CONTOH PENELITIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

UJI KETAHANAN ASESI/ GALUR TERHADAP
CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Dra Triny S. Kadir
ABSTRAK
Dalam meningkatkan produksi padi ternyata varietas memberi sumbangan yang cukup besar. Namun demikian hama penyakit merupakan kendala dilapangan, dan untuk merilis varietas perlu adanya data dukung terhadap ketahanan wereng coklat, tungro, HDB(Hawar Daun Bakteri) dan blast. Pengujian ketahanan terhadap wereng coklat, tungro, HDB dan blast telah dilakukan pada MT 2007 di BB Padi. Pengujian wereng coklat telah dilaksanakan di rumah kasa BB Padi, tungro di rumah kasa BB Padi, HDB di lapangan dan rumah kasa. Serta Blast di Muara. Untuk wereng coklat jumlah galur inbrida yang diuji 160 asessi, galur hibrida 331 asesi, plasma nutfah 100 asesi. Pengujian wereng coklat secara masal, penapisan dan population built up. Untuk tungro jumlah materi inbrida yang diuji 339 galur, hibrida 331 galur. Galur disebar mengikuti design pengujian IRTN didalam pot plastik didalam rumah kaca. HDB materi observasi 1512 galur, hibrida 138 galur , Materi DHP dan materi DHL, dan plasma nutfah. Pengujian di rumah kasa untuk stadia bibit menggunakan box . Pengujian blas dengan 4 ras yang berbeda yaitu ras 101,123,141 dan ras 373. Hasil penelitian menunjukkan dari galur inbrida didapat 14 galur yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3. Dari galur hibrida hanya didapat 2 galur yang tahan terhadp wereng coklat biotipe 3. Dari plasma nutfah hanya didapat 2 asesi yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3 (Pulut Lewok dan Ketan Ulis). Hasil pengujian wereng coklat dengan metoda “population built up” BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP4188-7f-1-2-2*B, BP 2870-4e- Kn-22-2-1-5*B. Hasil pengujian tungro 1 galur sawah tahan terhadap tungro yaitu BP 4232-1f-2-1-2*B dan 22 galur agak tahan trhadap tungro. Untuk asesi plasma nutfah 1 asesi varietas Deli tahan. 25 asesi agak tahan . Untuk galur hibrida dengan test tube 1 galur IR79128A tahan dan IR 80156* dan IR688897 agak tahan. Untuk HDB materi observasi menunjukkan tahan terhadap patotipe IV 0,06% dan agak tahan 10,11%. Untuk materi plasma nutfah 2 asesi tahan HDB patotipe IV. Pada DHP 3 galur MR terhadp HDB, 6 galur (DHL) MR terhadap HDB. Dari plasma nutfah Aceh-aceh dan Abang tahan terhadap HDB. Hibrida menunjukkan 70,77% MR terhadap ras III, 26,08% MR terhadap ras IV dan 8,40% (MR) terhadap ras VIII. Untuk pengujian Blas tahan 4 ras ada 59 galur, tahan 3 ras 54 galur tahan 2 ras 48 galurdan tahan 1 ras 3 galur. Kegiatan skrining galur/varietas padi terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca Bogor pada MT I . Tujuan penelitian untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap skeracunan Al, kekeringan dan naungan. Hasil penelitian menunjukkan hasil skrining terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al. Dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan agak toleran B11178G-TB-29 toleran terhadap keracunan Al dan naungan. Diperoleh tiga galur yang toleran terhadap rendaman yaitu: IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 dan satu galur tergolong moderat yaitu IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

