Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

CONTOH PENELITIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

UJI KETAHANAN ASESI/ GALUR TERHADAP
CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Dra Triny S. Kadir
ABSTRAK
Dalam meningkatkan produksi padi ternyata varietas memberi sumbangan yang cukup besar. Namun demikian hama penyakit merupakan kendala dilapangan, dan untuk merilis varietas perlu adanya data dukung terhadap ketahanan wereng coklat, tungro, HDB(Hawar Daun Bakteri) dan blast. Pengujian ketahanan terhadap wereng coklat, tungro, HDB dan blast telah dilakukan pada MT 2007 di BB Padi. Pengujian wereng coklat telah dilaksanakan di rumah kasa BB Padi, tungro di rumah kasa BB Padi, HDB di lapangan dan rumah kasa. Serta Blast di Muara. Untuk wereng coklat jumlah galur inbrida yang diuji 160 asessi, galur hibrida 331 asesi, plasma nutfah 100 asesi. Pengujian wereng coklat secara masal, penapisan dan population built up. Untuk tungro jumlah materi inbrida yang diuji 339 galur, hibrida 331 galur. Galur disebar mengikuti design pengujian IRTN didalam pot plastik didalam rumah kaca. HDB materi observasi 1512 galur, hibrida 138 galur , Materi DHP dan materi DHL, dan plasma nutfah. Pengujian di rumah kasa untuk stadia bibit menggunakan box . Pengujian blas dengan 4 ras yang berbeda yaitu ras 101,123,141 dan ras 373. Hasil penelitian menunjukkan dari galur inbrida didapat 14 galur yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3. Dari galur hibrida hanya didapat 2 galur yang tahan terhadp wereng coklat biotipe 3. Dari plasma nutfah hanya didapat 2 asesi yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3 (Pulut Lewok dan Ketan Ulis). Hasil pengujian wereng coklat dengan metoda “population built up” BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP4188-7f-1-2-2*B, BP 2870-4e- Kn-22-2-1-5*B. Hasil pengujian tungro 1 galur sawah tahan terhadap tungro yaitu BP 4232-1f-2-1-2*B dan 22 galur agak tahan trhadap tungro. Untuk asesi plasma nutfah 1 asesi varietas Deli tahan. 25 asesi agak tahan . Untuk galur hibrida dengan test tube 1 galur IR79128A tahan dan IR 80156* dan IR688897 agak tahan. Untuk HDB materi observasi menunjukkan tahan terhadap patotipe IV 0,06% dan agak tahan 10,11%. Untuk materi plasma nutfah 2 asesi tahan HDB patotipe IV. Pada DHP 3 galur MR terhadp HDB, 6 galur (DHL) MR terhadap HDB. Dari plasma nutfah Aceh-aceh dan Abang tahan terhadap HDB. Hibrida menunjukkan 70,77% MR terhadap ras III, 26,08% MR terhadap ras IV dan 8,40% (MR) terhadap ras VIII. Untuk pengujian Blas tahan 4 ras ada 59 galur, tahan 3 ras 54 galur tahan 2 ras 48 galurdan tahan 1 ras 3 galur. Kegiatan skrining galur/varietas padi terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca Bogor pada MT I . Tujuan penelitian untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap skeracunan Al, kekeringan dan naungan. Hasil penelitian menunjukkan hasil skrining terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al. Dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan agak toleran B11178G-TB-29 toleran terhadap keracunan Al dan naungan. Diperoleh tiga galur yang toleran terhadap rendaman yaitu: IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 dan satu galur tergolong moderat yaitu IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

Kata kunci: padi sawah, padi gogo, wereng coklat, tungro, HDB, padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan , toleran naungan.
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and abiotic constraints. The activities of the experiment included screening rice lines to biotic constraint to brown plant hopper screening method and population built up, to tungro, bacterial blight and blast. To abiotic constraint screening for Al toxicity, draught and shading. The activities ware done in the Green House Sukamandi 2007, Field experiment Sukamandi and in the green house in Bogor. The result of the experiment 14 lines resistant to brown planthopper byotipe 3, and the lines was resistant by population built up method BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP 4188-7f-1-2-2*B, BP2870-4e-Kn-22-2-1-5*B. 2 asseccion rice germ plasm resistant to byotipe 3 (Pulut lewok and Ketan Ulis). 2 hybrid lines (0.6%) resistant to brown planthopper byotipe 3 (IR6888A/CRS117 dan IR68897A/CRS117). BP 4232-1f-2-1-2*B resistant to tungro and 22 lines moderat resistant to tungro. 1 asession germ plasm resistant to tungro : Deli and 25 aseccion MR to tungro. Hybrid Lines IR 79128 A resistant to tungro. To BLB 3 lines (DHP) MR, 6 lines (DHL) MR, 137 germ plasm (MR) and Aceh-aceh , Abang (R). Hybrid lines 70.77% (MR) to ras III 26.08% (MR) to ras IV, and 8.40% (MR) to ras 8. 4 lines (29.5%) resistant to 4 race, 3 race (27%) 2 race (24%) and 1 race (16.5%) B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxixity and shading. Three line sub mergence tolerance IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 and moderat lines IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

ROPP 7.2
IDENTIFIKASI BIOTIPE WERENG COKLAT, PATOTIPE HAWAR DAUN BAKTERI, DAN KOMPOSISI SPESIES PENGGEREK Dl DAERAH ENDEMIS
Prof. Dr. Baehaki SE dkk
ABSTRAK
Wereng coklat, penggerek batang padi, dan HDB merupakan hama dan penyakit utama pada tanaman padi dan telah banyak menimbulkan kerusakan di hampir setiap tahun pertanaman padi. Keganasan hama dan penyakit tersebut disebabkan oleh kemampuan hama da penyakit tersebut beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk mudah beradaptasi dengan varietas tahan. Wereng coklat mempakan hama r-strategik dengan ciri: 1) serangga kecil yang cepat menemukan habitatnya, 2) berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetisi, 3) mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi, dan 4) mudah beradaptasi dengan habitat baru membentuk biotipe baru. Penggerek mempunyai keragaman spesies yang besar, sehingga bila spesies satu tidak ada, maka akan muncul spesies yang lainnya, sehingga pengrusakan terhadap tanaman padi akan tetap berlangsung. Di lain pihak penyakit HDB cepat berubah strain dan dapat dengan segera merusak tanaman padi yang dikatakan tahan. Wereng Coklat yang ditentukan biotipenya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wereng-wereng dari daerah di pelihara di laboratorium selama 1 generasi dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi biotipe dengan standar penilaian dari IRRI 1995. HDB yang ditentukan Strainnya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daun-daun padi yang terserangn HDB dari daerah di isolasi dengan metode pencucian daun (leaf washing) dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi strain dengan standar penilaian dari IRRI 1995. Larva penggerek batang padi dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dibedakan dengan kunci identifikasi, sehingga didaptkan komposisi penggerek padi di setiap daerah. Pemantauan spesies penggerek batang dilakukan untuk menentukan spesies dominan di Pulau Jawa. Untuk menentukan spesies penggerek batang dilakukan dengan cara melihat morfologi larva dan dikuatkan morfologi ngengat. Di tiap lokasi pada dua atau tiga stadia tanaman padi, diambil 100 batang dengan gejala serangan penggerek, baik gejala sundep maupun beluk Kemudian gejala sundep dan beluk tersebut itu dibelah, larva yang didapat dimasukkan ke dalam botol alkohol 70%, kemudian diidentifikasi. Pada lokasi dengan larva dari genus Scirpophaga, untuk menentukan spesies penggerek batang padi kuning stemborer (Scirpophaga incertulas W: Lepidoptera. Pyralidae) atau penggerek batang putih (Scirpophaga innotata W: Lepidoptera. Pyralidae) didasarkan pada ngengat yang ditemukan di lapangan atau dari ngengat yang keluar dari larva yang dipelihara. Di Pantai Utara Jawa Barat yang terdiri dari Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Di Jawa Barat bagian tengah yaitu di kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Di Jawa Tengah meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Kendal, Kudus, Pati, Sragen, Sukoharjo dan Klaten, di DIY di kabupaten Sleman dan di Jawa Timur di kabupaten Ngawi. Penelitian strain bakteri Xoo di daerah sentra produksi padi di Jawa dilaksanakan dengan metode survey dan pengambilan sample tanaman padi sakit HDB pada MK 2007. Isolasi bakteri Xoo dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dengan metode pencucian menggunakan media PSA. Keragaman virulensi bakteri Xoo dievaluasi pada 5 varietas diferensial di screen field KP Sukamandi pada MH 2007/208. Inokulasi dilakukan dengan metode gunting pada pertanaman padi stadia anakan maksimum. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan dengan mengukur gejala penyakit yang muncul pada 4 minggu setelah inokulasi. Keparahan 10% tergolong peka (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wereng coklat yang berada di Jawa Tengah (Kudus, Pati dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), Ngawi-Jawa Timur, dan Cianjur-Jawa Barat adalah wereng coklat biotipe 4. Wereng coklat biotipe 4 dicirikan dengan patahnya ketahanan varietas yang mempunyai gen Bph1 (varietas differensial Mudgo) dan bph2 (varietas differensial ASD7). Varietas padi yang mempunyai gen tahan Bph3 (varietas differensial Rathu Heenati) dan Bph6 (varietas differensial Swarnalata) tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Varietas padi yang mempunyai gen tahan digenik bph2 dan Bph3 seperti halnya varietas differensial PTB33 tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Berdasarkan morfologi larva dan tangkapan ngengat, spesies penggerek batang padi di Kabupaten Subang didominasi oleh penggerek batang padi kuning yang mencapai 90%. Sisanya ialah penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). Namun berdasarkan tangkapan lampu perangkap di Sukamandi ditemukan juga penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata dan penggerek batang bergaris (Chilo spp: W: Lepidoptera. Pyralidae) dalam populasi yang sangat rendah. Di Kabupaten Indramayu, komposisi spesies berbeda antar kecamatan. Di kecamatan Widasari berdasarkan ngengat di lapangan merupakan penggerek batang padi kuning. Di Indramayu bagian tengah yaitu di Kecamatan Segeran Kidul ditemukan penggerek batang padi putih, dan di Indramayu bagian timur yaitu di Tambi ada kedua-duanya yaitu penggerek batang padi putih dan penggerek batang padi kuning. Komposisi spesies penggerek batang padi di Kabupaten Cirebon juga berbeda antar lokasi. Di dua lokasi hanya ditemukan PBPK, sedangkan di desa Maro selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu dalam jumlah yang rendah (2%). Di Karawang spesies penggerek batang padi kuning paling banyak. Spesies yang lain yaitu penggerek batang merah jambu yang ditemukan di Karawang Utara, sedangkan di Karawang Timur yaitu di Kecamatan Jatisari hanya ditemukan PBPK. Di Cianjur dari semua pengamatan hanya dijumpai PBPK, sedangkan di Sukabumi selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu sebanyak 2%. Di Jawa Tengah juga, penggerek batang padi kuning paling dominan, penggerek batang merah jambu ditemukan dalam jumlah yang rendah kecuali di Tegal dalam jumlah lebih banyak dan tidak ditemukan penggerek batang bergaris. Hasil penelitian identifikasi HDB menunjukkan, bahwa dari 132 isolat bakteri yang diuji, 31 isolat (23,5%) tergolong strain III, 21 isolat (15,9%) strain IV, dan 80 isolat (60,6%) VIII. Di Jawa Barat dari 47 isolat yang diperoleh, 11 isolat (23,4%) tergolong strain III, 13 isolat (27,7) strain IV, dan 23 isolat (48,9%) strain VIII. Di Jawa tengah diperoleh 34 isolat, 6 isolat (17,7%) strain III, 8 isolat (23,5%) strain IV, dan 20 isolat (58,8%) strain VIII. Di DIY diperoleh 10 isolat, 5 isolat (50%) strain III dan 5 isolat (50%) strain VIII, tidak ditemukan strain IV. Di Jawa Timur diperoleh 41 isolat, 9 isolat (22%) strain III, 32 isolat (78%) strain VIII, dan tidak ditemukan strain IV. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa, umumnya di semua lokasi kecuali DIY, strain VIII merupakan strain bakteri Xoo yang dominant pada MK 2007.
ABSTRACT
Brown planthopper (BPH), rice stem borer (RSB), and bacterial leaf blight (BLB) were mayor pests on rice and destroyed almost all years of rice plantation. The pests virulent above is caused by adaptive ability of those pests to environment, include adaptation to resistance varieties. The BPH as a r-strategic pest with characteristic 1) small insect that quick discovery it habitat, 2) high developed to some generation and ability used of source food, 3) quick distribute to new habitat, before the old habitat useless, and 4) easy adapted to new habitat/resistance variety and formed new biotype. In the other hand the rice stem borer diversity as obstacle to forecast and control those pests. Another obstacle to control those pests, because don’t exactly monitoring and determine time of application and critical phase. The bacterial leaf blight (BLB) easy to changes strain and quick adapted to new varieties. For determining BPH biotype and stain of HDB, and RSB composition were from West Java, Central Java, and East Java). Determine BPH biotype and BLB strain used standard evaluation of IRRI, where as composition of RSB was determined by key of identification book. The results of the research showed that BPH from West Java (Cianjur), Central Java (Kudus, Pati, dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), and East Java (Ngawi) were biotype 4. The yellow rice stemborer comprised 90% of larva at Subang, the rest of larva was the pink rice stemborer (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). The white stemborer moths were also caught in a small number from light trap in Sukamandi. At Indramayu, composition of species depended on kacamatan. At Widasari only the yellow stemborer was found, at Central Indramayu at Segeran Kidul only the white rice stemborer. At East Indramayu, both species the yellow and white stemborer were found. At Cirebon, the yellow stemborer was dominant. Among three locations, the pink stem borer at low population (2%) was found in one location (Desa Maro, Gebang). Similarly, at Karawang the yellow rice stemborer was the main species. Only at North Karawang, 9% population of larva was the pink stemborer. At Cianjur in Central West Java, the yellow stemborer was the only species. While at Sukabumi beside the yellow stemborer, the was 2 % of the pink stemborer. In Central Java also the yellow stemborer was the dominant species, no stripe stemborer found in all locations, a small number of pink stem borer, except at Tegal the pink stemborer out number of the yellow stemborer. The results indicated we were totel collected are 132 of Xoo isolates have been pure cultured. Among them are 31 isolates (23,5%) have been identified as strain III, 21 isolates (15,9%) as strain IV, and 80 isolates (60,6%) as strain VIII. Strain structures of Xoo indicated that in West Java there were 47 isolates, among them 11 isolates (23,4%) have been identified as strain III, 13 isolates (27,7) as strain IV, and 23 isolates (48,9%) as strain VIII. In Central Java, there were 34 isolates, 6 isolates (17,7%) as strain III, 8 isolates (23,5%) as strain IV, and 20 isolates (58,8%) as strain VIII. In DIY there were 10 isolates, 5 isolates (50%) strain III and 5 isolates (50%) strain VIII, and no strain IV was found. In East Java there were 41 isolates, among them are 9 isolates (22%) as strain III, 32 isolates (78%) as strain VIII, and no strain IV was found. In general it was clear that in all locations, except DIY pathotype VIII dominated the strain of Xoo during the DS 2007.

ROPP 7.3
PENELITIAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAYATI DAN PESTISIDA
NABATI UNTUK TIKUS, WERENG COKLAT, KEONG MAS,
DAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Dr. Sudarmadji dkk
ABSTRAK
Penelitian Teknologi Pengendalian Hayati dan Pestisida Nabati untuk Tikus, Wereng Cokelat, Keong Mas, dan Penyakit Hawar Daun Bakteri. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa BB Padi tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk: 1).Mempelajari persistensi penurunan produksi sperma tikus sawah jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak secara oral; 2) Mempelajari virulensi Beauveria bassiana dalam formulasi kaolin terhadap hama wereng di laboratorium; 3) Menentukan bahan campuran yang dapat meningkatkan efektifitas daya bunuh Saponin terhadap keong mas dan; 4) Mendapatkan bahan nabati yang efektif untuk mengendalikan Hawar Daun Bakteri. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penurunan produksi sperma tikus jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak Ricinus communis sebagai bahan antifertilitas, bersifat tidak permanen (temporer), oleh karena itu sebaiknya bahan tersebut digunakan sebagai rodentisida nabati; 2) Bevaria 10WP dosis 1.5 dan 2 kg/ha mampu menekan imago wereng coklat, namun demikian Bevaria 10WP pada dosis 0.5, 1.0, 1.5 dan 2 kg/ha, maupun Appaud 10WP tidak mampu menekan nimfa wereng coklat; 3) Saponin efektif terhadap keong mas pada dosis 20 kg/ha baik dalam bentuk tepung maupun kasar. Pencampuran dengan pupuk dasar Urea+SP36+KCl lebih efektif meurunkan kerusakan. Penyimpanan saponin dalam plastik selama 12 minggu menurunkan efektifitasnya; 4) Lengkuas, lidah buya, sirih dan serai wangi menekan pertumbuhan penyakit HDB.

ROPP 7.4
UJI KETAHANAN ASESI/GALUR TERHADAP CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Ir. Erwina Lubis
ABSTRAK
Uji ketahanan asesi galur terhadap cekaman biotik dan abiotik. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Di luar Jawa padi gogo banyak di tanam dilahan kering kering podzolik merah kuning . Kendala biotik dan abiotik di lahan kering tersebut adalah penyakit blas, keracunan AL dan kekeringan. Untuk wilayah hutan tanaman industri dan perkebunan diperlukan varietas yang juga toleran naungan. Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan meliputi skrining galur/varietas padi terhadap keracuanan Al , kekeringan dan naungan, Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca bogor pada musim tanam I. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Dari hasil skrining galur/varitas padi terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan bereaksi agak toleran terhadap keracunan Al. Galur padi gogo yaitu B11598G-TB-2-5 dan empat galur padi rawa yaitu B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1 dan B7003D-MR-24-3-1 memiliki nilai RPA 0,82-0,86 atau lebih tinggi dari galur-galur semua galur yang diuji, Pada skrining galur/varietas padi terhadap kekeringan terpilih 5, 40 dan 64 galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran, toleran dan agak toleran terhadap kekeringan Empat dari lima galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran adalah B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 merupakan hasil persilangan Batutugi/Memberamo memiliki daya tumbuh bervariasi dari nilai 3 (70-89%) sampai 5 (40-69 %). Satu galur lainnya yaitu B11178G-TB-29 memiliki daya tumbuh kembali 90-100%. Pada skrining galur/varietas padi gogo terhadap naungan hanya 20 galur padi gogo yang toleransinya sama dengan Jatiluhur. Dari hasil ke tiga macam skrining ini hanya satu galur yaitu B11178G-TB-29 yang menunjukkan reaksi toleran terhadap keracunan Al. dan naungan dan sangat toleran terhadap kekeringan. Galur B11338-TB-26 bereaksi agak toleran dan toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan. Sisa dari galur-galur terpilih tersebut hanya toleran terhadap salah satu kendala lapang saja.

Kata kunci: padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan, toleran naungan
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and a biotic constraint. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Outside of Java region, most of the upland rice is cultivated in yellow red podzolic (PMK) soil. Biotic and a biotic constraints in yellow red podzolic soil are blast , Al toxicity and drought. For agro forestry and agriculture needed varieties which are shading tolerant. The activities of the experiment included screening rice lines for Al. toxicity, drought and shading. All of the activities were done in the green house in Bogor. Twelve and 48 upland rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Eight and 18 deepwater rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Upland rice line B11598G-TB-2-5 and four deepwater rice lines were B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1, B7003D-MR-24-3-1have relative root length about 0,82–0,86 highest most selected lines. In drought screening were selected 5, 40 and 64 upland rice lines which were high tolerant, tolerant and medium tolerant to drought respectively. The most tolerant five upland rice lines were B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 the same progenie of Batutugi/Memberamo which have recovery degree about 3 (70-89%) to 5 (40-69 %). Only B11178G-TB-29 had recovery about 90-100%. In screening rice lines to shading only 20 lines were tolerant similar to Jatiluhur. From the three kinds of screening only B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxicity and shading, and highest tolerant to drought. Line of B11338-TB-26 was medium tolerant to Al toxicity and tolerant to drought. The rest of selected lines were tolerant to one of field constraints.

Key words: Upland rice, aluminium toxicity tolerant, drought tolerant ,
shading tolerant.

PENELITIAN MEKANISME PERUBAHAN
PATOTIPE/RAS/VIRULENSI HAWAR DAUN BAKTERI,
BLAS DAN TUNGRO
“STUDI MEKANISME PERUBAHAN RAS PATOGEN BLAS”
Santoso Msi dkk
ABSTRAK
Penyakit blas yang disebabkan cendawan Pyricularia grisea merupakan salah satu penyakit utama pada padi. Patogen blas mempunyai banyak ras/haplotipe, yang biasanya ditentukan berdasarkan kemampuannya menimbulkan penyakit pada varietas differensial. Populasi patogen yang dinamik dapat mempercepat patahnya ketahanan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kecepatan perubahan ras patogen blas dan pengaruh pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas terhadap perubahan ras patogen blas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ras P. grisea dapat terjadi dalam satu siklus reisolasi baik pada pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas

Kata kunci: Perubahan ras, pertanaman mosaik, campuran, rotasi varietas.
ABSTRACT
Rice blast caused by Pyricularia grisea is one of the most important and well studied diseases of rice. Numerous races, or pathotypes, of the pathogen exist and are usually defined by their ability or inability to cause disease on set of host differentials. The dynamics of fungal population structures often shorten the lifetime of plant resistance. The objectives of this study are to know the speed of race change and the effect mosaik planting, mixture and variety rotation to change of race. The result of experiment showed that one cycle of blast pathogen reisolation at mozaik planting, mix planting and varietal rotation have experienced of race change.

Key words: Change of race, mosaik palnting, mixture, variety rotation.

ROPP 7.5
PENELITIAN PENYAKIT TULAR TANAH DAN PENYAKIT TULAR BENIH TERKAIT DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK
Bambang Nuryanto, Msi dkk
ABSTRAK
Perkembangan penyakit tular tanah (hawar pelepah) yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada beberapa model tanam dan penambahan berbagai jenis kompos. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kuningan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada musim tanam I tahun 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanam dan penambahan jenis kompos nyata mempengaruhi perkembangan penyakit hawar pelepah. Model pertanaman yang lebih rapat seperti legowo 4:1 (40-20-10)cm dan tegel 20x20cm menyebabkan penyakit hawar pelepah berkembang lebih parah. Pada petak pertanaman yang menerima penambahan bahan organik terutama kompos jerami dan pupuk kandang dapat menghambat perkembangan penyakit hawar pelepah, menurunkan prosentase gabah terinfeksi pathogen terbawa benih terutama Aspergillus sp. dan Helminthosporium oryzae dan meningkatkan pencapaian hasil panen.
Kata kunci: Hasil, keparahan penyakit, hawar pelepah, kompos, model tanam
ABSTRACT
Soil borne disease development(rice sheath blight) caused Rhizoctonia solani on the some rice planting systems and different organic matter composted amendments was evaluated in the Kuningan research station of Center Institute for Rice Research at first season of 2007. The result showed that the planting systems and different organic matter amandments were significant affected to development of rice sheath blight. Planting systems with shorter space such as legowo 4:1 (40-20-10)cm and tegel 20x20cm were caused disease development more severe, other wise soil organic matter amendment particularly paddy straw composted and livestock manure were decreasing rice sheath blight development, decreasing of grains infected by seed borne pathogen especially Aspergillus sp. and Helminthosporium oryzae and increasing of yield.

Key words: Yield, disease severity, rice sheath blight, compost, planting system.

