Kumpulan Abstrak Skripsi Jurusan Peternakan (Produksi Ternak) (penelitian, skripsi, disertasi, thesis, jurnal, artikel, laporan)

PENGARUH FREKUENSI PELAPISAN ULANG MINYAK KELAPA DAN

JENIS TELUR TERHADAP KUALITAS INTERNAL TELUR



Oleh



Hamdan Arfani1



ABSTRAK



Dalam rangka mempertahankan kualitas internal telur perlu dilakukan upaya pengawetan . Salah satu upaya dimaksud adalah melapisi telur dengan minyak kelapa yang telah dipanaskan. Pengawetan telur dengan cara melapiskan minyak kelapa sebanyak 1 kali pada kerabang telur dapat memperpanjang masa simpan hingga 1 bulan. Namun, kerabang telur yang dilapisi dengan minyak kelapa lebih dari 1 kali belum ada informasi.


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa dan jenis telur tersebut dalam mempertahankan kualitas internal telur.

Telur yang digunakan sebanyak 72 butir, terdiri atas 24 butir telur ayam arab, 24 butir telur ayam ras, dan 24 butir telur itik. Penelitian dilaksanakan mulai Juli 2002 hingga September 2002. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan faktor perlakuan (1) frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa (0,1,2,3 kali); dan faktor (2) jenis telur (telur ayam arab, telur ayam ras, dan telur itik). Data yang diperoleh diuji homogenitas dan aditivitasnya kemudian dianalisis menggunakan Analisis Ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Uji lanjut yang digunakan adalah Uji Jarak Berganda Duncan.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa dan jenis telur terhadap kualitas internal telur (P³0,01). Frekuensi pelapisan ulang berpengaruh sangat nyata (P£0,01) terhadap penurunan berat telur, namun tidak berpengaruh nyata terhadap indeks putih telur, nilai haugh unit, dan indeks kuning telur (P³0,05). Penurunan berat telur dengan frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa sebanyak 2 kali atau 3 kali nyata (P£0,05) lebih kecil dari pada pelapisan ulang sebanyak 1 kali atau yang tidak dilapisi ulang.


Jenis telur berpengaruh nyata (P³0,05) terhadap indeks putih telur dan nilai haugh unit dan berpengaruh sangat nyata (P£0,01) terhadap penurunan berat telur dan indeks kuning telur. Telur itik memiliki indeks putih telur dan penurunan berat yang nyata lebih besar (P£0,05) dari pada telur ayam arab dan telur ayam ras. Telur itik dan telur ayam ras tidak berbeda nyata (P³0,01) terhadap nilai haugh unit dan indeks kuning telur, yakni rata-rata sebesar 77,78 (kualitas AA) dan 0,34 serta berbeda nyata (P£0,05) dengan telur ayam arab terhadap nilai haugh unit dan indeks kuning telur tersebut, yakni 61,91 (kualitas B) dan 0,14.


PENGARUH JENIS KAPANG DAN LEVEL UREA PADA FERMENTASI ONGGOK TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR NH3, DAN KADAR VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO



Oleh



Inayah Aini 1, M. Prayuwidayati 2, dan Liman 2.



ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara perlakuan jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger,dan Trichoderma viride ) dengan level urea (0; 1,5; 3; 4,5%) terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro hasil fermentasi; mengetahui pengaruh penggunaan jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger,dan Trichoderma viride) pada fermentasi onggok; mengetahui pengaruh level urea (0; 1,5; 3; 4,5%) terhadap KCBK, KCBO, kadar VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.



Perlakuan disusun secara faktorial 3 x 4 dalam RAL dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis kapang yaitu Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, dan Trichoderma viride, sedangkan faktor kedua adalah level urea yang terdiri atas 0; 1,5; 3 dan 4,5% bahan kering. Data yang dihasilkan dianalisis dengan analisis ragam; apabila pengaruh perlakuan pada suatu peubah nyata pada taraf 5% atau 1% maka analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi (P3 dan Kadar VFA secara in vitro; Kandungan KCBK dan KCBO onggok terfermentasi berpengaruh baik bila ditambahkan level urea pada kapang Aspergillus oryzae sampai level 4,5%, kapang Trichoderma viride sampai level 3% dan kapang Aspergillus niger sampai level 1,5%; Kandungan KCBK, KCBO, dan NH3 tertinggi terdapat pada jenis kapang Aspergillus niger dan level urea 1,5% dengan nilai masing-masing adalah 64,02%, 71,41% dan 10,25 mM, sedangkan kandungan VFA tertinggi terdapat pada kapang Trichoderma viride dengan level urea 0% dengan nilai sebesar 156,67 mM.



PENGARUH KLORINASI 150 ppm TERHADAP DAYA IKAT AIR, TEKSTUR DAN BAU DAGING PADA LAMA SIMPAN POTONGAN KARKAS BROILER YANG BERBEDA



Oleh



Emy Mariyanti 1, Rr. Riyanti 2, dan Dian Septinova 2.

ABSTRAK

Daging broiler merupakan bahan pangan yang mudah rusak, karena komposisi gizinya yang tinggi serta adanya pencemaran permukaan pada daging oleh mikroorganisme perusak. Salah satu perubahan yang terjadi yaitu perubahan fisik daging, yang meliputi daya ikat air, tekstur, bau daging, dan warna daging. Salah satu bahan pengawet yang dapat digunakan adalah klorin. Klorin merupakan pengawet yang aman bagi manusia, mudah didapat, murah, dan memiliki sifat sanitizer, sehingga pertumbuhan mikroorganisme dapat dicegah.


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh klorinasi 150 ppm terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging pada lama simpan potongan karkas broiler yang berbeda, serta mengetahui lama simpan yang efektif untuk potongan karkas broiler klorinasi 150 ppm, dalam mempertahankan daya ikat air, tekstur, dan bau daging.

Penelitian ini dilaksanakan pada 4–5 April 2007, di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah K0: lama simpan 0 jam; K1: lama simpan 4 jam; K2: lama simpan 8 jam; K3: lama simpan 12 jam. Data yang diperoleh dari penelitian ini ditransformasi kemudian diuji normalitas, homogenitas dan aditivitas, analisis ragam pada taraf nyata 5 % dan 1 %, kemudian dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal jika ada peubah yang nyata.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan lama simpan (0 jam, 4 jam, 8 jam, dan 12 jam) pada potongan karkas broiler yang diklorinasi 150 ppm memberikan pengaruh yang sangat nyata (Pbroiler, serta klorinasi 150 ppm belum dapat mempertahankan daya ikat air, tekstur, dan bau daging sampai dengan masa simpan 12 jam.



PENGARUH KLORINASI 150 ppm TERHADAP JUMLAH MIKROORGANISME DAN pH DAGING KARKAS

BROILER
PADA LAMA SIMPAN YANG BERBEDA

Oleh

Iskam Agung Muhlis1, Rr. Riyanti2, Khaira Nova2

ABSTRAK

Daging broiler merupakan salah satu bahan pangan yang kaya nutrisi. Bahan pangan yang kaya nutrisi merupakan tempat yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganime akan mengakibatkan pH dalam daging meningkat yang menyebabkan busuknya daging broiler. Perendaman karkas broiler dengan menggunakan klorin 150 ppm diharapkan dapat mengurangi jumlah mikroorganisme dan menurunkan pH daging sehingga akan berakibat meningkatnya kualitas karkas broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh klorinasi 150 ppm terhadap jumlah mikroorganisme dan pH daging karkas broiler pada lama simpan yang berbeda.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu T0 : lama simpan 0 jam, T1 : lama simpan 4 jam, T2 : lama simpan 8 jam, T3 : lama simpan 12 jam. Karkas broiler yang digunakan berjumlah 20 potong. Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji normalitas, aditivitas, dan homogenitas, lalu dilakukan analisis ragam pada taraf nyata 5% dan 1%. Apabila analisis ragam berpengaruh nyata pada satu peubah maka analisis dilanjutkan dengan uji Polinomial Ortogonal. Semua pengujian dilakukan pada taraf nyata 5% dan 1%.

Penambahan klorin 150 ppm pada air rendaman karkas broiler selama 2 jam dengan lama simpan hingga 12 jam pada suhu ruang berpengaruh sangat nyata (Pterhadap jumlah mikroorganisme dengan persamaan Ŷ = 5,6501 – 0,0183X + 0,0171X2. Demikian pula pengaruh perlakuan terhadap pH karkas broiler berpengaruh sangat nyata (Pberpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 6,5360 – 0,0063X + 0,0036X2. Klorinasi 150 ppm belum mampu menekan pertumbuhan jumlah mikroorganisme dan pH daging broiler pada batas normal hingga 12 jam penyimpanan.


PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI TERHADAP KADAR NH 3, PRODUKSI VFA, DAN POPULASI PROTOZOA RUMEN

KAMBING PERANAKAN ETTAWA



Oleh


Azhar Sineba1, Yusuf Widodo2, dan Liman2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi terbaik terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa.


Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada Februari–April 2007, sedangkan analisis kimia dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 perlakuan yaitu R0 : Ransum basal (70% konsentrat + 30% rumput lapang), R1 : 90% ransum basal + 10% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), R2 : 80% ransum basal + 20% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), R3 : 70% ransum basal + 30% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), dan terdiri atas 4 ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi berpengaruh sangat nyata (P3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) penggunaan 30% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi dan 50% lumpur sawit terfermentasi) merupakan pakan kombinasi terbaik berdasarkan uji BNT terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa.




PENGARUH PENGOLAHAN SECARA KIMIA, BIOLOGI, DAN KOMBINASI SECARA KIMIA-BIOLOGI PADA JANGGEL JAGUNG TERHADAP KECERNAAN DAN PARAMETER METABOLISME RUMEN SECARA IN VITRO



Oleh



Leviana 1, M. Prayuwidayati 2, dan Liman 2



ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh pengolahan janggel jagung secara kimia, biologi dan kombinasi secara kimia-biologi terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen secara in vitro;(2) mengetahui perlakuan terbaik pada janggel jagung terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3 dan VFA cairan rumen secara in vitro.


Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa P0 = Janggel jagung tanpa pengolahan; P1 = Janggel jagung diamoniasi dengan Urea 3%; P2 = Janggel jagung diamoniasi dengan amonium sulfat 3%; P3 = Janggel jagung difermentasi dengan Aspergillus niger; P4 = Janggel jagung diamoniasi dengan Urea 3% dan difermentasi dengan Aspergillus niger; dan P5 = Janggel jagung diamoniasi dengan amonium sulfat 3% dan difermentasi dengan Aspergillus niger.



Data yang diperoleh pada penelitian ini diuji normalitas, additivitas, dan homogenitas yang kemudian dilanjutkan dengan analisis ragam. Apabila analisis menunjukkan hasil yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 1% atau 5% (Steel dan Torrie, 1991).



Hasil analisis ragam dan hasil uji BNT menunjukkan bahwa pengolahan janggel jagung secara kimia-biologi berpengaruh sangat nyata (P3 tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap VFA. Perlakuan terbaik pada janggel jagung adalah kombinasi secara kimia-biologi. Nilai KCBK pada P4 dan P5 yaitu 57,50% dan 58,45%, KCBO yaitu 67,46% dan 67,80%, kadar NH3 yaitu 6,90mM dan 6,62mM, kadar VFA yaitu 112,50mM dan 110,00mM.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN SAPI BRAHMAN CROSS

Oleh



Joko Purnomo1, Yusuf Widodo2, dan liman2


ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen sapi brahman cross; (2) level optimum dari tingkat penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen sapi brahman cross.



Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor sapi brahman cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Perlakuan terdiri atas R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi; R1 : 70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi; R2 : 70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi; dan R3 : 70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi. Ransum yang digunakan terdiri atas 30% kombinasi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dan 70% konsentrat yang tersusun dari dedak, onggok, bungkil kelapa, tetes, urea, dan premix. Data yang diperoleh pada penelitian ini akan dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas. Apabila dari hasil analisis ragam terdapat peubah yang nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Polinomial Orthogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1% (Steel dan Torrie, 1991).



Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi berpengaruh nyata (P3 cairan rumen sapi brahman cross; (2) Produksi VFA cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ= 110,438 + 1,794X – 0,072X2 , dengan R2 = 36,95 %, dan level optimum 12,46 %; kadar NH3 cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ= 4,312 + 0,100X – 0,004X2 , dengan R2 = 24,87 % dan level optimum 12,50 %.




PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PROTEIN DAN KECERNAAN SERAT KASAR PADA SAPI

BRAHMAN CROSS



Oleh

Deddy Hediansyah1, Liman 2, dan M. Prayuwidayati 2.



ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum dan mengetahui level optimum dari tingkat substitusi pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar sapi Brahman Cross.



Penelitian ini dilaksanakan pada Mei–Juli 2007, bertempat di kandang Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor sapi Brahman Cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Perlakuan yang diberikan meliputi : R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R1 (70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum). Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P2 = 29,36%) terhadap kecernaan protein kasar berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 47,916 + 1,391X – 0,054X2 dengan pengaruh yang optimum pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi sebesar 12,87%; (2) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 39,52%) terhadap kecernaan serat kasar berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 43,940 + 1,047X – 0,047X2 dengan pengaruh yang optimum pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi sebesar 11,13%.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK PADA SAPI BRAHMAN CROSS



Oleh



Maizar Rivai 1, Erwanto 2, dan Liman 2.

ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada sapi Brahman cross, (2) mengetahui level optimum penambahan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada sapi Brahman cross.



Penelitian ini menggunakan 4 ekor sapi Brahman cross. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4×4 dengan 4 ekor sapi sebagai kolom dan 4 periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R1 : 70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R2 : 70% konsentrat + 10% rumput lapang +20% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R3 : 70% konsentrat + 0% rumput lapang +30% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum). Data yang diperoleh diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas, kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam. Jika hasil analisis ragam berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut polinomial orthogonal dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi yang terbaik



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P= 4757,3437 +68,9100X – 2,4416X2; R2 = 23,09%, dengan tingkat optimum 14,11%, kecernaan bahan kering dengan persamaan Ŷ = 57,4097 + 0,9601X – 0,0274X2; R2 = 25,56%, dengan tingkat optimumnya 17,52%, sedangkan kecernaan bahan organik ditunjukkan dengan persamaan Ŷ = 70,8681 + 0,3911X – 0,0123 X2; R2 = 42,12%, dengan tingkat optimumnya adalah 15,90%.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN

PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI,ENERGI TERCERNA, DAN EFISIENSI ENERGI
PADA SAPI BRAHMAN CROSS



Oleh

Akhmad Riauwan 1, Muhtarudin 2, dan M. Prayuwidayati 2.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada sapi Brahman Cross; (2) mengetahui level optimum tingkat substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada sapi Brahman Cross



Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4×4 dengan 4 ekor sapi Brahman Cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 (70% konsentrat + 30% Rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum ); R1 (70% konsentrat + 20% Rumput lapang + 10%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% Rumput lapang +20%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% Rumput lapang +30%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum). Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Hasil analisis ragam terhadap suatu peubah dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi; (2) konsumsi energi berpola kuadratik dengan persamaanŶ =18960,760 + 61,044X – 4,450X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 6, 86% dari BK ransum dan energi tercerna berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 12791,836 + 107,602X – 5,699X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 9,44 % dari BK ransum; (3) R1 merupakan perlakuan terbaik berdasarkan konsumsi energi dan energi tercerna.



PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN ONGGOK TERFERMENTASI YANG DIPERKAYA UREA DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN

SECARA IN VITRO

Oleh



Arrif Kristian B.R.1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2.


ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.


Penelitian ini dilaksanakan pada juli–Agustus 2007, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (40% hijauan dan 60% konsentrat); R1 = Ransum basal 90% + 10% (onggok terfermentasi + 1,5% urea); R2 = Ransum basal 80% + 20% (onggok terfermentasi + 1,5% urea); R3 = Ransum basal 70% + 30% (onggok terfermentasi + 1.5% urea); R4 = Ransum basal 60% + 40% (onggok terfermentasi + 1,5% urea). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengtahui tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea dalam ransum yang terbaik.


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) pengaruh tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea 1,5% dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 46,31%) terhadap kecernaan bahan kering berpola linier dengan persamaan Ŷ = 46,575 + 0,125 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 31,45%) terhadap kecernaan bahan organik berpola linier dengan persamaan Ŷ = 49,398 + 0,146 X, berpengaruh nyata (P2 = 38,54%) terhadap produksi VFA cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 89,000 + 0,725 X, dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01;r2 = 59,68%) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola liner dengan persamaan Ŷ = 13,474 – 0,117 X secara in vitro; (2) tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea 1,5% dari level 10–40 % dalam ransum belum menunjukkan tingkat optimum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.



PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN KLORIN

TERHADAP DAYA IKAT AIR, TEKSTUR,

DAN BAU DAGING BROILER



Oleh

Vera Aglisa1, Rr. Riyanti 2, dan Tintin Kurtini 2.

ABSTRAK



Daging ayam adalah makanan yang mudah rusak karena daging ayam merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Hal tersebut tentu akan mempercepat pembusukan daging yang berindikasi pada penurunan daya ikat air pada daging, tekstur yang menjadi lebih lembut dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Klorin dapat digunakan untuk mengontrol pertumbuhan mikroorganisme pada daging sehingga daya simpan daging menjadi lebih panjang. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan bahwa penggunaan klorin tersebut tidak menurunkan kualitas daging (daya ikat daging, tekstur, dan bau) dan aman dikonsumsi.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh berbagai tingkat penggunaan klorin terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler; (2) mencari level optimum dari penggunaan klorin terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tingkat penggunaan klorin dan masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: R0 : Klorin 0 ppm; R1 : Klorin 50 ppm; R2 : Klorin 100 ppm; R3 : Klorin 150 ppm; dan R4 : Klorin 200 ppm sehingga didapat 20 unit perlakuan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas, dan uji lanjut dengan polinomial ortogonal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan klorin 0–200 ppm pada perendaman karkas selama 2 jam berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler yang disimpan selama 12 jam.


PERBANDINGAN PERFORMANS ANTARA DUA STRAIN BROILER YANG DIBERI MINUM AIR KUNYIT



Oleh

Oktavia Astiasari 1, Syahrio Tantalo 2, Tintin Kurtini 2.

ABSTRAK



Strain merupakan bagian dari faktor genetik, oleh sebab itu diduga pada setiap strain broiler memiliki respons performans yang berbeda terhadap pemberian kunyit. Meskipun beberapa hasil penelitian memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot akhir broiler strain CP 707 dan broiler strain Lohmann yang diberi kunyit pada air minumnya, namun belum diketahui secara pasti jenis strain yang lebih baik kemampuannya dalam merespons penggunaan kunyit untuk mengefisienkan ransum yang sama.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performans dari dua strain broiler yang diberi minum air kunyit. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu performans strain CP 707 unsexed lebih baik daripada strain Lohmann unsexed yang diberi minum air kunyit.

Penelitian dilaksanakan secara eksperimental pada 8 Maret–13 April 2007, di kandang ayam Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung menggunakan 100 ekor broiler strain CP 707 dan 100 ekor broiler strain Lohmann. Masing-masing perlakuan (strain) diberi minum air seduhan kunyit dengan dosis 10 g/600 ml air. Ulangan 15 kali dan setiap satuan percobaan terdiri atas 6 atau 7 ekor. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi air minum, konsumsi ransum, dan pertambahan berat tubuh broiler yang diberi minum air kunyit pada broiler strain CP 707 nyata lebih besar (Pbroiler strain Lohmann, sedangkan konversi ransum dan income over feed cost (IOFC) tidak berbeda nyata (P>0,05).


PERBANDINGAN PERFORMANS ANTARA BROILER

YANG DIBERI KUNYIT DAN TEMULAWAK

MELALUI AIR MINUM

Oleh

Yuniusta 1, Syahrio Tantalo 2, dan Dian Septinova2.

ABSTRAK



Kunyit dan temulawak merupakan tanaman obat yang berasal dari satu famili, yaitu famili zingiberaceae dan banyak tersebar di Indonesia serta sudah sejak lama dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Kunyit dan temulawak berpengaruh positif terhadap empedu dan pankreas yaitu dapat merangsang kantung empedu untuk mensekresikan cairan empedu agar pencernaan lebih sempurna. Pengaruhnya terhadap pankreas cukup banyak, diantaranya dapat memengaruhi dan merangsang sekresi serta berfungsi sebagai penambah nafsu makan, memengaruhi kontraksi usus halus, bersifat bakterisidal dan bakteriostatik, membantu kerja sistem hormonal, metabolisme dan fisiologi organ tubuh.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan kunyit dan temulawak dalam air minum terhadap performans broiler. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu, pemberian temulawak lebih baik daripada pemberian kunyit terhadap performans broiler.



Penelitian ini dilaksanakan pada 08 Maret–11 April 2007, bertempat di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dengan menggunakan 200 ekor broiler yang terdiri atas dua perlakuan yaitu R1 (10 g kunyit/600 ml air) dan R2 (10 g temulawak/600 ml air). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 15 kali dan setiap ulangan terdiri atas 6 atau 7 satuan percobaan, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5 %.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi air minum broiler yang diberi perlakuan R2 (10 g temulawak/600 ml air) nyata (Pbroiler yang diberi kunyit, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat tubuh, konversi ransum, dan income over feed cost (IOFC) broiler.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MOTILITAS SPERMATOZOA SEMEN BEKU SAPI PADA BERBAGAI INSEMINATOR
DI LAMPUNG TENGAH
Oleh
Nopriari Hertoni¹, Madi Hartono², dan Purnama Edy Santosa2
ABSTRAK
Semen beku adalah semen yang telah diencerkan menurut prosedur tertentu, lalu dibekukan jauh di bawah titik beku air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan besarnya faktor yang memengaruhi motilitas spermatozoa semen beku sapi pada berbagai inseminator di Lampung Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2007, pada inseminator yang tergabung di dalam Asosiasi inseminator kabupaten (Asibka) dan inseminator mandiri di Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan 23 sampel inseminator yang diambil secara proporsive dan sampel semen beku secara acak.
Metode penelitian yang dipakai adalah metode survei. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Variabel dengan nilai P terbesar dikeluarkan dari penyusunan model kemudian dilakukan analisis kembali sampai didapatkan model dengan nilai P lebih kecil atau sama dengan 0,10.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi motilitas spermatozoa semen beku sapi yaitu faktor pernah ikut pelatihan bermakna (Pthawing bermakna (P

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERSENTASE SPERMATOZOA HIDUP SEMEN BEKU SAPI PADA BERBAGAI INSEMINATOR
DI LAMPUNG TENGAH
Oleh
Yohanes Sayoko1, Madi Hartono2, dan Purnama Edy St2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan besarnya faktor yang memengaruhi persentase spermatozoa hidup semen beku sapi pada berbagai inseminator di Lampung Tengah.
Penelitian ini dilaksanakan pada April 2007, pada berbagai inseminator yang tergabung di dalam Asosiasi Inseminator Kabupaten dan inseminator mandiri di Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan 23 sampel inseminator yang diambil secara proporsif dan semen beku secara acak. Metode penelitian yang dipakai adalah metode survei. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Variabel dengan nilai P terbesar dikeluarkan dari penyusun model kemudian dilakukan analisis kembali sampai didapatkan model dengan nilai P≤0,12.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi persentase spermatozoa hidup pada semen beku sapi yaitu faktor lama thawing bermakna (P=0,05) dan berasosiasi positif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor 0,481, hal ini berarti lama thawing 30 detik memberikan hasil yang lebih baik dari pada thawing selama 15 detik; suhu air yang digunakan bermakna (P=0,03) dan berasosiasi negatif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor -8,692, hal ini berarti thawing dengan air hangat persentase spermatozoa hidup lebih tinggi jika dibanding dengan air sumur; produk semen beku (straw) bermakna (P=0,00) dan berasosiasi positif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor 4,828, hal ini berarti penggunaan semen beku produksi BIB Lembang memberikan persentase spermatozoa hidup yang lebih tinggi jika dibanding dengan produk IPMB; tinggi nitrogen cair bermakna (P=0,12) dan berasosiasi negatif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor -0,177, hal ini berarti semakin berkurangnya tinggi nitrogen cair dapat mengurangi persentase spermatozoa hidup.

PENGARUH JENIS KAPANG DAN TINGKAT AMONIUM SULFAT PADA FERMENTASI ONGGOK TERHADAP KANDUNGAN ZAT MAKANAN, KADAR NH3, DAN VFA CAIRAN RUMEN
SECARA IN VITRO
Oleh
Marlina Puji Astuti1, Muhtarudin2, dan M. Prayuwidayati2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh interaksi antara perlakuan penggunaan kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae) dengan tingkat amonium sulfat (0,0; 0,5; 1,0; 1,5%) terhadap kandungan zat makanan onggok terfermentasi, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro; (2) pengaruh jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae) pada fermentasi onggok; (3) pengaruh tingkat amonium sulfat (0,0; 0,5; 1,0; dan 1,5%) terhadap kandungan zat makanan onggok fermentasi, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Perlakuan disusun secara faktorial 4×4 dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri atas 4 jenis kapang yaitu Aspergillus niger, Aspergillus oryzae, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae, serta faktor kedua terdiri atas 4 tingkat amonium sulfat yaitu 0,0%; 0,5%; 1,0%; dan 1,5%. Data yang dihasilkan dianalisis dengan analisis ragam; apabila pengaruh perlakuan pada suatu peubah nyata pada taraf 5% dan atau 1% maka analisis dilanjutkan dengan Uji BNT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi sangat nyata (P3 dan VFA cairan rumen secara in vitro. Kadar protein kasar meningkat dari 2,43% menjadi 8,15%; kadar VFA meningkat dari 100 mM menjadi 120 mM; dan kadar NH3 dari 4,26 mM menjadi 11,41 mM.

PENGARUH KLORINASI KARKAS TERHADAP
KUALITAS FISIK DAGING BROILER YANG DISIMPAN
SELAMA 24 JAM PADA SUHU RUANG
Oleh
Wiwin Andayani1, Rr. Riyanti2, dan Tintin Kurtini2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh berbagai level penggunaan klorin terhadap kualitas fisik karkas broiler, dan (2) mengetahui level optimum penggunaan klorin terhadap kualitas fisik karkas broiler.
Rancangan percobaan pada penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan level klorin yaitu perendaman karkas dengan level klorin 0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm. Perendaman untuk setiap perlakuan dilakukan di dalam ember. Masing-masing perlakuan diulang empat kali, dan karkas yang digunakan sebanyak 20 buah. Data yang diperoleh dianalisis varian namun sebelumnya diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Apabila hasil analisis varian berpengaruh nyata pada satu peubah maka analisis dilanjutkan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan klorinasi karkas (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm) yang disimpan selama 24 jam pada suhu ruang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kualitas fisik daging broiler (tekstur, warna, dan bau).

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI PUCUK TEBU
TERAMONIASI DAN BLOTONG TERFERMENTASI DALAM RANSUM
TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA, DAN KADAR NH3
CAIRAN RUMEN KAMBING SECARA IN VITRO
Oleh
Uli Indah Fitriani1, Erwanto2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro, (2) mengetahui tingkat penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi yang optimum dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro.
Penelitian ini dilakukan secara in vitro. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan yaitu : R0 = Ransum basal (30% hijauan dan 70% konsentrat); R1 = 92,5% ransum basal + 7,5% putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R2 = 85% ransum basal + 15 % putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R3 = 77,5% ransum basal + 22,5 % putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R4 = 70% ransum basal + 30% putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi yang optimum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan boltong terfermentasi dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro; (2) penambahan pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum berpengaruh nyata (P2) = 58,08%; (3) penambahan pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2) = 66,92%.

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT
TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI, ENERGI TERCERNA DAN EFISIENSI ENERGI PADA KAMBING
PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Ahmad Asrofi1, Muhtarudin2, dan Liman2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi pada kambing peranakan ettawa jantan.
Penelitian ini menggunakan 4 ekor kambing PE jantan dengan bobot tubuh awal rata-rata 20 kg. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor kambing PE sebagai kolom dan periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang (ransum basal); R1 : 90% (ransum basal) + 10% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R2 : 80% (ransum basal) + 20% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R3 : 70% (ransum basal) + 30% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditifitas, dan normalitas. Selanjutnya dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap konsumsi energi dan efisiensi energi kambing PE jantan, (2) penambahan sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum sebanyak 10% dari total ransum (R1) merupakan perlakuan terbaik terhadap konsumsi energi dan energi tercerna pada kambing PE jantan.

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN SEKRESI
ALLANTOIN URIN PADA KAMBING
PERANAKAN ETTAWA
Oleh
Askar Tabroni1, Erwanto2, dan Yusuf Widodo2­­­­
ABSTRAK
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap retensi nitrogen dan sekresi allantoin urin pada kambing Peranakan Ettawa. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan empat macam ransum perlakuan dan empat ulangan. Penelitian menggunakan empat ekor kambing Peranakan Ettawa. Ransum perlakuan terdiri atas: R0: ransum basal (konsentrat 70% + rumput lapang 30%); R1: R0 (90%) + (10%) ransum kombinasi ( 50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R2: R0 (80%) + (20 %) ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi): R3:R0 (70%) + 30% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi).
Data yang diperoleh diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas statistik untuk memenuhi asumsi-asumsi analisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu data diuji BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perbandingan retensi nitrogen dengan konsumsi nitrogen, dan sekresi allantoin urin; tetapi berpengaruh nyata (P

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN ZAT-ZAT MAKANAN
PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Devid Wahyu Hernanto1, Liman2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap kecernaan zat-zat makanan kambing peranakan ettawa jantan, (2) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terbaik terhadap kecernaan zat-zat makanan kambing peranakan ettawa jantan.
Penelitian ini menggunakan 4 ekor kambing. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor kambing PE sebagai kolom dan 4 periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : ransum basal (70 % konsentrat + 30 % rumput lapang); R1 : 90 % ransum basal + 10 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi); R2 : 80 % ransum basal + 20 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi); R3 : 70 % ransum basal + 30 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi). Data yang diperoleh diuji homogenitas, aditifitas, dan normalitas, kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam. Jika hasil nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% untuk melihat perbedaan nilai tengah antar perlakuan (Steel and Torrie, 1991).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ransum perlakuan berpengaruh sangat nyata (P

PERBANDINGAN NILAI INDEKS PRODUKTIVITAS INDUK BOBOT
SAPIH KAMBING BOERAWA G1 DAN G2 DI DESA CAMPANG
KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Agustinus Arif1, Akhmad Dahlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Indeks Produktifitas Induk (IPI) merupakan gambaran kemampuan seekor induk dalam mengasuh dan membesarkan anaknya sampai umur sapih hingga mencapai bobot sapih tertentu dalam kurun waktu satu tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai IPI bobot sapih dari induk yang menghasilkan G1 dan induk yang menghasilkan G2; (2) membandingkan nilai IPI bobot sapih antarinduk yang menghasilkan G1 dan induk yang menghasilkan G2.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa G1 dan 30 ekor induk kambing Beorawa G2 dengan syarat paling sedikit pernah melahirkan dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan, yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat rekording pemeliharaan; menimbang bobot sapih dari cempe; mencatat data-data yang berkaitan dengan jarak beranak, dan jumlah anak per kelahiran yang dilahirkan dari tiap ekor induk kambing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak beranak tertinggi pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 8,5 bulan, jarak beranak terendah pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 6 bulan dan 7 bulan. Rata-rata jarak beranak kambing Boerawa G1 dan G2 yakni 7,233 + 0,611 bulan dan 7,5 + 0,515 bulan dan hasil uji-t jarak beranak adalah berada nyata (P< 0,05). Jumlah anak per kelahiran terendah pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah 2,333 ekor sedangkan jumlah anak per kelahiran terendah pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 1,667 ekor. Rata-rata jumlah anak per kelahiran induk kambing Boerawa G1 dan kambing Boerawa G2 adalah 1,878 + 0,239 dan 1,944 + 0,278 ekor. Hasil uji-t jumlah anak per kelahiran adalah tidak berbeda nyata (P> 0,05). Rata-rata bobot sapih teroreksi kambing Boerawa G1 dan kambing Boerawa G2 sebelum dan sesudah dikoreksi masing-masing sebesar 20,667 + 0,499 kg dan 24,829 + 1,031 kg sedangkan pada kambing Boerawa G2 masing-masing sebesar 20,144 + 0,580 kg dan 24,829 + 1,031 kg. Hasil uji-t menunjukkan rata-rata bobot sapih sebelum dikoreksi pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah sangat bebeda nyata (P < 0,01) yakni 20,666 + 0,499 kg dan 20,144 + 0,580 kg sedangkan rata-rata bobot sapih sesudah dikoreksi pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah tidak berbeda nyata (P > 0,05), yakni 24,829 ±1,031 kg dan 24,829 + 1,031 kg. Nilai IPI tertinggi dan terendah pada kambing Boerawa G1 adalah 96,804 kg dan 55,026 kg, sedangkan nilai IPI tertinggi dan terendah pada kambing Boerawa G2 adalah 102,566 kg dan 63,398 kg. Rata-rata IPI kambing Boerawa G1 kambing Boerawa G2 adalah tidak berbeda nyata (P > 0,05), yakni 78,693 + 11,862 kg dan 77,282 + 11,291 kg.

PERBANDINGAN NILAI MPPA (MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY) BOBOT SAPIH KAMBING BETINA BOERAWA G1 DENGAN G2 DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Hadi Sucipto1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Bobot sapih merupakan sifat pertumbuhan yang perlu ditingkatkan melalui seleksi karena selain untuk meningkatkan sifat-sifat yang diseleksi, juga secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi daging dan presentase karkas. Metode seleksi individu untuk meningkatkan bobot sapih ternak dapat dilakukan berdasarkan nilai MPPA (most probable producing ability). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui rata-rata bobot sapih kambing betina Boerawa G1dan G2; (2) Mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih kambing betina Boerawa G1 dan G2; (3) Mengetahui nilai MPPA bobot sapih kambing betina Boerawa G1 dan G2; (4) Membandingkan nilai MPPA bobot sapih antara kambing betina Boerawa G1 dan G2 di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei, yaitu dengan mengamati catatan produksi kelahiran pertama, kedua, dan ketiga dari 30 ekor induk kambing Boerawa G1 dan 30 ekor induk kambing Boerawa G2 yang telah melahirkan lebih dari satu kali. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot sapih cempe hasil keturunan induk kambing boerawa G1 dan G2. Data bobot sapih setiap individu yang diamati dikoreksi terlebih dahulu terhadap bobot cempe umur 120 hari, umur induk, tipe kelahiran, dan tipe peliharaan. Nilai ripitabilitas dihitung dengan menggunakan metode korelasi dalam kelas (intraclass corelation) dan perhitungan nilai MPPA bobot sapih dilakukan dengan menggunakan rumus dari Hardjosubroto (1994),lalu rata-rata nilai MPPA dibandingkan dengan menggunakan rumus uji t (Nazir, 1998).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih kambing betina Boerawa G2 (25,266±0,774 kg) lebih tinggi (P≤0,05) daripada kambing Betina Boerawa G1 (24,804±1,156 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ripitabilitas bobot sapih kambing betina Boerawa G1 sebesar 0,285±0,014 dan kambing betina Boerawa G2 0,333±0,097. Selanjutnya rata-rata nilai MPPA bobot sapih kambing boerawa G2 (25,266±0,461 kg) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing betina Boerawa G1 (24,808±0,630 kg).

PERBANDINGAN POTENSI GENETIK DAN KEMAMPUAN MEWARISKAN SIFAT-SIFAT PERTUMBUHAN BERDASARKAN NILAI PEMULIAAN (BREEDING VALUE) PADA PEJANTAN BOER DENGAN BOERAWA
Oleh
Achmad Heru Nugraha1, Akhmad Dakhlan2,dan Sulastri2
ABSTRAK
Nilai Pemuliaan (NP) merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan genetik ternak untuk suatu sifat secara relatif atas dasar kedudukannya di dalam populasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan rata-rata bobot lahir kambing silangan Boer >
Penelitian ini dilaksanakan pada Februari 2007, di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan untuk mendapatkan materi penelitian berupa recording perkawinan, kelahiran, bobot lahir, dan bobot sapih rata-rata 30 ekor cempe masing-masing dari 2 pejantan kambing Boer dan rata-rata 30 ekor cempe masing-masing dari 2 pejantan kambing Boerawa.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot lahir terkoreksi, bobot sapih terkoreksi, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing silangan Boer >student menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boer lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; nilai heritabilitas bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih kambing Boer berturut-turut adalah 0,55±0,137; 0,41±0,102; 0,32±0,079, sedangkan pada kambing Boerawa berturut-turut adalah 0,29±0,071; 0,34±0,086; 0,21±0,052. Nilai NP rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih pejantan kambing Boer berturut-turut adalah 4,171 kg; 25,298 kg; 0,147 kg/hari, sedangkan nilai NP bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih pejantan kambing Boerawa berturut-turut adalah 3,504 kg; 23,128 kg; 0,130 kg/hari.

HUBUNGAN ANTARA BANGSA SAPI PERSILANGAN DAN
BOBOT TUBUH TERHADAP PARAMETER KARKAS

Oleh

Fedry Kesuma Negara Tangkary1, Idalina Harris2, dan Kusuma Adhianto2

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan pada April–Mei 2006 di Rumah Potong Hewan Karawaci yang beralamat di Jalan Panunggangan Barat no. 99, Cibodas, Tangerang, Banten dengan menggunakan metode survei. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh terhadap parameter karkas (bobot karkas, bobot karkas bagian depan, dan bobot karkas bagian belakang).

Sampel dalam penelitian ini adalah sapi Brahman Cross persilangan sapi Brahman Ongole (BO) dan Brahman Shorthorn (BS), jantan kastrasi dengan kisaran bobot tubuh 451–500 kg, 501–550 kg, dan 551–600 kg sebanyak 168 ekor. Data dianalisis dengan menggunakan program soft ware Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi. Selanjutnya, nilai koefisien korelasi diuji dengan menggunakan metode uji koefisien korelasi baik secara masing-masing maupun kesamaan dua koefisien korelasi. Pengujian ini dilakukan sebagai pembuktian terhadap hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien korelasi terbesar pada bobot karkas (r = 0,768) dicapai oleh bangsa sapi BS kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,343) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 451–500 kg; korelasi terbesar pada karkas bagian depan (r = 0,611) dicapai oleh bangsa sapi BO kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,343) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 451–500 kg; korelasi terbesar pada karkas bagian belakang (r = 0,732) dicapai oleh bangsa sapi BS kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,254) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 501–550 kg. Semua bobot tubuh kisaran 551–600 kg mempunyai hubungan yang lebih erat dibandingkan dengan kisaran 451–500 kg dan 501–550 kg kecuali sapi BO pada parameter karkas bagian belakang. Tidak ada hubungan yang signifikan untuk kesamaan dua nilai koefisien korelasi (P>0,05) antarbangsa sapi persilangan atau antarbobot tubuh terhadap parameter karkas.

PENGARUH BERBAGAI JENIS ATAP KANDANG TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA

Oleh

Romadoni Yunanto

ABSTRAK

Kambing memiliki sifat alami yang sangat cocok di budidayakan. Salah satu cara membudidayakan kambing dengan cara menempatkan kambing dalam kandang yang beratap. Pemberian atap kandang merupakan salah satu cara untuk mengurangi beban panas akibat radiasi matahari, temperatur udara yang tinggi, kelembaban udara yang tinggi, radiasi panas, dan aliran udara yang lembab.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis atap kandang terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Rancangan perlakuan yang digunakan adalah tiga perlakuan dan tiga pengulangan. Perlakuan pertama kambing PE dipelihara di kandang beratapkan genteng (K1), perlakuan kedua kambing dipelihara di kandang beratapkan seng (K2), dan perlakuan ketiga kambing dipelihara di kandang beratapkan rumbia (K3).
Untuk mengetahui pengaruh kedua perlakuan maka data peubah yang terkumpul diuji dengan analisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mencari perlakuan yang terbaik

Hasil analisis ragam menunjukkan penggunaan bahan atap kandang rumbia, seng, dan genteng berpengaruh nyata (P0,05) terhadap persentase spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa.
Hasil uji lanjut BNT menunjukkan penggunaan atap rumbia menghasilkan motilitas spermatozoa kambing PE lebih baik (P0,05). Selanjutnya antara atap genteng dengan seng juga menunjukkan motilitas spermatozoa yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Penggunaan atap rumbia menghasilkan konsentrasi spermatozoa kambing PE paling baik (P0,05). Penggunaan atap rumbia, genteng, dan seng menghasilkan spermatozoa hidup dan abnormalitas yang tidak berbeda (P>0,05). Penggunaan bahan atap kandang rumbia memberikan pengaruh terbaik bila dibandingkan dengan menggunakan atap kandang seng dan genteng

PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN EKSTRAK JAHE PADA CAIRAN RUMEN KAMBING TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING (KCBK) DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK (KCBO)
SECARA IN VITRO

Oleh

Aris Andrian1, Ali Husni2, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan tingkat pemberian ekstrak jahe yang optimum dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik ransum secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober–November 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Unila, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 macam level ekstrak jahe yang ditambahkan ke dalam media fermentor dan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (Kontrol); R1 = Ransum basal + 25 ppm ekstrak jahe; R2 = Ransum basal + 50 ppm ekstrak jahe; R3 = Ransum basal + 75 ppm ekstrak jahe; R4 = Ransum basal + 100 ppm ekstrak jahe;R5 = Ransum basal + 125 ppm ekstrak jahe; R6 = Ransum basal + 150 ppm ekstrak jahe; R7 = Ransum basal + 175 ppm ekstrak jahe; R8 = Ransum basal + 200 ppm ekstrak jahe. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penembahan ekstrak jahe yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Penggunaan ekstrak jahe pada level yang berbeda-beda berpengaruh sangat nyata (P2 dengan koefisien determinasinya (R2)sebesar 48,57 % dan nilai optimum terdapat pada penggunaan 50 ppm ekstrak jahe; (2) Penggunaan ektrak jahe pada level yang berbeda-beda berpengaruh sangat nyata (P2 dengan koefisien determinasinya (R2)sebesar 57,32 %; dan nilai optimum terdapat pada penggunaan 42,5 ppm ekstrak jahe; (3) Tingkat pemberian ektrak jahe yang terbaik sebagai agensia defaunasi yaitu pada penggunaan 75 ppm, karena nilainya lebih besar daripada R0 (kontrol).

PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN EKSTRAK JAHE PADA CAIRAN RUMEN KAMBING TERHADAP PRODUKSI VOLATILE FATTY ACID (VFA), KADAR AMONIA (NH3), DAN POPULASI PROTOZOA SECARA IN VITRO

Oleh

Joko Suseno1, Erwanto2, dan Liman2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak jahe yang optimum dalam ransum terhadap VFA, NH3, dan populasi protozoa dalam cairan rumen secara in vitro; Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober–November 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Unila, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 macam level ekstrak jahe yang ditambahkan ke dalam media fermentor dan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (Kontrol); R1 = Ransum basal + 25 ppm ekstrak jahe; R2 = Ransum basal + 50 ppm ekstrak jahe; R3 = Ransum basal + 75 ppm ekstrak jahe; R4 = Ransum basal + 100 ppm ekstrak jahe;R5 = Ransum basal + 125 ppm ekstrak jahe; R6 = Ransum basal + 150 ppm ekstrak jahe; R7 = Ransum basal + 175 ppm ekstrak jahe; R8 = Ransum basal + 200 ppm akstrak jahe. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penambahan ekstrak jahe yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) pengaruh pemberian ekstrak jahe berpengaruh nyata (P2= 6,99%) pada kadar VFA berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 93,899 + 0,697X – 0,003X2, berpengaruh nyata (P2= 37,90% ) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 10,004 + 0,009X, berpengaruh sangat nyata (P2= 20,24% ) terhadap populasi protozoa berpola linier dengan persamaan Ŷ = 576,877-0,570X; (2) tingkat penambahan ekstrak jahe dalam ransum pada dosis 0–200 ppm menunjukkan tingkat optimum terhadap produksi VFA pada dosis 116 ppm dengan nilai sebesar 134,383 mM.

PERBANDINGAN PERSENTASE HETEROSIS BOBOT SAPIH, PERTUMBUHAN SETELAH SAPIH, DAN BOBOT SETAHUNAN KAMBING BOERAWA ANTARA KELAHIRAN I DAN
II DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Maryanti1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2

ABSTRAK

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk : (1) mengetahui bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa, (2) membandingkan bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa antara kelahiran pertama dan kedua, (3) membandingkan persentase heterosis bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa antara kelahiran pertama dan kedua.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan periode kelahiran (pertama dan kedua), dan kelompok pejantan Boer (I = Rambo; II = Suntory; III = Seno). Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa beturut-turut adalah 23,798±1,142 kg; 0,091±0,005 kh/hari; 46,049±1,562 kg. Hasil analisis ragam menunjukkan periode kelahiran berpengaruh (P0,05) terhadap pertumbuhan setelah sapih dan persentase heterosis pertumbuhan setelah sapih kambing Boerawa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih pada kelahiran kedua (25,604±1,611 kg) lebih tinggi (P

PERBANDINGAN RESPONS FISIOLOGIS BROILER FASE FINISHER PADA KANDANG PANGGUNG DAN POSTAL

Oleh

Muhammad Yunus1, Sri Suharyati2, dan Rr. Riyanti2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perbedaan respons fisiologis (frekuensi pernafasan, temperatur rektal, total sel darah merah, total sel darah putih, dan kadar Hb) broiler fase finisher pada kandang panggung dan postal dan (2) mengetahui respons fisiologis yang lebih baik pada broiler yang dipelihara di kandang panggung atau kandang postal.
Penelitian ini dilaksanakan mulai 18 April–19 Mei 2006, bertempat di kandang milik Rama Jaya Farm Desa Binong, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Lampung Selatan.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan studi kasus di kandang Rama Jaya Farm menggunakan broiler sebanyak 5.700 ekor (3.000 ekor pada kandang postal dan 2.700 ekor pada kandang panggung) terdiri atas 2 perlakuan, yaitu jenis kandang panggung (P1) dan kandang postal (P2). Untuk mendapatkan data respons fisiologis diambil 2% dari populasi yang digunakan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf kepercayaan 5%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda nyata (Pbroiler fase finisher, akan tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap frekuensi pernafasan, total sel darah merah (SDM), total sel darah putih (SDP) dan kadar hemoglobin (Hb) broiler fase finisher yang dipelihara pada kandang panggung dan kandang postal.

PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN CAMPURAN KUNYIT
DAN DAUN SIRIH MELALUI AIR MINUM TERHADAP BOBOT
POTONGAN-POTONGAN KARKAS BROILER
Oleh
Ahmad Firdaus1, Khaira Nova2, dan Syahrio Tantalo2
ABSTRAK
Pemberian antibiotik yang melebihi ambang batas dapat meninggalkan residu antibiotik pada daginbg broiler dan dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan antibiotik adalah pemanfaatan tanaman obat-obatan seperti kunyit dan daun sirih. Kunyit (Curcuma domestika) dan daun sirih (Piper Betle Linn) merupakan tanaman obat-obatan tradisional yang diduga berpotensi memacu pertumbuan.
Pertumbuhan ayam broiler yang cepat ditunjukkan dengan pencapaian bobot tubuh yang tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap bobot karkas yang dihasilkan. Semakin tinggi bobot hidup maka bobot karkas semakin tinggi pula, yang berlaku juga pada potongan-potongan karkasnya. Karkas merupakan salah satu faktor yang memengaruhi nilai produksi seekor ternak, karena karkas merupakan bagian yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibandingkan dengan bagian nonkarkas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan campurankunyit dan daun sirih melalui air minum terhadap bobot potongan-potongan karkas broiler, dan penggunaan level terbaik terhadap bobot potongan-potongan karkas broiler dibandingakan dengan perlakuan kontrol.
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan yaitu R0 (air minum biasa), R1 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 10 g daun sirih/600 ml), R2 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 20 g daun sirih/600 ml), R3 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 30 g daun sirih/600 ml). Masing-masing perlakuan diulang lima kali dengan satu satuan percobaan terdiri dari empat ekor ayam. Ayam penelitian yang digunakan 80 ekor broiler strain Lohmann unsexed yang ditempatkan secara acak dalam 20 petak kandang. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 0,05 atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air rebusan campuran kunyit dan daun sirih tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot hidup, bobot karkas, bobot potongan dada, bobot paha atas, bobot paha bawah, bobot sayap, dan bobot punggung broiler.

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION, DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR SAPI LIMOUSIN SELAMA PENYIMPANAN
Oleh

Kuswanto1, Sri Suharyati2, dan Purnama Edi Santosa2

ABSTRAK
Berbagai cara telah dilakukan untuk mempertahankan semen segar tetap dalam kondisi baik tanpa mengurangi kualitasnya. Salah satu cara yang digunakan agar semen yang dihasilkan dapat digunakan sewaktu-waktu dan induk yang di IB dalam jumlah banyak yaitu dengan cara pengenceran.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen cair sapi Limousin selama penyimpanan; (2) Mengetahui pengencer terbaik yang mampu mempertahankan kualitas semen cair sapi Limousin selama penyimpanan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan bahan pengencer: P1 = AndroMed®, P2 = Stock Solution, dan P3 = susu skim, dengan 4 kali koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh diuji homogenitas, additivitas, dan normalitas, selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, jika perlakuan menunjukkan pengaruh dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil uji lanjut BNT menunjukan perbedaan sangat nyata (P® dan stock solution dengan susu skim terhadap motilitas spermatozoa pada penyimpanan 0–18 jam, sedangkan antara AndroMed® dan stock solution menunjukkan perbedaan sangat nyata (P0,05) pada penyimpanan 12 jam. Pada penyimpanan 12 dan 18 jam hasil uji lanjut m,enunjukkan adanya perbedaan sangat nyata (P® dan stock solution dengan susu skim terhadap persentase hidup spermatozoa, berbeda sangat nyata (P® dengan stock solution pada penyimpanan 18 jam dan berbeda nyata (P>0,05) antara stock solution dan susu skim pada penyimpanan 15 jam, dan sangat nyata (Pstock solution dan susu skim pada penyimpanan 18 jam.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengencer AndroMed® memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase motilitas dan persentase hidup spermatozoa semen cair sapi Limousin selama penyimpanan

PERBANDINGAN PERFORMANS PERTUMBUHAN ANTARA
KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING BOERAMBON UMUR
1–6 BULAN DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Nugroho Candra Wibowo1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2

ABSTRAK

Rendahnya tingkat pertumbuhan kambing lokal disebabkan oleh masih rendahnya mutu genetik kambing lokal. Peningkatan mutu genetik kambing lokal dapat ditempuh melalui persilangan. Persilangan yang dilakukan di Lampung adalah persilangan antara kambing lokal dengan pejantan Boer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan setelah sapih per minggu serta ukuran-ukuran tubuh pada kambing Boerawa dan kambing Boerambon di Desa Campang Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini menggunakan 60 ekor kambing Boerawa yang terdiri atas 30 ekor kambing Boerawa jantan dan 30 ekor kambing Boerawa betina serta 60 ekor kambing Boerambon yang terdiri atas 30 ekor kambing Boerambon jantan dan 30 ekor kambing Boerambon betina berumur 1 hari sampai 6 bulan. Penelitian ini mengunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat recording pemeliharaan, menimbang, dan mencatat data-data yang berkaitan dengan bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan sesudah sapih serta ukuran-ukuran tubuh yang meliputi lingkar dada, tinggi gumba, panjang badan, dan tinggi pinggul kambing Boerawa dan kambing Boerambon.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan pertumbuhan setelah sapih kambing Boerawa berturut-turut adalah 3,28 ± 0,119 kg; 23,39 ± 2,601 kg; 0,168 ± 0,021 kg; 0,141 ± 0,03 kg. Rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan pertumbuhan setelah sapih kambing Boerambon berturut-turut adalah 3,09 ± 0,209 kg; 20,91 ± 2,386 kg; 0,149 ± 0,019 kg; 0,127 ± 0,032 kg. Rata-rata bobot lahir cempe Boerawa jantan (3,346 ± 0,133 kg) lebih tinggi (P £ 0,01) daripada cempe Boerambon jantan (3,088 ± 0,193 kg), dan rata-rata bobot lahir cempe Boerawa betina (3,222 ± 0,105 kg) juga lebih tinggi (P £ 0,01) daripada cempe Boerambon betina (3,081 ± 0,225 kg). Rata-rata pertumbuhan sebelum sapih anak kambing Boerawa jantan (0,170 ± 0,021 kg/hari) lebih tinggi (P £ 0,01) daripada anak kambing Boerambon jantan (0,149 ± 0,025 kg/hari), dan rata-rata pertumbuhan sebelum sapih anak kambing Boerawa betina (0,166 ± 0,021 kg/hari) juga lebih tinggi (P £ 0,01) daripada anak kambing Boerambon betina (0,148 ± 0,013 kg/hari).

PENGARUH PERIODE KELAHIRAN TERHADAP PERSENTASE HETEROSIS BOBOT LAHIR, BOBOT SAPIH, DAN PERTUMBUHAN SEBELUM SAPIH PADA KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
RINA BUDIASIH
ABSTRAK
Perbaikan mutu genetik kambing PE dapat dilakukan melalui persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing PE betina yang hasil silangannya dinamakan kambing Boerawa. Salah satu tujuan persilangan adalah memanfaatkan heterosis sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; (2) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap persentase heterosis bobot lahir, persentase bobot sapih, dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu periode kelahiran pertama, periode kelahiran kedua, dan periode kelahiran ketiga. Setiap perlakuan terdiri atas 30 kali ulangan dengan induk sebagai ulangan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dianalisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa adalah 3,15 ± 0,09 kg, 20,71± 0,89 kg , dan 0,15 ± 0,01 kg/hari. Hasil penelitian juga menunjukkan periode kelahiran sangat berpengaruh (P0,05) terhadap bobot sapih dan persentase heterosis bobot sapih serta pertumbuhan sebelum sapih kambing dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa. Persentase heterosis bobot lahir periode kelahiran ketiga (3,84 ± 0,63 % ) lebih tinggi (P
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa cenderung lebih tinggi dari rata-rata tetuanya. Selain itu, semakin tua umur induk maka cempe yang dilahirkan semakin berat.

PERBANDINGAN PERTUMBUHAN BROILER FASE STARTER
(UMUR 1–14 HARI) PADA KANDANG POSTAL
DAN KANDANG PANGGUNG
Oleh
Gerry Ihsan1, Riyanti2, dan Dian Septinova2
ABSTRAK
Pemeliharaan broiler fase starter di PT. Rama Jaya Farm selama 14 hari. Hal ini merupakan fenomena baru dalam manajemen pemeliharaan broiler karena pada broiler klasik fase starter dipelihara sampai umur 4 minggu (28 hari). Sampai saat ini, respons pertumbuhan broiler fase starter ( umur 1–14 hari) yang dipelihara pada kandang postal dan kandang panggung di PT. Rama Jaya Farm belum diketahui.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbedaan respon pertumbuhan broiler fase starter (umur 1–14 hari) pada kandang panggung dan kandang postal dan (2) mengetahui jenis kandang yang terbaik untuk digunakan pada pemeliharaan broiler fase starter.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di kandang PT. Rama Jaya Farm menggunakan broiler sebanyak 5.792 ekor (3.046 ekor pada kandang postal dan 2.746 ekor pada kandang panggung) terdiri atas 2 perlakuan, yaitu jenis kandang postal (P1) dan kandang panggung (P2). Masing-masing perlakuan menggunakan 30 petak kandang dengan kepadatan pada masing-masing kandang adalah 10 ekor/m2. Bobot rata-rata DOC pada kandang postal 45,85 ± 1,24 g dengan KK sebesar 2,71 % dan pada kandang panggung 44,89 ± 1,43 g dengan KK sebesar 3,18 %. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf kepercayaan 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi ransum, pertambahan berat tubuh, dan konversi ransum broiler fase starter (umur 1–14 hari) yang dipelihara pada kandang postal dan kandang panggung tidak berbeda nyata (P>0,05).

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN POD KAKAO TERFERMENTASI PADA RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR VFA, DAN NH3 CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
Mahbub Abdul Fatah 1), Erwanto 2), dan Yusuf Widodo 2)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penambahan pod kakao terfermentasi oleh Aspergillus niger pada ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro; (2) mencari level optimum dari penambahan pod kakao terfermentasi oleh Aspergillus niger pada ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tingkat penambahan pod kakao yang difermentasi oleh Aspergillus niger dalam ransum dan masing-masing perlakuan terdiri dari empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: R0 = Ransum basal (kontrol); R1 = R0 + 5% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; R2 = R0 + 10% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; R3 = R0 + 15% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; dan R4 = R0 + 20% pod kakao terfermentasi dari BK ransum, sehingga didapat 20 unit perlakuan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas dan uji lanjut dengan polinomial ortogonal dan analisis regresi pada taraf nyata 5% dan atau 1%, apabila hasil analisis berbeda nyata dan atau sangat nyata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penambahan pod kakao terfermentasi menggunakan Aspergillus niger tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap KCBK, KCBO dan kadar VFA cairan rumen secara in vitro; (2) penambahan pod kakao terfermentasi menggunakan Aspergillus niger berpengaruh sangat nyata (P3 cairan rumen secara in vitro berpola linier dengan persamaan Ŷ = 17,303 – 0,3X.

PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KANDUNGAN KOLESTEROL, TRIGLISERIDA, HDL, DAN LDL, DALAM DARAH PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) JANTAN
Oleh
Panji Kurniawan1), Muhtarudin2), dan Sri Suharyati2)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan: (1) pengaruh hidrolisat bulu ayam dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE; (2) pengaruh penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro organik (Mg-PUFA dan Ca-PUFA) dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE; (3) pengaruh penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral mikro (Zn-lisinat, Cu-lisinat, Cr-lisinat, dan Se-lisinat) dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE;
Penelitian dilaksanakan Oktober–Desember 2005 di Desa Sinar Mulya, Natar, Lampung Selatan. Analisis data dilakukan di Laboratorium Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Menggunakan 20 ekor kambing PE jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Pengelompokkan berdasar bobot tubuh.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah RAK dengan empat perlakuan dan lima kelompok sebagai. Ransum yang diberikan R0 = mengandung 20% rumput lapang + 80% Konsentrat (35% BK onggok, 10% BK dedak, 22,5% BK bungkil kelapa, 10% BK jagung, 1% BK urea, 1% BK CaCO3, dan 0,5% BK molasses); R1 = R0 + 3% hidrolisat bulu ayam dari BK ransum; R2 = R1 + 0,1% Ca-PUFA dan 0,05% Mg-PUFA; R3 = R2 + Zn-lisinat 1,8 ml/kg BK ransum, Cu-lisinat 0,4 ml/kg BK ransum, Cr-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum, dan Se-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum. Data dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu, dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) penggunaan hidrolisat bulu ayam sebanyak 3 % ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida darah kambing PE jantan; (2) penggunaan hidrolisat bulu ayam beserta mineral makro (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) dalam ransum berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada kolesterol, dan trigliserida dalam darah kambing PE jantan, tetapi berpengaruh sangat nyata (P0,05) pada kolesterol, trigliserida, dan HDL darah kambing PE jantan, tetapi berpengaruh sangat nyata (P

PERBANDINGAN PERFORMANS BROILER FASE FINISHER
(15–28 HARI) PADA KANDANG PANGGUNG DAN KANDANG LITTER
Oleh
Triyanto1, Tintin Kurtini2, dan Dian Septinova2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui adakah perbedaan performans broiler fase finisher (15–28 hari) yang dipelihara pada kandang panggung dan kandang litter; (2) mengetahui jenis kandang yang terbaik terhadap performans broiler fase finisher (15–28 hari).
Penelitian ini dilaksanakan di kandang ayam milik PT. Rama Jaya, Desa Suka Marga, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan penelitian berlangsung selama 4 minggu pada 21 April–19 Mei 2006 (pengambilan data pada 6 Mei–19 Mei 2006).
Penelitian ini merupakan studi eksperimental membandingkan penampilan broiler yang dipelihara pada kandang litter dan kandang panggung. Pada kandang panggung jumlah ayam yang digunakan sebanyak 2.746 ekor, dengan jumlah petak kandang sebanyak 30 petak, yang masing-masing berisi 91 ekor (kepadatannya 10 ekor per meter persegi. Pada kandang litter ayam yang digunakan untuk penelitian sebanyak 3.046 ekor, dengan jumlah petak sebanyak 30 petak, yang masing-masing berisi 101ekor (kepadatannya 10 ekor per meter persegi). Pengambilan sample pada kedua kandang sebanyak 20 %. Pengujian data dilakukan dengan uji t-student pada taraf nyata 5 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan yang nyata (Pbroiler fase finisher (15–28 Hari) pada kandang panggung dan kandang litter, tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) pada konversi ransum dan IOFC; (2) pertambahan berat tubuh broiler fase finisher (15–28 hari) yang dipelihara pada kandang panggung nyata (Plitter.

PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN
MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN
ZAT-ZAT MAKANAN PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Amru Muhlisin1, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bulu ayam dan mineral organik (Ca-PUFA, Mg-PUFA, Zn-lisinat, Cu-lisinat, Cr-lisinat, Se-lisinat) terhadap kecernaan zat-zat makanan pada kambing Peranakan Ettawa jantan dan mengetahui perlakuan pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik yang terbaik terhadap kecernaan zat-zat makanan pada kambing Peranakan Ettawa jantan.
Ternak yang digunakan adalah kambing Peranakan Ettawa jantan berjumlah 20 ekor. Pengelompokkan berdasarkan bobot tubuh. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = ransum basal (20% rumput lapang + 80% konsentral) ; R1 = ransum basal + 3% bulu ayam; R2 = R1+ mineral makro organik; R3 = R2 + mineral mikro organik. Data yang diperoleh dilakkukan uji normalitas, homogenitas, dan aditifitas, untuk memenuhi asumsi analisis ragam kemudian dilakukan uji lanjut dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5% dan 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) perlakuan penambahan bulu ayam dan mineral organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P

NILAI PARAMETER KARKAS PADA BANGSA SAPI
PERSILANGAN DAN BOBOT TUBUH YANG BERBEDA
DI RUMAH POTONG HEWAN KARAWACI
KABUPATEN TANGERANG
Oleh
Ahda Harpen¹, Idalina Haris², dan Ali Husni²
ABSTRAK
Sapi persilangan Brahman Cross memiliki keunggulan secara genetik karena pertumbuhannya cepat, tahan terhadap kondisi daerah tropis, serta memiliki pertumbuhan dan bobot tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi lokal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada interaksi antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh yang berbeda terhadap nilai parameter karkas (persentase karkas, forequarter, dan hindquarter). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah terdapat interaksi antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh yang berbeda terhadap nilai parameter karkasnya.
Penelitian dilaksanakan pada April–Mei 2006 yang bertempat di Rumah Potong Hewan Karawaci, Jl. Panunggangan Barat No. 99, Desa Cikokol, Kecamatan Karawaci, Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (2 x 3) dengan 28 kali ulangan. Faktor pertama adalah bangsa (A) yaitu sapi Brahman Ongole kastrasi (A1) dan Brahman Shorthon kastrasi (A2). Faktor kedua adalah bobot tubuh (B) dengan kisaran 451–500 kg (B1), 501–550 kg (B2), dan 551–600 kg (B3). Jadi, sapi yang digunakan untuk sampel dalam penelitian ini sebanyak 168 ekor.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat interaksi yang sangat nyata (Pforequarter tertinggi pada A1B3 (Brahman Ongole bobot 551–600 kg), dan persentase hindquarter tertinggi terdapat pada A1B1, A2B2, dan A2B3.

PENGARUH PERIODE KELAHIRAN TERHADAP PERSENTASE HETEROSIS BOBOT LAHIR, BOBOT SAPIH, DAN PERTUMBUHAN SEBELUM SAPIH PADA KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
RINA BUDIASIH
ABSTRAK
Perbaikan mutu genetik kambing PE dapat dilakukan melalui persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing PE betina yang hasil silangannya dinamakan kambing Boerawa. Salah satu tujuan persilangan adalah memanfaatkan heterosis sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; (2) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap persentase heterosis bobot lahir, persentase bobot sapih, dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu periode kelahiran pertama, periode kelahiran kedua, dan periode kelahiran ketiga. Setiap perlakuan terdiri atas 30 kali ulangan dengan induk sebagai ulangan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dianalisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa adalah 3,15 ± 0,09 kg, 20,71± 0,89 kg , dan 0,15 ± 0,01 kg/hari. Hasil penelitian juga menunjukkan periode kelahiran sangat berpengaruh (P0,05) terhadap bobot sapih dan persentase heterosis bobot sapih serta pertumbuhan sebelum sapih kambing dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa. Persentase heterosis bobot lahir periode kelahiran ketiga (3,84 ± 0,63 % ) lebih tinggi (P
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa cenderung lebih tinggi dari rata-rata tetuanya. Selain itu, semakin tua umur induk maka cempe yang dilahirkan semakin berat.

ESTIMASI PARAMETER GENETIK SIFAT-SIFAT PERTUMBUHAN KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Reni Oktora1, A.Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Seleksi pada ternak selalu dilakukan pada sifat-sifat yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain bobot sapih, bobot setahunan, serta pertumbuhan sebelum dan sesudah sapih, yang semua itu tercakup dalam parameter genetik. Nilai-nilai parameter genetik sifat-sifat pertumbuhan dalam suatu populasi ternak mencerminkan keragaman genetik suatu populasi, sehingga parameter genetik dapat menggambarkan potensi genetik sifat-sifat pertumbuhan ternak. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui nilai heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan kambing Boerawa; (2) mengetahui nilai ripitabilitas sifat- sifat pertumbuhan kambing Boerawa;(3) mengetahui nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahunan serta antara pertambahan bobot sebelum sapih dan pertambahan bobot sesudah sapih.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dengan syarat sudah melahirkan minimal dua kali dan 30 ekor anak kambing Boerawa. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan rakyat “Sri Rejeki” untuk melihat recording pemeliharaan, menimbang ternak, dan mencatat data-data yang berkaitan dengan sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, bobot setahunan, serta pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih dari setiap kambing yang telah ditandai dengan nomor kode.
Hasil penelitian menunjukkan nilai heritabilitas bobot sapih, bobot setahunan serta pertambahan bobot sebelum dan setelah sapih masing-masing adalah 0,32+0,36; 0,31+0,42; 0,43+0,38; 0,41+0,49. Nilai ripitabilitas bobot sapih, bobot setahunan, pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih adalah 0,30+0,21; 0,28+0,33; 0,32+0,27; 0,29+0,38. Nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahunan adalah 0,36+0,15; sedangkan nilai korelasi genetik antara pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih adalah 0,58+0,22. Seleksi kambing Boerawa pada lokasi penelitian ini sebaiknya didasarkan pada kriteria bobot sapih karena nilai heritabilitas cukup tinggi dan berkorelasi positif tinggi.

PENGARUH CARA PENGOLAHAN POD KAKAO DAN TINGKAT PENGGUNAAN DALAM RANSUM
TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH3, DAN VFA
CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
Gay Widya Himawan1, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh interaksi antara cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro; (2) mengetahui pengaruh cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama yaitu cara pengolahan pod kakao (P) terdiri atas tiga cara, masing-masing: P0 = tanpa pengolahan, P1 = dengan pengolahan amoniasi, dan P2 = dengan pengolahan silase. Faktor kedua yaitu tingkat penggunaan dalam ransum (T), masing-masing: T0 = 0%, T1 = 15%, dan T2 = 30%, sehingga didapat sembilan kombinasi perlakuan. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Kemudian data dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% apabila hasil analisis berbeda nyata dan atau sangat nyata.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Hasil uji BNT menunjukkan bahwa hasil rata-rata KCBK tertinggi diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa pengolahan dengan tingkat penggunaan sebesar 0% adalah sebesar 53,68% dan yang terendah diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 15% adalah sebesar 43,16%. Rata-rata KCBO tertinggi diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 30% adalah sebesar 54,03% dan yang terendah diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 15% adalah sebesar 46,67%. Rata-rata kadar NH3 tertinggi diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 30% adalah sebesar 12,16 mM dan yang terendah diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa perlakuan dengan tingkat penggunaan dalam ransum 40% adalah sebesar 5,24 mM. Rata-rata kadar VFA tertinggi diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa perlakuan dengan tingkat penggunaan 15% adalah sebesar 145 mM dan yang terendah diperoleh dari perlakuan amoniasi dengan tingkat pengggunaan dalam ransum sebesar 15% adalah sebesar 76,667 mM.

PENGARUH FERMENTASI POD KAKAO OLEH BERBAGAI JENIS KAPANG TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH­3, DAN VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
I Putu Astawa Adi Putra1, Mucharomah Prayuwidayati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan berbagai jenis kapang pada fermentasi pod kakao terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) cairan rumen, serta mengetahui jenis kapang terbaik dalam fermentasi pod kakao secara in vitro.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Universitas Lampung pada Maret—Mei 2006. Peubah yang diamati yaitu kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) cairan rumen secara in vitro. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 = Pod kakao tidak difermentasi, P1 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Aspergillus oryzae, P2 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger, P3 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Rhizopus oryzae, dan P4 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Trichoderma viride. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan fermentasi pod kakao berpengaruh sangat nyata (P3, dan volatile fatty acid (VFA). Kecernaan bahan kering (KCBK), bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) terbaik pada perlakuan P2 (Aspergillus niger).

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed (R), STOCK SOLUTION DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING BOER YANG DIBEKUKAN
Oleh
Dwi Budi Lestari 1, Sri Suharyati2, dan Madi Hartono2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution, dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen kambing Boer yang dibekukan; (2) mengetahui pengencer yang mempunyai pengaruh terbaik terhadap kualitas semen kambing Boer yang dibekukan. Penelitian ini dilaksanakan di IPMB Terbanggi Besar, Lampung Tengah.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan media pengencer, yaitu P1= AndroMed®, P2 = stock solution, P3 = Susu skim, dan 4 kali koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh pada penelitian ini diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas, selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5 dan atau 1% dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5 dan atau 1% untuk melihat perbedaan setiap perlakuan.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ketiga media pengencer berpengaruh nyata (P0,05) terhadap persentase abnormalitas spermatozoa kambing Boer setelah ekuilibrasi dan setelah pembekuan.
Hasil uji BNT AndroMed® dan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05) tetapi keduanya berbeda nyata (P
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa AndroMed® menunjukkan pengaruh terbaik (P® menunjukkan pengaruh terbaik (P

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING BOER SELAMA PENYIMPANAN
Oleh
Wensi Hendriyani1, Sri Suharyati2, dan Madi Hatono2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tiga media pengencer semen terhadap kualitas spermatozoa kambing Boer selama penyimpanan pada suhu 50 C. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan tiga jenis bahan pengencer sebagai perlakuan: P1 = AndroMedÒ, P2 = stock solution, dan P3 = susu skim serta empat kali waktu koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Perbedaan pengaruh dari perlakuan di uji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pengencer yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P
Penggunaan pengencer AndroMedÒ dan stock solution menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (PÒ dibanding stock solution menunjukkan pengaruh yang nyata (PÒ dan stock solution menunjukkan pengaruh yang nyata (PÒ dibandingkan dengan susu skim menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P stock solution dibandingkan susu skim terhadap persentase spermatozoa hidup.
Penggunaan media pengencer AndroMedÒ memberikan pengaruh yang terbaik terhadap persentase motilitas, dan persentase spermatozoa hidup ( 63,75 % dan 71,36 % ) sampai pengamatan 18 jam setelah pengenceran semen dibandingkan dengan pengencer stock solution dan susu skim.

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION, DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN SAPI LIMOUSIN YANG DIBEKUKAN
Oleh
Ervina Seprianti1, Sri Suharyati2, dan Purnama Edy Santosa2
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution, dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen sapi Limousin yang dibekukan.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan, yaitu AndroMed® (P1), stock solution (P2), dan susu skim (P3), dengan 4 kali waktu koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Perbedaan pengaruh dari perlakuan diuji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai media pengencer berpengaruh sangat nyata (Pthawing.
Uji lanjut BNT menunjukkan antara pengencer AndroMed® dengan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap motilitas dan persentase spermatozoa hidup setelah ekuilibrasi maupun setelah thawing, namun keduanya berbeda nyata (P® dengan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05), namun keduanya berbeda nyata dengan pengencer susu skim (Pthawing, pengencer stock solution dan susu skim tidak berbeda nyata (P>0,05) dan keduanya berbeda nyata dengan pengencer AndroMed® (P<0,05).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengencer AndroMed® memberikan pengaruh yang terbaik terhadap motilitas (48,13%), persentase spermatozoa hidup (55,53%), dan persentase abnormalitas spermatozoa (11,70%) pada semen sapi Limousin yang dibekukan dibandingkan dengan stock solution dan susu skim.

PENGARUH PENGOLAHAN PUCUK TEBU TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR NH3, DAN PRODUKSI VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh

R. Novi Yanti1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh jenis pengolahan (amoniasi, silase, dan hidrolisis) pucuk tebu terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3, dan produksi VFA cairan rumen secara in vitro; (2) menentukan satu jenis pengolahan terbaik pada pengolahan pucuk tebu terhadap KCBK, KCBO, Kadar NH3, dan produksi VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu R0 = pucuk tebu tanpa pengolahan; R1 = pucuk tebu dibuat amoniasi; R2 = pucuk tebu dibuat silase; R3 = pucuk tebu dihidrolisis dengan NaOH; masing-masing perlakuan terdiri atas lima kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Hasil analisis ragam terhadap suatu peubah dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% dan atau 1% untuk mengetahui perlakuan terbaik.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengolahan pucuk tebu secara amoniasi berpengaruh sangat nyata (P3, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan bahwa pengolahan pucuk tebu secara amoniasi adalah pengolahan terbaik berdasarkan produksi VFA dan kadar NH3.

PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH3, DAN PRODUKSI VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO

Oleh

Kristina Yanti1, Yusuf Widodo2, dan Muhtarudin2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum dan menentukan taraf optimum dari tingkat penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kadar NH3, dan Produksi VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R1 (70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum), masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian di analisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, kemudian dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 38,26%) terhadap kecernaan bahan kering ransum berpola linier dengan persamaan Ŷ = 37,739 + 0,094X; (2) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 38,36%) terhadap kecernaan bahan organik ransum berpola linier dengan persamaan Ŷ = 39,361 + 0,114X; (3) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 63,38%) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,935 + 0,143X; (4) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 90,19%) terhadap produksi VFA cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 96,600 + 4,660X – 0,100X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 23,30% dari BK ransum.

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN BLOTONG TERFERMENTASI OLEH YEAST Saccharomyces cerevicea PADA RANSUM TERHADAP NH3, KADAR VFA, KCBK, KCBO, CAIRAN RUMEN
SECARA IN VITRO
Oleh
Ni Komang Dewi Rahmayani1, M. Prayuwidayati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan blotong terfermentasi oleh Saccharomyces cerevicea pada ransum terhadap KCBK, KCBO, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro serta menentukan tingkat penambahan blotong yang paling optimum dalam ransum.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan. Tingkat penambahan blotong terfermentasi adalah R0 (ransum basal atau kontrol); R1 (R0 + 5 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R2 (R0 + 10 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R3 (R0 + 15 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R4 (R0 + 20 % blotong terfermentasi dari BK ransum), masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 % yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas dan normalitas, serta dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar VFA dan KCBO cairan rumen secara in vitro; (2) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea berpengaruh sangat nyata (P3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,035 + 0,237X; (3) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea berpengaruh sangat nyata (P

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN HIDROLISAT LIMBAH KEPALA UDANG DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO

Oleh

Sri Maryati1, Mucharomah Prayuwidayati2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang yang optimum dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan pada Juni–Juli 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (30 % hijauan dan 70 % konsentrat); R1 = Ransum basal + 1,5 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R2 = Ransum basal + 3,0 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R3 = Ransum basal + 4,5 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R4 = Ransum basal + 6,0 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas, homogenitas dan aditivitas. Kemudian data dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1% dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi untuk mengetahui tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang yang terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengaruh tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 55,44 %) terhadap kecernaan bahan kering berpola linier dengan persamaan Ŷ = 43,484 + 0,962 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 30,17%) terhadap kecernaan bahan organik berpola linier dengan persamaan Ŷ = 45,624 + 0,945 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 71,14 %) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,721 + 0,744 X, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi VFA cairan rumen secara in vitro; (2) tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang dalam ransum pada level 0–6 % belum menunjukkan tingkat optimum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.

PENGARUH WAKTU PEMBERIAN PAKAN DAN PENCUKURAN TERHADAP RESPONS TERMOREGULASI
PADA DOMBA GARUT BETINA
Oleh

Dani Kurniawan1, Arif Qisthon2, dan Sri Suharyati2.

ABSTRAK

Berbagai metode telah dilakukan untuk mengurangi cekaman panas, seperti pemberian naungan, penyiraman air, pemberian air minum dingin, mengatur perlakuan pemberian pakan, dan pencukuran bulu yang berkaitan dengan perolehan panas dari dalam tubuh dan tambahan panas (heat gain) dari lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi atau tidak dan untuk mengetahui perlakuan terbaik dari waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap respons termoregulasi (konsumsi air minum, konsumsi pakan, frekuensi pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan suhu rektal) pada domba Garut betina. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat interaksi dan perlakuan terbaik antara waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap respons termoregulasi pada domba Garut betina.
Ternak yang digunakan adalah 20 ekor domba Garut betina umur 2–2,5 tahun, serta memiliki berat tubuh 23–27 kg. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan pola faktorial 2 X 2. Faktor pertama adalah pemberian waktu pakan (W), yaitu pemberian pakan pukul 08.00 dan 14.00 WIB (W0), dan pemberian pakan pukul 20.00 dan 00.00 WIB (W1). Faktor kedua adalah pencukuran bulu (P), yaitu domba dengan bulu dicukur (P0), dan domba dengan bulu tidak dicukur (P1).
Data yang diperoleh (konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung) dianalisis varian, namun sebelumnya diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan (Sastrosupadi, 2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung. Waktu pemberian pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung. Pencukuran bulu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, tetapi berpengaruh nyata pada suhu rektal (P

PENGGUNAAN HIDROLISAT LIMBAH KEPALA UDANG TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, PRODUKSI VOLATILE FATTY ACID, DAN KADAR AMONIA SECARA IN VITRO
Oleh
Seli Erlina1, Muhtarudin2, dan Mucharomah Prayuwidayati2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hidrolisisat limbah kepala udang terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) serta mengetahui jenis bahan kimia yang memberikan hasil terbaik dalam proses hidrolisis terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), produksi volatile fatty acid (VFA), dan kadar amonia (NH3) secara in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan pada 24 April–10 Mei 2006, di laboratorium Makanan Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan, yaitu R0 = Ransum basal (terdiri atas 30% hijauan dan 70% konsentrat); R1 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang tanpa hidrolisis; R2 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis HCl 6%; R3 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis NaOH 3%; dan R4 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis H2O2 5%. Data yang diperoleh diuji homogenitas, normalitas, dan aditifitas serta dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mengetahui perlakuan terbaik.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa hidrolisis limbah kepala udang di dalam ransum perlakuan berpengaruh sangat nyata (P3. Hasil uji lanjut BNT menunjukkan bahwa hidrolisis limbah kepala udang dengan menggunakan H2O2 5% di dalam ransum perlakuan adalah hidrolisis terbaik berdasarkan KCBO dan NH3, akan tetapi KCBK yang didapatkan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan R1, R2, dan R3. Hidrolisis limbah kepala udang dengan menggunakan NaOH 3% dalam ransum menghasilkan VFA tertinggi.

