Kumpulan Abstrak Skripsi Jurusan Peternakan (Produksi Ternak) (penelitian, skripsi, disertasi, thesis, jurnal, artikel, laporan)

PENGARUH FREKUENSI PELAPISAN ULANG MINYAK KELAPA DAN

JENIS TELUR TERHADAP KUALITAS INTERNAL TELUR



Oleh



Hamdan Arfani1



ABSTRAK



Dalam rangka mempertahankan kualitas internal telur perlu dilakukan upaya pengawetan . Salah satu upaya dimaksud adalah melapisi telur dengan minyak kelapa yang telah dipanaskan. Pengawetan telur dengan cara melapiskan minyak kelapa sebanyak 1 kali pada kerabang telur dapat memperpanjang masa simpan hingga 1 bulan. Namun, kerabang telur yang dilapisi dengan minyak kelapa lebih dari 1 kali belum ada informasi.


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa dan jenis telur tersebut dalam mempertahankan kualitas internal telur.

Telur yang digunakan sebanyak 72 butir, terdiri atas 24 butir telur ayam arab, 24 butir telur ayam ras, dan 24 butir telur itik. Penelitian dilaksanakan mulai Juli 2002 hingga September 2002. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan faktor perlakuan (1) frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa (0,1,2,3 kali); dan faktor (2) jenis telur (telur ayam arab, telur ayam ras, dan telur itik). Data yang diperoleh diuji homogenitas dan aditivitasnya kemudian dianalisis menggunakan Analisis Ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Uji lanjut yang digunakan adalah Uji Jarak Berganda Duncan.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa dan jenis telur terhadap kualitas internal telur (P³0,01). Frekuensi pelapisan ulang berpengaruh sangat nyata (P£0,01) terhadap penurunan berat telur, namun tidak berpengaruh nyata terhadap indeks putih telur, nilai haugh unit, dan indeks kuning telur (P³0,05). Penurunan berat telur dengan frekuensi pelapisan ulang minyak kelapa sebanyak 2 kali atau 3 kali nyata (P£0,05) lebih kecil dari pada pelapisan ulang sebanyak 1 kali atau yang tidak dilapisi ulang.


Jenis telur berpengaruh nyata (P³0,05) terhadap indeks putih telur dan nilai haugh unit dan berpengaruh sangat nyata (P£0,01) terhadap penurunan berat telur dan indeks kuning telur. Telur itik memiliki indeks putih telur dan penurunan berat yang nyata lebih besar (P£0,05) dari pada telur ayam arab dan telur ayam ras. Telur itik dan telur ayam ras tidak berbeda nyata (P³0,01) terhadap nilai haugh unit dan indeks kuning telur, yakni rata-rata sebesar 77,78 (kualitas AA) dan 0,34 serta berbeda nyata (P£0,05) dengan telur ayam arab terhadap nilai haugh unit dan indeks kuning telur tersebut, yakni 61,91 (kualitas B) dan 0,14.


PENGARUH JENIS KAPANG DAN LEVEL UREA PADA FERMENTASI ONGGOK TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR NH3, DAN KADAR VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO



Oleh



Inayah Aini 1, M. Prayuwidayati 2, dan Liman 2.



ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi antara perlakuan jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger,dan Trichoderma viride ) dengan level urea (0; 1,5; 3; 4,5%) terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro hasil fermentasi; mengetahui pengaruh penggunaan jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger,dan Trichoderma viride) pada fermentasi onggok; mengetahui pengaruh level urea (0; 1,5; 3; 4,5%) terhadap KCBK, KCBO, kadar VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.



Perlakuan disusun secara faktorial 3 x 4 dalam RAL dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis kapang yaitu Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, dan Trichoderma viride, sedangkan faktor kedua adalah level urea yang terdiri atas 0; 1,5; 3 dan 4,5% bahan kering. Data yang dihasilkan dianalisis dengan analisis ragam; apabila pengaruh perlakuan pada suatu peubah nyata pada taraf 5% atau 1% maka analisis dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi (P3 dan Kadar VFA secara in vitro; Kandungan KCBK dan KCBO onggok terfermentasi berpengaruh baik bila ditambahkan level urea pada kapang Aspergillus oryzae sampai level 4,5%, kapang Trichoderma viride sampai level 3% dan kapang Aspergillus niger sampai level 1,5%; Kandungan KCBK, KCBO, dan NH3 tertinggi terdapat pada jenis kapang Aspergillus niger dan level urea 1,5% dengan nilai masing-masing adalah 64,02%, 71,41% dan 10,25 mM, sedangkan kandungan VFA tertinggi terdapat pada kapang Trichoderma viride dengan level urea 0% dengan nilai sebesar 156,67 mM.



PENGARUH KLORINASI 150 ppm TERHADAP DAYA IKAT AIR, TEKSTUR DAN BAU DAGING PADA LAMA SIMPAN POTONGAN KARKAS BROILER YANG BERBEDA



Oleh



Emy Mariyanti 1, Rr. Riyanti 2, dan Dian Septinova 2.

ABSTRAK

Daging broiler merupakan bahan pangan yang mudah rusak, karena komposisi gizinya yang tinggi serta adanya pencemaran permukaan pada daging oleh mikroorganisme perusak. Salah satu perubahan yang terjadi yaitu perubahan fisik daging, yang meliputi daya ikat air, tekstur, bau daging, dan warna daging. Salah satu bahan pengawet yang dapat digunakan adalah klorin. Klorin merupakan pengawet yang aman bagi manusia, mudah didapat, murah, dan memiliki sifat sanitizer, sehingga pertumbuhan mikroorganisme dapat dicegah.


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh klorinasi 150 ppm terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging pada lama simpan potongan karkas broiler yang berbeda, serta mengetahui lama simpan yang efektif untuk potongan karkas broiler klorinasi 150 ppm, dalam mempertahankan daya ikat air, tekstur, dan bau daging.

Penelitian ini dilaksanakan pada 4–5 April 2007, di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah K0: lama simpan 0 jam; K1: lama simpan 4 jam; K2: lama simpan 8 jam; K3: lama simpan 12 jam. Data yang diperoleh dari penelitian ini ditransformasi kemudian diuji normalitas, homogenitas dan aditivitas, analisis ragam pada taraf nyata 5 % dan 1 %, kemudian dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal jika ada peubah yang nyata.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan lama simpan (0 jam, 4 jam, 8 jam, dan 12 jam) pada potongan karkas broiler yang diklorinasi 150 ppm memberikan pengaruh yang sangat nyata (Pbroiler, serta klorinasi 150 ppm belum dapat mempertahankan daya ikat air, tekstur, dan bau daging sampai dengan masa simpan 12 jam.



PENGARUH KLORINASI 150 ppm TERHADAP JUMLAH MIKROORGANISME DAN pH DAGING KARKAS

BROILER
PADA LAMA SIMPAN YANG BERBEDA

Oleh

Iskam Agung Muhlis1, Rr. Riyanti2, Khaira Nova2

ABSTRAK

Daging broiler merupakan salah satu bahan pangan yang kaya nutrisi. Bahan pangan yang kaya nutrisi merupakan tempat yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganime akan mengakibatkan pH dalam daging meningkat yang menyebabkan busuknya daging broiler. Perendaman karkas broiler dengan menggunakan klorin 150 ppm diharapkan dapat mengurangi jumlah mikroorganisme dan menurunkan pH daging sehingga akan berakibat meningkatnya kualitas karkas broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh klorinasi 150 ppm terhadap jumlah mikroorganisme dan pH daging karkas broiler pada lama simpan yang berbeda.

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, yaitu T0 : lama simpan 0 jam, T1 : lama simpan 4 jam, T2 : lama simpan 8 jam, T3 : lama simpan 12 jam. Karkas broiler yang digunakan berjumlah 20 potong. Data yang diperoleh terlebih dahulu dilakukan uji normalitas, aditivitas, dan homogenitas, lalu dilakukan analisis ragam pada taraf nyata 5% dan 1%. Apabila analisis ragam berpengaruh nyata pada satu peubah maka analisis dilanjutkan dengan uji Polinomial Ortogonal. Semua pengujian dilakukan pada taraf nyata 5% dan 1%.

Penambahan klorin 150 ppm pada air rendaman karkas broiler selama 2 jam dengan lama simpan hingga 12 jam pada suhu ruang berpengaruh sangat nyata (Pterhadap jumlah mikroorganisme dengan persamaan Ŷ = 5,6501 – 0,0183X + 0,0171X2. Demikian pula pengaruh perlakuan terhadap pH karkas broiler berpengaruh sangat nyata (Pberpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 6,5360 – 0,0063X + 0,0036X2. Klorinasi 150 ppm belum mampu menekan pertumbuhan jumlah mikroorganisme dan pH daging broiler pada batas normal hingga 12 jam penyimpanan.


PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI TERHADAP KADAR NH 3, PRODUKSI VFA, DAN POPULASI PROTOZOA RUMEN

KAMBING PERANAKAN ETTAWA



Oleh


Azhar Sineba1, Yusuf Widodo2, dan Liman2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi terbaik terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa.


Penelitian ini dilaksanakan di Kandang Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada Februari–April 2007, sedangkan analisis kimia dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 perlakuan yaitu R0 : Ransum basal (70% konsentrat + 30% rumput lapang), R1 : 90% ransum basal + 10% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), R2 : 80% ransum basal + 20% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), R3 : 70% ransum basal + 30% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi), dan terdiri atas 4 ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi berpengaruh sangat nyata (P3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) penggunaan 30% pakan kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi dan 50% lumpur sawit terfermentasi) merupakan pakan kombinasi terbaik berdasarkan uji BNT terhadap kadar NH3, produksi VFA, dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa.




PENGARUH PENGOLAHAN SECARA KIMIA, BIOLOGI, DAN KOMBINASI SECARA KIMIA-BIOLOGI PADA JANGGEL JAGUNG TERHADAP KECERNAAN DAN PARAMETER METABOLISME RUMEN SECARA IN VITRO



Oleh



Leviana 1, M. Prayuwidayati 2, dan Liman 2



ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh pengolahan janggel jagung secara kimia, biologi dan kombinasi secara kimia-biologi terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen secara in vitro;(2) mengetahui perlakuan terbaik pada janggel jagung terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3 dan VFA cairan rumen secara in vitro.


Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan berupa P0 = Janggel jagung tanpa pengolahan; P1 = Janggel jagung diamoniasi dengan Urea 3%; P2 = Janggel jagung diamoniasi dengan amonium sulfat 3%; P3 = Janggel jagung difermentasi dengan Aspergillus niger; P4 = Janggel jagung diamoniasi dengan Urea 3% dan difermentasi dengan Aspergillus niger; dan P5 = Janggel jagung diamoniasi dengan amonium sulfat 3% dan difermentasi dengan Aspergillus niger.



Data yang diperoleh pada penelitian ini diuji normalitas, additivitas, dan homogenitas yang kemudian dilanjutkan dengan analisis ragam. Apabila analisis menunjukkan hasil yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 1% atau 5% (Steel dan Torrie, 1991).



Hasil analisis ragam dan hasil uji BNT menunjukkan bahwa pengolahan janggel jagung secara kimia-biologi berpengaruh sangat nyata (P3 tetapi berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap VFA. Perlakuan terbaik pada janggel jagung adalah kombinasi secara kimia-biologi. Nilai KCBK pada P4 dan P5 yaitu 57,50% dan 58,45%, KCBO yaitu 67,46% dan 67,80%, kadar NH3 yaitu 6,90mM dan 6,62mM, kadar VFA yaitu 112,50mM dan 110,00mM.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN SAPI BRAHMAN CROSS

Oleh



Joko Purnomo1, Yusuf Widodo2, dan liman2


ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen sapi brahman cross; (2) level optimum dari tingkat penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) cairan rumen sapi brahman cross.



Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor sapi brahman cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Perlakuan terdiri atas R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi; R1 : 70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi; R2 : 70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi; dan R3 : 70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi. Ransum yang digunakan terdiri atas 30% kombinasi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dan 70% konsentrat yang tersusun dari dedak, onggok, bungkil kelapa, tetes, urea, dan premix. Data yang diperoleh pada penelitian ini akan dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas. Apabila dari hasil analisis ragam terdapat peubah yang nyata atau sangat nyata, dilanjutkan dengan uji Polinomial Orthogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1% (Steel dan Torrie, 1991).



Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi berpengaruh nyata (P3 cairan rumen sapi brahman cross; (2) Produksi VFA cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ= 110,438 + 1,794X – 0,072X2 , dengan R2 = 36,95 %, dan level optimum 12,46 %; kadar NH3 cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ= 4,312 + 0,100X – 0,004X2 , dengan R2 = 24,87 % dan level optimum 12,50 %.




PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PROTEIN DAN KECERNAAN SERAT KASAR PADA SAPI

BRAHMAN CROSS



Oleh

Deddy Hediansyah1, Liman 2, dan M. Prayuwidayati 2.



ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum dan mengetahui level optimum dari tingkat substitusi pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan protein kasar dan kecernaan serat kasar sapi Brahman Cross.



Penelitian ini dilaksanakan pada Mei–Juli 2007, bertempat di kandang Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor sapi Brahman Cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Perlakuan yang diberikan meliputi : R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R1 (70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum). Masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P2 = 29,36%) terhadap kecernaan protein kasar berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 47,916 + 1,391X – 0,054X2 dengan pengaruh yang optimum pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi sebesar 12,87%; (2) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 39,52%) terhadap kecernaan serat kasar berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 43,940 + 1,047X – 0,047X2 dengan pengaruh yang optimum pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi sebesar 11,13%.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK PADA SAPI BRAHMAN CROSS



Oleh



Maizar Rivai 1, Erwanto 2, dan Liman 2.

ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah (1) mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada sapi Brahman cross, (2) mengetahui level optimum penambahan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik pada sapi Brahman cross.



