percobaan dikelompokkan berdasarkan diameter subang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) varietas Kaifa menghasilkan panjang tangkai, jumlah floret, jumlah subang, bobot subang dan diameter subang yang lebih tinggi dibandingkan varietas Ungu dan varietas Clara. (2) tanaman gladiol yang diberi bahan organik yang berasal dari pupuk kandang itik menghasilkan panjang tangkai bunga dan jumlah floret bunga lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam. (3) pengaruh jenis bahan organik terhadap produksi gladiol tidak tergantung pada masing-masing varietas.

PENGARUH PEMBERIAN BENZILADENIN (BA) PADA PRODUKSI SUBANG DAN ANAK SUBANG TIGA VARIETAS GLADIOL
(Gladiolus hybridus L.)

Oleh
Fitri Juwita Susanti1, Kushendarto2, dan Niar Numauli2

ABSTRAK

Gladiol merupakan tanaman hias semusim berbentuk herba. Kelebihan bunga gladiol selain dapat bertahan lama juga dapat berbunga sepanjang waktu. Setiap tahun permintaan masyarakat terhadap bunga gladiol semakin meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut maka diperlukan teknik yang tepat dalam perbanyakan gladiol salah satunya dengan menggunakan zat pengatur tumbuh. Benziladenin (BA) dapat merangsang pembentukan tunas pada subang gladiol dan secara tidak langsung tunas tersebut akan membentuk subang dan anak subang baru yang dapat digunakan sebagai bibit tanaman gladiol.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui varietas gladiol yang menghasilkan subang dan anak subang terbaik, 2) mengetahui konsentrasi BA terbaik yang dapat meningkatkan produksi subang dan anak subang gladiol, 3) mengetahui pengaruh konsentrasi BA dalam meningkatkan produksi subang dan anak subang pada tiga varietas gladiol.

Penelitian dilaksanakan di Gunung Terang Bandar Lampung dari bulan Juli sampai dengan Desember 2006. Perlakuan dirancang dalam faktorial (3×4) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah varietas gladiol yaitu varietas Ungu (V1), varietas Clara (V2), dan varietas Kaifa (V3). Faktor kedua adalah konsentrasi Benziladenin yang terdiri atas 4 taraf yaitu 10 ppm (B1), 20 ppm (B2), 30 ppm (B3), dan 40 ppm (B4). Setiap perlakuan terdiri dari dua tanaman gladiol dan diulang tiga kali. Pengelompokkan berdasarkan ukuran subang gladiol. Analisis statistik dilakukan dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) varietas Kaifa menghasilkan produksi subang terbaik yang ditunjukkan dengan jumlah subang terbanyak. Sedangkan untuk bobot subang, diameter subang, jumlah anak subang, dan bobot anak subang terbaik dihasilkan oleh varietas Ungu, 2) konsentrasi BA 30 ppm dapat meningkatkan produksi subang gladiol yang ditunjukkan pada jumlah subang dan diameter subang terbaik tetapi pemberian BA tidak dapat meningkatkan jumlah anak subang dan bobot anak subang gladiol, 3) konsentrasi BA dalam meningkatkan produksi subang dan anak subang gladiol tidak tergantung pada varietas gladiol.

EFIKASI HERBISIDA FLUAZIFOP BUTYL TERHADAP GULMA PADA KACANG – KACANGAN PENUTUP TANAH DIPERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Oleh

Musolli S.1, Darmaisam Mawardi2, dan Sugiatno2

ABSTRAK
Penanaman Legum Cover Crop (LCC) di kebun kelapa sawit Belum Menghasilkan (TBM) bertujuan untuk mengurangi erosi, menjaga kelembaban dan menekan pertumbuhan gulma namun mengalami kendala yang disebabkan adanya gulma. Penggunaan metode kimia dapat menghemat biaya, waktu dan tenaga kerja. Herbisida berbahan aktif fluazifop butyl merupakan herbisida selektif yang mengendalikan gulma rumput tanpa mengganggu tanaman pokok.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui efikasi herbisida fluazifop butyl terhadap pertumbuhan gulma pada kacang-kacangan penutup tanah di perkebunan kelapa sawit tanaman belum menghasilkan (TBM) (2) Mengetahui perubahan komunitas gulma yang terjadi akibat perlakuan herbisida fluazifop butyl pada tanaman kacang-kacangan penutup tanah di lahan tanaman kelapa sawit (3) Mengetahui tingkat keracunan tanaman Legum Cover Crop akibat penggunaan herbisida fluazifop butyl.
Penelitian ini dilakukan di lahan PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Rejosari Natar Lampung Selatan, dari bulan Mei 2005 sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun dalam rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tarap 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pada 2, 4, 8 dan 12 MSA secara umum perlakuan herbisida yang di uji tidak mampu menekan pertumbuhan gulma dan terjadi perubahan komposisi gulma pada tanaman kacang-kacangan penutup tanah di perkebunan kelapa sawit.
PENGARUH EKSTRAKSI BENIH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENH DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO
(Theobroma cacao L.)
Oleh
Yudi Apriansyah
ABSTRAK
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas penting yang terus dikembangkan di Indonesia. Saat ini Indonesia telah menduduki peringkat kelima sebagai produsen kakao dunia. Bahkan dimasa yang akan datang Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan mengalami pangsa pasar cukup besar.
Permasalahan yang timbul dalam perbanyakan secara generatif biasanya karena adanya pengaruh lapisan benih kakao (pulp) terhadap perkecambahan biji (Budiarti, 1993). Lapisan pulp di bagian luar benih kakao dapat mengundang kehadiran cendawan dan semut yang dapat menyebabkan kerusakan benih.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode ekstraksi benih yang memberikan pengaruh terbaik pada perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit kakao. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan mulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2006.
Perlakuan disusun secara tunggal tak tersutruktur dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan tiga ulangan. Perlakuan penghilangan pulp (ekstraksi) terdiri dari pencucian dengan air, pencucian dengan larutan kapur 2,5%, digosok dengan abu, digosok dengan tanah, digosok dengan pasir, mengelupas kulit ari dan tanpa perlakuan (kontrol). Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlett, dan respons benih dan bibit terhadap perlakuan dilihat dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perlakuan ekstraksi melalui penggosokan pasir adalah perlakuan ekstraksi terbaik karena memberikan pengaruh terbaik pada perkecambahan benih kakao (ditunjukkan oleh peubah daya tumbuh dan kecepatan tumbuh) dan pertumbuhan bibit kakao (ditunjukkan oleh peubah tinggi bibit dan panjang akar).
PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK DAN DOSIS PUPUK
NPK PADA PERTUMBUHAN TANAMAN
BUAH NAGA (Hylocereus undatus)
Oleh
Imam Subandi1, Yohannes C. Ginting2, dan Sunyoto2
ABSTRAK
Peningkatan produksi tanaman buah naga (Hylocereus undatus) dapat dilakukan secara ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi dapat dilakukan dengan perluasan areal tanam sedangkan Intensifikasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang optimal, antara lain dengan penambahan pupuk, bahan organik, dan pengelolaan air yang baik. Bahan organik dapat meningkatkan hara tanah, mengurangi kepadatan tanah, menambah kemampuan tanah mengikat air, dan meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Selain bahan organik, pemupukan penting untuk dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bahan organik, dosis pupuk NPK, dan interaksi bahan organik dengan pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan maksimum pada tanaman buah naga. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Mei sampai dengan Juli 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 5) dalam rancangan kelompok teracak lengkap dengan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis bahan organik (tanpa bahan organi, limbah industri asam sitrat, dan kotoran ayam) dan faktor kedua dosis pupuk NPK (0, 10, 20, 30, 40 g/tanaman).
Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tekey. Data dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal pada taraf 0,01% dan 0,05%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan organik limbah industri asam sitrat memberikan pengaruh yang lebih baik pada penambahan tinggi dan penambahan bobot basah tanaman daripada bahan organik kotoran ayam dan tanpa bahan organik. Peningkatan dosis pupuk NPK sampai dosis 40 g/tanaman meningkatkan penambahan bobot basah tanaman, penampang keliling batang, waktu muncul tunas utama, dan penambahan panjang rata-rata tiga akar. Pengaruh pupuk NPK yang disertai dengan jenis bahan organik mampu mempercepat waktu muncul tunas utama pada dosis 0; 10; dan 30 g/tanaman masing-masing sebesar 8,95 hari; 8,16 hari; dan 4,59 hari atau 48,27%; 50,08%; dan 34,92%.
PENGARUH JENIS MEDIA PENGAKARAN DAN PEMBERIAN
ZAT PERANGSANG AKAR PADA PERTUMBUHAN SETEK
SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh
Tri Murti1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2
ABSTRAK
Sirih merah selain sebagai tanaman hias eksotik, juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat pembasmi penyakit. Untuk memenuhi kebutuhan tanaman sirih merah diperlukan teknik perbanyakan yang cepat dan keberhasilannya tinggi, salah satunya dengan cara setek. Keberhasilan penyetekan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan zat perangsang dan jenis media pengakaran.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh berbagai jenis media pengakaran pada pertumbuhan setek sirih merah, 2) mengetahui pengaruh pemberian Rootone-F pada pertumbuhan setek sirih merah, dan 3) mengetahui pengaruh berbagai jenis media pengakaran pada pertumbuhan setek sirih merah antara yang diberi Rootone-F dan tanpa Rootone-F.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian mulai bulan Juli—Desember 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah faktorial (3×2) dalam RKTS. Faktor pertama jenis media pengakaran yaitu pasir, campuran pasir dan arang sekam, campuran pasir dan serbuk gergaji kayu sengon (1:1). Faktor kedua pemberian zat perangsang akar yaitu tanpa Rootone-F dan dengan Rootone-F 0,5 gram/10 setek. Setiap satuan percobaan diulang tiga kali. Setiap satuan percobaan terdiri dari 10 setek. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji BNT pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman setek sirih merah pada media pasir dan campuran media pasir dengan arang sekam waktu muncul tunasnya lebih cepat dibandingkan dengan campuran media pasir dengan serbuk gergaji kayu sengon. Namun periode pembentukan daunnya lebih cepat pada campuran media pasir dengan serbuk gergaji kayu sengon. Pada variabel jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, luas daun pertama, jumlah ruas, panjang ruas pertama, panjang sulur, dan persentase setek tumbuh tidak dipengaruhi oleh jenis media pengakaran. Pemberian Rootone-F dalam bentuk bubuk pada penyetekan sirih merah tidak berpengaruh pada semua variabel pengamatan. Pertumbuhan setek sirih merah pada berbagai jenis media pengakaran tidak bergantung pada pemberian Rootone-F.
PENGARUH JENIS SERASAH TANAMAN SEBAGAI CAMPURAN
MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.) DALAM POT
Oleh
Tri Rahayu1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2
ABSTRAK
Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) merupakan tanaman obat yang berkhasiat dan eksotik. Ketersediaan sirih merah masih sangat terbatas, masalah budidaya yang utama adalah penggunaan media tanam yang cocok, oleh karena itu digunakan bererapa jenis serasah sebagai campuran media tanam untuk menghasilkan pertumbuhan sirih merah terbaik.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh jenis serasah sebagai campuran media tanam pada pertumbuhan tanaman sirih merah, 2) mengetahui jenis serasah sebagai campuran media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.
Peenlitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Juni sampai Oktober 2006, rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan perlakuan tunggal tidak terstruktur dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Setiap perlakuan diulang empat kali dan setiap ulangan terdiri dari tiga pot tanaman yang berisi satu tanaman sirih merah. Perlakuan yang diterapkan pada setiap satuan percobaan adalah kompos (A1), serasah flamboyan (A2), serasah jerami padi (A3), serasah daun bambu (A4), serasah filicium (A5), dan serasah LCC (A6).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis serasah sebagai campuran media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan sirih merah meliputi jumlah daun, jumlah buku, dan panjang ruas ketiga. Penggunaan serasah flamboyan, serasah jerami padi, serasah daun bambu, serasah filicium, dan serasah LCC menghasilkan peningkatan pertumbuhan pada variabel jumlah daun dan jumlah buku yang sama baiknya dibandingkan dengan kompos, namun pada penampilan corak daun, serasah LCC dan flamboyan menunjukkan penampilan yang lebih menarik yaitu pada permukaan atas berwarna hijau tua bercorak merah perak dan permukaan bawah berwarna merah keunguan, dibandingkan dengan serasah yang lainnya.
PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN
DALAM LARUTAN KNO3 TERHADAP PERKECAMBAHAN
BENIH PEPAYA (Carica papaya L.)
Oleh
Komarudin1, Yohannes C. Ginting2, dan Tjipto R. Basoeki2
ABSTRAK