Posted in HPT | Leave a comment

CONTOH PENELITIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

CONTOH PENELITIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN

UJI KETAHANAN ASESI/ GALUR TERHADAP
CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Dra Triny S. Kadir
ABSTRAK
Dalam meningkatkan produksi padi ternyata varietas memberi sumbangan yang cukup besar. Namun demikian hama penyakit merupakan kendala dilapangan, dan untuk merilis varietas perlu adanya data dukung terhadap ketahanan wereng coklat, tungro, HDB(Hawar Daun Bakteri) dan blast. Pengujian ketahanan terhadap wereng coklat, tungro, HDB dan blast telah dilakukan pada MT 2007 di BB Padi. Pengujian wereng coklat telah dilaksanakan di rumah kasa BB Padi, tungro di rumah kasa BB Padi, HDB di lapangan dan rumah kasa. Serta Blast di Muara. Untuk wereng coklat jumlah galur inbrida yang diuji 160 asessi, galur hibrida 331 asesi, plasma nutfah 100 asesi. Pengujian wereng coklat secara masal, penapisan dan population built up. Untuk tungro jumlah materi inbrida yang diuji 339 galur, hibrida 331 galur. Galur disebar mengikuti design pengujian IRTN didalam pot plastik didalam rumah kaca. HDB materi observasi 1512 galur, hibrida 138 galur , Materi DHP dan materi DHL, dan plasma nutfah. Pengujian di rumah kasa untuk stadia bibit menggunakan box . Pengujian blas dengan 4 ras yang berbeda yaitu ras 101,123,141 dan ras 373. Hasil penelitian menunjukkan dari galur inbrida didapat 14 galur yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3. Dari galur hibrida hanya didapat 2 galur yang tahan terhadp wereng coklat biotipe 3. Dari plasma nutfah hanya didapat 2 asesi yang tahan terhadap wereng coklat biotipe 3 (Pulut Lewok dan Ketan Ulis). Hasil pengujian wereng coklat dengan metoda “population built up” BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP4188-7f-1-2-2*B, BP 2870-4e- Kn-22-2-1-5*B. Hasil pengujian tungro 1 galur sawah tahan terhadap tungro yaitu BP 4232-1f-2-1-2*B dan 22 galur agak tahan trhadap tungro. Untuk asesi plasma nutfah 1 asesi varietas Deli tahan. 25 asesi agak tahan . Untuk galur hibrida dengan test tube 1 galur IR79128A tahan dan IR 80156* dan IR688897 agak tahan. Untuk HDB materi observasi menunjukkan tahan terhadap patotipe IV 0,06% dan agak tahan 10,11%. Untuk materi plasma nutfah 2 asesi tahan HDB patotipe IV. Pada DHP 3 galur MR terhadp HDB, 6 galur (DHL) MR terhadap HDB. Dari plasma nutfah Aceh-aceh dan Abang tahan terhadap HDB. Hibrida menunjukkan 70,77% MR terhadap ras III, 26,08% MR terhadap ras IV dan 8,40% (MR) terhadap ras VIII. Untuk pengujian Blas tahan 4 ras ada 59 galur, tahan 3 ras 54 galur tahan 2 ras 48 galurdan tahan 1 ras 3 galur. Kegiatan skrining galur/varietas padi terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca Bogor pada MT I . Tujuan penelitian untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap skeracunan Al, kekeringan dan naungan. Hasil penelitian menunjukkan hasil skrining terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al. Dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan agak toleran B11178G-TB-29 toleran terhadap keracunan Al dan naungan. Diperoleh tiga galur yang toleran terhadap rendaman yaitu: IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 dan satu galur tergolong moderat yaitu IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

Kata kunci: padi sawah, padi gogo, wereng coklat, tungro, HDB, padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan , toleran naungan.
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and abiotic constraints. The activities of the experiment included screening rice lines to biotic constraint to brown plant hopper screening method and population built up, to tungro, bacterial blight and blast. To abiotic constraint screening for Al toxicity, draught and shading. The activities ware done in the Green House Sukamandi 2007, Field experiment Sukamandi and in the green house in Bogor. The result of the experiment 14 lines resistant to brown planthopper byotipe 3, and the lines was resistant by population built up method BP 4130-1f-13-3-2 *B, BP 4188-7f-1-2-2*B, BP2870-4e-Kn-22-2-1-5*B. 2 asseccion rice germ plasm resistant to byotipe 3 (Pulut lewok and Ketan Ulis). 2 hybrid lines (0.6%) resistant to brown planthopper byotipe 3 (IR6888A/CRS117 dan IR68897A/CRS117). BP 4232-1f-2-1-2*B resistant to tungro and 22 lines moderat resistant to tungro. 1 asession germ plasm resistant to tungro : Deli and 25 aseccion MR to tungro. Hybrid Lines IR 79128 A resistant to tungro. To BLB 3 lines (DHP) MR, 6 lines (DHL) MR, 137 germ plasm (MR) and Aceh-aceh , Abang (R). Hybrid lines 70.77% (MR) to ras III 26.08% (MR) to ras IV, and 8.40% (MR) to ras 8. 4 lines (29.5%) resistant to 4 race, 3 race (27%) 2 race (24%) and 1 race (16.5%) B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxixity and shading. Three line sub mergence tolerance IR82810-407, IR40931-33-1-3-2, IR49830-7-1-2-3 and moderat lines IR70213-10-CPA-2-UBN-B-1-1-3.

ROPP 7.2
IDENTIFIKASI BIOTIPE WERENG COKLAT, PATOTIPE HAWAR DAUN BAKTERI, DAN KOMPOSISI SPESIES PENGGEREK Dl DAERAH ENDEMIS
Prof. Dr. Baehaki SE dkk
ABSTRAK
Wereng coklat, penggerek batang padi, dan HDB merupakan hama dan penyakit utama pada tanaman padi dan telah banyak menimbulkan kerusakan di hampir setiap tahun pertanaman padi. Keganasan hama dan penyakit tersebut disebabkan oleh kemampuan hama da penyakit tersebut beradaptasi dengan lingkungannya, termasuk mudah beradaptasi dengan varietas tahan. Wereng coklat mempakan hama r-strategik dengan ciri: 1) serangga kecil yang cepat menemukan habitatnya, 2) berkembang biak dengan cepat dan mampu mempergunakan sumber makanan dengan baik sebelum serangga lain ikut berkompetisi, 3) mempunyai sifat menyebar dengan cepat ke habitat baru sebelum habitat lama tidak berguna lagi, dan 4) mudah beradaptasi dengan habitat baru membentuk biotipe baru. Penggerek mempunyai keragaman spesies yang besar, sehingga bila spesies satu tidak ada, maka akan muncul spesies yang lainnya, sehingga pengrusakan terhadap tanaman padi akan tetap berlangsung. Di lain pihak penyakit HDB cepat berubah strain dan dapat dengan segera merusak tanaman padi yang dikatakan tahan. Wereng Coklat yang ditentukan biotipenya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wereng-wereng dari daerah di pelihara di laboratorium selama 1 generasi dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi biotipe dengan standar penilaian dari IRRI 1995. HDB yang ditentukan Strainnya diambil dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daun-daun padi yang terserangn HDB dari daerah di isolasi dengan metode pencucian daun (leaf washing) dan diujikan terhadap verietas differensial (pembeda) reaksi strain dengan standar penilaian dari IRRI 1995. Larva penggerek batang padi dari Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dibedakan dengan kunci identifikasi, sehingga didaptkan komposisi penggerek padi di setiap daerah. Pemantauan spesies penggerek batang dilakukan untuk menentukan spesies dominan di Pulau Jawa. Untuk menentukan spesies penggerek batang dilakukan dengan cara melihat morfologi larva dan dikuatkan morfologi ngengat. Di tiap lokasi pada dua atau tiga stadia tanaman padi, diambil 100 batang dengan gejala serangan penggerek, baik gejala sundep maupun beluk Kemudian gejala sundep dan beluk tersebut itu dibelah, larva yang didapat dimasukkan ke dalam botol alkohol 70%, kemudian diidentifikasi. Pada lokasi dengan larva dari genus Scirpophaga, untuk menentukan spesies penggerek batang padi kuning stemborer (Scirpophaga incertulas W: Lepidoptera. Pyralidae) atau penggerek batang putih (Scirpophaga innotata W: Lepidoptera. Pyralidae) didasarkan pada ngengat yang ditemukan di lapangan atau dari ngengat yang keluar dari larva yang dipelihara. Di Pantai Utara Jawa Barat yang terdiri dari Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Di Jawa Barat bagian tengah yaitu di kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Di Jawa Tengah meliputi Brebes, Tegal, Pemalang, Kendal, Kudus, Pati, Sragen, Sukoharjo dan Klaten, di DIY di kabupaten Sleman dan di Jawa Timur di kabupaten Ngawi. Penelitian strain bakteri Xoo di daerah sentra produksi padi di Jawa dilaksanakan dengan metode survey dan pengambilan sample tanaman padi sakit HDB pada MK 2007. Isolasi bakteri Xoo dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Balai Besar Penelitian Tanaman Padi dengan metode pencucian menggunakan media PSA. Keragaman virulensi bakteri Xoo dievaluasi pada 5 varietas diferensial di screen field KP Sukamandi pada MH 2007/208. Inokulasi dilakukan dengan metode gunting pada pertanaman padi stadia anakan maksimum. Pengamatan keparahan penyakit dilakukan dengan mengukur gejala penyakit yang muncul pada 4 minggu setelah inokulasi. Keparahan 10% tergolong peka (S). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wereng coklat yang berada di Jawa Tengah (Kudus, Pati dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), Ngawi-Jawa Timur, dan Cianjur-Jawa Barat adalah wereng coklat biotipe 4. Wereng coklat biotipe 4 dicirikan dengan patahnya ketahanan varietas yang mempunyai gen Bph1 (varietas differensial Mudgo) dan bph2 (varietas differensial ASD7). Varietas padi yang mempunyai gen tahan Bph3 (varietas differensial Rathu Heenati) dan Bph6 (varietas differensial Swarnalata) tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Varietas padi yang mempunyai gen tahan digenik bph2 dan Bph3 seperti halnya varietas differensial PTB33 tahan terhadap wereng coklat biotipe 4. Berdasarkan morfologi larva dan tangkapan ngengat, spesies penggerek batang padi di Kabupaten Subang didominasi oleh penggerek batang padi kuning yang mencapai 90%. Sisanya ialah penggerek batang merah jambu (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). Namun berdasarkan tangkapan lampu perangkap di Sukamandi ditemukan juga penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata dan penggerek batang bergaris (Chilo spp: W: Lepidoptera. Pyralidae) dalam populasi yang sangat rendah. Di Kabupaten Indramayu, komposisi spesies berbeda antar kecamatan. Di kecamatan Widasari berdasarkan ngengat di lapangan merupakan penggerek batang padi kuning. Di Indramayu bagian tengah yaitu di Kecamatan Segeran Kidul ditemukan penggerek batang padi putih, dan di Indramayu bagian timur yaitu di Tambi ada kedua-duanya yaitu penggerek batang padi putih dan penggerek batang padi kuning. Komposisi spesies penggerek batang padi di Kabupaten Cirebon juga berbeda antar lokasi. Di dua lokasi hanya ditemukan PBPK, sedangkan di desa Maro selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu dalam jumlah yang rendah (2%). Di Karawang spesies penggerek batang padi kuning paling banyak. Spesies yang lain yaitu penggerek batang merah jambu yang ditemukan di Karawang Utara, sedangkan di Karawang Timur yaitu di Kecamatan Jatisari hanya ditemukan PBPK. Di Cianjur dari semua pengamatan hanya dijumpai PBPK, sedangkan di Sukabumi selain PBPK ditemukan juga penggerek batang merah jambu sebanyak 2%. Di Jawa Tengah juga, penggerek batang padi kuning paling dominan, penggerek batang merah jambu ditemukan dalam jumlah yang rendah kecuali di Tegal dalam jumlah lebih banyak dan tidak ditemukan penggerek batang bergaris. Hasil penelitian identifikasi HDB menunjukkan, bahwa dari 132 isolat bakteri yang diuji, 31 isolat (23,5%) tergolong strain III, 21 isolat (15,9%) strain IV, dan 80 isolat (60,6%) VIII. Di Jawa Barat dari 47 isolat yang diperoleh, 11 isolat (23,4%) tergolong strain III, 13 isolat (27,7) strain IV, dan 23 isolat (48,9%) strain VIII. Di Jawa tengah diperoleh 34 isolat, 6 isolat (17,7%) strain III, 8 isolat (23,5%) strain IV, dan 20 isolat (58,8%) strain VIII. Di DIY diperoleh 10 isolat, 5 isolat (50%) strain III dan 5 isolat (50%) strain VIII, tidak ditemukan strain IV. Di Jawa Timur diperoleh 41 isolat, 9 isolat (22%) strain III, 32 isolat (78%) strain VIII, dan tidak ditemukan strain IV. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa, umumnya di semua lokasi kecuali DIY, strain VIII merupakan strain bakteri Xoo yang dominant pada MK 2007.
ABSTRACT
Brown planthopper (BPH), rice stem borer (RSB), and bacterial leaf blight (BLB) were mayor pests on rice and destroyed almost all years of rice plantation. The pests virulent above is caused by adaptive ability of those pests to environment, include adaptation to resistance varieties. The BPH as a r-strategic pest with characteristic 1) small insect that quick discovery it habitat, 2) high developed to some generation and ability used of source food, 3) quick distribute to new habitat, before the old habitat useless, and 4) easy adapted to new habitat/resistance variety and formed new biotype. In the other hand the rice stem borer diversity as obstacle to forecast and control those pests. Another obstacle to control those pests, because don’t exactly monitoring and determine time of application and critical phase. The bacterial leaf blight (BLB) easy to changes strain and quick adapted to new varieties. For determining BPH biotype and stain of HDB, and RSB composition were from West Java, Central Java, and East Java). Determine BPH biotype and BLB strain used standard evaluation of IRRI, where as composition of RSB was determined by key of identification book. The results of the research showed that BPH from West Java (Cianjur), Central Java (Kudus, Pati, dan Klaten), Yogyakarta (Bantul dan Kulon Progo), and East Java (Ngawi) were biotype 4. The yellow rice stemborer comprised 90% of larva at Subang, the rest of larva was the pink rice stemborer (Sesamia inferens, W: Lepidoptera, Noctuidae). The white stemborer moths were also caught in a small number from light trap in Sukamandi. At Indramayu, composition of species depended on kacamatan. At Widasari only the yellow stemborer was found, at Central Indramayu at Segeran Kidul only the white rice stemborer. At East Indramayu, both species the yellow and white stemborer were found. At Cirebon, the yellow stemborer was dominant. Among three locations, the pink stem borer at low population (2%) was found in one location (Desa Maro, Gebang). Similarly, at Karawang the yellow rice stemborer was the main species. Only at North Karawang, 9% population of larva was the pink stemborer. At Cianjur in Central West Java, the yellow stemborer was the only species. While at Sukabumi beside the yellow stemborer, the was 2 % of the pink stemborer. In Central Java also the yellow stemborer was the dominant species, no stripe stemborer found in all locations, a small number of pink stem borer, except at Tegal the pink stemborer out number of the yellow stemborer. The results indicated we were totel collected are 132 of Xoo isolates have been pure cultured. Among them are 31 isolates (23,5%) have been identified as strain III, 21 isolates (15,9%) as strain IV, and 80 isolates (60,6%) as strain VIII. Strain structures of Xoo indicated that in West Java there were 47 isolates, among them 11 isolates (23,4%) have been identified as strain III, 13 isolates (27,7) as strain IV, and 23 isolates (48,9%) as strain VIII. In Central Java, there were 34 isolates, 6 isolates (17,7%) as strain III, 8 isolates (23,5%) as strain IV, and 20 isolates (58,8%) as strain VIII. In DIY there were 10 isolates, 5 isolates (50%) strain III and 5 isolates (50%) strain VIII, and no strain IV was found. In East Java there were 41 isolates, among them are 9 isolates (22%) as strain III, 32 isolates (78%) as strain VIII, and no strain IV was found. In general it was clear that in all locations, except DIY pathotype VIII dominated the strain of Xoo during the DS 2007.

ROPP 7.3
PENELITIAN TEKNOLOGI PENGENDALIAN HAYATI DAN PESTISIDA
NABATI UNTUK TIKUS, WERENG COKLAT, KEONG MAS,
DAN PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
Dr. Sudarmadji dkk
ABSTRAK
Penelitian Teknologi Pengendalian Hayati dan Pestisida Nabati untuk Tikus, Wereng Cokelat, Keong Mas, dan Penyakit Hawar Daun Bakteri. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa BB Padi tahun 2007. Penelitian bertujuan untuk: 1).Mempelajari persistensi penurunan produksi sperma tikus sawah jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak secara oral; 2) Mempelajari virulensi Beauveria bassiana dalam formulasi kaolin terhadap hama wereng di laboratorium; 3) Menentukan bahan campuran yang dapat meningkatkan efektifitas daya bunuh Saponin terhadap keong mas dan; 4) Mendapatkan bahan nabati yang efektif untuk mengendalikan Hawar Daun Bakteri. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa: 1) Penurunan produksi sperma tikus jantan setelah pemberian ekstrak biji jarak Ricinus communis sebagai bahan antifertilitas, bersifat tidak permanen (temporer), oleh karena itu sebaiknya bahan tersebut digunakan sebagai rodentisida nabati; 2) Bevaria 10WP dosis 1.5 dan 2 kg/ha mampu menekan imago wereng coklat, namun demikian Bevaria 10WP pada dosis 0.5, 1.0, 1.5 dan 2 kg/ha, maupun Appaud 10WP tidak mampu menekan nimfa wereng coklat; 3) Saponin efektif terhadap keong mas pada dosis 20 kg/ha baik dalam bentuk tepung maupun kasar. Pencampuran dengan pupuk dasar Urea+SP36+KCl lebih efektif meurunkan kerusakan. Penyimpanan saponin dalam plastik selama 12 minggu menurunkan efektifitasnya; 4) Lengkuas, lidah buya, sirih dan serai wangi menekan pertumbuhan penyakit HDB.

ROPP 7.4
UJI KETAHANAN ASESI/GALUR TERHADAP CEKAMAN BIOTIK DAN ABIOTIK
Ir. Erwina Lubis
ABSTRAK
Uji ketahanan asesi galur terhadap cekaman biotik dan abiotik. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Di luar Jawa padi gogo banyak di tanam dilahan kering kering podzolik merah kuning . Kendala biotik dan abiotik di lahan kering tersebut adalah penyakit blas, keracunan AL dan kekeringan. Untuk wilayah hutan tanaman industri dan perkebunan diperlukan varietas yang juga toleran naungan. Pada penelitian ini kegiatan yang dilakukan meliputi skrining galur/varietas padi terhadap keracuanan Al , kekeringan dan naungan, Semua kegiatan dilakukan di rumah kaca bogor pada musim tanam I. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan sejumlah galur padi yang toleran terhadap keracunan Al, kekeringan dan naungan. Dari hasil skrining galur/varitas padi terhadap keracunan Al terpilih 12 dan 48 galur padi gogo yang bereaksi toleran dan agak toleran terhadap keracunan Al dan pada galur/varietas padi rawa sebanyak 8 dan 18 galur bereaksi toleran dan bereaksi agak toleran terhadap keracunan Al. Galur padi gogo yaitu B11598G-TB-2-5 dan empat galur padi rawa yaitu B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1 dan B7003D-MR-24-3-1 memiliki nilai RPA 0,82-0,86 atau lebih tinggi dari galur-galur semua galur yang diuji, Pada skrining galur/varietas padi terhadap kekeringan terpilih 5, 40 dan 64 galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran, toleran dan agak toleran terhadap kekeringan Empat dari lima galur padi gogo yang bereaksi sangat toleran adalah B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 merupakan hasil persilangan Batutugi/Memberamo memiliki daya tumbuh bervariasi dari nilai 3 (70-89%) sampai 5 (40-69 %). Satu galur lainnya yaitu B11178G-TB-29 memiliki daya tumbuh kembali 90-100%. Pada skrining galur/varietas padi gogo terhadap naungan hanya 20 galur padi gogo yang toleransinya sama dengan Jatiluhur. Dari hasil ke tiga macam skrining ini hanya satu galur yaitu B11178G-TB-29 yang menunjukkan reaksi toleran terhadap keracunan Al. dan naungan dan sangat toleran terhadap kekeringan. Galur B11338-TB-26 bereaksi agak toleran dan toleran terhadap keracunan Al dan kekeringan. Sisa dari galur-galur terpilih tersebut hanya toleran terhadap salah satu kendala lapang saja.

Kata kunci: padi gogo, toleran keracunan Al, toleran kekeringan, toleran naungan
ABSTRACT
Screening rice lines to biotic and a biotic constraint. E. Lubis, R. Hermanasari, Sunaryo, A. Santika, E. Suparman, dan Supartopo. Outside of Java region, most of the upland rice is cultivated in yellow red podzolic (PMK) soil. Biotic and a biotic constraints in yellow red podzolic soil are blast , Al toxicity and drought. For agro forestry and agriculture needed varieties which are shading tolerant. The activities of the experiment included screening rice lines for Al. toxicity, drought and shading. All of the activities were done in the green house in Bogor. Twelve and 48 upland rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Eight and 18 deepwater rice lines selected were tolerant and medium tolerant to Al toxicity. Upland rice line B11598G-TB-2-5 and four deepwater rice lines were B9856D-MR-93-40, B9852E-KA-66, B5524G-SM-61-2-1, B7003D-MR-24-3-1have relative root length about 0,82–0,86 highest most selected lines. In drought screening were selected 5, 40 and 64 upland rice lines which were high tolerant, tolerant and medium tolerant to drought respectively. The most tolerant five upland rice lines were B11592F-MR-4-1-2-14-1, B11592F-MR-12-2-1-1-2, B11592F-MR-12-2-1-1-4, B11592F-MR-12-2-1-1-5 the same progenie of Batutugi/Memberamo which have recovery degree about 3 (70-89%) to 5 (40-69 %). Only B11178G-TB-29 had recovery about 90-100%. In screening rice lines to shading only 20 lines were tolerant similar to Jatiluhur. From the three kinds of screening only B11178G-TB-29 was tolerant to Al toxicity and shading, and highest tolerant to drought. Line of B11338-TB-26 was medium tolerant to Al toxicity and tolerant to drought. The rest of selected lines were tolerant to one of field constraints.

Key words: Upland rice, aluminium toxicity tolerant, drought tolerant ,
shading tolerant.

PENELITIAN MEKANISME PERUBAHAN
PATOTIPE/RAS/VIRULENSI HAWAR DAUN BAKTERI,
BLAS DAN TUNGRO
“STUDI MEKANISME PERUBAHAN RAS PATOGEN BLAS”
Santoso Msi dkk
ABSTRAK
Penyakit blas yang disebabkan cendawan Pyricularia grisea merupakan salah satu penyakit utama pada padi. Patogen blas mempunyai banyak ras/haplotipe, yang biasanya ditentukan berdasarkan kemampuannya menimbulkan penyakit pada varietas differensial. Populasi patogen yang dinamik dapat mempercepat patahnya ketahanan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mempelajari kecepatan perubahan ras patogen blas dan pengaruh pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas terhadap perubahan ras patogen blas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ras P. grisea dapat terjadi dalam satu siklus reisolasi baik pada pertanaman mosaik, pertanaman campuran dan rotasi varietas

Kata kunci: Perubahan ras, pertanaman mosaik, campuran, rotasi varietas.
ABSTRACT
Rice blast caused by Pyricularia grisea is one of the most important and well studied diseases of rice. Numerous races, or pathotypes, of the pathogen exist and are usually defined by their ability or inability to cause disease on set of host differentials. The dynamics of fungal population structures often shorten the lifetime of plant resistance. The objectives of this study are to know the speed of race change and the effect mosaik planting, mixture and variety rotation to change of race. The result of experiment showed that one cycle of blast pathogen reisolation at mozaik planting, mix planting and varietal rotation have experienced of race change.

Key words: Change of race, mosaik palnting, mixture, variety rotation.