Penelitian ini menggunakan 4 ekor sapi Brahman cross. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4×4 dengan 4 ekor sapi sebagai kolom dan 4 periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R1 : 70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R2 : 70% konsentrat + 10% rumput lapang +20% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum); R3 : 70% konsentrat + 0% rumput lapang +30% pucuk tebu teramoniasi (berdasarkan BK ransum). Data yang diperoleh diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas, kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam. Jika hasil analisis ragam berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji lanjut polinomial orthogonal dan analisis regresi untuk mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi yang terbaik



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P= 4757,3437 +68,9100X – 2,4416X2; R2 = 23,09%, dengan tingkat optimum 14,11%, kecernaan bahan kering dengan persamaan Ŷ = 57,4097 + 0,9601X – 0,0274X2; R2 = 25,56%, dengan tingkat optimumnya 17,52%, sedangkan kecernaan bahan organik ditunjukkan dengan persamaan Ŷ = 70,8681 + 0,3911X – 0,0123 X2; R2 = 42,12%, dengan tingkat optimumnya adalah 15,90%.


PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN

PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI,ENERGI TERCERNA, DAN EFISIENSI ENERGI
PADA SAPI BRAHMAN CROSS



Oleh

Akhmad Riauwan 1, Muhtarudin 2, dan M. Prayuwidayati 2.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada sapi Brahman Cross; (2) mengetahui level optimum tingkat substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada sapi Brahman Cross



Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4×4 dengan 4 ekor sapi Brahman Cross sebagai kolom, dan periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 (70% konsentrat + 30% Rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum ); R1 (70% konsentrat + 20% Rumput lapang + 10%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% Rumput lapang +20%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% Rumput lapang +30%pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum). Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Hasil analisis ragam terhadap suatu peubah dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) substitusi rumput lapang dengan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi; (2) konsumsi energi berpola kuadratik dengan persamaanŶ =18960,760 + 61,044X – 4,450X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 6, 86% dari BK ransum dan energi tercerna berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 12791,836 + 107,602X – 5,699X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 9,44 % dari BK ransum; (3) R1 merupakan perlakuan terbaik berdasarkan konsumsi energi dan energi tercerna.



PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN ONGGOK TERFERMENTASI YANG DIPERKAYA UREA DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN

SECARA IN VITRO

Oleh



Arrif Kristian B.R.1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2.


ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.


Penelitian ini dilaksanakan pada juli–Agustus 2007, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (40% hijauan dan 60% konsentrat); R1 = Ransum basal 90% + 10% (onggok terfermentasi + 1,5% urea); R2 = Ransum basal 80% + 20% (onggok terfermentasi + 1,5% urea); R3 = Ransum basal 70% + 30% (onggok terfermentasi + 1.5% urea); R4 = Ransum basal 60% + 40% (onggok terfermentasi + 1,5% urea). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengtahui tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea dalam ransum yang terbaik.


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) pengaruh tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea 1,5% dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 46,31%) terhadap kecernaan bahan kering berpola linier dengan persamaan Ŷ = 46,575 + 0,125 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 31,45%) terhadap kecernaan bahan organik berpola linier dengan persamaan Ŷ = 49,398 + 0,146 X, berpengaruh nyata (P2 = 38,54%) terhadap produksi VFA cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 89,000 + 0,725 X, dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01;r2 = 59,68%) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola liner dengan persamaan Ŷ = 13,474 – 0,117 X secara in vitro; (2) tingkat penambahan onggok terfermentasi yang diperkaya urea 1,5% dari level 10–40 % dalam ransum belum menunjukkan tingkat optimum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.



PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN KLORIN

TERHADAP DAYA IKAT AIR, TEKSTUR,

DAN BAU DAGING BROILER



Oleh

Vera Aglisa1, Rr. Riyanti 2, dan Tintin Kurtini 2.

ABSTRAK



Daging ayam adalah makanan yang mudah rusak karena daging ayam merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Hal tersebut tentu akan mempercepat pembusukan daging yang berindikasi pada penurunan daya ikat air pada daging, tekstur yang menjadi lebih lembut dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Klorin dapat digunakan untuk mengontrol pertumbuhan mikroorganisme pada daging sehingga daya simpan daging menjadi lebih panjang. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan bahwa penggunaan klorin tersebut tidak menurunkan kualitas daging (daya ikat daging, tekstur, dan bau) dan aman dikonsumsi.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh berbagai tingkat penggunaan klorin terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler; (2) mencari level optimum dari penggunaan klorin terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tingkat penggunaan klorin dan masing-masing perlakuan terdiri atas empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: R0 : Klorin 0 ppm; R1 : Klorin 50 ppm; R2 : Klorin 100 ppm; R3 : Klorin 150 ppm; dan R4 : Klorin 200 ppm sehingga didapat 20 unit perlakuan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas, dan uji lanjut dengan polinomial ortogonal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penggunaan klorin 0–200 ppm pada perendaman karkas selama 2 jam berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap daya ikat air, tekstur, dan bau daging broiler yang disimpan selama 12 jam.


PERBANDINGAN PERFORMANS ANTARA DUA STRAIN BROILER YANG DIBERI MINUM AIR KUNYIT



Oleh

Oktavia Astiasari 1, Syahrio Tantalo 2, Tintin Kurtini 2.

ABSTRAK



Strain merupakan bagian dari faktor genetik, oleh sebab itu diduga pada setiap strain broiler memiliki respons performans yang berbeda terhadap pemberian kunyit. Meskipun beberapa hasil penelitian memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap bobot akhir broiler strain CP 707 dan broiler strain Lohmann yang diberi kunyit pada air minumnya, namun belum diketahui secara pasti jenis strain yang lebih baik kemampuannya dalam merespons penggunaan kunyit untuk mengefisienkan ransum yang sama.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan performans dari dua strain broiler yang diberi minum air kunyit. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu performans strain CP 707 unsexed lebih baik daripada strain Lohmann unsexed yang diberi minum air kunyit.

Penelitian dilaksanakan secara eksperimental pada 8 Maret–13 April 2007, di kandang ayam Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung menggunakan 100 ekor broiler strain CP 707 dan 100 ekor broiler strain Lohmann. Masing-masing perlakuan (strain) diberi minum air seduhan kunyit dengan dosis 10 g/600 ml air. Ulangan 15 kali dan setiap satuan percobaan terdiri atas 6 atau 7 ekor. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi air minum, konsumsi ransum, dan pertambahan berat tubuh broiler yang diberi minum air kunyit pada broiler strain CP 707 nyata lebih besar (Pbroiler strain Lohmann, sedangkan konversi ransum dan income over feed cost (IOFC) tidak berbeda nyata (P>0,05).


PERBANDINGAN PERFORMANS ANTARA BROILER

YANG DIBERI KUNYIT DAN TEMULAWAK

MELALUI AIR MINUM

Oleh

Yuniusta 1, Syahrio Tantalo 2, dan Dian Septinova2.

ABSTRAK



Kunyit dan temulawak merupakan tanaman obat yang berasal dari satu famili, yaitu famili zingiberaceae dan banyak tersebar di Indonesia serta sudah sejak lama dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. Kunyit dan temulawak berpengaruh positif terhadap empedu dan pankreas yaitu dapat merangsang kantung empedu untuk mensekresikan cairan empedu agar pencernaan lebih sempurna. Pengaruhnya terhadap pankreas cukup banyak, diantaranya dapat memengaruhi dan merangsang sekresi serta berfungsi sebagai penambah nafsu makan, memengaruhi kontraksi usus halus, bersifat bakterisidal dan bakteriostatik, membantu kerja sistem hormonal, metabolisme dan fisiologi organ tubuh.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penggunaan kunyit dan temulawak dalam air minum terhadap performans broiler. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu, pemberian temulawak lebih baik daripada pemberian kunyit terhadap performans broiler.



Penelitian ini dilaksanakan pada 08 Maret–11 April 2007, bertempat di Laboratorium Produksi dan Reproduksi Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dengan menggunakan 200 ekor broiler yang terdiri atas dua perlakuan yaitu R1 (10 g kunyit/600 ml air) dan R2 (10 g temulawak/600 ml air). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 15 kali dan setiap ulangan terdiri atas 6 atau 7 satuan percobaan, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t-student pada taraf nyata 5 %.



Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi air minum broiler yang diberi perlakuan R2 (10 g temulawak/600 ml air) nyata (Pbroiler yang diberi kunyit, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat tubuh, konversi ransum, dan income over feed cost (IOFC) broiler.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MOTILITAS SPERMATOZOA SEMEN BEKU SAPI PADA BERBAGAI INSEMINATOR
DI LAMPUNG TENGAH
Oleh
Nopriari Hertoni¹, Madi Hartono², dan Purnama Edy Santosa2
ABSTRAK
Semen beku adalah semen yang telah diencerkan menurut prosedur tertentu, lalu dibekukan jauh di bawah titik beku air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan besarnya faktor yang memengaruhi motilitas spermatozoa semen beku sapi pada berbagai inseminator di Lampung Tengah. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2007, pada inseminator yang tergabung di dalam Asosiasi inseminator kabupaten (Asibka) dan inseminator mandiri di Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan 23 sampel inseminator yang diambil secara proporsive dan sampel semen beku secara acak.
Metode penelitian yang dipakai adalah metode survei. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Variabel dengan nilai P terbesar dikeluarkan dari penyusunan model kemudian dilakukan analisis kembali sampai didapatkan model dengan nilai P lebih kecil atau sama dengan 0,10.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi motilitas spermatozoa semen beku sapi yaitu faktor pernah ikut pelatihan bermakna (Pthawing bermakna (P

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERSENTASE SPERMATOZOA HIDUP SEMEN BEKU SAPI PADA BERBAGAI INSEMINATOR
DI LAMPUNG TENGAH
Oleh
Yohanes Sayoko1, Madi Hartono2, dan Purnama Edy St2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dan besarnya faktor yang memengaruhi persentase spermatozoa hidup semen beku sapi pada berbagai inseminator di Lampung Tengah.
Penelitian ini dilaksanakan pada April 2007, pada berbagai inseminator yang tergabung di dalam Asosiasi Inseminator Kabupaten dan inseminator mandiri di Lampung Tengah. Penelitian ini menggunakan 23 sampel inseminator yang diambil secara proporsif dan semen beku secara acak. Metode penelitian yang dipakai adalah metode survei. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi. Variabel dengan nilai P terbesar dikeluarkan dari penyusun model kemudian dilakukan analisis kembali sampai didapatkan model dengan nilai P≤0,12.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi persentase spermatozoa hidup pada semen beku sapi yaitu faktor lama thawing bermakna (P=0,05) dan berasosiasi positif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor 0,481, hal ini berarti lama thawing 30 detik memberikan hasil yang lebih baik dari pada thawing selama 15 detik; suhu air yang digunakan bermakna (P=0,03) dan berasosiasi negatif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor -8,692, hal ini berarti thawing dengan air hangat persentase spermatozoa hidup lebih tinggi jika dibanding dengan air sumur; produk semen beku (straw) bermakna (P=0,00) dan berasosiasi positif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor 4,828, hal ini berarti penggunaan semen beku produksi BIB Lembang memberikan persentase spermatozoa hidup yang lebih tinggi jika dibanding dengan produk IPMB; tinggi nitrogen cair bermakna (P=0,12) dan berasosiasi negatif terhadap persentase spermatozoa hidup dengan besar faktor -0,177, hal ini berarti semakin berkurangnya tinggi nitrogen cair dapat mengurangi persentase spermatozoa hidup.

PENGARUH JENIS KAPANG DAN TINGKAT AMONIUM SULFAT PADA FERMENTASI ONGGOK TERHADAP KANDUNGAN ZAT MAKANAN, KADAR NH3, DAN VFA CAIRAN RUMEN
SECARA IN VITRO
Oleh
Marlina Puji Astuti1, Muhtarudin2, dan M. Prayuwidayati2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh interaksi antara perlakuan penggunaan kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae) dengan tingkat amonium sulfat (0,0; 0,5; 1,0; 1,5%) terhadap kandungan zat makanan onggok terfermentasi, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro; (2) pengaruh jenis kapang (Aspergillus oryzae, Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae) pada fermentasi onggok; (3) pengaruh tingkat amonium sulfat (0,0; 0,5; 1,0; dan 1,5%) terhadap kandungan zat makanan onggok fermentasi, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Perlakuan disusun secara faktorial 4×4 dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri atas 4 jenis kapang yaitu Aspergillus niger, Aspergillus oryzae, Trichoderma viride, dan Rhizopus oryzae, serta faktor kedua terdiri atas 4 tingkat amonium sulfat yaitu 0,0%; 0,5%; 1,0%; dan 1,5%. Data yang dihasilkan dianalisis dengan analisis ragam; apabila pengaruh perlakuan pada suatu peubah nyata pada taraf 5% dan atau 1% maka analisis dilanjutkan dengan Uji BNT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi sangat nyata (P3 dan VFA cairan rumen secara in vitro. Kadar protein kasar meningkat dari 2,43% menjadi 8,15%; kadar VFA meningkat dari 100 mM menjadi 120 mM; dan kadar NH3 dari 4,26 mM menjadi 11,41 mM.

PENGARUH KLORINASI KARKAS TERHADAP
KUALITAS FISIK DAGING BROILER YANG DISIMPAN
SELAMA 24 JAM PADA SUHU RUANG
Oleh
Wiwin Andayani1, Rr. Riyanti2, dan Tintin Kurtini2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh berbagai level penggunaan klorin terhadap kualitas fisik karkas broiler, dan (2) mengetahui level optimum penggunaan klorin terhadap kualitas fisik karkas broiler.
Rancangan percobaan pada penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan level klorin yaitu perendaman karkas dengan level klorin 0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm. Perendaman untuk setiap perlakuan dilakukan di dalam ember. Masing-masing perlakuan diulang empat kali, dan karkas yang digunakan sebanyak 20 buah. Data yang diperoleh dianalisis varian namun sebelumnya diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Apabila hasil analisis varian berpengaruh nyata pada satu peubah maka analisis dilanjutkan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan klorinasi karkas (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm, dan 120 ppm) yang disimpan selama 24 jam pada suhu ruang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kualitas fisik daging broiler (tekstur, warna, dan bau).

