KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG KARAGENAN DAN RUMPUT LAUT

STUDI KINETIKA PEMBENTUKAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEMA SPINOSUM

STUDY OF CARRAGEENAN FORMING KINETICS FROM EUCHEMA SPINOSUM SEAWEED

Created by :
Wuriningtyas, Sarita;Chandra, Kartika ( )

Subject: Chondrus crispus
Alt. Subject : Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: iota karaginan
kinetika reaksi
larutan alkali
spektrofotometri FTIR

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah dengan menggunakan air panas (hot water) atau larutan alkali pada temperatur tinggi. Karaginan terdapat dalam dinding sel rumput laut atau matriks intraselulernya dan karaginan merupakan bagian penyusun yang besar dari berat kering rumput laut dibandingkan dengan komponen yang lain. Kegunaan karaginan pada industri makanan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, aditif atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, susu, pudding, susu instan, makanan kaleng dan roti. Untuk industri selain makanan antara lain pada industri farmasi sebagai suspensi, emulsi, stabilizer. Di industri-industri lain misalnya pada industri keramik, cat dan lain-lain. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dari hasil analisa identifikasi karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri FTIR menunjukkan tipe iota karaginan. Pengaruh suhu pada rate pembentukan karaginan adalah semakin tinggi suhu reaksi, semakin besar pula laju reaksi pembentukan karaginan. Untuk konsentrasi Ca(OH)2 4% harga k meningkat dari 107,3248 min-1 mol/L-1,3 hingga 123,6232 min-1 mol/L-1,3. Untuk konsentrasi Ca(OH)2 8% harga k meningkat dari 115,3188 min-1 mol/L-1,3 hingga 123,0269 min-1 mol/L-1,3. Sedangkan untuk Ca(OH)2 10% harga k meningkat dari 110,4587 min-1 mol/L-1,3 hingga 137,6575 min-1 mol/L-1,3. Sedangkan pengaruh konsentrasi pada rate pembentukan karaginan adalah semakin tinggi konsentrasi Ca(OH)2, semakin besar laju reaksi pembentukan karaginan untuk suhu 95°C yaitu dari 107,3248 min-1 mol/L-1,3 hingga 115,3188 min-1 mol/L-1,3.Sedangkan pada suhu 85 dan 90° C, laju reaksi meningkat untuk konsentrasi 4 dan 8%, sedangkan untuk konsentrasi lebih tinggi laju reaksi pembentukan karaginan menurun.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed gum obtained by hot water or alkali extraction process at high temperature of red seaweed. Carrageenan is the interstitial matrix between the cellulosic fibers of the plant tissue and a major component of dry seaweed weight. Carrageenan has been widely used in food as a stabilizer, thickener, gelling agent, additive and additional component in chocolate, milk, pudding, instant milk, canned food and bread making. For other industry such as pharmacy, carrageenan used as an emulsifier and stabilizer. And also been widely used in paint, ceramics industry, etc. Carrageenan is reacted with excess Ca(OH)2 solution to improved its gelling ability. Using spectrophotometry FTIR analysis method to identify iota carrageenan concentration formed from the reaction, the rate constant and reaction order are determined. Conducting reaction at higher temperature will increase reaction rate constant. For Ca(OH)2 4% concentration, the value of reaction rate constant rise from 107,3248 min-1 mol/L-1,3 to 123,6232 min- 1 mol/L-1,3. For Ca(OH)2 8% by weight the k value rise from 115,3188 min-1 mol/L-1,3 to 123,0269 min-1 mol/L-1,3. And for Ca(OH)2 10% by weight the k value rises from 110,4587 min-1 mol/L-1,3 to 137,6575 min-1 mol/L-1,3. The effect of Ca(OH)2 concentration is proportional to the reaction rate. In 95°C variable, reaction rate constant is proportional to the Ca(OH)2 concentration from 107,3248 min-1 mol/L-1,3 to 115,3188 min-1 mol/L-1,3. But in 85 and 90°C the reaction rate constant rise until 8%, and in 10% decrease gradually because extreme alkali concentration can lead to carrageenan depolymerization. The best operating condition due to the high conversion

Contributor :

1. Dr. Ir. Dra. Danawati HP, SE, MBA, MPd

****************************************************************

PEMBUATAN KARAGINAN DARI GANGGANG MERAH (RHODOPHYCEAE)

CARRAGEENAN FROM RED ALGAE (RHODOPHYCEAE)

Created by :
INDRANILA, AMY ; AGUSTINA, DIAN ( )

