KUMPULAN ABSTRAK PENELITIAN BUDIDAYA PERTANIAN (SKRIPSI, THESIS, DISERTASI, MAKALAH, LAPORAN)

EFIKASI HERBISIDA TRIASULFURON, PARAQUAT, DAN KOMBINASINYA TERHADAP GULMA PAKIS DAN NONPAKIS PADA TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis [Muell.] Arg.)
MENGHASILKAN

Oleh

Enggar Pramudya1, Sugiatno2, dan Darmaisam Mawardi 2
ABSTRAK
Tanaman karet (Hevea brasiliensis [Muell.] Arg.) di Indonesia merupakan komoditas penting penghasil devisa utama dari subsektor perkebunan. Adanya gulma pada tanaman karet menyebabkan produktivitas tanaman turun. Apabila gulma pada tanaman karet tidak dikendalikan maka produksi karet di Indonesia akan turun.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh herbisida triasulfuron (Logran 75 WG), paraquat (Gramoxone 276 AS), dan kombinasinya dalam mengendalikan gulma pakis dan nonpakis pada tanaman karet menghasilkan; (2) mengetahui perubahan komposisi gulma pakis dan nonpakis akibat perlakuan herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya pada tanaman karet menghasilkan; dan (3) mengetahui fitotoksisitas herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya terhadap tanaman karet menghasilkan.

Penelitian dilaksanakan di PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Way Lima dan Laboratorium Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Mei sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun dengan rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 ulangan yaitu triasulfuron dosis 15; 30; dan 40 g/ha; kombinasi triasulfuron + paraquat dosis (4,875 + 414)g/ha; (9,75 + 414) g/ha; dan (14,625 + 414) g/ha; paraquat dosis 414; 828; dan 1242 g/ha; penyiangan mekanis; dan kontrol. Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Jika ragam antarperlakuan homogen, data dianalisis ragam. Perbedaan dua nilai tengah diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 2, 4, 8, dan 12 minggu setelah aplikasi (MSA) herbisida triasulfuron semua dosis tidak mampu mengendalikan gulma total, pakis, dan nonpakis. Perlakuan kombinasi herbisida triasulfuron + paraquat semua dosis bersifat antagonis, karena herbisida triasulfuron tidak menambah daya kendali herbisida paraquat. Semua perlakuan herbisida tidak menimbulkan keracunan pada tanaman karet menghasilkan.

PENGARUH DOSIS DAN CARA APLIKASI PUPUK KANDANG AYAM PADA PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)

Oleh

Rosidah1, Sugiatno2, dan Rusdi Evizal2

ABSTRAK

Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditas ekspor nonmigas yang menghasilkan devisa bagi negara. Sampai saat ini nilam dibudidayakan dan dikembangkan kurang optimal, sehingga produktivitasnya rendah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh dosis pupuk kandang ayam pada pertumbuhan tanaman nilam, (2) pengaruh cara aplikasi pupuk kandang ayam pada pertumbuhan tanaman nilam, dan (3) pengaruh interaksi taraf dosis pupuk kandang ayam dengan cara aplikasi pada petumbuhan tanaman nilam. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2005 sampai dengan Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) menggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah cara aplikasi pemupukan, yaitu dengan cara sebar melingkar dan benam. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang ayam yang terdiri dari 4 taraf dosis, yaitu 0 ton/ha, 10 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha. Data dianalisis dengan analisis ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang ayam meningkatkan terhadap pertumbuhan tanaman nilam yang ditunjukkan oleh peubah diameter batang, jumlah cabang, jumlah daun, bobot kering berangkasan, dan bobot segar tajuk. Cara aplikasi pupuk kandang ayam tidak meningkatkan pada pertumbuhan tanaman nilam, kecuali pada peubah pengamatan jumlah daun dan panjang akar. Pada cara aplikasi yang berbeda, dosis pupuk kandang ayam meningkatkan terhadap jumlah cabang dan jumlah daun tanaman nilam.

PENGARUH HERBISIDA TRIASULFURON, PARAQUAT, DAN KOMBINASINYA PADA GULMA PAKISAN DI KEBUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) MENGHASILKAN

Oleh
Indra Prabowo1, Sugiatno2, dan Darmaisam Mawardi2

ABSTRAK

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) menghasilkan memiliki tajuk daun yang cukup lebar sehingga tingkat penaungan dan kelembaban tanah cukup tinggi. Hal ini dapat memicu pertumbuhan gulma pakis di kebun kelapa sawit manghasilkan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya pada gulma pakisan di kebun kelapa sawit menghasilkan; (2) dosis herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya yang efektif mengendalikan gulma pakisan di kebun kelapa sawit menghasilkan; (3) perubahan komunitas gulma; dan (4) fitotoksisitas herbisida triasulfuron, paraquat, dan kombinasinya terhadap tanaman kelapa sawit menghasilkan.

Perlakuan disusun dengan rancangan kelompok teracak sempurna yaitu triasulfuron 15 g/ha; triasulfuron 30 g/ha; triasulfuron 45 g/ha; triasulfuron 4,875 g/ha + paraquat 414 g/ha; triasulfuron 9,750 g/ha + paraquat 414 g/ha; triasulfuron 14,625 g/ha + paraquat 414 g/ha; paraquat 414 g/ha; paraquat 828 g/ha; paraquat 1242 g/ha; penyiangan mekanis; dan kontrol/tanpa pengendalian gulma.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa triasulfuron mengendalikan gulma pakis pada 12 MSA sedangkan paraquat dan kombinasi triasulfuron + paraquat mampu mengendalikan pada 8 dan 12 MSA. Kombinasi triasulfuron 14,625 g/ha + paraquat 414 g/ha efektif untuk mengendalikan gulma pakis di kebun kelapa sawit menghasilkan. Triasulfuron menunjukkan perubahan vegetasi gulma pakis pada pengamatan 8 MSA, kombinasi triasulfuron dengan paraquat menunjukkan perubahan vegetasi gulma pakis pada 2, 4, dan 8 MSA, sedangkan paraquat menunjukkan perubahan vegetasi pada pengamatan 2 MSA. Perlakuan herbisida pada semua taraf dosis tidak menyebabkan terjadinya keracunan pada tanaman kelapa sawit menghasilkan.

PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3) TERHADAP PERTUMBUHAN SPATIFILUM (Spathyphyllum walisii Schott)
PADA FASE VEGETATIF

Oleh

Azita Indriani1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK
Spatifilum merupakan salah satu tanaman hias daun dan bunga yang banyak digunakan sebagai tanaman hias dalam ruangan maupun sebagai elemen penghias taman sehingga penampilannya perlu ditingkatkan, khususnya pada pertumbuhan vegetatif. Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum adalah pemberian KNO3.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kalium nitrat (KNO3­) terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum serta mengetahui konsentrasi yang memberikan pengaruh terbaik pada tanaman spatifilum.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah naungan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni sampai Oktober 2005. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan empat ulangan. Faktor perlakuan yang digunakan adalah lima taraf konsentrasi KNO3 yaitu: K0 (0 ppm), K1 (1500 ppm), K2 (3000 ppm), K3 (4500 ppm), K4 (6000 ppm). Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari dua sampel yang ditanam pada masing-masing pot. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Barllet dan kemenambahan data diuji dengan uji tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji polynomial orthogonal dan perbandingan orthogonal pada taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: pemberian kalium nitrat (KNO3) sebagai perangsang pertumbuhan dan perkembangan tidak berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, panjang tangkai daun, jumlah anakan, tingkat kehijauan daun dan periode pembentukan daun, namun pada variabel panjang daun pemberian KNO3 dengan konsentrasi 6000 ppm menurunkan panjang daun. Diduga KNO3 pada konsentrasi tinggi menurunkan laju pertumbuhan vegetatif tanaman spatifilum karena NO3 berlebih.

PENGARUH NAUNGAN TERHADAP AKUMULASI BAHAN KERING BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Oleh
Triana Anggraeni1, Muhammad Kamal2, dan Kukuh Setiawan2
ABSTRAK

Di Indonesia, kacang tanah merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting dalam pola menu makanan penduduk. Perluasan areal panen merupakan faktor pemberi peluang terbesar dalam upaya peningkatan produksi. Penanaman kacang tanah sebagai tanaman sela di lahan perkebunan karet merupakan salah satu upaya dalam efisiensi pemanfaatan lahan antar baris tanaman keras yang cukup luas.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui akumulasi bahan kering beberapa varietas kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda; dan (2) mengetahui korelasi antara bahan kering dan komponen hasil beberapa varietas kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda. Dan hipotesis yang diajukan adalah (1) varietas Panther akan menunjukkan akumulasi bahan kering dan hasil yang lebih besar dibandingkan varietas lainnya; dan (2) terdapat korelasi positif antara akumulasi bahan kering dengan komponen hasil kacang tanah pada kondisi naungan yang berbeda.

Perlakuan disusun secara faktorial 2 x 5 dalam rancangan petak terbagi (RPT) pada rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga kali ulangan. Petak utama adalah perlakuan naungan dengan 2 taraf, yaitu dengan naungan 0% atau tanpa naungan (N0) dan naungan 50% (N1). Anak petak adalah 5 (lima) varietas kacang tanah, yaitu varietas Panther (V1), varietas Jerapah (V2), varietas Gajah (V3), varietas Sima (V4), dan varietas Mahesa (V5). Data diolah dengan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 1% dan 5%. Data dianalisis dengan menggunakan SAS (N.C. Release 6.12, USA).

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa (1) naungan paranet 50% secara nyata menurunkan akumulasi bahan kering tanaman kacang tanah. Akumulasi bahan kering tertinggi terjadi pada batang baik pada kondisi naungan 0% dan 50 %, yaitu masing-masing sebesar 64,6% dan 69,6% dari akumulasi bahan kering total;(2) pada kondisi naungan 0% dan 50% varietas Sima memiliki akumulasi bahan kering yang tertinggi dibandingkan dengan varietas lainnya, yaitu masing-masing sebesar 32,65% dan 28,43%; dan (3) pada kondisi naungan 0% peubah bobot berangkasan total berkorelasi positif dengan bobot kering ginofor (r = 0.89**), sementara itu pada kondisi naungan 50% peubah bobot berangkasan total berkorelasi positif dengan jumlah ginofor (r = 0,71**) dan jumlah biji (r = 0,71**).

PENGARUH PEMBERIAN BIOFOSFAT PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL PADI (Oryza sativa L.) PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING (PMK)

Oleh

Nur Azizah Ritonga1, Maria V. Rini2, dan Lazimar Zein2

ABSTRAK

Salah satu strategi yang sesuai untuk meningkatkan ketersediaan P pada tanah bereaksi asam dengan fiksasi P tinggi seperti tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) adalah dengan pemberian pupuk hayati penyedia fosfat yang dikenal dengan biofosfat. Pupuk hayati biofosfat merupakan suatu inokulum mikroba yang berkemampuan meningkatkan kelarutan hara dalam tanah dan dikemas dalam suatu formula khusus.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemberian biofosfat pada pertumbuhan dan produksi empat varietas padi yang diuji; (2) menentukan dosis biofosfat yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi empat varietas padi yang diuji; (3) mengetahui pengaruhi varietas padi yang diuji pada pertumbuhan dan produksi; dan (4) mengetahui persitindakan antara pemberian biofosfat dan empat varietas padi yang diuji.

Dalam penelitian ini perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan faktorial (3×4) dengan 5 kali ulangan. Faktor pertama adalah dosis biofosfat: 0 g/l (A0), 10 g/l (A1), dan 20 g/l (A2). Faktor kedua adalah empat varietas padi: Ciherang (CH), Sintanur (SN), Cilosari (CS), dan IR64. Setiap satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna. Data yang diperoleh diolah dengan uji Bartlett untuk menguji keragaman antarperlakuan dan uji Tukey untuk melihat sifat kemenambahan data. Jika data terbukti homogen selanjutnya dianalisis ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji Beda Nyata Jujur pada taraf 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biofosfat dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil 4 varietas padi yang diuji. Dosis biofosfat 20 g/l menghasilkan pertumbuhan dan hasil empat varietas padi yang terbaik. Varietas Sintanur menghasilkan bobot kering berangkasan terbaik pada pemberian biofosfat dosis 10 g/l. Varietas Cilosari memberikan bobot kering berangkasan terbaik pada pemberian biofosfat dengan dosis 0 g/l dan 20 g/l.

PENGARUH PEMOTONGAN BUNGA JANTAN PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG (Zea mays L.) HIBRIDA VARIETAS PIONEER

Oleh

Apriawan Ibalti Yuhadi 1, Niar Nurmauli2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK

Rendahnya produksi jagung nasional antara lain disebabkan oleh belum meluasnya varietas unggul, rendahnya permodalan petani, pemakaian pupuk yang belum sesuai dosis anjuran dan alih fungsi lahan. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi peningkatan hasil panen jagung, salah satu memanipulasi lingkungan yaitu dengan pemotongan bunga jantan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan pemotongan bunga jantan terhadap pertumbuhan dan hasil jagung Varietas Pioneer 20 pada sistem perbandingan pemotongan bunga jantan. Dengan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan, perlakuan adalah tanpa pemotongan bunga jantan (E0), pemotongan bunga jantan 2:1 (E1) yaitu dua baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 3:1 (E2) yaitu tiga baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 4:1 (E3) yaitu empat baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan satu baris tidak; pemotongan bunga jantan 2:2 (E4) yaitu dua baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dua baris tidak; pemotongan bunga jantan 3:2 (E5) yaitu tiga baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan dua baris tidak; pemotongan bunga jantan 4:2 (E6) yaitu empat baris tanaman yang dipotong bunga jantannya dan dua baris tidak. Dengan demikian satuan percobaan berupa 21 kombinasi perlakua. Kehomogenan ragam antarperlakuan diuji Bartlett. Bila memenuhi asumsi kehomogenan, dan dianalisi ragam. Nilai tengah perlakuan yang berbeda nyata diuji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemotongan bunga jantan tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil jagung varietas Pioneer 20.

PENGARUH TANAMAN INANG DAN MEDIA TANAM PADA PRODUKSI CENDAWAN MIKORIZA ABUSKULAR

Oleh

Vida Rosalinda1, Maria Viva Rini2, dan Sugianto2

ABSTRAK

Untuk memproduksi cendawan mikoriza arbuskular (CMA) diperlukan tanaman inang dan media tanam yang paling sesuai. Oleh karena itu, untuk menghasilkan inokulum yang banyak, beberapa Tanaman inang seperti jagung, sorgum, Centrosema pubescens (CP), dan Colopongium mucunoides (CM), perlu diujikan pada media zeolit P-1 dan P-3 agar ditemukan kombinasi yang paling sesuai untuk produksi inokulum cendawan mikoriza.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan tanaman inang yang paling sesuai untuk memproduksi CMA, dan (3) mengetahui apakah pengaruh Tanaman pada produksi CMA ditentukan oleh media yang digunakan. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Produksi Perkebunan Universitas Lampungsejak bulan Desember 2005 hingga April 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (4×2) daolam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah Tanaman inang (jagung, sorghum, CP, dan CM), factor kedua adalah media tanam (zeolit P-3 dan zeolit P-1). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Bila kedua uji tersebut tidak nyata, data diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahawa tanaman inang dari golongan Graminae (jagung dan sorghum) lebih sesuai untuk produksi CMA karena memiliki persen infeksi akar yang tinggi jumlah spora yang lebih banyak daripada Tanaman dari golongan Leguminosae (CP dan CM). Produksi CMA pada media tanaman zeolit P-3 dam media tanam zeolit P-1 tidak berbeda sehingga kedua media dapat digunakan untuk perbanaykan CMA. Pengaruh Tanaman inang pada produksi CMA tidak ditentukan oleh media yang digunakan karena setiap Tanaman inang memperlihatkan respons yang sama untuk kedua media Tanaman yang digunakan.

PERUBAHAN AKTIVITAS FOSFATASE ASAM DAN BEBERAPA
SIFAT TANAH PADA LAHAN YANG DIAPLIKASI HERBISIDA
AMETRIN, DIURON, DAN 2,4-D AMINA

Oleh

Dede Dwi Astuti1, Nanik Sriyani2, dan Abdul Kadir Salam2

ABSTRAK

Pemakaian herbisida dalam jangka waktu lama dapat mempengaruhi mikroorganisme tanah dan beberapa sifat tanah. Salah satu enzim yang berperan penting di dalam tanah adalah fosfatase asam. Aktivitas enzim ini dipengaruhi oleh kadar air, pH tanah, C-organik, N-total, nisbah C/N, dan kapasitas tukar kation, yang juga dapat berubah akibat aplikasi herbisida.

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mempelajari perubahan aktivitas fosfatase asam dan beberapa sifat tanah yang terjadi karena pengaruh herbisida ametrin, diuron, dan 2,4-D amina; dan (2) untuk mempelajari hubungan antara fosfatase asam di dalam tanah pada lahan yang diaplikasi herbisida dengan beberapa sifat tanah.
Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna terdiri dari 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis herbisida: ametrin; diuron; 2,4-D amina; dan kontrol. Pengambilan contoh tanah dilakukan 0 minggu setelah aplikasi (MSA), 1 MSA, 4 MSA, 8 MSA, 12 MSA, dan 16 MSA. Data diolah dengan sidik ragam dilanjutkan dengan pemisahan nilai tengah dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%. Selain itu dilakukan juga uji korelasi antara aktivitas fosfatase asam dengan beberapa sifat tanah.

Hasil penelitian menunjukkan aktivitas fosfatase asam mengalami peningkatan sampai minggu ke-4, kemudian menurun pada minggu ke-16 sampai pada tingkat yang sama dengan kontrol. Aktivitas fosfatase asam pada lahan yang diaplikasi ketiga herbisida berkorelasi dengan nisbah C/N. Untuk herbisida ametrin, aktivitas fosfatase asam juga berkorelasi dengan N-total dan C-organik, sedangkan untuk herbisida diuron dan 2,4-D amina juga berkorelasi dengan kapasitas tukar kation. Pada minggu ke-16, N-total dan kapasitas tukar kation meningkat untuk herbisida ametrin, untuk diuron hanya kapasitas tukar kation yang meningkat, sedangkan untuk 2,4-D amina hanya nisbah C/N yang mengalami peningkatan. Reaksi tanah (pH) pada lahan yang diaplikasi herbisida mengalami penurunan sampai minggu ke-16.

PENGARUH BOBOT DAN POSISI BENIH DALAM BUAH PADA PERTUMBUHAN KAKAO (Theobroma cacao L.) DI PEMBIBITAN

Oleh

Edo Ferdiansyah1­, Maria V. Rini2, dan Indarto2

ABSTRAK

Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman kakao adalah dengan menggunakan bibit yang baik, yaitu bibit yang pertumbuhannya sehat, tahan terhadap serangan hama penyakit, dan tahan terhadap kondisi lingkungan. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bibit kakao menjadi bibit yang baik adalah benih yang digunakan sebagai bahan tanaman, yaitu posisi benih dalam buah serta bobot benihnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah benih yang berasal dari posisi yang berbeda dalam buah akan memberikan pertumbuhan bibit kakao yang berbeda; mengetahui apakah peningkatan bobot benih dapat meningkatkan pertumbuhan bibit; dan mengetahui apakah pengaruh posisi benih dalam buah kakao pada pertumbuhan bibit ditentukan oleh bobot benihnya.

Perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan faktorial (3×3) dengan 3 kali ulangan. Setiap satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna. Faktor pertama adalah posisi benih pada buah kakao yang terdiri dari pangkal buah (P1), tengah buah (P2), dan ujung buah (P3). Faktor kedua adalah bobot benih kakao yaitu 1,0—1,2 g (B1), 1,4—1,6 g (B2), 1,8—2,0 g (B3). Setiap unit percobaan diwakili oleh 5 tanaman. Data yang diperoleh diolah dengan uji Bartlett untuk keragaman antarperlakuan dan uji Tukey untuk kemenambahan data. Jika asumsi terpenuhi data selanjutnya dianalisis ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji Beda Nyata Jujur dengan peluang untuk melakukan kesalahan jenis pertama ditetapkan sebesar 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian pada Persemaian menunjukkan bahwa perlakuan posisi benih dalam buah tidak mempengaruhi penampilan kecambah. Pada Pembibitan dapat diketahui bahwa pengaruh posisi benih di dalam buah kakao pada pertumbuhan bibit ditentukan oleh bobot benihnya. Benih dengan bobot tinggi menghasilkan bobot kering berangkasan tertinggi untuk semua posisi benih, tetapi jika benih berbobot sedang, posisi tengah dan ujung lebih baik, dan untuk yang berbobot rendah, posisi tengah menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik.

PENGARUH DOSIS DAN FREKUENSI PEMBERIAN NPK TERHADAP
PERTUMBUHAN VEGETATIF AWAL TANAMAN JERUK
KEPROK SIEM ( Citrus reticulata var. microcarpa)

Oleh
Maryanto1, Widho Hanolo2, dan Rigayah2
ABSTRAK

Untuk menghasilkan buah jeruk dengan kualitas baik diperlukan tanaman jeruk yang memiliki pertumbuhan vegetatif awal yang baik. Pertumbuhan vegetatif awal pada tanaman merupakan fase penting yang mendukung pertumbuhan tanaman jeruk selanjutnya sampai fase produktif. Untuk menghasilkan tanaman jeruk dengan pertumbuhan vegetatif awal yang baik, perlu dilakukan pemupukan secara tepat, guna menjamin ketersediaan unsur hara yang diperlukan dalam proses metabolisme tanaman jeruk. Tanaman jeruk membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup, khususnya unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang dapat dilakukan dengan pemberian pupuk majemuk NPK dengan dosis dan frekuensi pemberian yang tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui pengaruh pemberian dosis NPK yang semakin meningkat terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk. (2) mengetahui pengaruh frekuensi pemberian NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk. (3) mengetahui pengaruh dosis NPK terhadap pertumbuhan awal tanaman jeruk ada frekuensi pemberian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan Way Dadi Sukarame Bandar Lampung pada awal bulan April sampai akhir bulan Juli 2004. Rancangan perlakuan faktorial (5×2) dan setiap perlakuan diterapkan dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama dosis NPK yang terdiri dari 5 taraf yaitu 0 (DO), 10 (D1), 20 (D2), 30 (D3), dan 40 (D4) g/tanaman. Faktor kedua adalah frekuensi pemberian NPK yaitu satu kali pemberian pada saat tanam (F1) dan dua kali pemberian (F2) ½ dosis saat tanam dan ½ dosis satu bulan setelah pemberian pertama. Masing-masing kombinasi perlakuan di ulang 3 kali.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian NPK dengan dosis 20.63 g/tanaman mampu mempercepat waktu pemunculan tunas tanaman jeruk keprok siem. (2) pemberian NPK satu kali saat tanam (Fl) lebih meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan pemberian NPK dua kali (F2). (3) pengaruh dosis NPK tidak tergantung pada frekuensi pemberian NPK pada semua variabel pengamatan.

PENGARUH DOSIS KALIUM NITRAT (KNO3) PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN ANTHURIUM (Anthurium andreanum L. var. Mickey Mouse) POT

Oleh

Yunita Siwi Palupi1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK
Kehadiran bunga pot sebagai penghias ruangan ternyata telah merebak ke berbagai tempat, seperti di gedung-gedung bertingkat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, acara-acara seremonial hingga acara pelepasan suatu produk dari perusahaan tertentu. Salah satu untuk memperbaiki pertumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium dapat dilakukan dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh aplikasi KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium dan (2) Mengetahui dosis KNO3 yang tepat untuk menghasilkan petumbuhan dan pembungaan tanaman anthurium yang terbaik.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah net Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni sampai dengan bulan Oktober 2005. Perlakuan disusun dalam rancangan teracak sempurna (RTS), dengan faktor perlakuan adalah dosis kalium nitrat (KNO3) yang terdiri dari 5 taraf yaitu K0 (0 g/tanaman), K1 (0,1875 g/tanaman), K2 (0,375 g/tanaman), K3 (0,5625 g/tanaman), dan K4 (0,75 g/tanaman). Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap faktor perlakuan terdiri dari 2 pot. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett. Data dianalisis lebih lanjut dengan sidik ragam dan pemisahan nilai tengah Polinomial Ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian KNO3 dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada tinggi tanaman anthurium dan dosis KNO3 yang optimum untuk meningkatkan tinggi tanaman adalah sebesar 0,2946 g/tanaman (2) Pemberian KNO3 tidak dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada jumlah daun, lebar daun akhir, panjang daun akhir, jumlah anakan, dan tingkat kehijauan daun dan tidak dapat meningkatkan pertumbuhan generatif yang meliputi jumlah bunga, panjang tangkai bunga, lebar seludang bunga, panjang seludang bunga, panjang tongkol bunga, waktu muncul bunga, waktu mekar bunga, dan umur pembungaan.

PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3)
TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN
Spathiphyllum wallisii Schott FASE GENERATIF

Oleh

Yuniati Handayani1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Tanaman hias indoor atau dalam ruang sangat banyak jenisnya. Salah satu tanaman indoor yang memiliki daun yang indah serta memiliki bunga yang cantik adalah tanaman spatifilum (Spathiphyllum wallisii Schott). Bunga spatifilum berwarna putih berbentuk seperti sendok dengan tangkai yang panjang. Daunnya memiliki tulang daun yang terlihat dengan jelas, menambah keindahan tanaman spatifilum. Walaupun tanaman ini dapat berbunga, tetapi tidak kontinyu dalam berbunga sehingga perlu dirangsang pembungaannya. Salah satu cara untuk merangsang pembungaannya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi KNO3 yang optimum dalam meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman spatifilum fase generatif. Hipotesis yang diajukan adalah pada kisaran konsentrasi KNO3 1000—4000 ppm akan menghasilkan respon tanaman spatifilum yang optimum dalam meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah net Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Juni 2005—Februari 2006. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) yang terdiri atas 5 taraf konsentrasi KNO3 yaitu 0 ppm, 1500 ppm, 3000 ppm, 4500 ppm, dan 6000 ppm. Setiap taraf konsentrasi perlakuan diulang 4 kali dan setiap satuan percobaan terdiri dari dua sampel pot. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji polynomial orthogonal dan perbandingan orthogonal pada taraf 5% dan 1%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian KNO3 saat fase generatif pada tanaman spatifilum sampai dengan konsentrasi 6000 ppm tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman meliputi tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, dan jumlah daun, tetapi meningkatkan jumlah bunga, mempercepat waktu muncul bunga, memperlambat waktu mekar bunga, memperpanjang masa mekar bunga, panjang tangkai bunga dan panjang seludang bunga.

PENGARUH PEMBERIAN AIR KELAPA DAN BENZILADENIN (BA)
PADA PERTUMBUHAN TUNAS MAWAR (Rosa hybrida tea)
VARIETAS BLUE MOON SECARA IN VITRO

Oleh
Sri Rahayu1, Tri Dewi Andalasari2, dan Setyo Dwi Utomo2
ABSTRAK
Mawar merupakan salah satu komoditas tanaman hias yang populer karena nilai estetikanya yang tinggi. Saat ini permintaan pasar terhadap mawar sangat tinggi terutama sebagai mawar potong, akan tetapi ketersediaan bibit sangat terhambat. Pengadaan tanaman secara konvensional kurang efisien karena tingkat multiplikasi yang rendah. Selain itu serangan penyakit yang disebabkan oleh virus juga merupakan kendala. Untuk menghasilkan tanaman baru dalam produksi bunga potong, teknik okulasi merupakan cara yang paling umum, namun membutuhkan batang bawah yang tepat, keterbatasan sumber mata tunas dan bibit yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu terbatas jumlahnya.
Perbanyakan tunas mawar melalui teknik in vitro untuk penyediaan bibit secara cepat, seragam dan bebas penyakit akan sangat menunjang pengembangan tanaman tersebut.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air kelapa terhadap pertumbuhan tunas mawar pada masing-masing konsentrasi Benziladenin (BA).