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI PUCUK TEBU
TERAMONIASI DAN BLOTONG TERFERMENTASI DALAM RANSUM
TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA, DAN KADAR NH3
CAIRAN RUMEN KAMBING SECARA IN VITRO
Oleh
Uli Indah Fitriani1, Erwanto2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro, (2) mengetahui tingkat penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi yang optimum dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro.
Penelitian ini dilakukan secara in vitro. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan yaitu : R0 = Ransum basal (30% hijauan dan 70% konsentrat); R1 = 92,5% ransum basal + 7,5% putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R2 = 85% ransum basal + 15 % putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R3 = 77,5% ransum basal + 22,5 % putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum); R4 = 70% ransum basal + 30% putong (50% pucuk tebu teramoniasi + 50% blotong terfermentasi berdasarkan BK ransum). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi yang optimum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penambahan kombinasi pucuk tebu teramoniasi dan boltong terfermentasi dalam ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen kambing secara in vitro; (2) penambahan pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum berpengaruh nyata (P2) = 58,08%; (3) penambahan pucuk tebu teramoniasi dan blotong terfermentasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2) = 66,92%.

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT
TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI, ENERGI TERCERNA DAN EFISIENSI ENERGI PADA KAMBING
PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Ahmad Asrofi1, Muhtarudin2, dan Liman2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi pada kambing peranakan ettawa jantan.
Penelitian ini menggunakan 4 ekor kambing PE jantan dengan bobot tubuh awal rata-rata 20 kg. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor kambing PE sebagai kolom dan periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : 70% konsentrat + 30% rumput lapang (ransum basal); R1 : 90% (ransum basal) + 10% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R2 : 80% (ransum basal) + 20% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R3 : 70% (ransum basal) + 30% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditifitas, dan normalitas. Selanjutnya dilakukan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap konsumsi energi dan efisiensi energi kambing PE jantan, (2) penambahan sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum sebanyak 10% dari total ransum (R1) merupakan perlakuan terbaik terhadap konsumsi energi dan energi tercerna pada kambing PE jantan.

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN SEKRESI
ALLANTOIN URIN PADA KAMBING
PERANAKAN ETTAWA
Oleh
Askar Tabroni1, Erwanto2, dan Yusuf Widodo2­­­­
ABSTRAK
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap retensi nitrogen dan sekresi allantoin urin pada kambing Peranakan Ettawa. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan empat macam ransum perlakuan dan empat ulangan. Penelitian menggunakan empat ekor kambing Peranakan Ettawa. Ransum perlakuan terdiri atas: R0: ransum basal (konsentrat 70% + rumput lapang 30%); R1: R0 (90%) + (10%) ransum kombinasi ( 50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi); R2: R0 (80%) + (20 %) ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi): R3:R0 (70%) + 30% ransum kombinasi (50% sabut sawit teramoniasi + 50% lumpur sawit terfermentasi).
Data yang diperoleh diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas statistik untuk memenuhi asumsi-asumsi analisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu data diuji BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap perbandingan retensi nitrogen dengan konsumsi nitrogen, dan sekresi allantoin urin; tetapi berpengaruh nyata (P

PENGARUH PENGGUNAAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN ZAT-ZAT MAKANAN
PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Devid Wahyu Hernanto1, Liman2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap kecernaan zat-zat makanan kambing peranakan ettawa jantan, (2) mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terbaik terhadap kecernaan zat-zat makanan kambing peranakan ettawa jantan.
Penelitian ini menggunakan 4 ekor kambing. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) 4 x 4 dengan 4 ekor kambing PE sebagai kolom dan 4 periode sebagai baris. Adapun perlakuan yang diberikan adalah R0 : ransum basal (70 % konsentrat + 30 % rumput lapang); R1 : 90 % ransum basal + 10 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi); R2 : 80 % ransum basal + 20 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi); R3 : 70 % ransum basal + 30 % ransum kombinasi (50 % sabut sawit teramoniasi + 50 % lumpur sawit terfermentasi). Data yang diperoleh diuji homogenitas, aditifitas, dan normalitas, kemudian dianalisis menggunakan analisis ragam. Jika hasil nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% untuk melihat perbedaan nilai tengah antar perlakuan (Steel and Torrie, 1991).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) ransum perlakuan berpengaruh sangat nyata (P

PERBANDINGAN NILAI INDEKS PRODUKTIVITAS INDUK BOBOT
SAPIH KAMBING BOERAWA G1 DAN G2 DI DESA CAMPANG
KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Agustinus Arif1, Akhmad Dahlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Indeks Produktifitas Induk (IPI) merupakan gambaran kemampuan seekor induk dalam mengasuh dan membesarkan anaknya sampai umur sapih hingga mencapai bobot sapih tertentu dalam kurun waktu satu tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui nilai IPI bobot sapih dari induk yang menghasilkan G1 dan induk yang menghasilkan G2; (2) membandingkan nilai IPI bobot sapih antarinduk yang menghasilkan G1 dan induk yang menghasilkan G2.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa G1 dan 30 ekor induk kambing Beorawa G2 dengan syarat paling sedikit pernah melahirkan dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan, yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat rekording pemeliharaan; menimbang bobot sapih dari cempe; mencatat data-data yang berkaitan dengan jarak beranak, dan jumlah anak per kelahiran yang dilahirkan dari tiap ekor induk kambing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak beranak tertinggi pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 8,5 bulan, jarak beranak terendah pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 6 bulan dan 7 bulan. Rata-rata jarak beranak kambing Boerawa G1 dan G2 yakni 7,233 + 0,611 bulan dan 7,5 + 0,515 bulan dan hasil uji-t jarak beranak adalah berada nyata (P< 0,05). Jumlah anak per kelahiran terendah pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah 2,333 ekor sedangkan jumlah anak per kelahiran terendah pada kambing Boerawa G1 dan Boerawa G2 adalah 1,667 ekor. Rata-rata jumlah anak per kelahiran induk kambing Boerawa G1 dan kambing Boerawa G2 adalah 1,878 + 0,239 dan 1,944 + 0,278 ekor. Hasil uji-t jumlah anak per kelahiran adalah tidak berbeda nyata (P> 0,05). Rata-rata bobot sapih teroreksi kambing Boerawa G1 dan kambing Boerawa G2 sebelum dan sesudah dikoreksi masing-masing sebesar 20,667 + 0,499 kg dan 24,829 + 1,031 kg sedangkan pada kambing Boerawa G2 masing-masing sebesar 20,144 + 0,580 kg dan 24,829 + 1,031 kg. Hasil uji-t menunjukkan rata-rata bobot sapih sebelum dikoreksi pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah sangat bebeda nyata (P < 0,01) yakni 20,666 + 0,499 kg dan 20,144 + 0,580 kg sedangkan rata-rata bobot sapih sesudah dikoreksi pada kambing Boerawa G1 dan G2 adalah tidak berbeda nyata (P > 0,05), yakni 24,829 ±1,031 kg dan 24,829 + 1,031 kg. Nilai IPI tertinggi dan terendah pada kambing Boerawa G1 adalah 96,804 kg dan 55,026 kg, sedangkan nilai IPI tertinggi dan terendah pada kambing Boerawa G2 adalah 102,566 kg dan 63,398 kg. Rata-rata IPI kambing Boerawa G1 kambing Boerawa G2 adalah tidak berbeda nyata (P > 0,05), yakni 78,693 + 11,862 kg dan 77,282 + 11,291 kg.

PERBANDINGAN NILAI MPPA (MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY) BOBOT SAPIH KAMBING BETINA BOERAWA G1 DENGAN G2 DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Hadi Sucipto1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Bobot sapih merupakan sifat pertumbuhan yang perlu ditingkatkan melalui seleksi karena selain untuk meningkatkan sifat-sifat yang diseleksi, juga secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi daging dan presentase karkas. Metode seleksi individu untuk meningkatkan bobot sapih ternak dapat dilakukan berdasarkan nilai MPPA (most probable producing ability). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengetahui rata-rata bobot sapih kambing betina Boerawa G1dan G2; (2) Mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih kambing betina Boerawa G1 dan G2; (3) Mengetahui nilai MPPA bobot sapih kambing betina Boerawa G1 dan G2; (4) Membandingkan nilai MPPA bobot sapih antara kambing betina Boerawa G1 dan G2 di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei, yaitu dengan mengamati catatan produksi kelahiran pertama, kedua, dan ketiga dari 30 ekor induk kambing Boerawa G1 dan 30 ekor induk kambing Boerawa G2 yang telah melahirkan lebih dari satu kali. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot sapih cempe hasil keturunan induk kambing boerawa G1 dan G2. Data bobot sapih setiap individu yang diamati dikoreksi terlebih dahulu terhadap bobot cempe umur 120 hari, umur induk, tipe kelahiran, dan tipe peliharaan. Nilai ripitabilitas dihitung dengan menggunakan metode korelasi dalam kelas (intraclass corelation) dan perhitungan nilai MPPA bobot sapih dilakukan dengan menggunakan rumus dari Hardjosubroto (1994),lalu rata-rata nilai MPPA dibandingkan dengan menggunakan rumus uji t (Nazir, 1998).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih kambing betina Boerawa G2 (25,266±0,774 kg) lebih tinggi (P≤0,05) daripada kambing Betina Boerawa G1 (24,804±1,156 kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ripitabilitas bobot sapih kambing betina Boerawa G1 sebesar 0,285±0,014 dan kambing betina Boerawa G2 0,333±0,097. Selanjutnya rata-rata nilai MPPA bobot sapih kambing boerawa G2 (25,266±0,461 kg) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing betina Boerawa G1 (24,808±0,630 kg).

PERBANDINGAN POTENSI GENETIK DAN KEMAMPUAN MEWARISKAN SIFAT-SIFAT PERTUMBUHAN BERDASARKAN NILAI PEMULIAAN (BREEDING VALUE) PADA PEJANTAN BOER DENGAN BOERAWA
Oleh
Achmad Heru Nugraha1, Akhmad Dakhlan2,dan Sulastri2
ABSTRAK
Nilai Pemuliaan (NP) merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan genetik ternak untuk suatu sifat secara relatif atas dasar kedudukannya di dalam populasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan rata-rata bobot lahir kambing silangan Boer >
Penelitian ini dilaksanakan pada Februari 2007, di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan untuk mendapatkan materi penelitian berupa recording perkawinan, kelahiran, bobot lahir, dan bobot sapih rata-rata 30 ekor cempe masing-masing dari 2 pejantan kambing Boer dan rata-rata 30 ekor cempe masing-masing dari 2 pejantan kambing Boerawa.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot lahir terkoreksi, bobot sapih terkoreksi, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing silangan Boer >student menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boer lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; nilai heritabilitas bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih kambing Boer berturut-turut adalah 0,55±0,137; 0,41±0,102; 0,32±0,079, sedangkan pada kambing Boerawa berturut-turut adalah 0,29±0,071; 0,34±0,086; 0,21±0,052. Nilai NP rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih pejantan kambing Boer berturut-turut adalah 4,171 kg; 25,298 kg; 0,147 kg/hari, sedangkan nilai NP bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum sapih pejantan kambing Boerawa berturut-turut adalah 3,504 kg; 23,128 kg; 0,130 kg/hari.

HUBUNGAN ANTARA BANGSA SAPI PERSILANGAN DAN
BOBOT TUBUH TERHADAP PARAMETER KARKAS

Oleh

Fedry Kesuma Negara Tangkary1, Idalina Harris2, dan Kusuma Adhianto2

ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan pada April–Mei 2006 di Rumah Potong Hewan Karawaci yang beralamat di Jalan Panunggangan Barat no. 99, Cibodas, Tangerang, Banten dengan menggunakan metode survei. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh terhadap parameter karkas (bobot karkas, bobot karkas bagian depan, dan bobot karkas bagian belakang).

Sampel dalam penelitian ini adalah sapi Brahman Cross persilangan sapi Brahman Ongole (BO) dan Brahman Shorthorn (BS), jantan kastrasi dengan kisaran bobot tubuh 451–500 kg, 501–550 kg, dan 551–600 kg sebanyak 168 ekor. Data dianalisis dengan menggunakan program soft ware Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) untuk mendapatkan nilai koefisien korelasi. Selanjutnya, nilai koefisien korelasi diuji dengan menggunakan metode uji koefisien korelasi baik secara masing-masing maupun kesamaan dua koefisien korelasi. Pengujian ini dilakukan sebagai pembuktian terhadap hipotesis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien korelasi terbesar pada bobot karkas (r = 0,768) dicapai oleh bangsa sapi BS kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,343) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 451–500 kg; korelasi terbesar pada karkas bagian depan (r = 0,611) dicapai oleh bangsa sapi BO kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,343) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 451–500 kg; korelasi terbesar pada karkas bagian belakang (r = 0,732) dicapai oleh bangsa sapi BS kisaran bobot tubuh 551–600 kg, sedangkan terkecil (r = 0,254) pada sapi BS kisaran bobot tubuh 501–550 kg. Semua bobot tubuh kisaran 551–600 kg mempunyai hubungan yang lebih erat dibandingkan dengan kisaran 451–500 kg dan 501–550 kg kecuali sapi BO pada parameter karkas bagian belakang. Tidak ada hubungan yang signifikan untuk kesamaan dua nilai koefisien korelasi (P>0,05) antarbangsa sapi persilangan atau antarbobot tubuh terhadap parameter karkas.