Kata kunci: padi sawah, padi gogo, wereng coklat, tungro, HDB, padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan , toleran naungan.
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and abiotic constraints. The activities of the experiment included screening rice lines to biotic constraint to brown plant hopper screening method and population built up, to tungro, bacterial blight and blast. To abiotic constraint screening for Al toxicity, draught and shading. The activities ware done in the Green House Sukamandi 2007, Field experiment Sukamandi and in the green house in Bogor. The result of the experiment 14 lines resistant to brown planthopper byotipe 3, and the lines was resistant by population built up method BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP 4188-7f-1-2-2*B, BP2870-4e-Kn-22-2-1-5*B. 2 asseccion rice germ plasm resistant to byotipe 3 (Pulut lewok and Ketan Ulis). 2 hybrid lines (0.6%) resistant to brown planthopper byotipe 3 (IR6888A/CRS117 dan IR68897A/CRS117). BP 4232-1f-2-1-2*B resistant to tungro and 22 lines moderat resistant to tungro. 1 asession germ plasm resistant to tungro : Deli and 25 aseccion MR to tungro. Hybrid Lines IR 79128 A resistant to tungro. To BLB 3 lines (DHP) MR, 6 lines (DHL) MR, 137 germ plasm (MR) and Aceh-aceh , Abang (R). Hybrid lines 70.77% (MR) to ras III 26.08% (MR) to ras IV, and 8.40% (MR) to ras 8. 4 lines (29.5%) resistant to 4 race, 3 race (27%) 2 race (24%) and 1 race (16.5%) B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxixity and shading. Three line sub mergence tolerance IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 and moderat lines IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