PERBANDINGAN DAYA PRODUKTIVITAS INDUK KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH
DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Muhammad Aziz Shosan1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bobot sapih pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih pada kambing Boerawa dan kambing Peranakan Etawah, membandingkan nilai MPPA bobot sapih pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, membandingkan nilai efisiensi reproduksi pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, dan membandingkan nilai daya produktivitas induk individu-individu pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah.
Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2006, di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan untuk mendapatkan materi penelitian berupa rekording perkawinan, kelahiran, bobot lahir cempe, dan bobot sapih cempe dari 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE yang telah melahirkan dua kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa 0,32 ± 0,119 dan nilai bobot sapih kambing PE 0,207 ± 0,120. Hasil uji t-student menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 22,704 ± 0,758 kg dan 17,696 ± 0,464 kg; Rata-rata nilai MPPA bobot sapih kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 22,705 ± 0,708 kg dan 17,696 ± 0,412 kg; Rata-rata nilai ER kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,10) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 113,171 ± 6,6 % dan 109,04 ± 9,72 %; Nilai DPI kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE yakni 25,687 ± 1,5 kg dan 19,63 ± 2,02 kg. Nilai DPI tertinggi pada kelompok kambing Boerawa sebesar 28,72 kg dicapai oleh kambing dengan kode BQ1, sedangkan nilai DPI terendah adalah kambing dengan kode BH1 sebesar 22,84 kg. Nilai DPI tertinggi pada kelompok kambing PE sebesar 25,59 kg dicapai oleh kambing dengan kode PG1, sedangkan nilai DPI terendah adalah kambing dengan kode PJ2 sebesar 16,75 kg.

PERBANDINGAN INDEKS PRODUKTIVITAS INDUK PADA KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN BOBOT UMUR SETAHUNAN DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
I Gusti Nyoman Dedi D1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Induk merupakan kemampuan induk untuk menghasilkan anak dengan bobot badan pada umur tertentu. Tujuan penelitian ini adalah (1) membandingkan rata-rata bobot setahunan anak per induk pada kambing Boerawa dengan kambing PE; (2) membandingkan rata-rata jarak beranak kambing Boerawa dengan kambing PE; (3) membandingkan rata-rata jumlah anak per kelahiran pada kambing Boerawa dengan kambing PE; (4) membandingkan rata-rata nilai IPI berdasarkan bobot setahunan pada kambing Boerawa dengan kambing PE.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE dengan syarat paling sedikit sudah pernah melahirkan dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan, yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat recording dan mencatat data-data yang berkaitan dengan jarak beranak, jumlah anak per kelahiran, bobot setahunan, serta manajemen pemeliharaan yang diterapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot setahunan kambing Boerawa (38,383±0,941 kg ) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (32,916±0,755 kg); Rata-rata jarak beranak kambing Boerawa (9,05±0,442 bulan) lebih rendah (P≤0,01) daripada kambing PE (9,70±0,857 bulan); Rata-rata jumlah anak per kelahiran induk kambing Boerawa (2,133±0,257 ekor) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (1,723±0,264 ekor); Rata-rata IPI kambing Boerawa (108,577±12,427 kg) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (70,597±11,661 kg); Nilai IPI tertinggi pada kambing Boerawa yaitu sebesar 136,852 dan terendah 87,864 kg, sedangkan IPI tertinggi pada kambing PE yaitu sebesar 101,271 dan terendah 53,409 kg.

PERBANDINGAN NILAI PEMULIAAN INDUK KAMBING BOERAWA DENGAN INDUK KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN BOBOT SAPIH DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Elly Kurnia1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2

ABSTRAK

Nilai Pemuliaan (NP) merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan genetik ternak untuk suatu sifat tertentu yang diberikan secara relatif atas dasar kedudukannya di dalam populasinya.Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui dan membandingkan rata-rata bobot sapih kambing Boerawa dengan kambing PE; (2) mengetahui heritabilitas bobot sapih kambing Boerawa dan kambing PE; (3) mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa dan kambing PE; (4) mengetahui dan membandingkan nilai pemuliaan (NP) kambing Boerawa dengan kambing PE.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE yang telah melahirkan paling sedikit dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei, yaitu mencatat data sekunder berupa recording kambing milik peternak yang meliputi bobot sapih, bobot lahir, umur induk, dan tipe kelahiran, serta data primer yaitu mengamati manejemen pemeliharaan, pemberian pakan, dan pencegahan penyakit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih terkoreksi kambing Boerawa (22,705+0,76 kg) lebih tinggi (P<0,01) daripada kambing PE (17,696+0,46 kg). Nilai heritabilitas kambing Boerawa dan kambing PE masing-masing sebesar 0,34+0,29 dan 0,19+0,16. Nilai ripitabilitas kambing Boerawa dan kambing PE masing-masing sebesar 0,30 dan 0,24. Rata-rata nilai pemuliaan (NP) bobot sapih kambing Boerawa (22,705+0,46 kg) lebih tinggi (P<0,01) daripada kambing PE (17,696+0,49 kg). Nilai NP kambing Boerawa tertinggi dicapai oleh induk dengan kode BD2, yaitu sebesar 23,547 kg sedangkan NP tertinggi
kambing PE dicapai oleh induk dengan kode PQ1 yaitu sebesar 17,959 kg.

POTENSI HIJAUAN DI BAWAH NAUNGAN KELAPA SAWIT DI PTPN VII UNIT USAHA REJOSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

Riri Deasy Hutari1, Liman2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi hijauan pakan dan kapasitas tampung ternak, komposisi botani, dan mengetahui kualitas hijauan (kadar protein kasar dan serat kasar) berdasarkan produksi hijauan pakan ternak di perkebunan sawit PTPN VII Unit Usaha Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan pada umur sawit yang berbeda.
Penelitian ini dilaksanakan pada April–Juni 2006, bertempat di areal perkebunan kelapa sawit PTPN VII Unit Usaha Rejosari, Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan analisis kualitas hijauan berupa protein kasar dan serat kasar dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat produksi hijauan segar, kapasitas tampung ternak, komposisi botani, kadar protein kasar dan serat kasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengukuran hijauan langsung di areal perkebunan sawit. Data sekunder diperoleh dengan cara wawancara langsung berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan perkebunan sawit seluas 1.152 hektar mampu memproduksi 80.575,32 ton/th hijauan segar, dengan kapasitas tampung ternak 5.518,8 UT/th, dan komposisi botani yang terdapat pada tanaman sawit tua 13,84% Cyclosorus aridus, 74,24% Panicum muticum, 6,15% Chamaecrista rotundifolia, dan 5,77% Centrosema pubescens, pada sawit produktif terdiri atas 19,98% Mikania cordata, 35,15% Centrosema plumieri, 27,63 % Centrosema pubescens, dan 17,24% Ottochloa nodosa, pada sawit muda 100% terdiri atas Peuraria phaseoloides.
Kualitas hijauan pada tanaman sawit tua mengandung protein kasar 11,4241 % dan serat kasar 25,3945 %, tanaman sawit produktif mengandung protein kasar 14,3063 % dan serat kasar 22,7560 %, dan tanaman sawit muda mengandung protein kasar 17,7188 % dan serat kasar 20,5250 %.

SELEKSI KAMBING PERAH PEJANTAN SAANEN
BERDASARKAN NILAI ESTIMATED TRANSMITTING ABILITY PRODUKSI SUSU DENGAN METODE DAUGHTER COMPARISON
DI PT. TAURUS DAIRY FARM SUKABUMI JAWA BARAT
Oleh
Mutia Maryanti1­­­, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Protein hewani dibutuhkan manusia untuk pertumbuhan, menjaga kesehatan tubuh, dan pengembangan daya kreativitas manusia. Protein hewani tersebut berasal dari hasil ternak yang berupa daging, susu, dan telur. Pemenuhan kebutuhan produk-produk peternakan tersebut terus-menerus diupayakan oleh Pemerintah Indonesia. Salah satu sumber protein hewani dengan nilai biologis yang tinggi adalah susu. Susu dapat dihasilkan oleh sapi, kerbau, maupun kambing. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai ETA (Estimated Transmitting Ability) masing-masing pejantan yang diestimasi berdasarkan produksi susu anak-anak betinanya sebagai dasar pelaksanaan seleksi pejantan kambing Saanen.
Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode survei dengan studi kasus di peternakan kambing Saanen di PT. Taurus Dairy Farm, Desa Tenjok Ayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada bulan Juni 2006. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung terhadap ternak dan wawancara dengan para pekerja di lapangan, sedangkan data sekunder berupa catatan produktivitas kambing Saanen mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2003. Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung nilai ETA (Estimated Transmitting Ability) meliputi nilai heritabilitas produksi susu, jumlah anak betina masing-masing pejantan, produksi susu anak betina per pejantan dan rata-rata produksi susu populasi. Nilai heritabilitas produksi susu dihitung dengan metode saudara tiri sebapak (paternal halfsib corelation)
Hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata produksi susu anak betina adalah 357,34 kg, tertinggi dicapai oleh anak-anak dari pejantan Drazel sebesar 486,85 kg dan terendah ditempati oleh pejantan TDF 5 sebesar 147,6 kg. Nilai heritabilitas produksi susu adalah 0,14 + 0,2, dengan rata-rata nilai ETA pejantan adalah 360,29 kg.

ESTIMASI NILAI RIPITABILITAS DAN MPPA (MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY) BOBOT SAPIH KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Rio Kurnia Yulianto1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Bobot sapih merupakan sifat pertumbuhan yang perlu ditingkatkan melalui seleksi karena selain bertujuan meningkatkan sifat-sifat yang diseleksi juga secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi daging dan persentase karkas. Metode seleksi individu untuk meningkatkan bobot sapih ternak dapat dilakukan berdasarkan nilai MPPA (Most Probable Producing Ability). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih dan nilai MPPA bobot sapih kambing Boerawa di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini menggunakan catatan produksi kelahiran pertama, kedua, dan ketiga dari 30 ekor induk kambing Boerawa yang telah melahirkan lebih dari satu kali. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot sapih cempe hasil keturunan induk Boerawa. Data bobot sapih setiap individu yang diamati dikoreksi terlebih dahulu terhadap bobot cempe umur 120 hari, umur induk, tipe kelahiran dan tipe pemeliharaan. Nilai ripitabilitas bobot sapih dihitung dengan metode korelasi dalam kelas (intraclass correlation) dan perhitungan nilai MPPA bobot sapih dilakukan dengan menggunakan rumus Hardjosubroto (1994).
Rata-rata bobot sapih cempe hasil keturunan induk kambing Boerawa pada kelahiran pertama, kedua, dan ketiga masing-masing 17,927±0,944 kg; 17,974±1,054 kg; 17,614±1,041 kg, serta rata-rata bobot sapih populasi sebesar 17,883±1,00 kg.
Nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa yang diamati 0,268±0,139. Rata-rata nilai MPPA bobot sapih sebesar 17,884±0,694 kg dengan bobot sapih tertinggi dicapai oleh kambing berkode A1 dengan nilai MPPA sebesar 19,030 kg dan nilai MPPA bobot sapih terendah diperoleh induk kambing dengan kode Q1 yaitu sebesar 16,552 kg. Sebanyak 50% induk kambing Boerawa memiliki nilai MPPA lebih tinggi daripada rata-rata populasi sedangkan 50% memiliki nilai MPPA lebih rendah daripada rata-rata populasi.


PENGARUH LEVEL KOMBINASI AIR REBUSAN KUNYIT DAN DAUN SIRIH MELALUI AIR MINUM TERHADAP KECERNAAN DAN RETENSI PROTEIN RANSUM
PADA BROILER STRAIN LOHMANN
Oleh

Amrizal Pahlevi1, Rr. Riyanti2, dan Syahrio Tantalo2

ABSTRAK
Salah satu konsumsi pangan asal ternak yang mengandung protein yang tinggi dan harganya relatif murah adalah broiler. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas peternakan adalah dengan menggunakan feed additive yang dapat memacu pertumbuhan broiler dan mengefisienkan penggunaan ransum. Salah satu feed additive yang aman digunakan karena tidak meninggalkan residu adalah tanaman obat-obatan seperti kunyit dan daun sirih.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih terhadap nilai kecernaan dan retensi protein ransum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas empat perlakuan yaitu R0 (air minum biasa sebagai kontrol), R1 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 10 g per 600 ml), R2 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 20 g per 600 ml), R3 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 30 g per 600 ml). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali dengan satuan percobaan terdiri atas empat ekor ayam. Peubah yang diamati yaitu nilai kecernaan protein ransum, dan nilai retensi protein ransum, dengan konsumsi ransum sebagai peubah pendukung. Seluruh data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan antarperlakuan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 0,05 dan atau sangat nyata 0,01 (Steel dan Torrie, 1993).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kecernaan protein ransum pada level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih (10g+30g)/600ml atau R3 (72,91%), dan (10g+20g)/600ml atau R2 (66,58%) berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap kontrol atau R0 (60,65%). Akan tetapi, level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai retensi protein ransum.


PENGARUH LEVEL PEMBERIAN AIR KUNYIT MELALUI AIR MINUM TERHADAP BOBOT KARKAS, GIBLET, DAN LEMAK
ABDOMINAL BROILER

Oleh

Amrizal Pahlevi1, Rr. Riyanti2, dan Syahrio Tantalo2
ABSTRAK
Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Hal ini karena broiler mempunyai beberapa keunggulan, yaitu : mengandung asam amino esensial, pertumbuhan cepat, efisien dalam penggunaan pakan, siklus hidup yang pendek, dagingnya empuk, kulit halus dan lunak, dada lebar dengan timbunan daging yang baik, dan harganya dapat dijangkau oleh masyarakat. Upaya meningkatkan kesehatan broiler diantaranya dengan pemberian feed additive dalam pemeliharaan. Kunyit merupakan feed additive yang dapat membantu pertumbuhan merupakan jenis tanaman obat-obat tradisional yang penggunaannya untuk ternak belum optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari level pemberian air kunyit melalui air minum dan untuk mengetahui level air kunyit terbaik melalui air minum terhadap bobot karkas, giblet, dan lemak abdominal broiler. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri atas empat perlakuan yaitu R0 (air putih biasa), R1 (5 g kunyit/600 ml air minum), R2 (10 g kunyit/600 ml air minum), dan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum). Tiap-tiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dengan satuan percobaan 4 ekor ayam dan dalam proses pengambilan data diambil 2 ekor ayam sebagai sampel. Seluruh data yang diperoleh dianalisis ragam dan bila terdapat perbedaan antar perlakuan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf uji 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa level pemberian air kunyit melalui air minum berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas dan giblet broiler umur 6 minggu. Akan tetapi, berbeda nyata (Pbroiler umur 6 minggu.
Perlakuan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum) nyata (P1 (5 g kunyit/600 ml air minum), dan R2 (10 g kunyit /600 ml air minum) tidak berbeda nyata dengan R0. Perlakuan terbaik untuk menurunkan bobot lemak abdominal broiler adalah perlakuan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum).


PENGARUH PEMBERIAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK TERHADAP KADAR NH3, PRODUKSI VFA DAN POPULASI PROTOZOA RUMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Yepri Endrizon1, Erwanto2, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik terhadap produksi NH3 dan VFA cairan rumen kambing peranakan ettawa; (2) pengaruh perlakuan yang terbaik terhadap Kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa jantan.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) terdapat pengaruh dari penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik terhadap kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) terdapat perlakuan yang terbaik pengaruhnya terhadap kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa dalam rumen kambing peranakan ettawa.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada Oktober sampai dengan November 2005, bertempat di Kampung Sinarmulya, Desa Hajimena, Kecamatan Natar. Analisis kimia dilakukan di Laboratorium Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Universitas Lampung.
Penelitian ini menggunakan 20 ekor kambing PE jantan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima kelompok. Pengelompokan dilakukan berdasarkan bobot tubuh (kelompok 1 berkisar antara 21,85 dan 26,43 kg; kelompok 2 berkisar antara 20,35 dan 21,74 kg; kelompok 3 berkisar antara 18,53 dan 20,22; kelompok 4 berkisar antara 16,60 dan 17,90 kg dan kelompok 5 berkisar antara 13,69 dan 15,90 kg). Perlakuan terdiri atas R0 = ransum basal; R1= ransum basal + 3% bulu ayam; R2 = R1 + mineral makro organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA); R3 = R2 + mineral mikro organik (Zn-lisinat, Cu-lisinat, Se-lisinat, Cr-lisinat).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap populasi protozoa dalam rumen kambing peranakan ettawa jantan; (2) perlakuan R3 memberikan nilai tertinggi pada kadar amonia (P


PENGARUH PENAMBAHAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP
KUALITAS SEMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA
Oleh
Putera Ramadhan Hutama1, Sri Suharyati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik dalam ransum terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa (PE); (2) mengetahui perlakuan pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik yang terbaik terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa (PE).
Penelitian menggunakan 20 ekor kambing Peranakan Ettawa yang dibagi menjadi 5 kelompok. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima kelompok. Pengelompokan berdasarkan bobot tubuh (kelompok I antara 21,85 dan 26 ,43 kg; kelompok II antara 20,35 dan 21,74 kg; kelompok III antara 18,53 dan 20,22 kg; kelompok IV antara 16,60 dan 17,90; kelompok V antara 13,69 dan 15,90 kg). Susunan ransum yang diberikan adalah R0 terdiri atas 80% konsentrat (dedak halus, onggok, bungkil kelapa, jagung, CaCO3, urea dan tetes) dan 20 % rumput lapang, R1 terdiri atas R0 ditambah dengan 3% bulu ayam, R2 terdiri atas ransum R1 ditambahkan dengan mineral makro (Ca-PUFA dan Mg-PUFA), R3 terdiri atas ransum R2 ditambahkan dengan mineral mikro (Zn-Lisinat, Cu-lisinat, Cr-Lisinat dan Se-Lisinat). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mengetahui perbedaan nilai tengah perlakuan.
Dari hasil analisis ragam yang dilakukan menunjukkan perlakuan berbeda sangat nyata (P0,05) terhadap motilitas, konsentrasi dan persentase spermatozoa hidup. Pemberian ransum R2 berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap konsentrasi spermatozoa. Pemberian ransum R3 memberikan pengaruh sangat nyata (P

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA, DAN KONSENTRASI AMONIA CAIRAN RUMEN KAMBING SECARA IN VITRO
Oleh
Dini Oktarini1, Erwanto2, dan Liman 2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen kambing secara in vitro; dan. mengetahui pengaruh penambahan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum bila dibandingkan dengan kontrol terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen kambing secara in vitro;
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu : R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang), R1 (70% konsentrat + 20% sabut sawit teramoniasi + 10% lumpur sawit terfermentasi), R2 (70% konsentrat + 15% sabut sawit teramoniasi + 15% lumpur sawit terfermentasi), R3 (70% konsentrat + 10% sabut sawit teramoniasi + 20% lumpur sawit terfermentasi). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Apabila terdapat peubah yang nyata atau tidak nyata maka dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 20% sabut sawit teramoniasi dan 10% lumpur sawit terfermentasi (R1) dalam ransum berbeda nyata (P0) terhadap KCBK, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen secara in vitro; penambahan 15% sabut sawit teramoniasi dan 15% lumpur sawit terfermentasi (R2) dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) bila dibandingkan dengan ransum basal (R0) terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA dan konsentrasi NH3 cairan rumen secara in vitro; penambahan 10% sabut sawit teramoniasi dan 20% lumpur sawit terfermentasi (R3) dalam ransum berbeda sangat nyata (P0) terhadap produksi VFA, dan berbeda nyata (P3 cairan rumen, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap KCBK dan KCBO secara in vitro.


PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI, ENERGI TERCERNA, DAN EFISIENSI ENERGI PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) JANTAN
Oleh
Ricky Jayadi Kusuma1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh pemberian hidrolisat bulu ayam serta kombinasinya dengan mineral makro-mikro organik dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna dan efisiensi energi pada kambing PE jantan; (2) mengetahui perlakuan yang terbaik dari penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi kambing PE jantan.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan dan lima kelompok sebagai ulangan. Ransum yang diberikan adalah R0 = ransum mengandung 20% rumput lapang + 80% Konsentrat (35% BK onggok, 10% BK dedak, 22,5% BK bungkil kelapa, 10% BK jagung, 1% BK urea, 1% BK CaCO3, dan 0,5% BK molasses); R1 = R0 + 3% hidrolisat bulu ayam dari BK ransum; R2 = R1 + 0,1% Ca-PUFA dan 0,05% Mg-PUFA; R3 = R2 + Zn-lisinat 1,8 ml/kg BK ransum, Cu-lisinat 0,4 ml/kg BK ransum, Cr-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum, dan Se-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perlakuan R1 menunjukkan hasil yang berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap energi tercerna dan efisiensi energi kambing PE jantan; (2) penggunaan hidrolisat bulu ayam beserta mineral makro organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi kambing PE jantan; (3) penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi kambing PE jantan; (4) penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum memberikan kualitas yang terbaik terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada kambing PE jantan.


PENGARUH PERBEDAAN SUHU PENYIMPANAN DAN BOBOT TELUR ITIK TERHADAP DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR SELAMA PENYIMPANAN 21 HARI
Oleh
Hilma Yusi1, Riyanti2, dan Khaira Nova2
ABSTRAK
Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang dikenal bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti asam-asam amino yang lengkap dan seimbang, vitamin, dan mempunyai daya cerna yang tinggi. Adapun kelemahannya ialah mempunyai sifat mudah busuk akibat kontaminasi dengan lingkungan di sekitarnya dan mudah pecah akibat penanganan yang kurang hati-hati. Daya buih putih telur bermanfaat sebagai pengembang adonan kue serta dapat memengaruhi kecerahan dan produk pangan tertentu. Suhu, lama penyimpanan, dan bobot telur memengaruhi daya dan kestabilan buih, sehingga perlu dilakukan usaha untuk mempertahankan kualitas telur dan mengurangi kerusakan yang mungkin terjadi.
Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi antara suhu penyimpanan dan bobot telur itik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur, untuk mengetahui faktor suhu penyimpanan yang terbaik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur, serta untuk mengetahui faktor bobot telur itik yang terbaik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial 2 x 3. Perlakuan yang diuji adalah faktor pertama yaitu suhu penyimpanan yang terdiri dari suhu kamar (T1) dan suhu lemari es (T2) dan faktor kedua yaitu bobot telur yang terdiri dari 55–65 g (B1), 66–76 g (B2), dan 77–87 g (B3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari 3 butir telur. Data yang diperoleh diuji sesuai dengan asumsi sidik ragam. Apabila ada perbedaan yang nyata antara masing-masing perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% dan atau 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) suhu penyimpanan dan bobot telur itik memberikan interaksi yang tidak nyata (P>0,05) terhadap rata-rata daya buih putih telur, kestabilan buih putih telur, pH putih telur, indeks putih telur, dan HU putih telur; (2) suhu penyimpanan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,05) terhadap kestabilan buih putih telur; (3) bobot telur itik berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap daya buih putih telur dan pH putih telur.



==================================================================================

1. Alumni Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung

2. Dosen Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung

@COPYRIGHT : UNILA

@Reposted by : ahlifikir

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK JUDUL PENELITIAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN (THP) | PENGOLAHAN DAN PENGUJIAN MUTU

# EVALUASI MUTU MIKROBIOLOGIS TEMPOYAK DARI BEBERAPA PASAR DI BANDAR LAMPUNG

Oleh

Wahidati Permaisuri1, Neti Yuliana2, dan Zulferiyenni2

ABSTRAK

Tempoyak yang dijual di beberapa pasar di Bandar Lampung dicirikan dengan pengemasan yang kurang baik yang dapat menyebabkan mutu mikrobiologis rendah karena memungkinkan terjadinya kontaminasi silang selama pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu mikrobiologis tempoyak dari beberapa pasar di Bandar Lampung.

Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan pada beberapa pasar di Bandar Lampung yaitu Pasar Bawah Ramayana, Pasar Semep Bambu Kuning, Pasar Koga, Pasar Way Halim, dan Pasar Tempel Sukarame. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali. Analisis sampel meliputi analisis mutu mikrobiologis yang terdiri dari total bakteri asam laktat (BAL), total mikroba aerobik, serta total kapang dan khamir, dan analisis kimia serta penampakan fisik dan rasa sebagai pendukung. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar, kemudian dievaluasi dengan dibandingkan dengan standar mutu saus tomat (SNI.01-0222-1987).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempoyak yang dijual di beberapa pasar di Bandar Lampung tidak higienis dengan mutu mikrobiologis rendah. Mutu mikrobiologis tempoyak yang dijual di beberapa pasar di Bandar Lampung adalah sebagai berikut : total BAL berkisar antara 1 x 104 koloni/g sampai 7,6 x 108 koloni/g, total mikroba aerobik berkisar antara 1,5 x 104 koloni/g sampai 6,10 x 1011 koloni/g, total kapang dan khamir berkisar antara 2,7 x 104 koloni/g sampai 1,3 x 1011 koloni/g. Mutu mikrobiologis tempoyak yang rendah ini ditunjukkan pula oleh kadar abu yang tinggi, beberapa sampel berwarna kuning kecokelatan, beraroma alkohol, dan pada salah satu sampel yang mempunyai lama simpan di pasar lebih dari 1 bulan ditemukan bercak jingga yang diduga sebagai kapang (jamur).

# KAJIAN APLIKASI HACCP (HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT) PADA PRODUK MINCE BEEF DI PT SANTOSA AGRINDO

Oleh

Ika Susanti1, Murhadi2, dan Fibra Nuraini2

ABSTRAK

PT. Santosa Agrindo sebagai produsen pangan menyadari akan pentingnya mutu yang menjadi persyaratan utama dari pelanggan. Banyak hal yang telah dilakukan oleh PT. Santosa Agrindo antara lain pengambilan sampel produk akhir, analisis sampel dan lain-lain. Sistem ini kemudian berkembang menjadi pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan pada setiap tahap selama proses produksi berlangsung, namun hal ini dirasa belum cukup. Oleh karena itulah diterapkan suatu sistem yang mampu mengontrol faktor-faktor bahaya yang dapat menurunkan tingkat kemanan produk pangan yaitu sistem HACCP.

HACCP merupakan suatu analisa yang dilakukan terhadap bahan, produk atau proses untuk menentukan komponen, kondisi atau tahap proses yang harus mendapatkan pengawasan ketat untuk menjamin bahwa produk yang dihasilkan aman dan mememnuhi persyaratan yang ditetapkan.

Sistem HACCP akan lebih efektif apabila diterapkan pada tahap proses atau produk spesifik. Studi HACCP yang dilakukan dalam kegiatan penelitian ini difokuskan pada produk mince beef. Mince beef merupakan produk hasil dari daging dengan kadar 85 CL (chemical lean) yang digiling dengan ukuran parameter cetakan 3, 5 dan 10 mm.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan metode survei. Data dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer melalui wawancara langsung dan data sekunder berupa data pendukung.

Hasil penelitian melaporkan bahwa PT Santosa Agrindo menetapkan 20 tahap proses yang termasuk CCP, antara lain penerimaan sapi, pemeriksaan antemorfem, pemingsanan, penyembelihan halal, penutupan batang tenggorok, penusukan pisau ke jantung, pemotongan kaki I dan II, penutupan dubur, pengeluaran jeroan, pembelahan karkas, pencucian karkas, pelayuan (chilling), pre-trimming, deboning, slicing dan trimming, vacuum packing, pelayuan dan penyimpanan daging, pembekuan, dan pengeluaran barang.

# KAJIAN PROSES STERILISASI SARI BUAH TERONG DENGAN SISTEM OZONISASI

Oleh

Yuvi Liana
ABSTRAK

Terong (Solanum Melongena) adalah jenis sayuran yang popular dan disukai oleh banyak orang. Selain rasanya yang enak kandungan gizinya pun cukup melimpah. Bagian terong yang dapat dimanfaatkan untuk hidangan masakan adalah buahnya. Selain dapat dikonsumsi secara langsung, pemanfaatan terong juga dapat dilakukan dengan cara mengolah menjadi sari buah. Hampir semua buah–buahan dan sayuran bersifat mudah rusak, oleh sebab itu guna mencegah terbuangnya terong karena rusak atau tidak dapat dimanfaatkan seluruhnya pada saat panen maka perlu dilakukan usaha pengawetan dan pengolahan lebih lanjut.

Salah satu upaya dalam pengawetan produk pangan olahan adalah melalui proses sterilisasi dan pasteurisasi. Pada penelitian ini sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi dengan sistem ozonisasi dengan frekuensi ozon sebesar 0,6 ppm.. Adapun sterilisasi dengan sistem ozonisasi ini dipilih dikarenakan sistem ozonisasi tersebut menggunakan molekul ozon (O3), yang merupakan senyawa oksidan yang sangat reaktif dan umumnya dapat membunuh mikroorganisme karena selama terjadi proses ozonisasi sel mikroorganisme mengalami lisis. Sehingga dapat diketahui lama waktu proses ozonisasi yang menghasilkan daya awet dan kualitas sari buah terong yang terbaik.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik kemudian dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu/lama proses ozonisasi yang memberikan daya awet sari buah terong yang optimal dan menghasilkan kualitas sari buah terong yang terbaik yaitu waktu ozonisasi 4 menit dengan lama simpan selama 2 hari. Respon panelis yang dihasilkan terhadap rasa sari buah terong memiliki skor 3 (disukai). Respon panelis terhadap aroma sari buah terong memiliki skor 2,8 (disukai). Respon panelis terhadap warna sari buah terong memiliki skor 2,8 (disukai). Respon panelis terhadap penampakan sari buah terong memiliki skor 2,9 (disukai) dan respon panelis terhadap penerimaan keseluruhan sari buah terong memiliki skor 3,13 (disukai). Kadar vitamin C sari buah terong yang terbaik sebesar 1,35 mg/15ml. Kadar protein sari buah terong yang terbaik sebesar 1,1%. Kadar karbohidrat sari buah terong terbaik sebesar 3,43 mg/100ml, dan total mikroba sari buah terong terbaik jumlah mikroba 8.36×108 cfu/ml dengan log jumlah mikroba sebesar 8,9.

# PENGARUH KONSENTRASI CHITOSAN SEBAGAI BAHAN PENGAWET TERHADAP MASA SIMPAN MIE BASAH

Oleh

Dedi Wahyudi1, Murhadi2, dan Otik Nawansih2

ABSTRAK

Mie basah merupakan jenis mie yang mengalami proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Biasanya mie basah dipasarkan dalam keadaan segar. Mie basah merupakan produk makanan dengan kadar air yang tergolong tinggi yakni mencapai 52 %. Masa simpan mie basah dalam kondisi normal penyimpanan hanya bisa bertahan 16 jam. Supaya mendapatkan mie basah yang memiliki masa simpan lebih lama serta mutu yang dapat dipertahankan diperlukan suatu bahan pengawet yang tidak berbahaya bagi kesehatan manusia serta dapat mempertahankan aspek gizi yang terkandung di dalamnya.

Salah satu bahan pengawet alami yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif ialah chitosan. Chitosan merupakan suatu polimer rantai panjang glukosamin yang mempunyai struktur molekul 2-amino-2-deoksi glukosa. Chitosan bersifat alami sehingga chitosan tidak beracun dan tidak mempunyai efek samping bila dikonsumsi manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi chitosan yang optimal sebagai bahan pengawet yang dapat memperpanjang masa simpan mie basah.

Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap. Penelitian tahap1 yaitu mencari konsentrasi dan lama penyimpanan mie basah terbaik. Perlakuan disusun secara faktorial 2 faktor dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi chitosan (K) yang terdiri atas lima taraf yaitu, K0 (0 ppm), K1 (50 ppm), K2 (100 ppm), K3 (150 ppm), K4 (200 ppm). Faktor kedua adalah lama penyimpanan mie basah (H) pada suhu kamar dengan empat taraf yaitu 0 jam (H0), 24 jam (H1), 48 jam (H2) dan 72 jam (H3). Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Kemudian data dianalisis dengan sidik ragam untuk menduga ragam galat dan uji signifikansi mengenai ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Data kemudian dianalisis lebih lanjut dengan polinomial ortogonal pada taraf 1% dan 5%. Penelitian tahap 2 yaitu membandingkan mie basah yang diberi konsentrasi chitosan terbaik yang diperoleh dari penelitian tahap 1 yaitu sebanyak 150 ppm dengan mie basah yang diberi formalin pada konsentrasi yang sama dengan lama penyimpanan 0, 24, 48 dan 72 jam. Data yang diperoleh pada tahap ini dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi chitosan yang optimal untuk digunakan sebagai bahan pengawet mie basah ialah sebesar 150 ppm (b/b) dengan masa simpan 24 jam. Chitosan memiliki kemampuan memperpanjang masa simpan mie basah yang hampir menyamai formalin pada konsentrasi 150 ppm dengan masa simpan hanya 24 jam.

# PENGARUH LAMA PENYINARAN MENGGUNAKAN ALAT PENYINARAN ULTRAVIOLET MODEL STC-1968C DAN JENIS KEMASAN TERHADAP REDUKSI TOTAL MIKROBA PADA SUSU KEDELAI

Oleh
Widya Tanjungsari1, Suharyono A.S.2 , dan Ahmad Sapta Zuidar2
ABSTRAK

Susu kedelai memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan tidak mengandung laktosa. Sumber kontaminasi susu kedelai dapat berasal dari pengolahan yang tidak aseptis. Pengolahan yang tidak aseptis dapat menyebabkan terjadinya perpindahan mikroba dari peralatan ke dalam susu kedelai. Salah satu metode yang dapat digunakan sebagai metode untuk mengurangi jumlah mikroba yang terdapat dalam susu kedelai adalah penyinaran menggunakan sinar ultraviolet. Penyerapan sinar ultraviolet dapat terhambat karena pengemasan plastik. Selain sebagai penghambat masuknya sinar ultraviolet, plastik dapat mencegah bahan pangan dari resiko kontaminasi. Jenis plastik yang digunakan dalam penelitian ini adalah PE, HDPE dan gelas plastik (PP).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh lama penyinaran yang dapat mereduksi total mikroba pada susu kedelai yang masih memenuhi Standar Nasional Indonesia, mengetahui jenis plastik yang memiliki daya hambat paling rendah terhadap sinar ultraviolet, dan mengetahui efektifitas alat penyinaran ultraviolet model STS-1968C untuk mengurangi total mikroba pada susu kedelai.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa lama penyinaran mempengaruhi penurunan total mikroba pada susu kedelai. Semakin lama waktu penyinaran maka jumlah mikroba semakin menurun. Total mikroba yang mendekati SNI diperoleh pada susu kedelai yang disinari sinar ultraviolet selama 8 menit dan dikemas menggunakan gelas plastik (PP) dengan total mikroba 2,8 x 103 CFU/ml dan kadar protein 0,4550%. Jenis kemasan gelas plastik (Polipropilen) merupakan jenis plastik yang memiliki daya hambat paling rendah terhadap sinar ultraviolet. Alat penyinaran ultraviolet model STS-1968C tidak tepat untuk sterilisasi produk susu kedelai dan sejenisnya.

# PENGARUH MASING-MASING KONSENTRASI BUBUK BAWANG PUTIH DAN BUBUK LENGKUAS TERHADAP MUTU TAHU SELAMA PERENDAMAN
Oleh

Yuyuk Kasmawati1, Neti Yuliana2, dan Fibra Nurainy2

ABSTRAK

Tahu merupakan bahan makanan sumber protein nabati dengan masa simpan yang rendah karena adanya kerusakan oleh mikroorganisme. Penyimpanan tahu lebih dari 2 hari akan mengakibatkan tahu berasa asam dan berangsur-angsur membusuk dan tidak layak lagi dikonsumsi sehingga diperlukan suatu bahan pengawet yang dapat mempertahankan masa simpan tahu. Salah satu bahan pangan yang dapat digunakan sebagai pengawet makanan alternatif dan alami yaitu bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas karena mengandung minyak atsiri dan senyawa fenolik lainnya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bubuk bawang putih, bubuk lengkuas selama perendaman terhadap mutu tahu.

Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi bubuk bawang putih atau bubuk lengkuas yang terdiri 5 taraf yaitu : 0% (K0), 2% (K1), 4% (K2), 6%(K3), 8% (K4), sedangkan faktor kedua adalah lama perendaman selama 0 (T0), 2 (T1), 4 (T2), 6 (T3) hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaam ragam menggunakan uji Barlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan dianalisis dengan uji polinomial ortogonal.

Hasil penelitan menunjukkan bahwa konsentrasi bubuk bawang putih, atau bubuk lengkuas yang optimal untuk digunakan sebagai pengawet tahu adalah untuk keduanya 6% dan 8% dengan masa simpan tahu 4 hari dengan sifat organoleptik secara umum untuk keduanya warna agak putih, rasa tahu agak segar dan bau tahu agak segar putih. Pada tahu dengan konsentrasi bubuk bawang putih 6% memiliki total mikroba 7,6×108 CFU/g, kadar abu 1,44%, pH 4,76, total koliform 5,0 x 1106 sel/g pada konsentrasi bubuk bawang putih 8% memiliki total mikroba 1,0×108 CFU/g , total koliform 1,6×106 sel/g, kadar abu 1,51%, pH 5,15. Pada konsentrasi bubuk lengkuas 6% memiliki total mikroba 9,5×107 CFU/g, total koliform 7,6 x 106 sel/g, kadar abu 1,6%, pH 4,76 sedangkan pada konsentrasi bubuk lengkuas 8% memiliki total mikroba 1,7×10 7 CFU/g, total koliform 5,8 x 106 sel/g, kadar abu 2,25%, pH 5,15. Total koliform baik yang direndam dengan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas cukup tinggi karena sebelum diberi perlakuan pada tahu sudah terdapat koliform tetapi penambahan bubuk bawang putih maupun bubuk lengkuas dapat menghambat pertumbuhan koliform.

# UJI AKTIVITAS KITOSAN SEBAGAI ANTIBAKTERI TERHADAP BAKTERI PATOGEN DAN PERUSAK MAKANAN DENGAN METODE SUMUR

Oleh

Yudiantoro1, Samsul Rizal2, dan Fibra Nurainy2

ABSTRAK

Salah satu mikroba penyebab kerusakan makanan adalah bakteri. Bakteri merusak makanan dengan cara menguraikan senyawa-senyawa yang terdapat dalam makanan menjadi lebih sederhana. Beberapa jenis makanan mengandung senyawa-senyawa yang dibutuhkan oleh bakteri untuk tumbuh dan memperbanyak sel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kitosan sebagai antimikroba terhadap bakteri patogen dan perusak makanan dengan metode sumur.

Perlakuan yang diterapkan pada bakteri uji adalah konsentrasi kitosan yang ditambahkan. Kitosan dilarutkan dalam larutan asam asetat 1%. Konsentrasi kitosan yang digunakan adalah 0%; 0,2%; 0,4%; 0,6%; dan 0,8% (w/v). Pengujian aktivitas antibakteri kitosan menggunakan metode sumur (difusi agar).

Dari hasil penelitian diketahui bahwa terdapat aktivitas penghambatan larutan kitosan dalam larutan asam asetat 1% dengan metode sumur sebagai antibakteri terhadap S. aureus, B. subtilis, E. coli dengan diameter penghambatan tertinggi pada konsentrasi 0,2% berturut-turut sebesar 15,3930; 14,7022; dan 20,4501 mm/mg kitosan dan penghambatan terendah pada konsentrasi 0,8 % berturut-turut sebesar 1,9507; 2,3360, dan 3,1462 mm/mg kitosan. Penghambatan yang lebih tinggi pada penambahan larutan kitosan dengan konsentrasi yang lebih rendah disebabkan oleh viskositas larutan yang rendah. Kitosan memberikan efek penghambatan yang lebih tinggi pada Escherichia coli (bakteri Gram Negatif) dibandingkan pada Staphilococcus aureus dan Bacillus subtilis (bakteri Gram Positif). Semua aktivitas antibakteri kitosan semakin menurun seiring peningkatan konsentrasi kitosan.

# APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN PENUTUPAN LAHAN DALAM RANGKA MENGINDIKASI POTENSI KEBAKARAN LAHAN DI TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS PROVINSI LAMPUNG

Oleh

Surya Anshori

ABSTRAK

Kawasan hutan tropis Indonesia yang merupakan ekosistem penyangga kehidupan serta habitat dari berbagai kehidupan liar yang beragam kini semakin terancam kelestariannya. Laju pengurangan luas lahan semakin meningkat sebagai akibat dari proses laju penurunan mutu hutan (degradasi) dan penggundulan hutan (deforestasi).

Fenomena ini membutuhkan sebuah sistem pengelolaan dan perencanaan hutan yang baik. Kendala yang dihadapai selama ini dalam pengelolaan sumberdaya hutan di Indonesia adalah minimnya kegiatan inventori dan monitoring yang berkualitas, cepat, akurat dan efektif. Kegiatan ini mengalami keterbatasan dalam pengambilan data, karena luasnya area, sulitnya mencapai area, panjangnya waktu yang diperlukan dan keterbatasan sumberdaya manusia Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ), dan Global Positioning Sistem (GPS) merupakan terobosan spasial yang sangat penting dan memadai untuk dipakai oleh pengambil keputusan.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi mendorong peningkatan kemampuan satelit-satelit penginderaan jauh dalam merekam fenomena atau objek-objek pengamatan di muka bumi. Pemanfaatan satelit NOAA untuk memantau aktifitas kebakaran lahan berdasarkan temperatur pada waktu yang sebenarnya, apabila ditunjang oleh data-data spasial mengenai kondisi lahan serta data sumberdaya penanganan yang akurat maka penanganan kebakaran lahan pada suatu wilayah akan berlangsung secara cepat dan efektif. Pemantauan kondisi lahan seperti penutupan lahan secara aktual, dapat diidentifikasi dengan menggunakan data citra satelit landsat thematic mapper. Satelit landsat TM adalah satelit yang biasa digunakan untuk pemantauan sumberdaya alam dan sering pula dijadikan sebagai data dasar maupun data penunjang bagi penggunaan lain secara spesifik dalam penerapan SIG.

Penelitian ini menerapkan penggunaan data citra landsat TM untuk pemetaan penutupan lahan, yang kemudian digunakan sebagai data dasar untuk identifikasi potensi kebakaran lahan di kawasan TNWK Provinsi Lampung. Dengan aplikasi SIG pada panalitian ini, kawasan TNWK memiliki beberapa penutupan lahan yang terindikasi memiliki intensitas kebakaran lahan yang cukup tinggi dibandingkan penutupan lahan lainnya. Alang-alang, semak, tanah terbuka dan tegalan atau ladang adalah penutupan lahan di TNWK yang memiliki intensitas kebakaran paling tinggi.

# FORMULASI JAHE MERAH, KUNYIT, DAN TEMULAWAK PADA PEMBUATAN HERBAL CELUP SEBAGAI MINUMAN SUMBER ANTIOKSIDAN

Oleh

Helta Yolanda1, Samsu Udayana N2, dan A Sapta Zuidar2

ABSTRAK

Berbagai jenis rempah-rempah sudah lama diketahui memiliki aktivitas antioksidan. Jahe merah, kunyit, dan temu lawak merupakan contoh herbal yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan baik secara in vitro maupun in vivo. Secara tradisional rempah-rempah ini telah digunakan sebagai bahan baku minuman atau bumbu masak. Pembuatan herbal celup merupakan salah satu alternatif pengolahan dari rempah-rempah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi herbal celup dari jahe merah merah, temu lawak, dan kunyit yang menghasilkan minuman dengan aktivitas antioksidan yang tinggi dan disukai konsumen.

Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama bertujuan untuk menentukan formula minuman herbal yang paling disukai berdasarkan uji organoleptik. Tahap kedua dilakukan pengamatan yang bertujuan untuk menentukan total senyawa polifenol dan aktivitas antioksidan minuman herbal yang paling disukai pada tahap pertama. Perlakuan terdiri dari kombinasi antara jahe merah , kunyit, dan temu lawak kering, dengan F1, F2, dan F3 sebagai kontrol. Perlakuan F4, F5, F6, F7, F8, F9 dan F10 untuk penelitian tahap pertama dan F4, F5, dan F10 untuk penelitian tahap kedua disusun dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh selanjutnya akan diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartlet, kemenambahan data diuji dengan uji Tukey, serta analisis ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat. Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukan perlakuan formulasi minuman herbal celup terbaik adalah formulasi F4 (1 g jahe merah, 0,5g kunyit). Perlakuan F4 menghasilkan total fenol 1,29 (%TAE), dan aktivitas antioksidan 51,66 % RSA.

# KAJIAN FORMULASI TEPUNG TAPIOKA DAN PUTIH TELUR TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK SOSIS BELUT

Oleh
Eva Dharmawati1, Susilawati2, dan Fibra Nurainy2

ABSTRAK

Pengolahan ikan belut menjadi sosis diharapkan akan meningkatkan nilai ekonomi belut, karena sosis merupakan produk makanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dalam proses pembuatan sosis peningkatan kualitas penerimaan terhadap tekstur sosis merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi sifat liat seperti karet dari ikan belut. Oleh karena itu, diperlukan penambahan bahan pengisi dan pengikat untuk memperbaiki tekstur sosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh formulasi tepung tapioka dan putih telur yang menghasilkan sosis belut dengan sifat fisik, kimia dan organoleptik terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat formulasi tepung tapioka dan putih telur yang menghasilkan sosis belut dengan sifat fisik, kimia dan organoleptik terbaik.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan satu faktor yaitu formulasi tepung tapioka dan putih telur terdiri dari 5 taraf yaitu : 18% : 2% (A1), 15% : 5% (A2), 10% : 10% (A3), 5% : 15% (A4), dan 2% : !8% (A5) (b/b). Perlakuan tersebut dilakukan dengan tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaan ragam menggunakan Uji Bartlett dan dilanjutkan dengan Uji BNT pada taraf 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi tepung tapioka dan putih telur 10% : 10% (A3) menghasilkan sosis belut dengan sifat fisik agak lunak (kekerasan sosis belut 10,07 g/detik), sifat kimia terbaik dengan kriteria kadar air 63,49% dan kadar protein 12,52% hasil ini terutama telah memenuhi syarat mutu sosis daging (SNI 01 – 3020 – 1995), sedangkan hasil uji organoleptik menghasilkan warna hitam keabuan, tekstur kompak, rasa agak suka dan penerimaan keseluruhan agak suka.

# KAJIAN PENGGUNAAN KITOSAN TERHADAP MUTU PRODUK OLAHAN IKAN SELAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR

Oleh

Nina Jusnita1, Susilawati2, dan Dyah Koesoemawardany2

ABSTRAK

Kitosan merupakan produk turunan dari polimer kitin, yakni produk samping atau limbah dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan, yang diperoleh dengan cara mengasetilasi kitin. Kitosan dapat digunakan sebagai bahan pengawet karena sifatnya yang dapat memperpanjang masa simpan produk pangan. Dalam memperpanjang masa simpan produk pangan, kitosan bekerja sebagai penghambat pertumbuhan bakteri.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efektifitas penggunaan kitosan pada beberapa produk olahan ikan berupa pempek, bakso, otak-otak dan sate ikan khas Lampung terhadap mutu selama penyimpanan pada suhu kamar selama tiga hari.

Penelitian ini menggunakan kitosan konsentrasi 1,5% pada produk olahan ikan berupa pempek, bakso, otak-otak dan sate ikan khas Lampung. Pengamatan dilakukan selama 3 hari yaitu pH, total bakteri, dan pengujian organoleptik meliputi warna, aroma, tekstur dan penerimaan keseluruhan dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kitosan sebanyak 1,5% mampu mempertahankan mutu pempek, bakso, otak-otak dan sate ikan khas Lampung selama dua hari serta mampu mempertahankan mutu otak-otak selama tiga hari.

# KAJIAN PROSES PEMBENTUKAN GAS METANA (CH4) BERDASARKAN NILAI COD DAN NERACA MASSA KARBON PADA IPAL INDUSTRI TAPIOKA DAN KELAPA SAWIT

Oleh

Umi Pristi Prayati1, Udin Hasanuddin2, dan Otik Nawansih2

ABSTRAK

Ubi kayu dan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang penting dalam bidang agroindustri dan banyak dikembangkan oleh sebagian besar petani di Provinsi Lampung. Air limbah tapioka memiliki nilai kebutuhan oksigen kimia (COD) yang cukup tinggi yaitu sebesar 13.500-22.000 mg/l, sedangkan nilai COD air limbah kelapa sawit sebesar 15.103-65.100 mg/l. Penanganan air limbah tapioka dan kelapa sawit umumnya dengan menggunakan sistem kolam terbuka berupa kolam anaerob, kolam fakultatif, dan kolam aerob. Air limbah tapioka dan kelapa sawit dapat berpotensi menghasilkan gas metana, karena air limbah tersebut masih mengandung bahan-bahan organik. Bahan-bahan organik tersebut biasanya mengandung nutrisi yang cukup baik untuk pertumbuhan bakteri metanogenik. Adanya bakteri metanogenik di dalam kolam dapat menyebabkan terjadinya proses metanogenesis yang dapat menghasilkan gas metana.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian lapangan dengan pengambilan sampel berupa limbah cair tapioka yang berasal dari kolam anaerobik 3,4, dan kolam anaerobik 5 di IPAL PT Umas Jaya Agrotama Lampung Tengah dan limbah cair dari kolam anaerobik dari IPAL PTPN VII Unit Usaha Bekri yang berasal dari kolam anaerobik 1 dan 2. Selanjutnya akan dianalisis pengukuran T-COD baik inlet maupun outlet, komposisi gas, volume gas metana, dan neraca massa karbon. Data yang diperoleh dikonversikan dalam N liter. Hasil analisis data disajikan secara deskriptif dalam bentuk grafik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pembentukan gas metana pada IPAL PT Umas Jaya Agrotama terdapat pada kolam anaerobik ke-4 yaitu sebesar 54,431%, sedangkan pada PTPN VII Unit Usaha Bekri, potensi pembentukan gas metana terdapat pada kolam anaerobik ke-2 yaitu sebesar 61%. Berdasarkan neraca massa karbon PTPN VII Unit Usaha Bekri karbon yang dapat dikonversikan menjadi biogas terdapat pada kolam anaerobik sebesar 33% dimana (sebagai gas metana 9% dan CO2 24%) dan yang mengendap sebesar 42%. Sedangkan pada PT Umas Jaya Agrotama karbon yang dapat dikonversikan menjadi biogas terdapat pada kolam anaerobik sebesar 25% dimana (sebagai gas metana 15% dan CO2 10%) dan yang mengendap sebesar 35%.

# KARAKTERISTIK MUTU TEMPOYAK YANG DIKEMAS VAKUM SECARA MANUAL SELAMA PENYIMPANAN

Oleh

I Wayan Pande Suyasa1, Neti Yuliana2, dan Muhammad Nur2

ABSTRAK

Tempoyak merupakan salah satu contoh diversifikasi produk durian yang memiliki kandungan air tinggi sehingga mudah mengalami kerusakan. Untuk memperpanjang masa simpan tempoyak perlu dilakukan pengemasan yang baik, misalnya dengan pengemasan vakum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mutu tempoyak yang dikemas vakum secara manual selama penyimpanan.

Penelitian dilakukan terhadap 2 jenis kondisi pengemasan tempoyak yaitu pengemasan dengan pemvakuman (V1) dan pengemasan tanpa pemvakuman (V2) yang disimpan selama 8 minggu. Pemvakuman kemasan dilakukan secara manual dengan menggunakan pompa vakum (modifikasi dari mesin pompa air). Perlakuan diulang sebanyak 3 (tiga) kali dengan pengamatan secara periodik terhadap periode waktu penyimpanan yang dimulai pada minggu ke-0 (L0), minggu ke-2 (L1), minggu ke-4 (L2), minggu ke-6 (L3), minggu ke-8 (L4). Data dihitung rata-rata dan standar deviasinya kemudian disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel dan grafik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pengemasan vakum secara manual menghasilkan kondisi vakum yang hanya bertahan selama 2 minggu. Setelah penyimpanan minggu ke 2 tempoyak yang diberi maupun tidak diberi perlakuan vakum memiliki kondisi (tekanan) yang sama sehingga tanggapan yang dihasilkan relatif sama terhadap variabel mutu yang diamati. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa lama penyimpanan menurunkan mutu tempoyak, semakin lama penyimpanan mutu tempoyak semakin menurun.

# MEMPELAJARI KANDUNGAN FENOL DAN KAFEIN PADA BEBERAPA GRADE KOPI BIJI JENIS ROBUSTA

Oleh

Bellin Anastasia

ABSTRAK

Mutu kopi biji Robusta di Indonesia tergolong masih rendah, karena sampai saat ini kualitas kopi biji masih dipengaruhi oleh grade I, II, III, IV, V, VI, dan kopi asalan. Sekitar 80 % produksi kopi biji Indonesia berasal dari perkebunan rakyat Masing-masing grade kopi biji memiliki berbagai macam kriteria yang dapat menentukan total nilai cacat biji kopi. Kriteria masing-masing yang menentukan nilai cacat akan berpengaruh pada cita rasa, sehingga cita rasa tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kadar kafein dan total fenol.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kandungan kafein dan total fenol dari setiap grade mutu Kopi Robusta.

Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Perlakuan terdiri atas perlakuan tunggal yaitu kopi biji dari grade III, IV, V, dan VI yang dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Kemudian data dianalisis dengan sidik ragam untuk menduga galat dan uji signifikansi mengenai ada tidaknya perbedaan antar perlakuan, dan diuji dengan uji BNT pada taraf 1% dan 5%. Pengamatan yang dilakukan meliputi kafein, total fenol, kadar air, dan kadar abu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kafein dan kadar abu pada masing-masing grade biji berbeda nyata pada taraf 5%, kadar kafein tertinggi terdapat pada grade III sebesar 8,2% sedangkan pada kadar abu, kadar abu tertinggi terdapat pada grade V sebesar 8,2%. Pada total fenol data kadar air menunjukkan bahwa masing-masing grade biji kopi tidak berbeda nyata.

# PENGARUH KONSENTRASI KALIUM SORBAT DAN LAMA SIMPAN TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGIS, DAN ORGANOLEPTIK KRIM SANTAN KELAPA

Oleh

Lince Kristianti1, Otik Nawansih2, dan Samsul Rizal2

ABSTRAK

Krim santan kelapa merupakan produk hasil olahan dari santan kelapa yang diberi bahan penstabil dan diproses dengan panas untuk mengurangi kadar airnya. Namun, krim santan kelapa mudah mengalami kerusakan jika harus disimpan dalam waktu yang relatif lama, karena itu perlu diupayakan produk krim santan kelapa siap pakai yang mempunyai daya simpan cukup lama. Untuk memperpanjang masa simpan krim santan kelapa diperlukan perlakuan penambahan bahan pengawet yaitu kalium sorbat. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konsentrasi kalium sorbat yang menghasilkan lama simpan optimal krim santan kelapa dengan sifat kimia, mikrobiologis dan organoleptik yang masih diterima.

Rancangan yang digunakan adalah faktorial 3×5 dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi kalium sorbat 0% (S0), 0,05% (S1) dan 0,1% (S2). Faktor kedua adalah lama simpan 0 hari (T0), 3 hari (T1), 6 hari (T2), 9 hari (T3), dan 12 hari (T4) pada suhu ruang. Data dianalisis sidik ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat dan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Analisis data lebih lanjut dengan menggunakan uji perbandingan dan polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan krim santan kelapa dengan penambahan pengawet kalium sorbat 0,1% selama penyimpanan 3 hari pada suhu ruang masih layak dikonsumsi dan dapat diterima secara kimia, mikrobiologis dan organoleptik oleh panelis.

# PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN KHITOSAN DAN SUHU PENYIMPANAN TERHADAP MASA SIMPAN BAKSO DAGING SAPI

Oleh

Novi Lidia1, Sutikno2, dan Otik Nawansih2

ABSTRAK

Bakso biasanya tidak dapat disimpan lama karena terjadinya kerusakan atau pembusukan yang disebabkan oleh mikroba. Untuk dapat mengawetkan dan meningkatkan kualitas makanan biasanya ditambahkan bahan pengawet. Namun bahan pengawet yang selama ini digunakan pada bakso dapat membahayakan kesehatan. Khitosan adalah bahan alami sebagai pengawet makanan. Khitosan dapat digunakan sebagai bahan antibakteri dan kemampuannya untuk mengimobilisasi bakteri sehingga memungkinkan khitosan digunakan sebagai pengawet makanan. Selain itu, khitosan (1,4-β-D-Glucosamine polymer) sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan antimikroba, karena mengandung enzim lysosim dan gugus aminopolysacharida yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan efisiensi daya hambat khitosan terhadap bakteri tergantung dari konsentrasi pelarutan khitosan.

Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh konsentrasi khitosan dan suhu penyimpanan yang dapat memperpanjang masa simpan bakso daging sapi.

Penelitian terdiri dari 2 (dua) faktor, faktor pertama adalah konsentrasi pelarutan khitosan (C), yaitu (C0) 0%, (C1) 0,5%, (C2) 1%, (C3) 1,5%, dan (C4) 2%. Faktor kedua adalah suhu penyimpanan (T), yaitu (T1) suhu dingin ± 50C dan (T2) suhu kamar ± 270C. Pengamatan dilakukan selama 6 hari, yaitu kadar air, total mikroba, pH dan pengujian organoleptik meliputi tekstur, aroma, penampakan dan penerimaan keseluruhan. Data-data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan ditampilkan dalam bentuk grafik dan tabel. Selanjutnya akan dianalisis

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi larutan khitosan 1-2% pada penyimpanan suhu dingin dapat memperpanjang masa simpan bakso daging sapi hingga mencapai 200% (dari 2 hari ke 6 hari), sedangkan pada penyimpanan suhu ruang, larutan khitosan dengan konsentrasi 2% hanya dapat memperpanjang masa simpan bakso daging sapi hingga 100% (4 hari). Suhu penyimpanan dingin (± 5º C) dapat memperpanjang masa simpan bakso daging sapi hingga mencapai 200% serta konsentrasi larutan khitosan 2% dan penyimpanan dingin dapat menghasilkan masa simpan 200% (6 hari) dengan nilai total mikroba 4,93 log atau 8,63×104 kol/ml.

# PENGARUH KONSENTRASI NATRIUM BENZOAT TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK SELAI NANAS LEMBARAN SELAMA MASA PENYIMPANAN

Oleh
Taufan Iman Raharjo1, Dyah Koesoemawardani2, dan Samsul Rizal2
ABSTRAK

Salah satu diversifikasi produk buah nanas adalah pembuatan selai nanas lembaran yang merupakan hasil modifikasi selai semi padat yang semula hanya dikemas dalam plastik atau botol kini dibentuk menjadi lembaran-lembaran yang kompak, plastis, dan tidak lengket. Masalah yang terjadi dalam pembuatan selai nanas lembaran adalah daya simpannya yang relatif pendek. Penambahan konsentrasi natrium benzoat pada selai nanas lembaran digunakan untuk menghambat aktivitas mikroba sehingga dapat memperpanjang masa simpan selai nanas lembaran. Untuk mendapatkan daya simpan yang optimal tanpa merusak kualitas yang terkandung pada selai nanas lembaran maka diperlukan penambahan konsentrasi natrium benzoat yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi natrium benzoat yang dapat menghasilkan selai nanas lembaran dengan sifat kimia, mikrobiologi, dan organoleptik terbaik selama penyimpanan.

Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi natrium benzoat (K) terdiri dari empat taraf yaitu: 0% (K0), 0,03% (K1), 0,06% (K2), dan 0,09% (K3) (b/b), sedangkan faktor kedua adalah lama penyimpanan (M) selama 0 minggu (M0), 2 minggu (M1), dan 4 minggu (M2). Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaan ragam menggunakan uji Bartlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan analisis dilanjutkan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf 1% atau 5%.

Sampai dengan lama penyimpanan 4 minggu maka penambahan konsentrasi natrium benzoat yang relatif terbaik adalah 0,09% dengan karakteristik pH 3,25, total padatan terlarut 73,33%, kadar air 29,99%, total kapang 2,4×102 CFU/g, warna 2,69 (kuning kecoklatan), rasa 2,67 (manis), aroma 2,75 (khas nanas), tekstur 2,91 (plastis) dan penerimaan keseluruhan 2,88 (suka).

# PENGARUH PENAMBAHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottonii) DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MUTU SELAI NANAS LEMBARAN

Oleh
Irene de Resti Widayani1, Tirza Hanum2, dan Dyah Koesoemawardani2
ABSTRAK

Nanas (Ananas comosus (L) Merr) merupakan jenis buah-buahan yang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan cukup lengkap. Selain dapat dikonsumsi dalam keadaan segar, dapat juga diolah menjadi berbagai macam makanan dan minuman, seperti selai (jam), buah kaleng, sirup, dan makanan semi padat. Salah satu cara pengolahan untuk meningkatkan masa simpan buah nanas adalah dengan diversifikasi produk buah nanas seperti pembuatan selai nanas. Pembuatan selai nanas lembaran merupakan salah satu alternatif yang dapat dikembangkan dalam pengolahan produk. Masalah yang terjadi dalam pembuatan selai nanas lembaran adalah tekstur yang lembek, sehingga diperlukan bahan pengikat agar memudahkan pembentukan gel pada selai nanas lembaran. Rumput laut yang ditambahkan pada selai nanas lembaran dalam penelitian ini adalah rumput laut jenis Eucheuma cottonii yang menghasilkan karagenan dan agar. Kedua jenis bahan tersebut biasa digunakan sebagai bahan pengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi bahan penjernih yang tepat sehingga menghasilkan sifat kimia dan organoleptik sari buah asam jawa yang terbaik.

Penelitian ini menggunakan perlakuan faktorial dalam rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan, faktor pertama adalah konsentrasi rumput laut (R) terdiri dari 4 taraf yaitu: 0,5% (R1), 1% (R2), 1,5% (R3), dan 2% (R4) (b/b), sedangkan faktor kedua adalah lama penyimpanan selama 0 (H1), 2 (H2), dan 4 (H3) minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Kesamaan ragam menggunakan uji Bartlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey dan analisis dilanjutkan dengan uji Polinomial Ortogonal (Steel dan Torrie, 1995).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan rumput laut dengan konsentrasi 1,5% (R3) dan lama penyimpanan 4 minggu (H3) menghasilkan selai nanas lembaran yang masih disukai panelis dengan kadar air 26,87%, total kapang 3,5×102 koloni/g, total padatan terlarut 82,67%, dan organoleptik normal sesuai dengan SNI selai.

# PENGARUH PENAMBAHAN SODIUM HEKSAMETAPHOSPAT TERHADAP KARAKTERISTIK PEKTIN EKSTRAK CINCAU POHON (Premna oblongifolia Merr)

Oleh

Karisman Damanik1, Samsu Udayana N2, dan A Sapta Zuidar2

ABSTRAK

Pektin yang terdapat dalam cincau pohon merupakan sumber serat pangan yang baik,sehingga dibutuhkan pada proses ekstraksi agar didapatkan kandungan serat pangan yang tinggi. Salah satu cara untuk mengoptimalkan ekstraksi pektin adalah dengan menambahkan sodium heksametaphospat yang berfungsi sebagai zat pengkelat logam. Penambahan sodium heksametaphospat diduga akan mempengaruhi karakteristik dari pektin yang terestrak dari cincau pohon (Premna oblongifolia Merr). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sodium heksametaphospat terhadap karakteristik pektin ekstrak cincau pohon (Premna oblongifolia Merr).

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2006, di Laboratorium Pengolahan, laboratorium Hasil Pertanian dan Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan faktor tunggal yang terdiri dari 6 taraf yaitu penambahan sodium heksametaphospat pada taraf konsentrasi 0% ((S1), 0.125% (S2), 0.25% (S3), 0.375% (S4), 0.5% (S5), 0.625% (S6) (b/v) pada saat ekstraksi daun cincau pohon kering dengan 3 kali ulangan. Data yang diperoleh diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartlet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey, kemudian dianalisis sidik ragam untuk menduga ragam galat dan uji signifikasi untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan, kemudian dianalisa lebih lanjut dengan polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.
Dari hasil penelitian didapat bahwa penambahan sodium heksametaphospat akan menurunkan bobot ekivalen, meningkatkan kadar metoksil, kadar asam anhidrogalakturonat dan derajat esterifikasi pektin ekstrak cincau seiring peningkatan konsentrasi sodium heksametaphospat.

# STUDI PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PRODUK TEMPOYAK

Oleh

Dian Indriyati1, Neti Yuliana2, dan Suharyono A.S.2
ABSTRAK

Tempoyak merupakan makanan tradisional yang dikonsumsi sebagai bahan campuran untuk masakan. Berdasarkan survei di lapangan, penjualan tempoyak masih terbatas sebagai tempoyak murni, belum banyak yang dijual sebagai sambal tempoyak. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat preferensi konsumen terhadap produk sambal tempoyak dan juga mengkaji bagaimana pengaruh etnis, jenis kelamin, umur, tingkat ekonomi, serta tingkat pendidikan terhadap preferensi konsumen.

Penelitian dilakukan dengan menguji preferensi konsumen (panelis tidak terlatih) terhadap atribut 3 jenis tempoyak (tempoyak murni, sambal tempoyak mentah dan sambal tempoyak matang), yaitu warna, rasa dan aroma, berdasarkan 7 skor kesukaan. Data lalu dianalisis menggunakan General Linier Model (GLM), sedangkan skor rata-rata dari data preference yang telah dikelompokkan menggunakan metode Principle Component Analysis (PCA).

Hasil dari analisis GLM menunjukkan bahwa etnis, tingkat pendidikan dan tingkat ekonomi mempengaruhi preferensi konsumen, sedangkan perbedaan umur dan jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Berdasarkan analisis PCA, etnis Jawa dan Lampung memiliki tingkat preferensi yang sama, sedangkan preferensi etnis Palembang bertolak belakang dengan kedua etnis tersebut. Kelompok umur 15-20 tahun dan 21-26 tahun memiliki preferensi yang rendah terhadap tempoyak. Kelompok umur ini lebih memilih produk tempoyak yang sudah diolah menjadi sambal matang, sedangkan kelompok umur 27-32 tahun memiliki pilihan yang paling tinggi terhadap tempoyak. Tingkat preferensi panelis lulus SMA dan sarjana bertolak belakang dengan preferensi panelis lulus SD dan SMP. Panelis dengan tingkat ekonomi rendah memiliki preferensi terhadap warna, rasa dan penerimaan keseluruhan sambal tempoyak matang, sedangkan panelis dengan tingkat ekonomi tinggi lebih memilih warna, rasa, aroma dan penerimaan keseluruhan tempoyak murni dan sambal tempoyak mentah serta aroma dari sambal tempoyak matang. Preferensi kelompok jenis kelamin laki-laki dan perempuan berbeda terhadap aroma, rasa, warna dan penerimaan keseluruhan tempoyak murni, aroma dan rasa sambal tempoyak mentah serta aroma, warna, rasa dan penerimaan keseluruhan sambal tempoyak matang.

- ## EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI MINYAK BIJI MENGKUDU
(Morinda citrofilia L.)

Oleh

Hira Mulyani

ABSTRAK

Mengkudu (Morinda citrofilia L.) merupakan tanamanobat dan hampir seluruh bagian tanaman sapat dimanfaatkan, termasuk bijinya. Biji mengkudu diduga mengandung sejumlah komponen asam lemak yang dapta dimanfaatkan untuk bahan kosmetik, pembuatan lilin, message oil. Dalam penelitian ini penggunaan ekstraksi pelarut organik, disebabkan kadar lemak biju mengkudu yang relative rendah (6,64%).

Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi minyak biji mengkudu dengan menggunakan pelarut organic, mempelajari karakteristik sifat resiko kimia dan mengidentifikasi komponen asam lemak mengkudu. Pelarut yang digunakan tiga jenis yaitu n-heksana, kloroforn dan etanol (tiga kali ulangan). Ekstraksi dilakukan pada suhu 80°C selama 5 jam. Data dianalisis dengan RAL (Rancangan Acak Lengkap) lalu dilakukan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil). Penentuan Pelarut terbaik berdasarkan rendemen dan sifat fisiko kimia minyak yang dihasilkan dari proteksi ekstraksi.

Minyak biji mengkudu yang diekstraksi dengan pelarut n-heksana menghasilkan rendemen tertinggi 8,8%, bilangan iodium dan indeks bias besar, bilangan peroksida minyak biji mengkudu hampir sama bilangan asam.. Hasil ansira ketiga perlakuan memberikan perbedaan yang nyata terhadap rendemen, indeks bias, bilangan iodium, bilangan asam dan ketiga perlakuan memberikan perbedaan yang tidak nyata terhadap bilangan peroksida dan berat jenis.

Asam lemak esensial yang dominant terdiri dari asam linoleat, asam oleat, dan asam linolenat. Dari hasil pengukuran rendemen, sifat fisiko kimia dan komponen asam lemak minyak, diketahui pelarut n-heksana menghasilkan minyak dengan karakteristik dengan terbaik.

- ## EVALUASI KINERJA BIOREAKTOR ANAEROBIK DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA DENGAN PERLAKUAN AKLIMATISASI INOKULUM

Oleh
Maryanti1, Udin Hasanudin2, dan Suharyono. A.S2

ABSTRAK
Tapioka merupakan salah satu industri utama di Provinsi Lampung. Industri tapioka akan menimbulkan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Pengolahan limbah cair industri tapioka umumnya menggunakan kolam anaerobik. Penggunaan kolam anaerobik mempunyai kekurangan, diantaranya yaitu hasil samping proses anaerobik yang berupa gas metana tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan akan terlepas ke udara. Gas metana di atmosfer merupakan bagian dari gas rumah kaca yang tergolong penting, karena kemampuannya yang tinggi dalam menyerap gelombang infra merah jauh lebih tinggi dari gas karbondioksida yaitu 21-25 kali. Meningkatnya kepekatan gas metana di atmosfer berpotensi besar sebagai penyebab terjadinya pemanasan udara global. Usaha mencegah terlepasnya gas metana dan karbondioksida ke udara sekaligus mendapatkan valueble material perlu dilakukan dengan mengevaluasi penggunaan bioreaktor anaerobik dengan perlakuan aklimatisasi inokulum dalam pengolahan limbah cair industri tapioka.

Tujuan penelitian ini yaitu mengevaluasi kinerja bioreaktor anaerobik dengan perlakuan aklimatisasi inokulum dalam mengolah limbah cair industri tapioka.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel atau grafik dan kemudian dianalisis secara diskriptif. Dalam penelitian ini limbah cair industri tapioka difermentasi dalam 1 unit bioreaktor dengan kapasitas 50 L selama 80 hari dengan sumber inokulum berasal dari lumpur kolam V IPAL industri tapioka yang telah diaklimatisasi selama 40 hari. Setiap hari dilakukan pengambilan limbah dengan pengembalian limbah baru tanpa dilakukan sonifikasi terlebih dahulu. Parameter yang diamati adalah produksi gas dan konsentrasi gas metana, suhu, nilai pH, suspended solid (SS), volatil suspended solid (VSS), asam organik, dan T-COD.

Hasil penelitian menunjukkan kinerja bioreaktor anaerobik dengan inokulum lumpur kolam V dalam mengolah limbah cair industri tapioka sebagai berikut, nilai pH berkisar antara 6,7-7,5, penurunan nilai T-COD yaitu 36.9 g/l air limbah per hari, penurunan suspended solid dari 11,286 g/l menjadi 4,684 g/l (58,5%) dan volatil suspended solid dari 5,092 g/l menjadi 1,638 g/l (67,8%), produksi gasbio rata-rata per hari sebesar 14.70 NL dengan konsentrasi gas metana 56,18%, dan efisiensi degradasi bahan organik di dalam bioreaktor sebesar 65.79%.

- ## EVALUASI KINERJA BIOREAKTOR ANAEROBIK DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA DENGAN PERLAKUAN SONIFIKASI LIMBAH DAN AKLIMATISASI INOKULUM

Oleh

Yusmiati1, Udin Hasanudin2, dan Suharyono. A.S2

ABSTRAK

Industri tapioka banyak mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan khususnya pencemaran air sungai. Proses anaerobik meniru mekanisme seperti yang terjadi pada perut hewan mamalia yaitu proses pencernaan secara anaerobik. Produk akhir dari proses fermentasi ini adalah gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Sebagai gas rumah kaca, gas metana (CH4) diperhitungkan sebagai sumber pemanasan global yang potensial. Gas metana berkemampuan 25 kali lebih tinggi dari gas CO2 dalam menyerap cahaya inframerah per-mole-nya, sehingga potensi pemanasan relatifnya terhadap CO2 cukup besar dan kontribusinya terhadap pemanasan bumi sekitar 15 – 20%.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja bioreaktor anaerob dalam mengolah limbah cair industri tapioka dengan perlakuan sonifikasi limbah dan aklimatisasi inokulum. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi dengan menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik dan kemudian dianalisis secara deskriptif. Laju pembebanan ditingkatkan secara bertahap dengan tidak menyebabkan perubahan pH secara drastis dengan laju pembebanan maksimal 2,5 liter per hari. Volume limbah dalam bioreaktor dipertahankan sebanyak 50 liter. Pengamatan yang dilakukan adalah jumlah produksi gas, kandungan metana, asam organik, total padatan terlarut, padatan terlarut volatil, T-COD, serta suhu dan nilai pH limbah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu dan pH relatif stabil dengan nilai suhu 28,6 – 34,9 dan nilai pH 5,86 – 7,52, persentase COD removal sebesar 84,42 %, efisiensi proses sebesar 60,64 %, konsentrasi gas metana pada hari ke-48 sebesar 64,29 % dan pada hari ke-76 sebesar 41,73 %. Asam organik yang terdeteksi hanya asam propionat dan asam asetat dengan nilai maksimum 1,23 mg/L pada hari ke-42 untuk asam propionat dan 1,37 mg/L pada hari ke-53 untuk asam asetat. Kandungan suspended solis (SS) dan volatil suspended solid (VSS) cenderung berfluktuasi sampai hari ke-21 dan relatif stabil sampai hari ke-79 dengan nilai SS rata-rata sebesar 4380 mg/L dan nilai rata-rata VSS sebesar 1801,7 mg/L. Kondisi stabil mulai hari ke-25 dengan nilai rata-rata SS sebesar 3947,2 mg/L dan nilai VSS rata-rata sebesar 1463,9 mg/L. Perlakuan sonifikasi dapat meningkatkan biodegradable bahan organik pada limbah tapi dapat menghilangkan bahan-bahan organik volatil pada saat sonifikasi berlangsung dan aklimatisasi dapat mengoptimalkan kerja bakteri untuk mendegrasi bahan organik pada limbah.

- ## EVALUASI KINERJA BIOREAKTOR ANAEROBIK DALAM PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAPIOKA YANG DISONIFIKASI

Oleh
Ramadhani Sari1, Udin Hasanudin2, dan Suharyono2

ABSTRAK

Industri tapioka merupakan salah satu industri yang banyak menimbulkan limbah dalam proses pengolahannya. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah cair adalah proses anaerobik, yang dapat menguraikan bahan organik menjadi biogas. Didalam penelitian ini media pemicu timbulnya gas metana adalah lumpur kolam anaerobik I IPAL industri tapioka PT Umas Jaya Agrotama. Dan upaya untuk mengoptimalkan produksi gas metana maka penggunaan lumpur kolam anaerobik I ini disertai dengan penggunaan limbah cair tapioka segar yang telah disonifikasi.

Sonifikasi merupakan salah satu cara yang cepat dan mudah didalam membantu proses pemecahan bahan-bahan organik yang terdapat pada limbah cair (misalnya pati, lemak, protein dan asam nukleat) menjadi bentuk molekul yang lebih sederhana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kinerja bioreaktor anerobik dalam mengolah limbah cair industri tapioka yang disonifikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskripsi dengan menyajikan hasil pengamatan dalam bentuk tabel dan grafik, kemudian dianalisis secara deskriptif. Pelaksanaan penelitian meliputi persiapan bioreaktor, pengisian tangki kendali suhu konstan (suhu konstan pada 37o C), pengambilan lumpur kolam anaerobik I IPAL industri tapioka (menggunakan sediment sampler), sonifikasi limbah cair, dan pengambilan sampel harian. Penelitian ini menggunakan bioreaktor anaerobik dengan kapasitas 50 L selama 80 hari. Pengamatan dilakukan pada volume gasbio, konsentrasi gas metana, konsentrasi asam organik, total padatan tersuspensi, padatan tersuspensi volatil, nilai T-COD, suhu dan nilai pH harian limbah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja bioreaktor anaerobik dalam mengolah limbah cair industri tapioka yang disonifikasi dalam memproduksi gas metana memiliki efisiensi proses sebesar 70,84%, dengan nilai COD removal sebesar 33,2 gCOD/hari. Kondisi nilai pH dan suhu pada hari ke-1 hingga ke-80 cenderung stabil. Volume gasbio, T-COD, nilai SS dan VSS pada hari ke-1 hingga ke-36 dalam kondisi tidak stabil, sedangkan pada hari ke-37 hingga hari ke-80 berlangsung stabil. Konsentrasi asam organik selama 80 hari berlangsung tidak stabil, hal ini didukung pula dengan produksi gas metana yang menurun.

- ## EVALUASI KUALITAS 2 VARIETAS JAGUNG LOKAL (BISI – 2 DAN LAMURU) DAN JAGUNG QPM (SRIKANDI PUTIH) MELALUI PENENTUAN PROTEN DIGESTIBILITY CORRECTED AMINO ACID SCORE (PDCAAS)

Oleh

Zelly Nurrohim1, Samsu Udayana2, dan Sapta Zuidar2

ABSTRAK

Jagung memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal kualitas dari protein jagung tersebut. Rendahnya kualitas protein jagung disebabkan terdapatnya beberapa asam-asam amino esensial dalam jumlah yang terbatas, seperti lisin dan triptofan. Saat ini sudah ada jagung dengan kualitas protein tinggi yang disebut Quality Protein Maize (QPM). Jagung QPM ini hasil ciptaan dari lembaga penelitian internasional CIMMYT di Meksiko. Menurut Paliwal (2000), jagung QPM memiliki kandungan lisin dan triptofan dua kali lebih tinggi dari jagung biasa.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu protein jagung lokal (varietas Bisi-2 dan Lamuru) dan jagung QPM (varietas Srikandi Putih) melalui metode PDCAAS (Protein Digestibility Corrected Amino Acid Score).

Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) menggunakan 8 ulangan, dengan perlakuan tunggal yang terdiri dari 3 varietas jagung yaitu jagung QPM varietas Srikandi Putih, jagung varietas Bisi-2, dan jagung varietas Lamuru. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat dan perbedaan antar perlakuan. Homogenitas data dilakukan denga uji Bartlett dan Additivitas dilakukan dengan uji Tukey. Analisis lanjutan menggunakan uji BNT pada taraf 1% dan 5%. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis proksimat, komposisi asam amino, skor asam amino, jumlah pakan terkonsumsi, perkembangan dan pertambahan berat badan, daya cerna sejati, dan PDCAAS.

Dari hasil penelitian jagung QPM varietas Srikandi Putih memiliki nilai PDCAAS yang lebih rendah dibandingkan dua varietas jagung lokal. Hal ini menandakan bahwa kualitas protein jagung QPM varietas Srikandi Putih tidak lebih baik dari jagung biasa (Bisi-2 dan Lamuru).

- ## ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ASAM LAKTAT PADA FERMENTASI IKAN (RUSIP)

Oleh

Yessy Kurniati1, Neti Yuliana2, dan Dyah Koesoema Wardani2

ABSTRAK

Salah satu produk fermentasi ikan secara tradisional adalah rusip yaitu salah satu makanan khas di Provinsi Bangka-Belitung. Untuk melakukan pengembangan pada produk fermentasi ikan (rusip) diperlukan data tentang jenis bakteri asam laktat yang berperan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri asam laktat pada fermentasi ikan (rusip).

Penelitian dilakukan terhadap fermentasi ikan (rusip) yang dibuat di Laboratorium. Tahap- tahap yang dilakukan adalah: Uji pendahuluan (pH dan total asam selama selama 20 hari fermentasi). Isolasi bakteri asam laktat dilakukan pada hari 0 (H0), hari ke 3 (H3), hari ke5 (H5), hari ke10 (H10), dan hari ke 15 (H15). Identifikasi awal (pewarnaan Gram, uji katalase, pengujian terhadap spora), kemudian dilanjutkan uji biokimia (produksi CO2 dari glukosa, produksi amonia dari arginin, produksi dekstran dari sukrosa, pertumbuhan pada suhu 100C ± 2.

Hasil uji pendahuluan menunjukkan bahwa perubahan total asam dan pH selama 20 hari fermentasi, terjadi pada hari fermentasi ketiga, kelima, kesepeluh dan kelima belas. Hasil isolasi bakteri asam laktat dari fermentasi ikan (Rusip) yang difermentasi selama 15 hari, dihasilkan 29 isolat dengan ciri-ciri coccus, Gram positif (+), katalase negatif (-), dan spora negatif (-). Hasil identifikasi terhadap 29 isolat bakteri asam laktat tersebut terdiri dari 10 isolat Leuconostoc, 12 isolat Streptococcus, 7 isolat Lactococcus, sehingga dapat disimpulkan bahwa bakteri asam laktat yang berperan selama fermentasi ikan (rusip) adalah Leuconostoc, Streptococcus, dan Lactococcus. Genus Streptococcus lebih ditemukan pada awal fermentasi, sedangkan Lactococcus berperan pada pertengahan fermentasi, pada akhir fermentasi bakteri asam laktat yang berperan adalah Leuconostoc.

- ## KAJIAN POTENSI PROBIOTIK MINUMAN LAKTAT SARI KULIT NENAS YANG DIFERMENTASI OLEH Lactobacillus acidophilus SECARA in vivo

Oleh

Mujiati1, Samsul Rizal2, dan Samsu Udayana Nurdin2

ABSTRAK

Minuman fermentasi laktat dari sari kulit nenas diketahui mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen, namun produk belum dibuktikan secara ilmiah mampu mengendalikan bakteri penyebab penyakit dalam saluran pencernaan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji potensi probiotik minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi oleh Lactobacillus acidophilus menggunakan tikus percobaan dengan menguji pengaruh produk terhadap mikroflora usus besar tikus percobaan.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh pemberian minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi Lactobacillus acidophilus terhadap mikroflora usus besar tikus percobaan dan mengetahui potensi minuman tersebut sebagai minuman probiotik.

Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 6 ulangan. Disediakan 3 kelompok tikus yang masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (setiap ekor mewakili sebagai ulangan). Ketiga kelompok tersebut diberi perlakuan yang berbeda yaitu perlakuan pemberian air minum biasa, minuman fermentasi laktat sari kulit nenas dan sari kulit nenas tanpa fermentasi. Data hasil pengamatan diuji kesamaan ragamnya dengan uji Barlett dan kemenambahannya dengan uji Tuckey. Data diolah dengan sidik ragam untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan dan diolah lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi oleh Lactobacillus acidophilus menghasilkan total bakteri asam laktat digesta tertinggi yaitu sebesar 1,6×1012 koloni/gram dan total koliform terendah sebesar 3,7×1011 koloni/gram dibandingkan perlakuan minuman sari kulit nenas tanpa fermentasi dan air biasa sebagai kontrol. Minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi oleh Lactobacillus acidophilus efektif dalam meningkatkan total bakteri asam laktat dan menurunkan total koliform secara nyata di dalam usus besar tikus percobaan. Minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi oleh Lactobacillus acidophilus terbukti berperan dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen usus besar tikus percobaan dengan menurunkan total koliform secara in vivo sehingga dapat dikembangkan sebagai minuman probiotik.

- ## KAJIAN POTENSI PROBIOTIK MINUMAN LAKTAT SARI KULIT NENAS YANG DIFERMENTASI OLEH Lactobacillus casei

Oleh

Ersi Oktarini1, Samsu Udayana Nurdin2, dan Samsul Rizal2

ABSTRAK

Studi perencanaan aktivitas antimikroba bakteri asam laktat pada produk fermentasi laktat kulit nenas dalam menekan bakteri penyebab penyakit telah banyak dilakukan, tetapi produk yang dihasilkan belum terbukti secara ilmiah mampu mengendalikan bakteri penyebab penyakit yang terdapat di dalam slauran pencernaan melalui mekanismenya sebagai minuman probiotik. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengkaji potensi probiotik minuman fermentasi laktat sari kkulit nenas melalui hewan percobaan dengan menguji pengaruh produk terhadap keseimbangan mikroflora usus besar tikus percobaan.

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mempelajari pengaruh pemberian minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi Lactobacillus casei subsp Rhamnosus terhadap mikroflora usus besar tikus percobaab dan mengetahui potensi minuman fermentasi laktat tersebut sebagai minuman prebiotik.

Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 6 ulangan. Disediakan 3 kelompok tikus yang masing-masing terdiri dari 6 ekor tikus (setiap ekor mewakili sebagai ulangan). Ketiga kelompok tersebut diberi perlakuan yang berbeda. Satu kelompok yaitu perlakuan pemberian air minum biasa, satu kelompok perlakuan pemberian minuman fermentasi laktat sari kulit nenas dan satu lagi perlakuan pemberian sari kulit nenas tanpa fermentasi. Data hasil pengamatan diuji kesamaan ragamnya dengan uji Barlett dan kemenambahannya dengan uji Tuckey. Data diolah dengan sidik ragam untuk mengetahui ada tidakya perbedaan perlakuan dan diolah lanjut dengan Uji Beda Terkecil (BNT) pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian minuman laktat sari kulit nenas yang difermentasi Lactobacillus casei menghasilkan nilai total bakteri asam laktat digesta yang lebih tinggi namun menghasilkan nilai total koliform digesta yang lebih rendah daripada pemberian minuman tanpa fermentasi dari air biasa sebagai control pada tikus percobaaab (Sprague dawley) dengan jumlah bakteri asam laktat digesta sebesar 1,55 x 1012 koloni/gram fan jumlah koliform digesta sebesar 3,70 x 1011 koloni/gram. Miuma laktat sari kulit nenas yang difermentasi Lactobacillus casei cenderung memiliki potensi prebiotik karena kemampuannya dalam menekan pertumbuhan bakteri pantogen di usus besar tikus percobaan.

- ## KARAKTERISASI RUSIP DARI PULAU BANGKA

Oleh
Achmad Madani1, Dyah Koesoemawardani2, dan Susilawati2
ABSTRAK
Rusip merupakan produk fermentasi ikan tradisional dari daerah Bangka Propinsi Bangka Belitung berupa awetan ikan yang berukuran kecil terutama ikan teri dengan penambahan garam dan gula aren. Produk fermentasi ikan umumnya sangat disukai oleh masyarakat karena produk akhirnya mempunyai ciri-ciri khusus saperti bau (odour), rasa (flavour), bentuk (appearance), dan tekstur yang khas serta memiliki daya cerna yang relatif lebih tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi rusip dari Pulau Bangka terutama sifat kimia, mikrobiologi dan sifat sensorinya. Hipotesis yang diajukan yaitu produk rusip yang berasal dari Bangka memiliki karakteristik yang spesifik yang berbeda dari produk fermentasi lainnya

Penelitian ini dilakukan dengan metode survey pada beberapa pasar yang ada disekitar Kabupaten Bangka Induk Provinsi Bangka Belitung. Sampel diambil dari pasar atau toko menggunakan teknik purpose. Dari 68 produsen rusip yang ada di Bangka Induk diambil sampel sebanyak 12 produk rusip dari asal pengrajin yang berbeda.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan kadar air, pH, lemak, total protein, total volatile nitrogen (TVN), trimetilamin (TMA), total mikroba, total kapang, total bakteri asam laktat dan sensori dari rusip bangka dapat disebabkan bahan baku dan cara pembuatan yang berbeda dari setiap pengrajin rusip. Sifat kima dan mikrobiologi dari rusip Bangka adalah kadar air 62,19 – 83,74%, pH 5,01 – 6,10, kadar garam 17 – 30%, lemak 1,82 – 3,06%, total protein 10,52 – 14,45%, total volatile nitrogen (TVN) 1,65 – 2384,54 mg N/100g, trimetilamin (TMA) 11,55 – 94,58 mg N/100g, total mikroba adalah 8,23 – 13,45 log CFU/g, total kapang 1,70 – 6,49 log CFU/g, dan total bakteri asam laktat 7,62 – 10,23 log CFU/g. Sementara itu, hasil sensori rusip Bangka adalah kental, bentuk ikan masih terlihat, berwarna coklat sampai abu-abu, beraroma amis, busuk dan beraroma terasi, dengan rasa asin dan asam

- ## LAJU RESPIRASI CABAI MERAH (Capsicum annum L) DALAM PENYIMPANAN ATMOSFER PASIF DENGAN PLASTIK POLIETILEN

Oleh

Muaddin1, Rofandi Hartanto2, dan Sapto Kuncoro2

ABSTRAK

Cabai merah merupakan komoditas holtikultura yang banyak diusahakan di Propinsi Lampung dalam berbagai skala usaha. Permintaan akan cabai merah terus meningkat sejalan pertambahan jumlah penduduk dan pengembangan diversifikasi olahan dari cabai merah, sehingga masyarakat tidak hanya dapat mengkonsumsi cabai dalam bentuk segar, tetapi dapat dalam bentuk yang sudah diawetkan. Cabai bersifat mudah rusak (perishable), karena buah cabai yang dipanen mengalami perubahan-perubahan fisiologi, kimia dan biokimia yang disebabkan oleh aktivitas metabolisme. Proses metabolic yang terpenting pascapanen adalah respirasi yang meliputi perombakan subtract organic (Apandi, 1984). Laju respirasi merupakan indicator laju metabolisme jaringan dan digunakan sebagai petunjuk mengenai potensi daya simpan (storage file) buah-buahan dan sayur-sayuran (Wills et al., 1981).

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan besarnya laju respirasi cabai merah dalam penyimpanan atmosfer pasif dengan plastic polietilen densitas rendah (LPDE) dengan ketebalan 3o µm. Pengukuran respirasi didasarkan pada akumulasi produksi CO2 yang tertahan pada kemasan film. Penelitian menggunakan rancangan factorial dengan 2 faktor yaitu factor jumlah Perforasi pada kemasan plastic dan factor suhu. Faktor perforasi dengan 4 taraf yaitu : tanpa perforasi (F0), Perforasi 2 (F2), perforasi 4 (F4) dan Perforasi 6 (F6) dan factor suhu yaitu suhu ruang (28ºC) dan suhu rendah (18-20ºC) dengan 3 kali pengulangan. Parameter yang diamati yaitu : laju respirasi, bobot buah dan umur simpan.

Hasil penelitian menunjukkan laju respirasi cabi merah semakin menurun dan menunjukkan pola yang teratur. Laju respirasi pada suhu ruang dan suhu rendah menunjukkan hubungan persamaan Y = AX-kl. Faktor perforasi pada permukaan kemasan dengan berbagai taraf menunjukkan pengaryh yang signifikan terhadap akumulasi produksi CO2 yang diindikasikan dengan nilai konstanta laju reaksi menyeluruh (kL) yang semakin besar pada taraf perforasi yang lebih besar. Bobot buah selama penelitian mengalami penurunan bobot secara terus menerus yang disebabkan oleh proses transpirasi dan respirasi buah cabai merah. Cabai dalam kemasan plastic yang disimpan pada suhu ruang meliputi umur simpan rata-rata 7 hari, sedangkan yang disimpan pada suhu dingin mempunyai umur simpan yang bervariasi 7-9 hari.

- ## PENGARUH JENIS TEMPE DAN BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT KIMIA DAN ORGANOLEPTIK PRODUK NUGGET TEMPE

Oleh
Reni Oktorina1, Suharyono AS.2, dan Susilawati2

ABSTRAK

Nugget adalah produk olahan daging giling yang diberi bumbu-bumbu dan dicampur bahan pengikat kemudian dicetak menjadi suatu bentuk tertentu yang selanjutnya dilumuri tepung roti, digoreng setengah matang lalu dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan dan pembentukan tekstur.

Saat ini, nugget di pasaran menggunakan bahan baku daging atau ikan yang harganya relatif mahal. Oleh karena itu, digunakan tempe sebagai alternatif pengganti daging atau ikan. Tempe yang digunakan adalah tempe kedelai dan tempe benguk. Dalam penelitian ini digunakan empat jenis tepung sebagai bahan pengikat yaitu tepung tapioka, tepung terigu, tepung sagu, dan tepung maizena. Penelitian ini bertujuan memperoleh jenis tempe dan jenis bahan pengikat yang dapat menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan organoleptik terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah (1) Terdapat jenis tempe yang menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan organoleptik terbaik (2) Terdapat jenis bahan pengikat yang menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan organoleptik terbaik (3) Terdapat interaksi antara jenis tempe dan jenis bahan pengikat yang menghasilkan nugget tempe dengan sifat kimia dan organoleptik terbaik.

Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis tempe (T) terdiri dari dua taraf yaitu tempe kedelai (T1) dan tempe benguk (T2). Faktor kedua adalah jenis bahan pengikat (P) terdiri dari empat taraf yaitu tepung tapioka (P1), tepung terigu (P2), tepung sagu (P3), dan tepung maizena (P4). Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dan uji signifikasi. Selanjutnya data dianalisis lebih lanjut dengan perbandingan orthogonal pada taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis tempe kedelai menghasilkan nugget tempe dengan komposisi kimia dan organoleptik terbaik. Jenis bahan pengikat tepung maizena menghasilkan nugget tempe dengan komposisi kimia dan organoleptik terbaik. Terdapat interaksi antara jenis tempe kedelai dan tepung maizena terhadap kadar protein, kadar karbohidrat, dan kadar lemak, yang menghasilkan nugget dengan komposisi kimia dan organoleptik terbaik dengan kadar air 52,91 %, kadar protein 16,53 %, kadar karbohidrat 6,56 %, kadar lemak 19,7 %, skor warna 3,27 (kuning kecoklatan), aroma 2,47 (khas tempe), rasa 3,04 (khas tempe), tekstur 2,75 (kompak), dan penerimaan keseluruhan 3,17 (suka).

- ## PENGARUH KONSENTRASI SUSU SKIM DAN GLUKOSA PADA PROSES PEMBUATAN MINUMAN LAKTAT DARI KULIT NANAS YANG DIFERMENTASI OLEH Lactobacillus acidhopillus

Oleh

Joko Arif Prasetyo1, Marniza 2, dan Samsul Rizal2

ABSTRAK

Penggunaan bahan baku susu pada pembuatan minuman laktat dianggap cukup mahal oleh sebagian masarakat sehingga perlu dicari alternatif bahan pengganti susu. Kulit nenas yang mencapai 23 % dari jumlah bagian yang dapat dimakan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minuman laktat. Pemanfaatan kulit nanas ini dapat meningkatkan nilai ekonomisnya juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang disebabkan olehnya. Untuk memberikan kondisi yang optimum bagi pertumbuhan bakteri asam laktat, maka perlu ditambahkan susu skim dan glukosa untuk menghasilkan minuman fermentasi laktat sari kulit nenas dengan karakteristik terbaik.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi glukosa dan skim yang menghasilkan minuman fermentasi laktat dari sari kulit nanas terbaik yang difermentasi dengan Lactobacillus acidophilus. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) terdapat konsentrasi susu skim yang tepat untuk menghasilkan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas terbaik, (2) terdapat konsentrasi glukosa yang tepat untuk menghasilkan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas terbaik, (3) terdapat interaksi antara penambahan susu skim dan glukosa untuk menghasilkan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas terbaik.

Perlakuan disusun secara faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan tiga kali ulangan. Penelitian dilakukan menggunakan dua faktor, yaitu faktor pertama adalah konsentrasi glukosa (G) yang terdiri dari empat taraf yaitu 0%, 2%, 4%, dan 6%, sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi susu bubuk skim (S) yang terdiri dari empat taraf yaitu 0%, 4%, 8%, dan 12%. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data hasil pengamatan minuman laktat dianalisis dengan sidik ragam untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antar perlakuan. Data diolah lebih lanjut dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penambahan glukosa 2% dan susu skim 4% menghasilkan minuman fermentasi laktat sari kulit nanas terbaik, dengan konsentrasi asam laktat 1,26% dengan pH 3,96, total BAL 2,87 x 1010 koloni/ml, rasa dengan skor 3,14 (agak suka), aroma dengan skor 3,33 (agak suka), warna dengan skor 3,51 (suka), penampakan dengan skor 3,45 (agak suka), dan penerimaan keseluruhan sengan skor 3,36 (agak suka).

- ## PENGARUH PENAMBAHAN KULTUR CAIR BAKTERI ASAM LAKTAT PADA RUSIP

Oleh

Eka Nurulita1, Susilawati2, dan Neti Yuliana2

ABSTRAK

Produk fermentasi hasil perikanan mempunyai beberapa kekurangan yaitu mutu yang tidak stabil, tidak seragam bahkan terkadang mutunya sangat rendah dan membahayakan konsumen. Hal ini, karena pada pengolahan ikan tradisional umumnya proses fermentasi berlangsung secara spontan tanpa penambahan strater bakteri yang dikehendaki.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik rusip yang ditambahkan kultur cair bakteri asam laktat dan dibandingkan dengan rusip yang dihasilkan tanpa penambahan kultur (fermentasi spontan). Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu : (1) pembuatan kultur cair, (2) pembuatan rusip, dan (3) aplikasi kultur cair pada produk fermentasi rusip yang dibandingkan dengan produk fermentasi rusip tanpa penambahan kultur cair (fermentasi spontan). Perlakuan pada tahap tiga diulang sebanyak tiga kali. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan klasifikasi satu arah menggunakan suji t pada taraf alpha 5%.

Fermentasi dengan penambahan kultur cair menghasilkan pH, total volatil nitrogen, total mikroba aerobik, total kapang lebih rendah dibandingkan dengan fermentasi secara spontan. Sedangkan total asam dan total bakteri asam laktat yang dihasilkan dengan penambahan kultur cair lebih tinggi dibandingkan dengan fermentasi spontan. Akan tetapi, kadar air dan kadar garam tidak dipengaruhi oleh penambahan kultur cair. Karakteristik rusip dengan penambahan kultur cair pada hari keenam belas adalah sebagai berikut : kadar air 65,17%, pH 5,38, total asam laktat 25,50%, total volatil nitrogen (TVN) 67,31 mg N/100g, total mikroba aerobik 5,60 log cfu/g, total bakteri asam laktat 12,41 log cfu/g, total kapang 4,08 log cfu/g, kadar garam 25%. Sedangkan karakteristik rusip secara spontan pada hari keenam belas adalah sebagai berikut : kadar air 50,6%, pH 6,01, total asam laktat 20,33%, total volatil nitrogen (TVN) 76,41 mg N/100g, total mikroba 8,34 log cfu/g, total bakteri asam laktat 10,46 log cfu/ g, total kapang 5,76 log cfu/g, kadar garam 25%.

============================================================

keterangan:
1. Alumni Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

copyrigth: unila
reposted : ahlifikir

@_@

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN PERKAPALAN | PERIKANAN | PENANGKAPAN | PELABUHAN | NAUTIKA | KELAUTAN

STUDI SISTEM PERENCANAAN DAN PENJADWALAN PERAWATAN PERALATAN PRODUKSI DI PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

STUDY OF PLANNING AND SCHEDULING FOR MAINTENANCE OF PRODUCTION FACILITY AT PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

Created by :
Ardipriyonggo, Johanes Dominicus Darmawan ( )

Subject: Shipyards
Alt. Subject : Shipyards
Keyword: peralatan produksi sebuah galangan
observasi
software Microsoft Office Project 2003

[ Description ]

Tujuan tugas akhir ini adalah melakukan studi tentang perencanaan dan penjadwalan perawatan peralatan produksi sebuah galangan. Pertama, dilakukan observasi terhadap pendekatan yang ada di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya. Setelah dilakukan observasi ternyata sistem perawatan peralatan di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya masih bersifat kuratif. Sehingga menyebabkan banyak biaya yang dikeluarkan. Kedua, dipelajari kemungkinan untuk mengaplikasikan pembuatan jadwal yang berbasis proses produksi dengan simulasi menggunakan software Microsoft Office Project 2003 . Sehingga dihasilkan jadwal perawatan peralatan yang tidak menggangu jadwal produksi dan dengan beberapa asumsi penghematan biaya produksi sampai dengan 20%.

Alt. Description

The purpose of this final project is to study on maintenance planning and scheduling for production facility of a shipyard. First, observation of existing condition at PT. Dok dan Perkapalan Surabaya was conducted. The result is that the maintenance system for production facility at PT. Dok dan Perkapalan Surabaya is still using curative approach. This caused high cost. The second, is to study the possibility of using maintenance system based on production process with simulation using Microsoft Office Project 2003. This approach is more effective and with some assumptions can save production cost about 20%.

Contributor :

1. Ir. Triwilaswandio WP, M.Sc

=========================================================

SISTEM KENDALI CERDAS DALAM RANGKA MEMBANGUN WAHANA LAUT TANPA AWAK

Created by :
Masroeri, A.A. ( )

Subject: Elektronika dalam navigasi
Keyword: Sistem kendali cerdas

[ Description ]

Indonesia adalah Negara kepulauan dimana Iebih dari 17000 pulau yang membentang pada jarak 5100 km dan mempunyai lebih dari 2100 pelabuhan, sehingga sektor kelautan memegang peranan yang sangat penting daIam sistem transportasi lokal. Pembangunan transportasi pada dasarnya diarahkan agar dapat berperan lebih besar dalam pembangunan ekonomi, sosial, budaya, politik dan pertahanan keamanan. Kemajuan dibidang perkapalan khususnya sistem permesinan dan operasional perkapalan mengalarni kemajuan yang sangat pesat, sistem permesinan dan operasional perkapalan semakin rumit dan komplek ditunjang dengan kemajuan komputer·dan teknologi informasi yang demikian canggih. Sistem pengendalian jarak jauh dan tingkat otomatisasi yang semakin tinggi serta sistem operasi terpadu telah banyak dipergunakan didalam sistem permesinan maupun operasional perkapalan, disisi lain perusahaan pelayaran selalu meningkatkan usahanya untuk lebih mengurangi anak buah kapal dalam rangka mengurangi beaya operasional. Sehingga sistem permesinan dan operasional kapal ditangani oleh anak buah kapal yang mempunyai tugas ganda yang kemungkinan tidak memiliki pengetahuan memadai untuk menguasai tugas-tugasnya.

=========================================================

OPTIMASI WAKTU UNTUK LAYOUT GALANGAN KAPAL PT. DOK DAN PERKAPALAN WAIAME AMBON

Created by :
Assel, Hadi Yamin ( )

Subject: Shipyards
Alt. Subject : Shipyards
Keyword: Layout
Critical Path Method (CPM)
SWOT

[ Description ]

Indonesia merupakan negara bahari yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar merupakan laut sangatlah potensial untuk dimanfaatkan pada industri perkapalan. Salah satu industri perkapalan yang ada di Indonesia adalah PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon, yang terletak di Propinsi Maluku. PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon adalah perusahaan galangan kapal yang menitikberatkan jasa usahanya pada reparasi kapal. Namun, kendala yang dihadapi saat ini adalah rusaknya sebagian besar fasilitas yang ada akibat kerusuhan yang melanda daerah Maluku. Oleh karena itu, diperlukan rancangan layout yang baru untuk dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi galangan kapal. Metode Critical Path Method (CPM) dan metode SWOT adalah metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta dapat menganalisis strategi yang dapat diambil perusahaan dimasa yang akan datang. Pada hasil penelitian yang dilakukan dengan metode CPM, maka untuk layout baru diperoleh peningkatan produktivitas sebesar 4,74 kali dari layout lama. Sedangkan untuk efisiensi terjadi peningkatan efisiensi waktu sebesar 15,05 % dari efisiensi layout sebelumnya. Dengan menggunakan metode SWOT, maka dalam diagram analisis SWOT terjadi perpindahan posisi perusahaan dari sebelumnya berada pada kuadran III (-0,50;+1,10) menjadi berada pada kuadran I (+0,70;+1,10).

Alt. Description

Indonesia called maritime country, with most of the region is sea. The geographic condition of Indonesia was very potential to be used in naval industry. One of the naval industries in Indonesia is PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon, located in Maluku Province. PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon is a shipyard company that gives their priority service to ship repair. But now, the problem is most of the facility was damaged, cause of the riot in Maluku Province. Therefore, new layout is needed, to increase productivity and efficiency of shipyard. Critical Path Method (CPM) and SWOT method can be used to increase productivity and efficiency and also can analyze strategy of the company in the future. According to CPM analyze, in the new layout, the result showed that productivity increase 4,74 times from the old layout. And the efficiency was also increase 15,05% from the old layout. With SWOT method analyze, on the SWOT analyze diagram, the company position move from the third quadrant (-0,50;+1,10) to the first quadrant (+0,70;+1,10).

Contributor :

1. Dr. Basuki Widodo, MSc
Dra. Laksmi Prita W., MSi

=========================================================

OPTIMASI WAKTU UNTUK LAYOUT GALANGAN KAPAL PT. DOK DAN PERKAPALAN WAIAME AMBON

Created by :
Assel, Hadi Yamin ( )

Subject: Shipyards
Alt. Subject : Shipyards
Keyword: Layout
Critical Path Method (CPM)
SWOT

[ Description ]

Indonesia merupakan negara bahari yang sebagian besar wilayahnya adalah laut. Kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar merupakan laut sangatlah potensial untuk dimanfaatkan pada industri perkapalan. Salah satu industri perkapalan yang ada di Indonesia adalah PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon, yang terletak di Propinsi Maluku. PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon adalah perusahaan galangan kapal yang menitikberatkan jasa usahanya pada reparasi kapal. Namun, kendala yang dihadapi saat ini adalah rusaknya sebagian besar fasilitas yang ada akibat kerusuhan yang melanda daerah Maluku. Oleh karena itu, diperlukan rancangan layout yang baru untuk dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi galangan kapal. Metode Critical Path Method (CPM) dan metode SWOT adalah metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta dapat menganalisis strategi yang dapat diambil perusahaan dimasa yang akan datang. Pada hasil penelitian yang dilakukan dengan metode CPM, maka untuk layout baru diperoleh peningkatan produktivitas sebesar 4,74 kali dari layout lama. Sedangkan untuk efisiensi terjadi peningkatan efisiensi waktu sebesar 15,05 % dari efisiensi layout sebelumnya. Dengan menggunakan metode SWOT, maka dalam diagram analisis SWOT terjadi perpindahan posisi perusahaan dari sebelumnya berada pada kuadran III (-0,50;+1,10) menjadi berada pada kuadran I (+0,70;+1,10).

Alt. Description

Indonesia called maritime country, with most of the region is sea. The geographic condition of Indonesia was very potential to be used in naval industry. One of the naval industries in Indonesia is PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon, located in Maluku Province. PT. Dok dan Perkapalan Waiame Ambon is a shipyard company that gives their priority service to ship repair. But now, the problem is most of the facility was damaged, cause of the riot in Maluku Province. Therefore, new layout is needed, to increase productivity and efficiency of shipyard. Critical Path Method (CPM) and SWOT method can be used to increase productivity and efficiency and also can analyze strategy of the company in the future. According to CPM analyze, in the new layout, the result showed that productivity increase 4,74 times from the old layout. And the efficiency was also increase 15,05% from the old layout. With SWOT method analyze, on the SWOT analyze diagram, the company position move from the third quadrant (-0,50;+1,10) to the first quadrant (+0,70;+1,10).

Contributor :

1. Dr. Basuki Widodo, MSc
Dra. Laksmi Prita W., MSi

=========================================================

STUDI KELAYAKAN PENGGANTIAN PROSES PENGELASAN SMAW DENGAN FCAW DI PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS DAN EKONOMIS

FEASIBILIY STUDY OF REPLACEMENT SMAW WITH FCAW WELDING PROCESS IN PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA E5ALUATED FROM ECONOMIC AND TECHNICAL

Created by :
Gunawan, Iwan ( )

Subject: las
Keyword: Transformasi pengelasan
SMAW
FCAW

[ Description ]

Teknologi pengelasan merupakan Proses utama dalam pembangunan kapal saat ini.Pengelasan yang dilakukan secara manual saat ini di PT.Dok Dan Perkapalan Surabaya yaitu pengelasan SMAW merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh pihak perusahaan dalam meningkatkan efisiensi kerja tukang las.Perkembangan teknologi yang saat ini menjadikan pengelasan SMAW tertinggal dari pengelasan yang bersifat otomatis atau semi otomatis .Dengan peningkatan pembangunan kapal baru di PT.Dok Dan Perkapalan surabaya,menjadikan keterbatasan dalam penyelesaian kapal pada tepat waktunya.Dari hal tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan pada tepat waktunya sebaiknya pihak perusahaan mentransformasikan teknologi pengelasan dari manual ke otomatis atau semi otomatis. Dengan adanya teknologi pengelasan yang bersifat otomatis atau semi otomatis yaitu pengelasan FCAW telah terbukti dapat mengurangi Jam Orang pada tukang las sehingga berdampak pada pekerjaan yang akan selesai pada tepat waktunya.Hasil las yang didapat pun kualitasnya bagus dan terdapat sedikit cacat las seperti spatter. Prosentase Jam Orang Pada Pengelasan FCAW lebih sedikit 35 % dari pengelasan SMAW.

Alt. Description

Technology of welding represent especial Process in development of moment ship. Welding done/conducted manually in this time in PT.DOK dan Perkapalan of Surabaya that is welding of SMAW represent one of the constraint faced by company party/ side in improving joiney efficiency of weld. Development of technological which in this time make welding of SMAW drop behind from welding having the character of automatically or semi automatically . With make-up of development of new ship in PT.DOK dan Perkapalan of limitation surabaya,can be in solving of ship at precisely the mentioned this time. From to finish work at on schedule company party/ side him better technological transformation of welding manual to automatically or semi automatically. With existence of technology of welding having the character of automatically or semi automatically that is welding of FCAW have proven can lessen Hour/Clock. People at welder so that affect at work to finish at precisely got weld time.Result even also its quality nicely and there are a few/little handicap of weld like spatter. Percentage Of Hour/Clock People At slimmer. Welding FCAW 35 % from welding of SMAW.

Contributor :

1. Ir. Triwilaswandio WP,M.Sc

=========================================================

STUDI KELAYAKAN PENGGANTIAN PROSES PENGELASAN SMAW DENGAN FCAW DI PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS DAN EKONOMIS

FEASIBILIY STUDY OF REPLACEMENT SMAW WITH FCAW WELDING PROCESS IN PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA E5ALUATED FROM ECONOMIC AND TECHNICAL

Created by :
Gunawan, Iwan ( )

Subject: las
Keyword: Transformasi pengelasan
SMAW
FCAW

[ Description ]

Teknologi pengelasan merupakan Proses utama dalam pembangunan kapal saat ini.Pengelasan yang dilakukan secara manual saat ini di PT.Dok Dan Perkapalan Surabaya yaitu pengelasan SMAW merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh pihak perusahaan dalam meningkatkan efisiensi kerja tukang las.Perkembangan teknologi yang saat ini menjadikan pengelasan SMAW tertinggal dari pengelasan yang bersifat otomatis atau semi otomatis .Dengan peningkatan pembangunan kapal baru di PT.Dok Dan Perkapalan surabaya,menjadikan keterbatasan dalam penyelesaian kapal pada tepat waktunya.Dari hal tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan pada tepat waktunya sebaiknya pihak perusahaan mentransformasikan teknologi pengelasan dari manual ke otomatis atau semi otomatis. Dengan adanya teknologi pengelasan yang bersifat otomatis atau semi otomatis yaitu pengelasan FCAW telah terbukti dapat mengurangi Jam Orang pada tukang las sehingga berdampak pada pekerjaan yang akan selesai pada tepat waktunya.Hasil las yang didapat pun kualitasnya bagus dan terdapat sedikit cacat las seperti spatter. Prosentase Jam Orang Pada Pengelasan FCAW lebih sedikit 35 % dari pengelasan SMAW.

Alt. Description

Technology of welding represent especial Process in development of moment ship. Welding done/conducted manually in this time in PT.DOK dan Perkapalan of Surabaya that is welding of SMAW represent one of the constraint faced by company party/ side in improving joiney efficiency of weld. Development of technological which in this time make welding of SMAW drop behind from welding having the character of automatically or semi automatically . With make-up of development of new ship in PT.DOK dan Perkapalan of limitation surabaya,can be in solving of ship at precisely the mentioned this time. From to finish work at on schedule company party/ side him better technological transformation of welding manual to automatically or semi automatically. With existence of technology of welding having the character of automatically or semi automatically that is welding of FCAW have proven can lessen Hour/Clock. People at welder so that affect at work to finish at precisely got weld time.Result even also its quality nicely and there are a few/little handicap of weld like spatter. Percentage Of Hour/Clock People At slimmer. Welding FCAW 35 % from welding of SMAW.

Contributor :

1. Ir. Triwilaswandio WP,M.Sc

=========================================================

STUDI PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI PERKAPALAN INDONESIA DI PASARAN INTERNASIONAL

Created by :
Triwilaswandio, R. Sjarief Widjaja, Andi Sudewo, Arif Rahman Hakim, Dhanang Dwi ( )

Subject: Kapal
galangan
Keyword: Industri perkapalan

[ Description ]

Industri Perkapalan Indonesia dihadapkan pada permasalahan menurunnya permintaan pembuatan kapal dalam negeri sebagai akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sedangkan, permintaan pasar produk kapal dunia masih cukup prospektif dalam 10 tahun yang akan datang, meskipun munculnya kompetitor juga tidak dapat dihindari, khususnya dari negara ‘low labor cost’ seperti RRC dan Vietnam. Hampir semua prediksi menunjukan peningkatan permintaan akan produk kapal, khususnya jenis tanker dan bulk carrier. Kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan oleh galangan kapal nasional untuk memperbaiki infrastruktur industrinya dalam usaha meningkatkan daya saingnya di pasaran internasional. Pengalaman bersaing dalam tender internasional menunjukan bahwa galangan kapal nasional sering kurang kompetitip dari aspek harga dan waktu pembuatan yang masih relatip lama. Beberapa faktor yang menjadi kontribusi terhadap terjadinya perbedaan harga yang cukup signifikan adalah : teknologi, ketersediaan industri penunjang pembuatan komponen kapal dan industri penunjang jasa suplier dan sub kontraktor, infrastruktur perbankan dan lembaga pembiayaan, fluktuasi nilai tukar dollar rupiah, biaya tenaga kerja yang cenderung meningkat. Strategi yang diperlukan untuk meningkatkan daya saing adalah (1) peningkatan peralatan produksi, (2) implementasi teknologi dan manajemen produksi pembangunan kapal modern generasi ke empat, (3) pengembangan sumber daya manusia (SDM) khususnya aspek “aptitude”, (4) pengembangan desain produk kapal unggulan dan (5) perbaikan infrastruktur industri penunjang dan lembaga pembiayaan. Kesemuanya memerlukan komitmen dan dukungan penuh dari Pemerintah yang berupa pendanaan, program dan regulasi. Disarankan agar skenario dana hibah bersaing (competitive grant) dapat diterapkan pada industri perkapalan.

=========================================================

MINIMASI HUMAN ERROR PADA SISTEM OUTSOURCING PADA INDUSTRI GALANGAN YANG MENYEBABKAN CACAT PRODUK DENGAN PENDEKATAN HUMAN RELIABILITY ASSESMENT (STUDI KASUS PT DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA)

HUMAN ERROR MINIMIZATION ON OUTSOURCING SYSTEM IN SHIPYARD INDUSTRY CAUSING PRODUCT DEFECT USING HUMAN RELIABILITY ASSESMENT APPROACH (CASE STUDY AT PT DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA)

Created by :
SAELENDRA, M. FAJAR ( )

Subject: Shipyards
Galangan kapal
Keyword: Human Reliability Assesment (HRA)
Human Error
Sub Kontraktor (Out Sourcing).

[ Description ]

PT. DOK dan Perkapalan Surabaya (Persero) sebagai salah satu industri dok dan galangan kapal berskala besar di Indonesia memiliki kendala dalam hal sumber daya manusia untuk memenuhi target kapasitas produksi yang harus dicapai. Untuk mengatasi hal tersebut digunakan tenaga kerja dari luar yang disebut sub kontraktor.Dalam tugask akhir ini dilakukan penelitian tentang meminimasi terjadinya cacat produk akibat kesalahan manusia dalam hal ini tenaga kerja subkontraktor. Untuk mengatasi permasalahan ini perlu dilakukan analisa untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadinya cacat produksi, sehingga dapat diambil langkah-langkah untuk mereduksi cacat tersebut. Melalui Human Reliability Assesment (HRA) dapat dilakukan analisa prosedur kerja yang dilakukan oleh tenaga kerja sub kontraktor (operator) untuk menemukan kesalahan manusia yang menyebabkan terjadinya cacat produk. Langkah-langkah yang dilakukan dalam Human Reliability Assesment adalah Identifikasi Masalah, Analisa Task, Identifikasi dan Klasifikasi Error, Kuantifikasi Human Error, Representasi, dan Reduksi Error. Dari hasil analisa dapat diketahui faktor yang dominan yang menyebabkan terjadinya kesalahan operator yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Alt. Description

PT. DOK dan PERKAPALAN Surabaya which is one of the large dock manufacturing and shipyard in Indonesia has a problem in human resources to complete the target of production capacity. To optimize the production capacity, PT. DOK dan PERKAPALAN Surabaya involve outside resources that is called as sub contractor. In this final project, we learn about how to minimize deformed product caused by human error in this case human resources as sub contractor. To solve that problem we need to analyze which factor that is the dominant factor causing the deformed product, then we can choose the best step to minimize the deformed product. By Human Reliability Analysis (HRA) we can analyze the sub contractor (especially operator) work procedure to find the human error that can cause a product failure. The step in Human Reliability Analysis are problem identification, task analysis, error identification and classification, human error quantification, representation, and error reduction. From that analysis we know the dominant factor that can cause an operator failure are internal factors and external factors.

Contributor :

1. Ir. Sujitno

=========================================================

STUDI PENERAPAN METODE OLS (ORDINARY LEAST SQUARE) UNTUK PERKIRAAN KEBUTUHAN JAM ORANG PADA PEKERJAAN PEMBUATAN BLOK BADAN KAPAL “STUDI KASUS PEMBANGUNAN SPB CONTAINER DI PT. DOK & PERKAPALAN SURABAYA�

STUDY OF APPLICATION OLS (Ordinary Least Square) METHODS FOR DETERMINING THE NEED OF MAN HOURS IN THE BUILDING OF HULL SHIP BLOCK “Case Study : Assembly Process SPB Container at PT. DOK & PERKAPALAN Surabaya�

Created by :
Sumardiono ( )

Subject: Galangan kapal
Keyword: Jam orang
Produktivitas
Metode OLS

[ Description ]

Dalam perencanaan kebutuhan jam orang, selama ini PT. DOK & PERKAPALAN Surabaya selalu mendasarkan pada standar kerja galangan (kg/j.o.). Cara ini ternyata masih banyak kelemahan dari segi produktivitas, terlihat dari kurang tepatnya waktu penyelesaian pembangunan kapal. Dalam Tugas Akhir ini menganalisa kemungkinan penerapan Metode OLS (Ordinary Least Square) sebagai metode alternatif dalam menghitung kebutuhan jam orang. Blok – blok yang ada dikelompokkan ke dalam 4 tipe blok (Grand Block) berdasarkan posisi dan tingkat kesulitan pengerjaan. Apa yang dihasilkan adalah persamaan regresi yang dapat memperkirakan kebutuhan jam orang pembangunan blok badan kapal, dimana variabel jam orang dijelaskan oleh y dan x adalah variabel berat blok badan kapal. Pada Tahap Fabrikasi tipe blok After Part, persamaan yang diperoleh adalah y = 0.0126x + 39.4, untuk tipe blok Hold Part yaitu y = 0.0104x + 55.7, Fore Part yaitu y = 0.0161x + 0.00575 dan Accomodation yaitu y = 0.0152x + 9.31. Sedangkan pada tahap Assembly secara berturut – turut persamaan yang diperoleh adalah y = 0.0245x + 106, y = 0.0206x + 136, y = 0.0169x + 173, dan y = 0.0277x + 70.1.

Alt. Description

In the planning of man hours, during the time DOK & PERKAPALAN, PT Surabaya always based on shipyard work standardization ( kg / man hours). In fact, this methods still has many disadvantages especially in term of productivity. It can be seen from less precisely time of finishing the ship building process. In this Final Project analyze possibility to apply of OLS Methods (Ordinary Least Square) as alternative method to determine the needs of man hours. Existing panel and blocks grouped into 4 (four) Block Type (Grand Block) based on position and difficulty level of workmanship. What produced is equation of regression able to estimate the need of man hours in building process of hull ship block, where man hours] variable explained by y and x is variable weight of hull block. At Fabrication phase, for block type is After Part, equation the obtained is y = 0.0126x + 39.4, for the block type Hold Part that is y = 0.0104x + 55.7, Fore Part that is y = 0.0161x + 0.00575 and Accommodation that is y = 0.0152x + 9.31. Meanwhile,the successive equation in Assembly phase is y = 0.0245x + 106, y = 0.0206x + 136, y = 0.0169x + 173, and y = 0.0277x + 70.1.

Contributor :

1. Ir. Soejitno

=========================================================

PENGUKURAN TINGKAT IMPLEMENTASI SERTA ANALISA RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

IMPLEMENTATION LEVEL MEASUREMENT AND RISK ANALYSIS OF OCCUPATIONAL SAFETY AND HEALTH ON PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

Created by :
HANUM, LATHIFAH ( )

Subject: Keselamatan industri
Alt. Subject : Industrial safety
Keyword: K3
PT.Dok
Kapal
Kecelakaan kerja
Risk assessment

[ Description ]

Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, karena terjadi secara tiba-tiba. Penyebab kecelakaan bisa bermacam-macam, bisa karena ulah manusia dan bisa juga karena kesalahan teknis berupa kesalahan sistem. Oleh karena itu menghindari kecelakaan merupakan suatu tindakan yang sangat penting dan tidak dapat diabaikan. Karena hal tersebut bisa menyangkut keselamatan nyawa seseorang serta keselamatan lingkungan. Kecelakaan kerja bisa berakibat pada kematian, dan secara luas bisa menyebabkan kerugian di perusahaan baik karena kehilangan tenaga kerja ataupun karena produktivitas ikut menurun akibat kecelakaan tersebut. Oleh karenanya program Keselamatan dan Kesehatan Kerja harus menjadi perhatian utama dalam semua sektor industri. PT.Dok & Perkapalan Surabaya adalah sebuah perusahaan pembuat kapal. Proses pembuatan kapal ini memiliki resiko besar apabila dilakukan tidak sesuai dengan standar (SOP). Pada penelitian ini akan diukur seberapa tinggi tingkat penerapan K3 di PT.Dok serta menganalisa bahaya kerja yang mungkin terjadi (hazard identification) kemudian dilakukan perangkingan hazard dengan menggunakan risk assessment untuk selanjutnya ditentukan bagaimana tindakan prefentif dan korektifnya terhadap hazards utama untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja.

Alt. Description

Work accident and the disaster represent an occurrence which unpredictable when it will occur, because the happening of sudden. Cause of accident and disaster can be all kinds of, is capable because the act of human being and can also because technical mistake. Therefore avoid accident and disaster represent a very important action and cannot be disregarded. Because the mentioned of concerning safety of somebody life and also the environmental safety Work accident can cause at death, and widely can cause loss in company either due labour loss and or because productivity follow downhill as effect of the accident. For the reason Health and Safety program have to become especial attention in all industrial sector. PT.Dok & Perkapalan Surabaya is a shipbuilding company. Process of this ship own big risk if conducted without the standard (SOP). This research will be measuring safety and health implementation level in PT.Dok and also analyse risk of work which possible happened (hazard identification, then conducted hazard levelling by using risk assessment, henceforth thought how preventive and corrective action to minimize risk of work accident.

Contributor :

1. Ir. Sritomo Wignjosoebroto, M.Sc.
Dyah Santhi Dewi, ST., M.Eng.Sc

=========================================================

STUDI PENGEMBANGAN MODEL MANAJEMEN RISIKO USAHA BANGUNAN BARU PADA INDUSTRI GALANGAN KAPAL

A STUDY ON DEVELOPING RISK MANAGEMENT MODEL FOR NEW BUILDING BUSINESS OF SHIPYARD INDUSTRIES

Created by :
BASUKI, MINTO ( )

Subject: Manajemen resiko
Alt. Subject : Shipyards
Risk management
Keyword: Risiko
Model
Industri Galangan Kapal
Bangunan Baru

[ Description ]

Tujuan utama dari penelitian ini adalah menyusun dan mengembangkan model manajemen risiko usaha bangunan baru pada industri galangan kapal dengan langkah mengidentifikasi, mengevaluasi, menganalisis pengaruh tingkat risiko usaha terhadap cost yang harus ditanggung oleh industri galangan kapal untuk bangunan baru. Pada industri galangan kapal, belum ada pembahasan dan analisa mengenai manajemen risiko, meskipun risiko yang dihadapi tidak kalah besarnya dengan bidang yang lain. Industri galangan kapal adalah industri yang padat modal dan tingkat pengembaliannya yang cukup lama (slow yielding), sehingga dalam operasionalnya harus menggunakan prinsip kehati-hatian. Sample penelitian diambil di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya pada kegiatan pembangunan kapal baru, data risiko yang berhubungan operasional/usaha diambil lima tahun sebelumnya dengan responden setingkat manajer keatas. Analisis data dilakukan menggunakan Value at Risk dengan bantuan metode statistik. Dari analisis dengan metode ini akan disusun model manajemen risiko, pengembangan serta aplikasinya pada industri galangan kapal baru. Dari hasil analisis dengan database manajemen sistem dapat diidentifikasi 21 macam risiko potensial yang dihadapi PT. Dok dan Perkapalan Surabaya. Ke 21 macam risiko potensial tersebut kemudian dirangking berdasarkan indeks risiko, ralat pekerjaan merupakan kategori risiko yang tertinggi dan software kadang eror adalah kategori risiko yang sangat rendah.

Alt. Description

The aim of this research is to construct and develop risk management model for new building business of shipyard industries. This research was conducted through some steps: identification, evaluation, analysis of risk ratio influence for liability cost of new building business shipyard industries. The discussion and analysis of risk management in shipyard business are not done yet eventhough its risk is evenhigher that other business. Shipyard business industry is an industry of big capital and slow yielding industry; therefore, it is operated with attentiveness principles. The research sample was obtained from PT. Dok dan Perkapalan Surabaya of new ship building, risk data related to its operation were obtained five years ago with respondents of managers above. The data were analyzed with Value at Risk of the aid of statistical method. By applying this model of this analysis, risk management model and the application of new shipyard were found out. From the research result of database management system, 21 potential risks of PT. Dok dan Perkapalan Surabaya could be identification. Then, those potential risks were ranked according to risk index, revised work was the highest category and software error was the lowest risk category.

Contributor :

1. Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, Ph.D

=========================================================

STUDI PENINGKATAN PENDAYAGUNAAN SARANA PENGEDOKAN KAPAL DI PT DOK & PERKAPALAN SURABAYA

STUDY on the ENHANCEMENT for SHIP DOCKING FACILITIES EFFICIENCY at PT DOK & PERKAPALAN SURABAYA

Created by :
SATRIAWAN, ANDHIKA ( )

Subject: Galangan kapal
Keyword: Perencanaan dan Optimasi.

[ Description ]

Dalam Tugas Akhir ini dilakukan penelitian tentang perencanaan dan pendayagunaan sarana pengedokan kapal yang ada supaya digunakan secara optimal. Analisis ini mengunakan perhitungan optimasi yang berdasarkan pada jumlah rata-rata kapal yang direparasi pada tahun sebelumnya, dengan jumlah kapal yang sudah dikelompokan berdasarkan BRT sebagai fariabel dan rata-rata docking days. Target yang dicapai galangan dalam mereparasi kapal sebesar 300 hari. Optimasi ini digunakan sebagai parameter bagi galangan untuk mendapatkan (maksimal) jumlah penerimaan kapal yang akan direparasi pada tahun mendatang dengan sarana pengedokan yang ada. Hasil dari Tugas Akhir ini menunjukan bahwa rata-rata jumlah kapal yang direparasi pada tahun sebelumnya sebesar 78 kapal menjadi 82 kapal, dengan begitu galangan mengalami peningkatan pada sarana pengedokan sebesar 5.12 % dan total sewa docking sebesar Rp. 1.367.975.089,-

Alt. Description

This Final Project has been made a research about Design and Docking Ship Means Efficiency in order to be used optimally. This analysis apply an optimum calculation according to average of ship number which is repaired at the last years, with number of ships have been classified according to BRT as a variable and average of docking days. The target which is attained by dockyard to repair 300 ships in a day. This optimation is used as a parameter for dockyard to obtain (maximum) amount of acceptance of ships that will be repaired in the next years with the actually docking ships means. The outcome from this Final Project indicate that the average of number of ships which is repaired in the preceding year is 78 ships to become 82 ships, so that the dockyard go through enhancement in dock means as 5.12 % and the sum of docking lease is Rp. 1.367.975.089,-

Contributor :

1. Ir. Soejitno Ir. Setijoprajudo, MSE

=========================================================

PERBANDINGAN KEBUTUHAN MATERIAL PENGELASAN DAN PEMOTONGAN DALAM PROSES REPARASI BAJA KAPAL TERHADAP TOTAL BIAYA REPARASI BERDASARKAN BRT KAPAL

COMPARISON OF REQUIREMENT WELDING AND CUTTING MATERIAL IN COURSE OF SHIP STEEL REPAIR TO TOTAL COST OF REPAIR DUE TO SHIP TONNAGE

Created by :
Brata, Dian Kusuma Aji ( )

Subject: Kapal — Mesin
Las
Keyword: BRT
Umur kapal
Jenis reparasi

[ Description ]

Industri galangan kapal merupakan industri yang banyak menggunakan material pengelasan dan pemotongan dalam proses reparasinya. Konsumsi material pengelasan dan pemotongan di industri galangan kapal dipengaruhi oleh BRT kapal,umur kapal,dan jenis reparasi.Hal ini disebabkan menurunnya kualitas baja kapal karena korosi. Dalam tugas akhir ini dilakukan permodelan hubungan antara besarnya kebutuhan material pengelasan dan pemotongan dengan BRT dan permodelan hubungan antara besarnya kebutuhan material pengelasan dan pemotongan dengan umur kapal.Setelah itu dilakukan perbandingan antara biaya kebutuhan material pengelasan dan pemotongan dengan biaya reparasi kapal. Data perhitungan mengacu pada kebutuhan material pengelasan dan pemotongan serta biaya reparasi di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya. Hasil analisa menunjukkan adanya hubungan antara kebutuhan material pengelasan dan pemotongan terhadap BRT kapal,umur kapal dan jenis reparasi pada annual survey,intermediate survey dan special survey.

Alt. Description

Industry of Dockyard represent industry which a lot of using welding and cutting material in course of its repair.Consume of welding and cutting material in shipbuilding industry influenced by ship tonnage,ship age,and repair type.its caused decrease of steel quality by corrosion. In this final project,I make connection between requirement of welding and cutting material with BRT and connection between requirement of welding and cutting material with ship age.After that,I make comparison cost of requirement of welding and cutting material with cost ship repair.Calculation data is held to requirement of welding and cutting material and also the cost of ship repair in PT. Dok And Perkapalan Surabaya. Result of analysis show connection between requirement of welding and cutting material with BRT,ship age and repair type at annual survey,intermediate survey and special survey.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo,M.Sc.

=========================================================

ANALISIS DAN DESAIN SISTEM INFORMASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PEKERJAAN PADA PROYEK-PROYEK REPARASI KAPAL DI PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO)

INFORMATION SYSTEM ANALYSIS AND DESIGN OF TASK PLANNING AND CONTROLLING IN SHIP REPAIR PROJECT AT PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO)

Created by :
Chrismawanto, Aditya ( )

Subject: Manajemen Sistem Informasi
Keyword: Perencanaan
Pengendalian
Reparasi Kapal

[ Description ]

Dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir nilai omzet proyek-proyek reparasi kapal PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) meningkat hingga lebih dari 67%, tetapi tidak sejalan dengan prosentase perolehan laba kotornya yang terus menurun. Keadaan ini disebabkan antara lain oleh kerap terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek dari jadwal kontrak yang telah disepakati, sehingga berakibat adanya denda dari pemilik kapal dan pembengkakan biaya produksi. Selain itu, keadaan tersebut disebabkan karena adanya peningkatan pesanan pekerjaan pembuatan kapal yang menyita sumberdaya dan perhatian manajemen produksi pada level koordinator proyek-proyek/ PMO (Project Management Officer). Oleh karena proyek reparasi kapal merupakan bisnis utama perusahaan, maka diperlukan upaya-upaya pembenahan strategis. Pembenahan dapat difokuskan pada masalah krusial yang terkait dengan aspek perencanaan dan pengendalian pekerjaan proyek. Pembenahan yang terkait dengan aspek perencanaan dan pengendalian pekerjaan proyek, antara lain dapat dilakukan dengan memberi dukungan informasi yang dibutuhkan dalam merencanakan pekerjaan, dan memudahkan proses pengambilan keputusan untuk mengendalikan pekerjaan melalui ketersediaan informasi kemajuan pekerjaan proyek reparasi kapal dengan cepat dan akurat. Dalam penelitian ini upaya pembenahan tersebut dilakukan dengan menyediakan sistem informasi perencanaan dan pengendalian pekerjaan pada proyek-proyek reparasi kapal di PT. DPS. Analisis dan desain terstruktur digunakan untuk menghasilkan sistem informasi sesuai dengan yang diinginkan. Manfaat yang dapat diperoleh dari implementasi sistem diharapkan akan dapat mengurangi biaya operasional, meningkatkan akses informasi, mengurangi waktu proses dan meningkatkan produktifitas PMO dalam merencanakan pekerjaan dan mengambil keputusan yang terkait dengan aspek perencanaan dan pengendalian pekerjaan proyek.

Alt. Description

During the last four years, the turnover of the ship repair project at PT. Dok and Perkapalan Surabaya (DPS) increased more than 67%. On the contrary, the percentage of gross profit continously decreased. This situation is caused by a delay of finishing the ship repair project from contractual schedule that had been dealed by owners. Consequently, production cost will expand and PT. DPS must sometimes pay the fine due to the uncommitted customer order. Moreover, the increased in the project order of new ship construction that attracts the production management resources became the other factor of the decreasing of gross profit at PT. DPS. Since the ship repair project is becoming company’s core business, some strategic recovery efforts must be taken. The recovery could be focused on the crucial problem releated to the aspects of planning and controlling project task. It includes the provision of adequate information for planning the task and facilitating the process of decision making to control the task through the availability of quick and accurate information of the ship repair project’s progress. In this research, the recovery effort is conducted by providing the information system of task planning and controlling in ship repair project at PT. DPS. Structured analysis and design approach is used to produce the required information system. The advantages that could be obtained from the implementation of the design cover the decrease of operational cost, increase of information access, reduce operational time, and raise the PMO’s productivity in planning the task and making decision related to several aspects of project task’s planning and controlling.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Arif Djunaidy, M.Sc

=========================================================

ESTIMASI KEBUTUHAN MATERIAL UTAMA UNTUK MENUNJANG INDUSTRI PERKAPALAN DI INDONESIA ( STUDI PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS / KEK PERKAPALAN )

ESTIMATION OF MAIN MATERIAL REQUIREMENT TO SUPPORT SHIPBUILDING INDUSTRIES IN INDONEISA (Study on Development of Shipbuilding Economic Special Zone)

Created by :
MUNAWAR ( )

Subject: Perkapalan
Keyword: Peramalan
Regresi Linier
Berat baja kapal
Kapasitas Galangan.

[ Description ]

Estimasi kebutuhan plat, profil, dan elektrode las yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di indonesia sebagai material utama dan bahan baku penunjang industri perkapalan, sangatlah penting untuk diketahui secara pasti. Kita mengetahui bahwa jumlah yang tidak tepat berarti kelebihan atau kekurangan dan dalam keadaan yang sangat langka cenderung pada kekurangan (critical ) dan berdampak pada terganggunya sebuah proses produksi menjadi lebih lama, waktu delivery yang tidak tepat waktu dan berakibat pada biaya pembangunan kapal dan pada akhirnya harga kapal menjadi lebih mahal. Oleh karena itu perlu diketahui jumlah kebutuhan logistik / material utama yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di Indonesia. Metode pendekatan untuk mengestimasi berapa kebutuhan material utama yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di indonesia yaitu dengan cara mengetahui terlebih dahulu jumlah kebutuhan kapal baru yang diperoleh dari hasil peramalan dengan metode Moving Average dan Exponential Smoothing. Selanjutnya jumlah kebutuhan kapal baru dikomparasikan dengan jumlah kapasitas terpasang galangan kapal yang melakukan aktivitas bangunan baru sehingga dihasilkan jumlah kapal yang bisa dibangun di galangan. Oleh karena jumlah kapal yang dibangun terdiri atas berbagai tipe kapal maka dilakukan regresi GT kapal dan berat baja ( Wst ) yang menggunakan metode Watson. Hasil peramalan jumlah kapal baru secara berturut-turut adalah 295 unit kapal pada tahun 2007,tahun 2008 sejumlah 332 unit dan pada tahun 2009 sebanyak 324 unit. Dengan 41 Unit galangan kapal yang bisa membangun mulai dari GT 10.000. Pada tahun 2007 jumlah GT kapal yang bisa dibangun sebesar 265,059.22 GT atau setara dengan 397,588.83 DWT . Jumlah material yang dibutuhkan diperkirakan sebanyak 99,544.70 Ton dengan jumlah plat 84,613.00 ton dan profil 14,931.71 ton dan elektrode sebesar 3,981.79 ton. Tahun 2008 sebesar 212,033.17 GT atau setara dengan 318,049.76 DWT, jumlah material baja yang dibutuhkan 81,652.64 Ton dengan jumlah plat adalah 69,404.75 ton, profil 12,247.90 ton dan elektrode 3,266.11 ton. Terakhir untuk tahun 2009 adalah 216,393.07 GT jumlah material baja yang dibutuhkan adalah sebanyak 83,064.86 Ton dengan jumlah plat adalah 70,605.13 ton, profil 12,459.73 ton dan elektrode sebesar 3,322.59 ton.

Alt. Description

Estimation on plate, profile and welding electrode requirement which is used on building a new ship in Indonesia as a main material and basic material which supporting shipbuilding industries, would be very important to be surely known. We know that inaccurate amount would be mean a surplus or a shortage and in a rare condition would have a tendency to be a shortage (critical) and would effect on disturbing a production process to have a longer time, inaccurate time of delivery and would affect the ships production cost and ultimately its price would be more expensive. And for that reason, the amounts of main logistics/material requirement used on building a new ship in Indonesia need to be known. An approaching method to estimate how many main material requirement used on building a new ship in Indonesia would be by knowing first the needs of new ship which is acquired from forecasting result using Moving Average method and Exponential Smoothing. Then, the quantity of new ship requirement would be compared by shipyards annual capacity which doing a new building activities that would resulted on quantities of ship that could produce on the shipyards. Because of the quantities of the ship produced would be separated into a number type of ship, regression on ship’s GT and the steel weight (Wst) by Watson method’s needs to be done. The results of the quantity of new ship accordingly were 295 unit of ship in 2007, in 2008 there were 332 units of ship and on 2009 would be as much as 324 units. With 41 unit of shipyard are able to build from GT 10.000. On the year of 2007 there were 265,059.22 GT of ships builds or equivalent to 397,588.83 DWT. The amounts of material needed were about 99,544.70 Ton with the amount of plate were 84,613.00 ton and profile about 14,931.71 ton and electrode as much as 3,981.79 ton. On the year of 2008 about 212,033.17 GT or equivalent to 318,049.76 DWT The amount of steel material needed were 81,652.64 Ton with the amount of plate 69,404.75 ton and the profile 12,247.90 ton and the electrode 3,266.11 ton. Finally, On the year of 2009 about 216,393.07 GT The amount of steel material needed were 83,064.86 Ton with the amount of plate 70,605.13 ton and the profile 12,459.73 ton and the electrode 3,322.59 ton

Contributor :

1. Prof .Ir.R.Sjarief Widjaja,PhD

=========================================================

STUDI ANALISA KEMAMPUAN GALANGAN REPARASI ARMADA NASIONAL AKIBAT PENERAPAN INPRES NOMOR 5 TAHUN 2005

ANALYSIS STUDY OF DOCK CAPABILITY IN REPAIRING NATIONAL SHIP RELATED TO INSTRUCTION OF PRESIDENT NUMBER 5 YEAR 2005

Created by :
ISWAHYUDI ( )

Subject: Galangan kapal
Keyword: Inpres Nomor 5/2005
perairan Indonesia
galangan reparasi

[ Description ]

Maret 2005, Instruksi Presiden Nomor 5/2005 dikeluarkan bertujuan untuk mengembangkan industri perkapalan di Indonesia. Karena asas cabotage, yang diinstruksikan dalam Inpres tersebut, sangat menguntungkan industri pelayaran dan perkapalan. Dimana muatan pelayaran antarpelabuhan di dalam negeri wajib diangkut dengan kapal berbendera Indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Atas dasar pemikiran tersebut, kemudian disusun Tugas Akhir ini. Dalam studi analisa ini, dilakukan peramalan jumlah kunjungan kapal yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia. Dengan menggunakan metode Moving Average dan Exponential Smoothing, yang selanjutnya dicek dengan Mean Square Deviation, diharapkan mampu memberikan hasil yang mendekati riilnya. Selain peramalan kunjungan kapal di perairan Indonesia, dilakukan juga analisa kemampuan galangan reparasi yang ada di Indonesia. Dengan membandingkan antara jumlah kapal yang dioperasikan perusahaan pelayaran di masing-masing Propinsi dengan kapasitas galangan kapal yang ada, diharapkan bisa memetakan kebutuhan reparasi kapal untuk nasional. Lebih jauh, bisa diketahui kebutuhan galangan kapal untuk bisa memenuhi kebutuhan reparasi tersebut.

Alt. Description

March 2005, Instruction of President Number 5/2005 released to develop Indonesian Marine industry. Because of the advantages of cabbotage for Naval Architecture, which every load has to use ship with Indonesian flag and operated by National company. Based on that policy, so the writer do this final project. In this analysis, will be solved with forecasting method to forecast incoming ship in Indonesian territorial. Using Moving Average and Esponential Smoothing method, and then will be checked with Mean Square Deviation, would give the best result as close as the real one. Besides forecasting of incoming ship in Indonesian territorial, the analysis will be done for the competence of repairing dock in Indonesia. By comparing sum of ship that operate by Indonesian shipping company with the capacity of ship repairing company in each provinces, hopefully could map the need of repairing in national. Further more, could be known the need of ship repairing company to cover repairing need.

Contributor :

1. Prof. Ir. R Sjarief Widjaja, PhD

=========================================================

PENERAPAN SISTEM MRP PADA PEMBANGUNAN KAPAL (STUDI KASUS PROYEK TANKER 6500 DWT) DI GALANGAN KAPAL PT.DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO)

CLARIFICATION OF MRP SYSTEM IN SHIP BUILDING (THE PROJECT STUDY CASE OF TANKER 6500 DWT CASE)

Created by :
JUNAEDY, I WAYAN YOGA ( )

Subject: Galangan kapal
Keyword: Galangan kapal
Material Requirement Planning(MRP)
Full Outfitting Block System (FOBS)

[ Description ]

Industri galangan kapal sudah mengalami kemajuan teknologi yang sangat cepat sekali terutama galangan kapal luar negeri seperti Jepang, Korea dan Cina dimana mereka selalu mengembangkan teknologi baik itu teknologi pembangunan kapal, fasilitas dan sarana pendukung maupun teknologi manajemen galangan. Salah satu metode yang sudah diterapkan adalah manajemen material yaitu dengan menerapkan system material requirement planning (MRP) yang berbasis pada full outfitting block system (FOBS) dimana proses pembangunan kapal terintegrasi mulai dari perencanaan design, perencanaan dan control material sampai proses produksi sehingga mempercepat schedule penyelesaian proyek, menghemat biaya material dan pemakaian jam orang dan pada akhirnya akan menguntungkan galangan dengan memperoleh margin keuntungan yang lebih tinggi. Seharusnya galangan kapal di dalam negeri sudah menerapkan metode ini jika ingin bersaing dengan galangan lain, demikian juga halnya galangan kapal PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) telah berdiri sejak tahun 1910 dan sampai saat ini masih belum sepenuhnya menerapkan manajemen material dengan tepat. Kami melakukan analisa antara penerapan sistem perencanaan material konvensional pada proyek pembangunan kapal Tanker 6500 LTDW dengan nomer pembangunan N.559 dan penerapan system perencanaan MRP berbasis FOBS pada proyek pembangunan kapal Tanker 6500 LTDW dengan nomer pembangunan N.570, dimana analisa meliputi perencanaan design, perencanaan material dan proses produksi. Dapat disimpulkan bahwa banyak sekali keuntungan yang kita peroleh pada pembangunan kapal dengan menerapkan system MRP berbasis FOBS yaitu antara lain, penghematan komponen biaya bahan mentah yaitu sebesar Rp. 1,5 Milyar, penghematan pemakaian jam orang tenaga langsung proyek sebesar Rp. 3,8 Milyar dan waktu pembangunan kapal menjadi lebih cepat.

Alt. Description

The dockyard industry has experienced very fast technology growth especially foreign dockyards like Japan, Korea and China where they always develop good technology that is die ship building technology, facility and Supporting equipment as well as dockyard management technology. One of the method that is already done is materials management by doing Material Requirement Planning (MRP) based on Full Outfitting Block System (FOBS) where the ship building process integrates from design planning, planning and control material up to the production process so us to speed up the schedule to finish the project, be thrifty material costs and labor costs and in the end will benefit docking by receiving a higher profit margin. Actually domestic ship docking already does this method if wanting to compete with other docking, also the same thing with PT. Dock and Perkapalan Surabaya (persero) already established sincel910 until now still haven’t completely done correct material management The analysis of the conventional material planning application system in the tanker 6500 LTDW ship building project with building number N559 and tanker 6500 LTDW ship building project with building number N570 in the MRP based FOBS application planning system where analysis involves design planning, material and process production planning. The conclusions that most of our profit in ship building with doing MRP systems based on FOBS, which conserve cost components of raw materials which Rp.l and Rp. 1,5 billion, cost serve labor cost as much Rp. 3,8 billion and quicker time in building ships.

Contributor :

1. Drs. Haryono, MSIE

=========================================================

ESTIMASI KEBUTUHAN MATERIAL UTAMA UNTUK MENUNJANG INDUSTRI PERKAPALAN DI INDONESIA ( STUDI PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS / KEK PERKAPALAN )

ESTIMATION OF MAIN MATERIAL REQUIREMENT TO SUPPORT SHIPBUILDING INDUSTRIES IN INDONEISA (Study on Development of Shipbuilding Economic Special Zone)

Created by :
MUNAWAR ( )

Subject: Perkapalan
Keyword: Peramalan
Regresi Linier
Berat baja kapal
Kapasitas Galangan.

[ Description ]

Estimasi kebutuhan plat, profil, dan elektrode las yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di indonesia sebagai material utama dan bahan baku penunjang industri perkapalan, sangatlah penting untuk diketahui secara pasti. Kita mengetahui bahwa jumlah yang tidak tepat berarti kelebihan atau kekurangan dan dalam keadaan yang sangat langka cenderung pada kekurangan (critical ) dan berdampak pada terganggunya sebuah proses produksi menjadi lebih lama, waktu delivery yang tidak tepat waktu dan berakibat pada biaya pembangunan kapal dan pada akhirnya harga kapal menjadi lebih mahal. Oleh karena itu perlu diketahui jumlah kebutuhan logistik / material utama yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di Indonesia. Metode pendekatan untuk mengestimasi berapa kebutuhan material utama yang digunakan dalam pembangunan kapal baru di indonesia yaitu dengan cara mengetahui terlebih dahulu jumlah kebutuhan kapal baru yang diperoleh dari hasil peramalan dengan metode Moving Average dan Exponential Smoothing. Selanjutnya jumlah kebutuhan kapal baru dikomparasikan dengan jumlah kapasitas terpasang galangan kapal yang melakukan aktivitas bangunan baru sehingga dihasilkan jumlah kapal yang bisa dibangun di galangan. Oleh karena jumlah kapal yang dibangun terdiri atas berbagai tipe kapal maka dilakukan regresi GT kapal dan berat baja ( Wst ) yang menggunakan metode Watson. Hasil peramalan jumlah kapal baru secara berturut-turut adalah 295 unit kapal pada tahun 2007,tahun 2008 sejumlah 332 unit dan pada tahun 2009 sebanyak 324 unit. Dengan 41 Unit galangan kapal yang bisa membangun mulai dari GT 10.000. Pada tahun 2007 jumlah GT kapal yang bisa dibangun sebesar 265,059.22 GT atau setara dengan 397,588.83 DWT . Jumlah material yang dibutuhkan diperkirakan sebanyak 99,544.70 Ton dengan jumlah plat 84,613.00 ton dan profil 14,931.71 ton dan elektrode sebesar 3,981.79 ton. Tahun 2008 sebesar 212,033.17 GT atau setara dengan 318,049.76 DWT, jumlah material baja yang dibutuhkan 81,652.64 Ton dengan jumlah plat adalah 69,404.75 ton, profil 12,247.90 ton dan elektrode 3,266.11 ton. Terakhir untuk tahun 2009 adalah 216,393.07 GT jumlah material baja yang dibutuhkan adalah sebanyak 83,064.86 Ton dengan jumlah plat adalah 70,605.13 ton, profil 12,459.73 ton dan elektrode sebesar 3,322.59 ton.

Alt. Description

Estimation on plate, profile and welding electrode requirement which is used on building a new ship in Indonesia as a main material and basic material which supporting shipbuilding industries, would be very important to be surely known. We know that inaccurate amount would be mean a surplus or a shortage and in a rare condition would have a tendency to be a shortage (critical) and would effect on disturbing a production process to have a longer time, inaccurate time of delivery and would affect the ships production cost and ultimately its price would be more expensive. And for that reason, the amounts of main logistics/material requirement used on building a new ship in Indonesia need to be known. An approaching method to estimate how many main material requirement used on building a new ship in Indonesia would be by knowing first the needs of new ship which is acquired from forecasting result using Moving Average method and Exponential Smoothing. Then, the quantity of new ship requirement would be compared by shipyards annual capacity which doing a new building activities that would resulted on quantities of ship that could produce on the shipyards. Because of the quantities of the ship produced would be separated into a number type of ship, regression on ship’s GT and the steel weight (Wst) by Watson method’s needs to be done. The results of the quantity of new ship accordingly were 295 unit of ship in 2007, in 2008 there were 332 units of ship and on 2009 would be as much as 324 units. With 41 unit of shipyard are able to build from GT 10.000. On the year of 2007 there were 265,059.22 GT of ships builds or equivalent to 397,588.83 DWT. The amounts of material needed were about 99,544.70 Ton with the amount of plate were 84,613.00 ton and profile about 14,931.71 ton and electrode as much as 3,981.79 ton. On the year of 2008 about 212,033.17 GT or equivalent to 318,049.76 DWT The amount of steel material needed were 81,652.64 Ton with the amount of plate 69,404.75 ton and the profile 12,247.90 ton and the electrode 3,266.11 ton. Finally, On the year of 2009 about 216,393.07 GT The amount of steel material needed were 83,064.86 Ton with the amount of plate 70,605.13 ton and the profile 12,459.73 ton and the electrode 3,322.59 ton

Contributor :

1. Prof .Ir.R.Sjarief Widjaja,PhD

=========================================================

ANALISA PENGGUNAAN MATERIAL KOMPOSIT DENGAN COCOFIBRE SEBAGAI MATERIAL ALTERNATIF UNTUK KAPAL

THE USAGE ANALYSIS OF COMPOSITE MATERIAL WITH COCOFIBRE AS ALTERNATIVE FOR SHIP’S MATERIAL

Created by :
SARI, ESTI SEPTANA ( )

Keyword: Cocofibre
Material Komposit
Resin Poliester

[ Description ]

Perkembangan teknologi komposit saat ini tidak lepas dari sifat khusus yang dimiliki oleh material komposit yang tidak dimiliki oleh material-material bukan komposit. Dalam industri perkapalan material komposit yang sering digunakan adalah polyester dengan serabut-serabut gelas yang sering disebut FRP (Fibreglass Reinforced Plastic). Serabut-serabut yang digunakan selama ini pada material FRP berasal dari serat sintetis. Pohon kelapa {Coconoci Vera, sp) merupakan jenis tumbuhan monokotil yang banyak terdapat di Indonesia(10). Bagian dari pohon ini dapat digunakan sebagai material alternatif komponen material komposite. serat kelapa yang terdapat pada buahnya termasuk serat nabati dan jika digunakan sebagai serat pengisi dengan matrik poliester diharapkan dapat menjadi alternatif material komposite. Penelitian ini, sebagai matriks digunakan resin poliester dan sebagai serat pengisi digunakan serat nabati yaitu serat serabut kelapa (cocofibre). Inti pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh serat cocofibre terhadap sifat mekanik dengan melalui pelaksanakan pengujian mekanik (tarik dan bending) kemudian dilakukan analisa mekanik dan analisa ekonomi. selanjutnya dibandingkan alternatif ini dengan material yang telah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material komposite dengan serat pengisi cocofibre secara teknis dapat digunakan dibidang perkapalan dan secara ekonomis relatif lebih murah jika dibandingkan dengan material FRP.

Alt. Description

The development of composite technology recently is related to is specific and unique characteristic compare to the non- composite materials. In the national shipbuilding industry, composite used is polyester with glass fiber so called Fiberglass Reinforced Plastic ( FRP ), fiber used in FRP is synthetic glass. Coconut tree (Coconoci Vera, sp) is monocotyl tree type that is easy to find in Indonesia. Part of this tree can be used as an alternative material for the composite material. Coconut glass in the coconut fruit is categorized as plantation-glass and if it is used as filler glass with polyester matrix can be possible as the alternative of composite materials. In this research polyester resin is used as a matrix and as filler glass is used coconut fiberglass (cocofibre). The main point of this research is to investigate the effect of cocofibre glass to the mechanical characteristic trough the implementation of mechanical analysis and cost-benefit analysis, to be compared to the existing materials. The final result of this research shows that composite material with cocofibre as a filler glass technically can be use in the shipbuilding as alternative material which is economically cheaper compare to the FRP material.

Contributor :

1. Ir. Heri Soepomo, M.Sc.
Ir. Basuki Widodo, M.Sc.

=========================================================

PEMBUATAN APLIKASI OLAP UNTUK SISTEM INFORMASI AKADEMIK JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN UNIVERSITAS DIPONEGORO MENGGUNAKAN ORACLE DATABASE 10G

IMPLEMENTATION OF OLAP APPLICATION FOR THE ACADEMIC INFORMATION SYSTEM JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN UNIVERSITAS DIPONEGORO USING ORACLE DATABASE 10G

Created by :
WARDHANI, PARAMITA DYAH ( )

Subject: Pangkalan Data
Keyword: Data Warehouse
OLAP

[ Description ]

Aplikasi OLAP merupakan sarana pendukung proses pengambialan keputusan, terutama pada suatu instansi atau perusahaan. Suatu instansi atau perusahaan dengan data – data yang relatif besar memerlukan suatu analisa secara periodik dari proses transaksional yang terjadi dalam suatu periode. Pada instansi pendidikan, dalam hal ini perguruan tinggi, diperlukan analisa mengenai hasil belajar mahasiswa dan beban SKS dosen di tiap – tiap semester. Analisa hasil belajar yang dimaksud adalah Indeks Prestasi mahasiswa. Sedangkan analisa beban SKS dosen adalah total kredit mengajar dosen tiap semester. Berdasarkan spesifikasi kebutuhan tersebut, dari sistem informasi akademik yang sudah ada, maka dibuatlah suatu datawarehouse dengan menggunakan Oracle Database 10g, yang nantinya akan diintegrasikan dengan Aplikasi OLAP menggunakan tool Analytic Workspace Manager (AWM) dari Oracle database 10g. Dari database sumber tersebut, dilakukan proses transformasi untuk integrasi dan menyeragamkan struktur sehingga sesuai untuk Data Warehouse. Kemudian dengan menggunakan tool AWM, data – data tersebut diolah dan disajikan dalam bentuk aplikasi OLAP menggunakan komponen Java BI Beans. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan para elemen jurusan dapat melakukan evaluasi hasil belajar mahasiswa dan total kredit mengajar dosen. Sehingga pada akhirnya dapat dilakukan perbaikan – perbaikan yang dirasa perlu, agar dapat meningkatkan kualitas belajar mengajar di instansi tersebut.