ROPP 7.5
PENELITIAN PENYAKIT TULAR TANAH DAN PENYAKIT TULAR BENIH TERKAIT DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK
Bambang Nuryanto, Msi dkk
ABSTRAK
Perkembangan penyakit tular tanah (hawar pelepah) yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada beberapa model tanam dan penambahan berbagai jenis kompos. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kuningan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada musim tanam I tahun 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tanam dan penambahan jenis kompos nyata mempengaruhi perkembangan penyakit hawar pelepah. Model pertanaman yang lebih rapat seperti legowo 4:1 (40-20-10)cm dan tegel 20x20cm menyebabkan penyakit hawar pelepah berkembang lebih parah. Pada petak pertanaman yang menerima penambahan bahan organik terutama kompos jerami dan pupuk kandang dapat menghambat perkembangan penyakit hawar pelepah, menurunkan prosentase gabah terinfeksi pathogen terbawa benih terutama Aspergillus sp. dan Helminthosporium oryzae dan meningkatkan pencapaian hasil panen.
Kata kunci: Hasil, keparahan penyakit, hawar pelepah, kompos, model tanam
ABSTRACT
Soil borne disease development(rice sheath blight) caused Rhizoctonia solani on the some rice planting systems and different organic matter composted amendments was evaluated in the Kuningan research station of Center Institute for Rice Research at first season of 2007. The result showed that the planting systems and different organic matter amandments were significant affected to development of rice sheath blight. Planting systems with shorter space such as legowo 4:1 (40-20-10)cm and tegel 20x20cm were caused disease development more severe, other wise soil organic matter amendment particularly paddy straw composted and livestock manure were decreasing rice sheath blight development, decreasing of grains infected by seed borne pathogen especially Aspergillus sp. and Helminthosporium oryzae and increasing of yield.

Key words: Yield, disease severity, rice sheath blight, compost, planting system.

Posted in HPT | Leave a comment

CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN


CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
filsafat keperawatan
Falsafah pendidikan mengandung “ usaha untuk mencari konsep CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN konsep yang CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Falsafah keperawatan mengkaji penyebab dan hukum CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN hukum yang mendasari realitas, CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
filsafat CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN noval.blogspot. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Mirip
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Gbpp Konsep Dasar Keperawatan
Falsafah dan paradigma keperawatan Profesi keperawatan Landasan keilmuan profesi keperawatan Konsep system Teori dan model konseptual keperawatan 6. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .scribd. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN › Presentations › School Work CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Mirip
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Falsafah Keperawatan «
19 Okt 2010 CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Konsep inti dari teori Florence Nightingale tentang falsafah keperawatan adalah lingkungan berpengaruh terhadap proses pemulihan klien CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
ahyarwahyudi.wordpress. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN 2010 CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN 10 CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN 19 CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Konsep Keperawatan Falsafah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN JEVUSKA
Artikel konsep keperawatan falsafah di situs ini gratis 0. Download konsep keperawatan falsafah print for free from jevuska. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .jevuska. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN topic CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN konsep+keperawatan+falsafah.html CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Falsafah Keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN JEVUSKA
konsep dasar asuhan keperawatan maternitas falsafah keperawatan maternitas CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .jevuska. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN topic CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah+keperawatan.html CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
Tampilkan hasil lainnya dari jevuska. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
[DOC]
Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN BAB I
Jenis Berkas: Microsoft Word
Kurikulum Nasional disusun berlandaskan pada Visi, Misi dari Pendidikan Diploma III Keperawatan, Falsafah Keperawatan yang mencakup konsep manusia, CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .pusdiknakes.or.id CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN data CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN kurikulum CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN kbkd3.doc CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Mirip
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Falsafah Konsep Dasar Keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Contoh Makalah di Mina Love
Berikut artikel yang terkait tentang falsafah konsep dasar keperawatan di MinaLove. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN . Baca info mengenai falsafah konsep dasar keperawatan dengan menuju CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
minalove. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN artikel CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah+konsep+dasar+keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Manajemen Keperawatan Falsafah | Berita Otomotif Indonesia
Find Music News Under Topic Konsep Dasar Manajemen Keperawatan KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS Konsep Dasar Keperawatan A Falsafah Keyakinan from hitzmp3. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
mobilterbaru. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN info CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN manajemen CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Perkembangan Sejarah Keperawatan Dan Falsafah Keperawatan Di CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Sejarah Perkembangan Konsep Dasar Keperawatan 0 CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan akan menjabarkan pemikiran (ide), dan proposisi manusia di CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Falsafah keperawatan adalah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
kafeilmu.co.cc CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN perkembangan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN sejarah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN dan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN di CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN indonesia.html CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
Falsafah Keperawatan Komunitas | Imanka. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
KONSEP KEPERAWATAN KOMUNITAS konsep dasar keperawatan A Falsafah Keyakinan terhadap nilai kemanusiaan yang menjadi pedoman dalam melaksanakan asuhan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN
CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN .imanka. CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN falsafah CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN keperawatan CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN komunitas CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Amerika Serikat CONTOH SKRIPSI KEDOKTERAN Tembolok

1 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI PASIEN AMELOBLASTOMA BERDASARKAN TIPE HISTOPATOLOGIS DAN JENIS KELAMIN DI POLI BEDAH MULUT RUMAH SAKIT UMUM CIPTOMANGUNKUSUMO PERIODE JANUARI 2002-JULI 2008, 08
2 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI PASIEN AMELOBLASTOMA BERDASARKAN TIPE HISTOPATOLOGIS DAN KELOMPOK UNUR DI POLI BEDAH MULUT RUMAH SAKIT CIPTO MANGUNKUSUMO PERIODE JANUASI 2002-JULI 2008, 08
3 PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DENTA; BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN TERHADAP LINGKUNGAN PERAWATAN DENTAL PADA ANAK USIA 8 DAN 11 TAHUN, 08
4 FREKUENSI DISTRIBUSI EDEMA DAN DDY SOCKET PASCA EKSTRAKSI PADA PASIEN USIA 17-76 TAHUN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA PERIODE JANUARI 2003 – OKTOBER 2008, 08
5 DIMENSI VERTIKAL FISIOLOGIS DENGAN METODE PHYSIOLOGIC REST POSITION DAN TEORI LEONARDO DA VINCI II (KAJIAN PADA KELOMPOK USIA 18-23 TAHUN), 08
6 PENGARUH APLIKASI BAHAN PEMUTIH GIGI HIDROGEN PERPOKSIDA 6 % TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN RESIN KOMPOSIT HIBRID, 08
7 EFEK XYLITOL DALAM BERBAGAI KONSENTRASI DAN DURASI TERHADAP KOLONI CANDIDA ALBICANS (UJI IN VITRO), 08
8 DIMENSI VERTIKAL FISIOLOGIS DENGAN METODE PHYSIOLOGIC REST POSITION DAN TEORI LEONARDO DA VINCI I (KAJIAN PADA KELOMPOK USIA 18-23 TAHUN), 08
9 PERBANDINGAN NILAI VISKOSITAS, pH, DAN KAPASITAS DAPAR SALIVA SETELAH MENGKONSUMSI AIR MADU DAN AIR PEMANIS RENDAH KALORI, 08
10 STATUS KERADANGAN GINGIVA PADA PEREMPUAN PASKAMENOPAUSE (Pemeriksaan Klinis di Wilayah Bekasi), 08
11 FREKUENSI DISTRIBUSI KOMPLIKASI PASCA EKSTRAKSI (PENDARAHAN DAN DRY SOCKET) PADA PASIEN USIA 21-76 TAHUN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT – PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA (RSGM-P FKG UI) PERIODE JANUARI 2003 – OKTOBER 2008, 08
12 PENGARUH WAKTU PERENDAMAN RESIN PIT & FISSURE SEALANT DALAM MEDIUM KULTUR TERHADAP VIABILITAS SEL HACAT (PENELITIAN IN VIRTO), 08
13 DAYA ANTIMIKROBA INFUSUM KISMIS TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MURTANAS, IN VITRO, 08
14 PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN LARUTAN TEH HIJAU SEDUH KONSENTRASI 50% DAN 25% DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN PLAK GIGI SECARA KLINIS PADA ENAM PERMUKAAN GIGI (Penelitian Kliniks pada Mahasiswa FKG UI Angkatan 2005-2008), 08
15 DAYA ANTIMIKROBA INFUSUM JAMBU AIR SEMARANG (Syzygium samarangense) TERHDAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans, IN VITRO, 08
16 EFEK XYLITOL TERHADAP RESISTENSI CANDIDA ALBICANS DALAM SERUM (UJI IN VITRO), 08
17 TINGKAT AKUMULASI KALKULUS PADA PEREMPUAN PASKAMENOPAUSE (Pemeriksaan Klinis di Wilayah Bekasi), 08
18 EFEK XYLITOL TERHADAP VIABILITAS DAN PROFIL PROTEIN SEL-SEL PULPA GIGI (IN VITRO), 08
19 PENGARUH XYLITOL TERHADAP PROSES REMINERALISASI EMAIL GIGI: ANALISIS KOMPOSISI KALSIUM, FOSFOR, DAN SENYAWA KRISTAL EMAIL (ANALISIS EDX DAN XRD), 08
20 EFEK PENAMBAHAN GLUKOSA PADA SABOURAUD DEXTROSE BROTH TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS (UJI IN VITRO), 08
21 HUBUNGAN KEDALAMAN INTRUSI AIR TERHADAP KEKERASAN SEMEN IONOMER KACA (SIK), 08
22 GEJALA, MEDIKASI, KELUHAN DI MULUT DAN KEMUNGKINAN OBAT JANGKA PANJANG PADA PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS, (Studi Klinis pada Yayasan Lupus Indonesia Periode 13 November – 4 Desember 2008), 08
23 PREVALENSI DAN DISTRIBUSI FISSURE TONGUE, GEOGRAPHIC TONGUE, MEDIAN RHOMBOID GLOSSITIS DAN HIARY TONGUE PADA PASIEN RUMAH SAKIT GIGI MULUT PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA BERDASARKAN USIA DA JENIS KELAMIN, 08
24 PROFIL STATUS KESEHATAN GIGI-MULUT PENDERITA SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) DI YAYASAN LUPUS INDONESIA PERIODE 13 NOVEMBER-4 DESEMBER 2008, 08
25 KORELASI JENIS KELAMIN DENGAN PERUBAHAN LENGKUNG OKLUSAL PADA KEHILANGAN SATU GIGI POSTERIOR (BERDASARKAN EKSTRUSI GIGI ANTAGONIS), 08
26 EFEK ANTI JAMUR DARI KITOSAN DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI TERHADAP CANDIDA ALBICANS (Penelitian Eksperimental Laboratorik), 08
27 EFEK ANTI JAMUR DARI KITOSAN DENGAN PERBEDAAN DERAJAT DEASETILASI TERHADAP CANDIDA ALBICANS (Penelitian Eksperimental Laboratorik), 08
28 EFEK XYLITOL TERHADAP RESIKO KARIES DITINJAU DARI pH PLAK DAN pH SALIVA PADA PASIEN YANG MENGGUNAKAN ALAT ORTODONTI CEKAT, 08
29 EVALUASI KEBOCORAN MIKRO PADA TUMPATAN GLASS IONOMER CEMENT KONVENSIONAL DAN RESIN – MODIFIED GLASS IONOMER CEMENT KAVITAS SITE 1-SITE 2 GIGI PREMOLAR, 08
30 DIMENSI VERTIKAL FISIONLOGIS DENGAN METODE PHUSIOLOGIC REST POSITION DAN TEORI LEONARDO DA VINCI I SERTA II PADA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN (KAJIAN PADA KELOMPUK USIA 18-23 TAHUN), 08
31 PENGARUH LAMANYA PERENDAMAN RESIN PIT DAN FISSURE SEALANT DI DALAM AIR TERHADAP NILAI PENYERAPAN DAN KELARUTANNYA, 08
32 EFEK TOPICAL FLUORIDE TERHADAP RESIKO KARIES DITINJAU DARI pH PLAK DAN pH SALIVA PADA PASIEN YANG MENGGUNAKAN ALAT ORTODONTI CEKAT, 08
33 PENGARUH EKSTRAK DAGING ALOE VERA 6.25%, 12.5% DAN 25% DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENYEMBUHAN ULSERASI MUKOSA MULUT (PENELITIAN PADA TIKUS MODEL), 08
34 EFEK EKSTRAK CAMPURAN KULIT DAGING ALOE VERA 6.25%, 12.5% DAN 25% DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENYEMBUHAN ULSERASI MUKOSA MULUT (PENELITIAN PADA TIKUS MODEL), 08
35 PENGARUH EKSTRAK KULIT ALOE VERA 6.25%, 12.5%, DAN 25% DALAM MEMPERCEPAT PROSES PENYEMBUHAN ULSERASI MUKOSA MULUT (PENELITIAN PADA TIKUS MODEL), 08
36 EFEK TEGDMA TERHADAP VIABILITAS DAN PROFIL PROTEIN SEL-SEL PULPA GIGI (IN VITRO), 08
37 EFEK XYLITOL TERHADAP PROTEIN TOTAL DAN PROFIL PROTEIN SEL-SEL PULPA GIGI (IN VITRO), 08
38 EFEK KITOSAN TERHADAP VIABILITAS KULTUR GALUR SEL HSC-4 DAN A549 SECARA IN VITRO, 08
39 EFEK CHLORHEXIDINE TERHADAP RESIKO KARIES DITINJAU DARI pH PLAK DAN pH SALIVA PADA PASIEN YANG MENGGUNAKAN ALAT ORTODONTI CEKAT, 08
40 KORELASI USIA DENGAN PERUBAHAN LENGKUNG OKLUSAL AKIBAT KEHILANGAN GIGI POSTERIOR BERDASARKAN NILAI EKSTRUSI GIGI ANTAGONIS, 08
41 PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN LARUTAN TEH HIJAU SEDUH KONSENTRASI 100% DAN 25% DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN PLAK GIGI SECARA KLINIS PADA ENAM PERMUKAAN GIGI (Penelitian Klinis pada Mahasiswa FKG UI angkatan 2005-2008), 08
42 KORELASI JUMLAH KEHILANGAN GIGI POSTERIOR DENGAN PERUBAHAN LENGKUNG OKLUSAL (BERDASARKAN NILAI EKSTRUSI GIGI ANTAGONIS), 08
43 PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DENTAL BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN TERHADAP LINGKUNGAN PERAWATAN DENTAL PADA ANAK USIA 7 DAN 10 TAHUN, 08
44 PENGARUH PENGUNYAHAN PERMEN KARET YANG MENGANDUNG XILITOL TERHADAP LAJU ALIRAN SALIVA PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI PESANTREN AL-HAMIDIYAH DEPOK TAHUN 2008, 08
45 PENGARUH APLIKASI BAHAN PEMUTIH GIGI HIDROGEN PEROKSIDA 38% TERHADAP KEKASAN PERMUKAAN RESIN KOMPOSIT HIBRID, 08
46 PERBANDINGAN NILAI VISKOSITAS, pH, DAN KAPASITAS DAPAR SALIVA SETELAH MENGKONSUMSI AIR MADU DAN AIR GULA SUKROSA, 08
47 SURVEI BAHAN RESTORAN GIGI PLASTIS YANG DIGUNAKAN DI RUMAH SAKIT DAN PUSKESMAS DI LINGKUNGAN KABUPATEN BIREUEN SELAMA AGUSTUS 2007 SAMPAI DENGAN AGUSTUS 2008, 08
48 SURVEI PEMAPARAN PENGGUNAAN AMALGAM, GIC, DAN RESIN KOMPOSIT SEBAGAI BAHAN TUMPAT GIGI DI RSGMP FKG UUI PADA TAHUN 2005, 2006, DAN 2007, 08
49 PROFIL PROTEIN SEL GALUR KARSINOMA SKUAMOSA RONGGA MULUT HSC-3 DAN HSC-4 SERTA JARINGAN MUKOSA MULUT NORMAL, 08
50 PENGARUH PENGUNYAHAN PERMEN KARET YANG MENGANDUNG XYLITOL TERHADAP pH SALIVA PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI PESANTREN AL – HAMIDIYAH DEPOK TAHUN 2008, 08
51 PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN LARUTAN TEH HIJAU SEDUH KONSENTRASI 100% DAN 50% DALAM MENGHAMBAT PEMBENTUKAN PLAK GIGI SECARA KLINIS PADA ENAM PERMUKAAN GIGI (Penelitian Klinis Pada Mahasiswa FKG UI Angkatan 2005-2008), 08
52 PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN DENTAL BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN TERHADAP LINGKUNGAN PERAWATAN DENTAL PADA ANAK USIA 6 DAN 9 TAHUN, 08
53 PROFIL PROTEIN HUMAN TELOMERASE REVERSE TRANSCRIPTASE (hTERT) PADA SEL GALUR KARSINOMA SKUAMOSA RONGGA MULUT DAN JARINGAN MUKOSA MULUT NORMAL, 08
54 EFEK ANTIBAKTERI INFUSUM KULIT ALOE VERA TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS IN VITRO (PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN INFUNDASI), 08
55 EFEK ANTIBAKTERI INFUSUM ALOE VERA TERHADAP PORPHYROMONAS GINGICALIS IN VITRO (PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN INFUNDASI), 08
56 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI KISTA DENTIGEROUS BERDASARKAN ELEMEN GIGI PENYEBAB DAN LOKASI KELAINAN DI POLI GIGI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL CIPTO MANGUNKUSUMO PERIODE 1 NOVEMBER 2002-31 OKTOBER 2008, 08
57 TINGKAT AKUMULASI PLAK GIGI PADA PEREMPUAN PASKAMENOPAUSE (Penelitian Klinis di Wilayah Bekasi), 08
58 DISTRIBUSI FREKUENSI CELAH BIBIR DAN LANGITAN DI RSAB HARAPAN KITA TAHUN 1996 DAN 1999, 08
59 DISTRIBUSI FREKUENSI CELAH BIBIR DAN LANGITAN DI RUMAH SAKIT ANAK DAN BUNDA HARAPAN KITA JAKARTA TAHUN 1998 DAN 2000, 08
60 PENGARUH APLIKASI BONDING AGENT TERHADAP KEDALAMAN INTRUSI AIR PADA SEMEN IONEMER KACA (SIK), 08
61 HUBUNGAN ANTARA TIGA TIPE OKLUSI (OKLUSI SEIMBANG, GROUP FUNCTION, DAN CUSPID PROTECTED) DENGAN MOBILITAS GIGI (Pada Mahasiswa Program Akademik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Angkatan 2005-2008), 08
62 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI PASIEN DENGAN GIGI TIRUAN JEMBATAN DI KLINIK INTEGRASI RSGMP FKG UI PERIODE 2008, 08
63 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI PASIEN DENGAN MAHKOTA TIRUAN PENUH DAN MAHKOTA TIRUAN PASAK DI KLINIK INTEGRASI RSGMP FKG UI PERIODE 2008, 08
64 EFEK TEGDMA TERHADAP PROTEIN TOTAL DAN PROFIL PROTEIN SEL-SEL PULPA GIGI (IN VITRO), 08
65 FREKUENSI DISTRIBUSI RASA NYERI DAN DRY SOCKET PASCA EKSTRAKSI PADA PASIEN USIA 17-76 TAHUN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA PERIODE JANUARI 2003-OKTOBER 2008, 08
66 HUBUNGAN ANTARA TIGA TIPE OKLUSI (OKLUSI SEIMBANGM GROUP FUNCTION, DAN CUSPID PROTECTED) DENGAN KEAUSAN GIGI (Pada Mahasiswa Program Akademik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Angkatan 2005-2008), 08
67 EFEK TEGDMA TERHADAP PROTEIN TOTAL DAN PROFIL PROTEIN MEDIUM KULTUR SEL-SEL PULPA GIGI (IN VITRO), 08
68 EFEK ANTIBAKTERI INFUSUM DAGING ALOE VERA TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS IN VITRO (PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN INFUNDASI), 08
69 EFEK PEMBERIAN GRAFT TULANG BERBENTUK PASTA DENGAN BERBAGAI KOMPOSISI DAN KONSENTRASI TERAHADAP VIABILITAS SEL OSTEOBLAS, IN VITRO, 08
70 ANALISIS PRODUKSI FOSFATASE ALKALI OLEH OSTEOBLAS YANG DISTIMULASI GRAFT BERBENTUK PASTA PADA BERBAGAI KOMPOSISI, KONSENTRASI, DAN WAKTU YANG BERBEDA (IN VITRO), 08
71 PENGARUH XYLITOL TERHADAP PROSES REMINERALISASI EMAIL: ANALISIS KUALITATIF STRUKTUR PERMUKAAN EMAIL GIGI MENGGUNAKAN SEM, 08
72 PENGARUH XYLITOL TERHADAP PROSES REMINERALISASI EMAIL GIGI: UJI KEKERASAN EMAIL GIGI PENELITIAN EKSPERIMENTAL LABORATORIK (ANALISIS KEKERASAN EMAIL GIGI), 08
73 PENGARUH PERENDAMAN OBAT KUMUR MENGANDUNG EUGENIA CARYOPHYLLATA OIL TERHADAP KEKERASAN RESIN KOMPOSIT TIPE HIBRID Penelitan In Vitro, 08
74 PENGARUH APLIKASI BONDING AGENT TERHADAP KEKERASAN SEMEN IONEMER KACA (SIK), 08
75 PREVALENSI DAN DISTRIBUSI VARIASI ANATOMIS NORMAL PADA PASIEN RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT PENDIDIKAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA BERDASARKAN LOKASI, USIA, DAN JENIS KELAMIN, 08
76 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI KISTA DENTIGEROUS BERDASARKAN USIA DI POLI GIGI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL CIPTO MANGUNKUSUMO PERIODE 1 NOVEMBER 2002-31 OKTOBER 2008, 08
77 DISTRIBUSI TIGA TIPE OKLUSI (OKLUSI SEIMBANG, GROUP FUNCTION DAN CUSPIN PROTECTED) MAHASISWA PROGRAM AKADEMIK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS INDONESIA ANGKATAN 2005-2008, 08
78 EFEK XYLITOL TERHADAP PROTEIN TOTAL DAN PROFIL MEDIUM KULTUR SEL-SEL PULPA GIG (IN VITRO), 08
79 PROFIL PROTEIN p73 PADA SEL GALUR KARSINOMA SEL SKUAMOSA RONGGA MULUT HSC-3 DAN HSC-4 SERTA JARINGAN MUKOSA MULUT NORMAL, 08
80 DISTRIBUSI DAN FREKUENSI KISTA DENTIGEROUS BERDASARKAN JENIS KELAMIN DI POLI GIGI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL CIPTOMANGUNKUSUMO PERIODE 1 NOVEMBER 2002-31 OKTORBERN 2008, 08
81 EVALUASI KEBOCORAN MIKRO PADA TUMPATAN BONDED AMALGAM KAVITAS KELAS I GIGI PREMOLAR, 08
82 PENGARUH WAKTU PERENDAMAN RESIN PIT DAN FISSURE SEALANT DI DALAM AIR TERHADAP KEKERASAN PERMUKAAN, 08
83 KERUSAKAN JARINGAN PERIODONSIUM PADA GIGI ANTERIOR YANG DISEBABKAN OLEH OKULUSI TRAUMATIK Analisa pada Kartu Status Pasien yang Dirawat oleh Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Peroodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Univeristas Indonesia (RSGMP FKG UI) Periode Tahun 2005-2006, 08
84 STATUS KEBERSIHAN MULUT ANAK USIA SEKOLAH DASAR MENURUT KEBIASAAN MENYIKAT GIGI SEBELUM TIDUL MALAM HARI (Studi Kasus di SDN Anyelir 1 Depok Jaya), 07
85 STATUS KESEHATAN GINGIVA ANAK USIA SEKOLAH DASAR MENURUT KEBIASAAN MENYIKAT GIGI SEBELUM TIDUR MALAM HARI (Studi Kasus di SDN Anyelir 1 Depok Jaya), 07
86 HUBUNGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN STATUS MALOKLUSI DENTAL KELAS 1 PADA SISWA SDN CISAUK USIA 9-12 TAHUN, 07
87 HUBUNGAN GANGGUAN TUMBUH KEMBANG GIGI DENGAN STATUS MALOKLUSI DENTAL KELAS I PADA SISWA SDN CISAUK USIA 9-12 TAHUN, 07
88 STUDI PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH TERHADAP SAMPEL SALIVA SEGERA DAN SAMPEL SALIVA YANG DISIMPAN SELAMA 1 JAM PADA TEMPERATUR 7°C, 07
89 STUDI PERBANDINGAN HASIL PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH TERHADAP SAMPEL SALIVA SEGERA DAN SAMPEL SALIVA YANG DISIMPAN SELAMA 1 JAM PADA TEMPERATUR 15°C, 07
90 FREKUENSI DAN LETAK RAMIFIKASI SALURAN AKAR PADA GIGI MOLAR SATU DAN MOLAR DUA, 07
91 VARIASI MORFOLOGI SALURAN AKAR GIGI INSISIF, CANINUS, PREMOLAR DAN MOLAR PADA PENAMPANG MELINTANG 1/3 SERVIKAL, 1/3 TENGAH DAN 1/3 APIKAL AKAR, 07
92 HUBUNGAN ANTARA LAMA KEHILANGAN GIGI MOLAR PERTAMA BAWAH YANG TIDAK DIGANTI DENGAN KEMIRINGAN GIGI MILAR KEDUA BAWAH KE ARAH DIASTEMA (Dalam Kaitan dengan Perawatan Prostodonsia), 08
93 KEDALAMAN RUANG RETROMYLOHYOID BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA PASIEN GIGI TIRUAN PENUH RAHANG BAWAH YANG DATANG KE KLINIK PROSTODONSOA RSGMP FKG UI PERIODE JANUARI 2005 JUNI 2007, 07
94 KETINGGIAN PERLEKATAN DASAR MULUT BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA PASIEN GIGI TIRUAN PENUH RAHANG BAWAH YANG DATANG KE KLINIK PROSTODONSIA FKG UI PERODE JANUARI 2005-JUNI 2007, 07
95 POSISI LIDAH MENURUT KLASIFIKASI WRIGHT BERDASARKAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA PASIEN GIGI TIRUAN PENUH RAHANG BAWAH YANG DATANG KE KLINIK PROSTODONSIA RSGMP FKH UI PERIODE JANUARI 2005-JUNI 2007, 07
96 KERUSAKAN JARINGAN PERIODONSIUM PADA GIGI PREMOLAR YANG DISEBABKAN OLEH OKLUSI TRAUMATIK Analisa pada Kartu Status Pasien yang Dirawat oleh Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (RSDGMP FKG UI) Periode Tahun 2005-2006, 07
97 HUBUNGAN ANTARA LAMA KEHILANGAN GIGI MOLAR PERTAMA BAWAH YANG TIDAK DIGANTI DENGAN EKSTRUSI GIGI MOLAR PERTAMA ATAS ANTAGONIS (Dalam Kaitan dengan Perawatan Protodonsia), 07
98 HUBUNGAN ANTARA KEBIASAN MEMPERTEMUKAN GIGI AAS DAN GIGI BAWAH (CLENCHING) DENGAN NYERI KEPALA (Pada Mahasiswa Program Akademik FKG UI Tahun 2007-2008), 07
99 HUBUNGAN ANTARA LAMA KEHILANGAN GIGI MOLAR PERTAMA BAWAH YANG TIDAK DIGANTI DENGAN PERGERAKAN GIGI PREMOLAR KEDUA BAWAH PADA SISI YANG SAMA (Dalam Kaitan Dengan Perawatan Prostodonsia), 07
100 PENGARUH PENGUNYAHAN PERMEN KARET YANG MENGANDUNG XYLITOL TERHADAP KAPASITAS DAPAR SALIVA PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN DI PESANTREN AL-HAMIDIYAH DEPOK TAHUN 2008, 08
101 KERUSAKAN JARINGAN PERIODONSIUM PADA GIGI MOLAR YANG DISEBABKAN OLEH OKLUSI TRAUMATIK (Analisa pada Kartu Status Pasien yang Dirawat oleh Peserta Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (RSGMP FKG UI) Periode Tahun 2005-2006), 07
102 EFEK ANTIBAKTERI JUS ANGGUR (Vitid vinifera) VARIETAS PROBOLINGGO BIRU TERHADAP Streptococcus mutans ASAL SALIVA, IN VITRO, 07
103 DERAJAT KONVERGENSI MESIODISTAL HASIL PREPARASI GIGI PENYANGGA UNTUK PERAWATAN DENGAN GIGI TIRUAN JEMBATAN BERDASARKAN LOKASI GIGI DI RSGMP FKG UI Periode Januari 2006-September 2007, 07
104 BENTUK GEOMETRI MORFOLOGI SIRKUMFERENSIAL HASIL PREPARASI GIGI PENYANGGA POSTERIOR PADA PERAWATAN DENGAN GIGI TIRUAN JEMBATAN, 07
105 BANYAKNYA PENGAMBILAN JARINGAN GIGI PENYANGGA POSTERIOR MAKSILA DAN MANDIBULA UNTUK PERAWATAN DENGAN GIGI TIRUAN JEMBATAN (Periode Januari 2006-September 2007), 07
106 HUBUNGAN KONSENTRASI PROTEIN TOTAL SALIVA DENGAN VISKOSITAS SALIVA TANPA STIMULASI PADA PENYANDANG DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKONTROL BURUK, 07
107 EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK DAGING BUAH AVOKAD (Persea americana) TERHADAP Streptococcus mutans (Penelitian Eksperimental Laboratorik dengan Metode Ekstraksi Infundasi), 07
108 HUBUNGAN ANTARA BRUXISM DAN NYERI ATAU KAKU SENDI TEMPOROMANDIBULA, 07
109 HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN MENGUNYAH UNILATERAL DENGAN TERJADINYA BUNYI SENDI TEMPOROMANDIBULA, 07
110 HUBUNGAN KONSENTRASI PROTEIN TOTAL SALIVA DEGAN LAJU ALIR SALIVA STIMULASI PADA PENYANDANG DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKONTROL BURUK, 07
111 HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN MENYIKAT GIGI DENGAN DISKOLORASI GIGI Tinjauan pada Masyarakat di Sekitar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 07
112 HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN MENYIKAT GIGI DENGAN KERADANGAN GINGIVA Tinjauan pada Masyarakat di Sekitar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 07
113 HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN MENYIKAT GIGI DENGAN TINGKAT AKUMULASI PLAK GIGI Tinjauan pada Masyarakat di Sekitar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 07
114 PERBEDAAN DETIL OBYEK INTERDENTAL PADA RADIOGRAF PERIAPIKAL, DENGAN DAN TANPA MENGGUNAKAN UANG LOGAM SERATUS RUPIAH SEBAGAI FILTER ALUMINIUM TAMBAHAN (Studi Pendahuluan pada phantom radiografik), 07
115 PERBEDAAN KONTRAS OBYEK INTERDENTAL PADA RADIOGRAF PERIAPIKAL YANG MENGGUNAKAN FILTER ALUMUNIUM, DENGAN PERBEDAAN WAKTU PENCUCIAN DIDALAM LARUTAN DEVELOPER (Studi Pendahuluan pada Phantom Radiografik), 07
116 PERBEDAAN DETIL GAMBAR RADIOGRAFIS OBYEK INTERDENTAL PADA MODEL GIGI MENGGUNAKAN FILM INSTANSI DENGAN DAN TANPA FILTER, 08
117 KARIES PADA ANAK USIA 72-144 BULAN DI SEKOLAH DASAR TARSISIUS VIRETA YAYASAN BUNDA HATI KUDUS, TANGERANG, 07
118 EFEK ANTIBAKTERI INFUSUM KULIT ANGGUR (Vitis Vinifera) VARIETAS PROBOLINGGO BIRU TERHADAP Streptococcus mutans ASAL SALIVA, IN VINTRO, 07
119 HUBUNGAN KONSENTRASI PROTEIN TOTAL SALIVA DENGAN pH SALIVA TANPA STIMULASI PADA PENYANDANG DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKONTROL BURUK, 07