ROPP 7.2
IDENTIFIKASI BIOTIPE WERENG COKLAT, PATOTIPE HAWAR DAUN BAKTERI, DAN KOMPOSISI SPESIES PENGGEREK Dl DAERAH ENDEMIS
Prof. Dr. Baehaki SE dkk
ABSTRAK
Wereng coklat, penggerek batang padi, dan HDB merupakan hama dan penyakit utama pada tanaman padi dan telah banyak menimbulkan kerusakan di hampir setiap tahun pertanaman padi. Keganasan hama dan penyakit tersebut disebabkan oleh kemampuan hama da penyakit tersebut beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk mudah beradaptasi dengan varietas tahan. Wereng coklat mempakan hama r-strategik dengan ciri: 1) serangga kecil yang cepat menemukan habitatnya, 2) berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetisi, 3) mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi, dan 4) mudah beradaptasi dengan habitat baru membentuk biotipe baru. Penggerek mempunyai keragaman spesies yang besar, sehingga bila spesies satu tidak ada, maka akan muncul spesies yang lainnya, sehingga pengrusakan terhadap tanaman padi akan tetap berlangsung. Di lain pihak penyakit HDB cepat berubah strain dan dapat dengan segera merusak tanaman padi yang dikatakan tahan. Wereng Coklat yang ditentukan biotipenya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wereng-wereng dari daerah di pelihara di laboratorium selama 1 generasi dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi biotipe dengan standar penilaian dari IRRI 1995. HDB yang ditentukan Strainnya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daun-daun padi yang terserangn HDB dari daerah di isolasi dengan metode pencucian daun (leaf washing) dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi strain dengan standar penilaian dari IRRI 1995. Larva penggerek batang padi dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dibedakan dengan kunci identifikasi, sehingga didaptkan komposisi penggerek padi di setiap daerah. Pemantauan spesies penggerek batang dilakukan untuk menentukan spesies dominan di Pulau Jawa. Untuk menentukan spesies penggerek batang dilakukan dengan cara melihat morfologi larva dan dikuatkan morfologi ngengat. Di tiap lokasi pada dua atau tiga stadia tanaman padi, diambil 100 batang dengan gejala serangan penggerek, baik gejala sundep maupun beluk Kemudian gejala sundep dan beluk tersebut itu dibelah, larva yang didapat dimasukkan ke dalam botol alkohol 70%, kemudian diidentifikasi. Pada lokasi dengan larva dari genus Scirpophaga, untuk menentukan spesies penggerek batang padi kuning stemborer (Scirpophaga incertulas W: Lepidoptera. Pyralidae) atau penggerek batang putih (Scirpophaga innotata W: Lepidoptera. Pyralidae) didasarkan pada ngengat yang ditemukan di lapangan atau dari ngengat yang keluar dari larva yang dipelihara. Di Pantai Utara Jawa Barat yang terdiri dari Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Di Jawa Barat bagian tengah yaitu di kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Di Jawa Tengah meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Kendal, Kudus, Pati, Sragen, Sukoharjo dan Klaten, di DIY di kabupaten Sleman dan di Jawa Timur di kabupaten Ngawi. Penelitian strain bakteri Xoo di daerah sentra produksi padi di Jawa dilaksanakan dengan metode survey dan pengambilan sample tanaman padi sakit HDB pada MK 2007. Isolasi bakteri Xoo dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dengan metode pencucian menggunakan media PSA. Keragaman virulensi bakteri Xoo dievaluasi pada 5 varietas diferensial di screen field KP Sukamandi pada MH 2007/208. Inokulasi dilakukan dengan metode gunting pada pertanaman padi stadia anakan maksimum. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan dengan mengukur gejala penyakit yang muncul pada 4 minggu setelah inokulasi. Keparahan 10% tergolong peka (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wereng coklat yang berada di Jawa Tengah (Kudus, Pati dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), Ngawi-Jawa Timur, dan Cianjur-Jawa Barat adalah wereng coklat biotipe 4. Wereng coklat biotipe 4 dicirikan dengan patahnya ketahanan varietas yang mempunyai gen Bph1 (varietas differensial Mudgo) dan bph2 (varietas differensial ASD7). Varietas padi yang mempunyai gen tahan Bph3 (varietas differensial Rathu Heenati) dan Bph6 (varietas differensial Swarnalata) tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Varietas padi yang mempunyai gen tahan digenik bph2 dan Bph3 seperti halnya varietas differensial PTB33 tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Berdasarkan morfologi larva dan tangkapan ngengat, spesies penggerek batang padi di Kabupaten Subang didominasi oleh penggerek batang padi kuning yang mencapai 90%. Sisanya ialah penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). Namun berdasarkan tangkapan lampu perangkap di Sukamandi ditemukan juga penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata dan penggerek batang bergaris (Chilo spp: W: Lepidoptera. Pyralidae) dalam populasi yang sangat rendah. Di Kabupaten Indramayu, komposisi spesies berbeda antar kecamatan. Di kecamatan Widasari berdasarkan ngengat di lapangan merupakan penggerek batang padi kuning. Di Indramayu bagian tengah yaitu di Kecamatan Segeran Kidul ditemukan penggerek batang padi putih, dan di Indramayu bagian timur yaitu di Tambi ada kedua-duanya yaitu penggerek batang padi putih dan penggerek batang padi kuning. Komposisi spesies penggerek batang padi di Kabupaten Cirebon juga berbeda antar lokasi. Di dua lokasi hanya ditemukan PBPK, sedangkan di desa Maro selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu dalam jumlah yang rendah (2%). Di Karawang spesies penggerek batang padi kuning paling banyak. Spesies yang lain yaitu penggerek batang merah jambu yang ditemukan di Karawang Utara, sedangkan di Karawang Timur yaitu di Kecamatan Jatisari hanya ditemukan PBPK. Di Cianjur dari semua pengamatan hanya dijumpai PBPK, sedangkan di Sukabumi selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu sebanyak 2%. Di Jawa Tengah juga, penggerek batang padi kuning paling dominan, penggerek batang merah jambu ditemukan dalam jumlah yang rendah kecuali di Tegal dalam jumlah lebih banyak dan tidak ditemukan penggerek batang bergaris. Hasil penelitian identifikasi HDB menunjukkan, bahwa dari 132 isolat bakteri yang diuji, 31 isolat (23,5%) tergolong strain III, 21 isolat (15,9%) strain IV, dan 80 isolat (60,6%) VIII. Di Jawa Barat dari 47 isolat yang diperoleh, 11 isolat (23,4%) tergolong strain III, 13 isolat (27,7) strain IV, dan 23 isolat (48,9%) strain VIII. Di Jawa tengah diperoleh 34 isolat, 6 isolat (17,7%) strain III, 8 isolat (23,5%) strain IV, dan 20 isolat (58,8%) strain VIII. Di DIY diperoleh 10 isolat, 5 isolat (50%) strain III dan 5 isolat (50%) strain VIII, tidak ditemukan strain IV. Di Jawa Timur diperoleh 41 isolat, 9 isolat (22%) strain III, 32 isolat (78%) strain VIII, dan tidak ditemukan strain IV. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa, umumnya di semua lokasi kecuali DIY, strain VIII merupakan strain bakteri Xoo yang dominant pada MK 2007.
ABSTRACT
Brown planthopper (BPH), rice stem borer (RSB), and bacterial leaf blight (BLB) were mayor pests on rice and destroyed almost all years of rice plantation. The pests virulent above is caused by adaptive ability of those pests to environment, include adaptation to resistance varieties. The BPH as a r-strategic pest with characteristic 1) small insect that quick discovery it habitat, 2) high developed to some generation and ability used of source food, 3) quick distribute to new habitat, before the old habitat useless, and 4) easy adapted to new habitat/resistance variety and formed new biotype. In the other hand the rice stem borer diversity as obstacle to forecast and control those pests. Another obstacle to control those pests, because don’t exactly monitoring and determine time of application and critical phase. The bacterial leaf blight (BLB) easy to changes strain and quick adapted to new varieties. For determining BPH biotype and stain of HDB, and RSB composition were from West Java, Central Java, and East Java). Determine BPH biotype and BLB strain used standard evaluation of IRRI, where as composition of RSB was determined by key of identification book. The results of the research showed that BPH from West Java (Cianjur), Central Java (Kudus, Pati, dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), and East Java (Ngawi) were biotype 4. The yellow rice stemborer comprised 90% of larva at Subang, the rest of larva was the pink rice stemborer (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). The white stemborer moths were also caught in a small number from light trap in Sukamandi. At Indramayu, composition of species depended on kacamatan. At Widasari only the yellow stemborer was found, at Central Indramayu at Segeran Kidul only the white rice stemborer. At East Indramayu, both species the yellow and white stemborer were found. At Cirebon, the yellow stemborer was dominant. Among three locations, the pink stem borer at low population (2%) was found in one location (Desa Maro, Gebang). Similarly, at Karawang the yellow rice stemborer was the main species. Only at North Karawang, 9% population of larva was the pink stemborer. At Cianjur in Central West Java, the yellow stemborer was the only species. While at Sukabumi beside the yellow stemborer, the was 2 % of the pink stemborer. In Central Java also the yellow stemborer was the dominant species, no stripe stemborer found in all locations, a small number of pink stem borer, except at Tegal the pink stemborer out number of the yellow stemborer. The results indicated we were totel collected are 132 of Xoo isolates have been pure cultured. Among them are 31 isolates (23,5%) have been identified as strain III, 21 isolates (15,9%) as strain IV, and 80 isolates (60,6%) as strain VIII. Strain structures of Xoo indicated that in West Java there were 47 isolates, among them 11 isolates (23,4%) have been identified as strain III, 13 isolates (27,7) as strain IV, and 23 isolates (48,9%) as strain VIII. In Central Java, there were 34 isolates, 6 isolates (17,7%) as strain III, 8 isolates (23,5%) as strain IV, and 20 isolates (58,8%) as strain VIII. In DIY there were 10 isolates, 5 isolates (50%) strain III and 5 isolates (50%) strain VIII, and no strain IV was found. In East Java there were 41 isolates, among them are 9 isolates (22%) as strain III, 32 isolates (78%) as strain VIII, and no strain IV was found. In general it was clear that in all locations, except DIY pathotype VIII dominated the strain of Xoo during the DS 2007.