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) umumnya diperbanyak dengan benih. Namun, benih pepaya memiliki penghambat perkecambahan yang menunda perkecambahannya. Berbagai faktor penting dapat mempengaruhi tanggapan perkecambahan benih, termasuk perendaman benih dalam larutan kimia. Larutan KNO3 merupakan salah satu bahan kimia yang sering digunakan untuk menstimulasi perkecambahan benih yang dorman maupun tidak serempak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh KNO3 dalam berbagai konsentrasi dan beberapa lama perendaman terhadap perkecambahan benih pepaya. Variabel pengamatan perkecambahan yaitu daya berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar kecambah, tinggi hipokotil, bobot kering akar, bobot kering hipokotil, dan bobot kering total kecambah.

Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Universitas Lampung di Gedong Meneng pada bulan Juli 2006. Percobaan menggunakan rancangan faktorial 5 x 3 dengan tiga ulangan disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf (0; 2,5; 5; 7,5; dan 10 g/100 ml aquades). Faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 3 taraf (0,5 jam; 6 jam; dan 12 jam). Uji lanjut yang digunakan setelah analisis ragam adalah polinomial ortogonal pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel daya berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar, bobot kering akar, dan bobot kering total, tanggapan perkecambahan benih pepaya terhadap konsentrasi KNO3 bergantung pada lama perendaman. Berdasarkan variabel-variabel tersebut, pada perendaman 6 jam, tanggapan perkecambahan benih masih terus meningkat secara linear seiring dengan meningkatnya konsentrasi KNO3 sampai konsentrasi tertinggi yang diberikan (10%). Pada variabel tinggi hipokotil dan bobot kering hipokotil, tanggapan perkecambahan benih pepaya terhadap konsentrasi KNO3 tidak bergantung pada lama perendaman benihnya. Tinggi hipokotil maksimum sebesar 3,668 cm dicapai pada konsentrasi KNO3 6,127%. Sedangkan bobot kering hipokotil maksimum sebesar 0,0967 g dicapai pada konsentrasi KNO3 5,97%. Perlu penelitian lebih lanjut perlakuan benih papaya menggunakan konsentrasi KNO3 di atas 10% dengan perendaman selama 6 jam untuk mendapatkan perkecambahan yang lebih baik.
PENGARUH KONSENTRASI KNO3 PADA PERTUMBUHAN
DAN PEMBUNGAAN TANAMAN MELATI
(Jasminum sambac) DALAM POT
Oleh
Imawan Yuli Susanto
ABSTRAK
Melati merupakan tanaman hias bunga yang salah satu kriteria keindahannya bila dijadikan bunga pot adalah memiliki bunga yang tidak mudah rontok (bunganya awet). Namun pada tanaman melati biasanya bunga yang sudah mekar hanya bertahan satu hari. Untuk meningkatkan ketahanan waktu mekar bunga salah satunya dicoba dengan aplikasi KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan tanaman melati pot. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Februari 2006 sampai Juni 2006.
Perlakuan disusun secara terstruktur dengan konsentrasi KNO3 (K) dalam lima taraf : 0 g/l (K0), 1,5 g/l (K1), 3 g/l (K2), 4,5 g/l (K3), dan 6 g/l (K4). Perlakuan diterapkan pada tanaman melati pot dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan empat ulangan. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, sedangkan aditifitas ragam diuji dengan uji Tukey. Data yang telah memenuhi kedua uji tersebut dianalisis dengan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal pada taraf nyata 5% dan 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi KNO3 sampai 6 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas, mempercepat waktu muncul kuncup bunga, meningkatkan waktu mekar bunga, meningkatkan masa pembungaan, dan menambah jumlah bunga per pot secara gemaris. Namun pada panjang tunas, pemberian KNO3 konsentrasi 3,44 g/l sudah menghasilkan tunas terpanjang. Pada variabel tinggi tanaman, lebar tajuk, jumlah tunas produktif dan jumlah bunga per cabang peningkatan konsentrasi KNO3 sampai 6 g/l tidak menunjukan pengaruh nyata.
PENGARUH KONSENTRASI KNO3 UNTUK PERENDAMAN BENIH DAN PENINGKATAN DOSIS PUPUK NPK PADA PERTUMBUHAN
BIBIT PEPAYA (Carica papaya L.)
Oleh
Trianto1, Tjipto R. Basoeki2, dan Yohannes C. Ginting2
ABSTRAK
Perkecambahan dan pertumbuhan benih pepaya umumnya lambat dan tidak serempak. Hal ini berhubungan dengan lapisan kulit benih serta lendir di sekeliling benih dan zat kimia dalam benih yang menghambat perkecambahan. Selain itu bibit pepaya dalam pertumbuhan awalnya sangat membutuhkan ketersediaan unsur hara yang mencukupi. Perendaman benih dalam larutan KNO3 dan pemberian pupuk NPK adalah salah satu upaya memperoleh pertumbuhan bibit pepaya yang maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi KNO3 dalam perendaman benih terhadap pertumbuhan bibit pepaya, (2) Mengetahui dosis NPK yang menghasilkan pertumbuhan maksimum pada bibit pepaya, (3) Mengetahui perbedaan bentuk tanggapan pertumbuhan bibit pepaya terhadap peningkatan dosis NPK pada beberapa konsentrasi KNO3 dalam perendaman benih.
Penelitian ini dilaksanakan pada lahan petani di Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Pebruari sampai Mei 2006. Perlakuan diterapkan dalam rancangan petak terbagi dalam rancangan kelompok teracak sempurna. Faktor A (petak induk) adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri 3 taraf: 50 g/l; 75 g/l ; dan 100 g/l. Faktor B (petak anak) adalah dosis NPK yang terdiri dari 5 taraf: 0; 3 ; 6 ; 9 ; dan 12 g/tanaman. Kesamaan ragam data antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data diolah dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan perbandingan dan polinomial orthogonal pada taraf nyata 5% dan 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perendaman benih dalam konsentrasi KNO3 75 dan 100 g/l meningkatkan pertumbuhan bibit lebih baik dari konsentrasi 50 g/l dan perendaman benih dalam konsentrasi KNO3 100 g/l meningkatkan pertumbuhan bibit lebih baik dari konsentrasi 75 g/l berdasarkan peubah tinggi bibit, bobot kering tajuk dan bobot kering bibit, (2) Peningkatan dosis NPK sampai dengan dosis 12 g/tanaman belum menghasilkan tanggapan maksimum pada peubah tinggi bibit, jumlah daun, dan diameter batang. Pada peubah bobot kering tajuk dan bobot kering bibit dicapai nilai maksimum masing-masing sebesar 2,80 g dan 3,81 g diperoleh dengan pemberian NPK pada dosis 8,18 g/tanaman dan 9,51 g/tanaman, (3) Tanggapan bibit pepaya dalam luas daun dan bobot kering akar terhadap peningkatan dosis NPK tergantung konsentrasi KNO3. Pemberian KNO3 konsentrasi 100 g/l masih terus meningkatkan pertumbuhan sampai dosis NPK tertinggi (12 g/tanaman) yang diberikan.
PENGARUH MEDIA DASAR DAN PEPTON PADA PERTUMBUHAN
PROTOKORM ANGGREK Phalaenopsis IN VITRO
Oleh
Fitri Yulika1, Dwi Hapsoro2, dan Sri Ramadiana2
ABSTRAK
Perbanyakan anggrek Phalaenopsis atau anggrek bulan secara generatif dapat dilakukan melalui pengecambahan biji secara in vitro. Media MS (Murashige dan Skoog) digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penggunaan modifikasi larutan pupuk lengkap seperti Hyponex dan GrowMore dapat digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penambahan asam amino sebagai sumber nitrogen organik sebagai salah satu komponen media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan kultur. Salah satu sumber nitrogen organik yang dapat digunakan adalah pepton.
Tujuan dari penelitian adalah (1) untuk mengetahui pengaruh larutan pupuk Hyponex dan GrowMore sebagai media alternatif untuk menggantikan penggunaan media ½ MS pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, (2) untuk mengetahui pengaruh pepton terhadap pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara tiga jenis media dasar dan konsentrasi pepton pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (3×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (Hyponex, GrowMore, dan ½ MS) dan faktor kedua adalah pengaruh pepton (0 mg/l dan 2 mg/l). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 8 ulangan. Data dianalisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) larutan pupuk Hyponex dan GrowMore dapat digunakan sebagai media dasar alternatif pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, (2) pemberian pepton dapat meningkatkan bobot basah tanaman, bobot basah akar, bobot basah daun, dan tingkat kehijauan daun pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, dan (3) terdapat interaksi antara tiga media dasar dan pepton pada bobot basah tanaman dan bobot basah akar tetapi tidak ada interaksi pada jumlah akar, panjang akar, bobot basah daun, dan tingkat kehijauan daun.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(Mangifera indica. L.) KULTIVAR MANALAGI
Oleh
Flora Handayani1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Bentuk tajuk mangga yang ideal selain indah dipandang juga menentukan produktivitas. Oleh karena itu perlu dipersiapkan sejak awal pertumbuhan salah satunya dengan pemangkasan dan pemberian nutrisi tambahan berupa pupuk KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh beberapa taraf konsentrasi KNO3 pada pertunasan tanaman mangga Manalagi (2) mengetahui pengaruh letak pemangkasan awal pada pertunasan tanaman mangga Manalagi, dan (3) mengetahui pengaruh beberapa taraf konsentrasi KNO3 pada pertunasan tanaman mangga Manalagi antara yang dipangkas pada posisi flush 1 dengan flush 2.
Penelitian telah dilaksanakan di Way Dadi Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai Oktober 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan pola faktorial (2×5) dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah letak pemangkasan yaitu dipangkas pada flush 1 (P1) dan dipangkas pada flush 2 (P2). Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf yaitu: 0, 2, 4, 6, dan 8 g/l. Setiap kombinasi perlakuan ada 2 tanaman sampel sehingga total tanaman 80 batang. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukan (1) letak pemangkasan awal pada posisi flush 2 hanya dapat meningkatkan lebar tajuk dan pada posisi flush 1 dapat meningkatkan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi (2) pemberian KNO3 4 − 6 g/l dapat meningkatkan panjang tunas, jumlah daun per flush dan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi, dan (3) pemangkasan awal pada posisi flush 1 dengan konsentrasi KNO3 6 g/l dapat meningkatkan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3 PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(MANGIFERA INDICA L.) KULTIVAR ARUMANIS
Oleh
Pandu Dewanoto
ABSTRAK