Posted in skripsi kedokteran | Leave a comment

CONTOH JUDUL SKRIPSI KESEHATAN, KESMAS, KEDOKTERAN, KEPERAWATAN, KEBIDANAN

Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
BasContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi World: Kumpulan Contoh Judul KTI Kebidanan dan Skripsi Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Kumpulan Contoh Judul KTI Kebidanan dan Skripsi Keperawatan beserta isi Lengkap*) Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi PEMBUATAN KARYA TULIS ILMIAH DAN SKRIPSI KHUSUSNYA BIDANG KESEHATAN . Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi.basContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigimetro.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigikumpulan-judul-kti-kebidanan.html – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Kumpulan Contoh Judul Kti Kebidanan Dan Skripsi Keperawatan Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
kumpulan askep askeb download kti skripsi asuhan keperawatan kebidanan 3 14 10 Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi leaflet kesehatan info penyakit source related kumpulan contoh judul kti Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
minalove.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigikumpulan+contoh+judul+kti+kebidanan+dan+skripsi+keperawatan – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
kti-skripsi.blogspot.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi: Contoh KTI Keperawatan | skripsi Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
6 Feb 2009 Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Karya Tulis Ilmiah, Skripsi, Skripsi Kedokteran, KTI Kebidanan, KTI Keperawatan, KTI Gigi, KTI Kesehatan Lingkungan, KTI Gizi, KTI Analis Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
kti-skripsi.blogspot.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi2009Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-kti-keperawatan.html – Tembolok – Mirip
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
contoh skripsi kebidanan
freeads.web.idContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigidwonload-gratis-contoh-contoh-judul-skripsi-proposal-skripsi-keperawatan-kesehatan-masyarakat-kebidanan.html – Tembolok – Mirip – Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi.panduanskripsi.co.ccContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi2009Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-skripsi-kebidanan.html – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
contoh KTI, SKRIPSI Kesehatan …yuk « Kuliah Bidan
19 Mar 2009 Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi KUMPULAN KTI BIDAN Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi contoh KTI, SKRIPSI Kesehatan …yuk. Posted on Maret 19, Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Skripsi Keperawatan (Full Version) download Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
kuliahbidan.wordpress.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-kti-skripsi-kesehatan-yukContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi – Tembolok – Mirip
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Judul Skripsi Keperawatan Komunitas – Artikel Kesehatan
Contoh makalah contoh judul skripsi keperawatan komunitas dalam Kumpulan Artikel Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi – Kumpulan Artikel Kesehatan, Keperawatan, Kebidanan dan Kedokteran Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
fkunhas.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigilContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh+judul+skripsi+keperawatan+komunitas.html – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Kumpulan Skripsi Keperawatan | Berita Otomotif Indonesia
Kumpulan Contoh Judul KTI Kebidanan Dan Skripsi Keperawatan Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Ilmiah Asuhan Kebidanan Asuhan Keperawatan Teori Kesehatan Kumpulan Tips Kesehatan Bisnis Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
mobilterbaru.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiinfoContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-kumpulan-skripsi-keperawatan – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Judul Skripsi Perawat | jombang-an
Kebidanan Awiide Information From Alexa Internet. judul kti perawat Judul karya Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi kti skripsi blogspot Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Maret 2009 skripsi kesehatan. Contoh Judul Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
jombangan.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiweb-blogContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-judul-skripsi-perawat
Dapatkan hasil lainnya dari 24 jam yang lalu
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
DWONLOAD GRATIS CONTOH-CONTOH JUDUL SKRIPSI, PROPOSAL SKRIPSI Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
18 Apr 2009 Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Kamu bingung mau cari judul skripsiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiproposal skripsi keperawatan, kesehatan masyarakat dan kebidanan ? segera kunjungi Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
1st-iklan.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigidwonload-gratis-contoh-contoh-judul-skripsi-proposal-skripsi-keperawatan-kesehatan-masyarakat-kebidanan.html – Tembolok
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Skripsi Keperawatan | usaha dan bisnis online – bisnise
Sorry, No articles about contoh skripsi keperawatan at this blog, Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Site Description: Ilmu keperawatan medis, pasien,kebidanan,Download Contoh Proposal skripsi Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi kti skripsi blogspot Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi Maret 2009 skripsi kesehatan. Sebagai contoh Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi
Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigi.bisnise.Contoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigiContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigisearchContoh Judul Skripsi keperawatan, kebidanan, kedokteran, kesmas, dokter gigicontoh-skripsi-keperawatan.html – Tembolok

Berikut adalah KTI dan SKRIPSI lengkap untuk di download sebagai bahan pembelajaran/referensi ” dijamin gratis”

1. POST PARTUM SECTIO CAESAREA DENGAN INDIKASI LETAK LINTANG (KTI) klik to download

2. Pengaruh Perawatan Genitalia Eksterna Terhadap Penyembuhan Luka Post Partum. klik to download

3. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN IBU DENGAN (skripsi) klik to download

4. PENGARUH DUKUNGAN SUAMI TERHADAP KEAKTIFAN IBU HAMIL DI PELAYANAN ANC RUMAH BERSALIN (skripsi) klik to download

UPDATE!!!

diambil dari blog’s kuliahbidan… thanks udah share….

1. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX (Bab 1, 2, 3, 4, 5)
2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS XXX(BAB I, II, III)

3. ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXX(BAB I, II, III, IV, V)
4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)

5. KEPATUHAN IBU HAMIL DALAM MENGKONSUMSI TABLET FE DI BPS XXX (BAB I, II, III)
6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
7. KARAKTERISTIK PELAKSANAAN SENAM LANSIA DI POSYANDU LESTARI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
8. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
9. PENGETAHUAN REMAJA AWAL (11-13 TAHUN) TENTANG PENGERTIAN DAN PERUBAHAN FISIK PUBERTAS DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V)
10. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TERHADAP PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA MASA KEHAMILAN DI BPS. XXX (BAB I, II, III, IV, V)
11. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG MENSTRUASI DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
12. PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN DI BPS XXXX (BAB I, II, III, IV, V)
13. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU YANG MEMPUNYAI BALITA (1-5 TAHUN) DI POSYANDU XXX (BAB I, II, III, IV, V)
14. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MELAKSANAKAN ANTENATAL CARE DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV)
15. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI DESA XXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
16. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA MENYUSUI DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
17. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB SUNTIK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
18. GAMBARAN PELAKSANAAN KELAS IBU DI WILAYAH KERJA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
19. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
20. TINJAUAN PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
21. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TRIMESTER I TENTANG EMESIS GRAVIDARUM DI RB (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
22. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING PIL ORAL KOMBINASI (POK) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
23. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP RESIKO PERKAWINAN DINI PADA KEHAMILAN DAN PROSES PERSALINAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
24. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
25. GAMBARAN PELAKSANAAN 7T PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
26. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
27. KARAKTERISTIK IBU HAMIL DENGAN PRE-EKLAMSI DI RUMAH SAKIT UMUM XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
28. TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG PERIKSA PAYUDARA SENDIRI (SADARI) DI SMU XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
29. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TENTANG KEBERSIHAN ALAT KELAMIN PADA SAAT MENSTRUASI DI DUSUN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
30. TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA (6-24 BULAN) DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
31. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG VITAMIN A DI POSYANDU XXXXXX WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
32. KARAKTERISTIK AKSEPTOR KB ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
33. GAMBARAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK TENTANG EFEK SAMPING DEPO MEDROXYPROGESTERONE ASETAT (DMPA) DI RB XXX (BAB I, II, III, IV, V)
34. GAMBARAN PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS II TENTANG DIET SEIMBANG DI SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
35. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN KN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
36. PENGETAHUAN AKSEPTOR KB PIL TENTANG EFEK SAMPING POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
37. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
38. GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN IBU DALAM MENGHADAPI PERSALINAN, DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
39. GAMBARAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
40. KARAKTERISITK AKSEPTOR KB POK (PIL ORAL KOMBINASI) DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
41. GAMBARAN PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU DI DUSUN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
42. PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TABLET FE DI PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
43. PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI BAYI 0-6 BULAN TENTANG MANFAAT ASI EKSKLUSIF DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
44. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI PUSKESMAS PEMBANTU XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
45. KARAKTERISTIK BALITA YANG MENDERITA ISPA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
46. GAMBARAN PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
47. PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA USIA 1-2 TAHUN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
48. GAMBARAN PENATALAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI MASA NIFAS DINI OLEH PETUGAS KESEHATAN TERHADAP IBU-IBU POST PARTUM DI 3 BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
49. GAMBARAN PENATALAKSANAAN BAYI BARU LAHIR NORMAL 0-6 JAM DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
50. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG HIV/AIDS DI SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
51. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS. XXX (BAB I, II, III, IV, V)
52. PENATALAKSANAAN PIJAT BAYI OLEH DUKUN PIJAT BAYI PADA BAYI USIA 1-7 BULAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
53. PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA-TANDA BAHAYA MASA NIFAS DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
54. PENGETAHUAN IBU PRIMIPARA TENTANG BIANG KERINGAT PADA BAYI 0-1 TAHUN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
55. GAMBARAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
56. KARAKTERISTIK IBU YANG MEMERIKSAKAN PAP SMEAR DI RUMAH SAKIT XXX (BAB I, II, III, IV, V)
57. GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI KECAMATAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
58. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG ALAT KONTRASEPSI KB SUNTIK DI KELURAHAN (BAB I, II, III, IV, V)
59. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI KELAS III TENTANG SEKS SEKUNDER DI SMP XXX (BAB I, II, III, IV, V)
60. PENGETAHUAN REMAJA PUTRI MASA PUBERTAS TENTANG DYSMENORE DI SMP XXX (BAB I, II, III)
61. GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG MENARCHE DI SMP NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
62. KARAKTERISTIK PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK MENGIKUTI PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
63. PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI 6 – 24 BULAN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
64. GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
65. GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
66. KARAKTERISTIK IBU BERSALIN DENGAN PARTUS LAMA DI RS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
67. PENGETAHUAN IBU PRIMIGRAVIDA TENTANG KEHAMILAN DI RB XXX (BAB I, II, III, IV, V)
68. PENGETAHUAN TENTANG BAHAYA MEROKOK PADA SISWA KELAS II SMA NEGERI XXX (BAB I, II, III, IV, V)
69. GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
70. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXX (BAB I, II, III, IV, V)
71. PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX (BAB I, II, III, IV, V)
72. CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS WILAYAH KERJA XXX (BAB I, II, III, IV, V)
73. KARAKTERISTIK IBU HAMIL YANG MENGKONSUMSI TABLET FE DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V)
74. GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX (BAB I, II, III, IV, V)
75. PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXXXXXXXX TENTANG PARTOGRAF (BAB I, II, III, IV, V)
76. GAMBARAN PENGETAHUAN PRIMIPARA TERHADAP PERKEMBANGAN BAYI 0-1 TAHUN DI KELURAHAN XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
77. PENGETAHUAN WANITA PRA-MENOPAUSE TENTANG PERUBAHAN FISIOLOGIS MENOPAUSE (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)
78. GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA PUTRI TERHADAP KEPUTIHAN DI DESA XXX (BAB I, II, III, IV, V, VI, VII)

CATATAN:
ini hanyalah contoh KTI, dan hanya dijadikan acuan untuk mempercepat penyelesaian KTI tidak untuk COPY PASTE
terima kasih