ROPP 7.3
PENELITIAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAYATI DAN PESTISIDA
NABATI UNTUK TIKUS, WERENG COKLAT, KEONG MAS,
DAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Dr. Sudarmadji dkk
ABSTRAK
Penelitian Teknologi Pengendalian Hayati dan Pestisida Nabati untuk Tikus, Wereng Cokelat, Keong Mas, dan Penyakit Hawar Daun Bakteri. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa BB Padi tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk: 1).Mempelajari persistensi penurunan produksi sperma tikus sawah jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak secara oral; 2) Mempelajari virulensi Beauveria bassiana dalam formulasi kaolin terhadap hama wereng di laboratorium; 3) Menentukan bahan campuran yang dapat meningkatkan efektifitas daya bunuh Saponin terhadap keong mas dan; 4) Mendapatkan bahan nabati yang efektif untuk mengendalikan Hawar Daun Bakteri. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penurunan produksi sperma tikus jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak Ricinus communis sebagai bahan antifertilitas, bersifat tidak permanen (temporer), oleh karena itu sebaiknya bahan tersebut digunakan sebagai rodentisida nabati; 2) Bevaria 10WP dosis 1.5 dan 2 kg/ha mampu menekan imago wereng coklat, namun demikian Bevaria 10WP pada dosis 0.5, 1.0, 1.5 dan 2 kg/ha, maupun Appaud 10WP tidak mampu menekan nimfa wereng coklat; 3) Saponin efektif terhadap keong mas pada dosis 20 kg/ha baik dalam bentuk tepung maupun kasar. Pencampuran dengan pupuk dasar Urea+SP36+KCl lebih efektif meurunkan kerusakan. Penyimpanan saponin dalam plastik selama 12 minggu menurunkan efektifitasnya; 4) Lengkuas, lidah buya, sirih dan serai wangi menekan pertumbuhan penyakit HDB.