Alt. Description

OLAP application is a supporting tool for decision making process, especially on an institution or company. An institution or company with large data needs an analysis periodically from transactional process in a period. In education institution, in this case university, needed analysis for student study result and lecturer’s SKS load in each semester. The intended study result analysis is Student Performance Index and analysis of lecturer’s SKS load is a teaching credit total lecturer on each semester. Based on that need specification, from the existing academic information system, then a data warehouse is made using Oracle Database 10g that later will be integrated with OLAP application using Analytic Workspace Manager (AWM) tool from Oracle database 10g. From that source database, the transformation process is done to integrate and uniform structure so that appropriate for data Warehouse. Then, the data will be processed using AWM tool and served in form of OLAP application using Java BI Beans component. With this application, it is hoped that the majoring elements can evaluate student’s study result and lecturer’s teaching credit total. Finally the necessary improvements can be done so the quality of teaching can be increased in this institution.

Contributor :

1. Sarwosri, S.Kom, MT
Darlis Heru Murti, S. Kom

=========================================================

STUDI TENTANG PENGARUH VARIASI TEMPERATUR PEMANASAN PADA PROSES PERLAKUAN PANAS PASCA PENGELASAN BAJA A.I.S.I 316 TERHADAP LAJU KOROSI

THE STUDY OF THE EFFECT OF HEAT TEMPERATURE VARIATION DUE TO POST WELD HEAT TREATMENT AT STAINLESS STEEL A.I.S.I 316 TO THE CORROSION RATE

Created by :
Sulistianto, Dwi Bambang ( )

Subject: Las
Teknik perkapalan
Keyword: Pengelasan baja
Korosi

[ Description ]

Pada dunia perkapalan, baja tahan karat AISI 316 sering digunakan pada tangki kapal tanker yang mengangkut bahan kimia dan minyak mentah. Pengelasan adalah cara yang digunakan untuk menyambung material dari semua konstruksi diatas. Proses pengelasan pada baja tahan karat 316 yang melewati range temperatur sensitis (500°C – 800°C) akan menyebabkan presipitasi karbida krom pada batas butir, akibatnya jika berada pada media korosif cenderung terjadi korosi batas butir (intergranular corrosion). Untuk mengurangi presipitasi karbida krom, maka dilakukan proses perlakuan panas pasca pengelasan dengan pendinginan cepat. Pada penelitian ini dilakukan pengujian pada baja tahan karat 316 yang telah mengalami proses pengelasan, kemudian dilakukan proses perlakuan panas pasca pengelasan dan pendinginan cepat dengan variasi temperatur pemanasan. Variasi temperatur pemanasan yang digunakan adalah 850ºC, 900ºC, 950ºC dan 1000ºC. Kemudian dilakukan pengujian foto mikro, pengujian laju korosi dan pengujian foto makro. Pengujian laju korosi menggunakan sel tiga elektroda dengan larutan elektrolit NaCl. Berdasarkan hasil pengujian dan perhitungan laju korosi diperoleh nilai laju korosi untuk temperatur pemanasan 850ºC, 900ºC, 950ºC dan 1000ºC yaitu sebesar : 0.345 mmpy, 0.332 mmpy, 0.327 mmpy dan 0.225 mmpy, maka dapat diketahui bahwa semakin naiknya temperatur pemanasan akan diperoleh laju korosi yang semakin kecil. Dari hasil pengujian foto mikro diperoleh presipitasi karbida krom yang semakin berkurang dengan naiknya temperatur pemanasan.

Alt. Description

At shipping world, stainless steel AISI 316 often used at tank of tanker vessel’s which transporting crude oil and chemicals. Welding is the way to joint materials from all constructions above. Welding process in stainless steel 316 in the range of sensitic temperature (500°C – 800°C) causes chromium carbide precipitate at grain boundary. Intergranular corrosion will accour if the steel placed in corrosive medium. Post weld heat treatment is a method to reduce chromium carbide precipitation at grain boundary. This research examinates corrosion rate of stainless steel 316 after welding process. In which post weld heat treatment was conducted in variation heating temperature. The variation of heating temperature that are : 850ºC, 900ºC, 950ºC and 1000ºC. Photo micro, photo macro and corrosion rate tests with electrolyte of NaCl were conducted. The result indicated that for heating temperature of 850ºC, 900ºC, 950ºC and 1000ºC the corrosion rate are 0.345, 0.332, 0.327 and 0.225 mmpy respectively. According to the test result the higher heating temperature result in lesser corrosion rate. Photo micro test showed that the higher the heating temperature the lesser the chromium carbide precipitate along boundary line.

Contributor :

1. Wing Hendroprasetyo A.P, ST, M.Eng.

=========================================================

ESTIMASI KEBUTUHAN PERMESINAN KAPAL UNTUK MENUNJANG INDUSTRI PERKAPALAN DI INDONESIA (STUDI PENGEMBANGAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS/ KEK PERKAPALAN)

ESTIMATION OF MARINE ENGINE DEMAND FOR SUPPORTING THE INDONESIAN SHIPPING INDUSTRY (Study of Exclusive Economic Zone Development/ Shipping EZZ )

Created by :
Jaya, Ketut Firman Dharmadi ( )

Subject: Galangan
Keyword: Asas Cabotage
Galangan Kapal Nasional
Mesin Utama Kapal
Nilai Order

[ Description ]

Adanya Instruksi Presiden nomor 5/2005 yang pada prinsipnya adalah penerapan asas cabotage yaitu suatu ketentuan yang mengatur bahwa muatan pelayaran antar pelabuhan di dalam negeri wajib diangkut dengan kapal berbendera indonesia dan dioperasikan oleh perusahaan pelayaran nasional. Selain itu lemahnya daya saing industri galangan kapal nasional saat ini, maka dipandang perlu untuk dilakukan upaya-upaya yang kongkrit untuk memberdayakan industri galangan kapal nasional yang lebih efisien dan kompetitif. Atas dasar pemikiran tersebut, kemudian disusun tugas akhir ini, dalam studi analisa ini, dilakukan peramalan jumlah kebutuhan kapal untuk pengganti kapal asing dan kapal-kapal tua yang masih beroperasi di Indonesia. Dengan menggunakan metode moving average dan exponential smoothing, yang selanjutnya dicek dengan Mean Square Error. Dari kebutuhan kapal tersebut dilakukan perbandingan dengan galangan kapal yang ada. Dari hasil perbandingan tersebut di dapatkan perkiraan kebutuhan mesin utama kapal dan diharapkan mampu memberikan hasil yang mendekati riilnya. Selain perkiraan kebutuhan mesin utama kapal, dilakukan juga pola distribusi mesin utama terhadap galangan kapal yang ada. Sehingga nantinya di dapatkan nilai order tiap tahun untuk mesin utama kapal pada tiap daerah maupun skala nasional. Diharapkan dapat mengetahui perkiraan jumlah mesin utama yang akan di pesan oleh galangan kapal nasional, nilai order mesin utama kapal serta data tentang perkiraan kebutuhan mesin utama kapal di Indonesia.

Alt. Description

According to the Instruksi Presiden No 5/2005 that basically is about implementing the cabbotage principle, which is a regulation that rules all local cargoes ship has to use nad registered under Indonesian flag, and also use shipping and maritime company from Indonesia. Besides the low competitiveness among of national shipyard nowadays, so it’s urgently needed a real effort to employ all national shipyard in more efficient and competitive way. Based on those thoughts, this final research was composed, through some analysis, forecasting of demand and needs for local ship instead of foreign and old ship was done and describe briefly in this final project report. Using moving average and exponential smoothing method, then checked by Mean Square Error. From those demands, a comparative methode was applied with some shipyards. From the comparision result, an estimation of main engine are subjected to obtain a close of real requirement. Instead of the need of main engine, a pattern of main engine distribution toward shipyards also apllied. So that the value of main engine order year by year, in every region an national scale will be obtained. This method is expected to describe number of main engine that ordered by some national shipyards, value of each order of main engine, and an estimation data of main engine’s need in Indonesia.

Contributor :

1. Prof. Ir. R Sjarief Widjaja, PhD

=========================================================

ANALISA PENGARUH SURFACE CRACK PADA PELAT MILD STEEL DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

ANALYSIS OF SURFACE CRACK BEHAVIOUR TO MILDSTEEL PLATE USING FINITE ELEMEN METHOD

Created by :
Mardiko, Feruz Syahri ( )

Subject: Mekanika terapan
Keyword: Surface crack
Stress intensity factor
Pelat mild steel
Metode elemen hingga

[ Description ]

Dalam bidang perkapalan, cacat retak sering terjadi di mana-mana. Cacat tersebut umumnya dimulai dengan surface crack akibat proses kerja. Dari persamaan Newman dan Raju, diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi sifat perambatan retak tersebut. Sifat perambatan ini akan memperngaruhi life time suatu material. Di dunia keilmuan telah banyak dilakukan penelitian pengaruh crack ini pada material mild steel ataupun high tensile strength. Sedangkan dalam dunia perkapalan cenderung menggunakan material mild untuk daerah lambung. Pada daerah tersebut kerap terjadi beban tarik akibat proses kerja kapal di atas media dinamis. Studi dilakukan untuk cacat surface crack pada pelat mild steel dengan persamaan Newman and Raju serta menggunakan metode elemen hingga. Penelitian dilakukan pada pelat dengan beban tarik 300 MPa. Selain itu, studi ini dilakukan dengan menguji pengaruh kedalaman pelat serta ketebalannya. Ketebalan yang diuji adalah 10, 20, dan 30 mm dengan kedalaman retak bervariasi dari a/t = 0.1 s/d 0.5 yang bertambah tiap 0.05t. Dari studi Newman-Raju dan metode elemen hingga ini, didapatkan nilai stress intensity factor tiap model. Selanjutnya dengan persamaan Paris akan didapatkan kecepatan perambatan retak tersebut. Dari simulasi yang telah dilakukan, setiap penambahan kedalaman retak 0.05t akan mengakibatkan pertambahan intensitas tegangan pada crack front sebesar 3% untuk t = 10 mm, 4.7% untuk t = 20 mm, serta 5.3% untuk t = 30 mm. Sedangkan perambatan retak akan bertambah 30~40% setiap kedalaman retak yang diberikan. Dan dari ketiga simulasi ketebalan pelat, perambatan retak cenderung meningkat dengan bertambahnya tebal pelat sebesar 30%.

Alt. Description

The crack that happens in ship construction, generally started with surface crack due to duty cycle. Newman and Raju give an equation that explains influencing factors to the crack growth rate. And the rate has a role in material’s life time. Nowadays, scientist has many experiments about crack behaviour to both mild or high tensile steel. And ship construction mostly uses mild steel in hull building. Tensile loading often happens in the hull ship due to hydrodynamic loading. The study of surface crack in plate is using Newman and Raju equation and finite elemen method. The experiment takes a plate with 300 MPa tension stress. Beside, the experiment takes variable of plate thickness and crack depth. The thickness which observed is 10, 20, and 30 mm with crack depth changes from a/t = 0.1 up to 0.5 each 0.05t. The Newman-Raju study and finite elemen method results is stress intensity factor for each model. Then with Paris equation gives the crack growth rate will be obtained. From the simulation of crack depth variable, the stress intensity factor gradually increases 3% for t = 10 mm, 4.7% for t = 20 mm, and 5.3% for t = 30 mm. Then the crack growth rate will increase 30~40% while the crack depth increasing 0.05t. And from plate thickness simulations obtained that the crack growth rate increases while the thickness gradually added 30%.

Contributor :

1. Ir. Budie Santosa M.T.

=========================================================

PERANCANGAN CORPORATE IDENTITY TERAFULK GROUP

DESIGNING TERAFULK GROUP’S CORPORATE IDENTITY

Created by :
Putranto, Iyud Hardi ( )

Subject: Seni dekoratif
Keyword: Logo
Identitas perusahaan
Representasi perusahaan
Instrumen pemersatu.

[ Description ]

Terafulk Group adalah sebuah grup perusahaan yang menaungi tiga perusahaan yang masing-masing bergerak dalam bidang ship design, ship consultant, production drawing, software maintenance, software development (Terafulk Megantara Design), trading (Terafulk Global Biz), dan digital arts design (Teramedia). Grup ini diawali dengan berdirinya PT. Terafulk Megantara Design pada tahun 2005. Pada perkembangannya kemudian, masalah yang terjadi di dalam perusahaan menjadi semakin kompleks, semakin berat untuk ditangani dalam sebuah manajemen. Hal-hal inilah yang kemudian melandasi berdirinya PT. Terafulk Global Biz dan PT Teramedia, yakni untuk memisahkan bidang kerja sekaligus saling menjadi support sytem bagi perusahaan lainnya. Saat ini, ketiga perusahaan ini akan disatukan lagi dalam sebuah manajemen yang bernama Terafulk Group. Sampai saat ini, Terafulk Group masih belum memiliki sebuah identitas yang baku. Identitas yang selama ini digunakan adalah identitas dari PT. Terafulk Megantara Design, padahal bidang usaha yang disasar oleh Terafulk Group tidak hanya pada industri perkapalan, namun juga merambah industri-industri lain. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika nantinya bidang usaha utama dari Terafulk Group bukanlah industri perkapalan. Di sisi lain, penggunaan identitas yang identik ini menimbulkan ambiguitas antara Terafulk Megantara Design dan Terafulk Group. Identitas perusahaan, yakni nama perusahaan, trademark, dan sistem visual, adalah salah satu aset terpenting dari perusahaan, sebagai sebuah bentuk representasi terdepan dari perusahaan. Identitas Terafulk Group ini merupakan sebuah instrumen yang sangat penting untuk membentuk persepsi perusahaan di benak para pelanggan, investor, dan para pekerja sekaligus sebagai sebuah instrumen pemersatu dari perusahaan-perusahaan yang bernaung di dalamnya. Oleh karenanya sangat penting untuk memaksimalkan penggunaan aset penting ini sebagai sebuah nilai saing dan sekaligus untuk menjaga dan melindunginya.

Alt. Description

Terafulk Group is a business group supervise three different companies which is embracing ship design, ship consultant, production drawing, software maintenance, software development (Terafulk Megantara Design), trading (Terafulk Global Biz), and digital arts design (Teramedia) businesses. This group was began in 2005, when Terafulk Megantara Design Co. Ltd. established. This company has grown more complex, became more difficult to managed in one company mean while the competition was also become more heavy. Following this change, Terafulk Global Biz Co. Ltd. and Teramedia Co. Ltd. was established to solved the problems, separated company’s business area and also to became a support system. Following days, these three companies will be united again in a management called Terafulk Group. Terafulk Group still doesn’t have a full fledged identity up to now. The identity that have been used with company was Terafulk Megantara Design’s identity, whereas Terafulk Group’s core business not only in ship industry, but also in other business. There is an opportunity for the company to change it’s core business. In the other side, using a similiar identity has make Terafulk Megantara Design’s identity and Terafulk Group’s identity become ambiguous. The Company’s identity—company’s name, trademark, and sistem visual identity is one of company’s most valuable assets, as the most visible representation of the company. The Terafulk Group identity is an important tool that can be used to shape the perceptions in customers, investors, and employees’s mind, all at once as an instrument to make a unity in company. Therefore, it is critical to leverage this asset for competitive advantage today and protect it for the future.

Contributor :

1. Rahmatsyam Lakoro, S.Sn

=========================================================

ANALISA KEBUTUHAN DAYA GENERATOR AKIBAT MODIFIKASI KAPAL PADA OPERASIONAL PERALATAN DI KM KIRANA RUTE SURABAYA – BALIKPAPAN

Created by :
Yanto, Ery ( )

Subject: Ships — Electric Equipment
Electric Generators
Alt. Subject : Ships — Electric Equipment
Electric Generators
Keyword: daya generator
system kelistrikan
operasional peralatan
kondisi kapal

[ Description ]

Untuk memenuhi kebutuhan daya generator di kapal, seorang marine engineer (Sarjana Teknik Sistem Perkapalan) harus memperhatikan faktor-faktor yang mendukung desain generator beserta distribusinya. Selain itu alternatif-alternatif dalam pemakaian peralatan di kapal juga harus diperhatikan. Alternatif itu sendiri merupakan bagian dalam mendesain sistem kelistrikan di kapal yang akan di desain. Untuk kapal-kapal penumpang yang berlayar di daerah tropis (misal: Indonesia) dimana kapal tersebut adalah hasil daripada desain modifikasi maka kebutuhan sarana pelayanan di kapal harus diutamakan keberadaannya. Sebab penumpang tidak hanya ingin sampai tujuan saja tetapi juga ingin mendapatkan fasilitas-fasilitas untuk menikmati pelayaran. Untuk itu operasional peralatan baik untuk penumpang itu sendiri maupun yang lebih khusus (untuk kerja sistem di kapal ) diharapkan dapat difungsikan dengan baik dalam berbagai kondisi kapal yakni berlayar, sandar, manuver, serta bongkar muat.

Contributor :

1. Ir. Sardono S., MSc
Eddy S.K.,ST,MSc)

=========================================================

KARAKTERISASI MATERIAL LAMINASI KAYU JATI (TECTONA GRANDIS L.F) DAN/ATAU BAMBU BETUNG (DENDROCALAMUS ASPER) UNTUK PENGGUNAAN STRUKTUR KAPAL

CHARACTERISTIC of TEAK (Tectona grandis L.F) and/or BAMBOO BETUNG (Dendrocalamus asper) LAMINATION for WOODEN BOAT CONSTRUCTION

Created by :
Widodo, Akhmad Basuki ( )

Subject: Kapal — Model
Keyword: Laminasi
Sifat Fisik
Sifat Mekanik dan Kelelahan Material

[ Description ]

Sampai saat ini, penggunaan bambu dibidang konstruksi masih sangat terbatas dan digunakan hanya pada konstruksi ringan. Perkembangan penggunaan bambu dibidang konstruksi, khususnya dibidang perkapalan, relatif masih sangat kecil. Dengan adanya teknologi laminasi, diharapkan pemanfaatan bambu dapat diperluas dibidang struktur, terutama dibidang perkapalan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik dan sifat mekanik laminasi bambu, pengaruh buku bambu dalam konstruksi laminasi dan sifat kelelahan material laminasi bambu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara umum laminasi bambu betung mempunyai sifat fisik dan sifat mekanik serta sifat terhadap kelelahan material (fatigue) yang lebih baik dibandingkan dengan kayu jati (solid). Hanya saja, sebagai bahan pembangunan kapal kayu, laminasi bambu betung mempunyai kerapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kayu jati (solid). Tetapi perbedaan kerapatan laminasi bambu betung dengan kayu jati tidak sebesar perbedaan kekuatan mekanik. Sehingga dengan peraturan konstruksi kapal kayu (BKI), laminasi bambu betung tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembangunan kapal kayu dengan pengurangan ukuran. Sedangkan pengaruh buku bambu terhadap kekuatan bending statik dan kuat tarik, penurunan kekuatan terbesar sekitar 10 % dibandingkan dengan laminasi bambu tanpa buku. Hasil pengujian dan analisa laminasi bambu betung terhadap beban dinamis menunjukkan bahwa laminasi bambu betung mempunyai ratio ketahanan (endurance ratio, Re) yang lebih baik dibandingkan dengan kayu jati (solid). Laminasi bambu betung setelah menerima beban dinamis mengalami penurunan kuat tarik sekitar 23 %, sedangkan kayu jati (solid) mengalami penurunan kekuatan sebesar 63 %.

Alt. Description

Teak wood is well known and well proven material in wooden boat construction. It also dominates in the wooden boat industry. The use of bamboo has been limited to light construction. Bamboo is cheap and can be found everywhere in Indonesia. Due to the cheapness and high availabilities, the use of bamboo should be promoted, especially in boat building industry, by enhanced lamination technology and special treatment for marine wood destroying organisms or fire retardant. The purposes of this research is to determine physical and mechanical characteristics of bamboo composite, the influence of bamboo node in the laminated construction and the fatigue characteristic of bamboo composite in term of tensile fatigue are also examined. In this research, it is proved that the mechanical and fatigue characteristic of the bamboo composite are better than that of teak wood. As material for wooden boat building, the density of bamboo composites is higher than that of the teak wood. Consequently, the weight of the boats will be higher. However, the increase of the strength characteristics is higher than that of the density. Therefore, the bamboo composite boat will have the same weight of boat with higher strength or will have less weight of boat with the same strength compared with teak wooden boat. It is also found that bamboo composite including node has static bending strength and tension strength around 10 percents less compared with bamboo composite without node. The dynamic tensile strength (tensile fatigue strength), the strength decrease of the bamboo composite and teak wood around 23 percents and 63 percents respectively. It means that in term of the resistance toward dynamic/fatigue tensile strength, bamboo composite is around three times better than teak. From this research, it is suggested that instead of teak wood, bamboo composite should be utilized in construction, especially in wooden boat industry.

Contributor :

1. Ir. P. Eko Panunggal, PhD.
Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, PhD.
Ir. Daniel M. Rosyid, PhD.

=========================================================

PENENTUAN PERPINDAHAN NODE PADA PELAT DATAR DENGAN PEMODELAN ELEMEN SEGITIGA 6 NODE AKIBAT GAYA TARIK SEPANJANG SISI PELAT PADA DUA ARAH

Created by :
SARI, ANDITA NUR RAFLIA ( )

Subject: LAS
Alt. Subject : Plates (engineering)
Keyword: Pelat
Metode Elemen Hingga
Diskritisasi

[ Description ]

Pada industri perkapalan, pelat merupakan material yang sangat dominan dalam mendesain suatu lambung kapal dimana terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mendesain, karena adanya gaya tekan yang diterima oleh lambung kapal. Oleh karena itu dalam pengujian, kita dapat melakukan analisa perilaku pelat dengan pemodelan elemen hingga dengan mendiskritisasi elemen pelat datar dalam suatu elemen segitiga untuk mengetahui bagaimana suatu perpindahan node terjadi pada pelat akibat diperlakukan gaya tarik dari dua arah. Pada pengujian yang telah dilakukan untuk beberapa material pelat datar, kita ambil contoh material baja yang ditumpu pada sisi kiri pelat dengan gaya 5000 N diperoleh perpindahan node maksimum terhadap sumbu X sebesar 1,561.10-4 m sehingga dapat diketahui bagaimana contour pelat. Dari hasil pengujian ini kita dapat mengetahui terdapat beberapa perameter yang mempengaruhi dalam menentukan perpindahan node untuk material pelat diantaranya : letak tumpuan, jenis material serta besar dan letak gaya pembebanan pada pelat.

Contributor :

1. Ir. YERRI SUSATIO, MT

=========================================================

PERANCANGAN SISTEM PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN GALANGAN KAPAL DENGAN MENGGUNAKAN KERANGKA BALANCED SCORECARD

Nowadays, companies are competing for their customers in their competitively market place. Companies have to try their best producing product or service which is fulfilled their market needs. In assessing its result achieved by strategy application is nee

Created by :
WTTJAKSONO, RONY ( )

Keyword: Performance Measurement System
Key Performance Indicator (KPI)
Integrated Performance Measurement System (IPMS)
Balanced Scorecard
Quantitative Model for Performance Measurement System (QMPMS)
Analytic Hierarchy Process (AHP)

[ Description ]

Dewasa ini perusahaan-perusahaan saling bersaing untuk memperebutkan pasar yang sudah sedemikian kompetitif. Perusahaan hams berjuang untuk menghasilkan produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada. Untuk mengkaji kesuksesan hasil yang telah dicapai dalam menerapkan strateginya, tentunya perusahaan hams mempunyai suatu sistem pengukuran kinerja Pada kenyataan yang ada saat ini, belum banyak perusahaan yang mempunyai suatu sistem pengukuran kinerja yang sifatnya terintegrasi dan dapat menilai kinerja suatu organisasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikasi Key Performance Indicator (KPI), menganalisa persepsi dari pihak manajer pada tujuan dan Key Performance Indicator (KPI) perusahaan dengan cara melakukan pembobotan pada masing-masing KPI, mengkonsolidasikan KPI ke dalam single performance indicator, sehingga dapat menyatakan nilai kinerja dari tiap-tiap Key Performance Indicator (KPI), unit bisnis dan keselunihan. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan kerangka kerja tentang bagaimana membuat suatu sistem pengukuran kinerja yang dapat memberikan pandangan menyeluruh (comprehensive) dan cepat tentang nilai kinerja dari masing-masing Key Performance Indicator (KPI), unit bisnis, dan keselunihan kepada pihak manajemen level atas, serta dapat menyoroti area yang perlu ditingkatkan kinerjanya. Pada perancangan sistem pengukuran kinerja tersebut dilakukan dengan menggabungkan tiga model sistem pengukuran kinerja yaitu Integrated Performance Measurement System (IPMS), Balanced Scorecard dan Quantitative Model for Performance Measurement System (QMPMS) dan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk melakukan proses pembobotan dari masing-masing KPI. Penilaian kinerja mengacu pada perbandingan antara realisasi dan target dari masing-masing KPI serta bobot dari KPI tersebut. Pada penelitian ini menggunakan studi kasus kinerja PT. Dok dan Perkapalan Surabaya pada tahun 2000. Hasil yang didapat adalah nilai kinerja keselunihan adalah 57,83, nilai kinerja unit bisnis reparasi adalah 75,67, nilai kinerja unit bisnis bangunan bam adalah 40,03. Hal ini menggambarkan bahwa rata-rata realisasi dari masing-masing Key Performance Indicator (KPI) tidak memenuhi/mencapai target yang ditetapkan.

Alt. Description

Nowadays, companies are competing for their customers in their competitively market place. Companies have to try their best producing product or service which is fulfilled their market needs. In assessing its result achieved by strategy application is needed a performance measurement system. In fact, there is only a few of companies have their integrated performance measurement system to measure organization performance comprehensively. The aims of this research are identify Key Performance Indicators (KPl), analyzing manager perception on company objectives and Key Performance Indicators (KPl) by weighing KPI and consolidating KPI into a single performance indicator to set performance scoring of each KPI, business unit and overall performance. Benefit got from this research is to provide a framework for top management on how to design performance measurement system using for fast and comprehensive performance measurement on each KPI, business unit and overall performance as well as highlight of the area that need improvement most. Design of performance measurement system is carried out by combining three of performance measurement model i.e. Integrated Performance Measurement System (IPMS), Balanced Scorecard, Quantitative Model for Performance Measurement System (QMPMS), by using Analytic Hierarchy Process (AHP) method to weighing of each KPl. Performance scoring is refers to comparison between achievement (realization) and target of each KPI as well as weight of KPI. A performance case study is used in PT.Dok dan Perkapalan Surabaya in 2000. The results obtained are 57.83 for overall performance, 75.67 for ship repair business unit pand 40.03 for ship building business unit performance. These results indicate that realization averages of each KPI are not fulfilled decided target.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo, MSc
Ir. Patdono Suwignyo, MEng Sc, PhD

=========================================================

ANALISA FAKTOR INTERNAL SDM TERHADAP PRODUKTIVITAS: STUDI KASUS BENGKEL FABRIKASI KAPAL

INTERNAL FACTOR ANALYSIS OF SDM TO PRODUKTIVITY : FABRICATE WORKSHOP CASE STUDY

Created by :
LATUHIHIN, GERARD RICHARD ( )

Subject: Produktivitas industri
Keyword: kemampuan
motivasi
stres
produktivitas.

[ Description ]

Penelitian tentang analisa faktor sumber daya manusia yang berpengaruh pada produktivitas: studi kasus di bengkel fabrikasi dirasakan perlu untuk diteliti. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja manusia itu sendiri dalam mencapai produktivitas. Untuk itu gambaran tentang seberapa besar hubungan antara faktor-faktor tersebut secara deskriptif perlu diteliti dan dicari makna hubungan antara faktor dan seberapa besar kontribusinya di dalam mempengaruhi produktivitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa gambaran kemampuan, motivasi kerja, stres dan produktivitas kerja. Kegunaan secara teoritis adalah memberikan sumbangan bagi kajian ilmu manajemen yang menyangkut peningkatan produktivitas kerja di galangan. Kegunaan praktis adalah hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk perubahan kebijakan dalam meningkatkan produktivitas kerja pada bengkel fabrikasi dan merupakan gambaran yang dapat mengubah perilaku karyawan, siap dan cepat tanggap dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal.Penelitian ini dilakukan pada PT. Dok dan Perkapalan Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey yang bersifat deskriptif analitis dengan sampel 104 karyawan dan menggunakan analisis korelasi dan regresi. Hasil penelitian ditemukan bahwa besarnya pengaruh secara simultan antara kemampuan (X1), motivasi (X2) dan stres (X3) terhadap produktivitas (Y) sebesar 0,973 tergolong sangat kuat. Sedangkan kontribusi secara bersama-sama variabel X1, X2, dan X3 terhadap (Y) = R2 x 100% = 0.946 X 100% = 94.6% dan sisanya 5.4% ditentukan oleh variabel lain. Kemudian mengenai naik-turunnya atau besar kecilnya produktivitas dapat diprediksi melalui persamaan regresi Y = 1.016 + 0.072X1 + 0.836X2 – 0.099X3. Besarnya koefisien korelasi parsial pada penelitian ini, terlihat bahwa korelasi parsial kemampuan terhadap produktivitas sebesar 0.209, motivasi terhadap produktivitas 0.969, stres terhadap produktivitas sebesar -0.278. Hal ini memperlihatkan bahwa variabel motivasi merupakan variabel yang dominan dalam mempengaruhi produktivitas, yaitu motivasi mempunyai hubungan sebesar 96.9 % terhadap prduktivitas karyawan.

Alt. Description

Research about human resource factor analysis having an in with productivity: case study in fabricate workshop is felt require to be checked. There are many factors influencing it man performance in reaching productivity. For the purpose image of about how big relation between the factors descriptively need to be checked and searched by meaning relation between factor and how big its(the contribution in influencing productivity. Purpose of this research is to know and analyses image of ability, motivation of job activity, stress and work productivity. Usefulness theoretically is give contribution to management science study concerning improvement of work productivity in graving dock. Practical usefulness is result of this usable research as component of consideration for policy change in increasing work productivity at fabricate workshop and is picture which can change behavior of employee, ready and quickly listens carefully in implementing the duty and function is in an optimal fashion. This research done at PT. Dock and Perkapalan Surabaya. Research method applied is method survey is having the character of descriptive analytical with sample 104 employees and applies correlation analysis and regression. Result of research it is found that level of influence in simultan between abilities (X1), motivation (X2) and stress (X3) to productivity (Y) 0,973 pertained very strong. While contribution jointly variable X1, X2, and X3 to (Y) = R2 x 100% = 0946 X 100% = 94,6% and the rest 5,4% determined by other variable. Then about the rising-falling or big the so small productivity can be predicted through equation of regression Y = 1,016 + 0,072X1 + 0,836X2 – 0,099X3. Level of partial correlation coefficient at this research, seen that partial correlation of ability to productivity 0,209, motivation to productivity 0,969, stress to productivity equal – 0,278. This thing shows that motivation variable is dominant variable in influencing productivity, that is motivation has relationship 96,9 % to employee productivity.

Contributor :

1. Prof. DR. Ir. Sjarief Widjaja

=========================================================

PERANCANGAN POLA KARIR KARYAWAN GALANGAN KELAS MENENGAH DENGAN MENGAPLIKASIAN METODE FUZZY MCDM DALAM PENYELEKSIANNYA :STUDI KASUS GALANGAN KELAS MENENGAH DI SURABAYA

EMPLOYEES’ CAREER PATTERN IN MIDDLE SHIPYARD BY USING FUZZY MCDM METHOD AS THE SOLVER: Case Study Middle Shipyard in Surabaya

Created by :
Wahyudi, Hari ( )

Subject: Pegawai — Manajemen
Keyword: Pola karir
Fuzzy MCDM
Seleksi karyawan

[ Description ]

Persaingan dalam Industri Perkapalan yang semakin tinggi dan Sumber Daya Manusia merupakan modal utama bagi kemajuan suatu Industri Perkapalan maka perencanaan karier pekerjaan yang diikuti peningkatan kesejahteraan sangat diperlukan. Dengan adanya karier yang tepat dapat membuat karyawan menjadi loyal dan dapat menguntungkan bagi perusahaan. Permasalahan karir untuk jangka waktu yang panjang serta masalah tentang data yang menunjukkan bahwa jangkauan teknik – teknik untuk merencanakan karir berdasarkan rancangan statistik kemungkinan kecil sehingga Bidang Sumber Daya Manusia dituntut untuk menyelesaikan dengan cepat dan obyektif. Hasil pola karier karyawan di galangan kelas menengah terdiri dari 6 tahapan yang meliputi 2 tahapan pelaksana dan 4 tahapan manajemen. Untuk melalui tahapan dan kenaikan jabatan tersebut terdapat persyaratan – persyaratan diantaranya pendidikan, pengalaman kerja dan persyaratan – persyaratan lainnya. Untuk menentukan nilai kandidat diperlukan banyak kriteria termasuk, kemampuan, dan karakter seseorang. Proses seleksi karyawan hasil perencanaan pola karier di galangan kelas menengah dengan mengimplementasikan metode fuzzy MCDM dengan cara melakukan seleksi administrasi untuk meminimalisir kandidat selanjutnya diadakan penilaian terhadap kadidat yang meliputi tes kuantitatif dan penilaian kualitatif, dengan menggunakan metode fuzzy MCDM dapat diketahui kriteria – kriteria yang diperlukan dan sesuai dengan karakter seseorang, selain itu dengan metode fuzzy MCDM pengambil keputusan bisa dari latar belakang pendidikan apapun dan dapat membuat karyawan perusahaan mengetahui akan kebutuhan perusahaan dan mengerti apa yang terjadi didalam perusahaan. Dan dengan adanya software untuk memunculkan alternatif calon / kandidat yang paling sesuai untuk suatu jabatan tertentu hasil pola karier di galangan kelas menengah akan memudahkan pengambilan keputusan dan dengan menggunakan metode fuzzy MCDM kriteria hasil yang cepat dan akurat.

Alt. Description

Emulation in Shipping Industry that keeps growing and Human Resource are the main capital for the progress of Shipping Industry, hence planning of work career followed by prosperity improvement are very needed. The existence of precise career support the employee’s loyalty and give benefit to the company as well. Career problems in long term and also problem in data that shows the technical coverage to plan to plan career based on statistical plan has small probability so that Human Resource division are forced to complete the task swiftly and objective. The Result of employees’ career pattern in middle Shipyard consisted of 6 steps covering 2 execution steps and 4 management steps. There are some requirements to pass those steps and raising position namely education background, working experience, and others. Some criteria are needed to determine the candidates’ value including ability, and characteristic. Selection process as the result of employees’ career pattern in middle Shipyard by implementing fuzzy MCDM method through administrative selection to minimize the number of candidate continue with the judgment of candidate which are including qualitative and quantitative assessment. By using fuzzy MCDM method, any criteria needed based on someone’s characteristics can be noticed, moreover with this fuzzy MCDM method, any decision can be made from any education background and employees can be easily notice the company needs and anything happen inside the company. And with the existence of software to peep out the alternative candidate/most appropriate candidates for certain position from the result of employees’ career pattern in middle shipyard will facilitate the decision making and by using fuzzy MCDM method, fast and accurate result criteria will be fulfilled.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo M.Sc

=========================================================

PERANAN HIDRODINAMIKA DALAM BIDANG DESAIN KAPAL DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

The role of hydrodynamics in ship design and daily life

Created by :
Utama, I Ketut Aria Pria ( )

Subject: Hidrodinamika
Keyword: Desain kapal
Hidrodinamika

[ Description ]

Hidrodinamika merupakan salah satu cabang ilmu keteknikan terutama di bidang teknoiogi perkapalan / kelautan. Bidang ilmu ini mempelajari perilaku gerakan benda (a. l. kapal laut) yang berada di air. Keberadaan dan pergerakan benda di air menimbulkan apa yang disebut lapisan batas (boundary layer) dimana makin besar dan gemuk (bluffer) benda tersebut maka lapisan batas semakin lebar dan konsekuensinya hambatan, besamya tenaga penggerak dan konsumsi BBM kapal meningkat. (Utama 2007 dan Utama dkk 2007). Selanjutnya. pergerakan kapal di gelombang sangat berkaitan dengan tingkat kenyamanan terutama ABK dan penumpang. Fenomena ini dikenal dengan istilah seakeeping dimana sangat dipengaruhi oleh bentuk badan kapal dan arah datangnya gelombang (Bhattacaryya, 1978). Kemampuan olah gerak kapal juga memperoleh perhatian penting karena berkaitan erat dengan mobilitas dan kualitas layanan kapal tersebut. Kapal-kapal yang besar cenderung mengalami kesulitan olah gerak dibandingkan kapal-kapal yang lebih keciL Pcnyclidikan tentang karakteristik hidrodinamika kapal ini pada umumnya dilakukan dengan pendekatan teoritis-numerik dimana pada saat ini lebih populer dengan istilah dinamika fluida numerik (CFD). Teknik lain yang menjadi altematif adalah melalui pengujian model kapal menggunakan towing tank, manoeuvring ocean basin (MOB). wind tunnel, cavilalion tunnel, dan lain-lain. Meskipun lebih praktis dan tetap dengan akurasi tinggi, temyata penggunaan teknik ini memerlukan biaya yang cukup tinggi terutama untuk kapal-kapal yang besar dan kapal khusus.

=========================================================

PERANAN HIDRODINAMIKA DALAM BIDANG DESAIN KAPAL DAN KEHIDUPAN SEHARI-HARI

The role of hydrodynamics in ship design and daily life

Created by :
Utama, I Ketut Aria Pria ( )

Subject: Hidrodinamika
Keyword: Desain kapal
Hidrodinamika

[ Description ]

Hidrodinamika merupakan salah satu cabang ilmu keteknikan terutama di bidang teknoiogi perkapalan / kelautan. Bidang ilmu ini mempelajari perilaku gerakan benda (a. l. kapal laut) yang berada di air. Keberadaan dan pergerakan benda di air menimbulkan apa yang disebut lapisan batas (boundary layer) dimana makin besar dan gemuk (bluffer) benda tersebut maka lapisan batas semakin lebar dan konsekuensinya hambatan, besamya tenaga penggerak dan konsumsi BBM kapal meningkat. (Utama 2007 dan Utama dkk 2007). Selanjutnya. pergerakan kapal di gelombang sangat berkaitan dengan tingkat kenyamanan terutama ABK dan penumpang. Fenomena ini dikenal dengan istilah seakeeping dimana sangat dipengaruhi oleh bentuk badan kapal dan arah datangnya gelombang (Bhattacaryya, 1978). Kemampuan olah gerak kapal juga memperoleh perhatian penting karena berkaitan erat dengan mobilitas dan kualitas layanan kapal tersebut. Kapal-kapal yang besar cenderung mengalami kesulitan olah gerak dibandingkan kapal-kapal yang lebih keciL Pcnyclidikan tentang karakteristik hidrodinamika kapal ini pada umumnya dilakukan dengan pendekatan teoritis-numerik dimana pada saat ini lebih populer dengan istilah dinamika fluida numerik (CFD). Teknik lain yang menjadi altematif adalah melalui pengujian model kapal menggunakan towing tank, manoeuvring ocean basin (MOB). wind tunnel, cavilalion tunnel, dan lain-lain. Meskipun lebih praktis dan tetap dengan akurasi tinggi, temyata penggunaan teknik ini memerlukan biaya yang cukup tinggi terutama untuk kapal-kapal yang besar dan kapal khusus.

=========================================================

STUDI KONSUMSI FILLER METAL PADA PENGELASAN REPARASI KAPAL SEBAGAI FUNGSI DARI TEBAL PELAT DAN POSISI KONSTRUKSI

THE STUDY OF FILLER METAL CONSUMPTION AT WELDING IN SHIP REPAIR AS A FUNCTION OF PLATE THICKNESS AND THE POSITION OF THE CONSTRUCTION

Created by :
Hermawan, Teddy ( )

Subject: Las
Teknik perkapalan
Keyword: Construction repair
usage of metal filler
welding cost

[ Description ]

Proses penyambungan pelat pada proses pembuatan kapal baru dan reparasi kapal sebagian besar menggunakan proses pengelasan karena mudah dan praktis dalam penggunaannya. Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pemakaian filler metal pada pengerjaan pengelasan reparasi berbagai tebal pelat sesuai posisi konstruksi badan kapal dan menentukan biaya pengelasan secara praktis dan teoritis untuk reparasi bagian-bagian konstruksi kapal. Hasil dari tugas akhir ini dapat disimpulkan bahwa: Pemakaian filler metal bertambah sebesar 0.307 kg/ m tiap kenaikan tebal pelat sebesar 2 mm untuk reparasi plat lambung antara 8 – 14 mm. Biaya pengelasan pada bagian konstruksi lambung secara teoritis sebesar Rp 33.220,09 /Kg dan secara praktis sebesar Rp 25.921,01 /Kg, Untuk konstruksi bottom sebesar Rp 33.773,33 /Kg secara teoritis dan Rp 28.639,13 /Kg secara praktis.

Alt. Description

Plate joining on ship building and reparation, mostly done by using welding process. Because of considering the practical and easy way of conducting it. The objective of this final project is to understand the relation of the usage of metal filler in the ship reparation welding process on different plate thickness and different positions on the ship. Another objective is to estimate the welding cost, practically and theoretically in the reparation parts of the ship. Result of this final project can concluded that : Usage of metal filler increase equal to 0.307 kg/ m every increase of plate thickness equal to 2 mm for the repair of hull plate between 8 – 14 mm. The theoretic welding cost on the hull is Rp 33.220,09 /Kg while the practical welding cost on the hull is Rp 25.921,01 /Kg. To the theoretic welding cost on the bottom is Rp 33.773,33 /Kg while the practical welding cost on the bottom is Rp 28.639,13 /Kg.

Contributor :

1. Ir. Soejitno

=========================================================

PENGGUNAAN METODE ACTIVITY-BASED-COSTING UNTUK PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI, BIAYA PERAWATAN KAPAL SEBAGAI PEMBANDING METODE BIAYA STANDAR YANG DIGUNAKAN PADA PT. DOK DAN PERKAPALAN “WYM” DL PULAU AMBON

Created by :
MARKUS, PATTISELANNO ( )

Keyword: Harga pokok produksi
biaya perawatan kapal

[ Description ]

Pertambahan jumlah perusahaan jasa Dok dan Perkapalan di daerah Maluku akan menyebabkan persaingan yang cukup ketat dalam hal pelayanannya, khususnya dalam tiga hal pokok yaitu: kualitas yang sesuai, waktu penyelesaian pekerjaan yang singkat, serta biaya yang kompetitif Khususnya untuk komponen biaya, telah terjadi perbedaan yang sangat berarti antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari Standart Price yang ditetapkan pada perusahaan yang ditinjau dengan perusahaan lain yang sama jenis usahanya, adalah lebih tinggi 16% sampai dengan 75 %. Hal ini merupakan suatu fenomena yang menarik, yang perlu dicari penyebabnya Dari pengamatan dan wawancara yang dilakukan didapatkan iuformasi, bahwa penentuan Standard Price pada perusahaan yang ditinjau ini belum didasarkan pada suatu studi khusus terhadap aktifitas-aktiftas pembentuk komponen biaya yang terjadi, serta tidak melihat kebijakan yang dilakukan oleh perusahan lain sebagai kompetitor. Sebenarnya dengan menggunakan model Activity-Based-Costing dapat ditelusuri dengan cermat dan rasional besarnya biaya untuk tiap aktifitas. Hal ini disebabkan karena model-ABC menginformasikan dengan baik tentang besarnya sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap aktififas, dan mengapa sumber daya tersebut digunakan. Dengan demikian biaya yang ditentukan dapat menjadi suatu biaya yang rasional dan kompetitif Berdasarkan hasil peneiitian ini didapat bahwa produk jasa docking yang dihitung berdasarkan sistem biaya standar, harga pokok produksi per unit yang dihasilkan adalah sebesar Rp.5.383.167,- sedangkan harga pokok produksi per unit yang dihitung dengan sistem ABC (Activity Based Costing) menghasilkan biaya sebesar Rp.3.147.490,-. Bila dibandingkan maka terjadi kelebihan perhitungan HPP per unit sebesar Rp.2.235.677,- atau terjadi penyimpangan sebesar 41,53 %. Untuk produk jasa pembersihan plat kulit lambung kapal adalah sebesar Rp.7.214.013,- dan Rp.4.380.859,-, terjadi kelebihan perhitungan Rp.2.833.153,- atau penyimpangan sebesar 39,27 %.Produk jasa pekerjaan penggantian plat kulit lambung kapal adaiah sebesar Rp.9.606.433,- dan Rp. 11.060.246,-, terjadi kekurangan perhitungan sebesar -(Rp. 1.453.813,-) atau penyimpangan sebesar (-15,13 %). Untuk produk jasa pengecatan plat kulit lambung kapal adalah sebesar Rp. 12.366.879,- dan Rp.9.791.417,- terjadi kelebihan perhitungan Rp.2.575.461,- atau penyimpangan 20,83 %. Untuk produk jasa perbaikan baling-baling adalah sebesar Rp.6.802.275,- dan Rp.5.669.606,- terjadi kelebihan perhitungan Rp. 132.669,- atau penyimpangan 16,65%. Produk jasa perbaikan kemudi adalah Rp.4.158.000,- dan Rp.5.132.735,- terjadi kekurangan perhitungan sebesar -(Rp.974.735,-) atau penyimpangan sebesar -(23.44 %). Untuk produk jasa perbaikan tangki-tangki adalah Rp.391.094,- dan Rp.302.817,-terjadi kelebihan perhitungan sebesar Rp.82.277,- atau penyimpangan sebesar 22,57 %. Produk jasa undocking adalah sebesar Rp. 1.199.167,- dan Rp 499.427,- terjadi kelebihan perhitungan sebesar Rp. 699.740,- atau penyimpangan sebesar 58,35 %. Untuk total harga pokok produksi biaya standar Rp.2.897.658.464,- dan sistem ABC sebesar Rp. 2.453.582.802,-terjadi kelebihan perhitungan sebesar Rp.444.075.662,- atau terjadi penyimpangan sebesar 15.35%. Dengan demikian aktifitas-aktifitas yang teridentifikasi dan informasi biaya yang didapat ini, boleh digunakan oleh pihak manajemen dalam pengambilan keputusan, khususnya sebagai salah satu faktor penentu daya saing.

Alt. Description

The number increase of dock and shipyard in the province of Maluku will lead to tight competition in their service, particularly in three major factors: adequate quality, minimum working time, and low competitive cost. There is significant difference in cost component among these companies. Standard price difference, for example, varies between 16% and 75%. This is the interesting issue to be investigated. The information, which comes from observation and interview, show that standard price adjustment of these companies is not based on a spesific study of the activities related to cost component establishment, and neglect the policy of other companies as the competitor. Actually, by using the Activity Based Costing(ABC) model, cost of each activity can be searched accurately and rationaly. This result from the fact that ABC model is able to inform the resources consumed by each activity, and the reason of using these resources. This make the adjusted cost more rational and competitive. This research shows that: in the docking service product that is based on standard cost, product main cost per unit is Rp.5.383.167,- .Using ABC model this cost is Rp. 3.147.490,- . It is seen that there is Rp.235.677,- surplus in calculation of product main cost per unit, or 41.53 % deviation. Hull cleaning product cost are Rp.7.214.013,- and Rp.4.380.859,- for both type of calculation; this means there is a surplus of Rp.2.833.153,- or 39.27% deviation. The service product of shell plate replacement costs Rp.9.606.433,- and Rp. 11.060.246,- ; a deficit of Rp. 1.453.813,-, or 15.13%. For shell plate painting, the service product costs are Rp. 12.366.879,- and Rp.9.791.417,-. This means a surplus of Rp.2.575.461,- or about 20.83% deviation. The service product costs of propeller reparation are Rp.6.802.275,- and Rp.5.669.606,-. There is Rp. 132.669,- or 16.65% surplus in calculation. The rudder reparation costs Rp.4.158.000,- and Rp.5.132.735,- ; a deficit of Rp.974.739,- or 23.44%. For reparation of fuel and water tanks, the service product costs are Rp.391.094,- and Rp.302.817,-. This means a difference of Rp.82.277,- or 22.57%. Undocking service costs Rp. 1.199.167,- and Rp.499.427,-; a surplus of Rp.699.740,- or 22.57%. The total of product main cost using standard cost is Rp.2.897.658.464,-, and Rp.2.453.582.802,- for ABC model system. This means a deviation of Rp.444.075.662,- or 15.35%. The information of these identified activities along with the related product service costs, can be used by the management board in decision making, particularly as a competitive decisive factor.

Contributor :

1. Dr. Ir. Moses L. Singgih,M.Sc., M.Reg.Sc
Ir. Bambang Syairudin, MSIE

=========================================================

ANALISA DISTORSI DAN TEGANGAN SISA PADA SILINDER PEJAL TERHADAP PERLAKUAN PANAS (QUENCHING) DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

DISTORSION AND RESIDUAL STRESS ANALYSIS OF QUENCHING TREATMENT IN SOLID CYLINDER WITH FINITE ELEMENT METHODS

Created by :
Indiaryanto, Mahendra ( )

Subject: Metal
Kekerasan
Keyword: Quenching
Tegangan sisa
Distorsi
Metode elemen hingga

[ Description ]

Pada bidang perkapalan sistem perporosan merupakan salah satu bagian yang sangat penting. Dimana poros terbuat dari silinder pejal yang tentu saja mempumyai kekerasan struktur dan tensile stress material. Sehingga apabila dilakukan pendinginan secara cepat akan lebih meniningkatkan kekerasan dan kuat tarik pada struktur material poros tersebut. Dalam proses tersebut selalu akan menimbulkan tegangan sisa dan distorsi yang perlu kita prekdisikan atau di analisa sehingga tidak akan melampui lebih dari keaadaan normalnya, untuk itu kami berusaha menampilkan simulasi dengan menggunakan metode elemen hingga ( finite element methods) pada proses perlakuan panasnya (Quenching ) dengan bentuk silinder pejal. Analisa ini digunakan untuk mengetahui tegangan sisa dan distorsi pada silinder tersebut. Simulasi yang akan dilakukan adalah denngan membandingkan variasi lama waktu perendaman silinder dalam media pendingin yaitu air, dimana akan dipilih hasil yang paling baik dan memenuhi standart yang digunakan.

Alt. Description

In naval architect, shafting system is very important part. Shaft is made from solid silinder that of course has structure hardness and tensile stress. Then if it is cooled quickly, it will rise the hardness and tensile strength for shafting structures. In that process will always residual stress and distortions that need to predict or analize, so it doesn’t overcome more than the normal condition. For that, we try to show a simulation with using finite element method in quenching process with solid silinder shape. This analysis is used to know residual stress and distorstion in that silinder. The simulation is done by compare immerssion time variation for silinder in cooling media (water), and it will choose the best result and fulfil the standard.

Contributor :

1. Ir. Budie Santosa M.T.

=========================================================

ANALISA TRANSPORTASI PETIKEMAS DI JAWA TIMUR PASCA BENCANA LUMPUR PANAS LAPINDO

CONTAINER TRANSPORTATION ANALYSIS AT EAST JAVA TIME AFTER LAPINDO HOT MUD DISASTER

Created by :
Ridwan, Mohd ( )

Subject: Perkapalan
Peti kemas
Keyword: Transportasi petikemas
Model transportasi
Analisa kelayakan

[ Description ]

Bencana Lumpur Panas Lapindo menyebabkan rusaknya infrastruktur jalan sehingga hal ini menjadi penghalang bagi kelancaran transportasi Petikemas ekspor/impor dari daerah industri di Jawa Timur khususnya kawasan timur. Disamping itu terdapatnya pembengkakan yang cukup tinggi pada ongkos transportasi petikemas menuju kepalabuhan Tanjung Perak yaitu Rp. 25,9 milliar, selama periode Mei s/d Desember 2006. Terdapat beberapa alternatif untuk mengatasi persoalan di atas yaitu; pengiriman petikemas dengan moda laut menggunakan kapal RoRo, LoLo Vessel, dan Container Barge+Tug-boats, dengan rute Tanjung Wangi – Surabaya – Singapura, hal ini akan menghasilkan penghematan ongkos transportasi sampai 2,78% dari tahun 2006. Sehingga perlu dilakukan penelitian, survey lapangan dan perencanaan sistem transportasi petikemas serta fasilitas penunjangnya, selanjutnya disusun model transportasi petikemas menggunakan metode transpor, dan melakukan analisa kelayakan armada angkutan petikemas. Hasil studi ini nantinya dimanfaatkan sebagai bahan bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan transportasi petikemas khusus di Jawa Timur.

Alt. Description

Lapindo hot mud disaster, cause damage of the way infrastructure with the result that become hindered for success of export/import container transportation from East Java industry area (hinterland), as specially for east region. Beside, there are many opportunity lost at container transportation cost to Tanjung Perak (Surabaya Container Terminal), that are Rp. 25,9 million during May to December 2006. There are many alternative for the way out of that problems, that : container transport with sea mode : Ro-Ro vessel, Lo-Lo vessel, and container barge + Tugboats, with route Tanjung Wangi – Surabya – Singapore, this will be have saving of container transportation cost 2,78% from 2006., that need a container transportation planning system and supporting facilities, after that make container transportation model with uses transport method, and reasonable analysis for container vessel armada. The result of study to be used by government for making decision of East Java container transportation system.

Contributor :

1. Ir. Tri Achmadi, Ph.D

=========================================================

ANALISA DAYA SAING GALANGAN MENGGUNAKAN NEW COMPENSATED GROSS TONNAGE ( NEW CGT ) STUDI KASUS DI PT DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA

THE ANALYSIS OF SHIP YARD COMPETITIVENESS USING NEW COMPENSATED GROSS TONNAGE (NEW CGT)

Created by :
IRYANTO, DEDDY ( )

Subject: Galangan
Keyword: Daya saing
Produktivitas
Old
New
CGT
Cost
Manhours.

[ Description ]

Pengertian daya saing galangan adalah kemampuan galangan dalam mengimplementasikan suatu strategi untuk mendapatkan output yang sesuai untuk meningkatkan daya saing galangan. Untuk mengetahui daya saing galangan, maka alat pengukuran perbandingan yang paling tepat adalah dengan metode Compensated Gross Tonnage (CGT). Cost per CGT dan manhours per CGT merupakan alat pengukuran produktivitas yang dapat digunakan untuk menentukan daya saing galangan. Terdapat dua macam sistem perhitungan CGT yaitu Old CGT version dan New CGT version. Untuk mengetahui produktivitas suatu galangan dan dengan sistem yang mana kita meneliti produktivitas tersebut, kita bisa menganalisanya dengan membandingkan hasil perhitungan antara kedua versi tersebut. Ternyata, dari hasil perhitungan didapatkan bahwa selisih penggunaan Jam Orang dan biaya untuk New CGT Version adalah sebesar 5.4 % lebih kecil dari Old CGT version. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem yang tepat digunakan untuk menentukan tingkat produktivitas galangan adalah New Compensated Gross Tonnage. Dengan mengetahui tingkat produktivitasnya diharapkan suatu galangan mampu menentukan langkah-langkah untuk meningkatkan efisiensinya, sehingga galangan tersebut mampu bersaing bukan hanya dengan galangan-galangan lokal melainkan juga dapat bersaing dengan galangan internasional.

Alt. Description

Shipyard competitiveness is ability of shipyard in implementation a strategy to get appropriate output to increase graving dock competitiveness. To know shipyard competitiveness, hence appliance measurement of most precise comparison is with method of Compensated Gross of Tonnage (CGT). Cost per CGT and manhours per CGT represent appliance measurement of productivity able to be used to determine a shipyard competitiveness. Two kinds of calculation of CGT system are Old CGT and version and New CGT version. To know productivity of shipyard, and with the system there is ew research their productivity. we can analyse it with compared between both calculation version. In the reality, from result of calculation got that difference usage of manhours and Cost for the New of CGT Version is equal to 5.4 % smaller than Old CGT version. Is so that got conclusion that used correct system to determine shipyard productivity level is New Compensated Gross Tonnage. With knowing about productivity level of shipyard, expected that shipyard can determine steps to improve his efficiency, so that the shipyard can compete not merely with local but also can vie with international shipyard.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo M.Sc

=========================================================

SIMULASI FUNGSI KONDENSOR TERHADAP UNJUK KERJA MESIN PENYEGARAN UDARA DI KMP. DOROLONDA

SIMULATION OF CONDENSER FUNCTION FOR AIR CONDITIONING PERFORMANCE IN KMP. DOROLONDA

Created by :
Sakti, Dhani Wijaya ( )

Subject: Kapal
Alt. Subject : Ships
Air conditioning
Keyword: simulasi
kondensor
unjuk kerja penyegaran udara

[ Description ]

Di dalam dunia marine, khususnya di bidang perkapalan, banyak sekali sistem penunjang yang terpasang dalam kapal tersebut. Sistem-sistem penunjang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Contohnya saja pada sistem pengkondisian udara di kapal penumpang. Kapal penumpang identik dengan pelayanan jasa kepada penumpang, sehingga faktor kenyamanan merupakan salah satu faktor terpenting dalam pelayanan pemberian jasa. Oleh karena itu, mesin penyegaran udara harus dapat bekerja secara optimal terus-menerus untuk memberikan kualitas udara yang baik kepada penumpang. Pada tugas akhir ini, akan dilakukan analisa dan simulasi terhadap troubleshooting yang ada pada sistem penyegaran udara di kapal penumpang. Kita akan menganalisa lebih jauh tentang trroubelshooting yang ada dengan memasukkan input data berupa temperatur, tekanan dan kapasitas yang telah didapat dari kapal. Pada saat terjadi penebalan kotoran di dalam tube yang mengindikasikan bertambahnya nilai tekanan air laut di dalam tube kondensor menyebabkan menurunnya nilai Koefisien Perpindahan Panas (U) dan Laju Perpindahan Panas (Q) pada kondensor. Pada akhirnya unjuk kerja dari penyegaran udara pun ikut menurun.

Alt. Description

In the marine, especially on the shipping sector, there are a lot of support system by installing on the ship. The system are connected each other. For example, in the air conditioning system of ship. The priority of passanger ship is giving service on the passanger, so that, the comfortable factor is the one priority of service. Therefore, air conditioning must be work in the optimal point continously to give a better air quality for passenger. In the final project, we will do analysis and simulation to the troubleshooting in the air conditioning system on the passenger ship. We will analize about troubleshooting in the system with input the data from the ship for example, temperature, condenser water pressure and capacity. The increase of fouling factor in the tube of condenser by sea water, can be effect increase the condenser water pressure. And this problem can be decrease of heat exchanger coeficient and heat exchanger of condenser. Finally, can be decrease performance of air conditioning.

Contributor :

1. Ir. ALAM BAHERAMSYAH, M.Sc.

=========================================================

PENERAPAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM PERANCANGAN MARINE PROPULSION PLANT

DEVELOPMENT MARINE PROPULSION PLANT DESIGN BASE ON ARTIFICIAL INTELLIGENCE TECHNOLOGY

Created by :
PUTRANTO, CAHYO EKO ( )

Subject: Kapal model
Keyword: Marine Propulsion Plant
Artificial Intelligence
Sistem Pakar

[ Description ]

Penerapan Teknologi Artificial Intelligence telah banyak diterapkan dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang Perkapalan (Marine). Teknologi Artificial Intelligence / Kecerdasan Buatan adalah teknologi yang memanfaatkan komputer untuk dapat berpikir dan bertindak seperti manusia. Dalam bidang Marine teknologi Artificial Intelligence dimanfaatkan untuk System Kontrol permesinan, Kontrol Kendali Kapal, Kendali Lalu Lintas Kapal, Sistem Pelacakan kerusakan pada Sistem Permesinan dan banyak aplikasi lainnya. Maka pada penulisan Tugas Akhir ini akan dilakukan Perancangan Marine Propulsion Plant / Sistem Penggerak Kapal dengan menggunakan bantuan teknologi Artificial Intelligence. Dalam Tugas Akhir ini akan dibuat suatu program otomatis yang akan dapat melakukan Perancangan Sistem Penggerak Kapal. Program tersebut akan menghasilkan kebutuhan daya yang dibutuhkan dari suatu ukuran kapal tertentu, menentukan engine optimum yang bisa dipakai dari hasil perancangan, Gearbox optimum, serta Sistem Transmisinya. Tugas Akhir ini juga bertujuan untuk membantu salah satu stage yang ada pada Design Spiral ( Tahapan dalam melakukan Detail Perancangan Kapal ). Aplikasi dari Kecerdasan Buatan / Artificial Intelligence yang dipakai dalam Tugas Akhir ini adalah menggunakan Sistem Pakar (Expert System).

Alt. Description

Artificial Intelligence Technology has been applicated in any field of life, including in field of Marine. The Artificial Intelligence is a technology that use computer to think and do something that man can do. In the Marine Technology, Articial Intelligence was used to Controling the Machine System, Controling the Ship Traffic, Find the trouble of Machine System, and many more application. So, in this Final Project will develop the Marine Propulsion Plant Design base on the Artificial Intelligence Technology. In this Final Project will make the automatic program that can design the Marine Propulsion Plant. That program will produce a needed power from a certain ship dimention, find the Engine optimum, Gearbox optimum, and the Transmission System. This final Project also head for help one stage in Design Spiral (Steps for design Marine Propulsion Plant) . The Application of Artificial Inteligence in this final project will make Expert System.

Contributor :

1. Dr. Ir. A.A Masroeri, M.Eng.
Muh Badrus Zaman, ST, MT.

=========================================================

OPTIMALISASI SUSUNAN STOWAGE PLAN PADA KMP SRIKANDI NUSANTARA

OPTIMALISATION OF STOWAGE PLAN ON KMP SRIKANDI NUSANTARA

Created by :
WILUJENG, YULIANTI ( )

Subject: Opmitasi matematis
Keyword: Stowage Plan
Optimalisasi
Muatan dan Program Dinamik

[ Description ]

Indonesia sebagai Negara Archipelago, transportasi moda laut mempunyai peranan sebagai penyedia dan penjual jasa transportasi sekaligus sebagai alat pemersatu bangsa. Sebagai penjual jasa, perusahaan perkapalan dituntut untuk memperoleh keuntungan sebesar – besarnya dengan mempertimbangkan keselamatan penumpang. Agar semua tujuan bisa tercapai perlu dicari optimalisasi Stowage Plan, sehingga muatan yang masuk ke kapal dapat semaksimal mungkin, dengan memperhitungkan daya tampung parkir dalam kapal, juga mempertimbangkan kestabilitasan kapal antara depan, belakang, kanan, dan kiri seimbang. KMP Srikandi Nusantara dalam melayani muatan yang berupa bus, truk sedang, kendaraan kecil, sepeda motor dan penumpang, dilakukan dengan bantuan metode program dinamik. Dalam Tugas Akhir ini penyelesaian Stowage Plan dibagi menjadi 5 tahap, yaitu : tahap pertama, berupa memasukkan jumlah BUS yang akan diangkut. Tahap kedua, memasukkan jumlah TS (Truk Sedang). Kemudian, tahap ketiga memasukkan KK (Kendaraan Kecil). Tahap keempat, memasukkan sepeda motor. Yang terakhir memasukkan jumlah penumpang tanpa kendaraan.

Alt. Description

Indonesia as a State of Archipelago, sea moda transportation has role as feeder and transportation service vendor at the same time as a means of nation unifier. As service vendor, firm of ship owner claimed to obtain advantage equal – level by considering passenger safety. That all purpose can be reached to be searched optimalisation Stowage Plan, so that charge stepping into the ship to earn as maximum as possible, by considering park accomodation energy in ship, also considers ship stability between fronts, back, right, and left of balance. KMP SRIKANDI NUSANTARA in serving charge which in the form of bus, medium truck, small vehicle, motorbike and passenger, done with help of dynamic programming method. In This end Duty solving of Stowage Plan is divided to become 5 phase, that is : first phase, in the form of entering number of BUS which will be transported. Second phase, enters number of TS ( Medium Truck). Then, third phase enters KK ( Small Vehicle). Fourth phase, enters motorbike. Last enters number of passengers without vehicle.

Contributor :

1. Drs. Sulistiyo, MT

=========================================================

ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMIS PENGOPERASIAN KAPAL PENUMPANG BARANG TUJUAN AMBON – MALUKU TENGGARA

TECHNICAL AND ECONOMICAL ANALYSIS UPON OPERATING GOODS AND PASSENGER SHIP OF AMBON – SOUTH EAST MALUKU ROUTE

Created by :
Wee, Patrisius ( )

Subject: Perkapalan
Keyword: Kapasitas
Dimensi
Kelayakan
Ekonomis

[ Description ]

Geografis Maluku Tenggara 88,4 % lautan, 11,6 % daratan, keperdulian pemerintah dalam merencakan pembangunan transportasi laut sebagai upaya percepatan pertumbuhan ekonomi Maluku Tenggara khususnya dan Maluku umumnya belum maksimal. dimana, factor pemuatan oleh kapal – kapal perintis dengan pangkalan Ambon tujuan Maluku Tenggara dari tahun ke tahun menjadi masalah, rasio load factor 120 s/d 200 %, pemuatan penumpang tidak manusiawi. Sehingga persoalan utama adalah seberapa besar kapasitas angkut dan dimenasi kapal penumpang barang yang optimal sesuai kondisi permintaan jasa angkutan dimasa datang. Tujuan penelitian untuk menentukan kapasitas angkut yang maksimal serta menganalisis dimensi kapal,.didahului dengan analisis prediksi muatan. Dengan menggunakan kapal pembanding, total round trip 113 kali / tahun, total penumpang / trip 182 orang dan ABK 59 orang. Analisis regresi dan optimasi Holtrop, didapat parameter kapal alternative : panjang LPP 75,43 m, Lebar 14,00 m, Tinggi geladak 8,94 m, Tinggi sarat air 4,05 m, DWT 1.085,7 Ton, GT 2.805,51 Ton, Kecepatan 14 knot, type kapal penumpang barang cepat. Dengan investasi Rp.37.446.264.500, biaya tetap pertahun Rp.2.393.932.495, biaya variable Rp.4.867.073.264, Pendapatan yang diperoleh dari tahun 2004 s/d 2013 diantara Rp.10.096.887.656 s/d Rp.14.945.388.782. Hasil uji kelayakan ekonomis, Nilai NPV tahun 2007 s/d 2013 melebihi Nilai investasi awal antara Nilai 36.893.452.320 s/d 83.552.818.490. Aspek waktu pengembalian akan layak mulai tahun 2007 s/d 2013, dimana waktu pengembalian sudah lebih kecil dari umur ekonomis kapal 20 tahun, yaitu tahun 2007 = 15,91 tahun dan menurun sampai tahun 2013 = 7,54 tahun. Untuk mengatasi angkutan laut Ambon – Maluku Tenggara sangat layak untuk dioperasikan kapal dengan dimensi sesuai hasil kajian. Dan untuk mengatasi kekurangan pendapatan dari operasional kapal baru disarankan untuk disubsidikan oleh pemerintah sebagai upaya mengurangi beban pemakai jasa terhadap tarip angkutan laut.

Contributor :

1. IGN. Sumanta Buana, ST. M.Eng
Firmanto Hadi, ST. M.Sc
Ir. J. Liklikwatil, BSE., MT

=========================================================

ANALISA KINERJA PADA DC COMPOUND WOUND MACHINE SECTION POWERFRAMES 63- 120 UNTUK PENERAPAN SISTEM PROPULSI LISTRIK

THE PERFORMANCE ANALYSIS OF DC COMPOUND WOUND MACHINE SECTION POWERFRAMES 63-120 ON THE APPLICATION OF ELECTRIC PROPULSION SYSTEM

Created by :
Paedongan, Natalia Indriani ( )

Subject: Kapal
Arus listrik
Keyword: Powerframes 63-120
Motor Arus Searah
Electric Propulsion

[ Description ]

Motor listrik telah menjadi bagian terpenting dalam proses–proses di bidang industri dan perkapalan, khususnya pada ship electrical propulsion system. Motor DC kompon mempunyai kepesatan tanpa beban terbatas, dapat dioperasikan dengan aman pada keadaan tanpa beban dan diperlukan kepesatan konstan dengan beban yang tak beraturan. Dalam pengambilan data dilakukan dengan melakukan percobaan pada powerframes 63-120. Percobaan dilakukan dengan memvariasikan beban untuk memperoleh nilai torsi dan efisiensi dari masing- masing rangkaian. Dari hasil analisa perbandingan torsi-effisiensi motor berpenguatan bebas dengan kapal Maruta Jaya didapatkan nilai efisiensi 74,8% pada torsi 0,7 Nm dengan kecepatan 4,5 knot. Pengunaan daya sistem pengerak pada motor dc. kompon dengan perbandingan daya kapal 136 kW untuk nilai efisiensi motor 74,8%, daya yang terpakai sebesar 247,27 kW sehingga daya yang terpakai lebih efisien dan daya yang terbuang lebih sedikit dibandingkan dengan penggunaan daya motor dc. shunt sebesar 813,37 kW dengan nilai effisiensi 22,74%. Hal ini membuktikan motor dc berpenguatan bebas dapat diterapkan pada ship electric propulsion.

Alt. Description

Electromotor have come to all important shares in processs in industrial area and the shipping, specially at ship electrical propulsion system. Motor DC Kompon have rapidity without burden limited, earn operated safely in the situation without burden and needed a constant rapidity by burden which do not arrange. In data intake done by attempt of powerframes 63-120. Attempt done with variation burden to obtain value of torsi and efficiency from each combination. From result analyse comparison of torsi-effisiensi of motor have free reinforcement by water of Maruta Jaya got a efficiency value 74,8% at torsi 0,7 Nm with speed 4,5 knot. Using of energy of system motor dc. kompon with comparison of ship energy 136 kW to assess motor efficiency 74,8%, used energy equal to 247,27 kW so that the more efficient used energy and the energy which the compared to slimmer castaway use of energy of motor dc. shunt equal to 813,37 kW with value effisiensi 22,74%. Matter this prove motor of dc have applicable free reinforcement at ship electric propulsion.

Contributor :

1. Ir. Sardono Sarwito, M.Sc
Muh. Badrus Zaman, ST, MT

=========================================================

MUSEUM KAPAL KALIMAS SURABAYA TEMA : GERAK DALAM ARSITEKTUR

KALIMAS SURABAYA SHIP MUSEUM THEME : MOVE IN ARCHITECTURE

Created by :
Yudhantoro, Didit ( )

Subject: Museum architecture
Alt. Subject : Museum architecture
Keyword: Museum Kapal Kalimas
Aktifitas Pameran
Aktifitas Pendidikan

[ Description ]

Judul objek yang dirancang untuk Tugas Akhir ini adalah Museum Kapal Kalimas Surabaya, yaitu sebuah sarana fasilitas umum yang diharapkan mampu menjadi salah satu ikon yang menunjukkan karakteristik Surabaya sebagai kota pelabuhan dan kota bahari. Secara garis besar, lingkup pelayanan Museum Kapal Kalimas Surabaya dilihat dari kelompok aktivitasnya adalah sebagai berikut : Aktifitas Pameran Kegiatan peragaan dilakukan didalam ruang-ruang museum. Obyek pameran bersifat aktif dan pasif. Terdiri dari peragaan tetap dan temporer mengenai dunia perkapalan. Teknik peragaan dapat berbentuk gambar, diagram, slide / video TV, simulasi computer, peragaan bergerak dengan system tekan tombol, model – model benda asli, dsb. Aktifitas Pendidikan Kegiatan ceramah berkala, seminar, diskusi, penyuluhan bagi masyarakat peminat dunia perkapalan, perpustakaan, dsb. Aktifitas Penunjang Meliputi semua kegiatan yang menunjang kegiatan pokok, seperti administrasi, perawatan, bengkel restorasi kapal, kafetaria, dsb. Misi dari obyek Museum Kapal Kalimas Surabaya ini adalah : Mampu menghadirkan galeri yang : • Komunikatif mampu menampung segala aktifitas pameran perkapalan sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat, misalnya dalam acara pameran,lokakarya, diskusi, seminar, dan lain-lain. • Edukatif: mendidik masyarakat untuk menghargai warisan budaya (khususnya dunia perkapalan), sebagai sarana pendidikan melalui pengamatan visual dan pameran. • Rekreatif: sebagai tempat hiburan, tempat berkumpulnya masyarakat guna memenuhi kebahagiaan jasmani dan rohani yang sehat dan rekreatif • Kreatif sebagai tempat penambah khasanah daya imajinasi dan kreatifitas masyarakat • Informatif: sebagai salah satu pusat informasi tentang perkembangan di bidang perkapalan. Lokasi proyek obyek Museum Kapal Kalimas Surabaya ini direncanakan akan dibangun di kawasan Surabaya Pusat karena daerah ini mempunyai posisi yang cukup strategis berada di tengah kota Surabaya serta daerah ini juga telah menjadi pusat ekonomi kota Surabaya dengan adanya daerah pengembangan bisnis dan perdagangan “segitiga emas”. Lokasi site obyek Museum Kapal Kalimas Surabaya ini tepatnya berada di JL. Pemuda, berbatasan dengan Plaza Surabaya dan Monumen Kapal Selam. Kondisi lahan saat ini berupa lahan kosong yang dimanfaatkan untuk parkir Timur Plaza Surabaya dan beberapa bangunan pertokoan. Lahan yang digunakan untuk obyek ini berbatasan dengan : – Utara : Sungai Kali Mas – Selatan : JL. Pemuda DIDIT YUDHANTORO – 3203.100.071 Tugas Akhir ( PA. 1380 ) MUSEUM KAPAL KALIMAS SURABAYA ii – Timur : Monumen Kapal Selam & Sungai Kali Mas – Barat : Plaza Surabaya & Hotel Surabaya Plaza Menurut RTRK Kecamatan Genteng peruntukan lahan di kawasan JL. Pemuda adalah untuk fasilitas perniagaan dan fasilitas umum dengan ketentuan KDB: 50 100 % dan KLB untuk Fasilitas Umum 300%. Ketinggian bangunan untuk area JL. Pemuda antara lain 10 lantai. Potensi Lahan yang dimiliki obyek ini antara lain : • Mudah dicapai, karena letaknya dekat dengan pusat kota, dalam hal ini jalan Pemuda adalah arteri sekunder, termasuk jalan utama kota sehingga strategis sebagai pusat bisnis dan perdagangan, lokasi site ini mudah diakses dari berbagai arah, dari kawasan Surabaya Timur diakses melalui JL. Raya Gubeng dan JL. Prof. DR. Moestopo, dari kawasan Surabaya Selatan dan Barat diakses melalui JL. Gubernur Suryo menerus ke JL. Yos Sudarso hingga JL. Gubeng Pojok dan dari kawasan Surabaya Utara diakses dari JL. Walikota Mustajab dan JL. Tunjungan. • Dekat dengan fasilitas pendukung, seperti akomodasi, transportasi, perkantoran, hiburan dan lain-lain. Di sebelah barat site terdapat fasilitas perbelanjaan Plaza Surabaya, Hotel Surabaya Plaza, Gedung Bank BII, Bank Mandiri dan Worl Trade Center, sebelah timur site terdapat fasilitas rekreatif Monumen Kapal Selam, Hotel Sahid, Stasiun Kereta Api Gubeng, sebelah selatan site terdapat gedung kantor serta sebelah utara site terdapat areal pemukiman. Tema yang dipergunakan pada obyek rancangan adalah tema “Gerak Dalam Arsitektur” yang merupakan pendekatan dari tema metafora, dalam upaya transformasi bentuknya menggambarkan “metaforis kapal yang diterpa gelombang ombak” Pengertian tema “Gerak Dalam Arsitektur” : Pengertian pendekatan tema Gerak Dalam Arsitektur merupakan suatu proses perpindahan posisi yang menghasilkan suatu konfigurasi serta kedinamisan suatu seni perancangan, dan berupa permainan bentuk maupun sirkulasi. Gerak dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat menimbulkan atau menciptakan kesan hidup, bergerak, dinamis dalam arsitektur sehingga dapat menimbulkan dorongan dalam diri manusia untuk berubah posisi atau kedudukan, menimbulkan perubahan suasana atau mampu menciptakan suasana tertentu dalam satu bangunan dan mampu mengarahkan pada arus sirkulasi atau ruang yang ada melalui tatanan arsitektur itu sendiri, sifatnya informatif secara tidak langsung. Hal ini berlaku pada ekterior maupun pada interiornya

Alt. Description

Title Object designed for Final Duty is Kalimas Surabaya Ship Museum, that is a [common/ public] facility medium which expected can become one of [the] ikon showing characteristic of Surabaya as port town and maritime town. Marginally, scope service of Kalimas Surabaya Ship Museum seen from its activity group shall be as follows : Aktifitas Exhibition • Gallery Activity Activity of demonstration held in rooms of museum. Exhibition Obyek have the character of passive and active. Consist of demonstration remain to and transient [regarding/ hit] shipping world. Demonstration technique can in form of picture, diagram, slid / video of TV, simulation of computer, peripatetic demonstration with system depress knob, model – original object model, etc. • Education Activity Activity of periodic discourse, seminar, discussion, counselling to society enthusiast of shipping world, library, dsb. • Support Activity Covering all activity which supporting activity of fundamental, like administration, treatment, ship restoration workshop, cafeteria, dsb Mission of Kalimas Surabaya Ship Museum is : Can attend galeri which : • Communicative : can accomodate all shipping exhibition aktifitas as communications medium to society, for example in event of pameran,lokakarya, discussion, seminar, and others ” • Educate : educative [of] society to esteem cultural heritage ( specially shipping world), as education medium [pass/through] visual perception and exhibition ” • Rekreation : as hotspot, place gather society [him/it] utilize to fulfill bliss of healthy spirit and bodily and rekreatif ” • Creative : as place adder of energy khasanah imagine and society creativity ” Informative: as one of the information center about growth in shipping area. Location of this project of Kalimas Surabaya Ship Museum is planned will be woke up in area of Surabaya Center because this area have position which strategic to enough reside in down town of Surabaya and also this area have also become economic center [of] town of Surabaya with existence of area development of commerce and business ” trilateral of gold”. location of Site Museum Ship obyek of Kalimas this Surabaya precisely reside in JL. Young man, abut on Public square of Surabaya and Monument Submarine. Condition of farm in this time in the form of empty farm which exploited to park East Public square of Surabaya and some shop building. Farm used for this obyek abut on North : River Multiply Mas South : JL. Young Man East : Monument Submarine & River Multiply Mas DIDIT YUDHANTORO – 3203.100.071 Tugas Akhir ( PA. 1380 ) MUSEUM KAPAL KALIMAS SURABAYA West : Public Square of Surabaya & Hotel of Surabaya Public Square According To RTRK District of Tile allotment of farm [in] area of JL. Young man is to trading facility and [common/ public] facility with rule of KDB: 50 100 % and KLB for [Common/ public] Facility 300%. Height of building for the area of JL. Young man for example 10 floor. Potency Farm had by this obyek for example are : • Keep handy, because its situation close to downtown, in this case walke Young man [is] artery of sekunder, including strategic town main road so that as business center and commerce, location of site this [is] easy to accessed from various direction, of area of Surabaya East accessed to [pass/through] JL. Great [of] Gubeng and of JL. Prof. DR. Moestopo, of area of Surabaya South and West accessed to [pass/through] JL. Governor of Suryo continue to JL. Yos Sudarso till JL. Gubeng Corner and from area of Surabaya North accessed from JL. Effective Mayor and JL. Tunjungan • Close to support facility, like accomodation, transportation, white colars, entertainment amusement and others. [In] westside site there are facility expenditure of Public Square of Surabaya, Hotel of Surabaya Public Square, Building Bank of BII, Bank Mandiri and of Worl Trade Center, eastside site there are facility of rekreatif Monument Submarine, Hotel of Sahid, Railway station of Gubeng, side south of site there are office building and also northside site there are settlement areal Utilized theme at device obyek is theme ” Move In Architecture” representing approach of metaphor theme, in the effort transformation its for depicting ” ship metaforis which is diterpa waving wave” Congeniality of theme ” Move In Architecture “ Congeniality of approach of theme Move In Architecture represent a[n process transfer of position yielding an dynamic configuraton and also a[n scheme art, and in the form of game of and also form of sirkulastion. Motion can be interpreted as something that can generate or create impression of life, peripatetic, dynamic in architecture so that can generate motivation in human being x’self to change position or domicile, generating change of atmosphere or can create certain atmosphere in one building and can aim at current of sirkulation existing room or through it self architecture tatanan, informative in character indirectly. This matter go into effect at exterior and also at its interior

Contributor :

1. PROF.DR.Ir.HAPPY RATNA S,Msc

=========================================================

STUDI TENTANG EFEK PITTING CORROSION PADA KEKUATAN BAJA SS41

STUDY ON THE EFFECT OF PITTING CORROSION ON THE STRENGTH OF SS41 STEEL

Created by :
Fadlianto, Pramu ( )

Subject: Karat dan anti-karat
Keyword: Pitting Corrosion
Beban Luluh
Metode Elemen Hingga
Baja Lunak SS41

[ Description ]

Tugas akhir ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pitting corrosion pada kekuatan baja SS41 yang merupakan jenis baja yang banyak digunakan di industri perkapalan. Dalam penelitian ini, dibuat spesimen tarik yang telah diberi pitting buatan. Spesimen tersebut dibagi menjadi 2 tipe. Tipe pertama divariasikan berdasarkan DOP ( degree of pitting intensity ). Tipe kedua divariasikan berdasarkan letak pits ( overlap ). Pengujian tarik untuk spesimen tipe kedua juga disimulasikan dengan metode elemen hingga. Dari hasil penelitian spesimen tipe pertama diketahui bahwa dari segi kekuatan statis, kekuatan statis spesimen dengan DOP 52% masih lebih tinggi dari kekuatan statis spesimen dengan pengurangan ketebalan sebesar 20% ( tanpa DOP dan penghitungan berdasarkan pengurangan CSA ). Melalui simulasi pengujian tarik dengan software ANSYS, diketahui bahwa letak antar pits sebesar 4 mm mempunyai tegangan maksimum yang paling kecil (162.37×106 N/m2). Hal ini sesuai dengan kemampuan spesimen tersebut untuk menerima beban. Spesimen overlap 4 mm mampu menerima beban yang paling besar. Perbedaan tegangan maksimum terjadi karena perbedaan geometri tiap spesimen.