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan percobaan faktorial dengan 10 ulangan yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor A (air kelapa) dan faktor B (Benziladenin). Faktor A terdiri dari dua taraf yaitu 0 ml/l (Ak00) dan 100 ml/l (AK100) sedangkan faktor B terdiri dari lima taraf yaitu 0; 0,5; 1; 1,5; dan 2 mg/l.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan pemberian air kelapa 100 ml/l dengan BA 2 mg/l (AK100BA2) merupakan media perlakuan terbaik dalam meningkatkan rata-rata jumlah tunas per eksplan sebesar 1,90 buah dan rata-rata tinggi tunas sebesar 1,51 cm; sedangkan pemberian konsentrasi air kelapa 100 ml/l dan BA 1,5 mg/l (AK100BA1,5) merupakan media perlakuan terbaik dalam meningkatkan jumlah helai daun per eksplan sebesar 11 helai.

PERENCANAAN TATA HIJAU KALIANDA TRADE CENTER
(PUSAT PERBELANJAAN DAN PASAR GROSIR)
KOTA KALIANDA KABUPATEN
LAMPUNG SELATAN

Oleh
Faisal1, Tri Dewi Andalasari2, dan Widho Hanolo2
ABSTRAK
Kota Kalianda merupakan ibukota Kabupaten Lampung Selatan Propinsi Lampung dan sebagai pintu gerbang masuk Pulau Sumatera sekaligus sebagai transito perekonomian. Salah satu usaha untuk menunjang perekonomian dan menambah Pendapatan Asli Daerah adalah pembangunan kawasan khusus perniagaan. Sebagai pusat perbelanjaan yang baru, Kalianda Trade Center (KTC) memerlukan penggarapan maksimal untuk mendukung aktifitas perekonomian dan memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Untuk mengoptimalkan fungsi lingkungan dalam area KTC, diperlukan suatu perencanaan lansekap melalui aspek tata hijau.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2005. Lokasi penelitian terletak di Kalianda Trade Center, Jalan Trans Sumatera Km. 58, Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda, Kota Kalianda. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan lansekap melalui aspek tata hijau dan menciptakan lingkungan yang nyaman dan memberikan nilai estetika pada area KTC. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Gold (1980) yang terdiri dari tahap inventarisasi, analisis dan sintesis, konsep, dan desain.

Hasil perencanaan menunjukkan, tata hijau disesuaikan dengan fungsi dan pemanfaatan ruang yang ditetapkan melalui keterpaduan analisis potensi dan kendala terhadap aspek biofisik kawasan. Perencanaan tata hijau dibagi ke dalam beberapa zona, yaitu : zona pelayanan dan pemanfaatan umum, pintu masuk, dan jalur jalan.

Konsep dasar dari rencana tata hijau KTC adalah peningkatan kualitas lingkungan melalui penataan vegetasi dengan pola penanaman membentuk garis lengkung untuk menciptakan suatu kesan organik dan nuansa alami.

Perencanaan ruang disesuaikan dengan kondisi awal yang telah terbangun. Sarana utilitas direncanakan dalam keterpaduan fungsi dan selaras dengan karakteristik fisik tapak. Rencana jalur sirkulasi meliputi jalur lalu lintas, jalan layang bebas hambatan dan jembatan penyeberangan. Pemilihan jenis vegetasi pada rencana tata hijau berdasarkan fungsi, yang terdiri dari tata hijau yang berfungsi sebagai barriers polutan dan kebisingan, dan peneduh.

PENGARUH DOSIS DAN CARA APLIKASI PUPUK NITROGEN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Oleh
Nelly Andriani1, Sugiatno2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan tanaman penghasil minyak atsiri yang penting peranannya sebagai sumber devisa negara dan pendapatan petani. Tanaman nilam merupakan tanaman yang rakus akan unsur hara, oleh karena itu perlunya dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk nitrogen.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara aplikasi pupuk N pada pertumbuhan tanaman nilam, pengaruh dosis pupuk N terhadap perumbuhan tanaman nilam, dan tanggapan pertumbuhan nilam pada setiap cara aplikasi dengan berbagai dosis pupuk N. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2005 sampai dengan Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) menggunakan rancangan petak terbagi dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah cara aplikasi pemupukan, yaitu dengan cara melingkar dan dibenam. Faktor kedua adalah dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari 4 taraf dosis, yaitu 0, 125, 250, 375 kg/ha. Data dianalisis dengan analisis ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Polinomial Ortogonal 5%.

Hasil penelitian menunjukkan cara aplikasi pupuk nitrogen tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman nilam, pemberian pupuk nitrogen berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman nilam, dan pada cara dibenam penambahan 100 kg dosis N akan menghasilkan diameter batang 0,1 cm, sedangkan pada cara aplikasi melingkar penambahan dosis pupuk N tidak berpengaruh pada diameter batang.

PENGARUH PEMBERIAN SILIKA PADA PERTUMBUHAN AWAL LIMA VARIETAS TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)

Oleh
Iman Wira Pratama1, Indarto2, dan Sarno2
ABSTRAK

Usaha perbaikan dan peningkatan produksi tebu lahan kering dapat dilakukan dengan perbaikan faktor budidaya melalui pemupukan yang tepat dan berimbang serta pemilihan varietas unggul yang tepat. Pemberian silika pada dosis yang optimal serta penggunaan varietas yang tepat diharapkan dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman tebu (Saccharum officinarum L.).
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menentukan tanggapan pertumbuhan awal tanaman tebu yang diberi silika dan tanpa silika; (2) mengetahui varietas yang menghasilkan pertumbuhan awal yang terbaik; dan (3) mengetahui pertumbuhan awal lima varietas tanaman tebu yang terbaik yang diberi silika dan tanpa silika.

Penelitian dilaksanakan di lahan UPT Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai dari bulan Juli 2005 sampai dengan bulan Oktober 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) yang diterapkan dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu tanpa silika (S0), dan dengan silika 15 ton/ha (S1). Faktor kedua yaitu penggunaan bibit tanaman tebu yang terdiri dari lima varietas yaitu GM 23 (V1), GM 21 (V2), GM 25 (V3), PSGM 88 – 5052 (V4), PSGM 92 – 829 (V5). Pengelompokan berdasarkan keseragaman pertumbuhan bibit tebu. Data disidik ragam kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Data dianalisis dengan menggunakan SAS (N.C. Release 6.12, USA).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa silika mempengaruhi tinggi tanaman, tinggi batang, diameter batang, sudut daun, kehijauan daun, panjang akar, dan bobot kering berangkasan. Varietas PSGM 92 – 829 memberikan tanggapan terbaik terhadap pemberian silika pada diameter batang, sudut daun dan bobot kering berangkasan. Pemberian silika dan varietas tebu tidak berpengaruh terhadap jumlah anakan

EFEKTIVITAS KONSENTRASI KITOSAN DALAM TEKNOLOGI MODIFIED ATMOSPHERE PACKAGING UNTUK MEMPERPANJANG MASA SIMPAN DAN MEMPERTAHANKAN MUTU BUAH DUKU (Lansium domesticum Corr.)

Oleh
Dendi Kurnia Abdullah1, Soesiladi Esti Widodo2, dan Kukuh Setiawan2

ABSTRAK
Untuk dapat memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku, Modified Atmosphere Packaging (MAP) merupakan teknologi pengemasan yang dapat dipakai. Dalam penerapannya teknologi pengemasan MAP dapat dikombinasikan dengan kitosan (chitosan) sebagai pelapis buah (fruit coating).

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendapatkan konsentrasi kitosan yang paling efektif dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku, (2) mengetahui efektivitas kitosan dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku pada kondisi tanpa kemasan (di atas piring styrofoam) dan di dalam kemasan kedap udara (chamber).

Penelitian ini menggunakan Rancangan Teracak Sempurna (RTS), dengan perlakuan yang disusun faktorial 6 x 2. Faktor pertama adalah kitosan dengan tiga konsentrasi (1, 1.5, dan 2%) dan tanpa kitosan (kontrol) yang terdiri dari tiga perlakuan (tanpa dicelup, dicelup asam asetat 0,5%, dan dicelup air). Faktor kedua adalah penyimpanan tanpa (piring styrofoam) dan dengan kemasan kedap udara (chamber dengan volume 2064,59 cm3). Masing-masing perlakuan terdiri dari lima ulangan dan setiap kemasan (piring styrofoam dan chamber) diisi 20 buah duku dengan ukuran dan kemasakan yang seragam.

Hasil penelitian menyatakan bahwa (1) di antara aplikasi kitosan dengan konsentrasi 0—2%, konsentrasi 1,5 dan 2% efektif untuk memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah duku cv. ‘Komering’ dan (2) aplikasi kitosan hingga konsentrasi 2% yang disimpan di dalam kemasan kedap udara (chamber) (C3D1) mampu memperpanjang masa simpan buah duku hingga 17 hari atau lebih lama 11,23 hari dibandingkan dengan semua kontrol (baik dengan kemasan maupun tanpa kemasan), namun memiliki mutu (kandungan asam L-askorbat dan tingkat kemanisan) buah duku yang tidak berbeda.

PENGARUH JENIS MEDIA DAN KONSENTRASI BENZILADENIN TERHADAP PERTUMBUHAN ANTHURIUM (Anthurium sp)
SECARA IN VITRO

Oleh

Serly P. Cahya1, Tri D. Andalasari2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Anthurium (Anthurium sp) merupakan famili Araceae yang banyak diminati oleh masyarakat sebagai bunga potong maupun bunga pot. Tanaman ini bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai variasi bunga yang menarik. Secara konvensional, anthurium diperbanyak melalui biji dan pemisahan anakan. Teknik secara konvensional ini mempunyai kelemahan yaitu memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan biji sedangkan jika menggunakan anakan tidak mempunyai ukuran yang seragam dan tidak dapat dihasilkan dalam jumlah yang banyak. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknik perbanyakan alternatif pada anthurium secara cepat dan dalam jumlah yang besar yaitu dengan teknik kultur jaringan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan eksplan anthurium pada dua jenis komposisi media (MS dan Bayfolan) dan mengetahui konsentrasi BA yang dapat meningkatkan jumlah tunas pada kedua jenis media. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (2×3) dalam Rancangan Teracak Sempurna. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 10 ulangan. Satu ulangan ditanam sebanyak 2 eksplan. Data diuji dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan media MS menghasilkan respons pertumbuhan yang paling baik jika dibandingkan dengan media Bayfolan pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah tunas, dan jumlah akar, (2) pada media MS, kenaikan konsentrasi BA dari 0,5 menjadi 1,5 mg/l yang mengandung 0,1 mg/l NAA dapat meningkatkan jumlah tunas tanaman Anthurium dengan nilai rata-rata 3,6 tunas serta terdapat interaksi (media dan BA) pada jumlah daun, jumlah tunas, dan panjang akar.

PENGARUH KONSENTRASI DAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI TANAH PADA PENAMPILAN TANAMAN POT NONA MAKAN SIRIH (Clerodendrum thomsonae Balf.)

Oleh

Yessy Dekasari

ABSTRAK

Tanaman nona makan sirih berpotensi untuk dijadikan tanaman hias pot dengan tinggi sesuai ukuran pot, rimbun, dan berbunga banyak. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membentuk tanaman nona makan sirih sebagai tanaman hias pot adalah menggunakan zat penghambat tumbuh tanaman yaitu paklobutrazol.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan penampilan tanaman nona makan sirih terbaik, (2) Mengetahui frekuensi pemberian paklobutrazol yang menghasilkan penampilan tanaman pot nona makan sirih terbaik, (3) Mengetahui pengaruh konsentrasi paklobutrazol terhadap penampilan tanaman pot nona makan sirih pada masing-masing frekuensi pemberian paklobutrazol.Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan April sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (5×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama; konsentrasi paklobutrazol (C), yaitu 0 ppm (C0), 50 ppm (C1), 100 ppm (C2), 150 ppm (C3), 200 ppm (C4), faktor kedua adalah frekuensi pemberian paklobutrazol (K), yaitu satu kali bersamaan dengan pemangkasan (K1) dan dua kali: pemberian paklobutrazol bersamaan dengan pemangkasan dan pemberian kedua dua minggu setelah pemberian pertama (K2).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan tanaman terbaik pada tanaman nona makan sirih dalam pot adalah konsentrasi 100 ppm, dengan criteria tanaman terlihat pendek, warna daun hijau dan banyak sehingga terlihat rimbun, jumlah cabang banyak, lebar tajuk sesuai ukuran pot (1-1,5 kali), serta memiliki bunga yang banyak, (2) frekuensi pemberian paklobutrazol dua kali lebih efektif dalam mempertahankan penampilan terutama dilihat dari jumlah daun yang lebih banyak dan waktu mekar bunga lebih cepat dibandingkan dengan frekuensi pemberian paklobutrazol satu kali, (3) pengaruh konsentrasi paklobutrazol pada variabel jumlah daun, absisi daun, panjang ruas, lebar tajuk, jumlah tunas produktif, jumlah floret per tangkai bunga, jumlah floret per tanaman, waktu muncul kuncup bunga, waktu mekar bunga, dan waktu rontok bunga tidak bergantung pada frekuensi pemberian paklobutrazol, kecuali pada variabel tinggi tanaman, waktu muncul tunas lateral, jumlah tunas lateral, tingkat kehijauan daun, dan jumlah tangkai bunga, (4) hasil penilaian terhadap penampilan tanaman dengan uji tingkat kesukaan menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol konsentrasi 100 ppm dengan frekuensi pemberian dua kali menghasilkan tanaman yang paling disukai oleh panelis

PENGARUH KONSENTRASI PAKLOBUTRAZOL PADA PENAMPILAN TANAMAN MAHKOTA DURI (Euphorbia milii varietas ‘Splendens’) DALAM POT

Oleh

Dini Oktarisa

ABSTRAK

Tanaman mahkota duri (Euphorbia milii varietas ‘Splendens’) yang dikenal dengan julukan Crown of Thorns termasuk jenis tanaman sukulen. Tanaman ini merupakan tanaman herba dengan pertumbuhan batang yang tinggi, daun yang kurang rimbun, bunga yang tidak seragam, serta didominasi oleh duri-duri tajam. Salah satu cara agar tanaman ini memiliki kriteria di atas yaitu dengan menggunakan zat penghambat tumbuh seperti paklobutrazol.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pakobutrazol yang menghasilkan tanaman Euphorbia milii yang pendek, rimbun, dan dengan bunga yang banyak.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca UPT kebun Universitas Lampung, mulai bulan April hingga Agustus 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Masing-masing perlakuan diulang empat (4) kali dan setiap ulangan terdiri dari 2 tanaman, sehingga total tanaman berjumlah 48 pot. Perlakuan yang diterapkan 6 konsentrasi paklobutrazol yang terdiri dari: 0 ppm (P0), 50 ppm (P1), 100 ppm (P2), 150 ppm (P3), 200 ppm (P4), dan 250 ppm (P5).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol sampai konsentrasi 250 ppm dapat menekan tinggi tanaman dan jumlah tunas, mempercepat waktu muncul tunas, menekan panjang tunas, mempercepat waktu muncul kuncup bunga, dan meningkatkan jumlah bunga per tanaman. Penampilan tanaman yang terbaik menurut panelis yaitu tanaman mahkota duri yang diaplikasi paklobutrazol (0-50 ppm), namun tidak berbeda dengan konsentrasi 100 dan 150 ppm.

PENGARUH PERBEDAAN SUMBER BAHAN ORGANIK SEBAGAI MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN SIRIH MERAH(Piper crocatum Ruiz and Pav.) DALAM POT

Oleh

Meivita Sari Pitoy1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2

ABSTRAK

Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) merupakan tanaman hias yang memiliki warna daun yang menarik yaitu berwarna hijau, pink, dan perak pada permukaan atas daun serta warna merah keunguan pada permukaan bawah daun dan sekaligus berfungsi sebagai tanaman obat. Keunikan corak daun sangat menentukan harga jual sirih merah, oleh karena itu perlu dipertahankan salah satunya dengan cara mencari jenis bahan organik yang paling cocok untuk pertumbuhan sirih merah.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh jenis bahan organik sebagai media tanam pada pertumbuhan tanaman sirih merah, 2) mengetahui jenis bahan organik sebagai campuran media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Desember sampai April 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan perlakuan tunggal tidak terstruktur dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan pada setiap satuan percobaan adalah: serasah bambu (A1), pupuk kandang kambing (A2), serasah flamboyan (A3), arang sekam (A4), pupuk kandang ayam (A5), pupuk kandang sapi (A6) sehingga didapat 36 satuan percobaan. Satuan percobaan dikelompokkan berdasarkan jumlah buku tanaman dengan tiga pengelompokan. Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian campuran jenis bahan organik sebagai media tanam memberikan pengaruh yang nyata pada pertumbuhan sirih merah meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buku, dan panjang ruas pertama. Pemberian campuran serasah flamboyan sebagai media tanam memberikan hasil pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.

PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG DAN INOKULASI Rhizobium
PADA HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) (Effect of Chicken Manure and Rhizobium Inoculation on the Yield of Peanut [Arachis hypogaea L.])

By

Abizar1, Adimihardja2, dan Nurmiaty2

ABSTRACT

The information on the balance between growth and development at certain sites is important to achieve a maximum yield of peanut. The problem was approached by manipulating soil fertility by the means of chicken manure and Rhizobium inoculation on red-yellow podzolic soil placed in polybags. The variety of peanut was Kancil. A 6×2 factorial arrangement of treatments was used where the first factor was chicken manure dosages (0, 10, 20, 30, 40, and 50% w/w) and the 2nd factor was Rhizobium inoculant (0 and 10 V/v). Each treatment combination was replicated three times. The treatments was allocated to polybags in a completely randomized block design.

The responses were observed on plant vegetative growth, plant generative development, and Rhizobium nodule development. Bartlett’s and Tukey tests was used to verify the data assumption underlying the analysis of variance. Test for the difference of responses to Rhizobium was a nested planned F-test and test for the response to chicken manure was a planned-F test for trend analyses. The type one error probability for statistical analyses was 0,01 and 0,05.

The result of the experiment showed that while the chicken manure dosage was increasing, the plant vegetative growth was increasing too but the yield of each plant was increasing at low dosages until maximum dosages, the maximum yield was reached then decreased at high dosages; the Rhizobium inoculant was increasing the growth and yield of peanut; while the chicken manure dosages was increasing, nodulation was increasing at low dosages until optimum dosages after that decreased at maximum dosages; the peanut growth which was inoculated by Rhizobium was better and higher than without inoculated, the maximum yield at the plant which was inoculated was reached at chicken manure low dosages; the optimum dosages at the peanut without inoculated was 33% (0,95% N) with 7,1 gram/plant maximum yield and optimum dosages at peanut which was inoculated was 22% (0,51% N) with 8,3 gram/plant maximum yield

EVALUASI KARAKTER AGRONOMI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) FAMILI F5 KETURUNAN PERSILANGAN
KELINCI DAN FLORIGIANT

Oleh

Adhi Nurhartanto1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Pembentukan suatu varietas yang memiliki komposisi genetik yang unggul menjadi syarat mutlak bagi suatu budidaya tanaman. Perakitan suatu varietas unggul diperoleh dengan menggabungkan sifat-sifat yang diinginkan dari tetua terpilih. Persilangan telah dilakukan antara kacang tanah tipe Virginia dengan tipe Valencia. Tipe Virginia dicirikan oleh sebagian besar tumbuh menjalar, polong berbiji dua dan besar. Tipe Valencia diwakili oleh varietas Kelinci yang telah beradaptasi dengan iklim di Indonesia. Hasil yang diharapkan adalah varietas berdaya hasil tinggi yang memiliki sifat menjalar atau setengah menjalar. Keuntungan sifat menjalar adalah ginofor akan lebih dekat dengan permukaan tanah agar ginofor yang terbentuk akan lebih mudah masuk ke dalam tanah.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakter agronomi famili F5 kacang tanah keturunan persilangan Kelinci dengan Florigiant. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Terdapat sekurang-kurangnya satu famili yang memiliki daya hasil lebih tinggi dari varietas pembanding yang digunakan

Penelitian dilakukan di Kelurahan Gedong Meneng Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung. Bahan yang digunakan adalah lima famili generasi F5 persilangan Kelinci x Florigiant dan empat varietas unggul nasional yaitu Kelinci, Jerapah, Panther, dan Sima. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan dua ulangan.

Famili 21 lebih unggul daripada varietas unggul nasional sebagai pembanding berdasarkan peubah jumlah biji per polong dan lebar 10 polong. Famili 12 lebih baik daripada varietas unggul nasional yang dijadikan pembanding untuk peubah bobot 10 butir dan panjang 10 biji. Nilai ragam genetik yang tinggi pada peubah-peubah generatif menunjukkan seleksi masih dapat dilanjutkan pada generasi berikutnya. Peubah dengan nilai heritabilitas broad-sense tinggi mengindikasikan sifat tersebut memiliki potensi untuk diturunkan ke generasi selanjutnya.

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TUJUH GENOTIPE KEDELAI
(Glycine max [L.] Merr.) DI LAHAN KERING BANDAR LAMPUNG

Oleh

Akhmad Prayitno1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto R. Basoeki2

ABSTRAK

Permasalahan yang dihadapi dalam upaya perluasan areal pertanian, termasuk tanaman kedelai ke lahan-lahan kering di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi adalah tingkat kesuburan yang rendah dan tanah bereaksi asam. Upaya pemecahan masalah dapat ditempuh melalui penyediaan varietas tanaman yang adaptif/toleran pada kondisi lingkungan tersebut dan lebih efisien dalam penggunaan masukan. Varietas unggul diperoleh melalui pemuliaan tanaman yang dapat ditempuh dengan cara mengintroduksikan atau mendatangkan galur atau varietas dari luar negeri; mengadakan seleksi terhadap populasi yang telah ada seperti varietas daerah; dan mengadakan program pemuliaan tanaman dengan cara persilangan, mutasi atau teknik lainnya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakter agronomi tujuh genotipe kedelai di lahan kering. Hipotesis yang diajukan adalah GKUL-1 dan GKUL-2 mempunyai daya hasil yang lebih tinggi dibandingkan varietas Slamet, Burangrang, Tanggamus, Panderman, dan Wilis. Penerapan perlakuan pada satuan percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna. Percobaan terdiri dari tiga ulangan kecuali untuk peubah jumlah polong hampa, jumlah polong isi, dan bobot biji kering per petak menggunakan dua ulangan. Perlakuan adalah genotipe kedelai yaitu genotipe GKUL-1, GKUL-2, Panderman, Tanggamus, Slamet, Burangrang, dan Wilis. Data dianalisis dengan uji Bartlett untuk menguji homogenitas ragam antarperlakuan, uji Tukey untuk sifat kemenambahan pengaruh utama. Setelah asumsi terpenuhi dilakukan analisis ragam. Pemisahan nilai tengah perlakuan dilakukan dengan uji beda nyata jujur. Masing-masing pengujian dilakukan pada tingkat kesalahan α sebesar 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa GKUL-1 memiliki jumlah cabang, bobot kering brangkasan, dan jumlah polong total lebih tinggi daripada genotipe Slamet, Tanggamus, Wilis, Burangrang, dan Panderman. Demikian pula dengan genotipe GKUL-2 menunjukkan jumlah polong isi dan bobot biji per petak lebih tinggi daripada Tanggamus, Wilis, Burangrang, Slamet, dan Panderman dengan perbedaan berturut-turut sebesar 859 kg/ha, 867 kgha, 1.335 kg/ha, 1.722 kg/ha, 2.109 kg/ha.

Seleksi Fenotipik Berulang Sifat Ketahanan
Gugur Bunga Cabai Merah (Capsicum annuum L.)
dengan Faktor Seleksi Kalium

Oleh
Andi Wibowo1, Saiful Hikam2, dan Paul B. Timotiwu2
ABSTRAK
Salah satu kendala dalam pembudidayaan tanaman cabai merah adalah rendahnya produktifitas tanaman cabai merah, sebagai akibat tingkat keguguran bunga cabai merah yang dapat mencapai kisaran 70% dari potensi total pembungaan yang berkembang menjadi buah. Faktor yang mempengaruhi tingkat keguguran bunga pada tanaman cabai merah yaitu faktor fisiologis dan genetik. Usaha untuk mengurangi tingkat keguguran bunga adalah dengan pemupukan kalium, yang diharapkan dapat meningkatkan suplai fotosintat untuk proses pembentukan dan pengisian buah, dan perakitan varietas unggul melalui program pemuliaan tanaman dalam hal ini adalah seleksi fenotipik berulang.

Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mendapatkan galur cabai merah dengan tingkat keguguran bunga kurang dari 70%, (2) untuk mengetahui keragaman tingkat keguguran bunga antargalur cabai merah yang ditanam, (3) untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kalium pada tingkat keguguran bunga tanaman cabai merah.

Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (RPT) dengan dosis kalium sebagai petak utama dan varietas sebagai anak petak. Analisis ragam dilanjutkan dengan analisis komponen ragam untuk menentukan ragam genetik (σ2g) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) berdasarkan teladan Hallauer dan Miranda (1986).

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat keguguran bunga dari varietas Tanjung 19,62%, varietas Blitar 20,06%, varietas Lembang 21,18%, dan varietas Brebes 19,68%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seluruh varietas cabai merah yang ditanam memiliki tingkat keguguran bunga kurang dari 70% dan tidak terdapat keragaman tingkat keguguran bunga antarvarietas cabai merah yang ditanam. Respon tanaman cabai merah dalam hal tingkat keguguran bunga sebagai akibat pemberian pupuk kalium tidak menunjukkan keragaman antarvarietas. Nilai ragam genetik yang rendah ini menyebabkan kecilnya peluang untuk melakukan seleksi pada sifat yang dikehendaki yaitu tingkat keguguran bunga.

PENGARUH PEMBERIAN MIKORIZA PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Oleh

Andratisari1, Agus Karyanto.2, dan. Sunyoto2

ABSTRAK

Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang tanah, yaitu varietas Kancil dan Jerapah maka dilakukan inokulasi cendawan mikoriza arbuskular. Diharapkan kombinasi perlakuan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang tanah.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui dosis mikoriza terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang tanah, (2) mengetahui varietas yang tumbuh dan berproduksi paling baik, dan (3) mengetahui apakah tanggapan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang tanah ditentukan oleh dosis mikoriza yang digunakan. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, Laboratorium Produksi Perkebunan, dan Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung dari bulan Mei sampai Agustus 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 4) dalam rancangan teracak sempurna dengan lima ulangan ditambah dengan dua ulangan yang akan dipanen pada saat tanaman berumur 45 hari. Faktor pertama adalah varietas kacang tanah Kancil dan Jerapah, sedangkan faktor kedua adalah mikoriza dengan berbagai dosis, yaitu 0 g/polibag, 25 g/polibag (± 250 spora), 50 g/polibag (± 500 spora), dan 75 g/polibag (± 750 spora). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett. Bila uji Bartlett tidak nyata, data diolah dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza 0 g/polibag, 25 g/polibag, 50 g/polibag, dan 75 g/polibag tidak memberikan pengaruh pada pertumbuhan dan produksi kacang tanah varietas Kancil dan Jerapah. Polong isi tertinggi diperoleh pada pemberian mikoriza dengan dosis 25 g/polibag pada varietas Kancil dan 50 g/polibag pada varietas Jerapah. Baik varietas Kancil maupun Jerapah menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang tidak berbeda.