ROPP 7.4
UJI KETAHANAN ASESI/GALUR TERHADAP CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Ir. Erwina Lubis
ABSTRAK
Uji ketahanan asesi galur terhadap cekaman biotik dan abiotik. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Di luar Jawa padi gogo banyak di tanam dilahan kering kering podzolik merah kuning . Kendala biotik dan abiotik di lahan kering tersebut adalah penyakit blas, keracunan AL dan kekeringan. Untuk wilayah hutan tanaman industri dan perkebunan diperlukan varietas yang juga toleran naungan. Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan meliputi skrining galur/varietas padi terhadap keracuanan Al , kekeringan dan naungan, Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca bogor pada musim tanam I. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Dari hasil skrining galur/varitas padi terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan bereaksi agak toleran terhadap keracunan Al. Galur padi gogo yaitu B11598G-TB-2-5 dan empat galur padi rawa yaitu B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1 dan B7003D-MR-24-3-1 memiliki nilai RPA 0,82-0,86 atau lebih tinggi dari galur-galur semua galur yang diuji, Pada skrining galur/varietas padi terhadap kekeringan terpilih 5, 40 dan 64 galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran, toleran dan agak toleran terhadap kekeringan Empat dari lima galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran adalah B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 merupakan hasil persilangan Batutugi/Memberamo memiliki daya tumbuh bervariasi dari nilai 3 (70-89%) sampai 5 (40-69 %). Satu galur lainnya yaitu B11178G-TB-29 memiliki daya tumbuh kembali 90-100%. Pada skrining galur/varietas padi gogo terhadap naungan hanya 20 galur padi gogo yang toleransinya sama dengan Jatiluhur. Dari hasil ke tiga macam skrining ini hanya satu galur yaitu B11178G-TB-29 yang menunjukkan reaksi toleran terhadap keracunan Al. dan naungan dan sangat toleran terhadap kekeringan. Galur B11338-TB-26 bereaksi agak toleran dan toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan. Sisa dari galur-galur terpilih tersebut hanya toleran terhadap salah satu kendala lapang saja.

Kata kunci: padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan, toleran naungan
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and a biotic constraint. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Outside of Java region, most of the upland rice is cultivated in yellow red podzolic (PMK) soil. Biotic and a biotic constraints in yellow red podzolic soil are blast , Al toxicity and drought. For agro forestry and agriculture needed varieties which are shading tolerant. The activities of the experiment included screening rice lines for Al. toxicity, drought and shading. All of the activities were done in the green house in Bogor. Twelve and 48 upland rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Eight and 18 deepwater rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Upland rice line B11598G-TB-2-5 and four deepwater rice lines were B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1, B7003D-MR-24-3-1have relative root length about 0,82–0,86 highest most selected lines. In drought screening were selected 5, 40 and 64 upland rice lines which were high tolerant, tolerant and medium tolerant to drought respectively. The most tolerant five upland rice lines were B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 the same progenie of Batutugi/Memberamo which have recovery degree about 3 (70-89%) to 5 (40-69 %). Only B11178G-TB-29 had recovery about 90-100%. In screening rice lines to shading only 20 lines were tolerant similar to Jatiluhur. From the three kinds of screening only B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxicity and shading, and highest tolerant to drought. Line of B11338-TB-26 was medium tolerant to Al toxicity and tolerant to drought. The rest of selected lines were tolerant to one of field constraints.