1. Pengetahuan Mahasiswa TIngkat II Tentang Partograf di Prodi ….. Tahun ….. Download BAB I
2. Pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik pada balita usia 3-5 tahun di posyandu … wilayah kerja puskesmas …. Download BAB I
3. Gambaran penatalaksanaan perawatan bayi prematur oleh tenaga kesehatan di ruang anak RSU …. tahun …. Download BAB I
4. Pengetahuan ibu balita tentang status gizi pada balita di kelurahan …. tahun …. Download BAB I
5. Faktor-faktor rendahnya penggunaan implant di kelurahan …. kecamatan … tahun …. Download BAB I
6. Pengetahuan primigravida tentang tanda-tanda persalinan semu di klinik …. tahun …… Download BAB I
7. Gambaran sikap dan tindakan akseptor KB dalam mengatasi efek samping alat kontrasepsi suntikan (injectables) di BPS ….. tahun …. Download BAB I
8. Perilaku remaja putri dalam menangani keputihan di sekolah menengah umum negeri …. tahun …. Download BAB I
9. Gambaran perilaku ibu menyusui tentang pemberian ASI pada satu hari pertama di RB ….. tahun …. Download BAB I
10. Pengetahuan dukun terlatih tentang tiga bersih dalam pertolongan persalinan di desa … tahun ….. Download BAB I
11. Pengetahuan ibu menyusi tentang alat kontrasepsi selama laktasi di kelurahan … tahun …. Download BAB I
12. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya mastitis pada ibu postpartum di BPS …. pada bulan Januari – Mei tahun …… Download BAB I
13. Karakteristik ibu hamil dengan anamia di puskesmas …. tahun …. Download BAB I
14. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak teraturnya siklus menstruasi pada mahasiswa tingkat ……. program studi kebidanan ….. tahun …. Download BAB I
15. Gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang manajemen laktasi pada periode post natal di Rumah sakit ibu dan anak ….. tahun ….. Download BAB I
16. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya keikutsertaan suami menjadi akseptor keluarga berencana (KB) di desa ….. Download BAB I
17. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi berat badan ib hamil di puskesmas ….. tahun …. Download BAB I
18. Penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan di desa ….. tahun …. Download BAB I
19. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pre menstrual syndrom (PMS) pada wanita usia 25-35 tahun di kampung ….. tahun …. Download BAB I
20. Karakteristik ibu dengan perdarahan post partum di ruang kebidanan …. tahun ….. Download BAB I
21. Gambaran pengetahuan akseptor KB suntik tentang efek samping depo medroxyprogesterone asetat (DMPA) di RB ….. Download BAB I
22. Hubungan antara suami perokok dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) di wilayah kerja puskesmas …. tahun …. Download BAB I
23. Faktor-faktor rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil yang ke empat (K4) di wilayah kerja puskesmas …. tahun …. Download BAB I
24. Gambaran faktor-faktor penyebab terjadinya ketuban pecah dini di ruang kebidanan RSUD ….. tahun …. Download BAB I
25. Gambaran karakteristik ibu bersalin dengan ekstraksi vakum di RSUD ….. tahun …. Download BAB I
26. Gambaran aktivitas seksual wanita menopause di desa ……. tahun ……Download BAB I
27. Gambaran penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh bidan di ruang bersalin RSUD ….. tahun ….Download BAB I
28. Faktor-faktor penyebab gangguan pemberian ASI pada ibu di desa ….. tahun …. Download BAB I
29. Gambaran penatalaksanaan pre-operasi seksio sesarea di ruang bersalin rumah sakit umum daerah …… tahun ….. Download BAB I
30. Gambaran pasangan usia subur yang tidak mengikuti keluarga berencana di kelurahan ….. tahun … Download BAB I
31. Pengetahuan bidan tentang penanggulangan nyeri persalinan non farmakologis di wilayah kerja puskesmas …… tahun … Download
32. Pengetahuan dan sikap siswa kelas 1 SMP tentang pubertas di SMP …. tahun … Download
33. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang melahirkan di bidan di desa ….. Download
34. Karakteristik kejang demam pada anak di rumah sakit umum …… tahun …. Download
35. Tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan KIA oleh bidandi puskesmas ….. tahun …. Download
36. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya konsumsi tablet Fe pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas …. tahun …. Download
37. Pengetahuan dan sikap bidan dalam penatalaksanaan manajemen rujukan pada ibu bersalin dengan kelainan obstetri di wilayah puskesmas …… tahun … Download
38. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya akseptor IUD di desa ….. tahun …. Download
39. Gambaran penatalaksanaan pemberian ASI pada ibu seksio sesaria di RSU ….. tahun …. Download
40. Gambaran peran serta kader dalam kegiatan posyandu di kampung ….. wilayah kerja puskesmas … tahun …. Download
41. Pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan di Desa ….. tahun … Download
42. Gambaran pengetahuan remaja putri tentang kanker payudara di SMA …… tahun … Download
43. Faktor penyebab rendahnya pengetahuan remaja awal tentang pendidikan seks di SMP ….. tahun … Download
44. Gambaran pengetahuan klimakterium tentang menopause di dusun ….. desa….kec…. tahun …. Download
45. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan neonatal di BPS …. tahun … Download
46. Gambaran karakteristik ibu hamil dengan pre eklampsi dan eklampsi di ruang kebidanan RSUD … tahun … Download
47. Faktor-faktor rendahnya kunjungan balita di posyandu …. desa….Download
48. Gambaran puskesmas mampu pelayanan obstetri dan neonatal emergensi dasar (PONED) di Puskesmas ….. Download
49. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian makanan pendamping ASI pada bayi kurang dari 6 bulan di wilayah kerja puskesmas …. tahun … Download
50. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang perdarahan antepartum di RSUD …. tahun ….. Download
51. Pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang teknik prenatal breastcare, postnatal breastcare dan teknik menyusi di RB …. tahun …. Download
52. Kecemasan terhadap perubahan fisik wanita usia 45-55 tahun dalam menghadapi menopause di ….. tahun …. Download
53. Karakteristik ibu hamil dengan hiperemisis gravidarum di wilayah kerja puskesmas…. tahun ….. Download
54. Faktor-faktor penyebab petugas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan PAP SMEAR di puskesmas …. tahun … Download
55. Gambaran pengetahuan pasangan infertil tentang infertilitas di desa …. Download
56. Tinjauan penatalaksanaan penyakit infeksi saluran pernafasan akut non pnemonia pada balita usia 2 bulan – 5 tahun di puskesmas ….. tahun … Download
57. Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya akseptor KB kondom di puskesmas …. tahun … Download
58. Pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B di posyandu kampung … wilayah kerja puskesmas …. tahun … Download
59. Tinjauan penatalaksanaan kejang demam di ruang anak Rumah Sakit Umum …. tahun … Download
60. Gambaran pengetahuan tenaga kesehatan tentang papsmear di puskesmas …. tahun … Download
61. Gambaran mobilisasi dini pada ibu post partum dengan tindakan operasi seksio sesarea terhadap pengeluaran lochea dan percepatan penyembuhan luka operasi di RSU …. tahun … Download
62. Tinjauan efek samping alat kontrasepsi pada akseptor KB PIL di …. Download
63. Pengetahuan pasangan usia subur tentang kontrasepsi vasektomi di …. tahun ….. Download
64. Pengetahuan ibu tentang pengganti air susu ibu di wilayah kerja puskesmas …. tahun … Download
65. Pengetahuan dan sikap petugas pelaksana penanganan penderita NAPZA tentang penatalaksanaan NAPZA di panti rehabilitasi ….. tahun …. Download
66. Determinan pemberian konsumsi buah segar pada balita di posyandu …. Download
67. Kecemasan pasangan suami istri dengan infertil primer di rumah bersalin …. Download
68. Penatalaksanaan pencegahan infeksi nifas di ruang kebidanan RSU …. tahun … Download
69. Pengetahuan dan sikap akseptor KB pil tentang efek samping pil oral kombinasi (POK) di kelurahan ….. tahun …. Download
70. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam memilih alat kontrasepsi sunti depoprovera di desa …. tahun … Download
71. Gambaran persyaratan minimal fasilitas pelayanan AKDR diwilayah kerja puskesmas …..Download
72. Karakteristik efek samping alat kontrasepsi sunti di desa … tahun …. Download
73. Pengetahuan ibu tentang abortus incompletus di ruang kebidanan rumah sakit umum … tahun … Download
74. TInjauan pemberian air susu ibu (ASI) kolostrum pada ibu post sectio caesarea di ruang kebidanan RSU ……. tahun …. Download
75. Gambaran pengetahuan bidan tentang manajemen aktif kala III di RSUD …. tahun ….. Download
76. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakuptan akseptor baru keluarga berencana alat kontrasepsi dalam rahim di puskesmas …..Download
77. Pengetahuan dan sikap dukun terlatih dalam menolong persalinan di wilayah puskesmas …. Download
78. Pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan di BPS …. tahun … Download
79. Faktor-faktor alasan ibu mengganti kontrasepsi PIL dengan kontrasepsi suntik di puskesmas ….. tahun …. Download
80. Gambaran faktor penyebab akseptor tidak melanjutkan penggunaan kontrasepsi IUD di RB ….. tahun … Download
81. Pengetahuan ibu bersalin tentang rawat gabung di ruang kebidanan rumah sakit umum ….. tahun … Download
82. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu menyusui dalam memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini di Desa … tahun …. Download
83. Karakteristik kanker serviks di ruang kebidanan RSUD ….. Download
84. Tinjauan penyebab dilakukannya curettage di rumah sakit umum …. tahun … Download
85. Pengetahuan tentang ISPA pada ibu yang memiliki balita sakit ISPA yang berobat ke puskesmas …. Download
86. Tinjauan pelaksanaan kegiatan pondok sayan gibu (PSI) di desa …. Download
87. Pengetahuan dan keterampilan bidan tentang manajemen aktif kala III di wilayah puskesmas …….. Download
88. Determinan pemanfaatan tenaga bidan desa dalam pertolongan persalinan di wilayah kerja puskesmas …….. Download
89. Pengetahuan wanita pra-menopause tentang gejala-gejala fisik menopause di kelurahan …… Download
90. Pengetahuan pasangan usia subur tentang kontrasepsi vasektomi di lingkungan …. Download
91. Gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menarche di SMP ….. tahun … Download
92. Determinan ibu tidak menimbangkan balitanya di posyandu ….. Download
93. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian kapsul vitamin A di kelurahan ….. tahun ….. Download
94. Pengetahuan ibu tentang stimulasi pada bayi usia 0 – 12 bulan di kelurahan ….. Download
95. Pengetahuan dan sikap ibu post seksio sesarea tentang mobilisasi dini di rumah bersalin …. tahun … Download
96. Studi tentang motivasi mahasiswi memilih profesi bidan di program studi kebidanan …… tahun ……. Download
97. Karakteristik ibu yang menyapih bayi di bawha usia 1 tahun di wilayah kerja puskesmas ….. tahun …. Download
98. Pengetahuan dan sikap remaja tentang seks pranikah di SMU …. Download
99. Pengetahuan primigravida tentang anemia pad akehamilan di puskesmas ……. Download
100. Sikap ibu hamil terhadap pelayanan antenatal di puskesmas …… tahun .. Download
101. Pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di rumah bersalin ………. Download
102. Pengetahuan ibu primipara tentang masa nifas di rumah bersalin …… tahun .. Download
103. Pengetahuan dan sikap siswa SMU tentang seksualitas pada remaja di SMU ……….. Download
104. Gambaran tingkat pengetahuan ibu-ibu usia 45 – 55 tahun tentang menopause di desa … tahun …. Download
105. Pengetahuan dan sikap remaja awal tentang perubahan fisiologis pada masa pubertas di SLTPN … Download
106. Pengetahuan ibu nifas tentang tanda-tanda bahaya masa nifas di ruang kebidanan rumah sakit umum …. Download
107. Pengetahuan siswa kelas II sekolah menengah pertama negeri …. mengenai bahaya merokok tahun …. Download
108. Pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap tanda-tanda bahaya kehamilan di puskesmas … tahun … Download
109. Pengetahuan dan sikap masyarakat usia 15 – 39 tahun mengenai mitos, diskriminasi dan stigmasi tehradap HIV/ AIDS di ………. tahun …… Download
110. Pengetahuan remaja tentang aborsi pada siswi kelas II SMA …. tahun …. Download
111. Pengetahuan tentang gangguan menstruasi dan penatalaksanaannya pada remaja putri kelas II di …………….tahun…..Download
112. Karakteristik akseptor KB alat kontrasepsi dalam rahim di wilayah kerja puskesmas ……Download
113. Gambaran ibu hamil dengan kekurangan energi kronis di wilayah kerja puskesmas …..Download
114. Pengetahuan ibu hamil tentang HIS palsu di BPS …..tahun ….Download
115. Gambaran PEngetahuan ibu multipara tentang kontrasepsi AKDR di wilayah kerja puskesmas …… tahun …..Download
116. Gambaran pengetahuan remaja wanita kelas II tentang diet seimbang di …..Download
117. Gambaran kadar hemoglobin ibu hamil di puskesmas …… tahun …. Download
118. Penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh bidan di puskesmas ….Download
119. Pengetahuan dan sikap ibu balita tentang pemberian kapsul vitamin A di puskesmas …. tahun … Download
120. Pengetahuan dan sikap remaja tentang bahaya seks bebas di SMA …. tahun … Download
121. Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dampak kehamilan remaja di SMA …. tahun … Download
122. Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang perkembangan organ seks sekunder pada masa pubertas di sekolah menengah pertama ….. tahun ….. Download
123. Determinan tidak dilakukannya deteksi dini kanker payudara melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) oleh remaja putri kelas II di MAN …. tahun ….Download
124. Pengetahuan ibu primigravida tentang tehnik mengejan yang benar saat persalinan di BPS ….. tahun …..Download
125. Karakteristik keluarga dengan balita berat badan di bawah garis merah (BGM) di desa…… tahun ….Download
126. Tinjauan penatalaksanaan gizi buruk pada balita oleh tenaga kesehatan di puskesmas ….. tahun …..Download
127. Pengetahuan ibu tentang pemberian makanan tambahan pada bayi di bawah umur 6 bulan di desa ….. tahun …Download
128. Pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menstruasi pada siswi kelas II SMP …..Download
129. Pengetahuan ibu tentang pemberian imunisasi hepatitis B1 segera setelah lahir di rumah bersalin …. tahun …..Download
130. Gambaran pengetahuan ibu menyusui anak pertama tentang ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas ….Download
131. Karakteristik suami dengan ibu menyusui dalam pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja puskesmas ….. tahun ….Download
132. Alasan ibu melakukan penyapihan anak kurang dari 2 tahun di posyandu …..Download
133. Gambaran teknik menyusui minggu pertama pada ibu primipara di BPS ….. tahun ….Download
134. Pengetahuan ibu hamil tentang kunjungan pemeriksaan kehamilan di BPS …..tahun …..Download
135. Pemantauan perkembangan balita di posyandu …..wilayah kerja puskesmas …..Download
136. Gambaran pertumbuhan balita di posyandu desa ….. tahun ….Download
137. Faktor-faktor penyebab ibu hamil tidak melakukan senam hamil di BPS …..tahun ….Download
138. Pengetahuan remaja putri tentang keputihan fisiologis dan keputihan patologis di Madrasah ALiyah NEgeri ….. tahun …..Download
139. Determinan ibu hamil tidak melakukan imunisasi tetanus toksoid (TT) lengkap di wilayah kerja puskesmas ……Download
140. Keterampiloan pelaksanaan komunikasi terapeutik mahasiswi tingkat II program studi kebidanan…… di lahan praktek tahun …..Download
141. Pengetahuan ibu post partum tentang pemberian kolostrum pada bayi baru lahir di BPS ….. tahun ….Download
142. Pengetahuan ibu mengenai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) di puskesmas ……Download
143. Gambaran tingkat pengetahuan wanita pramenopause tentang osteoporosis di desa …. tahun …Download
144. Hubungan kejadian pneumonia pada balita dengan status pemberian vitamin A di poliklinik anak …… tahun …Download
145. Gambaran pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun tidak terlatih di wilayah puskesmas pembantu …….Download
146. Gambaran penatalaksanaan 6 jam pertama bayi baru lahir normal oleh bidan di ruang kebidanan RSUD …..Download
147. Gambaran tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang anemia di SMA …..Download
148. PEngetahuan usia lanjut tentang kebutuhan gizi usia lanjut di posyandu lansia desa ….Download
149. Tinjauan pelaksanaan pencegahan infeksi pada asuhan persalinan normal oleh bidan di ruang kebidanan RSUD ….. tahun 2008 Download
150. Gambaran pola makan ibu hamil di BPS ……Download
151. Gambaran pengetahuan ibu tentang keluarga sadar gizi (KADARZI) di posyandu …..Download
152. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi ibu tidak menimbang balitanya di posyandu ……Download
153. Gambaran perilaku hidup bersih dan sehat dalam rumah tangga di kelurahan …… tahun ….Download
154. Gambaran pelaksanaan teknik menyusui pada ibu menyusui di posyandu …..Download
155. Gambaran faktor-faktor wanita pasangan usia subur tidak menggunakan kontrasepsi tubektomi di kelurahan ……Download
156. Gambaran kadar hemoglobin (Hb) pada akseptor intra uterine devices (IUD) di kelurahan …..Download
157. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian dismenore pada mahasiswa program studi kebidanan ……Download
158. Karakteristik neonatus dengan asfiksia di ruang anak RSUD ……. tahun …..Download
159. Gambaran faktor-faktor penyebab wanita PUS tidak melakukan pemeriksaan PAP Smear di wilayah kerja puskesmas ….Download
160. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pemberian ASI dini di BPS …..Download
161. Gambaran karakteristik ibu bersalin dengan kehamilan lewat waktu di rumah bersalin…. tahun ….Download
162. Gambaran kadar hemoglobin (Hb) pada akseptor intra uterine devices (IUD) di kelurahan ……Download
163. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tuberkulosis paru pada anak di poli anak RSUD ……Download
164. Hubungan antara paritas dan usia ibu dengan plasenta previa di RSUD …. tahun …..Download
165. Faktor-faktor penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi usia di bawah 6 bulan di kelurahan ……Download
166. Gambaran kemampuan motorik kasar pada anak di bawah tiga tahun (BATITA) di posyandu …..Download
167. TInjauan pelaksanaan imunisasi campak di posyandu kelurahan ….Download
168. Gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pneumonia pada balita di puskesmas ……..Download
169. Gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi dengan berat badan lahir rendah di rumah bersalin …..Download
170. Hubungan antara pengetahuan ibu balita tentang gizi dengan status gizi balita di kelurahan …..Download
171. Hubungan antara pengetahuan ibu balita tentang gizi dengan status gizi balita Download
172. Karakteristik perilaku hubungan seks pra nikah pada remaja wanita di desa …..Download
173. Hubungan tingkat pengetahuan dan tingkat ekonomi keluarga kader dengan peran serta kader posyandu di kampung ….. tahun …..Download
174. Pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang tablet tambah darah (Fe) dalam mencegah anemia kehamilan di BPS …..Download
175. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang nutrisi ibu hamil di desa ….. tahun …..Download
176. Pengetahuan dan sikap pekerja seks komersial tentang HIV/AIDS di eks lokalisasi ……Download
177. Hubungan faktor lingkungan, tempat tinggal, teman sebaya dan orang tua dengan penyalahgunaan narkotika psikotropika zat aditif lainnya (NAPZA) pada remaja di SMA ….Download
178. Gambaran proses penyembuhan luka ibu post seksio sesarea di RKB RSU ….. tahun ….Download
179. TInjauan penatalaksanaan perawatan tali pusat pada neonatus di rumah sakit umum …. tahun ….Download
180. Faktor penyebab tidak tercapainya target cakupan persalinan oleh bidan di desa …..Download
181. Pengetahuan dan sikap ibu tentang imunisasi campak di puskesmas ……Download
182. Gambaran penatalaksanaan kala IV persalinan normal oleh bidan praktek swasta di wilayah puskesmas ….Download
183. Pengetahuan dan sikap ibu tentang pemantauan status gizi pada anak balita di kelurahan ….. tahun ….Download
184. Karakteristik akseptor kontrasepsi MOW di desa ….. tahun ….Download
185. Pengetahuan ibu tentang pertolongan pertama pada balita demam di puskesmas ….Download
186. Gambaran faktor penyebab rendahnya peran serta ibu balita di posyandu ….. tahun ….Download
187. Gambaran penatalaksanaan perdarahan post partum di rumah bersalin …. tahun….Download
188. Gambaran penatalaksanaan anemia pada ibu hamil di wilayah kerja puskesmas …. tahun …..Download
189. Gambaran pengetahuan ibu hamil tentnag gizi seimbang pada masa kehamilan di puskesmas ….. tahun…..Download
190. Gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian imunisasi pada kunjungan neonatal pertama (KN 1) di wilayah kerja puskesmas …….. tahun ….Download
191. Gambaran efek samping KB suntik depo progestin di puskesmas pembantu …. tahun ….Download
192. Pelaksanaan rawat gabung di rumah bersalin handayani …. tahun ….Download
193. Gambaran pengetahuan siswa SMPN ….. tentang perilaku hidup bersih dan sehat tahun …..Download

Posted in skripsi akbid, skripsi akper, skripsi kebidanan, skripsi kedokteran, skripsi keperawatan, skripsi kesmas | Leave a comment

CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN


Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
PERBANYAKAN CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN DENGAN KULTUR JARINGAN « H0404055’s Blog
3 Apr 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan cepat secara kultur jaringan melalui biji dilakukan dengan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perkembangbiakkan tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN dengan cara kultur jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
h0404055 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan wordpress Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan dengan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan » maxall’s blog
anda mencari perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN secara kultur jaringan ?, berikut ini adalah hasil penelusuran dari perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN secara kultur jaringan di situs Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
maxall Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan web Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan id Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan secara Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan html Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan JEVUSKA
Artikel perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN secara kultur jaringan di situs ini gratis 0 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Download perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN secara kultur jaringan print for free from Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jevuska Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan+CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN+secara+kultur+jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan html Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Kultur Jaringan Esha Flora: Teknik Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Raksasa Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
25 Apr 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Sistem perbanyakan tanaman secara vegetatif yang lebih cepat dan dapat Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Di Laboratorium kultur jaringan perbanyakan tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
eshaflora Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan blogspot Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan teknik Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan raksasa Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan html Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
[DOC]
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman
Jenis Berkas: Microsoft Word Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tampilan Cepat
diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan hingga saat ini dalam pelestarian dan perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN adalah dengan kultur jaringan, Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
source Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan ibiblio Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan org Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan trac Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan lyceum Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan attachment Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan ticket Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan 86 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan kuljar Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan doc? Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Mirip
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Macam Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan macam Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN « Horteens
28 Jun 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Bibit CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Secara alami, Dendrobium dapat membentuk cabang anakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan kultur jaringan menggunakan bagian kecil dari tanaman Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
horteens Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan wordpress Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan macam Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan macam Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN | PDF Finder | PDF Search Engine
D : Moodle (Perbanyakan Melon secara kultur jaringan) Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Generatif (Biji) Semua bunga CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN bersifat hermaphrodit Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan pdf Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan finder Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan pdf Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan html Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
KULTUR JARINGAN :renady Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan saputra
10 Jul 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan ini dalam pelestarian dan perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN adalah dengan kultur jaringan, Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
blog Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan ub Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan ac Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan id Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan renadysaputra Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan 07 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan 10 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Dengan Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Contoh Makalah di Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Kumpulan cerita berisi perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN dengan kultur jaringan di Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan pisang ambon putih perbanyakan tanaman pisang secara kultur jaringan yogyakarta dan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
minalove Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan+CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN+dengan+kultur+jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok
Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
Perbanyakan Tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN | kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan co Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan cc
26 Okt 2010 Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan Tanaman CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN | kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan co Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan cc Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tanaman Hias dan juga berbagai info menarik lainya akan saya update secara rutin Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan
kultur Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan co Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan cc Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan perbanyakan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan tanaman Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Perbanyakan CONTOH : PENELITIAN, SKRIPSI,LAPORAN,MAKALAH KULTUR JARINGAN, PERIKANAN, MULTIMEDIA,BUDIDAYA,PERTANIAN,MEKANISASI,MESIN Secara Kultur Jaringan Tembolok

KULTUR JARINGAN ( VEDCA )
1 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0001 PERTANIAN Budidaya Cabe Keriting Sistem MPHP
2 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0002 PERTANIAN Teknik Okulasi Jeruk Manis
3 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0003 PERTANIAN Perbanyakan Krisan secara Kultur Jaringan
4 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0004 PERTANIAN Perbanyakan Kentang secara Kultur Jaringan
5 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0006 PERTANIAN Mikropropagasi Tanaman Anyelir
6 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0007 PERTANIAN Kultur Jaringan Temulawak
7 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0008 PERTANIAN Perbanyakan Melon secara Kultur Jaringan
8 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0009 PERTANIAN Perbanyakan Brokoli secara Kultur Jaringan
9 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0010 PERTANIAN Produksi Benih Jagung Hibrida
10 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0011 PETERNAKAN Budidaya Lebah
11 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0012 PERTANIAN Budidaya Semangka Tanpa Biji
12 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0013 PERTANIAN Perbanyakan Lili secara Kultur Jaringan
13 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0014 PERTANIAN Budidaya Benih dan Sertifikasi Kedelai
14 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0015 PERTANIAN Kultur Jaringan Anggrek
15 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0016 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Kaktus
16 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0017 PERTANIAN Kultur Jaringan Nanas
17 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0018 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Lidah Buaya
18 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0019 PERTANIAN Budidaya Tanaman Jarak Pagar
19 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0020 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Jarak Pagar
20 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0021 PERTANIAN Perbanyakan Bawang Merah Secara In-vitro
21 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0022 PERTANIAN Perbanyakan Tanaman Aglaonema
22 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0023 PERTANIAN Kultur Jaringan Pisang Raja Bulu
23 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0024 PERTANIAN Perbanyakan Tanaman Anthurium secara in Vitro
24 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0025 PETERNAKAN Budidaya Kelinci
25 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0026 PERTANIAN Perbanyakan Tanaman Pisang Abaca secara Kultur jaringan
26 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0027 PERTANIAN Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
27 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0028 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Jati
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
2009
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
1 dari 10
28 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0029 PERTANIAN Budidaya Tanaman Talas
29 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0030 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Talas Jepang
30 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0031 PERTANIAN Budidaya ulat sutera
31 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0034 PERTANIAN Produksi Benih Cabe Rawit
32 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0035 PERTANIAN Kultur Jaringan Tanaman Kapas
33 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0036 PERTANIAN Perbanyakan tanaman Anggrek secara in Vitro
AKUAKULTUR ( VEDCA )
1 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0037 PERIKANAN Pembenihan Ikan Mas secara Intensif
2 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0038 PERIKANAN Budidaya Ikan Baung
3 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0039 PERIKANAN Budidaya Pakan Alami Artemia
4 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0040 PERIKANAN Produksi Mutiara Laut
5 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0041 PERIKANAN Budidaya Tiram Mutiara
6 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0042 PERIKANAN Produksi Abalone
7 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0043 PERIKANAN Budidaya Ikan bawal
8 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0044 PERIKANAN Pembenihan Ikan Kerapu Bebek
9 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0045 PERIKANAN Pembesaran ikan kerapu bebek di laut system KJA
10 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0046 PERIKANAN Budidaya Ikan Lele
11 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0047 PERIKANAN Penangkapan Ikan Tuna dengan metode pancing
12 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0048 PERIKANAN Teknologi Produksi Bahan Baku pakan
13 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0049 PERIKANAN Penangkapan Ikan dengan menggunakan trawl
14 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0050 PERIKANAN Breeding Gurami
15 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0051 PETERNAKAN Inseminasi buatan pada sapi
16 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0052 PERIKANAN Budidaya Udang Windu
17 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0053 PERIKANAN Budidaya Rotifer
18 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0054 PERIKANAN Budidaya Mikroalgae
19 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0055 PERIKANAN Pembenihan Kuda Laut
20 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0056
Mekanisasi
Pertanian
Penggunaan dan Perawatan Traktor
21 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0057 PERIKANAN Pembenihan Ikan Nila
22 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0058 PERIKANAN Pembesaran ikan nila
23 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0059 PERIKANAN Pembesaran Ikan Mas
24 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0061 PERIKANAN Pembenihan Lobster Air tawar
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
ALIH JENJANG DIPLOMA IV ITB-VEDCA-PENS-POLISENI
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
2 dari 10
25 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0062 PERIKANAN Pembesaran lobster air tawar
26 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0063 PERIKANAN Pembenihan Udang Galah
27 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0064 PERIKANAN Daerah penangkapan ikan
28 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0065 PERIKANAN Budidaya Rumput Laut
29 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0066 PERIKANAN Pemanenan rumput laut
30 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0067 PERIKANAN Pembenihan Teripang
31 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0068 PERIKANAN Budidaya Kodok
32 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0069 PERIKANAN Pembenihan Ikan Patin
33 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0070 PERIKANAN Teknik Penangkapan Ikan dengan Trawl
34 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0071 PERIKANAN Pembesaran Udang Putih
35 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0072 PERIKANAN Pembenihan udang Putih
36 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0074 PERIKANAN Budidaya Ikan Patin
37 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0075 PETERNAKAN Teknologi Penetasan Telur Unggas
38 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0076 PETERNAKAN Pembuatan Pakan Konsentrat
39 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0077 PERTANIAN Budidaya Anggrek Dendrobium
40 ITB-VEDCA-ZIP-0809-0078 PENGOLAHAN Memproduksi Tahu
TEKNOLOGI INFORMASI ( PENS )
1 ITB-PENS-ZIP-0809-0001 Multimedia Ms. Paint
2 ITB-PENS-ZIP-0809-0002 Multimedia
Menggunakan perangkat lunak pembuat grafis bitmap dan vektor (Desain
Grafis)
3 ITB-PENS-ZIP-0809-0003 TIK what is TELEVISION
4 ITB-PENS-ZIP-0809-0004 Pemograman Membuat halaman web dinamis tingkat dasar
5 ITB-PENS-ZIP-0809-0005 Pemograman Web Design
6 ITB-PENS-ZIP-0809-0006 Pemograman Local Area Network
9 ITB-PENS-ZIP-0809-0009 Multimedia Mengoperasikan Software Animasi 2 Dimensi
10 ITB-PENS-ZIP-0809-0010 TIK Menginstalasi PC
11 ITB-PENS-ZIP-0809-0011 NORMATIF Pendidikan agama Islam
12 ITB-PENS-ZIP-0809-0012 TIK Menguasai teknik elektronika dasar
13 ITB-PENS-ZIP-0809-0013 Multimedia Menggabungkan Audio ke dalam sajian Multimedia
14 ITB-PENS-ZIP-0809-0014 TIK Membuat Aplikasi dengan Microsoft Access
16 ITB-PENS-ZIP-0809-0016 TIK KKPI: Menggunakan Software Aplikasi Presentasi
17 ITB-PENS-ZIP-0809-0017 TIK Jaringan Area Network
18 ITB-PENS-ZIP-0809-0018 TIK Mereparasi VCD/DVD Player
19 ITB-PENS-ZIP-0809-0019 TIK KKPI: MemasukkanData Aplikasi
20 ITB-PENS-ZIP-0809-0020 TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi SMP
22 ITB-PENS-ZIP-0809-0022 TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi(tik 7)
23 ITB-PENS-ZIP-0809-0023 TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi kls 8 semester 2
25 ITB-PENS-ZIP-0809-0025 TIK Teknologi Informasi dan Komunikasi
26 ITB-PENS-ZIP-0809-0026 MATEMATIKA Matematika: Bangun Datar Segitiga
27 ITB-PENS-ZIP-0809-0027 TIK Menggunakan Perangkat Lunak Pengolah Kata Untuk Menyajikan Informasi
28 ITB-PENS-ZIP-0809-0028 ADAPTIF Kewirausahaan
29 ITB-PENS-ZIP-0809-0029 FISIKA Menerapkan Hukum Gerak dan Gaya
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
ALIH JENJANG DIPLOMA IV ITB-VEDCA-PENS-POLISENI
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
3 dari 10
30 ITB-PENS-ZIP-0809-0030 TIK Presenter TV
31 ITB-PENS-ZIP-0809-0031 Pemograman Teknik Mwmbuat Web Pro dengan Photoshop
32 ITB-PENS-ZIP-0809-0032 SENI Desain Interior Kapal
34 ITB-PENS-ZIP-0809-0034 TIK Dasar – dasar Internet
35 ITB-PENS-ZIP-0809-0035 BAHASA English Conversation
36 ITB-PENS-ZIP-0809-0036 TEKNIK Mengoperasikan mesin produksi dengan kendali elektro mekanik
37 ITB-PENS-ZIP-0809-0037 MATEMATIKA Matrik
ANIMASI ( POLISENI )
1 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0001 SENI Menggambar Karakter Chibi
2 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0002 Multimedia Animasi Non-Linier dalam Blender
3 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0003 Multimedia Membuat Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Adobe Flash
4 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0004 Multimedia Berkreasi dengan Adobe Flash
5 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0005 SENI Menggambar Anatomi Tubuh Manusia
6 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0006 Multimedia Teknik Pembuatan Film Animasi 2D
7 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0007 Animasi Storyboard
8 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0008 Animasi 12 Prinsip Dasar Animasi
9 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0009 SENI Nirmana Datar
10 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0010 Desain Grafis Membuat Karya Digital Imaging Menggunakan Program Adobe Photosop
11 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0011 SENI Gambar Kerja Kriya Kayu
12 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0012 Animasi Desain Karakter Animasi 2 Dimensi
14 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0014 Adaptif Screen Printing (Cetak Sablon) pada Media Tekstil
15 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0015 SENI Kemampuan Dasar Mengukir
16 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0016 Desain Grafis Tipografi Jenis dan Penggunaanya
17 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0017 Desain Grafis Pembuatan Desain Poster
18 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0018 SENI Dasar-dasar Teknik Fotografi
19 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0019 SENI Cara Mudah Pembuatan Batik Tulis
20 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0020 SENI Ukir Logam
21 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0021 Desain Grafis Pengenalan Corel Draw sebagai Program Editing Dasar Grafic Desain
22 ITB-POLISENI-ZIP-0809-0022 Multimedia Wawasan Animasi