KARAKTER AGRONOMI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) FAMILI F5 KETURUNAN PERSILANGAN KELINCI X F393-8

Oleh
Dedy Nandar Dwi Antoro­­­­­1, Setyo Dwi Utomo2, dan Maimun Barmawi2
ABSTRAK

Permintaan komoditas kacang tanah yang semakin meningkat tidak diiringi oleh peningkatan produksi. Penggunaan varietas unggul berdaya hasil tinggi belum sepenuhnya diterapkan oleh produsen kacang tanah, karenanya perakitan varietas unggul berdaya hasil tinggi merupakan langkah strategis untuk memecahkan masalah produktifitas kacang tanah yang rendah.

Penelitian ini bertujuan membandingkan karakter agronomi famili F5 keturunan persilangan antara Kelinci dan F393-8 dengan 3 varietas unggul nasional, serta mengetahui nilai pendugaan ragam genetik dan heritabilitas sifat-sifatnya.

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Gedong Meneng dan Laboratorium Produksi Tanaman Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung sejak bulan Februari hingga Mei tahun 2005. Perlakuan terdiri dari 12 genotipe yaitu 9 famili F5 keturunan persilangan antara F393-8 dan Kelinci dan varietas unggul nasional. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari tiga ulangan. Data diolah menggunakan analisis ragam yang dilanjutkan dengan perbandingan nilai tengah menggunakan uji BNJ a 0,05, ragam genetik, dan heritabilitas.

Hasil penelitian menunjukkan genotipe 7 dan Kelinci unggul terhadap genotipe lain untuk peubah panjang cabang utama, jumlah polong total, jumlah buku terluar, jarak buku subur terluar, besar polong, dan panjang polong. Nilai ragam genetik untuk semua peubah yang diamati nyata, sedangkan nilai heritabilitas sebagian besar peubah tinggi, kecuali pada peubah jumlah buku terluar dan jarak polong terluar dengan cabang utama yang tergolong sedang.

PENGARUH KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) PADA PERBANYAKAN TUNAS ANGGREK ATAU PROTOCORM-LIKE BODIES (PLBs) Phalaenopsis violaceae DARI EKSPLAN POTONGAN
BATANG DAN DAUN SECARA IN VITRO

Oleh

Devina Andiviaty1, Yusnita, dan Sri Ramadiana2

ABSTRAK

Phalaenopsis violaceae merupakan salah satu jenis anggrek spesies dari anggota Orchidaceae. Kelestarian jenis anggrek ini di alam terancam punah. Usaha untuk memperbanyak tanaman anggrek secara konvensional dengan biji membutuhkan waktu yang lama dan kemungkinan besar menghasilkan bibit yang tidak seragam dan berbeda dengan induknya. Teknik perbanyakan klonal in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin (BA) dari konsentrasi 5—15 mg/l dan konsentrasi BA yang terbaik pada multiplikasi tunas aksilar dari eksplan potongan batang dan pembentukan PLBs dari eksplan potongan daun Phalaenopsis violaceae.

Percobaan menggunakan rancangan teracak sempurna (RTS), untuk eksplan yang berasal dari potongan batang dengan lima ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari satu botol kultur masing-masing berisi satu eksplan. Untuk eksplan yang berasal dari potongan daun dengan 34—36 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri dari satu botol kultur masing-masing berisi satu eksplan. Perlakuan terdiri dari lima taraf konsentrasi BA yaitu 5; 7,5; 10; 12,5; dan 15 mg/l. Data yang diperoleh dianalisis ragam dan dilakukan uji lanjut dengan uji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian BA pada konsentrasi 5—15 mg/l menghasilkan multiplikasi tunas aksilar dari eksplan potongan batang dan dapat menginduksi PLBs dari eksplan potongan daun. Konsentrasi 5—15 mg/l BA pada multiplikasi tunas aksilar tidak berbeda satu sama lain saat eksplan berumur 5 bulan setelah tanam dari eksplan potongan batang Phalaenopsis violaceae yaitu sebanyak 2,7—4,3 tunas per eksplan. Konsentrasi 7,5 mg/l BA dapat menginduksi PLBs paling banyak dari eksplan potongan daun Phalaenopsis violaceae yaitu 29 buah PLBs per eksplan saat eksplan berumur 5 bulan setelah tanam.

PENGARUH BERBAGAI ALTERNATIF PEMUPUKAN PADA PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN PRODUKSI TIGA
VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) HIBRIDA

Oleh

Elsa Tresia 1, Kukuh Setiawan2, dan. Agus Karyanto2

ABSTRAK

Produksi jagung (Zea mays L.) di Indonesia terus meningkat, namun guna memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri Indonesia masih melakukan impor jagung. Melalui pertanian organik dan penggunaan benih jagung varietas hibrida akan diperoleh jagung yang memiliki pertumbuhan yang baik, produksi yang tinggi, dan dapat mempertahankan produktivitas lahan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) varietas hibrida yang memberikan pertumbuhan dan komponen produksi terbaik terhadap berbagai alternatif paket pemupukan; (2) paket pemupukan yang menghasilkan pertumbuhan dan komponen produksi terbaik pada tiga varietas jagung hibrida; dan (3) interaksi terbaik antara varietas dan paket pemupukan untuk pertumbuhan dan komponen produksi jagung hibrida.

Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 6) dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan. Faktor pertama varietas: C-7, P-12, dan Bisi-2; faktor kedua pemupukan, yaitu (1) tanpa pemupukan; (2) 300 kg urea/ha, 140 kg SP-36/ha, dan 100 kg KCl/ha; (3) 150 kg urea/ha, 70 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 1,5 ton/ha; (4) 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 3 ton/ha; (5) pupuk kandang sapi 4 ton/ha; dan (6) pupuk kandang sapi 5 ton/ha. Data dianalisis ragam menggunakan SAS release 6.12. Dilakukan uji Tukey untuk membuktikan kemenambahan model. Korelasi antarsifat diuji dengan uji korelasi sederhana Spearman. Pemisahan Nilai Tengah dilakukan dengan uji BNJ 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan varietas tidak berbeda nyata pada pertumbuhan dan komponen produksi terhadap berbagai alternatif paket pemupukan. Pupuk organik dapat menggantikan peran pupuk anorganik sebagai penyuplai hara bagi tanaman jagung. Interaksi antara varietas C-7 dan penggunaan pupuk anorganik 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang sapi 3 ton/ha, terbaik untuk pertumbuhan dan komponen produksi jagung hibrida.

TANGGAPAN PERTUMBUHAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP JENIS MEDIA DASAR DAN PENAMBAHAN
BENZYLADENIN SECARA IN VITRO

Oleh

Irna Nuryani1, Agus karyanto2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah salah satu dari sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri (essential oil) yang ada di Indonesia. Minyak tersebut biasanya digunakan sebagai bahan pengikat (fiksatif) dalam industri parfum dan kosmetika. Secara konvensional, tanaman nilam diperbanyak dengan setek batang. Cara ini relatif mudah, tetapi tergolong lambat. Salah satu alternatif perbanyakan nilam secara cepat dan dalam jumlah besar adalah dengan teknik kultur jaringan atau perbanyakan secara in vitro.

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui tanggapan pertumbuhan eksplan nilam terhadap pemberian pupuk daun sebagai subtitusi unsur hara media dasar MS, dan (2) menentukan kombinasi perlakuan jenis media dasar dan konsentrasi BA yang dapat menghasilkan pertumbuhan eksplan nilam dengan kualitas baik.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (4×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (MS, Hyponex, Gandasil D, dan Bayfolan) dan faktor kedua adalah konsentrasi BA (0 mM dan 5 mM). Masing-masing kombinasi perlakuan memiliki 10 ulangan. Data dianalisis dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pupuk daun Hyponex memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan pupuk daun Gandasil D dan Bayfolan. Unsur hara makro dan mikro dalam pupuk daun Hyponex dapat menjadi pengganti unsur hara makro dan mikro media MS untuk pertumbuhan tanaman nilam, dan (2) media MS lebih baik daripada media pupuk daun Hyponex, Gandasil D, dan Bayfolan. Pemberian BA 5 mM pada media MS menghasilkan jumlah tunas terbaik dengan rata-rata 14,8 tunas pada bulan pertama, 13,7 tunas pada bulan kedua, dan 12,5 tunas pada bulan ketiga.

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogae [L.])
PADA SISTEM TUMPANGSARI DENGAN
UBI KAYU (Manihot esculenta crantz)

Oleh

Maulana Yusuf

ABSTRAK

Budidaya ubi kayu untuk bahan baku industri tepung tapioka di Propinsi Lampung sebagian besar masih bersifat monokultur. Penanaman kacang tanah dengan ubi kayu dalam sistem tumpangsari diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi per satuan luas lahan. Kendala utama yang dihadapi adalah perbaikan di dalam sistem budidaya tumpangsari khususnya pengaturan jarak tanam guna memperoleh hasil produksi kacang tanah yang optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jarak tanam kacang tanah yang terbaik pada sistem tumpangsari dengan tanaman ubi kayu dan (2) Mengetahui pengaruh jarak tanam ubi kayu terhadap pertumbuhan dan hasil kacang tanah dalam sistem tumpangsari dan (3) mengetahui korelasi antar variabel pertumbuhan dan hasil kacang tanah yang dibudidayakan pada sistem tumpangsari dengan ubi kayu.

Penelitian dilaksanakan di desa Bandar Agung, kecamatan Terusan Nunyai, kabupaten Lampung tengah bulan Februari sampai Mei 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 3) dengan Rancangan Petak Terbagi dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RPT-RKTS) dengan tiga ulangan. Petak utama adalah jarak tanam ubi kayu yang terdiri dari 80 x 60 cm (U1), 80 x 80 cm (U2), dan 80 x 100 cm (U3). Anak petak adalah jarak tanam kacang tanah yang terdiri dari 20 x 20 cm (K1), 20 x 30 cm (K2), dan 20 x 40 cm (K3). Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf α 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam kacang tanah 20 x 40 cm merupakan jarak tanam terbaik pada sistem budidaya tumpangsari dengan ubi kayu. Jarak tanam ubi kayu yang ditanam dengan arah barisan Timur – Barat tidak mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kacang tanah. Jumlah cabang dan bobot kering brangkasan berkorelasi positif secara nyata dengan jumlah polong bernas, bobot kering polong, bobot 100 butir biji, dan hasil, tetapi berkorelasi negatif dengan jumlah polong hampa. Peubah tinggi tanaman berkorelasi positif dengan jumlah polong hampa, tetapi berkorelaasi negatif dengan jumlah polong bernas, bobot kering polong, dan hasil polong kering kacang tanah.

UJI KARAKTER AGRONOMI LIMA GENOTIPE KACANG PANJANG (Vigna sinensis L.) UNTUK DISELEKSI
SEBAGAI TETUA

Oleh
Ruli Bahrul Ulum1, Ardian2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Tuntutan permintaan konsumen dan petani terhadap komoditas kacang panjang yang memiliki komponen hasil yang tinggi dan seragam pada karakter kualitatif dan kuantitatif mendorong pengusahaan perakitan benih kacang panjang hibrida.

Seleksi untuk mendapatkan tetua diperlukan dalam proses hibridisasi. Tetua harus memiliki sifat-sifat interes untuk direkombinasi ke dalam zuriat. Berlandaskan hipotesis, akan terdapat sekurang-kurangnya dua genotipe yang memiliki sifat interes terbanyak.

Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kedaton, Bandar Lampung, sejak Juni hingga September 2006. Digunakan lima genotipe sebagai perlakuan, rancangan kelompok teracak lengkap sebagai rancangan perlakuan dengan lima ulangan dan dikelompokkan berdasarkan ulangan. Data dianalis ragam, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur 0,05, analisis kuantitatif genetika dengan perhitungan pendugaan ragam genetik dan heritabilitas broad-sense. Khusus untuk peubah tingkat kemanisan polong hanya digunakan analisis boxplot.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaan antargenotipe yang diuji pada peubah tingkat kehijauan daun, jumlah polong, jumlah cabang bunga, dan tingkat kehijauan polong. Peubah yang memiliki ragam genetik dan heritabilitas yang nyata adalah tingkat kehijauan daun; jumlah polong; jumlah cabang bunga; bobot polong per tanaman dan panjang polong; pangkal polong. Dua genotipe terbaik berdasarkan rekapitulasi kepemilikan sifat interes yang dapat bersifat genetik dan dapat diwariskan adalah Lurik dan Hitam.

UJI ADAPTASI BEBERAPA GENOTIPE SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench.) BERDASARKAN
PERTUMBUHAN DAN HASIL DI BANDAR LAMPUNG

Oleh
Setiawan1, Kukuh Setiawan2, dan Sunyoto2

ABSTRAK

Tanaman sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.) memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan tanaman serealia lainnya, yaitu tahan terhadap kekeringan dan kandungan protein sorgum yang tinggi. Selain itu, tanaman sorgum dapat menghasilkan anakan (ratoon) dan hasilnya dapat menyamai atau bahkan melebihi dari hasil tanaman induknya. Pemanfaatan tanaman sorgum selain digunakan untuk pangan dan pakan juga dapat digunakan sebagai bahan industri khususnya sebagai bahan industri bioetanol yaitu sebagai bahan bakar alternatif (bensin).

Penelitian ini bertujuan sebagai suatu evaluasi terhadap pertumbuhan dan hasil beberapa genotipe sorgum di daerah Bandar Lampung dan untuk menghitung korelasi antara pertumbuhan vegetatif dan generatif yang akan digunakan sebagai kriteria adaptasi.

Perlakuan disusun dalam rancangan kelompok teracak lengkap dengan tiga belas perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah tiga belas genotipe sorgum yaitu genotipe B-100-2, B-90, B-76, B-100-1, Durra, B-75, B-83, B-29, B-69, UPCA-S1, Higari, Mandau, dan ZH-30. Data dianalisis dengan sidik ragam dan apabila F berbeda akan dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) genotipe B-90, B 100-1, B-75, B-29, B-69, UPCA S1, B-83, Mandau dan Higari merupakan genotipe-genotipe yang memberikan hasil yang rendah, sedangkan genotipe B 100-2, B-76, Durra, dan ZH-30 merupakan genotipe-genotipe sorgum yang memberikan hasil yang tinggi baik jumlah biji per malai maupun bobot biji yang tinggi; (2) bobot kering berangkasan berkorelasi positif dengan bobot kering biji per malai; dan (3) genotipe ZH-30 selain memberikan hasil yang tinggi, juga tahan terhadap kerebahan.

RAGAM KERAGAAN DUA POPULASI JAGUNG (Zea mays L.)

HARAPAN UNGGUL LA-4 DAN SEGREGAN LA-WHITE PADA DOSIS KCl PEMBEDA DI TULANG BAWANG

Oleh

Slamet Haryanto Dwi Antoro1, Saiful Hikam2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK
LA-White merupakan segregan, hasil self dari persilangan jagung putih lokal dengan kultivar unggul nasional Srikandi yang diharapkan rekombinasi alel dari kedua tetuanya akan mempunyai variasi genetik yang dapat dijadikan sebagai sifat interest untuk pemuliaan tanaman jagung dengan menjadikannya sebagai sumber tetua baru sedangkan LA-4 merupakan jagung harapan unggul yang belum disetifikasi untuk dilepas menjadi kultivar unggul baru.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui keragaan vegetatif dan generatif jagung harapan unggul LA-4 dan segregan LA-White; (2) menganalisis respon jagung harapan unggul LA-4 dan Segregan LA-White terhadap beberapa dosis pemupukan KCl pembeda; (3) menyusun deskripsi sementara untuk kultivar harapan unggul LA-4 dan segregan LA-White.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Kelompok Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama terdiri atas dosis pupuk KCl: 0 kg/ha, 75 kg/ha, 150 kg/ha, dan 225 kg/ha. Anak petak terdiri atas kultivar jagung: LA-White, LA-4, Srikandi, dan Jaya-3. Data yang diperoleh dianalisis ragam kemudian diuji BNJ untuk mengetahui perbedaan nilai tengah perlakuan pada peluang <5%. Ragam genetik (σ2v) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) dihitung berdasarkan pemisahan komponen ragam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat vegetatif dan generatif keempat kultivar semuanya berbeda yaitu tinggi tanaman, posisi tongkol, jumlah daun, jumlah malai, waktu antesis, waktu reseptif, masak fisiologis, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol, jumlah tongkol panen, bobot biji per tongkol, bobot 100 butir, dan produksil pipilan per ha serta memiliki nilai ragam genetik (σ2v) dan heritabilitas broad-sense (h2BS) yang nyata kecuali bobot 100 butir. Produksi pipilan per ha secara langsung berkorelasi positif nyata dengan waktu antesis, waktu reseptif, masak fisiologis, panjang tongkol, diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol, dan bobot biji per tongkol yang semuanya mempunyai nilai korelasi (r), σ2v dan h2BS yang nyata sehingga berpeluang dipergunakan sebagai faktor seleksi langsung.

PENGGUNAAN FENOKSAPROP-P-ETIL SEBAGAI ZAT PEMACU KEMASAKAN TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
DI LAHAN KERING

Oleh
Sumaryana1, Dad R.J. Sembodo2, dan. Indarto2

ABSTRAK
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) dewasa dengan ketersediaan air yang tinggi akan terus melanjutkan fase vegetatifnya. Fase generatif akan terhambat dan umur tanaman dapat bertambah panjang. Dengan demikian kadar gula dalam batang tebu menurun. Zat Pemacu Kemasakan (ZPK) merupakan senyawa penghambat pertumbuhan. ZPK diharapkan mampu menghambat pertumbuhan vegetatif batang, mempercepat kemasakan, serta menseragamkan kemasakan. Fluazifop-P-butil dan fenoksaprop-P-etil merupakan senyawa kimia golongan ariloksifenoksipropionat yang digunakan sebagai ZPK. Fluazifop-P-butil dan fenoksaprop-P-etil berperan sebagai senyawa yang menghambat biosintesis lipid.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis efektif fenoksaprop-P-etil terhadap peningkatan kualitas nira dan bobot batang tanaman tebu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2005 di PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) Unit Usaha Cinta Manis Sumatera Selatan. Penelitian terdiri atas lima perlakuan yang disusun menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tiga ulangan pada masing-masing perlakuan. Data dianalisis ragam. Keragaman antarperlakuan diuji Bartlett dan kemenambahan model diuji Tukey. Pemisahan nilai tengah dilakukan berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenoksaprop-P-etil yang digunakan sebagai zat pemacu kemasakan mampu meningkatkan kualitas nira dan bobot batang tanaman tebu. Namun, fenoksaprop-P-etil 45 g/ha meningkatkan kualitas nira lebih tinggi yang ditunjukkan oleh nilai brix, pol, dan rendemen pada 3 MSA, serta harkat kemurnian pada 2 MSA dan lebih tinggi dari kontrol. Pada 3 MSA batang tebu masak sehingga pemanenan dapat dilakukan. Pemanenan yang terlalu cepat mengakibatkan kinerja zat pemacu kemasakan belum optimal; sedangkan pemanenan yang terlambat secara tidak langsung dapat menurunkan produksi gula.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) ATAU KINETIN PADA PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF
Sansevieria trifasciata Lorentii IN VITRO

Oleh

Triani Wahyuningsih1, Yusnita.2, dan Sri Ramadiana.2
ABSTRAK

Sansevieria trifasciata L. merupakan tanaman sukulen golongan Agavaceae yang akhir-akhir ini sangat populer. Permintaan dunia akan tanaman hias mencapai 5000 kontainer termasuk di dalamnya permintaan Sansevieria trifasciata L. Perbanyakan secara konvensional belum dapat memenuhi permintaan tersebut. Teknik in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin atau kinetin serta untuk mengetahui konsentrasi yang terbaik terhadap pembentukan tunas adventif pada eksplan potongan daun Sansevieria trifasciata L. Percobaan menggunakan Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan lima ulangan. Setiap perlakuan dalam masing-masing ulangan terdiri dari tiga botol kultur yang masing-masing berisi satu eksplan. Pengaruh berbagai konsentrasi benziladenin (BA) atau kinetin dipelajari secara terpisah, masing-masing terdiri dari lima taraf yaitu 0 mg/l; 0,5 mg/l; 1 mg/l; 2 mg/l; dan 5 mg/l. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan BA pada konsentrasi 1 mg/l yang mampu menginduksi tunas adventif sebanyak 3 tunas pereksplan saat kultur berumur 3 bulan setelah tanam (BST) dan 9 tunas pereksplan saat kultur berumur 4 bulan setelah tanam (BST). Pada perlakuan kinetin diperoleh konsentrasi terbaik pada 0,5 mg/l yang mampu menginduksi tunas adventif sebanyak 1 tunas pereksplan saat kultur berumur 3 BST dan 6 tunas pereksplan saat kultur berumur 4 BST. Untuk variabel panjang tunas adventif tidak dipengaruhi oleh keberadaan BA atau kinetin pada media kultur.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA) PADA PEMBENTUKAN TUNAS ADVENTIF DUA KULTIVAR
Sansevieria trifasciata SECARA IN VITRO

Oleh

Wiry Pungkastiyani1, Yusnita2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Sansevieria (Sansevieria trifasciata) termasuk tanaman hias yang mempunyai penggemar di berbagai masyarakat dunia. Di Indonesia, sejak tahun 2000 permintaan tanaman ini meningkat pesat dan terus meningkat hingga kini. Jenis yang mendominasi adalah pedang-pedangan dan kodok-kodokan. Meningkatnya permintaan tersebut masih belum dapat terpenuhi akibat petani masih menggunakan perbanyakan secara konvesional yang memerlukan waktu dan bahan tanam dalam jumlah yang banyak. Teknik yang mungkin digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah secara in vitro.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian benziladenin (BA) dan mengetahui konsentrasi BA yang terbaik untuk menginduksi terbentuknya tunas adventif pada kedua kultivar tanaman Sansevieria serta menentukan kultivar yang memiliki daya regenerasi tunas lebih baik.

Percobaan dilaksanakan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan lima ulangan. Perlakuan disusun secara faktorial (6×2). Faktor pertama adalah BA dengan enam taraf konsentasi (0; 0,1; 0,25; 0,5; 1; dan 2 mg/l) dan faktor kedua adalah dua kultivar Sansevieria yaitu Sansevieria trifasciata cv. Lorentii dan Sansevieria trifasciata cv. Hahnii. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, apabila hasil uji homogen maka dilanjutkan dengan analisis ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan BNT 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa BA mampu menumbuhkan mata tunas dan tunas pada kultur jaringan tanaman Sansevieria yang berasal dari eksplan potongan daun. Hasil terbaik dalam pembentukan tunas adventif pada eksplan potongan daun kedua kultivar tercapai pada konsentrasi BA 2 mg/l, yang mampu menginduksi mata tunas dan tunas adventif terbanyak dengan rata-rata 10,6 mata tunas dan tunas per eksplan saat kultur berumur 14 minggu setelah tanam. Kedua kultivar Sansevieria yaitu kultivar Hahnii dan Lorentii menunjukkan adanya perbedaan daya regenerasi dalam pembentukan mata tunas dan tunas pada taraf konsentrasi BA yang sama. Kultivar Lorentii yang memiliki daya regenerasi yang lebih baik.

PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA JENIS PUPUK KANDANG PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TIGA VARIETAS
CABAI (Capsicum annuum L.) HIBRIDA

Oleh

Winda Evanori1, M. Syamsoel Hadi2 , dan Tjipto R. Basoeki2

ABSTRAK

Cabai merupakan salah satu jenis sayuran penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada umumnya produktivitas tanaman cabai di Indonesia masih rendah, di antaranya karena faktor iklim, teknik bercocok tanam seperti pengolahan tanah, pemupukan, pengairan, serangan hama dan penyakit, dan masih sedikitnya varietas yang memiliki daya hasil yang tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh pemberian beberapa jenis pupuk kandang pada pertumbuhan dan produksi tanaman cabai hibrida; (2) varietas cabai yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang paling baik; dan (3) pengaruh pemberian pupuk kandang pada pertumbuhan dan produksi pada masing-masing varietas cabai hibrida.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:(1) pemberian pupuk kandang ayam dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang paling baik pada cabai hibrida dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing; (2) terdapat perbedaan respon pertumbuhan dan produksi antarvarietas cabai hibrida; dan (3) terdapat perbedaan respon pertumbuhan dan produksi terhadap pemberian jenis pupuk kandang pada masing-masing varietas yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan di Karang Anyar, Lampung Selatan dari Agustus 2004 sampai Januari 2005.Perlakuan disusun secara faktorial (4×3) dalam RKTS dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis pupuk kandang yaitu tanpa pupuk kandang, pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing, dan pupuk kandang ayam. Faktor kedua adalah varietas cabai hibrida yaitu Lado, Taro, dan Rodeo. Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett, kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan pemisahan nilai tengah dilakukan dengan uji BNJ. Semua pengujian dilakukan pada taraf nyata 5%.

Hasil Penelitian menunjukan:(1) pupuk kandang meningkatkan pertumbuhan namun tidak mempengaruhi produksi cabai. Pemberian pupuk kandang ayam lebih baik dibandingkan dengan pupuk kandang sapi dan kambing berdasarkan variabel tinggi, bobot kering akar, bobot kering batang, bobot kering daun, dan bobot kering daun/10 cm2; (2) varietas Lado dan Taro memberikan produksi lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Rodeo berdasarkan variabel jumlah buah dan bobot buah; dan (3) tanggapan pertumbuhan dan produksi cabai terhadap jenis pupuk kandang tidak bergantung pada varietas yang digunakan.
PENGARUH KONSENTRASI KALIUM NITRAT (KNO3) PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN SEDAP MALAM
(POLYANTHUS TUBEROSE L.)

Oleh

Sisi Bahana Putih1 Widho Hanolo2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Salah satu famili Amarylidaceae yang diusahakan sebagai bunga potong adalah sedap malam (Polyanthus tuberosa L.). Hampir semua lapisan masyarakat memanfaatkan keindahan dan keharuman bunga tersebut sepanjang malam. Bunga sedap malam tergolong bunga potong yang laku di pasaran setelah mawar. Permasalahan yang sering timbul pada pembudidayaan sedap malam adalah pembungaan dan kualitas bunga rendah. Salah satu cara untuk merangsang pembungaan dan meningkatkan kualitas bunganya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan sedap malam dan mengetahui konsentrasi KNO3 yang menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan sedap malam terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah pemberian KNO3 1,5 g/1 — 6 g/1 dapat meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanarnan sedap malam dan dapat menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan sedap malam. Bunga sedap malam memiliki kuntum/tangkai bunga banyak dengan susunan rapat, diameter kuntum lebar, aroma kuat mekar malai bunga lama, umur genjah (umum panen yang relatif pendek), dan produksi cukup tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Oktober 2005 hingga bulan Maret 2006. Perlakuan ini disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan empat kelompok. Faktor perlakuan adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dan lima taraf yaitu Ko (0g/1/kontrol), K1 (1 ,5g/1), K2 (3g/1), K3 (4,5g/1), K4 (6g/1). Setiap faktor perlakuan diulang sebanyak empat kali dan setiap perlakuan terdiri dan dua polibag dan analisis data menggunakan Standar Error of Mean (SE).
Pemberian kaliurn nitrat (KNO3) dengan konsentrasi 0—6 g/l belum mampu meningkatkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman sedap malam pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan, diameter umbi, waktu muncul kuncup malai, jumlah malai per rumpun, panjang malai, diameter tangkai bunga, dan masa mekar bunga tetapi mampu mempercepat waktu pecah malai dan waktu mekar bunga. Pemberian KNO3 pada konsentrasi 1,5 g/l mampu mempercepat waktu pecah malai (7,25 hari) dan waktu mekar bunga (1,5 hari) sejak pecah malai.