Pembentukan tanaman mangga bertujuan untuk memperoleh kerangka (bentuk) tanaman yang bagus, pendek, dan produktif berbuah. Untuk merangsang pertumbuhan tunas lateral setelah dilakukan pemangkasan awal maka perlu pemberian hara yang berupa KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh; (1) Letak pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis; (2) Pemberian beberapa konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis; (3) Letak pemangkasan awal terhadap pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis pada masing-masing konsentrasi KNO3. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5), faktor pertama adalah letak pemangkasan yaitu dipangkas pada flush 1 (P1) dan dipangkas pada flush 2 (P2). Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0= 0 g/l, K1= 2 g/l, K2= 4 g/l, K3= 6 g/l, dan K4= 8 g/l. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 4 ulangan. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett, dan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Letak pemangkasan awal pada posisi flush 2 pada periode flush I dapat meningkatkan panjang tunas, periode flush, jumlah daun per flush, diameter cabang primer, penambahan tinggi tajuk, lebar tajuk, dan mempercepat waktu pecah mata tunas pada periode flush I, serta meningkatkan jumlah daun per flush, lebar tajuk, dan jumlah daun total pada periode flush II, jika dibandingkan pemangkasan pada posisi flush 1 pada tanaman mangga kultivar Arumanis; (2) Pemberian KNO3 6 − 8 g/l cenderung menekan penambahan tinggi tajuk pada periode flush I tanaman mangga kultivar Arumanis. Aplikasi KNO3 2—4 g/l hasilnya masih sama dengan tanpa pemberian KNO3; (3) Pemangkasan awal pada posisi flush 1 dengan konsentrasi KNO3 2 g/l dapat meningkatkan panjang tunas pada periode flush I dibandingkan dengan konsentrasi KNO3 4 – 8 g/l, tetapi tidak berbeda dengan tanpa KNO3 (0 g/l). Pemangkasan pada posisi flush 2 tidak menunjukkan adanya perbedaan antara yang diaplikasi KNO3 konsentrasi 2 – 8 g/l dengan tanpa KNO3.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(Mangifera indica L.) KULTIVAR GEDONG
Oleh
Yudi Indawan Sakti1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Untuk mendapatkan bentuk tajuk tanaman mangga yang ideal, rekayasa pembentukan tajuk berupa pemangkaan awal merupakan teknik budidaya yang sering dipakai. Perlakuan pemangkasan awal dapat dikombinasikan dengan aplikasi kalium nitrat (KNO3) sebagai nutrisi yang diaplikasikan melalui daun untuk meningkatkan pertumbuhan tunas tanaman mangga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Gedong antara yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II, (2) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Gedong yang diberi perlakuan KNO3 dengan beberapa taraf konsentrasi, dan (3) pengaruh pemberian KNO3 pada tanaman mangga Gedong yang dipangkas pada posisi flush I dan posisiflush II.
Penelitian dilaksanakan di Desa Way Dadi, Sukarame, Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2006. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah posisi pemangkasan, yaitu P1 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush I dan P2 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush II. Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0 = 0 g/l, K1 = 2 g/l, K2 = 4 g/l, K3 = 6 g/l, dan K4 = 8 g/l. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, data yang terkumpul dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pemangkasan awal pada posisi flush II lebih mempercepat waktu pecah mata tunas dan memperbesar diameter cabang primer daripada pemangkasan pada posisi flush II, (2) aplikasi KNO3 pada beberapa taraf konsentrasi tidak menyebabkan perbedaan pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Gedong, (3) pengaruh perlakuan pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Gedong tidak bergantung pada aplikasi KNO3, dan (4) tanaman dengan jumlah daun awal minimal 4 helai lebih meningkatkan panjang tunas, diameter cabang primer, penambahan tinggi tajuk, dan lebar tajuk daripada jumlah daun kurang dari 4 helai.
PENGARUH PEMBERIAN KNO3 PADA PERTUMBUHAN TIGA KULTIVAR TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.)
Oleh
Afif Aminudin1, Yohannes C. Ginting2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Bentuk tajuk tanaman mangga dengan percabangan yang banyak dan simetris sulit didapatkan karena adanya dominansi apikal yang menyebabkan tunas lateral menjadi dorman. Salah satu bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengakhiri tunas dorman adalah kalium nitrat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pertumbuhan tanaman mangga kultivar Arum Manis, Indramayu, dan Manalagi, (2) pengaruh konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan tanaman mangga, dan (3) pengaruh KNO3 pada pertumbuhan tanaman mangga kultivar Arum Manis, Indramayu, dan Manalagi. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan, perlakuan disusun secara faktorial (3 x 5), faktor pertama adalah tiga kultivar mangga yaitu mangga kultivar Arum manis, Indramayu, dan Manalagi. Faktor kedua adalah taraf konsentrasi KNO3, yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 g/l. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kultivar Arum Manis menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, ditunjukkan oleh waktu muncul tunas, pecah tunas, periode flush lebih cepat, tunas lebih panjang, dan total flush terbanyak. Kultivar Manalagi hasilkan diameter tunas lebih besar, tinggi tanaman, lebar tajuk lebih besar, dan jumlah daun lebih banyak. Sedangkan kultivar Indramayu pertumbuhannya paling lambat, jumlah daun dan tunas lebih sedikit, dan tinggi tanaman lebih pendek, (2) aplikasi 8 g/l KNO3 mampu mempercepat periode flush, meningkatkan jumlah flush, tinggi tanaman, panjang tunas, jumlah daun, dan total flush. Aplikasi 2 g/l KNO3 hanya mampu mempercepat waktu pecah tunas, dan memperluas tajuk, dan (3) pemberian KNO3 dalam meningkatkan jumlah daun dan jumlah mata tunas tergantung pada jenis kultivar. Pada kultivar Arum Manis aplikasi 8 g/l KNO3 menurunkan jumlah daun. Pada kultivar Indramayu aplikasi 8 g/l KNO3 masih menunjukkan peningkatan jumlah daun. Pada kultivar Manalagi Aplikasi 4 dan 8 g/l KNO3 menghasilkan jumlah daun terbanyak.
PENGARUH PUPUK NPK PADA PERTUMBUHAN
DAN PEMBUNGAAN MELATI AIR
(Echinodorus paleafolius)
Oleh
Siti Nuryani1, Rugayah2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK
Dalam membudidayakan tanaman melati air masih banyak kendala yang dihadapi, antara lain penggunaan dosis pupuk yang tepat agar diperoleh kualitas tanaman yang baik. Untuk itu digunakan pupuk NPK yang diharapkan mampu menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan yang maksimum pada tanaman melati ar.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis pupuk NPK yang akan menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan maksimum pada tanaman melati air.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah peningkatan dosis pupuk NPK sampai pada dosis tertentu mampu menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan yang maksimum pada tanaman melati air.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Januari sampai dengan Maret 2007.
Rancangan perlakuan disusun secara tunggal terstruktur regresi dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Perlakuan yang diberikan adalah pupuk NPK (15:15:15) yang terdiri dari 5 taraf dosis yaitu P0 = 0 g/tanaman, P1 = 2 g/tanaman, P2 = 4 g/tanaman, P3 = 6 g/tanaman, dan P4 = 8 g/tanaman. Setiap satuan percobaan diulang 3 kali. Pengelompokan dilakukan berdasarkan tinggi tanaman. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Bila asumsi terpenuhi, analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pupuk NPK sampai dosis 8 g/tanaman menambah luas daun terlebar dan tingkat kehijauan daun. Untuk pemberian NPK sebanyak 4,54 g/tanaman mampu menambah tinggi tanaman (23,91 cm); 4,11 g/tanaman mampu mempercepat waktu mekar bunga (10,99 hari); 4,12 g/tanaman mampu meningkatkan total kuntum bunga per tanaman (27,19 kuntum); dan 4,47 g/tanaman mampu menambah jumlah tangkai bunga per tanaman (1,87 tangkai).
RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA KERITING
(Lactuca sativa var. crispo) TERHADAP PENGGUNAAN
MULSA SEKAM PADI DAN PEMBERIAN PUPUK KNO3
Oleh
Okri Marwandi
ABSTRAK
Upaya peningkatan produksi tanaman selada keriting tak terlepas dari perbaikan faktor budidaya. Pemberian KNO3 dan teknologi pemulsaan adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas panen selada keriting (Lactuca sativa var. crispo).
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh pemberian mulsa sekam padi terhadap kualitas pertumbuhan dan produksi tanaman selada keriting, (2) Menentukan dosis KNO3 yang memberikan pengaruh pertumbuhan dan produksi terbaik bagi tanaman selada keriting, (3) Mengetahui interaksi antara dosis KNO3 dan perlakuan mulsa sekam padi dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman selada keriting.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung, pada bulan Juli-Agustus 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah tanpa mulsa sekam padi (M0) dan dengan mulsa sekam padi setebal 5 cm (M1). Faktor kedua adalah pemberian pupuk KNO3 yang terdiri dari 5 taraf, yaitu 55 kg/ha (K1), 70 kg/ha (K2), 85 kg/ha (K3), 100 kg/ha (K4), dan 115 kg/ha (K5). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian mulsa sekam padi memberikan tanggapan yang lebih baik bagi pertumbuhan dan produksi selada keriting melalui peubah bobot basah, bobot per petak, panjang akar, dan lebar tajuk, dibandingkan tanpa pemberian mulsa sekam padi. (2) Pemberian KNO3 dari dosis 55 kg/ha hingga 115 kg/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi selada keriting melalui peubah panjang akar dengan titik maksimum pada dosis 81,13 kg/ha sebesar 13,91 cm dan lebar tajuk dengan titik maksimum pada dosis 84,65 kg/ha sebesar 30,34 cm. (3) Terdapat persitindakan antara pemberian mulsa dan KNO3 pada peubah bobot basah tanaman pada dosis 55 kg/ha yaitu sebesar 41,33 g (54,39%) dan produksi tanaman per petak pada dosis 55 kg/ha yaitu sebesar 470,00 g (63,09%).
STUDY OF POLYTHYLENE GLYCOL 6000 ABILITY TO DROUGHT SIMULATION ON GERMINATION STAGE OF TWO UPLAND
RICE VARIETIES (ORYZA SATIVA L.)
By
Dwi Yulina
ABSTRACT
The possibility to use polyethylene glycol (PEG) for screening seed of soybean and lowland rice varieties to drought tolerance has been studied. Since the physiological process of germination and ability to grow normally in water stress situation are different, this technique is imperative to be reevaluated.
Two experiments were conducted to evaluate the effectiveness of PEG in the technique at green house and seed science and technology laboratory, respectively. For each experiment a 5×2 factorial arrangement of treatments was used. The first factor was varieties consisted of two varieties of upland rice (Situpatenggang and Batu Tegi) and the second factor at laboratory was five concentration of PEG solution (0%, 5%, 10%, 15%, and 20%) and at green house was five levels soil water content (field capacity [FC], 4/5 FC, 3/5 FC, 2/5 FC, and 1/5 FC). Each treatment combination was replicated three times and applied to experiment unit in a completely randomized block design. Bartlett’s and Tukey tests were used to verify the data assumption underlying the analysis of variance. The responses to upland rice varieties were analysed using nested planned-F test i.e. orthogonal comparisons, while the responses to water stress were a trend analyses i.e. polynomials orthogonal. The type one error probability for statistical analyses were 0,01 and 0,05. The responses of upland rice seeds to PEG or soil water content were observed on seed germination, germination uniformity, germination speed, length of normal seedling, shooth length, root length, dry weight of normal seedling, and root dry weight.
The result of the experiments showed that vigor and viability of two upland rice varieties progressively decreased as concentration PEG increased or soil water content decreased. But, the data had not yet supported that PEG could be used in screening varieties of upland rice to drought tolerance. It needs more studies on the growth and development of plants after germination. It seems that this technique is more applicable for salinity tolerance test.