Alt. Description

This study is made to investigate the effect of pitting corrosion on the strength of SS41 steel. SS41 steel is the most common type of steel which is being used in building a ship. In this study, tensile test was being used to study the effect of pitting corrosion. Artificial pitting will be deployed to each of tensile test specimen. Specimens which were being used separated into two types. First types were variated according to their DOP (degree of pitting intensity) that is area of pitted surface compared with total area of specimen surface. Second types were variated according to pits position ( overlap ). This second types has the same DOP that is 9.04%. Tensile test for second types also simulated by finite element method. After the test, from static strength’s point of view, the strength of specimen with DOP up to 52% is strongest than specimen with 20% reduction of thickness ( has no DOP and according to reduction of CSA ). From the simulation of second types, pits position 4 mm has the lowest maximum stress (162.37×106 N/m2). Specimen overlap 4 mm which has the lowest maximum stress also has the highest ability to restrain a load. The difference in maximum stress occur because of the diffrence in geometry shape for each specimen.

Contributor :

1. M.NURUL MISBAH S.T.,M.T.

=========================================================

PENGARUH WARNA CAT ANTI KOROSI TERHADAP PENEMPELAN BIOFOULING BERDASARKAN FAKTOR KEDALAMAN LAUT

THE INFLUENCES OF ANTI-COROSION PAINT COLOR ON BIOFOULING ATTACHMENT BASED ON SEA DEPTH FACTOR

Created by :
AZHAR, RINALDI ( )

Subject: Korosi
Alt. Subject : Fouling
Paint antifouling
Keyword: Biofouling
Cat
Anti-Korosi
Kedalaman Laut
Biomassa

[ Description ]

Biofouling sudah menjadi permasalahan sejak pertama kali manusia menciptakan perahu untuk berlayar di laut. Penempelan biofouling pada lambung kapal dan propeller menyebabkan meningkatnya kekasaran pada daerah tersebut, sehingga memperbesar hambatan kapal dan meningkatkan pemakaian bahan bakar, dengan demikian biaya bahan bakar juga akan meningkat. Salah satu metode yang paling efektif dan banyak dipergunakan dalam menanggulangi biofouling dan korosi adalah penggunaan cat. Pada industri maritim dan perkapalan, cat juga dipercaya dapat menghambat menempelnya binatang laut. Namun, hingga saat ini belum ada standart dan aturan-aturan yang jelas tentang penggunaan warna cat pada lambung kapal atau bagian kapal lainnya. Pengujian dilakukan dengan menggunakan dua puluh spesimen uji dengan dimensi yang sama, spesimen uji dilapisi cat anti korosi dengan lima warna cat yang berlainan, yaitu merah, oranye, hijau, biru dan putih. Pengujian dilakukan selama delapan minggu dan analisa dilakukan secara periodik selama dua minggu sekali. Dari hasil pengujian diketahui bahwa penempelan terendah terdapat pada spesimen dengan cat berwarna putih, sehingga dapat disimpulkan bahwa cat warna putih adalah yang paling efektif diantara keempat warna cat lainnya.

Alt. Description

Biofouling has become set of problem since man created boat to sail for the first time. Biofouling on ship’s hull and propeller cause the increasing of roughness, so that it can increase ship resistance and fuel consumption. This matter is also meant that the cost of fuel will increase. One of the effective methods for contend biofouling and corrosion problems is using paint. In the maritime and shipyard industries, paint convinced can hamper the biofouling to stick on. However, until now there is no clear standard and rules for using color paint on ship’s hull or others part. The experiment consists of twenty specimens test. Each specimens test will be coated by anti-corosion paint, which is red, orange, green, blue, and white. The experiment and data analysis are done for eight weeks and analized periodically for once in every two weeks. From the experiment result, it was recognized that the lowest development is on white paint, so it can be concluded that white paint is the most effective color paint than four other paints.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo, M.Sc.

=========================================================

PEMERATAAN PENGGUNAAN TENAGA KERJA (RESOURCE LEVELING) PADA PROYEK PEMBUATAN TUG BOAT DIPT. DPS (PERSERO)

THE FLATTEN OF WORKER USAGE (RESOURCE LEVELING), TO THE PROJECT OF TUG BOAT MAKING AT PT. DPS (PERSERO)

Created by :
Iswanto ( )

Keyword: tenaga kerja fluktuatif
float
resource leveling
integer programming.

[ Description ]

PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang pembuatan, perawatan dan perbaikan kapal. Dengan kondisi persaingan bisnis yang kompetitif saat ini maka perlu meningkatkan kualitas, biaya yang kompetitif dan delivery on time. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan perencanaan dan pengalokasian sumber daya sebaik-baiknya. Dalam mengerjaan suatu proyek, tiap-tiap aktifitas proyek tentu membutuhkan waktu dan tenaga kerja yang tidak sama. Sehingga pada pioyek yang jumlah aktifitasnya sangat banyak hal ini mengakibatkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan setiap harinya tidak sama. Pada penelitian ini dicoba untuk meratakan penggunaan tenaga kerja setiap harinya dalam menyelesaikan suatu proyek dengan cara menggeser pengerjaan tiap-tiap aktifitas sesuai dengan float yang dimilikinya. Pemerataan penggunaan tenaga kerja {resource leveling) ini dilakukan dengan membuat persamaan matematis yang memakai metode integer programming sedangkan untuk menyelesaikannya menggunakan software komputer. Setelah dilakukan pemerataan penggunaan tenaga kerja (resource leveling) diperoleh basil penggunaan tenaga kerja perharinya makin merata yaitu mendekati harga rata-rata perhari yang ditentukan sebanyak 30 orang. Sedangkan kebutuhan tenaga kerja maksimal perhari sebanyak 50 orang dan deviasi totalnya sebesar 1109 orang.

Alt. Description

PT. DPS (Persero) is a BUMN in the field of production and maintenance of the boat. With the competitive business competition nowadays we need to achieve quality, competitive cost and delivery on time. To achieve it required planning and allocating the resources. In handling a project, each project activity surely take time and different worker. So the project with many number of activity causes the number of worker needed each day is not the same. On this research we try to flatten the usage of worker each day in accomplishing a project by shifting the performance every activity based on the float they had. The flatten of worker usage (resource leveling) is conducted by making mathematical equation that use integer programming method mean while to accomplishing we use computer software. After we conduct the flatten of worker (resource leveling) we acquired the outcome of worker usage per day more flat that is approaches the average price per day determined for 30 people. As for the need for maximum worker per day is so people and the total deviation is 1109 people.

Contributor :

1. Dr. Ir. Abdullah Shahab, MSc

=========================================================

ANALISA DISTRIBUSI TEMPERATUR DAN DISTORSI PADA PENGELASAN T-JOINT BAJA AISI 1045 DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

ANALYSIS OF TEMPERATURE DISTRIBUTIONS AND DISTORTIONS IN AISI 1045 T-JOINT WELDING PROCESS WITH FINITE ELEMENT METHOD

Created by :
Sani, Asrul ( )

Subject: Las
Keyword: Bevel
Distribusi temperatur
Distorsi
Metode Elemen Hingga.

[ Description ]

Penyambungan logam dengan sambungan las banyak digunakan dalam berbagai bidang manufaktur dan industri. Salah satu tipe sambungan yang banyak digunakan adalah sambungan tipe T, terutama dalam bidang perkapalan dan konstruksi struktur jembatan. Permasalahan utama proses pengelasan adalah terjadinya tegangan sisa dan distorsi. Tegangan sisa dan distorsi merupakan fenomena yang terjadi pada material, yang apabila diabaikan dapat mengakibatkan material hasil proses pengelasan tersebut mengalami kegagalan pada saat beroperasi. Proses pengelasan tipe-T dilakukan pada spesimen Baja AISI 1045 dengan menggunakan variasi double dan single groove. Dimensi spesimen dengan ukuran panjang fillet, lebar flange, dan tinggi web adalah 300 x 200 x 100 mm. Tebal web adalah 15 mm. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu ANSYS 8.0 yang berbasis metode elemen hingga. Pemodelan ini bertujuan untuk analisa distribusi temperatur dan distorsi. Dari hasil permodelan dan simulasi diketahui bahwa temperatur puncak pada double bevel (1896 K) lebih tinggi daripada single bevel (1858 K). Sedangkan hasil analisa distorsi didapatkan kecenderungan bahwa dengan bertambahnya jumlah layer maka distorsi yang terjadi juga meningkat.

Alt. Description

Metal Joining using welding usefull in manufactures and industries field. One of joining types common use is T-types joint, especially in shipyard and bridge construction. Commonly, main problem in welding process are residual stress and distortion. Residual stress and distortion is material phenomena, when it is neglected will caused material failure in operation. T-Joint welding process applied in AISI 1045 steel using double and single groove variation. Specimen dimension include fillet length, flange width, and web height are 300 x 200 x 100 mm. Web thickness are 15 mm. This simulation using ANSYS 8.0, Finite element method base software. These modeling objective is to analyze temperature distribution and distortions. Result of modeling and simulation known that peak temperature in double bevel (1896 K) higher than single bevel (1858 K). Mean while, from distortion analysis known that increasing the number of layers will increase distortion too

Contributor :

1. Dr. SUNGGING PINTOWANTORO, ST, MT

=========================================================

PENGARUH SCR BERBAHAN ZEOLITE ALAM MURNI DENGAN INJEKSI SOLAR DAN MINYAK TANAH TERHADAP PARTICULATE MATTER GAS BUANG MAIN ENGINE

THE INFLUENCE OF SCR USING OF NATURAL ZEOLITE WITH SOLAR AND GASOLINE INJECTION TO PARTICULATE MATTER OF THE MAIN ENGINE EXHAUST GAS

Created by :
Susilo, Prasetyo Eko ( )

Subject: kapal — mesin
Keyword: Teknologi after treatment
SCR
reagent
zeolite clay
solar dan minyak tanah
particulate matter

[ Description ]

Perkembangan motor penggerak kapal modern yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar selalu kontradiktif dengan penurunan emisi gas buang. Dimana ketika efisiensi motor ditingkatkan maka emisi juga ikut meningkat. Maka penggunaan teknologi after treatment banyak digunakan karena resiko penurunan performance motor dapat dihindari. Penggunaan Selective Catalytic Reduction (SCR) sebagai after treatment semakin banyak digunakan seiring dengan adanya regulasi baru batas polusi udara EPA 1999 yang diharuskan dimulai pada 2004 dan Annex VI Marpol 73/78. Yang akan diuji dan dianalisa lebih lanjut dalam penelitian ini adalah penggunaan solar sebagai reduction reagent yang akan diinjeksikan pada reactor berbahan zeolith alam murni sebagai katalis. Pada penelitian terdahulu digunakan urea sebagai reagent memerlukan tangki khusus sebagai penampang urea, hal ini dianggap kurang efektif dalam dunia perkapalan karena memerlukan biaya tambahan dan menambah rumit kamar mesin. Sebagai pembanding digunakan juga minyak tanah sebagai reagent. Pada penelitian ini dianalisa seberapa besar pengaruh penggunaan solar dan minyak tanah pada katalis SCR zeolite clay terhadap emisi dari particulate matter yang berbahaya terhadap kesehatan manusia dan kualitas udara sekitar.

Alt. Description

The modern technology of marine engines are aim to reduce fuel consumption and exhaust gas emission. Therefore engine’s efficiency will be increasing so its emission. So, technology of the after treatment application are growing up to minimalize the decreasing of the engine performance. The application of Selective Catalytic Reduction (SCR) as a after treatment unit is growing fast in order to fulfill new regulation of air pollution EPA 1999 started at 2004 and Annex VI Marpol 73/78. This study is test and analize of solar as reduction reagent that be injected in pure zeolite material reactor as catalyst. In the last experience urea as reagent need a special dozing tank, its not effective in marine industry because of the high cost and so difficult to positioning it in the engine room. Gasoline as other reduction reagent is to be compared. In this study the influence of solar and Gasoline to SCR zeolite clay are analyze in order to minimalize air emission that dangerous for human and its environmental.

Contributor :

1. Ir. Agoes Santoso, M.Sc, M.Phil

=========================================================

STUDI EVALUASI DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI PENUNJANG DOK DAN GALANGAN KAPAL DI TEGAL DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS DAN EKONOMIS

Created by :
Pramono, R.Djati ( )

Subject: Galangan kapal
Keyword: Industri penunjang
komponen galangan

[ Description ]

Proses produksi kapal merupakan proses produksi yang komplek, unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Proses pembangunan kapal ialah dengan sistem berbasis perakitan, dimana banyak sekali komponen-komponen yang dibutuhkan dan satu sama lain saling menunjang seperti pelat, mesin, pipa, alat pengelasan dan perlengkapan lainnya. Oleh karena pengadaan material pada suatu galangan harus terencana dengan baik dan efisien sehingga dalam pengerjaan tidak terjadi keterlambatan waktu. Industri penunjang sangat berperan penting dalam proses pengadaan barang tersebut. Studi ini berisi tentang perhitungan kebutuhan galangan kapal di Tegal dan kemampuan industri penunjangnya untuk memenuhi kebutuhan komponen galangan, dan untuk melakukan pengembangan baik dengan menambahkan kapasitas produk yang sudah ada maupun dengan membuat produk baru. Dengan pengembangan industri penunjang ini diharapkan dapat mengeliminir hambatan-hambatan bagi pengembangan industri perkapalan. Hasil dari studi ini didapatkan bahwa kebutuhan komponen yang selama ini diproduksi industri penunjang masih mampu memenuhi kebutuhan galangan kapal sehingga pengembangan yang dilakukan adalah dengan menambah jenis produk baru seperti Zinc Anode yang belum diproduksi di Tegal. Biaya investasi yang dibutuhkan sebesar Rp. 94.700.000,- dengan pendapatan bersih pertahun sebesar Rp. 20.814.450,- dan biaya investasi dapat kembali setelah tahun ke-7.

Alt. Description

The ship production process is a complex process, unique and it has distinctive characteristic. The ship building process is an assembling based process, because there are so many necessary component parts needed and supported each other such as plates, machineries, pipes, welding tools and other equipments. Hence the material availability in a shipyard must be planned well and efficiently in order to prevent time delay. The support industries have a very important role in such material supply process. This study concerns on calculating the needs of a shipyard in Tegal and the capability of support industries in meeting the needs of shipyard component parts and developing either by upgrading product capacity or making new product. It is hoped that by developing support industries, all obstacles in developing ship industry could be eliminated. The result of this study shows that the necessary components are produced all along by the support industry still capable in supplying the shipyard demands therefore the significant development is to add new type of product such as Zinc Anode that have not yet been produced in Tegal. The investment cost needed is Rp. 94.700.000,- with the yearly annual net income of Rp. 20.814.450,- and the investment cost is returnable by the seventh year.

Contributor :

1. Ir. Heri Supomo MSc.

=========================================================

MINIMALISASI BIAYA PEMAMPATAN PENYELESAIAN PROYEK BERDASAR ANALISA BIAYA DAN WAKTU (PROJECT CRASHING) UNTUK PERBAIKAN KAPAL NUSA PENIDA DI PT. DPS (PERSERO)

MINIMIZE COST TO REDUCE TIME DURATION PROJECT BASE ON COST AND TIME ANALYSIS (PROJECT CRASHING) TO THE PROJECT OF EPAIRING NUSA PENIDA SHIP AT PT. DPS (PERSERO)

Created by :
Irawati ( )

Subject: Project Management
Alt. Subject : Project Management
Keyword: Project crashing
normal and crash time
normal and crash cost
integer programming

[ Description ]

PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) adalah badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang pembuatan, perawatan, dan perbaikan kapal. Dengan kondisi persaingan bisnis saat ini maka diperlukan peningkatan kualitas, biaya yang bersaing dan delivery on time. Untuk mencapai tersebut diperlukan adanya perencanaan dan pengalokasian sumber daya dan waktu dengan sebaik-baiknya. Tiap bulannya, perusahaan mempunyai lebih dari 14 proyek perbaikan kapal, dan semuanya menginginkan untuk selesai tepat waktu. Oleh karena itu perusahaan harus mampu mengalokasikan waktu secara tepat agar proyek selesai sesuai dengan target yang ditentukan dan perusahaan dapat segera memulai proyek selanjutnya mengingat keterlambatan satu proyek akan menyebabkan keterlambatan pada proyek-proyek yang lain. Pada penelitian ini dicoba untuk melakukan percepatan durasi proyek dengan memampatkan waktu satu atau lebih aktifitas kritis proyek ke waktu yang kurang dari waktu normal dengan kompensasi terjadinya peningkatan biaya proyek. Project Crashing Method ini dilakukan dengan membuat persamaan matematis menggunakan Integer Programming sedangkan penyelesaiannya menggunakan software komputer. Setelah dilakukan pemampatan waktu kerja diperoleh hasil bahwa waktu penyelesaian proyek dapat dimampatkan dari 169,25 jam menjadi beberapa waktu kerja yang diinginkan yaitu 87, 100, 110, 120, 130 dan 140 jam dengan peningkatan biaya yang berbeda pula yaitu Rp 552.000, Rp 411.000, Rp 334.200, Rp 263.800, Rp 198.200 dan Rp 132.600.

Alt. Description

PT. DPS (Persero) is a BUMN, which concern in production and maintenance of ship. With nowadays business competition, we need quality improvement, competitive cost and delivery on time. To achieve it, the company requires planning and allocating the resources and time. The company has more than fourteen ships maintenance project every month and all of them want to deliver on time. Because of that, the company must able to allocate time precisely, thus the project finish right on schedule and the company can start next project soon, because if one project is late, the others project will be late too. On this research we try to accelerate the project duration by crashing time of one or more critical project activities. Thus, the time duration will be lower than the normal time duration with increasing project cost compensation. The project crashing method is conducted by making mathematical equations that use integer-programming method; to accomplish it we use computer software. After we conduct crashing time, the result that the time project duration can crash from 169.25 hours to some desired time duration that are 87, 100, 110, 120, 130 and 140 hours with different increasing cost compensation that are Rp 552,000, Rp 411,000, Rp 334,200, Rp 263,800, Rp 198,200 and Rp 132,600.

Contributor :

1. Dr. Ir. Abdullah Shahab, MSc.

=========================================================

ANALISA TEGANGAN SISA DAN DISTORSI PADA PENGELASAN FILLET T-JOINT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

ANALYSIS OF RESIDUAL STRESSES AND DISTORTIONS ON T-JOINT FILLET WELDING USING FINITE ELEMENT METHOD

Created by :
Putra, Yudhistira Perdana ( )

Subject: Las
Alt. Subject : Welding
Keyword: Distribusi temperatur
tegangan sisa
distorsi
GTAW
metode elemen hingga

[ Description ]

Pengelasan fillet tipe-T banyak digunakan dalam dunia industri perkapalan, struktur jembatan, dan industri – industri yang lain. Permasalahan utama proses pengelasan adalah terjadinya tegangan sisa dan distorsi. Tegangan sisa dan distorsi merupakan fenomena yang terjadi pada material, apabila diabaikan dapat mengakibatkan material hasil proses pengelasan tersebut mengalami kegagalan pada saat beroperasi. Proses pengelasan fillet tipe-T dilakukan pada spesimen dengan ukuran panjang fillet, lebar flange, dan tinggi web adalah 500 x 200 x 100 mm. Tebal web adalah 10 mm. Sedangkan tebal flange divariasikan yaitu 10 dan 16 mm. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu ANSYS 8.0 berdasarkan metode elemen hingga model 3 dimensi. Kajian ini dititik beratkan pada perhitungan tegangan sisa dan distorsi. Tegangan sisa dihitung berdasarkan iterasi regangan yang timbul akibat distribusi temperatur selama pendinginan dari temperatur pengelasan menuju temperatur ruang. Dari hasil permodelan dan simulasi diketahui bahwa distribusi tegangan menunjukkan distribusi tegangan terbesar terjadi pada daerah weld metal. Dari hasil analisa didapatkan bahwa dengan meningkatnya tebal pelat (flange) maka tegangan yang terjadi juga meningkat akan tetapi distorsi yang terjadi menjadi lebih kecil. Tegangan sisa longitudinal pada lasan cenderung lebih besar dibandingkan dengan tegangan sisa transversal.

Alt. Description

T-joint fillet welding is used widely in ship building industry, bridge structures, etc. Main problem in welding process is appearing of residual stresses and distortions. Residual stress and distortion are phenomena in material while welding processing. If it is neglected, it will cause failure in its operation. T-joint fillet welding process is done in specimen with dimension of fillet length, flange’s width, and web’s height are 500 x 200 x100 mm. And web thicness is 10 mm. Whereas flange thickness is variated in 10 and 16 mm. This simullation using ANSYS 8.0 based on finite element method with 3-D modelling. This modelling is subjected in calculation of residual stresses and distortions. Residual stress’s calculated based on its temperature distribution during cooling process from welding temperature to room temperature. From the result of modelling and simulation, it is known that stress distribution shows the maximum stress distribution occur in weld metal zone. From the analysis result, it’s found that increasing flange thickness will increase stress but distortion will decrease. The longitudinal residual stress in welding product is bigger than transversal residual stress.

Contributor :

1. DR. Sungging Pintowantoro, ST, MT

=========================================================

ANALISA TEGANGAN SISA DAN DISTORSI PADA PENGELASAN FILLET T-JOINT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA

ANALYSIS OF RESIDUAL STRESSES AND DISTORTIONS ON T-JOINT FILLET WELDING USING FINITE ELEMENT METHOD

Created by :
Putra, Yudhistira Perdana ( )

Subject: Las
Alt. Subject : Welding
Keyword: Distribusi temperatur
tegangan sisa
distorsi
GTAW
metode elemen hingga

[ Description ]

Pengelasan fillet tipe-T banyak digunakan dalam dunia industri perkapalan, struktur jembatan, dan industri – industri yang lain. Permasalahan utama proses pengelasan adalah terjadinya tegangan sisa dan distorsi. Tegangan sisa dan distorsi merupakan fenomena yang terjadi pada material, apabila diabaikan dapat mengakibatkan material hasil proses pengelasan tersebut mengalami kegagalan pada saat beroperasi. Proses pengelasan fillet tipe-T dilakukan pada spesimen dengan ukuran panjang fillet, lebar flange, dan tinggi web adalah 500 x 200 x 100 mm. Tebal web adalah 10 mm. Sedangkan tebal flange divariasikan yaitu 10 dan 16 mm. Simulasi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu ANSYS 8.0 berdasarkan metode elemen hingga model 3 dimensi. Kajian ini dititik beratkan pada perhitungan tegangan sisa dan distorsi. Tegangan sisa dihitung berdasarkan iterasi regangan yang timbul akibat distribusi temperatur selama pendinginan dari temperatur pengelasan menuju temperatur ruang. Dari hasil permodelan dan simulasi diketahui bahwa distribusi tegangan menunjukkan distribusi tegangan terbesar terjadi pada daerah weld metal. Dari hasil analisa didapatkan bahwa dengan meningkatnya tebal pelat (flange) maka tegangan yang terjadi juga meningkat akan tetapi distorsi yang terjadi menjadi lebih kecil. Tegangan sisa longitudinal pada lasan cenderung lebih besar dibandingkan dengan tegangan sisa transversal.

Alt. Description

T-joint fillet welding is used widely in ship building industry, bridge structures, etc. Main problem in welding process is appearing of residual stresses and distortions. Residual stress and distortion are phenomena in material while welding processing. If it is neglected, it will cause failure in its operation. T-joint fillet welding process is done in specimen with dimension of fillet length, flange’s width, and web’s height are 500 x 200 x100 mm. And web thicness is 10 mm. Whereas flange thickness is variated in 10 and 16 mm. This simullation using ANSYS 8.0 based on finite element method with 3-D modelling. This modelling is subjected in calculation of residual stresses and distortions. Residual stress’s calculated based on its temperature distribution during cooling process from welding temperature to room temperature. From the result of modelling and simulation, it is known that stress distribution shows the maximum stress distribution occur in weld metal zone. From the analysis result, it’s found that increasing flange thickness will increase stress but distortion will decrease. The longitudinal residual stress in welding product is bigger than transversal residual stress.

Contributor :

1. DR. Sungging Pintowantoro, ST, MT

=========================================================

Copyright @2008 by ITS Library.

reposted by : ahlifikir

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN MIKROBIOLOGI

Teknologi Pupuk Mikrob Multiguna Menunjang Keberlanjutan Sistem Produksi Kedelai

(Technology of Multipurpose Microbial Fertilizer Supporting Sustainable System of Soybean Production)

RASTI SARASWATI

Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jln. Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111; Tel. 062-251-337975 pes. 224; Faks. 062-251-338820

Multipurpose microbial fertilizer (MPMF) has been developed to increase fertilization efficiency to support sustainable soybean production system. Multipurpose microbial fertilizer can supply a substantial portion of nitrogen and phosphorous which is required by soybean through their symbiotic relationship rhizobia and phosphate dissolving capability, and thus save the us of anorganic fertilizer. Result of the demonstration plot using MPMF in farmer fields showed accordingly that phosphate fertilizer up to 50% from the recommendation dosage.

Key word: microbial fertilizer, inoculant, soybean

=========================================================

Pemberian Inokulan Campuran Beberapa Cendawan Mikoriza Arbuskula pada Kacang Tanah dan Kedelai

(The Application of Mixed Arbuscular Mycorrhizal Fungi Inoculant to Peanut and Soybean)

M. RAHMANSYAH & SUCIATMIH

Puslitbang Biologi LIPI, Jln. Ir. Juanda, Bogor 16122 ; Tel. 062-251-324006, Faks. 062-251-325854

Glomus sp.4, as arbuscular mycorrhizal (AM) fungi, was a collection originally gathered from soil in Bogor and had been introduced succesfully to fast-growing legumes of Albizia procera, Paraserianthes falcataria and pterocarpus indicus seedlings. To determine the influence of AM fungi inoculation to the plant growth, the experiment was set up as follow, a. Glomus sp.4 was mixed with G. etunicatum, G. manihotis and G. microagregatum+acaulospora spinosa, and inoculated separately as A, B, and C soil culture inoculant.; b. peanut and soybean were inoculated and planted as pot experiment in mixed medium of soil, compost and sand (2:1:1); c. for controlling treatments the plants were not inoculated and the other one were planted at medium which was amanded with 100g/kg TSP. As plant growth, AM fungi colonies of both plants roots increased. Fungi infection were founded higher in soybean (50-90%) compared to peanut infection (40-70%). Peanut shoot dryweight (15.6 g) and index of seed over shell (1.01) whiwh were harvested 53 days after planting (DAP) showed value as caused by B inoculant. Soybean plants at 45 DAP were significantly different in shoot dry weight (2.08 g) and seed weight plant-1 (4.12 g) compared with control, as caused of C inoculant treatment. Phosphorus content in dry shoot of peanut treated with B inoculant was 0.3%, and soybean which C inoculant was 0.4%.

Key word: inoculant, arbuscular mycorrhizal fungi, peanut, soybean

=========================================================

Proses Fermentasi Biji Lamtoro-Gung Dengan Rhyzopus oryzae

(Fermentation Process of Leucaena Seed with Rhyzopus oryzae)

KOMARI

Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Jln. Dr. Semeru, Bogor 16122

Fermentation process of leucaena seeds with Rhyzopus oryzae was developed to study biochemical during fermentation process with the emphasis on iron evailability (in vitro). Fermentation significantly increased the solubilities of protein and carbohydrate (soluble sugars). The increas of tannins content of the seeds during fermentation was due to loss of binding capacity between tannins and protein or carbohydrate. The loss was due to the increase in the pH value and the decrease in size of the digested protein and carbohydrate by the activity of enzymes produced by microorganism. Although the detectable tannins in the leucana tempe was higher than that in unfermented seeds, there was no binding effect of tannins with iron. Iron availability of the leucana tempe increased from 1.9% in the cotyledons to 11.6%. This finding showed the benefit effect of fermentation on the iron availability of the tempe.

Key word: fermentation process, leucana seed, Rhyzopus oryzae

=========================================================

Penggunaan “MicurR-BT” sebagai Uji Awal Sebelum Pembiakan Spesimen Urin untuk Isolasi Etiologi Infeksi Saluran Kemih

(MicurR-BT As an Indicator of Antibiotic in the Urine Before Bacterial Isolation in Urinary Tract Infection)

PRATIWI SUDARMONO & TERTIA HUTABARAT

Bagian Mikrobiologi FK UI, Jln. Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta 10320, Tel. 062-021-310086, Faks. 062-021-3100810

Urinary tract infection is very common and has a very high indence rate in Indonesia. Usually it cause by bacterial infection, so the diagnostic microbialogy play a very important role in the management of antibiotic therapy. Unfortunately, the patients usually has taken antibiotic before examination. MicurR-BT is a dipstick test to detect the existence of antibiotic in urine. It contains Bacillus subtilis and triphenyl tetra zolium chlorade as color detector. Ninety six urine specimen has been tested before bacterial culture. Fifty four specimen (56%) contain antibiotic in the urine before culture.

Key word: urinary tract infection

=========================================================

Deteksi Virus Dengue Tipe 2 dengan Cara Hibridisasi in situ

(Detection of Tipe 2 Dengue Virus by in situ Hibridization)

MAKSUM RADJI, AMIN SOEBANDRIO, MIRAWATI SUDIRO & PRATIWI SUDARMONO

Bagian Mikrobiologi FK UI, Jln. Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta 10320 Tel. 062-021-3100806, Faks. 062-021-3100810, Email: amin0207@rad.net.id

Demonstration of dengue virus (DV) in infected cell wouold enable elaboration of pathogenesis and pathophysiology of dengue Fever and dengue Haemorrhagic Fever. Molecular detection of DV would give high sensitivity as well as specifity. C6/36 mosquito cell line artificially infected with DV was used as a model of DV infected cell. 290-bp cDNA of envelope region of DV type 2 (DV-2) labeled with digoxigenin-11-dUTP was used as probe. Hybridization was performed directly to infected cell fixed on to glass slide (in situ). 10 ng/ul of the probe was able to detect as low as 10x TCID 50 infecting DV-2. The signal produced was not found in negative control and was clearly increasing in infecting viral dose dependent manner. There was no cross reactivity between DV-2 probe and DV-3 and vice versa. The DV-2 probe was sensitive yet specific in demonstrating the presence of DV-2 in infected cell.

Key word: hybridization, digoxygenin (DIG), pathogenesis

=========================================================

Campuran Kapas dan Kelaras Pisang sebagai Media Tanam Jamur Merang

(Mixture of Cotton Waste and Dried Banana Leaves as the Media for Straw Mushroom Cultivation)

METTY IRAWATI, AGUSTIN WYDIA GUNAWAN & OKKY SETYAWATI DHARMAPUTRA

Laboratorium Mikologi, Jurusan BiologiFMIPA IPB, Jln. Raya Pajajaran, Bogor 16144

In Indonesia straw compost is used as common medium for straw mushroom cultivation, because its high cellulose and hemicellulose content. Never theless, waste cotton derived from textile industry and dried banana leaves can be used for straw mushroom cultivation, because their cellulose and hemicellulose content is also high. Cotton waste and dried banana leaves were composted for 20 days by adding 2% of lime and 8% of rice bran. The compost of cotton waste, dried banana leaves, and mixture of cotton waste and dried banana leaves ratio of 4:1, 3:1, and 1:1 were used as the media for straw mushroom cultivation. Three replications were used for each treatment. The media were pasteurized at about 60oC for two hours, further the temperature was maintained at 50oC for 10 hours. Spawning was carried out when the temperature dropped to 30oC, and then the mushroom house was closed for three days. This condition was necessary for mycelial growth. After that, fresh air was introduced into the house of basidioma formation and development. Harvesting was carried out when the basidioma was at button or egg stage. Mushroom production on the mixture of cotton waste and dried banana leaves at a ratio of 1:1 was not significantly different than cultured on cotton waste only. The production on the other mixture were higher and significantly different than those cultured on cotton waste or banana dried leaves.

Key word: straw mushroom, media for straw mushroom cultivation, cotton waste, dried banana leaves

=========================================================

Penggunaan Kromatografi Tukar Ion DEAE-Spharos CL-6B Dalam Purifikasi Komponen Selulase Cellulomonas CS1-17

(The Use of Ion Exchange Chromytography of DEAE-Sepharose CL-6B in the Purification of Cellulase Components from Cellulomonas CS1-17)

M.B. TRESNAWATI PURWADARIA

Balai Penelitian Ternak, Kotak Pos 221, Bogor 16002 Tel. 0251.240752, Faks. 0251.240754, Email: Balitnak@indo.net.id

Ion exchange chromatography of DEAE-sepharose CL-6B was used to purify cellulase components from a culture filtrate of Cellullomonas CS1-17 grown on microcrystalline cellulose (Sigmacell-20). The cellulase components were separated into three activity peaks after elution with a linear gradient of NaCl concentrations from 0 to 0.5M. The first and second peaks (Ia and Ib) contained high activity for degradation of amorphous celllulose (CMCase), while the third peak (Ic) contained activity for degradation of microcrystalline cellulose (avicelase). In the higher concentration of NaCl (0.0 to 1.0M) and in the same linear gradient addition the filtrate was separated into four peaks. Three peaks of IIa, IIb, and IIc had the same activity as Ia, Ib, and Ic, while the last peak (IId) had high CMCase activity. In this separation the resolution between IIb and IIc was poorer than Ia and Ib. Therefore, in the further experiment the separation was carried out with stepwise gradients of NaCl (0.008, 0.18, 0.30 and 1.0 M). The choice of salt concentrations was based on results of the second linear gradients system. Five peaks were resolved well after the elution. Further enzyme determination shows that IIb has high CMCase activity, IIc has high avicelase activity, while IId has cellobiohydrolase activity.

Key word: ion exchange chromatography, purification of cellulose components, Cellulomonas CS1-17

=========================================================

Laboratory Prescreening of Bradyrhizobium japonicum for Acid pH Tolerance to Predict Their Survival in Acid Soils

ARIEF INDRA SUMUNAR1 & P. J. DART2

1Research Institute for Food Crops Biotechnology, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111
2School of Land and Food, The University of Queensland, St. Lucia, Australia

Introduced Bradyrhizobium japonicum strains are often unable to tolerate acid soil stress factors in a new environment. There is a need to improve the survival of B. japonicum in acid soils. This experiment was conducted to study the selectivity of four agar media in screening acid tolerant strains. Sixteen strains of B. japonicum were stab inoculated onto four screening media at five pH levels (3.8, 4.2, 4.5, 5.0, and 6.8) and the growth of each starin was observed and scored everyday. To test the usefulness of this screening method, B. japonicum strains were inoculated to two sterile acid soils which differ in chemical properties. The survival of each strain was determined at days 1, 8, 18, and 28 after inoculation. The results showed that the selectivity of each screening medium was different, where the more acid stress factors incorporated to that medium the more selective was that medium. The relationship between screening in acidic agar media and survival capability in sterile acid soils was quite well established, where the strain that survived well or poorly in sterile soils were those that were identified as acid tolerant or acid sensitive strains in acidic agar media. Results from this experiment confirm that laboratory prescreening of B. japonicum for acid, Al and Mn tolerance using acidic agar media was succesful in selecting strains which were tolerant in low pH soils, and those which were less so.

Key words: laboratory prescreening, Bradyrhizobium japonicum, screening media, acid soil

=========================================================

Amonifikasi Kulit Buah Kakao sebagai Tindakan Alternatif untuk Memusnahkan Inokulum Phytophthora palmivora

(Ammonification of Cocoa Husks as an Alternative Method to Eliminate Phytophthora palmivora Inoculum)

T. W. DARMONO1, TRI PANJI1 & H. KWARTONO2

1Unit PenelitianBioteknologi Perkebunan, Jalan Taman Kencana No. 1, Bogor 16151
2Universitas Pakuan, Bogor

Cocoa husks is produced in a large quantity and may cause a great deal of problem if not managed properly. Cocoa husks buried in soil or laid on the ground are easily infested by Phytophthora palmivora and become a potential source of pod rot disease inoculum. Pod rot is one of the most important disease in cocoa. The disease is difficult to control because its source of inoculum is difficult to be eliminated. Gaseous ammonia produced from ammonification is known to be toxic to several microbes and may be used to suppress the inoculum potential of P. palmivora in cocoa husks. The goal of this study was to determine the potential use of ammonification process in the elimination of P. palmivora inoculum. Ammonification of cocoa husks was conducted by mixing cocoa husks with urea in a closed container. Cocoa husks was inokulated with P. palmivora before there were treated with urea. Levels of the inoculum potential were dtermined using bioassay technique. The level of N total in cocoa husks and the level of N ammonia were determined using Kjeldal technique. From this study it was found that a significant amount of ammonia was produced during ammonification process of cocoa husks with the addition of urea. The ammonia produced eliminated P. palmivora inoculum in cocoa husks tissue within one week at an application level of 0.4% urea. Application of ammonification technique for the eradication of P. palmivora was proven to be effective in the field at 2% urea. Besides free from P.palmivora, the cocoa husks became 29.5% richer of nitrogen after ammonification with 0.2% urea.

Key words: ammonification, Phytophthora, cocoa

=========================================================

Konstruksi Mutan Protein Disulfida Isomerase pada Saccharomyces cerevisiae

(Construction Protein Disulphide Isomerase Mutant on Saccharomyces cerevisiae)

JUMIARTI AGUS

Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111 Tel. 62-251-337975 pes. 224 Faks. 62-251-338820

Protein disulphide isomerase (PDI) is an enzyme that catalyses disulphide-bond formation in protein to maintain the native conformation, either through redox or isomerization reactions. Few PDI’s have been isolated from various organism such as mammalian livers, plants, green algae and Saccharomyces cerevisiae. Disruption of the PDI in S. cerevisiae is haplo lethal indicating that the product of this gene is essential for viability. PDI consist of 1590 pb, but the essential domain on PDI gene have not been known complete. To study caracteristic PDI protein domains, in this research was undertaken construstion PDI mutant on S. cerevisiae. In vitro mutagenesis was carried out using hidroxilamin (HA) as mutagen. Recombinant plasmid were constructed by ligation of mutated DNA fragment (758 pb) into a vector (6300 pb) using T4 DNA ligase. The result showed some mutants were lethal, indicated that b and b’ domains are essential for PDI on S. cerevisiae. Few mutants poorly growth, and the other showed well growth.

Key words: construstion, protein disulfide isomerase, Saccharomyces cerevisiae

=========================================================

Studi Resistensi Neisseria gonorrhoeae yang Diisolasi dari Pekerja Seks Komersial di Beberapa Tempat di Jakarta

(Antimicrobial Susceptibility Pattern of Neisseria gonorrhoeae isolated from Female Commercial Sex Workers in Jakarta)

YEVA ROSANA1, Agus Sjahrurachman1, Endang R. Sedyaningsih2, Cyrus H. Simanjuntak2, Sumaryati Arjoso2, Sjaiful Fahmi Daili3, Jubianto Judanarso1 & Ika Ningsih1

1Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Pegangsaan Timur 16, Jakarta 10320
2Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DepKes RI
3Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

The control sexually transmitted diseases (STDs) of infection has become more urgent since it has been documented that untreated STDs infection facilitates HIV transmission. One of the most frequent cause of STDs reported is Neisseria gonorrhoeae. Problem of gonorrheal infection is complicated by the occurrence of resistant strains all over the world. In this study, gonococcal isolation have been attempted from 165 endocervical swabs from Female Commercial Sex Workers (FCSWs) in Kramat Tunggak and Kedoya Jakarta. Of 114 Kramat Tunggak’s samples examined, 61 (53.5%) were positive for gonococcal cultures, whereas 13 (25.5%) from 51 Kedoya’s sample were positive. The penicillinase-producing N. gonorrhoeae of gonococcal isolates from Kramat Tunggak and Kedoya were 73.8% and 92.3%, respectively. The result of the Minimun Inhibitory Concentration tests for 6 antimicrobials (thiamphenicol, kanamycin, spectinomycin, ciprofloxacin, cefuroxime, and ceftriaxone) shows that 1.6% isolates were resistant and 34.4% isolates were intermediate to the kanamycin, and 1.6% isolates were intermediate to the thiamphenicol, and all isolates were sensitive to the spectinomycin, ciprofloxacin, cefuroxime, and ceftriaxone. Antibiotic with best activity in vitro was fluoroquinolone (ciprofloxacin). Whereas antimicrobial activity of the cephalo-sporins (ceftriaxone, and cefuroxime) were better than spectinomycin, thiamphenicol, and kanamycin.

Key word: Neisseria gonorrhoeae, female commercial sex workers, minimum inhibitory concentration

=========================================================

Proses Fermentasi Fed-Batch Untuk Produksi Dekstranase dengan Streptococcus sp. B7

(Fed-Batch Fermentation Processes to Produce Dextranase from of Streptococcus sp. B7)

BUDIATMAN SATIAWIHARDJA1, BENI WIBISONO2 & UNTUNG MURDIYATMO2

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
2Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Jalan Pahlawan No. 25, Pasuruan 67126

The research aimed to develop fermentation technique on dextranase production from the bacterial isolate of Streptococcus sp. B7 using fed-batch fermentation system. The production was done in two litre fermentor with flow rate of medium addition at 19 ml/hr after 24 hours until 72 hours of incubation process. The variable conditions were pH of 7 and 8 and agitation speeds of 300 and 500 rpm. Maximum production was achieved at 500 rpm and pH 8 that produced enzyme activity of 920 U/ml. The best result of some kinetic parameters were as follows : production p = 920 U/ml, productivity Qv = 16.43 U/ml/hr, dextranase specific activity 17.68 U/mg protein, yield of product over cell Yp/x = 696.47 U/g cell and specific productivity qp = 12.45 U/g cell/hr.

Key words: dextranase, fed-batch fermentation, Streptococcus sp. B7, kinetic parameters

=========================================================

Perilaku Kultivasi Isolat Bakteri Termofil Penghasil a-Amilase

Cultivation of Thermophilic Bacteria Isolate of a-Amylase Production

NUR RICHANA, GAGAN MAULANA YUSUF, PUJI LESTARI & DJOKO SAID DAMARDJATI

Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111

Cultivation of thermophilic bacteria isolate TVII-6 for a-amylase production. Thermophilic bacteria TVII-6 was isolated and selected from the soil sample taken from Dieng vulcanic. The specific activity of amylase produced by TVII-6 was 1624.37 U/mg protein. Cassava starch was used as carbon source on enrichment culture and the optimum concentration was 1% with specific activity 2092.23 U/mg protein. Cultivation in a 2-l bioreactor at pH 7.0 and temperature of 50oC, combine with 250 rpm agitation and 1.0 vvm aeration produced the highest a-amylase. The maximum specific growth rate obtained was 0.147/hours. The relationship between product and substrate was linear (Y=0.129 X + 0.024). Efficiency of the substrate to produce amylase (Yp/s) was 0.129 g protein/g substrate. Relationship between the bacterial growth and substrate was Y = 0.315 X + 0.013. Efficiency of the substrate for growing the bacteria (Yx/s) was 0.315 g cell/g substrate. Based on the bacterial growth and amylase production, amylase could be considered growth associated, with kinetic parameter of product rate (p) was 0.37g/g/hr.

Key words: thermophilic bacteria, a-amylase

=========================================================

The Effects of Xanthorrhizol on the Morphology of Candida Cells Examined by Scanning Electron Microscopy

-

Department of Biotechnology, Yonsei University, 134-Sinchon-dong, Seodaemun-gu, Seoul 120-749, Korea

The effects of xanthorrhizol, a natural anticandidal agent isolated from the rhizome of temulawak or java turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) on the morphology of four human pathogenic Candida species, i.e., C. albicans, C. glabrata, C. guilliermondii, and C. parapsilosis was examined by scanning electron microscopy (SEM). The SEM analysis showed that, unlike control cells representing normal oval to spherical with smooth surface, treatment of Candida strains with xanthorrhizol at 1 x MICs (minimum inhibitory concentration) significantly affected the external morphology, exhibiting deformation, and protrusions on the cell surface. The potent anticandidal activity of xanthorrhizol may support the use of medicinal plants for the treatment of candidal infections.

Key words: anticandidal, Candida sp., scanning electron microscopy, xanthorrhizol

=========================================================

Kajian Teknik Kultivasi dan Pengaruh Luas Permukaan Media Tumbuh pada Produksi Selulosa Menggunakan Bakteri Isolat Lokal

Study on the Cultivation Technique and the Effect of Surface Area of Growth Media to the Production of Cellulose by Indigenous Isolates

ANI SURYANI1, ANDES ISMAYANA1, YENITA SUATRINA1 & YU-RYANG PYUN2

1Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Kotak Pos 1, Bogor 16610
2Bioproduct Research Center, College of Engineering, Yonsei University, Seoul 120-749, Korea

RBP-52 and PD5 isolates were isolated from Indonesian fruits samples that contains glucose. RBP-52 isolate was obtained from coconut water (waste), collected from nata factory, and PD5 isolate was obtained from rotten coconut sample, collected from Parung. They were identified as Acetobacter liquefaciens. RBP-52 and PD5 isolate produced cellulose in static and shaking cultivation. Production of cellulose by RBP 52 and PD5 were optimized in static cultivation. Cellulose was found to be produced at the liquid surface in static cultivation. The rate of cellulose production depended proportionally on the surface area of the culture medium. The maximum production rate of cellulose was 2.78 g/l per 7 days (surface area 77.60 cm2) in the static cultivation.

Key words : Bacterial cellulose, static culture, shaken culture, RBP-52 and PD5 isolates, surface area

=========================================================

Pemurnian ?-Amilase Bacillus stearothermophilus dengan Membran Ultrafiltrasi

Purification of ?-Amylase from Bacillus stearothermophilus by Ultrafiltration Membrane

PUJI LESTARI1, NUR RICHANA1 & UNTUNG MURDIYATMO2

1Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111
2PTPN XI Surabaya, Jalan Merak No. 1, Surabaya

The objective of this experiment was to evaluate the optimum conditions of a-amylase of Bacillus stearothermophilus purification by ultrafiltration and the step of a-amylase purification from indigenous isolate. Culture filtrate from bioreactor was separated by microfiltration membrane with a pore size of 0.2 mm. The supernatant was purified again by ultrafiltration system (membrane with cut off 30 000 Dalton). Treatments of a-amylase purified by ultrafiltration were carried out at flow rate of 30, 45 and 60 ml/minute, and concentrated by about 5, 10 and 15 times. The crude enzymes resulted from ultrafiltration were precipitated with acetone. The results showed that the optimum condition of ultrafiltration was using flow rate of 30 ml/minute and concentrated by about 10 times. At the optimum condition of ultrafiltration, the specific activity of a-amylase was of 6 686.6 U/mg with 2.3 fold purification factor. The effect of flow rate decreased the total enzyme activity, specific activity and yield. The concentration disposal could decrease total activity and protein, but not always reduced specific activity of the enzyme. Purification of crude enzyme by ultrafiltration and acetone reduced the total activity, total protein and yield, but specific activity and purification factor increased. Ultrafiltration followed by acetone precipitation, gave enzyme specific activity of 18155.4 U/mg, purification factor of 6.3 and yield of 20%, respectively. Zymogram analysis using Native-Polyacrylamide Agarose Gel Electrophoresis indicated a-amylase of approximately 192 932.8 Da.

Key words: a-amylase, Bacillus stearothermophilus, ultrafiltration

=========================================================

Biodegradasi Senyawa Epiklorohidrin oleh Bakteri Isolat G3

Biodegradation of Epichlorohydrin Compound by Bacterial Isolate G3

ANAS MIFTAH FAUZI, AMIN PRIYO UTOMO, NITARIANI ELFRIDA & MAYA NILASARI

Center for Development of Safe Agroindustrial Processes, Gedung Fateta Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16002

Biodegradation of epichlorohydrin (ECH) by strain G3 (temporarily identified as Pseudomonas aeruginosa) was investigated both in suspended cultures and biofilm reactors. Experiment was performed to study biodegradation profile of the target pollutant in the presence of other organic pollutants, i.e. mixture of benzene, toluene, xylene, and heavy metal, i.e. Pb(NO3)2. The results indicated that the chemicals reduced the specific growth rates of G3 isolate in the suspended cultures with ECH added as the sole carbon source. These chemicals also slightly reduced dechlorination rate of ECH in the effluent of biofilm reactor. This study also showed that the magnitude of 2 mg/l ECH degradation decreased with the lower retention time. 67.6% of degradation was occured during 1.33 min retention time.

Key words: epichlorohydrin, biofilm reactor, biodegradation

=========================================================

Pengaruh Pemberian Rhizo-Plus pada Kedelai

Influence of Rhizo-Plus Application on Soybean

Ig.V. SUTARTO1 & RASTI SARASWATI2

1Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan,
2Balai Penelitian Bioteknologi Tananaman Pangan, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111

The soybean [Glycine max (L.) Merrill] has been recognized as an important source of protein for both food and feed in Indonesia. Among the food legumes, soybean is the first priority in farm operation. Notwithstanding, the mayor constraints for low soybean production are due to drought, pests, and used of traditional cultivation methods. The objective of this experiment was to examine the effect of Rhizo-plus inoculation on the root nodule performance, plant growth. yield of soybean and the economical profit. Field experiment was conducted in farmer’s fields in Temanggung (Central Java) which is typified by Regosol soils during planting season of 1996/1997. The design of these experiment was a split-plot design with four replications. The results showed that the Rhizo-plus inoculation did not interact with the parameters, and it was required to increase the yield of soybean. Rhizo-plus which is produced nationally demonstrated beneficial effect on some plant growth parameters such as N accumulation, the number and weight of root nodules, leaf chlorophyll content, and dry yield of soybean. Soybean cultivar ‘Slamet’ was found to demonstate the best yield. Therefore, this technology might be useful to increase the income and net profit of soybean farmers.

Key words: Rhizo-plus, soybean, Regosol Soils, Central Java

=========================================================

Berbagai Cara Hidrolisis Pati untuk Media Pertumbuhan Bacillus sp. BMN14 Penghasil Biosurfaktan Lipopeptida

Hydrolysis Methods of Starch for Culture Media of Bacillus sp. BMN14 Producing Biosurfactant Lipopeptide

NUR RICHANA1, ANI SURYANI2, HELENA YUSUF MAKAGIANSAR2 & TUN TEDJA IRAWADI2

1Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111
2Jurusan Teknologi Industri, Fateta IPB, Bogor 16002

Ezymatic and acid hydrolysis of starch for culture media of Bacillus sp. BMN14 producing lipopeptide biosurfactant were studied using cassava, arrowroot and sago starch. These starch hydrolysates were used as glukose substitute in the were to culture media of biosurfactant-producing bacteria. Starch hydrolyzed from arrowroot (73.08-83.5%) and cassava (80.0-87.98%) yielded glucose higher than sago (62.5-64.5%). Capability of the bacteria to produce biosurfactant represented as the amount of acid precipitate (0.78 g/l) and surface tension of the broth (33.6 mN/m) in the culture medium contained enzymatic hydrolyzed-starch.

Key words: lipopeptide biosurfactant, starch hidrolyzed, Bacillus sp.

=========================================================

Kerentanan Poliester Alifatik Terhadap Biodegradasi

Biodegradability of Aliphatic Polyester

EVITA CHRISNAYANTI1, EFRIDA MARTIUS1, ROFIQ SUNARYANTO1, LIES DWIARTI1, HARDANING PRANAMUDA1 & YUTAKA TOKIWA2 1Pusat Pengkajian dan Penerapan Bioteknologi Industri dan Pertanian, Kawasan Puspiptek, Serpong, Tangerang 15314
2National Institute of Bioscience and Human-Technology, Tsukuba, Ibaraki 305-8566, Japan

The presence of microbes which can degrade commercial biodegradable plastics, i.e. poly-?-caprolactone (PCL), poly-?-hydroxy butyrate (PHB), polybutylene succinate (PBS) and polylactic acid (PLA), was evaluated using colony-counting and clear-zones methods. Out of 12 soil samples taken from Serpong area, it was confirmed that PCL, PHB and PBS degrading microorganisms were observed in all samples, but no samples showed PLA degradation. The ratio of degrading microorganisms to total microorganisms decreased following the order of PCL, PHB, PBS and PLA. Result of burial test of biodegradable plastic films show that PHB film is easy to degrade but not PLA film. The tendency of the results was similar with the results reported in the same investigation at sub-tropical country.

Key words: plastic, polyester, biodegradation

=========================================================

Analisis Keragaman Kapang Pencemar Pakan Unggas Komersial

The Diversity Analysis of Moulds Contaminating Commercial Poultry Feed

SRI HANDAYANI & JOKO SULISTYO

Balitbang Mikrobiologi, Puslitbang Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jalan Ir. H. Juanda No. 18, Bogor 16002

Samples of poultry feed were collected from several poultry shops around Jakarta, Bogor, and Bandung, which represented different location altitudes. Samples were inoculated onto Sabouraud’s glucose agar then incubated at 25 and 37OC to determine kinds and populations of moulds which potentially contaminate the feed. The experimental analysis for different altitudes and incubation temperatures was carried out using factorial completely design 3 x 2 with three replicates. Results indicated that there were 14 different kinds of moulds recovered from all samples. Location altitudes and incubation temperatures did not significantly influenced (p>0.05) the kinds of moulds, however, significantly influenced (p0.05) the kinds of moulds, however, significantly influenced (p90%) percentage of AM fungi colonization. Arum-type of AM colonization found on 13 species of weeds, while Paris-type AM colonization were found on 10 species. Intermediate type of arbuscules were only found on 6 spesies. In this study we also examined the presence of vesicles.

Key words: arbuscular mycorrhizae, arum type, paris type, weed

=========================================================

Metode PCR Sederhana Untuk Menapis Isolat Bacillus thuringiensis yang Membawa Gen Cry V

A Simple PCR Method for Screening Bacillus thuringiensis Isolates Carrying Cry V Gene

BAHAGIAWATI, DANY SATYAWAN & SUTRISNO

Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16114

This experiment was conducted to obtain a simple, rapid and cheap PCR technique that accurately detects the present of cry on isolates of Bacillus thuringiensis (Bt). Further, the technique was applied to identify Indonesia Bt isolates. DNA from direct bacterial colony was used as template for the new PCR technique, instead of plasmid DNA that was used as template for existing methode. Consequently, DNA extraction procedure can now be omitted and the screening process will be tremendously speed up. One hundred sixty-five Bt isolates were screened for the present of cry V and sixteen isolates showed the presence of cry V. Two isolates out of 16 labeled as Jtg 2151 and Jtm 1842 produced DNA bands at approximately 726 base pairs. The band was the expected size of cry V amplicon.

Key words: Bacillus thuringiensis, cry V, PCR techniques

=========================================================

Keragaman Genetika Bakteri Tanah dari Rizosfer Kapas Transgenik dan Nontransgenik di Soppeng, Sulawesi Selatan

Soil Bacterial Genetic Diversity from Rhizosfer of Transgenic and Nontransgenic Cotton Plantation in Soppeng, South Sulawesi

MUHAMMAD YUSUF1, YUSMINAH HALA2 & ANTONIUS SUWANTO1,3

1Seameo-Biotrop, Jalan Raya Tajur, Bogor 16001
2Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Makassar, Jalan Daeng Tata Raya, Makassar 90224
3Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144

Techniques based on amplification of 16S-rRNA genes for comparing bacterial communities are now widely used in microbial ecology. In this study, we compared bacterial genetic diversity of transgenic and nontransgenic cotton plantation soil samples to examine the effect of transgenic cotton on soil bacterial diversity. The primer 63f and 1387r specific for bacteria were used to amplify DNA extracted from two soil samples. The PCR products were cloned into pGEM-T Easy and transformed into Escherichia coli DH5-?. Total transformants of transgenic and nontransgenic obtained from cotton plantation soil samples were 138 and 123 respectively. Twenty transformants containing 16S-rRNA genes were selected randomly from each library to reveal their amplified ribosomal DNA restriction analysis (ARDRA) patterns employing restriction enzymes HhaI, RsaI, and HaeIII. The results indicated that there were 16 and 14 different ARDRA profiles derived from transgenic and nontransgenic cotton plantation, respectively.

Key words: bacterial diversity, ARDRA, transgenic and nontransgenic cotton

=========================================================

Mikoriza Durian di Bogor dan Sekitarnya

Mycorrhiza of Durio in Bogor Area

CHAIRANI1, AGUSTIN WYDIA GUNAWAN1 & KARTINI KRAMADIBRATA2

1Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144
2Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor 16002

Thirteen species from three genera of Glomales fungi were identified from four cultivars of durian (Durio zibethinus Murr.) rhizosphere. They were Acaulospora foveata, A. longula, A. scrobiculata, A. tuberculata, Glomus aggregatum, G. albidum, G. etunicatum, G. fasciculatum, G. lacteum, G. rubiforme, G. versiforme, Glomus sp. 1, and Scutellospora calospora. Roots observation showed that durian is a mycotrophic plant. All arbuscular mycorrhizal symbiosis structures were observed in durian roots.

Key words: arbuscular mycorrhizal fungi (AMF), Durio zibethinus Murr., arbuscular mycorrhizal symbiosis structures

=========================================================

Mikoriza Durian di Bogor dan Sekitarnya

Mycorrhiza of Durio in Bogor Area

CHAIRANI1, AGUSTIN WYDIA GUNAWAN1 & KARTINI KRAMADIBRATA2

1Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144
2Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor 16002

Thirteen species from three genera of Glomales fungi were identified from four cultivars of durian (Durio zibethinus Murr.) rhizosphere. They were Acaulospora foveata, A. longula, A. scrobiculata, A. tuberculata, Glomus aggregatum, G. albidum, G. etunicatum, G. fasciculatum, G. lacteum, G. rubiforme, G. versiforme, Glomus sp. 1, and Scutellospora calospora. Roots observation showed that durian is a mycotrophic plant. All arbuscular mycorrhizal symbiosis structures were observed in durian roots.

Key words: arbuscular mycorrhizal fungi (AMF), Durio zibethinus Murr., arbuscular mycorrhizal symbiosis structures

=========================================================

Isolasi dan Karakterisasi ?-amilase Ekstraseluler dari Kapang Asal Limbah Cair Tapioka

Isolation and Characterization of Extracellular ?-amylases Producing Moulds Isolated from Cassava Starch Liquid Waste

DEZI HANDAYANI, NISA RACHMANIA MUBARIK & SRI LISTIYOWATI

Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144

A total of 25 moulds have been isolated from cassava starch liquid waste on the medium containing starch at pH 3.0 to 6.0. The isolates had amylase indexes from 0.03 to 2.50. Two isolates had the highest index at pH media 4.0 (0.84) and at 6.0 (2.5) were identified as Penicillium sp. strain K12 and Aspergillus versicolor 3a1 respectively. The optimal amylases production of Penicillium sp. strain K12 and A. versicolor 3a1 was obtained after 4 and 3 days of incubation at 30oC. The optimum of amylase activity from Penicillium sp. strain K12 was at 50oC and pH 5.0, while those from A. versicolor 3a1 was at 30oC and pH 6.0 respectively. The amylase activities of Penicillium sp. strain K12 increased after the addition of 10 mM of each Ca2+and Fe2+, while the amylase A. versicolor 3a1 increased after the addition of 10 mM Ca2+. Amylase activities of both isolate decreased after the addition of ethylenediaminetetraacetic acid at the concentration of 1 mM and 10 mM.

Key words: isolation ?-amylase, characterization, Penicillium, Aspergillus versicolor

=========================================================

Ekspresi Gen inaZ pada Vibrio sp. untuk Memantau Pelekatan Bakteri pada Larva Udang

Expression of inaZ Gene in Vibrio sp. to Monitor Bacterial Adherence on Shrimp Larvae

YUSMINAH HALA1 & ANTONIUS SUWANTO1,2

1Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2/sup>Seameo-Biotrop, Jalan Raya Tajur Km. 6, Kotak Pos 116, Bogor 16720

Expression of ice nucleation gene encoded by inaZ in several Vibrio sp. was investigated to understand the ability of the gene as a reporter for adherence and colonization of these presumably pathogenic bacteria in shrimp larvae. Conjugation was used to transfer a broad host range plasmid carrying ice nucleation gene which was constructed by inserting 4.5 kb EcoRI-PstI fragment containing inaZ gene from pIce1.9 into EcoRI-PstI sites in pRK415. The ice nucleation activity could be detected at (-9) – (-4) oC. A 10-day survival study of Vibrio sp. ice+ in 2% (wt/vol) NaCl and yeast extract showed that the bacterial population increased at day 3 and day 5 after inoculation and decreased at the following days. Meanwhile, ice nucleation activity decreased at day 3 and day 6 but still detectable until day 10. A 7-day adherence study indicated that ice nucleation activity of Vibrio sp. ice+ decreased at day 2 and become undetected at day 3. However the bacterial cell count of Vibrio sp. ice+ increased from day 2. The results suggested that the plasmid carrying ice nucleation gene was quite stable but the low expression of ice nucleation activity might be due to the unstability of InaZ protein. Neither Vibrio sp. ice+ nor ice- colonized the surviving larvae were observed after day 5 of incubation. It seems that they colonized the dead larvae in spite of the lack of observable ice nucleation activity.

Key words: inaZ gene, vibrio sp., bacterial adherence

=========================================================

Deteksi Gen Cry1A Bacillus thuringiensis Berliner dengan Teknik PCR dan Toksisitasnya terhadap Ostrinia furnacalis Guenee

Detection of Cry1A Gene of Bacillus thuringiensis Berliner using PCR and its toxicity against Ostrinia furnacalis Guenee

BAHAGIAWATI1, HABIB RIJZAANI1 & NOVITA RIANI SIMANJUNTAK1

1Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16114
2/sup>Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia, Kampus Depok, Depok 16424

The objectives of this experiment were to detect the presence of cry1A sequences from local Bacillus thuringiensis isolates multiplied by Lep1A and Lep1B primers using PCR technique and to determine their toxicity against Ostrinia furnacalis, maize stemborer. From 15 tested isolates, 11 of them gave PCR product. Among those 11 only 7 isolates, namely Lam 864, Jtg 2151, C 522, G 631, C 342, C 512, and C 536, showed a single, 490 bp DNA band, which is the expected size of PCR product using Lep1A and Lep1B primers. These isolates showed potentially high toxicity against maize stemborer. Four isolates, namely Ser 455, Cib 361, Lam 854, and Ser 554, showed the 490 bp band with a few additional bands, and had lower levels of toxicity to the tested insect. One isolate, C 423, did not give any PCR product but interestingly indicated a relatively high level of toxicity against the insect.

Key words: Bacillus thuringiensis, cry1, Ostrinia furnacalis, PCR

=========================================================

Identifikasi Bakteri Penghasil Mananase serta Karakterisasi Enzimnya

Identification of Mannanase Producing Bacteria and Characterization of the Enzyme

DYANNE DOROTHY AURORA, YULIN LESTARI & ANJA MERYANDINI?

Jurusan Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16144

Mannanase is a mannan degrading enzyme which is produced by microorganisms included bacteria. This enzyme can be used in many industrial processes as well as for improving the quality of animal feeds. The aim of this research was to isolate mannanolytic bacteria from copra soil sample which came from Pasaman, West Sumatra and characterize their enzymes. Screening was carried out using agar plates containing mannan stained with congo-red. Four isolates showed high mannanolytic index. DYP2, which was the best from the four bacteria was identified by 16S r-RNA sequence as Bacillus pumilus. DYP 2 produced optimum activity (0.079 U/ml) after 24 hour cultivation in the substrat containing gum locust bean. At an optimum activity, the protein concentration was 0.4 mg/ml and the specific activity was 0.2 U/mg. Mannanase of Bacillus pumilus DYP2 reached the optimum temperature at 80oC and the highest activity at pH 3.00. In the optimum condition the activity was stable for 5 days.

Key words: Bacillus pumilus, mannanase

=========================================================

Coronavirus dan Sindroma Pernafasan Akut Berat

Coronavirus and Severe Acute Respiratory Syndrome

FERA IBRAHIM? & T. MIRAWATI SUDIRO

Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Pegangsaan Timur No. 16, Jakarta 10320

Since first reported in July 2003, severe acute respiratory syndrome (SARS) has evoked a global alertness, and international collaboration among laboratories and countries. Until 12 July 2003, 8442 suspected and probable cases and 812 death has been reported. Through extensive studies, a new coronavirus, i.e. SARS virus was found to be the agent causing SARS. SARS virus is distinct from the other known members of coronavirus. SARS virus is readily cultivated in cell culture, SARS virus genomic sequence in various part of its genes showed that it belongs to a new group of coronavirus. Various techniques to detect SARS virus have been developed, although it’s not yet to the level of expected sensitivity and specificity.

Key words: SARS, Coronavirus, SARS-CoV

=========================================================

Seleksi Bakteri Asam Laktat Indigenus sebagai Galur Probiotik dengan Kemampuan Menurunkan Kolesterol

Selection of Indigenous Lactic Acid Bacteria as Probiotics for Lowering Serum Cholesterol Levels

NETTY KUSUMAWATI1, BETTY SRI LAKSMI JENIE1, SISWA SETYAHADI2 & RATIH DEWANTI-HARIYADI1

1Fateta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
2Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, BPPT Gedung II Lt. 15,
Jalan M.H. Thamrin No. 8, Jakarta 10340

Eighteen strains of indigenous lactic acid bacteria isolated from Indonesian traditional fermented foods were tested for their potency as probiotic culture including survival in acid and bile as well as ability to assimilate cholesterol in vitrous. Three strains namely Lactobacillus plantarum sa28k, L. acidophilus FNCC116 and L. casei FNCC262 showed the highest ability to assimilate cholesterol and had good acid and bile resistance. These strains were further investigated for hypocholesterolemic effect in Sprague-Dawley Rats. Rats were fed with stock diet and drinking milk containing one of four treatments i.e. (i) non fermented milk (control), (ii) milk fermented by L. plantarum sa28k (F1), (iii) milk fermented by L. acidophilus FNCC116 (F2), and (iv) milk fermented by L. casei FNCC262 (F3). After 30 days, rats received the fermented milk had lower (P<0.05) serum cholesterol levels than did the non fermented milk rats. Serum cholesterol levels for control, F1, F2, and F3 rats were 67.5 mg/dl; 48.4 mg/dl; 51.0 mg/dl and 52.67 mg/dl respectively. Results indicate that indigenous strains of lactic acid bacteria isolated from Indonesian fermented foods can be considered as probiotic strains that have beneficial effect in reducing serum cholesterol levels.

¬¬ Key words: lactic acid bacteria, probiotic, cholesterol

=========================================================

Produksi Massal Sel Rhizobium dengan Teknologi Bioproses

Mass Production of Rhizobium Using Bioprocess Technology

RASTI SARASWATI1, KHASWAR SYAMSU2, DWI NINGSIH SUSILOWATI1, BADRIYATUL LAILA2 & RENGGANIS SANTIKA ANDHAYANI2

1Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111
2Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680

Mass Production of Rhizobium Using Bioprocess Technology. Efficient mass production of Rhizobium inoculant has been studied by applying bioprocess technology under laboratory and pilot scale. The mass production of Rhizobium strain RIFCB1 … RIFCB7 has been optimized by batch system under pilot scale with maximum population of 2.5 x 109 sel/l after 48 h and maximum specific growth rate of 0.129 h-1 for 0-24 h, while under fed batch system the highest cell number was 2.3 x 109 sel/l after 24 h cultivation with maximum specific growth rate of 0.135 h-1 for 0-24 h. The mass production were decreased after 24 h and increased at 78 h to the maximum peak at 102 h with cell number of 1.7 x 109 cell/l. Fed batch system is much better than batch system due to the continuation of mass production. The addition of fresh medium could increase the cell number.

Key words: Rhizobium, bioproses

=========================================================

Isolasi dan Identifikasi Mikroorganisme Termofil Isolat Kawah Wayang

Isolation and Identification of Thermophilic Microorganism from Wayang Crater

INDRAJAYA, FIDA MADAYANTI WARGANEGARA & AKHMALOKA*

Departemen Kimia, FMIPA, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132

Research on thermophilic microorganism has extensively been carried out, in this report we presented the isolation and identification of thermophilic microorganism from geothermal region around Bandung. Isolation had been performed from Wayang crater that has extreme environment with pH 1-2 and temperature 75-92oC. The microorganism was cultivated at 68oC in the modified Thermus medium by addition of mineral supplements. The 16S rRNA gene from one of the isolate was amplified by universal primers (27F and 1492R) resulting 1.5 kb DNA fragment. The fragment was cloned and sequenced. The phylogenetic analysis of the sequences suggested that the Wayang isolate is close to Geobacillus thermoleovorans.

Key words: thermophilic microorganism, 16S rRNA, isolation, identification, phylogenetic

=========================================================

Isolasi dan Identifikasi Mikroorganisme Termofil Isolat Kawah Wayang

Isolation and Identification of Thermophilic Microorganism from Wayang Crater

INDRAJAYA, FIDA MADAYANTI WARGANEGARA & AKHMALOKA*

Departemen Kimia, FMIPA, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132

Research on thermophilic microorganism has extensively been carried out, in this report we presented the isolation and identification of thermophilic microorganism from geothermal region around Bandung. Isolation had been performed from Wayang crater that has extreme environment with pH 1-2 and temperature 75-92oC. The microorganism was cultivated at 68oC in the modified Thermus medium by addition of mineral supplements. The 16S rRNA gene from one of the isolate was amplified by universal primers (27F and 1492R) resulting 1.5 kb DNA fragment. The fragment was cloned and sequenced. The phylogenetic analysis of the sequences suggested that the Wayang isolate is close to Geobacillus thermoleovorans.

Key words: thermophilic microorganism, 16S rRNA, isolation, identification, phylogenetic

=========================================================

Karakterisasi Protease Ekstraseluler

Clostridium bifermentans R14-1-b Characterization of Extracellular Protease from Clostridium bifermentans R14-1-b

JULIA ENGGEL1, ANJA MERYANDINI1 & LILY NATALIA2

1Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2Balai Penelitian Veteriner, Jalan Martadinata No. 30, Bogor 16114

Clostridium are anaerobic bacteria, Gram positif, rods shaped and form endospores. This bacteria are commonly found in soil, marine and fresh sediments, in the intestinal tract of man and animals. Samples were collected from intestinal contents of cattle, buffaloes and sheep from a slaughter house in Bogor, fresh sediments and soil mangrove from West Nusa Tenggara. From these 44 samples, 72 isolates Clostridium were screened for their ability to produce protease. The highest activivity was recorded from an isolate identified as C. bifermentans R 14-1-b and has a proteolitic index of 9.0. This bacteria was isolated from intestinal contents of sheep from slaughter house Bogor. C. bifermentans R 14-1-b showed maximum protease activity after 21 hours of cultivation in liquid media. Protease of C. bifermentans R 14-1-b displayed maximum activity at pH 7.5 and 50 oC with casein as substrate. Ions such as Cu2+, Co2+, and Zn2+ (5 mM) inhibited protease activity, whereas Zn2+ (5 mM) showed the strongest inhibition (87.50%). The protease was activated by Fe2+ ion at concentration 5 mM (322.50%). Mg2+ and Ca 2+ ions (5 mM) increase the protease activity slightly. The presence of chelating agent, such as Na2EDTA (1 mM and 5 mM) demonstrated the inhibitory effect of this enzyme, whereas Na2EDTA at concentration 5 mM showed the strongest inhibition (91.68%).

Key words: Clostridium, protease

=========================================================

Karakterisasi Protease Ekstraseluler

Clostridium bifermentans R14-1-b Characterization of Extracellular Protease from Clostridium bifermentans R14-1-b

JULIA ENGGEL1, ANJA MERYANDINI1 & LILY NATALIA2

1Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2Balai Penelitian Veteriner, Jalan Martadinata No. 30, Bogor 16114

Clostridium are anaerobic bacteria, Gram positif, rods shaped and form endospores. This bacteria are commonly found in soil, marine and fresh sediments, in the intestinal tract of man and animals. Samples were collected from intestinal contents of cattle, buffaloes and sheep from a slaughter house in Bogor, fresh sediments and soil mangrove from West Nusa Tenggara. From these 44 samples, 72 isolates Clostridium were screened for their ability to produce protease. The highest activivity was recorded from an isolate identified as C. bifermentans R 14-1-b and has a proteolitic index of 9.0. This bacteria was isolated from intestinal contents of sheep from slaughter house Bogor. C. bifermentans R 14-1-b showed maximum protease activity after 21 hours of cultivation in liquid media. Protease of C. bifermentans R 14-1-b displayed maximum activity at pH 7.5 and 50 oC with casein as substrate. Ions such as Cu2+, Co2+, and Zn2+ (5 mM) inhibited protease activity, whereas Zn2+ (5 mM) showed the strongest inhibition (87.50%). The protease was activated by Fe2+ ion at concentration 5 mM (322.50%). Mg2+ and Ca 2+ ions (5 mM) increase the protease activity slightly. The presence of chelating agent, such as Na2EDTA (1 mM and 5 mM) demonstrated the inhibitory effect of this enzyme, whereas Na2EDTA at concentration 5 mM showed the strongest inhibition (91.68%).

Key words: Clostridium, protease

=========================================================

Kemampuan Rizobia Bangkuang dari Berbagai Daerah di Indonesia dalam Menambat Nitrogen dan Meningkatkan Pertumbuhan Bangkuang

The Ability of Rhizobia Isolated from Yam Bean from Different Regions of Indonesia to Fix AtmosphericNitrogen and Increase the Growth of Yam Bean

ISWANDI ANAS & DINI MUFRIAH

Departemen Tanah, Faperta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680

Fifty-four yam bean (Pachyrhizus erosus) cultivated soils collected from different regions of Indonesia were used as media to grow a local variety (Bogor) of yam bean. Root nodules of yam bean only were formed at 38 (70%) soils. Seventy rhizobia isolates were collected from root nodules and root of yam bean. Four (5.7%) out of 70 rhizobia isolates belonged to Bradyrhizobium spp. Twenty-six rhizobia isolates were further selected for their ability to increase the growth of yam bean and to fix atmospheric nitrogen. Twenty-two (84.6%) of rhizobia isolates tested were able to improve the growth (height, upper part biomass and root biomass) of local variety of yam bean and the rest four rhizobia isolates (15.4%) were not. The increase in yam bean growth was due to the increase in atmospheric nitrogen fixation by rhizobia isolates. Three rhizobia isolates (B-26/NS, B-27a/NS, and B-55/CJ) were able to increase plant growth (73% to 141%) and to fix atmospheric nitrogen (161% to 256%) higher than the treatment received 70 ppm N fertilizer (Kontrol + N).