TEKNIK KOMPUTER JARINGAN ( STEI – ITB)
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
ALIH JENJANG DIPLOMA IV ITB-VEDCA-PENS-POLISENI
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
ALIH JENJANG DIPLOMA IV ITB-VEDCA-PENS-POLISENI
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
4 dari 10
1 ITB-STEI-ZIP-1109-0001 TIK Perakitan PC
2 ITB-STEI-ZIP-1109-0002 TIK Instalasi WAN: Memasang Kabel Serat Optik
10 ITB-STEI-ZIP-1109-0010 TIK Menginstalasi Software
25 ITB-STEI-ZIP-1109-0025 TIK Perawatan Periferal
35 ITB-STEI-ZIP-1109-0035 ELEKTRO Menguasai dasar elektronika komputer: Mengenal Komponen elektronika
40 ITB-STEI-ZIP-1109-0040 TIK
Menginstalasi dan Konfigurasi firewall pada server: Menentukan kebijakan
keamanan jaringan
42 ITB-STEI-ZIP-1109-0042 TIK Menginstalasi dan Konfigurasi firewall pada server: Memasang firewall

NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
S2 ITB
1 ITB VEDCA-ZIP-23209310 Graph
2 ITB VEDCA-ZIP-23209333 Robotic
3 ITB VEDCA-ZIP-23209345 Photoshop
4 ITB VEDCA-ZIP-23209302 E Sistem Komputer
5 ITB VEDCA-ZIP-23209303 Perangkat Pendukung Pemrograman GL
6 ITB VEDCA-ZIP-23209340 Desain Aplikasi Media Digital
7 ITB VEDCA-ZIP-23209314 Biologi kls XI Ilmu Alam Semester 1
8 backup-c_-20100624-1757 Dasar – dasar Pemrograman C++
500 K
1 500K-09-01 Dunia Sastra
2 500K-09-02 Pendidikan Agama Islam Kelas XII Semester 1
3 500K-09-03 Pembelajaran TIK untuk kelas 7,8 dan 9
4 500K-09-04 Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
5 500K-09-05 Abdi Negara
6 500K-09-06 Aqidah Islam Kelas X Semester II
7 500K-09-07 Bahasa Indonesia
8 500K-09-08 Bahasa Indonesia SMK Kelas X Semester 2
9 500K-09-09 Bahasa Jawa SMP Kelas 8
10 500K-09-10 Bimbingan Konseling
11 500K-09-11 Biologi Kelas XI

PAKET PAKET PELATIHAN

DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
500 K

NO KODE KONTENT

DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
ALIH JENJANG S2 ITB

NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
5 dari 10
12 500K-09-12 Ekonomi Kelas XI Semester 2
13 500K-09-13 Hardware
14 500K-09-14 Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi
15 500K-09-15 Keterampilan Komputer dan Pengetahuan Informatika Kelas X Semester 2
16 500K-09-16 Kimia SMA Kelas X Semester 2
17 500K-09-17 Metematika :Himpunan
18 500K-09-18 Menggunakan Operating Sistem
19 500K-09-19 Pemeliharaan Servis dan Pengganian Baterai
20 500K-09-20 Pysik Class
21 500K-09-21 SMP N 2 Borobudur
22 500K-09-22 Teknologi Informasi dan Komunikasi
23 500K-09-23 Teknologi Informasi dan Komunikasi kelas VII,VIII,IX
24 500K-09-24 Teknologi Informasi dan Komunikasi Ms Word
25 500K-09-25 Teknologi Informasi dan Komunikasi Salam
26 500K-09-26 Teknologi Informasi dan Komunikasi SMP
27 500K-09-27 Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
28 500K-09-28 TIK Kelas 7 SMP
29 500K-09-29 TIK SMA Kelas XI Semester 2
30 500K-09-30 Produktif
31 500K-09-31 Profil Guru
1 500K-09-32 Bahasa Indonesia
2 500K-09-33 Matematika SMK
3 500K-09-34 Memahami cara membuat magnet, sifat kutub magnet dan kemagnetan bumi
4 500K-09-35 Pengembangan E-Learning dengan Moodle
5 500K-09-36 Workplace Assessor
6 500K-09-37 Bahasa Inggris kelas X
7 500K-09-38 Biologi Kelas X
8 500K-09-39 Biologi SMA Kelas X
9 500K-09-40 Bahasa Inggris kelas X Semester 1
10 500K-09-41 Memahami Teori Evolusi serta Implikasinya
11 500K-09-42 Matematika Kelas XII
12 500K-09-43 Blodd Circulatory System
13 500K-09-44 Struktur Atom, Sistem Periodik Unsur, bentuk Molekul
14 500K-09-45 Materi X RPL
15 500K-09-46 Termokimia
16 500K-09-47 Matematika Kelas X
17 500K-09-48 Penerapan Alat Ukur
18 500K-09-49 Matematika Kls XII
Lain – lain
1 LAIN-001 Learning Management System
2 LAIN-002 Pelatihan Corel Draw
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
DAFTAR JUDUL PELATIHAN BERBASIS WEB DENGAN MOODLE
500 K
NO KODE KONTENT PAKET PAKET PELATIHAN
6 dari 10
3 LAIN-003 Jaringan Area Network
4 LAIN-004 Jenis Film Animasi berdasarkan Proses Pembuatannya
5 LAIN-005 Desain Grafis
6 LAIN-006 Pemrograman Web Dinamis

NO KODE PAKET JUDUL
TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI
1 B2-004 Dasar Sistem Komunikasi Optik
2 B2-006 Melakukan Perbaikan Dan/Atau Setting Ulang Koneksi Jaringan
3 B2-007 Mengoperasikan Sofware Pengolah Data Dengan Microsoft Acces
4 B2-009 Design Web Atraktif Dengan CSS Dan Jquery
5 B2-011 Pengenalan Web Dinamic Dengan Servlet Dan JSP
6 B2-015 Menginstalasi Pc
7 B2-017 Penggunaan Aplikasi E-Learning Moodle
8 B2-018 Membuat Website Dengan Joomla
9 B2-019 Diklat Sistem Informasi Pendidik Dan Kependidikan
10 B2-021 Rancang Bangun System Multicast Dengan Server Ubuntu
11 B2-023 Pemgrograman HTML
12 B2-024 Dasar Pemrograman C++
13 B2-026 Desain Dan Perancangan Sofware Bahasa Pemrograman
14 B2-027 Membuat Jaringan Ad-Hoc Di Windows XP.
15 B2-028 Pengenalan Sistem Operasi Linux
16 B2-030 Packet Tracer Learning ( Simulator Jaringan )
17 B2-031 Mengoperasikan Perangkat Lunak Lembar Sebar
18 B2-034 Mengkonfigurasi Voip (Voice Internet Protocol)
19 B2-036 Pengenalan Bahasa Pemrogramanturbo Pascal
20 B2-037 Membangun Jaringan Komputer Menggunakan Cisco Router
21 B2-041
Membuat Website Sederhana Dengan Php&Mysql Menggunakan Macromedia
Dreamweaver 8.0
22 B2-043 Dasar Pemrograman Java
23 B2-044 Instalasi Software O/S Dan Aplikasi
24 B2-046 Membangun Aplikasi Dengan VB.Net
25 B2-047 Mengoperasikan Sofware Pengolah Kata (Microsoft Office Word 2007)
26 B2-049 Pembuatan Game Builder (Game Sederhana)
27 B2-052 Komunikasi Data
28 B2-055 Ketrampilan Komputer Dan Pengolahan Informasi

DAFTAR KONTEN MOODLE 2010
ALIH JENJANG D4 ITB BATCH 2 DAN BATCH 3
29 B2-056 Media Transmisi Jaringan Komputer
30 B2-058 Mengoprasikan Perangkat Lunak BASIS DATA (Mysql)
31 B2-060 Sistem Operasi Berbasis Open Source
32 B2-061 Membuat Dan Memodifiaksi Blog Dengan Blogspot
33 B2-062 Menginstalasi Non Manageable Switch Pada Jaringan
34 B3-A-001 Pemanfaatan Mikrotik sebagai Server Jaringan
35 B3-A-002 Tutorial Dasar Hacking
36 B3-A-003 Membuat Disain Jaringan Berbasis Luas (WAN)
37 B3-A-004
Mengoperasikan perangkat lunak basis data menggunakan aplikasi Microsoft
access
38 B3-A-006 Membangun DNS Server
39 B3-A-009 Rancang Bangun VoIP-LAN
40 B3-A-013 Instalasi OS Microsoft dan Linux dan Sofware
41 B3-A-018 Dasar-dasar Pemrograman C#.NET Frame Work
42 B3-A-022 Teknologi Jaringan Selular
43 B3-A-023 Perawatan Periferal (Printer)
44 B3-A-026 Tutorial Blogspot untuk Pemula
7 dari 10
45 B3-A-027 Routing Protocol dan Concepts
46 B3-A-032 Tutorial Matlab GUI
47 B3-A-034 Pengenalan OS/Aplikasi Open Source
48 B3-A-035 Instalasi Router PC menggunakan Mikrotik Router Os
49 B3-A-039 Membuat Game J2ME dengan Netbean
50 B3-A-047 Konfigurasi Linux Open SUSE dengan speedy menggunakan VMWare
Workstation
51 B3-B-014 Tutorial Pemrograman Visual Basic
52 B3-B-019 Membangun PC Router dengan IP Cop
53 B3-B-038 Perakitan PC/Komputer
54 B3-B-041 Membuat Website dengan CMS Joomla
55 B3-B-047 Carding untuk Pemula
56 B3-C-001 Pembuatan Toko Online dengan OS Commerce
57 B3-C-003 Pelatihan ICT (Data Pokok Pendidikan)
58 B3-C-014 Aplikasi Cash Register menggunakan Visual Basic
59 B3-C-024 Keamanan Jaringan (Network Security)
60 B3-C-025 Pengenalan dan Pemanfaatan Facebook sebagai Jejaring Sosial dan Bisnis
61 B3-C-032 Pembuatan Website dengan CMS Drupal
62 B3-C-033 Pembuatan Game dengan RPG Maker VX
63 B3-C-034 Pelatihan Keterampilan Mengetik dengan Software Typing Master
64 B3-C-035 Web Programming dengan PHP dan MySQL
65 B3-C-038 Melakukan Perawatan PC
66 B3-C-042 Pembuatan Game dengan Game Maker 3D
67 B3-C-044 Open LDAP Server
ELEKTRO
68 B2-025 Pembuatan Antena Wajanbolic Untuk Wireless Internet
69 B2-048 Instalasi Sistem Feeder Antena Dan Propagasi
70 B3-A-025 Membuat Antena Wajanbolic
71 B3-A-040 Dasar-dasar Instalasi Listrik
72 B3-B-033 Sistem Kendali PID (Proportional, Integral, Diferensial)
73 B3-B-035 Rancang Bangun Antena
74 B3-B-027 Pembuatan Papan Rangkaian PCB
8 dari 10

MULTIMEDIA DAN ANIMASI
70 B2-005 Pembuatan Design Logo Kaos Oblong Sederhana
71 B2-008 Design Graphics Menggunakan Adobe Photoshop
72 B2-013 Membuat Video Tutorial Dengan Camtasia Studio
73 B2-016 Materi Dasar Membuat Slide Dengan Menggunakan Flash
74 B2-022 Desain Logo Perusahaan Dengan Corel Draw
75 B2-054 Animasi Sederhana Dengan Macromedia Flash
76 B2-063 Pengenalan Adobe Photoshop Cs2
77 B3-A-019 Menggambar Manusia dengan Style Manga
78 B3-A-020 Panduan membuat Game Matematika dengan J2ME
79 B3-A-021 5 Trik Olah Gambar dengan Photoshop
80 B3-A-024 Tutorial Adobe Photoshop CS2
81 B3-A-029 Tutorial Dasar Macromedia Flash 8
82 B3-A-030 Trik Membuat Peta Dengan CorelDraw X3
83 B3-A-042 Tutorial Dasar Corell Draw X3
84 B3-B-001 Pembelajaran 3D Desain Berbasis Blender
85 B3-B-034 Membuat animasi digital 2D
86 B3-B-042 Pembuatan Video Interaktif dengan Flash 8
87 B3-B-043 LifeSkill Broadcasting (penyiaran)
88 B3-C-012 Digital Printing (Cetak Digital )
PERTANIAN / KULTURJARINGAN
89 B3-A-048 Budidaya Kakao
90 B3-B-016 Budidaya Cabai Merah
91 B3-B-020 Menanam Hidroponik
92 B3-B-028 Budidaya Tanaman Toga dilingkungan Sekolah
93 B3-B-040 Budidaya Jamur Tiram
94 B3-C-043 Budidaya Anggrek Bulan
95 B3-C-045 Budidaya Jagung

PETERNAKAN / PERIKANAN (AKUAKULTUR)
96 B3-A-011 Budidaya Cacing Tanah
97 B3-A-012 Memelihara Belut
98 B3-B-004 Budidaya Ternak Kelinci
99 B3-B-024 Budidaya Ikan Cupang
100 B3-C-002 Budidaya Ayam Arab
101 B3-C-008 Budidaya Ikan Mas di Keramba
102 B3-C-041 Budidaya Ayam Pedaging
SD
103 B3-A-017 PKn SD Kelas VI Semester 1
104 B3-A-033 IPA SD Kelas IV Semester 1
105 B3-C-011 Bahasa Inggris SD Kelas VI Semester 1
106 B3-C-026 Matematika SD Kelas IV Semester 2
SMP
107 B2-029 Ppkn Untuk SMP Kelas 8 Semester 1
108 B2-045 Pendidikan Agama Islam Untuk SMP Kelas VII Semester
109 B3-A-007 Pendidikan Kewarganegaraan SMP Kelas VII semester 1
110 B3-A-008 Matematika SMP Kelas VIII Semester 1
111 B3-A-010 Matematika SMP Kelas IX Semester I
112 B3-A-015 Astronomi SMP Kelas X Semester 1
113 B3-A-016 TIK SMP Kelas IX Semester 1
114 B3-A-028 Fisika SMP Kelas IX Semester 2
115 B3-B-002 Sejarah SMP Kelas 1 Semester 1
116 B3-B-005 Matematika Kelas VII Semester 1
117 B3-B-009 Bahasa Indonesia Kelas IX Semester 2
118 B3-B-013 TIK SMP Kelas VIII Semester 2
119 B3-B-017 Bahasa Indonesia SMP Kelas IX Semester 1
120 B3-B-025 TIK SMP Kelas VII Semester 1
121 B3-B-030 Fisika SMP Kelas VII Semester 1
122 B3-B-031 Biologi SMP Kelas VIII Semester 1
123 B3-B-037 Ilmu Tajwid Al-Quran untuk SMP Kelas VII Semester 1
9 dari 10
124 B3-B-046 Pembelajaran IPA untuk SMP VIII Semester 1
125 B3-C-004 Matematika SMP Kelas IX Semester 2
126 B3-C-005 Matematika SMP Kelas VIII Semester 2
127 B3-C-010 Pendidikan Agama Islam SMP Kelas IX Semester 1
128 B3-C-016 IPA Biologi SMP Kelas IX Semester 1
129 B3-C-023 TIK SMP Kelas VIII Semester 1
130 B3-C-027 IPA SMP Kelas VIII Semester 2
131 B3-C-029 Seni Budaya SMP Kelas VII Semester 1
132 B3-C-030 TIK SMP Kelas IX Semester 2
SMA / SMK
133 B2-014 Matematika Sma Kelas XI Semester 1
134 B2-057 Pendidikan Jasmasi Dan OR Untuk SMK Kelas 1 Semester 1
135 B3-A-038 Teknologi CNC SMK Kelas XI Semester 1
136 B3-A-043 Bimbingan dan Konseling SMA Kelas X Semester 1
137 B3-A-044 Housekeeping SMK Perhotelan Kelas X Semester 1
138 B3-A-045 Multimedia untuk SMK Kelas XII SMK
139 B3-B-003 TIK SMA Kelas X Semester 1
140 B3-B-006 KKPI SMK Semester 1
141 B3-B-011 Seni Budaya SMA Kelas XI Semester 2
142 B3-B-029 Pengembangan Jaringan Nirkabel SMK Kelas XII Semester 1
143 B3-B-032 Kimia SMA kelas X semester
144 B3-B-039 Kimia Klinis untuk SMK Kelas IV Semester 1
145 B3-B-044 Pendidikan Kewarganegaraan Kelas X Semester 1
146 B3-B-045 Pendidikan Agama Islam (PAI) SMK Kelas X semester 1
147 B3-C-006 TIK SMA Kelas XI Semester I
148 B3-C-009 Pembuatan Busana untuk SMK Tata Busana Kelas XII
149 B3-C-013 TIK Kelas XII Semester 1
150 B3-C-021 Ekonomi SMA Kelas X semester 1
151 B3-C-028 Biologi Kelas SMA XI semester 1
152 B3-C-039 Pembejaran KKPI kelas X Semester 2
LAIN-LAIN
153 B2-010 Pengelolaan Limbah Padat Organik
154 B2-012 Mengelola Dokumen Transaksi
155 B2-020 Struktur Dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
156 B2-033 TOEIC Preparation And Tactics Paket 1
157 B2-035 Kebersihan Lingkungan (Healty Environment)
158 B2-038 Mesin Mesin Bisnis Dalam Akuntansi
159 B2-050 Menyusun Teks Pidato
160 B2-059 Teknik Kostruksi Bangunan Gedung
161 B3-A-005 Panduan Permainan Tennis Lapangan
162 B3-A-014 Bahasa Jepang tingkat Dasar untuk Pemula
163 B3-A-031 Panduan menjadi Penyiar Radio
164 B3-A-036 Pengolahan Limbah Industri Rumah Tangga Menjadi Pupuk Kompos
165 B3-A-037 Penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
166 B3-A-041 Seni Budaya indonesia
167 B3-A-046 Kiat Kiat Wirausaha
168 B3-B-007 Metode-metode statistik
169 B3-B-008 Menyelesaikan Susunan Acak Rubik 3×3
170 B3-B-010 Pembelajaran Bahasa Jerman untuk Pemula
171 B3-B-012 Tata Cara Pelaksanaan Shalat Sunat
172 B3-B-018 Penyuluhan Penyakit Jantung
173 B3-B-023 Teknik Dasar Penulisan Karya Ilmiah
174 B3-B-026 Promosi Pariwisata di Nanggroe Aceh Darussalam
175 B3-B-036 Pengomposan Sampah dengan Keranjang Takakura
176 B3-C-007 Pelatihan Origami untuk Pendamping PAUD
177 B3-C-015 Penyuluhan Kesehatan Gigi Anak
178 B3-C-017 Industri Briket Tempurung Kelapa
179 B3-C-018 Budaya Alam Minangkabau
180 B3-C-019 Manajemen Industri
181 B3-C-020 Ergonomi Studi Gerak dan Waktu
182 B3-C-022 Pemanfaatan Biogas sebagai Energi Alternatif
183 B3-C-031 Membuat Makanan Khas Aceh
184 B3-C-037 Penyuluhan Gizi
10 dari 10

Posted in judul-judul penelitian | Leave a comment

Proses Penanganan Bahan Baku Rajungan (Portunus pelagicus)

LAPORAN KERJA LAPANGAN

Proses Penanganan Bahan Baku Rajungan (Portunus pelagicus)

di PT. Tonga Tiur Putra, Kragan,

Rembang, Jawa Tengah

Disusun oleh :

Riky Saputra Muda

06/194264/PN/10631

Laporan kegiatan ini telah disahkan dan diterima sebagai kelengkapan

mata kuliah kerja lapangan (PIT 3080) yang diselenggarakan oleh

Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Tanggal Ujian: 15 November 2009

Dosen Pembimbing

Dr.Ir. Iwan Yusuf Bambang Lelana, M.Sc

NIP : 19490219 197803 1 001

Komisi Kerja Lapangan

Nomor : UGM/THP/ 01 /KL/PROP/ XI /2009

Pengesahan : 23 November 2009

Mengetahui,

Ketua Jurusan perikanan

Fakultas Pertanian

Dr.Ir. Ustadi, M.P

NIP : 19621127 198903 11 003

Komisi Kerja Lapangan

PS. THP Jurusan Perikanan

R.A. Siti Ari Budhiyanti, S.T.P., M.P

NIP : 19710310 199762 2 002

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb

Alhamdulillah, adalah satu kata kunci paling utama yang dapat langsung dan harus saya ucapkan ketika menyadari bahwa laporan kerja lapangan (KL) ini telah terselesaikan. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan ALLAH swt. Ya Allah, terima kasih banyak akhirnya saya bisa membuat Laporan KL ini. Pertamanya iseng-iseng… eh, nggak tahunya jadi sebuah laporan (hehe). Sebenarnya saya sudah mulai males kelamaan ega bikin laporan KL (haha, jangan ditiru, yah), eh tidak di sangka dan diduga di sms ama pak Iwan “ mana laporan KL-mu?. Iwan”. Daripada di pecat jadi bimbingan sama pak Iwan, dah langka manusia cerdas, asek dan seru kaya pak Iwan di Indonesia tuh seperti (alm) pak Koes (mantan rektor UGM), deh!