UJI VIGOR KEKUATAN TUMBUH BENIH EMPAT VARIETAS KEDELAI (Glycine max [L.] Merrill)

PADA MEDIA BERPOLY ETHYLENE GLYCOL (PEG) 6000

Oleh

Puspita Anggriany1, Paul B.Timotiwu2, dan Eko Pramono2

ABSTRAK
Perkecambahan merupakan fase pertumbuhan yang diketahui sensitif terhadap cekaman kekeringan fisiologis. Salah satu cara untuk menyeleksi toleransi tanaman kedelai terhadap cekaman kekeringan fisiologis dengan homogenitas yang lebih tinggi yaitu dengan penggunaan larutan Polyethylene glycol 6000 (PEG). Metode seleksi dengan PEG ini dapat mengetahui toleransi tanaman kedelai terhadap cekaman kekeringan fisiologis melalui parameter vigor kekuatan tumbuh benih. Benih yang toleran terhadap cekaman kekeringan fisiologis akan mengalami penurunan vigor kekuatan tumbuh yang lebih lambat dibandingakan dengan yang rentan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui vigor kekuatan tumbuh benih varietas Anjasmoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media normal dan media dengan PEG 6000; (2) mengetahui perbedaan vigor kekuatan tumbuh benih kedelai antara varietas Anjasmoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media dengan PEG 6000 konsentrasi 15%.
Perlakuan disusun secara faktorial (4×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah varietas Anjasmoro (P0), Pangrango (P1), Slamet (P2), dan Tanggamus (P3). Faktor kedua berupa konsentrasi PEG 0% (A0) dan 15% (A1). Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Pengaruh perlakuan dengan sidik ragam dan perbedaan dua nilai tengah diuji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) vigor kekuatan tumbuh benih kedelai varietas Anjamoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media dengan PEG 6000 konsentrasi 15% lebih rendah daripada vigor kekuatan tumbuh keempat varietas tersebut pada media tanpa PEG 6000; (2) varietas Tanggamus mempunyai vigor kekuatan tumbuh yang lebih tinggi daripada varietas Anjasmoro, Pangrango, dan Slamet pada konsentrasi PEG 15%.

APLIKASI METODE BIOASSAY UNTUK MENGETAHUI PERGERAKAN HERBISIDA DIURON PADA TANAH LATOSOL COKLAT DAN PODSOLIK MERAH KUNING (PMK)

Oleh
Diky Eksana Sinungan1, Nanik Sriyani2, dan Lazimar Zen2.

ABSTRAK

Keberadaan herbisida sebagai bahan pengendali gulma di lahan pertanian dapat mengalami berbagai proses fisika dan kimia seperti menguap, tercuci atau bergerak bersama resapan air hujan atau air permukaan tanah, atau terurai akibat aktivitas mikroba tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pergerakan dan jumlah herbisida diuron yang bergerak dalam tanah latosol coklat dan Podsolik Merah Kuning (PMK) menggunakan metode bioassay.

Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Riset Laboratorium Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung sejak bulan November 2004 hingga Februari 2005. Percobaan dilakukan dalam 2 tahap yaitu (1) pembuatan kurva standar tanggap caisim terhadap herbisida diuron dan (2) deteksi pergerakan herbisida diuron. Percobaan kurva standar dilakukan dengan menanam kecambah caisim pada media tanah yang diberi 6 taraf konsentrasi herbisida yaitu: 0 ppm, 0,001 ppm, 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm, dan 10 ppm. Hasil pengamatan dibuat dalam bentuk kurva dan diperoleh persamaan nilai regresi linier sebagai respon caisim terhadap beberapa konsentrasi herbisida diuron. Percobaan selanjutnya adalah deteksi pergerakan herbisida menggunakan kolom berbahan PVC yang diisi tanah setinggi 40 cm yang dibagi dalam empat sub-kolom dengan tinggi masing-masing 10 cm. Setelah aplikasi herbisida pada kolom tanah, pergerakan dan jumlah konsentrasi herbisida diduga berdasarkan regresi kurva standar terpilih.

Hasil penelitian kurva standar menunjukkan bahwa peubah panjang akar caisim menunjukkan respon yang baik terhadap herbisida diuron sehingga dapat digunakan sebagai penduga pergerakan herbisida diuron. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa pergerakan herbisida diuron pada tanah latosol coklat dan PMK dapat terdeteksi hingga kedalaman 10-20 cm. Pada tanah latosol coklat terdeteksi pada 1 MSA dan pada tanah PMK hingga 8 MSA. Pada tanah latosol coklat terdeteksi sebesar 3,22 ppm pada 1 HSA, 1,54 ppm pada 1 MSA, dan pada 2 MSA hanya terdeteksi pada kedalaman 0-10 cm sebesar 1,80 ppm. Pada tanah PMK pada 1 HSA, 1 MSA, 2 MSA, 4 MSA, dan 8 MSA terdeteksi sebesar 3,91 ppm, 3,996 ppm, 2,96 ppm, 3,21 ppm, dan 0,31 ppm. Selanjutnya pada 12 MSA pada tanah PMK bioassay sudah tidak dapat mendeteksi herbisida.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI Indole Butyric Acid (IBA) DAN PEMOTONGAN AKAR PADA KEBERHASILAN AKLIMATISASI PLANLET Sansevieria trifasciata MENGGUNAKAN DUA MACAM MEDIA TANAM
Oleh

Puji Sulastiana1, Yusnita2, dan Sri Ramadiana2
ABSTRAK

Sansevieria termasuk salah satu tanaman hias yang hingga saat ini masih disukai oleh para hobiis. Perbanyakan tanaman Sansevieria dapat dilakukan baik secara konvensional maupun dengan teknik kultur jaringan. Planlet Sansevieria yang dihasilkan melalui kultur jaringan memerlukan proses adaptasi terhadap lingkungan eksternal yang disebut dengan aklimatisasi. Pembentukan akar secara ex vitro dapat dirangsang dengan pemberian auksin, contohnya IBA. Media tanam yang digunakan juga mempunyai pengaruh pada perakaran suatu tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cara aklimatisasi planlet Sansevieria ke lingkungan eksternal dan mempelajari pengaruh IBA serta pemotongan akar. Penelitian terdiri dari dua percobaan, yaitu pengaruh pemberian beberapa konsentrasi IBA (percobaan I) dan pengaruh pemotongan akar (percobaan II). Kedua percobaan dilakukan dalam rancangan teracak sempurna (RTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 3 x 2 (Percobaan I) dan faktorial 2 x 2 (Percobaan II). Faktor pertama pada percobaan I adalah konsentrasi IBA (0 ppm, 1000 ppm, dan 2000 ppm) sedangkan pada percobaan II adalah pemotongan akar yaitu akar tidak dipotong dan akar dipotong. Faktor kedua untuk kedua percobaan adalah jenis media tanam yang terdiri atas campuran pasir malang dan arang sekam dan campuran pasir malang dan kompos. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett. Bila asumsi terpenuhi dilanjutkan dengan sidik ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT pada taraf 5% dan 10%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian IBA efektif untuk merangsang pertumbuhan akar pada planlet S. trifasciata; (2) persentase tanaman yang hidup pada percobaan I dan II cukup tinggi, yaitu 95,8% dan 100%; (3) IBA 2000 ppm menghasilkan jumlah akar primer, sekunder, panjang akar, serta bobot basah akar yang paling tinggi; (4) campuran kompos dan pasir malang lebih baik daripada campuran arang sekam dan pasir malang untuk variabel jumlah akar sekunder, panjang akar, dan bobot basah akar; (5) pengaruh konsentrasi IBA pada daya hidup dan pertumbuhan akar planlet S. trifasciata tidak ditentukan oleh kedua media tanam yang digunakan; (6) planlet yang akarnya tidak dipotong menghasilkan daya hidup tanaman yang sama tingginya dengan yang akarnya dipotong.