Key words: Yam bean (Pachyrhizus erosus), rhizobia, nitrogen fixation, Acetylene Reduction Assay (ARA)

=========================================================

Produksi dan Karakterisasi Parsial Protease Alkali Termostabil Bacillus thermoglucosidasius AF-01

Production and Partial Characterization of Thermostable Alkaline Protease from Bacillus thermoglucosidasius AF-01

ASRUL MUHAMAD FUAD1, RINI RAHMAWATI2 & NISA RACHMANIA MUBARIK2

1Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jalan Raya Bogor Km. 46, Cibinong 16911
2Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144

Bacillus thermoglucosidasius AF-01, isolated from a traditional tofu waste at Ciampea – Bogor, produced a potentially thermostable alkaline protease. Maximum activity reached 132 U/ml using glucose or starch as carbon source in shake flask fermentation. Its activity was higher than those produced by reference isolates such as B. licheniformis (113 U/ml) or B. stearothermophilus (84 U/ml). Protease production using Durham’s media reached its maximal production at 124.6 U/ml after 27 hours of fermentation in a 1l fermentor under controlled pH and temperature (pH 9.0 and 45 oC). Protease from AF-01 might be a metalloprotease. Its activity was inhibited by the presence of EDTA but was not inhibited by other protease inhibitors such as PMSF or PCMB. It was revealed that some metal ions such as Cu2+, Ca2+, Mg2+, or Zn2+ increased the enzyme activity, whereas some others such as K+, Na+, dan Mn2+ decreased its activity. The activity was not affected by Co2+ ion and the presence of SDS up to 0.4% (w/v). However, enzyme activity was reduced in the presence of 0.5% (w/v) of SDS. The optimum pH and temperature of the enzyme activity were 9.0 and 80 oC respectively. Thermostability assay revealed that the enzyme was relatively stable at 80 oC up to 12 hours in which the enzyme retained 60% of its initial activity. Bacterial identification showed that the isolate AF-01 was belong to Bacillus. Further identification employing the BIOLOG system revealed that the isolate had similarity (0.269) to B. thermoglucosidasius.

Key words: Alkaline protease, thermostable, metalloprotease, Bacillus thermoglucosidasius

=========================================================

Uji Kepekaan Helicobacter pylori Isolat Jakarta terhadap Berbagai Jenis Antibiotik

Susceptibility Test of Jakarta Isolates Helicobacter pylori Against Multiple Antibiotics

WIDYASARI KUMALA1, AZIZ RANI2 & BAMBANG HANDANA3

1Bagian Mikrobiologi, FK, Universitas Trisakti, Jalan Kyai Tapa No. 250, Jakarta 11440
2Bagian Penyakit Dalam Sub Bagian Gastroenterologi, FK, Universitas Indonesia, Jalan Diponegoro No. 71, Jakarta 10430
3Bagian Endoskopi Rumah Sakit Graha Medika, Jalan Raya Perjuangan Kav. 8, Jakarta 11530

Biopsies were done to eighty patients visiting Cipto Mangunkusumo National Centre Hospital and four private hospitals in Jakarta. Susceptibility test had been done to sixty isolates of Helicobacter pylori (H. pylori) which were taken from gastric mucous biopsy. Susceptibility test had been done to all of the isolates using Kirby Bauer method, which is recommended by National Committee for Clinical Laboratory Standards (NCCLS). The results showed that among the sixty isolates tested, there were 98% sensitivity to gatifloxacin, 95% to ciprofloxacin, 80% to amoxcycillin, 68% to clarithromycin, 63% to chloramphenicol, 60% to tetracyclin 58% to erithromycin, and 53% to ampicillin. There was no sensitivity to metronidazol. It appears that many H.pylori isolates begin to become resistant to antibiotics, especially to standardized used medical antibiotics. On the other hand quinolon group shows a satisfying high sensitivity, which can be used for further medical treatment and eradication of H. pylori.

Key words: Helicobacter pylori, susceptibility test, antibiotics

=========================================================

Pembentukan Magnetosom pada Bakteri

Magnetosome Formation in Bacteria

ARIS TRI WAHYUDI

Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
Tel./Fax. +62-251-345011, E-mail: aristri2003@yahoo.com

Magnetic bacteria orient and navigate along geomagnetic field lines and are widely distributed in freshwater and marine habitat. The ability of these bacteria to respond to magnetic fields is based on the presence of intracellular magnetosome, i.e. membrane-bound magnetic particle of either magnetite (Fe3O4) or greigite (Fe3S4). The magnetosome formation is achieved by tightly controlled processes which involves the accumulation of iron and deposition of the mineral particles at a specific location in the cell. Biomineralization of magnetosome may involve intricate processes, but the exact mechanisms is still poorly understood. This review focuses on the current knowledge about biochemical, physiological as well as molecular biological aspects of the biomineralization process of magnetic bacteria, especially in the magnetosome formation.

Key words: Magnetic bacteria, magnetosome, biomineralization

=========================================================

Potensi Isolat Bakteri Penghasil IAA dalam Peningkatan Pertumbuhan Kecambah Kacang Hijau pada Kondisi Hidroponik

The Potency of IAA Producing Bacteria Isolates on Promotion The Growth of Mungbean Sprout in Hydroponic Condition

I NYOMAN P. ARYANTHA*, DIAN P. LESTARI & NURMI PURI DWI PANGESTI

Kelompok Penelitian dan Pengembangan Ilmu Hayati, LPPM Institut Teknologi Bandung,
Gedung Litbang ITB Lt. VI, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132

Indole-3-acetic acid (IAA) is a key hormone for various aspects of plant growth and development. Liquid and powder products of five IAA producing bacteria (D2, D3 from bacilli group and KB, LE, LC from actinomycetes group) were investigated in semi in vivo assay towards mungbean (Vigna radiata) growth. Liquid fermentation product without cell separation was diluted 20, 40, and 60 times in sterilized water and dried powder was suspended in four concentrations i.e 0.01, 0.10, 1.00, and 3.00 g per 100 ml of water. Biological assay was conducted towards 3-day-old mungbean seedlings with hydroponic method in 20 ml tubes at room temperature and light intensity of 40 lux. The length of seedlings and root branching were assessed over 4 days. The data were analyzed by ANOVA. The powder product of KB at concentration rate of 0.01 g/100 ml (IAA = 0.021 ?g/ml) gave the highest seedling length (28.1 cm) that was significantly different (P < 0.05) compared with other treatments and control. For root branching, the liquid product of LC with 20 times dilution (IAA = 1.82 ?g/ml) gave the highest number (24.25) of branches that was significantly different (P < 0.05) compared with other treatments and control. These results indicate that these IAA-producing bacteria are potential to be used for promoting the growth of mungbean plant.

Key words: indole-3-acetic acid (IAA), Vigna radiata, Bacillus, Actinomycetes, soil bacteria, microbial phytohormone

=========================================================

Pemanfaatan Lumpur Instalasi Pengolahan Air Limbah: Studi Pendahuluan terhadap Pertumbuhan Vegetatif Jagung Manis dan Mikrob Tanah

Utilization of Sludge from Waste Water Treatment: Preliminary Study on the Vegetative Growth of Sweet Corn and Soil Microbes

REGINAWANTI HINDERSAH1, MARTHIN KALAY2 & BARTI SETIANI MUNTALIF3

1Jurusan Tanah, Faperta, Universitas Padjadjaran, Jalan Raya Jatinangor Km. 21, Bandung 40600
2Jurusan Budi Daya Pertanian, Faperta, Universitas Pattimura, Kampus Poka, Ambon 97233
3Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132

Waste water treatment plant in Bandung faced a problem of dry sludge accumulation. This sludge contains some plant nutricents. However, its utilization as media growth for crops production is limited by high concentration of heavy metals (Pb and Cd). Preliminary study has been carried out to asses its influence on the vegetative growth of sweet corn, the growth of total soil bacteria and N2 fixing bacteria Azotobacter sp., and the colonization of vesicular-arbuscular mycorrhiza (VAM). The pot experiment demonstrated that adding dry sludge until 75% increased sweet corn vegetative growth, however, the 50% addition increased the soil concentration of Pb and Cd more than Inceptisols. The soil condition depresed the growth of either total soil bacteria or Azotobacter sp., and decreased the ability of soil fungi to form VAM.

Key words: dry sludge, sweet corn, soil microbes

=========================================================

Isolasi dan Uji Kepekaan Isolat Klinis ORSA dan nonORSA terhadap Vankomisin dan Antibiotik Lainnya

Isolation and Susceptibility Tests Clinical Isolates of ORSA and nonORSA to Vancomycin and Other Antibibitics

HERA NOVIANA

Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Unika Atma Jaya, Jalan Pluit Raya No. 2, Jakarta 14440 Tel. +62-21-6694366 pes 254, Fax. +62-21-6606123, E-mail: hnoviana@mail.com

Oxacillin-resistant Staphylococcus aureus (ORSA) or methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) has become an important nosocomial pathogen in many countries. Vancomycin is currently the treatment of choice for serious infections caused by ORSA. However, with the emergence of these resistant isolates to vancomycin and other glycopeptides underscores the need other drugs that can provide an alternative antimicrobial agents for treatment of multi-drug-resistant S. aureus. The aim of the research is to monitor the effectiveness of Vancomycin and other antibiotics for infection caused by S. aureus. During May 18, 2000 to September 22, 2003 specimens were collected from patients at Atmajaya Hospital. The bacterial isolates were identified with biochemical reaction using Microbact and susceptibility tests were performed by a standard NCCLS method. Sixty-one S. aureus were isolated from many specimen and restricted into several categories: (i) ORSA (29 strains), the group included ORSA-VRSA (26 strains) and ORSA-VSSA (3 strains); (ii) nonORSA, the group included nonORSA-VRSA (30 strains) and nonORSA-VSSA (2 strains). ORSA-VRSA were multi-resistant to antibiotics. However, only meropenem was the choice for the infection caused by these group of ORSA-VRSA bacteria. ORSA-VSSA also were multi-resistant to antibiotics and vancomycin was sensitively intermediate instead. Both nonORSA and VRSA, as well as VSSA, are multi-sensitive to antibiotics especially to cephalosporin. In conclusion, if S. aureus have already resistant to oxacillin and vancomycin (ORSA-VRSA), they also will have developed other resistance to other antimicrobial drugs, so it will more difficult to treat infection caused by ORSA-VRSA.

Key words: ORSA (oxacillin-resistant S. aureus), VRSA (vancomycin-resistant S. aureus), VSSA (vancomycin-sensitive S. aureus)

=========================================================

Pectinesterase Synthesis by Aspergillus niger Using Sugar Alcohol and Organic Acid Substrates

TRIWIBOWO YUWONO* & KOMARYATI DIAT ANGGERAWATI

Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

A study has been conducted to determine the mode of pectinesterase synthesis in Aspergillus niger using non-carbohydrate carbon sources. The carbon sources used were sugar alcohol (mannitol and sorbitol) and organic acids (fumaric acid, citric acid, and malonic acid). The study demonstrated that pectinesterase was not synthesised when mannitol and sorbitol were used as carbon sources, suggesting that the mode of pectinesterase synthesis in A. niger is inductive. This was evidenced by the lack of methanol as a result of pectin hidrolysis by the filtrates following HPLC analysis. The alcohol substrates, however, were utilisable as carbon sources for growth. Organic acids, on the other hand, were used as carbon sources for growth as well as for inducing the synthesis of pectinesterase. The level of pectinesterase synthesis using organic acids as carbon sources was lower than the level of synthesis using pectin.

Key words: Aspergillus niger, pectinesterase, sugar alcohol, organic acids

=========================================================

Kemampuan Bakteri Galur Lokal Tunggal dan Galur Campuran untuk Merombak Metidation

The Capacity of a Local Isolate and the Mixed Strains of Bacteria for Methidation Degradation

EDDY JUSUF

Pusat Penelitian Bioteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jalan Raya Bogor Km. 46, Cibinong 16911
Tel. +62-21-8754587, Fax. +62-21-8754588, E-mail: eddy-jusuf@indo.net.id

The work was performed for testing the potency of a local isolate to degrade methidation, for bioremediation of the polluted soil. To evaluate its capacity, the mixed cultures of five bacterial strains obtained from culture collection of UPLB: Pseudomonas diminuta, P. putida strain 1503, P. putida strain 1504, P. putida strain 1506, and Bacillus cereus strain 1337 was used. Inoculants of single and mixed culture were made in composted manure and introduced into 4 kg of agricultural soil from Cibinong area containing 1200 ppm of methidation and incubated for 21 days. Analysis of the methidation residu from the treated soil was performed using HPLC with UV detector at 254 nm wavelength. The result showed that indigenous bacteria detected have played an important role in the degradation process by decreasing of 25.1% methidation in non-inoculated soil. Natural soil inoculated by the mixed cultures showed higher capacity by decreasing 50.6% of methidation whereas single local isolate 3b resulted 47.6%, but inoculation of sterilized soil by both types of cultures didn’t show any degradation activity. Either single isolate or mixed strains raised the capacity of methidation degradation in the soil so as indigenous microbes.

Key words: methidation degaradation , single and mixed cultures, soil bioremediation

=========================================================

Produksi Senyawa Antimikrob dari Mobe dan Aplikasinya sebagai Bahan Pengawet Pangan

Production of Antimicrobial Compound from Mobe and Its Application as Food Preservatives

SEDARNAWATI YASNI1, YENNY ELISABETH2, ELVIRA SYAMSIR1 & ADOLF PARHUSIP3

1Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
2Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Jalan Brig. Jend. Katamso No. 5, Medan 20164
3Jurusan Teknologi Pertanian, Faperta, Unika St. Thomas, Jalan Setia Budi No. 479F Tj. Sari, Medan 20132

Mobe (Ficus sp.) is a spacy, that is popular in North Sumatera. The effect of mobe as antimicrobial on food pathogen bacteria was evaluated. Degree of maturity of the mobe fruit did not affect the antimicrobial activity against some tested bacteria and molds. Ethyl acetate and methanol extraction of mobe using maceration technique resulted in high antimicrobial activities. Ethyl acetate extract of mobe could inhibit the tested bacteria at lower concentration for less than or equal to 0.25% (w/v), except for B. cereus which required higher concentration of 0.75% (w/v). MIC value of the methanol extract was less than or equal to 0.75% w/v for all tested bacteria and molds, except for B. cereus which required higher MIC (Minimum Inhibitory Concentration) at concentration more than 0.75% w/v. The effectiveness of the application of mobe extract was determined by analyzing the TPC (Total Plate Count), TVN (Total Volatile Nitrogen), and TMA (Trimethylamine) contents of the fish fillet during storage. Application of the mobe extract on fish fillet by dipping was the most effective method while dispersing method was not effective and spraying was effective only for six hours of chill storage.

Key words: Mobe (Ficus sp.), extract, fraction, minimum inhibitory concentration (MIC), antimicrobial activity

=========================================================

Deteksi Dini Infeksi Virus Nipah dengan Uji Enzyme Linked Immunoassay pada Babi di Indonesia

Early Detection of Nipah Virus Infection Using Enzyme Linked Immunoassay in Pigs in Indonesia

INDRAWATI SENDOW1, CHRIS MORRISSY2, TATTY SYAFRIATI1, DARMINTO1 & PETER DANIELS2

1Research Institute for Veterinary Science, P.O. Box. 151, Bogor
2Australian Animal Health Laboratory, Private Bag 3, Geelong, Victoria, Australia

Nipah is an exotic, zoonotic and contagious viral disease which infect pigs and humans. Using ELISA test, serological survey was conducted to gain the information of the presence of Nipah infection in pig in Indonesia. A total of 1471 pig sera collected from North Sumatera, Riau, North Sulawesi and Java were tested using inactivated Nipah antigen and the results indicated that no antibodies against Nipah virus was detected. In order to validate and to confirm the results recorded, 384 pig sera were send to Australian Animal Health Laboratory (AAHL) and were tested using serum neutralization test. Based on the same ELISA results and standardised ELISA techniques in both laboratories, it was concluded that Nipah ELISA test can be done at Balitvet laboratory and applied in Indonesia. The test is needed as a part of technological transfer, as well as to support the Government policy in order to anticipate the entering of Nipah virus infection.

Key words: virus nipah, serology, ELISA test, pigs

=========================================================

Stabilitas Protease Logam Netral Mikrob Mirip Termolisin terhadap Panas

Thermostabily of Thermolysin Like Microbial Neutral Metaloprotease

BUDIASIH WAHYUNTARI

Bidang Teknologi Biokatalis, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi, BPP Teknologi, Jalan M.H. Thamrin 8, Gedung BPPT II, lantai 15, Jakarta 10340
Tel. +62-21-3169509/7560536, Fax. +62-21-3169510/7560536, E-mail: budiasih@webmail.bppt.go.id

Termolysin is a neutral metaloprotease produced by Bacillus thermoproteolyticus. The enzyme is made up of a single chain of polypeptides consists of 300-316 amino acid residues that forms two domains. N end domain (amino acid residue 1-157) is mainly in the form of ?-pleated sheet and C end domain (amino acid residues 155-316) is ? helix shape. Both domains are connected by ? helix chain (amino acid residues 136-152) where some of the residues are important for the catalytic action of the enzyme. All neutral metaloproteases have one zinc atom that bound to their active sites and 2-4 calcium ions in each enzyme molecule that play important role on their thermostability. C end domain hardly plays role on the enzyme thermostability, on the other hand, amino acid Phe63 and Pro69 in N domain which is on the surface region which exposed to solvent might undergo early unfolding. Unfolding protein chain leads to its autolysis which responsible to thermal inactivation of the enzyme.

Key words: neutral metaloprotease, thermolysin, thermostability

=========================================================

Stabilitas Protease Logam Netral Mikrob Mirip Termolisin terhadap Panas

Thermostabily of Thermolysin Like Microbial Neutral Metaloprotease

BUDIASIH WAHYUNTARI

Bidang Teknologi Biokatalis, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi, BPP Teknologi, Jalan M.H. Thamrin 8, Gedung BPPT II, lantai 15, Jakarta 10340
Tel. +62-21-3169509/7560536, Fax. +62-21-3169510/7560536, E-mail: budiasih@webmail.bppt.go.id

Termolysin is a neutral metaloprotease produced by Bacillus thermoproteolyticus. The enzyme is made up of a single chain of polypeptides consists of 300-316 amino acid residues that forms two domains. N end domain (amino acid residue 1-157) is mainly in the form of ?-pleated sheet and C end domain (amino acid residues 155-316) is ? helix shape. Both domains are connected by ? helix chain (amino acid residues 136-152) where some of the residues are important for the catalytic action of the enzyme. All neutral metaloproteases have one zinc atom that bound to their active sites and 2-4 calcium ions in each enzyme molecule that play important role on their thermostability. C end domain hardly plays role on the enzyme thermostability, on the other hand, amino acid Phe63 and Pro69 in N domain which is on the surface region which exposed to solvent might undergo early unfolding. Unfolding protein chain leads to its autolysis which responsible to thermal inactivation of the enzyme.

Key words: neutral metaloprotease, thermolysin, thermostability

=========================================================

Potensi Isolat Bakteri dari Kepiting Batu untuk Menghasilkan Minyak Kelapa secara Fermentasi

Bacterial Isolates of Mud-Crab and Their Potential to Produce Coconut Oil

DWI SURYANTO*, SITI KHADIJAH NASUTION & YURNALIZA

Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Sumatera Utara, Jalan Bioteknologi No. 1, Padang Bulan, Medan 20155

Nine bacteria isolated from the mud-crab (Grapsus sp.) from Pancur Batu, Deli Serdang, North Sumatra were identified and tested to produce coconut oil fermentatively. The isolates were grown individually in coconut milk cream media. Isolate SKN06 was able to produce coconut oil comparable to Saccharomyces cerevisiae and fleshy grinded of mud-crab, with the oil yields were 38.5 ml, 40 ml, and 37.5 ml, respectively. This means that isolate SKN06 has similar potential in producing coconut oil fermentatively compared to that of S. cerevisiae. The fatty acid index and water contents of the oil ranged from 0.56-1.23/g oil and 0.07-0.42%, respectively.

Key words: mud-crab (Grapsus sp.), coconut oil, fermentation

=========================================================

Populasi Kapang Pascapanen dan Kandungan Aflatoksin pada Produk Olahan Kacang Tanah

Population of Storage Mold and Aflatoxin Content of Processed Peanut Products

LILIEANNY1, OKKY SETYAWATI DHARMAPUTRA1,2 & ASMARINA SETYANINGSIH RAHAYU PUTRI2

1Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2SEAMEO Biotrop, Jalan Raya Tajur Km. 6, Kotak Pos 116, Bogor 16001

This study was a survey to observe moisture content, population of storage mold, and aflatoxin content of peanut processed products, together with physical quality of peanut kernels. A total of 88 samples of roasted peanuts with skin pod, flour-coated peanuts, roasted peanuts without skin pod, bumbu pecel (dry peanut sauce), and enting-enting gepuk (peanut sweet) were collected from several factories, supermarkets, and traditional markets in Bogor, Malang, Pati, and Yogyakarta. The moisture contents of roasted peanuts with skin pod, flour-coated peanuts, roasted peanuts without skin pod and enting-enting gepuk were about 3% those were lower than that of bumbu pecel which was 10.5%. The percentages of intact kernels, shrivelled and damaged kernels in roasted peanuts with skin pod and roasted peanuts without skin pod were 79.1, 13.1, 7.4% and 83.6, 4.5, 11.8%, respectively. The percentages of intact kernels and shrivelled kernels in flour-coated peanuts were 93.1 and 6.8%, respectively. Damaged kernels were not found in flour-coated peanuts. The most often isolated molds in processed peanut products were as follows: Penicillium citrinum in roasted peanuts with skin pod was 70.2% of the samples; Cladosporium cladosporioides in flour-coated peanuts was 63.6%; Aspergillus penicillioides, C. cladosporioides, and Pestalotiopsis guepinii in roasted peanuts without skin pod were 66.7, 66.7, and 66.7%, respectively; both A. flavus and Eurotium chevalieri in bumbu pecel were 50%, respectively; both A. flavus and P. citrinum in enting-enting gepuk were 100%, respectively. The mold population in roasted peanuts with skin pod, flour-coated peanuts, roasted peanuts without skin pod, bumbu pecel and enting-enting gepuk were 30, 26, 14, 8, and 48 cfu/g dry weight, respectively. Roasted peanuts with skin pod, flour-coated peanuts, bumbu pecel and enting-enting gepuk had aflatoxins B1 and B2; B1 and G1; B1, B2 and G1; and aflatoxins B1 and B2, respectively. Their total aflatoxins contents were 1.8, 5.2, 41.6, and 20.8 ppb, respectively. Aflatoxin was not detected in roasted peanuts without skin pod.

Key words: aflatoxin, mold, peanuts

=========================================================

Karakterisasi Kitosanase Ekstraseluler dari Bakteri Asal Air dan Tanah di Kota Matsue, Jepang dan Dibandingkan dengan Kitosanase dari Matsuebacter chitosanotabidus 3001

Characterization of Extracellular Chitosanase of Bacteria from Water and Soil at Matsue City, Japan Compared with Matsuebacter chitosanotabidus 3001

MARIA ENDO MAHATA1, YUN CHOONG SOO2, ABDI DHARMA3, IRSAN RYANTO1, YOSE RIZAL1 & MAKOTO KAWAMUKAI2

1Program Studi Ilmu-Ilmu Pertanian Pemusatan Peternakan, Pascasarjana, Universitas Andalas, Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163;
2Department of Biochemistry and Biotechnology, Faculty of Life and Environmental Science, Shimane University, Japan 690-8504;
3Program Studi Ilmu Kimia, Pascasarjana, Universitas Andalas, Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

One hundred twenty isolates of bacteria as chitosanase producer were isolated from water and soil around Matsue city, Japan. Four isolates were analyzed for chitosanase activity, and 2 strains among them (97 and 99) have shown high chitosanase activity compared with Matsuebacter chitosanotabidus 3001, and then their enzymes were characterized. Chitosanases from 97 and 99 like M. chitosanotabidus 3001 were stable on temperature between 20-50 oC, and the chitosanase from 99 and M. chitosanotabidus 3001 showed optimum temperature on 50 oC while that from 97 on 40 oC. Optimum pH value of chitosanase from 97 and 99 were 4 and 5, respectively and from M. chitosanotabidus 3001 was observed at pH 7. Chitosanase from 99 and M. chitosanotabidus 3001 were stable on pH range between 4-8 and from 97 on pH between 4-9. The enzyme of strain 97 likes M. chitosanotabidus 3001 was a chitosanase that can digest only chitosan, while that from strain 99 can hidrolyze chitosan and colloidal chitin.

Key words: chitosanase, characterization, water and soil bacteria

=========================================================

Identifikasi Bakteri Bukan Penghasil Asam Laktat yang Berasosiasi dengan Tempoyak (Durian Fermentasi)

Identification of Non-Lactic Acid Bacteria Associated with Tempoyak (Fermented Durian)

NETI YULIANA

Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Faperta, Universitas Lampung, Jalan Sumantri Brojonegoro 1, Bandar Lampung 35145; Tel. +62-721-747105, Fax. +62-721-783682, E-mail: netiyuliana@yahoo.com

The presence of Bacillus sp. as food contaminant in tempoyak (fermented durian) has been previously indicated, although none of the detail species was really known. Biochemical assay and microscopic observation, including scanning electron microscopy were employed to pinpoint the associated Bacillus. We identified for the first time that Bacillus megaterium may be associated with lactic acid bacteria and therefore, being involved in the fermentation process.

Key words: tempoyak, Bacillus megaterium

=========================================================

Identifikasi Geminivirus yang Menginfeksi Tomat Berdasarkan pada Teknik Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism

Identification of Geminivirus Infecting Tomato Based on Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism

NOOR AIDAWATI1,3, SRI HENDRASTUTI HIDAYAT1, RUSMILAH SUSENO1, PURNAMA HIDAYAT1 & SRIANI SUJIPRIHATI2

1Departemen Proteksi Tanaman;
2Departemen Agronomi dan Holtikultura, Faperta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
3Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Faperta, Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Jenderal A. Yani Km. 36, Banjarbaru 70714

Geminivirus is an important virus that can cause severe damage on various crop. Infection of geminiviruses, mediated through its insect vector Bemisia tabaci Genn., has been reported to cause significant loss on tomato industry in South America. Availability of detection and identification method with high accuracy and sensitivity is very critical for early warning system of the geminivirus disease. This research is conducted to develop an identification method to differentiate isolates of geminivirus based on PCR-RFLP technique. Using specific primers, PAL 1v 1978 and PAR 1c 715, DNA of geminivirus was successfully amplified from Central Java (Sawangan and Boyolali), DIY (Kaliurang and Kulonprogo), and West Java (Barusireum). Amplified viral DNA with the size of ? 1.6 kb was then subjected to restriction enzyme (BamHI, EcoRI, HindIII, and PstI). Based on the restriction pattern, geminivirus isolates from Java can be compared. Isolates from Sawangan were similar with those from Kaliurang. Both isolates were different from those of Boyolali, Kulonprogo, and Barusireum, whereas the last three isolates were different from each other. Using NTSYS PC 2.1 it can be concluded that the geminivirus infecting tomato in Java can be differentiated into two groups.

Key words: geminivirus, PCR-RFLP

=========================================================

Isolasi Virus Palyam dari Sapi Sentinel di Timor Barat, Indonesia

Isolation of a Palyam Group Viruses from Sentinel

INDRAWATI SENDOW

Bagian Virologi, Balai Penelitian Veteriner, P.O. Box. 151, Jalan R.E. Martadinata No. 30, Bogor 15114 Tel. +62-251-331048, E-mail: i.sendow@balitvet.org

Palyam is one of arboviral disease which infected pregnant cow and caused abortion. To obtain the Palyam virus isolate, a group of sentinel cattle was established at Kupang, West Timor. A weekly heparinised blood was collected from Vena jugular for viral isolation. A total of 486 heparinesed blood were inoculated into baby hamster kidney (BHK-21) monolayer in roller tubes. Three times blind passages in BHK-21 was carried out and cythopathic effect (CPE) was observed daily before considered as negative and discarded. When CPE was observed, the inoculum considered containing viral isolate. Six isolates produced CPE, and further identification using agar gel immunodiffusion test against Palyam antisera was conducted. The result indicated that two isolates reacted with Palyam antisera. The isolates were further confirmed at Onderstepoort Laboratory, South Africa.

Key words: Palyam, isolation, cattle, identification

=========================================================

Optimasi Media Tumbuh untuk Peningkatan Aktivitas dan Isolasi Enzim Superoksida Dismutase dari Biomassa Spirulina platensis

Growth Medium Optimization to Increase Activity and Isolation of Superoxide Dismutase from Biomass of Spirulina platensis

TRI PANJI1,2, MARINI WIJAYANTI3, SUHARYANTO1 & MARIA BINTANG4

1Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Jalan Taman Kencana No. 1, Bogor 16151
2Departemen Kimia, FMIPA, Universitas Pakuan, Jalan Pakuan P.O. Box. 452, Bogor 16161
3Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
4Departemen Kimia, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144

Spirulina platensis is a blue-green microalga or cyanobacteria producing several bioactive compounds such as superoxide dismutase (SOD) which is important in pharmaceutical and cosmetic industries as an antioxidant for free radical scavenger. To produce SOD in S. platensis biomass efficiently, it is necessary to define an optimum medium composition consisting of mineral salts and organic complex from serum latex. The alga was cultured on medium containing latex serum with and without mineral suplementation, and on a synthetic medium of Aiba and Ogawa as a reference. The culture was illuminated with 20 W TL lamp at room temperature (28-32 oC) for two months. The growth was observed by measuring absorbance at ? 480 nm, while SOD activity was determinated by measuring red color of azo dye stuff at ? 540 nm equivalent to SOD inhibition of hydroxylamine oxidation. Research result showed that the best growth was obtained on serum latex medium, followed by serum latex with mineral supplementation, and synthetic medium. A maximum SOD activity in biomass was achieved in S. platensis culturing on serum latex medium illuminated with 20 W TL lamp at room temperature (28-32 oC) for 28-days period. The SOD activity of the microalga was the same as SOD activity in imported Spirulina biomass. The SOD from S. platensis was possibly Zn-SOD isoform type since it is quite sensitive against cyanide and its molecule contains higher concentration of Zn compared to that of Mn, Fe, and Cu. Sensitivity to cyanide was higher in the purified product compared to that in crude extract.

Key words: microalga, Spirulina platensis, serum latex, superoxide dismutase

=========================================================

Tingkat Kedinian Infeksi Acaulospora tuberculata dan Gigaspora margarita pada Bibit Kelapa Sawit

Earliest Level of Acaulospora tuberculata and Gigaspora margarita Infection on Oil Palm Seedling

HAPPY WIDIASTUTI1,2, NAMPIAH SUKARNO1, LATIFAH KOSIM DARUSMAN1, DIDIEK HADJAR GOENADI2, SALLY SMITH3 & EDI GUHARDJA1

1FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
2Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Jalan Taman Kencana No. 1, Bogor 16151
3School of Earth and Environmental Sciences, The University of Adelaide, Australia

Earliest level of infection of Acaulospora tuberculata and Gigaspora margarita in oil palm Elaeis guineensis, Jacq seedling was studied. A glasshouse experiment was conducted using polybag (10 x 10 cm) containing sterilized sand as medium. Inoculation was conducted by inoculating sorghum before the oil palm seedling. Four treatments assessed were combination of AM fungi species (A. tuberculata and G. margarita) and elimination of endosperm (with or without) with four replications each. Endosperm elimination was conducted in oil palm with two leaves. Observation of AM fungal infection was done every week during 14 weeks. The result showed that A. tuberculata and G. margarita infection in oil palm seedling could be observed after seven week of inoculation. The infection process was shortened one week in the oil palm seedling inoculated with G. margarita eliminated endosperm in all type of root. Infection of AM fungi in secondary root was higher compared to those in primary root. AM fungal structure observed was apresorium, internally hyphae, coiled hyphae, and arbuscle. Vesicle was observed only in oil palm root inoculated with A. tuberculata.

Key words: Elaeis guineensis, earliest level of infection, Acaulospora tuberculata, Gigaspora margarita

=========================================================

Karakterisasi Protease Ekstraseluler Clostridium litusburense Me1-3 Asal Danau Meraran dari Nusa Tenggara

Characterization of Extracellular Protease Produced by Clostridium Me1-3 from Meraran Lake in East Nusa Tenggara

ANJA MERYANDINI

Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144 Tel. +62-251-377169, E-mail: ameryandini@yahoo.com

Clostridium lituseburense Me1-3 isolated from Meraran lake in East Nusa Tenggara was identified based on its 16S rRNA sequence analysis. This isolate produced maximum protease activity after 21 hours of cultivation in liquid media. The protease displayed maximum hydrolitic activity at 30 oC and pH 7.5. Divalent ion Co2+ at 5 mM concentration increased enzyme activity to approximately 300%.

Key words: Clostridium lituseburense, protease

=========================================================

Analisis Zimogram a-Amilase Mikrob Toleran Basa

Zymogram Analysis of a-Amylases from Alkaline Tolerant Microbes

NISA RACHMANIA MUBARIK

Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
Tel. +62-251-345011, E-mail: riknisa@telkom.net

Amylolyticalkaline tolerant microbes identified as Aspergillus sydowii K10, A. versicolor L30, and Bacillus firmus KH.9.4, were isolated from tapioca waste liquid in Bogor, produced high a-amylase activity. Sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis of the enzyme produced by each of the microbes yields several bands of proteins. Zymographic analysis showed that the enzyme of A. sydowii K10 had two bands of a-amylases, those from A. versicolor L30 and B. firmus KH.9.4 had one band, respectively. The molecular weight of a-amylases from A. sydowii K10 were 16.2 kD and 56.5 kD, while those from A. versicolor L30 and B. firmus KH.9.4 were 23.5 kD and 63.8 kD, respectively.

Key words: a-amylase, zymogram, alkaline tolerant, Aspergillus sydowii, Aspergillus versicolor, Bacillus firmus

=========================================================

Stimulasi Glutamat terhadap Produksi Lovastatin oleh Aspergillus terreus

Glutamate Stimulation on the Production of Lovastatin by Aspergillus terreus

1Balai Pengkajian Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Gedung 630, Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310; 2Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta 10320; 3Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680

The influence of nitrogen sources for lovastatin production by Aspergillus terreus employing glucose-skim milk as a carbon source was studied. Nitrogen sources used in these experiments were KNO3, urea, soy flour, and monosodium glutamate. Experiments using all media combination were conducted in 250 ml Erlenmeyer flask, incubated at 280C under shaking at 330 rpm for nine days. The results showed that nitrogen sources had significant effect on lovastatin production by Aspergillus terreus. Highest lovastatin production (772 ppm) was achieved when monosodium glutamate at 10 g l-1used as nitrogen source, in combination with glucose 45 g l-1 and skim milk 20 g l-1.

Key words: lovastatin, nitrogen sources, Aspergillus terreus

=========================================================

Deteksi Xanthomonas axonopodis pv. glycines pada Kedelai dengan Teknik ELISA

Detection of Xanthomonas axonopodis pv. glycines on Soybean Employing ELISA Technique

1Departemen Proteksi Tanaman, Faperta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
2Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144

Detection of Xanthomonas axonopodis pv. glycines, the causal of bacterial pustule disease in soybean, is usually conducted by close examination of disease symptoms and culturing the pathogen, which are laborius and relatively slow. The objective of this study was to produce and evaluate polyclonal antisera using ELISA technique for detection of X. axonopodis pv. glycines from isolated bacterial culture and diseased soybean leaves. A polyclonal antisera (designated as APYR32 and APJA4) was produced by immunizing intravenously a three month-old rabbit with inactivated cell of X. axonopodis pv. glycines YR32 and JA4 at concentration of 108 cell ml-1. The antiserum was tested for its sensitivity, specifity and aplicability to diagnose the presence of X. axonopodis pv. glycines on soybean employing inderect-ELISA technique. The results showed that indirect ELISA technigue was sensitive in detecting as few as 103 cell ml-1 at a titre of 1:2000. Polyclonal antisera YR32 reacted with all X. axonopodis pv. glycines isolates from culture with different both location and host variety, although it also showed some cross reactivity with X. campestris pv. campestris at 104 cell ml-1. This technique would be useful to detect bacterial pustule disease, since APYR32 only reacted with natural or artificially infected soybean leaves but not with healthy leaves or leaves infected Pseudomonas syringae pv. glycinea.

Key words: Xanthomonas axonopodis pv. glycines, polyclonal antisera, ELISA

=========================================================

Perkembangan Spora Acaulospora foveata

The Development of Acaulospora foveata’s Spore

1Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor 16122 2Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144

The development of Acaulospora foveata from trap culture and monospecific culture which was inoculated with seedlings of Pueraria phaseoloides from iwul (Orania sylvicola) rhizosphere is presented. A. foveata was found mojarity associated with iwul which is a dominant species in Dungus Iwul Nature Reserve, a remnant lowland rainforest in West Java. The result from trap culture and monospecific culture showed the spore development of a young spore which was produced from the neck of the hyphal terminus up to a mature spore. Trap culture also showed the development of dual spores produced from the neck of a hyphal terminus, but it was not observed in the monospecific culture.

Key words: Acaulospora foveata, spore

=========================================================

Analisis Fragmen Gen HA1 Virus Avian Influenza yang Menginfeksi Sebuah Breeding Farm pada Awal Tahun 2004 dan 2005 di Kabupaten Sukabumi

Analisys of HA1 Gene Fragment of Avian Influenza Virus that Infected Breeding Farm in Early 2004 and 2005 in Sukabumi District

Balai Penelitian Veteriner, Jalan R.E. Martadinata No. 30, Bogor 15114
Tel. +62-251-331048, Fax. +62-251-336425, E-mail: nlpdharmayanti@yahoo.com

In early 2004 and 2005, H5N1 influenza viruses emerged among chickens in Breeding Farm in Sukabumi. Breeding farm is one of area target to eradicate of AI in Indoensia. Therefore, we isolated the virus in the field and conducted the homology of the viruses that infected this breeding in fragment HA1 gene. Homology and phylogenetic analyses showed that isolate from breeding farm in 2004 (A/Chicken/West Java/Smi-BF/2004) has homology 92% and there were defferences if compared with isolete from 2005 that infected the breeding farm (A/Chicken/West Java/Smi-27M/2005).

Key words: HA1 gene fragment, avian influenza, breeding farm

=========================================================

Konstruksi Pustaka Genom Magnetospirillum magneticum AMB-1 dan Penapisan Gen yang Terlibat dalam Sintesis Magnetosom

Construction of Genomic Library of Magnetospirillum magneticum AMB-1 and Screening of Genes Involved in Magnetosome Synthesis

Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144
Tel./Fax. +62-251-345011, E-mail: aristri2003@yahoo.com

Magnetospirillum magneticum AMB-1 is a fresh-water magnetic bacterium capable of synthesizing membrane-bound magnetic particle, called magnetosome, under microaerobic conditions. To screen and isolate genes involved in magnetosome synthesis, genomic library of M. magneticum AMB-1 was constructed using pJRD215 as a cosmid vector. The genomic DNA of AMB-1 was partially digested with Sau3AI and ligated into BamHI digestion of pJRD215. The ligated DNA was packaged into bacteriophage ??particle and subsequently infected into Escherichia coli NM554 as a host strain. A thousand and five colonies of NM554 library carrying the recombinant cosmids were obtained that grew on luria agar supplemented with kanamycin (25 ?g ml-1) and streptomycin (50 ?g ml-1). Screening of the library by colony hybridization revealed that the library carried all DNA sequences or genes involved in magnetosome synthesis used as probes. The average of the genome size inserted in the library was approximately 10-40 kb. These large fragments would facilitate complementation analysis of genes involved in magnetosome synthesis in this forming magnetic bacterium.

Key words: Magnetospirillum magneticum AMB-1, Genomic library, Cloning, Colony hybridization

=========================================================

Kelimpahan Bakteri Filosfer pada Beberapa Sayuran Lalaban

The Abundance of Phyllosphere Bacteria Isolated from Some Indonesian Fresh Leafy Salad (Lalaban)

Departemen Biologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor, Jalan Raya Pajajaran, Bogor 16144

Several phyllosphere bacteria were investigated using plate count method. Pink-pigmented facultative methylotroph (PPFM), phyllosphere, streptomycin resistant, and endospore-forming bacteria were isolated and counted from four Indonesian lalaban such as poh-pohan, lettuce, basil, and bean sprout. This research shows the number of bacteria present on those leafy salads. The number of PPFM bacteria was approximately 8.75 x 102 to 6.62 x 104 cfu g-1. Total phyllosphere bacteria was 1.07 to 2.90 x 108 cfu g-1, while streptomycin resistant bacteria was 4.63 x 104 to 1.35 x 105 cfu g-1, and endospore-forming bacteria was 5.68 x 102 to 6.67 x 103 cfu g-1. The number of PPFM was relatively lower compared to the other group of bacteria analyzed. However, these phyllosphere bacteria might contribute to the quality of lalaban diet as source of pyrroloquinoline quinone (PQQ), a novel vitamin which can act as antistroke or antioxidant.

Key words: phyllosphere bacteria, PPFM, Indonesian leafy salad

=========================================================

Preparasi Sel Kering Lactobacillus sp. Dad 13 dan Kestabilannya sebagai Bubuk robiotik

Preparation of Dried Cell of Lactobacillus sp. Dad 13 and It’s Stability as Probiotic Powder

SRI HARTATI1 & ENI HARMAYANI2

1Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Faperta, Universitas Veteran Bangun Nusantara
Jalan Letjend S. Humardani No. 1, Sukoharjo 57521
2Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fateta, Universitas Gadjah Mada,
Jalan Sosio Yustisia, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Lactobacillus sp. Dad 13 is an indigenous bacterium isolated from buffalo milk fermented (“dadih�) which has potential properties to reduce cholesterol. For the developments of probiotic instant drinks, the application of dried Lactobacillus sp. Dad 13 had been studied. The purposes of the study were to prepare a dried Lactobacillus sp. Dad 13 and to study its properties to assimilate cholesterol and to deconjugate bile salts during storage. Preparation of dried cells was done by spray drying with various filler (skim, maltodextrin and rice flour). The dried cells were selected then stored at room temperature and 4-6oC using vacum and nonvacum packaging. The cell viability, cholesterol assimilation and bile salt deconjugation were analysed every week for two months. The resuls of the study indicated that the population cell of Lactobacillus in skim, maltodextrin and rice flour filler were not significantly different at the number of 1.76 x 1010, 6.3 x 1010, dan 2.62 x 1010 CFU g1 respectively. The highest yield of cell dried was obtained using maltodextrin. The cell viability and bile salt deconjugation of Lactobacillus in maltodextrin filter were stable after storage for two months in refrigerator temperature. The cholesterol assimilation of the dried cell was remain the same after one month storage at 4-6oC.

Key words: Lactobacillus sp., probiotic, dried cell, stability, cholesterol

=========================================================

Produksi Asam Hialuronat oleh Streptococcus zooepidemicus ATCC 39920

Production of Hyaluronic Acid by Streptococcus zooepidemicus ATCC 39920

ERLIZA NOOR1*, EFRIDA MARTIUS2, FAKHRINA FAHMA3 & ENDANG GUMBIRA SA’ID

1Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fateta, Institut Pertanian Bogor, Kampus Darmaga, Bogor 16680
2Balai Pengkajian Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,
Gedung Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang 15310
3Departemen Teknologi Industri, Universitas Negeri Sebelas Maret,
Jalan Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126

Hyaluronic Acid (HA) produced for pharmaceuticals, medical, and cosmetic industries is a high molecular weight of linear polysaccharide. HA, the cementing substance in connective tissue can be extracted from rooster comb and umbilical cord. More recently, the HA production has been enhanced by microbial cultivation. The objective of this research was to optimize the HA production by using media containing different concentrations of Na2HPO4•2H2O; KH2PO4•7H2O; MgSO4•7H2O and amino acids. The effects of temperature (33, 37, and 40oC) and agitation were also observed in batch cultures. Result show that medium containing high concentration of Na2HPO4•2H2O and complete amino acids gave high viscosity. The HA production was relatively better in the agitated culture than that in without agitation. The highest production of 9.7 g l-1 was observed in the culture at 100 rpm and 37oC.

Key words: hyaluronic acid, Streptococcus zooepidemicus

=========================================================

Perbaikan Pertumbuhan Bibit Sengon pada Tanah Mineral Masam dengan Inokulan Rhizobium

Improvement of Paraserianthes Seedling Growth on Acid Mineral Soils by Using Rhizobium Inocula

DENI ELFIATI1‡, ISWANDI ANAS1* & LUKMAN GUNARTO2

1Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Faperta, Institut Pertanian Bogor
Kampus Darmaga, Bogor 16680
2Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian,
Jalan Tentara Pelajar No. 3A, Bogor 16111

The main problems using acid mineral soil for agriculture are low in fertility, high in exchangable Al and high P-retention. Soil acidity inhibits plant growth, Rhizobium growth and root nodule formation. Rhizobium were isolated from acid mineral soils and selected for their effectivities to increase the growth of Paraserianthes seedlings. The results of experiment showed that inoculation of Paraserianthes seedlings with acid tolerance Rhizobium improved the quality of the Paraserianthes seedling. The best improvement of Paraserianthes seedling growth planted on Ultisol and Inceptisol Darmaga soils was obtained through inoculation with Rhizobium isolates GR2-7 and GR3-4. The inoculation of the Paraserianthes seedling with these Rhizobium isolates significantly increased the height of Paraserianthes seedling by 67 and 64% on Ultisol and by 90 and 122% on Inceptisol, respectively. The diameter of the stamp were increased by 36 and 21% on Ultisol and by 37 and 39% on Inceptisol, respectively. The upperparts biomass of Paraserianthes seedlings were incresed by 167 and 130% on Ultisol. Inoculation of Rhizobium GR2-7 and GR3-4 increased the N-uptake by 353 and 258% on Ultisol and by 575 and 643% on Inceptisol, respectively.

Key words: acid mineral soil, Paraserianthes seedling, Rhizobium

=========================================================

Peranan Kosubstrat terhadap Aktivitas Enzim dalam Metabolisme Xilosa untuk Produksi Xilitol oleh Candida shehatae WAY 08

Effect of Cosubstrates on the Key Enzymes in Xylose Metabolism for Xylitol Production by Candida shehatae WAY 08

WISNU ADI YULIANTO‡*, KAPTI RAHAYU KUSWANTO, TRANGGONO & RETNO INDRATI

Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Jalan Sosio Yustisia, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

The experiment investigated the influence of arabinose, glucose, galactose, and mannose, as a substrat and cosubstrate in xylose metabolism and xylitol production by Candida shehatae WAY 08. Activity of key enzymes involved in the xylose metabolism was measured under substrates containing 6% of each sugars and different ratio addition of 6% xylose with 1, 2, or 3% other sugars as cosubstrate. The enzyme activity on 6% xylose without cosubstrate was used as a control. The activity of xylose reductase (XR) and glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PDH) were induced by 1% of arabinose addition, while glucose, galactose, and mannose repressed the activities of both enzymes. The activity of xylitol dehidrogenase (XDH), acetaldehide dehydrogenase, and alcohol dehydrogenase were slightly repressed by cosubstrates. Specific growth rate of C. shehatae with hexose (glucose, galactose, and mannose) was higher than that of pentose (arabinose and xylose). Addition of 1% arabinosa to 6% xylose didn’t decrease specific growth rate, in fact it induced XR and G6PDH, however it slightly repressed XDH and produced optimum xylitol production. The ratio of XR:XDH:G6PDH in that condition was found to be 47:10:148.

Key words: Candida shehatae WAY 08, cosubstrates, xylose, xylitol

=========================================================

Identifikasi Bakteri Diazotrof Endofit dari Tebu dengan Repetitive-PCR Sequence dan Sequencing 16S rDNA

Identification of Endophyte Diazotrophic Bacteria from Sugarcane by Using Repetitive-PCR Sequence and Sequencing of 16S rDNA

WIWIK E. WIDAYATI1*, LANGKAH SEMBIRING2 & J. SOEDARSONO3

1Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Jalan Pahlawan 25, Pasuruan 67126
2Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, Jalan Teknika Selatan, Yogyakarta 55281
3Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Jalan Bulaksumur, Yogyakarta 55281

The term endophyte refers to internal colonization of plant by microorganisms without any pathogenic effects on their hosts. Interaction between endophyte diazotrophic bacteria in sugarcane tissue represents a promising model system for monocot and an endophyte diazotrophic bacteria, as the ability of the diazotroph bacteria to enhance sugarcane growth has been well documented. Diversity of endophyte diazotrophic bacteria was observed and identified by using repetitive-PCR sequence method and sequencing of 16S rDNA. The results showed based on repetitive-PCR sequence methods, that 4 isolates (10.2.2, 10.2.3, 10.3.2.1, and 10.3.2.2) were shown to be very similar to one another. Therefore, isolate 10.2.3 was selected to represent the group for further study. Three isolates (10 K1, 10 K2, and NB12) were found to be different from each other. Phylogenetic analysis, based on 16S rDNA sequences, revealed that isolate 10.2.3, 10 K1, 10 K2, and NB12 were identified to be member of genus Klebsiella, Pseudomonas, Acinetobacter, and Bacillus, respectively.

Key words: endophyte, diazotrophic bacteria, repetitive-PCR, rDNA, sugarcane

=========================================================

JURNAL MIKROBIOLOGI IPB

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG ILMU | GIZI | PENGUJIAN | PENGENDALIAN | MUTU | INDUSTRI | PANGAN

EVALUASI MODEL-MODEL PENDUGAAN UMUR SIMPAN PANGAN DARI DIFUSI HUKUM FICK UNIDIREKSIONAL

EVALUATION OF SHELF-LIFE EQUATION MODELS DERIVED FROM UNIDIRECTIONAL FICK’S LAW

M. Arpah1 dan Rizal Syarief1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

The aim of this research was to study the variation of shelf-life values, obtained in quantifying shelf-life of biscuits among models of accelerated storage studies (ASS) from unidirectional Fick’S law. Shelf-life of biscuits is defined as the length of time of a packaged biscuits can be stored before the onset quality change appears.

Four models: Heiss-Eichner (1971), Labuza (1983), Rudolph (1986) and Half Value Period or HVP model (Syarief, 1986) were evaluated. These models shared a common basic principle that they were all derived and developed from unidirectional Fick’s law. Therefore, each parameter of individual model can be compared to the athers. A semi empirical approach using reaction kinetics through Arrhenius plot was used as a real shelf-life values.

Quantification resulted in two categories of shelf-life values, First those which higher than expected value and second, were lower than expected.

Parameter evaluation of components of Heiss-Eichner and Labuza models clearly shown less in number than components of Rudolph and HVP models. This led to a conclusion that the more sophisticated models gave higher shelf-life values as compared to the Arhenius model.

================================================

PRODUKSI L-LISIN OLEH GALUR MUTAN Corynebacterium glutamicum DENGAN MEMANFAATKAN MOLASE

L-LYSINE PRODUCTION BY MUTANT STRAINS OF Corynebacterium glutamicum USING MOLASSES

Budiatman Satiawihardja1
Erliza Noor1
Ahmad Haryo Oktamto1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
1Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta-IPB
1Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

The objective of this study was to obtain fermentation process for producing l-lysine using two mutans of Corynebacterium glutamicum. The process used a low cost natural raw material molasses as a carbon source which underwent a special treatment before its application for fermentation medium. Strain Corynebacterium glutamicum ATCC 21543 produced higher L-lysine as compared to Corynebacterium glutamicum ATCC 21513. ATCC strain 21543 produced using a 10.98 g/l L-lysine modified basal B medium containing molasses which was equivalent to 20 % of original molasses in terms of its sugar content.

================================================

SINTESIS KOMPONEN BAWANG PUTIH VINIL-DITIIN DAN TURUNANNYA SERTA UJI AKTIVITAS ANTI KAPANGNYA DENGAN METODE BIOAUTOGRAFI

SYNTHESIS OF GARLIC COMPOUND VINYL-DITHIIN AND ITS DERIVATIVES, AND THEIR ANTI-FUNGAL DETERMINATION USING BIOAUTOGRAPHY METHODE

C. Hanny Wijaya1

1Staf Pengajar Jurusan TPG-Fateta, IPB

Improvement on stability, physical characteristics and physiological activities of vinyl-dithiin has been attempted through oxidation and methylation. A bioautography method with Cladosporium cucumerinum showed that the presence of sulphoxide compound increased the anti-fungal activity sharply. Best activity was obtained with the compounds with SSO functional group. Activity was slightly decreased by addition of methyl-group. Stereoisomer also influenced the activity of compound, although not to significantly. Isomer of 3,4-dihidro-3-isopropenil-5-metil-4H-1, 2-ditiin-1-oxide has interesting properties such as crystallized easily, posses weak odor and relatively strong in anti fungal activity. A Simple methallylsynthesis procedure for disufide has been developed using metallyl chloride as starting material.

================================================

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ATSIRI IKAN PATIN (Pangasius sutchi)

ISOLATION AND IDENTIFICATION OF VOLATILE COMPOUNDS IN FRESH WATER CATFISH (Pangasius sutchi)

Edison1

1Laboratorium Kimia Pangan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau
Kampus Bina Widya Km. 12.5 Pekanbaru

Volatile compounds of fresh water catfish (Pangasius sutchi) cultured in pond and cage were extracted by micro simultaneous distillation-solvent extraction (SDE), and analyzed by gas chromatography/mass spectrometry (GC/MS). A total of 28 volatile compounds of Pangastius sutchi were detected. Of these compounds, twelve were identified as aromatics, aldehyde and miscellaneous coumpounds. Catfish cultured in pond contained higher levels of the aromatic compunds as compared to thase raised in cage.

Keyword : Fresh water catfish : Pangasius sutchi; Volatile compounds.

================================================

EVALUASI NILAI GIZI PRODUK EKSTRUSI DARI PRODUK SAMPING PENGGILINGAN PADI CAMPURAN MENIR DAN BEKATUL

NUTRITION EVALUATION OF EXTRUSION PRODUCTS MADE FROM RICE MILLING BYPRODUCTS (BROKEN RICE AND RICE BRAN)

Rizal Syarief1, Joko Hermanianto1
Erni Ernawati2

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

By products of of rice milling, especially broken rice and rice bran, are not commonly used as food product. The purpose of this research was to develop and analyzed the nutrition content of new extruded product made of mixed broken rice and rice bran. The hedonic values were analyzed to choose the best formulation. Nutrition component was analyzed by in vitro and in vivo method. Increasing the concentration of rice bran resulted in increase of the percentage of ash ( 1.29%-3.47%), fat (1.12%-3.11%), crude fiber (0.58%-2.09%), some of essential amino acid,FCE(17.18%-27.28%) and decrease of protein digesbility.

================================================

PENGARUH KONSUMSI JAHE (Zingiber officinale Roscoe) TERHADAP KADAR MALONALDEHIDA DAN VITAMIN E PLASMA PADA MAHASISWA PESANTREN ULIL ALBAAB KEDUNG BADAK, BOGOR

THE EFFECT OF GINGER (Zingiber officinale Roscoe) CONSUMPTION ON PLASMA MALONALDEHYDE AND VITAMIN E CONCENTRATION OF STUDENTS FROM BOGOR

Fransiska R Zakaria1, Hari Susanto2, dan Arif Hartoyo1

1Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
2Alumni Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB

Extracts of ginger contain a great number of substances having antoxidant activity. This reaserch was conducted to study the effect of ginger on malonaldehyde (MDA) as indicator of free radical and vitamin E as one of the nutrient antioxidants. Healthy student subjects were divided into treated (n=12) and control group (n=12). Treated group was suplemented with ginger drink for 30 days.

At the beginning and the end of intervention, both treatment and control groups were subjected to physical health examination and their peripheral blood were with drawn for analysis of MDA (malonaldehyde) and vitamin E in plasma. Individual data from all groups revealed that treated group has significant decrease of MDA and increase of vitamin E (pPS Teknologi Pangan, Jurusan Teknologi Pertanian, Politeknik Pertanian Negeri Bandar Lampung
Jln. Soekarno Hatta Rajabasa-Bandar Lampung, Telp. (0721) 703995 Fax (0721) 787309
2Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 23 September 2002/Disetujui 22 April 2003

This research was aimed at characterization of maltodextrin DP 3-9 (produced by enzymatic hydrolysis and membrane separation process) as compared to commercial maltodextrin and glucose and assessment of its potential application as carbohydrate source in sport drink. The research showed that application of maltodextrin DP 3-9 had some advantages as compared to glucose with regard to absorption rate that was 2 times longer (60 minutes instead of 30 minutes), osmolality degree that was 5,6 times lower (178 mOsmol/kg as compared to 1000 mOsmol/kg), and relative sweetness degree that was 10 – 11 times lower (6,15-7,20 as compared to 57,00-61,00). However, thie application of maltodekstrin DP 3-9 had limitation which was shown by its viscosity characteristic that was 5,70 — 6,20% higher (1,29 cSt and 1,37 cSt as compared to 1,22 cSt and 1,29 cSt). When compared to commercial maltodextrin, maltodextrin DP 3-9 is favorable as carbohydrate source in sport drink based on its absorption rate that was more than 2 times faster (60 minutes as compared to more than 120 minutes) and storage stability at refrigeration temperature (which was more than 8 weeks, with or without sterilization; with sterilization).

Key words : Maltodextrin DP 3-9, carbohydrate source and sport drink

================================================

PENGARUH EKSTRAK DIKLOROMETAN JAHE (Zingiber officinale Roscoe) TERHADAP PENGIKATAN TOKSIN KOLERA B-subunit CONJUGASI (FITC) PADA RECEPTOR SEL HIBRIDOMA LV DAN CACO-2

[Effect of Ginger (Zingiber officinale Roscoe) Dichloromethane Extract on Inhibition of Cholera Toxin B-subunit Conjugated FITC Binding to Receptor on LV Hibridome and Caco-2 Cells]

Radiati, L.E1, Nabet, P , Franck, P2, Nabet B2, Capiaumont, J.2, Fardiaz, D3 . Zakaria, R.F3,I. Sudirman4, dan Hariyadi, R.D3

1Program Studi teknologi Hasil Ternak, FAPET-Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang
2Laboratorium Biokimia Univ. Henri Poincare Nancy Perancis
3Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA- IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
4Kedokteran Hewan IPB, Jl. Agatis, Kampus IPB Darmaga Bogor 16680.

Diterima 25 Agustus 2002/Disetujui 25 April 2003

Cholera toxin is main factor that responsibility of watery diarrhea. The objectives of this investigation was to study the effect of ginger extract (GDE) in blocking cholera toxin binding to receptors of LV hybridome and Caco-2 cells. Analysis of toxin binding by flow cytometry of 0-5 ƒ�g/ml of B-FITC conjugated cholera toxin to 105 cells/ml of LV hybridome and Caco-2 cells in RPMI, at 4„aC for one hour showed that specific interaction of B-FITC by 44,44 „b 3,49 percent to LV hybridome and by 94,58„b 1,83 percent to Caco-2 cells.
A total of 105 cells/ml of hybridome and Caco-2 cells were incubated with 0-5 ƒ�g/ml toxin B-FITC and 25 or 50 ƒ�g/ml GDE in RPMI, at 4„aC for one hour showed that the addition of GDE inhibited the toxin binding. The binding inhibition respectively were 4.76-15.66 and 12.55-24.60 percent to Caco-2 cells, and 3.55-17.95 and 3.58-27.83 percent to hybridome cells. The inhibition on the toxin binding may be due to modification of the receptor by GDE or interaction of GDE with the toxin.

Key words : Hibridoma LV, Caco2, ekstrak diklorometan jahe, and toksin kolera B-FITC

================================================

EVALUASI FISIKOKIMIA SOSIS TEMPE-DUMBO

[Physicochemical Evaluation of Tempeh-Fish Sausage]

T. J. Moedjiharto1)

1)Staf Pengajar Teknologi Hasil Perikanan, FAPRIKAN-UNIBRAW, Malang Jl. Veteran Malang 65145

Diterima 23 September 2002/Disetujui 15 Juli 2003

Evaluation on the physicochemical property of “tempe-dumbo” sausage made from meat of Clarias gariepinus and tempeh flour has been carried out. Randomized design with tree replications were used. Sausages were prepared from tempeh flour and fish meat in the proportion of: 1:0; 1:0,2; 1:0,3; 1:10,4 and 1:0,5 (w /w). Hardness, total volatile bases (TVB), and taste were evaluated. The results showed that the proportion of flour tempeh influenced the content the quality of “tempe-dumbo” sausage in term of protein quality, TVB.and taste. The addition of tempeh flour had significant effect the decrease essential amino acids, of total amino acids content, and organoleptic ascore (taste and flavor). . “Tempeh-dumbo” sausage contained essential amino acid of 27,354 mg/ g, protein which was consisted of 7 essential amino acid.

Key words : Sausage, tempeh, clarias gariepinus, protein quality

================================================

STRATEGIES FOR 2-HEPTANONE BIOSYNTHESIS FROM OCTANOIC ACID BY Penicillium roqueforti SPORES

Strategi Untuk Biosintesis 2-Heptanon dari Asam Octanoid oleh Spora Penicillium roqueforti

M. Arpah1)

1)Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

This paper reviews two strategies of 2-heptanone (blue cheese aroma compound) biosynthesis from octanoic acid by Penicillium roqueforti spores. First, the production and preparation of fungal spores are discussed a long with effect of spores treatment on their biocatalytic activity. Following this the first strategy of 2-heptanone production i.e batch production of 2-heptanone by submerged bioconversion process is discussed. Furthermore 2-heptanone loss by air stream stripping due to its hight volatility is evaluated and then the second strategy, that is continuous biosynthesis in aerated stirred reactor, is addressed. An option for controlling pH of biosynthesis medium is also discussed. Finally, in the concluding paragraphs, utility of the strategies are presented.

Key words: Spore, penicillium roqueforti, 2-heptanone

================================================

VIABILITAS DAN STABILITAS Lactobacillus Plantarum Mut7 FNCC 250 YANG DISUPLEMENTASIKAN DALAM SARI BUAH PEPAYA-NANAS SELAMA PENYIMPANAN

[Viability and Stability of Lactobacillus Plantarum Mut 7 FNCC 250 Suplemented in Papaya-Pineapple Juice During Storage]

Sri Hartati1), Eni Harmayani2), Endang S. Rahayu2), dan Tyas Utami2)

1)Program Pasca Sarjana (S2), Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Gadjah Mada, Jogyakarta 2)Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur, Jogjakarta 55281

Diterima 23 September 2002/Disetujui 23 Juni 2003

Lactobacillus plantarum Mut7 FNCC 250 is an indigenous bacterium isolated from fermented food (“gatot”) and a potential agent to reduce cholesterol. Study the on aplication of the bacterium as probiotic agent to food stuff is needed. The purpose of the study was to prepare formula of papaya-pineapple juice as probiotic carrier and to study the viability and capability of Lactobacillus plantarum Mut7 FNCC 250 to assimilate cholesterol during three months storage. Fruits juice was prepared with different formula and organoleptically tested. Selected juice formula was supplemented with Lactobacillus plantarum Mut7 FNCC 250 and stored in cool room (4-5 oC). During three month storage, the value of pH the product, cell viability and ability to assimilate cholesterol were evaluated. The result indicated that acceptable formula was papaya juice added with 25 % pineapple. Viability of Lactobacillus plantarum Mut7 FNCC 250 supplemented in papaya- pineapple juice was stable (decrease of , dan Fanie Herdiani 2)

1)Staf Pengajar di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002
2)Alumni Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 16002

Diterima 6 Januari 2004 / Disetujui 24 Mei 2004

Indonesia is known as a country rich in species of seaweed. The most important components of seaweed are iodine and dietary fiber. Eucheuma cottoni is one species of seaweed that can be used as a source of iodine and dietary fiber. Iodine deficiency can cause several diseases also known as IDD (Iodine Deficiency Disorder), while deficiency of dietary fiber can cause some degenerative diseases. This research is taken to develop the utilization of Eucheuma cottoni as an ingredient in the making of jam and “dodol” (Indonesian traditional snack food).
The best ratio of seaweed and sugar for jam production was 37:63, while the best ratio of seaweed and glutinous flour in making dodol was 5:2. The addition of seaweed on jam and dodol formula increased their iodine and dietary fiber contents. The iodine content of jam and dodol was 17.79 and 19.57 µg/g, respectively. The dietary fiber content of jam and dodol was 5.75 and 5.63%, respectively.

Key words : Disorder, dietary fiber, dodol, jam, seaweed

================================================

KARAKTERISTIK PROTEIN MIOFIBRIL DARI IKAN KUNIRAN (Upeneus moluccensis) DAN IKAN MATA BESAR (Selar crumenophthalmus)

[Characterization of Myofibrillar Protein from Goldband Goat Fish (Upeneus moluccensis) and Bigeye Scad Fish (Selar crumenophthalmus)]

Achmad Subagio, Wiwik Siti Windrati, Mukhammad Fauzi

Lab. Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Jl. Kalimantan I Jember 68121

Diterima 30 Desember 2003 / Disetujui 27 Mei 2004

Characteristics of myofibrillar protein from goldband goat fish (U. moluccensis) and bigeye scad fish (S. crumenophthalmus) were studied for their development as food ingredient. Color analysis using chromameter showed that myfibrillar protein from goldband goat fish was light colored, while that of bigeye scad was slightly drak colored. Proximate analysis showed that their contents were similar by crude protein 7-10%, crude fat 0.2-0.5%, and ash 0.4-0.7%. Amino acid compositions of both myofibrillar proteins were very close, dominated by glutamic acid (20%), aspartic acid (10%) and lysine (9%). However, comparing with bigeye scad, myofibrillar proteins from goldband goatfish were easily aggregated, had higher gelation capacity and higher emulsion activity, but lower solubility. Based on these result, myofibrillar protein from goldband goatfish has good charachteristics as food ingredient especially for restructured products comparing with bigeye scad.

Key words : Myfibrillar, goldband, goat fish, bigeye scad fish, proteins

================================================

Perubahan Komponen Volatil Selama Fermentasi Kecap

Change Volatile Components During Soy Sauce Fermentation

Anton Apriyantono1 dan Gono Dewi Yulianawati2

1Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB, PO BOX 220 Darmaga Bogor, 16002
2Alumni Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA IPB, PO BOX 220 Darmaga Bogor 16002

Diterima Tanggal 30 Januari 2004 / Disetujui 19 Juni 2004

A study has been conducted to investigate changes of volatile components during soy sauce fermentation. During the fermentation, many volatile components produced may contribute to soy sauce flavor. THe volatile identified by GC-MS werw classified into hydrocarbon (15), alcohol (15), aldehyde (14), ester (14), ketone (9), benzene derivative (11), fatty acid (9), furan (5), terpenoid (18), pyrazine (3), thiazole (1), pyridine (1) and sulfur containing compound (2).

Concentration of compounds found in almost all fermentation steps, such as hexanal and benzaldehyde did. These compounds may be derived from raw soybean, since they were all present in raw soybean and their concentration did not change during fermentation. Concentration of palmitic acid and benzeneacetaldehyde, in general, increased during all fermentation steps. They are probably derived from lipid degradation or microorganism activities. Concentrations of some fatty acids, esters and hydrocarbons, such as linoleic acid, methyl palmitate and heptadecane increased during salt fermentation only. Concentration of some other compounds, such as 2,4 decadienal decreased or undetected during fermentation.

The absence of some volatile compounds, e.g. (E)-nerolidol and (E,E)-famesol in boiled soybean which were previously present in raw soybean may be due to evaporation of these compounds during boiling. Some volatile compounds such as, methyl heptadecanoate and few aromatic alcohols are likely derived from Aspergillus sojae, since these compounds were identified only in 0 day koji.

Key Word : Soy sauce, volatile component, fermentation

================================================

MODEL KETAHANAN PANGAN TINGKAT RUMAH TANGGA PADA DESA HORTIKULTUR

[Food Security Model at Household Level on Horticulture Village]

Dadang Sukandar1

Staf Pengajar Departemen GMSK-FAPERTA-PB

Diterima / Disetujui 21 September 2004

The Objective of this study is to formulate operational concept of Food Security at household level and to formulate the indicator of food security on Horticulture Village. Renggasbandung is a research location where 60 household were selected through stratified random sampling with proportional alocation. Data collected were food consumption, expenditure, education, house condition and agricultural data. Food security indicator were determined by applying correlation analysis and discriminant analysis to obtaine food security model. House size (m2/capita), number of chicken and electricity capacity are obtained as component of food security model at household for Horticulture Village.

Keywods : food security

================================================

PENGARUH PERBEDAAN EKSTRAKSI LIPID TERHADAP GELATINISASI DAN RETROGRADASI TEPUNG MLINJO (Gnetum gnemon)

[Effects of Different Lipid Extractions on Gelatinization and Retrogradation of Bitter Nuts (Gnetum gnemon) Starch]

Tri Agus Siswoyo

Pusat Penelitian Biologi Molekul dan Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember Jln. Kalimantan III/23, Jember 68121

Diterima 4 Juni 2004 / Disetujui 11 Agustus 2004

The effect of different lipid extraction on gelatinization and retrogradation of bitter nuts (Gnetum gnemon) starch was studied by the measurement of starch-lipids complex formation using differential scanning calorimetry. The bitter nuts samples were extracted sequentially with hexane for surface lipid starch (SL) and hot water-saturated butanol for internal lipid starch (IL). The gelatinization enthalpies of starch increased significantly with extracting step, but the starch-lipid complex enthalpies of SL and IL were statistically lower, when compared with the native starch. According to the Avrami equation, the retrogradation rate of native bitter nuts starch was slower than that of the SL or IL, whereas the retrogradation rate of IL was slower than SL. High number of starch-lipids complex could retard the retrogradation of bitter nuts starch during storage.

Key words : Gnetum gnemon, bitter nuts, gelatinization, retrogradation, Avrami equation, starch-lipid complex

================================================

KAJIAN OPTIMASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN BERAS JAGUNG INSTAN

[OptimationStudy of Processing Technology of Instant Corn Grits]

Sugiyono1) , Soewarno T. Soekarto1) , Purwiyatno Hariyadi1) dan Agus Supriadi2)

1)Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB Darmaga, PO Box 220 Bogor 16002 2)Alumni Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, FATETA-IPB Darmaga, PO Box 220 Bogor 16002

Diterima 26 Februari 2004 / Disetujui 10 Agustus 2004

This research was aimed to process corn kernels into instant corn-grits. Corn kernels were milled into grits and pregelatinized before drying to make them instant product. The study showed that pre-gelatinization step affected the degree of gelatinization of corn-grits, which inturn significantly affected characteristics of the product such as cooking time, degree of swelling and amount of water absorbed. Processing of corn kernels into instant corn-grits yielded 60 – 63% product. Instant corn grits can be cooked for 5 minutes. The shelf life of the product lasted for 12.8 – 13.4 months.

Key words : Pre-gelatinization, instant, corn-grits

================================================

SUPLEMENTASI Lactocbacillus acidophilus SNP-2 PADA TAPE DAN PENGARUHNYA PADA RELAWAN

[Supplementation of Lactocbacillus acidophilus SNP-2 Into Tape and its Effect to the Volunteer]

Endang S. Rahayu1 dan Siti N. Purwandhani 2

1Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Jl. Sosio Yustisia Bulaksumur Yogyakarta 55281 E-mail : endangyk@yogya.wasantara.net.id 2Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Widya Mataram, Yogyakarta

Diterima 5 Mei 2004 / Disetujui 19 Agustus 2004

Functional food is defined as any potentially healthful food or food ingredient that may provide a health benefit beyond the traditional nutrients it contains. Many researches have been conducted on the health benefit of probiotic (life bacterial cells), one of the ingredient of functional foods. One of the potential bacteria used for probiotic agent and also involved in traditional fermented foods are lactic acid bacteria (LAB). Previous research showed that Lactobacillus acidophilus SNP-2 isolated from faecal material of healthy infant is resistant to acid and bile salt, and has an antagonistic effect against several enteric bacterial pathogens. The objective of this research was to study the effect of L. acidophilus SNP-2 as probiotic agent to the health benefits. These bacteria were supplemented into tape ketan (fermented sticky rice), the indigenous Indonesian fermented food. Tape ketan was chosen as the carrier of probiotic biomass based on the high population of LAB in this product, i.e., 1.3 x 108 CFU/g. Addition of L. acidophilus SNP-2 biomass prior to fermentation of tape ketan resulted in a higher total of LAB cells, i.e. 2.1 x 109 CFU/g compared to the amount of 1.5 x 108 CFU/g when the addition was done after fermentation. Consumption of tape ketan containing probiotic agent by the volunteers increased the population of lactobacilli (from 1.7×107 CFU/g to 9.9×107 CFU/g) and decreased the population of enterobacteriacea (from 5.4×109 CFU/g to 4.4×108) in their faecal material. This phenomenon revealed that probiotic agent was able to colonize and inhibit the growth of enterobacteriaceae in the gastrointestinal tract. The result implied that tape ketan can be used as a carrier for probiotic agent and it can be categorized as functional food.

Key words : tape ketan, lactobacillus acidophilus, probiotic

================================================

KINERJA ZEOLIT DALAM MEMPERBAIKI MUTU MINYAK GORENG BEKAS

[Zeolit Performance in Improving the Quality of Used Oil]

Kusumastuti

Staf Pengajar Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, FTP-INSTIPER Yogyakarta Jl. Nangka II Maguwohardjo Yogyakarta 55000

Diterima 5 Maret 2004 / Disetujui 12 Oktober 2004

The aim of this study was to improve the used oil by treatment with zeolite in order to absorb the undesirable components in the oil. Sample of used oil were heated with active zeolite (A1) and natural zeolite (A2) at 2% (B1), 6% (B2) and 10% (B3) in boiled water-bath for 30 minutes. The control was used oil without treatment. After filtered, the oil were analyzed for moisture content, acid number, peroxide value, clearness, colour and viscosity. The results indicated that treating used oil with 10% zeolite could reduce the initial level of tested parameters The reductions were: moisture content and volatile matters 50%, acid number 7% , clearness 3.9% and reduction of peroxide value was 33,8%. However the color and viscosity of the treated oils were not different from the used oil. Active zeolite was more effective than natural zeolite in absorbing the undesirable contaiment.

Key words : Zeolite , used oil

================================================

POTENSI ANTI-HIPERKOLESTEROLEMIA EKSTRAK CASSIA VERA (Cinnamomum burmanni Nees ex Blume)

[Anti-hypercholesterolemic Potency of Cassia Vera (Cinnamomum burmanni Nees ex Blume) Bark Extract]

Fauzan Azima1 , D. Muchtadi 2, F.R. Zakaria2 dan B.P. Priosoeryanto3

1Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian Faperta Unand, Kampus Unand Limau Manis Padang 2Staf Pengajar Departemen TPG FATETA IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 3Staf Pengajar FKH IPB, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor

Diterima 20 Maret 2004 / Disetujui 13 Oktober 2004

There has been limited report on the phytochemical content of cassia vera bark extract, and its potency as anti-hypercholesterolemic in rabbit is not known yet. The objectives of this research was to determine the phytochemical content and potency of anti-hypercholesterolemic of cassia vera bark extract using rabbit as the animal model.The research was devided into three stages, namely: (1) preparing cassia vera extraction with ethanol 96%; (2) analyzing phytochemical contents of cassia vera bark extract; (3) in vivo experiment, where twenty New Zealand White rabbits aged 5 months were used. Experimental rabbits were divided into 5 groups. The rabbits were fed with atherogenic cholesterol (0.1%) as positive control, RB11 standard feed as negative control, or cassia vera extracts (100 mg/kg/day or 200 mg/kg/day) or fenofibrat (15 mg/day) together with the atherogenic feed for 12 weeks. Levels of serum total cholesterol, triglyceride, HDL-cholesterol and LDL-cholesterol were determined at 0, 4, 8, and 12 week. At the end of the experiment formation of fatty liver were observed. The results showed that the ethanol extract of cassia vera bark contains total phenol (62.25%), flavonoids, triterpenoid, saponin and alkaloid. On the other hand, cassia vera bark extract was able to decrease total serum cholesterol from 443.3 mg/dl to 139.1 mg/dl, LDL cholesterol from 286.5 mg/dl to 95.8 mg/dl and triglyceride from 122.2 mg/dl to 61.2 mg/dl. Meanwhile, it increased HDL serum cholesterol from 29.1 mg/dl to 50.0 mg/dl in rabbit. It was also shown that the extract was able to decrease the everage fat globule on liver significantly from 27.47 globule to 3.59 globule per field view. Cassia vera bark extract with phytochemical content was found to be potential as anti-hypercholesterolemic and also in preventing fatty liver formatonr in rabbit.

Key words : Anti-hypercholesterolemic, cassia vera bark extract, HDL and LDL serum cholesterol

================================================

POTENSI ANTI-HIPERKOLESTEROLEMIA EKSTRAK CASSIA VERA (Cinnamomum burmanni Nees ex Blume)

[Anti-hypercholesterolemic Potency of Cassia Vera (Cinnamomum burmanni Nees ex Blume) Bark Extract]

Fauzan Azima1 , D. Muchtadi 2, F.R. Zakaria2 dan B.P. Priosoeryanto3

1Staf Pengajar Jurusan Teknologi Pertanian Faperta Unand, Kampus Unand Limau Manis Padang 2Staf Pengajar Departemen TPG FATETA IPB, Kampus IPB Darmaga Bogor 3Staf Pengajar FKH IPB, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga Bogor

Diterima 20 Maret 2004 / Disetujui 13 Oktober 2004

There has been limited report on the phytochemical content of cassia vera bark extract, and its potency as anti-hypercholesterolemic in rabbit is not known yet. The objectives of this research was to determine the phytochemical content and potency of anti-hypercholesterolemic of cassia vera bark extract using rabbit as the animal model.The research was devided into three stages, namely: (1) preparing cassia vera extraction with ethanol 96%; (2) analyzing phytochemical contents of cassia vera bark extract; (3) in vivo experiment, where twenty New Zealand White rabbits aged 5 months were used. Experimental rabbits were divided into 5 groups. The rabbits were fed with atherogenic cholesterol (0.1%) as positive control, RB11 standard feed as negative control, or cassia vera extracts (100 mg/kg/day or 200 mg/kg/day) or fenofibrat (15 mg/day) together with the atherogenic feed for 12 weeks. Levels of serum total cholesterol, triglyceride, HDL-cholesterol and LDL-cholesterol were determined at 0, 4, 8, and 12 week. At the end of the experiment formation of fatty liver were observed. The results showed that the ethanol extract of cassia vera bark contains total phenol (62.25%), flavonoids, triterpenoid, saponin and alkaloid. On the other hand, cassia vera bark extract was able to decrease total serum cholesterol from 443.3 mg/dl to 139.1 mg/dl, LDL cholesterol from 286.5 mg/dl to 95.8 mg/dl and triglyceride from 122.2 mg/dl to 61.2 mg/dl. Meanwhile, it increased HDL serum cholesterol from 29.1 mg/dl to 50.0 mg/dl in rabbit. It was also shown that the extract was able to decrease the everage fat globule on liver significantly from 27.47 globule to 3.59 globule per field view. Cassia vera bark extract with phytochemical content was found to be potential as anti-hypercholesterolemic and also in preventing fatty liver formatonr in rabbit.

Key words : Anti-hypercholesterolemic, cassia vera bark extract, HDL and LDL serum cholesterol

================================================

PRODUKSI PEPTON DARI LIMBAH INDUSTRI BIR DENGAN PAPAIN UNTUK MEDIUM PERTUMBUHAN BAKTERI

[Production Of Peptone From Waste Beer Industry Using Papain for Bacterial Growth Medium]

Rahman1, Dedi Fardiaz2, dan Tami Idiyanti3

1Mahasiswa Program Studi Ilmu Pangan Sekolah Pascasarjana IPB. 2Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi-Fateta IPB 3Pusat Penelitian Kimia LIPI Serpong.