Subject: Ganggang merah
Alt. Subject : Red algae
Algae
Keyword: Karaginan
Ekstraksi rumput laut
Hidrocolloid

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang bersifat hidrocolloid, diperoleh melalui proses ekstraksi ganggang merah (rhodophyceae) jenis Eucheuma cottonii dengan larutan alkali panas. Karaginan diendapkan melalui metode KCl dan Metode Alkohol. Umumnya, karaginan digunakan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. Dalam penelitian ini dipilih metode pengendapan dengan alkohol. Adapun prosedur penelitiannya meliputi pencucian ganggang dengan air garam, lalu pengekstrakan ganggang dalam suasana basa menggunakann larutan alkali (NaOH) dalam konsentrasi NaOH dan waktu estraksi yang divariabelkan pada suhu konstan 90oC. Filtrat tersebut dicampur dengan isopropyl alcohol sebanyak 2 kali volume filtratdiaduk sampai semua karaginan terendapkan menjadi gumpalan serat, dikeringkan menjadi lembaran. Selanjutnya menganalisa hasil karaginan seperti berat, identifikasi, tipe karaginan, kadar air dan viskositas.. Dari penelitian diketahui bahwa jenisnya adalah Kappa Carrageenan yang meningkat secara eksponen seiring bertambahnya konsentrasi NaO. Namun, ada kondisi tertentu, hasil yang didapat menurun karena penambahan NaOH yang berlebih dan waktu ekstraksi yang terlalu lama. Kondisi terbaik padapenelitian ini adalah konsentrasi NaOH 8% selama 1,5 jam, menghasilkan Kappa karaginan sebesar 13,6248 gram.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed’s sap with hydrocolloid properties, obtained by seaweed extraction with hot alkaline solution of certain species from the class red algae (Rhodophyceae) that is Eucheuma cottonii. Carrageenan is precipitated by KCl and Alcohol Method. Commonly, Carrageenan has function as stabilizer, thickener, gelling agent and additive. Precipitation Carrageenan with Alcohol method has been selected. The procedures consist of washing algae with salt water, then extract it in base condition using vary concentration of alkaline solution and time extraction at constant temperature, 90oC. Filtrate is added by Isopropyl Alcohol with its volume twice more than filtrate’s volume, stirred until all the Carrageenan is precipitated as a fibrous coagulum then dry it into leaf shape. Next step is analyzing yield Carrageenan by weight, identification, type of Carrageenan, moisture content and its viscosity. From the experiment, the type is Kappa Carrageenan which is increases nearly exponentially with NaOH concentration. But, in certain time the yield is decrease because NaOH is exceed and very long term of extraction time. The best condition in this research are using concentration NaOH 8 % during 1,5 hour, yielding 13,6248 grams of Kappa Carrageenan.

Contributor :

1. Prof.Dr.Ir. H.M.Rachimoellah, Dipl.EST.

****************************************************************

STUDI KINETIKA PEMBENTUKAN KARAGINAN DARI EUCHEUMA COTTONII

STUDY OF CARRAGEENAN FORMING KINETICS FROM EUCHEMA cottonii

Created by :
Hariyani, Vidya Irma;Astelina, Sarah ( )

Subject: Condrus Crispus
Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: Karaginan
Ekstraksi Rumput Laut
Hidrokoloid

[ Description ]

Karaginan adalah senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa kopolimer. Karaginan juga merupakan getah rumput laut yang diperoleh dari hasil ekstraksi rumput laut merah (Rhodophyceace) jenis Eucheuma cottonii dengan menggunakan air panas atau larutan alkali pada temperatur tinggi. Dalam dunia industri dan perdagangan, karaginan memberikan banyak manfaat antara lain dalam industri farmasi dan makanan sebagai stabilizer, thickhener, gelling agent, additive, dan suspensi. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan preparasi dilanjutkan dengan proses ekstraksi. Kemudian melakukan analisa konsentrasi karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri. Variabel pada penelitian ini adalah temperatur, konsentrasi KOH sebagai reaktan, dan pengambilan sampel dari hasil ekstraksi tiap 10 menit selama 30 menit. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Analisa Identifikasi Karaginan dengan menggunakan Spektrofotometri FTIR menunjukkan jenisnya adalah Kappa Karaginan, pengaruh suhu ekstraksi terhadap rate pembentukan karaginan adalah semakin besar suhu rate yang dihasilkan dari pembentukan karaginan semakin meningkat. Berdasarkan persamaan reaksi rate adalah rp = k’CAn diperoleh harga nrata – rata = 1, 0784 dan harga k untuk masing – masing pada saat konsentrasi KOH 6 %, yaitu : a. o C k85 = 0.382691 menit-1 b. o C k90 = 0.488482 menit-1 c. o C k95 = 3.333103 menit-1