PENGARUH DOSIS LIMBAH PADAT PENYULINGAN NILAM TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL DUA VARIETAS NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Oleh
Alfian Saputra1, Rusdi Evizal2, dan Indarto2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui pengaruh varietas dan dosis terhadap pertumbuhan awal nilam, juga pengaruh interaksi dua varietas nilam dengan dosis limbah padat nilam terhadap pertumbuhan awal nilam.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Februari sampai dengan Mei 2007. Perlakuan diterapkan dalam rancangan perlakuan faktorial (2×4) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah varietas yaitu A0 (varietas lokal), A1 (varietas tapak tuan) dan faktor kedua adalah dosis pupuk limbah padat yaitu B0 (limbah padat 0 ton/hektar atau 0 g/polybag), B1 (limbah padat 10 ton/hektar atau 25 g/polybag), B2 (limbah padat 20 ton/hektar atau 50 g/polybag), dan B3 (limbah padat 30 ton/hektar atau 75 g/polybag). Homogenitas ragam data diuji dengan uji Barlett. Uji Tukey untuk menguji sifat kemenambahan data. Pemisahan nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan, limbah padat nilam dengan dosis 30 t/ha meningkatkan bobot kering tajuk sebesar 250 % dengan tidak diberi limbah padat nilam sedangkan dosis 20 t/ha meningkatkan bobot kering tajuk sebesar 135,7 %. Varietas tapak tuan menghasilkan bobot kering tajuk 3,6 g/polybag sedangkan varietas lokal menghasilkan bobot kering tajuk 2,4 g/polybag. Tidak terdapat interaksi antara dosis limbah padat nilam dan varietas terhadapa bobot kering tajuk.

PENGARUH DOSIS NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI DUA GENOTIPE JAGUNG (Zea mays L.)
KETURUNAN LA GALIGO X TOM THUMB
Oleh

Rachmayani1, Setyo Dwi Utomo2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan cara memperbaiki lingkungan tumbuh antara lain dengan pemupukan nitrogen yang optimal. Nitrogen merupakan unsur esensial bagi tanaman jagung untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pupuk Urea mengandung 46% nitrogen, sehingga pemupukan Urea yang tepat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nitrogen bagi tanaman jagung.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan dan produksi pada genotipe jagung berbiji sedang dan genotipe berbiji kecil keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb, (2) bentuk tanggapan tanaman jagung keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb dalam pertumbuhan dan produksi terhadap peningkatan dosis pupuk Urea yang diberikan, (3) menentukan dosis pupuk Urea yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang maksimal pada dua genotipe yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan pada lahan kering dengan ketinggian ± 80 meter dari permukaan laut dengan jenis tanah Ultisol, di Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung. Laboratorium Benih dan Pemulian Tanaman dan Laboratorium Ilmu Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Januari sampai bulan April 2007. Perlakuan disusun secara faktorial (2×5) menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna yang terdiri dari 3 ulangan. Faktor pertama adalah 2 genotipe jagung keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb yaitu genotipe biji sedang dan biji kecil. Faktor kedua adalah dosis pupuk Urea dengan lima taraf yaitu 0, 100, 200, 300, dan 400 kg/ha. Kesamaan ragam antarperlakuaan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, pengolahan data dilanjutkan dengan sidik ragam. Tanggapan terhadap perlakuan yang diterapkan diuji dengan polinomial ortogonal pada taraf uji 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dosis Urea 400 kg/ha, peningkatan pertumbuhan dan produksi masih menunjukkan respons yang linier. Bobot biji kering tertinggi pada genotipe biji sedang sebesar 1,33 kg/petak (2,22 ton/ha), sedangkan pada genotipe biji kecil hasil bobot biji kering tertinggi sebesar 1,11 kg/petak (1,86 ton/ha) yang dicapai pada pemberian pupuk Urea pada dosis 400 kg/ha.

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA GENOTIPE JAGUNG KETURUNAN PERSILANGAN LA GALIGO X TOM THUMB
Oleh

Eva Meliza Sari1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Jagung pop memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada jagung hibrida, walaupun berukuran lebih kecil namun jagung pop berumur genjah dan bila dilakukan pengaturan jarak tanam yang tepat dapat meningkatkan intensitas tanam dan mampu meningkatkan populasi per satuan luas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan pertumbuhan dan produksi dua genotipe jagung pop keturunan La Galigo x Tom Thumb berbiji sedang (bobot 1000 butir 129,6 g) dan genotipe berbiji kecil (bobot 1000 butir 96,0 g); (2) pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi jagung keturunan La Galigo x Tom Thumb; (3) jarak tanam yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi maksimum terhadap dua genotipe jagung pop keturunan La Galigo x Tom Thumb.

Penelitian dilaksanakan di lahan kering Kelurahan Gunung Terang, Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman dan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Sejak bulan Januari sampai bulan April 2007. Perlakuan disusun secara faktorial 2×5 dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri dari 2 taraf yaitu genotipe berbiji sedang (G1) dan genotipe berbiji kecil (G2). Faktor kedua adalah jarak tanam terdiri dari 5 taraf yaitu: 50 cm x 10 cm, 50 cm x 15 cm, 50 cm x 20 cm, 50 cm x 25 cm, 50 cm x 30 cm. Kesamaan antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan polinomial ortogonal pada α 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) genotipe berbiji sedang menunjukkan diameter tongkol, bobot tongkol, bobot 1000 butir, dan bobot biji kering per petak yang lebih tinggi daripada genotipe berbiji kecil; (2) jarak tanam 50 cm x10 cm menunjukkan sudut daun, tinggi tanaman, dan bobot biji kering per petak paling tinggi; (3) bobot biji kering per petak tertinggi pada penggunaan genotipe berbiji sedang dengan jarak tanam 50 cm x 10 cm sebesar 1148 g per petak atau setara dengan 1,53 ton/ha sedangkan pada genotipe berbiji kecil dengan menggunakan jarak tanam 50 x 10 cm menghasilkan 885 gram per petak panen atau setara dengan 1,18 ton/ha.

PENGARUH KOMBINASI PUPUK N, P, DAN K PADA PRODUKSI UBI
DAN KADAR ACI TANAMAN UBIKAYU (Manihot escutenta Crantz) VARIETAS KASETSART, ADIRA-4, DAN THAILAND
Oleh

Johan Iskandar1, Erwin Yuliadi2, dan Sunyoto2
ABSTRAK

Tanaman ubikayu merupakan komoditas penghasil pati yang digunakan dalam berabagai industri di antaranya adalah industri pangan, pakan ternak, farmasi, dan bahan bakar nabati. Hingga kini produksi ubikayu masih rendah karena cara budidaya yang belum menggunakan bibit dari varietas unggul dan pemberian pupuk dengan dosis yang belum tepat. Untuk meningkatkan produktifitas ubikayu, bahan yang ditanam harus benar-benar dari varietas unggul dengan rnemberikan dosis pupuk yang tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kombinasi dosis pupuk terbaik terhadap produksi clan kadar aci tanaman ubikayu varietas Kasetsart, Adira-4, dan Thailand, dan (2) varietas ubikayu yang memberikan produksi dan kadar aci terbaik setelah diberi pupuk N, P, dan K.

Penelitian dilakukan di Desa Suka Negara, Dusun Kemang, Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Seiatan dari buian Januari sampai November 2006. Perlakuan disusun secara faktorial 3 x 4 dalam rancangan petak terbagi rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Faktor pertama berupa varietas sebagai petak induk terdiri dari 3 varietas, yaitu Kasetsart, Adira-4, dan Thailand. Faktor kedua berupa kombinasi dosis pupuk sebagai petak anak yang terdiri dari 4 taraf dosis pupuk, yaitu (Cl) 150 kg pupuk NJha; 50 kg pupuk P/ha; 150 kg pupuk K/ha, (Cz) 100 kg pupuk N/ha; 150 kg pupuk P /ha; 150 kg pupuk K/ha, (Ca)150 kg pupuk N/ha; 100 kg pupuk P /ha; 150 kg pupuk K/ha, dan (C4) 150 kg pupuk N/ha; 150 kg pupuk P/ha; 100 kg pupuk K/ha. Kemudian data dianalisis ragam. Untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antarperlakuan digunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata pada produksi ubi per tanaman, kadar aci, jumlah ubi per tanaman, tinggi tanaman, diameter batang, dan tidak berpengaruh pada bobot brangkasan kering. Kombinasi dosis pupuk berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, sedangkan interaksi antara varietas dengan kombinasi dosis pupuk berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan bobot brangkasan kering.

PENGARUH KONSENTRASI PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI DAUN PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN KACAPIRING (Gardenia augusta) DALAM POT
Oleh

Siti Khumairoh1
ABSTRAK

Kacapiring (Gardenia augusta) merupakan tanaman perdu berumur tahunan yang memiliki banyak cabang. Untuk meningkatkan nilai ekonomi dan nilai estetika tanaman kacapiring dapat dijadikan tanaman hias dalam pot dengan kriteria ukuran batang pendek, berbunga kompak, dan proporsional. Salah satu cara yang dilakukan untuk menghasilkan kriteria tanaman hias pot di atas adalah dengan pemberian penghambat tumbuh melalui daun seperti paklobutrazol.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman kacapiring (Gardenia Augusta) dalam pot terbaik. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai bulan Januari—Mei 2007.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna, rancangan perlakuan disusun secara terstruktur regresi yang terdiri dari 6 taraf konsentrasi paklobutrazol (P) yaitu 0 ppm(P0), 50 ppm(P1), 100 ppm(P2), 150 ppm(P3), 200 ppm(P4), 250 ppm(P5). Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Bila asumsi terpenuhi, maka analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Pemberian paklobutrazol melalui daun dengan konsentrasi 0—250 ppm mampu meningkatkan warna hijau daun pada tanaman kacapiring, tetapi belum dapat memengaruhi variabel pengamatan vegetatif tinggi tanaman, waktu muncul cabang, jumlah cabang, dan panjang cabang. Pada pertumbuhan generatif, pemberian paklobutrazol melalui daun masih dapat meningkatkan jumlah tangkai bunga, jumlah bunga per tangkai, dan jumlah bunga per pot sedangkan pada variabel pengamatan waktu muncul kuncup bunga, waktu mekar bunga, dan ketahanan bunga pemberian paklobutrazol kurang efektif.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK (15:15:15)
PADA PERTUMBUHAN TANAMAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh

Annalia Rafikasari1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) adalah tanaman hias daun yang dapat dijadikan tanaman obat. Keindahannya sebagai tanaman hias terletak pada perpaduan warna permukaan atas dan bawah daun. Selain itu, warna daun yang tajam memiliki kandungan bahan kimia yang berkhasiat sebagai obat juga tinggi. Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan kualitas warna daun sirih merah yang terbaik adalah penggunaan bahan organik dari golongan legum dan pemberian pupuk NPK dengan berbagai dosis.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah yang ditanam pada media yang bercampur serasah daun LCC dan flamboyan, (2) dosis NPK yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, dan (3) perbedaan pengaruh serasah tanaman pada pertumbuhan tanaman sirih merah pada masing-masing dosis NPK.

Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, mulai bulan April—Juli 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) yang disusun secara faktorial 2 faktor (5×2), yaitu dosis pupuk NPK (15:15:15) (0, 2, 4, 6, dan 8 g/tanaman) dan jenis bahan organik (serasah daun LCC dan serasah daun flamboyan).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa serasah daun flamboyan menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang lebih baik dibandingkan serasah daun LCC, yang ditunjukkan oleh variabel diameter ruas ke-3, total luas daun/tanaman, dan luas helaian daun. Peningkatan dosis NPK sampai 8 g/tanaman justru menurunkan pertumbuhan tanaman sirih merah, yang ditunjukkan oleh variabel panjang sulur/tanaman, panjang ruas ke-3, diameter ruas ke-3, jumlah buku/tanaman, total luas daun/tanaman, dan luas helaian daun. Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah pada media tanam LCC dengan media tanam flamboyan pada masing-masing dosis NPK, kecuali pada diameter ruas ke-3, luas helaian daun, dan periode pembentukan daun.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN JENIS FORMULASI PUPUK DAUN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh

Amrina Rosyada1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Tanaman sirih merah merupakan tanaman hias yang sekaligus berkhasiat sebagai tanaman obat. Penekanan nilai keindahan atau khasiat obat terletak pada warna daun, tetapi pembudidayaan untuk menghasilkan kualitas tanaman yang baik belum dilakukan terutama melalui pendekatan perbaikan media tanam dan penambahan pupuk melalui daun.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jenis media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, (2) mengetahui jenis pupuk daun yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, dan (3) mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah karena perbedaan jenis pupuk daun pada masing-masing jenis media tanam.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, dari bulan April sampai Juli 2007. Perlakuan disusun secara faktorial (2×5) dalam rancangan kelompok teracak sempurna, dengan 3 kelompok. Faktor pertama adalah jenis pupuk daun yang terdiri dari kontrol (A0), Growmore (A1), Hyponex (A2), Gandasil D (A3), dan Hortigro (A4). Faktor kedua adalah media tanam yang terdiri dari serasah daun flamboyan (B1) dan serasah daun LCC (B2). Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, maka data dianalisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serasah daun flamboyan menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang lebih baik daripada serasah daun LCC pada panjang sulur, jumlah daun, jumlah buku, panjang ruas ketiga, luas helaian daun, dan total luas daun. Penggunaan jenis pupuk daun yang dikombinasikan dengan media tanam LCC atau flamboyan hanya berpengaruh pada variabel jumlah buku. Dilihat dari corak warna daun, media tanam flamboyan yang diaplikasi pupuk daun Growmore menghasilkan kualitas warna daun yang terbaik. Dilihat dari jumlah buku, media tanam flamboyan yang diaplikasi pupuk daun Hyponex atau Gandasil D hasilnya lebih banyak dibandingkan dengan LCC.

PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN APLIKASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.) KULTIVAR INDRAMAYU
Oleh

Achmad Junaidi Ferdo1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Perlakuan pemangkasan awal dapat dikombinasikan dengan aplikasi kalium nitrat (KNO3) sebagai nutrisi yang diaplikasikan melalui daun untuk meningkatkan pertumbuhan tunas tanaman mangga. Dengan demikian pembentukan tajuk tanaman yang ideal dan seimbang.akan lebih mudah dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Indramayu antara yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II, (2) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Indramayu yang diberi perlakuan KNO3 dengan beberapa taraf konsentrasi, dan (3) pengaruh peningkatan konsentrasi KNO3 pada tanaman mangga kultivar yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II.

Penelitian dilaksanakan di Desa Way Dadi, Sukarame, Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2006. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah posisi pemangkasan, yaitu P1 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush I dan P2 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush II. Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0 = 0 g/l, K1 = 2 g/l, K2 = 4 g/l, K3 = 6 g/l, dan K4 = 8 g/l. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, data yang terkumpul dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pemangkasan awal pada posisi flush II menghasilkan jumlah daun per tunas lebih banyak dibandingkan dengan pemangkasan pada posisi flush I, (2) aplikasi KNO3 dengan konsentrasi 2—4 g/l menghasilkan tunas yang lebih panjang dan tanaman yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 6—8 g/l, (3) pengaruh perlakuan pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Indramayu tidak bergantung pada aplikasi KNO3, dan (4) tanaman dengan jumlah daun awal minimal 5 helai lebih meningkatkan panjang tunas, jumlah daun per unas,penambahan tinggi tajuk, dan lebar tajuk daripada jumlah daun kurang dari 5 helai.

PENGARUH PEMBERIAN MIKORIZA PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA VARIETAS KACANG HIJAU
(Phaseolus Radiatus [L.] Merr)
Oleh

Dwianna Oktasari1, Agus Karyanto2, dan Sunyoto2
ABSTRAK

Usaha yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi dua varietas kacang hijau, yaitu Varietas No.129 dan Merpati dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik ditingkat petani. Salah satunya yaitu aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskular. Dengan adanya bentuk asosiasi yang saling menguntungkan antara fungi mikoriza dan akar tanaman diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau.

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui varietas yang tumbuh dan berproduksi paling baik, (2) untuk mengetahui dosis mikoriza terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan (3) untuk mengetahui apakah tanggapan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang hijau ditentukan oleh dosis mikoriza yang diberikan.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, Laboratorium Produksi Tanaman, dan Laboratorium Produksi Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2006. Perlakuan diterapkan dalam rancangan faktorial (2×4) dengan 8 ulangan menurut rancangan teracak sempurna (RTS). Faktor pertama terdiri dari varietas No.129 (V1) dan Merpati (V2). Faktor kedua terdiri dari 4 taraf dosis mikoriza yaitu 0 g/polibag (M0), 25 g/polibag (M1), 50 g/polibag (M2), dan 75 g/polibag (M3). Homogenitas ragam dihitung dengan uji Bartlett dan pemisahan nilai tengah dihitung dengan uji BNT pada taraf 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas No.129 menghasilkan bobot biji yang lebih baik daripada varietas Merpati. Pemberian mikoriza sampai dengan dosis 75 g/polibag tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Tidak terdapat interaksi terhadap penggunaan varietas dan pemberian mikoriza dalam beberapa taraf dosis pada pertumbuhan dan produksi kacang hijau.

PENGARUH PEMBERIAN N, P, K, DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL, DAN KANDUNGANNITROGEN PADA TIGA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) KOMPOSIT
Oleh

Yuliasih Purnama1 Herawati Hamim2, dan Lazimar Zen2
ABSTRAK

Jagung merupakan komoditi pangan yang penting setelah padi. Budidaya tanaman jagung terus ditingkatkan seiring dengan menurunnya produktivitas lahan yang berdampak pada penurunan hasil tanaman. Untuk mengatasinya dilakukan pemupukan. Pemupukan anorganik dan organik pada tanaman jagung diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung varietas komposit akibat pemberian N, P, K, dan pupuk kandang; (2) mengetahui interaksi antara varietas dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil 3 varietas jagung komposit; dan (3) perubahan kandungan nitrogen di daun dan di biji tanaman beberapa jagung komposit akibat pemberian N, P, K, dan pupuk kandang.

Perlakuan disusun secara faktorial (4 x 5) dalam Rancangan Petak Terbagi dengan pengacakan RKTS. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Data di rata-ratakan untuk pengujian homogenitas menurut Bartlet. Bila terbukti homogen, data dianalisis ragam. Aditivitas model diuji Tukey. Bila anara terbukti signifikan dilakukan pemisahan nilai tengah menggunakan BNJ0,05. Dilakukan juga uji Korelasi antarvariabel pengamatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) respons pertumbuhan dan hasil varietas Sukmaraga terhadap pemupukan N, P, K, dan pupuk kandang lebih baik dibandingkan varietas Arjuna dan Lamuru; (2) pengaruh perlakuan varietas dan pemupukan menunjukkan interaksi yang nyata. Pemupukan urea, SP-36, KCl, dan pupuk kandang dengan dosis masing-masing 75, 35, 25 kg/ha, dan 3 ton/ha pada varietas Sukmaraga menghasilkan jumlah daun, tinggi tongkol, panjang tongkol, lingkar tongkol, dan jumlah baris biji per tongkol terbaik; dan (3) kandungan nitrogen di daun dan biji paling banyak terdapat pada kombinasi perlakuan pemupukan 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang 3 ton/ha.

PENGARUH PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI MEDIA TANAH PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN KACAPIRING (Gardenia augusta) DALAM POT
Oleh

Irma Handayani1, Kushendarto2, dan Yayuk Nurmiaty2
ABSTRAK

Kacapiring (Gardenia augusta) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman hias dalam pot karena mempunyai bunga yang menarik dengan cabang yang banyak. Tanaman kacapiring sebagai tanaman hias pot harus memiliki kriteria tanaman pendek, daun rimbun, dan berbunga kompak. Pemberian penghambat tumbuh seperti paklobutrazol melalui media tanah, merupakan salah satu cara untuk mendapatkan tanaman kacapiring sesuai kriteria tersebut sehingga meningkatkan nilai estetikanya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang diberikan melalui tanah dalam menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman kacapiring (Gardenia augusta) terbaik yang ditanam dalam pot.

Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca UPT Kebun Universitas Lampung, mulai bulan Januari 2007 hingga Mei 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna yang terdiri dari 4 kelompok. Masing-masing perlakuan diulang empat kali dan setiap ulangan terdiri dari 2 sub sampel tanaman. Perlakuan yang diterapkan adalah tunggal terstruktur yang terdiri dari 6 taraf konsentrasi paklobutrazol yaitu 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol melalui media tanah sampai konsentrasi 250 ppm masih meningkatkan tingkat kehijauan daun, mempercepat waktu mekar bunga, dan meningkatkan ketahanan bunga. Pengaruh terhadap variabel lain, seperti tinggi tanaman, waktu muncul cabang, jumlah cabang, panjang cabang, jumlah tangkai per tanaman, jumlah bunga per tangkai, dan jumlah bunga per pot pemberian paklobutrazol tidak berpengaruh.