Key words: Upland rice, aluminium toxicity tolerant, drought tolerant ,
shading tolerant.

PENELITIAN MEKANISME PERUBAHAN
PATOTIPE/RAS/VIRULENSI HAWAR DAUN BAKTERI,
BLAS DAN TUNGRO
“STUDI MEKANISME PERUBAHAN RAS PATOGEN BLAS”
Santoso Msi dkk
ABSTRAK
Penyakit blas yang disebabkan cendawan Pyricularia grisea merupakan salah satu penyakit utama pada padi. Patogen blas mempunyai banyak ras/haplotipe, yang biasanya ditentukan berdasarkan kemampuannya menimbulkan penyakit pada varietas differensial. Populasi patogen yang dinamik dapat mempercepat patahnya ketahanan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kecepatan perubahan ras patogen blas dan pengaruh pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas terhadap perubahan ras patogen blas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ras P. grisea dapat terjadi dalam satu siklus reisolasi baik pada pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas

Kata kunci: Perubahan ras, pertanaman mosaik, campuran, rotasi varietas.
ABSTRACT
Rice blast caused by Pyricularia grisea is one of the most important and well studied diseases of rice. Numerous races, or pathotypes, of the pathogen exist and are usually defined by their ability or inability to cause disease on set of host differentials. The dynamics of fungal population structures often shorten the lifetime of plant resistance. The objectives of this study are to know the speed of race change and the effect mosaik planting, mixture and variety rotation to change of race. The result of experiment showed that one cycle of blast pathogen reisolation at mozaik planting, mix planting and varietal rotation have experienced of race change.

Key words: Change of race, mosaik palnting, mixture, variety rotation.

ROPP 7.5
PENELITIAN PENYAKIT TULAR TANAH DAN PENYAKIT TULAR BENIH TERKAIT DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK
Bambang Nuryanto, Msi dkk
ABSTRAK
Perkembangan penyakit tular tanah (hawar pelepah) yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada beberapa model tanam dan penambahan berbagai jenis kompos. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kuningan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada musim tanam I tahun 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanam dan penambahan jenis kompos nyata mempengaruhi perkembangan penyakit hawar pelepah. Model pertanaman yang lebih rapat seperti legowo 4:1 (40-20-10)cm dan tegel 20x20cm menyebabkan penyakit hawar pelepah berkembang lebih parah. Pada petak pertanaman yang menerima penambahan bahan organik terutama kompos jerami dan pupuk kandang dapat menghambat perkembangan penyakit hawar pelepah, menurunkan prosentase gabah terinfeksi pathogen terbawa benih terutama Aspergillus sp. dan Helminthosporium oryzae dan meningkatkan pencapaian hasil panen.
Kata kunci: Hasil, keparahan penyakit, hawar pelepah, kompos, model tanam
ABSTRACT
Soil borne disease development(rice sheath blight) caused Rhizoctonia solani on the some rice planting systems and different organic matter composted amendments was evaluated in the Kuningan research station of Center Institute for Rice Research at first season of 2007. The result showed that the planting systems and different organic matter amandments were significant affected to development of rice sheath blight. Planting systems with shorter space such as legowo 4:1 (40-20-10)cm and tegel 20x20cm were caused disease development more severe, other wise soil organic matter amendment particularly paddy straw composted and livestock manure were decreasing rice sheath blight development, decreasing of grains infected by seed borne pathogen especially Aspergillus sp. and Helminthosporium oryzae and increasing of yield.

Key words: Yield, disease severity, rice sheath blight, compost, planting system.

About these ads

About ahmadi muslim

I NEED YOUR TALLENT AND YOUR ACTIVE
This entry was posted in HPT. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s