TANGGAPAN KAILAN (Brassica oleracea var. Long Leaf) TERHADAP PENGGUNAAN

MULSA SEKAM PADI DAN PEMBERIAN KALIUM

Oleh

Dede Sopyandi

ABSTRAK

Kailan (Brassica oleracea var. Long Leaf) sebagai sayuran daun kaya akan sumber vitamin dan mineral bagi pemenuhan kebutuhan gizi manusia. Upaya peningkatan produksi tanaman kailan tak terlepas dari perbaikan faktor budidaya, salah satunya pemupukan dan penggunaan mulsa.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui respon tanaman kailan terhadap mulsa sekam padi untuk pertumbuhan dan hasil tanaman, (2) mengetahui dosis kalium yang optimal untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kalian, (3) mengetahui interaksi dosis kalium dan pemberian mulsa sekam padi untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kalian.

Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Gunung Batu, Kabupaten Tanggamus, Propinsi Lampung, pada bulan Januari sampai Maret 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) yang diterapkan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah mulsa yang terdiri dari M0 (tanpa mulsa sekam padi) dan M1 (dengan mulsa sekam padi). Faktor kedua adalah kalium terdiri dari 5 taraf dosis yaitu, K1 (150 kg KNO3/ha), K2 (175 kg KNO3/ha), K3 (200 kg KNO3/ha), K4 (225 kg KNO3/ha), dan K5 (250 kg KNO3/ha). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet, sedangkan aditivitas ragam diuji dengan uji Tukey. Uji lanjutan menggunakan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% atau 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemberian mulsa sekam padi menghasilkan peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman kailan pada peubah tingkat kehijauan dan luas daun dibandingkan tanpa mulsa. (2) pemberian kalium hanya berpengaruh nyata terhadap luas daun tidak terhadap peubah lainnya. Pemberian kalium sampai dosis 250 kg KNO3/ha masih meningkatkan luas daun. (3) pemberian kalium bergantung pada penggunaan mulsa sekam padi hanya terhadap peubah luas daun, sedangkan terhadap peubah lain tidak.

PENGARUH KONSENTRASI ATONIK PADA PERTUMBUHAN
SETEK TANAMAN BUAH NAGA [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose]

Oleh

Dini Safitri1, Widho Hanolo2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Buah naga merupakan produk hortikultura yang akhir-akhir ini banyak diminati masyarakat Indonesia. Dalam budidaya secara intensif dibutuhkan bibit tanaman buah naga yang berkualitas dalam jumlah banyak. Salah satu cara untuk mendapatkan bibit tanaman buah naga, adalah setek batang.

Untuk meningkatkan keberhasilan penyetekan dapat digunakan zat pengatur tumbuh, salah satunya Atonik. Atonik merupakan zat pengatur tumbuh yang mengandung bahan aktif senyawa fenol yang mampu meningkatkan aktivitas sintesis IAA pada tanaman. Penggunaan atonik pada perbanyakan tanaman buah naga diharapkan dapat mempercepat terbentuknya akar, dan memperbaiki sistem perakaran tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Atonik pada pertumbuhan setek tanaman buah naga [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose].

Perlakuan disusun secara tunggal dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Satuan percobaan dikelompokkan berdasarkan panjang setek. Perlakuan berdasarkan lima taraf konsentrasi Atonik, yaitu 0% (A0), 0.2% (A1), 0.4% (A2), 0.6% (A3), 0.8% (A4). Masing-masing perlakuan diulang 2 kali. Perbedaan nilai variabel antarperlakuan diketahui dengan melihat galat baku nilai tengah dari data tiap perlakuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Atonik dengan konsentrasi 0—0.8% secara umum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan setek tanaman buah naga. Hal tersebut terlihat dari variabel persentase setek berakar, persentase setek bertunas, jumlah tunas, panjang tunas, dan bobot kering akar yang tidak nyata berpengaruh. Aplikasi Atonik nyata berpengaruh hanya pada waktu muncul tunas.

PENGARUH BEBERAPA MEDIA KOMPOT DAN JENIS PUPUK DAUN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT
ANGGREK Dendrobium antennatum DARI BOTOL

Oleh

Jamaludin1, Sri Ramadiana2, dan Yusnita2

ABSTRAK

Dendrobium antennatum merupakan anggrek spesies asli Indonesia. Bibit anggrek yang dihasilkan melalui kultur jaringan memerlukan proses adaptasi terhadap lingkungan eksternal yang disebut dengan aklimatisasi. Media tumbuh yang digunakan mempengaruhi keberhasilan dalam aklimatisasi. Pemupukan perlu dilakukan untuk memacu pertumbuhan awal tanaman yang diaklimatisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa media kompot dan jenis larutan pupuk serta interaksinya terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum yang berasal dari botol. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai bulan April hingga Agustus 2006. Rancangan disusun dalam rancangan teracak sempurna dengan perlakuan disusun secara faktorial 4×3. Faktor pertama adalah beberapa media kompot yaitu cacahan pakis (A1), arang sekam (A2), serat sabut kelapa (A3), dan campuran antara cacahan pakis dengan arang sekam (A4). Faktor kedua adalah tiga jenis larutan pupuk yaitu Formulasi MS (B1), Hiponex merah (B2), dan GrowMore (B3). Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett. Bila kedua asumsi terpenuhi analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam. Pemisahan nilai tengah dilakukan dengan BNT pada taraf 5 %.
Semua jenis media kompot yang dicobakan memberikan pengaruh yang sama baiknya untuk variabel persentase tanaman hidup (86,67 %—92,22 %), tinggi tanaman (10,35 cm—11,15 cm), jumlah daun (4,01—4,23), jumlah akar (15,83 cm—16,86 cm), jumlah tunas (0,68—0,91), dan rata-rata bobot basah tanaman (2,66 g—2,99 g). Pemberian tiga jenis larutan pupuk yaitu formulasi MS, Hiponex merah, dan GrowMore tidak memberikan pengaruh yang nyata untuk semua variabel terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum yang diaklimatisasi. Pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium antennatum pada masing-masing media tidak dipengaruhi oleh pupuk yang diberikan.

PENGARUH BEBERAPA KOMPOSISI LARUTAN PERENDAM TERHADAP VASE LIFE BUNGA POTONG ANGGREK
(Vanda teres) DALAM VAS

Oleh

Novaria1, Sri Ramadiana2, dan Herawati Hamim2

ABSTRAK

Anggrek Vanda merupakan salah satu jenis anggrek yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bunga potong. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas bunga potong anggrek dengan memperpanjang masa mekar bunga (vase life) bunga tersebut. Vase life dapat diperpanjang dengan menggunakan larutan perendam.

Percobaan dilakukan untuk mendapatkan komposisi larutan perendam dalam vas (holding) yang tepat untuk memperpanjang masa kesegaran bunga potong Anggrek (Vanda teres). Dalam penelitian ini digunakan lima komposisi larutan perendam yang terdiri dari kontrol (akuades); 3% Sukrosa; 3% Sukrosa + 150 ppm asam salisilat; 3%Sukrosa + 25 ppm AgNO3; 3%Sukrosa +
150 ppm asam salisilat + 25 ppm AgNO3.

Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa holding dengan menggunakan larutan 3% sukrosa + 25 ppm AgNO3 memberikan hasil terbaik, yaitu masa kesegaran bunga (vase life) bunga potong mencapai 16 hari (6 hari lebih lama dibandingkan kontrol) dengan persentase kesegaran mencapai 58,7%. Penggunaan larutan perendam sukrosa maupun campuran sukrosa dengan perak nitrat atau asam slisilat dapat memperpanjang masa kesegaran bunga rata-rata hingga 6 hari.

OPTIMASI ENAM JENIS MEDIA PADA PERTUMBUHAN TUNAS NENAS (Ananas comosus) SECARA IN VITRO

Oleh

Raudhah Mardhiyah1, Ardian2, Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Nenas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Untuk skala industri, perbanyakan secara konvensional kurang efektif karena jumlah bibit yang dihasilkan sangat terbatas dan membutuhkan waktu yang relatif lama. Perbanyakan melalui kultur jaringan merupakan metode alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Salah satu komponen yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan tanaman dalam kultur jaringan adalah keadaan media secara fisik, yaitu media padat, media cair, atau modifikasi antara keduanya.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan media terhadap pertumbuhan tunas nenas secara in vitro dan untuk mengetahui pengaruh media cair tanpa shaker terhadap pertumbuhan tunas nenas secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung sejak Juli 2006 sampai November 2006.

Penelitian dilakukan dengan rancangan perlakuan tunggal dalam rancangan kelompok teracak sempurna sebanyak enam perlakuan media, yaitu media cair tanpa shaker, cair dengan penambahan kertas tisu, padat dengan menggunakan agar-agar, media setengah padat menggunakan agar-agar, padat menggunakan agar gel, dan media dua lapis antara media padat agar-agar dan cair. Setiap perlakuan diterapkan dalam 5 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 botol tanaman. Perbedaan nilai variabel antarperlakuan diketahui dengan melihat nilai galat baku nilai tengah (standard error of the mean) dari data setiap perlakuan. Sebaran data setiap perlakuan diketahui dengan analisis boxplot.

Penggunaan enam media perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah dan tinggi tunas nenas, baik pada tahap inisiasi maupun pada tahap subkultur, namun tidak berpengaruh nyata pada tingkat kehijauan daun. Media cair tanpa shaker dengan volume setengah kali tinggi planlet dapat digunakan sebagai pengganti media padat karena mampu menghasilkan tunas terbanyak dengan daun tidak mengalami vitrifikasi. Secara praktis, penggunaan media cair tanpa shaker memiliki beberapa keunggulan, antara lain biaya yang dibutuhkan lebih sedikit, lebih mudah dilakukan, dan pengerjaannya lebih singkat dibandingkan dengan lima media lainnya.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN PEMBERIAN ROOTONE-F
PADA PERTUMBUHAN SETEK TANAMAN BUAH NAGA
DAGING PUTIH [Hylocereus undatus (Haw.)
Britton & Rose]

Oleh

Umi Chairiah1, Widho Hanolo2, M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK
Bibit buah naga [Hylocereus undatus (Haw.) Britton & Rose] sebagai komoditas baru diperlukan untuk meningkatkan usaha produksi buah naga di Indonesia. Tanaman buah naga pada umumnya diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan setek batang, cabang atau sulur. Umumnya akar yang terbentuk pada setek ini jumlahnya sedikit dan tidak terlalu panjang yang akan menyebabkan penyerapan air, unsur hara, dan volume yang kontak dengan akar lebih rendah dan rentan terhadap pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Untuk meningkatkan perkembangan perakaran dapat ditempuh dengan penggunaan bahan organik pada media tumbuh dan pemberian zat pengatur tumbuh.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan setek tanaman buah naga pada media tanam tanpa perlakuan bahan organik dan yang diberi perlakuan bahan organik, (2) perbedaan pertumbuhan setek tanaman buah naga tanpa perlakuan Rootone-F dan yang diberi perlakuan Rootone-F, dan (3) persitindakan antara media tanam dan Rootone-F pada pertumbuhan setek tanaman buah naga.

Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan April 2005 sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun secara faktorial (5 x 2), dengan faktor pertama adalah media tanam, yaitu campuran tanah dan pasir (M0/kontrol), campuran tanah, pasir, dan kotoran ayam (M1), campuran tanah, pasir, dan kotoran sapi (M2), campuran tanah, pasir, dan kotoran cacing (M3), campuran tanah, pasir, dan kompos (M4). Faktor kedua adalah Rootone-F (R1) dan tanpa Rootone-F (R0). Perlakuan.

EVALUASI STATUS UNSUR HARA NITROGEN, FOSFOR, DAN KALIUM DENGAN TEKNIK UJI CEPAT DAN KARAKTER MORFOFISIOLOGI TANAMAN MELON (Cucumis melo L.)

Oleh

Umi Rohmawati1, Agus Karyanto2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu tanaman dari famili cucurbitaceae yang bernilai ekonomi tinggi. Produksi dan kualitas melon dapat ditingkatkan dengan menggunakan varietas unggul dan pemupukan yang tepat dan berimbang. Analisis jaringan tanaman dan analisis tanah merupakan alat untuk menentukan kebutuhan unsur hara yang tepat untuk tanaman. Analisis jaringan tanaman dengan teknik uji cepat bertujuan untuk mendeteksi defisiensi unsur hara pada saat tanaman sedang tumbuh dan untuk mengatasi hidden hunger dengan cepat

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi penggunaan teknik uji cepat analisis jaringan pada daun segar dan membandingkannya dengan teknik konvensional yang menggunakan daun melon (Cucumis melo L.) yang telah dikeringkan, (2) mengetahui karakter morfofisiologi tanaman melon (Cucumis melo L.) yang dipupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk urea, TSP, dan KCl, dan (3) mengetahui mutu buah melon (Cucumis melo L.) yang dipupuk dengan berbagai taraf dosis pupuk urea, TSP, dan KCl.

Perlakuan disusun dalam Perlakuan disusun dalam rancangan perlakuan tunggal terstruktur dengan rancangan percobaan teracak sempurna (RTS). Faktor yang digunakan adalah berbagai taraf dosis urea, TSP, dan KCl yaitu kontrol (P0), 11,5 g urea + 8 g TSP +6,5 g KCl (P1); 23 g urea + 16 g TSP +13 g KCl (P2); 34,5 g urea + 24 g TSP +19,5 g KCl (P3); 46 g urea + 32 g TSP +26 g KCl (P4). Setiap kombinasi perlakuaan terdiri dari 15 polybag. Data dianalisis secara statistika dengan menggunakan uji Fisher (uji F) pada taraf kepercayaan 95% yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada nilai kritis 5%. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan program SAS (SAS System for Windows V6.12.)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) teknik uji cepat analisis jaringan tanaman dengan menggunakan daun segar dapat dijadikan salah satu alternatif untuk pengujian status unsur hara fosfor dan kalium, tetapi tidak untuk pengujian status unsur hara nitrogen pada tanaman melon (Cucumis melo L.), (2) pemberian dosis pupuk urea, TSP, dan KCl meningkatkan diameter batang, tingkat kehijauan daun, kandungan nitrogen, bobot buah, volume buah, kandungan asam bebas, vitamin C, dan tingkat kemanisan buah, dan (3) perlakuan ½ x dosis anjuran (P1) menunjukkan hasil yang cenderung lebih baik pada bobot buah, diameter dan ketebalan buah, kandungan vit. C.

PENGARUH KONSENTRASI PELILINAN PADA PERUBAHAN SIFAT FISIK DAN KIMIA JERUK ’SIAM’
(Citrus reticulata Blanco cv. ‘SIAM’)SELAMA MASA PENYIMPANAN

Oleh

Upi Fitriyanti1, Soesiladi E. Widodo2, M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelilinan dalam memperpanjang masa simpan dan mempertahankan mutu buah jeruk ‘Siam’ serta mengetahui pola dehidrasi (kehilangan air) buah jeruk ‘Siam’ tanpa dan dengan pelilinan pada konsentrasi yang berbeda-beda. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Buah jeruk ‘Siam’ (Citrus reticulata Blanco cv. ‘Siam’) dipanen langsung dari kebun petani di Terbanggi Besar, Humas Jaya, Lampung Tengah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai September 2005. Perlakuan disusun dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan perlakuan konsentrasi pelilinan 0, 6, 12, dan 18% emulsi lilin. Perlakuan tanpa pelilinan (0%) terdiri dari 4 perlakuan: tanpa dicelup air, dicelup air, dan dicelup dengan campuran alkohol dan air (setara dengan emulsi lilin 16 dan 18%).

Percobaan pertama dilakukan untuk mengetahui perubahan sifat kimia dan fisik buah. Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan, dan masing-masing ulangan terdiri dari 6 buah jeruk ‘Siam’. Buah-buah tersebut terus diamati dan diekstraksi setiap 3 hari sekali selama 21 hari. Percobaan kedua dilakukan untuk mengamati pola dehidrasi (kehilangan air). Masing-masing perlakuan terdiri dari 10 buah dan berlaku sebagai ulangan. Pengamatan bobot buah dilakukan setiap hari selama 21 hari. Untuk percobaan pertama, data dianalisis dengan Anova dan dilanjutkan dengan BNT pada taraf nyata 5% menggunakan SAS (Sistem for Windows). Untuk percobaan kedua, data ditampilkan dengan grafik dan dilengkapi dengan persamaan (R2) tertinggi.

Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) Perlakuan pelilinan dengan konsentrasi yang berbeda pada buah jeruk ‘Siam’ tidak mampu memperpanjang masa simpan lebih dari 15 hari penyimpanan, yang ditunjukkan dengan semakin besarnya persentase penyusutan bobot buah dan pengisutan pada hari ke-15 penyimpanan, (2) Perlakuan pelilinan mampu mempertahankan mutu kimia buah jeruk ‘Siam’ yang ditunjukkan dengan tidak adanya pengaruh nyata terhadap kandungan padatan terlarut (ºBrix), asam bebas dan L-askorbat selama penyimpanan, (3) Dari pola penyusutan bobot (dehidrasi), buah jeruk ‘Siam’ yang tanpa perlakuan (kontrol) mengalami pola dehidrasi lebih tinggi dari pada buah yang diberi perlakuan pelilinan. Pada buah yang tanpa perlakuan peningkatan pola dehidrasi dimulai pada hari ke-13 penyimpanan. Sedangkan pada perlakuan pelilinan dimulai pada hari ke-15 penyimpanan.

PENGARUH KONSENTRASI KNO3 PADA KECEPATAN PEMBUNGAAN DAN KUALITAS BUNGA SEDAP
MALAM (Polyanthus tuberosa L.)

Oleh

Yuliana1, Rugayah2, dan Agus Karyanto2

ABSTRAK

Tanaman hias bunga khususnya bunga potong dewasa ini cukup banyak diminati konsumen. Salah satu bunga potong yang banyak diminati adalah bunga sedap malam. Masalah yang sering dihadapi pada bunga sedap malam lokal sebagai bunga potong adalah panjang tangkai, rangkaian floret dan bunganya cepat rontok. Untuk meningkatkan kualitas ini salah satunya adalah dengan pemberian kalium nitrat (KNO3).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi KNO3 dalam meningkatkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam serta mengetahui konsentrasi KNO3 yang tepat untuk menghasilkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam yang terbaik. Hipotesis yang diajukan adalah pemberian KNO3 1,5 g/1—6 g/1 dapat meningkatkan kecepatan pembungaan dan kualitas bunga sedap malam. Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Oktober 2005 sampai dengan bulan Maret 2006. Penelitian diterapkan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan empat kelompok. Faktor perlakuan adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf, yaitu Ko(0g/l), K1(1,5g/l), K2(3g/l), K3(4,5g/l), K4(6g/l). Setiap faktor perlakuan diulang sebanyak 4 kali dan setiap faktor perlakuan terdiri dari dua rumpun yang masing-masing ditanam dalam polybag. Data diuji dengan Standar Error of Means (SE).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kalium nitrat (KNO3) dengan konsentrasi 1,5 g/l dapat meningkatkan waktu pecah malai dan mampu mempercepat waktu mekar bunga, namun untuk meningkatkan kualitas bunga yaitu panjang tangkai bunga dan jarak antarfloret dibutuhkan konsentrasi KNO3 yang lebih tinggi 6 g/l.

ANALISIS AGRIBISNIS TANAMAN OBAT
PADA KEBUN TANAMAN OBAT KARYA TAMA
DI BANDAR JAYA LAMPUNG TENGAH

Oleh

Vina Septanti

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui sistem penyediaan bahan baku dan produksi tanaman obat yang sudah diolah, (2) mengetahui keuntungan usahatani pengolahan tanaman obat, dan (3) mengetahui kegiatan pemasaran dan strategi pemasaran tanaman obat.

Penelitian ini dilakukan pada Kebun Tanaman Obat Karya Tama di Bandar Jaya Kabupaten Lampung Tengah. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja karena Kebun Tanaman Obat Karya Tama merupakan satu-satunya tempat yang mengolahan tanaman obat berupa kapsul, simplesia dan bubuk seduh serta celup. Waktu pengumpulan data dilakukan pada Bulan Januari–Maret 2006.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) bibit yang diusahakan oleh Kebun Tanaman Obat Karya Tama 40 persen dari budidaya sendiri dan 60 persen dari membeli pada petani bibit yang dibeli dari petani berasal dari Metro, Tanggamus, Gunung Lau, dan Ciwideu,(2) usahatani tanaman obat di Kebun Tanaman Obat Karya Tama dihitung dalam satu tahun menguntungkan bagi pengusaha dan layak diusahakan mengingat nisbah antara penerimaan dan biaya tunai (R/C) sebesar 1,60 dan nisbah antara penerimaan dan biaya total (R/C) sebesar 1,03. Pengolahan tanaman obat menjadi produk jenis simplesia, bubuk dan kapsul menguntungkan dengan R/C biaya tunai sebesar 3,25 dan untuk R/C biaya total sebesar 2,35, dan (3) kegiatan pemasaran yang dilakukan Kebun Tanaman Obat Karya Tama meliputi segmentasi pasar, anggaran biaya pemasaran, waktu pemasaran, sedangkan untuk strategi pemasaran Kebun Tanaman Obat Karya Tama menggunakan strategi bauran pemasaran, pada komponen produk belum maksimal karena tidak semua kemasan dilengkapi dengan merk. Untuk analisis marjin pemasaran diperoleh rasio profit pada masing-masing produk sebesar 44,18 untuk simplesia; 56,47 untuk bubuk, dan 5,09 untuk kapsul.

ANALISIS RAGAM GENETIK, HERITABILITAS BROAD-SENSE, DAN KORELASI ANTARSIFAT UNTUK PENETAPAN SELEKSI TIDAK LANGSUNG PADA LIMA LINI INBRED JAGUNG

Oleh
M. Ansori Arsyad1, Saiful Hikam2, dan Denny Sudrajat3.

ABSTRAK

Perakitan lini inbred merupakan dasar untuk menghasilkan benih hibrid maupun benih sintetik secara berkesinambungan. Lini inbred terbentuk bila populasi di self berulang kali, yaitu 6-9 kali. Populasi self akan menghasilkan keragaman genetik yang berbeda antarlini. Keragaman merupakan plasma nutfah yang dapat digunakan untuk seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk analisis antarinbred, analisis σ2g dan h2bs, dan analisis sifat tidak langsung yang dapat dipilih. Hipotesis yang diajukan adalah ada perbedaan antarinbred, terdapat σ2g dan h2bs yang besar, dan ada sifat tidak langsung yang berkorelasi dengan produksi.

Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Politeknik Negeri Lampung. Penelitian menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan empat ulangan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan perbandingan nilai tengah menggunakan uji BNJ5%.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada perbedaan keragaan antarinbred dan keragaman sifat yang dapat diwariskan pada sifat-sifat tinggi tanaman, tinggi relatif tongkol, sudut daun, jumlah daun, jumlah daun di atas tongkol, jumlah malai, diameter tongkol, jumlah baris biji, LPB, dan bobot 100 biji. Inbred UL 3.01 merupakan inbred terbaik, yang diikuti berturut-turut oleh inbred UL 2.03, inbred UL 4.01, inbred UL 1.06, dan inbred UL 1.04. Seleksi tidak langsung tingkat pertama yang berpengaruh langsung terhadap produksi adalah jumlah baris biji dan bobot 100 biji. Tinggi tanaman dan sudut daun secara tidak langsung berpengaruh terhadap produksi melalui pengaruh terhadap bobot 100 biji.

EFIKASI HERBISIDA PARAKUAT PADA GULMA DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Oleh
Niken Apriana1, Dad R.J. Sembodo2, dan Maria Viva Rini 2

ABSTRAK

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas perkebunan yang berkembang cukup pesat dan penyumbang devisa negara yang cukup besar. Gulma merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan hasil tanaman kelapa sawit akibat adanya kompetisi dalam penyerapan hara, air, cahaya, dan ruang tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) efikasi herbisida parakuat dalam mengendalikan gulma di kebun kelapa sawit; (2) perubahan komunitas gulma akibat herbisida parakuat pada kebun kelapa sawit; dan (3) peracunan herbisida parakuat terhadap tanaman kelapa sawit. Hipotesis yang diajukan yaitu (1) herbisida parakuat mampu mengendalikan gulma di kebun kelapa sawit; (2) terjadi perubahan komunitas gulma akibat perlakuan herbisida parakuat; dan (3) herbisida parakuat tidak meracuni tanaman kelapa sawit.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan empat ulangan dan diberikan 7 perlakuan yaitu parakuat 256 g/ha, parakuat 414 g/ha, parakuat 552 g/ha, parakuat 828 g/ha (dalam bentuk Sankuat 276 AS); parakuat pembanding 414 g/ha (dalam bentuk Gramoxone 276 AS); perlakuan penyiangan mekanis; dan kontrol. Data yang diperoleh dirata-ratakan dan diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, data dianalisis ragam dan diuji Tukey untuk menguji kemenambahan model. Bila uji F analisis ragam nyata, dilanjutkan dengan uji BNT 0,05 untuk pemisahan nilai tengah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa herbisida parakuat mampu mengendalikan gulma pada 1, 2, dan 4 MSA untuk tanaman umur 4 tahun dan 1, 2, 4, dan 8 MSA untuk tanaman umur 7 tahun. Pemberian herbisida parakuat mengakibatkan terjadinya perubahan komposisi gulma yang ada pada areal kebun kelapa sawit. Perlakuan herbisida parakuat pada semua taraf dosis tidak menyebabkan terjadinya keracunan pada tanaman kelapa sawit.

EFIKASI HERBISIDA PARAKUAT UNTUK PERSIAPAN LAHAN BUDIDAYA PADI SAWAH (Oryza sativa L.)
TANPA OLAH TANAH

Oleh

Hari Kurniawan1, Herry Susanto2, dan Nanik Sriyani2

ABSTRAK

Padi (Oryza sativa L.) merupakan bahan pangan utama penduduk Indonesia dan sebagian besar padi diproduksi di lahan sawah. Salah satu teknologi yang diterapkan pada budidaya padi sawah yaitu sistem tanpa olah tanah (TOT). Dalam sistem TOT, kehadiran gulma tidak dapat dielakkan. Persiapan lahan sebagai pengganti pengolahan tanah harus dilakukan dengan baik agar tanaman dapat tumbuh bagus dan berproduksi tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas parakuat terhadap pengendalian gulma awal persiapan lahan tanaman padi sawah TOT dan mengetahui pengaruh penggunaan herbisida parakuat sebagai pengganti olah tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah TOT. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna yang diulang 3 kali terdiri dari 9 perlakuan yaitu TOT dengan parakuat 276, 414, 552, 828, dan 1104 g/ha (dalam bentuk Sankuat 276 SL); TOT dengan parakuat 414 g/ha (dalam bentuk Gramoxone 276 AS); Olah Tanah Sempurna (OTS); TOT dengan dibabat; dan kontrol. Data yang diperoleh diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, data dianalisis ragam dan diuji Tukey untuk membuktikan kemenambahan model, kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.

Semua perlakuan herbisida parakuat mampu mengendalikan pertumbuhan gulma sebagai persiapan lahan tanaman padi sawah tanpa olah tanah sampai 3 minggu setelah tanam (MST) meskipun belum seefektif OTS dalam menekan bobot gulma total maupun mempertahankan pertumbuhan padi, semua perlakuan herbisida parakuat tidak berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman padi sawah TOT terutama pada pertumbuhan jumlah tanaman per rumpun dan tinggi tanaman padi hingga 8 MST; dan herbisida parakuat yang diaplikasikan 1 minggu sebelum tanam, secara visual tidak menyebabkan fitotoksisitas (keracunan) tanaman padi sawah.

EFIKASI HERBISIDA PARAQUAT TERHADAP GULMA
PADA LAHAN BUDIDAYA KOPI ROBUSTA
(Coffea canephora var. robusta)

Oleh

Irhamuddin, Dad R.J. Sembodo, dan Sugiatno

ABSTRAK

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan dari sektor pertanian. Salah satu penyebab produksitivitas kopi menurun adalah adanya persaingan tanaman dengan gulma.