PENGARUH BERBAGAI JENIS ATAP KANDANG TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA

Oleh

Romadoni Yunanto

ABSTRAK

Kambing memiliki sifat alami yang sangat cocok di budidayakan. Salah satu cara membudidayakan kambing dengan cara menempatkan kambing dalam kandang yang beratap. Pemberian atap kandang merupakan salah satu cara untuk mengurangi beban panas akibat radiasi matahari, temperatur udara yang tinggi, kelembaban udara yang tinggi, radiasi panas, dan aliran udara yang lembab.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis atap kandang terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Rancangan perlakuan yang digunakan adalah tiga perlakuan dan tiga pengulangan. Perlakuan pertama kambing PE dipelihara di kandang beratapkan genteng (K1), perlakuan kedua kambing dipelihara di kandang beratapkan seng (K2), dan perlakuan ketiga kambing dipelihara di kandang beratapkan rumbia (K3).
Untuk mengetahui pengaruh kedua perlakuan maka data peubah yang terkumpul diuji dengan analisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mencari perlakuan yang terbaik

Hasil analisis ragam menunjukkan penggunaan bahan atap kandang rumbia, seng, dan genteng berpengaruh nyata (P0,05) terhadap persentase spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa.
Hasil uji lanjut BNT menunjukkan penggunaan atap rumbia menghasilkan motilitas spermatozoa kambing PE lebih baik (P0,05). Selanjutnya antara atap genteng dengan seng juga menunjukkan motilitas spermatozoa yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Penggunaan atap rumbia menghasilkan konsentrasi spermatozoa kambing PE paling baik (P0,05). Penggunaan atap rumbia, genteng, dan seng menghasilkan spermatozoa hidup dan abnormalitas yang tidak berbeda (P>0,05). Penggunaan bahan atap kandang rumbia memberikan pengaruh terbaik bila dibandingkan dengan menggunakan atap kandang seng dan genteng

PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN EKSTRAK JAHE PADA CAIRAN RUMEN KAMBING TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING (KCBK) DAN KECERNAAN BAHAN ORGANIK (KCBO)
SECARA IN VITRO

Oleh

Aris Andrian1, Ali Husni2, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan tingkat pemberian ekstrak jahe yang optimum dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik ransum secara in vitro. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober–November 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Unila, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 macam level ekstrak jahe yang ditambahkan ke dalam media fermentor dan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (Kontrol); R1 = Ransum basal + 25 ppm ekstrak jahe; R2 = Ransum basal + 50 ppm ekstrak jahe; R3 = Ransum basal + 75 ppm ekstrak jahe; R4 = Ransum basal + 100 ppm ekstrak jahe;R5 = Ransum basal + 125 ppm ekstrak jahe; R6 = Ransum basal + 150 ppm ekstrak jahe; R7 = Ransum basal + 175 ppm ekstrak jahe; R8 = Ransum basal + 200 ppm ekstrak jahe. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penembahan ekstrak jahe yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Penggunaan ekstrak jahe pada level yang berbeda-beda berpengaruh sangat nyata (P2 dengan koefisien determinasinya (R2)sebesar 48,57 % dan nilai optimum terdapat pada penggunaan 50 ppm ekstrak jahe; (2) Penggunaan ektrak jahe pada level yang berbeda-beda berpengaruh sangat nyata (P2 dengan koefisien determinasinya (R2)sebesar 57,32 %; dan nilai optimum terdapat pada penggunaan 42,5 ppm ekstrak jahe; (3) Tingkat pemberian ektrak jahe yang terbaik sebagai agensia defaunasi yaitu pada penggunaan 75 ppm, karena nilainya lebih besar daripada R0 (kontrol).

PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN EKSTRAK JAHE PADA CAIRAN RUMEN KAMBING TERHADAP PRODUKSI VOLATILE FATTY ACID (VFA), KADAR AMONIA (NH3), DAN POPULASI PROTOZOA SECARA IN VITRO

Oleh

Joko Suseno1, Erwanto2, dan Liman2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak jahe yang optimum dalam ransum terhadap VFA, NH3, dan populasi protozoa dalam cairan rumen secara in vitro; Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober–November 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Unila, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 9 macam level ekstrak jahe yang ditambahkan ke dalam media fermentor dan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (Kontrol); R1 = Ransum basal + 25 ppm ekstrak jahe; R2 = Ransum basal + 50 ppm ekstrak jahe; R3 = Ransum basal + 75 ppm ekstrak jahe; R4 = Ransum basal + 100 ppm ekstrak jahe;R5 = Ransum basal + 125 ppm ekstrak jahe; R6 = Ransum basal + 150 ppm ekstrak jahe; R7 = Ransum basal + 175 ppm ekstrak jahe; R8 = Ransum basal + 200 ppm akstrak jahe. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 %. Setelah itu dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal untuk mengetahui tingkat penambahan ekstrak jahe yang terbaik.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) pengaruh pemberian ekstrak jahe berpengaruh nyata (P2= 6,99%) pada kadar VFA berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 93,899 + 0,697X – 0,003X2, berpengaruh nyata (P2= 37,90% ) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 10,004 + 0,009X, berpengaruh sangat nyata (P2= 20,24% ) terhadap populasi protozoa berpola linier dengan persamaan Ŷ = 576,877-0,570X; (2) tingkat penambahan ekstrak jahe dalam ransum pada dosis 0–200 ppm menunjukkan tingkat optimum terhadap produksi VFA pada dosis 116 ppm dengan nilai sebesar 134,383 mM.

PERBANDINGAN PERSENTASE HETEROSIS BOBOT SAPIH, PERTUMBUHAN SETELAH SAPIH, DAN BOBOT SETAHUNAN KAMBING BOERAWA ANTARA KELAHIRAN I DAN
II DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Maryanti1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2

ABSTRAK

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk : (1) mengetahui bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa, (2) membandingkan bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa antara kelahiran pertama dan kedua, (3) membandingkan persentase heterosis bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa antara kelahiran pertama dan kedua.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan periode kelahiran (pertama dan kedua), dan kelompok pejantan Boer (I = Rambo; II = Suntory; III = Seno). Apabila terdapat pengaruh perlakuan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih, pertumbuhan setelah sapih, dan bobot setahunan kambing Boerawa beturut-turut adalah 23,798±1,142 kg; 0,091±0,005 kh/hari; 46,049±1,562 kg. Hasil analisis ragam menunjukkan periode kelahiran berpengaruh (P0,05) terhadap pertumbuhan setelah sapih dan persentase heterosis pertumbuhan setelah sapih kambing Boerawa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih pada kelahiran kedua (25,604±1,611 kg) lebih tinggi (P

PERBANDINGAN RESPONS FISIOLOGIS BROILER FASE FINISHER PADA KANDANG PANGGUNG DAN POSTAL

Oleh

Muhammad Yunus1, Sri Suharyati2, dan Rr. Riyanti2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui perbedaan respons fisiologis (frekuensi pernafasan, temperatur rektal, total sel darah merah, total sel darah putih, dan kadar Hb) broiler fase finisher pada kandang panggung dan postal dan (2) mengetahui respons fisiologis yang lebih baik pada broiler yang dipelihara di kandang panggung atau kandang postal.
Penelitian ini dilaksanakan mulai 18 April–19 Mei 2006, bertempat di kandang milik Rama Jaya Farm Desa Binong, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Lampung Selatan.

Penelitian ini dilakukan berdasarkan studi kasus di kandang Rama Jaya Farm menggunakan broiler sebanyak 5.700 ekor (3.000 ekor pada kandang postal dan 2.700 ekor pada kandang panggung) terdiri atas 2 perlakuan, yaitu jenis kandang panggung (P1) dan kandang postal (P2). Untuk mendapatkan data respons fisiologis diambil 2% dari populasi yang digunakan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf kepercayaan 5%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan memberikan pengaruh berbeda nyata (Pbroiler fase finisher, akan tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap frekuensi pernafasan, total sel darah merah (SDM), total sel darah putih (SDP) dan kadar hemoglobin (Hb) broiler fase finisher yang dipelihara pada kandang panggung dan kandang postal.

PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN CAMPURAN KUNYIT
DAN DAUN SIRIH MELALUI AIR MINUM TERHADAP BOBOT
POTONGAN-POTONGAN KARKAS BROILER
Oleh
Ahmad Firdaus1, Khaira Nova2, dan Syahrio Tantalo2
ABSTRAK
Pemberian antibiotik yang melebihi ambang batas dapat meninggalkan residu antibiotik pada daginbg broiler dan dapat membahayakan kesehatan manusia yang mengonsumsinya. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi penggunaan antibiotik adalah pemanfaatan tanaman obat-obatan seperti kunyit dan daun sirih. Kunyit (Curcuma domestika) dan daun sirih (Piper Betle Linn) merupakan tanaman obat-obatan tradisional yang diduga berpotensi memacu pertumbuan.
Pertumbuhan ayam broiler yang cepat ditunjukkan dengan pencapaian bobot tubuh yang tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap bobot karkas yang dihasilkan. Semakin tinggi bobot hidup maka bobot karkas semakin tinggi pula, yang berlaku juga pada potongan-potongan karkasnya. Karkas merupakan salah satu faktor yang memengaruhi nilai produksi seekor ternak, karena karkas merupakan bagian yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibandingkan dengan bagian nonkarkas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan campurankunyit dan daun sirih melalui air minum terhadap bobot potongan-potongan karkas broiler, dan penggunaan level terbaik terhadap bobot potongan-potongan karkas broiler dibandingakan dengan perlakuan kontrol.
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan yaitu R0 (air minum biasa), R1 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 10 g daun sirih/600 ml), R2 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 20 g daun sirih/600 ml), R3 (air rebusan kunyit dan daun sirih; 10g kunyit + 30 g daun sirih/600 ml). Masing-masing perlakuan diulang lima kali dengan satu satuan percobaan terdiri dari empat ekor ayam. Ayam penelitian yang digunakan 80 ekor broiler strain Lohmann unsexed yang ditempatkan secara acak dalam 20 petak kandang. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 0,05 atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air rebusan campuran kunyit dan daun sirih tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap bobot hidup, bobot karkas, bobot potongan dada, bobot paha atas, bobot paha bawah, bobot sayap, dan bobot punggung broiler.

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION, DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR SAPI LIMOUSIN SELAMA PENYIMPANAN
Oleh

Kuswanto1, Sri Suharyati2, dan Purnama Edi Santosa2

ABSTRAK
Berbagai cara telah dilakukan untuk mempertahankan semen segar tetap dalam kondisi baik tanpa mengurangi kualitasnya. Salah satu cara yang digunakan agar semen yang dihasilkan dapat digunakan sewaktu-waktu dan induk yang di IB dalam jumlah banyak yaitu dengan cara pengenceran.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen cair sapi Limousin selama penyimpanan; (2) Mengetahui pengencer terbaik yang mampu mempertahankan kualitas semen cair sapi Limousin selama penyimpanan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan bahan pengencer: P1 = AndroMed®, P2 = Stock Solution, dan P3 = susu skim, dengan 4 kali koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh diuji homogenitas, additivitas, dan normalitas, selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, jika perlakuan menunjukkan pengaruh dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil uji lanjut BNT menunjukan perbedaan sangat nyata (P® dan stock solution dengan susu skim terhadap motilitas spermatozoa pada penyimpanan 0–18 jam, sedangkan antara AndroMed® dan stock solution menunjukkan perbedaan sangat nyata (P0,05) pada penyimpanan 12 jam. Pada penyimpanan 12 dan 18 jam hasil uji lanjut m,enunjukkan adanya perbedaan sangat nyata (P® dan stock solution dengan susu skim terhadap persentase hidup spermatozoa, berbeda sangat nyata (P® dengan stock solution pada penyimpanan 18 jam dan berbeda nyata (P>0,05) antara stock solution dan susu skim pada penyimpanan 15 jam, dan sangat nyata (Pstock solution dan susu skim pada penyimpanan 18 jam.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pengencer AndroMed® memberikan pengaruh terbaik terhadap persentase motilitas dan persentase hidup spermatozoa semen cair sapi Limousin selama penyimpanan

PERBANDINGAN PERFORMANS PERTUMBUHAN ANTARA
KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING BOERAMBON UMUR
1–6 BULAN DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Nugroho Candra Wibowo1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2

ABSTRAK

Rendahnya tingkat pertumbuhan kambing lokal disebabkan oleh masih rendahnya mutu genetik kambing lokal. Peningkatan mutu genetik kambing lokal dapat ditempuh melalui persilangan. Persilangan yang dilakukan di Lampung adalah persilangan antara kambing lokal dengan pejantan Boer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan setelah sapih per minggu serta ukuran-ukuran tubuh pada kambing Boerawa dan kambing Boerambon di Desa Campang Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini menggunakan 60 ekor kambing Boerawa yang terdiri atas 30 ekor kambing Boerawa jantan dan 30 ekor kambing Boerawa betina serta 60 ekor kambing Boerambon yang terdiri atas 30 ekor kambing Boerambon jantan dan 30 ekor kambing Boerambon betina berumur 1 hari sampai 6 bulan. Penelitian ini mengunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat recording pemeliharaan, menimbang, dan mencatat data-data yang berkaitan dengan bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan sesudah sapih serta ukuran-ukuran tubuh yang meliputi lingkar dada, tinggi gumba, panjang badan, dan tinggi pinggul kambing Boerawa dan kambing Boerambon.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan pertumbuhan setelah sapih kambing Boerawa berturut-turut adalah 3,28 ± 0,119 kg; 23,39 ± 2,601 kg; 0,168 ± 0,021 kg; 0,141 ± 0,03 kg. Rata-rata bobot lahir, bobot sapih, pertumbuhan sebelum dan pertumbuhan setelah sapih kambing Boerambon berturut-turut adalah 3,09 ± 0,209 kg; 20,91 ± 2,386 kg; 0,149 ± 0,019 kg; 0,127 ± 0,032 kg. Rata-rata bobot lahir cempe Boerawa jantan (3,346 ± 0,133 kg) lebih tinggi (P £ 0,01) daripada cempe Boerambon jantan (3,088 ± 0,193 kg), dan rata-rata bobot lahir cempe Boerawa betina (3,222 ± 0,105 kg) juga lebih tinggi (P £ 0,01) daripada cempe Boerambon betina (3,081 ± 0,225 kg). Rata-rata pertumbuhan sebelum sapih anak kambing Boerawa jantan (0,170 ± 0,021 kg/hari) lebih tinggi (P £ 0,01) daripada anak kambing Boerambon jantan (0,149 ± 0,025 kg/hari), dan rata-rata pertumbuhan sebelum sapih anak kambing Boerawa betina (0,166 ± 0,021 kg/hari) juga lebih tinggi (P £ 0,01) daripada anak kambing Boerambon betina (0,148 ± 0,013 kg/hari).

PENGARUH PERIODE KELAHIRAN TERHADAP PERSENTASE HETEROSIS BOBOT LAHIR, BOBOT SAPIH, DAN PERTUMBUHAN SEBELUM SAPIH PADA KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
RINA BUDIASIH
ABSTRAK
Perbaikan mutu genetik kambing PE dapat dilakukan melalui persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing PE betina yang hasil silangannya dinamakan kambing Boerawa. Salah satu tujuan persilangan adalah memanfaatkan heterosis sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; (2) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap persentase heterosis bobot lahir, persentase bobot sapih, dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu periode kelahiran pertama, periode kelahiran kedua, dan periode kelahiran ketiga. Setiap perlakuan terdiri atas 30 kali ulangan dengan induk sebagai ulangan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dianalisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa adalah 3,15 ± 0,09 kg, 20,71± 0,89 kg , dan 0,15 ± 0,01 kg/hari. Hasil penelitian juga menunjukkan periode kelahiran sangat berpengaruh (P0,05) terhadap bobot sapih dan persentase heterosis bobot sapih serta pertumbuhan sebelum sapih kambing dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa. Persentase heterosis bobot lahir periode kelahiran ketiga (3,84 ± 0,63 % ) lebih tinggi (P
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa cenderung lebih tinggi dari rata-rata tetuanya. Selain itu, semakin tua umur induk maka cempe yang dilahirkan semakin berat.