Alt. Description

Carrageenan is a hydrocolloid compound consist of potassium, natrium, magnesium and potassium sulfat ester with 3,6 anhydrogalactose copolymer. Carrageenan is a seaweed gum obtained by Eucheuma cottonii seaweed extraction with hot water or alkali solution in high temperature. In trading industry, carrageenan give many benefit such as in pharmacy and food industry as a stabilizer, thickener, gelling agent, additive and suspension maker. This experiment begin with preparation procedures then followed by extraction procedures. And after that, analyzing reaction result sample weight with Thermo Spectronic. The variable are Reaction temperature, KOH concentration as Reactan. And sampling the reaction product every 10 minutes for 30 minutes. Carrageenan identification analysis using Spectrofotometry FTIR showed that the type of carrageenan produced from this experiment is Kappa Carrageenan. The effect of KOH concentration is proportional to the rate of Carrageenan forming. In addition, The Reaction Temperature effect to the rate of carrageenan forming is also proportional. Based on reaction equation : rp = k’ CA n obtained the average value of n = 1,0784 and the reaction rate constant for KOH concentration 6 % are as follow : a. k 85 o C = 0,382691 min -1 b. k 90 o C = 0,488482 min -1 c. k 95 o C = 3,333103 min -1

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Achmad Roesyadi, DEA

****************************************************************

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEUMA SPINOSUM HASIL BUDIDAYA DAERAH SUMENEP MADURA

Created by :
Sulistyaningsih, Ririn ( )

Subject: “Algae Choadrus Crispus”
Alt. Subject : “Algae Choadrus Crispus”
Keyword: rumput laut penghasil karaginan

[ Description ]

Eucheuma spinosum adalah suatu jenis rumput laut penghasil karaginan. Karaginan banyak digunakan sebagai stabilitator, emulsifier dalam bidang industri pangan, kosmetik dan obat-obatan. Kualitas karaginan sangat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Metode ekstraksi meliputi pH 8; 8,5; 9; 9,5; 10 dengan garam NaCl, KCl, dan CaCl2. Produk yang diperoleh dari ekstraksi rumput laut Eucheuma spinosum hasil budidaya daerah Sumenep berupa iota karaginan dengan parameter pengujian meliputi rendemen, kadar air, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sulfat dan viskositas. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa iota karaginan memiliki rendemen terendah 17,2564% dan tertinggi 45,4955%, kadar air terendah 5,4312% tertinggi 8,2213%, kadar abu terendah 21,4134% tertinggi 29,5705%, kadar abu tak larut asam terendah 0,3772% tertinggi 0,9170%, kadar sulfat terendah 16,3251% tertinggi 25,4210% dan viskositas terendah 4,1015 cps tertinggi 6,2854 cps. Sifat ini telah memenuhi standard mutu karaginan menurut FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemical Codex) dan EEC (European Economic Community). Diperoleh kesimpulan bahwa kenaikan pH dan jenis garam memberikan pengaruh pada kenaikan rendemen, kadar abu, kadar abu tak larut asam, kadar sulfat dan viskositas.

Alt. Description

Eucheuma spinosum is one species of seaweed which produces carrageenan. Carrageenan uses as stabilizer and emulsifier in food processing, cosmetic and drug industry. The quality of carrageenan depend on extraction methods. In extraction process used pH 8; 8,5; 9; 9,5; 10 with salt NaCl, KCl, and CaCl2. Iota-carrageenan is the product of extracted Eucheuma spinosum with conversion rate, water content, ash content, unsaturated acid ash content, sulphat content, and viscosity as a parameters. The lowest conversion rate was 17,2564% and the highest 45,4955%, the lowest water content 5,4312% and the highest 8,2213%, the lowest ash content 21,4134% and the highest 29,5705%, the lowest unsaturated acid ash content 0,3772% and the highest 0,9170%, The lowest sulphat content 16,3251% and the highest 25,4210%, the lowest viscosity 4,1015 cps and the highest 6,2854 cps. This characters as per FAO (Food Agriculture Organization), FCC (Food Chemical Codex) and EEC (European Economic Community) carrageenan quality standard. The increase of pH and salt type influence the increament of conversion rate, water ash content, unsaturated acid ash content, sulphat content, and viscosity.