Penelitian bertujuan untuk (1) menentukan dosis terbaik herbisida paraquat untuk mengendalikan gulma pada tanaman kopi; (2) mengetahui pengaruh herbisida paraquat terhadap perubahan komunitas gulma pada tanaman kopi; dan(3) mengetahui pengaruh herbisida paraquat terhadap tanaman kopi. Sedangkan hipotesis yang diajukan adalah (1) penggunaan dosis terbaik herbisida paraquat mampu mengendalikan gulma pada tanaman kopi; (2) terjadi perubahan komunitas gulma akibat perlakuan herbisida paraquat lahan tanaman kopi; (3) herbisida paraquat yang digunakan untuk mengendalikan gulma tidak meracuni tanaman kopi.

Penelitian dilaksanakan di lahan perkebunan kopi milik petani di desa Talang Bodong, Kec. Sumber Jaya, Lampung Barat, dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2006. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 4 ulangan yaitu: perlakuan herbisida paraquat dosis 276 g/ha, 414 g/ha, 552 g/ha, 828 g/ha, dan perlakuan herbisida paraquat pembanding dosis 414 g/ha, perlakuan mekanis serta kontrol.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) herbisida paraquat mampu mengendalikan pertumbuhan gulma di areal budidaya tanaman kopi pada 1, 2 dan 4 MSA; (2) gulma dominan pada tanaman kopi yang dapat di kendalikan oleh herbisida paraquat adalah gulma Borreria alata golongan berdaun lebar pada 1, 2 dan 4 MSA dengan dosis 828 g/ha, Synedrella nodiflora golongan berdaun lebar pada 1 dan 2 MSA dengan dosis 276 g/ha. Sedangkan gulma dominan yang tidak dapat di kendalikan adalah Elephantopus scaber golongan berdaun lebar; (3) herbisida paraquat menyebabkan perubahan komunitas gulma pada areal budidaya tanaman kopi, dan (4) herbisida paraquat pada dosis 276–828 g/ha tidak menyebabkan terjadinya keracunan (fitotoksisitas) pada tanaman kopi.

EVALUASI KARAKTER AGRONOMI DAN KETAHANAN TIGA FAMILI SILANG BALIK KEDELAI HASIL PERSILANGAN
WILIS DAN MLG2521 TERHADAP
COWPEA MILD MOTTLE VIRUS

Oleh

Neneng Septin Dwi Murwati1, Maimun Barmawi2, dan Hasriadi M. Akin 3

ABSTRAK

Kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman sumber protein nabati yang penting mengingat kualitas asam aminonya yang tinggi, seimbang, dan lengkap. Salah satu kendala dalam meningkatkan produksi kedelai adalah adanya penyakit mosaik kedelai yang disebabkan oleh Cowpea Mild Mottle Virus. Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu alternatif pengendalian yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit. Untuk mendapatkan varietas unggul perlu dilakukan kegiatan seleksi. Hasil dari kegiatan seleksi tersebut diharapkan akan memperoleh varietas baru yang memiliki daya hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan besarnya ragam genotipe total dan nilai tengah karakter keparahan penyakit, vegetatif, dan generatif tiga famili silang balik kedelai hasil persilangan Wilis dan Mlg2521. Perlakuan disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga kelompok. Pengelompokan didasarkan pada hari pengamatan (hari kerja) yang diulang sebanyak tiga kali. Satuan percobaan yaitu tiga plot/petak tanam yang terdiri atas tiga famili tanaman kedelai yaitu BC1:2 1, BC1:2 3, dan BC1:2 4. Pengamatan dilakukan terhadap seluruh tanaman yang diuji.

Hasil penelitian famili BC1:2 1 memiliki nilai ragam genotipe paling sempit untuk peubah keparahan penyakit serta memiliki nilai tengah yang paling sempit untuk peubah jumlah polong hampa. Nomor-nomor tanaman harapan yang diunggulkan adalah 25, 27, 34, 35, 36, 40, 41, 43, 45, 55, 56, 60, 61, 64, 78, 81, 108, dan 130. Famili BC1:2 3 memiliki ragam genotipe paling luas untuk peubah tinggi tanaman, jumlah cabang, polong bernas, biji sehat, dan bobot 100 butir serta memiliki nilai tengah yang paling sempit untuk peubah keparahan penyakit dan jumlah biji sakit. Nomor-nomor tanaman harapan yang diunggulkan adalah 2, 5, 8, 10, dan 28.

EVALUASI STATUS UNSUR HARA N, P, DAN K DENGAN TEKNIK
UJI CEPAT DAN KARAKTER MORFOFISIOLOGI PADA
TANAMAN CABAI (Capsicum annuum L.)

Oleh
Ricky P. Armando1, Agus Karyanto2, dan M. Syamsoel Hadi2

ABSTRAK

Tanaman cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang penting di Indonesia. Salah satu cara untuk mengetahui tinggi rendahnya produktivitas tanaman semasa di kebun adalah dengan mengambil contoh jaringan untuk dianalisis kandungan haranya. Status hara dalam tanaman dapat diketahui dengan menggunakan teknik uji cepat sebagai alternatif terhadap teknik konvensional.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui apakah analisis jaringan daun dengan teknik uji cepat dapat dijadikan sebagai alternatif teknik konvensional yang menggunakan daun yang telah dikeringkan, (2) mengetahui pengaruh berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai, dan (3) mengetahui pengaruh berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl terhadap mutu hasil tanaman cabai.

Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Juni hingga November 2006. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan terstruktur regresi dalam rancangan percobaan teracak sempurna. Faktor yang digunakan adalah berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl (Tanpa pupuk; 3,4 g urea + 6,6 g ZA, 5 g TSP, dan 5 g KCl; 6,6 g urea + 13,4 g ZA, 10 g TSP, dan 10 g KCl; 10 g urea + 20 g ZA, 15 g TSP, dan 15 g KCl; 13,4 g urea + 26,6 g ZA, 20 g TSP, dan 20 g KCl), dengan jumlah ulangan 3 dan untuk setiap kombinasi perlakuan 15 polybag. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, analisis data dilakukan dengan menggunakan sidik ragam kemudian dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Jujur pada taraf 5%. Selain itu, dilakukan juga uji korelasi antara teknik uji cepat dengan teknik konvensional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik uji cepat analisis jaringan tanaman dapat dijadikan sebagai alternatif teknik konvensional yang menggunakan jaringan daun untuk pengujian nitrogen dan fosfor tetapi tidak untuk pengujian kalium pada tanaman cabai. Pemberian berbagai taraf dosis pupuk urea, ZA, TSP, dan KCl pada perlakuan tanpa pupuk dan dosis rendah dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi cabai pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot buah total, dan bobot buah normal serta dapat meningkatkan mutu hasil yang lebih baik pada variabel ukuran buah dan jumlah buah normal.

KAJIAN UNSUR MIKROLIMAT, SERAPAN Ca, DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) PADA KONDISI NAUNGAN BERBEDA

Oleh

Bese Uliantra1, M. Kamal2, dan M. Syamsoel Hadi3

ABSTRAK

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan bahan pangan yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, karena kacang tanah dapat tumbuh baik di tanah air ini dan dapat dikonsumsi dalam berbagai macam bentuk penganan juga makanan tradisional. Defisit cahaya pada tanaman kacang tanah akan menyebabkan terganggunya proses metabolisme tanaman seperti serapan unsur hara kalsium.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui kondisi unsur mikroklimat di bawah naungan paranet 50 % dan tanpa naungan; (2) mengetahui kandungan kalsium (Ca) varietas kacang tanah pada kondisi naungan paranet 50 % dan tanpa naungan; (3) mengetahui korelasi antara pertumbuhan dan hasil beberapa varietas kacang tanah dengan serapan Ca pada kondisi naungan paranet 50 % dan pada kondisi tanpa naungan.

Perlakuan disusun dalam rancangan petak terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah naungan menggunakan paranet yang terdiri dari dua taraf (N0 = 0 % naungan dan N1 = 50 % naungan). Anak petak adalah varietas kacang tanah yang terdiri dari tiga varietas yaitu V1 = Sima, V2 = Jerapah, dan V3 = Gajah. Setiap satuan percobaan terdiri dari 5 polibag. Data diuji Bartlett untuk homogenitas ragam. Bila homogen, selanjutnya data dianalisis ragam. Bila F hitung berbeda nyata, dilakukan pemisahan nilai tengah dengan uji BNT 5 %. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program MS Excel.

Dari hasil penelitian didapat bahwa (1) pada naungan 0 %, suhu rata-rata harian relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan suhu rata-rata pada kondisi naungan paranet 50 %. Intensitas cahaya matahari dan radiasi matahari relatif lebih tinggi pada kondisi naungan 0 % dibandingkan dengan kondisi naungan paranet 50 %; (2) pada kondisi naungan 0 %, tanaman kacang tanah menunjukkan serapan Ca yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman kacang tanah pada naungan paranet 50 %.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI BENZILADENIN (BA)
PADA PERBANYAKAN TUNAS PISANG AMBON KUNING
(AAA) DAN TANDUK (AAB) SECARA IN VITRO

Oleh

Mochamad Ivan Alisan1, Yusnita2, dan Dwi Hapsoro2

ABSTRAK

Pisang (Musa paradisiaca Linn.) termasuk salah satu buah tropis yang mempunyai potensi besar untuk dikelola secara intensif. Pengembangan produksi pisang dalam skala yang lebih besar tidak mungkin dapat dilakukan tanpa diiringi penyediaan bibit dalam jumlah banyak. Penyediaan bibit yang semakin meningkat belum dapat terpenuhi karena petani masíh menggunakan perbanyakan secara konvensional. Teknik in vitro merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh beberapa konsentrasi benziladenin (BA) dan mendapatkan konsentrasi BA yang menghasilkan tunas terbanyak pada pisang Ambon Kuning dan Tanduk serta menentukan kultivar yang memiliki daya regenerasi tunas lebih tinggi.

Percobaan ini dilaksanakan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan 4 ulangan. Satu unit percobaan terdiri dari sedikitnya 1—3 botol kultur yang masing-masing berisi satu eksplan. Perlakuan disusun secara faktorial. Faktor pertama yaitu 0; 1; 2; dan 5 mg/l. Faktor kedua yaitu Ambon Kuning dan Tanduk. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji Bartlett dan aditivitas model diuji Tukey. Jika homogen maka data disidik ragam dan perbedaan nilai tengah antarperlakuan yang berbeda pada uji F diuji BNT 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BA efektif merangsang perbanyakan tunas pada kultur jaringan pisang dengan eksplan berupa mata tunas dari bonggol. Hasil terbaik dicapai pada konsentrasi 2 mg/l BA yang mampu menghasilkan 6,8 tunas per eksplan pada pisang Ambon Kuning dan 7,3 tunas per ekaplan pada pisang Tanduk. Pisang Ambon Kuning dan Tanduk menunjukkan perbedaan daya regenerasi dalam perbanyakan tunas pada taraf konsentrasi BA yang sama. Pisang Ambon Kuning memiliki daya regenerasi yang lebih tinggi dibandingkan pisang Tanduk.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI KINETIN ATAU PEPTON PADA PERKECAMBAHAN BIJI ANGGREK Dendrobium sp SECARA IN VITRO

Oleh

Rizka Dwi Hidayati

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan, pertama untuk mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi kinetin pada perkecambahan biji anggrek Dendrobium lineale, kedua untuk mengetahui pengaruh beberapa konsentrasi pepton pada perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid secara in vitro, dan untuk menetahui pertumbuhan dan perkembangan protocorm menggunakan media dasar ½ MS (Murashige dan Skoog, 1962). Media tersebut diperkaya dengan MS vitamin, 15% air kelapa, 3% sukrosa, dan sebagai pemadat digunakan 0.7% agar-agar. Pada studi pertama, media ½ MS ditambahkan dengan beberapa konsentrasi kinetin (0 mg/l; 0,5 g/l; 1 mg/l; 2 mg/l), sementara pada studi kedua ditambahkan dengan beberapa konsentrasi pepton (0 g/l; 0,5 g/l; 1 g/l; 2 g/l). Botol selai dengan kapasitas 250 ml digunakan sebagai boto kultur, setiap botol kultur diisi dengan 20 ml media. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Semua kultur diinkubasi pada suhu 27ºC, dengan pencahayaan yang terus menerus menggunakan lampu fluorescent, dengan intensitas cahaya sebesar ±1.000 lux.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 0,5—2 mg/l kinetin pada media ½ MS secara signifikan dapat meningkatkan perkecambahan dan pertumbuhan protocorm anggrek Dendrobium lineale. Pertumbuhan protocorm terbaik ditunjukkan oleh bobot 100 butir protocorm dan persentase protocorm dengan primordia daun pada media dengan penambahan 2 mg/l kinetin pada umur 9 minggu setelah tanam. Pada studi kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 0.5—2 g/l pepton pada media ½ MS juga meningkatkan perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid, yang ditunjukkan oleh meningkatnya bobot 100 butir protocorm dan persentase protocorm dengan primordia daun pada umur 8 minggu setelah tanam dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Walaupun demikian, meningkatnya konsentrasi pepton 0.5—2 g/l tidak diikuti dengan meningkatnya pertumbuhan protocorm. Sehingga penambahan 0,5 g/l pepton pada media merupakan perlakuan yang paling efektif dalam meningkatkan perkecambahan biji anggrek Dendrobium hibrid secara in vitro.

PENGARUH BEBERAPA MACAM PUPUK DAUN
PADA PEMBUNGAAN TUJUH KULTIVAR
ANGGREK Dendrobium

Oleh

Nur Setiyani1, Sri Ramadiana2, dan Yusnita2

ABSTRAK

Anggrek Dendrobium merupakan salah satu tanaman anggrek yang paling banyak diminati masyarakat karena bentuk dan warna bunganya yang beraneka ragam yang memilki fungsi sebagai tanaman hias pot maupun bunga potong. Permintaan pasar semakin tinggi sehingga harus dibarengi dengan ketersediaannya. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembungaan Dendrobium adalah status nutrisi tanaman yang dapat diperbaiki melalui pemupukan.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh tiga macam pupuk daun pada pembungaan anggrek Dendrobium, (2) mengetahui kultivar Dendrobium tertentu yang paling responsif terhadap pemupukan, dan (3) mengetahui apakah terdapat interaksi antara tiga macam pupuk daun dan tujuh kultivar Dendrobium dalam menghasilkan pembungaan.

Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial dalam Rancangan Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama berupa tujuh kultivar Dendrobium (Dendrobium Copper King, Dendrobium Thong Chai, Dendrobium Fatahillah, Dendrobium Daler Gad Red, Dendrobium Novron White, Dendrobium Burana Emerald Fantasi, dan Dendrobium Blue Sapphire) dan faktor kedua berupa tiga jenis pupuk (Hyponex Biru, Biomega, dan Vitabloom Special) dengan dosis 2g/l.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Larutan pupuk Biomega memberikan respons persentase pembungaan yang tertinggi dengan rata-rata persentase pembungaan 83.33%. Pembungaan tanaman tidak dipengaruhi variabel tinggi tanaman, jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru. Kultivar Dendrobium Novron White dan Dendrobium Fatahillah paling responsif terhadap pemupukan pada variabel persentase pembungaan yang mencapai 83.33%–100%. Respons kedua kultivar ini tidak dipengaruhi oleh variabel jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru. Terdapat interaksi antara tiga jenis pupuk daun dan tujuh kultivar Dendrobium yang digunakan pada persentasi pembungaan, jumlah kuntum bunga, dan panjang tangkai bunga, tetapi tidak terdapat interaksi pada tinggi tanaman, jumlah buku, jumlah pseudobulb total, dan jumlah pseudobulb baru.

PENGARUH DOSIS PUPUK NPK DAN PENYEMPROTAN KNO3
PADA PERTUMBUHAN TANAMAN JERUK KEPROK SIAM
(Citrus reticulata) UMUR 2½ TAHUN

Oleh

Andreas O. Sipangkar 1, Widho Hanolo 2, dan Sugiatno 2

ABSTRAK

Pertumbuhan vegetatif tanaman jeruk keprok siam merupakan fase penting untuk meningkatkan produksi buah baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pertumbuhan cabang, batang, dan daun pada fase vegetatif tanaman mampu mendukung pertumbuhan tanaman pada fase generatifnya (produksi). Pemberian pupuk NPK melalui media tanam dan KNO3 melalui daun pada fase vegetatif merupakan salah satu usaha untuk mencukupi kebutuhan unsur hara tanaman jeruk keprok siam.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh: (1) dosis pupuk NPK yang menghasilkan pertumbuhan maksimum pada tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, (2) pemberian KNO3 melalui daun pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, dan (3) pemberian dosis pupuk NPK dan KNO3 pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung mulai bulan Juli 2006 sampai dengan Oktober 2006. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (5×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama dosis pupuk NPK (N), yaitu 0 g/tanaman (N0), 50 g/tanaman (N1), 100 g/tanaman (N2), 150 g/tanaman (N3), dan 200 g/tanaman (N4). Faktor kedua adalah penyemprotan KNO3 (K), yaitu tanpa disemprot (K0) dan dengan disemprot KNO3 4 g/l (K1). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett dan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Kemudian data diolah dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan polinomial ortogonal pada taraf nyata 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pemberian pupuk NPK sampai dosis 200 g/tanaman masih meningkatkan jumlah tunas yang muncul dan dosis NPK 111,72 g/tanaman menghasilkan periode trubus tercepat yaitu selama 16,19 hari, (2) penyemprotan KNO3 tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun, (3) pemberian pupuk NPK sampai dosis 200 g/tanaman dalam meningkatkan tinggi tanaman jeruk keprok siam umur 2½ tahun tergantung pada pemberian KNO3.

PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK PADA PRODUKSI TIGA VARIETAS GLADIOL (Gladiolus hybridus L.)

Oleh

Yuli Astuti

ABSTRAK
Gladiol merupakan tanaman bunga potong yang sangat digemari masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis tinggi, namun produksi rata-rata di Lampung masih rendah. Pengadaan varietas-varietas yang berkualitas baik sesuai dengan permintaan konsumen merupakan yang diprioritaskan untuk pengembangannya. Dalam penelitian ini digunakan tiga varietas gladiol yaitu varietas Ungu, Kaifa, dan Clara. Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman Gladiol adalah dengan pemberian bahan organik.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jenis varietas yang menghasilkan produksi gladiol yang baik (2) mengetahui jenis bahan organik yang menghasilkan produksi tanaman gladiol yang baik (3) mengetahui pengaruh jenis bahan organik pada masing-masing varietas terhadap produksi gladiol.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gunung Terang Kecamatan Tanjung Karang Barat Bandar Lampung, mulai bulan Februari sampai dengan Juli 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (3×4), dengan faktor pertama varietas gladiol, yaitu varietas Ungu (V1), varietas Kaifa (V2), dan varietas Clara (V3). Faktor kedua pupuk kandang, yaitu kotoran sapi (T1), kotoran kambing (T2), kotoran ayam (T3), dan kotoran itik (T4). Seluruh satuan percobaan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Setiap kombinasi perlakuan diulang 5 kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 3 subang gladiol. Petak percobaan dikelompokkan berdasarkan diameter subang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) varietas Kaifa menghasilkan panjang tangkai, jumlah floret, jumlah subang, bobot subang dan diameter subang yang lebih tinggi dibandingkan varietas Ungu dan varietas Clara. (2) tanaman gladiol yang diberi bahan organik yang berasal dari pupuk kandang itik menghasilkan panjang tangkai bunga dan jumlah floret bunga lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang sapi, pupuk kandang kambing dan pupuk kandang ayam. (3) pengaruh jenis bahan organik terhadap produksi gladiol tidak tergantung pada masing-masing varietas.

PENGARUH PEMBERIAN BENZILADENIN (BA) PADA PRODUKSI SUBANG DAN ANAK SUBANG TIGA VARIETAS GLADIOL
(Gladiolus hybridus L.)

Oleh
Fitri Juwita Susanti1, Kushendarto2, dan Niar Numauli2

ABSTRAK

Gladiol merupakan tanaman hias semusim berbentuk herba. Kelebihan bunga gladiol selain dapat bertahan lama juga dapat berbunga sepanjang waktu. Setiap tahun permintaan masyarakat terhadap bunga gladiol semakin meningkat. Untuk memenuhi permintaan tersebut maka diperlukan teknik yang tepat dalam perbanyakan gladiol salah satunya dengan menggunakan zat pengatur tumbuh. Benziladenin (BA) dapat merangsang pembentukan tunas pada subang gladiol dan secara tidak langsung tunas tersebut akan membentuk subang dan anak subang baru yang dapat digunakan sebagai bibit tanaman gladiol.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui varietas gladiol yang menghasilkan subang dan anak subang terbaik, 2) mengetahui konsentrasi BA terbaik yang dapat meningkatkan produksi subang dan anak subang gladiol, 3) mengetahui pengaruh konsentrasi BA dalam meningkatkan produksi subang dan anak subang pada tiga varietas gladiol.

Penelitian dilaksanakan di Gunung Terang Bandar Lampung dari bulan Juli sampai dengan Desember 2006. Perlakuan dirancang dalam faktorial (3×4) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah varietas gladiol yaitu varietas Ungu (V1), varietas Clara (V2), dan varietas Kaifa (V3). Faktor kedua adalah konsentrasi Benziladenin yang terdiri atas 4 taraf yaitu 10 ppm (B1), 20 ppm (B2), 30 ppm (B3), dan 40 ppm (B4). Setiap perlakuan terdiri dari dua tanaman gladiol dan diulang tiga kali. Pengelompokkan berdasarkan ukuran subang gladiol. Analisis statistik dilakukan dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) varietas Kaifa menghasilkan produksi subang terbaik yang ditunjukkan dengan jumlah subang terbanyak. Sedangkan untuk bobot subang, diameter subang, jumlah anak subang, dan bobot anak subang terbaik dihasilkan oleh varietas Ungu, 2) konsentrasi BA 30 ppm dapat meningkatkan produksi subang gladiol yang ditunjukkan pada jumlah subang dan diameter subang terbaik tetapi pemberian BA tidak dapat meningkatkan jumlah anak subang dan bobot anak subang gladiol, 3) konsentrasi BA dalam meningkatkan produksi subang dan anak subang gladiol tidak tergantung pada varietas gladiol.

EFIKASI HERBISIDA FLUAZIFOP BUTYL TERHADAP GULMA PADA KACANG – KACANGAN PENUTUP TANAH DIPERKEBUNAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)

Oleh

Musolli S.1, Darmaisam Mawardi2, dan Sugiatno2

ABSTRAK
Penanaman Legum Cover Crop (LCC) di kebun kelapa sawit Belum Menghasilkan (TBM) bertujuan untuk mengurangi erosi, menjaga kelembaban dan menekan pertumbuhan gulma namun mengalami kendala yang disebabkan adanya gulma. Penggunaan metode kimia dapat menghemat biaya, waktu dan tenaga kerja. Herbisida berbahan aktif fluazifop butyl merupakan herbisida selektif yang mengendalikan gulma rumput tanpa mengganggu tanaman pokok.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui efikasi herbisida fluazifop butyl terhadap pertumbuhan gulma pada kacang-kacangan penutup tanah di perkebunan kelapa sawit tanaman belum menghasilkan (TBM) (2) Mengetahui perubahan komunitas gulma yang terjadi akibat perlakuan herbisida fluazifop butyl pada tanaman kacang-kacangan penutup tanah di lahan tanaman kelapa sawit (3) Mengetahui tingkat keracunan tanaman Legum Cover Crop akibat penggunaan herbisida fluazifop butyl.
Penelitian ini dilakukan di lahan PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Rejosari Natar Lampung Selatan, dari bulan Mei 2005 sampai Agustus 2005. Perlakuan disusun dalam rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan tujuh perlakuan dan empat ulangan. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada tarap 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pada 2, 4, 8 dan 12 MSA secara umum perlakuan herbisida yang di uji tidak mampu menekan pertumbuhan gulma dan terjadi perubahan komposisi gulma pada tanaman kacang-kacangan penutup tanah di perkebunan kelapa sawit.
PENGARUH EKSTRAKSI BENIH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENH DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO
(Theobroma cacao L.)
Oleh
Yudi Apriansyah
ABSTRAK
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas penting yang terus dikembangkan di Indonesia. Saat ini Indonesia telah menduduki peringkat kelima sebagai produsen kakao dunia. Bahkan dimasa yang akan datang Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan mengalami pangsa pasar cukup besar.
Permasalahan yang timbul dalam perbanyakan secara generatif biasanya karena adanya pengaruh lapisan benih kakao (pulp) terhadap perkecambahan biji (Budiarti, 1993). Lapisan pulp di bagian luar benih kakao dapat mengundang kehadiran cendawan dan semut yang dapat menyebabkan kerusakan benih.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode ekstraksi benih yang memberikan pengaruh terbaik pada perkecambahan benih dan pertumbuhan bibit kakao. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan mulai pada bulan Maret sampai dengan Mei 2006.
Perlakuan disusun secara tunggal tak tersutruktur dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS) dengan tiga ulangan. Perlakuan penghilangan pulp (ekstraksi) terdiri dari pencucian dengan air, pencucian dengan larutan kapur 2,5%, digosok dengan abu, digosok dengan tanah, digosok dengan pasir, mengelupas kulit ari dan tanpa perlakuan (kontrol). Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlett, dan respons benih dan bibit terhadap perlakuan dilihat dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan perlakuan ekstraksi melalui penggosokan pasir adalah perlakuan ekstraksi terbaik karena memberikan pengaruh terbaik pada perkecambahan benih kakao (ditunjukkan oleh peubah daya tumbuh dan kecepatan tumbuh) dan pertumbuhan bibit kakao (ditunjukkan oleh peubah tinggi bibit dan panjang akar).
PENGARUH JENIS BAHAN ORGANIK DAN DOSIS PUPUK
NPK PADA PERTUMBUHAN TANAMAN
BUAH NAGA (Hylocereus undatus)
Oleh
Imam Subandi1, Yohannes C. Ginting2, dan Sunyoto2
ABSTRAK
Peningkatan produksi tanaman buah naga (Hylocereus undatus) dapat dilakukan secara ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi dapat dilakukan dengan perluasan areal tanam sedangkan Intensifikasi dapat dilakukan dengan penerapan teknik budidaya yang optimal, antara lain dengan penambahan pupuk, bahan organik, dan pengelolaan air yang baik. Bahan organik dapat meningkatkan hara tanah, mengurangi kepadatan tanah, menambah kemampuan tanah mengikat air, dan meningkatkan kapasitas tukar kation tanah. Selain bahan organik, pemupukan penting untuk dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis bahan organik, dosis pupuk NPK, dan interaksi bahan organik dengan pupuk NPK yang memberikan pertumbuhan maksimum pada tanaman buah naga. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Mei sampai dengan Juli 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (3 x 5) dalam rancangan kelompok teracak lengkap dengan diulang 3 kali. Faktor pertama adalah jenis bahan organik (tanpa bahan organi, limbah industri asam sitrat, dan kotoran ayam) dan faktor kedua dosis pupuk NPK (0, 10, 20, 30, 40 g/tanaman).
Kesamaan ragam antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tekey. Data dianalisis dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal pada taraf 0,01% dan 0,05%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan organik limbah industri asam sitrat memberikan pengaruh yang lebih baik pada penambahan tinggi dan penambahan bobot basah tanaman daripada bahan organik kotoran ayam dan tanpa bahan organik. Peningkatan dosis pupuk NPK sampai dosis 40 g/tanaman meningkatkan penambahan bobot basah tanaman, penampang keliling batang, waktu muncul tunas utama, dan penambahan panjang rata-rata tiga akar. Pengaruh pupuk NPK yang disertai dengan jenis bahan organik mampu mempercepat waktu muncul tunas utama pada dosis 0; 10; dan 30 g/tanaman masing-masing sebesar 8,95 hari; 8,16 hari; dan 4,59 hari atau 48,27%; 50,08%; dan 34,92%.
PENGARUH JENIS MEDIA PENGAKARAN DAN PEMBERIAN
ZAT PERANGSANG AKAR PADA PERTUMBUHAN SETEK
SIRIH MERAH (Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh
Tri Murti1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2
ABSTRAK
Sirih merah selain sebagai tanaman hias eksotik, juga dimanfaatkan sebagai tanaman obat pembasmi penyakit. Untuk memenuhi kebutuhan tanaman sirih merah diperlukan teknik perbanyakan yang cepat dan keberhasilannya tinggi, salah satunya dengan cara setek. Keberhasilan penyetekan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan zat perangsang dan jenis media pengakaran.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh berbagai jenis media pengakaran pada pertumbuhan setek sirih merah, 2) mengetahui pengaruh pemberian Rootone-F pada pertumbuhan setek sirih merah, dan 3) mengetahui pengaruh berbagai jenis media pengakaran pada pertumbuhan setek sirih merah antara yang diberi Rootone-F dan tanpa Rootone-F.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian mulai bulan Juli—Desember 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah faktorial (3×2) dalam RKTS. Faktor pertama jenis media pengakaran yaitu pasir, campuran pasir dan arang sekam, campuran pasir dan serbuk gergaji kayu sengon (1:1). Faktor kedua pemberian zat perangsang akar yaitu tanpa Rootone-F dan dengan Rootone-F 0,5 gram/10 setek. Setiap satuan percobaan diulang tiga kali. Setiap satuan percobaan terdiri dari 10 setek. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji BNT pada taraf 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman setek sirih merah pada media pasir dan campuran media pasir dengan arang sekam waktu muncul tunasnya lebih cepat dibandingkan dengan campuran media pasir dengan serbuk gergaji kayu sengon. Namun periode pembentukan daunnya lebih cepat pada campuran media pasir dengan serbuk gergaji kayu sengon. Pada variabel jumlah akar, panjang akar, jumlah daun, luas daun pertama, jumlah ruas, panjang ruas pertama, panjang sulur, dan persentase setek tumbuh tidak dipengaruhi oleh jenis media pengakaran. Pemberian Rootone-F dalam bentuk bubuk pada penyetekan sirih merah tidak berpengaruh pada semua variabel pengamatan. Pertumbuhan setek sirih merah pada berbagai jenis media pengakaran tidak bergantung pada pemberian Rootone-F.
PENGARUH JENIS SERASAH TANAMAN SEBAGAI CAMPURAN
MEDIA TANAM PADA PERTUMBUHAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.) DALAM POT
Oleh
Tri Rahayu1, Rugayah2, dan Rusdi Evizal2
ABSTRAK
Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) merupakan tanaman obat yang berkhasiat dan eksotik. Ketersediaan sirih merah masih sangat terbatas, masalah budidaya yang utama adalah penggunaan media tanam yang cocok, oleh karena itu digunakan bererapa jenis serasah sebagai campuran media tanam untuk menghasilkan pertumbuhan sirih merah terbaik.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk 1) mengetahui pengaruh jenis serasah sebagai campuran media tanam pada pertumbuhan tanaman sirih merah, 2) mengetahui jenis serasah sebagai campuran media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik.
Peenlitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada bulan Juni sampai Oktober 2006, rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan perlakuan tunggal tidak terstruktur dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Setiap perlakuan diulang empat kali dan setiap ulangan terdiri dari tiga pot tanaman yang berisi satu tanaman sirih merah. Perlakuan yang diterapkan pada setiap satuan percobaan adalah kompos (A1), serasah flamboyan (A2), serasah jerami padi (A3), serasah daun bambu (A4), serasah filicium (A5), dan serasah LCC (A6).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis serasah sebagai campuran media tanam dapat meningkatkan pertumbuhan sirih merah meliputi jumlah daun, jumlah buku, dan panjang ruas ketiga. Penggunaan serasah flamboyan, serasah jerami padi, serasah daun bambu, serasah filicium, dan serasah LCC menghasilkan peningkatan pertumbuhan pada variabel jumlah daun dan jumlah buku yang sama baiknya dibandingkan dengan kompos, namun pada penampilan corak daun, serasah LCC dan flamboyan menunjukkan penampilan yang lebih menarik yaitu pada permukaan atas berwarna hijau tua bercorak merah perak dan permukaan bawah berwarna merah keunguan, dibandingkan dengan serasah yang lainnya.
PENGARUH KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN
DALAM LARUTAN KNO3 TERHADAP PERKECAMBAHAN
BENIH PEPAYA (Carica papaya L.)
Oleh
Komarudin1, Yohannes C. Ginting2, dan Tjipto R. Basoeki2
ABSTRAK