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK DAN KONSENTRASI
PUPUK GANDASIL B TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUNGA TERATAI (Nymphae Sp)
Oleh

Oldian Felany1, Herawati Hamim2, dan Yayuk Nurmiaty2
ABSTRAK

Dalam membudidayakan teratai terdapat banyak kendala yang dihadapi, antara lain penggunaan dosis pupuk yang tepat untuk memperoleh kualitas tanaman yang baik. Untuk itu digunakan pupuk NPK dan Gandasil B yang diharapkan dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi bunga teratai yang maksimum.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gedung Meneng Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung, mulai bulan Mei—Juni 2007. Penelitian disusun secara faktorial (2 x 5), faktor pertama adalah pupuk NPK Mutiara (A), yaitu tanpa pupuk NPK (A0) dan dengan pupuk NPK Mutiara dosis 3 g (A1). Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk Gandasil B (B), dengan lima taraf konsentrasi yaitu 0 g/lt air (B0), 1 g/lt air (B1), 1,5 g/lt air (B2), 2 g/lt air (B3), dan 2,5 g/lt air (B4). Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan teracak sempurna dan setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Pemberian NPK 3 g/tanaman mampu menambah tingkat kehijauan daun, jumlah daun, lebar daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga, panjang tangkai bunga, diameter bunga, dan masa mekar bunga tanaman teratai (Nymphae sp), (2) Pemberian Gandasil B sampai dengan konsentrasi 2,5 g/l air mampu menambah tingkat kehijauan daun, jumlah daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga, dan panjang tangkai bunga tanaman teratai (Nymphae sp). (3) Pemberian Gandasil B sampai dengan konsentrasi 2,5 g/l air yang diberikan dengan dosis NPK 3 g masih dapat menambah tingkat kehijauan daun pada tanaman teratai (Nymphae sp).

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL TIGA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) KOMPOSIT
Oleh

Ihsan Hariyanto1, Muhammad Kamal2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Jagung merupakan penyumbang komponen protein dan lemak dalam bahan pangan, nilai gizinya tidak kalah bila dibandingkan dengan gandum dan padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pengaruh varietas terhadap pertumbuhan dan komponen hasil jagung, (2) mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan dan komponen hasil jagung, dan (3) mengetahui interaksi antara varietas dan pemupukan pada pertumbuhan dan komponen hasil jagung.

Penelitian disusun secara faktorial (3×6) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas yaitu Sukmaraga, Arjuna, dan Lamuru; faktor kedua adalah kombinasi pemupukan yaitu U0 = tanpa pemupukan, U1 = 300 kg urea/ha, 140 kg SP-36/ha, dan 100 kg KCl/ha, U2 = 150 kg urea/ha, 70 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha, dan 1,5 t bioplant/ha, U3 = 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, dan 25 kg KCl/ha, dan 3 t bioplant/ha, U4 = 4 ton bioplant/ha, dan U5 = 5 t bioplant/ha. Data di analisis dengan sidik ragam. Pemisahan nilai tengah perlakuan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Varietas Arjuna mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan varietas Arjuna dan Lamuru, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, jumlah biji per tongkol, dan bobot biji per tongkol. (2) Pemupukan U3 mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan pemupukan lainnya, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, jumlah dan bobot biji per tongkol, dan (3) Kombinasi varietas Sukmaraga dan pemupukan U3 mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan kombinasi lainnya, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, dan bobot biji per tongkol.

PENGARUH PEMUPUKAN NITROGEN SERTA PEMANGKASAN DAUN DI BAWAH TONGKOL PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG PUTIH
Oleh

M. Fauzi Indra1, Saiful Hikam2, dan Herawati Hamim2.

ABSTRAK

Tanaman Jagung (Zea Mays. L) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan penyumbang devisa yang besar. Untuk meningkatkan produksi jagung putih terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain lingkungan, genetis, dan teknik budidaya. Faktor teknik budidaya, terutama dalam pemeliharaan dan sanitasi yang termaktub dalam pemupukan dan pemangkasan

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tanggap-tanggap pada pertumbuhan dan hasil. jagung putih bila dipangkas dan diberi pupuk N. (2) Mengevaluasi pertumbuhan dan hasil jagung putih bila dipangkas dan diberi berbagai dosis pupuk N. (3) Mengetahui terjadi pengaruh interaksi pertumbuhan dan hasil jagung putih bila dipangkas dan diberi pupuk N.

Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Politeknik Negeri Lampung dari bulan Februari sampai Juni 2005. Penelitian menggunakan Rancangan petak terbagi (Split Splot Design) terdiri dari 2 perlakuan dan 3 ulangan. Homogenitas data diuji dengan uji Bartlett, sedangkan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Pengolahan data dilakukan dengan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan (1) Pada semua parameter pengamatan tidak berbeda nyata antara pemupukan rendah medium dan tinggi, (2) Pengaruh pemangkasan tidak berbeda nyata pada pertumbuhan dan produksi jagung putih, dan (3) Tidak terdapat interaksi antara pemupukan dan pemangkasan.

PENGARUH PEPTON DAN MEDIA DASAR TERHADAP PERTUMBUHAN PROTOKORM ANGGREK Dendrobium HIBRIDA IN VITRO
Oleh
Maula Indani1

ABSTRAK

Untuk mengatasi masalah penyediaan bibit anggrek bermutu dan dalam skala besar, perlu dilakukan perbanyakan secara tepat dan efisien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah metode kultur in vitro. Berbagai komposisi media telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dikulturkan salah satunya adalah media MS (Murashige dan Skoog). Penggunaan modifikasi larutan pupuk lengkap seperti Hyponex dan GrowMore dapat digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penambahan asam amino sebagai sumber nitrogen organik sebagai salah satu komponen media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan kultur. Salah satu sumber nitrogen organik yang dapat digunakan adalah pepton.

Tujuan dari penelitian adalah (1) untuk mencari pengganti media dasar ½ MS yang terbaik (Hyponex atau GrowMore) untuk pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, (2) untuk mengetahui pengaruh penambahan pepton ke dalam masing-masing media dasar pada pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara tiga jenis media dasar dan konsentrasi pepton pada pertumbuhan protokorm anggrek Dendrobium hibrida.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (3×2) dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (Hyponex, GrowMore, dan ½ MS) dan faktor kedua adalah pengaruh pepton (0 mg/l dan 2 mg/l). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Data dianalisis dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) media dasar Hyponex atau GrowMore dapat menjadi media alternatif atau pengganti dari media dasar ½ MS untuk pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, (2) pemberian pepton dapat meningkatkan panjang akar dan bobot basah tanaman tetapi secara umum tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah akar pada pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, dan (3) terdapat interaksi antara tiga media dasar dan dua konsentrasi pepton hanya pada bobot basah tanaman tetapi secara umum tidak berpengaruh terhadap pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida.

PENGARUH SILIKA DAN TARAF DOSIS UREA TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
Oleh

Heni Kurniawati1, Indarto2, dan Sarno2
ABSTRAK

Tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk keluarga rumput-rumputan yang mengandung nira sebesar 87,5% sebagai bahan baku industri gula. Produksi gula di Indonesia belum optimal; salah satu kendala pertanaman tebu yaitu kesuburan tanah. Urea termasuk pupuk anorganik yang mengandung unsure hara yang berperan untuk menyusun bagian-bagian tanaman, sedangkan silica juga dapat mendukung dan meningkatkan produksi untuk tanaman tebu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh silica pada pertumbuhan tanaman tebu; (2) tanggapan pertumbuhan tanaman tebu terhadap dosis pupuk urea; dan (3) pengaruh silica terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu pada berbagai dosis pupuk urea yang diberikan.

Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Lampung, dari bulan Desember 2006 sampai dengan Maret 2007. Penelitian disusun dalam rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan factorial 2X5 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah p[upuk silica, terdiri atas tanpa silica 0 kg/ha dan silica 126 kg/ha. Faktor kedua yaitu dosis urea terdiri dari lima taraf, yaitu 0 kg/ha, 100 kg/ha, 200 kg/ha, 300 kg/ha, 400 kg/ha. Data dirata-ratakan kemudian diuji Bartlett untuk homogenitas data dianalisis ragam. Untuk menguji aditivitas model dilakukan uji Tukey. Peubah yang berbeda nyata berdasarkan analisis ragam diuji polynomial orthogonal pada a 1 dan 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian silica meningkatkan ketegaran dan kehijauan daun. Urea berpengaruh terhadap tinggi tanaman, tinggi batang, kehijauan daun, dan jumlah anakan. Pemberian silica dan urea tidak ber[engaruh terhadap diameter batang tanaman tebu. Silica tidak berp[engaruh terhadap pertumbuhan, tetapi berpengaruh terhadap sudut daun. Tanggapan tanaman terhadap peningkatan dosis urea tidak dipengaruhi oleh silica. Dosis urea hingga 400 kg/ha meningkatkan pertumbuhan tanaman tebu.

PENGARUH TARAF DOSIS SILIKA PADA PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN TEBU (Saccharum 0fficinarum L.)

Oleh

Fitryadi1, Indarto2, dan Sarno2.
ABSTRAK

Pertumbuhan awal merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Pertumbuhan awal tanaman tebu meliputi tahap perkecambahan dan pembentukan anakan. Kemampuan pembentukan anakan pada tanaman tebu akan menentukan banyaknya populasi batang yang akan dipanen. Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan awal tanaman tebu salah satunya dengan pemberian pupuk yang berimbang serta penggunaan unsur hara esensial seperti silika pada tanaman tebu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian silika terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu, dan menentukan dosis silika yang menghasilkan pertumbuhan yang maksimum pada tanaman tebu.

Penelitian dilaksanakan di kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2006 sampai Maret 2007. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, dan bila asumsi homogenitas terpenuhi, data disidik ragam. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan polinomial ortogonal pada taraf 0,01 dan 0,05.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Pemberian silika dapat meningkatkan tinggi tanaman dan menurunkan sudut daun secara linier tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter batang, jumlah anakan, dan tingkat kehijauan daun, (2) Pemberian silika dengan dosis 224 kg/ha belum merupakan dosis maksimum yang berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan sudut daun tanaman tebu.

PERANCANGAN LANSEKAP TAMAN KUPU-KUPU GITA PERSADA DI DESA TANJUNG MANIS, GUNUNG BETUNG, LAMPUNG
Oleh

Dewi Septirita1, Kushendarto2, dan Rugayah2
ABSTRAK

Tahura Wan Abdul Rachman dibentuk berdasarkan SK Menhut No. 408/kpts-II/1993 dengan luas 22,.244 Ha.Taman Kupu-kupu Gita Persada (TKGP) merupakan salah satu tempat konservasi dan wisata yang ada di Tahura.

Lokasi penelitian terletak di TKGP di Desa Tanjung Manis, Gunung Betung, Lampung dan dilaksanakan pada bulan Juni 2006 sampai dengan April 2007.

Dalam proses perancangan lansekap TKGP di kawasan Tahura Gunung Betung ini menggunakan metode Gold (1980) yang terdiri dari beberapa tahapan perencanaan yang meliputi kegiatan: inventarisasi, analisis, sintesis, konsep, dan desain, dengan hasil akhir berupa rancangan lansekap TKGP.

Konsep yang diterapkan pada peracangan TKGP adalah mengembangkan kawasan dengan berbagai fasilitas dimaksud untuk mendukung aktivitas pengunjung dan pengelola dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan sebagai daerah konservasi serangga kupu-kupu.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat perancangan lansekap TKGP di kawasan Tahura Gunung Betung, tanpa menghilangkan unsur-unsur penting kawasan taman yang berupa hutan lindung dan tempat konservasi serangga kupu-kupu dengan hasil akhir berupa gambar disain.