Contributor :

1. Dra. Sukesi, M.Si. Dra. Dian Saptarini, M.Sc.

****************************************************************

EKSTRAKSI KARAGINAN DARI GANGGANG MERAH (RHODOPHYCEAE) DENGAN PELARUT AIR DAN KALIUM KLORIDA (KCL)

THE EXTRACTION OF CARRAGEENAN FROM RED ALGAE (RHODOPHYCEAE) WITH WATER AND KALIUM CHLORIDE (KCl) AS SOLVENT

Created by :
Chayati, Nurul;Dian Purwitasari D ( )

Subject: Ganggang laut
Pemisahan
Keyword: Karaginan
Ekstraksi rumput laut
hidrokoloid
KOH
KCl
Isopropyl Alkohol

[ Description ]

Karaginan adalah getah rumput laut yang bersifat hidrokoloid, diperoleh melalui hasil ekstraksi ganggang merah (Rhodophyceae) jenis Eucheuma cottonii dengan menggunakan air panas atau larutan alkali panas. Umumnya, karaginan digunakan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. Prosedur pengolahannya meliputi pencucian Eucheuma cottoni dengan air, lalu memberi perlakuan alkali dengan memanaskan Eucheuma cottoni ke dalam larutan KOH 6 % dengan volume yang divariabelkan pada suhu 80 – 85oC. Dalam penelitian ini dibandingkan antara 2 metode yaitu ekstraksi dengan pelarut KCl dan pelarut air. Untuk metode ekstraksi dengan pelarut KCl, Eucheuma cottoni yang sudah mendapat perlakuan alkali diekstraksi dengan KCl 0.1 % pada suhu 90-95 oC selama waktu yang divariabelkan dengan volume 50 kali volume rumput laut kering, menyaring hasil ekstraksi dengan kain kasa, mengeringkan filtrat dalam oven selama 24 jam dan menumbuknya hingga menjadi bubuk. Untuk metode ekstraksi dengan pelarut air, Eucheuma cottoni yang sudah mendapat perlakuan alkali diekstraksi dengan air pada suhu 90-100 oC selama waktu yang divariabelkan dengan perbandingan Eucheuma cottoni dan air 1: 15, menyaring hasil ekstraksi dengan kain kasa, menambahkan isopropil alkohol ke dalam filtrat dengan perbandingan filtrat dan isopropil alkohol 1: 2.5 dan terus mengaduknya hingga filtrat membentuk serat, mengeringkan serat dalam oven selama 24 jam dan menumbuknya hingga menjadi bubuk. Selanjutnya menganalisa karaginan seperti viskositas, identifikasi, jenis karaginan, berat, kadar air dan kadar abu.. Dari hasil analisal karaginan menunjukkan bahwa jenisnya adalah Kappa Karaginan dengan yield rata-rata 60,24 % . Volume KOH 4 kali menghasilkan yield yang lebih besar dibandingkan dengan volume KOH 3 kali. Ekstraksi dengan pelarut KCl menghasilkan yield yang lebih besar dibandingkan pelarut air. Sedangkan waktu optimum untuk mengekstrak karaginan dari Eucheuma cottonii adalah 4 jam dengan suhu 90 – 100 oC untuk pelarut air dan 90-95 oC untuk pelarut KCl.

Alt. Description

Carrageenan is a seaweed’s sap with hydrocolloid properties, obtained by seaweed extraction with hot water or hot alkaline of certain species from the class red algae (Rhodophyceae) that is Eucheuma cottonii. Commonly, carrageenan is used as stabilizer, thickener, gelling agent dan additive. The procedures consist of washing Eucheuma cottonii with water, then heated with an alkaline solution in base condition using vary volume of KOH 6 % at temperature 80 – 85oC. In this experiment is used 2 method of extraction, extraction with KCl solvent and water solvent. In the KCl solvent, Eucheuma cottonii is extracted by KCl 0.1 % solution in base condition using vary time of extraction with volume of solvent 50 times more than dried seaweed’s volume at temperature 90 – 95oC, the seaweed that does not dissolve is removed by filtration, then the filtrate is dried in oven for 24 hours and milled to an powder. Whereas in the water solvent, Eucheuma cottonii is extracted by water with ratio of volume 1 : 15 in base condition using vary time of extraction at temperature 90 – 100oC, the seaweed that does not dissolve is removed by filtration, then Isopropyl Alcohol is added to the filtrate with ratio 1 : 2.5 and mix it until fibrous coaglum formed, dried it into oven for 24 hours and milled to an powder. Next step is analizing yield carrageenan by viscosity, identification, type of carrageenan, weight, moisture content and total ash. From the experiment, the type is Kappa Carrageenanan and the yielding of carrageenanon an average is 60.24 %. The alkali’s process using KOH 6% which volume is 4 times of dry Eucheuma cottoni, give better yielding than volume is 3 times. The extraction with KCl solvent give yielding better than the extraction with water. The best condition in this experiment is obtained by using extraction for 4 hours with water as a solvent at temperature 90 – 100oC and KCl as a solvent at temperature 90 – 95oC.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. H. M. Rachimoellah,Dipl.EST