Tanaman pepaya (Carica papaya L.) umumnya diperbanyak dengan benih. Namun, benih pepaya memiliki penghambat perkecambahan yang menunda perkecambahannya. Berbagai faktor penting dapat mempengaruhi tanggapan perkecambahan benih, termasuk perendaman benih dalam larutan kimia. Larutan KNO3 merupakan salah satu bahan kimia yang sering digunakan untuk menstimulasi perkecambahan benih yang dorman maupun tidak serempak.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh KNO3 dalam berbagai konsentrasi dan beberapa lama perendaman terhadap perkecambahan benih pepaya. Variabel pengamatan perkecambahan yaitu daya berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar kecambah, tinggi hipokotil, bobot kering akar, bobot kering hipokotil, dan bobot kering total kecambah.

Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Universitas Lampung di Gedong Meneng pada bulan Juli 2006. Percobaan menggunakan rancangan faktorial 5 x 3 dengan tiga ulangan disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf (0; 2,5; 5; 7,5; dan 10 g/100 ml aquades). Faktor kedua adalah lama perendaman yang terdiri dari 3 taraf (0,5 jam; 6 jam; dan 12 jam). Uji lanjut yang digunakan setelah analisis ragam adalah polinomial ortogonal pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel daya berkecambah, kecepatan berkecambah, keserempakan berkecambah, panjang akar, bobot kering akar, dan bobot kering total, tanggapan perkecambahan benih pepaya terhadap konsentrasi KNO3 bergantung pada lama perendaman. Berdasarkan variabel-variabel tersebut, pada perendaman 6 jam, tanggapan perkecambahan benih masih terus meningkat secara linear seiring dengan meningkatnya konsentrasi KNO3 sampai konsentrasi tertinggi yang diberikan (10%). Pada variabel tinggi hipokotil dan bobot kering hipokotil, tanggapan perkecambahan benih pepaya terhadap konsentrasi KNO3 tidak bergantung pada lama perendaman benihnya. Tinggi hipokotil maksimum sebesar 3,668 cm dicapai pada konsentrasi KNO3 6,127%. Sedangkan bobot kering hipokotil maksimum sebesar 0,0967 g dicapai pada konsentrasi KNO3 5,97%. Perlu penelitian lebih lanjut perlakuan benih papaya menggunakan konsentrasi KNO3 di atas 10% dengan perendaman selama 6 jam untuk mendapatkan perkecambahan yang lebih baik.
PENGARUH KONSENTRASI KNO3 PADA PERTUMBUHAN
DAN PEMBUNGAAN TANAMAN MELATI
(Jasminum sambac) DALAM POT
Oleh
Imawan Yuli Susanto
ABSTRAK
Melati merupakan tanaman hias bunga yang salah satu kriteria keindahannya bila dijadikan bunga pot adalah memiliki bunga yang tidak mudah rontok (bunganya awet). Namun pada tanaman melati biasanya bunga yang sudah mekar hanya bertahan satu hari. Untuk meningkatkan ketahanan waktu mekar bunga salah satunya dicoba dengan aplikasi KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan dan pembungaan tanaman melati pot. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Februari 2006 sampai Juni 2006.
Perlakuan disusun secara terstruktur dengan konsentrasi KNO3 (K) dalam lima taraf : 0 g/l (K0), 1,5 g/l (K1), 3 g/l (K2), 4,5 g/l (K3), dan 6 g/l (K4). Perlakuan diterapkan pada tanaman melati pot dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan empat ulangan. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, sedangkan aditifitas ragam diuji dengan uji Tukey. Data yang telah memenuhi kedua uji tersebut dianalisis dengan analisis ragam, dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal pada taraf nyata 5% dan 1 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi KNO3 sampai 6 g/l dapat meningkatkan jumlah tunas, mempercepat waktu muncul kuncup bunga, meningkatkan waktu mekar bunga, meningkatkan masa pembungaan, dan menambah jumlah bunga per pot secara gemaris. Namun pada panjang tunas, pemberian KNO3 konsentrasi 3,44 g/l sudah menghasilkan tunas terpanjang. Pada variabel tinggi tanaman, lebar tajuk, jumlah tunas produktif dan jumlah bunga per cabang peningkatan konsentrasi KNO3 sampai 6 g/l tidak menunjukan pengaruh nyata.
PENGARUH KONSENTRASI KNO3 UNTUK PERENDAMAN BENIH DAN PENINGKATAN DOSIS PUPUK NPK PADA PERTUMBUHAN
BIBIT PEPAYA (Carica papaya L.)
Oleh
Trianto1, Tjipto R. Basoeki2, dan Yohannes C. Ginting2
ABSTRAK
Perkecambahan dan pertumbuhan benih pepaya umumnya lambat dan tidak serempak. Hal ini berhubungan dengan lapisan kulit benih serta lendir di sekeliling benih dan zat kimia dalam benih yang menghambat perkecambahan. Selain itu bibit pepaya dalam pertumbuhan awalnya sangat membutuhkan ketersediaan unsur hara yang mencukupi. Perendaman benih dalam larutan KNO3 dan pemberian pupuk NPK adalah salah satu upaya memperoleh pertumbuhan bibit pepaya yang maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi KNO3 dalam perendaman benih terhadap pertumbuhan bibit pepaya, (2) Mengetahui dosis NPK yang menghasilkan pertumbuhan maksimum pada bibit pepaya, (3) Mengetahui perbedaan bentuk tanggapan pertumbuhan bibit pepaya terhadap peningkatan dosis NPK pada beberapa konsentrasi KNO3 dalam perendaman benih.
Penelitian ini dilaksanakan pada lahan petani di Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan pada bulan Pebruari sampai Mei 2006. Perlakuan diterapkan dalam rancangan petak terbagi dalam rancangan kelompok teracak sempurna. Faktor A (petak induk) adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri 3 taraf: 50 g/l; 75 g/l ; dan 100 g/l. Faktor B (petak anak) adalah dosis NPK yang terdiri dari 5 taraf: 0; 3 ; 6 ; 9 ; dan 12 g/tanaman. Kesamaan ragam data antarperlakuan diuji dengan uji Barlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data diolah dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan perbandingan dan polinomial orthogonal pada taraf nyata 5% dan 1%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perendaman benih dalam konsentrasi KNO3 75 dan 100 g/l meningkatkan pertumbuhan bibit lebih baik dari konsentrasi 50 g/l dan perendaman benih dalam konsentrasi KNO3 100 g/l meningkatkan pertumbuhan bibit lebih baik dari konsentrasi 75 g/l berdasarkan peubah tinggi bibit, bobot kering tajuk dan bobot kering bibit, (2) Peningkatan dosis NPK sampai dengan dosis 12 g/tanaman belum menghasilkan tanggapan maksimum pada peubah tinggi bibit, jumlah daun, dan diameter batang. Pada peubah bobot kering tajuk dan bobot kering bibit dicapai nilai maksimum masing-masing sebesar 2,80 g dan 3,81 g diperoleh dengan pemberian NPK pada dosis 8,18 g/tanaman dan 9,51 g/tanaman, (3) Tanggapan bibit pepaya dalam luas daun dan bobot kering akar terhadap peningkatan dosis NPK tergantung konsentrasi KNO3. Pemberian KNO3 konsentrasi 100 g/l masih terus meningkatkan pertumbuhan sampai dosis NPK tertinggi (12 g/tanaman) yang diberikan.
PENGARUH MEDIA DASAR DAN PEPTON PADA PERTUMBUHAN
PROTOKORM ANGGREK Phalaenopsis IN VITRO
Oleh
Fitri Yulika1, Dwi Hapsoro2, dan Sri Ramadiana2
ABSTRAK
Perbanyakan anggrek Phalaenopsis atau anggrek bulan secara generatif dapat dilakukan melalui pengecambahan biji secara in vitro. Media MS (Murashige dan Skoog) digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penggunaan modifikasi larutan pupuk lengkap seperti Hyponex dan GrowMore dapat digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penambahan asam amino sebagai sumber nitrogen organik sebagai salah satu komponen media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan kultur. Salah satu sumber nitrogen organik yang dapat digunakan adalah pepton.
Tujuan dari penelitian adalah (1) untuk mengetahui pengaruh larutan pupuk Hyponex dan GrowMore sebagai media alternatif untuk menggantikan penggunaan media ½ MS pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, (2) untuk mengetahui pengaruh pepton terhadap pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara tiga jenis media dasar dan konsentrasi pepton pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (3×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (Hyponex, GrowMore, dan ½ MS) dan faktor kedua adalah pengaruh pepton (0 mg/l dan 2 mg/l). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 8 ulangan. Data dianalisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) larutan pupuk Hyponex dan GrowMore dapat digunakan sebagai media dasar alternatif pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, (2) pemberian pepton dapat meningkatkan bobot basah tanaman, bobot basah akar, bobot basah daun, dan tingkat kehijauan daun pada pertumbuhan protokorm anggrek Phalaenopsis, dan (3) terdapat interaksi antara tiga media dasar dan pepton pada bobot basah tanaman dan bobot basah akar tetapi tidak ada interaksi pada jumlah akar, panjang akar, bobot basah daun, dan tingkat kehijauan daun.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(Mangifera indica. L.) KULTIVAR MANALAGI
Oleh
Flora Handayani1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Bentuk tajuk mangga yang ideal selain indah dipandang juga menentukan produktivitas. Oleh karena itu perlu dipersiapkan sejak awal pertumbuhan salah satunya dengan pemangkasan dan pemberian nutrisi tambahan berupa pupuk KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh beberapa taraf konsentrasi KNO3 pada pertunasan tanaman mangga Manalagi (2) mengetahui pengaruh letak pemangkasan awal pada pertunasan tanaman mangga Manalagi, dan (3) mengetahui pengaruh beberapa taraf konsentrasi KNO3 pada pertunasan tanaman mangga Manalagi antara yang dipangkas pada posisi flush 1 dengan flush 2.
Penelitian telah dilaksanakan di Way Dadi Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai Oktober 2006. Rancangan perlakuan yang digunakan adalah Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS) dengan pola faktorial (2×5) dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah letak pemangkasan yaitu dipangkas pada flush 1 (P1) dan dipangkas pada flush 2 (P2). Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari 5 taraf yaitu: 0, 2, 4, 6, dan 8 g/l. Setiap kombinasi perlakuan ada 2 tanaman sampel sehingga total tanaman 80 batang. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett, kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukan (1) letak pemangkasan awal pada posisi flush 2 hanya dapat meningkatkan lebar tajuk dan pada posisi flush 1 dapat meningkatkan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi (2) pemberian KNO3 4 − 6 g/l dapat meningkatkan panjang tunas, jumlah daun per flush dan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi, dan (3) pemangkasan awal pada posisi flush 1 dengan konsentrasi KNO3 6 g/l dapat meningkatkan jumlah daun total pada tanaman mangga kultivar Manalagi.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3 PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(MANGIFERA INDICA L.) KULTIVAR ARUMANIS
Oleh
Pandu Dewanoto
ABSTRAK
Pembentukan tanaman mangga bertujuan untuk memperoleh kerangka (bentuk) tanaman yang bagus, pendek, dan produktif berbuah. Untuk merangsang pertumbuhan tunas lateral setelah dilakukan pemangkasan awal maka perlu pemberian hara yang berupa KNO3.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh; (1) Letak pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis; (2) Pemberian beberapa konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis; (3) Letak pemangkasan awal terhadap pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Arumanis pada masing-masing konsentrasi KNO3. Rancangan perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5), faktor pertama adalah letak pemangkasan yaitu dipangkas pada flush 1 (P1) dan dipangkas pada flush 2 (P2). Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0= 0 g/l, K1= 2 g/l, K2= 4 g/l, K3= 6 g/l, dan K4= 8 g/l. Penelitian disusun dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 4 ulangan. Kesamaan ragam data diuji dengan uji Bartlett, dan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukan bahwa; (1) Letak pemangkasan awal pada posisi flush 2 pada periode flush I dapat meningkatkan panjang tunas, periode flush, jumlah daun per flush, diameter cabang primer, penambahan tinggi tajuk, lebar tajuk, dan mempercepat waktu pecah mata tunas pada periode flush I, serta meningkatkan jumlah daun per flush, lebar tajuk, dan jumlah daun total pada periode flush II, jika dibandingkan pemangkasan pada posisi flush 1 pada tanaman mangga kultivar Arumanis; (2) Pemberian KNO3 6 − 8 g/l cenderung menekan penambahan tinggi tajuk pada periode flush I tanaman mangga kultivar Arumanis. Aplikasi KNO3 2—4 g/l hasilnya masih sama dengan tanpa pemberian KNO3; (3) Pemangkasan awal pada posisi flush 1 dengan konsentrasi KNO3 2 g/l dapat meningkatkan panjang tunas pada periode flush I dibandingkan dengan konsentrasi KNO3 4 – 8 g/l, tetapi tidak berbeda dengan tanpa KNO3 (0 g/l). Pemangkasan pada posisi flush 2 tidak menunjukkan adanya perbedaan antara yang diaplikasi KNO3 konsentrasi 2 – 8 g/l dengan tanpa KNO3.
PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN KONSENTRASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA
(Mangifera indica L.) KULTIVAR GEDONG
Oleh
Yudi Indawan Sakti1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Untuk mendapatkan bentuk tajuk tanaman mangga yang ideal, rekayasa pembentukan tajuk berupa pemangkaan awal merupakan teknik budidaya yang sering dipakai. Perlakuan pemangkasan awal dapat dikombinasikan dengan aplikasi kalium nitrat (KNO3) sebagai nutrisi yang diaplikasikan melalui daun untuk meningkatkan pertumbuhan tunas tanaman mangga.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Gedong antara yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II, (2) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Gedong yang diberi perlakuan KNO3 dengan beberapa taraf konsentrasi, dan (3) pengaruh pemberian KNO3 pada tanaman mangga Gedong yang dipangkas pada posisi flush I dan posisiflush II.
Penelitian dilaksanakan di Desa Way Dadi, Sukarame, Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2006. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah posisi pemangkasan, yaitu P1 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush I dan P2 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush II. Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0 = 0 g/l, K1 = 2 g/l, K2 = 4 g/l, K3 = 6 g/l, dan K4 = 8 g/l. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, data yang terkumpul dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pemangkasan awal pada posisi flush II lebih mempercepat waktu pecah mata tunas dan memperbesar diameter cabang primer daripada pemangkasan pada posisi flush II, (2) aplikasi KNO3 pada beberapa taraf konsentrasi tidak menyebabkan perbedaan pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Gedong, (3) pengaruh perlakuan pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Gedong tidak bergantung pada aplikasi KNO3, dan (4) tanaman dengan jumlah daun awal minimal 4 helai lebih meningkatkan panjang tunas, diameter cabang primer, penambahan tinggi tajuk, dan lebar tajuk daripada jumlah daun kurang dari 4 helai.
PENGARUH PEMBERIAN KNO3 PADA PERTUMBUHAN TIGA KULTIVAR TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.)
Oleh
Afif Aminudin1, Yohannes C. Ginting2, dan Sugiatno2
ABSTRAK
Bentuk tajuk tanaman mangga dengan percabangan yang banyak dan simetris sulit didapatkan karena adanya dominansi apikal yang menyebabkan tunas lateral menjadi dorman. Salah satu bahan kimia yang dapat digunakan untuk mengakhiri tunas dorman adalah kalium nitrat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pertumbuhan tanaman mangga kultivar Arum Manis, Indramayu, dan Manalagi, (2) pengaruh konsentrasi KNO3 pada pertumbuhan tanaman mangga, dan (3) pengaruh KNO3 pada pertumbuhan tanaman mangga kultivar Arum Manis, Indramayu, dan Manalagi. Penelitian ini menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna dengan tiga ulangan, perlakuan disusun secara faktorial (3 x 5), faktor pertama adalah tiga kultivar mangga yaitu mangga kultivar Arum manis, Indramayu, dan Manalagi. Faktor kedua adalah taraf konsentrasi KNO3, yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 g/l. Data yang terkumpul dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kultivar Arum Manis menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, ditunjukkan oleh waktu muncul tunas, pecah tunas, periode flush lebih cepat, tunas lebih panjang, dan total flush terbanyak. Kultivar Manalagi hasilkan diameter tunas lebih besar, tinggi tanaman, lebar tajuk lebih besar, dan jumlah daun lebih banyak. Sedangkan kultivar Indramayu pertumbuhannya paling lambat, jumlah daun dan tunas lebih sedikit, dan tinggi tanaman lebih pendek, (2) aplikasi 8 g/l KNO3 mampu mempercepat periode flush, meningkatkan jumlah flush, tinggi tanaman, panjang tunas, jumlah daun, dan total flush. Aplikasi 2 g/l KNO3 hanya mampu mempercepat waktu pecah tunas, dan memperluas tajuk, dan (3) pemberian KNO3 dalam meningkatkan jumlah daun dan jumlah mata tunas tergantung pada jenis kultivar. Pada kultivar Arum Manis aplikasi 8 g/l KNO3 menurunkan jumlah daun. Pada kultivar Indramayu aplikasi 8 g/l KNO3 masih menunjukkan peningkatan jumlah daun. Pada kultivar Manalagi Aplikasi 4 dan 8 g/l KNO3 menghasilkan jumlah daun terbanyak.
PENGARUH PUPUK NPK PADA PERTUMBUHAN
DAN PEMBUNGAAN MELATI AIR
(Echinodorus paleafolius)
Oleh
Siti Nuryani1, Rugayah2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK
Dalam membudidayakan tanaman melati air masih banyak kendala yang dihadapi, antara lain penggunaan dosis pupuk yang tepat agar diperoleh kualitas tanaman yang baik. Untuk itu digunakan pupuk NPK yang diharapkan mampu menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan yang maksimum pada tanaman melati ar.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis pupuk NPK yang akan menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan maksimum pada tanaman melati air.
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah peningkatan dosis pupuk NPK sampai pada dosis tertentu mampu menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan yang maksimum pada tanaman melati air.
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar Lampung, mulai bulan Januari sampai dengan Maret 2007.
Rancangan perlakuan disusun secara tunggal terstruktur regresi dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Perlakuan yang diberikan adalah pupuk NPK (15:15:15) yang terdiri dari 5 taraf dosis yaitu P0 = 0 g/tanaman, P1 = 2 g/tanaman, P2 = 4 g/tanaman, P3 = 6 g/tanaman, dan P4 = 8 g/tanaman. Setiap satuan percobaan diulang 3 kali. Pengelompokan dilakukan berdasarkan tinggi tanaman. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Bila asumsi terpenuhi, analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5 %.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pupuk NPK sampai dosis 8 g/tanaman menambah luas daun terlebar dan tingkat kehijauan daun. Untuk pemberian NPK sebanyak 4,54 g/tanaman mampu menambah tinggi tanaman (23,91 cm); 4,11 g/tanaman mampu mempercepat waktu mekar bunga (10,99 hari); 4,12 g/tanaman mampu meningkatkan total kuntum bunga per tanaman (27,19 kuntum); dan 4,47 g/tanaman mampu menambah jumlah tangkai bunga per tanaman (1,87 tangkai).
RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA KERITING
(Lactuca sativa var. crispo) TERHADAP PENGGUNAAN
MULSA SEKAM PADI DAN PEMBERIAN PUPUK KNO3
Oleh
Okri Marwandi
ABSTRAK
Upaya peningkatan produksi tanaman selada keriting tak terlepas dari perbaikan faktor budidaya. Pemberian KNO3 dan teknologi pemulsaan adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas panen selada keriting (Lactuca sativa var. crispo).
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui pengaruh pemberian mulsa sekam padi terhadap kualitas pertumbuhan dan produksi tanaman selada keriting, (2) Menentukan dosis KNO3 yang memberikan pengaruh pertumbuhan dan produksi terbaik bagi tanaman selada keriting, (3) Mengetahui interaksi antara dosis KNO3 dan perlakuan mulsa sekam padi dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman selada keriting.
Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, Propinsi Lampung, pada bulan Juli-Agustus 2006. Perlakuan disusun secara faktorial (2 x 5) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Faktor pertama adalah tanpa mulsa sekam padi (M0) dan dengan mulsa sekam padi setebal 5 cm (M1). Faktor kedua adalah pemberian pupuk KNO3 yang terdiri dari 5 taraf, yaitu 55 kg/ha (K1), 70 kg/ha (K2), 85 kg/ha (K3), 100 kg/ha (K4), dan 115 kg/ha (K5). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pemberian mulsa sekam padi memberikan tanggapan yang lebih baik bagi pertumbuhan dan produksi selada keriting melalui peubah bobot basah, bobot per petak, panjang akar, dan lebar tajuk, dibandingkan tanpa pemberian mulsa sekam padi. (2) Pemberian KNO3 dari dosis 55 kg/ha hingga 115 kg/ha mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi selada keriting melalui peubah panjang akar dengan titik maksimum pada dosis 81,13 kg/ha sebesar 13,91 cm dan lebar tajuk dengan titik maksimum pada dosis 84,65 kg/ha sebesar 30,34 cm. (3) Terdapat persitindakan antara pemberian mulsa dan KNO3 pada peubah bobot basah tanaman pada dosis 55 kg/ha yaitu sebesar 41,33 g (54,39%) dan produksi tanaman per petak pada dosis 55 kg/ha yaitu sebesar 470,00 g (63,09%).
STUDY OF POLYTHYLENE GLYCOL 6000 ABILITY TO DROUGHT SIMULATION ON GERMINATION STAGE OF TWO UPLAND
RICE VARIETIES (ORYZA SATIVA L.)
By
Dwi Yulina
ABSTRACT
The possibility to use polyethylene glycol (PEG) for screening seed of soybean and lowland rice varieties to drought tolerance has been studied. Since the physiological process of germination and ability to grow normally in water stress situation are different, this technique is imperative to be reevaluated.
Two experiments were conducted to evaluate the effectiveness of PEG in the technique at green house and seed science and technology laboratory, respectively. For each experiment a 5×2 factorial arrangement of treatments was used. The first factor was varieties consisted of two varieties of upland rice (Situpatenggang and Batu Tegi) and the second factor at laboratory was five concentration of PEG solution (0%, 5%, 10%, 15%, and 20%) and at green house was five levels soil water content (field capacity [FC], 4/5 FC, 3/5 FC, 2/5 FC, and 1/5 FC). Each treatment combination was replicated three times and applied to experiment unit in a completely randomized block design. Bartlett’s and Tukey tests were used to verify the data assumption underlying the analysis of variance. The responses to upland rice varieties were analysed using nested planned-F test i.e. orthogonal comparisons, while the responses to water stress were a trend analyses i.e. polynomials orthogonal. The type one error probability for statistical analyses were 0,01 and 0,05. The responses of upland rice seeds to PEG or soil water content were observed on seed germination, germination uniformity, germination speed, length of normal seedling, shooth length, root length, dry weight of normal seedling, and root dry weight.
The result of the experiments showed that vigor and viability of two upland rice varieties progressively decreased as concentration PEG increased or soil water content decreased. But, the data had not yet supported that PEG could be used in screening varieties of upland rice to drought tolerance. It needs more studies on the growth and development of plants after germination. It seems that this technique is more applicable for salinity tolerance test.