Sebaris kata – kata baseball yang selalu menempel di dinding kamar kosan saya and i’m always remember that, anytime, anywheretrust your hope not your fears” dan kata-kata penyemangat saya yaitu : “Deutschland ist das Ziel”, yang selalu mengingatkan saya akan cita-cita saya. Ditambah lagi akan teman-teman yang di Jakarta (SD, SMP dan SMA) yang sudah lulus dari kuliah minimal skripsi.

Banyak sekali kenangan bersama teman KL (Rini dan Sari), mulai dari pembuatan proposal yang di tujukan untuk perusahaan lobster di pangandaran hingga kita bertiga membatalakannya karena sedang musim paceklik atas anjuran dari perusahaan tersebut pula. terakhir di terima di PT. Tonga Tiur Putra serta di sambut dengan penuh keakraban. Mungkin ini PT. Tonga Tiur Putra adalah perusahaan yang terbaik untuk kami.

Ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada (mungkin ucapkan terimakasih saya tidaklah cukup apabila dibandingkan dengan orang-orang yang banyak membantu KL saya ini) :

  1. Allah S..W.T yang selalu memberikan begitu banyak sekali kenikmatanserta kemudahan dan pertolongannya yang diberikan kepada saya dan keluarga saya.
  2. Meine Eltern und Meine Schwester wohnen in Bintaro, yang selalu memberikan nasehat, support, akomodasi (hehe), spirit and much more!
  3. Dr. Ir. Iwan Yusuf B.Lelana., M.Sc. selaku dosen pembimbing KL. Danke schön atas saran dan perhatiannya, Pak. tidak hanya diajarin akademis tetapi juga hidup dan islam. Herr Iwan ist mein Professor, mein Vater und mein Bruder.
  4. Bapak Tommy, Umar, mas Daryanto, mas Arian serta seluruh karyawan PT. Tonga Tiur Putra, terima kasih atas bantuannya dan bimbingannya.
  5. Dr.Ir Ustadi M.P. selaku ketua jurusan perikanan dan kelautan, UGM. dan R.A. Siti Ari Budhiyanti, S.T.P., M.P. selaku komisi KL prodi THP-UGM

6. Monita Kusamaningrum mein Liebling yang selalu memberikan semangat kepada saya dan membuat saya bahagia dan tenang bersamanya.

7. Rini dan keluarganya, Sari dan keluarganya, Pane (STP Jakarta), Dwi, Kamal dan Wati (IPB). Mas iyo sekeluarga, mas Abe, mas Irham, Ijal, Ahya, Rezka, Arif, Hapsari, Tika, Qory, Elsa Thank u so much!

Dan terakhir saya ucapkan terima kasih buat pemabaca yang udah baca laporan KL saya ini (yang minjem juga dan ngopy, saya ucapin makasiiih, deh!). Laporan KL saya bisa dilihat di blog saya : Rickysaputramuda.wordpress.com

Diawal kalimat penutup ini, ingin sekali saya ucapkan istighfar dan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang terjadi dalam penulisan laporan ini, oleh karena itu saya berharap atas masukan dan kritik ( email: riky.loebis@Gmail.com) yang membangun guna terwujudnya perbaikan demi perbaikan dimasa yang akan datang.

Yogyakarta, November 2009

Penulis

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil perikanan dari laut yang banyak di jual pada pasar-pasar di negara-negara Asia Tenggara. Dari tahun 1990 sampai dengan 1995 dapat dilaporkan data penangkapan rajungan di wilayah Western Central Pacific (Australia, Indonesia, dan Thailand) berkisar dengan kisaran sekitar 36.700 ton sampai 48.000 ton (FAO yearbook of Fishery Statistics). Pada umumnya rajungan di jual di pasar dalam negeri (baca : lokal) dalam bentuk beku ataupun segar (frozen or fresh) dan untuk keperluan ekspor di jual dalam bentuk daging yang sudah di kalengkan (crab-flesh canning) (Anonim, 1998).

Rajungan (P. pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan ekonomis tinggi untuk keperluan ekspor ke negara-negara Amerika, Eropa, Asia dan Australia (Anonim, 2009a). Menurut Raharjo (2008), ekspor rajungan ke Amerika Serikat mengalami penurunan drastis sejak September 2008 seiring dengan menurunnya permintaan akibat krisis keuangan yang menimpa negara adidaya tersebut.

Untuk menyiasati keadaan yang seperti itu perlu adanya upaya mengalihkan pasar ekspor ke negara lain selain Amerika Serikat seperti negara Dubai (Timur Tengah), agar perusahaan industri pengolahan rajungan masih bisa melakukan produksi. Tanpa pula melupakan mengutamakan keamanan pangan (food safety) khususnya proses penanganan bahan baku.

Menurut Colleer dan Sussams (1990), salah satu persyaratan mutu yang menjadi pertimbangan dan ikut menentukan suatu produk diterima atau di tolak konsumen adalah keamanan pangan (food safety). Pengawasan mutu proses penanganan bahan baku perikanan khususnya rajungan, waktu demi waktu harus di tingkatkan agar sesuai dengan persyaratan internasional sehingga dengan mudah dapat di terima oleh konsumen internasional.

PT. Tonga Tiur Putra merupakan perusahaan yang bergerak dalam bisnis pengalengan rajungan. Perusahaan ini menerapkan sistem rantai dingin dalam melakukan proses penanganan bahan baku rajungan. Hal ini di maksudkan untuk mengendalikan mutu bahan baku rajungan agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang berarti.

Oleh karena itu dengan melaksanakan kerja lapangan di PT. Tonga Tiur Putra, diharapkan penulis mengetahui dan menambah pengalaman serta pengetahuan tentang proses penanganan bahan baku rajungan yang baik sehingga produk insya ALLAH dapat diterima oleh konsumen.

B. Tujuan

  1. Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam proses penanganan bahan baku rajungan di PT. Tonga Tiur Putra, Kec. Kragan, Kab. Rembang, Jawa Tengah.
  2. Mengetahui dan memahami proses penanganan bahan baku rajungan di PT. Tonga Tiur Putra, Kec. Kragan, Kab. Rembang, Jawa Tengah
  3. Mengetahui masalah-masalah yang timbul selama proses penanganan bahan baku rajungan serta cara untuk mengatasinya.

C. Manfaat

Melalui pelaksanaan kerja lapangan ini diharapkan mahasiswa mampu meningkatkan pengetahuannya serta pengalaman kerja tentang proses penanganan bahan baku rajungan beserta hambatan-hambatannya dan cara mengatasinya, sehingga hal tersebut dapat dijadikan sebuah dasar pijakan untuk melangkah demi menyongsong masa depan yang lebih baik.

D. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kerja lapangan ini akan dilaksanakan selama 30 hari, di mulai pada tanggal 15 Juli 2009 sampai dengan 15 Agustus 2009 di PT. Tonga Tiur Putra, Kec. Kragan, Kab. Rembang, Jawa Tengah.

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Rajungan (Portunus pelagicus)

Gambar 1. Rajungan (Portunus pelagicus)

Gambar 1. Rajungan (Portunus pelagicus)

Sumber : http://www.fao.org/figis/species/images/Portunus/por_2629_1.gif

Klasifikasi lengkap dari Rajungan (Portunus pelagicus), menurut Suwignyo cit Mirzads (2009), adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Filum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Sub Kelas : Malacostraca

Ordo : Decapoda

Famili : Portunidae

Genus : Portunus

Spesies : Portunus pelagicus



Gambar 2. Rajungan hasil tangkapan

Sumber : http://wb5.itrademarket.com/pdimage/57/989257_rajungan_resize.jpg

P. pelagicus (Rajungan) adalah kepiting yang berenang dan mempunyai sepasang kaki renang yang dimodifikasi untuk mendayung. Karapasnya bertekstur kasar dan lebar yang mempunyai proyeksi tertinggi di setiap sudutnya. Capitnya panjang dan ramping. Rajungan merupakan binatang aktif, namun ketika sedang tidak aktif atau dalam keadaan tidak melakukan pergerakan, rajungan akan diam di dasar perairan sampai kedalaman 35 meter dan hidup membenamkan diri dalam pasir di daerah pantai berlumpur, hutan bakau, dan batu karang. Akan tetapi sekali-kali rajungan juga dapat terlihat berenang dekat permukaan (Anonim cit Mirzads, 2009).

Di perairan Indonesia dijumpai ada 1.400 jenis. Jenis-jenis yang umum dijumpai di perairan Teluk Jakarta adalah rajungan (P. pelagicus) dan kepiting (Scylla serrata). Di antaranya yang berukuran cukup besar dan bisa dimakan adalah dari jenis Charybdis feriatus dan Thalamitta prymna (Anonim, 2004).

Rajungan yang bernama latin P. pelagicus, merupakan jenis kepiting yang sangat popular dimanfaatkan sebagai sumber pangan dengan harga yang cukup mahal. Rajungan merupakan kepiting yang memiliki habitat alami hanya di laut (Anonim, 2007).

Daging kepiting dan rajungan mempunyai nilai gizi tinggi. Kandungan protein rajungan lebih tinggi daripada kepiting. Kandugan karbohidrat, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin A, dan vitamin B1. Rata-rata per 100 gram daging kepiting dan rajungan berturut-turut sebesar 14,1 gram, 210 mg, 1,1 mg, 200 SI, dan 0,05 mg/100 g (Anonim, 2007).

P. pelagicus merupakan jenis yang mempunyai nilai ekspor tinggi dalam bentuk rajungan beku atau di kemasan dalam kaleng (Anonim, 2004).

  1. Pengelompokan Mutu Daging Rajungan

Rajungan yang masih segar memiliki penampakan yang bersih, tidak beraroma busuk, dagingnya putih mengandung lemak berwarna kuning, dan bebas dari bahan pengawet. Daging rajungan yang mulai membusuk terlihat dari warna kulitnya yang pucat, terbuka dan merenggang, daging pun mengering, dan tak terdapat lagi cairan dalam kulit, warna daging berubah kehitam-hitaman dan berbau busuk (Anonim, 2007)

Menurut BBPMHP cit Mirzads (2009), daging rajungan yang diperoleh biasanya digolongkan menjadi tiga tingkatan mutu yaitu:

a. Mutu 1 (daging super/jumbo), yaitu daging badan yang terletak di bagian bawah (berhubungan dengan kaki renang) berbentuk gumpalan besar berwarna putih.

b. Mutu 2 (daging reguler), yaitu daging badan yang berupa serpihan-serpihan, terletak disekat-sekat rongga badan berwarna putih.

c. Mutu 3 (daging merah/clawmeat), yaitu daging rajungan yang berada di kaki dan capit, berwarna putih kemerahan.

Gambar 3. Daging rajungan yang sudah dikupas

Sumber : http://gambar.iklanmax.com/20081219/214360/daging-rajungan.jpg

Menurut Philips Seafood cit Mirzads, 2009 daging rajungan dapat digolongkan menjadi lima jenis daging yaitu:

a. Jumbo lump atau kolosal (daging putih) yang merupakan jaringan terbesar yang berhubungan dengan kaki renang.

b. Backfin (daging putih) yang merupakan jumbo kecil dan pecahan dari daging jumbo.

c. Special (daging putih) yang merupakan daging yang berada disekitar badan yang berupa serpihan-serpihan.

d. Clawmeat (daging merah) yang merupakan daging dari bagian kaki sampai capit dari rajungan.

e. Claw Finger (daging merah) yang merupakan bagian dari capit rajungan bersama dengan bagian shell yang dapat digerakkan.

  1. Sanitasi dan Higiene

Sanitasi menggunakan zat kimia dan atau metode fisika bertujuan untuk menghilangkan sebagian besar mikroba yang tertinggal pada permukaan alat dan mesin pengolah makanan. Sanitas pangan ditujukan untuk mencapai kebersihan yang prima dalam tempat produksi, persiapan penyimpanan, dan penyajian makanan dan air sanitasi pangan merupakan aspek esensial dalam setiap mempersiapkan makanan, khususnya dalam cara penanganan pangan (Winarno 2002)

Program sanitasi dijalankan sama sekali bukan untuk mengatasi masalah kotornya lingkungan atau kotornya pemprosesan bahan, tetapi untuk menghilangkan kontaminan dari makanan dan mesin pengolahan makanan serta mencegah terjadinya kontaminasi silang atau kontaminasi kembali (Winarno 2002).

Sanitasi merupakan bagian penting dalam proses pengolahan pangan yang harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut (Purnawijayanti 2001).

BAHAN BAKU DAGING RAJUNGAN

  1. A. Asal dan Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku daging rajungan di PT. Tonga Tiur Putra berasal miniplant dari pulau Jawa dan luar Jawa, pulau Jawa dapat dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu sebelah barat dan timur.

  1. Sebelah barat yaitu berasal dari Rembang, Jepara, Semarang. Dikarenakan ada plant PT. Tonga Tiur Putra di Cirebon jadi bahan baku sebelah barat di batasi hingga daerah Jawa Tengah.
  2. Sebelah timur yaitu berasal dari Banjarsari, Madura.

Dari luar pulau Jawa berasal dari Makassar (Sulawesi)

Bahan baku yang diterima di PT. Tonga Tiur Putra berupa daging rajungan yang telah direbus dan dikemas dalam toples atau plastik serta telah dipisahkan menurut jenis dagingnnya ( jumbo, backfin, flower, special dan claw meat).

Wadah atau tempat yang digunakan untuk mengangkut daging rajungan yang berasal dari pulau Jawa pasti menggunakan toples plastik yang disusun oleh miniplant. Sedangkan wadah yang digunakan oleh miniplant dari luar pulau Jawa menggunakan plastik yang dimaksudkan agar mempermudah es kontak langsung dan merata mengenai ke semua daging rajungan yang di dalam plastik tersebut. Hal ini dikarenakan untuk menjaga mutu daging rajungan agar tetap segar di karenakan lamanya waktu perjalanan daging dari miniplant yang di Sulawesi ke PT. Tonga Tiur Putra.

Ketersediaan bahan baku daging rajungan di PT. Tonga Tiur Putra sekitar 5 Kwintal sampai dengan 1 Ton. Permintaan akan bahan baku rajungan tersebut didasarkan pada permintaan ekspor dari Amerika Serikat. Faktor alam juga ikut serta dalam sulitnya memperoleh rajungan di alam bebas, karena keterbatasan teknologi dan ilmu pengetahuan sehingga sampai sekarang rajungan masih belum dapat dibudidayakan oleh manusia.

B. Spesifikasi dan Seleksi Bahan Baku

Spesifikasi atau pengelompokan daging rajungan di PT. Tonga Tiur Putra dapat dibagi menjadi 5 bagian utama daging yaitu :

1. Jumbo

Grade daging rajungan berwarna putih harganya paling mahal.

Gambar 4. Daging rajungan grade Jumbo (Ricky_THPUGM)

Gambar 4. Daging rajungan grade Jumbo

Sumber : dokumentasi pribadi

Gambar 5. Posisi daging Jumbo di dalam tubuh rajungan (Ricky_THPUGM)

Gambar 5. Posisi daging Jumbo di dalam tubuh rajungan

(kiri tampak atas, kanan tampak bawah)

Sumber : www.phillipsfoods.com dan www.onecrab.com

Grade Daging Jumbo dapat di bagi menjadi 3 bagian yatiu :

Tabel 1. Grade daging Jumbo

No.

Grade Ukuran (gram)
1. Collossal ≥ 10
2. Jumbo 4,5 – 10
3. Undersize

3.5 – 4.5

2. Backfin

Apabila daging grade Jumbo pecah atau rusak (Broken Jumbo) masuk ke dalam grade Backfin.

Gambar 6. Daging rajungan grade Backfin (Ricky_THPUGM)

Gambar 6. Daging rajungan grade Backfin

Sumber : www.phillipsfoods.com

Gambar 7. Posisi daging backfin di dalam tubuh rajungan (Ricky_THPUGM)

Gambar 7. Posisi daging backfin di dalam tubuh rajungan

(kiri tampak atas, kanan tampak bawah)

Sumber : dokumentasi pribadi dan www.phillipsfoods.com

Garde daging backfin dibagi menjadi 2 yaitu :

Tabel 2. Grade daging rajungan backfin

No Grade Ukuran (gram)
1. Backfin up ≥ 2
2. Backfin down

3. Flower

Daging Flower maksimal 2 gram, apabila pecah atau rusak masuk ke dalam grade backfin.

Gambar 8. Daging rajungan grade Flower (Ricky_THPUGM)

Gambar 8. Daging rajungan grade Flower

Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 9. Posisi daging Flower di dalam tubuh rajungan (Ricky_THPUGM)

Gambar 9. Posisi daging Flower di dalam tubuh rajungan

Sumber : Dokumentasi pribadi

4. Special

Daging special bisa juga dari pecahan grade Flower dan Backfin.

Daging rajungan grade Special

Gambar 10. Daging rajungan grade Special (Ricky_THPUGM)

Gambar 10. Daging rajungan grade Special

Sumber : www.phillipsfoods.com

Gambar 11. Posisi daging special di dalam tubuh rajungan (Ricky_THPUGM)

Gambar 11. Posisi daging special di dalam tubuh rajungan

(kiri tampak atas, kanan tampak bawah)

Sumber : www.phillipsfoods.com dan www.onecrab.com

5. Claw meat

Claw meat merupakan daging berwarna merah pada rajungan yang notabenenya berbeda dengan grade daging rajungan yang lain, dimana terletak pada alat gerak rajungan itu sendiri.

Gambar 12. Daging rajungan grade Claw meat (Ricky_UGM)

Gambar 12. Daging rajungan grade Claw meat

Sumber : Dokumentasi pribadi

Gambar 13. Posisi daging Claw meat di dalam tubuh rajungan (Ricky_THPUGM)

Gambar 13. Posisi daging Claw meat di dalam tubuh rajungan

(kiri tampak atas, kanan tampak bawah)

Sumber : www.phillipsfoods.com dan www.onecrab.com

Daging cocktail termasuk ke dalam grade Claw meat. Daging cocktail terletak di kedua capit rajungan, daging cocktail capit bagian bawahnya harus utuh jangan sampai ada yang copot, karena kalau copot di masukkan ke kategori carpus (tanpa capit) untuk bagian atas bagian lengan bawah capit rajungan dinamakan merus.

Gambar 14. Daging rajungan merus (kiri) dan carpus (kanan) (Ricky_THPUGM)

Gambar 14. Daging rajungan merus (kiri) dan carpus (kanan)

Sumber : dokumentasi pribadi

Gambar 15. Posisi daging carpus (lengan bagian atas tanpa capit), cocktail (dengan capit) dan merus (lengan bagian bawah) di dalam tubuh rajungan.(Ricky_THPUGM)

Gambar 15. Posisi daging carpus (lengan bagian atas tanpa capit), cocktail (dengan capit) dan merus (lengan bagian bawah) di dalam tubuh rajungan.

Sumber : www.onecrab.com

Grade Claw meat di bagi 2 bagian utama yaitu :

Tabel 3. Grade daging rajungan claw meat

No. kategori keterangan
1. Claw meat Daging kaki gerak dan kaki renang
2. Cocktail Daging kedua capit rajunganCarpus (lengan atas tanpa capit), Cocktail (dengan capit), Merus (lengan bawah capit).

Bahan baku yang diteima berupa daging rajungan yang telah di kukus dan dikemas dalam toples atau pun plastik serta telah di pisahkan menurut jenis dagingnya (Jumbo, Backfin, Flower, Special, dan Claw Meat). Mutu awal bahan baku sangat menentukan mutu produk akhir yang dihasilkan, dikarenakan pengolahan bersifat mempertahankan mutu bahan baku. Oleh sebab itu, pada saat penerimaan bahan baku dilakukan pengecekan mutu secara organoleptik, mikrobiologi serta keberadaan chloramphenicol.

PROSES PENANGANAN BAHAN BAKU DAGING RAJUNGAN

Proses pananganan bahan baku rajungan meliputi :

  1. Penanganan Bahan Baku (Rajungan) Setelah ditangkap oleh Nelayan
  2. Penanganan Bahan Baku di Miniplant
  3. Penanganan Bahan Baku di PT. Tonga Tiur Putra (plant)

Adapun penjelasannya dapat dilihat di bawah ini :

A. Penanganan Bahan Baku (Rajungan) Setelah di Tangkap oleh Nelayan

Penanganan rajungan setelah di tangkap oleh nelayan dipisahkan dari hasil tangkapan yang lain (ikan-ikan laut), dikarenakan harga rajungan cukup tinggi. Rajungan dibiarkan mati dengan sendirinya disebabkan rajungan hidup hanya satu alam saja.

Terkadang terdapat nelayan “nakal” setelah di tangkap dari laut langsung di rebus di atas kapal di tengah laut bukan di kukus. Hal ini menyebabkan daging rajungan bertambah beratnya karena mengandung air yang dimana menguntungkan nelayan tersebut apabila akan di jual kepada plant-plant, tetapi dampaknaya daging rajungan tersebut mejadi kualitas yang jelek karena berair serta bila didinginkan rendemennya berkurang.

Untuk mengetahui daging yang di rebus atau di kukus ada sedikit tipsnya dari PT. Tonga Tiur Putra yaitu melihat daging jumbo rajungan apakah berair atau tidak, bila berair maka daging rajungan tersebut dimasak dengan di rebus dan pastinya kita harus tahu treatment apa yang dilakukan oleh mini plant.

B. Penanganan Bahan Baku di Miniplant

Penanganan rajungan setelah ditangkap oleh nelayan langsung di jual kepada miniplant tapi ada juga yang dari nelayan ke pengumpul lalu ke miniplant. Rajungan yang di jual kepada miniplant pada umumnya dagingnya dalam keadaan segar (baik sudah mati ataupun masih keadaan setengah hidup). Jarak waktu yang baik agar daging rajungan tekstrunya tidak hancur dan baunya seperti khas bau rajungan adalah maksimal sekitar 1 jam dari rajungan mati dengan dikukus.

Rajungan setelah dikukus di dalam panci yang besar dengan maksimal berat rajungan yang di kukus dalam 1 panci besar tersebut sekitar 50 Kg dengan waktu masak sekitar 25-45 menit tergantung beratnya menggunakan bahan bakar gas. Berat rajungan 20 Kg dikukus sekitar 25 menit dan 40 Kg dikukus selama 45 menit kemudian akan matang, Terkadang menggunakan bahan bakar minyak tanah daging rajungan menjadi sedikit berbau minyak tanah dan waktu pengkukusan menjadi lebih lama dibandingkan dengan menggunakan bahan bakar gas.

Setelah ditunggu sekitar 25 menit hingga 45 menit dari rajungan dimasak maka rajungan akan matang lalu ditirskan, adapun tips dari PT. Tonga Tiur Putra untuk mengetahui rajungann matang dapat dilihat dari bentuk fisiknya yaitu :

  1. Bentuk fisik rajungan berwarna merah tetapi ini bukan jaminan bahwa rajungan tersebut matang.
  2. Dilihat kotoran rajungan tersbut menggumpal berarti sudah matang.
  3. Cara terakhir dengan mencabut daging di salah satu kakinya, bila daging di persendiaan ikut tercabut maka dapat dikatakan daging rqajungan sudah matang.

Setelah rajungan tersebut matang lalu di tiriskan dan di angginkan selama 1- 2 jam yang bertujuan agar menurunkan suhu rajungan tersebut serta mempermudah pekerja untuk mengupas dagingnya. setelah itu cangkang rajungan dikupas dengan dipisahkan dengan bagian badan rajungan tersebut serta semua kaki termasuk capitnya. Namun jangan sampai kaki capitnya ada yang terputus, bila terputus nilai ekonominya akan rendah.