****************************************************************

ETANOL DARI MOLASES OLEH ZYMOMONAS MOBILIS TERMUTASI YANG DIIMMOBILISASI PADA K-KARAGINAN PADA REAKTOR KONTINYU

ETHANOL FROM MOLASSES USING ZYMOMONAS MOBILIS MUTANT IMMOBILIZED in K-CARRAGEENAN on CONTINUOUS REACTOR

Created by :
Iksanti, Laili ( )

Subject: Alcohol
Alt. Subject : Alkohol
Keyword: Etanol
molases
konsentrasi K-karaginan
mixed flow reactor
Zymomonas mobilis A3
immobilisasi sel

[ Description ]

Pada proses produksi etanol ini menggunakan bahan baku molases dan mikroorganisme Zymomonas mobilis A3 yang termutasi oleh hydroxylamine, dengan proses fermentasi dalam mixed flow reactor. Percobaan dimulai dengan pretreatment molases, pengembangan kultur, pembuatan starter, serta pembuatan immobilisasi sel K-karaginan. Teknik immobilisasi merupakan teknik untuk menjebak sel supaya sel tetap berada dalam reaktor kontinyu sehingga mampu memproduksi etanol dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi glukosa dan kerapatan κ-Karaginan dalam immobilisasi sel terhadap kinerja produksi etanol pada Mixed Flow Reactor guna mendapatkan kadar dan produktivitas etanol yang maksimal. Immobilisasi sel K-karaginan berbentuk bead dengan ukuran diameter 2 mm, berat yang digunakan 270 g. Setelah sel immobilisasi tersedia maka dilakukan fermentasi dalam reaktor kontinyu, dengan mengalirkan molases menggunakan pompa peristaltik kondisi flow rate 180 mL/jam, dilution rate 0,18 jam-1. Pengambilan sampel dilakukan selama proses fermentasi pada interval waktu tertentu untuk menganalisa jumlah sel, kadar gula reduksi dan kadar etanol. Uji kadar gula reduksi dilakukan dengan metode DNS, kadar etanol dianalisa dengan metode GC dan analisa jumlah sel diuji dengan metode counting chamber. Dari hasil penelitian diperoleh kadar etanol dan produktivitas etanol tertinggi pada konsentrasi glukosa 149,35 g/L dan kerapatan κ-karaginan 2 % masing-masing sebesar 47,249 g/L, 8,505 g.l-1.jam-1. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsentrasi glukosa dan kerapatan κ-karaginan berpengaruh terhadap konsentrasi dan produktivitas etanol.

Alt. Description

The production process of ethanol uses molasses as raw material and Z.mobilis mutanted by hydroxylamine as bacteria in mixed flow reactor. The experiment was started by molasses pretreatment, making of starter, culture growth, and making of immobilized cells using κ-carrageenan as a supporting matrices. Immobilization technique is a method to retain cell stay inside the reactor, to get clean effluent stream and to optimize ethanol production. The purpose of this experiment were to study of the influence of glucose concentration and κ-carrageenan density in ethanol production process using mixed flow reactor in order to reach an optimal concentration and ethanol productivity. Immobilized cells was formed 2 mm in diameter of sphere particles in each particle. After 270 grams of immobilized cells has been prepared, then performed continuous fermentation in mixed flow reactor, flowing molasses using peristaltic pump about 180 mL.h-1, dilution rate about 0.18 h-1. The sample was taken through the fermentation process for a current interval time to analyze cell account, total sugar reduction content and ethanol concentration. Determining total sugar reduction content using DNS method, analyzing bioethanol concentration using GC method and determining cell account using counting chamber methods. The result of study shows the ethanol concentration and productivity are optimal at glucose concentration 149,35 g/L and κ-carrageenan density 2% , i.e. 47,249 g/L, 8,505 g.l-1.jam-1respectively. Based on the result of study we can conclude that glucose concentration and κ-carrageenan density have an influence on concentration and ethanol productivity.