UJI VIGOR KEKUATAN TUMBUH BENIH EMPAT VARIETAS KEDELAI (Glycine max [L.] Merrill)

PADA MEDIA BERPOLY ETHYLENE GLYCOL (PEG) 6000

Oleh

Puspita Anggriany1, Paul B.Timotiwu2, dan Eko Pramono2

ABSTRAK
Perkecambahan merupakan fase pertumbuhan yang diketahui sensitif terhadap cekaman kekeringan fisiologis. Salah satu cara untuk menyeleksi toleransi tanaman kedelai terhadap cekaman kekeringan fisiologis dengan homogenitas yang lebih tinggi yaitu dengan penggunaan larutan Polyethylene glycol 6000 (PEG). Metode seleksi dengan PEG ini dapat mengetahui toleransi tanaman kedelai terhadap cekaman kekeringan fisiologis melalui parameter vigor kekuatan tumbuh benih. Benih yang toleran terhadap cekaman kekeringan fisiologis akan mengalami penurunan vigor kekuatan tumbuh yang lebih lambat dibandingakan dengan yang rentan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui vigor kekuatan tumbuh benih varietas Anjasmoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media normal dan media dengan PEG 6000; (2) mengetahui perbedaan vigor kekuatan tumbuh benih kedelai antara varietas Anjasmoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media dengan PEG 6000 konsentrasi 15%.
Perlakuan disusun secara faktorial (4×2) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah varietas Anjasmoro (P0), Pangrango (P1), Slamet (P2), dan Tanggamus (P3). Faktor kedua berupa konsentrasi PEG 0% (A0) dan 15% (A1). Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Pengaruh perlakuan dengan sidik ragam dan perbedaan dua nilai tengah diuji dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) vigor kekuatan tumbuh benih kedelai varietas Anjamoro, Pangrango, Slamet, dan Tanggamus pada media dengan PEG 6000 konsentrasi 15% lebih rendah daripada vigor kekuatan tumbuh keempat varietas tersebut pada media tanpa PEG 6000; (2) varietas Tanggamus mempunyai vigor kekuatan tumbuh yang lebih tinggi daripada varietas Anjasmoro, Pangrango, dan Slamet pada konsentrasi PEG 15%.

APLIKASI METODE BIOASSAY UNTUK MENGETAHUI PERGERAKAN HERBISIDA DIURON PADA TANAH LATOSOL COKLAT DAN PODSOLIK MERAH KUNING (PMK)

Oleh
Diky Eksana Sinungan1, Nanik Sriyani2, dan Lazimar Zen2.

ABSTRAK

Keberadaan herbisida sebagai bahan pengendali gulma di lahan pertanian dapat mengalami berbagai proses fisika dan kimia seperti menguap, tercuci atau bergerak bersama resapan air hujan atau air permukaan tanah, atau terurai akibat aktivitas mikroba tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pergerakan dan jumlah herbisida diuron yang bergerak dalam tanah latosol coklat dan Podsolik Merah Kuning (PMK) menggunakan metode bioassay.

Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Riset Laboratorium Gulma Fakultas Pertanian Universitas Lampung sejak bulan November 2004 hingga Februari 2005. Percobaan dilakukan dalam 2 tahap yaitu (1) pembuatan kurva standar tanggap caisim terhadap herbisida diuron dan (2) deteksi pergerakan herbisida diuron. Percobaan kurva standar dilakukan dengan menanam kecambah caisim pada media tanah yang diberi 6 taraf konsentrasi herbisida yaitu: 0 ppm, 0,001 ppm, 0,01 ppm, 0,1 ppm, 1 ppm, dan 10 ppm. Hasil pengamatan dibuat dalam bentuk kurva dan diperoleh persamaan nilai regresi linier sebagai respon caisim terhadap beberapa konsentrasi herbisida diuron. Percobaan selanjutnya adalah deteksi pergerakan herbisida menggunakan kolom berbahan PVC yang diisi tanah setinggi 40 cm yang dibagi dalam empat sub-kolom dengan tinggi masing-masing 10 cm. Setelah aplikasi herbisida pada kolom tanah, pergerakan dan jumlah konsentrasi herbisida diduga berdasarkan regresi kurva standar terpilih.

Hasil penelitian kurva standar menunjukkan bahwa peubah panjang akar caisim menunjukkan respon yang baik terhadap herbisida diuron sehingga dapat digunakan sebagai penduga pergerakan herbisida diuron. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa pergerakan herbisida diuron pada tanah latosol coklat dan PMK dapat terdeteksi hingga kedalaman 10-20 cm. Pada tanah latosol coklat terdeteksi pada 1 MSA dan pada tanah PMK hingga 8 MSA. Pada tanah latosol coklat terdeteksi sebesar 3,22 ppm pada 1 HSA, 1,54 ppm pada 1 MSA, dan pada 2 MSA hanya terdeteksi pada kedalaman 0-10 cm sebesar 1,80 ppm. Pada tanah PMK pada 1 HSA, 1 MSA, 2 MSA, 4 MSA, dan 8 MSA terdeteksi sebesar 3,91 ppm, 3,996 ppm, 2,96 ppm, 3,21 ppm, dan 0,31 ppm. Selanjutnya pada 12 MSA pada tanah PMK bioassay sudah tidak dapat mendeteksi herbisida.

PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI Indole Butyric Acid (IBA) DAN PEMOTONGAN AKAR PADA KEBERHASILAN AKLIMATISASI PLANLET Sansevieria trifasciata MENGGUNAKAN DUA MACAM MEDIA TANAM
Oleh

Puji Sulastiana1, Yusnita2, dan Sri Ramadiana2
ABSTRAK

Sansevieria termasuk salah satu tanaman hias yang hingga saat ini masih disukai oleh para hobiis. Perbanyakan tanaman Sansevieria dapat dilakukan baik secara konvensional maupun dengan teknik kultur jaringan. Planlet Sansevieria yang dihasilkan melalui kultur jaringan memerlukan proses adaptasi terhadap lingkungan eksternal yang disebut dengan aklimatisasi. Pembentukan akar secara ex vitro dapat dirangsang dengan pemberian auksin, contohnya IBA. Media tanam yang digunakan juga mempunyai pengaruh pada perakaran suatu tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cara aklimatisasi planlet Sansevieria ke lingkungan eksternal dan mempelajari pengaruh IBA serta pemotongan akar. Penelitian terdiri dari dua percobaan, yaitu pengaruh pemberian beberapa konsentrasi IBA (percobaan I) dan pengaruh pemotongan akar (percobaan II). Kedua percobaan dilakukan dalam rancangan teracak sempurna (RTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 3 x 2 (Percobaan I) dan faktorial 2 x 2 (Percobaan II). Faktor pertama pada percobaan I adalah konsentrasi IBA (0 ppm, 1000 ppm, dan 2000 ppm) sedangkan pada percobaan II adalah pemotongan akar yaitu akar tidak dipotong dan akar dipotong. Faktor kedua untuk kedua percobaan adalah jenis media tanam yang terdiri atas campuran pasir malang dan arang sekam dan campuran pasir malang dan kompos. Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett. Bila asumsi terpenuhi dilanjutkan dengan sidik ragam dan apabila hasil uji F nyata maka dilakukan uji lanjut dengan uji BNT pada taraf 5% dan 10%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian IBA efektif untuk merangsang pertumbuhan akar pada planlet S. trifasciata; (2) persentase tanaman yang hidup pada percobaan I dan II cukup tinggi, yaitu 95,8% dan 100%; (3) IBA 2000 ppm menghasilkan jumlah akar primer, sekunder, panjang akar, serta bobot basah akar yang paling tinggi; (4) campuran kompos dan pasir malang lebih baik daripada campuran arang sekam dan pasir malang untuk variabel jumlah akar sekunder, panjang akar, dan bobot basah akar; (5) pengaruh konsentrasi IBA pada daya hidup dan pertumbuhan akar planlet S. trifasciata tidak ditentukan oleh kedua media tanam yang digunakan; (6) planlet yang akarnya tidak dipotong menghasilkan daya hidup tanaman yang sama tingginya dengan yang akarnya dipotong.

PENGARUH DOSIS LIMBAH PADAT PENYULINGAN NILAM TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL DUA VARIETAS NILAM (Pogostemon cablin Benth.)
Oleh
Alfian Saputra1, Rusdi Evizal2, dan Indarto2

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui pengaruh varietas dan dosis terhadap pertumbuhan awal nilam, juga pengaruh interaksi dua varietas nilam dengan dosis limbah padat nilam terhadap pertumbuhan awal nilam.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan Laboratorium Produksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Februari sampai dengan Mei 2007. Perlakuan diterapkan dalam rancangan perlakuan faktorial (2×4) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah varietas yaitu A0 (varietas lokal), A1 (varietas tapak tuan) dan faktor kedua adalah dosis pupuk limbah padat yaitu B0 (limbah padat 0 ton/hektar atau 0 g/polybag), B1 (limbah padat 10 ton/hektar atau 25 g/polybag), B2 (limbah padat 20 ton/hektar atau 50 g/polybag), dan B3 (limbah padat 30 ton/hektar atau 75 g/polybag). Homogenitas ragam data diuji dengan uji Barlett. Uji Tukey untuk menguji sifat kemenambahan data. Pemisahan nilai tengah menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%.

Hasil penelitian menunjukkan, limbah padat nilam dengan dosis 30 t/ha meningkatkan bobot kering tajuk sebesar 250 % dengan tidak diberi limbah padat nilam sedangkan dosis 20 t/ha meningkatkan bobot kering tajuk sebesar 135,7 %. Varietas tapak tuan menghasilkan bobot kering tajuk 3,6 g/polybag sedangkan varietas lokal menghasilkan bobot kering tajuk 2,4 g/polybag. Tidak terdapat interaksi antara dosis limbah padat nilam dan varietas terhadapa bobot kering tajuk.

PENGARUH DOSIS NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI DUA GENOTIPE JAGUNG (Zea mays L.)
KETURUNAN LA GALIGO X TOM THUMB
Oleh

Rachmayani1, Setyo Dwi Utomo2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan cara memperbaiki lingkungan tumbuh antara lain dengan pemupukan nitrogen yang optimal. Nitrogen merupakan unsur esensial bagi tanaman jagung untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pupuk Urea mengandung 46% nitrogen, sehingga pemupukan Urea yang tepat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nitrogen bagi tanaman jagung.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan dan produksi pada genotipe jagung berbiji sedang dan genotipe berbiji kecil keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb, (2) bentuk tanggapan tanaman jagung keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb dalam pertumbuhan dan produksi terhadap peningkatan dosis pupuk Urea yang diberikan, (3) menentukan dosis pupuk Urea yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang maksimal pada dua genotipe yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan pada lahan kering dengan ketinggian ± 80 meter dari permukaan laut dengan jenis tanah Ultisol, di Kelurahan Gunung Terang, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung. Laboratorium Benih dan Pemulian Tanaman dan Laboratorium Ilmu Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dari bulan Januari sampai bulan April 2007. Perlakuan disusun secara faktorial (2×5) menggunakan rancangan kelompok teracak sempurna yang terdiri dari 3 ulangan. Faktor pertama adalah 2 genotipe jagung keturunan persilangan La Galigo x Tom Thumb yaitu genotipe biji sedang dan biji kecil. Faktor kedua adalah dosis pupuk Urea dengan lima taraf yaitu 0, 100, 200, 300, dan 400 kg/ha. Kesamaan ragam antarperlakuaan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, pengolahan data dilanjutkan dengan sidik ragam. Tanggapan terhadap perlakuan yang diterapkan diuji dengan polinomial ortogonal pada taraf uji 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dosis Urea 400 kg/ha, peningkatan pertumbuhan dan produksi masih menunjukkan respons yang linier. Bobot biji kering tertinggi pada genotipe biji sedang sebesar 1,33 kg/petak (2,22 ton/ha), sedangkan pada genotipe biji kecil hasil bobot biji kering tertinggi sebesar 1,11 kg/petak (1,86 ton/ha) yang dicapai pada pemberian pupuk Urea pada dosis 400 kg/ha.

PENGARUH JARAK TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA GENOTIPE JAGUNG KETURUNAN PERSILANGAN LA GALIGO X TOM THUMB
Oleh

Eva Meliza Sari1, Setyo Dwi Utomo2, dan Tjipto Roso Basoeki2
ABSTRAK

Jagung pop memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada jagung hibrida, walaupun berukuran lebih kecil namun jagung pop berumur genjah dan bila dilakukan pengaturan jarak tanam yang tepat dapat meningkatkan intensitas tanam dan mampu meningkatkan populasi per satuan luas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) perbedaan pertumbuhan dan produksi dua genotipe jagung pop keturunan La Galigo x Tom Thumb berbiji sedang (bobot 1000 butir 129,6 g) dan genotipe berbiji kecil (bobot 1000 butir 96,0 g); (2) pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi jagung keturunan La Galigo x Tom Thumb; (3) jarak tanam yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi maksimum terhadap dua genotipe jagung pop keturunan La Galigo x Tom Thumb.

Penelitian dilaksanakan di lahan kering Kelurahan Gunung Terang, Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman dan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Sejak bulan Januari sampai bulan April 2007. Perlakuan disusun secara faktorial 2×5 dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 ulangan. Faktor pertama terdiri dari 2 taraf yaitu genotipe berbiji sedang (G1) dan genotipe berbiji kecil (G2). Faktor kedua adalah jarak tanam terdiri dari 5 taraf yaitu: 50 cm x 10 cm, 50 cm x 15 cm, 50 cm x 20 cm, 50 cm x 25 cm, 50 cm x 30 cm. Kesamaan antarperlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan polinomial ortogonal pada α 0,05 dan 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan: (1) genotipe berbiji sedang menunjukkan diameter tongkol, bobot tongkol, bobot 1000 butir, dan bobot biji kering per petak yang lebih tinggi daripada genotipe berbiji kecil; (2) jarak tanam 50 cm x10 cm menunjukkan sudut daun, tinggi tanaman, dan bobot biji kering per petak paling tinggi; (3) bobot biji kering per petak tertinggi pada penggunaan genotipe berbiji sedang dengan jarak tanam 50 cm x 10 cm sebesar 1148 g per petak atau setara dengan 1,53 ton/ha sedangkan pada genotipe berbiji kecil dengan menggunakan jarak tanam 50 x 10 cm menghasilkan 885 gram per petak panen atau setara dengan 1,18 ton/ha.

PENGARUH KOMBINASI PUPUK N, P, DAN K PADA PRODUKSI UBI
DAN KADAR ACI TANAMAN UBIKAYU (Manihot escutenta Crantz) VARIETAS KASETSART, ADIRA-4, DAN THAILAND
Oleh

Johan Iskandar1, Erwin Yuliadi2, dan Sunyoto2
ABSTRAK

Tanaman ubikayu merupakan komoditas penghasil pati yang digunakan dalam berabagai industri di antaranya adalah industri pangan, pakan ternak, farmasi, dan bahan bakar nabati. Hingga kini produksi ubikayu masih rendah karena cara budidaya yang belum menggunakan bibit dari varietas unggul dan pemberian pupuk dengan dosis yang belum tepat. Untuk meningkatkan produktifitas ubikayu, bahan yang ditanam harus benar-benar dari varietas unggul dengan rnemberikan dosis pupuk yang tepat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) kombinasi dosis pupuk terbaik terhadap produksi clan kadar aci tanaman ubikayu varietas Kasetsart, Adira-4, dan Thailand, dan (2) varietas ubikayu yang memberikan produksi dan kadar aci terbaik setelah diberi pupuk N, P, dan K.

Penelitian dilakukan di Desa Suka Negara, Dusun Kemang, Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Seiatan dari buian Januari sampai November 2006. Perlakuan disusun secara faktorial 3 x 4 dalam rancangan petak terbagi rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS). Faktor pertama berupa varietas sebagai petak induk terdiri dari 3 varietas, yaitu Kasetsart, Adira-4, dan Thailand. Faktor kedua berupa kombinasi dosis pupuk sebagai petak anak yang terdiri dari 4 taraf dosis pupuk, yaitu (Cl) 150 kg pupuk NJha; 50 kg pupuk P/ha; 150 kg pupuk K/ha, (Cz) 100 kg pupuk N/ha; 150 kg pupuk P /ha; 150 kg pupuk K/ha, (Ca)150 kg pupuk N/ha; 100 kg pupuk P /ha; 150 kg pupuk K/ha, dan (C4) 150 kg pupuk N/ha; 150 kg pupuk P/ha; 100 kg pupuk K/ha. Kemudian data dianalisis ragam. Untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antarperlakuan digunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa varietas berpengaruh nyata pada produksi ubi per tanaman, kadar aci, jumlah ubi per tanaman, tinggi tanaman, diameter batang, dan tidak berpengaruh pada bobot brangkasan kering. Kombinasi dosis pupuk berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, sedangkan interaksi antara varietas dengan kombinasi dosis pupuk berpengaruh nyata pada tinggi tanaman dan bobot brangkasan kering.

PENGARUH KONSENTRASI PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI DAUN PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN KACAPIRING (Gardenia augusta) DALAM POT
Oleh

Siti Khumairoh1
ABSTRAK

Kacapiring (Gardenia augusta) merupakan tanaman perdu berumur tahunan yang memiliki banyak cabang. Untuk meningkatkan nilai ekonomi dan nilai estetika tanaman kacapiring dapat dijadikan tanaman hias dalam pot dengan kriteria ukuran batang pendek, berbunga kompak, dan proporsional. Salah satu cara yang dilakukan untuk menghasilkan kriteria tanaman hias pot di atas adalah dengan pemberian penghambat tumbuh melalui daun seperti paklobutrazol.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman kacapiring (Gardenia Augusta) dalam pot terbaik. Penelitian ini dilakukan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai bulan Januari—Mei 2007.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna, rancangan perlakuan disusun secara terstruktur regresi yang terdiri dari 6 taraf konsentrasi paklobutrazol (P) yaitu 0 ppm(P0), 50 ppm(P1), 100 ppm(P2), 150 ppm(P3), 200 ppm(P4), 250 ppm(P5). Kesamaan ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Bila asumsi terpenuhi, maka analisis data dilanjutkan dengan sidik ragam uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 1% dan 5%.

Pemberian paklobutrazol melalui daun dengan konsentrasi 0—250 ppm mampu meningkatkan warna hijau daun pada tanaman kacapiring, tetapi belum dapat memengaruhi variabel pengamatan vegetatif tinggi tanaman, waktu muncul cabang, jumlah cabang, dan panjang cabang. Pada pertumbuhan generatif, pemberian paklobutrazol melalui daun masih dapat meningkatkan jumlah tangkai bunga, jumlah bunga per tangkai, dan jumlah bunga per pot sedangkan pada variabel pengamatan waktu muncul kuncup bunga, waktu mekar bunga, dan ketahanan bunga pemberian paklobutrazol kurang efektif.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK (15:15:15)
PADA PERTUMBUHAN TANAMAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh

Annalia Rafikasari1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav.) adalah tanaman hias daun yang dapat dijadikan tanaman obat. Keindahannya sebagai tanaman hias terletak pada perpaduan warna permukaan atas dan bawah daun. Selain itu, warna daun yang tajam memiliki kandungan bahan kimia yang berkhasiat sebagai obat juga tinggi. Pendekatan yang dilakukan untuk mendapatkan kualitas warna daun sirih merah yang terbaik adalah penggunaan bahan organik dari golongan legum dan pemberian pupuk NPK dengan berbagai dosis.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah yang ditanam pada media yang bercampur serasah daun LCC dan flamboyan, (2) dosis NPK yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, dan (3) perbedaan pengaruh serasah tanaman pada pertumbuhan tanaman sirih merah pada masing-masing dosis NPK.

Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, mulai bulan April—Juli 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) yang disusun secara faktorial 2 faktor (5×2), yaitu dosis pupuk NPK (15:15:15) (0, 2, 4, 6, dan 8 g/tanaman) dan jenis bahan organik (serasah daun LCC dan serasah daun flamboyan).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa serasah daun flamboyan menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang lebih baik dibandingkan serasah daun LCC, yang ditunjukkan oleh variabel diameter ruas ke-3, total luas daun/tanaman, dan luas helaian daun. Peningkatan dosis NPK sampai 8 g/tanaman justru menurunkan pertumbuhan tanaman sirih merah, yang ditunjukkan oleh variabel panjang sulur/tanaman, panjang ruas ke-3, diameter ruas ke-3, jumlah buku/tanaman, total luas daun/tanaman, dan luas helaian daun. Tidak terdapat perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah pada media tanam LCC dengan media tanam flamboyan pada masing-masing dosis NPK, kecuali pada diameter ruas ke-3, luas helaian daun, dan periode pembentukan daun.

PENGARUH MEDIA TANAM DAN JENIS FORMULASI PUPUK DAUN PADA PERTUMBUHAN TANAMAN SIRIH MERAH
(Piper crocatum Ruiz and Pav.)
Oleh

Amrina Rosyada1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Tanaman sirih merah merupakan tanaman hias yang sekaligus berkhasiat sebagai tanaman obat. Penekanan nilai keindahan atau khasiat obat terletak pada warna daun, tetapi pembudidayaan untuk menghasilkan kualitas tanaman yang baik belum dilakukan terutama melalui pendekatan perbaikan media tanam dan penambahan pupuk melalui daun.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui jenis media tanam yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, (2) mengetahui jenis pupuk daun yang menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang terbaik, dan (3) mengetahui perbedaan pertumbuhan tanaman sirih merah karena perbedaan jenis pupuk daun pada masing-masing jenis media tanam.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca dan laboratorium Hortikultura Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, dari bulan April sampai Juli 2007. Perlakuan disusun secara faktorial (2×5) dalam rancangan kelompok teracak sempurna, dengan 3 kelompok. Faktor pertama adalah jenis pupuk daun yang terdiri dari kontrol (A0), Growmore (A1), Hyponex (A2), Gandasil D (A3), dan Hortigro (A4). Faktor kedua adalah media tanam yang terdiri dari serasah daun flamboyan (B1) dan serasah daun LCC (B2). Kesamaan ragam diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan model diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, maka data dianalisis ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan serasah daun flamboyan menghasilkan pertumbuhan tanaman sirih merah yang lebih baik daripada serasah daun LCC pada panjang sulur, jumlah daun, jumlah buku, panjang ruas ketiga, luas helaian daun, dan total luas daun. Penggunaan jenis pupuk daun yang dikombinasikan dengan media tanam LCC atau flamboyan hanya berpengaruh pada variabel jumlah buku. Dilihat dari corak warna daun, media tanam flamboyan yang diaplikasi pupuk daun Growmore menghasilkan kualitas warna daun yang terbaik. Dilihat dari jumlah buku, media tanam flamboyan yang diaplikasi pupuk daun Hyponex atau Gandasil D hasilnya lebih banyak dibandingkan dengan LCC.

PENGARUH PEMANGKASAN AWAL DAN APLIKASI KNO3
PADA PERTUMBUHAN TUNAS TANAMAN MANGGA (Mangifera indica L.) KULTIVAR INDRAMAYU
Oleh

Achmad Junaidi Ferdo1, Rugayah2, dan Sugiatno2
ABSTRAK

Perlakuan pemangkasan awal dapat dikombinasikan dengan aplikasi kalium nitrat (KNO3) sebagai nutrisi yang diaplikasikan melalui daun untuk meningkatkan pertumbuhan tunas tanaman mangga. Dengan demikian pembentukan tajuk tanaman yang ideal dan seimbang.akan lebih mudah dilakukan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Indramayu antara yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II, (2) perbedaan pertunasan pada tanaman mangga Indramayu yang diberi perlakuan KNO3 dengan beberapa taraf konsentrasi, dan (3) pengaruh peningkatan konsentrasi KNO3 pada tanaman mangga kultivar yang dipangkas pada posisi flush I dan posisi flush II.

Penelitian dilaksanakan di Desa Way Dadi, Sukarame, Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Oktober 2006. Penelitian ini menggunakan Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan yang disusun secara faktorial 2 x 5. Faktor pertama adalah posisi pemangkasan, yaitu P1 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush I dan P2 = tanaman mangga dipangkas pada posisi flush II. Faktor kedua adalah konsentrasi KNO3 yang terdiri dari K0 = 0 g/l, K1 = 2 g/l, K2 = 4 g/l, K3 = 6 g/l, dan K4 = 8 g/l. Homogenitas ragam antarperlakuan diuji dengan uji Bartllet dan kemenambahan data diuji dengan uji Tukey. Jika asumsi terpenuhi, data yang terkumpul dianalisis ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) perlakuan pemangkasan awal pada posisi flush II menghasilkan jumlah daun per tunas lebih banyak dibandingkan dengan pemangkasan pada posisi flush I, (2) aplikasi KNO3 dengan konsentrasi 2—4 g/l menghasilkan tunas yang lebih panjang dan tanaman yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi 6—8 g/l, (3) pengaruh perlakuan pemangkasan awal pada pertumbuhan tunas tanaman mangga kultivar Indramayu tidak bergantung pada aplikasi KNO3, dan (4) tanaman dengan jumlah daun awal minimal 5 helai lebih meningkatkan panjang tunas, jumlah daun per unas,penambahan tinggi tajuk, dan lebar tajuk daripada jumlah daun kurang dari 5 helai.

PENGARUH PEMBERIAN MIKORIZA PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI DUA VARIETAS KACANG HIJAU
(Phaseolus Radiatus [L.] Merr)
Oleh

Dwianna Oktasari1, Agus Karyanto2, dan Sunyoto2
ABSTRAK

Usaha yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi dua varietas kacang hijau, yaitu Varietas No.129 dan Merpati dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi budidaya yang baik ditingkat petani. Salah satunya yaitu aplikasi pupuk hayati fungi mikoriza arbuskular. Dengan adanya bentuk asosiasi yang saling menguntungkan antara fungi mikoriza dan akar tanaman diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau.

Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui varietas yang tumbuh dan berproduksi paling baik, (2) untuk mengetahui dosis mikoriza terbaik yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau, dan (3) untuk mengetahui apakah tanggapan pertumbuhan dan produksi dua varietas kacang hijau ditentukan oleh dosis mikoriza yang diberikan.

Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca, Laboratorium Produksi Tanaman, dan Laboratorium Produksi Perkebunan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bandar Lampung, dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2006. Perlakuan diterapkan dalam rancangan faktorial (2×4) dengan 8 ulangan menurut rancangan teracak sempurna (RTS). Faktor pertama terdiri dari varietas No.129 (V1) dan Merpati (V2). Faktor kedua terdiri dari 4 taraf dosis mikoriza yaitu 0 g/polibag (M0), 25 g/polibag (M1), 50 g/polibag (M2), dan 75 g/polibag (M3). Homogenitas ragam dihitung dengan uji Bartlett dan pemisahan nilai tengah dihitung dengan uji BNT pada taraf 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas No.129 menghasilkan bobot biji yang lebih baik daripada varietas Merpati. Pemberian mikoriza sampai dengan dosis 75 g/polibag tidak mampu meningkatkan pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Tidak terdapat interaksi terhadap penggunaan varietas dan pemberian mikoriza dalam beberapa taraf dosis pada pertumbuhan dan produksi kacang hijau.

PENGARUH PEMBERIAN N, P, K, DAN PUPUK KANDANG TERHADAP PERTUMBUHAN, HASIL, DAN KANDUNGANNITROGEN PADA TIGA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) KOMPOSIT
Oleh

Yuliasih Purnama1 Herawati Hamim2, dan Lazimar Zen2
ABSTRAK

Jagung merupakan komoditi pangan yang penting setelah padi. Budidaya tanaman jagung terus ditingkatkan seiring dengan menurunnya produktivitas lahan yang berdampak pada penurunan hasil tanaman. Untuk mengatasinya dilakukan pemupukan. Pemupukan anorganik dan organik pada tanaman jagung diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi pertumbuhan dan hasil tanaman jagung varietas komposit akibat pemberian N, P, K, dan pupuk kandang; (2) mengetahui interaksi antara varietas dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil 3 varietas jagung komposit; dan (3) perubahan kandungan nitrogen di daun dan di biji tanaman beberapa jagung komposit akibat pemberian N, P, K, dan pupuk kandang.