Diterima 29 Mei 2004 / Disetujui 11 Oktober 2004

An experiment was conducted to hydrolyze waste of beer industry using papain to produce peptone. Papain with activity of 691.5 units based on casein substrat was used in this experiment. Results showed that optimum conditions for hydrolysis processes were as follows : substrate concentration 3.2%, papain concentration 0.4%, temperature 60-70OC, pH 6.0, hydrolysis time 5 hours. With 5 liter fermentation jar as much as 3.8 liter of hydrolyzate could be produced with 19.23% of peptone. The resulting peptone had the following characteristics : solubility 90.7%, N-amino 3.25%, N-total 11.23%, protein 70.19%, water 5.5% and ash 7.9%. This peptone gave the same effectivity for bacterial growth as that fron commercial Bacto peptone and Yeast extract to support the bacterial growth.

Key words : Peptone, waste of beer industry, papain, bacterial growth medium.

================================================

EFEK SUSU SKIM YANG DISUPLEMENTASI ISOFLAVON KEDELAI DAN Zn (SUSUMENO) TERHADAP SINDROM MENOPAUSE PADA WANITA PREMENOPAUSE

[Effects of Susumeno (skim milk fortified with soy isoflavone and Zn supplement) on menopausal syndrome in premenopausal women]

Hery Winarsi1, Deddy Muchtadi2, Fransiska R Zakaria3, dan Bambang Purwantara3

1Staf Pengajar Fak. Biologi, UNSOED
2Staf Pengajar Dept. TPG, Fak. Teknologi Pertanian, IPB
3Staf Pengajar Dept. Reproduksi, Fak.Kedokteran Hewan, IPB

Diterima 13 Juli 2004 / Disetujui 23 Desember 2004

Premenopause is part of natural aging process in women indicated by the decrease of ovarial estrogen production, and usually followed by development of menopausal syndrome. Susumeno, skim milk fortified with 100 mg of soy isoflavone and 8 mg of Zn was given to premenopausal women for decreasing menopausal syndrome. This research aimed to evaluate the effect of susumeno on menopausal syndrome in premenopausal women. About 33 premenopausal women aged 43-52 years old in Purwokerto were choosen as respondent. Their menopausal syndrome were identified by using questioner. The answers were scored from 1 to 5 ; i.e., 1 = not detected; 2 = less detected; 3 = mildly detected; 4 = detected; 5 = much detected. It was revealed that some of menopausal syndromes had significantly decreased, especially vaginal dryness from less detected to not detected (p=0,01); fatigue from mildly detected to not detected (p=4,07E-05); mindless from mildly detected to not detected (p=0,022); and dyspareunia from less detected to not detected (p=0,036).

Key words: menopausal syndrome, soy isoflavone, Zn, premenopausal women

================================================

SIFAT FISIK, KIMIA DAN FUNGSIONAL DAMAR

[Brief Review on: Physical, Chemical and Functional Properties of Dammar]

Noryawati Mulyono1 dan Anton Apriyantono2

1Mahasiswa Ilmu Pangan, Departemen TPG
2Staf Pengajar Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta IPB Kampus IPB Darmaga, P.O. Box 220, Bogor 16002

Diterima 11 November 2004 / Disetujui 14 Maret 2005

Dammar is one of Indonesian forestry products which is abundant. It has unique physical, chemical and functional properties. The important physical properties of dammar include its solubility in some organic solvents, softening temperature, viscosity and its absorbance. The important chemical properties reviewed here include its properties as resin, composition of terpenoid compounds present in dammar, and essential oil yielded from distillation of fresh dammar. Physical and chemical properties of dammar need to be studied further in order to optimize its functional properties. So far, dammar is widely used as weighting agent and source of essential oil. However, now, some species of dammar are being explored and developed for sal flour, fat source, triacylglycerol substituent for cocoa butter and wood preservatives.

Key words: resin, terpenoid, essential oil, weighting agent.

================================================

PENGARUH KONSENTRASI GARAM, PENAMBAHAN JENIS ASAM TERHADAP MUTU LADA HIJAU DALAM BOTOL SELAMA PENYIMPANAN

[The Effect of Salt and the Addition of Several Acid Types on the Quality of Bottled Green Pepper During Storage]

Endah Djubaedah1 , Djumarman1 , Enny Hawani Lubis1 dan Tuty Hendraswaty2

1Balai Besar Industri Agro
2Fakultas Teknik Universitas Pasundan

Diterima 4 Agustus 2004 / Disetujui 13 Oktober 2004

Research on the effect of salt and the acid types addition on the quality of bottled green pepper during storage has been conducted. Treatments were used 10 % and 20 % of salt, 0.2 % of citric acid and 4 % of acetic acid. The product were stored for 3 months and were analyzed for green color degree, pH, total plate count (TPC), piperine and total solid content. The results showed that citric acid treatment, better than acetic acid treatment, indicated by higher degree of green color (5.30 – 5.92) and pH 4.5 – 4.7 while the other 4.46 – 4.60 of green color degree and pH 3.5 – 3.9. Treatment of 20 % salt was more effective than 10 % of salt in preventing microorganism growth which was indicated by lower TPC value (2 – 5 colony/g). Products treated by citric acid and acetic acid also had lower TPC value, 3 – 5 colony/g and 2 – 3 colony/g respectively. Combinations of salt and acid treatments gave significant effect on it. Piperine content were relatively unchanged during 2 months storage (6.5 – 8 %) but it decreased in 3 months storage (5 – 6 %). The best quality was product treated by 20 % of salt and 0.2 % of citric acid. It was also treated by soaking in 2 % of Na2CO3 for 30 minutes, blanching for 5 minutes, addition of 300 ppm SO2 and heating in 100 °C for 15 minutes as constant treatment. The product was also feasible financially on capacity 1,000 bottle per day. Selling Rp. 4,000.00 per bottle will give benefit Rp. 60,000,000.00 per 6 months with 1.11 benefit cost ratio (B/C).

Key words : Green pepper, pickle, spices, bottled green pepper

================================================

PENGARUH KONSENTRASI GARAM, PENAMBAHAN JENIS ASAM TERHADAP MUTU LADA HIJAU DALAM BOTOL SELAMA PENYIMPANAN

[The Effect of Salt and the Addition of Several Acid Types on the Quality of Bottled Green Pepper During Storage]

Endah Djubaedah1 , Djumarman1 , Enny Hawani Lubis1 dan Tuty Hendraswaty2

1Balai Besar Industri Agro
2Fakultas Teknik Universitas Pasundan

Diterima 4 Agustus 2004 / Disetujui 13 Oktober 2004

Research on the effect of salt and the acid types addition on the quality of bottled green pepper during storage has been conducted. Treatments were used 10 % and 20 % of salt, 0.2 % of citric acid and 4 % of acetic acid. The product were stored for 3 months and were analyzed for green color degree, pH, total plate count (TPC), piperine and total solid content. The results showed that citric acid treatment, better than acetic acid treatment, indicated by higher degree of green color (5.30 – 5.92) and pH 4.5 – 4.7 while the other 4.46 – 4.60 of green color degree and pH 3.5 – 3.9. Treatment of 20 % salt was more effective than 10 % of salt in preventing microorganism growth which was indicated by lower TPC value (2 – 5 colony/g). Products treated by citric acid and acetic acid also had lower TPC value, 3 – 5 colony/g and 2 – 3 colony/g respectively. Combinations of salt and acid treatments gave significant effect on it. Piperine content were relatively unchanged during 2 months storage (6.5 – 8 %) but it decreased in 3 months storage (5 – 6 %). The best quality was product treated by 20 % of salt and 0.2 % of citric acid. It was also treated by soaking in 2 % of Na2CO3 for 30 minutes, blanching for 5 minutes, addition of 300 ppm SO2 and heating in 100 °C for 15 minutes as constant treatment. The product was also feasible financially on capacity 1,000 bottle per day. Selling Rp. 4,000.00 per bottle will give benefit Rp. 60,000,000.00 per 6 months with 1.11 benefit cost ratio (B/C).

Key words : Green pepper, pickle, spices, bottled green pepper

================================================

KINETIKA FERMENTASI SELULOSA MURNI OLEH Trichoderma reesei QM 9414 MENJADI GLUKOSA DAN PENERAPANNYA PADA JERAMI PADI BEBAS LIGNIN

[Kinetics of Pure Cellulose Fermentation by Trichoderma Reesei QM 9414 to Glucose and Its Application of on Lignin Free Rice Straw]

M. Iyan Sofyan1

1Staf Pengajar Teknologi Pangan, Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Bandung

Diterima 5 September 2004 / Disetujui 7 Februari 2005

The objectives of this research were: 1) to determine aeration rate and substrate concentration of pure cellulose to produce maximum glucose by Trichoderma reesei QM 9414 at 30 oC, and agitation 150 rpm; 2) to study the kinetics of pure cellulose fermentation by Trichoderma reesei QM 9414 to glucose and its implication upon fermentation of the lignin free rice straw. The experiment was arranged in factorial randomized complete design in three times replication. Treatments consisted of three levels of aeration (1,00 vvm; 1,5 vvm; 2,0 vvm) and three levels of substrate concentration (0,75 ; 1,00 ; 1,25 % w/v). The results showed that at the exponential phase the average specific growth of Trichoderma reesei QM 9414 was 0,05374 hour-1, the maximum glucose product concentration of pure cellulose was 0.1644 gL-1,and the oxygen transfer was 0,0328 mg L-1 hour-1. According to t-test, the kinetics of pure cellulose fermentation model just the same as the lignin free rice straw fermentation.
The enzymes produced by Trichoderma reesei QM 9414 in pure cellulose fermentation media followed the Michaelis-Menten model. The enzyme kinetic parameters were the maximum growth rate was 37×10-3 hour-1 and Michaelis-Menten constant was ½ maximum µ =17,5×10-3 hour-1. The volumetric oxygen transfer (KLa) using rice straw was 0,0337 mg.hour-1. The value of KLa could be used for conversion from bioreactor at laboratory scale to commercial scale design.

Key words : Kinetics Fermentation, Trichoderma reesei, cellulose, lignin, rice

================================================

PENGARUH PERLINDUNGAN EKSTRAK RIMPANG BANGLE (Zingiber cassumunar ROXB) TERHADAP KERUSAKAN HATI TIKUS YANG DIINDUKSI CCl4

[Protective Effect of Bangle (Zingiber cassumunar ROXB) Rhizome Extract on CCl4-Induced Liver Damage of Rats]

Elmeizy Arafah1 , Deddy Muchtadi2 , Fransiska R. Zakaria2, Tutik Wresdiyati3, dan Sidik4

1Mahasiswa S3 Ilmu Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor
2Departemen Teknologi Pangan dan Gizi, Fateta-IPB
3Bagian Histologi, FKH-IPB, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga –Bogor
4Jurusan Farmasi, FMIPA-UNPAD

Diterima 11 November 2004 / Disetujui 20 Januari 2005

Zingiber cassumunar Roxb known as Bangle, has antioxidative and antiinflammatory activities. It has been used for medicinal purposes traditionally. The aim of this study was to investigate whether administration of Z. cassumunar extracts orally may prevent acute liver damage induced by carbontetrachloride (CCl4) in rats. The study was carried out on 5 groups of male Sprague-Dawley rats (n=5). Group 1 was given ethyl acetate fraction of Bangle rhizome extract (30 mg/kg bw) (KS), group 2 was given dry juice of Bangle rhizome (30 mg/kg bw) (SK), group 3 was given curcuminoid (30 mg/kg bw) (KUR), group 4 as negative control (KN) given 5% Tween 80 solution (10 ml/kg bw) and Group 5 as control (K). Carbontetrachloride 0,1 ml/kg bw was given orally after 7 days to group KS, SK, KUR and KN. Rats were terminated 24 hours after CCl4-induction. Liver injury was evaluated by analyzed SGPT and SGOT activities from the serum and histopathologycal examination was conducted on the liver. The results clearly indicated that extracts of Z. cassumunar could reduced significantly the degree of liver damage induced by CCl4. It may be concluded that Z. cassumunar rhizome could be used as substance for hepatoprotector.

Key words : Zingiber cassumunar, hepatoprotector, Liver damage

================================================

PENGARUH PEMBERIAN GULA MERAH DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KADAR GIZI DAN RASA TELUR ITIK ASIN

[The Effect of Palm Sugar and Storage on Nutrient Content and Taste of Salted Duck’s Egg]

Yenni Yusriani

Staf Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, NAD

Diterima 14 Juli 2004 / Disetujui 15 Maret 2005

This research used 150 duck eggs age one as subject day. There were two factors analyzed here. The first was the amount of palm sugar which consisted of 25 grams, 50 grams, and 75 grams. The second factor were the storage duration which consisted of 3, 4, and 5 weeks. The nutrient content parameters measured were rates protein, fat and ash content. Sensory quality parameters measured were color and taste. The analysis showed that in processing/making salted duck egg, palm sugar addition influenced protein content significantly (Fc = 7,0 > Ftab = 4,5) fat content ( Fc 67,3 > Ftab= 8,7) and ash content (Fc = 64,6 > F tab = 8,7) very significantly. However, organoleptic test showed that palm sugar addition did not influenced color and taste of salted duck egg significantly. Storage duration influenced protein content significantly (Fc= 6,9 F tab = 8,7) but did not significantly influenced ash content (Fc = 3,5 C. the stability of the anthocyanins was as effected by pH, heat, oxidator, and light was investigated. The extraction using combination of water and isopropanol at 270C showed the highest total yield, i.e 71.54% (db). Furthermore, the highest anthocyanin concentration and yield were obtained in the extracts using combination of water and ethanol at 270>C i.e. 10 007.03 mg/L (db) and 2.78% (db), respectively. At low pH, the pigment extracts sowed high stability; and gradually decreased and lost color when the pH was increased. The greatest color intensity (red) was obtained at pHs values less than 3.5. The anthocyanins were relatively stable during heating temperature of 40 and 600C in which more than 80% of pigment could be maintained for 4 hour of heating. Heating at high temperatures (80 and 1000C) decreased the color stability more than 80%. Presence of oxidator H2O2 reduced the stability up to 73.52%. The UV and flouresecent light exposure for 7 days also reduced the stability by 11.47% and 10.62%, respectively.

Key words: Anthocyanins, Jambolan skin, Extraction, pigment stability

================================================

PURIFIKASI DAN KATRAKTERISTIK ENZIM LIPOKSIGENASE KACANG TANAH

Purification and Characterization of Peanut Lipoxygenase Enzime

B.A.S. Santosa 1, A. Eliana 2 dan S. Widowati 1

1 Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian, Badan Litbang Pertanian 2Alumnus Institut Pertanian Bogor

Diterima 20 Juni 2005 / Disetujui 10 Agustus 2005

Fat oxidation of peanut is a serious problem, because it could reduce of peanut quality and form a hydroperoxide compound. Hydroperoxide could be broken down into acid, ketone and low peptide, and resulted in volatile compounds with undersirable aroma. Extraction on enzyme was carried out by water, while purification and fractination were conducted using ammonium sulphate and chromatography. The objective of this research was to evaluate of the protein fraction, lipoxygenase properties, and enzyme activity during fractionation. The result showed that the highest fraction of protein was globulin, i.e 41-48% of total extracted protein, and the activity of lipoxygenase enzyme in the albumin fraction was 40-54% of the total activity. Purification of lipoxygenase enzyme was conducted by using ammonium sulphate (40-60% saturated) and this increased its specific activity up to 2.0-4.2 timer from the crude enzyme. Separation of lipoxygenase enzyme using sephadex G-150 revealed 3 (tree) peaks of activities, with specific activities 6.0-70.0 fold of the crude enzyme. Lipoxygenase enzyme of gajah variety denatured when heated at 700C during 30 minutes. The activition energy of lipoxygenase enzyme from Gajah variety (19.083 Cal/Mol) was relatively lower than 1509 and 1512 which were, 25.446 Cal/Mol and 24.780 Cal/Mol, respectively. The result showed that lipoxygenase enzyme from Gajah variety was relativeky more heat stable as compared to the 1509 and 1512 lines. Lower activation energy of lipoxygenase enzyme indicated that effect of temperature alteration toward ‘k’ value was smaller. Lipoxygenase enzyme was active at pH higher than 3.0 or lower than 10.0. the data indicated that ‘Km’ value of lipoxygenase enzyme from Gajah variety was higher than that of 1509 and 1512 lines. It means that lipoxygenase enzyme from 1509 and 1512 lines more reactive that gajah variety.

Key words : Lipoxygenase, peanut, purification

================================================

KARAKTERISTIK SERBUK LABU KUNING (Cucurbita moschata)

Characteristic of Pumpkin Powder (Cucurbita moschata)

Sri Usmiati 1, D. Setyaningsih 2,E.Y Purwani 1, S.Yuliani 1 dan Maria O.G 3

1Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor, 2Departemen Teknologi Industri Pertanian Fateta IPB, 3Mahasiswa Departemen TIN Fateta IPB

Diterima tanggal 2 Maret 2005 / Disetujui 17 Juli 2005

Instant powder of pumpkins was made by mollen dryer in order to extend the product shelf life The aim of the research was to determine the characteristics of the pumpkin powder. The research had been designed using completely randomized block factorial pattern, two levels of drying-up temperature and three levels of mollen dryer speed rotation on two blocks of pumpkin (I and II groups). The parameters measured were percentage of yield, water content, ash, solubility, and sugar, pH, bulk density (g/ml), beta-carotene (µg/g), colors, and hedonic test (scale 1 = not accepted through 5 = really accepted). The research result showed that the drying temperature affected solubility, and the speed rotation affected sugar content of pumpkin powder. The best pumpkin powder was produced by mollen dryer at 60ºC degree and 6 rpm speed rotation which was characterized by high yield and solubility, also produced best hedonic value on taste, color and performance as compared to the other treatment.

Key words : Pumpkin, drying-up temperature, speed rotation, mollen dryer

================================================

PENGERING SUHU RENDAH UNTUK MENJAGA MUTU BAHAN PERTANIAN

Low Temperature Drying to Maintain the Quality of Agricultural Products

R. Sarwono

Pusat Penelitian Kimia (P2K)-LIPI Kopmlek Puspitek, Serpong-Tanggerang (15314)

Diterima 20Mei 2005 / Disetujui 29 Agustus 2005

Drying equipment is an important unit operation in industrial processes. Reducing moisture content in order to prolog the storage time is very commonly used. There are many agricultural product which are very heat sensitive. To maintain the essential ingredient in those product, drying process should be applied at low temperature drying process gave lower drying rate, is time consuming and in general costly. Increasing drying rate by reducing the absolute humidity is this recommended. There are many ways to dry the air, firstly moisture is condensed in evaporator and then dried air is heated in condenser. Is conducted if the drying system in connected with heat pump system. Secondly, moisture is absorbed by hygroscopic materials such as CaO. Water absorbed and reacted with CaO become Ca(OH)2 in exothermic reaction, and simultaneously dried air is heated.

================================================

PERANAN PROGRAM STUDI TEKNIK PANGAN (FOO ENGINEERING) UNTUK MENUNJANG PEMBANGUNAN INDUSTRI PANGAN DI INDONESIA

The Roles of Engineering fot the Development of Agro Industries in indonesia

Budi Rahardjo dan Suhargo

Laboratorium Teknik Pangan dan Proses Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta

Diterima 20Mei 2005 / Disetujui 29 September 2005

At this time more than 60 % of Indonesian population still depend on the agricultural sector. Accordingly, in future agro and food industries are expected to be the main steppingstone for the economic development in Indonesia. In order to make the agricultural products competitive in the global market; it is necessary that the development of food or agro industries is supported by technology especially in the food product development and their processing. The food product development consist of food product design, process design, equipment and machinery design and packaging design. Consequently the food product development requires the knowledge of food science, and is necessary to be supported by the knowledge of engineering or know as food engineering. As a course, food engineering is already offered in the study program of food science and technology. However, food engineering is not developed yet as a study program as well as in the other countries, the study program in food engineering is necessarily different from the study program of food science and technology. Food engineering is scientific discipline to study and apply the engineering principles in food preservation, conservation, conversion and distribution. In several countries both study programs are paralely offered as two different study programs with deferent competence and knowledge. The competency of food engineering is mainly in the application of engineering knowledge for food design, design and construction of food process equipment, process design, process equipment operation and management. Accordingly, the content of the food engineering curriculum covers engineering and physics (50-60%), biology and food science (20-30%) and other supporting knowledge’s (statics, communication, etc, 10-20%). The graduates in food engineering will have opportunities working as engineers as well as designing, constructing and operating process equipment in food industries, as researchers and developers of food processes in research institution, as consultant for food industries, or as teaching staff in universities or higher educations. Therefore, study program in food engineering is important to be established. It will significantly support development appropriate technology for agro industries in Indonesia. This study program can be organized together as the study programs in food science and technology and agricultural engineering that already exist in several universities.

================================================

Design by ” DKSI IPB “: JURNAL TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PANGAN

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN ABSTRAK | CONTOH JUDUL PENELITIAN TENTANG ROBOTIKA

DESAIN DAN IMPLEMENTASI OBJECT FINDER ROBOT DENGAN KAMERA SEBAGAI SENSOR

Created by :
Wahyudi, Arik ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: Konstruksi robot
bidang navigasi
Robot

[ Description ]

Dalam perkembangan teknologi yang begitu cepatnya, suatu sistem yang bekerja secara otomatis dengan hasil yang akurat sangat diperlukan dalam penyelesaian suatu pekerjaan. Dalam kebutuhan ini digunakan suatu robot yang memiliki kecerdasan dan keunggulan tertentu dalam suatu hal. Robot digunakan karena ketepatan, kecepatan dan akurasi yang tinggi terhadap penyelesaian suatu masalah yang diberikan terlibih lagi bila diperlukan waktu penyelesaiin yang cukup lama dimana melebihi batas kemampuan manusia Robot yang kita gunakan disini berbahan dasar utama plastik dikarenakan untuk menekan besarna berat robot sehingga dimungkinkan robot yang kita buat berbentuk kecil dan mudah bergerak. Konstruksi robot kita menggunakan bekas tempat isi ulang tinta printer yang dirasa cukup ringan dan mudah dimodifikasi. Robot disini juga memiliki vacuum cleaner yang terdapat pada ujung bagian depan robot yang nantinya berguna untuk mengambil bola yang kita inginkan. Kecepatan robot disini tergantung akan kemampuan kecepatan kamera dalam melakukan capture image. Rata-rata kecepatan robot yang telah kita buat adalah 2,42 cm/s. Smakin jauh derajat letak benda dengan robot maka kecepatan akan menurun dikarenakan proses capturing yang lambat.

Alt. Description

Otomation system with accurate result needed for work solution. In this situation we need a robot that have a good intelligent ( intelligent robot ). Robot used because it have high accuracy, precision and quickly about problem arrangement. The robot that we use in this project take from plastic material base because with plastic material base we have a light in weight robot, so the object finder robot can move easily. The construction of object finder robot we make from printer inkjet pack that easy to modification. This object finder robot also have a vacuum cleaner. The fungtion of that vacuum cleaner is to take a wanted object. The speed of object finder robot equel with a respons of camera to capture image. A speed average of this object finder robot is 2,42 cm/s. The distance between object finder robot with object also influence the speed of object finder robot. If the distance is so far, the speed of object finder robot will go down.

Contributor :

1. Ir.Djoko Purwanto, M.Eng., Ph.D.

#########################################################

RANCANG BANGUN DRIVER MOTOR DAN TASK PROGRAM PENGONTROL LENGAN ROBOT RV-M1 DENGAN SISTEM PENGATURAN OPEN LOOP BERBASIS PC

DESIGNING AND BUILDING THE DRIVER OF MOTOR AND TASK PROGRAM TO CONTROL THE ARM OF RV-M1 ROBOT WITH OPEN LOOP PC BASED CONTROL SYSTEM

Created by :
ANJAR QOMARULLAH M. ( )

Subject: Robot
Alt. Subject : Robots
Keyword: Robot
sistem kontrol
open loop
PC
Robot
control systems.

[ Description ]

Dalam dunia industri, robot digunakan untuk melakukan fungsi tertentu, seperti material handling, untuk bisa melakukan fungsi tersebut, robot harus memiliki kemampuan untuk memindahkan benda kerja ke koordinat tujuan. Jurusan Teknik Mesin ITS mempunyai robot jenis ini, tetapi sudah tidak dapat berfungsi. Masalah robot tersebut terletak pada sistem kontrolnya. Sistem kontrol robot mengalami kerusakan dikarenakan pengoperasian dan perawatan yang kurang baik.tugas akhir ini berfokus pada bagaimana membuat robot dapat beroperasi lagi. Salah satu cara menyelesaikannya adalah dengan mendesain controller robot berbasis PC. Kita akan menggunakan sistem open loop karena kemudahan perancangan dan material. Ini merupakan penelitian awal sebelum kita dapat gunakan tipe yang lain. Perencangan dan pengembangan kontroller robot telah diuji coba dan menghasilkan beberapa kesimpulan yang dapat dijelaskan selanjutnya. Kontroller robot baru mempunyai work envelope yang melebihi work envelope untuk controller robot lama. Yaitu 304° untuk joint 1, 143° untuk joint 2, 199° untuk joint 3, 186° untuk joint 4 dan >360° untuk joint 5. Sedangkan untuk kemampuan robot untuk mencapai tujuan, pengujian menunjukkan bahwa robot mampu mencapai target dengan tepat.

Alt. Description

In the Industries, robots are used to perform certain function, such as material handling. In order to be able to perform such function, the robot has to be able to work move work material to targeted (specific) coordinate. Mechanical Engineering Departement of ITS has such a robot that unfortunately is not working. The problem with the robot is its control system. The robot control system has been damaged due to poor operation and maintenance. This final project is corcerned on how to make the robot to live again. One method to do so is by designing new PC based robot controller. We will use a open loop system because of its simplicity to be designed and materialized. It is also a preliminary reseach before we can employ other types of controller. The design and developed robot controller has been tested and provides several outcomes, which can be described as follow. The new robot controller has a greater/wider work envelope than the old one. That is 304° for the joint of 1, 143° for the joint of 2, 199° for the joint of 3, 186° for the joint of 4 and > 360° for the joint of 5. In terms of robot ability to reach a designated target, the experiment shows that the robot able to reach the target precisely.

Contributor :

1. Dr. M. Nur Yuniarto

#########################################################

VALIDASI EKSPERIMENTAL ROBOT PLANAR DIRECT DRIVE PENGENDALI PROPORTIONAL DERIVATIVE (PD CONTROLLER) DAN METODA COMPUTED TORQUE

THE EXPERIMENTAL VALIDATION OF A TWO DEGREES OF FREEDOM DIRECT DRIVE PLANAR ROBOT THROUGH THE PROPORTIONAL DERIVATIVE (PD CONTROLLER) IMPLEMENTATION AND THE COMPUTED TORQUE METHOD

Created by :
TARMUDJI ( )

Keyword: Draw back
efek backlash
PD controller
Computed Torque

[ Description ]

Robot planar direct drive dua derajat kebebasan adalah robot eksperimen yang digerakkan secara langsung oleh motor DC brushless tanpa menggunakan gear reducer. Dengan konstraksi tersebut drawback akibat gaya gesek statis dan efek backlash dapat dieliminasi. Robot planar direct drive dua derajat kebebasan tersebut adalah robot hasil rancang bangun dengan mengapUkasikan teori-teori robotika dan mengacu pada model robot direct drive yang dikembangkan oleh Spong dan Wals (1994). Robot dikendalikan menggunakan metoda kontrol konvensional Proportional Derivative (PD) controller dan metoda Computed Torque dengan harapan dapat meningkatkan kinerja robot tersebut. Hasil validasi menunjukkan bahwa kinerja robot planar ditinjau dari segi akurasinya memiliki tingkat akurasi 1.2070 % bila dikendalikan dengan sistem pengendali PD controller dan 1.2060 % bila dikendalikan dengan sistem pengendali Computed Torque.

Alt. Description

A two degrees of freedom direct drive planar robot is an experimental robot which moved directly by brushless DC motor without gear reducer. By that construction, drawback caused by static friction forces and backlash effect can be eliminated. That two degrees of freedom direct drive planar robot is the result of design by applied robotic theories refer to direct drive robot model developed by Spong and Wals (1994) and controlled by conventional proportional derivative (PD controller) and the computed torque. The Validation to obtain the accuracy level of robot by the PD controller implementation and the computed torque method is hoped to be able to increase the performance of robot.. Result of validation showed that the performance of planar robot based on its accuracy is 1.2075 for the PD control system and 1.2060 for the computed torque control system.

Contributor :

1. Dr. Ir. Achmad .lazidie, MEng.

#########################################################

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT LUNAK SISTEM PENGENDALIAN DAN PEMANTAUAN ROBOT DENGAN MENGGUNAKAN JAVA DAN LEJOS

DESIGN AND DEVELOPMENT SOFTWARE FOR ROBOT CONTROLLING AND MONITORING SYSTEM USING JAVA AND LEJOS

Created by :
Suardinata, I Wayan ( )

Subject: Komputer–perangkat lunak
JAVA (program komputer)
LEJOS (program komputer)
Alt. Subject : Software Architecture
Keyword: Robotika
LEGO Robot
Control
Monitor
Aplikasi Wireless
Inframerah
Robotic
Wireless Application
Infrared.

[ Description ]

Perkembangan robotika saat ini mulai meningkat.Robotika tidak hanya dipakai di pabrik-pabrik atau laboratorium tetapi sekarang mulai dijual secara umum dalam bentuk robot humanoid dengan berbagai kecerdasan yang dimilikinya. Tidak hanya itu perkembangan robot juga memasuki dunia pendidikan. Di berbagai belahan dunia, robotika dijadikan sarana yang paling efektif untuk pengajaran dan penguasaan teknologi dan problem solving. Untuk keperluan itu LEGO ROBOT digunakan sebagai alat peraga karena robot ini dapat diprogram dengan berbagai bahasa pemrograman serta mudah dalam konstruksinya. LEGO Robot tidak hanya dipakai oleh anak kecil tapi juga orang dewasa karena robot ini sudah didukung oleh berbagai software dan perangkat keras lainnya dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Tentunya semakin kompleks sistem itu semakin cerdas dan handal robot itu. Pembuatan aplikasi pengendalian dan pemantauan robot ini adalah langkah awal untuk mempelajari pemrograman dan penguasaan teknologi robot menuju ke arah pembangunan robot yang dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat.

Alt. Description

Recently robotic development has been increasing rapidly. Robotic not only use in manufacture or laboratory but had been selled publicly in the form of humanoid robot with various inteligent it has. Even now robotic development has reach school or any education institution. In any part of the world, robotic is used as an instrument for teaching and applying technology and problem solving. For that purpose LEGO ROBOT is used because this robot can be programmed and easy in contruction. LEGO Robot is not only used by children but also for adult with diferrent complexity and hardware support. This robot controlling and monitoring system is a first step to learn how to program dan using robot technology in order to develop the real robot for society.

Contributor :

1. Ir. M. Husni, M.Kom

#########################################################

SISTEM NAVIGASI INDEPENDENT FLYING ROBOT MELALUI EVALUASI DATA GAMBAR

SYSTEM NAVIGATION INDEPENDENT FLYING ROBOT THROUGH IMAGE PROCESSING

Created by :
HARIATI, EVI ( )

Subject: teori kontrol
Keyword: Data gambar
neural network

[ Description ]

Flying Robot yang bergerak secara otomatis membutuhkan sistem navigasi yang mampu memandu pergerakannya dari titik awal (start) sampai ke titik tujuan (target). Salah satu sistem navigasi yang dipakai sebagai acuan oleh flying robot adalah gambar-gambar yang ada pada lintasan. Gambar-gambar itu digunakan sebagai bahan referensi untuk menentukan arah penerbangan selanjutnya. Penelitian ini membuat simulasi sistem navigasi melalui evaluasi data gambar dengan menggunakan aplikasi neural network yang membantu mengemulasikan beberapa aspek prilaku manusia sehingga flying robot dapat menentukan jarak dan arah lintasan.

Alt. Description

Peripatetic Flying Robot automatically require system of navigation capable to guide the movement of from starting points (start) to dot of target. One of the system of navigation is used as reference by robot flying is pictures which on trajectory. That pictures as reference to determine air transport next direction. This research make system simulation of navigation through image data evaluation by using application of neural network assisting replacing some aspects of human being so that robot flying can determine trajectory direction and distance.

Contributor :

1. Ir. Rusdhianto Effendi Ak, MT.

#########################################################

RANCANG BANGUN SISTEM AUTODOCKING UNTUK PENGISIAN BATERAI PADA MOBILE ROBOT

Created by :
PURWANTO, RUDY ( )

Subject: Baterai
Robot
Alt. Subject : Robots
Keyword: Perancangan
Pembuatan robot

[ Description ]

Banyak kemajuan-kemajuan yang terjadi pada teknologi robotika pada akhir-akhir ini, baik dari segi mekanik ataupun dari segi otomatisasinya. Fungsi robot sangat membantu untuk meringankan beban pekerjaan manusia. Salah satu faktor yang penting sebagai penyusun robot adalah catu daya atau baterai. Tinggi rendahnya tegangan yang timbul pada baterai akan mempengaruhi kerja dari robot. Tugas akhir ini menyajikan implementasi pengisian baterai otomatis jika kondisi tegangan baterai sudah dalam keadaan minimal. Untuk dapat mengetahui posisi chargernya, pada robot akan dipasang sensor photodiode yang akan berputar 360o untuk mengambil data. Pada charger akan diberi pengirim sinyal infra red dengan frekuensi 40 KHz. Setelah sampai dicharger, tegangan akan dideteksi sampai level maksimum dan proses penchargeran selesai. Dengan menggunakan sensor photodioda dan infra red pada jarak dekat robot dapat sukses melakukan pengisian baterai dengan kemungkinan keberhasilan 80%. Dalam perjalanan mencari tempat pengisian baterai (docking) jika ada halangan sesaat maka robot akan berhenti pada jarak 15 cm terhadap halangan. Untuk mendeteksi tegangan saat pengisian baterai yang menggunakan pembanding dengan histerisis dan jika tegangan baterai sudah sampai dengan tegangan referensi maka robot akan selesai mengisi dan berhenti pada chargernya. Dengan adanya sistem pengisian baterai otomatis ini diharapkan dapat diterapkan pada mobile robot yang lain sehingga dapat meningkatkan kerja robot dan efisiensi daripada robot tersebut.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, Ph.D

#########################################################

SISTEM PENGATURAN IMPEDANSI ROBOT BERDASARKAN SLIDING MODE CONTROLLER SEBAGAI PENGATURAN POSISI KOKOH

ROBOT IMPEDANCE CONTROL SYSTEM BASED ON SLIDING MODE CONTROLLER AS ROBUST POSITION CONTROL

Created by :
Sasmito, Anung Pandu ( )

Subject: Robot
Keyword: Impedansi robot
konvensional
Sliding Mode Control

[ Description ]

Pengaturan impedansi robot merupakan cara yang efektif untuk mengendalikan robot ketika robot melakukan interaksi dengan suatu obyek atau lingkungan. Akan tetapi, dalam pengaturan impedansi konvensional diperlukan data-data robot yang akurat, agar robot dapat bergerak sesuai dengan karakteristik hubungan dinamik antara gaya dengan posisi atau lintasan (trayektori) yang diinginkan dan tidak menimbulkan error yang tidak diharapkan. Pada tugas akhir ini akan dikembangkan suatu sistem pengaturan impedansi yang mampu menekan error akibat ketidaktepatan pengukuran data-data robot. Sistem pengaturan impedansi tersebut dikembangkan menggunakan metode Sliding Mode Control yang bebas chattering (Chattering Free Sliding Mode Controller) sebagai sebuah pengaturan posisi kokoh dimana target posisinya ditentukan oleh target impedansi yang diinginkan. Pada hasil simulasi dan eksperimen, diperoleh bahwa pengaturan impedansi robot berbasis pengaturan posisi dengan sliding mode controller mampu mengikuti trayektori atau lintasan target impedansi yang diinginkan baik pada saat free motion maupun constrained motion. Dan kemudian, sliding mode controller mampu menekan error yang timbul ketika terdapat ketidaktepatan pengukuran parameter robot.

Alt. Description

Robot impedance control is an effective way to robot control when interacts with an object or environment. Nevertheless, conventional impedance control needs robot data accurately, so that robot can move agree with the dynamic relationship characteristic between force and desired position and do not cause undesired error. In this final project, an impedance control system which can push error caused by imprecise measurement of robot data will be developed. This impedance control system is developed by using chattering free sliding mode controller as a robust position control system where the position targets are define by desired impedance targets. In the result of simulation and experiment are obtained that robot impedance control based on position control with sliding mode controller can trace the impedance target trajectory when it moves both free motion and constrained motion. And then, sliding mode controller can push the error when there is an imprecise measurement of robot data.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng

#########################################################

PERANCANGAN NAVIGASI AUTONOMOUS MOBILE ROBOT PADA LINGKUNGAN YANG TIDAK DIKETAHUI MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN

Created by :
Muhtadin ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: Autonomous mobile robot
mapping
path planning

[ Description ]

Autonomous mobile robot harus bisa mengendalikan dirinya sendiri walaupun dalam lingkungan yang tidak tentu. Untuk dapat melakukan pengendalian secara mandiri, bisa dilakukan dengan melalui proses pembelajaran secara mandiri dengan mempertimbangkan input dari sensor-sensor yang dipakai. Tugas akhir ini akan membahas tentang penggunaan topologi kohonen sebagai metode pembelajaran autonomousmobile robot dalam mengenali lingkungannya dan mesimulasikannya dengan lingkungan yang mendekati keadaan sebenarnya melalui sebuah software.Dari penelitian ini didapatkan sebuah metode menggunakan algoritma pembelajaran kohonen yang digunakan robot untuk melakukan mapping terhadap lingkungannya kemudian hasil mapping tersebut dapat dibuat sistem navigasi yang dapat digunakan oleh autonomous mobile robot sehingga robot dapat bergerak dari titik asal hingga mencapai titik tujuan tanpa menabrak obstacle. Dari hasil percobaan yang dilaksanakan, dengan menggunakan navigasi yang sudah dibuat, robot mampu menyelesaikan semua tugas path planning yang diberikan kepadanya dengan tepat.

Contributor :

1. Prof.Dr.Ir. Mauridhi Hery Purnomo, M.Eng.

#########################################################

PENGATURAN GERAK PADA ROBOT BERJAL AN BERBASIS CITRA

IMAGE BASED MOTION CONTROL FOR MOBILE ROBOT

Created by :
Kartika ( )

Keyword: robot berjalan
sensor citra
follow-the-carrot
pure-pursuit

[ Description ]

Pekerjaan mengikuti jalur dan penghindaran rintangan adalah dua perilaku sangat penting yang harus dipertimbangkan pada robot berjalan (mobile robot) pada landasan tanpa awak dibawah kendali komputer. Banyak kemajuan yang telah dilaksanakan dalam bidang AMR (Autonomous Mobile Robot) pada. dekade terakhir ini, dan aplikasi yang telah sukses adalah yang diterapkan pada pertahanan, pertanian dan pertambangan, yang menggunakan sensor jarak dan sensor citra. Pada tesis ini dibahas algoritma pekerjaan mengikuti jalur dan penghindaran rintangan pada purwarupa robot barjalan. Pada robot berjalan digunakan kemudi diferensial dan dilengkapi sebuah kamera sebagai sensor citra yang berfungsi untuk mencari target, menentukan jalur dan mendeteksi rintangan. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan unjuk kerja algoritma pure-pursuit dan follow-the-carrot. Dari hasil percobaan, dalam hal perilaku mengikuti jalur dan penghindaran rintangan, dibuktikan bahwa algoritma pure-persuit menghasilkan unjuk kerja yang lebih baik.

Alt. Description

Path tracking and obstacle avoidance are two important behaviours that must be considered at an unmanned mobile robot on the ground under computer control. A lot of progress has been done in developing AMR (Autonomous Mobile Robot) in the last decade, and successful has been made in military, agriculture and mining, by using distance and image censors. The research discuss about path tracking and obstacle avoidance algorithm at a mobile robot The mobile robot use differential steering methode and equipped with a camera as image censor to look for goals, path tracking and obstacle avoidance. In the research conducted comparison behaviour between pure-pursuit and follow-the-carrot algorithm. From result of attempt, in the case of path tracking and obstacle avoidance behaviour, it is proven mat pure pursuit algorithm is better then follow-the-carrot algorithm.

Contributor :

1. Ir.Djoko Purwanto,MEng., Ph.D Ir. Dadet Pramudihanto, M.Eng., Ph.D

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT REHABILITASI PASIEN PASCA STROKE

DESIGN ROBOT REHABILITATION PATIENT PASCA STROKE

Created by :
SHAFI ( )

Subject: robot
Keyword: Robot rehabilitasi
Robot dua DoF (degre of fredom)

[ Description ]

Penderita stroke mengalami kelumpuhan pasca stroke,dibutuhkan terapi obat-obatan dan juga terapi gerakan bagian tubuh yang lumpuh. Dengan meningkatnya pasien penderita stroke membutuhkan banyak orang untuk menangani terapi pasien pasca stroke. Terapi ini membutuhkan waktu lama dan biaya tidak sedikit. Untuk memudahkan pasien pasca stroke untuk melatih tubuh mereka sendiri, maka dikembangkanlah robot yang mampu membantu menggerakkan tubuh pasien pasca stroke. Karena pentingnya peran robot dalam rehabilitasi pasien pasca stroke maka penelitian fungsi robot rehabilitasi banyak dilakukan. Penggunaan satu joint robot yang ada dikembangkan dengan menambah joint sampai digunakan pengaman untuk memberikan kenyamanan pada pasien pasca stroke yang melakukan rehabilitasi, tetapi robot otomatis yang ada hanya mampu melatih gerakan yang sederhana untuk itu dibutuhkan robot yang bisa melatih gerakan yang kompleks. Di Indonesia penggunaan robot sebagai alat bantu untuk pasien pasca stroke sangat jarang digunakan, hal ini dikarenakan kurangnya penelitian robot rehabilitasi di Indonesia. Pada tugas akhir ini akan dirancang robot dua Dof (degre of fredom) dengan kontrol trajektori yang memiliki sensor posisi untuk lengan pasien pasca stroke. Sistem yang digunakan menggunakan kontroler PID yang dijalankan pada pemrograman Mathlab. Dengan sistem ini diharapkan robot dapat berinteraksi dengan pasien. Dapat menyesuaikan gerakan pasien dengan memberikan impedance sebanding tenaga yang pasien berikan.

Alt. Description

Natural patient stroke paralysis of pasca stroke, required a therapy medicines as well as movement therapy part of palsied body.At the height of patient of patient stroke require many people to handle therapy of patient of pasca stroke. This Therapy require much time and the expense by dozens. To facilitate patient of pasca stroke to train body of themselves, then developed a robot capable to assist to move body of patient of pasca stroke. Because robot have important role in rehabilitating patient of pasca stroke then research of robot function rehabilitate a lot of conducted. Use one existing joint robot developed by adding joint be used a peacemaker to give freshmen at patient of pasca stroke conducting to rehabilitate, but existing automatic robot only able to train simple movement for that be required by a robot which can train complex movement. In Indonesia the robot use as a means of assist for patient of pasca stroke very rare be used, this matter because of lack of robot research rehabilitate in Indonesia. At this final project will be designed robot two Dof ( degree of freedom) with control trajectory owning position censor for arm of patient of pasca stroke. Used System use controller PID Run at Mathlab soft ware. This system expected a robot earn have interaction with patient. Earn to accommodate patient movement by giving proportional impedance energy which the patient give

Contributor :

1. Achmad Arifin ST., M.Eng., Ph.D.
Ir. Djoko Purwanto M.Eng., Ph.D.

#########################################################

KOMUNIKASI WIRELSS MOBILE ROBOT PENDETEKSI SUMBER INFRAMERAH YANG BERGERAK DALAM RUANGAN

WIRELESS COMMUNICATION MOBILE ROBOT INFRARARED MOVEMENT SOURCE DETECTOR IN THE ROOM

Created by :
Muttaqin, Nuzulal ( )

Subject: Robots
Keyword: Sensor
Robot
Komunikasi Wireless
Passive Infrared

[ Description ]

Komunikasi wireless adalah salah satu jenis komunikasi tanpa kabel yang mampu mengirimkan data secara serial. Bentuk data yang dikirimkan dapat berupa data integer maupun karakter. Kelebihan komunikasi tanpa kabel ini menjadikanya lebih praktis untuk berbagai macam aplikasi. Sampai saat ini jenis komunikasi wireless telah banyak digunakan untuk monitoring sistem keamanan dan komunikasi robot. Pada tugas akhir ini dibuat sebuah robot yang memanfaatkan komunikasi tanpa kabel. Robot ini dilengkapi dengan sensor passive infrared yang mampu mendeteksi gerakan yang ditimbulkan oleh manusia. Robot akan bergerak menyusuri ruangan dengan bantuan sensor ultrasonic sebagai navigasi. Apabila sensor passive infrared mendeteksi pancaran gelombang inframerah yang dipancarkan oleh tubuh manusia yang sedang bergerak pada ruangan tersebut, maka robot akan mengirimkan peringatan adanya sumber inframerah yang bergerak dalam ruangan tersebut. Data dikirim ke komputer secara wireless. Selain peringatan adanya sumber inframerah yang bergerak, robot juga akan mengirimkan data jarak sumber gerakan dari start robot(home). Ukuran ruangan yang ditelusuri robot dapat ditentukan dari komputer. Selanjutnya robot akan terus bergerak menyusuri ruangan sesuai dengan ukuran tersebut.

Alt. Description

Wireless communication is a kind of communication that can send the data package using serial communication mode without cable. The data package that can be sent are integer or character type. Some advantage from this communication mode can make the communication be simple and practically for all aplication. At this time nircable communication have been used in security system and robotic communication. In this final project will be created a mobile robot that take the advantage of nircable communication. This robot also completely with passive infrared sensor that can detect the human movement. Robot will move to track the room with the ultrasonic sensor as the navigation equipment. If the infrared sensor detect the infrared wave that come from human body in that room, robot will send the warning to the computer use wireless mode. Besides warning about the movement by infrared source, robot will also send the distance of movement source from robot’s start. Measurment of room that tracked by robot can be set from computer. Robot will move based on the measurment setting that send from computer.

Contributor :

1. Pujiono, ST, MT
Ir. Totok Mujiono, MI.Kom

#########################################################

PERANCANGAN DAN SIMULASI KONTROL ADAPTIF INDEPENDENT LINK UNTUK ROBOT PENGISIAN BBM

THE SCHEME AND SIMULATION OF INDEPENDENT LINK ADAPTIVE CONTROL FOR BBM FILLING ROBOT

Created by :
Wibowo ( )

Keyword: BBM
loading arm
kontroler adaptif dan lengan robot

[ Description ]

Pengisian BBM kedalam truk tangki secara konvensional dioperasikan oleh tenaga manusia, banyak terjadi kendala dalam pelaksanaannya yang meliputi kecelakaan kerja, kesalahan pengukuran dan safety yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Oleh karena itu diperlukan disain robot untuk pengisiaan BBM tersebut. Robot pengisian BBM yang direncanakan adalah robot planar 2 DOF dan 1 prismatik, yang perubahan parameter lengan-1 terjadi karena berubahnya posisi relatif lengan-2 terhadap lengan-1. Motor DC yang digunakan pada kedua lengan robot mempunyai putaran 1750 rpm 400 VDC, direduksi menjadi 60 rpm untuk menggerakan masing-masing lengan. Dalam penelitian ini pengendalian lengan robot dilakukan dengan menggunakan kontroler adaptif independent link, yang terdiri atas 2 unit sistem pengendalian motor. Motor-2 untuk pengendalian dengan fixed variable sedangkan motor-1 digunakan pengontrolan dengan auto tunning variable. Gerakan lengan robot mampu dikendalikan melalui pengontrolan motor penggerak lengan. Yang didapatkan besarnya respon motor-2 sebagai berikut, maximum overshoot sebesar 0.02, peak time dan setting time sebesar 3.5 detik, waktu steady state pada 6 detik dengan error response sebesar 0.0.

Alt. Description

The filling of BBM into tank truck conventionality is still operate by human, there are so many trouble in it’s operation like work accident, fault in measure and safety problem that make hre. Because of that it’s necessary to design a good robot to Gil up that BBM. The filling BBM robot that we plan are planar robot with 2 DOFand 1 prismatic, where the alteration of 1st arm parameter happen because the change of relative position on 2nd arm to 1st arm. DC motor that we use on both of arm have speed 1750 rpm 400 VDC, and it’s reduce become 60rpm to activate each arms. In this research, to control this robot arm we are using Independent Link Adaptive Controller, where it consist of 2 unit system motor controller. The 2nd motor use to control with fixed variable and the 1st motor use to control with auto tuning variable. The movement of arm robot have ability to control by arm movement motor. Where the value of 2nd motor response is, maximum overshoot 0.02, peak time and settling time 3.5 second, steady state time is 6 second with error response 0.0.

Contributor :

1. Ir. Rusdhianto Effendy AK., MT.

#########################################################

PERANCANGAN KONTROLER KNOWLEDGE BASE UNTUK PENGATURAN POSISI ROBOT SCARA DENGAN BEBAN BANDUL

DESIGN AND IMPLEMENTATION MONITORING SYSTEM OF PRODUCTION PROCESS ON SETIA KAWAN PLASTIC FACTORY PURWOKERTO

Created by :
Sulistiyowati, Indah ( )

Subject: Kontrol
Teori
Keyword: robot SCARA
end effector
ayunan bandul
kontroler knowledge base
sistem koordinasi
: SCARA robot
end effector
swing of pendulum
knowledge base controller
coordination system

[ Description ]

Kecakapan robot sangat tergantung pada piranti yang dipasang pada lengan robot, dimana piranti ini dikenal sebagai end effector. Banyak sekali jenis end effector untuk robot, dimana sebagian besar adalah sesuai dengan persyaratan pihak pemakai. Dalam tesis ini, pada end effector robot SCARA diberikan sebuah bandul. Permasalahan yang kemudian muncul adalah simpangan yang terjadi akibat ayunan dari bandul ketika robot SCARA digerakkan. Untuk meminimisasi simpangan dari ayunan bandul tersebut akan dilakukan dengan cara mengatur posisi robot. Adapun controller yang akan digunakan adalah kontroler knowledge base. Pada plant “manipulator robot”, variabel yang dikontrol adalah kecepatan ayunan bandul. Maka sinyal kontrol yang dihasilkan oleh kontroler akan digunakan untuk mengatur posisi dari lengan robot. Selanjutnya trayektori joint tersebut merupakan input dari bandul yang masing-masing memetakan terhadap sumbu x dan sumbu y. Blok diagram pengaturan posisi robot SCARA dengan beban bandul yang dirancang dengan menggunakan simulasi program (simulink). Dengan mempertimbangkan kehadiran torsi dari lengan lain maka beban torsi masing-masing berubah yang mengakibatkan perubahan, sehingga perlu dilakukan koordinasi. Dalam menentukan koordinasi kecepatan lengan robot perlu dirancang sebuah kontroler koordinasi.

Alt. Description

The industrial robot is a programmable mechanical manipulator, capable of moving along several directions, equipped at its end with a work device called the end effector. In this thesis, end effector of SCARA has pendulum. The problem is dirivation caused by swing of pendulum. To minimize that derivation, robot position would controlled by knowledge base. The variable would controlled was velocity. Control signal was produce by controller was used to control robot position. This joint trajectory were input from pendulum that mapping to x axis and y axis. The diagram block controller robot position SCARA with pendulum has projecting by simulink. To minimize the torsion between robot arm, the need coordination. To decide velocity coordination of arm robot, has to plan coordination controller

Contributor :

1. Dr. Ir. Achmad Jazidie, MEng., Ir. Rusdhianto Effendi AK, MT.

#########################################################

PENGENDALI MOBILE ROBOT PENJEJAK GARIS LINTASAN DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR INFRARED DAN KONTROLER PROPORSIONALINTEGRAL PADA FIELD PROGRAMMABLE ANALOG ARRAY

CONTROLLING A LINE TRACKING MOBILE ROBOT USING INFRARED SENSOR AND PROPORTIONALINTEGRAL CONTROLLER IN FIELD PROGRAMMABLE ANALOG ARRAY

Created by :
M. Ardiansyah K. P ( )

Subject: Robots
Keyword: Mobile Robot
Sistem Kontrol Analog
Field Programable Analog Array.

[ Description ]

Rancang bangun mobile robot penjejak garis lintasan menggunakan kontroler proportional dan integral memerlukan rangkaian yang rumit. Kerumitan tersebut menjadikan suatu alasan dalam tugas akhir ini menggunakan FPAA sebagai unit kontrol mobile robot tersebut. FPAA sebagai unit kontrol mobile robot dapat mempermudah dalam design sistem dan menyederhanakan rangkaian robot tersebut. Pada tugas akhir ini dibuat suatu sistem pengendali mobile robot otomatis dengan menggunakan kontroler proportional serta integral yang terintegrasi didalam FPAA, untuk mendeteksi garis lintasannya robot ini dilengkapi dengan sepasang photomikrosensor. Sensor ini terdiri atas infrared, phototransistor, dan filter infrared yang dikemas menjadi satu bagian. Terjadi perbedaan tegangan keluaran pada phototransistor jika menangkap pantulan sinar infrared dari bahan yang mempunyai perbedaan kemampuan pantul. Prinsip perbedaan tegangan inilah yang diproses didalam FPAA. Steering robot ini menggunakan prinsip differential steering sehingga dalam melakukan haluan digunakan perbedaan kecepatan diantara roda penggeraknya. Pada pengujian kehandalan haluan, robot ini berhasil melintasi beberapa sudut haluan antara lain 30°, 45°, serta 60°. Diharapkan dengan FPAA dapat dibuat disain kontroler mobile robot dengan mudah, begitu pula robot ini diharapkan dapat diaplikasikan pada dunia otomasi industri sebagai robot pengantar barang secara otomatis.

Alt. Description

In digital circuit design of a line tracking mobile robot with proportional and integral controller is high complexity. This complexity is the reason why the FPAA used to control. Field Programmable Ananlog Array (FPAA) as mobile robot unit control can simplify the system and circuit design. This final project describes design and realization of a line tracking mobile robot with infrared sensor and proportional-integral controller based on FPAA. This mobile robot has a pair of photomicrosensor to detect the line. This sensor consists of infrared, phototransistor and infrared filter arranged into a packed. The output voltage of phototransistor related to the sensor reflection of infrared sensor. The output phototransistor is processed in FPAA to control the speed of DC motor. This robot use differential steering, it means this robot use the speed difference between two wheels to change direction. The testing has been performed to evaluate reliability tracking the line, this robot successfully tracking some corner in the range of 0 ° to 60 °. Hopefully the FPAA could make the design of line tracking mobile robot controller easier and this robot also can be applied in industrial automation as automatic delivery robot.

Contributor :

1. Dr. Muhammad Rivai, ST., MT.
Ir. Moch Heroe.

#########################################################

ANALISA PERGERAKAN ROBOT DENGAN TIGA DERAJAT KEBEBASAN

ANALYSE THE ROBOT MOVEMENT WITH THREE DEGREE OF FREEDOM

Created by :
SUDIRMAN ( )

Subject: teori kontrol
Keyword: Path planning
continues path
tingkat akurasi
error absolut.

[ Description ]

Robot yang mampu bergerak secara otomatic membutuhkan system navigasi yang mampu memandu pergerakan manipulator robot dari konfigurasi awal (initial condition) sampai dengan konfigurasi akhir (final condition).SaMi satu sistim navigasi yang dipakai sebagai acuan oleh robot untuk melakukan gerakan adalah perencanaan lintasan (path planning). Lintasan yang dilalui kinematika gerakan manipulator robot berdasarkan rute terdekat dari mulai awal (start) sampai ke tujuan akhir (final) dan terbebas dari halangan (obstacle). Pada penelitian mi mensimulasikan gerakan ujung lengan robot (end point) 3DoF dengan metode gerak continueos path (CP). Berdasarkan analisa data perencanaan lintasan diperoleh kesimpulan bahwa: Trajektori pada resolusi 8 bit tingkat akurasinya 90,47% dengan error absolut rata-rata 0,095. Trajektori pada resolusi 12 bit tingkat akurasinya 99% dengan error absolut rata-rata 0,01.Dan trajektori pada resolusi 16 bit tingkat akurasi tertinggi 99,94% dengan error absolut rara-rata 0,0006.

Alt. Description

Robot that moving with automatically used navigation system to move from initial condition to final condition. A navigation system that used as base by robot to actuation is the path planning. Path planner kinematic movement of robot manipulator based on minimum distance from initial to final condition and avoid of obstacle. This research explained to simulate end point movement of 3DoF robot by contineuos path (CP) movement methode. Pursuant to data analized of trajectory planner could conclused that: Trajectory on resolution 8 bit height level accuracy 90.47 % with average of absolute error 0.0006. Trajectory on 12 bit resolution height level accuracy 99% with average of absolute error 0.01. And trajectory on 16 bit heigh level accuracy 99,94% with average of absolute error 0,0006.

Contributor :

1. Dr.Ir.Djoko Purwanto,MEng.

#########################################################

PENGENDALIAN LENGAN ROBOT DENGAN EMPAT DERAJAT KEBEBASAN BERBASIS VISUAL SERVOING

Four Degree of Freedom Robot Arm Control Base on Visual Servoing

Created by :
Lesmana, Dody ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: rekayasa
sistem manufaktur
mekatronik
dan robotika

[ Description ]

Metode visual servoing telah banyak digunakan dalam berbagai bidang, misalnya pada dunia rekayasa, sistem manufaktur, mekatronik, dan robotika. Banyak orang mencurahkan waktu dan tenaga melalui penelitian secara teoritis dan implementasinya. Pada umumnya sistem kendali robot dengan metode visual servoing dikembangkan agar robot tersebut dapat berfungsi dengan baik dan dapat melakukan kerja sesuai tugas yang diberikan. Pada tugas akhir ini akan dibahas prototipe sistem pengisian bahan bakar pada mobil-mobil tangki dengan menggunakan robot 4 derajat kebebasan dan kamera sebagai sebagai sensor visual. Pada proses pengisian bahan bakar, robot bergerak secara otomatis ke arah mobil tangki dengan dipandu oleh kamera. Posisi mobil tangki diterjemahkan dari informasi visual yang didapatkan kamera. Dengan mengetahui posisi mobil saat ini, sistem kendali akan menggerakkan lengan robot dengan posisi dan orientasi tertentu ke arah mobil tangki. Hasil pengujian robot ini diperoleh error steady state rata-rata sumbu X : 0,2 cm (1 %), sumbu Y : 0,1 cm (0,5 %), sumbu Z : 0,98 cm (5,3 %). Dari hasil tersebut tampak bahwa sistem telah bekerja dengan baik. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah dengan kemampuan tersebut diharapkan robot dapat berfungsi sebagai robot pengisi bahan bakar pada mobil-mobil tangki. Dimanapun mobil tangki berada selama masih di area kerja robot maka lengan robot tersebut dapat bergerak menuju mobil tangki guna melakukan proses pengisian bahan bakar karena adanya kemampuan sensor visual yang ada.

Alt. Description

Visual servoing method has been used in many field, for example at engineering world, factory system, and robotics. Many people pour energy and time through research theoretically and its implementation. Generally robot control system with visual servoing method is developed for better function and work according to given job. In this final assignment will be studied about bunkering system prototype at tank cars using 4 degree of freedom robot and camera as a visual censor. At bunkering process, the robot automatically moves to tank car by camera guidance. The car tank position istranslated from visual information by camera. The control system will moves robot arm with certain orientation and position to the tank car. The results of this robot examination are axis of the abscis mean state steady error : 0,2 cm ( 1 %), axis of the ordinate : 0,1 cm ( 0,5 %), Z tinder : 0,98 cm ( 5,3 %). From the results appear that the robot system has worked better. The result of this research expect the robot can works as bunkering robot at tank cars. Where ever car tank reside in as long as still in robot working area, hence the robot arm can moves to the tank car utilize process bunkering caused by the ability of visual censor.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, PhD.

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT PENJEJAK OBJEK MENGGUNAKAN KAMERA CMU BERBASIS KONTROL PREDIKTIF

DESIGN AND IMPLEMENTATION OBJECT TRACKING ROBOT USING CMU CAMERA BASED PREDICTIVE CONTROL

Created by :
Babgei, Ahmad Zaky ( )

Subject: Robot
Keyword: Robot penjejak

[ Description ]

Robot penjejak mulai dikembangkan untuk membantu manusia dalam pekerjaan sehari-hari, seperti membantu manusia dalam bidang pengamanan. Dalam penerapannya robot penjejak yang dilengkapi kamera diletakkan pada langit ruangan untuk memantau ruangan untuk dapat mengetahui apakah ada objek yang dicurigai dalam suatu ruangan. Dalam aksinya robot akan menjejak objek yang dicurigai tersebut dan mengirimkan hasilnya pada monitor pengawas. Pada tugas akhir ini, kamera CMU dipergunakan pada sistem robot untuk merealisasikan sistem penjejak objek. Robot yang dilengkapi kamera pada sistem ini akan bergerak mengikuti benda yang menjadi acuan. Mikrokontroler dipilih sebagai unit pengolah utama yang melakukan pengolahan citra, perhitungan kontrol prediktif, dan pemrosesan sinyal untuk motor penggerak robot. Robot yang akan dibuat merupakan robot 2 dof, yang mana robot menjejak dengan koordinat x dan y. Penjejak objek ini dibuat menggunakan kamera CMU v2.0 berbasis komunikasi serial RS 232. Motor penggerak kamera yang digunakan ada 2 buah yakni untuk mengakses sumbu x dan y. Acuan untuk penjejakan objek ini adalah warna, sedangkan warna yang dijejak ditentukan terlebih dahulu, dalam hal ini warna yang dipilih adalah warna merah karena sensitifitas kamera pada warna merah yang terbaik. Cahaya berpengaruh besar dengan proses penjejakan sehingga proses penjejakan dilakukan sesuai dengan cahaya ketika pengambilan gambar. Proses penjejakan juga dilakukan dengan kondisi tidak ada objek yang berwarna sama dengan objek yang akan dijejak. Hasil yang dicapai merupakan robot yang dapat menjejak objek dengan kecepatan penjejakan 2,5 m/s. Kecepatan ini sudah mampu untuk mengikuti objek yang bergerak.

Alt. Description

Tracker robot begin expanded to help people in daily work, such as help people in security. In the application trackec object that included camera placed on roof to monitor room that can knowing if suspected object have in the room. In Action robot will track object that suspected dan sending the result to security monitor. In this the final work. CMU Camera applicated on robot system to relized system to be flag point. Microcontroller choosed to be main processing unit to do image processing, predictive control counting, and signal processing for robot moving motor. Robot robot that applied is 2 dof robot, which robot tracking with x cartesian and y cartesian. Flag point for this object tracking is colour. And this colour must be choosed first. In this final work choosen red colour, because it has best sensitivity. Light has big effect to tracking process so it did match with taken lighting before. It also did with condition in the room there is none object that has same colour with object that been tracked. The result is robot that can track object with speed tracking 2,5 m/s. It can to follow moving object

Contributor :

1. Ir. Joko Purwanto, M.Eng. PhD

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT PENJEJAK OBJEK MENGGUNAKAN KAMERA CMU BERBASIS KONTROL PREDIKTIF

DESIGN AND IMPLEMENTATION OBJECT TRACKING ROBOT USING CMU CAMERA BASED PREDICTIVE CONTROL

Created by :
Babgei, Ahmad Zaky ( )

Subject: Robot
Keyword: Robot penjejak

[ Description ]

Robot penjejak mulai dikembangkan untuk membantu manusia dalam pekerjaan sehari-hari, seperti membantu manusia dalam bidang pengamanan. Dalam penerapannya robot penjejak yang dilengkapi kamera diletakkan pada langit ruangan untuk memantau ruangan untuk dapat mengetahui apakah ada objek yang dicurigai dalam suatu ruangan. Dalam aksinya robot akan menjejak objek yang dicurigai tersebut dan mengirimkan hasilnya pada monitor pengawas. Pada tugas akhir ini, kamera CMU dipergunakan pada sistem robot untuk merealisasikan sistem penjejak objek. Robot yang dilengkapi kamera pada sistem ini akan bergerak mengikuti benda yang menjadi acuan. Mikrokontroler dipilih sebagai unit pengolah utama yang melakukan pengolahan citra, perhitungan kontrol prediktif, dan pemrosesan sinyal untuk motor penggerak robot. Robot yang akan dibuat merupakan robot 2 dof, yang mana robot menjejak dengan koordinat x dan y. Penjejak objek ini dibuat menggunakan kamera CMU v2.0 berbasis komunikasi serial RS 232. Motor penggerak kamera yang digunakan ada 2 buah yakni untuk mengakses sumbu x dan y. Acuan untuk penjejakan objek ini adalah warna, sedangkan warna yang dijejak ditentukan terlebih dahulu, dalam hal ini warna yang dipilih adalah warna merah karena sensitifitas kamera pada warna merah yang terbaik. Cahaya berpengaruh besar dengan proses penjejakan sehingga proses penjejakan dilakukan sesuai dengan cahaya ketika pengambilan gambar. Proses penjejakan juga dilakukan dengan kondisi tidak ada objek yang berwarna sama dengan objek yang akan dijejak. Hasil yang dicapai merupakan robot yang dapat menjejak objek dengan kecepatan penjejakan 2,5 m/s. Kecepatan ini sudah mampu untuk mengikuti objek yang bergerak.

Alt. Description

Tracker robot begin expanded to help people in daily work, such as help people in security. In the application trackec object that included camera placed on roof to monitor room that can knowing if suspected object have in the room. In Action robot will track object that suspected dan sending the result to security monitor. In this the final work. CMU Camera applicated on robot system to relized system to be flag point. Microcontroller choosed to be main processing unit to do image processing, predictive control counting, and signal processing for robot moving motor. Robot robot that applied is 2 dof robot, which robot tracking with x cartesian and y cartesian. Flag point for this object tracking is colour. And this colour must be choosed first. In this final work choosen red colour, because it has best sensitivity. Light has big effect to tracking process so it did match with taken lighting before. It also did with condition in the room there is none object that has same colour with object that been tracked. The result is robot that can track object with speed tracking 2,5 m/s. It can to follow moving object

Contributor :

1. Ir. Joko Purwanto, M.Eng. PhD

#########################################################

SISTEM KONTROL GERAKAN BERBASIS INFORMASI VISUAL UNTUK LENGAN ROBOT YAMAHA YK-180X PADA APLIKASI PEMOTONG KABEL

MOTION CONTROL SYSTEMS BASED ON VISUAL INFORMATION FOR YAMAHA YK- 180X ROBOT ARM IN APPLICATION CUTTER OF CABLE

Created by :
Assagaf, Idrus ( )

Subject: Robots
Keyword: Robotika
Pengolahan Informasi Visual
Kontrol loop tertutup

[ Description ]

Aplikasi robot telah menjadi sebuah revolusi pada proses di industri. Robot-robot berfungsi untuk menggantikan satu dari sekian banyak kerja manusia. Pada umumnya robot industri difungsikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti pengecetan, pengelasan, pemeriksaan, maupun proses assembly dan manufaktur. Untuk robot pemotong kabel, pada bagian end effector dipasang cutter untuk memotong benda seperti kabel, cerutu, dll dengan kekuatan cutter yang berbeda. Tesis ini menitikberatkan pada teknik kontrol gerakan lengan robot pada aplikasi pemotongan kabel listrik berbasis informasi visual. Lengan robot Yamaha YK-180X mempunyai konfigurasi 4 derajat kebebasan (degress of freedom), dan pada ujung lengan dilengkapi dengan pemotong kabel listrik. Sebuah kamera digunakan sebagai sensor visual. Pengolahan informasi visual menggunakan metode match template untuk deteksi warna dan sistim tracking untuk estimasi posisi kabel yang akan dipotong. Berdasarkan hasil intepretasi informasi visual, teknik kontrol gerakan robot dikembangkan untuk melakukan aksi ke tempat kabel yang akan dipotong sesuai dengan setting yang dikehendaki. Lengan robot yang dilengkapi pemotongan kabel berbasis informasi visual, diharapkan melaksanakan satu dari sekian banyak kerja manusia dalam kegiatan pengamanan pada kepolisian untuk menjinakkan bom.

Alt. Description

The application of robot has become a revolution at process in industry. Robots function is to replace one or more human works. In general, industrial robot is being functioned to do works such as paint, welder, inspection, assembling process and manufacturing. For cutter robot of cable, in part of the end effector’s is installed cutter to cut substance like cable, cheroot, etc with different strength of cutter. This thesis focused at robot arm motion control in which is applied to cut electrical cable using visual information. The robot arm of Yamaha YK-180X has 4 degrees of freedom configuration where at the end of arm is equipped with a cutter of electrical cable. A camera is used as visual sensor. The visual information is processed using match template method to detect colour and tracking system to estimate the position of the electrical cable which will be cut. Based on the result of interpretation of visual information, robot motion control technique is developed to do action of cutting off cable according to desired setting. Robot’s arm which is equipped with cable cutter based on visual information is expected to conduct one of many human works in security activities at police department to tame the bomb.

Contributor :

1. Djoko Purwanto, ST, M.Eng, PhD

#########################################################

PERENCANAAN GERAKAN BERBASIS SPLINE UNTUK ROBOT PENGISIAN BBM

MOTION PLANNING FOR ROBOT BBM USING B-SPLINE

Created by :
Sugiarto ( )

Keyword: motion planning
recursi
obstacle
B-Spline.

[ Description ]

Robot yang bergerak secara otomatis membutuhkan sistem navigasi yang mampu memandu pergerakan manipulator robot dari konfigurasi awal {initial condition) sampai dengan konfigurasi akhir {final condition). Salah satu sistem navigasi yang dipakai sebagai acuan oleh robot adalah perencanaan gerakan (motion planning). Penggunaan gerakan berbasis B-Spline yang dalam hal ini adalah suatu perencanaan gerakan ujung lengan robot atau end-effector dari posisi awal sampai dengan tujuan secara sequensial dan berurutan melalui titik-titik yang telah ditentukan dalam domain waktu. Lintasan dari gerakan kenematika manipulator ujung lengan robot dari posisi parkir sampai ke tujuan (target) dengan asumsi terbebas dari halangan (obstacle). Pada penelitian lengan robot untuk pengisian BBM ini, mensimulasikan perencanaan gerakan (motion planning) ujung lengan robot 4DoF yaang dalam menyelesaiakn permasalahan ini dipergunakan metode persamaan-recwr*/ berbasis B-Spline. Berdasarkan analisa data perencanaan lintasan diperoleh kesimpulan bahwa: Trajektori pada resolusi 8 bit tingkat akurasinya 90,47% dengan error absolut rata-rata 0,095. Trajektori pada resolusi 12 bit tingkat akurasinya 99% dengan error absolut rata-rata 0,01. Dan trajektori pada resolusi 16 bit tingkat akurasi tertinggi 99,94% dengan error absolut rara-rata 0,0006.

Alt. Description

Peripatetic Robot that moving with automatically used navigation system automatic to move from initial condition to final condition. A navigation system that used as base by robot to actuation is the path planning. Usage of movement B -Spline which in this case is planning of movement tip of robot arm or of end-effector of position early up to target by sequensial and successive dots which have been determined. Path planner kinematic movement of robot manipulator based on minimum distance from initial to final condition and avoid of obstacle. This research explained to simulate end point movement of 4DoF robot by motion plenning B-Spline movement methode. Pursuant to data analized of trajectory planner could conclused that: Trajectory on resolution 8 bit height level accuracy 90.47 % with average of absolute error 0.0006. Trajectory on 12 bit resolution height level accuracy 99% with average of absolute error 0.01. And trajectory on 16 bit heigh level accuracy 99,94% with average of absolute error 0,0006.

Contributor :

1. Dr.Ir.Djoko Purwanto,M.Eng.

#########################################################

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN ROBOT BOR CARTESIAN PADA KERJA PLAT

PLANNING AND CONTROLLING CARTESIAN ROBOT BOR ON PLATE PROJECT

Created by :
SURIJONO ( )

Subject: Teori Kontrol
Keyword: Robot Bor cartesian
kontroller PID
Metode Lintasan terpendek

[ Description ]

Robot Bor Cartesian dengan tiga sumbu koordinat banyak dipergunakan sebagai alat bantu kerja dalam dunia industri. Pada aplikasinya dibutuhkan penggerak sumbu koordinat yang dikendalikan berdasarkan seting point eksekusi yang akan dilakukan. Mekanisme pengendalian posisi koordinat sumbu, otomasi merupakan hal utama dalam perencanaan robot cartesian. Perancangan robot cartesian sebagai alat pengebor plat PCB {Printed Circuit Board) dimana bidang kerja yang berupa sumbu X dengan panjang 140 mm dan sumbu Y dengan panjang 300 mm digerakkan oleh motor DC berdasarkan setpoint titik koordinat eksekusi yang ditentukan dari PC [Personal Computer). Mekanisme pengendalian posisi sumbu koordinat bidang kerja dengan menggunakan kontroller PHD dan digunakan metode lintasan terpendek sebagai pengurut eksekusi perintah titik pengeboran. Hasill penelitian yang dilakukan dengan menggunakan kontroller PDD didapatkan error steady state berkisar antara 5% – 8% dengan rise time rata- rata 1 detik.

Alt. Description

Cartesian Robot Bor with three coordinate axis mostly used as supporting means of industries field. On its applications, it needs coordinate axis remover controlled based on excecution seting point done. The control mechanism of coordinate forse possition, otomation is the main thing on Cartesian Robot planning. Cartesian Robot programming as a drilling means of PCB plate with 140mm length of the X – axis and 300mm length of the Y – axis which is moved by DC motor based on excecution coordinate set point by PC. The controlling mechanism of the point of coordinate axis possition stated by using PHD controller and shortest path method as instruction excecution order of drilling point. The result of research done by using PID controller will be above 5% up to 8% of error steady state with the generaly one second of rise time.

Contributor :

1. Dr. Ir. DJoko Purwanto, MEng

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT PENCARI LOKASI GAS MENGGUNAKAN PRINSIP STEREO NOSE

DESIGN GAS LOCATION SEARCHER ROBOT USING PRINCIPAL OF STEREO NOSE

Created by :
Hadi, Faisal ( )

Subject: Robot
Keyword: lokasi gas
mobile robot
stereo nose
fuzzy logic controller

[ Description ]

Sistem pendeteksian lokasi gas yang bocor sangat penting baik dalam aplikasi-aplikasi industri maupun rumah tangga. Jika gas tersebut berbahaya, seperti mudah terbakar, mudah meledak, atau mengancam nyawa manusia maka pendeteksian dan penanggulangan harus secara dini dilakukan. Dalam hal ini, robot menjadi sangat berguna dalam menjalankan tugas yang dianggap berbahaya bagi manusia. Robot mobile yang bekerja secara otomatis dapat membantu dalam menemukan gas bocor yang berbahaya dan menanggulangi efek berbahaya dari gas. Karena gas diudara dapat menyebar tidak merata dan sulit diprediksi maka berbagai metode telah diterapkan. Penelitian ini bertujuan merancang robot mobile dengan menawarkan metode yang lebih sederhana dan meminimalkan jumlah sensor. Robot yang telah dirancang dalam penelitian ini menggunakan dua buah sensor gas semikonduktor dari Figaro yang ditempatkan pada bagian kiri dan kanan robot. Dengan menggunakan prinsip stereo nose maka lokasi gas dapat diketahui dengan melihat hasil pembacaan dari kedua sensor ini. Hasil ini akan mempengaruhi kecepatan yang akan diberikan ke motor kiri dan kanan robot. Pengaturan kecepatan dan arah putar dari motor dikontrol dengan Fuzzy Logic Controller dengan input bacaan sensor. Robot diuji dengan melakukan pendeteksian terhadap konsentrasi alkohol yang berbeda-beda dan posisi yang divariasikan dengan jarak 150 cm. Dari hasil pengujian didapat bahwa robot menemukan lokasi gas yang bocor dengan tingkat keberhasilan untuk alkohol 95%, 70% dan 50% masing-masing adalah 100%, 100% dan 60%.

Alt. Description

The detection system of leaked gas location is very important even in the industrial applications as well as households. If the gas is dangerous, like flammable, easy to burst, or can threat our life, so the detection and solution must be done as soon as possible. Throughout the years, robots had become very helpful in performing tasks that are dangerous to humans. The autonomous mobile robot can help people locate hazardous gas leaks and keep them from harmful effects of such gases. Because of the gas can distribute unevenly and difficult to be predicted so many methods have been applied. The purpose of this research is to design a mobile robot with the simple method and minimize the amount of sensors. The design robot uses two of semiconductor gas sensor from Figaro that placed at left and right side of the robot. By using stereo principle nose, the robot can be identified location of gas by seeing the read result from both sensors. This result will influence the speed which will be given to left and right motor. Fuzzy Logic Controller controls the speed and rotary direction of the motors. Robot tested by the detection of various concentration of alcohol with distance of 150 cm. From test result, provide that robot can find the leaked gas location with rate of identification reach 100%, 100% and 60% for alcohol 95%, 70% and 50%.