Contributor :

1. Dr.Ir.Tontowi Ismail, MS.

****************************************************************

PENGARUH KONSENTRASI KARAGINAN TERHADAP KUALITAS YOGHURT, SOYGHURT, DAN PEAGHURT DENGAN MENGGUNAKAN KULTUR BAKTERI LACTOBACILLUS BULGARICUS DAN STREPTOCOCCUS THERMOPHILLUS

Created by :
Yuanita, Dina ( )

Subject: Kultur Bakteri
Alt. Subject : YOGHURT
Keyword: kualitas
yoghurt
soyghurt
peaghurt
L. bulgaricus
S. thermophillus

[ Description ]

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan karaginan dengan konsentrasi tertentu terhadap kualitas yoghurt, soyghurt dan peaghurt melalui analisa-analisa yaitu pH, kadar protein, kadar lemak, total asam serta uji organoleptik. Prosedur penelitian meliputi tahap pembuatan bahan baku, tahap pembuatan starter, tahap pembuatan produk dan analisa produk. Pada tahap pembuatan susu kedelai dan susu kacang tanah meliputi sortasi kedelai atau kacang tanah, penimbangan, perendaman dalam NaHCO3 0,5%, penirisan dan pencucian ulang, blanching pada 1000C selama 10 menit, penggilingan dengan blender sambil ditambahkan air panas kemudian disaring sehingga diperoleh susu kacang tanah atau kedelai, filtrat yang diperoleh ditambah Na2HPO4 sebanyak 1,2% kemudian dipasteurisasi. Tahap pembuatan starter meliputi inokulasi bakteri L. bulgaricus dan S. thermophillus dari MRS agar pada masing-masing media MRS broth steril dalam erlenmeyer, inkubasi pada suhu 370C, inokulasi masing-masing bakteri dengan perbandingan konsentrasi 1:1 pada media susu dalam erlenmeyer steril. Inkubasi media kultur pada suhu 430C pada shaker hingga kerapatan bakteri asam laktat mencapai 107/ml. Tahap pembuatan yoghurt meliputi penambahan susu skim 5%, gula pasir 5%, karaginan 0,4%; 0,5%; 0,6% pada susu, pemanasan selama 15 menit, pendinginan pada suhu 430C dan penambahan starter 5%. Inkubasi dilakukan pada suhu 430C selama 4 jam pada inkubator. Perlakuan yang menghasilkan produk terbaik adalah perlakuan pada soyghurt dengan karaginan 0,6%. Dengan karekteristik kadar protein sebesar 4,05 %, kadar lemak sebesar 0,8 %, total asam 1,8 % ,kadar abu 0,96 % dan lama kestabilan 32 hari.

Alt. Description

The aim of this research is to observe the effect of various carrageenan cocentration on quality of yoghurt, soyghurt and peaghurt. The research is conducted 4 steps, i’e: 1). Soy and peamilk production, 2). Starter production 3).yoghurt, soyghurt and peaghurt production, 4). Chemical ( protein, fat, ash, and total acid content), stability and organoleptic analysis. Data obtained are treated by analysis of variance and followed by Wilcoxon test (especially for organoleptic test). Making soymilk and peamilk are contain soaking in NaHCO3 0,5% for 8 hours, draining and rewashing, blanching at 100 C for 10 minutes, blending with adding hot water (1:6), filtration, adding Na2HPO4 1,2% to soy(pea)milk. Making starter are contain inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus to sterilized MRS-Broth, incubating in incubator shaker at 370C 125 rpm, inoculating L. bulgaricus dan S. thermophillus (1:1) in milk, , incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm until the amount of bacteria 107/ml. Making yoghurt are contain adding 5% skim milk powder, sugar cane, and 0,4; 0,5; 0,6% carrageenan. Then heating for 15 minutes, cooling at 430C, adding 5% starter, incubating in incubator shaker at 430C 125 rpm for 4 hours. Finally, place in refrigerator at 50 Reseach result indicate treatment that producing the best product are treatment at soyghurt with 0,6% carrageenan. Characteristic product i.e : 0,405 protein content, 0,8 % fatty content, 1,8 % total acid, 0,96% ash content and stability 32 days.

Contributor :

1. Ir. NUNIEK HENDIANIE

source: digilib.its.com

About ahmadi muslim

I NEED YOUR TALLENT AND YOUR ACTIVE
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s