Perlakuan disusun secara faktorial (4 x 5) dalam Rancangan Petak Terbagi dengan pengacakan RKTS. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Data di rata-ratakan untuk pengujian homogenitas menurut Bartlet. Bila terbukti homogen, data dianalisis ragam. Aditivitas model diuji Tukey. Bila anara terbukti signifikan dilakukan pemisahan nilai tengah menggunakan BNJ0,05. Dilakukan juga uji Korelasi antarvariabel pengamatan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) respons pertumbuhan dan hasil varietas Sukmaraga terhadap pemupukan N, P, K, dan pupuk kandang lebih baik dibandingkan varietas Arjuna dan Lamuru; (2) pengaruh perlakuan varietas dan pemupukan menunjukkan interaksi yang nyata. Pemupukan urea, SP-36, KCl, dan pupuk kandang dengan dosis masing-masing 75, 35, 25 kg/ha, dan 3 ton/ha pada varietas Sukmaraga menghasilkan jumlah daun, tinggi tongkol, panjang tongkol, lingkar tongkol, dan jumlah baris biji per tongkol terbaik; dan (3) kandungan nitrogen di daun dan biji paling banyak terdapat pada kombinasi perlakuan pemupukan 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, 25 kg KCl/ha, dan pupuk kandang 3 ton/ha.

PENGARUH PEMBERIAN PAKLOBUTRAZOL MELALUI MEDIA TANAH PADA PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN KACAPIRING (Gardenia augusta) DALAM POT
Oleh

Irma Handayani1, Kushendarto2, dan Yayuk Nurmiaty2
ABSTRAK

Kacapiring (Gardenia augusta) merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai tanaman hias dalam pot karena mempunyai bunga yang menarik dengan cabang yang banyak. Tanaman kacapiring sebagai tanaman hias pot harus memiliki kriteria tanaman pendek, daun rimbun, dan berbunga kompak. Pemberian penghambat tumbuh seperti paklobutrazol melalui media tanah, merupakan salah satu cara untuk mendapatkan tanaman kacapiring sesuai kriteria tersebut sehingga meningkatkan nilai estetikanya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui konsentrasi paklobutrazol yang diberikan melalui tanah dalam menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman kacapiring (Gardenia augusta) terbaik yang ditanam dalam pot.

Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca UPT Kebun Universitas Lampung, mulai bulan Januari 2007 hingga Mei 2007. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan kelompok teracak sempurna yang terdiri dari 4 kelompok. Masing-masing perlakuan diulang empat kali dan setiap ulangan terdiri dari 2 sub sampel tanaman. Perlakuan yang diterapkan adalah tunggal terstruktur yang terdiri dari 6 taraf konsentrasi paklobutrazol yaitu 0 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian paklobutrazol melalui media tanah sampai konsentrasi 250 ppm masih meningkatkan tingkat kehijauan daun, mempercepat waktu mekar bunga, dan meningkatkan ketahanan bunga. Pengaruh terhadap variabel lain, seperti tinggi tanaman, waktu muncul cabang, jumlah cabang, panjang cabang, jumlah tangkai per tanaman, jumlah bunga per tangkai, dan jumlah bunga per pot pemberian paklobutrazol tidak berpengaruh.

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK DAN KONSENTRASI
PUPUK GANDASIL B TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BUNGA TERATAI (Nymphae Sp)
Oleh

Oldian Felany1, Herawati Hamim2, dan Yayuk Nurmiaty2
ABSTRAK

Dalam membudidayakan teratai terdapat banyak kendala yang dihadapi, antara lain penggunaan dosis pupuk yang tepat untuk memperoleh kualitas tanaman yang baik. Untuk itu digunakan pupuk NPK dan Gandasil B yang diharapkan dapat menghasilkan pertumbuhan dan produksi bunga teratai yang maksimum.

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Gedung Meneng Kecamatan Raja Basa Bandar Lampung, mulai bulan Mei—Juni 2007. Penelitian disusun secara faktorial (2 x 5), faktor pertama adalah pupuk NPK Mutiara (A), yaitu tanpa pupuk NPK (A0) dan dengan pupuk NPK Mutiara dosis 3 g (A1). Faktor kedua adalah konsentrasi pupuk Gandasil B (B), dengan lima taraf konsentrasi yaitu 0 g/lt air (B0), 1 g/lt air (B1), 1,5 g/lt air (B2), 2 g/lt air (B3), dan 2,5 g/lt air (B4). Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan teracak sempurna dan setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Pemberian NPK 3 g/tanaman mampu menambah tingkat kehijauan daun, jumlah daun, lebar daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga, panjang tangkai bunga, diameter bunga, dan masa mekar bunga tanaman teratai (Nymphae sp), (2) Pemberian Gandasil B sampai dengan konsentrasi 2,5 g/l air mampu menambah tingkat kehijauan daun, jumlah daun, panjang tangkai daun, jumlah bunga, dan panjang tangkai bunga tanaman teratai (Nymphae sp). (3) Pemberian Gandasil B sampai dengan konsentrasi 2,5 g/l air yang diberikan dengan dosis NPK 3 g masih dapat menambah tingkat kehijauan daun pada tanaman teratai (Nymphae sp).

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK PADA PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL TIGA VARIETAS JAGUNG (Zea mays L.) KOMPOSIT
Oleh

Ihsan Hariyanto1, Muhammad Kamal2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Jagung merupakan penyumbang komponen protein dan lemak dalam bahan pangan, nilai gizinya tidak kalah bila dibandingkan dengan gandum dan padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mengetahui pengaruh varietas terhadap pertumbuhan dan komponen hasil jagung, (2) mengetahui pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan dan komponen hasil jagung, dan (3) mengetahui interaksi antara varietas dan pemupukan pada pertumbuhan dan komponen hasil jagung.

Penelitian disusun secara faktorial (3×6) dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas yaitu Sukmaraga, Arjuna, dan Lamuru; faktor kedua adalah kombinasi pemupukan yaitu U0 = tanpa pemupukan, U1 = 300 kg urea/ha, 140 kg SP-36/ha, dan 100 kg KCl/ha, U2 = 150 kg urea/ha, 70 kg SP-36/ha, 50 kg KCl/ha, dan 1,5 t bioplant/ha, U3 = 75 kg urea/ha, 35 kg SP-36/ha, dan 25 kg KCl/ha, dan 3 t bioplant/ha, U4 = 4 ton bioplant/ha, dan U5 = 5 t bioplant/ha. Data di analisis dengan sidik ragam. Pemisahan nilai tengah perlakuan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Varietas Arjuna mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan varietas Arjuna dan Lamuru, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, jumlah biji per tongkol, dan bobot biji per tongkol. (2) Pemupukan U3 mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan pemupukan lainnya, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, jumlah dan bobot biji per tongkol, dan (3) Kombinasi varietas Sukmaraga dan pemupukan U3 mampu menghasilkan pertumbuhan dan komponen hasil yang lebih baik dibandingkan kombinasi lainnya, khususnya pada variabel tinggi tanaman, jumlah daun, tinggi tongkol, dan bobot biji per tongkol.

PENGARUH PEMUPUKAN NITROGEN SERTA PEMANGKASAN DAUN DI BAWAH TONGKOL PADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI JAGUNG PUTIH
Oleh

M. Fauzi Indra1, Saiful Hikam2, dan Herawati Hamim2.

ABSTRAK

Tanaman Jagung (Zea Mays. L) merupakan salah satu tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan penyumbang devisa yang besar. Untuk meningkatkan produksi jagung putih terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain lingkungan, genetis, dan teknik budidaya. Faktor teknik budidaya, terutama dalam pemeliharaan dan sanitasi yang termaktub dalam pemupukan dan pemangkasan

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui tanggap-tanggap pada pertumbuhan dan hasil. jagung putih bila dipangkas dan diberi pupuk N. (2) Mengevaluasi pertumbuhan dan hasil jagung putih bila dipangkas dan diberi berbagai dosis pupuk N. (3) Mengetahui terjadi pengaruh interaksi pertumbuhan dan hasil jagung putih bila dipangkas dan diberi pupuk N.

Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Politeknik Negeri Lampung dari bulan Februari sampai Juni 2005. Penelitian menggunakan Rancangan petak terbagi (Split Splot Design) terdiri dari 2 perlakuan dan 3 ulangan. Homogenitas data diuji dengan uji Bartlett, sedangkan aditivitas data diuji dengan uji Tukey. Pengolahan data dilakukan dengan sidik ragam dan perbedaan nilai tengah perlakuan diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan (1) Pada semua parameter pengamatan tidak berbeda nyata antara pemupukan rendah medium dan tinggi, (2) Pengaruh pemangkasan tidak berbeda nyata pada pertumbuhan dan produksi jagung putih, dan (3) Tidak terdapat interaksi antara pemupukan dan pemangkasan.

PENGARUH PEPTON DAN MEDIA DASAR TERHADAP PERTUMBUHAN PROTOKORM ANGGREK Dendrobium HIBRIDA IN VITRO
Oleh
Maula Indani1

ABSTRAK

Untuk mengatasi masalah penyediaan bibit anggrek bermutu dan dalam skala besar, perlu dilakukan perbanyakan secara tepat dan efisien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah metode kultur in vitro. Berbagai komposisi media telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan eksplan yang dikulturkan salah satunya adalah media MS (Murashige dan Skoog). Penggunaan modifikasi larutan pupuk lengkap seperti Hyponex dan GrowMore dapat digunakan untuk mengkulturkan anggrek. Penambahan asam amino sebagai sumber nitrogen organik sebagai salah satu komponen media berpengaruh baik terhadap pertumbuhan kultur. Salah satu sumber nitrogen organik yang dapat digunakan adalah pepton.

Tujuan dari penelitian adalah (1) untuk mencari pengganti media dasar ½ MS yang terbaik (Hyponex atau GrowMore) untuk pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, (2) untuk mengetahui pengaruh penambahan pepton ke dalam masing-masing media dasar pada pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, dan (3) untuk mengetahui interaksi antara tiga jenis media dasar dan konsentrasi pepton pada pertumbuhan protokorm anggrek Dendrobium hibrida.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial (3×2) dalam Rancangan Teracak Sempurna (RTS). Faktor pertama adalah jenis media dasar (Hyponex, GrowMore, dan ½ MS) dan faktor kedua adalah pengaruh pepton (0 mg/l dan 2 mg/l). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Data dianalisis dengan analisis ragam dan pengujian nilai tengah menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 0,05.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) media dasar Hyponex atau GrowMore dapat menjadi media alternatif atau pengganti dari media dasar ½ MS untuk pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, (2) pemberian pepton dapat meningkatkan panjang akar dan bobot basah tanaman tetapi secara umum tidak berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah akar pada pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida, dan (3) terdapat interaksi antara tiga media dasar dan dua konsentrasi pepton hanya pada bobot basah tanaman tetapi secara umum tidak berpengaruh terhadap pembesaran protokorm dan pertumbuhan seedling anggrek Dendrobium hibrida.

PENGARUH SILIKA DAN TARAF DOSIS UREA TERHADAP PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.)
Oleh

Heni Kurniawati1, Indarto2, dan Sarno2
ABSTRAK

Tebu (Saccharum officinarum L.) termasuk keluarga rumput-rumputan yang mengandung nira sebesar 87,5% sebagai bahan baku industri gula. Produksi gula di Indonesia belum optimal; salah satu kendala pertanaman tebu yaitu kesuburan tanah. Urea termasuk pupuk anorganik yang mengandung unsure hara yang berperan untuk menyusun bagian-bagian tanaman, sedangkan silica juga dapat mendukung dan meningkatkan produksi untuk tanaman tebu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh silica pada pertumbuhan tanaman tebu; (2) tanggapan pertumbuhan tanaman tebu terhadap dosis pupuk urea; dan (3) pengaruh silica terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu pada berbagai dosis pupuk urea yang diberikan.

Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Lampung, dari bulan Desember 2006 sampai dengan Maret 2007. Penelitian disusun dalam rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS), dengan perlakuan factorial 2X5 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah p[upuk silica, terdiri atas tanpa silica 0 kg/ha dan silica 126 kg/ha. Faktor kedua yaitu dosis urea terdiri dari lima taraf, yaitu 0 kg/ha, 100 kg/ha, 200 kg/ha, 300 kg/ha, 400 kg/ha. Data dirata-ratakan kemudian diuji Bartlett untuk homogenitas data dianalisis ragam. Untuk menguji aditivitas model dilakukan uji Tukey. Peubah yang berbeda nyata berdasarkan analisis ragam diuji polynomial orthogonal pada a 1 dan 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian silica meningkatkan ketegaran dan kehijauan daun. Urea berpengaruh terhadap tinggi tanaman, tinggi batang, kehijauan daun, dan jumlah anakan. Pemberian silica dan urea tidak ber[engaruh terhadap diameter batang tanaman tebu. Silica tidak berp[engaruh terhadap pertumbuhan, tetapi berpengaruh terhadap sudut daun. Tanggapan tanaman terhadap peningkatan dosis urea tidak dipengaruhi oleh silica. Dosis urea hingga 400 kg/ha meningkatkan pertumbuhan tanaman tebu.

PENGARUH TARAF DOSIS SILIKA PADA PERTUMBUHAN AWAL TANAMAN TEBU (Saccharum 0fficinarum L.)

Oleh

Fitryadi1, Indarto2, dan Sarno2.
ABSTRAK

Pertumbuhan awal merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Pertumbuhan awal tanaman tebu meliputi tahap perkecambahan dan pembentukan anakan. Kemampuan pembentukan anakan pada tanaman tebu akan menentukan banyaknya populasi batang yang akan dipanen. Upaya untuk meningkatkan pertumbuhan awal tanaman tebu salah satunya dengan pemberian pupuk yang berimbang serta penggunaan unsur hara esensial seperti silika pada tanaman tebu.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian silika terhadap pertumbuhan awal tanaman tebu, dan menentukan dosis silika yang menghasilkan pertumbuhan yang maksimum pada tanaman tebu.

Penelitian dilaksanakan di kebun Percobaan Politeknik Negeri Lampung dari bulan Desember 2006 sampai Maret 2007. Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett, dan bila asumsi homogenitas terpenuhi, data disidik ragam. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan polinomial ortogonal pada taraf 0,01 dan 0,05.

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Pemberian silika dapat meningkatkan tinggi tanaman dan menurunkan sudut daun secara linier tetapi tidak berpengaruh terhadap diameter batang, jumlah anakan, dan tingkat kehijauan daun, (2) Pemberian silika dengan dosis 224 kg/ha belum merupakan dosis maksimum yang berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan sudut daun tanaman tebu.

PERANCANGAN LANSEKAP TAMAN KUPU-KUPU GITA PERSADA DI DESA TANJUNG MANIS, GUNUNG BETUNG, LAMPUNG
Oleh

Dewi Septirita1, Kushendarto2, dan Rugayah2
ABSTRAK

Tahura Wan Abdul Rachman dibentuk berdasarkan SK Menhut No. 408/kpts-II/1993 dengan luas 22,.244 Ha.Taman Kupu-kupu Gita Persada (TKGP) merupakan salah satu tempat konservasi dan wisata yang ada di Tahura.

Lokasi penelitian terletak di TKGP di Desa Tanjung Manis, Gunung Betung, Lampung dan dilaksanakan pada bulan Juni 2006 sampai dengan April 2007.

Dalam proses perancangan lansekap TKGP di kawasan Tahura Gunung Betung ini menggunakan metode Gold (1980) yang terdiri dari beberapa tahapan perencanaan yang meliputi kegiatan: inventarisasi, analisis, sintesis, konsep, dan desain, dengan hasil akhir berupa rancangan lansekap TKGP.

Konsep yang diterapkan pada peracangan TKGP adalah mengembangkan kawasan dengan berbagai fasilitas dimaksud untuk mendukung aktivitas pengunjung dan pengelola dengan tetap mempertahankan kelestarian kawasan sebagai daerah konservasi serangga kupu-kupu.

Penelitian ini bertujuan untuk membuat perancangan lansekap TKGP di kawasan Tahura Gunung Betung, tanpa menghilangkan unsur-unsur penting kawasan taman yang berupa hutan lindung dan tempat konservasi serangga kupu-kupu dengan hasil akhir berupa gambar disain.

PERENCANAAN LANSEKAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) KOTA KALIANDA KABUPATEN
LAMPUNG SELATAN

Oleh

Andi Taufik1

ABSTRAK

Aktifitas rumah sakit dengan keanekaragaman kegiatan membutuhkan dukungan dari berbagai fasilitas pelayanan, antara lain dengan kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) dalam wujud suatu taman. RTH memiliki manfaat yang besar bagi pasien dan pengunjung untuk berelaksasi dan mendapatkan udara segar. Untuk menciptakan keserasian dan kesatuan harmonis dalam pengembangan struktur fisik bangunan dan ruang luar (outdor), diperlukan perencanaan dan pengelolaan lansekap rumah sakit.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-Juli 2006. Lokasi penelitian terletak di rumah sakit umum daerah (RSUD) kalianda, Jalan Lettu. Rohani, Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan lansekap yang menyangkut penataan pola ruang luar bangunan rumah sakit dan menciptakan keserasian lingkungan secara fungsional dan estetika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Gold (1980) yang terdiri dari tahap inventarisasi, analisis dan sintesis, konsep dan desain.

Hasil perencanaan menunjukkan, penempatan elemen RTH disesuaikan dengan fungsi pola hubungan antar ruang melalui konteks penganalisis pola hubungan ruang terbangun dan ruang luar terhadap aspek biofisik kawasan. Perencanaan lansekap dibagi beberapa zona, yaitu : Zona pelayanan dan pemanfaatan umum, Zona penyangga, Zona estetis, dan entrance. Konsep dasar dari rencana lansekap kawasan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kalianda adalah menciptakan lingkungan yang berdaya guna dalam menunjang keberadaan struktur fisik dan memberikan daya tari (estetika) dengan pola struktur alami untuk menciptakan suatu nuansa organik pada kawasan pusat kesehatan kalianda.

Perencaan ruang disesuaikan dengan kondisi awal RSUD yang telah terbangun dengan menyediakan beberapa ruang atau fasilitas pendukung guna menunjang segenap aktifitas di dalamnya. Rencana sirkulasi meliputi sirkulasi kendaraan dan sirkulasi pejalan kaki berbentuk menyebar dan direncanakan untuk menghubungkan semua unit zona secara efisien. Pemilihan jenis vegetasi pada rencana tata hijau berdasarkan fungsi tanaman dan fungsi ruang dari tapak, yang terdiri dari tata hijau visual control, barriers, climate control dan aesthelic volves. Perencanaan utilitas berupa penempatan elemen dan fasilitas di tapak dalam keterpaduan fungsi dan selaras dengan karakteristik tapak dan lingkungan alamnya.

RESPONS PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN TANAMAN MELATI AIR (Echinodorus palaefolius) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK NPK YANG DITAMBAH
DENGAN UREA
Oleh

Wirahadikusumah1, Rugayah2, dan Herawati Hamim2
ABSTRAK

Untuk memperoleh tanaman melati air yang berkualitas dapat diterapkan dengan banyak cara salah satunya adalah penggunaan pupuk dengan dosis yang tepat. Pada penelitian ini akan dicoba penggunaan pupuk NPK yang ditambah dengan Urea.

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis pupuk NPK dengan menambahkan Urea sebanyak 3 g/tanaman yang akan menghasilkan pertumbuhan dan pembungaan tanaman melati air yang terbaik.

Rancangan perlakuan disusun secara tunggal terstruktur regresi. Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dan diulang sebanyak 3 kali. Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlet, aditivitas data diuji dengan uji Tukey, dan analisis data dilakukan dengan uji polinomial ortogonal pada taraf nyata 5 %.

Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk NPK sampai dosis 8 g yang ditambah dengan Urea sebanyak 3 g masih meningkatkan penambahan tinggi tanaman, jumlah daun total, luas daun terlebar, panjang tangkai daun, diameter tangkai daun, total anakan, dan meningkatkan jumlah tangkai bunga per tanaman. Pemberian pupuk NPK dengan dosis 3—4 g/tanaman yang ditambah dengan Urea sebesar 3 g/tanaman menghasilkan waktu muncul kuncup bunga tercepat (38,33 hari) dan mempercepat periode pembungaan (26,7 hari), sedangkan pemberian pupuk NPK sampai dosis 6—7 g/tanaman yang ditambah dengan Urea sebesar 3 g/tanaman menghasilkan periode pembentukan daun tercepat (4,3 hari).

RESPONS TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN KOMBINASI PUPUK ANORGANIK DENGAN ATAU TANPA PUPUK KANDANG SAPI
Oleh

Ati Mia Rohayati1, Darwin H. Pangaribuan2, dan Agus Karyanto2
ABSTRAK

Dalam upaya menciptakan suatu produk yang aman dan berkualitas tinggi bagi masyarakat maupun lingkungan, konsep pertanian organik menjadi salah satu alternatif pembudidayaan tanaman.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk organik cair Biomax Super dan kombinasi pupuk anorganik (Urea, TSP, SP36 dan KCl) dengan atau tanpa pupuk kandang sapi, mengetahui kombinasi perlakuan yang dapat menghasilkan tanggapan tanaman terbaik, serta interaksi antara penggunaan pupuk organik cair Biomax Super dan kombinasi pupuk anorganik (Urea, TSP, SP36 dan KCl) dengan atau tanpa pupuk kandang sapi pada produksi tanaman kentang.

Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Induk Hortikultura Sekincau Lampung Barat, mulai awal November 2006 sampai April 2007. Perlakuan diterapkan dengan menggunakan rancangan petak terbagi dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RPT-RKTS). Petak utama adalah status POC (B), yaitu tanpa POC (B0­) dan POC (B1). Anak petak adalah kombinasi pupuk (G), yaitu tanpa perlakuan (G0), 300 kg urea/ha + (100 kg TSP/ha + 100 kg SP36) + 200 kg KCl/ha (G1), 50 kg urea/ha + (50 kg TSP/ha + 50 kg SP36) + 100 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang sapi (G2), 75 kg urea/ha + (25 kg TSP/ha + 25 kg SP36) + 50 kg KCl/ha + 10 ton pupuk kandang sapi (G3) dan 20 ton pupuk kandang sapi (G4). Homogenitas ragam diuji dengan uji Bartlett dan kemenambahan diuji dengan uji Tukey. Data diolah dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Semua pengujian dilakukan pada taraf 5%.

Hasil peneltian menunjukkan bahwa (1) pemberian pupuk organik cair Biomax Super tidak meningkatkan hasil tanaman kentang, (2) pemberian kombinasi pupuk anorganik dengan atau tanpa pupuk kandang sapi mampu meningkatkan tinggi tanaman dan bobot umbi per tanaman, dan (3) tidak ada pengaruh interaksi antara pupuk organik cair Biomax dengan kombinasi pupuk anorganik dengan atau tanpa pupuk kandang sapi dalam meningkatkan produksi tanaman kentang.

RESPONS TIGA VARIETAS GLADIOL (Gladiolus hybridus) TERHADAP DUA JENIS PUPUK
Oleh

Sundari Ekawanti1, Darwin Pangaribuan2, dan Agus Karyanto2
ABSTRAK

Gladiol (Gladiolus hybridus) merupakan salah satu jenis bunga potong yang berpotensi untuk dibudidayakan secara intensif berpola komersial.

Tersedianya varietas unggul yang berkualitas adalah salah satu faktor pendukung dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman gladiol. Untuk meningkatkan produksi tanaman gladiol dibutuhkan unsur hara yang cukup, terutama N, P, dan K yang diberikan dengan cara pemupukan.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui varietas gladiol yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi terbaik, (2) mengetahui jenis pupuk anorganik yang menghasilkan pertumbuhan dan produksi gladiol terbaik, (3) mengetahui interaksi jenis pupuk pada masing-masing varietas terhadap pertumbuhan dan produksi gladiol.

Perlakuan diterapkan pada petak percobaan dalam Rancangan Kelompok Teracak Sempurna (RKTS). Perlakuan disusun dalam faktorial (3 x 2) dengan faktor pertama varietas gladiol, yaitu varietas ‘Ungu’ (V1), ‘Clara’ (V2), dan varietas ‘Kaifa’ (V3). Faktor kedua adalah pupuk NPK 15:15:15 (P1) dan NPK campuran (P2). Setiap kombinasi perlakuan diulang lima kali dan masing-masing ulangan terdiri dari 4 subang gladiol. Homogenitas ragam antarperlakuan di uji dengan menggunakan uji Bartlett dan aditivitas data di uji dengan menggunakan uji Tukey. Analisis data dilakukan dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf nyata 1% dan 5%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Varietas ‘Kaifa’ menunjukkan hasil yang terbaik untuk pertumbuhan generatif, yaitu dalam hal mempengaruhi jumlah floret, diameter floret, panjang tangkai, diameter subang, dan bobot subang. Sedangkan untuk pertumbuhan vegetatif, varietas ‘Ungu’ menunjukkan hasil yang lebih baik, yaitu pada variabel tinggi tanaman. (2) Jenis pupuk NPK (15:15:15) dan NPK campuran (Urea, SP-36, dan KCl) tidak memberikan pengaruh yang berbeda terhadap semua variabel pangamatan. (3) tidak terjadi interaksi antara jenis pupuk dan varietas terhadap pertumbuhan dan produksi gladiol.

STUDI FENOLOGI DARI SAAT ANTESIS SAMPAI MATANG PANEN PADA TANAMAN JARAK PAGAR (Jatropha curcas. L)
Oleh

Eko Suparyanto1

ABSTRAK

Jarak pagar (Jatropha curcas) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai sumber bahan bakar. Tanaman jarak tergolong tanaman mudah tumbuh, tetapi ada permasalahan yang dihadapi dalam agribisnis tanaman jarak saat ini yaitu belum tersedianya varietas atau klon unggul, terbatasnya ketersediaan benih bermutu, dan teknik budidaya yang belum memadai.

Penelitian ini bertujuan mengetahui perkembangan benih jarak pagar (Jatropha curcas L.) dari saat antesis sampai panen yang bermanfaat sebagai pengetahuan mengenai perkembangan benih dari saat antesis sampai panen yang dapat dijadikan landasan untuk memproduksi benih yang bermutu tinggi.

Penelitian dilakukan di kebun percobaan Politeknik Pertanian Negeri Lampung dan Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Lampung mulai Maret sampai Juni 2007. Percobaan yang dilakukan merupakan suatu bentuk observasi terhadap perkembangan buah dan biji pada periode sejak antesis sampai panen. Pemanenan buah dilakukan pada 30, 37, 44, 51 dan 58 hari setelah antesis, pada setiap waktu pemanenan diukur berat buah basah, berat buah kering, diameter buah, berat biji basah, berat biji kering dan kecepatan berkecambah biji. Perbedaan nilai vareabel antarperlakuan diketahui dengan melihat nilai galat baku nilai tengah (standard error of the mean) dari data setiap perlakuan.

Dari 30 hari setelah antesis sampai 51 hari setelah antesis bobot basah buah dan diameter relatif konstan, sementara itu bobot kering buah meningkat dan mencapai maksimum pada 44 hari setelah antesis. Kadar air biji menurun dari 30 hari setelah antesis sampai 58 hari setelah antesis. Pada 30 hari setelah antesis benih tidak mampu berkecambah dan berkecambah pada umur 37 hari setelah antesis untuk mengetahui perbedaan kecepatan berkecambah yang lebih teliti sampai 51 hari setelah antesis.

==========================================================================

1. Alumni Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung
2. Dosen Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung

@copyright : unila
@reposted by : ahlifikir

About these ads

About ahmadi muslim

I NEED YOUR TALLENT AND YOUR ACTIVE
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s