PERENCANAAN LANSEKAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOTA KALIANDA KABUPATEN
LAMPUNG SELATAN

Oleh

Andi Taufik1

ABSTRAK

Aktifitas rumah sakit dengan keanekaragaman kegiatan membutuhkan dukungan dari berbagai fasilitas pelayanan, antara lain dengan kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) dalam wujud suatu taman. RTH memiliki manfaat yang besar bagi pasien dan pengunjung untuk berelaksasi dan mendapatkan udara segar. Untuk menciptakan keserasian dan kesatuan harmonis dalam pengembangan struktur fisik bangunan dan ruang luar (outdor), diperlukan perencanaan dan pengelolaan lansekap rumah sakit.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2006. Lokasi penelitian terletak di rumah sakit umum daerah (RSUD) kalianda, Jalan Lettu. Rohani, Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan lansekap yang menyangkut penataan pola ruang luar bangunan rumah sakit dan menciptakan keserasian lingkungan secara fungsional dan estetika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Gold (1980) yang terdiri dari tahap inventarisasi, analisis dan sintesis, konsep dan desain.

Hasil perencanaan menunjukkan, penempatan elemen RTH disesuaikan dengan fungsi pola hubungan antar ruang melalui konteks penganalisis pola hubungan ruang terbangun dan ruang luar terhadap aspek biofisik kawasan. Perencanaan lansekap dibagi beberapa zona, yaitu : Zona pelayanan dan pemanfaatan umum, Zona penyangga, Zona estetis, dan entrance. Konsep dasar dari rencana lansekap kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kalianda adalah menciptakan lingkungan yang berdaya guna dalam menunjang keberadaan struktur fisik dan memberikan daya tari (estetika) dengan pola struktur alami untuk menciptakan suatu nuansa organik pada kawasan pusat kesehatan kalianda.

Perencaan ruang disesuaikan dengan kondisi awal RSUD yang telah terbangun dengan menyediakan beberapa ruang atau fasilitas pendukung guna menunjang segenap aktifitas di dalamnya. Rencana sirkulasi meliputi sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki berbentuk menyebar dan direncanakan untuk menghubungkan semua unit zona secara efisien. Pemilihan jenis vegetasi pada rencana tata hijau berdasarkan fungsi tanaman dan fungsi ruang dari tapak, yang terdiri dari tata hijau visual control, barriers, climate control dan aesthelic volves. Perencanaan utilitas berupa penempatan elemen dan fasilitas di tapak dalam keterpaduan fungsi dan selaras dengan karakteristik tapak dan lingkungan alamnya.

RESPONS PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN MELATI AIR (Echinodorus palaefolius) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPK YANG DITAMBAH
DENGAN UREA
Oleh

Wirahadikusumah1, Rugayah2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Untuk memperoleh tanaman melati air yang berkualitas dapat diterapkan dengan banyak cara salah satunya adalah penggunaan pupuk dengan dosis yang tepat. Pada penelitian ini akan dicoba penggunaan pupuk NPK yang ditambah dengan Urea.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis pupuk NPK dengan menambahkan Urea sebanyak 3 g/tanaman yang akan menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman melati air yang terbaik.

Rancangan perlakuan disusun secara tunggal terstruktur regresi. Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dan diulang sebanyak 3 kali. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet, aditivitas data diuji dengan uji Tukey, dan analisis data dilakukan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk NPK sampai dosis 8 g yang ditambah dengan Urea sebanyak 3 g masih meningkatkan penambahan tinggi tanaman, jumlah daun total, luas daun terlebar, panjang tangkai daun, diameter tangkai daun, total anakan, dan meningkatkan jumlah tangkai bunga per tanaman. Pemberian pupuk NPK dengan dosis 3—4 g/tanaman yang ditambah dengan Urea sebesar 3 g/tanaman menghasilkan waktu muncul kuncup bunga tercepat (38,33 hari) dan mempercepat periode pembungaan (26,7 hari), sedangkan pemberian pupuk NPK sampai dosis 6—7 g/tanaman yang ditambah dengan Urea sebesar 3 g/tanaman menghasilkan periode pembentukan daun tercepat (4,3 hari).

RESPONS TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN KOMBINASI PUPUK ANORGANIK DENGAN ATAU TANPA PUPUK KANDANG SAPI
Oleh

Ati Mia Rohayati1, Darwin H. Pangaribuan2, dan Agus Karyanto2
ABSTRAK

Dalam upaya menciptakan suatu produk yang aman dan berkualitas tinggi bagi masyarakat maupun lingkungan, konsep pertanian organik menjadi salah satu alternatif pembudidayaan tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik cair Biomax Super dan kombinasi pupuk anorganik (Urea, TSP, SP36 dan KCl) dengan atau tanpa pupuk kandang sapi, mengetahui kombinasi perlakuan yang dapat menghasilkan tanggapan tanaman terbaik, serta interaksi antara penggunaan pupuk organik cair Biomax Super dan kombinasi pupuk anorganik (Urea, TSP, SP36 dan KCl) dengan atau tanpa pupuk kandang sapi pada produksi tanaman kentang.

Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Induk Hortikultura Sekincau Lampung Barat, mulai awal November 2006 sampai April 2007. Perlakuan diterapkan dengan menggunakan rancangan petak terbagi dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RPT-RKTS). Petak utama adalah status POC (B), yaitu tanpa POC (B0­) dan POC (B1). Anak petak adalah kombinasi pupuk (G), yaitu tanpa perlakuan (G0), 300 kg urea/ha + (100 kg TSP/ha + 100 kg SP36) + 200 kg KCl/ha (G1), 50 kg urea/ha + (50 kg TSP/ha + 50 kg SP36) + 100 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang sapi (G2), 75 kg urea/ha + (25 kg TSP/ha + 25 kg SP36) + 50 kg KCl/ha + 10 ton pupuk kandang sapi (G3) dan 20 ton pupuk kandang sapi (G4). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan diuji dengan uji Tukey. Data diolah dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Semua pengujian dilakukan pada taraf 5%.

Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) pemberian pupuk organik cair Biomax Super tidak meningkatkan hasil tanaman kentang, (2) pemberian kombinasi pupuk anorganik dengan atau tanpa pupuk kandang sapi mampu meningkatkan tinggi tanaman dan bobot umbi per tanaman, dan (3) tidak ada pengaruh interaksi antara pupuk organik cair Biomax dengan kombinasi pupuk anorganik dengan atau tanpa pupuk kandang sapi dalam meningkatkan produksi tanaman kentang.

RESPONS TIGA VARIETAS GLADIOL (Gladiolus hybridus) TERHADAP DUA JENIS PUPUK
Oleh

Sundari Ekawanti1, Darwin Pangaribuan2, dan Agus Karyanto2
ABSTRAK

Gladiol (Gladiolus hybridus) merupakan salah satu jenis bunga potong yang berpotensi untuk dibudidayakan secara intensif berpola komersial.

Tersedianya varietas unggul yang berkualitas adalah salah satu faktor pendukung dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman gladiol. Untuk meningkatkan produksi tanaman gladiol dibutuhkan unsur hara yang cukup, terutama N, P, dan K yang diberikan dengan cara pemupukan.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui varietas gladiol yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi terbaik, (2) mengetahui jenis pupuk anorganik yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi gladiol terbaik, (3) mengetahui interaksi jenis pupuk pada masing-masing varietas terhadap pertumbuhan dan produksi gladiol.

Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Perlakuan disusun dalam faktorial (3 x 2) dengan faktor pertama varietas gladiol, yaitu varietas ‘Ungu’ (V1), ‘Clara’ (V2), dan varietas ‘Kaifa’ (V3). Faktor kedua adalah pupuk NPK 15:15:15 (P1) dan NPK campuran (P2). Setiap kombinasi perlakuan diulang lima kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 4 subang gladiol. Homogenitas ragam antarperlakuan di uji dengan menggunakan uji Bartlett dan aditivitas data di uji dengan menggunakan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Varietas ‘Kaifa’ menunjukkan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan generatif, yaitu dalam hal mempengaruhi jumlah floret, diameter floret, panjang tangkai, diameter subang, dan bobot subang. Sedangkan untuk pertumbuhan vegetatif, varietas ‘Ungu’ menunjukkan hasil yang lebih baik, yaitu pada variabel tinggi tanaman. (2) Jenis pupuk NPK (15:15:15) dan NPK campuran (Urea, SP-36, dan KCl) tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap semua variabel pangamatan. (3) tidak terjadi interaksi antara jenis pupuk dan varietas terhadap pertumbuhan dan produksi gladiol.

STUDI FENOLOGI DARI SAAT ANTESIS SAMPAI MATANG PANEN PADA TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas. L)
Oleh

Eko Suparyanto1

ABSTRAK

Jarak pagar (Jatropha curcas) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai sumber bahan bakar. Tanaman jarak tergolong tanaman mudah tumbuh, tetapi ada permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis tanaman jarak saat ini yaitu belum tersedianya varietas atau klon unggul, terbatasnya ketersediaan benih bermutu, dan teknik budidaya yang belum memadai.

Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan benih jarak pagar (Jatropha curcas L.) dari saat antesis sampai panen yang bermanfaat sebagai pengetahuan mengenai perkembangan benih dari saat antesis sampai panen yang dapat dijadikan landasan untuk memproduksi benih yang bermutu tinggi.

Penelitian dilakukan di kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Lampung dan Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Lampung mulai Maret sampai Juni 2007. Percobaan yang dilakukan merupakan suatu bentuk observasi terhadap perkembangan buah dan biji pada periode sejak antesis sampai panen. Pemanenan buah dilakukan pada 30, 37, 44, 51 dan 58 hari setelah antesis, pada setiap waktu pemanenan diukur berat buah basah, berat buah kering, diameter buah, berat biji basah, berat biji kering dan kecepatan berkecambah biji. Perbedaan nilai vareabel antarperlakuan diketahui dengan melihat nilai galat baku nilai tengah (standard error of the mean) dari data setiap perlakuan.

Dari 30 hari setelah antesis sampai 51 hari setelah antesis bobot basah buah dan diameter relatif konstan, sementara itu bobot kering buah meningkat dan mencapai maksimum pada 44 hari setelah antesis. Kadar air biji menurun dari 30 hari setelah antesis sampai 58 hari setelah antesis. Pada 30 hari setelah antesis benih tidak mampu berkecambah dan berkecambah pada umur 37 hari setelah antesis untuk mengetahui perbedaan kecepatan berkecambah yang lebih teliti sampai 51 hari setelah antesis.

==========================================================================

1. Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

@copyright : unila
@reposted by : ahlifikir

Posted in Uncategorized | Leave a comment