PERBANDINGAN PERTUMBUHAN BROILER FASE STARTER
(UMUR 1–14 HARI) PADA KANDANG POSTAL
DAN KANDANG PANGGUNG
Oleh
Gerry Ihsan1, Riyanti2, dan Dian Septinova2
ABSTRAK
Pemeliharaan broiler fase starter di PT. Rama Jaya Farm selama 14 hari. Hal ini merupakan fenomena baru dalam manajemen pemeliharaan broiler karena pada broiler klasik fase starter dipelihara sampai umur 4 minggu (28 hari). Sampai saat ini, respons pertumbuhan broiler fase starter ( umur 1–14 hari) yang dipelihara pada kandang postal dan kandang panggung di PT. Rama Jaya Farm belum diketahui.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbedaan respon pertumbuhan broiler fase starter (umur 1–14 hari) pada kandang panggung dan kandang postal dan (2) mengetahui jenis kandang yang terbaik untuk digunakan pada pemeliharaan broiler fase starter.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di kandang PT. Rama Jaya Farm menggunakan broiler sebanyak 5.792 ekor (3.046 ekor pada kandang postal dan 2.746 ekor pada kandang panggung) terdiri atas 2 perlakuan, yaitu jenis kandang postal (P1) dan kandang panggung (P2). Masing-masing perlakuan menggunakan 30 petak kandang dengan kepadatan pada masing-masing kandang adalah 10 ekor/m2. Bobot rata-rata DOC pada kandang postal 45,85 ± 1,24 g dengan KK sebesar 2,71 % dan pada kandang panggung 44,89 ± 1,43 g dengan KK sebesar 3,18 %. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t-student pada taraf kepercayaan 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi ransum, pertambahan berat tubuh, dan konversi ransum broiler fase starter (umur 1–14 hari) yang dipelihara pada kandang postal dan kandang panggung tidak berbeda nyata (P>0,05).

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN POD KAKAO TERFERMENTASI PADA RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR VFA, DAN NH3 CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
Mahbub Abdul Fatah 1), Erwanto 2), dan Yusuf Widodo 2)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penambahan pod kakao terfermentasi oleh Aspergillus niger pada ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro; (2) mencari level optimum dari penambahan pod kakao terfermentasi oleh Aspergillus niger pada ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan tingkat penambahan pod kakao yang difermentasi oleh Aspergillus niger dalam ransum dan masing-masing perlakuan terdiri dari empat ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah: R0 = Ransum basal (kontrol); R1 = R0 + 5% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; R2 = R0 + 10% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; R3 = R0 + 15% pod kakao terfermentasi dari BK ransum; dan R4 = R0 + 20% pod kakao terfermentasi dari BK ransum, sehingga didapat 20 unit perlakuan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas dan uji lanjut dengan polinomial ortogonal dan analisis regresi pada taraf nyata 5% dan atau 1%, apabila hasil analisis berbeda nyata dan atau sangat nyata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penambahan pod kakao terfermentasi menggunakan Aspergillus niger tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap KCBK, KCBO dan kadar VFA cairan rumen secara in vitro; (2) penambahan pod kakao terfermentasi menggunakan Aspergillus niger berpengaruh sangat nyata (P3 cairan rumen secara in vitro berpola linier dengan persamaan Ŷ = 17,303 – 0,3X.

PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KANDUNGAN KOLESTEROL, TRIGLISERIDA, HDL, DAN LDL, DALAM DARAH PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) JANTAN
Oleh
Panji Kurniawan1), Muhtarudin2), dan Sri Suharyati2)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan: (1) pengaruh hidrolisat bulu ayam dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE; (2) pengaruh penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro organik (Mg-PUFA dan Ca-PUFA) dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE; (3) pengaruh penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral mikro (Zn-lisinat, Cu-lisinat, Cr-lisinat, dan Se-lisinat) dalam ransum terhadap kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL darah kambing jantan PE;
Penelitian dilaksanakan Oktober–Desember 2005 di Desa Sinar Mulya, Natar, Lampung Selatan. Analisis data dilakukan di Laboratorium Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Menggunakan 20 ekor kambing PE jantan yang dibagi menjadi 5 kelompok. Pengelompokkan berdasar bobot tubuh.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah RAK dengan empat perlakuan dan lima kelompok sebagai. Ransum yang diberikan R0 = mengandung 20% rumput lapang + 80% Konsentrat (35% BK onggok, 10% BK dedak, 22,5% BK bungkil kelapa, 10% BK jagung, 1% BK urea, 1% BK CaCO3, dan 0,5% BK molasses); R1 = R0 + 3% hidrolisat bulu ayam dari BK ransum; R2 = R1 + 0,1% Ca-PUFA dan 0,05% Mg-PUFA; R3 = R2 + Zn-lisinat 1,8 ml/kg BK ransum, Cu-lisinat 0,4 ml/kg BK ransum, Cr-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum, dan Se-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum. Data dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu, dilanjutkan dengan uji kontras orthogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) penggunaan hidrolisat bulu ayam sebanyak 3 % ransum tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada kolesterol, HDL, LDL dan trigliserida darah kambing PE jantan; (2) penggunaan hidrolisat bulu ayam beserta mineral makro (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) dalam ransum berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada kolesterol, dan trigliserida dalam darah kambing PE jantan, tetapi berpengaruh sangat nyata (P0,05) pada kolesterol, trigliserida, dan HDL darah kambing PE jantan, tetapi berpengaruh sangat nyata (P

PERBANDINGAN PERFORMANS BROILER FASE FINISHER
(15–28 HARI) PADA KANDANG PANGGUNG DAN KANDANG LITTER
Oleh
Triyanto1, Tintin Kurtini2, dan Dian Septinova2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui adakah perbedaan performans broiler fase finisher (15–28 hari) yang dipelihara pada kandang panggung dan kandang litter; (2) mengetahui jenis kandang yang terbaik terhadap performans broiler fase finisher (15–28 hari).
Penelitian ini dilaksanakan di kandang ayam milik PT. Rama Jaya, Desa Suka Marga, Kecamatan Gedung Tataan, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan penelitian berlangsung selama 4 minggu pada 21 April–19 Mei 2006 (pengambilan data pada 6 Mei–19 Mei 2006).
Penelitian ini merupakan studi eksperimental membandingkan penampilan broiler yang dipelihara pada kandang litter dan kandang panggung. Pada kandang panggung jumlah ayam yang digunakan sebanyak 2.746 ekor, dengan jumlah petak kandang sebanyak 30 petak, yang masing-masing berisi 91 ekor (kepadatannya 10 ekor per meter persegi. Pada kandang litter ayam yang digunakan untuk penelitian sebanyak 3.046 ekor, dengan jumlah petak sebanyak 30 petak, yang masing-masing berisi 101ekor (kepadatannya 10 ekor per meter persegi). Pengambilan sample pada kedua kandang sebanyak 20 %. Pengujian data dilakukan dengan uji t-student pada taraf nyata 5 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) terdapat perbedaan yang nyata (Pbroiler fase finisher (15–28 Hari) pada kandang panggung dan kandang litter, tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) pada konversi ransum dan IOFC; (2) pertambahan berat tubuh broiler fase finisher (15–28 hari) yang dipelihara pada kandang panggung nyata (Plitter.

PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN
MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN
ZAT-ZAT MAKANAN PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Amru Muhlisin1, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan bulu ayam dan mineral organik (Ca-PUFA, Mg-PUFA, Zn-lisinat, Cu-lisinat, Cr-lisinat, Se-lisinat) terhadap kecernaan zat-zat makanan pada kambing Peranakan Ettawa jantan dan mengetahui perlakuan pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik yang terbaik terhadap kecernaan zat-zat makanan pada kambing Peranakan Ettawa jantan.
Ternak yang digunakan adalah kambing Peranakan Ettawa jantan berjumlah 20 ekor. Pengelompokkan berdasarkan bobot tubuh. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = ransum basal (20% rumput lapang + 80% konsentral) ; R1 = ransum basal + 3% bulu ayam; R2 = R1+ mineral makro organik; R3 = R2 + mineral mikro organik. Data yang diperoleh dilakkukan uji normalitas, homogenitas, dan aditifitas, untuk memenuhi asumsi analisis ragam kemudian dilakukan uji lanjut dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5% dan 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) perlakuan penambahan bulu ayam dan mineral organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P

NILAI PARAMETER KARKAS PADA BANGSA SAPI
PERSILANGAN DAN BOBOT TUBUH YANG BERBEDA
DI RUMAH POTONG HEWAN KARAWACI
KABUPATEN TANGERANG
Oleh
Ahda Harpen¹, Idalina Haris², dan Ali Husni²
ABSTRAK
Sapi persilangan Brahman Cross memiliki keunggulan secara genetik karena pertumbuhannya cepat, tahan terhadap kondisi daerah tropis, serta memiliki pertumbuhan dan bobot tubuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan sapi lokal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada interaksi antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh yang berbeda terhadap nilai parameter karkas (persentase karkas, forequarter, dan hindquarter). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah terdapat interaksi antara bangsa sapi persilangan dan bobot tubuh yang berbeda terhadap nilai parameter karkasnya.
Penelitian dilaksanakan pada April–Mei 2006 yang bertempat di Rumah Potong Hewan Karawaci, Jl. Panunggangan Barat No. 99, Desa Cikokol, Kecamatan Karawaci, Kabupaten Tanggerang, Provinsi Banten.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (2 x 3) dengan 28 kali ulangan. Faktor pertama adalah bangsa (A) yaitu sapi Brahman Ongole kastrasi (A1) dan Brahman Shorthon kastrasi (A2). Faktor kedua adalah bobot tubuh (B) dengan kisaran 451–500 kg (B1), 501–550 kg (B2), dan 551–600 kg (B3). Jadi, sapi yang digunakan untuk sampel dalam penelitian ini sebanyak 168 ekor.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat interaksi yang sangat nyata (Pforequarter tertinggi pada A1B3 (Brahman Ongole bobot 551–600 kg), dan persentase hindquarter tertinggi terdapat pada A1B1, A2B2, dan A2B3.

PENGARUH PERIODE KELAHIRAN TERHADAP PERSENTASE HETEROSIS BOBOT LAHIR, BOBOT SAPIH, DAN PERTUMBUHAN SEBELUM SAPIH PADA KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
RINA BUDIASIH
ABSTRAK
Perbaikan mutu genetik kambing PE dapat dilakukan melalui persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing PE betina yang hasil silangannya dinamakan kambing Boerawa. Salah satu tujuan persilangan adalah memanfaatkan heterosis sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa; (2) mengetahui pengaruh periode kelahiran terhadap persentase heterosis bobot lahir, persentase bobot sapih, dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan yaitu periode kelahiran pertama, periode kelahiran kedua, dan periode kelahiran ketiga. Setiap perlakuan terdiri atas 30 kali ulangan dengan induk sebagai ulangan. Data yang diperoleh dari hasil penelitian terlebih dahulu dianalisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 0,05 dan atau 0,01.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa adalah 3,15 ± 0,09 kg, 20,71± 0,89 kg , dan 0,15 ± 0,01 kg/hari. Hasil penelitian juga menunjukkan periode kelahiran sangat berpengaruh (P0,05) terhadap bobot sapih dan persentase heterosis bobot sapih serta pertumbuhan sebelum sapih kambing dan persentase heterosis pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa. Persentase heterosis bobot lahir periode kelahiran ketiga (3,84 ± 0,63 % ) lebih tinggi (P
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata bobot lahir, bobot sapih, dan pertumbuhan sebelum sapih kambing Boerawa cenderung lebih tinggi dari rata-rata tetuanya. Selain itu, semakin tua umur induk maka cempe yang dilahirkan semakin berat.

ESTIMASI PARAMETER GENETIK SIFAT-SIFAT PERTUMBUHAN KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Reni Oktora1, A.Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Seleksi pada ternak selalu dilakukan pada sifat-sifat yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain bobot sapih, bobot setahunan, serta pertumbuhan sebelum dan sesudah sapih, yang semua itu tercakup dalam parameter genetik. Nilai-nilai parameter genetik sifat-sifat pertumbuhan dalam suatu populasi ternak mencerminkan keragaman genetik suatu populasi, sehingga parameter genetik dapat menggambarkan potensi genetik sifat-sifat pertumbuhan ternak. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui nilai heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan kambing Boerawa; (2) mengetahui nilai ripitabilitas sifat- sifat pertumbuhan kambing Boerawa;(3) mengetahui nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahunan serta antara pertambahan bobot sebelum sapih dan pertambahan bobot sesudah sapih.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dengan syarat sudah melahirkan minimal dua kali dan 30 ekor anak kambing Boerawa. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan rakyat “Sri Rejeki” untuk melihat recording pemeliharaan, menimbang ternak, dan mencatat data-data yang berkaitan dengan sifat-sifat pertumbuhan seperti bobot lahir, bobot sapih, bobot setahunan, serta pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih dari setiap kambing yang telah ditandai dengan nomor kode.
Hasil penelitian menunjukkan nilai heritabilitas bobot sapih, bobot setahunan serta pertambahan bobot sebelum dan setelah sapih masing-masing adalah 0,32+0,36; 0,31+0,42; 0,43+0,38; 0,41+0,49. Nilai ripitabilitas bobot sapih, bobot setahunan, pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih adalah 0,30+0,21; 0,28+0,33; 0,32+0,27; 0,29+0,38. Nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahunan adalah 0,36+0,15; sedangkan nilai korelasi genetik antara pertambahan bobot sebelum dan sesudah sapih adalah 0,58+0,22. Seleksi kambing Boerawa pada lokasi penelitian ini sebaiknya didasarkan pada kriteria bobot sapih karena nilai heritabilitas cukup tinggi dan berkorelasi positif tinggi.