Sehabis rajungan di pisah-pisahkan bagian dari tubuhnya lalu di kelompokkan sendiri-sendiri bagian badan dengan bagian badan, kaki dengan kaki serta capit dengan capitnya. Hal tersebut untuk mempermudah pengambilan daging rajungan. Pemisahan badan, kaki dan capit dilakukan di wadah plastik lebar denagn di bawahnya di beri es, yang bertujuan untuk menjaga agar daging tersebut tetap dalam kondisi rantai dingin (cold chain) dan mempertahankan mutu daging rajungan tersebut. Penggantian es dilakukan manakala es tersebut sudah mulai agak mencair.

Setelah badan rajungan di pisahkan dari kakinya lalau bdan rajungan di pecah menjadi 2 bagian yang di maksudkan untuk mempermudah pengambilan daging rajungan serta tidak merusak daging jumbo dikarenakan harganya yang tinggi. Selain di belah menjadi 2 bagian cangkang atas di buang dan insangnya rajungan juga di bersihkan.

Setelah itu dikupas bagian dadannya lalu dicongkel dengan hati-hati untuk mengambil daging jumbo jangan sampai hancur atau rusak karena akan mejadi daging grade backfin yang dimana harganya rendah, Lalu di bersihkan apabila terdapat kotoran di daging jumbo tersebut. Untuk mengambil daging flower yang terletak di persendian kaki geraknya maka di robek persendian kaki geraknya lalu di ambil dengan hati-hati, dinamakan flower dikarenakan daginya 3 buah mrip seperti flower atau bunga. Di bagian badan masih tersisa daging-daging rajungan di ambil itulah yang dinamankan daging special.

Setelah selesai pada bagian badan rajungan dilanjutkan pada pengambilan daging merah rajungan (Claw Meat) di bagian kaki dan capit rajungan. Pengambilan daging merah tersebut dengan cara di pukul-pukul dengan pisau sampai pecah lalu di ambil dagingnya. Khusus untuk bagian capit atas apabila terdapat pesanan cocktail maka harus hati-hati mengupasnya di karenakan dagingnya harus ikut juga capit yang bagian bawahnya pula. Setelah daging di kupas lalu dimasukkan dan disusun dengan rapi ke dalam toples-toples sesuai dengan jenis dagingya setelah penuh lalu di tutup kembali. Keseluruhan proses pengupasan tersebut yang dimana di bawahnya harus dilakukan dengan es yang bertujuan untuk menjaga agar tetap rantai dingin (cold chain) dan mempertahankan mutu daging rajungan tersebut agar tetap segar.

Setelah toples tersebut di tutup maka dimasukkan kedalam drum plastik ataupun box sterefoam yang dimana didalam drum plastik ataupun box sterefoam tersebut sudah di beri es yang cukup untuk perjalanan ke plant yang salah satunya PT. Tonga Tiur Putra, yang berguna untuk menjaga agar daging rajungan tetap dalam rantai dingin (cold chain).

C. Penanganan Bahan Baku di PT. Tonga Tiur Putra (plant)

Bahan baku yang diteima berupa daging rajungan yang telah di kukus dan dikemas dalam toples atau pun plastik serta telah di pisahkan menurut jenis daginnya (Jumbo, Backfin, Flower, Special, dan Claw Meat). Mutu awal bahan baku sangat menentukan mutu produk akhir yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan pengolahan bersifat mempertahankan mutu bahan baku. Oleh sebab itu, pada saat penerimaan bahan baku dilakukan pengecekan mutu secara organoleptik, mikrobiologi serta keberadaan chloramphenicol.

Penerimaan bahan baku merupakan tahapan awal untuk memulai proses produksi, sehingga diperlukan penanganan bahan baku yang baik. Adapun Tahapan ynag dilakukan pada proses penerimaan bahan baku meliputi : pembongkaran, penimbangan dan pengecekan mutu bahan baku. Pada proses pembongkaran bahan baku dari miniplant dilakukan maksimal penerimaan sekitar jam 10 pagi dengan cara segera, saniter serta terlindungi dari sinar matahari langsung dengan suhu sentral daging pada saat penerimaan maksimal 5 0C. Pengukuran suhu daging yang dilakukan pada wilyah supllier dan jenis daging. Suhu yang telah di ukur dicatat di dalam form khusus yang dimana contoh formnya dapat dilihat dalam halaman lampiran 7.

Penimbangan dilakukan segera mungkin setelah bahan baku di bongkar dari kendaraan pengangktu. Penimbangan bertujuan untuk mengetahui kesesuaian berat bahan baku daging rajungan dengan yang tertera dalam surat jalan dari supplier atau miniplant atau sebagai media pengecekan. Teknik penimbangan tersebut dilakukan dengan menimbang daging yang dikemas dengan toples terlebih dahulu. Setelah daging dalam toples tidak ada lagi, selanjutnya dilakukan penimbangan daging rajungan yang di dalam plastik.

Pengecekan awal terhadap mutu bahan baku daging rajungan setelah dilakukan penimbangan. Pengecekan ini meliputi pengujian mutu bahan baku secara organoleptik dan mikrobiologi. Pengujian organoleptik yang dilakukan parameter warna, tekstur, bau dan penampakan daging. Kondisi rajungan yang baik di tandai dengan warna yang cemerlang, tekstur kompak tidak mudah pecah dan kompak, bau khas rajungan segar serta penampakan daging yang utuh.

Pengujian secara mikrobiologi dilakukan utnuk bahan baku yang berasal supllier atau miniplant baru. Bila hasil pengujian mikrobiologi telah memenuhi standar maka pengujian selanjutnya dilakukan paling sedikit 2 kali dalam sebulan. Daging rajungan yang telah memenuhi standar mutu perusahaan maka dengan segara langsung dilanjutkan ke proses selanjutnya. Sedangkan apabila terdapat daging yang tidak memenuhi standar dipisahkan agar tidak tercampur dengan daging yang mutunya baik. Proses penimbangan dan pengecekan organoleptik dilakukan di ruang tertutup dengan suhu ruang 25 0C.

SANITASI dan HYGIENE

A. Sanitasi dan Higiene Bahan Baku

Sanitasi merupakan bagian penting dalam proses pengolahan pangan yang harus dilaksanakan dengan baik. Sanitasi dapat didefinisikan sebagai usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut (Purnawijayanti, 2001).

Sanitaiser yang gunakan untuk bahan baku daging rajungan yaitu bahan non kimiawi seperti menggunakan uap panas (pengukusan) selama 30 menit. Purnawijayanti (2001) menyatakan penggunaan uap air panas dengan tujuan sanitasi dapat dilakukan dengan menggunakan uap air mengalir bersuhu 76,7 0C selama 15 menit, atau 93,3 0C selama 5 menit.

B. Sanitasi Alat-Alat dan Lingkungan

Sanitasi alat-alat dan lingkungan di PT. Tonga Tiur Putra yang digunakan untuk penanganan bahan baku daging rajungan yaitu :

  1. Menggunakan Clorine 100 ppm untuk peralatan sebelum dan sesudah proses.
  2. Menggunakan Clorine 100 ppm untuk lantai ruang proses.
  3. Menggunakan Clorine 100 ppm untuk menghilangakn bau sampah blong pada sampah kupas.
  4. Menggunakan Clorine 50 ppm untuk sanitasi alat-alat produksi saat proses.
  5. Menggunakan Iodine Solution 25 ppm untuk sanitasi alat-alat produksi pada saat proses.
  6. Menggunakan sterbac (amonium) untuk sanitasi alat-alat produksi.
  7. Menggunakan Lift II (alkaline detergent) digunakan sebagai pengganti detergent untuk mencuci peralatan, dengan cara foaming manual maupun spraying cleanig.
  8. Memasang insect killer sebanyak 2 buah yang terletak didepan ruang penerimaan bahan baku dan sebelum pintu masuk pabrik, untuk keterangan lebih lanjutnya dapat dilihat di halaman lampiran 10, 14 dan 15
  9. Memasang trap rat sebanyak 5 buah yang masing-masing 2 buah terletak di depan dan di belakang pabrik serta 1 buah diletakan di selokan dekat toilet, untuk keterngan lebih lanjutnya dapat dilihat di halaman lampiran 10 dan 16.

10. Memasang flies stop sebanyak 3 buah yang terletak di receiving area, unifrom room dan pintu keluar ruang pasteurisasi, untuk keterangan lebih lanjutnya dapat dilihat di halaman lampiran 10 dan 14.

11. PT. Tonga Tiur Putra juga menggunakan jasa pest control yaitu dari proton dengan pengontrolan 1 bulan sebnayak 2 kali dan fogging pengontrolan 1 bulan sebanyak 1 kali.

Program sanitasi dijalankan sama sekali bukan untuk mengatasi masalah kotornya lingkungan atau kotornya pemprosesan bahan, tetapi untuk menghilangkan kontaminan dari makanan dan mesin pengolahan makanan serta mencegah terjadinya kontaminasi silang atau kontaminasi kembali (Winarno 2002).

C. Kebersihan dan Kesehatan Karyawan

PT. Tonga Tiur Putra menerapkan kebersihan karywan yang sesuai dengan GMP yang bertujuan untuk mempertahankan mutu dan keamanan produk pangan (food safety) khususnya pasteurized crabmeat. Adapun prosedur untuk menjaga kebersihan karyawan ynag kontak langsung dengan produk pangan sebelum masuk pabrik yaitu :

  1. Mengganti alas kaki dengan sepatu khusus dari perusahaan, melepas aksesoris dan dismpan di tas. Tas tersebut disimpan di tempat yang aman jangan membawa tas masuk ke dalam pabrik.
  2. Membersihkan sepatu apabila kotor dengan sikat dan detergent hingga hilang kotorannya, lalu dibilas dengan air mengalir.
  3. Cuci muka dengan air yang mengalir, cuci tangan dengan sabun pembersih, kenakan kerudung atau topi dari perusahaan (karyawan pria).
  4. Cuci tangan dengan air yang sudah di campur dengan clorine 50 ppm di dalam ember.
  5. Pengecekan kuku, rambut (karyawan pria), kerudung, topi, aksesoris, sepatu, perhiasaan. Tidak boleh menggunak make up dan parfum apabila ingin masuk ke dalam pabrik.
  6. Sebelum masuk ke ruang proses, mengenakan baju seragam sesuai dengan jabatannya ataupun pekerjaannya. Dilarang mengenakan baju seragam dari luar pabrik.
  7. Para karyawan atau pun orang berkepentingan ke dalam ruang proses, harus melewati foot bath yang dimana clorine 200 ppm di campur dengan air. Perbandingan air dengan clorine yaitu 300 : l.
  8. Mengambil rubber glove lalu mengenakannya.
  9. Mencuci tangan dengan air hangat lalu di keringakan.

10. Selama bekerja dilarang merokok dan makan serta kurangi berbicara.

11. Dilarang meludah di ruang proses.

12. Apabila sakit atau ada luka di tangan tidak boleh untuk bekerja.

Terkadang ada pekerja yang ”nakal” yang menyembunyikan sakitnya seperti batuk, pilek hal tersebut dikarenakan akan kebutuhan ekonominya dan kurangnya kesadaran akan untuk ikut melaksanakan prosedur GMP dan kurangnya pengawasan (control) kebersihan karyawan bagian sanitasi sendiri.

PEMBAHASAN

PT. Tonga Tiur Putra yang berlokasi di Jalan Raya Sumur Tawang Km 2 Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Berada diatas lahan seluas 1200 m2. Lokasi merupakan faktor utama property, oleh sebab itu PT. Tonga Tiur Putra mendidirkan plant di dekat jalan Pantura (Semarang – Surabaya) yang dimana mempermudah akses untuk melakukan ekspor, penerimaaan bahan baku dan bahan tambahan (air dan es). Salah satu contoh mempermudah truk-truk besar seperti kontainer melakukan pengangkutan ekspor ke pelabuhan tanjung perak di Semarang. hal lainnya yaitu mudahnya supplier bahan baku Rembang, Jepara, Semarang, Banjarsari dan Madura untuk mengakses ke PT. Tonga Tiur Putra. Serta tersedianya tenaga kerja (khususnya perempuan) di daerah dekat dengan plant yang berguna untuk membantu perekonomian masyarakat daerah sekitar plant .

Bapak Silitonga merupakan pendiri perusahaan PT. Tonga Tiur Putra yang keturunan dari Sumatera Utara, bisa dilihat dari marga Silitonganya. Namun sekarang perusahaannya di pimpin oleh anak-anak bapak Silitonga. PT. Tonga Tiur Putra sendiri menurut staf perusahaan mempunyai arti yaitu terus terang yang berasal dari bahasa batak.

PT. Tonga Tiur Putra merupakan perusahaan yang bergerak dalam bisnis pengalengan rajungan (pasteurized crabmeat), teri nasi (ikan kering), frozen (soft shell, fillet ikan-ikan laut) dan crab cake. Pertama kali perusahaan PT. Tonga Tiur Putra didirikan di Pandangan Kabupaten Rembang yang bergerak dalam bisnis teri nasi untuk di ekspor ke Jepang. Sejalan dengan tantangan zaman, PT. Tonga Tiur Putra semakin maju yang di buktikan dengan perusahaan sekarang ini mempunyai 5 plant yaitu di daerah Medan, Lampung, Jakarta (office), Cirebon, dan Pandangan.

Plant Pandangan tidak hanya memproduksi teri nasi saja, tetapi juga meluas ke dalam bidang perikanan yang lain seperti teri nasi (ikan kering), crabmeat, crab cake dan frozen. Namun dikarenakan krisis global sekarang ini yang melanda berakibat sedikitnya permintaan akan produk-produk preikanan dampak ini tidak hanya melanda PT. Tonga Tiur Putra saja melainkan perusahaan yang bergerak dalam bisnis ekspor perikanan.

Akibat yang disebabkan “sepinya” permintaan akan produk perikanan dari negara buyer berdampak banyak perusahaan yang “gulung tikar”, namun PT. Tonga Tiur Putra tidak mengalami hal tersebut hal ini di karenakan trust negara Amerika Serikat (buyer) terhadap produk yang di produksi di PT. Tonga Tiur Putra. Dampak yang dialami PT. Tonga Tiur Putra sendiri terhadap krisis global tersebut yaitu sedikitnya permintaan ekspor akan teri nasi dan crab cake sehingga cost yang dikeluarkan lebih tinggi, menyebabkan penutupan sementara divisi teri nasi (ikan kering) dan crab cake.

Asal bahan baku di PT. Tonga Tiur Putra berasal dari Rembang, Jepara, Semarang, Banjarsar, Madura serta luar pulau Jawa (Makassar). Penerimaan yang dilakukan PT. Tonga Tiur Putra sekitar pukul 8 pagi dengan batas maksimal jam 10 pagi, pengecualian apabila truk pembawa bahan baku terjadi masalah selama diperjalanan. Penerimaan bahan baku dilakukan dengan segara, hati-hati (khusus untuk daging grade Jumbo lebih hati-hati lagi), bersih dan cermat dengan suhu daging maksimal 5 0C. Pengujian organoleptik dan mikrobiologi juga dilakukan pada tahap penerimaan bahan baku.

Bahan baku yang di terima oleh PT. Tonga Tiur Putra menurut wanwancra dengan salah satu pekerja menyebutkan daging bahan baku yang “jelek”, jelek di sini kurang kompak mudah pecah, warnanya kurang cemerlang berasal pada umumnya dari daerah Banjar Sari dan luar pulau Jawa. Daging dari luar pulau Jawa disebabkan jauhnya jarak serta waktu tempuhnya.

Pada kondisi krisis seperti sekarang ini PT. Tonga Tiur Putra memproduksi crabmeat 2 hari 1 kali dikarenakan sedikitnya permintaan serta untuk mengurangi cost produksi. Jadi apabila plant tidak lagi produksi, proses penerimaan bahan baku tetap dilakukan hanya untuk bahan baku di masukkan ke dalam cold storage dengan suhu minus 5 0C sampai 0 0C.

Terkadang terdapat bahan baku yang mutunya buruk (setengah basi setengah segar), atau dimasak dengan direbus tau terkadang miniplant nakal ‘menyelipkan” daging kepiting. Namun hal tersebut bisa di diketahui oleh QC (Quality Control), dengan mereject daging-daging tersebut. Hasil wawancara dengan QC menyebutkan tindakan seperti itu tidak membuatnya kapok atau jera, sebagai gambaran apabila kita tandai toples yang buruk tadi kita reject. Keesokan harinya miniplant mengirimkan kembali daging yang buruk kemarin dan semakin buruk karena sudah bertambah 1 hari tanpa diproses.

Oleh sebab itu apabila di temukan bahan baku yang buruk atau daging kepiting di pisahkan dari daging yang kualitasnya baik, daging jelek tersebut tidak di campur dengan daging yang bagus dalam 1 kaleng serta daging jelek atau kepiting tersebut di hargai murah sekali perKgnya. Hal demikan bertujuan agar para miniplant selektif apabila mengirimkan bahan baku ke PT. Tonga Tiur Putra.

Menurut BSN (2002) tahapan cara produksi yang baik pada rajungan kaleng pada bagian penerimaan bahan baku, pemasakan, dan pengambilan daging sebagi berikut :

  1. Penerimaan bahan baku

Bahan baku disertai keterangan yang menyatakan bahan baku tidak berasal dari perairan yang tidak tercemar, kemudian unti pengolahan di uji secara organoleptik untuk mengetahui mutunya. Bahan baku tersebut sebaiknya ditangani secara hati-hati, cepat, cermat, dengan suhu dingin maksimu 5 0C dan selanjutnya dilakukan penimbangan untuk mengetahui beratnya.

  1. Pemasakan

Rajungan utuh segar dimasak menggunakan alat pemasak (pengukusan) pada suhu 80-90 0C selam 20-40 menit yang disesuaikan dengan ukuran bahan baku.

  1. Pengambilan daging

Rajungan yang telah direbus kemudian dilakukan pengambilan daging secara hati-hati dengan cara memecah cangkang rajungan dan mengambil dagingnya dengan menggunakan alat pengambil daging. Pada saat pengambilan daging, kebersihan harus tetap dijaga dengan suhu dingin maksimum 5 OC

Dengan melihat rujukan dari BSN (Badan Standar Nasional) dapat dipastikan bahwa penanganan bahan baku daging rajungan di PT. Tonga Tiur Putra sesuai dengan standar BSN dengan no SNI 01-6929.3-2002.

Sanitasi yang diterapkan di PT. Tonga Tiur Putra setiap harinya menggunakan 1 jenis sanitaiser, secara bergilir bergantian di tiap harinya (khusus untuk pencucian alat-alat). Pada penggunaan sanitaiser yang menggunakan Clorine 50 – 100 ppm khusus untuk foot bath adalah 200 ppm dimana lama waktu pembersihan alat-alat berkisar ± 1-2 menit dengan suhu ruangan berkisar ± 25 0 C. Hal tersebut sesuai dengan Purnawijayanti (2001) konsentrasi yang diperlukan agar Clorine efektif untuk membunuh mikroorganisme adalah 50 – 100 ppm (part per million), dengan waktu kontak sekitar 1 menit pada suhu minum 24 0 C.

Pada penggunaan sanitaiser yang menggunakan Iodin di PT. Tonga Tiur Putra menggunakan kadar 25 ppm dengan suhu ruangan berkisar ± 25 0 C, dimana lama waktu pembersihan alat-alat berkisar ± 1-2 menit. Hal tersebut sesuai dengan Purnawijayanti (2001), aplikasi yodofor (Iodin) untuk desinfeksi adalah pada konsentrasi 12 – 25 ppm, dengan waktu kontak 1 menit atau lebih pada suhu 24 – 49 OC.

Pada penggunaan sanitaiser yang menggunakan strebac (amonium) di PT. Tonga Tiur Putra dengan suhu ruangan berkisar ± 25 0 C, dimana lama waktu pembersihan alat-alat berkisar ± 1-2 menit. Hal tersebut sesuai dengan Purnawijayanti (2001), quats (Amonium kuarterner) di aplikasikan pada konsentrasi 180 -220 ppm, pada suhu 24 OC atau lebih. PT. Tonga Tiur Putra juga menggunakan jasa pest control yang bertujuan food safety penyakit dari binatang pengerat ataupun dari serangga.

Untuk pekerja di PT. Tonga Tiur Putra pada umumnya mematuhi GMP untuk memasuki ruang proses produksi, namun demikan terdapat satu atau dua orang yang masih “nakal” kurang mematuhi GMP serta kurangnya kesadaran akan pentingnya food safety. Salah satu contoh apabila sakit kecil (batuk, pilek) memyembunyikan penyakitnya, hal tersebut dilakukan karena masalah kebutuhan hidup pekerja. Serta kurangnya pengawasan (control) kebersihan karyawan bagian sanitasi sendiri.

KESIMPULAN dan SARAN

  1. Kesimpulan
  1. PT. Tonga Tiur Putra merupakan perusahaan yang bergerak dalam bisnis perikanan seperti crab meat, teri nasi (ikan kering), frozen dan crab cake.
  2. Grade bahan baku daging rajungan di PT. Tonga Tiur Putra terdapat 5 bagian utama yaitu : Jumbo, Backfin, Spesial, Flower dan Claw meat.
  3. Penerimaan bahan baku rajungan di lakukan dengan segara, hati-hati dan bersih serta terlindungi dari sinar matahari langsung dengan suhu sentral bahan baku daging rajungan 5 OC.
  4. Permasalahan yang di hadapi di PT. Tonga Tiur Putra yaitu bahan baku yang di terima tidak dikukus. Solusinya mengembalikan (reject) bahan baku tersebut atau membayarnya dengan murah sekali.

2. Saran

  1. Pengelolaan limbah harus diberikan perhatian secara khusus.
  2. Pengawasan dan tindakan yang tegas terhadap karyawan yang tidak menaati GMP.
  3. Kurangnya kesadaran para pekerja terhadap pentingnya GMP dan food safety.
  4. Peningkatan SDM harus sering dilakukan yang berguna demi kemajuan perusahaan.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 1998. The living marine resources of the western central pacific FAO species identification guide fishery purposes vol 2. Rome.

Anonim. 2002. Daging rajungan (portunus pelagicus) dalam kaleng secara pasteurisasi, SNI 01-6929.3-2002. . Diakses tanggal 28 September 2009.

Anonim. 2004. Membudidayakan rajungan dan kepiting air. <http://www.air.bappenas.go.id>. Diakses 5 Juli 2009.

Anonim. 2007. Manfaat rajungan. http://www.cyberforums.com>. Diakses 5 Juli 2009.

Anonim. 2009a. Cara praktis budidaya rajungan. http://www.fbc.perikanan-diy.info.htm>. Diakses 5 Juli 2009.

Anonim. 2009 b. <http://wb5.itrademarket.com/pdimage/57/989257_rajungan_resize.jpg.> Diakses 5 Juli 2009.

Anonim. 2009c. <http://gambar.iklanmax.com/20081219/214360/daging-rajungan.jpg.> Diakses 5 Juli 2009.

Anonim. 2009d. http://www.onecrab.com > diakses tanggal 5 Oktober 2009

Anonim. 2009e. http://www.phillipsfoods.com > diakses tanggal 5 Oktober 2009

Colleer ,M dan C. Sussams. 1990. Success in principles of catering. John Murray, London.

Linnaeus.1758.< http://www.fao.org/figis/species/images/Portunus/por_2629_1.gif>. Diakses 5 Juli 2009.

Mizards. 2009. Pengemasan Daging Rajungan Pasteurisasi dalam Kaleng. <http://mirzads.wordpress.com/2009/02/12/pengemasan-daging-rajungan-pasteurisasi-dalam-kaleng.> Diakses 5 Juli 2009.

Purnawijayanti, Hiasinta. A. 2001. Sanitasi, higiene dan keselamtan kerja dalam pengolahan makanan. Kanisius. Yogyakarta.

Raharjo. 2008. Ekspor rajungan terganggu krisis AS. <http://www.beritacerbon.com/berita/2008-11/ekspor-rajungan-terganggu-krisis-as>. Diakses 5 Juli 2009.

Winarno, F.G. dan Surono. 2002. GMP cara pengolahan pangan yang baik. M-Brio Press, Bogor.

Posted in skripsi pengawasan pangan | Leave a comment