Contributor :

1. Dr. M.Rivai, ST, MT
Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, Ph.D

#########################################################

PATH PLANNING SISTEM NAVIGASI AUTONOMOUS MOBILE ROBOT MENGGUNAKAN ANT SYSTEM ALGORITHM

PATH PLANNING BASE ON ANT SYSTEM ALGORITHM APPLIED ON AUTONOMOUS MOBILE ROBOT NAVIGATION SYSTEM

Created by :
Suryadhi ( )

Subject: Robot
Keyword: Ant System
Pheromon
path planning

[ Description ]

Robot yang bergerak secara mandiri (autonomous mobile robot) membutuhkan sistem navigasi yang mampu memandu robot bergerak sampai ketujuan. Salah satu sistem navigasi yang harus dimiliki oleh robot adalah path planning. Path planning adalah perencanaan terhadap jalan yang akan dilalui oleh robot. Jalan yang akan dilalui oleh robot dipilih berdasarkan bahwa jalan tersebut adalah jalan yang terpendek dari start ke tujuan dan jalan tersebut terbebas dari halangan (obstacle). -. Dalam penelitian ini akan digunakan metode Ant System Algorithm untuk memilih jalan yang terpendek dari start ke tujuan yang akan dilalui oleh robot. Metode Ant System ini bekerja meniru perilaku semut khususnya dalam hal jejak yang dibuat oleh semut. Jejak yang dibuat oleh semut ini ditandai oleh suatu zat yang dinamakan pheromon. Pheromon inilah yang akan menjadi petunjuk bagi semut berikutnya untuk mengikuti jejak semut sebelumnya. Semakin banyak jumlah pheromon yang ada pada jalan tertentu maka jalan itulah yang akan dipilih oleh semut-semut berikutnya. Pheromon yang terbanyak pada suatu jalan memberikan petunjuk bahwa jalan tersebut adalah jalan yang terpendek dibandingkan dengan jalan yang lain yang zat pheromonnya lebih sedikit. Pada Metode Ant system ini, kuantitas zat pheromon serta pemilihan terhadap jalan yang terpendek akan dimodelkan dalam sebuah persamaan-persamaan matematis. Persamaan-persamaan matematis inilah yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah path planning sistem navigasi autonomous mobile robot. Dari penelitian didapatkan bahwa ant system algorithm memiliki keunggulan yaitu mampu membuat path dari start ke target dalam waktu yang cepat pada area yang memiliki known obstacle maupun unknown obstacle

Alt. Description

Autonomous mobile robot requiring navigation system capable to guide the robot make a move until target. One of navigasi system which must be owned by robot is path planning. Path Planning is planning to path to be passed by robot. Path to be passed by robot selected by pursuant to that the path is short path from start to target and path free from the obstacle. In this research will be used Ant System Algorithm to chosen the short path from start to target to be passed by robot. This Method Ant System work to imitate the ant behavior specially in the case of footstep which is made by a ant. Footstep which is made by this ant is marked by a pheromon. This Pheromon will become the guide for next ant to hang on to coattail the previous ant. More and more amount pheromon of exist in certain path hence walke that’s to be selected by next ant. Pheromon which is a lot of at one particular path show promise that the path is short path compared to by a other path is which slimmer pheromon. At this Method Ant system, amount of pheromon and also election to short path will be modeled in a mathematical equation, this Mathematical equation will be used to finish the problem of path planning of autonomous mobile robot navigation system. From research got that ant system algorithm own the excellence that is able to make the path from start to goals during which quickly at area owning known obstacle and also unknown obstacle.

Contributor :

1. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng

#########################################################

PERANCANGAN SISTEM NAVIGASI ROBOT MOBIL MENGGUNAKAN KAMERA

THE DESIGNING OF ROBOT MOBILE NAVIGATION SYSTEM WITH CAMERA

Created by :
Hidayat, Anton ( )

Subject: Robot
Keyword: JST (Jaringan Syaraf Tiruan)
Backpropagation
Mobile Vision
Posisi dan Orientasi

[ Description ]

Ada berbagai macam bentuk dari mobile vision dan beragam tugas yang dapat dilaksanakannya. Masalah utama bagi suatu aplikasi mobil vision adalah kemampuan navigasi. Oleh karena itu, pada penelitian ini disajikan implementasi kendali robot mobil pada sistem navigasinya untuk menuju target tertentu dengan target lintasan yang telah ditentukan secara visual, sehingga didapatkan orientasi dan posisi dari mobil setiap saat terhadap lintasan. Sebagai input dari sistem ini adalah posisi robot mobil setiap saat dan Output sistem ini adalah posisi handling robot mobil dan kecepatan maju dari robot mobil. Dalam sistem ini menggunakan kamera untuk mengetahui posisi dan orientasi dari robot mobil. Gambar yang ditangkap dari kamera akan diproses oleh komputer sehingga didapatkan posisi dan orientasi mobil. Jaringan Syaraf Tiruan (JST) dan Fuzzy Inference Rule digunakan untuk mengidentifikasi posisi dan orientasi robot mobil terhadap sumbu y pada monitor ,untuk mencapai posisi target lintasan. Metode prediksi backpropagation dipakai sebagai metode prediksi sudut handling robot mobil. Sudut handling hasil prediksi yang akan digunakan untuk input motor mobil Pengujian sistem telah dilakukan untuk melihat respon pendeteksian posisi mobil dan gerakkan robot mobil untuk menuju suatu target lintasan. Dari hasil aplikasi keakuratan pembacaan posisi dengan JST kesalahan pembacaan diperoleh sebesar 27,7%. Dengan penambahan Fuzzy dalam menentukan sudut orientasi mobil, maka pembacaan yang terjadi menjadi lebih baik, dengan kesalahan sebesar 2,75%.

Alt. Description

There are many type of mobile vision, as the tasks that they do. The main issu of mobil vision application is a navigation ability. Tthis research presents the implementation of robot mobil navigation control system to reach target point on determined track visually, so it is gained, the mobile robot position and orientation on track timely. The input is mobile robot position in real time, and the output mobile robot’s mobile handling position and acceleration. This system uses camera to detect position and orientation of the mobile robot. The image are captured by camera to obtained position and orientation of mobile robot. The Artifisial Neural Network (ANN) and Fuzzy Inference Rule are used to identify position and orientation the robot on y axis on the monitor to achieve the position target on the track. Backpropagation used to prediction handling angle of the mobile robot. The angle of prediction is appled to to input a motor. The Experiment of system has done to study the response of position detection of the machine and moving it to target track. By the results of reaching accuracy with ANN applied was 27,7%, additionally fuzzy methode on shaping of, orientation angle machine, the reaching accuracy will be better, with error was 2,75%.

Contributor :

1. Ir. Rusdhianto EAk, MT
Prof. Ir. Abdullah Alkaff, M.Sc PhD

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT PEMETAAN BERDASARKAN GEOMETRI RUANGAN DENGAN SENSOR ULTRASONIK MENGGUNAKAN KOMUNIKASI GELOMBANG RADIO

MAPPING ROBOT DESIGN BASED ON GEOMETRI AREA WITH ULTRASONIC SENSOR USING RADIO WAVE COMUNICATION

Created by :
Determinantio, Lyonard ( )

Subject: Robot
Keyword: Pemetaan
Ultrasonik
Gelombang radio

[ Description ]

Pemetaan suatu lokasi merupakan cara yang digunakan Untuk mendapatkan informasi dari suatu titik pada suatu tempat yang berbahaya atau sulit dijangkau, karena faktor keamanan dan kecelakaan yang besar yang dapat dialami apabila pencari informasi itu sendiri adalah manusia yang secara langsung bersentuhan dengan kondisi berbahaya tersebut . Untuk itu diperlukan suatu device robot yang dapat menggantikan posisi manusia sebagai subyek untuk mencari suatu obyek pada suatu titik. Dalam Tugas akhir ini pemetaan yang menggunakan sensor ultrasonik dengan desain 3 buah sensor dan transceiver untuk menampilkan data pada pc.uji pertama robot dapat memetakan geometri ruanagan dalam waktu 100 detik dengan hasil pada uji pertama adalah 1 kali belok kiri dan 6 kali dapat mendeteksi benturan dengan tembok sebelah kiri. Sedangkan pada uji kedua, komputer dapat mendeteksi 1 kali benturan kiri dan 1 kali benturan kanan selama robot berjalan pada lintasan

Alt. Description

Mapping area is the way to got information from the dangerous point, because of security focus and the accident if the handle of that’s, is human body,need some kind of device to replace the human position in looking for obyekin the point.mapping which used 3 ultrasonic sensor and transceiver to data display in pc. In first season, robot can mapping area in 100 secon with 1 time to left 1 and near left is 6 can detect line, in second step computer can detect 1 time near left and 1 time near right even walk in the way

Contributor :

1. Ir. Ya’umar , MT

#########################################################

RANCANG BANGUN LENGAN ROBOT PEMINDAH BENDA PADA KOORDINAT BERBASIS INTRANET

DESIGN AND CONSTRUCTION OF MOVING OBJECT ROBOT ARM AT COORDINATE BASED ON INTRANET

Created by :
Kenedy, Martino Dedy ( )

Subject: Robot
Keyword: intranet
web page
driver
motor stepper

[ Description ]

Intranet dapat menghubungkan 2 komputer atau lebih sehingga komputer tersebut bisa saling bertukar data. Kemampuan jaringan intranet dalam mentransfer data dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Mulai dari pendidikan sampai pengembangan sistem kontrol jarak jauh. Penelitian kali ini bertujuan untuk membuat sistem lengan robot yang bisa dikendalikan melalui jaringan intranet (web). Lengan robot dirancang untuk mengambil benda yang berada di sekitar area target (setengah lingkaran). Mekanik lengan robot tersusun dari 4 motor stepper. Driver motor stepper dirancang dengan menggunakan transistor dan relay. Software yang digunakan untuk interfacing adalah pemrograman web berbasis PHP – My SQL, sedangkan software untuk driver motor stepper menggunakan Visual Basic. Pada penelitian ini penulis telah berhasil membuat lengan robot pemindah benda berupa magnet dengan 3 mode kontrol (automatic, semi automatic, dan manual). Eror mekanik disebabkan karena penggunaan motor stepper bekas. Driver relay yang dirancang bisa menggantikan fungsi 4 to 16 line decoder (MM74HC154) untuk mengendalikan motor stepper melalui port pararel. Waktu respon web page pada server yang spesifikasinya bagus di bawah 2 sekon. Software sistem pengendalian lengan robot berjalan lebih cepat pada server yang memiliki spesifikasi tinggi (Intel Core 2 Duo).

Alt. Description

Intranet could connect 2 computer or more, so all of the computer can do data exchange. Intranet networking ability can be used for many things. From education until remote control system. This research have a purpose to make robot arm that controlled by intranet networking (web). Robot arm designed to take object in the target area (half circle). Robot arm mechanical consist of 4 stepper motors. Electronic driver designed using transistor and relay. Interfacing software using web programing based on PHP – My SQL, driver stepper motor software using Visual Basic. Writer in this research succes to make moving object (magnet) robot arm with 3 mode control (automatic, semi automatic, and manual). Mechanical eror caused by second hand motor stepper. Relay driver can replace 4 to 16 line decoder (MM74HC154) to control stepper motor by pararel port. Web Page time respond in good server under 2 second. Robot arm control software can running faster in high specification server.

Contributor :

1. Ir. Purwadi Agus Darwito, M.Sc

#########################################################

RANCANG BANGUN LENGAN ROBOT SISTEM PNEUMATIC UNTUK PEMINDAH BARANG SECARA OTOMATIS

DESIGN AND BUILD OF PNEUMATIC ARM ROBOT SYSTEM FOR AUTO OBJECT TRANSDUCTOR

Created by :
Kurniawan, Aditya ( )

Subject: Robot
Alt. Subject : Robotics
Keyword: Robot
Pneumatic

[ Description ]

Lengan robot pada industri banyak yang menggunakan tenaga electrik sehingga dikhawatirkan terdapat bahaya karena dalam industri dimungkinkan terdapat terjadi ledakan sehingga kurang aman. Maka dibutuhkan sistem pneumatic yang merupakan sistem suspensi angin yang menggunakan kompresor sebagai air supply-nya yang lebih meminimalkan terjadinya bahaya karena sistem ini selain aman serta dapat dikontrol gaya dan kecepatannya. Sistem pneumatic dipilih karena selain mempunyai suspensi udara maka lebih tahan dan kuat, selain itu sistem pneumatic lebih aman/safe apabila dipakai didunia industri yang menggunakan listrik tegangan tinggi. Pada tugas akhir ini menggunakan sistem pneumatic (silinder pneumatic) yang diaplikasikan pada lengan robot pemindah barang yang mempunyai dimensi gerakan X, Y, dan Z. Kompresor yang dipergunakan adalah dua buah kompresor mini dengan daya 12 volt DC 5 Ampere dan menghasilkan tekanan sebesar 250 PSI/20.7 BAR/2069 KPA yang berjenis torak resiprokal. Sedangkan catu daya yang dipakai adalah 2 buah travo 12 volt 5 ampere.

Alt. Description

Arm robot in many industries that use an electric energy, why so feared there is a risk danger in the industry because there are possible looked like explosion occurred until less secure. Pneumatic system is required then the system is air suspension using compressor that uses water as its supply is more danger of minimizing the occurrence of this system because in addition to safe, the style and speed can be controlled. Pneumatic system was selected because in addition the air Suspension have more resistant and strong, in addition Pneumatic system more secure / safe when used worldwide industry that uses high voltage electricity. At the end of this task using the system Pneumatic (Pneumatic cylinder) which is applied on the arm robot object transductor that have a dimension of movement X, Y, and Z. Compressors are used two mini compressor with the power 12 volt DC 5 Ampere and the pressure of 250 KPA PSI/20.7 BAR/2069 the manifold piston resiprokal. While the portion of power used 2 travo 12 volt 5 ampere.

Contributor :

1. Ir. Zulkifli, MSc

#########################################################

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ROBOT COMPUTER NUMERICAL CONTROL (CNC) UNTUK MENGGAMBAR DAN PELUBANG PRINTED CIRCUIT BOARD (PCB)

DESIGN AND FABRICATION COMPUTER NUMERICAL CONTROL (CNC) ROBOTIC FOR DRAWING AND DRILLING PCB

Created by :
Churniawan, Agus Dwi ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: CNC
robotics
trajectory
pixel

[ Description ]

Telah dirancang dan dibuat robot CNC untuk menggambar dan pelubang printed circuit board(PCB). Computer Numerical Control (CNC) adalah suatu kontrol penggerak mesin untuk fungsi tertentu dengan menggunaan intruksi computer internal. Robot yang berkerja menggunakan prinsip CNC disebut robot CNC.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan trajektori pixel pada layar monitor dengan area kerja robot CNC. Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan metode sistem perhitungan kinematika maju yaitu menentukan perbandingan nilai output dengan input. Dari perhitungan didapatkan nilai perbandingan koordinat (x,y) area robot dengan koordinat pixel pada layar monitor adalah )’,'(yx)207,207()’,'(yxyx=, dan sumbu z area robot dengan jumlah looping rutin program adalah zz11405’=, sedangkan perhitungan besaran kecepatan pixel adalah 2,3 pixel tiap detik, kecepatan area robot adalah 0,00082 m tiap detik, dan kecepatan pengeboran 0,00043 m tiap detik.

Alt. Description

It have designed and maked robotics CNC for drawing and drilling printed circuit board (PCB). Computer Numerical Control (CNC) is a control movement mecanics for special function with using instruction computer internal. Robotic doing using principle CNC is robotics CNC. The riset will find factory trajectory pixel of monitor versus area work robotic CNC, the riset method will count system forword kinematic is value factory output versus input, from counting find value factory Cartesian (x,y) space of area work robotic versus Cartesian (x’,y’) space of pixel monitor is )207,207()’,'(yxyx=,cartesian z area work robotic with many from looping program, so cartesian find zz11405’=, but counting value velocity pixel is 2,3 pixel over second, velocity area work robotic is 0,00082 m over second and velocity drilling 0,00043 m over second.

Contributor :

1. Endarko, M.Si.

#########################################################

RANCANG BANGUN ROBOT PENGANTAR MAKANAN PADA RESTORAN

Created by :
Hasanudin, Abd. Wahid ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: Maksimal input (meja pemesan)
limit switch
homebase

[ Description ]

Pada sebuah restoran, ada beberapa bagian yang sangat penting dalam kegiatan operasionalnya. Diantaranya adalah bagian pemesanan makanan dan pengantaran makanan. Dengan tuntutan jaman yang serba cepat dan otomatis, maka otomatisasi dua bagian diatas menjadi hal yang sangat penting. Otomatisasi pemesanan makanan dapat memberikan informasi mengenai menu yang dipesan serta posisi meja pemesan sedangkan otomatisasi pengantaran makanan dapat dilakukan dengan robot untuk mengantarkan makanan dan minuman kepada pemesan. Robot pengantar makanan pada tugas akhir ini mengantarkan pesanan berdasarkan urutan input meja yang diberikan. Jumlah meja sebanyak 12 buah meja. Maksimal input (meja pemesan) yang diberikan adalah 12 buah. Robot mendeteksi keberadaan meja dengan limit switch dan diam sejenak untuk memberi kesempatan pemesan mengambil pesanannya. Robot tidak dapat diberi input ketika sedang mengantar pesanan tetapi dapat diberi input ketika sudah berada kembali di homebase setelah mengantarkan semua pesanan. Lintasan robot adalah garis putih diatas bidang hitam dan belokan berbentuk seperempat lingkaran dengan diameter 80 cm. Waktu pengantaran paling cepat untuk satu meja pemesanan adalah 18 detik untuk meja 2 dan 3 dan paling lama adalah 1 menit untuk meja 9 dan 12. Otomatisasi pengantaran makanan pada restoran ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dari restoran dan meningkatkan penggunaan teknologi robot untuk membantu melakukan pekerjaan sehari – hari.

Alt. Description

At the restaurant, there are several parts in their operational activity. They are food order and food delivery. In the fast era, automation at two parts above become very important. Automation food order able to give information about menu that is ordered and automation food delivery able to done by robot to service food and drinks to customer. Food delivery robot in this final project able to delivery order base on input time that be given. Total amount of the tables are 12. Maximal input that able to give are 12. Robot detects table position by limit switch and stop several times to give chance customer to take their order. Robot can not be given input when it delivery order but it can be given input when at the homebase after it delivery the order. Robot way is white line on the dark area and the turn have one forth circle with 80 cm diameter. Fastest delivery time for one table is 18 second for table 2 and 3 and slowest delivery time is 1 minutes for table 9 and 12. Food delivery automation at the restaurant is be expected to increase restaurant efficiency and increase using of robotic technology to help daily jobs.

Contributor :

1. Dr. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng

#########################################################

PENGATURAN PERGERAKAN ROBOT UNTUK APLIKASI PENGEBORAN PCB

Created by :
Muhamad, Adam Ridiantho ( )

Keyword: robotika
pemetaan

[ Description ]

Pembuatan PCB merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh mahasiswa program studi elektronika ataupun industri yang bergerak dibidang elektronika. Demikian pula penggunaan peralatan penunjang untuk pembuatan PCB. Salah satu alat dalam proses pembuatan PCB adalah mesin bor. Mesin bor yang digunakan mulai dari yang manual sampai yang automatis (robot). Penelitian pun diarahkan untuk menciptakan mesin bor automatis {robot) yang mampu mengebor dengan cepat dan efisien tanpa ada satu lubang yang terlewatkan. Dalam tesis ini akan dibahas metoda pengeboran PCB yang dilakukan oleh robot dengan kemampuan pemetaan posisi lubang dan perencanaan lintasan (path planning) secara automatis. Pemetaan pada umumnya dibentuk secara manual dengan cara memasukkan posisi koordinat setiap lubang (hole), pemetaan posisi secara manual biasanya berurutan berdasarkan kesamaan koordinat x atau koordinat y untuk setiap lubang. Dengan metoda manual seperti ini lintasan gerak robot semakin jauh / panjang dan tidak efisien yang mengakibatkan proses pengeboran PCB membutuhkan waktu yang lama. Dalam tesis ini akan ditunjukkan penggunaan metoda genetic algoritma yang dilakukan robot sebagai pemetaan posisi. Perencanaan lintasan dilakukan oleh robot agar semua posisi lubang dalam PCB dapat dibor. Optimasi perencanaan lintasan dibutuhkan agar dihasilkan jarak lintasan yang terpendek berkaitan dengan waktu pengeboran yang singkat. Efisiensi jarak tempuh dengan menggunakan metoda genetik algoritma tergantung dari total posisi lubang. Pada total posisi lubang yang sedikit metoda genetik algoritma tidak efisien, pada total lubang efisiensi metoda genetik algoritma mencapai 25 % dan total lubang yang banyak efisiensi mencapai lebih dari 50 %. Penelitian ini diharapkan memberi kontribusi pada pengembangan teknologi robot pengeboran PCB.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng. Ph.D.
Hendra Kusuma, M.Eng.

#########################################################

APLIKASI TRANSFORMASI HOUGH UNTUK SISTEM NAVIGASI ROBOT OTONOM PENYAPU LANTAI

HOUGH TRANSFORM APPLICATION FOR FLOOR SWEEPER ROBOT NAVIGATION SYSTEM

Created by :
SANJAYA, DENNYS HADI ( )

Subject: Robot
Keyword: Navigasi robot
Transformasi

[ Description ]

Di dalam sebuah citra terdapat informasi yang sangat beragam. Dari semua informasi itu dapat dipilah – pilah untuk dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan. Salah satu informasi dari citra yang sangat penting adalah informasi garis. Melalui Hough Transform letak garis di dalam image plane dapat diketahui. Di dalam tugas akhir ini akan diimplementasikan suatu Robot Vision. Robot ini bertugas sebagai pembersih lantai. Robot ini mampu menyusuri dan melakukan penyapuan terhadap lantai dari suatu ruangan secara otonom. Teknik machine vision yang digunakan adalah Gaussian Filtering, Sobel Edge Detection dan Hough Transform. Melalui Hough Transform ini diketahui letak garis lurus pada piksel di dalam domain image. Meskipun garis lurus itu terputus – putus oleh noise metode ini masih dapat mendeteksinya. Selisih letak garis lurus ini dengan nilai set point menghasilkan nilai error yang digunakan sebagai input untuk Fuzzy Logic Controller (FLC). FLC digunakan untuk menghasilkan sinyal PWM kendali motor DC untuk navigasi robot. Pendeteksian dinding digunakan metode Rata – rata Nilai Piksel Citra. Apabila nilai rata – rata piksel tersebut lebih rendah dari nilai threshold maka dinding akan terdeteksi. Dari hasil pengujian diperoleh nilai threshold rata – rata piksel yang efektif untuk mendeteksi dinding ruangan yaitu sebesar 60. Dan telah dilakukan pengujian bahwa dalam setiap detiknya robot mampu menyapu luasan sebesar 361.4 cm² tanpa memperhatikan tingkat kebersihannya.

Alt. Description

In an image there are a lot of information can be found. All that information can be extracted so it can be used for many purposes. One of important information from image is line information. By using Hough Transform line position in image plane can be found. In this final project we build a vision robot. This robot can be used to sweep the floor. This robot outonomically can trace and sweep the floor. Machine vision technique that used are Gaussian Filtering, Sobel Edge Detection and Hough Transform. By using Hough transform straight line in domain image, pixel can be found. Although this line snatched, Hough Transform still can detected it. Difference between this straight line position with set point value give error value that used as input in Fuzzy Logic Controller (FLC). FLC used to produce PWM signal to control DC motor that serve as robot navigation. Wall detection using mean pixel calculation method. Wall can be detected if this average value less than threshold value. From testing can be obtained mean pixel threshold value that effective to detect wall is 60 . And it’s also can be obtained that robot for its each second can sweep the floor until 361.4 cm² without concerning its clean.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, Ph.D

#########################################################

PENGEMBANGAN ROBOT KARTESIAN PEMINDAH BARANG DENGAN MENGGUNAKAN KAMERA UNTUK MENGIDENTIFIKASI LOKASI AWAL OBJEK

DEVELOPMENT OF PICK AND PLACE CARTESIAN ROBOT USING CAMERA TO IDENTIFY OBJECT’S INITIAL LOCATION

Created by :
Rodiyat, Rakhmad Adi ( )

Subject: Robot
Alt. Subject : Robots
Keyword: vision guided pick and place robot
pick and place robot
robot vision
deteksi objek
template matching
mouse event

[ Description ]

Robot pemindah barang yang dipandu secara visual oleh kamera atau lebih dikenal dengan robot vision digerakkan secara otomatis berdasarkan visualisasi kamera ketika kamera menangkap adanya suatu objek tertentu di bidang yang tertangkap oleh kamera. Informasi bentuk atau warna dan posisi objek pada bidang yang ditangkap oleh kamera digunakan sebagai informasi koordinat kartesius sebagai langkah yang akan diambil oleh Gripper/End effector robot yang kemudian akan mengambil dan memindahkan barang tersebut ke posisi yang terdeteksi oleh kamera yaitu sebuah kemasan yang juga diletakkan pada bidang kartesius. Robot vision menggunakan lengan robot kartesius dan gripper yang akan mengambil dan menempatkan objek. Metode machine vision digunakan untuk mengenali posisi benda yang akan dipindahkan dan kemasan yang akan menjadi tujuan peletakan. Pada tugas akhir ini akan dibahas tentang rancang bangun robot dengan konfigurasi kartesian yang akan digunakan untuk memindahkan barang. Sensor visual kamera digunakan untuk mengenali keberadaan objek. Pada tugas akhir ini akan digunakan 3 metode pemindahan barang. Pertama pemindahan objek berwarna, kedua adalah pemindahan dengan pencocokan objek (template matching) dan yang ketiga adalah pemindahan barang secara manual. Pada pemrosesan citra juga akan dicari koordinat objek yang nantinya akan menjadi informasi koordinat bagi lengan robot untuk melakukan pergerakan pemindahan barang. Informasi koordinat akan dikirimkan melalui komunikasi serial dengan cara penekanan tombol eksekusi pada user interface program. Pada tugas akhir ini, dalam proses pemindahan barang secara manual dengan beban maksimal sebesar 40 gram memiliki rata-rata error posisi sumbu X sebesar 3 mm dan error posisi sumbu Y sebesar 1.8 mm dengan akurasi penempatan posisi objek sebesr 98,6% sedangkan untuk kecepatan gerak gripper adalah 7.01 cm/detik dengan jarak antara sensor visual dengan objek adalah 70 cm.

Alt. Description

Vision guided pick and place robot or commonly known as robot vision can be moved automatically based on camera visualization when the camera captures an object. Camera’s position in this robot is static above the robot. The information of shape or color and the position of the object which is captured by the camera will be used as information of object’s position as a step that will be taken by robot’s arm (gripper) to pick up and move the object to package’s position. Robot vision use the arm of Cartesian robot and gripper to pick up and place the object. Machine vision method is used to recognize object’s position and package that will be become the destination of placing. In this final project will be studied about the design and building of Cartesian robot to move goods. Camera as a visual sensor will be used to recognize the existence of the object. This final project will use 3 methods of moving goods. First is moving a colored object, second is template matching, third is manual moving method. In this image processing will also be calculated the coordinate of the object that will become the coordinate information for the robot’s arm to move the goods. The information of coordinate will be sent using serial communication by clicking “execution” button at the user interface. In this final project, in the process of moving object manually using maximum weight of object which is 40 grams has average error about 3 mm for X axis position error and 1.8 mm for Y axis position error with the accuration of position placing is 98.6 %, and for the velocity of gripper movement is 7.01 cm/second and the distance between visual sensor and the object is about 70 cm.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M. Eng., Ph.D.

#########################################################

APLIKASI FPGA PADA SISTEM ROBOT PENJEJAK GARIS DENGAN SENSOR VISUAL

Created by :
Setiadi, Samuel Ridwan ( )

Subject: Field Programmable Gate Arrays
Alt. Subject : Field Programmable Gate Arrays
Keyword: FPGA (Field Programmable Gate Array)
hardware programmable device

[ Description ]

Perkembangan dunia elektronika begitu pesat dan banyak komponen baru yang dibuat salah satunya adalah FPGA (Field Programmable Gate Array). FPGA memiliki keunggulan kecepatan proses yang tinggi karena merupakan hardware programmable device oleh karena itu FPGA banyak diapikasikan pada proses-proses yang memerlukan kecepatan tinggi salah satunya adalah pengolahan citra. Pada tugas Akhir ini diapliksasikan FPGA sebagai pengolah citra pada sistem robot penjejak garis bersensor visual. Disamping karena kecepatannya yang tinggi dimensinya juga cukup ringkas untuk diaplikasikan pada mobile robot bila dibandingakan dengan PC (Personal Computer) yang biasanya digunakan untuk pengolahan citra. Pada Tugas akhir ini dibuat sebuah mobile robot differntial steering yang dapat berbelok dengan baik untuk sudut belokan kurang dari 90 derajat dan sensor visualnya dapat mendeteksi garis dengan ketebalan diatas 2 mm.

Contributor :

1. Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, Ph.D.
Ir. Totok Mujiono, M.I.Kom

#########################################################

EVALUASI IMPEDANCE CONTROL PADA MANIPULATOR ROBOT UNTUK PENGATURAN POSISI DAN GAYA END-EFFECTOR

IMPEDANCE CONTROL EVALUATION ON ROBOT MANIPULATOR FOR END-EFFECTOR POSITION AND FORCE CONTROL

Created by :
Mardani, Prasetya ( )

Subject: Robot
Keyword: Impedance control
end-effector position and force interaction control

[ Description ]

Pengaturan terhadap interaksi antara robot dan lingkungan memegang peranan penting dalam penyelesaian suatu tugas yang menuntut end-effector mengikuti suatu trayektori dengan gaya interaksi yang tetap. Dalam kondisi ini tidak hanya posisi dari end-effector yang harus diperhitungkan, namun gaya interaksi antara robot dengan lingkungan juga menjadi hal yang penting. Impedance control merupakan salah satu metode kontrol yang sering digunakan dalam pengaturan posisi dan gaya interaksi end-effector. Pada metode ini diperoleh suatu hubungan dinamik antara posisi dengan gaya interaksi end-effector. Pada tugas akhir ini dibuat sebuah simulator robot planar dengan 2 derajat kebebasan yang terdiri dari 2 revolute joint sebagai media evaluasi impedance control untuk pengaturan posisi dan gaya interaksi end-effector. Digunakan Position Based Impedance Control sebagai skema pengaturan posisi dan gaya dari end-effector. Kontroler PD dipakai sebagai kontroler posisinya. Dari simulasi didapatkan bahwa untuk pengaturan posisi mengikuti lintasan diperoleh lintasan aktual yang berhimpit dengan lintasan masukan. Untuk simulasi pengaturan gaya interaksi terdapat suatu rasio antara masukan gaya interaksi dari end-effector yang diharapkan dengan gaya interaksi aktual yang dihasilkan. Pada simulasi terakhir didapatkan bahwa gaya interaksi mengalami penurunan pada saat pergeseran posisi yang diinginkan semakin cepat.

Alt. Description

Interaction control between robot and environment also an important part in oder to finish a task where end-effector must folow some trajectory with a static force interaction. In this condition, not only end-effector position that important, but force interaction between robot and environment also important. Impedance control is one of control method that usually use in end-effector position and force interaction control. In this method we get a dynamic relationship between endeffector position and force interaction In this final project we made a planar robot simulator with 2 degree of freedom that consist 2 revolute joint as impedance control evaluation for end-effector position and force interaction control. Position Based Impedance Control used as end-effector position and force control scheme. PD controller as position controller. From simulation, for trajctory position control there is actual trajectory seems same as input trajectory. For force interaction simulation . there is a ratio between desired force interaction and actual force interaction that produced. Last simulation shows force interaction is decrease when desired position movement became faster.

Contributor :

1. Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M. Eng

#########################################################

AKSELERASI SINERGI KEKUATAN PENGEMBANGAN IPTEK BANGSA MELALUI DUNIA ROBOTIKA

Created by :
Pitawarno, Endra ( )

Subject: robotika
Keyword: dunia robot

[ Description ]

Kita tahu bahwa dalam 8 tahun terakhir ini kegiatan KRI (Kontes Robot Indonesia) dan KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia) telah diterima oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) – DIKTl sebagai ajang tahunan nasional untuk program kreativitas mahasiswa se Indonesia, ditandai dengan diusungnya kegiatan dari Graha ITS ke Balairung UI pada tahun 2002. PENS yang tercatat sebagai penyelenggara tunggal kontes robot yang ke-l, 2 dan 3 dapat bernafas lega karena tidak lagi sendiri berjuang di dunia robocon di tanah air. Pemerintah melalui DIKTl telah mengakuisisi kegiatan ini. Dengan makin diakuinya dampak positif kegiatan ini sebagai pemicu sekaligus pemacu budaya meneliti bagi para calon teknokrat (mahasiswa) yang dipandu para peneliti /dosen, saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa kegiatan ini tidak lagi semata-mata kegiatan apresiasi teknologi mahasiswa. Ruh keilmuan dan teknologi nampaknya kental mewarnai proses proses persiapan kontes hingga hari-hari pertandingan yang terjadi sepanjang tahun. Inilah saatnya, dengan 107 perguruan tinggi yang terlibat dalam KRI KRCI 2008 kemarin dan ratusan pembimbing atau dosen bergelar SI hingga S3 ikut meneliti bersama mahasiswa dalam membangun robot-robot itu telah cukup membuktikan bahwa ikut serta dalam pesta teknologi ini adalah salah satu jalan pintas untuk menggairahkan kembali dunia kreativitas dan penelitian utamanya dalam bidang rekayasa. Bahwa ajang ini telah melahirkan banyak alumni yang menjadi calon teknokrat handal, adalah sebuah fenomena baru.

#########################################################

RANCANG BANGUN MOBILE ROBOT PELACAK SUMBER KEBOCORAN GAS YANG DILENGKAPI DENGAN OBSTACLE AVOIDANCE

IMPLEMENTATION OF GAS LEAKAGE FINDER MOBILE ROBOT EQUIPPED WITH OBSTACLE AVOIDANCE

Created by :
Sholikin ( )

Subject: Robots
Keyword: sensor gas
tranduser ultrasonik
obstacle avoidance
mikrokontroler
fuzzy

[ Description ]

Perkembangan teknologi industri telah mendorong berdirinya perusahaan dalam bidang pertambangan, dan kimia dalam skala besar. Salah satu masalah yang ada pada industri tersebut yaitu timbulnya kebocoran gas dari saluran atau tempatnya. Kebocoran gas biasa terjadi pada daerah pertambangan, industri kilang minyak, industri kimia, dan reaktor nuklir. Efek yang ditimbulkan dari kebocoran gas amatlah berbahaya, mulai dari keracunan sampai radiasi gas yang menimbulkan mutasi, bahkan timbulnya ledakan. Pada tugas akhir ini penulis mencoba membuat alat berupa mobile robot yang dapat melacak keberadaan sumber gas yang bocor dari saluran atau tempatnya. Pada mobile robot ini akan dipasang dua buah sensor gas yang sensitif terhadap zat kimia organik. Tipe sensor gas yang dipakai adalah TGS 2620 yang efektif untuk mendeteksi keberadaan alkohol yang digunakan sebagai objek kebocoran gas. Pada mobile robot juga dipasang tranduser ultrasonik yang digunakan sebagai obstacle avoidance dan membantu navigasi robot. Pengambilan data dari sensor gas dan tranduser ultrasonik dikontrol oleh mikrokontroler 1 sebagai slave, sementara pemrosesan data dan kontrol motor dilakukan oleh mikrokontroler 2 sebagai master. Dalam melacak keberadaan sumber kebocoran gas, robot akan melakukan pengolahan data dari sensor gas yang dikombinasikan dengan tranduser ultrasonik dengan menggunakan algoritma kontrol fuzzy. Berdasarkan pengujian didapatkan bahwa sensor TGS 2620 mempunyai respon yang lambat. Dengan memberikan kecepatan robot pada range 1 – 2 cm/detik, robot memiliki tingkat keberhasilan sekitar 78,3%.

Alt. Description

Development of the technology industry has been causing established the company in the field of mining, chemical in large scale. One of the problems that exist in the industry, namely the incidence of gas leakage from a channel or place. Leakage of gas is common in the mining areas, industrial refinery, chemical industry, and nuclear reactor. Effects arising from the gas leak is dangerous, such as poisoned, tadiation that cause a mutation, even the occurrence of explosion. At this paper I try to make the tool a mobile robot that can track the presence of a gas leak from a channel or place. In the mobile robot will be installed two gas sensor, that is sensitive to the organic chemical substances. Type of gas sensors used TGS 2620 is effective to detect the presence of alcohol, that is used as the object of gas leakage. In the mobile robot is also installed ultrasonic tranduser that are used as the obstacle avoidance and help navigation robot. The data from the gas sensor and ultrasonic tranduser are controlled by microcontroller 1 as a slave, while data processing and motor control is done by microcontroller 2 as the master. In track the existence of gas leakage, robots will be doing the data processing of gas sensor combined with ultrasonic tranduser using fuzzy control algorithm. Based on the test it was found that the TGS 2620 sensors have a slow response. By giving the robot speed at range 1 – 2 cm / second, robots have a level of success around 78,3%.

Contributor :

1. Pujiono, ST, MT.
Dr. Muhammad Rivai, ST, MT.

#########################################################

RANCANG BANGUN DAN ANALISA FLEKSIBLE ARM

CONSTRUCTION DESIGN AND ANALISYS OF FLEXIBLE ARM

Created by :
KURNIAWAN, ROBBY ADHITYA ( )

Subject: Robot
Alt. Subject : Robots
Keyword: defleksi
kecepatan putar motor
batang kontinyu

[ Description ]

Dengan semakin banyaknya manusia, maka kebutuhan akan suatu barang menjadi banayak. Karena kemampuan manusia yang terbatas dan di tuntut untuk menghasilkan produk yang banyak dengan harga yang murah maka diciptakanlah robot untuk membantu atau mengganti tenaga manusia. Robot yang baik adalah bila lengan robot tidak terlalu panjang. Hal ini untuk membatasi defleksi saat lengan bergerak dan berhenti pada saat yang di inginkan. Namun untuk alasan tertentu robot dengan lengan yang panjang tidak dapat di hindari. Lengan robot dimodelkan seperti balok atau disebut fleksible arm. Untuk mendapatkan defleksi yang terjad pada arm, dimanfaatkan perumusan yang ada dimana balok sebagai batang kontinyu. Dalam studi ini balok terbuat dari bahan stainless steel. Selain itu dirancang mekanisme pengatur kecepatan putar motor dengan variasi yang berbeda dan mediator pembaca keluaran dari sensor. Hal ini dikarenakan long arm ikut berputar dan untuk menghindari berkurangnya kecepatan putaran motor akibat kabel sensor terlilit. Dari perancangan ini didapatkan peningkatan kenaikan defleksi yang terjadi sangat signifikan pada tiap-tiap posisinya. Secara quasi statis terjadi peningkatan sebesar 8,5 % hingga 10 % sedangkan pada keadaan dinamis terjadi peningkatan mulai 10 % hingga 22 %. Nilai persentase ini diambil dari keseluruhan hasil yang telah didapatkan untuk tiap-tiap posisi sepanjang arm.

Alt. Description

With more and more is human being, hence requirement will goods become a lot of. Because finite human being ability and in claiming to yield the product which is a lot of at the price of cheap is hence created by a robot to assist or change manpower. Good robot is when robot arm do not too long. This matter to limit the deflection of arm moment make a move and desist at the time of which is in wishing. But for the reason of certain of robot with the long arm cannot in avoiding. Robot arm modeled by like log or referred as by fleksible arm. To get the deflection which of at arm, exploited by a existing formulation where log as beam continue. In this study is made log from substance of stainless steel. Is others designed by mechanism of speed regulator turn around the motor with the different variation of and mediator of output reader from censor. This matter because of long arm follow to rotate and to avoid to decrease it rotation velocity of motor effect censor cable twined. From this scheme is got by the make up of increase deflection that happened very significan of at every its position. By quasi is happened by the static of improvement of equal to 8,5 % till 10 % while dynamic in the situation happened by the improvement start 10 % till 22 %. This percentage value is taken away from by the overall of result which have been got to every position as long as arm.

Contributor :

1. Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA

#########################################################

PENGENDALIAN GERAK LENGAN ROBOT RV -M1 BERBASIS DATA AKUSISI

ROBOT ARM RV-M1 MOTION CONTROLLING BASE ON DATA ACQUISITION

Created by :
Hidayati, Uslah ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robot
Keyword: Robot RV-M1
data akusisi
identifikasi sistem
close loop
PID
tuning Ziegler-Nichols

[ Description ]

Dalam proses desain sistem kontroler robot , terutama yang berkenaan dengan algorithma kontrol seringkali dibutuhkan bantuan sistem komputer luar sebagai perangkat pengembangan sistem . Pengolahan dan pengontrolan oleh suatu komputer memungkinkan penerapan akusisi data dengan software. Software dan penggunaan komputer memberikan harapan proses akusisi data bisa divari asikan dengan mudah sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, melalui komputer dapat dilakukan terlebih dahulu uji simulasi, baik visualisasi gerak robot maupun simulasi unjuk kerja algo rithma kontrol yang didesain. Robot yang dikembangkan pada tugas akhir ini adalah lengan robot RV-M1. Pengontrolan gerak lengan robot RV-M1 ini menggunakan sistem kontrol close loop dengan adanya feedback dari optic encoder. PC dengan bantuan data akusisi card serta software LabWindows digunakan sebagai kontroler serta media interfacing . Penelitian dilakukan dengan melalui dua tahapan yaitu tahap simulasi dan implementasi. Tahap simulasi meliputi identifikasi sistem, pembuatan model dari sistem, tuning Ziegler-Nichols dan kontrol simulasi PI dan PID untuk menganalisa respon. Tahap ini digunakan untuk menentukan sistem kontrol yang sesuai yang kemudian diimplementasikan pada lengan robot RV -M1. Hasil kontrol simulasi maupun implementasi menunjukkan perlunya kontroler PI dan PID yang berbeda-beda pada range 10o, 30o, 60o, 90o dan 150o untuk memenuhi spesifikasi desain. Dari data penelitian terlihat bahwa penambahan kontroler PI dan PID dapat meningkatkan settling time dan rise time, akan tetapi belum mampu menghilangkan steady state error. Meski demikian, error sudut yang terjadi dari pergerakan lengan robot ini masih dapat ditolerir .

Alt. Description

A design process of a robot controller system, especially algorithma control, sometimes requires external computer as system development tools. Controlling and managing process by a computer enable application of data acquisition with software. M oreover, control simulation can be performed prior to real time application, for both motion control visualization as well a s control algorithm performance. A closed-loop control system using two controllers, i.e. PI and PID, was developed, implemented and tested on a robot arm RV -M1. An optical encoder was employed as a controller feedback by providing series of pulses corresponding to robot arm position (angle of motion). PC with data acquisition card and Lab Windows software were used as controller and interfacing media. The research was conducted in two steps, i.e. simulation and implementation stages. Simulation stage included identification system, system modeling, Ziegler-Nichols tuning, PI and PID control simulation for controller performance analysis . Simulation stage was performed in order to determine the appropriate control system which was then implemented on robot arm RV-M1. Control simulation and real time application results showed that different values of controller coefficients for both PI and PID were necessary for arm positions of 10o, 30o, 60o, 90o and 150o, such that the performance design specification can be achieved. It can be seen that adding PI and PID controllers increase the control performances, i.e. reduced settling time and rise time. However, zero steady error s could not be attained although the errors were still acceptable.

Contributor :

1. Ir. BAMBANG PRAMUJATI , MSc.Eng., Ph.D

#########################################################

PENJEJAKAN POSISI SUMBER BUNYI MENGGUNAKAN INTERAURAL TIME DIFFERENCE

TRACKING SOUND SOURCE POSITION USING INTERAURAL TIME DIFFERENCE

Created by :
Amri, Rahyul ( )

Keyword: Bunyi
Interaural Time Difference
azimuth
cross correlation
posisi

[ Description ]

Interaural Time Difference ( ITD ) digunakan pada sistem pendengaran manusia untuk menentukan posisi sumber bunyi pada bidang horizontal. Implementasi ITD pada sistem robotik diharapkan akan membuat robot tsb mampu mendeteksi posisi dan menjejak sumber bunyi mendekati kemampuan manusia. Pada percobaan robot disimulasikan dengan sebuah sistem penjejak yang mempunyai sistem pendeteksi dan sistem penggerak. Sistem pendeteksi mendeteksi posisi sumber bunyi dan nilai posisi diberikan ke sistem penggerak, selanjutnya sistem penggerak akan bergerak sesuai dengan besar nilai yang diberikan. Dari hasil percobaan yang dilakukan kemampuan sistem untuk mendeteksi posisi mempunyai akurasi rata-rata 91.4 % dan waktu reaksi mengikuti / menjejak sumber bunyi adalah 1 – 2 dtk.

Alt. Description

Interaural Time Difference ( ITD ) is used in human auditory system for determine sound source position in horizontal plane. ITD implementation in robotic system will made that robot able to detect position and tracking sound source to come near human ability. In experiment, robot is simulated with a tracker system that have detector system and driver system. Detector system detect sound source position and position value is given to driver system, next driver system will move according with position value was given. From experiment result, ability system for position detect accuracy is 91,4 % and reaction time to follow / track sound source is 1-2 second

Contributor :

1. Dr.Ir.Djoko Purwanto, M.Eng
Eko Pramunanto, ST,MT

#########################################################

PERANCANGAN SISTEM VISUAL SERVO CONTROL PADA INTELLIGENT MOBILE ROBOT DENGAN MENGGUNAKAN STRUKTUR IMAGE BASED VISUAL SERVOING (IBVS

VISUAL SERVO CONTROL SYSTEM DESIGN FOR INTELLIGENT MOBILE ROBOT USING IMAGE BASED VISUAL SERVO (IBVS) STRUCTURE

Created by :
Naftali, David Natanael ( )

Subject: Servomechanisms
Alt. Subject : Mekanik
Keyword: Robot soccer
Image based visual servoing

[ Description ]

RoboCup yang banyak dikembangkan pada dekade ini merupakan suatu kompetisi yang memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya terutama dalam sistem umpan-balik visual. Kemampuan suatu sistem harus dapat memenuhi tuntutan yang ada agar dapat berkompetisi dalam suatu pertandingan yang keadaannya selalu berubah, dynamic, dan adversial environtment. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan metoda visual servoing dengan struktur Image Based Visual Servoing dan menggunakan algoritma behavior-based robotics yang bertujuan untuk melakukan tugas pencarian bola. Karena struktur Image Based Visual Servoing mempunyai waktu komputasi yang lebih cepat jika dibandingkan dengan struktur lainnya, maka pada penelitian ini, struktur IBVS dikombinasikan dengan suatu algoritma kontrol reaktif. Sehingga sistem terintegrasi ini mampu menggerakan Intelligent Mobile Robot lebih lincah dan responsif.

Alt. Description

RoboCup which were developed rapidly in this decade is a competition with it’s challenge for the implementation, especially for the visual feedback system. The capability of a system must be able to meet the demands facing a rivalry competition in a changing, dynamic, and adversial environment. This study focused on the use of visual servoing methods with Image Based Visual Servoing structure using the behavior-based robotics algorithm to perform the task of ball searching. Since the Image Based Visual Servoing structure has faster computing time compared to the other structure, this study combining the IBVS stucture with a reactive control algorithm. So, the integrated system would be able to drive Intelligent Mobile Robot friskier and more responsive.

Contributor :

1. Ir. Rusdhianto Effendi A.K, MT.
Imam Arifin, ST, MT

#########################################################

SKEMA BEHAVIOR-BASED CONTROL DENGAN PEMBELAJARAN FUZZY Q-LEARNING UNTUK SISTEM NAVIGASI AUTONOMOUS MOBILE ROBOT

BEHAVIOR-BASED CONTROL SCHEME WITH FUZZY Q-LEARNING FOR AUTONOMOUS MOBILE ROBOT NAVIGATION SYSTEM

Created by :
Anam, Khairul ( )

Subject: Robot
Keyword: autonomous robot
behavior-based control
fuzzy q-learning
reinforcemenet learning

[ Description ]

Penelitian ini bertujuan untuk mendesain sistem kontrol untuk keperluan sistem navigasi autonomous mobile robot pada lingkungan tidak terstruktur dengan menggunakan perpaduan antara fuzzy Q-learning dan behavior-based control. Solusi permasalahan sistem navigasi ini adalah sistem kontrol cerdas dengan kemampuan belajar sepanjang masa. Kemampuan belajar tersebut didapatkan dengan menggunakan metode reinforcement learning yang diterapkan menggunakan alrgoritma Q-learning. Pada umumnya, Q-learning diterapkan pada himpunan state dan aksi yang diskrit melalui formasi tabulasi standar. Namun, pada aplikasi robot yang nyata yang ukuran state dan data sensornya bersifat kontinyu, algoritma Q-learning diskrit tidak dapat digunakan karena membesarnya ukuran tabel q. Oleh karena itulah diperlukan modifikasi pada Q-learning dengan metode lainnya seperti Fuzzy Inference System yang menghasilkan Fuzzy Q-learning (FQL). Untuk menyelesaikan permasalahan navigasi pada lingkungan yang tidak terstruktur dan komplek dengan posisi target yang tidak diketahui, diperlukan adanya lebih dari satu FQL. Penelitian ini mengusulkan metode koordinasi hybrid coordination node untuk mengkoordinasikan banyak modul belajar FQL dengan menggunakan stuktur kontrol behavior-based control. Perpaduan antara FQL dan hybrid coordination node dalam struktur behavior-based control menghasilkan skema kontrol yang baru untuk mengatasi permasalahan sistem navigasi robot mandiri pada lingkungan yang tidak terstruktur dengan kedudukan target tidak diketahui. Simulasi metode yang diusulkan dilakukan menggunakan simulator robot tiga dimensi Webots 5.5.2. Hasil simulasi menujukkan bahwa robot dengan skema kontrol behavior-based dan FQL mampu bekerja pada lingkungan yang tidak terstruktur dan mampu mencapai target yang tidak diketahui kedudukannya serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda tingkat kesulitannya. Robot juga mampu bekerja pada lingkungan dengan halangan bergerak dan tidak bergerak.

Alt. Description

The purpose of this research to design a control system for autonomous mobile robot navigation system by using hybridization of fuzzy Q-learning and behavior-based control . In many robot applications, such as autonomous robot navigation system in unstructured environment , it is difficult to obtain a precise mathematical model of robot interaction with its environment. The lack of precise and complete knowledge about the environment, limits the application of conventional control system design to the domain of autonomous robot. What is needed are intelligent control and decision making systems with the ability to reason under uncertainty condition and to learn from experience. To realize the intelligent control, this research uses behavior-based control algorithm. Then, this algorithm is combined with reinforcement learning to equip it with learning ability. Reinforcement learning is applied by Q-learning algorithm. However, value of Q function that is usually stored in Q-table is either not practical in case of large state action space or impossible with continuous state space like in robotic applications. Therefore, it is needed modification in Q-learning method to store Q-values. Another approach is to replace the look up table with a general approximators. This research use fuzzy inference system as approximators of Q-value. For cluttered environment, it is necessary to uses more than one learning module to overcome navigation problem of mobile robot. However, the use of multi Fuzzy Q-learning demands the existence of coordination system as module learning coordinator. This thesis proposes the use of hybrid coordination node to coordinate multi Fuzzy Q-learning module. The Fuzzy Q-learning was incorporated in behavior-based control structure and was considered as generation of primitive behavior like obstacle avoidance. The simulation result demonstrate that the Fuzzy Q-learning algorithm with the hybrid coordination node enable robot to be able to learn the right policy, to avoid obstacle and to find the target in cluttered environment with unknown target position.

Contributor :

1. Dr. Ir. Son Kuswadi
Ir. Rusdhianto Effendie ,M.T.

#########################################################

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI PENGATURAN POSISI ROBOT PLANAR MENGGUNAKAN FUZZY LOGIC CONTROLLER

DESIGN AND IMPLEMANTATION OF POSITION CONTROLLER TO PLANAR ROBOT USING FUZZY LOGIC CONTROLLER

Created by :
NURDIYANTO ( )

Subject: Robot
Keyword: Planar robot
Fuzzy logic controller

[ Description ]

Pengaturan posisi robot diaplikasikan untuk banyak keperluan dalam industri mobil, kapal dan industri berat lainnya. Kontroler yang paling populer untuk keperluan tersebut adalah PD Controller. Namun untuk keperluan tertentu kontroler jenis ini mempunyai beberapa kelemahan, yaitu adanya overshoot pada akhir gerakan sehingga mempengaruhi ketepatan posisi end effector. Kelemahan lain adalah harus selalu melakukan setting Kp dan Td untuk mencapai posisi tujuan yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba menawarkan suatu metode untuk memperbaiki performent kontroler di atas dengan merancang kontroler berbasis logika fuzzy sekaligus mengimplementasikannya pada robot planar dua derajat kebebasan. Fuzzy Logic Controller diharapkan dapat menekan steady state error posisi kurang dari 5%, dapat menghilangkan overshoot dan menghasilkan gerakan yang smooth. Fuzzy Logic Controller berbasis komputer melakukan pengaturan sinyal keluaran berdasarkan sinyal error yang berasal dari selisih setpoint dan sinyal feedback. Pengambilan keputusan fuzzy sebagai keluaran sinyal kontrol dilakukan dengan membuat rule base setelah sinyal error dan delta error melalui proses kuantisasi dan fuzzifikasi. Data keluaran masih berupa data kualitatif dirubah melalui proses defuzzifikasi sehingga menjadi data keluaran kuantitatif dan dapat hubungkan langsung dengan robot. Program dibuat dalam bahasa pemrograman Turbo C ver 3.0. Berdasarkan data hasil eksperimen, pengaturan posisi dengan Fuzzy Logic Controller menghasilkan gerakan yang smooth serta tidak terjadi osilasi ketika end effector berhenti pada posisi yang diinginkan. Melalui hasil pengukuran posisi point to point, Fuzzy Logic Controller menghasilkan steady state error posisi 2,64%. Sedangkan PD Controller menghasilkan steady state error posisi 7,24%.

Alt. Description

Position controller of robot is applied in many automotive industries, plane industries and many other weight industries. The popular controller using PD Controller. For the specific function, this controller have a problem, for examples the robot arm produce an overshoot when end effector approached its final destination. Other problem is this controller always tune of Kp and Td parameters for the deferent position target. According that case, writer want to bargain a method to increase controller performent by design Fuzzy Logic Controller and implementation to planar robot two degree of freedom. This controller is able to depress the position error steady state until 5%, is able to reduce overshoot and is able to move the robot arm smoothly. Fuz2y Logic Controller design was selection of input/output variable. Input variable is error and delta error. Error was produced deferent from set point signal and feedback signal. The fuzzified input quantities passed trough a decision rules. Defuzzification was applied using the voltage output variable and a control action was selected. The design of Fuzzy Logic Controller algorithm was accomplished with Tubo C ver 3.0. According to experiment result, position controller using Fuzzy Logic Controller is able to move the end effector of robot arm smoothly without isolation when end effector approached its final destination. Other result for position controller of point to point, Fuzzy Logic Controller is able to produce position error steady state = 2,64% and PD Controller is able to produce position error steady state = 7.24%.

Contributor :

1. DR. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng.

#########################################################

PERANCANGAN SISTEM KOORDINASI GERAKAN MULTI-ROBOT MOBILE DENGAN PENDEKATAN GEOMETRIS

COORDINATION SYSTEM DESIGN OF MULTIPLE MOBILE ROBOTS MOVEMENT USING GEOMETRICAL APPROACH

Created by :
Fithriyah, Junaidah ( )

Subject: Robots
Alt. Subject : Robots
Keyword: sistem koordinasi multi-robot mobile
pendekatan geometris
Four Wheel Steering system
kontroler fuzzy predictive

[ Description ]

Multi-robot mobile yang terdiri dari sebuah kendaraan roda empat sebagai master dan dua lainnya sebagai follower dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas kerja. Untuk menjaga agar ketiga kendaraan tersebut dapat mengikuti lintasan/trayektori yang telah ditentukan dengan formasi yang tetap setiap saat, maka diterapkan sistem koordinasi multi-robot mobile. Pada sistem koordinasi ini tiap kendaraan follower mempunyai kecepatan dan sudut steer yang berbeda, relatif terhadap kendaraan master. Pada kondisi kecepatan rendah-menengah umumnya kemampuan manuver kendaraan adalah rendah, sedangkan pada kecepatan menengah keatas kendaraan tidak stabil. Untuk itu diterapan sistem kemudi empat roda (4WS – Four Wheel Steering system) pada masing-masing kendaraan. Dalam Tugas Akhir ini akan disimulasikan sistem koordinasi gerakan multi-robot mobile dengan pendekatan geometris, dimana dalam rangka memperbaiki manuver tiap kendaraan tersebut sudah dilakukan pengontrolan sebelumnya menggunakan kontroller fuzzy perdictive.

Alt. Description

Multiple mobile robots, which consist of a four-wheeled vehicle as a master and two others as followers, is mean to increase efficiency and work flexibility. To keep those able to follow the trajectory with solid formation all the time, we use coordination system of multiple mobile robots. In this coordination system, every follower has different speed and steer angle depend on the master’s manuver. At low-mid speed condition, their ability is low. While at mid-high speed, those vehicles aren’t stable. For this reason, Four Wheel Steering system-4WS is used to each of them. This final project is simulated coordination system of multiple mobile robots movement using geometrical approach. While better manuver from each vehicles, its has been done by using fuzzy perdictive controller.

Contributor :

1. Ir. Rusdhianto Effendi A.K, MT. JURUSAN

#########################################################

PENGENDALIAN GERAK LENGAN ROBOT RV-M1 MENGGUNAKAN SISTEM KONTROL CLOSE LOOP DAN FUZZY LOGIC BERBASISKAN MIKROKONTROLLER ATMEGA16

CONTROLLING RV-M1 ROBOT ARM MOVEMENT USING CLOSE LOOP CONTROL SYSTEM AND FUZZY LOGIC BASED ON MICROCONTROLLER ATmega16

Created by :
Susanto, Dea Fabriani ( )

Subject: Robot
Keyword: Robot lengan RV-M1
motor DC
mikrokontroller ATmega16
sistem kontrol close loop
fuzzy logic

[ Description ]

Kontroller lengan robot RV-M1 yang dibuat oleh saudara Anjar Qomarullah memiliki keakuratan yang rendah. Hal tersebut dikarenakan saudara Anjar Qomarullah memakai kontrol open loop. Pada kontrol open loop tidak terdapat feedback hasil respon dari sistem, sehingga tidak diketahui apakah respon sistem terhadap inputan yang diberikan sesuai dengan yang diinginkan atau tidak Kontrol open loop pada penelitian saudara Anjar Qomarullah dikembangkan menjadi kontrol close loop, yaitu kontrol dengan adanya feedback respon sistem terhadap inputan yang diberikan. Optical Encoder berfungsi sebagai sensor pergerakan motor DC apakah besar sudut yang ditempuh sudah sesuai dengan besar sudut yang diinginkan atau belum. Fuzzy berfungsi sebagai pengatur besar voltase yang diinputkan ke motor. Besar voltase yang diinputkan ke motor oleh fuzzy merupakan fungsi dari besar derajat yang telah ditempuh oleh motor dengan lamanya motor telah bergerak untuk menuju besar sudut tertentu. Dari kontroller yang baru didapatkan kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara koordinat end effector saat pengujian dengan nilai koordinat end effector saat simulasi di Software Catia dan MatLab. Kontroller robot RV – M1 yang dibuat, mampu melakukan proses pergerakan lengan yang dikendalikan oleh Mikrokontroller. Dari percobaan kemampuan lengan Robot RV – M1 dengan kontroller yang baru untuk mencapai koordinat end effector yang ditentukan, dapat diambil kesimpulan bahwa kontroller yang baru lebih baik performanya daripada kontroller yang lama.

Alt. Description

Kontroller of RV-M1 robot arm that made by Anjar Qomarullah, has low accuracy. That things because Anjar Qomarullah use open loop control system. Open loop control system doesn’t have feedback as system respon. It cause we do not know that respon of system is appropriate as we want or not. Anjar’s open loop control system, developed become close loop control system. Close loop control system is control system that have feedback of system respon due to input given.Optical Encoder function as sensor of DC motor, is DC motor angle appropriate as we want. Fuzzy function as regulator value of voltage given to motor. Value of voltage given to motor is function from value of angle and time that pass by motor. From new controller we can get conclusion there are no difference value of end effector experiment with simulation in Catia and MatLab. Controller that made, be able to do movement that control by microcontroller. From experiment to reach coordinate of end effector decided, can be conclution that new controller have better performance than the old one.

Contributor :

1. Dr. M. NUR YUNIARTO

#########################################################

STUDI EKSPERIMENTAL DEFLEKSI FLEXIBLE ARM AKIBAT PENGEREMAN MENDADAK PADA BERBAGAI KECEPATAN

EXSPERIMENTAL STUDY DEFLECTION OF FLEXIBLE ARM BECAUSE SUDDEN BRACKING IN MANY KIND OF VELOCITY

Created by :
PUTRO, WAHYU ASMORO ( )

Subject: Robot
Alt. Subject : Robots
Keyword: defleksi
kecepatan putar motor
momen bending

[ Description ]

Dengan semakin banyaknya manusia, maka kebutuhan akan suatu barang menjadi semakin banyak. Karena kemampuan manusia yang terbatas dan di tuntut untuk menghasilkan produk yang banyak dengan harga yang murah, maka di ciptakanlah robot untuk membantu atau mengganti tenaga manusia. Robot yang baik adalah bila lengan robot tidak terlalu panjang. Namun untuk alasan tertentu robot dengan lengan yang panjang tidak dapat dihindari, sehingga perlu mengetahui besarnya defleksi pada arm.. Pada penelitian ini digunakan sebuah plat yang panjang dan elastis. Dimana lengan diputar dengan motor DC dan dihentikan mendadak sehingga lengan mengalami defleksi. Dan pada lengan ditempeli strain gage untuk mengukur perubahan tegangan yang terjadi pada tiap tiap titik. Jika sudah diketahui perubahan tegangan yang terjadi barulah bisa diketahui nilai defleksi pada tiap tiap tiitik pada arm. Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil, yaitu dengan peningkatan kecepatan putar motor sebesar 25%, maka defleksi mengalami peningkatan sebesar 14%. Sedangkan jika putaran motor meningkat 20% maka defleksi meningkat sebesar 9%. Hal itu sangat dipengaruhi oleh perlambatan yang terjadi .Dengan perlambatan yang besar maka gaya yang terjadi besar pula. Pada jarak 20 cm defleksi mengalami peningkatan sebesar 67%, sedangkan pada jarak 30 cm meningkat sebesar 34%. Hal itu sangat dipengaruhi oleh gaya dan jarak. Dan besar kecilnya defleksi sangat dipengaruhi oleh momen bending dan jarak. Dan hasil yang lainnya adalah arah defleksi yang terjadi pada jarak 30cm defleksinya bernilai negatif, sedangkan pada jarak 10 cm dan 20 cm deflekisnya bernilai positif.

Alt. Description

With more and more is human being, hence requirement will a goods become more and more. Because finite human being ability and in claiming to yield the product which is a lot of at the price of cheap, hence in create the robot to assist or change manpower Good robot is when robot arm do not too long . But for the reason of certain of robot with the long arm cannot be avoided, so that shall have knowledge the level of deflection of arm. At this research is used by a elastic and long plate. Where arm turned around with the motor DC and discontinued sudden so that arm experience of the deflection. And at arm sticked on by the strain gage to measure the tension change that happened at every every dot. If have been known by the tension change that happened then can be known by the value deflection at every every point at arm. From attempt which have been done conducted to be got by a result, that is with the make-up of speed turn around the motor of equal to 25% , hence deflection experience of the improvement of equal to 14%. While if motor rotation mount 20% hence deflection mount equal to 9%. That matter is very influenced by deceleration that happened . With the big deceleration hence big style that happened also. At distance 20 cm deflection experience of the improvement of equal to 67%, while at distance 30 cm mount equal to 34%. That matter is very influenced by style and apart. And big minimize the deflection very influenced by moment bending and apart. And result of the other is direction deflection that happened at distance 30cm negative valuable deflection, while at distance 10 cm and 20 positive valuable cm deflection.

Contributor :

1. Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA

#########################################################

TELEROBOTIK MENGGUNAKAN EMBEDDED WEB SERVER UNTUK MEMONITOR DAN MENGGERAKKAN LENGAN ROBOT MENTOR

TELEROBOTIC USING EMBEDDED WEB SERVER TO CONTLROLLING AND MONITORING MENTOR ROBOT ARM

Created by :
Logys, Adib ( )

Subject: Robotics
Alt. Subject : Robot
Keyword: Sistem telerobotika

[ Description ]

Sistem telerobotika merupakan sistem pengendalian robot jarak jauh yang menggunakan jaringan komunikasi data (jaringan internet) sebagai sarana pengiriman paket data dari server ke client. Pada Tugas Akhir ini dijelaskan penggunaan embedded web server sebagai alternatif kontrol pada sistem telerobotika. embedded web server digunakan dalam riset ini sebagai satu solusi untuk mengurangi biaya dan daya yang dipakai seperti pada sistem komputer non embedded. Pengiriman paket data dilakukan menggunakan TCP/IP, sehingga sistem dapat mendekati kondisi real-time yang diharapkan. Parameter yang dipakai dalam implementasi ini adalah waktu tunda pengiriman paket data. Sedangkan ruang lingkup pengiriman data adalah 2 buah Local Area Network (LAN) dalam lingkungan Jurusan Teknik Elektro FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dari pengujian didapatkan nilai waktu tunda rata-rata 50 ms. Sedangkan dari hasil invers dan forward kinematics didapatkan error pengukuran 0 – 2 derajat.

Alt. Description

Telerobotic system is a system controlling a robot remotely using a data communication network (the Internet) as a means of sending data packets from the server to the client. On this Final Project described the use of embedded web server as an alternative to the control system telerobotic. Embedded web server used in this research as a solution to reduce cost and power that is used as in the nonembedded computer system. Transmission of packet data is done using TCP / IP, so the system can approximate real-time conditions expected. Parameters used in the implementation of this is the time delay of data packets. While the scope of data is the 2 Local Area Network (LAN) environment in the Department of Electrical Engineering FTI, Sepuluh Nopember Institute of Technology.

Contributor :

1. Ahmad Zaini, S.T., M.T.
Diah Puspito Wulandari, S.T., M.Sc.

#########################################################

TELEROBOTIK MENGGUNAKAN EMBEDDED WEB SERVER UNTUK MEMONITOR DAN MENGGERAKKAN LENGAN ROBOT MENTOR

TELEROBOTIC USING EMBEDDED WEB SERVER TO CONTLROLLING AND MONITORING MENTOR ROBOT ARM

Created by :
Logys, Adib ( )

Subject: Robotics
Alt. Subject : Robot
Keyword: Sistem telerobotika

[ Description ]

Sistem telerobotika merupakan sistem pengendalian robot jarak jauh yang menggunakan jaringan komunikasi data (jaringan internet) sebagai sarana pengiriman paket data dari server ke client. Pada Tugas Akhir ini dijelaskan penggunaan embedded web server sebagai alternatif kontrol pada sistem telerobotika. embedded web server digunakan dalam riset ini sebagai satu solusi untuk mengurangi biaya dan daya yang dipakai seperti pada sistem komputer non embedded. Pengiriman paket data dilakukan menggunakan TCP/IP, sehingga sistem dapat mendekati kondisi real-time yang diharapkan. Parameter yang dipakai dalam implementasi ini adalah waktu tunda pengiriman paket data. Sedangkan ruang lingkup pengiriman data adalah 2 buah Local Area Network (LAN) dalam lingkungan Jurusan Teknik Elektro FTI, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dari pengujian didapatkan nilai waktu tunda rata-rata 50 ms. Sedangkan dari hasil invers dan forward kinematics didapatkan error pengukuran 0 – 2 derajat.

Alt. Description

Telerobotic system is a system controlling a robot remotely using a data communication network (the Internet) as a means of sending data packets from the server to the client. On this Final Project described the use of embedded web server as an alternative to the control system telerobotic. Embedded web server used in this research as a solution to reduce cost and power that is used as in the nonembedded computer system. Transmission of packet data is done using TCP / IP, so the system can approximate real-time conditions expected. Parameters used in the implementation of this is the time delay of data packets. While the scope of data is the 2 Local Area Network (LAN) environment in the Department of Electrical Engineering FTI, Sepuluh Nopember Institute of Technology.

Contributor :

1. Ahmad Zaini, S.T., M.T.
Diah Puspito Wulandari, S.T., M.Sc.

#########################################################

PENGATURAN ARAH ANTENA PADA PLATFORM BERGERAK UNTUK APLIKASI PENJE JAKAN POSISI SATELIT

ANTENNA DIRECTION CONTROL ON MOBILE PLATFORM FOR SATELLITE POSITION TRACKING APPLICATION

Created by :
Pardede, Morlan ( )

Keyword: Robotika
Jacobian Inverse Control
sistem pengaturan antena.

[ Description ]

Pada komunikasi satelit, tingkat penerimaan sinyal dipengaruhi sudut pengarahan antena stasiun bumi, dimana level sinyal maksimum didapat pada saat sudut pengarahan antena sama dengan sudut pandang satelit Antena yang terdapat pada platform bergerak akan mempunyai sudut pandang satelit yang berubah-ubah sesuai dengan pergerakan platform. Untuk menyesuaikan sudut pengarahan antena (elevasi dan asimut) terhadap sudut pandang satelit yang berubah dipeiiukan sebuah manipulator. Pada penelitian ini dibuat sebuah prototype robot dua derajat kebebasan (2-DoF) sebagai manipulator pada platform bergerak, dimana antena penerima ditempatkan pada endeffector robot. Dengan posisi satelit tetap, robot mengarahkan asimut dan elevasi antena ke posisi satelit pada setiap perubahan posisi platform. Pengontrolan arah antena dilakukan dengan metode Jacobian Inverse Control. Pengujian robot dilakukan dengan menggantikan satelit dengan sebuah obyek pada titik tertentu, dan piatform digerakkan di sekitar titik subsatellite (titik di bawah obyek) dengan arah tertentu. Dari hasil pengujian didapat untuk pergerakan dengan perubahan sudut asimut sebesar 0.356°/detik mempunyai rata-rata penyimpangan asimut sebesar 0.1665° dan untuk perubahan sudut elevasi 0,044°/detik mempunyai rata-rata penyimpangan elevasi sebesar 0.1°. Secara umum, metode yang digunakan dapat diterapkan untuk sistem pengontrolan posisi antena yang terdapat pada platform bergerak.

Alt. Description

n satellite communication, received signal is affected by the direction of eaith station antenna, which the maximum signal is obtained when antenna direction angles equal to satellite look angles. Mounted antenna on mobile platform has various Iook angles according to platform position. To adjust antenna direction angles (azimuth and elevation) to be equal to look angles, the manipulator is needed. In this research, 2 degrees of freedom (2-DOF) robot as manipulator is constructed on the platform and controlled receiver antenna is placed on the end effector. With certain satellite position, the robot controls the azimuth angle and elevation of antenna as response of the platform movement For robot control purpose, Jacobian inverse control method is applied For experiment, an object as sateilite is used, and platform move straight around the sub-satellite point From experiment results, if the azimuth angle changes in 0.356°/second, the average error is 0.1665°, and if the elevation changes in 0.044°/second, the average error is 0.1°. In general, the proposed method is applicable for antenna position control system on mobile platform.

Contributor :

1. Morlan Pardede 2203 204 004 Ir. Djoko Purwanto, M.Eng, Ph. Ir. Hendra Kusuma, M.Eng

#########################################################

PERANCANGAN KONTROLER ADAPTIVE NEURAL NETWORK UNTUK LENGAN ROBOT PENGISIAN BAHAN BAKAR MINYAK

THE CONTROLLER PLANNING OF ADAPTIVE NEUREL NETWORK FOR FUEL ROBOTIC LOADING ARM

Created by :
Maryadi, Didik ( )

Keyword: Robot
Pengisian Bahan Bakar Minyak
Jaringan Syarat Tiruan
sistem pengaturan independent

[ Description ]

Untuk pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) pada mobil tangki dimana sistem kerjanya berulang-ulang dan terus-menerus maka akan lebih baik digunakan sebagai penggantinya adalah lengan robot yang merupakan alat bantu lengan pengisian (loading arm), dengan sebuah sistem kontrol yang mempunyai ketahanan terhadap model plant dan mempunyai respon yang cepat serta akurat di dalam menemukan posisi obyek (man-hole). Direncanakan dibuat sebuah lengan robot dua derarjat kebebasan dalam mencapai posisi man-hole (lobang pengisian) pada mobil tangki BBM. Permasalahan yang kemudian muncul adalah simpangan yang terjadi akibat dari gerakan lengan robot. Agar sistem mempunyai ketahanan terhadap gangguan dari model plant serta mempunyai ketepatan posisi man-hole, dipergunakan metode “Sistem Kontrol Adaptip Jaringan Syarat Tiruan”. Dengan metode kontrol plant secara independent, diharapkan gerakkan lengan robot mempunyai koordinat dan akurasi tinggi sehingga dapat dikatakan sebagai “Robot Lengan Pengisian Bahan Bakar Minyak”. Didalam simulasi dengan komputer PC, sinyal kontrol yang dihasilkan oleh kontroler akan digunakan sebagai isyarat perintah kepada sistem kontrol dengan berdasarkan kesalahan dari sistem kontrol yaitu perbedaan antara acuan masukan, model dan keluaran dari sistem kontrol. Dengan mempertimbangakan adanya torsi dari lengan satu terhadap lengan lain maka beban torsi masing-masing berubah yang mengakibatkan perubahan, sehingga perlu dilakukan koordinasi. Dalam menentukan koordinasi kecepatan lengan robot perlu dirancang sebuah kontroler koordinasi. Hasil yang masih bersifat percobaan ini menunjukkan bahwa pengaturan lengan robot secara independent dengan Sistem Kontrol Adaptip Jaringan Syarat Tiruan yang diusulkan memungkinkan untuk dipergunakan pada suatu sistem kontrol agar mencapai pengontrolan yang sesuai dengan yang diinginkan.

Alt. Description

It will be better to use robotic arm as a substitute tool for loading fuel into tank truck where the work system is repeatedly and continuously. The robotic arm is a substitute tool of loading arm with a control system that has resilience towards plant model and has quick and accurate respond in finding the object position (man-hole). Planned to make a robotic arm with two degree of freedom to reach man-hole position in fuel tank truck. The problem which is arisen later is the deviation which is happened as an effect of robotic arm movement. The method of ” Adaptive Neurel Network Control System ” is used in order to make the system has resilience towards trouble of plant model and has an accuracy position in the man-hole. By independent plant control system, it is expected that the robotic arm movement has co-ordinate and high accuracy so it can be said as ” Fuel Robotic Loading Arm “. In the computer simulation, the control signal produced by controller will be used as an order signal to control system based on the errors of control system. That are the differences betweeninput, model, and out put of control system. Considering that there is torsion from one arm to others so that each torsion load are change that can cause a change, so it is needed to do coordination. It is needed to design a co-ordination controller to determinate the co-ordination velocity of robotic arm . This experimental result shows that the independent robotic arm arrangement with proposed adaptive artificial nerve network control system could probably used in a control system to reach the perfect control that we want.

Contributor :

1. Ir Rusdhiyanto Effendi AK, MT

#########################################################

Copyright @2005 by ITS Library.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KUMPULAN-ABSTRAK-SKRIPSI-ILMU PANGAN | PROFIL VEDCA KAMPUSKU

Vocational Education Development Center For Agriculture (VEDCA) merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependididkan, Departemen Pendidikan Nasional yang pendiriannya mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 08 tahun 2007 tentang organisasi dan tata kerja Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, secara resmi mulai beroperasi pada tanggal 13 Februari 2007. VEDCA memiliki tugas melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di bidang pertanian dan mempunyai fungsi, yakni :
a. Penyusunan program pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan
b. Pengelolaan data dan informasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
c. Fasilitasi dan pelaksanaan peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
d. Evaluasi program dan fasilitasi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
e. Pelaksanaan urusan administrasi PPPPTK

Visi:
Meraih kualitas hidup yang lebih baik dan menjemput kemakmuran bumi, melalui pembentukan insan profesional

Misi:
1. Menyelenggarakan layanan fasilitasi terstandar
2. Melakukan pengkajian, pengembangan dan pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam perannya sebagai fungsi think tank
3. Melakukan penjaminan mutu fasilitasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
4. Memberdayakan asosiasi Pendidik dan Tenaga Kependiidkan, dan pusat pembelajaran masyarakat
5. Memfasilitasi pemenuhan kualifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan

“VEDCA” – VERSATILE, DEDICATED, AND CARE adalah semboyan kami dalam mengembangkan sistem agribisnis melalui pemberdayaan SDM dan produksi hasil-hasil pertanian. Kebijakan Mutu kami adalah:

VISIONARY INOVATION,
EXCELLENT SERVICE,
DYNAMIC METHODOLOGY,
CREATIVE TRAINING and CONSULTANCY,
ACTIVE IN AGRICULTURE PRODUCT, AGROINDUSTRY PRODUCTION, AND ORGANIC FARMING

Saat ini, VEDCA merupakan lembaga di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang bertanggung jawab secara teknis dalam pengembangan dan pemberdayaan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Lingkup layanan dan produk yang dihasilkan dari pelaksanaan kegiatannya, terutama meliputi hal-hal yang berkaitan dengan fasilitasi pendidikan kejuruan, layanan jasa konsultansi serta produk-produk yang berhubungan dengan aspek teknis pada sub-sektor pertanian tanaman hortikultura, pangan, perkebunan dan kehutanan, perbenihan tanaman, sub-sektor peternakan, sub-sektor perikanan dan kelautan, sub-sektor pengolahan hasil pertanian, alat mesin pertanian, pertanian organik dan aspek-aspek ekonomi dalam agribisnis.

Beberapa aktivitas yang telah dilaksanakan antara lain berupa:
a. pengembangan kurikulum bagi sekolah kejuruan pertanian;
b. pengembangan bahan ajar/bahan latihan yang diperlukan dalam pendidikan dan latihan kejuruan pertanian;
c. pengembangan program dan asistensi peningkatan mutu sekolah kejuruan pertanian;
d. pelatihan manajerial bagi para pengelola sekolah menengah kejuruan;
e. pelatihan kependidikan dan kejuruan bagi para pengelola dan pelaksana sekolah menengah kejuruan pertanian;
f. pendidikan dan pelatihan agribisnis bagi masyarakat umum dan departemen lainnya diluar Departemen Pendidikan Nasional;
g. produksi berbagai hasil pertanian (tanaman, ternak, ikan) dan hasil olahnya;
h. pengembangan/inovasi teknologi kependidikan dan latihan serta hal-hal yang berkaitan dengan sektor pertanian; dan
i. pelaksanaan pendidikan Diploma (DIII-IV) bidang Kultur Jaringan, Teknologi Benih, Agribisnis Ruminansia, Budidaya Perairan, Perikanan Tangkap, Pengawasan Mutu Agroindustri, Rancang Bangun Alat Mesin Pertanian, Teknologi Herbal, Manajemen Kelapa sawit, Manajemen Logistik, Teknologi Pabrikasi Kelapa Sawit, Manajemen Ulat Sutra.

Mengingat bahwa pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan dan latihan kejuruan pertanian tidak dapat lepas dari keterkaitannya dengan dunia kerja sektor pertanian, maka VEDCA tidak hanya melayani dan berhubungan/bekerja sama dengan lembaga pelaksana pendidikan menengah kejuruan pertanian, namun juga melayani dan berhubungan/bekerja sama dengan masyarakat umum (industri, pengusaha, petani, dan peminat bidang pertanian) secara langsung.

DEPARTEMEN

Departemen yang ada di vedca antara lain:

sumber: PPPPTK Pertanian (VEDCA) Cianjur

Posted in KUMPULAN-ABSTRAK-SKRIPSI-ILMU PANGAN | PROFIL VEDCA KAMPUSKU | Leave a comment