PENGARUH CARA PENGOLAHAN POD KAKAO DAN TINGKAT PENGGUNAAN DALAM RANSUM
TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH3, DAN VFA
CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
Gay Widya Himawan1, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh interaksi antara cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro; (2) mengetahui pengaruh cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama yaitu cara pengolahan pod kakao (P) terdiri atas tiga cara, masing-masing: P0 = tanpa pengolahan, P1 = dengan pengolahan amoniasi, dan P2 = dengan pengolahan silase. Faktor kedua yaitu tingkat penggunaan dalam ransum (T), masing-masing: T0 = 0%, T1 = 15%, dan T2 = 30%, sehingga didapat sembilan kombinasi perlakuan. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Kemudian data dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% apabila hasil analisis berbeda nyata dan atau sangat nyata.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi antara cara pengolahan pod kakao dan tingkat penggunaan dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P3, dan VFA cairan rumen secara in vitro.
Hasil uji BNT menunjukkan bahwa hasil rata-rata KCBK tertinggi diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa pengolahan dengan tingkat penggunaan sebesar 0% adalah sebesar 53,68% dan yang terendah diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 15% adalah sebesar 43,16%. Rata-rata KCBO tertinggi diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 30% adalah sebesar 54,03% dan yang terendah diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 15% adalah sebesar 46,67%. Rata-rata kadar NH3 tertinggi diperoleh dari perlakuan silase dengan tingkat penggunaan sebesar 30% adalah sebesar 12,16 mM dan yang terendah diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa perlakuan dengan tingkat penggunaan dalam ransum 40% adalah sebesar 5,24 mM. Rata-rata kadar VFA tertinggi diperoleh dari perlakuan pod kakao tanpa perlakuan dengan tingkat penggunaan 15% adalah sebesar 145 mM dan yang terendah diperoleh dari perlakuan amoniasi dengan tingkat pengggunaan dalam ransum sebesar 15% adalah sebesar 76,667 mM.

PENGARUH FERMENTASI POD KAKAO OLEH BERBAGAI JENIS KAPANG TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH­3, DAN VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh
I Putu Astawa Adi Putra1, Mucharomah Prayuwidayati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan berbagai jenis kapang pada fermentasi pod kakao terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) cairan rumen, serta mengetahui jenis kapang terbaik dalam fermentasi pod kakao secara in vitro.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak Universitas Lampung pada Maret—Mei 2006. Peubah yang diamati yaitu kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) cairan rumen secara in vitro. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu P0 = Pod kakao tidak difermentasi, P1 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Aspergillus oryzae, P2 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Aspergillus niger, P3 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Rhizopus oryzae, dan P4 = Pod kakao difermentasi dengan menggunakan Trichoderma viride. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan analisis sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan fermentasi pod kakao berpengaruh sangat nyata (P3, dan volatile fatty acid (VFA). Kecernaan bahan kering (KCBK), bahan organik (KCBO), kadar NH­3, dan volatile fatty acid (VFA) terbaik pada perlakuan P2 (Aspergillus niger).

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed (R), STOCK SOLUTION DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING BOER YANG DIBEKUKAN
Oleh
Dwi Budi Lestari 1, Sri Suharyati2, dan Madi Hartono2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution, dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen kambing Boer yang dibekukan; (2) mengetahui pengencer yang mempunyai pengaruh terbaik terhadap kualitas semen kambing Boer yang dibekukan. Penelitian ini dilaksanakan di IPMB Terbanggi Besar, Lampung Tengah.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan media pengencer, yaitu P1= AndroMed®, P2 = stock solution, P3 = Susu skim, dan 4 kali koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh pada penelitian ini diuji homogenitas, aditivitas, dan normalitas, selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5 dan atau 1% dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5 dan atau 1% untuk melihat perbedaan setiap perlakuan.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa ketiga media pengencer berpengaruh nyata (P0,05) terhadap persentase abnormalitas spermatozoa kambing Boer setelah ekuilibrasi dan setelah pembekuan.
Hasil uji BNT AndroMed® dan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05) tetapi keduanya berbeda nyata (P
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa AndroMed® menunjukkan pengaruh terbaik (P® menunjukkan pengaruh terbaik (P

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN KAMBING BOER SELAMA PENYIMPANAN
Oleh
Wensi Hendriyani1, Sri Suharyati2, dan Madi Hatono2
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tiga media pengencer semen terhadap kualitas spermatozoa kambing Boer selama penyimpanan pada suhu 50 C. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan tiga jenis bahan pengencer sebagai perlakuan: P1 = AndroMedÒ, P2 = stock solution, dan P3 = susu skim serta empat kali waktu koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Perbedaan pengaruh dari perlakuan di uji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pengencer yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata (P
Penggunaan pengencer AndroMedÒ dan stock solution menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (PÒ dibanding stock solution menunjukkan pengaruh yang nyata (PÒ dan stock solution menunjukkan pengaruh yang nyata (PÒ dibandingkan dengan susu skim menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P stock solution dibandingkan susu skim terhadap persentase spermatozoa hidup.
Penggunaan media pengencer AndroMedÒ memberikan pengaruh yang terbaik terhadap persentase motilitas, dan persentase spermatozoa hidup ( 63,75 % dan 71,36 % ) sampai pengamatan 18 jam setelah pengenceran semen dibandingkan dengan pengencer stock solution dan susu skim.

PENGARUH PENGGUNAAN AndroMed®, STOCK SOLUTION, DAN SUSU SKIM SEBAGAI BAHAN PENGENCER TERHADAP KUALITAS SEMEN SAPI LIMOUSIN YANG DIBEKUKAN
Oleh
Ervina Seprianti1, Sri Suharyati2, dan Purnama Edy Santosa2
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan AndroMed®, stock solution, dan susu skim sebagai bahan pengencer terhadap kualitas semen sapi Limousin yang dibekukan.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan, yaitu AndroMed® (P1), stock solution (P2), dan susu skim (P3), dengan 4 kali waktu koleksi sebagai kelompok. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Perbedaan pengaruh dari perlakuan diuji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai media pengencer berpengaruh sangat nyata (Pthawing.
Uji lanjut BNT menunjukkan antara pengencer AndroMed® dengan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap motilitas dan persentase spermatozoa hidup setelah ekuilibrasi maupun setelah thawing, namun keduanya berbeda nyata (P® dengan stock solution tidak berbeda nyata (P>0,05), namun keduanya berbeda nyata dengan pengencer susu skim (Pthawing, pengencer stock solution dan susu skim tidak berbeda nyata (P>0,05) dan keduanya berbeda nyata dengan pengencer AndroMed® (P<0,05).
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengencer AndroMed® memberikan pengaruh yang terbaik terhadap motilitas (48,13%), persentase spermatozoa hidup (55,53%), dan persentase abnormalitas spermatozoa (11,70%) pada semen sapi Limousin yang dibekukan dibandingkan dengan stock solution dan susu skim.

PENGARUH PENGOLAHAN PUCUK TEBU TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, KADAR NH3, DAN PRODUKSI VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO
Oleh

R. Novi Yanti1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh jenis pengolahan (amoniasi, silase, dan hidrolisis) pucuk tebu terhadap KCBK, KCBO, kadar NH3, dan produksi VFA cairan rumen secara in vitro; (2) menentukan satu jenis pengolahan terbaik pada pengolahan pucuk tebu terhadap KCBK, KCBO, Kadar NH3, dan produksi VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu R0 = pucuk tebu tanpa pengolahan; R1 = pucuk tebu dibuat amoniasi; R2 = pucuk tebu dibuat silase; R3 = pucuk tebu dihidrolisis dengan NaOH; masing-masing perlakuan terdiri atas lima kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis sidik ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Hasil analisis ragam terhadap suatu peubah dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5% dan atau 1% untuk mengetahui perlakuan terbaik.
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pengolahan pucuk tebu secara amoniasi berpengaruh sangat nyata (P3, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro. Uji Beda Nyata Terkecil menunjukkan bahwa pengolahan pucuk tebu secara amoniasi adalah pengolahan terbaik berdasarkan produksi VFA dan kadar NH3.

PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT LAPANG DENGAN PUCUK TEBU TERAMONIASI DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, KADAR NH3, DAN PRODUKSI VFA CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO

Oleh

Kristina Yanti1, Yusuf Widodo2, dan Muhtarudin2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum dan menentukan taraf optimum dari tingkat penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, kadar NH3, dan Produksi VFA cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang + 0% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R1 (70% konsentrat + 20% rumput lapang + 10% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R2 (70% konsentrat + 10% rumput lapang + 20% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum); R3 (70% konsentrat + 0% rumput lapang + 30% pucuk tebu teramoniasi dari BK ransum), masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian di analisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%, kemudian dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 38,26%) terhadap kecernaan bahan kering ransum berpola linier dengan persamaan Ŷ = 37,739 + 0,094X; (2) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 38,36%) terhadap kecernaan bahan organik ransum berpola linier dengan persamaan Ŷ = 39,361 + 0,114X; (3) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 63,38%) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,935 + 0,143X; (4) penggunaan pucuk tebu teramoniasi dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 90,19%) terhadap produksi VFA cairan rumen berpola kuadratik dengan persamaan Ŷ = 96,600 + 4,660X – 0,100X2 dengan pengaruh yang optimal pada penggunaan pucuk tebu teramoniasi 23,30% dari BK ransum.

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN BLOTONG TERFERMENTASI OLEH YEAST Saccharomyces cerevicea PADA RANSUM TERHADAP NH3, KADAR VFA, KCBK, KCBO, CAIRAN RUMEN
SECARA IN VITRO
Oleh
Ni Komang Dewi Rahmayani1, M. Prayuwidayati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan blotong terfermentasi oleh Saccharomyces cerevicea pada ransum terhadap KCBK, KCBO, kadar VFA dan NH3 cairan rumen secara in vitro serta menentukan tingkat penambahan blotong yang paling optimum dalam ransum.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan. Tingkat penambahan blotong terfermentasi adalah R0 (ransum basal atau kontrol); R1 (R0 + 5 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R2 (R0 + 10 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R3 (R0 + 15 % blotong terfermentasi dari BK ransum); R4 (R0 + 20 % blotong terfermentasi dari BK ransum), masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1 % yang sebelumnya diuji homogenitas, aditivitas dan normalitas, serta dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar VFA dan KCBO cairan rumen secara in vitro; (2) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea berpengaruh sangat nyata (P3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,035 + 0,237X; (3) penambahan blotong terfermentasi menggunakan Saccharomyces cerevicea berpengaruh sangat nyata (P

PENGARUH TINGKAT PENAMBAHAN HIDROLISAT LIMBAH KEPALA UDANG DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA DAN KADAR NH3 CAIRAN RUMEN SECARA IN VITRO

Oleh

Sri Maryati1, Mucharomah Prayuwidayati2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang yang optimum dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan pada Juni–Juli 2006, bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R0 = Ransum basal (30 % hijauan dan 70 % konsentrat); R1 = Ransum basal + 1,5 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R2 = Ransum basal + 3,0 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R3 = Ransum basal + 4,5 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum; R4 = Ransum basal + 6,0 % hidrolisat limbah kepala udang dari BK ransum. Data yang diperoleh dilakukan uji normalitas, homogenitas dan aditivitas. Kemudian data dianalisis ragam pada taraf nyata 5 % dan atau 1% dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal dan analisis regresi untuk mengetahui tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang yang terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pengaruh tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P2 = 55,44 %) terhadap kecernaan bahan kering berpola linier dengan persamaan Ŷ = 43,484 + 0,962 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 30,17%) terhadap kecernaan bahan organik berpola linier dengan persamaan Ŷ = 45,624 + 0,945 X, berpengaruh sangat nyata (P2 = 71,14 %) terhadap kadar NH3 cairan rumen berpola linier dengan persamaan Ŷ = 4,721 + 0,744 X, tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap produksi VFA cairan rumen secara in vitro; (2) tingkat penambahan hidrolisat limbah kepala udang dalam ransum pada level 0–6 % belum menunjukkan tingkat optimum terhadap kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan kadar NH3 cairan rumen secara in vitro.

PENGARUH WAKTU PEMBERIAN PAKAN DAN PENCUKURAN TERHADAP RESPONS TERMOREGULASI
PADA DOMBA GARUT BETINA
Oleh

Dani Kurniawan1, Arif Qisthon2, dan Sri Suharyati2.

ABSTRAK

Berbagai metode telah dilakukan untuk mengurangi cekaman panas, seperti pemberian naungan, penyiraman air, pemberian air minum dingin, mengatur perlakuan pemberian pakan, dan pencukuran bulu yang berkaitan dengan perolehan panas dari dalam tubuh dan tambahan panas (heat gain) dari lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya interaksi atau tidak dan untuk mengetahui perlakuan terbaik dari waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap respons termoregulasi (konsumsi air minum, konsumsi pakan, frekuensi pernapasan, frekuensi denyut jantung, dan suhu rektal) pada domba Garut betina. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu terdapat interaksi dan perlakuan terbaik antara waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap respons termoregulasi pada domba Garut betina.
Ternak yang digunakan adalah 20 ekor domba Garut betina umur 2–2,5 tahun, serta memiliki berat tubuh 23–27 kg. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan pola faktorial 2 X 2. Faktor pertama adalah pemberian waktu pakan (W), yaitu pemberian pakan pukul 08.00 dan 14.00 WIB (W0), dan pemberian pakan pukul 20.00 dan 00.00 WIB (W1). Faktor kedua adalah pencukuran bulu (P), yaitu domba dengan bulu dicukur (P0), dan domba dengan bulu tidak dicukur (P1).
Data yang diperoleh (konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung) dianalisis varian, namun sebelumnya diuji normalitas, homogenitas, dan aditivitas. Kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan (Sastrosupadi, 2004).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara waktu pemberian pakan dan pencukuran terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung. Waktu pemberian pakan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, suhu rektal, frekuensi pernapasan, dan frekuensi denyut jantung. Pencukuran bulu tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi air minum, konsumsi pakan, tetapi berpengaruh nyata pada suhu rektal (P

PENGGUNAAN HIDROLISAT LIMBAH KEPALA UDANG TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING, KECERNAAN BAHAN ORGANIK, PRODUKSI VOLATILE FATTY ACID, DAN KADAR AMONIA SECARA IN VITRO
Oleh
Seli Erlina1, Muhtarudin2, dan Mucharomah Prayuwidayati2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hidrolisisat limbah kepala udang terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), produksi volatile fatty acid (VFA) dan kadar amonia (NH3) serta mengetahui jenis bahan kimia yang memberikan hasil terbaik dalam proses hidrolisis terhadap kecernaan bahan kering (KCBK), kecernaan bahan organik (KCBO), produksi volatile fatty acid (VFA), dan kadar amonia (NH3) secara in vitro.
Penelitian ini dilaksanakan pada 24 April–10 Mei 2006, di laboratorium Makanan Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan, yaitu R0 = Ransum basal (terdiri atas 30% hijauan dan 70% konsentrat); R1 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang tanpa hidrolisis; R2 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis HCl 6%; R3 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis NaOH 3%; dan R4 = Ransum basal + 3% limbah kepala udang terhidrolisis H2O2 5%. Data yang diperoleh diuji homogenitas, normalitas, dan aditifitas serta dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mengetahui perlakuan terbaik.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa hidrolisis limbah kepala udang di dalam ransum perlakuan berpengaruh sangat nyata (P3. Hasil uji lanjut BNT menunjukkan bahwa hidrolisis limbah kepala udang dengan menggunakan H2O2 5% di dalam ransum perlakuan adalah hidrolisis terbaik berdasarkan KCBO dan NH3, akan tetapi KCBK yang didapatkan tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan R1, R2, dan R3. Hidrolisis limbah kepala udang dengan menggunakan NaOH 3% dalam ransum menghasilkan VFA tertinggi.

PERBANDINGAN DAYA PRODUKTIVITAS INDUK KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH
DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING
KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Muhammad Aziz Shosan1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan bobot sapih pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih pada kambing Boerawa dan kambing Peranakan Etawah, membandingkan nilai MPPA bobot sapih pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, membandingkan nilai efisiensi reproduksi pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah, dan membandingkan nilai daya produktivitas induk individu-individu pada kambing Boerawa dengan kambing Peranakan Etawah.
Penelitian ini dilaksanakan pada Juni 2006, di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan untuk mendapatkan materi penelitian berupa rekording perkawinan, kelahiran, bobot lahir cempe, dan bobot sapih cempe dari 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE yang telah melahirkan dua kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa 0,32 ± 0,119 dan nilai bobot sapih kambing PE 0,207 ± 0,120. Hasil uji t-student menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 22,704 ± 0,758 kg dan 17,696 ± 0,464 kg; Rata-rata nilai MPPA bobot sapih kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 22,705 ± 0,708 kg dan 17,696 ± 0,412 kg; Rata-rata nilai ER kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,10) dibandingkan dengan kambing PE, yakni 113,171 ± 6,6 % dan 109,04 ± 9,72 %; Nilai DPI kambing Boerawa lebih tinggi (P≤0,01) dibandingkan dengan kambing PE yakni 25,687 ± 1,5 kg dan 19,63 ± 2,02 kg. Nilai DPI tertinggi pada kelompok kambing Boerawa sebesar 28,72 kg dicapai oleh kambing dengan kode BQ1, sedangkan nilai DPI terendah adalah kambing dengan kode BH1 sebesar 22,84 kg. Nilai DPI tertinggi pada kelompok kambing PE sebesar 25,59 kg dicapai oleh kambing dengan kode PG1, sedangkan nilai DPI terendah adalah kambing dengan kode PJ2 sebesar 16,75 kg.

PERBANDINGAN INDEKS PRODUKTIVITAS INDUK PADA KAMBING BOERAWA DENGAN KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN BOBOT UMUR SETAHUNAN DI DESA CAMPANG KECAMATAN GISTING KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
I Gusti Nyoman Dedi D1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Induk merupakan kemampuan induk untuk menghasilkan anak dengan bobot badan pada umur tertentu. Tujuan penelitian ini adalah (1) membandingkan rata-rata bobot setahunan anak per induk pada kambing Boerawa dengan kambing PE; (2) membandingkan rata-rata jarak beranak kambing Boerawa dengan kambing PE; (3) membandingkan rata-rata jumlah anak per kelahiran pada kambing Boerawa dengan kambing PE; (4) membandingkan rata-rata nilai IPI berdasarkan bobot setahunan pada kambing Boerawa dengan kambing PE.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE dengan syarat paling sedikit sudah pernah melahirkan dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei langsung ke lokasi peternakan, yang merupakan peternakan rakyat, untuk melihat recording dan mencatat data-data yang berkaitan dengan jarak beranak, jumlah anak per kelahiran, bobot setahunan, serta manajemen pemeliharaan yang diterapkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata bobot setahunan kambing Boerawa (38,383±0,941 kg ) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (32,916±0,755 kg); Rata-rata jarak beranak kambing Boerawa (9,05±0,442 bulan) lebih rendah (P≤0,01) daripada kambing PE (9,70±0,857 bulan); Rata-rata jumlah anak per kelahiran induk kambing Boerawa (2,133±0,257 ekor) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (1,723±0,264 ekor); Rata-rata IPI kambing Boerawa (108,577±12,427 kg) lebih tinggi (P≤0,01) daripada kambing PE (70,597±11,661 kg); Nilai IPI tertinggi pada kambing Boerawa yaitu sebesar 136,852 dan terendah 87,864 kg, sedangkan IPI tertinggi pada kambing PE yaitu sebesar 101,271 dan terendah 53,409 kg.

PERBANDINGAN NILAI PEMULIAAN INDUK KAMBING BOERAWA DENGAN INDUK KAMBING PERANAKAN ETAWAH BERDASARKAN BOBOT SAPIH DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS

Oleh

Elly Kurnia1, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2

ABSTRAK

Nilai Pemuliaan (NP) merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan genetik ternak untuk suatu sifat tertentu yang diberikan secara relatif atas dasar kedudukannya di dalam populasinya.Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui dan membandingkan rata-rata bobot sapih kambing Boerawa dengan kambing PE; (2) mengetahui heritabilitas bobot sapih kambing Boerawa dan kambing PE; (3) mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa dan kambing PE; (4) mengetahui dan membandingkan nilai pemuliaan (NP) kambing Boerawa dengan kambing PE.
Penelitian ini menggunakan 30 ekor induk kambing Boerawa dan 30 ekor induk kambing PE yang telah melahirkan paling sedikit dua kali. Penelitian ini menggunakan metode survei, yaitu mencatat data sekunder berupa recording kambing milik peternak yang meliputi bobot sapih, bobot lahir, umur induk, dan tipe kelahiran, serta data primer yaitu mengamati manejemen pemeliharaan, pemberian pakan, dan pencegahan penyakit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata bobot sapih terkoreksi kambing Boerawa (22,705+0,76 kg) lebih tinggi (P<0,01) daripada kambing PE (17,696+0,46 kg). Nilai heritabilitas kambing Boerawa dan kambing PE masing-masing sebesar 0,34+0,29 dan 0,19+0,16. Nilai ripitabilitas kambing Boerawa dan kambing PE masing-masing sebesar 0,30 dan 0,24. Rata-rata nilai pemuliaan (NP) bobot sapih kambing Boerawa (22,705+0,46 kg) lebih tinggi (P<0,01) daripada kambing PE (17,696+0,49 kg). Nilai NP kambing Boerawa tertinggi dicapai oleh induk dengan kode BD2, yaitu sebesar 23,547 kg sedangkan NP tertinggi
kambing PE dicapai oleh induk dengan kode PQ1 yaitu sebesar 17,959 kg.

POTENSI HIJAUAN DI BAWAH NAUNGAN KELAPA SAWIT DI PTPN VII UNIT USAHA REJOSARI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

Oleh

Riri Deasy Hutari1, Liman2, dan Yusuf Widodo2

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produksi hijauan pakan dan kapasitas tampung ternak, komposisi botani, dan mengetahui kualitas hijauan (kadar protein kasar dan serat kasar) berdasarkan produksi hijauan pakan ternak di perkebunan sawit PTPN VII Unit Usaha Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan pada umur sawit yang berbeda.
Penelitian ini dilaksanakan pada April–Juni 2006, bertempat di areal perkebunan kelapa sawit PTPN VII Unit Usaha Rejosari, Desa Rejosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan dan analisis kualitas hijauan berupa protein kasar dan serat kasar dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat produksi hijauan segar, kapasitas tampung ternak, komposisi botani, kadar protein kasar dan serat kasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengukuran hijauan langsung di areal perkebunan sawit. Data sekunder diperoleh dengan cara wawancara langsung berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan perkebunan sawit seluas 1.152 hektar mampu memproduksi 80.575,32 ton/th hijauan segar, dengan kapasitas tampung ternak 5.518,8 UT/th, dan komposisi botani yang terdapat pada tanaman sawit tua 13,84% Cyclosorus aridus, 74,24% Panicum muticum, 6,15% Chamaecrista rotundifolia, dan 5,77% Centrosema pubescens, pada sawit produktif terdiri atas 19,98% Mikania cordata, 35,15% Centrosema plumieri, 27,63 % Centrosema pubescens, dan 17,24% Ottochloa nodosa, pada sawit muda 100% terdiri atas Peuraria phaseoloides.
Kualitas hijauan pada tanaman sawit tua mengandung protein kasar 11,4241 % dan serat kasar 25,3945 %, tanaman sawit produktif mengandung protein kasar 14,3063 % dan serat kasar 22,7560 %, dan tanaman sawit muda mengandung protein kasar 17,7188 % dan serat kasar 20,5250 %.

SELEKSI KAMBING PERAH PEJANTAN SAANEN
BERDASARKAN NILAI ESTIMATED TRANSMITTING ABILITY PRODUKSI SUSU DENGAN METODE DAUGHTER COMPARISON
DI PT. TAURUS DAIRY FARM SUKABUMI JAWA BARAT
Oleh
Mutia Maryanti1­­­, Sulastri2, dan Akhmad Dakhlan2
ABSTRAK
Protein hewani dibutuhkan manusia untuk pertumbuhan, menjaga kesehatan tubuh, dan pengembangan daya kreativitas manusia. Protein hewani tersebut berasal dari hasil ternak yang berupa daging, susu, dan telur. Pemenuhan kebutuhan produk-produk peternakan tersebut terus-menerus diupayakan oleh Pemerintah Indonesia. Salah satu sumber protein hewani dengan nilai biologis yang tinggi adalah susu. Susu dapat dihasilkan oleh sapi, kerbau, maupun kambing. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui nilai ETA (Estimated Transmitting Ability) masing-masing pejantan yang diestimasi berdasarkan produksi susu anak-anak betinanya sebagai dasar pelaksanaan seleksi pejantan kambing Saanen.
Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode survei dengan studi kasus di peternakan kambing Saanen di PT. Taurus Dairy Farm, Desa Tenjok Ayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat pada bulan Juni 2006. Data primer diperoleh dengan cara pengamatan langsung terhadap ternak dan wawancara dengan para pekerja di lapangan, sedangkan data sekunder berupa catatan produktivitas kambing Saanen mulai tahun 1997 sampai dengan tahun 2003. Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung nilai ETA (Estimated Transmitting Ability) meliputi nilai heritabilitas produksi susu, jumlah anak betina masing-masing pejantan, produksi susu anak betina per pejantan dan rata-rata produksi susu populasi. Nilai heritabilitas produksi susu dihitung dengan metode saudara tiri sebapak (paternal halfsib corelation)
Hasil penelitian diketahui bahwa rata-rata produksi susu anak betina adalah 357,34 kg, tertinggi dicapai oleh anak-anak dari pejantan Drazel sebesar 486,85 kg dan terendah ditempati oleh pejantan TDF 5 sebesar 147,6 kg. Nilai heritabilitas produksi susu adalah 0,14 + 0,2, dengan rata-rata nilai ETA pejantan adalah 360,29 kg.

ESTIMASI NILAI RIPITABILITAS DAN MPPA (MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY) BOBOT SAPIH KAMBING BOERAWA DI DESA CAMPANG, KECAMATAN GISTING, KABUPATEN TANGGAMUS
Oleh
Rio Kurnia Yulianto1, Akhmad Dakhlan2, dan Sulastri2
ABSTRAK
Bobot sapih merupakan sifat pertumbuhan yang perlu ditingkatkan melalui seleksi karena selain bertujuan meningkatkan sifat-sifat yang diseleksi juga secara tidak langsung dapat meningkatkan produksi daging dan persentase karkas. Metode seleksi individu untuk meningkatkan bobot sapih ternak dapat dilakukan berdasarkan nilai MPPA (Most Probable Producing Ability). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai ripitabilitas bobot sapih dan nilai MPPA bobot sapih kambing Boerawa di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.
Penelitian ini menggunakan catatan produksi kelahiran pertama, kedua, dan ketiga dari 30 ekor induk kambing Boerawa yang telah melahirkan lebih dari satu kali. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah bobot sapih cempe hasil keturunan induk Boerawa. Data bobot sapih setiap individu yang diamati dikoreksi terlebih dahulu terhadap bobot cempe umur 120 hari, umur induk, tipe kelahiran dan tipe pemeliharaan. Nilai ripitabilitas bobot sapih dihitung dengan metode korelasi dalam kelas (intraclass correlation) dan perhitungan nilai MPPA bobot sapih dilakukan dengan menggunakan rumus Hardjosubroto (1994).
Rata-rata bobot sapih cempe hasil keturunan induk kambing Boerawa pada kelahiran pertama, kedua, dan ketiga masing-masing 17,927±0,944 kg; 17,974±1,054 kg; 17,614±1,041 kg, serta rata-rata bobot sapih populasi sebesar 17,883±1,00 kg.
Nilai ripitabilitas bobot sapih kambing Boerawa yang diamati 0,268±0,139. Rata-rata nilai MPPA bobot sapih sebesar 17,884±0,694 kg dengan bobot sapih tertinggi dicapai oleh kambing berkode A1 dengan nilai MPPA sebesar 19,030 kg dan nilai MPPA bobot sapih terendah diperoleh induk kambing dengan kode Q1 yaitu sebesar 16,552 kg. Sebanyak 50% induk kambing Boerawa memiliki nilai MPPA lebih tinggi daripada rata-rata populasi sedangkan 50% memiliki nilai MPPA lebih rendah daripada rata-rata populasi.


PENGARUH LEVEL KOMBINASI AIR REBUSAN KUNYIT DAN DAUN SIRIH MELALUI AIR MINUM TERHADAP KECERNAAN DAN RETENSI PROTEIN RANSUM
PADA BROILER STRAIN LOHMANN
Oleh

Amrizal Pahlevi1, Rr. Riyanti2, dan Syahrio Tantalo2

ABSTRAK
Salah satu konsumsi pangan asal ternak yang mengandung protein yang tinggi dan harganya relatif murah adalah broiler. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan produktifitas peternakan adalah dengan menggunakan feed additive yang dapat memacu pertumbuhan broiler dan mengefisienkan penggunaan ransum. Salah satu feed additive yang aman digunakan karena tidak meninggalkan residu adalah tanaman obat-obatan seperti kunyit dan daun sirih.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih terhadap nilai kecernaan dan retensi protein ransum. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri atas empat perlakuan yaitu R0 (air minum biasa sebagai kontrol), R1 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 10 g per 600 ml), R2 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 20 g per 600 ml), R3 (kombinasi air rebusan kunyit 10 g dan daun sirih 30 g per 600 ml). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali dengan satuan percobaan terdiri atas empat ekor ayam. Peubah yang diamati yaitu nilai kecernaan protein ransum, dan nilai retensi protein ransum, dengan konsumsi ransum sebagai peubah pendukung. Seluruh data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila terdapat perbedaan antarperlakuan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 0,05 dan atau sangat nyata 0,01 (Steel dan Torrie, 1993).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kecernaan protein ransum pada level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih (10g+30g)/600ml atau R3 (72,91%), dan (10g+20g)/600ml atau R2 (66,58%) berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap kontrol atau R0 (60,65%). Akan tetapi, level pemberian kombinasi air rebusan kunyit dan daun sirih berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap nilai retensi protein ransum.


PENGARUH LEVEL PEMBERIAN AIR KUNYIT MELALUI AIR MINUM TERHADAP BOBOT KARKAS, GIBLET, DAN LEMAK
ABDOMINAL BROILER

Oleh

Amrizal Pahlevi1, Rr. Riyanti2, dan Syahrio Tantalo2
ABSTRAK
Broiler merupakan salah satu sumber protein hewani yang dapat memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Hal ini karena broiler mempunyai beberapa keunggulan, yaitu : mengandung asam amino esensial, pertumbuhan cepat, efisien dalam penggunaan pakan, siklus hidup yang pendek, dagingnya empuk, kulit halus dan lunak, dada lebar dengan timbunan daging yang baik, dan harganya dapat dijangkau oleh masyarakat. Upaya meningkatkan kesehatan broiler diantaranya dengan pemberian feed additive dalam pemeliharaan. Kunyit merupakan feed additive yang dapat membantu pertumbuhan merupakan jenis tanaman obat-obat tradisional yang penggunaannya untuk ternak belum optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari level pemberian air kunyit melalui air minum dan untuk mengetahui level air kunyit terbaik melalui air minum terhadap bobot karkas, giblet, dan lemak abdominal broiler. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini terdiri atas empat perlakuan yaitu R0 (air putih biasa), R1 (5 g kunyit/600 ml air minum), R2 (10 g kunyit/600 ml air minum), dan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum). Tiap-tiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dengan satuan percobaan 4 ekor ayam dan dalam proses pengambilan data diambil 2 ekor ayam sebagai sampel. Seluruh data yang diperoleh dianalisis ragam dan bila terdapat perbedaan antar perlakuan yang nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf uji 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa level pemberian air kunyit melalui air minum berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap bobot karkas dan giblet broiler umur 6 minggu. Akan tetapi, berbeda nyata (Pbroiler umur 6 minggu.
Perlakuan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum) nyata (P1 (5 g kunyit/600 ml air minum), dan R2 (10 g kunyit /600 ml air minum) tidak berbeda nyata dengan R0. Perlakuan terbaik untuk menurunkan bobot lemak abdominal broiler adalah perlakuan R3 (15 g kunyit/600 ml air minum).


PENGARUH PEMBERIAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK TERHADAP KADAR NH3, PRODUKSI VFA DAN POPULASI PROTOZOA RUMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA JANTAN
Oleh
Yepri Endrizon1, Erwanto2, Yusuf Widodo2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik terhadap produksi NH3 dan VFA cairan rumen kambing peranakan ettawa; (2) pengaruh perlakuan yang terbaik terhadap Kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa jantan.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) terdapat pengaruh dari penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik terhadap kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa rumen kambing peranakan ettawa; (2) terdapat perlakuan yang terbaik pengaruhnya terhadap kadar NH3, produksi VFA dan populasi protozoa dalam rumen kambing peranakan ettawa.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada Oktober sampai dengan November 2005, bertempat di Kampung Sinarmulya, Desa Hajimena, Kecamatan Natar. Analisis kimia dilakukan di Laboratorium Makanan Ternak, Jurusan Produksi Ternak, Universitas Lampung.
Penelitian ini menggunakan 20 ekor kambing PE jantan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima kelompok. Pengelompokan dilakukan berdasarkan bobot tubuh (kelompok 1 berkisar antara 21,85 dan 26,43 kg; kelompok 2 berkisar antara 20,35 dan 21,74 kg; kelompok 3 berkisar antara 18,53 dan 20,22; kelompok 4 berkisar antara 16,60 dan 17,90 kg dan kelompok 5 berkisar antara 13,69 dan 15,90 kg). Perlakuan terdiri atas R0 = ransum basal; R1= ransum basal + 3% bulu ayam; R2 = R1 + mineral makro organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA); R3 = R2 + mineral mikro organik (Zn-lisinat, Cu-lisinat, Se-lisinat, Cr-lisinat).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) penambahan hidrolisat bulu ayam dan mineral organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap populasi protozoa dalam rumen kambing peranakan ettawa jantan; (2) perlakuan R3 memberikan nilai tertinggi pada kadar amonia (P


PENGARUH PENAMBAHAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP
KUALITAS SEMEN KAMBING PERANAKAN ETTAWA
Oleh
Putera Ramadhan Hutama1, Sri Suharyati2, dan Liman2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik dalam ransum terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa (PE); (2) mengetahui perlakuan pemberian hidrolisat bulu ayam dan mineral organik yang terbaik terhadap kualitas semen kambing Peranakan Ettawa (PE).
Penelitian menggunakan 20 ekor kambing Peranakan Ettawa yang dibagi menjadi 5 kelompok. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan lima kelompok. Pengelompokan berdasarkan bobot tubuh (kelompok I antara 21,85 dan 26 ,43 kg; kelompok II antara 20,35 dan 21,74 kg; kelompok III antara 18,53 dan 20,22 kg; kelompok IV antara 16,60 dan 17,90; kelompok V antara 13,69 dan 15,90 kg). Susunan ransum yang diberikan adalah R0 terdiri atas 80% konsentrat (dedak halus, onggok, bungkil kelapa, jagung, CaCO3, urea dan tetes) dan 20 % rumput lapang, R1 terdiri atas R0 ditambah dengan 3% bulu ayam, R2 terdiri atas ransum R1 ditambahkan dengan mineral makro (Ca-PUFA dan Mg-PUFA), R3 terdiri atas ransum R2 ditambahkan dengan mineral mikro (Zn-Lisinat, Cu-lisinat, Cr-Lisinat dan Se-Lisinat). Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1% untuk mengetahui perbedaan nilai tengah perlakuan.
Dari hasil analisis ragam yang dilakukan menunjukkan perlakuan berbeda sangat nyata (P0,05) terhadap motilitas, konsentrasi dan persentase spermatozoa hidup. Pemberian ransum R2 berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap konsentrasi spermatozoa. Pemberian ransum R3 memberikan pengaruh sangat nyata (P

PENGARUH PENAMBAHAN KOMBINASI SABUT SAWIT TERAMONIASI DAN LUMPUR SAWIT TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP KCBK, KCBO, PRODUKSI VFA, DAN KONSENTRASI AMONIA CAIRAN RUMEN KAMBING SECARA IN VITRO
Oleh
Dini Oktarini1, Erwanto2, dan Liman 2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen kambing secara in vitro; dan. mengetahui pengaruh penambahan kombinasi sabut sawit teramoniasi dan lumpur sawit terfermentasi dalam ransum bila dibandingkan dengan kontrol terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen kambing secara in vitro;
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan yaitu : R0 (70% konsentrat + 30% rumput lapang), R1 (70% konsentrat + 20% sabut sawit teramoniasi + 10% lumpur sawit terfermentasi), R2 (70% konsentrat + 15% sabut sawit teramoniasi + 15% lumpur sawit terfermentasi), R3 (70% konsentrat + 10% sabut sawit teramoniasi + 20% lumpur sawit terfermentasi). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Apabila terdapat peubah yang nyata atau tidak nyata maka dilanjutkan dengan uji kontras ortogonal pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 20% sabut sawit teramoniasi dan 10% lumpur sawit terfermentasi (R1) dalam ransum berbeda nyata (P0) terhadap KCBK, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap KCBO, produksi VFA, dan konsentrasi NH3 cairan rumen secara in vitro; penambahan 15% sabut sawit teramoniasi dan 15% lumpur sawit terfermentasi (R2) dalam ransum tidak berbeda nyata (P>0,05) bila dibandingkan dengan ransum basal (R0) terhadap KCBK, KCBO, produksi VFA dan konsentrasi NH3 cairan rumen secara in vitro; penambahan 10% sabut sawit teramoniasi dan 20% lumpur sawit terfermentasi (R3) dalam ransum berbeda sangat nyata (P0) terhadap produksi VFA, dan berbeda nyata (P3 cairan rumen, tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap KCBK dan KCBO secara in vitro.


PENGARUH PENGGUNAAN HIDROLISAT BULU AYAM DAN MINERAL ORGANIK DALAM RANSUM TERHADAP KONSUMSI ENERGI, ENERGI TERCERNA, DAN EFISIENSI ENERGI PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA (PE) JANTAN
Oleh
Ricky Jayadi Kusuma1, Muhtarudin2, dan Yusuf Widodo2
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui pengaruh pemberian hidrolisat bulu ayam serta kombinasinya dengan mineral makro-mikro organik dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna dan efisiensi energi pada kambing PE jantan; (2) mengetahui perlakuan yang terbaik dari penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi kambing PE jantan.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat perlakuan dan lima kelompok sebagai ulangan. Ransum yang diberikan adalah R0 = ransum mengandung 20% rumput lapang + 80% Konsentrat (35% BK onggok, 10% BK dedak, 22,5% BK bungkil kelapa, 10% BK jagung, 1% BK urea, 1% BK CaCO3, dan 0,5% BK molasses); R1 = R0 + 3% hidrolisat bulu ayam dari BK ransum; R2 = R1 + 0,1% Ca-PUFA dan 0,05% Mg-PUFA; R3 = R2 + Zn-lisinat 1,8 ml/kg BK ransum, Cu-lisinat 0,4 ml/kg BK ransum, Cr-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum, dan Se-lisinat 0,17 ml/kg BK ransum. Data yang diperoleh dianalisis ragam pada taraf nyata 5% dan atau 1%. Setelah itu, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5% dan atau 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perlakuan R1 menunjukkan hasil yang berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap energi tercerna dan efisiensi energi kambing PE jantan; (2) penggunaan hidrolisat bulu ayam beserta mineral makro organik (Ca-PUFA dan Mg-PUFA) dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi kambing PE jantan; (3) penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap efisiensi energi kambing PE jantan; (4) penggunaan hidrolisat bulu ayam dan mineral makro-mikro organik dalam ransum memberikan kualitas yang terbaik terhadap konsumsi energi, energi tercerna, dan efisiensi energi pada kambing PE jantan.


PENGARUH PERBEDAAN SUHU PENYIMPANAN DAN BOBOT TELUR ITIK TERHADAP DAYA DAN KESTABILAN BUIH PUTIH TELUR SELAMA PENYIMPANAN 21 HARI
Oleh
Hilma Yusi1, Riyanti2, dan Khaira Nova2
ABSTRAK
Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang dikenal bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti asam-asam amino yang lengkap dan seimbang, vitamin, dan mempunyai daya cerna yang tinggi. Adapun kelemahannya ialah mempunyai sifat mudah busuk akibat kontaminasi dengan lingkungan di sekitarnya dan mudah pecah akibat penanganan yang kurang hati-hati. Daya buih putih telur bermanfaat sebagai pengembang adonan kue serta dapat memengaruhi kecerahan dan produk pangan tertentu. Suhu, lama penyimpanan, dan bobot telur memengaruhi daya dan kestabilan buih, sehingga perlu dilakukan usaha untuk mempertahankan kualitas telur dan mengurangi kerusakan yang mungkin terjadi.
Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi antara suhu penyimpanan dan bobot telur itik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur, untuk mengetahui faktor suhu penyimpanan yang terbaik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur, serta untuk mengetahui faktor bobot telur itik yang terbaik terhadap daya dan kestabilan buih putih telur.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola Faktorial 2 x 3. Perlakuan yang diuji adalah faktor pertama yaitu suhu penyimpanan yang terdiri dari suhu kamar (T1) dan suhu lemari es (T2) dan faktor kedua yaitu bobot telur yang terdiri dari 55–65 g (B1), 66–76 g (B2), dan 77–87 g (B3). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari 3 butir telur. Data yang diperoleh diuji sesuai dengan asumsi sidik ragam. Apabila ada perbedaan yang nyata antara masing-masing perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5% dan atau 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) suhu penyimpanan dan bobot telur itik memberikan interaksi yang tidak nyata (P>0,05) terhadap rata-rata daya buih putih telur, kestabilan buih putih telur, pH putih telur, indeks putih telur, dan HU putih telur; (2) suhu penyimpanan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P0,05) terhadap kestabilan buih putih telur; (3) bobot telur itik berpengaruh sangat nyata (P0,05) terhadap daya buih putih telur dan pH putih telur.



==================================================================================

1. Alumni Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung

2. Dosen Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Lampung

@COPYRIGHT : UNILA

@Reposted by : ahlifikir

About these ads

About ahmadi muslim

I NEED YOUR TALLENT AND YOUR ACTIVE
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s